XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label chiska doppert. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chiska doppert. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Mei 2012

UDIN CARI ALAMAT PALSU : Impotensi Humor dan Siksaan Multi Karakter


Quotes:
Sinta: Kalo menurut skrip harusnya sekarang giliran Jojo
Jojo: Urang?
Sinta: Iya maneh.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh d’Color Films ini gala premierenya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 22 Mei 2012.

Cast:
Udin Sedunia
Sinta
Jojo
Moymoy
Palaboy
Fransoa
Mike Lucock
Uli Auliani sebagai Debby
Joanna Alexandra
Adelia Rasya
Marcella Lumowa
Mpok Atik
Ronald Gustav
Vicky Nitinegoro

Director:
Merupakan film keempat bagi Chiska Doppert di tahun 2012 ini.

W For Words:
Youtube dapat dikatakan media yang tepat untuk mengeksploitasi diri atau kelompok sendiri secara mudah sekaligus menyebarkannya melalui jaringan internet secara luas. Syukur-syukur anda bisa terkenal seperti orang-orang “biasa” yang bermain dalam film ini. Adalah rumah produksi D’Color Films yang memiliki ide untuk memperkenalkan mereka kepada publik. Pertanyaannya apakah sudah didukung oleh skrip yang baik untuk bercerita setidaknya secara wajar? Duet penulis Herry B Arissa dan Bagus Nugroho akan coba menjawabnya.

Fransoa, produser bule yang bangkrut memiliki ide mengumpulkan orang-orang terkenal di Youtube untuk tampil di kafenya. Mereka adalah Udin Sedunia yang tinggal bersama emaknya di NTB, Sinta-Jojo yang mulai gerah dengan popularitas instan, Moymoy dan Palaboy dari Filipina yang kecopetan di Jakarta saat ingin bertemu kekasihnya Marimar yang dikenal lewat Facebook. Sekelumit kisah yang terjadi di sepanjang perjalanan akan menentukan nasib kesemua insan tersebut.

Lagi-lagi-lagi Chiska Doppert “kejar setoran” yang semakin terpuruk dari satu karya ke karya lainnya. Editingnya semakin buruk, entah karena keterbatasan bujet atau deadline sehingga tidak dilakukan dengan baik. Begitu banyaknya cameo yang terlibat dalam film ini tidak terfasilitasi secara memadai sehingga hanya memberikan kesan lalu lalang yang tidak bermanfaat samasekali, mungkin masing-masing dari mereka kelak akan menyesali keputusannya ini. Lupakanlah Mike Lucock dalam peran banci ‘gengges’, Joanna Alexandra dalam peran gadis ‘desperate’ jodoh atau Uli Auliani dalam peran wanita ‘tersakiti’ yang tampil dalam rambut pirang!

Duet perempuan Sinta dan Jojo mungkin yang paling repot karena harus berganti kostum belasan kali termasuk aksesorisnya mulai dari wig, kacamata, tas dsb. Mereka tidak tampak berakting melainkan menjadi dirinya sendiri lengkap dengan logat aslinya berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa tujuan yang jelas. Duet lelaki Moymoy dan Palaboy sibuk beraksen Tagalog yang terjemahan bahasa Indonesianya agak diragukan karena tidak terstruktur dengan baik. Mereka seakan hanya berimprovisasi  dalam berdialog dan beradegan slapstick sekaligus tanpa juntrungan.

Udin yang menjadi titel film seharusnya mendapat bagian yang dominan. He is! Tapi sayangnya bukan dalam porsi yang manusiawi. Dari menit awal sampai akhir, anda akan menemukan seratus satu kesialan yang terjadi padanya mulai dari dijatuhkan dari pohon, dilumuri tai kebo, ditabrak mobil tiga kali, ditonjok, dilempar, dikafan sebagai pocong sampai diceburkan ke kali. Jika ada yang terlewat, mohon anda tambahkan. Terima kasih. Keseluruhan “insiden” itu tidak lantas membuat penonton bersimpati padanya melainkan prihatin, sebegitu inginkah main film hingga harus jalani siksaan sedemikian rupa?

Udin Cari Alamat Palsu mungkin hanya ingin mengekor Agent of Secret Stuff milik Wong Fu Production yang lebih dulu menampilkan Ryan Higa tapi jelas gagal total. Humornya terbilang impoten karena tidak berhasil membangunkan sisi humoris saya dan sebagian besar penonton yang menyaksikannya malam itu. Suguhan 82 menit ini tidak terasa seperti sebuah film panjang melainkan potongan videoklip yang disatukan secara random tanpa rajutan benang merah yang terarah. Departemen musik dengan hit-hit “artis” Youtube yang semestinya bisa menutupi kekurangan pun tidak terjamah samasekali. Yang tertinggal cuma penyiksaan terhadap intersepsi otak anda yang jauh lebih mahal daripada harga tiket.

Durasi:
82 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 05 April 2012

ENAK SAMA ENAK : Lawak Nyablak Ala Teamlo


Quotes:
Tante Ros: Hah? Udah gak bayar kos, pake minta ongkos?


Nice-to-know:
Film yang diilhami oleh Warkop DKI ini screeningnya diadakan di Senayan City XXI pada tanggal 2 April 2012.


Cast:
Wawan Teamlo

Ade Teamlo
Kudil
Teamlo
Argo Teamlo sebagai Toro
Avis Teamlo

Dondot Teamlo

Bobby Teamlo

Eko DJ
sebagai Ayah Kudil
Kiki Fatmala

Ezra Pingky
Farida Gaynullina
sebagai Jenifer
Nita Ferlin
Garneta Haruni

Director:
Merupakan film ketiga bagi Chiska Doppert yang mengawali karirnya sebagai alter ego Nayato Fio Nuala.


W For Words:
BIC Productions dan Mitra Pictures tampaknya sudah sepakat untuk mengerjakan 2 proyek film kolaborasi sekaligus dalam waktu 1 bulan! Baru saja kita disuguhi Love Is Brondong, kini hadir lagi sebuah remake -saya lebih suka menyebutnya begitu- serupa tapi tak sama dari film lawas tahun 1990an yang dibintangi oleh Warkop DKI. Bedanya kali ini yang diorbitkan adalah Teamlo alias Tim Humor Solo yang beranggotakan 7 orang masing-masing Argo, Avis, Dondot, Bobby serta trio Wawan, Kudil, Ade yang lebih dikedepankan.
Tiga mahasiswa dengan modal pas-pasan ngekos di tempat Tante Ros yaitu Wawan, Kudil dan Ade yang masing-masing memiliki tipe gadis idaman yang berbeda. Kehadiran si bule Jenifer di kampus mereka membuat ketiganya berbalik arah. Kudil yang mengaku anak juragan jengkol meminta kiriman mobil terbaru oleh bapaknya di kampung. Mobil diantar Toro yang juga terpikat oleh Jenifer. Masalah semakin rumit ketika Bapak Kudil nekad datang ke Jakarta dan bersaing untuk memperebutkan wanita. Siapa yang tertawa paling akhir?
Semoga motivasi filmmakers dalam menggarap proyek ini murni karena penghormatan terhadap Warkop DKI, bukan karena kehabisan ide segar yang sulit mendatangkan profit. Aditya Sugandi, Djaffar Lesmana, Universal Nikko yang mengerjakan skripnya memang berupaya membawa penonton ke tahun 1990an dimana komedi situasi tradisional masih berjaya dalam mengocok perut sekaligus menghibur semua lapisan masyarakat.Sayangnya pecinta film nasional kini belum tentu mengusung idealisme serupa.

Ade, Wawan, Kudil tampak terinspirasi oleh Dono, Kasino, Indro dalam memainkan intonasi suara, ekspresi wajah hingga bahasa tubuh. Beruntung mereka masih bisa “menyanyi” walaupun dengan gaya slengean dan lirik lagu acak adut yang terasa dipaksakan rimanya. Mayoritas humor yang tercipta dari dialog antar personil Teamlo tergolong garing, cuma sebagian kecil yang berhasil mengundang senyum tersungging di bibir penonton. Para pemeran pendukung di luar tim humor Solo pun cukup apik berakting terutama dari jajaran senior macam Eko DJ yang mata keranjang itu.


Sutradara Chiska wajib mengambil rehat sejenak meskipun garapannya kali ini harus saya acungi jempol karena berhasil lepas dari tipikal film-film sebelumnya. Enak Sama Enak tampil apa adanya dan sederhana terlepas dari pengikatan cerita yang kurang terencana. Sederetan adegan slapstick dierahkan demi menutupi kelemahan tersebut yang sayangnya belum tentu diapresiasi oleh penonton modern. Pada akhirnya Teamlo pun terasa lahir dua dekade lebih lambat untuk membawakan lawakan nyablak semacam ini.


Durasi:

80 menit


Overall:
6 out of 10


Movie-meter:

Kamis, 15 Maret 2012

LOVE IS BRONDONG : Empat Brondong Modal Nanggung


Quotes:
Momon: Santai kayak di pantai, tenang aja kayak di Jogja, gak usah ribut kayak di Ubud..

Nice-to-know:
Diproduksi oleh BIC Productions dan Mitra Pictures dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 12 Maret 2012.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Momon
Zaky Zimah sebagai Farhan
Bryan McKenzie sebagai Alfin
Kiki the Potters sebagai Juned
Tya Restyana sebagai Sheila
Joanna Alexandra sebagai Sasha
Nabila Intan sebagai Aisha

Director:
Merupakan film kedua Chiska Doppert di tahun 2012 setelah Bila.

W For Words:
Pertama kalinya Zaky Zimah dan Ajun Perwira dipersatukan dalam sebuah film. Yang satu kesayangan Nayato sedangkan satunya lagi andalan anak didiknya Nayato yaitu Chiska Doppert. Rasanya dua nama pujaan dalam genre komedi pocong-pocongan itu sudah bisa diandalkan sehingga duo Aditya Sugandi dan Djaffar Lesmana merasa tidak perlu lagi “bekerja keras” menghasilkan sebuah skrip yang matang. Itulah yang saya rasakan selama lebih kurang delapan puluh empat menit.
Empat sekawan yang tinggal dalam satu kontrakan yakni Momon, Farhan, Alfin dan Juned juga kuliah di kampus yang sama. Momon yang cekak mengejar cinta gadis model yang materialistis, Sasha. Sedangkan Farhan yang alim memilih gadis berjilbab yang tengah kesulitan uang, Aisha. Masalah semakin rumit ketika mereka menyelamatkan Sheila dari pria yang menipu duitnya dan membutuhkan tempat tinggal sementara. Uang dan cinta tampaknya akan terus menjadi permasalahan yang sulit terpecahkan.

Terus terang sepanjang film berjalan, saya kesulitan menangkap intisari cerita. Semua terasa dipaksakan mengalir begitu saja tapi tanpa benang merah yang jelas. Banyak sekali karakter yang timbul tenggelam disini terutama Joanna Alexandra. Apakah filmmaker ingin berkonsentrasi pada pertobatan di akhir cerita? Tidak maksimal karena konfliknya sendiri tidak pernah benar-benar membubung ke permukaan. Pengadeganan pocong-pocongan di penghujung semakin mengaburkan identitas film yang kebingungan mau dibawa drama, romansa atau komedi?
Satu hal yang paling saya takutkan adalah Chiska Doppert yang sedang mengikuti jejak “master” nya yaitu kejar setoran. Berbagai judul film yang ditanganinya memang bervariasi dari segi tema dan cerita walaupun kesemuanya mengarah pada pangsa pasar yang sama yaitu remaja. Kemahirannya menyajikan gambar-gambar cerah yang enak dilihat memang masih menjadi nilai tambah meskipun anda akan menangkap banyak kesamaan setting lokasi dengan pendahulunya sebut saja PJP dan Bila. Hasil editing Toumakov masih terasa kasar sehingga perpindahan setiap segmennya terasa tidak mulus.

Sama halnya dengan Ajun Perwira yang terkesan memanfaatkan popularitasnya yang meroket belakangan ini. Saya tidak melihat perbedaan tokoh Momon disini dengan Dimas dalam PJP, Ajun masih menggunakan mimik dan intonasi yang sama. Beruntung Zaky Zimah mampu mempertahankan trademark komedinya yang tetap fresh. Perbedaannya adalah ia memerankan tokoh Farhan yang soleh sehingga terciptalah berbagai komedi situasi dimana berpegang teguh pada prinsip menjadi ujian yang patut dilaluinya.
Love Is Brondong pada akhirnya berpijak di posisi yang serba salah. Judulnya memang terdengar cukup menjual tapi samasekali tidak menggambarkan isi filmnya selain kiprah empat brondong manis dan lucu yang secara teratur digilir oleh kamera. Setidaknya dua nama dari mereka tidaklah mengecewakan yakni Zaky sebagai sang pengocok tawa dalam peran tak biasa serta Kiky yang memulai debutnya dengan spontanitas kepolosan yang wajar. Tentunya sumbangan lagu dari The Potters itu sendiri menjadi aset yang paling berharga.

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 08 Februari 2012

BILA : Cinta Segitiga Remaja Tarik Ulur


Quotes:
Bila: Kalo begitu kenapa kamu pegang tangan aku begitu erat, Dani?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan Unlimited Production dimana press screeningnya diselenggarakan di Studio XXI ex pada tanggal 8 Februari 2012.

Cast:
Stefan William sebagai Dani
Shalvynne Chang sebagai Bila
Karina Meita Permatasari sebagai Shosana
Ajun Perwira

Director:
Merupakan film keenam bagi Chiska Doppert sekaligus yang pertama di tahun 2012.

W For Words:
Cinta memang kompleks. Namun bisa saja sederhana. Semua tergantung bagaimana individu yang menjalaninya. Kali ini Maxima Pictures bersama Unlimited Productions dengan percaya diri menggandeng penulis skrip Cassandra Massardi untuk menggarap drama remaja demi menyambut Hari Kasih Sayang yang jatuh pada hari Selasa tanggal 14 Februari 2012 nanti. Demi meremajakan industri perfilman nasional maka ditunjuklah tiga aktor-aktris remaja anyar untuk menjadi bintang berikutnya.

Alkisah Bila bersahabat erat dengan Shosana sejak masa sekolah. Keduanya menyukai cowo yang sama yaitu Dani yang memang pantas menjadi idola. Shosana yang awalnya mendekati Dani amat kecewa mengetahui lelaki pujaannya itu lebih menyukai Bila. Karena suatu insiden, Dani dan Bila pun dipisahkan, satu meneruskan studi ke Perth, sedangkan yang lain ke Singapura. 5 tahun bergulir, Dani bertunangan dengan Shosana yang sakit keras sepulangnya ia ke Jakarta. Betapa pilunya hati Bila mendapati fakta menyakitkan tersebut sambil berupaya melanjutkan hidupnya.
Sutradara Chiska Doppert memang tengah naik daun terlepas dari kredibilitasnya yang masih banyak dipertanyakan sebagai seorang filmmaker. Disini ia bermain dengan gambar-gambar nan indah dari berbagai angle kamera yang tak jarang mengclose-up para pemainnya. Beberapa setting lokasi (salah satunya Kota Tua) yang dipilihnya memang menjual untuk menghadirkan sinematografi memikat tapi bukan berarti dimanapun setiap scene yang berlangsung harus diselesaikan di tempat tersebut bukan?

Harus diakui trio Stefan, Shalvynne dan Karina Meita memang rupawan di layar sehingga bisa menarik minat siapapun yang menyaksikannya tapi dari segi akting belum ada yang istimewa. Rentang waktu yang cukup panjang, 5 tahun lalu 2 tahun seharusnya mampu mempengaruhi kedewasaan karakter Dani, Bila ataupun Shosana. Nyatanya penjiwaan mereka tidak berubah, tetap saja unyu dengan dialog-dialog slow motion cheesy yang tak jarang mengundang senyum di bibir penonton.
Bila semestinya bisa diselesaikan sejam lebih awal, bukan berlama-lama tarik ulur plot cinta segitiga remaja semacam ini, bahkan sampai melibatkan 1-2 tokohnya dalam ambang kematian terlebih dahulu. Saya sempat kuatir Chiska dan akan mengisahkan polemic Dani-Bila-Shosana hingga mereka tua bersama. Oh NO! Setidaknya film ini mengajarkan dua hal yaitu penantian dan keegoisan cinta yang kerapkali membelenggu perasaan manusia. Sayangnya cara yang dipilih harus melalui drama panjang yang cukup melelahkan sekalipun mata dimanjakan dengan visualisasi yang ciamik.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 12 Desember 2011

BUKAN POCONG BIASA : Gangguan Pocong Maksud Tersembunyi

Quotes:
Jaki: Untung kita naik mobil. Kalo pocong kan larinya cuma bisa sekotak-sekotak.


Storyline:
Bertujuan membuat sebuah film pendek mengenai kehidupan warga, lima sahabat yaitu Jaki, Remon, Papay, Niken dan Anna pergi ke Puncak. Sayangnya di tengah jalan, mobil mereka mogok karena ban kempes. Bermaksud meminjam dongrak, mereka masuk ke sebuah rumah tak berpenghuni. Kejadian menyeramkan terjadi saat ketiga pocong mulai mengganggu mereka. Terbirit-birit Jaki mengendarai mobil kembali ke Jakarta. Teror tak berhenti karena pocong perempuan tersebut terus mengikuti. Apa yang sesungguhnya diinginkan dari Jaki dkk?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures & Bic Productions dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI tanggal 12 Desember 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Jaki
Soraya Larasati sebagai Niken
Ronald Gustav sebagai Remon
Irene Justine sebagai Anna
Yoga Arizona sebagai Papay
Mucle
Malih Tong Tong
Mpok Atiek

Director:
Merupakan film ke-5 bagi Chiska Doppert sekaligus penutup tahun 2011 ini.

Comment:
Saya sempat berpikir bahwa film ini merupakan parodi dari Bukan Cinta Biasa karena kemiripan judulnya. Namun ternyata sebuah stand alone yang ide ceritanya digagas oleh Tb. Ule Sulaeman S. Lantas pertanyaannya adalah apakah kali ini si pocong memiliki kekuatan “luar biasa” untuk menakuti atau bahkan menghibur penonton? Jawabannya bisa anda temukan dalam produksi terbaru Mitra Pictures & Bic Productions ini.
Sebuah rumah bertingkat gaya tradisional dengan interior kayu dominan menjadi setting yang dianggap “efektif” oleh sutradara Chiska untuk membangun ketakutan (atau kelucuan?) lengkap dengan sound yang memekakkan telinga. Meski sempat berpindah ke rumah modern plus kampus, tiga sosok berkain kafan tersebut ternyata tergabung dalam GMP alias gerakan mobilitas pocong. Jelaslah, fasilitas angkutan umum sudah cukup memadai sehingga mereka bisa menumpang mobil sampai bus umum.

Zaky Zimah kali ini menokohkan anak gaul “beatboxing” lengkap dengan topi yang diputar ke samping. Celetukan-celetukan khas yang keluar dari mulutnya kembali disuguhkan. Namun ia tidak sendiri dalam melucu disini karena Ronald Gustav ternyata cukup fasih memeragakan pria gagap yang kontras dengan ekspresi polosnya di sepanjang film. Aksi keduanya secara tidak langsung menenggelamkan tokoh-tokoh lainnya yang dimainkan oleh Soraya, Irene ataupun Yoga. Namun duet satpam bermuka “mengganggu” Malih dan Mucle merupakan sebuah pengecualian dengan segmen komedik khusus bergaya lawas.
Secara khusus saya ingin mengomentari tampilan tiga pocong “tak biasa” yang rajin sekali menampilkan ekspresi aneh bin ajaibnya itu. Seringai mengejek, mata mendelik, lidah terjulur hingga yang paling ekstrim adalah menggunakan tangan dan kaki mereka untuk aktifitas yang tidak pernah terbayangkan dilakukan oleh seikat pocong. Ups, maaf jika saya sedikit spoiler. Mudah-mudahan tidak mengurangi unsur kejutannya jika memang anda berniat menyaksikan film ini.

Bukan Pocong Biasa sebetulnya bukan komedi horor yang buruk, hanya saja premis serupa terlalu sering diangkat sebelumnya sehingga tinggal menyisakan sedikit kejutan. Endingnya pun ditutup dengan twist tipikal yang malahan sudah disinggung di opening film yaitu minta ditemukan. Jualan utamanya jelas adegan slapstick komikal yang akan memaksa anda tertawa “tidak biasa” terus-menerus. Durasi satu jam pertama malah sibuk menyorot interaksi manusia dengan pocong secara panjang kali lebar sama dengan pusing tujuh keliling. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 24 November 2011

POCONGGG JUGA POCONG : Cinta Galaunya Pocong Moved On

Romantic teenage love potion, funny "pocong unyu" formula. Fresh mixed ideas that eliminate 2 different worlds' concept!

Quotes:
Poconggg: Hidup itu selalu ada yang pertama. Pertama mulai bisa bicara, pertama mulai bisa berjalan, pertama masuk sekolah, pertama jatuh cinta..


Storyline:
Remaja SMU bernama Dimas memang sudah lama menyimpan rasa bagi Sheila. Sayangnya kencan mereka berakhir dengan tragis. Dimas terbangun dalam wujud pocong. Ya ia telah meninggal dan kini hidup berseberangan alam dengan gadis pujaannya itu. Biar bagaimanapun, Dimas wajib mengikuti kodratnya dan mendapat bimbingan Kunti yang bersimpati ataupun cobaan Anjaw dan kawan-kawan yang sirik padanya. Di sisi lain, Sheila mulai didekati seniornya Adit yang hobi fotografi. Akankah pada akhirnya Dimas alias Poconggg mampu merelakan Sheila bahagia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dimana media screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 23 November 2011.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Dimas / Poconggg
Nycta Gina sebagai Kunti
Saphira Indah sebagai Sheila
Rizky Mocil sebagai Anjaw
Guntur Triyoga sebagai Adit

Director:
Merupakan film keempat bagi Chiska Doppert sekaligus yang ketiga di tahun 2011 ini setelah Pocong Minta Kawin.

Comment:
Novel remaja Poconggg juga Pocong termasuk fenomenal karena sudah dicetak ratusan ribu. Kok tau? Soalnya saya baca juga! Meski masih banyak terpengaruh oleh gaya komedik Raditya Dika, Arief Muhammad berhasil menggunakan sudut pandang barunya sendiri, yang belum terpikirkan sebelumnya. Itulah sebabnya subjudul “Bukan Setan Biasa, Setannn!!!” digunakan dan memang amat menggambarkan kontennya yang unik itu.
Tak heran jika Maxima Pictures bekerjasama dengan Universitas Trisakti melihat peluang itu dan mengutus Arief bersama Haqi Achmad mengerjakan skrip filmnya. Hasilnya? Sebagai pembaca novelnya, saya puas. Chapter-chapter dalam novel yang tidak runut itu berhasil dirangkai menjadi sebuah kisah linier yang sarat pengalaman hidup. Mulai dari masa SMU Dimas yang penuh cinta dan keriaan berganti menjadi periode paska kematian Pocong yang galau dan krisis identitas. Semua berjalan saling mengisi dimana penempatan momen-momen penting dalam novel juga tergolong tepat mengintrusi cerita.

Sayangnya sutradara Chiska masih memiliki sedikit masalah dalam hal editing yang membuat pergerakan scene dari satu babak ke babak berikutnya terkesan kurang mulus. Beruntung sinematografi yang disuguhkan masih tergolong memikat walaupun keterbatasan setting lokasi, yang disinyalir demi menekan biaya produksi, tidak dapat dipungkiri. Poin plus lain adalah Joseph S Djafar yang menghadirkan ilustrasi musik yang apik terlebih dengan kehadiran J-Rocks mengisi soundtracknya dengan tembang Ya Aku yang ear-catchy itu.
Penunjukkan Ajun Perwira sebagai aktor utama Dimas memang agak beresiko. Kemampuan aktingnya untuk format layar lebar samasekali belum terasah. Dominannya penggunaan narasi “pikiran” dibandingkan berdialog langsung dengan lawan mainnya sedikit banyak menutupi kekurangan tersebut. Tentunya selain faktor wajah tampan kiyutnya yang tampaknya sangat ampuh menyihir gadis-gadis ABG untuk histeris menyaksikannya. He looks fresh on the big screen, dibandingkan harus menggunakan aktor yang itu-itu saja.

Tampang Saphira mengingatkan saya akan Joanna Alexandra! Peran gadis seumuran Sheila dilakoninya dengan wajar dimana kebahagiaan dan kesedihan silih berganti mengisi hari-harinya. Nycta yang kondang dengan karakter Jeng Kellin ini sukses menerjemahkan figur Kunti cerewet yang tutur kata dan ekspresinya mudah sekali memancing tawa penonton. Guntur kebagian tokoh Adit yang cool, spontan dan sangat mencintai fotografi memang tidak terlalu banyak porsinya tetapi cukup krusial. Meskipun kehadiran Rizky Mocil membosankan toh kesediaannya melawak dengan suara sengau dalam balutan kain kafan patut diapresiasi.
Poconggg Juga Pocong adalah satu-satunya komedi romantis ala remaja lokal yang formulanya "bener" di sepanjang 2011 ini. Kita akan melihat proses jatuh cinta ABG, utarakan isi hati (tolak/terima), bergalau ria sampai ke proses moved-on yang teramat berat itu. Rasa senang dan haru akan mewarnai film yang saya belum tahu apakah akan sukses di pasaran atau tidak (prediksi minimal lima ratus ribu penonton) tetapi rasanya jargon-jargon yang digunakan akan semakin populer seperti cinta yang diibaratkan kentut ataupun naik angkot. Tidak ada alasan takut jatuh untuk sesuatu yang memang layak diperjuangkan. Maka dari itu, melompatlah terus, cong!

Durasi:
78 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 12 Oktober 2011

POCONG MINTA KAWIN : Wara-Wiri Pocong Mati Penasaran Jodoh

Quotes:
Yuli Gaga: Galon, ah dia kaga percaya gue kan!


Storyline:
Pernikahan di rusun pinggiran Jakarta antara Ningsih dan Hamid gagal lantaran mempelai pria tidak datang. Frustrasi, Ningsih pun bunuh diri dengan meloncat dari atap rusun. Tak lama kemudian, Ibu Galon sang empunya rusun menyewakan kamar bekas Ningsih pada keempat mahasiswa yaitu Aldi, Ragil, Amir, Justin dengan harga murah. Perlahan tapi pasti, pocong Ningsih yang mati penasaran pun kembali ke rusun dan meneror para penghuninya termasuk Yuli Gaga, penyanyi dangdut berdada super. Mereka lantas sepakat memanggil Dukun untuk menanyakan kemauan terakhir Ningsih sehingga tidak mau pergi dari dunia. Berhasilkah gangguan itu lenyap pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Happy Together Pictures dimana press screeningnya dilangsungkan pada tanggal 3 Oktober 2011 di Planet Hollywood XXI.

Cast:

Chika Waode sebagai Ningsih
Julia Perez sebagai Yuli Gaga
Vicky Nitinegoro sebagai Aldi
Christopher sebagai Justin
Dhawan Khai sebagai Ragil
Bobby Maulana sebagai Amir
Mpok Atiek sebagai Dukun
HM Bolot

Director:
Merupakan kolaborasi pertama Chiska Doppert dan Harry Dagoe Suharyadi dalam genre komedi horor ini.

Comment:
Andai saja ada SPSI (Serikat Pocong Seluruh Indonesia) maka dapat dipastikan sebagian filmmaker kita akan kena hukumannya. Paling ringan mungkin kewajiban “nyekar” setiap malam Jumat Kliwon sedangkan paling berat tentu saja permintaan maaf secara resmi.. Tentu saja dengan mencium tangan sang pocong. Nah lho! Saya jamin film-film bertemakan pocong akan berkurang secara drastis dari waktu ke waktu.
Harry Dagoe Suharyadi berkolaborasi dengan Chiska Doppert dan Armantono mengerjakan skripya yang lagi-lagi gabungan formula expired. Rumah susun/kost berhantu, pemuda-pemuda akil balik, gadis primadona hingga banci kaleng. Sudah bisa ditebak racikannya bukan? Komedi horor benar sekali. Lengkap dengan ending yang predictable dan twist yang not shocking at all. Weleh weleh, “jualan” kok gak kreatip? Hadeehhhh.
Meski demikian, Vicky, Christopher, Dhawan dan Bobby cukup kompak memerankan empat mahasiswa yang bersahabat. Mereka seia sekata dalam ketakutan, kegenitan dan kere tentunya! Celetukan-celetukan spontan masing-masing terkadang mampu memancing tawa walau seringkali terdengar di luar konteks. Bahkan si bule Christopher meski minim dialog, ekspresi tololnya lumayan juara di setiap adegan yang melibatkan dirinya.
Jupe agak mengganggu dengan rambut sepuhannya, kontras dengan baju-baju minim berwarna terang yang dikenakannya. Nama Yuli Gaga yang diusungnya cukup inovatif sekaligus membuka kesempatan baginya bernyanyi dan beraksi di atas panggung. Belah duren, bang? Kasihan melihat komedian Chika Waode didandani sedemikian rupa menjadi si pocong buruk rupa bernama Ningsih, membangkitkan rasa penasaran saya akan penampakan wajah aslinya. *brb.. googling!*
Saya mempertanyakan keputusan Harry Dagoe untuk menggunakan inisial nama HDS dalam jajaran sutradara. Tidak pede karena takut dicela? Yang jelas Chiska Doppert sudah mulai melepaskan diri dari gaya Nayato yang selama ini mengikutinya. Kolaborasi keduanya tidak buruk dimana syut adegan pocong yang rajin menampakkan diri di siang dan malam hari tersebut memang lebih berkesan menggelikan dibandingkan menakutkan.
Sebenarnya Pocong Minta Kawin tidak lantas gagal total dalam menghibur. Beberapa scene komediknya lumayan fun dan pembagian porsi semua karakternya pun cukup merata. Hanya saja ide ceritanya sudah sangat tidak pantas untuk dieksploitasi apalagi menggunakan judul yang tidak bisa dipertanggung jawabkan hanya demi mengejar unsur “sounds catchy”. It’s not catchy, it’s stupid! Pada akhirnya simpati saya pun hanya melayang pada nasib Ningsih, si pocong bungkus yang hobi main Facebook untuk mencari jodoh.

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 14 Juli 2011

TUMBAL JAILANGKUNG : Pembalasan Sakit Hati Cara Jelangkung

Quotes:
Mbah Jabrik: Kalian sudah membiarkan roh jahat mendapatkan amarahnya!

Storyline:
Betapa kecewanya Linda mengetahui bahwa Richard yang dicintainya ternyata hanya mempermainkannya bersdama kedua temannya, Galang dan Hanung. Belum lagi kenyataan bahwa dirinya hamil juga membuat murka sahabatnya Vena yang segera melabrak ketiga pria bejat tersebut. Demi menenangkan diri agar Linda tidak depresi bunuh diri, Vena mengajaknya berlibur ke villa sepupunya Ivan. Disana Linda malah menemukan sebuah jelangkung tua yang terkubur dalam dan memainkannya. Di luar dugaan kekuatan jelangkung tersebut mampu menuntaskan dendamnya pada Richard dkk. Mampukah Linda mengendalikan dirinya sendiri dari jelangkung yang juga berkaitan dengan peristiwa 30 tahun lalu di Angkerbatu itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures dimana screening terbatasnya diselenggarakan di Plaza Blok M pada tanggal 13 Juli 2011.

Cast:
Soraya Larasati sebagai Linda
Denny Weller sebagai Ivan
Violenzia Jeanette sebagai Vena
Rocky Jeff sebagai Richard
Tasa Rudman
Jerry Likumahwa
Romeo Sianipar sebagai Hanung
Anna Stepanova Jasmine
Nadedja Kovba

Director:
Merupakan film keempat Chiska Doppert secara keseluruhan yang diawali dengan Missing (2005).

Comment:
Permainan mistis tradisional yang terkenal dengan julukan jelangkung ini telah berulang kali menjadi benang merah cerita film-film nasional dari yang paling berkualitas sampai yang paling kacrut sekalipun. Lantas dimana posisi film yang skripnya ditulis oleh Aurellia ini? Kita kembalikan lagi pada opini masing-masing penonton sambil menunggu jumlah raihan rupiahnya paska rilis di bioskop-bioskop setanah air nanti.
Plot ceritanya sendiri tidak jauh beda dengan yang sudah-sudah, tentunya sudah dibalut dengan trademark khas Nayato yaitu muda-mudi cantik dan tampan yang berbuat nista hingga akhirnya harus membayar mahal dengan nyawanya masing-masing. Lihat saja konsep posternya yang teramat sangat “menjual” itu, pria-pria bertelanjang dada plus wanita-wanita memperlihatkan belahan dadanya yang rasanya mampu menarik mata siapapun yang melintasinya.
Sutradara Chiska yang konon asisten sutradara Nayato ini di luar dugaan mampu menyajikan sinematografi yang enak dipandang meski belum dapat dikatakan sempurna. Permainan warnanya yang terkadang berubah-ubah disesuaikan dengan mood para tokohnya menjadi suguhan yang cukup menarik. Eksekusi scene per scene nya juga tergolong runut sambil berusaha bertutur dengan lugas meski tak dipungkiri pengaruh Nayato masih sangat kuat.
Dari jajaran cast mungkin hanya Soraya yang mendapat porsi memadai untuk mengeksplorasi aktingnya dibandingkan film-film terdahulunya. Transisi manusia menjadi setan pendendam cukup baik dilakoninya, terima kasih pada make-up artist yang sukses mendandani wajah cantik orientalnya menjadi sosok yang menyerupai Sadako, lengkap dengan pergerakan patah-patahnya. Nama-nama lainnya cuma tampil sesuai standarisasi tokoh-tokoh horor lokal yang cheesy dan predictable.
Mengingat begitu banyaknya kekurangan disana-sini yang sulit tersamarkan, Tumbal Jailangkung justru cukup layak mendapat ponten yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Hal ini lebih karena jerih payah Chiska yang setidaknya sudah berupaya memberikan pondasi yang jelas bagi film secara keseluruhan. Meskipun pada akhirnya kembali dirusak oleh ending bergaya Mr. You-Know-Who itu, seakan tidak ada cara lain yang lebih berperike-Nayato-an!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 20 Juni 2011

ADA APA DENGAN POCONG : Misteri Pocong Teror Empat Pemuda

Quotes:
Boy: Loe pecahin aja tuh kaca biar rame. Kalo kurang rame, bakar!

Storyline:
Bermula pada Wawan yang mengalami teror oleh pocong di kostnya disusul oleh Hary, Boy dan Tedi yang mengalami hal sama. Tidak tahan, Hary dan Wawan menyambangi seorang dukun sakti yang memberikan mereka keris mini sebagai perlindungan. Tedi dan Hary pun mengalami kecelakaan misterius karena pocong yang semakin marah. Boy yang ketakutan membuka mulut pada Ririn dan Mirna akan kejadian sesungguhnya yang berkaitan dengan Lastri, gadis kutu buku yang ditaksir Hary tapi menaruh hati pada Wawan. Akankah mereka berempat selamat dari gempuran pocong yang menyimpan dendam itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan Co Bic Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 20 Juni 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Boy
Joanna Alexandra sebagai Ririn
Dallas Pratama sebagai Wawan
Raymond Knuliq sebagai Hary
Jerry Likumahwa sebagai Tedi
H Bolot sebagai Dukun
Mpok Atiek sebagai Suster

Director:
Chiska Doppert dua kali menggarap film sebelumnya yaitu Missing (2005) dan Gotcha (2006).

Comment:
Prolog film ini langsung dibuka tanpa tedeng aling. Sepertinya Chiska hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan Nayato sebelumnya. Oh wait! Dari dulu saya selalu curiga keduanya adalah orang yang sama. Mungkin Nayato lebih senang berkostum pocong sedangkan Chiska memilih kostum kuntilanak. Sayangnya pesta Halloween masih jauh di depan, bapak dan ibu.. Namun untuk menghargai, saya akan tetap memakai nama Chiska dalam penulisan review ini.
Seberapa keras usaha Ule Sulaeman untuk menghasilkan skrip yang kreatif sekalipun sepertinya akan sia-sia. Eksekusi Chiska tidak dapat diganggu-gugat atas dasar apapun juga. Tidak heran jika terlalu banyak elemen yang mengganggu disini mulai dari miscast, misplaced, misruled, mismatch dan lain-lain. (Buka Wikipedia untuk menambah sederetan kata “mis” lainnya). Dan jangan minta saya untuk menyebutkan contoh kasus-kasusnya karena akan menyinggung terlalu banyak pihak.
Entah apa fungsi para aktris disini selain pemanis layar belaka. Joanna yang hobi jump-in jump-out pada scene-scene tertentu. Mpok Atiek yang hanya kebagian satu scene di rumah sakit sebagai suster tua genit. Atau Monique yang ternyata memiliki kemampuan “membelah diri” sebagai pocong dan kuntilanak sekaligus terlepas dari siapapun pemerannya. Penonton diamini untuk percaya bahwa dialah di balik semua make-up dan kostum horor tersebut. OMG!
Bagaimana dengan para aktornya? Zaky kembali mengeksploitasi keiteman dan kekhasannya dalam berlogat dan melontarkan celetukan-celetukan jenaka. Di awal-awal mungkin cukup berhasil tapi lama-kelamaan semakin menjemukan. Dallas sebelumnya cukup berwatak dalam berakting kali ini tidak menjanjikan apa-apa. Raymond lagi-lagi bermodal body panzer dan congor bawelnya. Paling mengganggu dari semua adalah karakter Tedi dan Dukun dimana budeg dan bolot itu ternyata memang beda tipis. Once or twice is funny but more than that would be sick. Mohon jangan salahkan Jerry ataupun H Bolot karena mereka hanya dibayar!
Mari kita beralih pada kiprah sang pocong dan kuntilanak. Mana yang lebih efektif dalam tampil? Tentu saja pocong sebab doski dijadikan judul! Mau lihat pocong naik mobil, busway, taksi? Itu tidak penting sebab yang lebih menarik adalah apakah mereka melompat-lompat dalam melakukannya atau ada yang berbaik hati membukakan ikat kakinya? Silakan berasumsi. Kabar baikya adalah tidak ada perlakuan nista yang ditujukan pada mereka kali ini sehingga imej horor setidaknya tetap terjaga.
Ada Apa Dengan Pocong sebetulnya berpotensi menjadi parodi horor yang lebih menghibur lagi andai digarap dengan lebih serius. Opening yang cukup menggebrak dengan angle dan lighting yang tidak lazim itu seketika sirna setelah 15 menit berlalu. Yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan gambar tanpa isi yang lambat laun tersapu oleh hembusan angin berbau kantuk dari mulut para penonton. Jemu sekaligus tersiksa oleh kebodohan menantikan tirai di bawah tulisan EXIT terbuka.

Durasi:

80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter: