XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label uli auliani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uli auliani. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2012

ADA HANTU DI VIETNAM : Dubbing Buruk Dan Pengingkaran Kreatifitas


Quotes: 
Ramon: Itu tuyul tuh?
Aziz: Bukan, kecebong anyut!

Nice-to-know: 
Produksi pertama TS Media.

Cast: 
Guntur Triyoga sebagai Jordan
Cinta Dewi sebagai Bianca
Uli Auliani sebagai Nayya
Roger Danuarta sebagai Ruben
Aziz Gagap sebagai Aziz
Reymon Knuliqh sebagai Ramon
Nguyen Ngoc Thuy Diem
Kenny Chiem
Nguyen Thi Tuet Prang
Bui Minh Hoang
Thai Thi Teuclina

Director: 
Merupakan film ke-9 bagi Koya Pagayo di tahun 2012 setelah Dendam Dari Kuburan.

W For Words: 
Jika tahun lalu Nayato Fio Nuala atau Koya Pagayo nekad syuting “colongan” di Hongkong untuk film aksi berjudul Tarung, maka tahun ini ia berani syuting “resmi” di Vietnam. Keduanya sama-sama dibintangi oleh trio bintang langganannya yaitu Guntur Triyoga, Cinta Dewi dan Reymon Knuligh, perbedaannya kali ini adalah genre horor yang sayangnya belum/tidak menggunakan template baru. Judulnya pun sederhana saja, lengkap dengan embel-embel negaranya untuk memperjelas daya jual. Ah mau saja rumah produksi TS Media ini dibohongi untuk film debutannya. Kasihan!

Bianca berencana menjenguk kakak Bianca yang baru saja melahirkan di Vietnam. Ia mengajak Jordan dan Nayya untuk menemaninya  sedangkan Ramon dan Aziz memilih tidak pergi karena takut naik pesawat. Lokasi yang tak kunjung ketemu membuat ketiganya harus mencari penginapan. Ruben yang dijumpai di jalan membantu mereka sekaligus memperkenalkan pada pasangan warga Vietnam yakni John dan Lucy. Rumah milik pasutri konyol akhirnya jadi pilihan. Sayangnya gangguan hantu cantik bernama Jasmine tak dapat dihindari.

Skrip yang ditulis Aurellia Amani Salsabila (saya ragukan orangnya ada) ini memiliki bloopers dan kontinuitas yang berantakan. Satu, hantu perempuan Vietnam yang katanya ikut ke Jakarta nyatanya digantikan dengan yang mirip saja. Dua, hantu ini jelas memiliki kesaktian tingkat tinggi karena bisa muncul di siang dan malam hari sekaligus, bahkan bisa travelling tanpa paspor. Tiga, kehadiran dukun Vietnam pengusir hantu tanpa diundang, tanpa hasil pula. Empat, background story hantu itu meninggal tak ada hubungannya samasekali dengan Bianca dkk atau penghuni rumah Vietnam samasekali. Sementara empat saja, jika ada waktu lagi akan saya tambahkan.

Andaikata Koya mau lebih serius seharusnya penggunaan bahasa asli dari aktor-aktris Vietnam yang terlibat tetap dipertahankan dengan tambahan subtitle Indonesia, bukan DUBBING ala film televisi atau sandiwara radio! Serius bung, anda malas sekali kreatif berupaya? Keotentikan itu padahal bisa jadi identitas unik sekaligus nilai tambah yang tidak dimiliki film lain. Permasalahannya bukan di dubbing aktor-aktris asing saja tetapi juga cast lokal kita sendiri terutama adegan di jalan-jalan Vietnam. Perhatikan gerak bibir yang tidak sinkron atau voice over tanpa memperlihatkan wajah pemain. Duh!

Duet Aziz Gagap dan Reymon Knuligh di pembuka dan penutup sangat tidak penting. Lelucon mereka basi dan tidak mampu mengangkat film lagi. Saya penasaran apakah Reymon menerima kontrak mati dari Nayato? Masih tak ada perubahan akting yang berarti dari Guntur dan Cinta. Lupakan Uli Auliani yang tampil dengan model dan warna rambut baru atau kembalinya Roger Danuarta di kancah perfilman layar lebar, aktor-aktris asli Vietnam setidaknya masih lebih sedap dipandang walaupun tidak diberikan porsi memadai untuk berbuat lebih baik dalam perannya masing-masing.

Ada Hantu Di Vietnam terbukti berkualitas buruk setengah hidup. Syuting kebutan tanpa formula anyar ini nyatanya cuma menghamburkan biaya produksi yang dikeluarkan untuk perjalanan Vietnam-Jakarta. Setting rumah berhantu tidak memberikan nuansa horor yang relatif baru. Sama halnya dengan shot jalanan atau kota Ho Chi Minh dalam aksara Vietnam yang juga tidak istimewa. Semuanya tempelan belaka! Layaknya “predikat” yang sudah menempel pada Nayato/Koya whatever his name is, ia tak lagi ambil peduli. Show me the money. So, the show must go on!

Durasi: 

79 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 25 Mei 2012

UDIN CARI ALAMAT PALSU : Impotensi Humor dan Siksaan Multi Karakter


Quotes:
Sinta: Kalo menurut skrip harusnya sekarang giliran Jojo
Jojo: Urang?
Sinta: Iya maneh.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh d’Color Films ini gala premierenya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 22 Mei 2012.

Cast:
Udin Sedunia
Sinta
Jojo
Moymoy
Palaboy
Fransoa
Mike Lucock
Uli Auliani sebagai Debby
Joanna Alexandra
Adelia Rasya
Marcella Lumowa
Mpok Atik
Ronald Gustav
Vicky Nitinegoro

Director:
Merupakan film keempat bagi Chiska Doppert di tahun 2012 ini.

W For Words:
Youtube dapat dikatakan media yang tepat untuk mengeksploitasi diri atau kelompok sendiri secara mudah sekaligus menyebarkannya melalui jaringan internet secara luas. Syukur-syukur anda bisa terkenal seperti orang-orang “biasa” yang bermain dalam film ini. Adalah rumah produksi D’Color Films yang memiliki ide untuk memperkenalkan mereka kepada publik. Pertanyaannya apakah sudah didukung oleh skrip yang baik untuk bercerita setidaknya secara wajar? Duet penulis Herry B Arissa dan Bagus Nugroho akan coba menjawabnya.

Fransoa, produser bule yang bangkrut memiliki ide mengumpulkan orang-orang terkenal di Youtube untuk tampil di kafenya. Mereka adalah Udin Sedunia yang tinggal bersama emaknya di NTB, Sinta-Jojo yang mulai gerah dengan popularitas instan, Moymoy dan Palaboy dari Filipina yang kecopetan di Jakarta saat ingin bertemu kekasihnya Marimar yang dikenal lewat Facebook. Sekelumit kisah yang terjadi di sepanjang perjalanan akan menentukan nasib kesemua insan tersebut.

Lagi-lagi-lagi Chiska Doppert “kejar setoran” yang semakin terpuruk dari satu karya ke karya lainnya. Editingnya semakin buruk, entah karena keterbatasan bujet atau deadline sehingga tidak dilakukan dengan baik. Begitu banyaknya cameo yang terlibat dalam film ini tidak terfasilitasi secara memadai sehingga hanya memberikan kesan lalu lalang yang tidak bermanfaat samasekali, mungkin masing-masing dari mereka kelak akan menyesali keputusannya ini. Lupakanlah Mike Lucock dalam peran banci ‘gengges’, Joanna Alexandra dalam peran gadis ‘desperate’ jodoh atau Uli Auliani dalam peran wanita ‘tersakiti’ yang tampil dalam rambut pirang!

Duet perempuan Sinta dan Jojo mungkin yang paling repot karena harus berganti kostum belasan kali termasuk aksesorisnya mulai dari wig, kacamata, tas dsb. Mereka tidak tampak berakting melainkan menjadi dirinya sendiri lengkap dengan logat aslinya berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa tujuan yang jelas. Duet lelaki Moymoy dan Palaboy sibuk beraksen Tagalog yang terjemahan bahasa Indonesianya agak diragukan karena tidak terstruktur dengan baik. Mereka seakan hanya berimprovisasi  dalam berdialog dan beradegan slapstick sekaligus tanpa juntrungan.

Udin yang menjadi titel film seharusnya mendapat bagian yang dominan. He is! Tapi sayangnya bukan dalam porsi yang manusiawi. Dari menit awal sampai akhir, anda akan menemukan seratus satu kesialan yang terjadi padanya mulai dari dijatuhkan dari pohon, dilumuri tai kebo, ditabrak mobil tiga kali, ditonjok, dilempar, dikafan sebagai pocong sampai diceburkan ke kali. Jika ada yang terlewat, mohon anda tambahkan. Terima kasih. Keseluruhan “insiden” itu tidak lantas membuat penonton bersimpati padanya melainkan prihatin, sebegitu inginkah main film hingga harus jalani siksaan sedemikian rupa?

Udin Cari Alamat Palsu mungkin hanya ingin mengekor Agent of Secret Stuff milik Wong Fu Production yang lebih dulu menampilkan Ryan Higa tapi jelas gagal total. Humornya terbilang impoten karena tidak berhasil membangunkan sisi humoris saya dan sebagian besar penonton yang menyaksikannya malam itu. Suguhan 82 menit ini tidak terasa seperti sebuah film panjang melainkan potongan videoklip yang disatukan secara random tanpa rajutan benang merah yang terarah. Departemen musik dengan hit-hit “artis” Youtube yang semestinya bisa menutupi kekurangan pun tidak terjamah samasekali. Yang tertinggal cuma penyiksaan terhadap intersepsi otak anda yang jauh lebih mahal daripada harga tiket.

Durasi:
82 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 08 Maret 2012

SANTET KUNTILANAK : Praktek Santet Tanpa Juntrungan


Quotes:
Maya: Kalo gitu Cuma loe yang bisa nolong diri loe sendiri. Gua sih cuma bisa prihatin.


Nice-to-know:

Diproduksi oleh Studio Sembilan Production.


Cast:

Fero Walandouw
Nadya Almira

Rina Diana
Yessa Iona Gaffar

Rozie Mahally
Uli Auliani


Director:

Kemunculan nama Koya Pagayo yang pertama di tahun 2012 ini.


W For Words:

Menilik premis film ini, ingatan saya melambung jauh pada sebuah film Mandarin berjudul Erotic Black Magic di tahun 1994 mengenai seorang gadis yang diperkosa 4 orang hingga tewas mengenaskan sebelum teluh alias santet mulai mengejar para pelaku tersebut. Untungnya setelah menyaksikan beberapa menit pertama, saya tahu bahwa penulis skrip Erry Sofid (entah dicampur tangani oleh Nayato atau tidak) ternyata tidaklah senekad itu.
Kakak beradik Maya dan Lila memiliki kepribadian yang berbeda. Maya bersahabat dengan Johan, Yanti dan Ben. Sedangkan Lila berkawan dengan Doni yang mengajaknya liburan di villa Ricky bersama dengan Jacob dan Zen. Sesampainya di villa, empat pria tersebut berniat memperkosa Lila yang segera melarikan diri sebelum menemui ajalnya. Perlahan-lahan, kematian mulai menghampiri Ricky, Doni, Jacob dan Zen melalui santet. Benarkah Maya yang terlibat di balik semuanya demi membalas dendam akan kematian adiknya?

Koya Pagayo alias Nayato Fio Nuala dengan cerdas mereboot Jiper yang berganti judul menjadi Nakalnya Anak Muda (2010). Plot ceritanya nyaris sama dan hanya mengalami perombakan di beberapa bagian. Momok kuntilanak disini lagi-lagi tak sendiri karena beberapa kali ditemani tandemnya yaitu pocong. Jika saya pikir film ini konsisten bermain di genre horor nyatanya Rozie Mahally didapuk sebagai pengocok tawa dengan kata-kata spontan bin ajaib yang terlontar dari mulutnya itu. Lucu? Jika penonton lain bisa tertawa, tidak halnya dengan saya yang mingkem sepanjang film. Satu dialog terbodoh yang pernah saya dengar adalah saat Maya bertanya, “Ben, apakah adik gua udah mati atau belum?” Lantas dijawab oleh Ben, “Antara dua, May. Hidup atau mati!” Gubrak! Saya pun sukses kelilipan popcorn.

Dari jajaran cast nya, Uli Auliani lah yang ingin saya bahas. Special appearance nya ternyata hanya untuk mengisi slot tak penting di penghujung cerita. Niatnya sih menjadi twist tersendiri tapi sangat tidak perlu! Memang spoiler tapi saya tak peduli. Uli yang cuma beradu akting dengan Rozie selama 5 menit pun sibuk bernarasi menjelaskan siapa dirinya dan apa maksud kedatangannya. Tak lama kemudian mereka berdua sibuk saling bunuh hanya karena alasan yang tidak relevan yaitu membalas dendam akan kematian adik tirinya Ricky yang bahkan tidak dikenalnya. Sumpah ini tolol dan sangat dibuat-buat.

Praktek santet itu sendiri malah lebih banyak diutarakan lewat mulut para pemainnya bukan melalui aksi. Come on! Sinopsisnya lagi-lagi menipu, tidak ada pemerkosaan yang terjadi pada Lila. Gadis itu tewas sederhana karena terantuk pohon. Alangkah dramatisnya tokoh Maya yang di luar dugaan sempat mengucapkan sederetan kalimat seperti “Aku akan pergi, aku sudah tenang karena bersama Lila.. “ setelah tertusuk pisau. Menggelikannya juara! Santet Kuntilanak hanyalah repetisi dari Koya Pagayo yang entah sampai kapan terus menipu kreatifitas otaknya sendiri.


Durasi:

77 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 15 Februari 2012

RUMAH HANTU PASAR MALAM : Tabir Misteri Pesugihan Pasar Malam


Quotes:
Wangsa: Selama bercinta dengan aku maka selama itulah kamu akan menjadi bintang panggung selamanya..

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Multivision dimana gala premierenya dilaksanakan di Hollywood XXI pada tanggal 15 Februari 2012.

Cast:
Rebecca Reijman sebagai Andini
Uli Auliani sebagai Intan
Willy Dozan sebagai Wangsa
Rocky Jeff sebagai Ramon
Imey Liem sebagai Vanska
Awan Sogi sebagai Papang
Amel Alvie sebagai Sandra
Kang Jaka sebagai Mang Udin

Director:
Merupakan film kedua Arie Azis di tahun 2012 ini setelah Penganten Pocong yang gagal total itu.

W For Words:
Bagi anak gaul Ibukota pasti sudah pernah mendengar atau bahkan memasuki Rumah Hantu Indonesia roadshow di berbagai kota besar. Salah satu yang pernah saya masuki adalah Rumah Hantu Terminal Blok M 4-D yang sukses meneror pengunjung itu karena “keagresifan” nya. Sayangnya hal tersebut tidak berlaku bagi saya yang justru merasakan “kehadiran” lain di luar hantu palsu di dalamnya. Baiklah, bukan itu yang saya ingin ceritakan disini. Mari bahas film yang mengambil tema tersebut hasil buah karya penulis skrip Demi Ananda.

Pengusaha pasar malam ambisius di desa Sumber Sari, Wangsa memiliki kekasih yang juga seorang penari ronggeng bernama Intan yang sukses membius para pengunjung untuk terus berdatangan. Sementara itu lima muda-mudi yaitu Andini, Ramon, Venska, Sandra, dan Papang tiba di tempat itu untuk merayakan ulang tahun Andini. Tak lama kemudian, satu per satu korban berjatuhan dibantai sosok berjubah dan bertopeng yang misterius. Misteri apa yang sesungguhnya tersimpan di tempat tersebut yang mungkin berhubungan dengan masa lalu Andini yang merasakan ikatan tersendiri?
Sutradara Arie Azis memang sudah kehilangan sentuhan, ini adalah film keduanya dalam sebulan terakhir yang gagal total dalam membangun identitas. Terlalu banyak elemen yang dimasukkan disini mulai dari horror, thriller, slasher dan tak jarang dibumbui seksualitas yang tentunya sudah tergunting sensor tajam. Tak jarang narasi yang seharusnya muncul lewat eksekusi cerita malah meluncur dari mulut para aktor-aktrisnya terutama kisah pesugihan yang tak jelas juntrungannya itu.

Uli Auliani kembali kebagian peran sensual Intan yang karakteristiknya menjadi tidak terlalu penting lagi. Sama halnya dengan Willy Dozan, mantan aktor laga idola yang didapuk sebagai antagonis Wangsa dengan penokohan yang kurang stabil. Sedangkan pemeran utama, Rebecca Reijman juga cenderung gagal menghadirkan sosok protagonis Andini yang seharusnya mengundang simpati penonton ketimbang mengandalkan karunia fisiknya yang semampai nan bertato itu.
Tidak banyak yang bisa dibanggakan dari Rumah Hantu Pasar Malam dengan inkonsistensi plot semacam ini apalagi diperparah dengan dialog-dialog cheesy yang semakin mengurangi nilai jualnya. Satu-satunya yang layak tonton adalah tampilan rumah hantu itu sendiri yang dibangun dengan atmosfer menyeramkan, itupun hanya beberapa menit saja dari total durasi yang sudah sangat pendek tersebut. Mungkin pengalaman anda memasuki Rumah Hantu Indonesia selama sekian menit akan jauh lebih efektif daripada membuang waktu menyaksikan film sekelas televisi semacam ini.

Durasi:
70 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 21 Maret 2011

SKANDAL : Perselingkuhan Berbuntut Permainan Maut

Tagline:
Semua perselingkuhan berakibat bencana..
Jika ingin keluarga harmonis, jauhi X (mantan)

Storyline:
Kesibukan Aaron membuat Mischa merasa teramat jenuh dengan kehidupan rumah tangganya. Belum lagi nafkah batin yang tidak terpenuhi membuatnya uring-uringan bahkan mencurigai suaminya main gila dengan sang sekretarisnya di kantor. Pertemuan tak sengaja dengan mantan kekasihnya Vincent di sebuah kafe membuat Mischa tergelitik untuk melepaskan hasratnya. Dimulai dari pembicaraan singkat via ponsel yang berujung pada kedatangan Mischa di apartemen sekaligus galeri foto Vincent. Perselingkuhan pun tak terhindar lagi hingga Mischa merasa sudah “cukup” bermain-main karena tak ingin mengambil resiko kehilangan suami dan anaknya. Namun rupanya Vincent tak tinggal diam dan mulai bertindak di luar batas.

Nice to know:
Diproduksi oleh Sentra Film dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 17 Maret 2011.

Cast:
Merupakan film ke-12 bagi Uli Auliani setelah tahun lalu bermain dalam 3 film Nayato. Disini ia berperan sebagai Mischa yang dilema terhadap keluarganya selepas melakukan kesalahan fatal.
Debut aktingnya dilakoni dalam Jakarta Undercover (2006), kali ini Mario Lawalata bermain sebagai Vincent yang posesif dan tidak pernah mementingkan komitmen pernikahan dalam asmaranya.
Mike Lucock sebagai Aaron
Laras Monca
Gary Iskak
Febriyani Ferdzille

Director:
Kembalinya Jose Poernomo setelah 2 tahun lalu menggarap Kirun + Adul yang bergenre komedi remaja itu.

Comment:
Dari belahan dunia barat banyak sekali kita temui thriller bertemakan perselingkuhan, mulai dari kelas A macam Fatal Attraction (1987) hingga kelas B seperti Zebra Lounge (2001) yang kebetulan posternya mirip dengan yang satu ini. Semua mengetengahkan plot yang hampir mirip dimana kegiatan senang-senang sesaat tersebut seringkali berakhir tidak menyenangkan yang berujung pada tindakan obsesif yang berlebihan.
Kali ini Jose berusaha membuat versi lokalnya dengan judul awal X yang kemudian berganti seiring proses finalisasi. Sebetulnya tidak ada yang baru karena adegan demi adegan rasanya sudah bisa anda tebak dengan mata kepala tertutup. Yang membedakan adalah penekanan dan pemberian karakterisasinya yang banyak disesuaikan dengan budaya Timur.
Trio bintang utama bergantian berbagi scene sekaligus chemistry dengan baik. Uli sebagai Mischa merupakan karakter kunci disini dan ia mampu menerjemahkan tokoh seorang istri “kesepian” dengan sangat baik dimana emosi campur aduknya berhasil terekam kamera. Bagaimana perasaan senang dan puas yang menggebu-gebu begitu kontras dengan perasaan takut dan menyesal yang menggedor hati nuraninya.
Bagaimana dengan Mike dan Mario? Sebagai suami yang tidak “peka”, Mike bermain wajar dan manusiawi. Namun skrip sendiri memang tampaknya lebih memposisikan tokoh Aaron di belakang. Beda dengan Mario yang cukup dominan dimana perubahan kepribadiannya dari awal hingga akhir dapat ditangkap dengan baik. Meski terkesan kurang garang dinilai dari intonasi suaranya tapi tampaknya ia sudah berusaha maksimal menghidupkan sosok pria posesif Vincent.
Jika anda mempertanyakan frekuensi sex scene yang terkandung dalam film ini maka jawabannya cukup tinggi. Namun jangan berharap terlalu banyak dulu. Semua adegan eksplisit tersebut diperhalus ataupun dikaburkan dengan konsep fade in/out, semua hasil permainan kamera yang notabene mengandalkan angle. Sehingga sisi artnya dapat lebih ditonjolkan dibandingkan unsur murahan yang biasanya muncul dalam film-film berkualitas rendah.
Saya acungi jempol pada keberanian Jose menyisipkan twist unik dan eksekusi ending yang kreatif dimana potret masa lalu masa kini silih berganti mengisi frame. Kekurangannya adalah teror psikologis yang masih kurang kuat selayaknya yang biasa timbul dalam film sejenis dan juga beberapa detail yang masih tergarap lemah dalam mendukung bangunan cerita. Namun Skandal tetaplah saya rekomendasikan kepada anda semua akan “keberaniannya” tentu dalam konteks yang positif sekaligus menjadi alternatif film lokal yang cukup bermutu di tengah keseragaman tema yang sudah semakin meresahkan itu.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 17 Maret 2011

DEDEMIT GUNUNG KIDUL : Dua Saudari Tumbal Pernikahan Mafia

Tagline:
Dari balik pegunungan beku.. Dedemit mengincar nyawamu..

Storyline:
Pengusaha Rodney yang sakit-sakitan memiliki dua putri yaitu Vicky dan Jane. Karena hutang besar pada gembong mafia kaya bernama Mark, iapun menyerahkan Vicky untuk dinikahi Mark. Keduanya pun hanyut dalam pernikahan yang bahagia. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, Vicky dikabarkan tewas saat berlibur menelusuri Gunung Kidul. Mark dan Jane pun sangat sedih mengetahui fakta tersebut. Namun Rodney “menyatukan” keduanya agar hubungan bisnis mereka tetap baik. Berat hati Jane menerima keputusan itu tapi gangguan supernatural mulai dialaminya ketika tinggal di rumah Mark. Belum lagi kemunculan asisten Mark, Peter yang sulit diduga motif sesungguhnya. Misteri apa yang sesungguhnya menyelimuti keluarga itu?

Nice to know:
Diproduksi oleh K2K Production dan screeningnya diadakan di Blok M Square 21 pada tanggal 17 Maret 2011.

Cast:
Uli Auliani sebagai Jane
Tasa Rudman sebagai Mark
Afdhal Yusman sebagai Peter
Ammy Tawaqal

Director:
Film kedua bagi Yoyok Dumprink di tahun 2011 ini setelah Pelukan Hantu Janda Gerondong di bulan Januari lalu.

Comment:
Lagi! Pemakaian judul film lokal dengan menggunakan nama tempat. Rasanya tinggal tunggu waktu jika masyarakat Yogya akan memprotes film ini seperti yang sudah dilakukan masyarakat Karawang beberapa waktu lalu. Padahal jika ditelaah, Gunung Kidul tidak menjadi suatu faktor yang krusial disini selain kejadian nyata yang konon menginspirasi cerita film ini. Entahlah. Tidak ada yang tahu kebenarannya. Belum apa-apa kontroversi sudah dituai kala posternya terang-terangan menjiplak versi Drive Angry yang rilis nyaris berbarengan. Sungguh tidak kreatif!
Plot ceritanya sendiri sebetulnya dapat dituliskan dalam beberapa kalimat saja. Namun hebatnya seorang KK Dheeraj, susunan kata dalam kalimat-kalimat tersebut bisa ditukar-tukar untuk memberikan arti yang berbeda. Bayangkan anda sedang bermain scramble dengan anak TK nol kecil dan andapun dipaksa menerima logika yang sedikit aneh tersebut. Begitulah yang terjadi disini dimana IQ anda akan ditantang habis-habisan dari menit awal sampai menit akhir. Jika anda rajin, cobalah catat berbagai kejanggalan yang saya maksud, dijamin daftar anda akan penuh di penghujung film.
Aktor-aktris yang bermain kali ini saya yakini tidak mendapatkan briefing yang cukup bagaimana mendalami peranannya masing-masing. Namun kecurigaan saya adalah tidak adanya skrip yang memadai yang bisa dipelajari dengan baik. Uli yang paling senior sekalipun terlihat bingung memposisikan karakternya dalam film ini. Ada lagi pemeran Vicky (yang bahkan namanya tak tercantum di credit title) samasekali tak jelas posisinya apalagi terlihat berkacamata hitam nyaris di setiap scenenya. Saya asumsikan ia melakukan penyamaran walaupun motifnya belum diketahui. Sedangkan Tasa dan Afdhal merupakan nama baru di dunia akting sehingga kekikukan mereka mesti bisa dimaklumi terlebih menerima skrip “bayangan” di tangan. Betapa sulitnya..
Satu lagi yang khas pada produksi film K2K adalah adegan syur. Uli dan Vicky bergantian mempertontonkan aset mereka dalam balutan bikini ataupun lingerie berwarna mencolok baik dalam adegan kamar tidur, kamar mandi ataupun kolam renang. Belum lagi sesi foto pinggir kolam yang dilakukan empat cewek bohay berbody-tidak-bagus dengan percaya diri tinggi itu yang tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap bangunan cerita.
Dedemit Gunung Kidul akan mengajak anda masuk dalam dunia mimpi buruk tiada berlogika yang tidak berkesudahan. Sewaktu bangun, anda akan mendapati kesadaran anda terganggu juga volume otak yang mengecil. Beruntunglah hal tersebut bersifat tidak permanen karena efek itu akan hilang dengan sendirinya beberapa saat setelah anda meninggalkan bioskop.

Durasi:
85 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 23 September 2010

PENGANTIN PANTAI BIRU : Teror Dedemit Cantik Dendam Pribadi

Storyline:
Beberapa waktu silam, Emily dan Andy tengah merayakan bulan madu di Pantai Biru. Malang di tengah kemesraan, keduanya disatroni 3 perampok yang membunuh Andy dan membuang Emily ke jurang.
Masa kini, adik Emily yang bernama Maya melakukan pencarian kakaknya. Ia berjumpa enam muda-mudi masing-masing pasangan Ryan-Naomi, Amel, Jazzy, Jojo dan Gathan yang sedang berekreasi sekaligus melakukan sesi pemotretan. Lelaki tua penjaga penginapan, Pak Solikum mengingatkan mereka agar berhati-hati terhadap makhluk gaib yang dijuluki Dedemit Samber Nyawa di daerah sekitar yang kerapkali meminta korban jiwa. Apakah sesungguhnya Emily masih hidup? Bagaimana teror Dedemit Samber Nyawa tersebut dapat dihentikan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film & BIC Production dan diproduseri oleh HM Firman Bintang.

Cast:
Catherine Wilson sebagai Emily
Keith Foo sebagai Ryan
Uli Auliani sebagai Naomi
Cynthiara Alona sebagai Jazzy
Debby Ayu sebagai Amel
Fendi Trihartanto sebagai Jojo

Director:
Absen di bulan suci Ramadhan, Nayato Fio Nuala kembali dua minggu kemudian dengan thriller horor terbarunya yang berjudul cukup berdaya tarik ini.

Comment:
Leburkanlah 2 film berikut: Darah Perawan Bulan Madu (Hartawan Triguna) dan Air Terjun Pengantin (Rizal Mantovani) yang sama-sama rilis 2009. Voila! Jadilah karya terbaru Nayato yang siap tayang tetapi apakah layak tonton? Temanya seperti tersebut di atas mengenai pasangan muda-mudi yang diganggu saat berbulan madu dan sekelompok muda-mudi yang diteror saat rekreasi. Nampaknya kreatifitas sudah semakin sulit dikembangkan dewasa ini. Seakan tidak cukup lemah, diperparah juga dengan masuknya tokoh adik kandung sang penebar teror tanpa maksud dan tujuan yang jelas serta berbaur begitu mudahnya dengan para sahabat tersebut.
Dengan kekonyolan plot dan skenario yang saling berlomba-lomba itu lantas apa lagi yang bisa dijual? Tentu saja panorama dan jajaran castnya. Panorama Pantai Biru memang cukup indah dan keahlian sutradara sekelas Nayato yang cukup pandai bermain angle memang berguna disini. Trio aktris Uli, Cynthiara, Debby kembali mempertontonkan kemolekan tubuh mereka dengan bikini minim. Belum lagi sosok Catherine yang tidak jelas apakah hantu atau manusia yang berkostum sangat eksotis (anda akan mengerti maksud saya jika menontonnya!). Ohya ada juga Keith Foo yang wajah dan tubuhnya bisa jadi menyegarkan bagi penonton wanita (dan sebagian penonton pria tentunya). Rasanya "penampilan" kesemuanya merupakan "akting" tersendiri di film ini.
Mungkin kejam jika saya katakan Pengantin Pantai Biru lebih merupakan kumulasi sampah-sampah kertas Nayato yang berisi satu dua coretan ide lalu diremas-remas dan dibuang tanpa penyelesaian apapun. Namun memang itulah kenyataannya. Skip it!

Durasi:
70 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 29 Juli 2010

NAKALNYA ANAK MUDA : Perjalanan dan Pembunuhan Misterius

Storyline:
Di sebuah pesta, Renata mengajak Andien ikut serta berlibur ke villa kakek Andra yang juga membawa Dicky, Pay dan Reno. Dalam perjalanan, mereka melewati hutan dan air terjun yang indah, malah villa tua tersebut menimbulkan kejanggalan dalam diri Renata hingga aktifitas keenam muda-mudi tersebut selalu dihabiskan di luar. Namun satu persatu, Pay, Reno dan Andra kemudian tewas mengenaskan hingga menyisakan Renata dan Dicky yang segera kembali ke Bogor. Keduanya melapor polisi atas kejadian itu sekaligus melakukan pencarian terhadap Andien yang menghilang secara misterius. Siapa sebenarnya pelaku dari semua itu?

Nice to know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan diproduseri oleh Karan Mahtani.

Cast:
Ratu Felisha sebagai Andien
Uli Auliani sebagai Renata
Fero Walandouw
Billy Ade Sumirat
Rozie Mahally
Rommy Ravalzy

Director:
Merupakan film ke-8 bagi Nayato Fio Nuala di tahun 2010.

Comment:
Lagi-lagi Nayato dengan karya-karyanya yang tiada habisnya, masih dengan pertanggungjawaban yang nihil. Singkat saja, plotnya hanya berputar-putar, awal ke tengah, lalu dari tengah kembali lagi ke awal yang dijadikan akhir. Bingung? Sayapun demikian, hingga memutuskan untuk menuntaskan rasa kantuk yang menjalar saja di bangku bioskop yang nyaman. Mengenai sekelompok anak dugem yang berpesta, mabuk, melakukan kesalahan sudah berkali-kali dipotretkan sebelumnya. Kali ini dengan “kreatif”, Nayato membawa setting dari klub malam langsung ke hutan rimba dan kembali ke kota. Jujur kepala saya agak pening jika harus mengingat-ingat kembali.
Dari jajaran pemain jujur saya kasihan pada mereka semua harus “menerima” peran yang disodorkan terlepas dari motif apapun juga. Sedikit fakta lucu saat Ratu Felisha menggunakan nama Andien untuk karakter yang diperankannya. Entah ini ide siapa. Disengaja atau tidak? Uli tidak terlalu berbeda dalam melakoni Renata seperti yang sudah-sudah. Keempat aktor remaja prianya? Saya bahkan tidak peduli sama sekali pada eksistensi dan nasib mereka di film ini.
Nakalnya Anak Muda yang sempat dijadwalkan berjudul JIPER alias Jeritan Perawan ini sangat menipu dari segi tampilan poster yang diulang-ulang-ulang-ulang-ulang.. Isinya hanyalah thriller bukan thriller, slasher bukan slasher, dan tampaknya Nayato sendiri bukanlah Nayato yang sesungguhnya.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 29 April 2010

AKIBAT PERGAULAN BEBAS : Seksinya Dunia Malam Kaum Metropolitan

Storyline:
Kanya, Dinda dan Zizi yang bersahabat sama-sama terhempas dalam bebasnya kehidupan kaum muda metropolitan. Kanya menjadi cewek panggilan dan menghasut Dinda untuk terjun juga. Awalnya menolak tapi karena kesulitan ekonomi, Dinda akhirnya terjerumus juga apalagi dijanjikan menjadi fotografer terkenal oleh Boy. Zizi juga menjadi simpanan pria beristri bernama Roy hingga berakibat kehamilan tanpa tahu siapa yang harus bertanggungjawab. Sementara itu Gladys yang berpacaran dengan Boni juga terseret dilema yang menghubungkannya dengan Kanya dan Dinda. Akankah pada akhirnya masing-masing dapat sadar dan kembali ke jalan yang benar?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood tanggal 26 Maret yang lalu.

Cast:
Uli Auliani sebagai Kanya
Samuel Zylgwyn sebagai Boni
Sabai Morscheck sebagai Gladys
Leylarey Lesesne sebagai Dinda
Smitha Anjani sebagai Zizi
Diramaikan pula oleh Ray Sahetapy dan Yama Carlos.

Director:
Pernah diakui kepiawaiannya dalam Ekskul (2006) yang menggondol Piala Citra walau akhirnya dicabut itu membuat nama Nayato Fio Nuala sukses bertahan hingga saat ini dengan film-film yang hampir seragam.

Comment:
Dari pembuka saya merasa 80% tema film yang ditulis oleh Puguh P.S. Atmadja ini sama persis dgn 18+ sehingga konsentrasi saya tidak terpaku pada layar lagi melainkan pada ponsel RIM dan snack yang saya bawa. Ya tiga sahabat putri dengan dinamika hidupnya masing-masing yg tersentralisasi pada gaya metropolitan yaitu dugem, seks, drugs dengan berbagai motif mulai dari uang, pelarian, kesepian, kesenangan dsb dimana pada akhirnya mereka saling berseteru dan berjuang satu sama lain. Lagi-lagi saya bisa mengatakan betapa berbakatnya seorang Nayato dalam mendirect gambar-gambar yang bagus dengan pendekatan angle-angle yang menarik. Hanya saja talentanya kembali terbuang sia-sia karena tidak berani menyuguhkan sesuatu yang baru dan lebih berbobot! Akting para pemainnya juga tidak banyak membantu. Yang tidak masuk akal, hampir semua aktifitas yang dilakukan para aktornya disini diharuskan tanpa baju alias shirtless? Hm, Akibat Pergaulan Bebas yang diembel-embeli terinspirasi dari berbagai kisah nyata merupakan remake atau spin-off yang jelas gagal yang cuma menjual adegan-adegan syur yang sudah tergunting sensor pula.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 17 April 2009

POCONG SETAN JOMPO : Lima Mahasiswa Terjebak Dalam Panti Jompo Misterius

Cerita:
Kedatangan suster misterius Saskia ke kampus ternyata bertujuan merekrut lima mahasiswa-mahasiswi yakni Cecil, Ridho, Stella, Joni dan Emilio untuk mengurus sebuah panti jompo. Penolakan berubah menjadi penerimaan saat mereka menatap langsung mata suster Saskia. Ya seakan daya hipnotis mampu mempengaruhi mereka dengan kuat hingga mematuhi setiap kata-kata suster Saskia. Hari demi hari dilalui di panti jompo hingga Cecil menemukan kejanggalan. Siapa sebenarnya suster Saskia? Dan apa hubungan mereka dengan panti jompo tersebut?

Gambar:
Setting panti jompo yang sunyi dan jauh dari keramaian cukup "menentramkan" konsep film secara keseluruhan.

Act:
Banyak mendukung film horor lainnya, baru kali ini kebagian karakter sentral, Uli Auliani sebagai Cecil
Debut peran utamanya di layar lebar, Jonathan 'Ijonk' Frizzy sebagai Ridho
Bintang seksi Deriell Jaqualine sebagai Stella
Si kocak kribo yang kian laris, Rizky Mocil sebagai Joni
Si gendut kemayu, Herichan sebagai Emilio
Terbungkus kostum ketat suster misterius, Bella Esperance sebagai Saskia

Sutradara:
Findo Purwono HW seakan kejar setoran tahun ini. Setelah merampungkan Setan Budeg yang cukup sukses itu, dia kembali dengan genre horor dengan bumbu komedi yang sedang tren. Berhasil atau tidaknya Pocong Setan Jompo tergantung dari penerimaan masyarakat. Hanya disayangkan judulnya yang sangat tidak kreatif dan terkesan "mencari aman" untuk menjual.

Komentar:
Konten cerita Pocong Setan Jompo sebetulnya tidak biasa dan seharusnya mampu dikonsep dengan lebih matang untuk menyuguhkan sesuatu yang baru. Sayang sekali, film ini kembali terjebak dengan stereotype film horor komedi lokal yang menghiasi layar bioskop beberapa bulan terakhir. Kejutan yang dibangun dari awal sampai terungkap di akhir seharusnya menjadi klimaks tapi sayangnya tidak. Sebagai hiburan, cukuplah, tidak buruk tapi tidak bisa dibilang baik.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 15 Januari 2009

SETAN BUDEG : Aksi Trio Pencari Jenazah Mengungkap Misteri Mayat Hilang

Tagline:
Kadang telinga saja tidak cukup untuk mendengar..

Cerita:
Kisah dibuka dengan tiga pemburu mayat yang kerapkali mengurusi mayat tanpa identitas yang bertebaran di jalan ibukota, terutama mereka yang kecelakaan terlindas kereta dan terpisah-pisah anggota tubuhnya! Saat menemukan mayat seorang gadis yang belakangan diketahui bisu tuli bernama Lala menghilang dari mobil jenazah, Pak Joko sebagai atasan mereka menjadi berang. Di lain waktu, Anita mendapat kabar kalau saudara kembarnya mengalami kecelakaan saat ia sendiri dipenuhi tanda tanya besar mengenai rahasia yang mungkin saja disembunyikan orang-orang terdekatnya?

Gambar:
Cukup jelas tersaji walau banyak bermain di malam hari dengan pencahayaan temaram hampir sepanjang film.

Act:
Dewi Perssik kembali dalam film keempatnya. Belum menunjukkan kemajuan akting yang berarti, kali ini dia bermain sebagai sepasang saudara kembar, Anita yang pandai mandiri dan Lala yang bisu tuli. Perbedaan dari penampilan fisik dan sifat yang ingin ditampilkan belum maksimal walau usahanya menarik.
Lucu menyaksikan debut akting Saipul Jamil sebagai suami Anita disini sebagai pengusaha yang sepintas hidupnya terlihat baik-baik saja.
Eddi Brokoli, Hardi Fadhillah dan Rizky Mocil tampil kocak sebagai trio pemburu jenazah, bahkan tanpa nama masing-masing! Beberapa adegan kocak cukup berhasil memancing tawa.

Sutradara:
Findo Purwono HW yang lebih banyak terlibat dalam produksi drama remaja salah satunya yang fenomenal kontroversial, Buruan Cium Gue kali ini kebagian mengarahkan mantan pasutri kondang Dewi Perssik-Saipul Jamil. Sayang memang keterbatasan skenario sulit disiasati lebih jauh lagi sehingga hasil akhir film ini cenderung tanggung.

Komentar:
Konsep yang ingin diusung film ini menjadi bias. Antara ingin menampilkan hal baru yaitu profesi pemburu mayat, ataukah profil setan budeg yang "katanya" sering berdiam di persimpangan rel kereta api? Belum lagi dikaitkan dengan cerita klise hubungan suami istri dan orang ketiga. Apa yang sebenarnya ingin difokuskan? Yah anggap saja film ini menjual banyolan tanpa perlu berpikir panjang jika misinya hanya ingin menghibur. Tidak lebih.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!