XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label fajar nugros. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fajar nugros. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2015

CINTA SELAMANYA : Hati Berkisah Enggan Berpisah

Quote:
Hafez: Tidak ada yang abadi, tapi cinta bisa dibawa mati, hingga abadi nanti.

Nice-to-know:
Diangkat dari novel Fira & Hafez yang diinspirasi dari kisah nyata Dwifira Maharani Wulandari Basuki dan Hafez Agung Baskoro.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Fira Basuki
Rio Dewanto sebagai Hafez
S
haloom Razade sebagai Syaza
Tantry Agung Dewani sebagai Tantry
Janna Joesoef sebagai Mbak Sinung
Amanda Soekasah sebagai Mbak Rani
Nungky Kusumastuti sebagai Ibu Hafez
Yadi Sugandi sebagai Ayah Hafez
Aira Sondang sebagai Raditya
Dewi Irawan sebagai Mama Fira
Tio Pakusadewo sebagai Papa Fira
Syazia sebagai Kiad
Surya Insomnia sebagai Ferry
Widi Mulia Sunarya sebagai Egi
Muhadkly Acho
Joanna Alexandra
Patrick Alexandra
A
gus Kuncoro
Dwi Sasono
Lukman Sardi

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Fajar Nugros sekaligus perdana yang diproduksi bersama istrinya Susanti Dewi.

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal sosok Fira Basuki sebagai Pemimpin Redaksi majalah lifestyle, Cosmopolitan yang selalu terlihat modis dan menjadi cerminan kaum wanita urban metropolitan. Dibalik kelemah-lembutannya, ia adalah wanita mandiri yang perfeksionis dalam pekerjaannya. Kesendiriannya membuat orang sekitar ingin mencarikan pendamping baru untuk Fira. Banyak pria datang mencoba mengambil hati Fira, tetapi cinta selalu datang tanpa terduga.

Hafez Agung Baskoro, lahir dengan darah seni yang gemar menyanyi dan bermain musik. Ia adalah sosok pria serba bisa yang berpenampilan biasa. Jika kencan pertama selalu dimulai dengan sesuatu yang mewah, Tetapi Hafez menawarkan dirinya ke Fira dengan kesederhanaannya. Naik motor dan makan seafood di pasar ikan, mungkin itu bukan kencan yang diidamkan Fira namun malam itu hatinya telah tercuri oleh pria ini.














Profil sepasang insan di atas rasanya sudah cukup menjadi daya tarik penonton, terlebih pembaca novelnya, untuk berbondong-bondong datang ke bioskop dan menyaksikan perjalanan cinta mereka yang penuh tantangan. Optimisme itulah yang diyakini pasangan suami istri produser sutradara Susanti Dewi dan Fajar Nugros lewat persembahan perdana Demi Istri yang bekerjasama dengan Wardah dan Kaninga Pictures.

Harus diakui akting Atiqah terasa sangat total di film ini. Ia mampu menampilkan kemandirian Fira sekaligus ketegarannya melewati masa sulit sebagai single parent. Sedangkan suaminya di kehidupan nyata, Rio Dewanto terlihat agak kedodoran mengimbanginya. Sosok Hafez yang ditampilkan Rio terlihat lebih dingin daripada apa yang diwacanakan di novel Fira & Hafez (2013). Penampilan pendatang baru Shaloom cukup menarik. Saya merasa ia memiliki potensi lebih walau peran Syaza terasa kurang dimaksimalkan.













Rollercoaster emosi di film ini cukup menarik lewat ‘pembabakan’ yang digagas oleh Nugros. Materi senang sendu dibawa secara ringan lewat sajian humor situasi yang tersebar di beberapa bagian. Sayangnya ‘finale’ di Madrid yang harusnya menjadi ‘gong’ pengetuk emosi penonton justru terasa berlarut-larut. Hal yang juga kelewat mengganggu adalah penyajian tweet Fira dan Hafez di sepanjang film yang tidak diiringi oleh waktu baca yang proporsional, padahal ini bisa jadi gimmick yang brilian sekaligus memperkuat makna kisah kasih keduanya.

Harus diakui Cinta Selamanya merupakan salah satu karya terbaik Nugros dimana upayanya sebagai storyteller memang terasa lebih dari biasanya. Alhasil memoir cinta nan indah dari Fira Basuki Baskoro yang sukses memadukan ta
wa dan haru ini bisa menjadi inspirasi kita semua. Jika perbedaan latar belakang maupun pertautan usia belasan tahun tidak menjadi penghalang sepasang anak manusia maka kisah yang dapat terjalin tidak seharusnya mengenal kata pisah karena siapa yang jatuh hati niscaya enggan bangun lagi.

Durasi:
106 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:





Written by:
Chan W

Edited by:
Witra A

Selasa, 07 Mei 2013

CINTA BRONTOSAURUS : Love Expires But Remains Still


Quote:
Dika: Gue butuh cewe yang kalo gue ngeliat gue ga kebayang putusnya bakal kayak gimana.

Nice-to-know:
Jika anda cermati seluruh karakter pria dalam film ini mengenakan kacamata.

Cast:
Raditya Dika sebagai Dika
Eriska Rein sebagai Jessica
Soleh Solihun sebagai Kosasih
Ronny P. Tjandra sebagai Soe Lim
Bucek Depp sebagai Papa Dika
Dewi Irawan sebagai Mama Dika
Meriam Bellina sebagai Mama Jessica
Tyas Mirasih sebagai Wanda

Director:
Merupakan film ketiga bagi Fajar Nugros setelah Cinta Di Saku Celana (2012).

W For Words:
Dika Angkasaputra Moerwani yang lebih dikenal dengan nama Raditya Dika adalah seorang novelis jenaka yang kontan tenar sejak menerbitkan Kambing Jantan di tahun 2005 yang segera disusul empat judul berikutnya dengan status keseluruhan best seller! Empat tahun setelah bukunya, adaptasi layar lebar Kambing Jantan segera diproduksi oleh Indika Pictures dan Vito Production di tahun 2009. Saat itu Dika merambah layar lebar dan digarap langsung oleh sutradara kondang Rudy Soedjarwo. Empat tahun kemudian, giliran buku keduanya difilmkan. Penasaran? 

Kerap diputuskan kekasihnya dalam waktu singkat, Dika memilih percaya pada konsep cinta itu bisa kadaluarsa. Semua uneg-uneg nya sejak masa kecil tertuang pada buku terbarunya, Cinta Brontosaurus. Adalah produser film Soe Lim yang tertarik mengadaptasi karyanya tersebut ke layar lebar. Tawaran yang kemudian diamini oleh agennya, Kosasih yang memang sedang membutuhkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup istrinya Wanda yang boros. Tanpa sengaja, Dika justru berkenalan dengan Jessica yang tak dipungkiri memiliki pemikiran setipe dengannya. Mungkinkah pandangannya berubah?

Skrip yang terinspirasi dari kisah nyata percintaan semasa hidup seorang Raditya Dika ini memang terbilang sangat jujur. Bukan hanya bagi yang bersangkutan tetapi juga kaum pria secara umum. Siapa sih yang tidak pernah ditolak cewe? Berapa kali anda pernah mengalami putus cinta? Jawaban yang dapat dipastikan frekuentif itu dirasa cukup untuk menjadi ‘nyawa’ film. Nyatanya tidak. Begitu menit-menit awal yang menjanjikan berlalu, yang tersisa adalah menit-menit yang agak membosankan karena konflik cerita yang terasa ditarik ulur kesana kemari.

Pertama, ada produser film sohor Soe Lim yang begitu rajin mengedepankan segala sosok ‘hantu’ di kancah perfilman nasional. Jangan salah. Ronny P. Tjandra sudah melakukannya dengan gaya eksentrik yang memikat. Namun pola sindiran terhadap pihak tertentu yang dianut tampaknya belum terlalu kuat menjalankan fungsinya. Kedua, ada rumah tangga Kosasih dan Wanda yang didominasi oleh masalah uang. Tanpa latar belakang mereka yang memadai membuat penonton sulit untuk larut dalam keprihatinan yang dikondisikan sedemikian rupa. Di satu sisi, Soleh lumayan berhasil memberikan nyawa tapi tidak halnya dengan Tyas yang berakting satu dimensi.

Sutradara Nugros selama ini saya kenal sebagai storyteller yang baik. Ia sudah melakukan upaya terbaiknya untuk mengemas kisah yang sesungguhnya biasa-biasa saja itu ke dalam tontonan yang mengalir. Tak sepenuhnya berhasil karena masih ada berbagai pengulangan yang tipikal dan tak jarang membuat penonton letih mengikutinya. Beruntung alunan suara HiVi! lewat suguhan tiga tembang manisnya sedikit banyak memberi esensi fun. Permainan kamera yang dinamis dari Yadi Sugandi dan editing yang rapi dari Cesa David juga menghadirkan nilai plus yang dibutuhkan.

Raditya Dika dari tahun ke tahun merupakan figur komedian yang khas. Tidak semua sasarannya lucu, banyak di antaranya cenderung datar saja. Butuh lebih dari sekadar fans untuk bisa tertawa mengikuti jalan pikirannya. Namun sebagai aktor, saya melihat peningkatan positif dibandingkan film sebelumnya. Eriska Rein dapat dikatakan beruntung mampu menjadi leading act hanya di film ketiganya ini menjadi pasangan yang pas. Walau Jessica digambarkan sebagai cewek freak dengan segala polah tingkah dan pemikiran ajaibnya, ia tetap girly dan loveable.

Cinta Brontosaurus secara cerdas kali ini menggandeng provider XL yang juga tengah melakukan peluncuran perdana program NONTON demi viral marketing yang lebih luas lagi. Terlepas dari formula cinta yang cheesy dan efektifitas lelucon yang minim, setidaknya produksi terbaru Starvision ini masih cukup akrab menyapa penonton remaja hingga dewasa muda yang kerap mempertanyakan arti cinta ataupun teori batas waktu pacaran yang sedianya berlaku. Masih butuh jawaban? Ayo coba dipikirkan kembali matang-matang.

Durasi:
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

*Bespeak for Starvision/Fajar Nugros

Selasa, 26 Juni 2012

CINTA DI SAKU CELANA : Hiburan Filosofis Pilihan Hidup


Quotes:
Gifar: Ya tapi lu gak bisa nungguin momen terus. Ciptain dong, Mad! Kesempatan yang udah di depan mulut, tinggal lu emut, malah lu lepehin.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini screeningnya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Juni 2012.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Ahmad
Joanna Alexandra sebagai Bening
Dion Wiyoko sebagai Gifar
Ramon Y Tungka sebagai Gubeng
Gading Marten sebagai Roy
Lukman Sardi sebagai Bagas
Enditha sebagai Briptu Nila

Director:
Merupakan film kedua bagi Fajar Nugros setelah Queen Bee (2009).

W For Words:
Pendekatan seseorang terhadap cinta bisa dilakukan dengan dua cara yaitu aktif dan pasif. Tentunya hasilnya akan berbeda pula. Itulah perbedaan karakter Ahmad dan Gifar yang saling bersahabat. Sekelumit kisah cerita pendek ‘Cinta di Saku Belakang Celana’ ini pertama kali muncul di note Facebook sebelum Gramedia menerbitkan versi novelnya karya Fajar Nugros dengan judul 'I Didn't Lose My Heart, I Sole it On eBay’. Starvision yang semula ingin rilis terbatas film yang didasari skrip garapan Ben Sihombing tersebut akhirnya setuju untuk rilis nasional demi menjangkau audiens yang lebih luas lagi.

Berangkat dari Panti Asuhan yang membesarkannya membuat Ahmad tumbuh dewasa meski tak pernah mengenal cinta. Rekannya di kantor pos yaitu Gifar mengajarkan Ahmad untuk berani mengejar cinta gadis manis bernama Bening yang dikenalnya melalui kiriman kartu pos tunangannya. Akhirnya Ahmad mau menulis surat cinta dan memberikannya pada Bening. Malang sebelum kesampaian, dompet Ahmad dicopet oleh Gubeng yang melarikan surat tersebut. Akankah Ahmad berserah pada realitas yang terjadi atau justru semakin ngotot mengejar impiannya yang beranjak menjauh itu?
 
Paruh pertama film dititikberatkan pada interaksi tiga tokohnya saja yaitu Ahmad, Gifar dan Bening. Donny Alamsyah dan Dion Wiyoko mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya untuk mengeksplorasi persahabatan dua karakter yang berbeda dalam memandang cinta. Ahmad yang cerdas tapi naïf dalam bercinta berbanding terbalik dengan Gifar yang mahir bercinta tapi bodoh. Perkenalan terhadap tokoh Gubeng membuat paruh kedua berjalan dalam tempo yang lebih cepat dengan kemunculan tokoh-tokoh baru yang semakin mempertajam konflik mulai dari Roy, Bagas hingga Briptu Rahmat dan Briptu Nila. Mudah-mudahan penonton tidak bingung ataupun merasa terganggu dengan perubahan drastis ini.

Departemen musik dalam film ini terbukti berhasil membangun mood yang diinginkan. Lagu lawas Slank yakni Foto Dalam Dompetmu berkali-kali berkumandang menciptakan kesenduan cinta yang tak kunjung diraih. Sedangkan dua track dari pendatang baru Abbay Messi yaitu Cinta Di Saku Celana dan Hey Love mampu membangkitkan semangat optimisme dalam diri Ahmad. Kerjasama penata suara Khikmawan Santosa dan penata musik Tya Subiakto Satrio terjalin dengan baik sehingga menjadi nilai tambah tersendiri dalam dukungannya terhadap film secara keseluruhan.

Sutradara Nugros dengan terampil mengemas urban pop romantic comedy ini di luar pakem-pakem yang ada. Elemen kartu pos, commuter, binatu sampai Russian Roulette bukan dimaksudkan berjalan tanpa arti, ada makna tersembunyi di balik itu semua. Setting lokasi dapat dimaksimalkan sedemikian rupa untuk bercerita, lihat stasiun maupun gerbong KRL sebagai titik interaksi Ahmad dan Bening atau pasar Senen yang hiruk pikuk ketika Ahmad dan Gubeng harus berjibaku sebelum bernegosiasi. Sang editor Cesa David Luckmansyah juga menjalankan tugasnya dengan rapi untuk menjaga esensi film.

Cinta Di Saku Celana menyajikan drama dan komedi secara seimbang tanpa harus berlebihan. Deretan wajah yang sudah tidak asing antara lain Lukman Sardi, Enditha, Luna Maya, Masayu Anastasia, Lolita Putri, Imey Liem, Yati Surachman, Agus Kuncoro juga turut andil mengisi posisi ‘special appearance’. Catatan khusus bagi Pricillia Tanamal yang kocak sebagai Ibu Kos atau Vita Ramona yang membuka film dengan karikatural. Film ini murni bertutur tentang pilihan-pilihan krusial terutama profesi dan pasangan hidup yang kerapkali menentukan kelangsungan langkah anda selanjutnya. Sebuah presentasi filosofis yang samasekali tidak kehilangan tujuannya dalam menghibur penonton.

Durasi:
80 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: