XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2017

LA LA LAND : A Honest To Goodness Musical Romance For Life


Quote:
Mia: People love what other people are passionate about.

Nice-to-know:
Menurut komposer Justin Hurwitz, semua track piano direkam oleh pianis Randy Kerber selama pre produksi. Lantas Ryan Gosling belajar piano dua jam setiap hari, enam hari dalam seminggu demi mendalami setiap track hingga sukses memainkan semuanya selama syuting berjalan tanpa bantuan body double atau CGI.

Cast:
Ryan Gosling sebagai Sebastian
Emma Stone sebagai Mia
J.K. Simmons sebagai Bill
Claudine Claudio sebagai Karen
Jason Fuchs sebagai Carlo
Finn Wittrock sebagai Greg
John Legend sebagai Keith         

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Damien Chazelle setelah Whiplash (2014).

W For Words:
Damien Chazelle memang sudah terbukti memiliki kecintaan tinggi terhadap musik. Sempat mengenyam pendidikan di Princeton High School hingga Harvard University dengan spesialisasi drummer jazz, ia akhirnya meninggalkan cita-citanya menjadi musisi dan memilih filmmaking. Sebuah keputusan yang tepat karena feature debutnya yang terinspirasi dari kisahnya sendiri, Whiplash (2014) berhasil meraih 3 piala Oscar. Dua tahun berlalu, kecintaannya terhadap Hollywood pun dituangkan lewat film ini yang bertemakan romansa modern. Judulnya simpel tapi apakah maknanya sesederhana itu?

Sebastian dan Mia mungkin hanya dua dari sekian juta orang di Los Angeles yang memilih untuk mengikuti passion sebagai mata pencaharian. Sebastian adalah pianis jazz yang bekerja di restoran berkelas, yang bercita-cita bisa membuka klub jazz sendiri. Mia adalah barista kedai kopi yang tak bosan mengikuti audisi film, dengan harapan bisa menjadi aktris tenar suatu saat nanti. Keduanya dihadapkan pada problematika serupa, yaitu pembatasan potensi dan kesempatan yang tak kunjung datang. Pertemuan demi pertemuan lantas menyatukan keduanya dalam jalinan asmara sebelum mimpi dan realitas menjadi hambatan.

Chazelle mengemas perjalanan cinta sekaligus mimpi Sebastian dan Mia hanya dalam 4 musim yaitu spring, summer, fall dan winter. Rollecoaster emosi yang juga silih berganti mengisi kanal perasaan mereka pun diterjemahkan secara apik. Dialog yang terkesan raw tak lantas membuat kita mengerutkan kening tapi justru membuka mata kita lebar-lebar sehingga kita bisa mengerti sepenuhnya pergulatan batin mereka dalam membuat tiap keputusan. Struktur plot yang begitu terorganisir mendukung forward storytelling sampai backward conclusion yang begitu ciamik.

Elemen fantasia begitu kuat diterapkan Chazelle dalam teknis penyutradaraannya. Komposisi warna yang kontras menyajikan gambar-gambar yang mencolok mata. Begitupun tone lighting yang selalu disesuaikan dengan mood Sebastian dan Mia dari awal hingga akhir. Belum lagi tata artistik Austin Gorg yang luar biasa. Koreografi buah pemikiran Mandy Moore berpadu serasi dengan alunan musik Justin Hurwitz sehingga tercipta tarian dan lagu yang akan bersinergi secara mudah dengan indera penglihatan dan pendengaran anda.

Istilah three times lucky mungkin tepat mendeskripsikan kolaborasi ketiga Ryan Gosling dan Emma Stone yang berpotensi meraih piala Oscar untuk pertama kalinya setelah sama-sama pernah dinominasikan sebelumnya ini. Who knows? It's a love letter to classic Hollywood romance movies and both did very well with strong chemistry between them. Stone pada khususnya mempertunjukkan kualitas akting yang mumpuni. Lihat bagaimana audisi demi audisi yang dilakoninya, seakan berakting dalam akting yang sesungguhnya mulai dari ekspresi sampai gestur nyata. Gosling seperti biasa mempertontonkan kharismanya yang luar biasa. Permainan musik dan bahasa tubuhnya di atas panggung teramat meyakinkan.

La La Land adalah sebuah tribute sempurna yang rasanya sulit untuk tidak membuat kita jatuh cinta. Jatuh ke dalam buaian mimpi yang terasa menyimpan sejuta harapan atau malah pelukan cinta yang dirasa memberikan beribu kehangatan. Baik mimpi ataupun cinta, keduanya memang butuh kompromi dengan segala konsekuensinya, terlebih saat dihadapkan pada realita yang tak bisa terhindarkan. Chazelle had successfully stated the obvious and transformed a honest to goodness musical romance ever made. A pure cinematic bliss we will remember for such long time!

Durasi:
128 menit

U.S. Box Office:
$74.081.569 till Jan 2017

Overall:
9 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 20 September 2016

ONE DAY : Taking Risk For Chance In Love


Tagline:
Would you risk everything, just to be in love for just one day?

Nice-to-know:
Kolaborasi kedua sutradara Banjong Pisanthanakun dengan aktor yang juga penulis skenarionya Chantavit Dhanasevi setelah Hello Stranger (2010).

Cast:
Chantavit 'Ter' Dhanasevi sebagai Denchai
Nittha 'Mew' Jirayungyurn sebagai Nui


Director:
Merupakan film kedelapan bagi Banjong Pisanthanakun setelah Pee Mak Phrakanong (2013).



W For Words:
7 dari 20 film Thailand terlaris sepanjang masa hingga saat ini merupakan produksi GTH (GMM Tai Hub) yang telah menutup usianya tahun lalu setelah sebelas tahun beroperasi yang diakhiri dengan merilis dua film terakhirnya Heart Attack dan May Who yang juga tidak terlalu mencatat hasil memuaskan di tangga box office. Untungnya masa hiatus itu tidak berlangsung lama. Studio yang selalu dikenal dengan production value tinggi dan inovasi berkualitas tersebut menjelma menjadi production house baru di bawah bendera GDH 559 (Gross Domestic Happiness). Karya perdana mereka sudah bisa anda nikmati mulai minggu ini yang mengusung dua nama besar yaitu Banjong Pisanthanakun dan Chantavit Dhanasevi. Penasaran kan?

Staf IT berusia 30 tahun, Denchai adalah invisible man di kantornya. Nyaris tidak ada yang mengingat namanya apalagi mempedulikan keberadaannya. Diam-diam ia mengagumi si cantik Nui dari divisi Marketing yang ternyata menjalin hubungan gelap dengan bos perusahaan, Top yang sudah beranak istri. Ketika outing tahunan diadakan di Hokkaido, Nui mengalami kecelakaan dan menderita hilang ingatan selama satu hari. Lantas Denchai menggunakan kesempatan itu untuk mengaku sebagai pacarnya. Apakah kebersamaan mereka akan berlanjut, atau harus berakhir?

Sutradara Banjong Pisanthanakun pernah meraih sukses besar lewat komedi romantis Hello Stranger (2011) yang juga digagasnya bersama sang aktor Chantavit Dhanasevi. Formula yang nyaris serupa dengan tema yang berbeda berusaha dihadirkan, dimana setting dipindahkan dari Korea ke Jepang. Humor-humor situasi yang khas kembali mengisi lewat karakter-karakter pendukung yang hadir dalam porsi secukupnya saja tapi tetap memorable. Walaupun pada akhirnya saya agak menyayangkan keputusan final dalam film yang mereka buat karena akan sangat mempengaruhi kelanjutan nasib GDH 559 di masa mendatang. 

Suasana perkantoran yang statis di paruh awal berhasil memperkenalkan dua tokoh utamanya yang ‘kesepian’ dengan pergolakannya masing-masing. Hokkaido yang terasa dinamis dengan segala daya tarik wisatanya menjadi panggung bertutur yang dilematis di paruh akhir. Berbagai metafora yang disematkan di sepanjang penceritaan mampu mendorong plot ke arah pembabakan yang dituju secara jelas. Sebut saja lonceng permohonan, tombol kejujuran, figur kejutan sampai menara es.

Chantavit rela melakukan permak terhadap dirinya sendiri demi masuk ke dalam karakter Denchai. Wig keriting, susunan gigi yang tidak rapi plus kacamata kutu buku yang membuatnya terlihat berbeda. Gestur nerd yang ditampilkannya juga didukung oleh padanan kostum yang juga believable. Nittha memulai debut layar lebarnya dengan gemilang dimana setiap presence nya selalu ditunggu penonton. Mata besarnya seakan lebih berbicara daripada kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Sosok Nui yang easy going di luar tetapi rapuh di dalam mampu dibawakannya dengan lugas.

Jika anda termasuk dalam kategori lajang kota besar yang berkarir mungkin akan dengan cepat merasa familiar dengan penokohannya. Denchai atau Nui bisa jadi anda sendiri, atau salah satu dari orang di sekitar anda. Dengan pace yang konstan, One Day akan membuat anda terlarut hingga tanpa sadar menangis dalam suka hingga tertawa dalam duka. It’s a moody romance with emotional rollercoaster you should not miss! Cinta memang seringkali membuat kita bersikap egois, karena kebahagiaan kita sendiri yang menjadi taruhannya. But we all still need love, don’t we?

Durasi:
134 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 23 November 2015

A COPY OF MY MIND : Gritty Love Within Political Sphere


Quote:
Alek: Loe kalo mau nyari yang bagus, loe cari yang asli lah. Bajakan masa loe protes.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Lo-Fi Flicks dan CJ Entertainment yang juga menjadi distributornya.

Cast:
Tara Basro sebagai Sari
Chicco Jerikho sebagai Alek
Maera Panigoro sebagai Ny Mirna
Paul Agusta sebagai Bandi
Ario Bayu sebagai Hitman
Tony Setiaji sebagai Penjual DVD
Ronny P Tjandra sebagai Pak Ronny

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Joko Anwar setelah Modus Anomali (2012).

W For Words:
Dua belas tahun sudah filmmaker bertalenta tinggi yang mengawali karirnya sebagai jurnalis film ini menggeluti industri film Indonesia baik sebagai pelakon, penata skrip ataupun sutradara. Untuk pertama kalinya menjabat sebagai produser eksekutif selain menulis skenario dan menyutradarainya, Joko Anwar berhasil meraih legitimasi tertinggi dalam negeri yakni Piala Citra sebagai sutradara terbaik melalui A Copy Of My Mind yang juga diputar pada berbagai festival luar seperti 2015 Venice International Film Festival, Toronto International Film Festival, Busan International Film Festival ini.

Dua insan kelas bawah metropolitan yaitu Sari, pekerja facial salon kecantikan yang kerap menutup harinya dengan menonton DVD bajakan di kamar kosnya dan Alek, pembuat teks terjemahan yang selalu menghabiskan harinya dengan bekerja di dalam rumah seorang nenek sebatang kara yang dirawatnya. Keduanya lantas dipertemukan oleh ‘film’ dan segera bertautan karena kesamaan hobi. Namun sebuah ‘kesempatan’ yang datang bersamaan dengan riuh rendahnya kampanye calon presiden negeri ini justru mengancam masa depan hubungan mereka.
Pembajakan adalah musuh utama sang kreatifitas yang lumrah dihadapi oleh industri film di negara manapun juga. Joko dengan cerdas mengambil tema ini melalui sudut pandang ‘produsen’ dan ‘konsumen’ yang (bukan kebetulan) saling jatuh hati. Proses pengerjaan hingga distribusi langsung secara detil digambarkan di paruh pertama. Sedangkan paruh kedua diisi oleh gejolak sosial politik yang acapkali memihak kepentingan elite harus bersinggungan dengan masyarakat yang tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti arus sambil mencoba bertahan hidup.

Pendekatan indie memang terasa dilakukan Joko melalui panggung Jakarta yang digambarkan ‘kumuh’ seperti kos padat penghuni, rumah gang, warteg sederhana, jalan sempit dsb yang tak jarang berkesan temaram. Namun jangan ragukan sinematografi Ical Tanjung yang efektif menangkap setiap sudut metropolitan yang terlupakan. Alur lambat tetapi konsisten di setiap babaknya dijamin memberikan waktu yang cukup bagi anda untuk mengenal semua karakternya sekaligus mengikuti konflik yang menjalar perlahan sebelum mencapai titik kulminasi.
Chicco membangun tokoh Alek dari tampilan fisiknya yang tegap dan kumal tapi berhati lembut dan meyakini apa yang dianggapnya benar. Tara menjiwai peran Sari dengan kepercayaan diri tinggi terlepas dari keterbatasan yang dimilikinya dan sentiasa mencari pembenaran dari segala tindakannya. Chemistry mereka yang bermula dari nafsu mulai berkembang menjadi saling membutuhkan dengan semua upaya kompromi yang terlihat jelas. Maera mampu mencuri perhatian di atas limitasi screen time sebagai Ny Mirna yang tegas dan oportunis. Sementara Paul menunjukkan sisi antagonis yang dibutuhkan sebagai Bandi.

A Copy Of My Mind, yang lahir dari kecintaan seorang Joko Anwar sejak belia terhadap film itu sendiri, lebih merupakan sebuah drama kontemporer dengan character study dan conflict relevance yang kental. Sentuhan thriller yang coba dihadirkan di penghujung cerita memang tidak sampai mengubah ‘haluan‘ tetapi dirasa sudah cukup untuk meninggalkan kesan menetap, bahkan setelah anda meninggalkan bioskop. Your mind will be blown by a pair of helpless lovers in seeking of their own entertainment and testament.

Durasi:
118 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 30 Juli 2015

LITTLE BIG MASTER : Moving Story Of Extraordinary Teacher

Original title:
Ng Gor Siu Haai Dik Haau Cheung


Nice-to-know:
Film yang rilis di Hongkong pada 19 Maret 2015 yang lalu ini menjadi #2 box office di bawah Furious 7

Cast:
Miriam Chin Wah Yeung sebagai Prinicipal Lui
Louis Koo sebagai Tung Tung
Richard Ng
Yuen Yee Ng
Philip Keung
Shui-Fan Fung
Man-Wai Wong               
Sammy Leung   
Mimi Chi Yan Kung
Winnie Ho
sebagai Siu-suet
Zaha Fathima sebagai Kitty
Khan Nayab sebagai Jennie
Keira Wang sebagai Chu-chu
Fu Shun-ying sebagai Ka-ka

Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi Adrian Kwan setelah Team of Miracle: We Will Rock You (2009).

W For Words:
Jika Indonesia memiliki sosok Butet Manurung yang gigih menjelajahi pedalaman hutan Jambi demi memberikan pendidikan bagi anak-anak rimba dalam Sokola Rimba (2013), maka Hongkong mempunyai Lillian Lui Lai-hung yang rela melepas karir di sekolah bergengsi demi menyelamatkan sekolah terpencil yang terancam ditutup. Yes, you’re in for humanist story! Film yang mencatat box-office 33 juta HKD selama peredaran seminggu pertama di Hongkong pada April silam ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Thanks to Feat Pictures who brought this to us via Cinemaxx and CGV Blitzmegaplex!

Akibat perbedaan prinsip, Kepsek Lui keluar dari sekolah elit bertepatan dengan mundurnya sang suami sebagai kurator musium. Niat keduanya untuk bersantai dan keliling dunia batal setelah mendengar TK di desa Yuen Long akan diganti menjadi tempat pembuangan sampah. Lima murid tersisa, Siu-suet yang membantu ayahnya yang pincang, Chu-chu yang kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan dan tinggal bersama bibinya, Ka-ka yang jadi saksi pertengkaran ayah ibunya yang menjadi korban kontraktor, dua bersaudari Pakistan yakni Kitty dan Jennie yang dilarang ayahnya bersekolah harus bekerjasama mencari murid baru demi kelangsungan sekolah mereka.














Skrip yang ditulis oleh Adrian Kwan dan Hannah Chang ini memang menekankan pada kisah orang-orang biasa (kelas menengah ke bawah) dengan segala permasalahan nyata dalam keseharian mereka. Berbagai kritik sosial turut menyertai, seperti sikap sinis, apatis dan pesimis masyarakat masa kini dalam menyikapi hampir semuanya. Belum lagi kasus bullying dalam segala bentuk yang kian marak. Bagaimana pihak yang kurang beruntung akan semakin ditekan. Keseluruhan problem tersebut secara gemilang mampu terangkai dalam satu bingkai yakni pendidikan sebagai dasar utama akhlak manusia. 

Yeung berhasil menyalurkan emosi sebagai pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri meski harus berjuang secara fisik sekalipun. Koo sukses menghidupkan sosok suami yang berpendirian teguh dan mencintai dengan cara yang unik. Chemistry keduanya mungkin tidak begitu nyata terlihat tapi terasa natural dan belieavable. Ho, Fu, Wang, Fathima dan Nayab merupakan bintang dalam film ini. Penampilan individual maupun saat berinteraksi dengan keluarga masing-masing  akan menawan hati anda hingga tanpa sadar menitikkan air mata dibuatnya.














Produser Benny Chan yang sudah banyak makan asam garam berusaha menjawab tantangan dimana film yang diangkat dari kisah nyata biasanya sulit berbicara di pasar. Saya tidak tahu metode yang digunakan Kwan, selama ini dikenal sebagai sutradara ‘Kristen’ lewat karya-karyanya, dalam menggali potensi kelima gadis cilik yang sebetulnya bukan aktris untuk merajut sisi emosional yang begitu pas. Sinematografi Anthony Pun terasa ciamik menangkap setiap detil shot yang berisi. Musik Wong Kin-wai memberi nyawa melodrama yang kuat. Sedangkan editing Curran Pang semestinya bisa lebih cepat sehingga lebih efektif dalam bercerita.

Produksi kolaborasi One Cool Film Production, Sil-Metropole Organisation, Sirius Pictures International dan Sun Entertainment Culture ini diyakini akan menuai banyak penghargaan di festival film internasional. Selain didedikasikan untuk semua pengajar di seluruh dunia, Little Big Master adalah sebuah upaya untuk mengerti suka dan duka kehidupan itu sendiri dari kacamata anak-anak. Suatu peringatan dimana kita yang bertumbuh dewasa kerap lupa untuk menjaga optimisme sambil tetap bermimpi akan tujuan yang ingin dicapai. Passions will drive you forward, no matter what challenge you might face.

Durasi:
112 menit

Movie-meter:

Rabu, 22 Juli 2015

BAJRANGI BHAIJAAN : Crossing Borders With A Heart

Quote:
Pawan: I don’t have a passport or a visa. But i promise, i’ll take Munni home myself. 

Nice-to-know:
Merupakan film keempat Salman khan dengan Kareena Kapoor.

Cast:
Salman Khan sebagai Pawan Kumar Chaturvedi / Bajrangi Bhaijan
Kareena Kapoor sebagai Rasika
Harshaali Malhotra sebagai Shahida / Munni
Nawazuddin Siddiqui sebagai Chand Nawab
Sharat Saxena sebagai Dayanand             
Najeem Khan

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Kabir Khan setelah Ek Tha Tiger (2012).

W For Words:
Sama seperti Indonesia, Bollywood memiliki tradisi merilis film-film unggulan untuk menyambut Idul Fitri yang biasanya dibintangi oleh aktor besar. Kali ini giliran Salman Khan yang sudah berusia setengah abad untuk unjuk gigi paska pemenjaraan dirinya yang tertunda akibat kasus pembunuhan seorang pria tuna wisma. Well, we won’t talk further about that except his latest movie produced by Eros International, Kabir Khan Films, Rockline Entertainment and Salman Khan Films which collected 100 crore in just four days release. Amazing!












Seorang gadis cilik tuna wicara Pakistan berusia 6 tahun, Shahida tanpa sengaja terpisah dari keluarganya dan terdampar di India. Adalah mantan pegulat, Pawan yang tinggal di rumah kerabat ayahnya Dayanand, menemukannya dan kemudian menamakannya Munni. Pawan yang berniat menikahi Rasika menyanggupi tantangan untuk memulangkan Munni ke rumah asalnya walaupun harus melintasi perbatasan tanpa visa dan paspor. Pawan malah dituduh sebagai mata-mata dan jadi buronan. Wartawan lokal Chand membantunya dan menyebarkan kisahnya kepada publik.

Skrip yang digagas Prasad bersama Khan, Shaikh dan Hussain ini mesti diakui memang memiliki setup-setup kemanusiaan yang potensial mengetuk hati penontonnya. Modal yang kemudian didukung juga oleh directing skills mumpuni dari Khan yang begitu cekatan menangani setting sederhana hingga kompleks dengan grande. Karakter demi karakter diperkenalkan secara detail di paruh pertama sebelum pembahasan konflik antar negara yang mulai mencuat di paruh kedua. Toh film ini tidak berbicara politik bilateral melainkan perpaduan drama dan komedi dalam takaran yang pas tanpa harus terkesan preachy.
















Tidak seperti biasanya yang lebih mengandalkan otot, Salman di sini sukses menampilkan sisi rapuh selain kepolosan dan keteguhan hati seorang Bhaijaan. Si kecil Harshaali juga berhasil mencuri perhatian anda lewat sorot mata, ekspresi dan gesture yang sudah berbicara dengan sendirinya. Penampilan menawan Nawazuddin yang baru muncul setelah intermission mampu menghadirkan tawa lewat polah tingkah nya yang canggung tapi berhati baik. Sedangkan si cantik Kareena rasanya lebih berfungsi sebagai cameo dengan jumlah scene yang masih terbilang memadai.

Bajrangi Bhaijaan patut mendapat applause karena mengusung elemen patriotisme, cinta, kekeluargaan dan persaudaraan yang begitu emosional di atas segala batas yang ada. Terima kasih pada kontribusi musik Julius Packiam dan hits Pritam yang mendukung storytelling. Sekuens opening dan ending di pegunungan Kashmir bukan hanya indah tapi juga membuka dan menutup film secara brilian. Tak ayal, sajian blockbuster yang satu ini akan memenangkan hati banyak orang yang tak akan sungkan menitikkan air matanya. A hero with a heart? Definitely Salman’s best role to date!

Durasi:
154 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 12 Mei 2015

PIKU : Motion Through Emotion Couldn’t Get Any Better

Quote:
Piku: You know he’s dependant on me. So if anyone wants to marry me..
Rana: He’ll have to adopt your 90 year old kid?
Piku: Of course.. So will you?
Rana: I am not mad.

Nice-to-know:
Film favorit Deepika Padukone setelah Om Shanti Om (2007).

Cast:
Amitabh Bachchan sebagai Bashkor Banerjee
Deepika Padukone sebagai Piku
Irrfan Khan sebagai Rana
Moushumi Chatterjee sebagai Chaubi
Raghuvir Yadav sebagai Dr. Srivastava
Jishu Sengupta sebagai Syed Afroz
Aniruddha Roy Chowdhury
Akshay Oberoi 

Director:
Merupakan film keempat bagi Shoojit Sircar setelah Madras Cafe (2013).

W For Words:
Jika seorang produser kenamaan bertangan dingin Bollywood, Karan Johar memuji film ini setinggi langit maka anda bisa jadi penasaran. Faktor tiga mega bintang yang tampil bersama untuk pertama kalinya jelas tidak boleh dilewatkan begitu saja. Siapa yang tidak mengenal nama Amitabh Bachchan, Deepika Padukone dan Irrfan Khan yang masing-masing memiliki filmografi mentereng dengan berbagai penghargaan internasional. Publik Indonesia demikian beruntung bisa menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex mulai awal Mei ini.

Piku adalah wanita karir yang mandiri di kota metropolitan. Kesibukan di kantor bersama Syed yang kerap mencarikan jodoh tidak lantas melupakan baktinya terhadap orangtua. Sejak ditinggal mati istrinya, Baba memiliki masalah sembelit yang membuatnya selalu waswas akan penyakit yang mungkin menghinggapinya. Sementara itu pria pemilik jasa transportasi, Rana tanpa sengaja masuk ke dalam hubungan unik ayah dan putri tersebut saat mereka harus berkendara bersama menuju Kolkata yang ditempuh dalam waktu puluhan jam.
















Skrip yang ditulis oleh Chaturvedi ini merupakan refleksi nyata kehidupan mereka yang hidup satu atap dengan orangtua yang mulai menua. Bagaimana kepentingan pribadi yang kian menumpuk harus tetap berjalan bersisian dengan kepentingan keluarga yang sedianya lebih mendesak. Status lajang yang tak ayal menjadi sorotan di lingkungan masyarakat sosial. Tak jarang stress hadir yang berujung dengan makian atau keluh kesah. Oleh karena itu anda bisa langsung mengidentifikasi problema yang dihadapi oleh karakter Piku karena begitu dekat dengan keseharian.

Sutradara Shoojit yang sudah saya favoritkan semenjak Vicky Donor (2012) begitu terampil merangkai sebuah cerita sederhana yang nyaris tidak menyisakan kejutan apa-apa. Ia membuktikan bahwa suatu hiburan yang berisi tidak harus lari dari kenyataan ataupun melupakan realita barang sejenak. Bahkan potensi romansa drama antara Deepika dan Irffan juga tersaji dalam porsi ala kadarnya tapi tetap tersirat lewat pertukaran dialog yang brilian. Elemen komedi yang muncul kerap terjadi dengan sendirinya tanpa sugesti berlebihan. Pilihan shot yang seperti tidak memihak eksterior selain close-up pada setiap karakternya justru menekankan rasa intim sekaligus menjaga ikatan terhadap penonton.














Amitabh seperti yang diharapkan tampil brilian sebagai pria tua Bengali yang cerewet dan keras kepala tapi tetap berkharisma tinggi. Meski kebagian dialog yang minim, Irrfan tetap menunjukkan kelasnya melalui gestur dan ekspresi yang lebih 'berbicara'. Lihat bagaimana interaksi keduanya yang 'ajaib' tapi sukses menghadirkan senyum di wajah anda. Deepika lagi-lagi memesona di tengah dua 'legenda' dimana nyaris setiap scene yang terjadi lahir dari inisiatif perannya. Kita bisa melihat ketegaran dan kerapuhan Piku secara bersamaan sekaligus menekankan emansipasi wanita pada jaman modern lewat 'multitasking' di segala situasi.

Piku mungkin terasa 'riuh' di beberapa bagian tapi jelas tak pernah kehabisan konflik di sepanjang durasinya. Terlepas dari jawaban-jawaban yang tidak semua tersedia pada epilognya, Piku punya cara sendiri dalam menuturkan tema yang 'berat' melalui wacana ringan yang samasekali tidak menggurui. Sebuah komedi perjalanan dengan konsistensi dan timing yang terukur, sehingga tawa dan air mata haru terus mengiringinya. Honest feed to your emotional needs about family and self-esteem. Trust me that it won't affect your digestive system.

Durasi:
123 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 Mei 2015

TESTAMENT OF YOUTH : Deeper Truth About Surviving War

Quote:
Vera Britain: Perhaps their deaths have meaning if we stand together and say ‘No’. No to killing. No to war. No to endless cycles of revenge.

Nice-to-know:
Awalnya Saoirse Ronan dicast sebagai Vera Britain tetapi jadwal tidak memungkinkan hingga Alicia Vikander menggantikannya.

Cast:
Alicia Vikander sebagai Vera Brittain
Kit Harington sebagai Roland Leighton
Hayley Atwell sebagai Hope
Taron Egerton sebagai Edward Brittain
Jonathan Bailey sebagai Geoffrey Thurlow
Colin Morgan sebagai Victor Richardson
Emily Watson sebagai Mrs. Brittain
Dominic West sebagai Mr. Brittain
Anna Chancellor sebagai Mrs. Leighton

Director:
Merupakan debut feature bagi James Kent.

W For Words:
Pencapaian Vera Brittain semasa hidupnya mungkin bisa disejajarkan dengan tokoh pahlawan nasional kita RA Kartini. Kehidupannya yang penuh konflik di abad 19 lantas mendorongnya menulis novel Chronicle of Youth yang kemudian diadaptasi menjadi Letters from a Lost Generation hingga tercatat sebagai best seller dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tidak salah jika anda tertarik untuk mencerna adaptasinya yang berdurasi lebih dari dua jam ini sambil menyadari betapa beruntungnya hidup di masa sekarang yang jauh dari perang.












Meski terlahir dari keluarga pengusaha sukses di Inggris, Vera Brittain tak ingin berdiam diri. Diskriminasi gender tak menyurutkan langkahnya untuk mengenyam pendidikan di Oxford meski ditentang sang ayah. Perang Dunia pertama berlangsung, adiknya Edward dan sahabatnya Roland mengajukan diri sebagai sukarelawan. Vera pun menyusul meski di garis belakang sebagai perawat tentara yang terluka. Hubungannya kian erat dengan Roland hingga memutuskan menikah sebelum tragedi demi tragedi yang terjadi menguji kesabarannya.

Film BBC ini menandakan reuni Alicia Vikander dan Kit Harington, setelah duet mereka di Seventh Son. Vikander meraih nominasi pemeran wanita terbaik BFI London Film Festival di sini atas upayanya beraksen Inggris walau berkebangsaan Swedia. Lihat bagaimana ia mampu menunjukkan sosok Vera yang feminin sekaligus cerdas tangguh menghadapi kemelut peperangan. Sementara itu transformasi Harington pada karakter Roland pra dan paska terjun ke medan perang cukup terlihat. Egerton yang baru angkat nama dalam Kingsman: The Secret Service masih mencuri perhatian sebagai Edward.















Sutradara Kent yang selama ini ‘ahli’ untuk urusan film dokumenter televisi menyajikan sinematografi yang begitu indah dari penglihatan Rob Hardy. Bagaimana kehidupan berpasangan menjadi menu utama klasik dimana Kent menghadirkan scene perpisahan pasangan di stasiun kereta api, komunikasi surat menyurat lewat pos yang mendebarkan apakah kabar baik atau buruk yang sekiranya disampaikan. Consolata Boyle juga membawa kostum tipikal British drama yang menekankan nuansa era 1900an. Tak lupa sumbangsih Max Richter dalam departemen musik yang kian mengukuhkan storytellingnya.

Testament Of Youth terasa begitu istimewa karena mengambil perspektif perempuan pada masa Perang Dunia dengan tingkat keakuratan sejarah yang tinggi. Prahara dilematis yang sulit dihindarkan atas dasar apapun juga. Bagaimana pilihan-pilihan harus dibuat, terlibat dalam peperangan atau hanya berdiam diri menunggu, terus larut dalam kesedihan usai ditinggalkan orang tercinta atau langsung melanjutkan hidup. Semua perjalanan keputusan demi keputusan yang dibingkai secara puitis lewat bahasa gambar nan elok disertai dengan penggalan puisi atau surat nan indah, hingga anda tak sadar menitikkan air mata karena terhanyut dibuatnya.

Durasi:
129 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:





Written by:
Chan W

Edited by:
Witra A

Kamis, 07 Mei 2015

CINTA SELAMANYA : Hati Berkisah Enggan Berpisah

Quote:
Hafez: Tidak ada yang abadi, tapi cinta bisa dibawa mati, hingga abadi nanti.

Nice-to-know:
Diangkat dari novel Fira & Hafez yang diinspirasi dari kisah nyata Dwifira Maharani Wulandari Basuki dan Hafez Agung Baskoro.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Fira Basuki
Rio Dewanto sebagai Hafez
S
haloom Razade sebagai Syaza
Tantry Agung Dewani sebagai Tantry
Janna Joesoef sebagai Mbak Sinung
Amanda Soekasah sebagai Mbak Rani
Nungky Kusumastuti sebagai Ibu Hafez
Yadi Sugandi sebagai Ayah Hafez
Aira Sondang sebagai Raditya
Dewi Irawan sebagai Mama Fira
Tio Pakusadewo sebagai Papa Fira
Syazia sebagai Kiad
Surya Insomnia sebagai Ferry
Widi Mulia Sunarya sebagai Egi
Muhadkly Acho
Joanna Alexandra
Patrick Alexandra
A
gus Kuncoro
Dwi Sasono
Lukman Sardi

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Fajar Nugros sekaligus perdana yang diproduksi bersama istrinya Susanti Dewi.

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal sosok Fira Basuki sebagai Pemimpin Redaksi majalah lifestyle, Cosmopolitan yang selalu terlihat modis dan menjadi cerminan kaum wanita urban metropolitan. Dibalik kelemah-lembutannya, ia adalah wanita mandiri yang perfeksionis dalam pekerjaannya. Kesendiriannya membuat orang sekitar ingin mencarikan pendamping baru untuk Fira. Banyak pria datang mencoba mengambil hati Fira, tetapi cinta selalu datang tanpa terduga.

Hafez Agung Baskoro, lahir dengan darah seni yang gemar menyanyi dan bermain musik. Ia adalah sosok pria serba bisa yang berpenampilan biasa. Jika kencan pertama selalu dimulai dengan sesuatu yang mewah, Tetapi Hafez menawarkan dirinya ke Fira dengan kesederhanaannya. Naik motor dan makan seafood di pasar ikan, mungkin itu bukan kencan yang diidamkan Fira namun malam itu hatinya telah tercuri oleh pria ini.














Profil sepasang insan di atas rasanya sudah cukup menjadi daya tarik penonton, terlebih pembaca novelnya, untuk berbondong-bondong datang ke bioskop dan menyaksikan perjalanan cinta mereka yang penuh tantangan. Optimisme itulah yang diyakini pasangan suami istri produser sutradara Susanti Dewi dan Fajar Nugros lewat persembahan perdana Demi Istri yang bekerjasama dengan Wardah dan Kaninga Pictures.

Harus diakui akting Atiqah terasa sangat total di film ini. Ia mampu menampilkan kemandirian Fira sekaligus ketegarannya melewati masa sulit sebagai single parent. Sedangkan suaminya di kehidupan nyata, Rio Dewanto terlihat agak kedodoran mengimbanginya. Sosok Hafez yang ditampilkan Rio terlihat lebih dingin daripada apa yang diwacanakan di novel Fira & Hafez (2013). Penampilan pendatang baru Shaloom cukup menarik. Saya merasa ia memiliki potensi lebih walau peran Syaza terasa kurang dimaksimalkan.













Rollercoaster emosi di film ini cukup menarik lewat ‘pembabakan’ yang digagas oleh Nugros. Materi senang sendu dibawa secara ringan lewat sajian humor situasi yang tersebar di beberapa bagian. Sayangnya ‘finale’ di Madrid yang harusnya menjadi ‘gong’ pengetuk emosi penonton justru terasa berlarut-larut. Hal yang juga kelewat mengganggu adalah penyajian tweet Fira dan Hafez di sepanjang film yang tidak diiringi oleh waktu baca yang proporsional, padahal ini bisa jadi gimmick yang brilian sekaligus memperkuat makna kisah kasih keduanya.

Harus diakui Cinta Selamanya merupakan salah satu karya terbaik Nugros dimana upayanya sebagai storyteller memang terasa lebih dari biasanya. Alhasil memoir cinta nan indah dari Fira Basuki Baskoro yang sukses memadukan ta
wa dan haru ini bisa menjadi inspirasi kita semua. Jika perbedaan latar belakang maupun pertautan usia belasan tahun tidak menjadi penghalang sepasang anak manusia maka kisah yang dapat terjalin tidak seharusnya mengenal kata pisah karena siapa yang jatuh hati niscaya enggan bangun lagi.

Durasi:
106 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:





Written by:
Chan W

Edited by:
Witra A

Sabtu, 22 Maret 2014

DIVERGENT : Defying All Odds For Self-Discovery

Quote:
Beatrice 'Tris' Prior: And what if they already know?
Tori: Then you're already dead.


Nice-to-know:
In The Fault in Our Stars (2014), Shailene
dan Ansel memerankan sepasang kekasih sedangkan kali ini sebagai kakak beradik.

Cast:
Shailene Woodley sebagai Tris
Theo James sebagai Four
Ashley Judd sebagai Natalie
Jai Courtney sebagai Eric
Ray Stevenson sebagai Marcus
Zoë Kravitz sebagai Christina
Miles Teller sebagai Peter
Tony Goldwyn sebagai Andrew
Ansel Elgort sebagai Caleb
Maggie Q sebagai Tori
Mekhi Phifer sebagai Max
Kate Winslet sebagai Jeanine 


Director:
Merupakan feature film kelima bagi Neil Burger setelah Limitless
(2011).

W For Words:
Kesuksesan novel-novel remaja yang berintisari pencarian jati diri memang memicu pergerakan para filmmaker Hollywood untuk mengadaptasinya ke layar lebar dengan harapan hasil yang tak jauh berbeda, sebut saja The Hunger Games, Harry Potter series ataupun Twilight saga yang sangat high profile tersebut. Trend itu lantas dilanjutkan oleh Neil Burger yang mengangkat karya pertama Veronica Roth dari rangkaian trilogi sebagai sci-fi action drama yang sejauh ini berhasil meraup 58 juta dollar di minggu pertama peredaran Amerika Serikat saja. It’s a pretty good start actually!

Chicago di masa depan paska peperangan membagi masyarakatnya ke dalam lima faksi yaitu Candor (penjunjung kejujuran), Erudite (cendekiawan), Dauntless (pemberani), Amity (pecinta kedamaian) dan Abnegation (penolong tanpa pamrih). Tes yang dijalani Beatrice Prior di usia 16 mengelompokkan dirinya sebagai Divergent alias golongan di luar kelima faksi yang berarti hukuman mati. Keputusan nekad diambil ketika ia bergabung dengan Dauntless dan mengganti nama menjadi Tris hingga bertemu pemimpin kelompok, Four yang membantunya dengan tulus.

Duo penulis skrip, Evan Daughterty dan Vanessa Taylor berupaya semaksimal mungkin untuk mengatur pacing di bagian pembuka ini. Bagaimana premis dibuka lewat proses introduksi sosial politik masyarakat ‘masa depan’ sekaligus penjelasan latar belakang beberapa tokoh inti yang memadai. Kemudian serangkaian tes ekstrim yang diyakini mampu menyita perhatian pun dijalankan dimana keberpihakan penonton langsung diarahkan kepada Tris yang ‘baru’ sebelum sepak terjangnya di paruh terakhir yang terasa berpacu dengan waktu demi konklusi besar yang diharapkan mampu menjembatani seri berikutnya. 

Upaya sutradara Burger dalam membangun dunia futuristik patut diacungi jempol mengingat bujet yang tidak tergolong besar untuk sebuah proyek ambisius milik Summit Entertainment ini. Terima kasih atas bantuan green screen dan CGI yang walaupun sebetulnya tak terlalu istimewa tapi tetap menjaga standarisasi surreal yang dibutuhkan. Sinematografi yang cukup apik dari Alwin H. Küchler membuatnya layak disaksikan dalam format IMAX sekalipun. Berbagai action sequences nya dilakukan sesuai kebutuhan cerita agar pacingnya terjaga mengingat durasi film yang lumayan panjang tersebut.

Senang melihat Woodley akhirnya mendapat kesempatan bersinar setelah sebelumnya mencuri perhatian dalam The Descendants (2011). Lihat bagaimana Beatrice bertransformasi menjadi Tris dengan rentang emosi yang cukup panjang. Seorang heroine yang tak hanya cantik tapi juga berani menerima tantangan. James juga tak kalah memikat sebagai Four yang dingin misterius tapi cekatan luar biasa. Chemistry keduanya memang tak jarang terasa dipaksakan demi membumbui cerita. Toh pada akhirnya kita 'wajib' mengerti jika perjalanan dua protagonis saling jatuh hati tentunya akan lebih menarik untuk disimak.

Menarik menyaksikan Winslet berperan sebagai antagonis Jeanine terlepas dari minimnya screen presence di sepanjang film. Porsi yang sama juga berlaku pada sederetan nama beken senior lainnya semisal Judd, Maggie Q, Stevenson, Goldwyn dan Phifer meski nama yang tersebut di awal masih lumayan memorable. Sedangkan bintang-bintang muda semacam Courtney, Kravitz, Elgort, Lloyd-Hughes, Madsen dll boleh dibilang kian memperkaya karakterisasi hitam putih dalam seri pembukanya kali ini.

Terlepas dari problem pacing yang bergerak lambat di paruh awal dan cepat di paruh akhir, Divergent bukanlah film yang buruk. Penonton potensial yang tertarik mengikutinya bisa jadi berkali-kali lipat dari jumlah pembaca bukunya itu sendiri. Tak heran karena karakter utama yang simpatik dan juga dunia rekaan yang atraktif niscaya menjadi daya pikat tersendiri. Saya yakin petualangan akan terus berlanjut hingga Insurgent dan Allegiant yang diharapkan secara kualitas akan membaik. Who’s in her path for finding self-identity by defying all odds to create a better world?

Durasi:
139 menit

U.S. Box Office:
$58,000,000 till Mar 2014

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 09 November 2013

CARRIE : Revenge Ain't Always Best Served Cold

Quote:
Carrie White: The other kids, they think I'm weird. But I don't wanna be, I wanna be normal. I have to try and be a whole person before its to late.

Nice-to-know:
Adaptasi film pertama dimana tokoh Carrie benar-benar dimainkan oleh remaja, Chloe Grace Moretz yang berusia 15 tahun. Terdahulu Sissy Spacek dan Angela Bettis masing-masing berusia 26 tahun dan 28 tahun.

Cast:
Chloë Grace Moretz sebagai Carrie White
Julianne Moore sebagai Margaret White
Gabriella Wilde sebagai Sue Snell
Portia Doubleday sebagai Chris Hargensen
Alex Russell sebagai Billy Nolan
Zoë Belkin sebagai Tina
Ansel Elgort sebagai Tommy Ross


Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Kimberly Peirce yang mulai angkat nama lewat Boys Don’t Cry (2006).

W For Words:
Carrie White adalah siswi SMU pemalu yang kesulitan bergaul. Dunianya hanya diisi oleh ibunya semata, Margaret White, wanita relijius berprofesi penjahit yang merasa terkhianati oleh cinta di masa lampau. Kejadian menstruasi pertamanya di toilet sekolah membuat Carrie jadi buah bibir sekaligus bahan celaan teman-temannya terutama siswi bermasalah, Chris Hargensen dan kekasihnya, Billy Nolan. Sue Snell yang merasa bersalah mengutus pacarnya Tommy Ross yang juga idola sekolah untuk mengajak Carrie ke prom night. Mimpi buruk pun dimulai dimana kekuatan telekinesis Carrie akan mengambil alih. 

Ada dua nama besar yang sudah membesarkan Carrie. Satu adalah Stephen King yang pertama kali mengangkat kisah fiktifnya ke dalam novel di tahun 1974 yang lantas menjadi best seller dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Dua adalah Brian De Palma yang sukses mengadaptasinya dengan bintang Sissy Spacek yang kemudian menerima nominasi Oscar pertamanya sebelum berjaya pada kesempatan berikutnya lewat Coal Miner’s Daughter (1980). Kini lebih dari tiga puluh tahun berlalu, MGM Pictures bekerjasama dengan Screen Gems dan Misher Films meremakenya dengan bekal yang menjanjikan dari tiga nama.

Pertama, Chloë Grace Moretz adalah the next big thing in Hollywood dengan kemampuan aktingnya yang terakreditasi. Walaupun banyak pihak yang mengatakan ia terlampau cantik untuk peran Carrie White, setidaknya usia gadis kelahiran 1997 ini benar-benar remaja saat syuting berlangsung. Pilihan yang terbukti tidak rancu karena saya benar-benar melihat transformasi dari korban tak berdaya menjadi pelaku berkuasa di sini, bukan hanya secara fisik tetapi juga segi emosionalnya yang cukup matang berbicara di layar.

Kedua, Julianne Moore adalah aktris kaliber Oscar dengan empat nominasi. Ia diyakini akan menjadi penyanding yang pas bagi Moretz. She performed great. Sisi lunatic psychotic nya terwujud nyata lewat setiap tindakan dan perkataannya. Sosok Kristen taat yang kerap menghubungkan segala sesuatunya dengan Tuhan dan iblis secara kontradiktif. Wilde dan Doubleday berhasil menempati posisi berseberangan secara brilian. Elgort juga terbilang likeable sebagai Tommy yang mulai terdistraksi oleh perasaannya sendiri. Greer juga mencuri perhatian sebagai pihak ketiga di sekolah, Ibu Desjardin yang juga pengajar olahraga.

Ketiga, Kimberly Peirce yang 14 tahun silam menghentak dunia dimana film yang ditulis dan disutradarainya sendiri, Boys Don’t Cry (1999) sukses menyabet Oscar baginya. Skrip yang ditulis oleh Lawrence D. Cohen dan Roberto Aguirre-Sacasa ini berupaya dimodernisasi dengan pemakaian ponsel berkamera dan media Youtube sebagai alat eksploitasi. Namun Peirce seakan menyandang beban berat apalagi harus berurusan dengan efek khusus yang terkadang bertentangan dengan spirit indie nya. Bagi saya apa yang dilakukannya secara detail dari awal sampai akhir masih terlalu episodik dibandingkan originalnya sehingga kerap terasa jumpy dan inconsistent.


Terlepas dari segala kekurangannya, remake Carrie yang satu ini tetap berhak mendapatkan spotlight yang diharapkannya. Tidak akan terlalu bersahabat bagi mereka yang mengenal betul versi originalnya tetapi lumayan menjanjikan bagi penonton ‘generasi baru’. Faktor kesetiaan dengan pendahulunya di departemen storytelling tampak berusaha diupgrade dengan tampilan visualnya yang lebih kekinian. Unsur gory dan violence yang diusungnya sedikit berpihak pada elemen horor dibandingkan thriller. For me it’s still haunting to see payback time where revenge ain't always best served cold.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$34,050,775 till Nov 2013

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: