XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label horor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juli 2013

THE CONJURING : Old Fashioned Scares That Summon Your Fears


Quote:
Lorraine Warren: You have a lot of spirits in here, but there is one I'm most worried about because it is so hateful.

Nice-to-know:
Film yang didasarkan pada kejadian nyata di rumah keluarga Perron ini sudah direncanakan selama 20 tahun terakhir. Inisiasi datang dari Ed Warren yang memutar rekaman wawancaranya dengan Carolyn Perron kepada produser Tony DeRosa-Grund.

Cast:
Vera Farmiga sebagai Lorraine Warren
Patrick Wilson sebagai Ed Warren
Lili Taylor sebagai Carolyn Perron
Ron Livingston sebagai Roger Perron
Shanley Caswell sebagai Andrea
Hayley McFarland sebagai Nancy
Joey King sebagai Christine
Mackenzie Foy sebagai Cindy
Kyla Deaver sebagai April

Director:
Merupakan feature film keenam bagi James Wan yang memulai karir penyutradaraannya lewat Stygian (2000).

W For Words:
Sebutkan salah satu horor paling berkesan yang pernah anda tonton. Rasanya saya akan mendapatkan judul-judul seperti The Exorcist (1973), The Omen (1976) atau mungkin The Amityville Horror (1979). Semuanya harus diakui telah menjadi cult saat ini dimana berbagai versi remakenya bermunculan beberapa dekade kemudian. Kali ini Evergreen Media Group, New Line Cinema dan The Safran Company berupaya menghadirkan kembali horor bernuansa tahun 70an yang ditangani oleh sutradara muda jempolan generasi baru di genre yang sudah membesarkan namanya yaitu James Wan. Indeed, he’s Asian!

Tahun 1971, Carolyn dan Roger Parren pindah ke rumah lading di daerah terpencil Rhode Island bersama kelima putri mereka yaitu Andrea, Nancy, Christine, Cindy dan April. Suasana baru yang menenangkan tak lama kemudian berganti menjadi mimpi buruk ketika satu persatu anggota keluarga diteror oleh makhluk gaib yang lebih dulu mendiami rumah tersebut. Lewat referensi akhirnya Carolyn meminta bantuan pasangan suami istri cenayang Warren untuk membantu mereka hidup tenteram. Sejak pertama melangkahkan kaki, Ed dan Lorraine sudah merasakan kekuatan jahat yang amat kuat. Berhasilkah pengusiran tersebut dilakukan sebelum semuanya memburuk?

Skrip yang ditulis oleh duo Hayes,Chad dan Carey ini memang berdasarkan kisah nyata yang dituturkan langsung dari mulut Lorraine Warren dan Andrea Perron. Itulah sebabnya foto ataupun rekaman mereka turut dihadirkan sebagai bukti nyata kepada penonton baik melalui end credit title ataupun viral video film ini. Jika menilik materi sebetulnya nyaris tidak ada yang baru selain memaksimalkan trik-trik menakuti yang fresh dan terjaga kontinuitasnya dari awal sampai akhir. Background keluarga The Warrens dan The Perrons sendiri mendapati porsi memadai sehingga anda sulit untuk tidak peduli pada nasib mereka di sepanjang film.

Apabila ada yang berhak pertama kali mendapatkan kredit khusus adalah sang sutradara kelahiran Malaysia itu. Betapa tidak? Wan tampak sangat menguasai ‘panggung bermain’nya. Setting dibangun secara detil dimana setiap sudut dan ruang di seluruh area rumah mampu memberikan efek klastrofobik yang tidak menyenangkan. Permainan kamera dari John R. Leonetti selaku DOP sukses menampilkan trik yang smooth dengan angle yang juga variatif. Editing Kirk M. Morri juga terampil merajut scene demi scene sehingga jalinan kisahnya terasa padat dengan sedikit mengabaikan timeline yang berlaku
dimana sesungguhnya serentetan peristiwa terjadi dalam kurun waktu yang lebih panjang

Farmiga merupakan salah satu aktris favorit saya. Ia menokohkan Lorraine dengan sempurna dimana ikatan emosi antara ibu dan putrinya sendiri atau rasa peduli antara cenayang dan klien yang ditolongnya begitu terasa. Wilson juga efektif memerankan Ed yang logis dan percaya diri akan apa yang tengah dikerjakannya. Anda bisa jadi lupa pada sosok komedik Livingston yang mendominasi filmografinya karena tokoh Roger di tangannya cukup efektif meskipun terkesan satu dimensi. Acungan jempol patut dilayangkan pada Taylor yang amat cemerlang menjiwai karakter Caroline, seorang ibu rasional nan sensitif. Kelima aktris belia yang bermain sebagai anak-anak Perron juga mampu mencuri perhatian. Sama halnya dengan sang sherif dan asisten Ed yang mendapat screen time nya masing-masing.

The Conjuring memang berbeda dari horor modern yang lebih mengandalkan CGI ataupun efek visual demi menakuti penontonnya. Oleh karena itu citarasa horor lawas memang terjaga dimana tidak ada darah atau kesadisan sebagai gimmick pelengkap. Kekurangannya di mata saya adalah alurnya yang sedikit predictable dikarenakan hasil adaptasi dari kisah nyata, bukan fiksi seperti karya Wan sebelum dan sesudah yang satu ini. Walau demikian tensi yang terjaga dan terus meningkat hingga ending sudah cukup untuk mendirikan bulu kuduk anda secara konsisten di depan layar. Go see it with a bunch of friends for multiple pleasures!

Durasi:
112 menit

U.S. Box Office:
$57,512,249 till Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 05 Juni 2013

THONGSOOK 13 : Thai Decent Horror Goes CGI


Quote:
Beam: You know I'm not a real woman!
Jack: For god's sake, you're just a lesbian!

Nice-to-know:
Film yang berjudul Inggris, Long Weekend ini sudah rilis di Thailand pada tanggal 31 Januari 2013 yang lalu.

Cast:
Chinnawut Intarakusin
sebagai Thongsuk
Acharanat Ariyaritwikol sebagai Jack
Ch
eeranat Yusanon sebagai Nam
Sean Jindachot
sebagai Boy        
Kitlapat Korasudraiwon
sebagai Pui
Butsarin Yokpraipan sebagai Beam

Director:
Merupakan film keempat bagi Taweewat Wantha setelah The Kindergarten(2009).

W For Words:
Suguhan horor terbaru Minds@Work dan Wave Pictures ini menawarkan premis yang sudah ribuan kali dieksekusi oleh filmmaker di berbagai belahan dunia manapun. Sekelompok anak muda berlibur di tempat terpencil, melakukan kesalahan fatal hingga harus menanggung akibatnya lewat serangkaian kejadian supernatural. Ya, rekor di Indonesia sendiri dipegang oleh tak lain tak bukan, Nayato Fio Nuala/Koya Pagayo. Perbedaannya mungkin hanya di segi teknis yang jauh lebih baik terlebih di departemen CGI. Tidak percaya?

Thongsuk dan Nam telah bersahabat sejak kecil. Menginjak bangku remaja, Thongsuk yang menderita gangguan autis kerap menjadi bahan olok-olok temannya. Jack yang menaruh hati pada Nam mengajaknya berlibur bersama Boy serta kekasih lesbian Pui dan Beam ke pulau terpencil tanpa sepengetahuan Thongsuk. Di luar dugaan, Thongsuk berhasil menyusul. Jack dan Boy yang kesal menguncinya di kuil yang dipercaya pernah menjadi TKP pembantaian massal di waktu lampau oleh arwah jahat. Menjelang Jumat tanggal 13, sejarah tersebut pun terancam berulang. 

Skrip yang digawangi oleh kwartet Eakasit Thairaat, Sommai Lertularn, Adirek Wattaleela, Taweewat Wantha ini berupaya keras menghindari keklisean yang sudah-sudah. Itulah sebabnya disematkan berbagai ‘tikungan’ untuk tetap mempertahankan penonton di kursinya masing-masing termasuk ‘kreatifitas’ presentasi kematian yang begitu beragam. Kilas balik yang membuka film bertujuan memberikan pondasi akan karakter Thongsuk dan Nam. Namun apakah itu cukup? Terbukti dramatisasi di bagian penutup nampaknya masih kesulitan menguras emosi penonton. 

Wajah tampan Chinnawut yang blasteran tergolong sukses menghidupkan sosok Thongsuk yang lugu dan pantas menggalang simpati. Sorot matanya yang tajam berkali-kali berbicara meski tanpa dialog sekalipun. Debut layar lebar penyanyi Cheeranat juga tidak mengecewakan. Aksi Nam yang dominan di sepanjang film cukup menonjolkan kekuatan emosi yang dalam. Sayangnya tidak banyak yang dapat dllakukan Kitlapat dan Butsarin selain berpelukan dan berteriak. Sedangkan Acharanat dan Sean menjiwai dua pemuda begundal dengan tipikal individualis yang mudah terlupakan.

Taweewat sebagai sutradara rupanya banyak ‘belajar’ dari The Evil Dead (1981) atau The Cabin In The Woods (2011) dengan tema serupa. Bahkan pada satu kesempatan, sosok hantunya langsung mengingatkan anda pada Mama (2013). Paruh pertama yang lambat digunakan untuk membangun suspensi misteri. Paruh kedua barulah dihujani darah dan kesadisan yang cukup optimal. Penggunaan spesial efek dilakukan secara maksimal dalam mengumbar ketakutan mulai dari asap dan bayangan sebagai bentuk teror. Sah-sah saja karena masih terlihat rapi dan relevan dengan kebutuhan cerita.

Walaupun terlambat diimpor ke Indonesia, Thongsook 13 setidaknya masih meneruskan citarasa horor Asia dengan tradisi yang kuat sebut saja jimat pengusir, lilin pelindung dan sebagainya. Peringatan hari Jumat tanggal 13 yang diyakini sebagai terbukanya gerbang neraka pun dipertahankan. Secara keseluruhan masih lebih baik dari beberapa judul sejenis milik negeri gajah putih tersebut dimana kekosongan adegan mampu diisi dengan dialog one-liner pengocok tawa sebelum diteruskan dengan teror non stop yang seperti biasa memicu keberpihakan anda terhadap salah satu tokoh untuk bertahan hidup pada akhirnya.

Durasi:
96 menit

Asian Box Office:
THB 12,700.000 till Feb 2013 in Thailand

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 06 April 2013

PEE MAK : Fun Peek-A-Boo For The Nak-ed Truth


Quote:
Nak: Jika suatu saat aku mati. Dapatkah kau tetap hidup?
Mak: Aku tak dapat hidup tanpamu.


Nice-to-know:
Mencatatkan diri sebagai film Thailand kedua sepanjang masa yang menjadi pengumpul uang terbanyak di hari pertama rilisnya dengan total 21 juta baht di bawah Ong Bak (2003).

Cast:
Mario Maurer
sebagai Mak
Davika Hoorne sebagai Nak
Nattapong Chartpong sebagai Ter
Pongsatorn Jongwilak sebagai Puak
Wiwat Kongrasri sebagai Shin
Kantapat Permpoonpatcharasuk sebagai
Aey

Director:
Merupakan f
eature film keempat bagi Banjong Pisanthanakun setelah terakhir Kuan Meun Ho alias Hello Stranger (2010).

W For Words:
Tiga faktor yang menjadi jaminan kesuksesan besar film ini adalah Mario Maurer, GTH dan legenda urban klasik Nang Nak di Phra Kanong yang sudah demikian melegenda di kalangan masyarakat Thailand. Bagaimana dengan pasar internasional? Rasanya masih dapat berbicara banyak mengingat sutradara Banjong Pisanthanakun telah berhasil menelurkan film-film box office sebelumnya sebut saja dwilogi Phobia (2008-2009) di antaranya yang turut menjadi landasan daya tarik film yang turut menghadirkan Mario di acara meet and greet yang diadakan oleh Blitzmegaplex pada tanggal 7 April 2013 ini.

Tentara Mak yang terluka di medan perang berhasil diselamatkan keempat sahabatnya yang kemudian menyertainya pulang ke kampung halaman Phra Kanong. Di sanalah istri setia Nak telah menunggunya bersama putra mereka yang masih bayi bernama Dang. Rumor berhembus di antara warga desa bahwa sesungguhnya Nak telah meninggal beberapa waktu lalu. Ter, Puak, Shin dan Aey yang mempercayainya segera mencari cara untuk memberitahu Mak tanpa sepengetahuan Nak. Siapa yang hantu dan siapa yang manusia pada akhirnya?

Skrip yang dikerjakan oleh Banjong bersama Chantavit Dhanasevi dan Nontra Khumvong ini masih berpakem pada komedi horor andalan mereka. Nama Ter, Puak, Shin dan Aey sebagai sidekicks bahkan dipertahankan lengkap dengan karakteristik masing-masing. Tokoh Mak pun lebih ditonjolkan ketimbang Nak demi memberikan perspektif yang berbeda. Seperti biasa twist-ending dipersiapkan untuk menipu penonton. Berhasil? Mungkin. Yang jelas perubahan seratus delapan puluh derajat yang terjadi di akhir memang cukup mencengangkan sambil tetap berpegang pada kisah cinta itu sendiri.

Jangan salahkan alasan pemilihan Mario dan debutan Davika yang wajahnya terlihat lebih barat dalam memerankan tokoh pasutri asli Thai karena keduanya terbilang sukses membangun chemistry Mak dan Nak yang awkward sekaligus manis. Jangan ragukan penampilan kuartet “setia kawan” Nattapong, Pongsaton, Wiwat dan Kantapat yang tetap mencuri perhatian kapanpun mereka muncul. Lupakan sejenak penyajian beberapa joke seputar tokoh/film asing yang bisa dibilang tidak relevan dengan jaman kesemua tokoh tersebut hidup mengingat kesempatan lain anda tertawa melihat keempatnya masih amat lebar.
Setting lokasi hutan dan sungai yang terdapat dalam segmen “In The Middle” – 4BIA (2008) kembali digunakan sutradara Banjong sebagai panggung bercerita di samping gubuk tua Mae Nak yang terlihat rapuh tersebut. Durasi keseluruhan yang nyaris dua jam itu seharusnya dipangkas lebih singkat mengingat baru sejam pertama saja sudah merangkum semua situasi dan kondisi yang dialami keenam tokoh utamanya. Trailernya yang diluncurkan sejak bulan lalu sudah berbicara ‘terlampau’ banyak sehingga unsur kejutannya menjadi berkurang.

Tak diragukan lagi, Pee Mak merupakan ‘peremajaan’ yang kreatif dari judul-judul tersebut di atas, bukan remake, bukan sepenuhnya orisinil. Dengan demikian tujuan akhir filmmaker untuk merangkul penonton dewasa dan remaja sekaligus dapat tercapai. Cerdas bukan? Secara pribadi saya memang menyukainya sebagai tontonan menghibur walau tidak sampai menganggapnya spesial. Bagaimanapun juga memanusiakan hantu tetaplah sebuah konsep yang sulit diterima nalar, tak peduli apapun alasan di baliknya. Well, at least it makes you keep guessing for the real Nak-ed truth.

Durasi:
115 menit

U.S Box Office:
21.700.000 baht in opening day Maret 2013 in Thailand

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
  

Sabtu, 02 Maret 2013

WARM BODIES : Skeptically Good Zom-Com Into Lives


Quotes:
Nora: You miss him... like a boyfriend... you miss your zombie boyfriend?

Nice-to-know:
Kisah ini secara tidak langsung didasari oleh "Romeo and Juliet". "R" = "Romeo"; "Julie" = "Juliet; "Perry" = "Paris"; "M/Marcus" = "Mercutio"; "Nora" = Juliet's "Nurse".

Cast:
Nicholas Hoult sebagai R
Teresa Palmer sebagai Julie
Analeigh Tipton sebagai Nora
Rob Corddry sebagai M
Dave Franco sebagai Perry
John Malkovich sebagai Grigio

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Jonathan Levine setelah 50/50 (2011) yang menuai banyak pujian dan penghargaan itu.

W For Words:
Cermati poster dan penggunaan judul film ini, anda harusnya dapat merasakan suguhan yang berbeda. Ya. Bagaimana cinta remaja tampil dalam format yang ‘nyeleneh’ yaitu antara manusia dan zombie, lengkap dengan berbagai pakem familiar yang dikreasikan sedemikian rupa untuk memberikan nuansa baru. Ide ini muncul dari Isaac Marion lewat novel berjudul sama yang dipublikasikan pada tahun 2010. Bukan rahasia pula jika Marion yang mengagumi roman sepanjang masa Romeo & Juliet turut memasukkan beberapa elemen tersebut ke dalam ceritanya. Interesting, right?

Populasi manusia di masa depan membentengi wilayah untuk bertahan hidup dari kawanan zombie yang siap memangsa mereka. Saat bergerilya mencari obat-obatan, Julie bersama sang kekasih Perry dan teman-temannya diserang. Adalah zombie muda R yang menewaskan Perry dan mengambil ‘memori’ dari otaknya. Seketika ia jatuh cinta pada Julie yang kemudian diselamatkannya. Lambat laun terjadi interaksi unik di antara keduanya. Kehadiran Julie kian memanusiakan R hingga wajah dunia bisa jadi berubah. Namun kumpulan tengkorak zombie tak tinggal diam.
 
Rasanya tepat mempercayakan Jonathan Levine menulis sekaligus menyutradarai film ini. Visi pemuda bertalenta yang satu ini memang tak jarang menyinggung Twilight saga (2008-2012) yang ‘mengawinkan’ manusia dengan vampir. Jangan buru-buru melakukan justifikasi karena isu kehidupan dan segala isinya juga menjadi faktor penguat yang tak bisa dipandang sebelah mata. Alih-alih menggelorakan percintaan muda-mudi yang ‘cheesy’, ia malah membangun rasa lewat serangkaian proses natural mulai dari keterasingan, kecanggungan sampai penerimaan.

Setting lokasi juga dibangun Levine sedemikian rupa demi menyesuaikan keadaan ‘post-apocalyptic’ Amerika yang berantakan. Lihat saja lima belas menit pertama yang captivating itu dimana dunia diperkenalkan secara langsung oleh karakter R yang berjalan keliling kota seorang diri. Interaksi dan dialog yang tercipta memang minim tapi sudah cukup maksimal dalam mempertahankan ritme film. Dukungan tembang-tembang lawas dari Scorpions, Bob Dylan, John Waite, Roy Orbison, Bruce Springsteen dsb mungkin akan lebih memanjakan penonton dewasa.
 
Nicholas Hoult tampaknya memiliki masa depan yang cerah di Hollywood. Peran R cukup menantang baginya dan ia terbilang berhasil menjiwainya. Saya menyukai ‘transformasi’ yang begitu terlihat melalui gaya bicara dan bahasa tubuh. Tak mudah memberi nyawa pada tokoh mati seperti itu. Lupakan dandanan yang mirip dengan Kristen Stewart, Teresa Palmer menokohkan Julie dengan lugas, berani dan mau berjuang untuk sesuatu yang diyakininya. Saya menyukai Corddry dan Tipton sebagai sidekick di sini. Sedangkan Malkovich masih terlalu stereotype sebagai ayah Julie yang tak kenal kompromi. 

Warm Bodies adalah tontonan alternatif yang menyenangkan. Karakter-karakternya meski tak terlalu dikembangkan maksimal tetap mampu menghangatkan hati penonton. Semua bumbu satir sosialnya ditakar secara pas, romansanya tidak menye-menye, komedinya enggan berlebihan dan horornya juga tak sampai berdarah-darah. Twist manis nan kreatif diselipkan di akhir kisah. Kunci untuk menikmati produksi Summit Entertainment ini adalah percaya dan open-minded. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang sudah hancur masih dapat diperbaiki. Yes, this witty quirky one is skeptically good zom-com!

Durasi:
98
menit

U.S. Box Office:
$58.243.441
till Feb 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 10 Februari 2013

MAMA : Horror With Heart and Fright


Quotes:
Dr. Dreyfuss' Secretary: A ghost is an emotion bent out of shape, condemned to repeat itself time and time again.


Nice-to-know:
Saat Annabel mendengar Victoria dan Lilly masih bermain, dia pergi ke kamar mereka untuk mengatakan bahwa hari sudah larut dan waktunya tidur tetapi nyatanya jendela menunjukkan siang hari. Kejadian ini berlangsung tiga kali..

Cast:
Jessica Chastain sebagai Annabel
Nikolaj Coster-Waldau sebagai Lucas / Jeffrey
Megan Charpentier sebagai Victoria
Isabelle Nélisse sebagai Lilly
Daniel Kash sebagai Dr. Dreyfuss
Javier Botet sebagai Mamal

Director:
Merupakan debut penyutradaraan feature film bagi Andrés Muschietti.

W For Words:
Jika anda cermati
, horor kreasi seorang Guillermo del Toro yang kali ini bertindak sebagai produser eksekutif selalu mengedepankan tokoh wanita dan anak. Lihat saja The Orphanage (2006) dan Don't Be Afraid Of The Dark (2010). Menilik premisnya, yang satu ini rasanya masih mengusung 'identitas' yang sama. Namun apakah hasil akhirnya akan serupa? Nanti dulu! Satu yang selalu saya kagumi adalah kesetiaan del Toro mempertahankan pakem horor tradisional yang tetap bisa dinikmati oleh penonton modern sekalipun.

Sebelum menyaksikan yang satu ini, ada baiknya anda menengok film pendek berdurasi 3 menit dari Andres Muschietti sebagai pemanasan. Skrip yang ditulisnya sendiri bersama saudarinya, Barbara Muschietti dan Neil Cross untuk debut film panjangnya ini tergolong berhasil mengeksplorasi ketakutan tanpa harus meninggalkan kekuatan konflik orangtua dan anak. Tiga sosok dewasa yaitu Annabel, Lucas dan Dr. Dreyfuss serta dua gadis cilik Victoria dan Lilly masing-masing diperkaya dengan karakterisasi kompleks yang menarik untuk dieksploitasi satu persatu.
Alkisah Victoria dan Lilly dilarikan ke sebuah pondok di hutan oleh ayah mereka yang berlaku tak waras hingga membantai rekan kerja dan istrinya sendiri. Entah bagaimana dua gadis cilik itu mampu bertahan hidup selama 5 tahun sampai ditemukan paman mereka, Lucas. Terapi demi terapi perlahan memulihkan kondisi Victoria dan Lilly yang berada di bawah pengawasan langsung Dr. Dreyfuss. Lucas lantas mengasuh keduanya di rumah hibahan bersama kekasihnya Annabel. Lambat laun, Annabel menyadari ada sosok lain yang selama ini menjaga Victoria dan Lilly kemanapun mereka pergi.

Muschietti sebagai sutradara sukses membangun creepy moments yang bernuansa klastrofobik lewat dua set rumah dan segala isinya dimana sisi artistik tertata begitu rapi. Production value yang pantas diapresiasi tinggi melihat detail yang begitu diperhatikan. Timing setiap adegannya pun terbilang apalagi ditambah penempatan sound yang tepat dijamin akan membuat anda semakin mengkeret di kursi masing-masing. Sosok mama dengan bantuan CGI itu memang mengerikan di awal karena gerak-geriknya yang tak tertuga tetapi semakin diungkap seiring bergulirnya cerita malah kian kehilangan tajinya.

Para wanita di film ini menunjukkan kelasnya. Pertama, Chastain dengan penampilan gothic eksentrik mampu bertransformasi dari rocker cuek menjadi ibu penuh perhatian. Kedua, Charpentier yang seakan terjebak dalam memori masa lalu sebelum dan sesudah tragedi nyatanya dapat menyadari keadaan yang sesungguhnya. Lihat bagaimana sebuah kacamata mengubah visinya 180 derajat. Ketiga, Nelisse yang lebih mirip sebagai hewan liar itu benar-benar terlihat polos. Momen saat ia berontak dalam pelukan Annabel cukup menyentuh bagi saya.

Mama memulainya dengan begitu sempurna lewat potongan-potongan gambar dan cerita yang belum tersusun rapi. Namun memasuki paruh kedua dimana puzzle sudah mulai terbentuk nyata, horor ini terasa sedikit kehilangan gregetnya. Ending yang agak overlong demi mengejar aspek ketakutan dan keharuan sekaligus malah menurunkan mood saya. Meski demikian, kualitas keseluruhannya masih di atas film-film bergenre sejenis yang beredar beberapa tahun terakhir. Setidaknya Mama memiliki hati daripada sekadar menebar teror yang membuat anda memekik.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$68.273.535 till Feb 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 24 Januari 2013

TIGA SEKAWAN : IIHH.. HANTU..!!! Persahabatan dan Eksplorasi Mahkluk Gaib

Quote:
Zee: Kita harus baca doa dulu, Jo. Supaya hantunya takut..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Global Pictures ini tidak mengadakan press screening ataupun gala premiere.

Cast:
Rizky Black
sebagai Zee
Stefhani Zamora Husen sebagai Flo
Dandy Rainaldy sebagai Jo
Dede Yusuf Effendi
Rizky Hanggono
Virnie Ismail
Tike Priatna Kusumah

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Ivan Alvameiz.

W For Words:
Tanpa gaung, tanpa iklan, tanpa promo, film anak-anak yang satu ini melenggang ke bioskop seluruh Nusantara. Sebegitu percaya dirikah produser Ferry Noerdin Lawadue? Atau justru ketiadaan bujet untuk melakukan itu semua? Saya jadi ingat kasus Keumala tahun lalu yang tiba-tiba muncul di hari Kamis tanggal 1 Maret. Mungkin hanya Tuhan dan mereka yang tahu. Kita sebagai penonton pun dibebaskan untuk membuat keputusan, tahu atau tidak tahu. Dua opsi yang pada akhirnya berujung pada nonton atau tidak nonton? Silakan tentukan pilihan anda sekarang juga.

Zee, Flo dan Jo belajar di sebuah sekolah negeri yang sama. Ketiganya bersahabat karib meski memiliki karakter dan status sosial yang berbeda satu sama lain. Organisasi kepramukaan merencanakan camping ke desa Jatinangor. Zee yang ketakutan terus menerus dibujuk kedua temannya. Bukan apa-apa, orangtua sejak awal digambarkan menggunakan momok hantu agar anak-anak tidak membangkang. Berbagai cara dilakukan Flo dan Jo termasuk membuat riset mengenai hantu hutan demi meyakinkan Zee. Benarkah hantu itu ada?

Skrip yang ditulis oleh Ivan Alvameiz ini samasekali mengabaikan strukturalisme sastra yang baku. Nyaris tak ada garis lurus yang dapat ditarik sejak menit pertama hingga terakhir. Jikapun menurutnya ada, keseluruhan sekuens alur sangatlah mengganggu. Ivan yang juga duduk di kursi sutradara tampak terlalu sibuk menerjemahkan ide-idenya sendiri tanpa peduli apakah daya tangkap penonton sama dengannya. Alhasil durasi yang sekian menit kurang dari dua jam ini begitu menyiksa dengan segala tetek bengek yang mengaburkan mana plot utama, mana subplot tambahan.
 
Peran orangtua dalam memberi pengertian pada anak-anaknya terutama yang menyangkut hal-hal mendasar amat diperlukan. Pertama, menstruasi yang dialami Flo, papa mamanya malah malu daripada menjelaskan secara benar. Kedua, sifat klenik yang dimiliki Jo, papa mamanya malah terbirit-birit dibanding menerangkan secara rasional. Tunggu, ada yang aneh, dalam dua scene itu orangtua sama-sama diperankan Rizky Hanggono. Apakah Flo dan Jo kakak beradik? Atau mereka hanya dua sahabat yang tinggal serumah? Mohon koreksi jika ada pembaca yang kebetulan lebih cermat dalam menonton.

Peran sekolah dalam memberi pendidikan pada siswa-siswinya tidak digambarkan secara detail. Kepala pembina yang dimainkan oleh Dede Yusuf Effendi cuma berpesan pada Zee, Flo dan Jo. Selebihnya? Mereka bertualang sendiri. Apakah aturan melarang murid membawa ponsel masih berlaku di jaman sekarang hingga Flo bersusah payah menyembunyikan di ketiaknya? Benarkah Zee yang katanya miskin sampai terkesan tidak pernah memegang ponsel sekalipun? Mengingat kedua temannya, Flo dan Jo justru sibuk ‘berinteraksi’ dengan gadget yang jauh lebih modern.

Pada end credit title tertera, “Nantikan petualangan selanjutnya.” Sebuah optimisme yang pantas diacungi jempol. Terus terang saya tidak mengerti dimana letak istimewanya penggunaan judul dan subjudul Tiga Sekawan : Iihh Hantu. Satu alasan yang mungkin mendasari adalah konsistensi pembahasan hantu di dalam konten filmnya meski lebih dominan dalam ranah tak berpati. Mengajak untuk tidak takut atau justru semakin takut? Arti persahabatan yang menjadi misi di sini pun terbilang dangkal sehingga tak banyak pesan yang dapat diambil kecuali teman tak saling meninggalkan.

Durasi:
116 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Sumber Foto: KapanLagi.com

Jumat, 11 Januari 2013

CHERNOBYL DIARIES : Good Ingredients But Undercooked Horror


Quote: 
Paul: Have you heard of extreme tourism?

Nice-to-know: 

Ide film ini muncul pertama kali dalam benak Oren Peli saat melihat foto dalam blog milik seorang gadis yang bepergian ke Pripyat menggunakan motor [elenafilatova.com].

Cast: 
Jesse McCartney sebagai Chris
Nathan Phillips sebagai Michael
Jonathan Sadowski sebagai Paul
Ingrid Bolsø Berdal sebagai Zoe
Dimitri Diatchenko sebagai Uri
Olivia Dudley sebagai Natalie
Devin Kelley sebagai Amanda


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Brad Parker yang sebelum ini berkutat di bidang efek visual termasuk dalam Let Me In (2010).

W For Words: 
Tak peduli seberapa lama 21 Cineplex menunda perilisan film ini setelah berminggu-minggu midnite show, saya tetap penasaran untuk menyaksikan di bioskop bersama seorang teman yang juga sangat menantikannya. Pasalnya, tragedi pembangkit tenaga nuklir Chernobyl di Ukraina yang terjadi pada tanggal 26 April 1986 merupakan satu peristiwa memilukan dalam sejarah. Apalagi ditambah nama Oren Peli sebagai empunya cerita sekaligus menjadi peringatan 25 tahun insiden tersebut. Ya siapa yang tidak mengenal sosok pencetus Paranormal Activity (2007) itu?

Remaja Amerika bernama Chris mengajak pacarnya Natalie dan teman mereka Amanda melancong ke Eropa sekaligus berjumpa kakak Chris yaitu Paul yang tinggal di Kiev, Ukraina. Liburan yang awalnya direncanakan Chris romantis dengan tujuan melamar Natalie itu berubah tatkala Paul nekad menyewa pemandu Uri untuk menelusuri Pripyat, kota mati dekat Chernobyl yang sudah lama ditinggalkan karena tingginya tingkat radiasi. Mereka bersama pasangan Viking, Zoe dan Michael harus mencari jalan keluar setelah van mogok dan makhluk-makhluk lapar keluar dari persembunyiannya.

Selain Peli, dua bersaudara Van Dyke yaitu Carey dan Shane juga turut menulis skripnya. Saya harus akui pencampuran ide antara horor tradisional dan found footage bukanlah keputusan terbaik. Film seakan kehilangan identitasnya. Paruh pertama yang menitikberatkan pada pengenalan berbagai karakternya sebetulnya sudah cukup baik membangun simpati penonton. Namun paruh kedua yang membuka tabir kota mati Pripyat dengan segala ketidakjelasan “momok” nya tanpa harus saya sebutkan satu persatu ternyata mengusik logika yang tidak pernah terjawab.

Sesungguhnya sutradara Parker sudah memiliki “arena bermain” yang mengasyikkan untuk mengeksploitasi segala bentuk teror. It’s creepy to imagine yourself being in the abandoned town, right? Sayangnya ia lebih memilih koridor gelap dan ruang bawah tanah dengan metode shaky cam yang semakin mengaburkan unsur naratifnya. Tempo yang merayap lambat tanpa kejutan berarti bisa jadi membosankan apalagi ditambah dengan spontanitas reaksi para tokohnya yang menjengkelkan karena kian mendekati bahaya daripada menjauhinya.

Chernobyl Diaries pada akhirnya seperti premis potensial yang melempem menjadi ide setengah matang sebelum dimasak ke dalam horor tanggung. Elemen-elemen seram nya masih terlampau klise dan sudah sering anda temui di film-film sejenis. Selepas credit title bergulir, filmmakers seakan berhutang pada penonton yang teramat berhak mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi selama satu setengah jam terakhir. Gambaran Chernobyl asli yang penuh misteri rasanya akan lebih mengundang daya tarik. Atau anda ingin membuat dokumenter sendiri di dalamnya? That would be more fun to do rather than watch. 

Durasi: 
86 menit

U.S. Box Office: 
$18,112,929 till July 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 03 Januari 2013

DEAD MINE : Promising Premise With Disappointing End


Tagline:
Misteri Di Balik Harta Terkubur.

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh HBO Asia dan Infinite Frameworks Studio ini gala premierenya diselenggarakan di Plaza Senayan XXI pada tanggal 13 Desember 2012 yang lalu.

Cast: 
Joe Taslim sebagai Djoko
Sam Hazeldine sebagai Stanley
Miki Mizuno sebagai Rie
Les Loveday sebagai Pryce
James Taenaka sebagai Ryuichi
Mike Lewis sebagai Ario
Ario Bayu sebagai Kapten Tino Prawa
Carmen Soo sebagai Su Ling
Bang Tigor sebagai Sersan Papa Ular


Director: 
Merupakan feature film kedua bagi Steven Sheil setelah Mum & Dad (2008).

W For Words: 
Sekelompok tentara bayaran bernama Tim Lima dikepalai oleh Kapten Tino Prawa diminta seorang milyuner, Pryce dan kekasihnya, Su Ling untuk mencari harta karun Yamashita di pedalaman Sulawesi. Turut ikut adalah teknisi Stanley dan peneliti Rie yang membantu membuka jalan. Kala terdesak oleh serangan bajak laut, mereka terperangkap di dalam sebuah bunker militer tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Semakin dalam masuk, rahasia semakin terkuak dimana ada makhluk lain yang mendiami tempat itu dan mengincar nyawa manusia.
ON’s: 
- Aktris Jepang, Miki Mizuno sebagai Rie adalah heroine yang meyakinkan disini. Karakternya penuh keingintahuan, rasional dan memiliki skill yang baik.
- Joe Taslim dan Ario Bayu merupakan dua aktor laga kebanggaan Indonesia dengan kelebihan fisik. Mereka samasekali tidak mengecewakan. Fight till the end!
- Penata artistik, Ian Bailie berhasil menyajikan production value yang memikat. Setting lokasi yang meyakinkan, lengkap dengan aksesoris pendukungnya sesuai kebutuhan cerita.
- Penata rias, Adi Wahono dan penata busana, Carol Luchetta menunjukkan kinerja maksimal dalam mendandani para tokoh dan menghidupkan tiap zombie dalam film.
- Departemen penata suara dan musik sukses menghadirkan suasana mencekam yang diperlukan untuk mempertahankan intensitas action horror ini.
OFF’s: 
- Skrip Steven Sheil dan Ziad Semaan ini sebetulnya menjanjikan. Sayangnya klise, tidak fokus dalam bercerita dan penuh irrasionalitas aksi reaksi yang patut dipertanyakan.
- Banyaknya tokoh dengan latar belakang ras yang berbeda-beda tidak didukung oleh karakteristik yang kuat.
- Momok yang awalnya berupa tentara Jepang yang terinfeksi serum dan terkubur di dalam tambang tua tiba-tiba berganti menjadi prajurit Terracota yang berseragam lengkap. WTF?
- Tempo yang lambat di paruh pertama sangat mungkin membuat penonton bosan hingga tertidur.
- Ending yang tanpa konklusi dari sekian subplot yang sudah berjalan amatlah mengganggu. Please refund our tickets!

Durasi: 
91 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 14 Desember 2012

SILENT HILL : REVELATION Satisfy Original Fans Underdeveloped Storyline


Quote:
Heather Mason: Go to hell!
Alessa: Can't you see? We're already here.  


Nice-to-know: 

Produksi sempat ditunda karena badai salju yang ganas di Cambridge, Ontario pada tanggal 23 Maret 2011 yang lalu.

Cast: 
Adelaide Clemens sebagai Heather / Alessa
Kit Harington sebagai Vincent
Carrie-Anne Moss sebagai Claudia Wolf
Sean Bean sebagai Harry
Radha Mitchell sebagai Rose Da Silva
Malcolm McDowell sebagai Leonard
Martin Donovan sebagai Douglas


Director: 
Merupakan karya keempat bagi Michael J. Bassett setelah terakhir Solomon Kane (2009).

W For Words: 
Silent Hill merupakan seri game horor survival yang dikeluarkan oleh KONAMI dan dibuat pertama kali bagi Sony Playstation. Lantas pada tahun 2006, Silent Hill DCP Inc., Davis-Films dan Konami Corporation memproduksi versi adaptasi film layar lebar yang akhirnya sukses meraup setengah dari biaya produksi di Amerika Serikat saja sekaligus beberapa kali lipat di pasaran internasional. Rupanya hal tersebut akan tercium sehingga tiga perusahaan tersebut di atas diikuti dengan Anibrain Digital Technologies mempersiapkan sekuelnya tahun ini dalam format 3D pula. Wow!

Heather Mason mulai kelelahan menjalani hidup nomaden bersama ayahnya yang kerap dikuti sosok misterius berbahaya. Saat ulang tahun ke-18, Heather dibelikan rompi persis seperti dalam mimpi buruknya. Tak lama kemudian, ayahnya menghilang secara misterius. Heather dibantu oleh siswa baru pindahan lain di sekolahnya, Vincent mulai melarikan diri dari kekuatan jahat yang bisa mengaburkan batas antara kenyataan dan mimpi. Tujuan iblis itu cuma satu yaitu mengembalikan Heather ke Silent Hill yang telah menawan ayah dan ibunya serta menyempurnakan kekuatan ratu horor Alessa. 
 
Sutradara J. Bassett jelas menanggung beban berat dimana semua film adaptasi video game beberapa tahun terakhir tidak memiliki kualitas memadai, apalagi mendapat sambutan hangat dari publik. Skrip yang juga ditulisnya berupaya menggabungkan apa yang tertinggal dari prekuelnya dengan benang merah video game itu sendiri. Ia cenderung berhasil karena penonton yang sudah/belum menyaksikan prekuel atau memainkan game tidak akan tersesat dalam cerita. Sayangnya plot cerita yang bertumpuk disertai dengan percakapan dramatis terasa mengganggu kenyamanan mengikutinya.

Sisi plusnya adalah monster-monster menyeramkan yang muncul bertubi-tubi mampu mempertahankan nuansa Silent Hill yang dingin dan misterius termasuk laba-laba raksasa yang memiliki berbagai “wajah”. Varian setting lokasi berhasil menyuguhkan atmosfir yang diinginkan walau tak jarang malah terkesan campy. Adegan gore yang anda harapkan justru tak banyak terlihat disini karena sutradara kerap lebih memilih “off-screen” untuk memperlihatkan cipratan darah. Salah satu adegan paling memorable bagi saya adalah sekuens “Dark Nurse” yang unik itu. Hey, kita sendiri juga punya versi suster ngesot!
 
Aktris Australia, Adelaide Clemens besar kemungkinan mengingatkan anda pada Michelle Williams di awal kemunculannya. Peran Heather di tangannya berhasil dimaksimalkan dengan rasa takut dan penasaran yang berbaur sempurna. Aktor Inggris, Kit Harington telah mencoba kemampuan terbaiknya tapi tanpa latar belakang karakter yang jelas dan aksi reaksi yang terlalu instan, penonton akan sulit terkoneksi pada peran Vincent. Aktor aktris yang sudah memiliki nama seperti Bean, Mitchell, Donovan, Moss dan McDowell nyaris tidak memberi dampak apa-apa.

Silent Hill : Revelation layaknya sebuah perjalanan menembus batas mimpi dan kenyataan mempunyai tempo yang naik turun. Narasinya tergolong klise dan berantakan, tidak mendukung kekuatan premis cerita yang amat bergantung pada momentum. Kombinasi mitos dan horor juga tidak sampai melahirkan sebuah inovasi dan twist baru yang membuat anda terpekik. Harus diakui format 3D nya cukup memuaskan konsep visual yang diusung dengan kedalaman gambar dan ayunan senjata tajam. Franchise ini memang lebih direkomendasikan bagi pecinta game nya yang mungkin akan tetap setia menantikan sekuelnya kelak.

Durasi: 
94 menit 

U.S. Box Office:

$44,386,847 till Dec 2012 

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 13 Desember 2012

PEREMPUAN DI RUMAH ANGKER : Cinta SMU Berbuntut Teror dan Kematian


Quote: 
Erwin: Sopan itu sama orangtua, kalo sama setan itu takut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast: 
Keith Foo sebagai Erwin
Kartika Putri sebagai Karina
Joe Richard sebagai
Hardi Fadhillah sebagai Bule
Tya Restyana

Director: 
Merupakan film ketiga bagi Findo Purwono HW di tahun 2012 setelah terakhir Hantu Budeg beberapa minggu lalu.

W For Words:
Menilik judul film ini, anda lantas bisa menarik satu kesimpulan: Miskin kreatifitas! Bisa kita telaah kata per kata satu persatu. Perempuan, asumsikan dia hantu alias kuntilanak. Rumah, tempat tinggal yang mungkin menyimpan misteri. Angker, suasana menyeramkan yang mendirikan bulu kuduk. Apakah ketiga pernyataan tersebut sudah cukup membuat anda menerka isi cerita? Ya! Sayangnya penulis skrip Tb Ule Sulaeman yang biasanya “mendukung” Nayato ini terlalu malas untuk menggunakan nalar sehingga yang terjadi adalah tambal sulam ide yang jatuh tak jauh dari pohon kebodohan.

Erwin yang tengah berkencan dengan kekasihnya Karina tiba-tiba ditelpon perempuan misterius yang mengaku teman dekatnya semasa SMU dulu. Hal ini memicu kecemburuan Karina yang segera meminta putus. Erwin yang bingung juga mendapat SMS ancaman bahwa Karina akan dibunuh jika ia tidak datang ke sebuah rumah yang ditunjuk. Sahabat Erwin, Bule juga kerap diganggu oleh pocong dan kuntilanak yang sama. Erwin pun nekad menemui kepala sekolahnya dulu untuk mencari informasi mengenai perempuan yang disinyalir bernama Murni itu. Misteri apa yang tersembunyi di baliknya?

Keith Foo rupanya belum bosan bermain dalam film-film sejenis. Entah apa yang ingin dibuktikannya. Karakter Erwin sejak awal sudah tidak meyakinkan untuk menuai simpati penonton. Pertanyaan yang mengganggu adalah bagaimana ia sempat potong rambut di sela-sela syuting sehingga terdapat perbedaan gaya rambut yang cukup mencolok di bagian pembuka dan penutup film. Casting director nya pun terlampau malas mencari sosok Erwin di masa SMU sehingga Keith diberikan topi yang dipakai terbalik untuk menegaskan ke”remaja”annya. Meh!

Kartika Putri rupanya sibuk belajar gangnam style dengan iringan lagu Iwak Peyek. Tak tanggung-tanggung, ia melakukannya di toilet! Tidak lupa dada yang membusung masih menjadi andalan utamanya hingga tetap memamerkannya di kampus dan rumah sakit sekalipun. Oh well! Interaksi Hardi dengan pocong dan kuntilanak sesungguhnya memiliki esensi humor tersendiri tapi jika dilakukan terlalu frekuentif? Hm. Joe Richard cuma muncul selayang pandang tanpa kesan berarti. Sama halnya dengan tokoh Murni dan Endang yang sibuk bertengkar layaknya dalam sinetron remaja televisi swasta. WTF!

Sutradara Findo yang tampaknya mulai menjelma sebagai andalan baru Mitra Pictures dan BIC Productions ini memilih kecelakaan mobil dengan cara yang paling sederhana, menabrak pohon! Bukan hanya sekali tapi dua kali. Sesungguhnya saya tidak kasihan pada Keith atau Kartika tetapi pada pemeran pocong dan kuntilanak yang terjatuh dari motor akibat boncengan Bule. Semoga mereka tidak cedera dan menemui ajal untuk kedua kalinya. Lho emang bisa? Bisa dong! Arwah perempuan saja bisa main BB, berkomunasi via telepon serta menunggu jodohnya dunia dan akhirat.

Perempuan Di Rumah Angker memang proyek kebutan yang bertujuan mengeruk keuntungan (diharapkan) dalam waktu singkat dengan cara yang mudah. Sayang apresiasi penonton dikorbankan begitu saja dengan serentetan adegan absurd yang membuat bola mata anda berputar 360 derajat. Logika cerita yang berantakan dipaksa menebar twist disana-sini tapi semuanya gagal total dalam menghadirkan unsur kejutan apapun juga. Arwah laki-laki dan perempuan bisa bersama pada akhirnya. Happy ending? Jelas! Horor komedi yang satu ini amat patut mendapatkan standing ovation!


Durasi: 

81 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 30 November 2012

THE POSSESSION : Speedless Exorcism With Thin Connections


Tagline:
Fear The Demon That Doesn't Fear God.

Nice-to-know: 

Awalnya MPAA memberikan rating Dewasa untuk kekerasan, terror dan gambar yang mengganggu sebelum akhirnya diubah menjadi Remaja.

Cast: 

Jeffrey Dean Morgan sebagai Clyde
Natasha Calis sebagai Em
Kyra Sedgwick sebagai Stephanie
Jay Brazeau sebagai Professor McMannis
Madison Davenport sebagai Hannah
Matisyahu sebagai Tzadok
Grant Show sebagai Brett


Director: 
Merupakan film ketujuh bagi Ole Bornedal yang mulai dikenal luas sejak Nightwatch (1997) yang merupakan remake Nattevagten (1994).

W For Words: 
Nyaris setengah abad sudah sejak kemunculan pertama kali “leluhur” film-film kesurupan dalam titel The Exorcist (1973) yang melejitkan nama Ellen Burstyn, Max von Sydow dan Linda Blair pada masanya. Film produksi Ghost House Pictures dan North Box Productions ini memang tidak sepenuhnya berjalan pada template yang sama meski terjadi kemiripan disana-sini. Ilham utamanya berasal dari artikel “Jinx in a Box” milik Leslie Gornstein yang kemudian digubah dalam bentuk skrip oleh Juliet Snowden dan Stiles White. Penasaran? Saya iya, apalagi desain posternya yang unik itu.

Pasutri Brenek yaitu Clyde dan Stephanie sepakat bercerai. Kedua putrinya  yaitu Hannah dan Em ikut ibu mereka dan sesekali meluangkan waktu bersama ayah di akhir pekan. Saat mengunjungi cuci gudang tetangga, Em memilih sebuah kotak misterius dengan tulisan Hebrew. Usaha keras untuk membuka ternyata tidak dibarengi dengan hasil, tidak ada yang berarti di dalamnya. Lambat laun perilaku Em mulai berubah ganjil mengarah kekerasan. Awalnya Clyde mengira hal tersebut karena perpisahan orangtua tapi ada sesuatu lebih gelap dari itu dimana cuma Rabbi Tzadok yang dapat menjawabnya.

Campur tangan produser Sam Raimi yang juga spesialis horor masih terasa meskipun tampuk sutradara ada pada Bornedal. Paruh pertama film terus terang lebih menakutkan bagi saya, kengerian yang merambat perlahan dengan scoring music minim sambil sesekali dikejutkan dengan sound effect. Belum lagi serbuan ribuan serangga misterius sejenis kupu-kupu di kamar tidur Em yang juga temaram bermandikan sinar bulan yang masuk dari jendela. Paruh kedua memang menawarkan tempo lebih cepat tapi tidak dibarengi oleh rasionalitas yang diharapkan terutama pada proses pengusiran roh itu sendiri.

Banyak sekali pertanyaan tak terjawab. SPOILER ALERT! Pertama, tetangga Clyde dalam perban yang tampak ketakutan melihat Em memegang kotak itu. Kedua, Brett yang kehilangan giginya tatkala mendekati Em. Ketiga, guru Em yang menemui ajalnya karena menahan kotak. Keempat, roh Abyzou yang sempat terlihat pada scan MRI tidak menimbulkan reaksi apa-apa dari dokter atau suster. Kelima, tangan Clyde yang ditusuk garpu tidak memberikan indikasi apapun pada adegan berikut. Terakhir, kegaduhan di lantai 6 rumah sakit saat exorcism berlangsung tidak mengundang perhatian samasekali.

Dean Morgan menyuguhkan penampilan terbaiknya di sini. Lakon Clyde mampu mengundang simpati sebagai suami yang masih menghargai istri sekaligus ayah yang menyayangi anaknya. Sayang, isu child abuse yang dituduhkan mantan istrinya tidak tereksploitasi dengan baik. Sama halnya dengan karakter yang dimainkan Sedwick dan Davenport yang timbul tenggelam. Upaya Calis pantas diapresiasi. Transformasinya dari bocah perempuan manis dan santun menjadi anak iblis yang menyeramkan. Tak lupa rasa takut dan kebingungannya menjadi transisi yang cukup believable.

The Possession dikatakan sebagai terinspirasi dari kisah nyata dengan sedikit latar belakang Yahudi yang tak cukup kuat menyokong faktualnya. Kelemahan yang paling kentara adalah berbagai subplot yang digulirkan memberi koneksi tipis terhadap plot utamanya kalau tidak mau disebut tempelan belaka. Setidaknya kombinasi drama keluarga dan horor kerasukan ini masih menyimpan genuine creepy moments yang predictable, terlebih bagi anda yang memilii banyak referensi film-film sejenis tetapi masih senang mendapatkan pengalaman serupa.

Durasi: 
92 menit 

U.S. Box Office: 

$49,122,319 till Nov 2012 

Overall: 

7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent