XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label donny alamsyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label donny alamsyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

CITA-CITAKU SETINGGI TANAH : Presentasi Inspiratif Mimpi dan Perjuangan


Quotes:
Mbah: Rejeki itu nggak pernah pergi, cuma menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Humanplus Production ini screeningnya diadakan di Djakarta XXI pada tanggal 2 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Agus Kuncoro sebagai Bapak Agus
Donny Alamsyah sebagai Pegawai restoran Padang
Nina Tamam sebagai Ibu Agus
Iwuk Tamam sebagai Nenek Agus
M Syihab Imam Muttaqin sebagai Agus
Rizqullah Maulana Daffa sebagai Jono
Iqbal Zuhda Irsyad sebagai Puji
Dewi Wulandari Cahyaningrum sebagai Mey/Sri
Luh Monika Sokananta

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Eugene Panji yang juga bertindak sebagai produser.

W For Words: 
Pengertian cita-cita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Tentunya anda masih ingat ketika duduk di bangku sekolah dasar, tenaga pengajar selalu menanyakan apa cita-cita masing-masing anak. Manfaatnya tentu saja untuk mengukur kemampuan sekaligus menetapkan tujuan yang mau dicapai sejak dini. Film segala umur produksi Humanplus ini mengambil sudut pandang anak-anak sehingga cocok menjadi tontonan seantero keluarga. 

Agus berasal dari keluarga sederhana di Muntilan. Ayahnya bekerja di pabrik tahu sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang terampil membuat tahu bacem. Suatu ketika ibu guru menugaskan murid-muridnya menulis karangan tentang cita-cita. Sri yang beken dipanggil Mey ingin menjadi artis terkenal dimana ibunya turut membantu, Jono yang selalu menjabat sebagai ketua kelas ingin menjadi tentara, Puji ingin selalu membahagiakan orang lain. Bagaimana dengan Agus? Ia hanya ingin makan di restoran Padang sehingga rela menabung setiap harinya untuk mewujudkannya.

Penata skrip Satriono mampu bertutur secara linier. Alur film mudah dinikmati layaknya air mengalir. Sentralisasi tokoh Agus yang dianggap memiliki cita-cita rendah tapi menyusahkan berhasil menjembatani konflik dengan karakter-karakter di sekitarnya yang juga variatif merepresentasikan dirinya masing-masing. Permasalahan yang diangkat memang tergolong ringan tetapi cukup untuk menyentuh perasaan penonton meski tanpa kehadiran satu sosok antagonis pun di sepanjang 82 menit durasinya.

Produser-sutradara Eugene Panji yang selama ini berkecimpung dalam pembuatan video klip musik terampil memaksimalkan setting Muntilan, Jawa Tengah sebagai panggung indah lengkap dengan segala atribut pendukungnya. Potret kehidupan sederhana di desa kecil di kaki gunung Merapi ini teramat kontras dengan kota besar yang selama ini anda kenal. Sebuah perbandingan nyata yang mungkin akan membuat anda lebih bersyukur. Lantunan suara merdu Endah dan Rhesa dari Bumble Bee Studio turut mengalun serta.

Sekolah akting yang dilakoni keempat bintang cilik selama setahun ini terbukti membantu mereka dalam menjiwai perannya. M Syihab berhasil menghidupkan sosok Agus dengan natural dimana tekad kuat dan kerja kerasnya pantas menjadi panutan. Dewi dengan impersonifikasi artisnya akan membuat anda terpingkal-pingkal. Rizqullah dan Iqbal juga bermain menggemaskan dengan kebiasaan masing-masing. Jangan lupakan kontribusi Agus Kuncoro, Donny Alamsyah serta ibu dan putrinya, Iwuk dan Nina Tamam sebagai wanita-wanita bersahaja.

Cita-citaku Setinggi Tanah akan membuka mata anda bahwa film “baik” itu pantas untuk dinikmati. Bukan hanya itu, 100% hasil penjualan tiket akan disumbangkan kepada Yayasan kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) demi memotivasi semangat mereka untuk melanjutkan hidup. Antara menginginkan dan mewujudkan tentunya ada proses yang harus dilalui. Kita lantas menyebutnya perjuangan dimana besar kecilnya usaha akan menentukan hasil akhir. Berhasil atau gagal ada di tangan anda. Wujudkan cita-cita, berawal dari kita, slogan penutup sempurna untuk sebuah presentasi inspiratif dari seorang Eugene Panji.

Durasi: 
82 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 26 Juni 2012

CINTA DI SAKU CELANA : Hiburan Filosofis Pilihan Hidup


Quotes:
Gifar: Ya tapi lu gak bisa nungguin momen terus. Ciptain dong, Mad! Kesempatan yang udah di depan mulut, tinggal lu emut, malah lu lepehin.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini screeningnya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Juni 2012.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Ahmad
Joanna Alexandra sebagai Bening
Dion Wiyoko sebagai Gifar
Ramon Y Tungka sebagai Gubeng
Gading Marten sebagai Roy
Lukman Sardi sebagai Bagas
Enditha sebagai Briptu Nila

Director:
Merupakan film kedua bagi Fajar Nugros setelah Queen Bee (2009).

W For Words:
Pendekatan seseorang terhadap cinta bisa dilakukan dengan dua cara yaitu aktif dan pasif. Tentunya hasilnya akan berbeda pula. Itulah perbedaan karakter Ahmad dan Gifar yang saling bersahabat. Sekelumit kisah cerita pendek ‘Cinta di Saku Belakang Celana’ ini pertama kali muncul di note Facebook sebelum Gramedia menerbitkan versi novelnya karya Fajar Nugros dengan judul 'I Didn't Lose My Heart, I Sole it On eBay’. Starvision yang semula ingin rilis terbatas film yang didasari skrip garapan Ben Sihombing tersebut akhirnya setuju untuk rilis nasional demi menjangkau audiens yang lebih luas lagi.

Berangkat dari Panti Asuhan yang membesarkannya membuat Ahmad tumbuh dewasa meski tak pernah mengenal cinta. Rekannya di kantor pos yaitu Gifar mengajarkan Ahmad untuk berani mengejar cinta gadis manis bernama Bening yang dikenalnya melalui kiriman kartu pos tunangannya. Akhirnya Ahmad mau menulis surat cinta dan memberikannya pada Bening. Malang sebelum kesampaian, dompet Ahmad dicopet oleh Gubeng yang melarikan surat tersebut. Akankah Ahmad berserah pada realitas yang terjadi atau justru semakin ngotot mengejar impiannya yang beranjak menjauh itu?
 
Paruh pertama film dititikberatkan pada interaksi tiga tokohnya saja yaitu Ahmad, Gifar dan Bening. Donny Alamsyah dan Dion Wiyoko mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya untuk mengeksplorasi persahabatan dua karakter yang berbeda dalam memandang cinta. Ahmad yang cerdas tapi naïf dalam bercinta berbanding terbalik dengan Gifar yang mahir bercinta tapi bodoh. Perkenalan terhadap tokoh Gubeng membuat paruh kedua berjalan dalam tempo yang lebih cepat dengan kemunculan tokoh-tokoh baru yang semakin mempertajam konflik mulai dari Roy, Bagas hingga Briptu Rahmat dan Briptu Nila. Mudah-mudahan penonton tidak bingung ataupun merasa terganggu dengan perubahan drastis ini.

Departemen musik dalam film ini terbukti berhasil membangun mood yang diinginkan. Lagu lawas Slank yakni Foto Dalam Dompetmu berkali-kali berkumandang menciptakan kesenduan cinta yang tak kunjung diraih. Sedangkan dua track dari pendatang baru Abbay Messi yaitu Cinta Di Saku Celana dan Hey Love mampu membangkitkan semangat optimisme dalam diri Ahmad. Kerjasama penata suara Khikmawan Santosa dan penata musik Tya Subiakto Satrio terjalin dengan baik sehingga menjadi nilai tambah tersendiri dalam dukungannya terhadap film secara keseluruhan.

Sutradara Nugros dengan terampil mengemas urban pop romantic comedy ini di luar pakem-pakem yang ada. Elemen kartu pos, commuter, binatu sampai Russian Roulette bukan dimaksudkan berjalan tanpa arti, ada makna tersembunyi di balik itu semua. Setting lokasi dapat dimaksimalkan sedemikian rupa untuk bercerita, lihat stasiun maupun gerbong KRL sebagai titik interaksi Ahmad dan Bening atau pasar Senen yang hiruk pikuk ketika Ahmad dan Gubeng harus berjibaku sebelum bernegosiasi. Sang editor Cesa David Luckmansyah juga menjalankan tugasnya dengan rapi untuk menjaga esensi film.

Cinta Di Saku Celana menyajikan drama dan komedi secara seimbang tanpa harus berlebihan. Deretan wajah yang sudah tidak asing antara lain Lukman Sardi, Enditha, Luna Maya, Masayu Anastasia, Lolita Putri, Imey Liem, Yati Surachman, Agus Kuncoro juga turut andil mengisi posisi ‘special appearance’. Catatan khusus bagi Pricillia Tanamal yang kocak sebagai Ibu Kos atau Vita Ramona yang membuka film dengan karikatural. Film ini murni bertutur tentang pilihan-pilihan krusial terutama profesi dan pasangan hidup yang kerapkali menentukan kelangsungan langkah anda selanjutnya. Sebuah presentasi filosofis yang samasekali tidak kehilangan tujuannya dalam menghibur penonton.

Durasi:
80 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 20 Maret 2012

THE RAID : Indonesians Are On A “Mission”


Tagline:
1 Ruthless Crime Lord, 20 Elite Cops, 30 Floors of Hell.

Nice-to-know:
Produced by PT. Merantau Films and XYZ Films, the movie previously slotted for end of February release in Indonesian cinemas.

Cast:
Iko Uwais as Rama
Ray Sahetapy as Tama
Joe Taslim as Jaka
Donny Alamsyah as Andi
Ananda George as Ari
Yayan Ruhiyan as Mad Dog
Verdi Solaiman as Budi

Director:
Third movie for Gareth Evans who continue to work with Iko Uwais in aforementioned successful run of Merantau (2009).

W For Words:
Surely I was lucky enough being chosen by Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) committee as one of local movie-reviewers to see it on the big screen as a closing movie last fall. Yes, The Raid from Merantau Films and XYZ Films has become global most-awaited action movie after won Midnight Madness Award on 2011 Toronto International Film Festival. Afterwards, Sony Pictures called for a Hollywood remake after got the rights for international release first including U.S. market on March 23, 2012 - same date for Indonesia release. 
An elite group of SWAT police officers receive a very difficult task, invade an apartment building that has been taken over by large network of dangerous criminals led by Tama. The chief Jaka with two of his reliable members, Rama and Andi moves one level to another, only to see their best plans being sidelined. Yet character revelations start bubbling to surface which should be done by a series of immense fights using guns, knives or even fists. Who will be the last man standing with less victims on his side? 

Director Gareth Evans continue his success from Merantau (2009) by upping the intensity in such bigger way. The location itself creates some unintentional claustrophobic atmosphere to make sure those cat and mouse fights have really nowhere to hide. Shaky-cam and quick cuts are used perfectly to maximize viewers' involvement into dynamic sense of rhythm. So, you feel like capture those moments with your own taste before transform 'em all into some certain reactions like grasp, goosebumps etc. 
Jakarta born, Iko Uwais clearly made the most gigantic impact with his extraordinary fighting skills on display which known as Pencak Silat, our very own traditional martial-art. Yeah, you might compare him with Thai's Tony Jaa from Ong Bak. Combined with cold-blooded Donny Alamsyah, the duo are dangerous combo to beat. High-experienced actor, Ray Sahetapy also nailed his role as a super villain Tama with clear face expressions and dreadful voice tones. Another name who stole the show is Yayan Ruhian whose act as Mad Dog might be remembered by the fans of the movie for a long time. 

Violence is definitely an issue here, so it couldn't avoid to be rated R. Bath blood between one-on-one or group combatants are everywhere in the building. Sometimes you just don't see it clearly in front of your eyes because Evans are smart enough to present what should be seen or not without losing any meaning of it. "Hardcore" music scoring from Aria Prayogi and Fajar Yuskemal successfully brought the audience into silent mode for most of 101 minutes intriguing action with less predictable twist along the way. 
Eventhough the budget is fair low, approximately $1,1 million, it is effectively spent into every department of the movie. Basic storyline, however, outplayed by convincing choreography from the casts. The Raid is a non-stop action from start to finish, let the final fight alone is near flawless. Absolutely impressive to keep audiences on the edge of their seats, even still breathless when the credit titles rolling. A must-see in the cinema to feel some rare "vibrant" experiences. Respectful Evans has deliberately sent the message towards international viewers that lesser-known Indonesian movie industry is about to change in the next few years.


Duration:
101 minutes

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 01 Maret 2012

NEGERI 5 MENARA : Sahibul Menara Kekal Persahabatan


Quotes:
Alif: Eh mimpi tuh harus jauh, tinggi. Lihat seperti menara itu!

Nice-to-know:
Diproduksi secara kolaborasi oleh Simple Pictures, KG Productions, Million Pictures dan IB Perbankan Syariah dimana gala premierenya diselenggarakan di Gandaria XXI pada tanggal 25 Februari 2012.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Ustad Salman
Rangga Djoned sebagai Ustad Thorik
Lulu Tobing sebagai Amak
David Chalik sebagai Ayah
Ikang Fawzi sebagai Kyai Rais

Gazza Zubizareta sebagai Alif
Aris Putra sebagai Dulmajid
Billy Sandy sebagai Baso
Ernest Samudera sebagai Said
Rizki Ramdani sebagai Atang
Jiofani Lubis sebagai Raja
Andhika Pratama sebagai Fahmi

Director:
Merupakan film kelima Affandi Abdul Rachman yang mengawalinya dengan Pencarian Terakhir di tahun 2008.

W For Words:
Novel berjudul sama karangan Ahmad Fuadi ini memang telah mencatat sukses besar dengan berkali-kali dicetak ulang. Kini Salman Aristo dan Rino Sarjono bekerjasama mentransformasikan kisah persahabatan 6 remaja itu ke dalam skrip film yang akhirnya disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman. Jujur saya belum membaca novelnya sehingga tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap filmnya, tidak pula membandingkannya dengan Laskar Pelangi (2008) tau Semesta Mendukung (2011) meskipun ada kemiripan tema yang tidak disengaja.
Tahun 1988, Alif tamat dari SMP dan direncanakan ayahnya melanjutkan studi ke pesantren Pondok Madani di Ponorogo. Berat hati ia meninggalkan kampung halaman, orangtua sekaligus sahabatnya Randai. Rencana satu tahun melewati masa percobaan saja urung terjadi karena Alif bertemu teman-teman baru yang sangat suportif yaitu Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya dan Dulmajid dari Madura. Keenam remaja itu lantas berikrar untuk mempraktekkan slogan “Man Jadda Wajada” yang diajarkan Ustad Salman untuk mengejar impian masing-masing.

Sutradara Affandi mengusung narasi cerita yang runut menyenangkan dimana keterbatasan durasi waktu samasekali tidak mengekang kebebasannya berkreasi. Kehidupan sehari-hari keenam siswa SMU itu dibentangkan secara nyata dan manusiawi mulai dari jatuh hati, merindukan orangtua, membidik mimpi, berusaha keras dsb. Komposisi musik latar dari Aghi Narottama, Bemby Gusti dan Ramondo Gascaro juga semakin memperteguh spirit Alif cs dalam mengejar cita-citanya masing-masing.
Penonton diajak untuk merasakan “nyaman” saja mengikuti babak demi babak yang disuguhkan sambil sesekali tertawa ataupun terharu. Namun jika mau dicermati, nyaris tidak ada problematika krusial yang hinggap dalam film ini untuk memunculkan riak tersendiri, seakan kita hanya disugestikan menikmati sebuah pantai tenang dengan sesekali sapuan ombak di telapak kaki. Datar meski tidak sampai membosankan. Bahkan adegan penutupnya yang mengambil setting lokasi di London pun terasa tempelan belaka tanpa korelasi sebagai pembangkit semangat yang diharapkan.

Beruntung semua aktor remajanya tampil maksimal. Alif, Baso dan Said adalah tiga karakter favorit saya dimana Gazza, Billy dan Ernest mampu mencuri perhatian dengan ekspresi dan gesture alami di setiap kemunculan mereka. Sedangkan dari jajaran aktor dewasa, saya menghargai akting Ikang Fawzi sebagai Kyai Rais yang simpatik dan Andhika Pratama yang terasa pas sebagai arek Malang alias Fahmi. Donny Alamsyah dan Rangga Djoned terlepas dari minimnya porsi tetap memegang peranan penting di bagian awal dan akhir film terlebih saat memberikan inspirasi.
Adegan favorit saya tentu saja aksi panggung anak-anak kelas 2 pesantren Pondok Madani yang memukau dan inspiratif. Layaknya slogan “Man Jadda Wajada”, Negeri 5 Menara memang tidak mengajukan konsep impian yang terlalu muluk. Semua orang bisa mencapainya asalkan bersungguh-sungguh! Komitmen dan kerja keras jelas dibutuhkan untuk meraih standar kesuksesan yang diinginkan walaupun terkadang harus melampaui limitasi diri. Satu yang tak boleh terlupakan yaitu dukungan orang lain terutama keluarga, sahabat dan orang terdekat anda lah yang membuat semua itu tidak terlihat mustahil seperti yang ditunjukkan oleh Alif cs dengan lugas kali ini. Be sure to watch it!

Durasi:
119 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 09 Juni 2011

HATI MERDEKA : Lanjutkan Perjuangan Bebaskan Dendam Hati

Original title:
The hearts of freedom.

Storyline:
Tanpa diduga Amir mundur dari Angkatan Darat karena ingin fokus pada keluarga terutama istri yang selalu mengkhawatirkannya. Maka Tomas, Dayan, Marius pun melanjutkan gerakan perjuangan kemerdekaan itu didampingi pula oleh Senja yang dicintai Tomas dan Marius sekaligus. Mereka menuju Bali lewat laut demi membalaskan dendam pada Belanda terutama Kolonel Raymer yang telah membunuh keluarga Tomas di waktu lalu. Tak lama kemudian mereka dibantu pemimpin pemberontak bawah tanah bernama Wayan Suta untuk mempertahankan ideologi dan melanjutkan revolusi yang sudah terpatri di dada masing-masing itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Media Desa Indonesia & Margate House Film dan gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 4 Juni 2011.

Cast:
Darius Sinathrya sebagai Marius
T. Rifnu Wikana sebagai Dayan
Lukman Sardi sebagai Amir
Donny Alamsyah sebagai Tomas
Rahayu Saraswati sebagai Senja
Astri Nurdin sebagai Melati
Nugie sebagai Wayan Suta
Ranggani Puspandya sebagai Dayu
Michael Bell sebagai Kolonel Raymer

Director:
Masih digawangi oleh Yadi Sugandi yang bertandem dengan Conor Allyn selayaknya dalam Darah Garuda (2010).

Comment:
Sebandingkah kesabaran anda untuk menikmati trilogi ini dalam rentang waktu 3 tahun? Jawabannya tentu tidak mutlak sama bagi setiap orang. Namun bagi saya pribadi cukup sebanding karena bagaimanapun juga potret sejarah perjuangan patriotisme bangsa Indonesia patut dihargai setinggi-tingginya. Dan film inilah satu-satunya yang berani mengangkat hal tersebut di era baru abad 21 yang banyak didominasi oleh genre horor dan komedi.
Garis besar ceritanya sendiri tidak berbeda jauh dari apa yang sudah ditampilkan dua prekuelnya yaitu bagaimana melumpuhkan tentara Belanda sekaligus meminimalisir korban yang berjatuhan. Yang berbeda adalah setting pertempurannya yang satu terjadi di atas lautan dan yang lain mengambil setting Pulau Dewata. Konsep yang menarik untuk menghadirkan inovasi baru yang menyegarkan walaupun tidak mutlak harus dilakukan sebetulnya.
Karakter utama yang ditonjolkan kali ini adalah Tomas dan Marius. Donny dan Darius menjawab tantangan tersebut dengan baik terbukti penjiwaan mereka terasa lebih detil apalagi didukung oleh dominannya scene yang melibatkan keduanya. Rahayu juga bermain menawan karena tokoh Senja kali ini cukup mendapat porsi besar sekaligus mengedepankan arti pejuang wanita yang masih dapat dihitung jari sepanjang sejarah perebutan kemerdekaan Indonesia. Kredit khusus bagi penampilan aktor asing (alm) Michael Bell yang berakting ciamik sebagai Kolonel Raymer.
Sutradara Yadi dan Conor cukup cerdik memaksimalkan spesial efek tembakan dan ledakan yang terjadi di setiap scene yang memungkinkan. Bagaimana lokasi dapat disiapkan sedemikian rupa untuk menjadi medan peperangan yang realistis. Namun yang sedikit mengganggu adalah faktor “keberuntungan” para tokoh utamanya yang bisa selamat berkali-kali dari terjangan peluru ataupun percikan bom. Bukan berarti saya mengharapkan mereka tewas dalam pertempuran tetapi setidaknya dapat dibuat dengan lebih meyakinkan lagi.
Hati Merdeka pun menutup petualangan Amir-Dayan-Tomas-Marius dengan happy ending. Sebuah proyek ambisius yang dikemas dengan cukup membumi dan bersahabat dengan para penonton dari berbagai lapisan masyarakat. Belum sepenuhnya dikatakan karya anak bangsa tapi semangat filmmaker yang terlibat patut diacungi jempol. Semoga saja semakin banyak produser yang tergerak untuk membangkitkan genre sejenis sekaligus menggairahkan kembali semangat nasionalisme di antara kita semua tanpa terkecuali.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 11 September 2010

DARAH GARUDA : Perjuangan Nasionalisme Perang Gerilya 1947

Storyline:
Perang gerilya tahun 1947, Amir memimpin rekan-rekannya yaitu Tomas, Marius dan Dayan untuk menyelamatkan wanita-wanita yang mereka cintai yaitu Lastri, Senja dan Melati yang ditawan Belanda. Selepas itu mereka melanjutkan perjuangan di daerah Jawa Barat dan berjumpa dengan tentara Jenderal Sudirman untuk kemudian bersatu menuntaskan misi menghancurkan lapangan udara Belanda. Jenderal Van Mook yang berhasil lolos dari tawanan Dayan tidak tinggal diam. Ia menghimpun pasukannya untuk mendesak Amir cs yang secara jumlah dan persenjataan masih kalah. Namun semangat dan perjuangan merupakan suatu suntikan yang bisa membalikkan semua keadaan. Pertanyaannya apakah Amir cs mampu meminimalisir kerugian moral ataupun materiil dalam menghadapi Kompeni kali ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Margate House Film.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Tomas
Rahayu Saraswati sebagai Senja
Lukman Sardi sebagai Amir
T. Rifnu Wikana sebagai Dayan
Atiqah Hasiholan sebagai Lastri
Darius Sinathrya sebagai Marius
Astri Nurdin sebagai Melati
Ario Bayu sebagai Yanto
Rudy Wowor sebagai Van Mook

Director:
Masih disutradarai Yadi Sugandi sejak prekuelnya. Namun kali ini didampingi Conor Allyn yang sudah beberapa kali berpengalaman menggarap spesial efek film-film bujet besar Hollywood.

Comment:
Cukup disayangkan melihat nama Allyn Brothers yaitu Conor dan Rob sebagai penulis cerita dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan langsung. Mengapa? Sebab ini adalah salah satu film kolosal modern kita yang mengacu langsung pada sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namun tidak terlalu penting mengingat Yadi menjalankan fungsi sutradara dengan baik. Plotnya melanjutkan apa yang tertinggal di prekuelnya yaitu masa-masa paska kemerdekaan Indonesia dimana Kompeni masih berusaha menduduki wilayah-wilayah yang belum "merasa" dipersatukan NKRI. Semua konflik yang dihadirkan di paruh pertama film lebih merupakan konflik intern para pejuang nasional tersebut saja mulai dari kelompok Amir sampai pertemuan mereka dengan gerombolan pejuang Sudirman. Bagaimana satu sama lain berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menjalankan misi di tengah keterbatasan sumber daya sekalipun ataupun mencoba bekerjasama dengan pihak baru yang masih mempertanyakan integritas bangsanya sendiri. Di paruh kedua barulah pertempuran melawan Belanda menjadi suguhan yang menarik dimana adu tembak, strategi hingga pelarian terasa cukup nyata.
Dari jajaran cast, menurut saya Rifnu tergolong paling outstanding disini. Emosinya saat berjuang maupun terluka benar-benar terekam kamera dengan baik. Selain Rudy, Aryo dan Alex Komang tentunya yang sudah membuktikan kualita akting masing-masing. Jangan lupakan Atiqah yang membuka opening scene dengan gemilang. Sayangnya akting Lukman sebagai seorang pemimpin disini masih tergolong mentah lebih dikarenakan sentralisasi tokoh kerapkali berpindah-pindah selama durasi 95 menit tersebut.
Spesial efek yang digunakan secara keseluruhan terlihat lebih rapi dan meyakinkan dibandingkan Merah Putih. Tensi ketegangan dan permainan emosi di dalamnya juga sedikit meningkat sehingga jiwa nasionalisme penonton turut dilibatkan disini. Namun Darah Garuda belumlah sempurna dikarenakan kemonotonan unsur drama yang berlarut-larut dan penyelesaian konflik yang terkesan serba tanggung. Saya harapkan sekuel penutup trilogi ini mampu mencapai klimaks yang diharapkan kita semua. Mari tunggu bersama!

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 11 Juni 2010

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK : Mencari "Hubungan" Yang Hilang Di Negeri Orang

Tagline:
Pejuang atau pecundang,
Pahlawan atau terbuang,
Persiangan atau persaudaraan..

Cerita:
Ditugaskan mencari adik kandungnya, Sekar yang berangkat lebih dahulu, Mayang berangkat ke Hongkong dengan restu kedua orangtuanya, Sukardi dan Lastri yang terkesan lebih menyayangi adiknya itu. Sebagai TKW, Mayang bekerja pada suami istri dan satu putra bernama Sai Jun yang gemar berkelahi. Lambat laun Mayang mulai mengenal kehidupan di negara asing tersebut terlebih setelah bergaul dengan sesama TKW termasuk Gandi yang dianggap "bapak" oleh para TKW. Belum lagi pertemuannya dengan Vincent, pemasok yang menaruh hati padanya. Lewat serangkaian peristiwa, Mayang berkesempatan bertemu dengan Sekar yang menghilang begitu saja. Akankah konflik kakak-beradik tersebut dapat terselesaikan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Pic[k]lock Production dan press conferencenya diadakan di PPHUI beberapa waktu lalu.

Cast:
Cukup lama absen bermain film dan pernah mengesankan dalam Ca Bau Kan (2002), Lola Amaria kembali lagi dengan peran utama sebagai Mayang, TKW yang baru 3 bulan menyesuaikan statusnya di Hongkong.
Pernah memenangkan beberapa penghargaan melalui Mereka Bilang Saya Monyet (2008), Titi Sjuman disini kebagian karakter Sekar yang cerdas dan keras hati.
Donny Alamsyah sebagai Vincent.
Donny Damara sebagai Gandi.
Imelda Soraya.
Permatasari Harahap.

Director:
Lola Amaria bekerjasama dengan penulis skenario handal, Titien Wattimena.

Comment:
Beruntung drama ini tidak terjebak pada pembahasan masalah yang itu-itu saja seperti yang sudah-sudah-sudah. Prolog dibuka dengan lambat dan tidak terlalu menarik. Pengenalan karakter Mayang dari berbagai sudut pandang mungkin dimaksudkan agar penonton benar-benar masuk pada sentralisasinya. Selain itu beberapa karakter TKW juga dihadirkan mulai dari yang lesbian, memiliki pacar matrealistis, senang belanja, berhutang dsb. Tak lupa penggunaan judul dijelaskan juga bahwa setiap hari Minggu pagi semua komunitas TKW berkumpul di Victoria Park yang tersohor itu. Setelah 30 menit berlalu, barulah konflik-konflik mulai dihadirkan dan intensitas cerita semakin diperdalam. Terus terang ini menjadi mengasyikkan apalagi didukung dengan permainan watak Lola dan Titi yang gemilang. Lola berhasil berbagi layar dengan siapapun ia bersinergi. Kontrol emosi Titi lewat karakter Sekar yang sebetulnya bukan tokoh utama terasa sangat meningkat dari awal sampai memuncak di akhir. Sayangnya tokoh Gandi yang dibawakan Damara terasa terlalu flamboyan dan tanggung, tidak mencerminkan kebapakan yang sudah banyak makan asam garam. Sebaliknya Alamsyah cukup bertaji sebagai WNI keturunan yang berpencaharian disana. Kesemuanya dibalut dengan sinematografi Hongkong yang indah dan wajar serta penggunaan bahasa Jawa yang konsisten sepanjang film. Klimaks Minggu Pagi Di Victoria Park dapat dikatakan kaya makna dengan bahasa gambar, bahasa tubuh yang solid. Jelas merupakan salah satu film terbaik nasional tahun ini meskipun mengalami penundaan jadwal tayang hingga beberapa kali!

Durasi:
100 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 17 Agustus 2009

MERAH PUTIH : Klausal Kelompok Pejuang Jawa Tengah Melawan Belanda

Cerita:
Amir, Tomas, Dayan, Marius dan Soerono adalah lima pemuda berbeda latar belakang yang bertujuan satu yaitu menjadi pejuang kemerdekaan menghadapi Agresi Militer Belanda pimpinan Van Mook yang menyerang jantung kaum republik di Jawa Tengah pada tahun 1947. Bersatu adalah hal yang tidak mudah dikarenakan mereka harus beradaptasi terlebih dahulu satu sama lain dan menghadapi kendala persenjataan yang serba kurang dibanding milik lawan.

Gambar:
Format 35 milimeter membuat film ini berhasil menampilkan adegan peperangan yang jernih sekaligus nyata. Suasana tahun 1947 di pedalaman Jawa Tengah pun terangkum dengan cukup baik.

Act:
Semua cast utama tampil sangat baik dan menghayati perannya masing-masing. Konsistensi akting mereka masih sulit diukur karena film ini merupakan trilogi.
Lukman Sardi sebagai Amir
Donny Alamsyah sebagai Tomas
Darius Sinathrya sebagai Marius
Teuku Rifnu Wikana sebagai Dayan
Zumi Zola sebagai Soerono
Astri Nurdin sebagai Melati
Rahayu Saraswati sebagai Senja

Sutradara:
Berpengalaman mendampingi Riri Riza menjadi asisten sutradara dalam beberapa film terakhirnya termasuk Laskar Pelangi membuat Yadi Sugandi percaya diri melangkah sendiri untuk membesut trilogi Kemerdekaan yang diawali oleh Merah Putih ini.

Komentar:
Digadang-gadang karena melibatkan pihak kru Hollywood yang sudah berpengalaman dalam bidang special efek film perang macam Saving Private Ryan, Black Hawk Down, The Thin Red Line dll memang merupakan nilai plus tersendiri. Pasalnya adegan peperangan dan ledak-ledakan dalam film ini memang terlihat meyakinkan, setidaknya untuk mata dan telinga penonton. Tapi apa itu saja cukup? Butuh eksplorasi cerita dan eksekusi yang matang, sebab genre semacam ini mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Sejauh ini saya menilai Merah Putih hanya sebatas memenuhi standar, belum luar biasa. Pengenalan karakter utama merupakan tugas yang diemban bagian pertama trilogi Kemerdekaan ini sehingga setengah bagian film memang lebih banyak "bercerita". Konflik yang ditampilkan antar tokoh-tokoh utama memang baik tapi tidak cukup kuat untuk membuat penonton mengenal masing-masing pribadi mereka. Belum selesai, tensi mulai dibangun dengan beberapa penyerbuan "dadakan" yang rasanya agak dipaksakan. Yah sebagai pembuka, Merah Putih memang bisa dikategorikan menarik, apalagi diluncurkan tepat beberapa hari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia ke-64. Tetapi kita butuh episode selanjutnya untuk melakukan penilaian secara keseluruhan.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 02 Agustus 2007

SANG DEWI : Asmara Getir Petinju Bisu dan Pelacur Cantik

Cerita:
Laras yang berparas bidadari merasa hidupnya tidak lengkap karena cinta selalu jauh darinya dan memaksanya menjadi pelacur demi bertahan hidup.
Beno yang bisu sedari kecil bekerja sebagai pembersih sasana sambil diam-diam berlatih tinju dengan saudara seperjuangannya demi mewujudkan impian naik ring tinju suatu saat nanti.
Nasib mempertemukan Laras dan Beno kembali setelah masa kecil mereka. Akankah rasa cinta bisa tumbuh di saat keduanya mulai menjalani kehidupan yang berliku dan tidak adil itu?

Gambar:
Sasana tinju dan jalan-jalan ibukota bagi dua tokoh utamanya seakan bercerita tentang mirisnya hidup yang mereka jalani.

Act:
Volland Humonggio yang aslinya memang menguasai beladiri bermain cukup baik sebagai petinju bisu Beno yang pantang menyerah mengejar cinta dan mimpinya.
Sabai Morscheck tampil cukup meyakinkan sebagai Laras, pelacur cantik yang merasa cinta selalu menjauhinya di saat ia tengah menggenggam kebahagiaan.
Didukung pula oleh Donny Alamsyah dan Cathy Sharon sebagai dua sahabat setia Beno.

Sutradara:
Karya perdana Dwi Ilalang yang berusaha menggabungkan aksi, tinju, drama, romantisme dalam satu film. Namun penggunaan judul Sang Dewi agak dirasa kurang tepat.

Komentar:
Sebetulnya plot cerita cukup menarik hanya terkesan sering kurang fokus. Andai mau dieksplorasi lebih jauh lagi, Sang Dewi mungkin akan lebih baik kualitas secara keseluruhannya. Unsur mengharukan bisa ditemukan pada beberapa adegan tapi kesalahan fatal terjadi pada endingnya yang terasa dipaksakan dan terasa antiklimaks. Lagu indah Sang Dewi sekaligus cameo penyanyinya Titi DJ pun hanya sekadar tempelan belaka. Namun sesekali bolehlah manjakan diri anda dengan film lokal yang berbeda nuansanya seperti ini.

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!