XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label joanna alexandra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label joanna alexandra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

CINTA DI SAKU CELANA : Hiburan Filosofis Pilihan Hidup


Quotes:
Gifar: Ya tapi lu gak bisa nungguin momen terus. Ciptain dong, Mad! Kesempatan yang udah di depan mulut, tinggal lu emut, malah lu lepehin.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini screeningnya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Juni 2012.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Ahmad
Joanna Alexandra sebagai Bening
Dion Wiyoko sebagai Gifar
Ramon Y Tungka sebagai Gubeng
Gading Marten sebagai Roy
Lukman Sardi sebagai Bagas
Enditha sebagai Briptu Nila

Director:
Merupakan film kedua bagi Fajar Nugros setelah Queen Bee (2009).

W For Words:
Pendekatan seseorang terhadap cinta bisa dilakukan dengan dua cara yaitu aktif dan pasif. Tentunya hasilnya akan berbeda pula. Itulah perbedaan karakter Ahmad dan Gifar yang saling bersahabat. Sekelumit kisah cerita pendek ‘Cinta di Saku Belakang Celana’ ini pertama kali muncul di note Facebook sebelum Gramedia menerbitkan versi novelnya karya Fajar Nugros dengan judul 'I Didn't Lose My Heart, I Sole it On eBay’. Starvision yang semula ingin rilis terbatas film yang didasari skrip garapan Ben Sihombing tersebut akhirnya setuju untuk rilis nasional demi menjangkau audiens yang lebih luas lagi.

Berangkat dari Panti Asuhan yang membesarkannya membuat Ahmad tumbuh dewasa meski tak pernah mengenal cinta. Rekannya di kantor pos yaitu Gifar mengajarkan Ahmad untuk berani mengejar cinta gadis manis bernama Bening yang dikenalnya melalui kiriman kartu pos tunangannya. Akhirnya Ahmad mau menulis surat cinta dan memberikannya pada Bening. Malang sebelum kesampaian, dompet Ahmad dicopet oleh Gubeng yang melarikan surat tersebut. Akankah Ahmad berserah pada realitas yang terjadi atau justru semakin ngotot mengejar impiannya yang beranjak menjauh itu?
 
Paruh pertama film dititikberatkan pada interaksi tiga tokohnya saja yaitu Ahmad, Gifar dan Bening. Donny Alamsyah dan Dion Wiyoko mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya untuk mengeksplorasi persahabatan dua karakter yang berbeda dalam memandang cinta. Ahmad yang cerdas tapi naïf dalam bercinta berbanding terbalik dengan Gifar yang mahir bercinta tapi bodoh. Perkenalan terhadap tokoh Gubeng membuat paruh kedua berjalan dalam tempo yang lebih cepat dengan kemunculan tokoh-tokoh baru yang semakin mempertajam konflik mulai dari Roy, Bagas hingga Briptu Rahmat dan Briptu Nila. Mudah-mudahan penonton tidak bingung ataupun merasa terganggu dengan perubahan drastis ini.

Departemen musik dalam film ini terbukti berhasil membangun mood yang diinginkan. Lagu lawas Slank yakni Foto Dalam Dompetmu berkali-kali berkumandang menciptakan kesenduan cinta yang tak kunjung diraih. Sedangkan dua track dari pendatang baru Abbay Messi yaitu Cinta Di Saku Celana dan Hey Love mampu membangkitkan semangat optimisme dalam diri Ahmad. Kerjasama penata suara Khikmawan Santosa dan penata musik Tya Subiakto Satrio terjalin dengan baik sehingga menjadi nilai tambah tersendiri dalam dukungannya terhadap film secara keseluruhan.

Sutradara Nugros dengan terampil mengemas urban pop romantic comedy ini di luar pakem-pakem yang ada. Elemen kartu pos, commuter, binatu sampai Russian Roulette bukan dimaksudkan berjalan tanpa arti, ada makna tersembunyi di balik itu semua. Setting lokasi dapat dimaksimalkan sedemikian rupa untuk bercerita, lihat stasiun maupun gerbong KRL sebagai titik interaksi Ahmad dan Bening atau pasar Senen yang hiruk pikuk ketika Ahmad dan Gubeng harus berjibaku sebelum bernegosiasi. Sang editor Cesa David Luckmansyah juga menjalankan tugasnya dengan rapi untuk menjaga esensi film.

Cinta Di Saku Celana menyajikan drama dan komedi secara seimbang tanpa harus berlebihan. Deretan wajah yang sudah tidak asing antara lain Lukman Sardi, Enditha, Luna Maya, Masayu Anastasia, Lolita Putri, Imey Liem, Yati Surachman, Agus Kuncoro juga turut andil mengisi posisi ‘special appearance’. Catatan khusus bagi Pricillia Tanamal yang kocak sebagai Ibu Kos atau Vita Ramona yang membuka film dengan karikatural. Film ini murni bertutur tentang pilihan-pilihan krusial terutama profesi dan pasangan hidup yang kerapkali menentukan kelangsungan langkah anda selanjutnya. Sebuah presentasi filosofis yang samasekali tidak kehilangan tujuannya dalam menghibur penonton.

Durasi:
80 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 25 Mei 2012

UDIN CARI ALAMAT PALSU : Impotensi Humor dan Siksaan Multi Karakter


Quotes:
Sinta: Kalo menurut skrip harusnya sekarang giliran Jojo
Jojo: Urang?
Sinta: Iya maneh.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh d’Color Films ini gala premierenya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 22 Mei 2012.

Cast:
Udin Sedunia
Sinta
Jojo
Moymoy
Palaboy
Fransoa
Mike Lucock
Uli Auliani sebagai Debby
Joanna Alexandra
Adelia Rasya
Marcella Lumowa
Mpok Atik
Ronald Gustav
Vicky Nitinegoro

Director:
Merupakan film keempat bagi Chiska Doppert di tahun 2012 ini.

W For Words:
Youtube dapat dikatakan media yang tepat untuk mengeksploitasi diri atau kelompok sendiri secara mudah sekaligus menyebarkannya melalui jaringan internet secara luas. Syukur-syukur anda bisa terkenal seperti orang-orang “biasa” yang bermain dalam film ini. Adalah rumah produksi D’Color Films yang memiliki ide untuk memperkenalkan mereka kepada publik. Pertanyaannya apakah sudah didukung oleh skrip yang baik untuk bercerita setidaknya secara wajar? Duet penulis Herry B Arissa dan Bagus Nugroho akan coba menjawabnya.

Fransoa, produser bule yang bangkrut memiliki ide mengumpulkan orang-orang terkenal di Youtube untuk tampil di kafenya. Mereka adalah Udin Sedunia yang tinggal bersama emaknya di NTB, Sinta-Jojo yang mulai gerah dengan popularitas instan, Moymoy dan Palaboy dari Filipina yang kecopetan di Jakarta saat ingin bertemu kekasihnya Marimar yang dikenal lewat Facebook. Sekelumit kisah yang terjadi di sepanjang perjalanan akan menentukan nasib kesemua insan tersebut.

Lagi-lagi-lagi Chiska Doppert “kejar setoran” yang semakin terpuruk dari satu karya ke karya lainnya. Editingnya semakin buruk, entah karena keterbatasan bujet atau deadline sehingga tidak dilakukan dengan baik. Begitu banyaknya cameo yang terlibat dalam film ini tidak terfasilitasi secara memadai sehingga hanya memberikan kesan lalu lalang yang tidak bermanfaat samasekali, mungkin masing-masing dari mereka kelak akan menyesali keputusannya ini. Lupakanlah Mike Lucock dalam peran banci ‘gengges’, Joanna Alexandra dalam peran gadis ‘desperate’ jodoh atau Uli Auliani dalam peran wanita ‘tersakiti’ yang tampil dalam rambut pirang!

Duet perempuan Sinta dan Jojo mungkin yang paling repot karena harus berganti kostum belasan kali termasuk aksesorisnya mulai dari wig, kacamata, tas dsb. Mereka tidak tampak berakting melainkan menjadi dirinya sendiri lengkap dengan logat aslinya berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa tujuan yang jelas. Duet lelaki Moymoy dan Palaboy sibuk beraksen Tagalog yang terjemahan bahasa Indonesianya agak diragukan karena tidak terstruktur dengan baik. Mereka seakan hanya berimprovisasi  dalam berdialog dan beradegan slapstick sekaligus tanpa juntrungan.

Udin yang menjadi titel film seharusnya mendapat bagian yang dominan. He is! Tapi sayangnya bukan dalam porsi yang manusiawi. Dari menit awal sampai akhir, anda akan menemukan seratus satu kesialan yang terjadi padanya mulai dari dijatuhkan dari pohon, dilumuri tai kebo, ditabrak mobil tiga kali, ditonjok, dilempar, dikafan sebagai pocong sampai diceburkan ke kali. Jika ada yang terlewat, mohon anda tambahkan. Terima kasih. Keseluruhan “insiden” itu tidak lantas membuat penonton bersimpati padanya melainkan prihatin, sebegitu inginkah main film hingga harus jalani siksaan sedemikian rupa?

Udin Cari Alamat Palsu mungkin hanya ingin mengekor Agent of Secret Stuff milik Wong Fu Production yang lebih dulu menampilkan Ryan Higa tapi jelas gagal total. Humornya terbilang impoten karena tidak berhasil membangunkan sisi humoris saya dan sebagian besar penonton yang menyaksikannya malam itu. Suguhan 82 menit ini tidak terasa seperti sebuah film panjang melainkan potongan videoklip yang disatukan secara random tanpa rajutan benang merah yang terarah. Departemen musik dengan hit-hit “artis” Youtube yang semestinya bisa menutupi kekurangan pun tidak terjamah samasekali. Yang tertinggal cuma penyiksaan terhadap intersepsi otak anda yang jauh lebih mahal daripada harga tiket.

Durasi:
82 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Senin, 20 Juni 2011

ADA APA DENGAN POCONG : Misteri Pocong Teror Empat Pemuda

Quotes:
Boy: Loe pecahin aja tuh kaca biar rame. Kalo kurang rame, bakar!

Storyline:
Bermula pada Wawan yang mengalami teror oleh pocong di kostnya disusul oleh Hary, Boy dan Tedi yang mengalami hal sama. Tidak tahan, Hary dan Wawan menyambangi seorang dukun sakti yang memberikan mereka keris mini sebagai perlindungan. Tedi dan Hary pun mengalami kecelakaan misterius karena pocong yang semakin marah. Boy yang ketakutan membuka mulut pada Ririn dan Mirna akan kejadian sesungguhnya yang berkaitan dengan Lastri, gadis kutu buku yang ditaksir Hary tapi menaruh hati pada Wawan. Akankah mereka berempat selamat dari gempuran pocong yang menyimpan dendam itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan Co Bic Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 20 Juni 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Boy
Joanna Alexandra sebagai Ririn
Dallas Pratama sebagai Wawan
Raymond Knuliq sebagai Hary
Jerry Likumahwa sebagai Tedi
H Bolot sebagai Dukun
Mpok Atiek sebagai Suster

Director:
Chiska Doppert dua kali menggarap film sebelumnya yaitu Missing (2005) dan Gotcha (2006).

Comment:
Prolog film ini langsung dibuka tanpa tedeng aling. Sepertinya Chiska hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan Nayato sebelumnya. Oh wait! Dari dulu saya selalu curiga keduanya adalah orang yang sama. Mungkin Nayato lebih senang berkostum pocong sedangkan Chiska memilih kostum kuntilanak. Sayangnya pesta Halloween masih jauh di depan, bapak dan ibu.. Namun untuk menghargai, saya akan tetap memakai nama Chiska dalam penulisan review ini.
Seberapa keras usaha Ule Sulaeman untuk menghasilkan skrip yang kreatif sekalipun sepertinya akan sia-sia. Eksekusi Chiska tidak dapat diganggu-gugat atas dasar apapun juga. Tidak heran jika terlalu banyak elemen yang mengganggu disini mulai dari miscast, misplaced, misruled, mismatch dan lain-lain. (Buka Wikipedia untuk menambah sederetan kata “mis” lainnya). Dan jangan minta saya untuk menyebutkan contoh kasus-kasusnya karena akan menyinggung terlalu banyak pihak.
Entah apa fungsi para aktris disini selain pemanis layar belaka. Joanna yang hobi jump-in jump-out pada scene-scene tertentu. Mpok Atiek yang hanya kebagian satu scene di rumah sakit sebagai suster tua genit. Atau Monique yang ternyata memiliki kemampuan “membelah diri” sebagai pocong dan kuntilanak sekaligus terlepas dari siapapun pemerannya. Penonton diamini untuk percaya bahwa dialah di balik semua make-up dan kostum horor tersebut. OMG!
Bagaimana dengan para aktornya? Zaky kembali mengeksploitasi keiteman dan kekhasannya dalam berlogat dan melontarkan celetukan-celetukan jenaka. Di awal-awal mungkin cukup berhasil tapi lama-kelamaan semakin menjemukan. Dallas sebelumnya cukup berwatak dalam berakting kali ini tidak menjanjikan apa-apa. Raymond lagi-lagi bermodal body panzer dan congor bawelnya. Paling mengganggu dari semua adalah karakter Tedi dan Dukun dimana budeg dan bolot itu ternyata memang beda tipis. Once or twice is funny but more than that would be sick. Mohon jangan salahkan Jerry ataupun H Bolot karena mereka hanya dibayar!
Mari kita beralih pada kiprah sang pocong dan kuntilanak. Mana yang lebih efektif dalam tampil? Tentu saja pocong sebab doski dijadikan judul! Mau lihat pocong naik mobil, busway, taksi? Itu tidak penting sebab yang lebih menarik adalah apakah mereka melompat-lompat dalam melakukannya atau ada yang berbaik hati membukakan ikat kakinya? Silakan berasumsi. Kabar baikya adalah tidak ada perlakuan nista yang ditujukan pada mereka kali ini sehingga imej horor setidaknya tetap terjaga.
Ada Apa Dengan Pocong sebetulnya berpotensi menjadi parodi horor yang lebih menghibur lagi andai digarap dengan lebih serius. Opening yang cukup menggebrak dengan angle dan lighting yang tidak lazim itu seketika sirna setelah 15 menit berlalu. Yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan gambar tanpa isi yang lambat laun tersapu oleh hembusan angin berbau kantuk dari mulut para penonton. Jemu sekaligus tersiksa oleh kebodohan menantikan tirai di bawah tulisan EXIT terbuka.

Durasi:

80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 01 Oktober 2010

SWEETHEART : Potret Kontras Dunia Remaja Putri

Quotes:
Imel: Gimana caranya mereka masih mau sama gue kalo gue udah dipake??

Storyline:
Berat hati, Nina terpaksa pindah ke sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang baru mengikuti ibunya Cynthia yang baru saja dinikahi secara siri oleh seorang pengusaha kaya. Kemudian Nina berkenalan dengan cowok tampan bernama Irwan yang juga tinggal di sekitar situ. Di sekolah Nina juga berteman dengan Misha yang terobsesi menjadi anggota geng Sweetheart yang paling populer disana. Geng ini beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry sebetulnya bukan panutan yang baik. Mereka senang berfoya-foya, dugem, mabuk-mabukan bahkan melakukan seks bebas. Imel yang paling dominan diantara ketiganya mengalami guncangan batin saat diputuskan oleh Jodi yang juga vokalis band tenar. Sayangnya sakit hati Imel lalu dilampiaskan kepada Nina lewat serangkaian "penyiksaan". Batin Nina hancur tetapi ia harus bangkit berdiri dan melakukan apa yang terbaik bagi dirinya dan lingkungan barunya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Virgo Putra Film dan diproduseri oleh Ferry Angriawan.

Cast:
Marcel Chandrawinata sebagai Irwan
Aurellie Moeremans sebagai Nina
Sabai Morscheck sebagai Imel
Joanna Alexandra sebagai Cherry
Sheila Thohir sebagai Fifi
Ayu Azhari sebagai Cynthia
Ivan Ray sebagai Jodi

Director:
Merupakan film kedua bagi Hanny R. Saputra di tahun 2010 ini setelah Sst.. Jadikan Aku Simpanan di bulan Januari lalu.

Comment:
Prolog film ini seperti ada di pertengahan sesuatu. Kita tidak tahu siapa Nina yang lugu ataupun trio populer berlakuan negatif Sweetheart yang beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry. Latar belakang keempatnya tidak disinggung samasekali. Hal yang sesungguhnya sangat penting bagi audiens untuk dapat menyelami karakterisasi tokoh-tokoh utama itu. Yang ada narasi berjalan terus merekam berbagai polah tingkah keempat remaja putri tersebut dengan alur linier. Konflik demi konflik terus dijejali kalau tidak mau disebut berlebihan. Namun harus diingat kembali, ini adalah film remaja yang menyimpan misi edukasi tersendiri.
Sutradara Hanny menyajikan sinematografi yang teduh dengan pemilihan warna-warni lembut yang menarik. Kepiawaiannya menyajikan drama yang baik memang tidak bisa dipungkiri seperti yang pernah diperlihatkannya dalam Heart. Momen-momen bold yang menohok emosi ditampilkan secara gamblang. Penampilan Sabai yang meledak-ledak sebagai gadis pembangkang cukup mampu membuat penonton berantipati padanya. Sebaliknya Aurellie tampil kalem tetapi persuasive. Kedua karakter yang bertolak belakang itulah yang menjadi nilai jual utama film ini. Kehadiran Marcell, Joanna, Ayu dll hanya terkesan sebagai pelengkap belaka dan tidak ada alasan yang kuat untuk membuat mereka beerimprovisasi disini.
Jika anda bisa memaafkan letusan peluru yang terjadi di awal, niscaya Sweetheart akan menjadi tontonan yang memenuhi standar kualitas sebuah film. Terlepas dari klise dan predictable endingnya, saya menganggap film ini masih layak untuk ditonton. Nilai-nilai persahabatan yang berpadu dengan peran orangtua dalam menanamkan pendidikan moral sejak dini memang bagian terpenting dalam pertumbuhan seseorang yang beranjak remaja. Bukankah masa depan dan pilihan dalam hidup ditentukan dari fase tersebut?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 02 Juni 2010

SEHIDUP (TAK) SEMATI : Pencarian Jodoh Kedua Pilihan Mendiang Istri

Cerita:
Merayakan hari jadi pernikahan yang pertama membuat TItan dan Helena bersemangat untuk memberi kado satu sama lain pada makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Sayangnya insiden terjadi saat tidak membawa obat, Helena malah terserang asma akut di toilet dan meninggal seketika. Keseihan membuat Titan nyaris kehilangan gairah hidup sampai ia bertemu hantu Helena yang belum bisa naik ke atas karena janji yang pernah ia ucapkan dulu. Menganggap dirinya berhalusinasi, Titan menemui psikiater senior yang kemudian mengirim asistennya, Olin untuk mengawasi aktifitas Titan sehari-hari. Hantu Helena meminta Titan mencari istri terbaik dari sekian yang ditawarkan. Bagaimana Titan dapat memilih salah satu dari mereka di saat ia masih mencintai Helena?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Millenium Visitama dan gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 25 Mei yang lalu.

Cast:
Baru saja beberapa minggu lalu bermain antagonis dalam Demi Dewi, Winky Wiryawan kali ini didapuk sebagai Titan, eksekutif muda yang rapuh karena ditinggal mati istri yang dicintainya tetapi berusaha bangkit kembali untuk mencari cinta yang baru
Sempat masuk nominasi Aktris Favorit Indonesian Movie Awards beberapa waktu lalu, Fanny Fabriana sebagai hantu Helena, mendiang istri Titan yang berusaha menuntaskan misi terakhirnya.
Beberapa kali tampil dalam film-film Nayato kemarin, Joanna Alexandra memerankan Olin, asisten psikiater yang cupu dan menyimpan masa lalu menyedihkan.
Astri Nurdin sebagai Irene.

Director:
Terakhir kali tidak terlalu sukses lewat Bukan Malin Kundang yang kacau itu, Iqbal Rais mencoba peruntungannya disini dalam komedi romantis modern.

Comment:
Plotnya mengingatkan pada Ghost dan Over Her Dead Body ataupun judul-judul komedi romantis Hollywood lainnya yang bertemakan serupa. Harus diakui tidak terlalu orisinil tetapi untungnya Iqbal mengemasnya dengan humor bernuansa lokal yang khas. Terima kasih pada karakter supir-pembantu Titan yang kocak dan saling bersinergi dengan baik di setiap scene yang ditawarkan pada mereka. Winky berakting di luar kebiasaannya, gaya seorang eksmud yang loveable dibawakan dengan lugas dan natural. Fanny bermain ciamik sebagai manusia dan hantu sekaligus yang perfeksionis. Chemistry Winky dan Fanny di awal film juga cukup menarik. Joanna dan Astri meski scenenya tidak terlalu dominan tetap mampu mencuri perhatian. Tone drama yang cukup kental mampu didukung penggambaran lanskap kontemporer yang tepat. Alhasil Sehidup (Tak) Semati dapat dikatakan drama komedi romantis yang cukup hangat dan menyegarkan di tengah rendahnya kualitas genre film-film sejenis belakangan ini. Melepas orang yang anda cintai memang tidak mudah bukan? Apalagi bangkit dari rasa kehilangan setelah ditinggalkan orang yang dicintai tentunya lebih sulit lagi.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 04 Maret 2010

BELUM CUKUP UMUR : Problematika Kehamilan Dini Remaja Belia

Storyline:
Persahabatan Aya dan Brenda yang sama-sama berusia 16 tahun sedikit terusik saat Aya mengaku positif hamil akibat perbuatan pacarnya, Ares yang dua tahun lebih tua. Brenda yang marah meminta pertanggungjawaban Ares. Namun karena masih sama-sama muda, mereka tidak bernyali untuk itu. Solusi terbaik diyakini menggugurkan kandungan yang masih berusia tiga bulan ke bawah tersebut. Dimulailah petualangan mencari dokter kandungan yang mau mengerjakan hal tersebut terhadap anak di bawah umur. Di saat itulah persahabatan dan kasih sayang mereka bertiga diuji oleh hambatan-hambatan yang mereka temui sepanjang perjalanan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Handmade Films dan diproduseri oleh Albert Pondaga.

Cast:
Cukup kompak sebagai trio sahabat remaja
Joanna Alexandra sebagai Aya
Zidni Adam Jawas sebagai Ares
Mentari sebagai Brenda

Director:
Baru saja minggu lalu menggarap Kain Kafan Perawan, Nayato rupanya kembali kejar setoran dengan film ini ironisnya dengan bintang-bintang yang sudah pernah bekerjasama dengannya sebelum ini. Kontrak multi film kah?

Comment:
Sebagai sebuah drama, film ini mengajarkan arti cinta, kesetiakawanan, seks pra nikah bagi kalangan remaja kota besar yang rasanya sudah tidak umum lagi. Semua dikemas Nayato dengan style yang colorful memanjakan mata dan ilustrasi musik yang sesuai. Untungnya kali ini eksplorasi yang dilakukannya tidak berlebihan sehingga nilainya tidak jatuh lagi seperti biasanya. Dari segi casting, Joanna dan Mentari tampil cukup apik sebagai remaja belasan tahun, begitu pula dengan Zidni yang terlihat nerd dan lugu. Belum Cukup Umur sepintas terlihat mengadopsi drama remaja sukses Hollywood, Juno (2008) di awal cerita dan mungkin juga mengingatkan sebagian penonton lokal pada Married By Accident (2008) tetapi seiring bergulirnya cerita, tema tersendiri yang diusung rupanya berbeda dan sedikit menawarkan twist di ending yang cukup mengejutkan sekaligus menyebalkan?! Durasi 70 menit rasanya terlalu panjang untuk sebuah pesan moral singkat tapi terlalu pendek juga untuk "keharusan" mengeksplorasinya secara lebih detail lagi.

Durasi:
70 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 09 November 2009

JERITAN KUNTILANAK : Arwah Dukun Beranak Hantui Kelima Muda-Mudi

Cerita:
Diam-diam Lila mencintai Ferry yang sayangnya sudah menjalin hubungan dengan Reina. Hingga pada suatu ketika bersama Vivin dan Bimo, mereka berlima menginap di villa orangtua Reina. Malang saat asma Lila kambuh, mereka kesulitan mencari pertolongan dan menemukan sebuah rumah tua dekat danau untuk beristirahat sementara. Panik saat menemukan penampakan hantu wanita mengerikan dan Lila yang menghilang secara misterius, keempat sahabat tersebut meninggalkan rumah tua tersebut terburu-buru. Sekembalinya pada kesehariannya, Reina, Ferry, Vivin dan Bimo diteror terus menerus. Bersama Yunita kakak Lila, Vivin bertekad kembali ke rumah tua tersebut untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya menimpa Lila?

Gambar:
Gambar-gambar minimalis dengan pencahayaan temaram masih menjadi andalan film ini. Sayangnya sosok hantu yang ditampilkan masih terlalu abstrak.

Cast:
Kerjasama horor kedua dengan sang sutradara setelah Lewat Tengah Malam, Joanna Alexandra berperan sebagai Vivin yang setia kawan.
Julia Perez turut mempertontonkan keseksiannya sebagai Yunita yang berusaha menemukan adiknya yang hilang secara misterius.
Cathrine Wilson
Garneta Haruni
Zaky Zimah
Andrew Ralph Roxburgh
Furry Citra


Sutradara:
Koya Pagayo yang memiliki beberapa alternate nama seharusnya tidak asing lagi bagi para penikmat film lokal khususnya genre horor.

Comment:
Seperti sudah saya katakan sebelumnya, tidak sukar menebak template horor yang digunakan Koya. Sekelompok remaja yang bersenang-senang untuk kemudian terdampar di sebuah bangunan tua yang menyimpan masa lalu mengerikan dan dihantui satu persatu untuk kemudian mati karena dendam. Lantas jika sudah tahu, apalagi yang harus diharapkan dari karya-karyanya? Terus terang, setiap saya menyaksikan hal serupa, saya hanya ingin tahu akan sehancur apa hasil akhirnya terlepas dari sekeras apapun usaha yang dilakukan Koya (jika memang ia cukup berusaha). Tak hanya itu, setting dan gaya penyutradaraan pun nyaris sama. Hanya perlu mengganti cast saja dan kali ini saya sedikit terhibur karena pilihan jatuh pada Joanna yang selalu tampil menyegarkan. Berhati-hatilah untuk mengulangi formula yang sama ke depannya karena penonton sudah sangat bosan, terbukti saya menjadi satu-satunya penonton di pertunjukan weekend siang dalam studio PIM 21 hari itu. Bayangkan!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 03 Juli 2009

THE TARIX JABRIX 2 : Ulah Geng TJ "Berlanjut" Di Jakarta

Cerita:
Selepas SMU, geng motor Bandung The Tarix Jabrix yang terdiri dari Cacing, Ciko, Coki, Dadang dan Mulder kebingungan melanjutkan studi mereka ke jenjang kuliah. Masalahnya mereka berlima diterima di universitas yang berbeda-beda! Akhirnya mereka berempat pindah ke Jakarta, minus Dadang yang memang harus membantu ayahnya, Pak Rohim mengurus bengkel Sugema. Namun Cacing, Mulder dan si kembar Coki-Ciko tidak begitu saja menyesuaikan diri di Jakarta karena perbedaan budaya. Demi mengikuti gaya hidup Jakarta, mereka berempat menjual motor dan membeli mobil VW bekas untuk "eksis" demi menarik perhatian Milinka, kembang kampus yang cantik sekaligus misterius. Pergaulan juga menyeret mereka pada penculikan seorang anak dan balapan liar yang dikomandoi Valent. Bagaimana semua polemik dapat terselesaikan pada akhirnya?

Gambar:
Scene bergulir cukup cepat dan penuh adegan komikal. Jika film pertama kental dengan nuansa Bandung, disini giliran Jakarta yang terkenal dengan kemacetan dan keegoisan orang-orangnya.

Act:
Lima personil The Changcuters tampaknya semakin mantap di jalur komedi dan membuat franchise film mereka sendiri sebagai Cacing, Mulder, Dadang, Coki dan Ciko.
Joanna Alexandra sebagai Milinka.
Ramon Y Tungka sebagai Valent.
Judika sebagai penculik anak.
Winda Agustina Putri dan Winda Agustini Putri sebagai si kembar.


Sutradara:
Masih dengan team maker yang sama termasuk Iqbal Rais dengan rumah produksi yang sama. Iqbal sendiri sudah berpengalaman menghasilkan film-film yang bisa diterima oleh masyarakat luas.

Komentar:
Tidak jauh berbeda dengan apa yang ditampilkan di prekuelnya, film ini mengalir saja dengan joke-joke yang sebenarnya tidak istimewa. Awal cerita yang menuturkan perbenturan budaya kota cukup menarik tapi terkesan tempelan belaka. Setelah itu TJ2 seperti kebingungan mencari identitas cerita dan alhasil penambahan tokoh-tokoh baru tidak lagi relevan dan terasa dipaksakan terutama dengan munculnya orang-orang kembar. Apalagi dengan team maker yang berbeda meskipun masih dari rumah produksi yang sama. Hm, saya tidak berani membayangkan jika masih ada sekuel lagi beberapa waktu mendatang!

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 29 Mei 2009

VIRGIN 2 : Mozaik Kisah Pergaulan Remaja Putri Metropolitan

Tagline:
From Innocence To Brutality. Striking And Original Busting Version.

Cerita:
Tina diusir dari rumah karena dianggap menggoda pacar baru ibunya. Tidak cukup menderita, Tina malah diperkosa Yama, kenalan sahabatnya di suatu diskotik dan kemudian dijual ke beberapa lelaki hidung belang dalam semalam! Nasib mempertemukannya dengan Nadya yang tengah hamil muda dimana kekasihnya mendekam di penjara. Nadya juga terjebak dalam hubungan sesama jenis yang membuatnya membutuhkan biaya besar. Bagaimana sepak terjang Tina dan Nadya selanjutnya menghadapi ganasnya pergaulan metropolitan?

Gambar:
Visual retro berhasil ditampilkan dengan pencahayaan biru kelam yang temaram dalam suasana malam.

Act:
Christina Santika sebagai Tina yang lugu dimana sering membuatnya berada dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Joanna Alexandra sebagai Nadya yang terpaksa melakukan secara cara untuk mendapatkan uang demi menolong dirinya sendiri dan orang lain yang dicintainya.
Yama Carlos sebagai Yama yang kejam dan juga mucikari independen khusus gadis belia.

Sutradara:
Nayato Fio Nuala yang berjanji menghasilkan karya yang di atas standar jika menggunakan (konon) nama aslinya itu kembali mengangkat drama remaja rumit nan tragis selayaknya yang pernah ditampilkannya dalam Butterfly.

Komentar:
Berusaha tapi tidak cukup berusaha. Dari segi plot cerita sepertinya tidak ada yang baru meski tidak menutup kemungkinan menjadi spesial jika dieksplorasi dengan tepat. Banyak hal yang tidak terjelaskan sebab musababnya dengan masuk akal. Penderitaan karakter di film seakan menular pada penonton yang juga menderita menyaksikan film ini yang terus terang saja seperti kehilangan fokus dari awal sampai akhir. Digadang-gadang bisa menjadi panutan remaja metropolitan dewasa ini? Rasanya belum tepat karena bisa jadi malah menginspirasi mereka terhadap hal-hal tabu yang ditampilkan. Satu hal lagi, "kelamnya" Virgin tidak bisa disaingi (konon) sekuelnya ini yang mengambil sub judul: Bukan Film Porno. Apa maksud?

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!