XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label komedi romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komedi romantis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2018

BROTHER OF THE YEAR : Her Worst Enemy That Never Leaves

Original title:
Nong, Pee, Teerak

Quote:
Jane: Kau tak punya hak menghentikan aku menikah.
Chut: Kenapa tidak? Aku cuma takkan mengizinkanmu.


Nice-to-know:
Dalam film, Sunny dan Yaya memainkan karakter kelahiran Thai-French sedangkan Nichkhun Thai-Japanese. Aslinya Sunny adalah Thai-Singaporean-French, Yaya adalah Thai-Norwegian dan Nichkhun adalah American-born Thai-Chinese.

Cast:
Sunny Suwanmethanont sebagai Chut
Urassaya Sperbund sebagai Jane
Nichkhun sebagai Moji 
Anchuleeon Buagaew sebagai Ibu
Chanchalerm Manasaporn

Director:
Merupakan film keempat bagi Witthaya Thongyooyong setelah The Little Comedian (2015).

W For Words:
Selayaknya orangtua, kita tidak pernah bisa memilih siapa saudara kandung kita, tentunya anak tunggal adalah pengecualian. Anak perempuan ataupun laki-laki tentu saja sama di mata mereka yang melahirkan dan membesarkannya. Namun apakah di mata satu sama lain, mereka punya hak dan kewajiban yang sama untuk dapat saling mengisi? GDH yang dikenal sebagai pioneer dalam industri perfilman Thailand kali ini punya kisah menarik mengenai siblings, yang lagi-lagi dikemas dalam genre komedi romantik dengan cara yang unik.

Chut adalah perjaka ting-ting yang berkarir di bidang periklanan, yang memiliki kekasih Muay yang nyaris tak dianggapnya, yang kerap mabuk dan one night stand dengan wanita yang tak perlu diketahui namanya. Kebiasaan hidupnya berubah saat adiknya Jane pulang dari studinya di Jepang, yang dari segala sisi merupakan kebalikan 180 derajat dari sang abang. Bukan terpacu untuk berbenah diri, Chut malah berusaha menjatuhkan Jane yang segera meniti karir dan berencana menikah dengan kekasih Jepang yang baru dikenalnya, Moji.

Sejak awal kwartet Nontra Kumwong, Tossaphon Riantong, Witthaya Thongyooyong dan Adisorn Trisirikasem tidak membuang waktu untuk mengenalkan para tokohnya, melainkan langsung masuk ke dalam konflik yang kemudian membuka karakter mereka selapis demi selapis lewat presentasi situasi terkini dan juga cuplikan masa lalu. Stigma kakak yang wajib beri contoh kepada adik, atau adik yang harus nurut kepada kakaknya juga dihadirkan di sini. Keberpihakan yang dibangun dari pencapaian hasil sang kakak atau adik itu sendiri, memang tak jarang menimbulkan kompetisi di antara keduanya.

Thongyooyong yang juga duduk di bangku pengisah mampu memadukan gaya hidup bebas masyarakat Thailand dengan kultur moral masyarakat Jepang di jaman modern ini. Coba simak perilaku ibu, ‘bibi’, teman-teman kantor Chut dan bos, calon ibu mertua Jane yang cukup kontras. First act nya yang banyak diisi oleh adegan slapstick dijamin membuat anda terpingkal-pingkal. Sedangkan third act nya yang dramatis niscaya membuat anda menitikkan air mata. Perubahan tone yang signifikan tersebut mampu dijembatani dengan smooth melalui konflik personal Jane dan Chut yang turut berkembang.

Urassaya Sperbund alias Yaya adalah nama baru di dunia layar lebar tetapi kemampuannya memainkan rentang emosi mulai dari marah, kesal, bahagia hingga sedih patut diacungi jempol. Jane dengan cepat akan menarik simpati anda. Sebaliknya Chut yang menyebalkan diperankan dengan apik oleh Sunny yang tampaknya sudah tak asing dengan peran cowok slengean. Terlepas dari peran tipikal cowok baik-baik nan sempurna dan screentime yang terbatas, Nickhun tetap berhasil memberikan sensitifitas pria Jepang yang bertanggungjawab pada diri dan keluarganya ke dalam karakter Moji.

Sesungguhnya Brother Of The Year memiliki isu yang kompleks, yang patut dikaji dari berbagai sisi untuk mendapatkan sebuah obyektifitas yang sempurna. Namun Thongyooyong memilih cara-cara yang klise, yang dibangun melalui momentum pernikahan, untuk meluluhkan kesalahpahamanan di antara keduanya. Secara tontonan terbilang berhasil. Secara kehidupan nyata mungkin anda punya pengalaman sendiri. The point is, this movie served as a sweet reminder that “Brothers and sisters are as close as hands and feet. A friend, might also be an enemy that never leaves.”

Durasi:
124 menit

Asian Box Office:
$66.76 millio
n till Jun 2018 in Thailand

Movie-meter:

Jumat, 08 Maret 2013

CRAZY CRYING LADY : Inexplicably Crazy You May Cry


Quotes: 
“Heartbreaks for a day, Remember it for the rest of one's life”

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh M-Thirtynine Pictures ini telah edar di Thailand pada tanggal 27 Desember 2012 yang lalu.

Cast:
Araya A. Hargate
sebagai Ho
Akom Preedakul sebagai Kom Chaunchuen
Jaroenporn Ornlamai sebagai Nava/Nana
Teeradate Methavorrayuth sebagai Doc
Ray MacDonald sebagai Boyd

Director:
Merupakan f
ilm ketujuh bagi Rerkchai Paungpetch setelah terakhir Valentine Sweety (2012).

W For Words:
Mayoritas film Thailand yang beredar di bioskop Indonesia (sebagian besar lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex) tidak pernah mengecewakan saya. Selama ini yang dianggap agak lemah adalah Lulla Man (2011) dan Teenage Love (2012). Nyatanya dua judul tersebut belum mampu menandingi kekurangan film yang berjudul asli Khun Nai Ho ini  Padahal Araya merupakan artis cantik bintang Lux di sana yang ketenarannya tak perlu diragukan lagi. Malangnya ia harus terbiasa mengenakan wig di sepanjang film untuk terlihat lucu? Well, i don’t think it works at all.

Sejak kecil impian Ho sederhana, ia ingin mempunyai bayi sebelum mengetahui ibu dan kakak perempuannya tewas dalam kecelakaan mobil. 20 tahun kemudian, Ho masih tinggal bersama ayahnya Kapten Burapha yang terobsesi kembali ke medan pertempuran dan adik lelakinya Nava yang lebih senang berdandan seperti perempuan. Tiba pada satu ketika dimana rahim Ho akan segera berhenti berfungsi menurut diagnosa dokter Doc yang juga teman kecilnya. Ia lantas bertekad mengandung sesegera mungkin dengan bantuan kekasihnya Boyd.

Paras Araya memang cantik dan kemampuannya untuk terus menangis dalam puluhan ekspresi dari awal sampai akhir pantas diacungi jempol. Namun tokoh Ho tetap belum mampu mendapatkan simpati dari penonton meski nasibnya digambarkan malang sedari kecil. Kesedihan yang bertubi-tubi dialaminya malah terasa berlebihan hingga pada satu titik saya nyaris berteriak “CUKUP!”. Sosoknya juga tidak diperlihatkan bekerja atau setidaknya melakukan sesuatu yang berguna selain mengejar cinta lelaki demi desperasi pembuahan rahim? Oh my Godness!

Di luar Ho, tokoh-tokoh dalam film ini tak kalah mengganggunya. Akom terlihat menggelikan sebagai ayah irrasional karena statusnya sebagai pensiunan militer yang pernah kehilangan rekannya sendiri. Jaroenporn terlihat mengerikan sebagai Nava lengkap dengan implan dada palsu dan kostum semi baletnya yang merusak mata tersebut. Lelucon ala gay/transeksual berulang kali disuguhkan tanpa batasan yang jelas. Satu-satunya yang agak menghibur dari keduanya adalah kemampuan menyamar Kom dan keahlian presentasi Nana dalam video Youtube nya.

Desain produksi memang dibuat memanjakan mata lewat tampilan kostum warna-warni demi memberi penekanan pada penonton bahwa ini adalah komedi slapstick. Sayangnya kinerja sutradara Paungpetch malah kian mengesankan serial televisi dari babak ke babak. Apalagi setting lokasi dalam kota yang demikian terbatas sehingga terbilang gagal menyajikan value yang berarti. Sound efek dari keyboard elektronik semakin memperparah keadaan. Alih-alih lucu memancing tawa, saya malah menganggapnya norak. Nyaris tak ada dialog yang memorable untuk memperkuat konflik yang ada.

Crazy Crying Lady adalah sebuah siksaan dua jam bagi siapapun yang menyaksikannya. Apabila tiap karakter dalam sebuah film gagal menjalin koneksi dengan penonton maka tidak ada lagi yang tersisa. Anda selalu memiliki opsi untuk walkout jika demikian adanya. Mereka semua tidak terkesan ‘manusia’, tidak lucu, juga tidak romantis. Semua plot yang tercerai berai sejak menit awal pada akhirnya berupaya diikat dengan tidak rapi di penghujung kisah. Terlambat sudah! I didn’t get any point in the end. Maybe Thai audiences have different opinions for some inexplicable reasons.

Durasi:
11
5 menit

Asian Box Office:
80,000,000 baht till Feb 2013 in Thailand

Overall:
No rating

Minggu, 03 Maret 2013

SILVER LININGS PLAYBOOK : Unlikeliest Romantic Comedy Bipolar Life


Quotes:
Tiffany: You know, for a while, I thought you were the best thing that ever happened to me. But now I'm starting to think you're the worst.
Pat: Of course you do. Come on, let's go dance.


Nice-to-know:
5 nominasi utama yaitu Best Picture, Best Actor, Best Actress, Best Director, Best Writing dari 8 nominasi Academy Award yang diterimanya, film ini menyusul langkah Reds (1981) dan Million Dollar Baby (2004).

Cast:
Bradley Cooper sebagai Pat
Jennifer Lawrence sebagai Tiffany
Robert De Niro sebagai Pat Sr.
Jacki Weaver sebagai Dolores
Chris Tucker sebagai Danny
Anupam Kher sebagai Dr. Cliff Patel

Director:
Merupakan feature film keenam bagi David O. Russell setelah terakhir The Fighter (2010) yang juga menominasikan dirinya sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang Academy Awards 2011.

W For Words:
Nyaris semua orang pernah mengalami kehilangan seseorang yang mereka cintai, entah karena kematian atau segala bentuk perpisahan yang dilandasi oleh rasa ketidakcocokan. Proses move-on kemudian menjadi tahapan terberat untuk menata hidup kembali. Premis itulah yang diangkat dalam novel berjudul sama karangan Matthew Quick yang kemudian dibeli hak adaptasi layar lebarnya oleh The Weinstein company. Awalnya sempat dikabarkan akan diproduseri oleh Sydney Pollack dan Anthony Minghella dimana keduanya meninggal sebelum tahun 2008.

Sekeluarnya dari institusi kejiwaan akibat memukuli selingkuhan istrinya Nikki, Pat Solatano Jr. kembali ke rumah orangtuanya Pat Sr. dan Dolores di Philladelphia. Dr. Cliff Patel yang menangani Pat Jr. mengindikasikan adanya gangguan bipolar dan mengharuskannya menjalani sesi perawatan. Awalnya Pat Jr. yang juga mantan guru itu terobsesi untuk rujuk dengan berbagai cara hingga ia berjumpa Tiffany yang juga pernah dirawat karena gangguan psikologis. Keduanya lantas sepakat saling membantu setelah melalui serangkaian perjanjian unik demi rekonsiliasi.

Kekuatan skrip ini jelas ada pada rangkaian dialog tajam dari dua protagonisnya pengidap bipolar yang kerap menyebabkan perubahan mood secara mendadak, lari dari kenyataan, kesulitan belajar dari kesalahan masa lalu dsb. Keadaan tersebut kian diperburuk oleh pemutusan hubungan, kehilangan pekerjaan, keluarga disfungsi sampai merasa tak diterima oleh lingkungan sekitar. Kompleksitas yang sesungguhnya sangat mungkin terjadi di kehidupan kita sehari-hari tapi jarang yang mau mengakuinya. Pat and Tiff could be anyone of us. Only its’ scale makes the difference betwe
en sane and insane.

Sutradara O’Russell yang sudah lekat dengan bentuk kehidupan nyata seorang bipolar dari putranya Matthew tampak tidak berupaya mendramatisir keadaan yang memang sudah dramatis dari ‘sono’ nya. Bagaimana moment-to-moment scenes yang dari awal sampai akhir didominasi oleh Cooper-Lawrence dieksekusi secara brilian. Setting Philadelphia yang mengedepankan keluarga Amerika modern kelas menengah ini sesungguhnya memiliki pakem baku sebuah komedi romantic meski sesekali menyasar pada konsep satir dalam porsi yang minor.

Kemenangan Lawrence di ajang Oscar menyisihkan empat nominee lain yang jauh lebih senior memang mengejutkan. Namun melihat performanya dalam mengimbangi lawan main yang berusia 15 tahun lebih tua pantas diacungi jempol. Karakternya kompleks dan unpredictable dalam sosok Tiff yang cantik sekaligus rapuh. Akting Cooper juga tak kalah spektakuler dalam menerjemahkan karakter delusional Pat Jr. yang menyedihkan (atau justru mengganggu) tanpa harus kehilangan pesonanya. Jangan kecilkan sumbangsih DeNiro, Weaver, Tucker, Kher yang begitu besar sebagai supporting casts, terlebih melihat ‘polah tingkah’ superstitious Pat Sr. kita bisa tahu mengapa putranya demikian.


Silver Linings Playbook tetaplah sebuah komedi romantis yang berasal dari dunia yang ‘berbeda’. Tak melulu mengeksploitasi pahit manis chemistry pria dan wanitanya, sahabat dan keluarga mereka dalam neighborhood yang sama pun dilibatkan secara serius. Ending cheesy nya memang tergolong klise tapi tetap tak akan menghalangi hadirnya senyum di wajah dan kehangatan di hati anda. Easily connect with us because we’ve all been very emotional through the struggling times. In the end, you might realize it’s the journey of life that matters. Do not ever lose any hope.

Durasi:
122 menit

U.S. Box Office:
$115.697.021 till Mar 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 20 November 2012

MY NAME IS LOVE : Sweet and Sour Cupid Love Stories


Quote: 
Que: Mengapa dewa cinta tidak memiliki keajaiban?
Uncle Tom: Sebab cinta sudah merupakan keajaiban itu sendiri?


Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh M Pictures dan Independent Film ini sudah rilis di Thailand pada tanggal 11 Oktober 2012 yang lalu. 

Cast: 

Arak Amornsupasiri sebagai Que
Thanyasupang Jirapreechanon sebagai Ger
Jas Chuanchuen sebagai Odd
Kom Chuanchuen sebagai Uncle Tom
Pongpicth Preechabarisuthkul sebagai Jo
Jiraprapha Marayart sebagai Mew


Director: 

Wasin Pokpon sebelumnya menangani A Crazy Little Thing Called Love (2010).

W For Words: 
Mencintai dan dicintai jelas merupakan hak semua orang di dunia tanpa kecuali. Namun sayangnya tidak semua dapat saling berbalas. Untuk itu mungkin dibutuhkan dewa cinta alias cupid untuk membantu. Kira-kira begitulah premis komedi romantis terbaru Thailand ini yang lahir dari tangan dingin Wasin Pokpon yang sebelumnya sukses luar biasa mengarahkan Mario Maurer dan Pimchanok Leuwisetpaiboon. Temanya mungkin familiar dengan judul-judul lawas (maafkan kemalasan saya berpikir) tetapi tentunya sudah disesuaikan dengan kekhasan budaya lokal yang ada.

Siswa populer Que dengan kejam menolak cinta siswi gemuk berkacamata tebal Ger. Roda nasib berputar, Ger tumbuh dewasa menjadi gadis cantik sedangkan Que menjadi pecundang yang bekerja pada Big yang sewaktu kecil sering dikerjainya. Meski demikian, Que tak pantang menyerah mengusir setiap pria yang berusaha mendekati Ger. Suatu ketika, situs MyNameIsLove.com mengubah Que menjadi cupid yang bertugas mempersatukan dua orang yang tengah kasmaran. Ia tak boleh mengatakan apapun mengenai hal itu sampai menunaikan misinya tepat waktu. 

Saya bersyukur bahwa elemen komedi dan drama berjalan seimbang di skrip ini. Sempilan adegan masa lalu mampu menjadi pondasi bercerita yang lumayan kuat dimana hukum karma seakan diberlakukan. Banyaknya karakter hilir mudik memang tidak mendapatkan cukup waktu untuk berkembang tapi mengingat ini adalah multi tugas cupid yang bukan hanya seorang tapi beberapa orang jelas hal itu bisa dimaklumi. Tak lupa bumbu humor slapstick yang tercetus dari dialog ataupun bahasa tubuh turut mengiringi dimana sebagian besar di antaranya berhasil mengundang tawa riuh.

Wasin sebagai sutradara belum kehilangan sentuhan magisnya dalam menyajikan romantika yang manis dan menyejukkan hati. Ujaran “Oh..” atau “Wow..” mungkin secara spontan akan meluncur dari bibir anda menyaksikan adegan-adegan unyu tak terduga. Durasi yang panjang memang agaknya berpengaruh terhadap tempo film. Beruntung hal tersebut dimanfaatkannya untuk bereksplorasi, merangkai plot dan subplot untuk dapat bersinergi dengan utuh dalam membangun konflik persuasif. Sederetan lokasi syuting yang variatif menjadikan feel nya dinamis.

Terus terang, saya tidak pernah suka Arak terlibat dalam komedi romantis. Namun kali ini ia sukses menampilkan sosok Que yang clueless, desperate tapi pantang menyerah sehingga anda akan tersenyum sekaligus terharu melihat perjuangannya menemukan arti hidup dan mengejar gadis impiannya. Thanyasupang pada dasarnya tidak melakukan apa-apa selain menokohkan Ger yang cantik, lembut nan berbakat. Paling mencuri perhatian adalah Jas dan Kom yang amat karikatural sebagai Odd dan Tom yang bertolakbelakang. Lain lagi dengan Pongpicth dan Jiraprapha sebagai pasangan on-off Jo dan Mew.

Keunggulan My Name Is Love ada pada timing sehingga kebetulan-kebetulannya terasa believable. Takaran rasa di tiap scene nya terbilang pas, tidak berlebihan. Unsur itulah yang membuat anda bisa memaafkan sebagian minus yang terkandung di dalamnya. Lagi-lagi sebuah suguhan fresh dari tema yang sebenarnya telah usang dari negeri gajah putih mengenai kiprah dewa cinta di muka bumi dan proses pencarian belahan hati itu sendiri. Film berjudul asli Kao Riak Pom Wa Kam Rak ini dapat dinikmati semua kalangan umur layaknya cinta yang bersifat universal dan selalu ada dalam diri kita masing-masing.

Durasi: 
129 menit 

Asian Box Office: 
$600,000 in Thailand till Nov 2012 

Overall: 

7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 23 Oktober 2012

STUDENT OF THE YEAR : Extravagant Competition For Love and Honor


Quotes: 
Ashok Nanda: You can either be rich, or a chamcha.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Dharma Productions dan Red Chillies Entertainment ini rilis di Indonesia bersamaan dengan India dan Amerika Serikat yaitu 19 Oktober 2012.   

Cast: 

Sidharth Malhotra sebagai Abhimanyu Singh
Varun Dhawan sebagai Rohan
Nanda
Alia Bhatt sebagai Shanaya Singhania
Sana Saeed sebagai Tanya
Asrani
Rishi Kapoor sebagai Dean Yoginder Vasisht

Ronit Roy sebagai Pelatih Karan Shah
Ram Kapoor sebagai Ashok Nanda
Manjot Singh sebagai Dimpy
Sahil Anand sebagai Jeet Khurana
Kayoze Irani sebagai Sodo

Boman Irani                       

Director: 
Merupakan film kelima bagi Karan Johar setelah My Name Is Khan (2010).

W For Words: 
Sekolah seringkali menjadi panggung bercerita yang asyik dalam sebuah film. Salah satu referensi berkualitas terdahulu adalah film lawas Mansoor Khan berjudul Jo Jeeta Wohi Sikandar (1992) yang dibintangi oleh Aamir Khan, Ayesha Jhulka dan Deepak Tijori. Kali ini Karan Johar, pria kelahiran Bombay 40 tahun lalu yang juga peraih beberapa penghargaan lokal dan internasional atas beberapa film-film sebelumnya berupaya “meremajakan” karyanya dengan menampilkan bintang-bintang muda di barisan terdepan dan memperkenalkan mereka sebagai MURID!

ST Teresa di Dehradun merupakan sekolah papan atas sekaligus pertemuan siswa-siswi kaya atau berprestasi. Kepala sekolahnya Yoginder Vasisht adalah gay yang jatuh cinta pada pelatih olahraga. Penyokong dananya seorang pebisnis kejam dimana putranya, Rohan Nanda bersekolah disana dengan segudang fasilitas mewah. Kekasih Rohan, Shanaya Singhania juga siswi populer. Kedatangan siswa baru dari luar negeri, Abhi yang penuh talenta membuat Rohan merasa tersaingi. Puncaknya terjadi pada saat kompetisi tahunan siswa terbaik yang menjadi penentuan segalanya. 

Skenario Rensil Dsilva memang tidak anyar. Dua lelaki yang saling bersaing untuk seorang gadis dan juga sebuah piala. Sub konflik lain adalah hubungan ayah dan anak yang tidak mulus hingga konsep frenemies diantara beberapa karakter utama pelajarnya mengingat standar tinggi yang sudah ditetapkan sejak awal di sekolah bergengsi yang tidak mengenal kata bodoh dan miskin tersebut. Dialog karangan Niranjan Iyengar juga sebetulnya tidak terlalu kreatif tapi cukup untuk menghadirkan drama klise, romansa tipikal sambil sesekali melontarkan humor praktis. 

Sutradara Johar lagi-lagi bersikap perfeksionis. Sinematografi Ayananka Bose yang megah, editing Deepa Bhatia yang memikat, musik Vishal-Shekhar yang dinamis lengkap dengan koreografi energik sudah menegaskan hal tersebut. Nomor soundtrack macam Vele, Ishq Wala Love, The Disco Song dengan mudah melekat di kepala anda. Tampilan ST Teresa yang luar biasa mulai dari aula, lorong, taman hingga kolam renang standar Olimpiade rasanya mampu mengundang murid manapun untuk bersekolah disini. Pendekatan flashback maju mundur reuni “tak terencana” yang mengambil rentang waktu sepuluh tahun sejak perayaan 25 tahun sekolah mengingatkan anda pada hal serupa dalam 3 Idiots (2009).

Indahkan pertanyaan-pertanyaan anda mengenai karakterisasi yang sangat textbook layaknya dalam pakem Glee atau High School Musical. Bagaimana Abhi yang awalnya masuk karena beasiswa mampu mengikuti gaya hidup jetset. Bagaimana Rohan hidup di bawah bayang-bayang ayahnya setelah meninggalkan rumah. Bagaimana Shanaya menentukan pilihan hati yang sebenarnya. Selain itu karakter siswi kutu buku, siswa gendut, siswi oportunis dan siswa tangan kanan juga menjelma dalam diri Dimpy, Sodo, Tanya dan Jeet yang stereotype hilir mudik di sela aksi ketiga tokoh utamanya tersebut.

Malhotra dan Dhawan mungkin terlihat lebih tua untuk peran siswa tapi keduanya jelas mampu menyajikan esensi rivalitas dan bromance yang menarik. Malhotra mungkin lebih mudah menarik simpati karena ada di posisi underdog selain ketulusan hatinya, Dhawan harus diakui lebih luwes dalam berdansa di samping keteguhan hatinya membuktikan diri, Bhatt cukup konsisten memerankan gadis innocent yang bergelimang harta di luar prestasi yang patut dipertanyakan. Scene stealer jatuh pada Kapoor yang terampil menokohkan kepala sekolah ambisius yang tak jarang bertingkah komikal.

Student of the Year memang tidak akan menjadi film terbaik tetapi tak dipungkiri salah satu yang paling menghibur tahun ini. Penampilan para debutan yang memikat setidaknya mengesampingkan plot cerita yang  cukup timpang. Apresiasi tinggi untuk kinerja sutradara kawakan K Jo yang tahu betul bagaimana memaksimalkan apa yang ia punya. Jangan lewatkan presentasi masa muda yang penuh gejolak tatkala mengejar cita, cinta sekaligus berusaha menjadi yang terdepan. This is an example of extravagant movie should be with eye-candy and ear-catchy on its’ side. Like it!

Durasi: 
146 menit

India Box Office: 
Rs 25.25 crore till mid October 2012

Overall: 
8.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 20 Oktober 2012

FRIENDS WITH KIDS : True Love, Marriage And Parenting In Discuss


Quotes: 
Ben: So, why didn't you guys ever even try to get together?
Jason Fryman: It's too much familiarity. It's like she's one of my limbs.
Ben: And that's bad, because...?
Jason Fryman: Because I hate myself.

Nice-to-know: 
Kristen Wiig, Maya Rudolph, Chris O'Dowd dan Jon Hamm semuanya pernah tampil bersama dalam Bridesmaids (2011).   

Cast: 

Adam Scott sebagai Jason Fryman
Jennifer Westfeldt sebagai Julie Keller
Maya Rudolph sebagai Leslie
Chris O'Dowd sebagai Alex
Kristen Wiig sebagai Missy
Jon Hamm sebagai Ben
Edward Burns sebagai Kurt
Megan Fox sebagai Mary Jane



Director: 
Jennifer Westfeldt yang lebih dikenal sebagai aktris ini memulai debut penyutradaraannya.

W For Words: 
Pernikahan bagi pria dan wanita di kota besar seperti New York mungkin bukan lagi sebuah tuntutan karena dapat mengubah kehidupan masing-masing. Tagline “Family doesn't always go according to plan“ dikemukakan dengan lugas oleh penulis skrip Jennifer Westfeldt yang juga menyutradarai dan membintangi sekaligus. Sayangnya film yang diproduksi oleh Locomotive, Points West Pictures dan Red Granite Pictures ini malah rilis terbatas di pasaran Amerika Serikat itu sendiri sehingga publisitasnya tidak terlalu luas apalagi diketahui luas oleh masyarakat.

Julie dan Jason adalah dua sahabat karib yang bertahan melajang di saat teman-teman mereka, Missy dan Ben serta Leslie & Alex sudah menikah. Tuntutan usia membuat keduanya mengambil keputusan gila yaitu melahirkan anak dan membesarkannya bersama! Lahirlah seorang putra bernama Joe. Awalnya pembagian tugas berjalan lancar sampai Jason berjumpa gadis idamannya yang juga aktris, Mary Jane dimana Julie bertemu lelaki impiannya yang juga duda beranak, Kurt. Akankah status mereka tetap seperti itu walaupun tuntutan perasaan dan masa depan semakin mendesak?

Skrip Westfeldt yang dikembangkan dari panggung teater ini sangat akurat dan relevan dengan kondisi kehidupan modern. Ben dan Missy adalah contoh nyata bahwa hubungan yang berapi-api di masa pacaran pada akhirnya bisa padam juga setelah memasuki jenjang pernikahan. Alex dan Leslie adalah umpama lain bahwa keharmonisan rumah tangga umumnya mulai luntur semenjak kehadiran anak. Pertukaran dialog di antara keenam orang dewasa mengenai karir, pernikahan dan membesarkan anak ini terbilang tajam, menertawakan sekaligus menohok dengan teramat jujur.

Kehidupan lajang tak jarang berarti kebebasan mencari pasangan termasuk urusan seks sekalipun. Konsep easy get, easy go banyak terjadi di masa sekarang yang serba egosentris ini sehingga membuat orang berubah menjadi “petualang” yang pada akhirnya mengindahkan kebutuhan berumah tangga. Jason adalah pria egois penyuka wanita seksi berdada besar sedangkan Julie adalah wanita sensitif pendamba pria kebapakan berpostur tinggi. Tanpa disadari sosok pasangan ideal yang selalu mereka cari itu sesungguhnya tak ada karena sesempurna apapun pasti memiliki kekurangan yang hakiki.

Saya mengagumi interaksi Westfeldt dan Scott disini. Mereka tampak saling melengkapi dengan plus minus dan pendirian masing-masing. Audiens akan jatuh cinta pada karakter keduanya sejak menit pertama. Lihat bagaimana perubahan emosi Jason ataupun Julie yang sangat bergantung pada timing seakan menegaskan peribahasa “A right person at the right moment”. O’Dowd dan Wiig juga mampu mencuri perhatian di setiap kemunculan mereka tanpa mengecilkan arti Rudolph dan Hamm. Sedangkan Burns dan Fox mampu menokohkan “perfect match” bagi Julie dan Jason sesuai talenta masing-masing.

Friends With Kids jelas komedi romantis wajib tonton di tahun 2012 bagi bff (best friends forever), terlebih penggunaan sudut pandang seimbang dari pria dan wanita ini. Peran seorang anak jelas penting sebagai perekat rumah tangga walau ironisnya kerapkali dianggap lebih penting daripada suami/istri itu sendiri. Pro dan kontra terhadap nilai keluarga dan struktur pembentuknya pun tak luput menjadi perhatian anda sehingga memberikan perspektif baru bagi yang (kebetulan) belum menjalani fase tersebut. Tenang, isu utama yaitu pencarian cinta sejati tak lantas tenggelam karenanya. Speaking about true love, marriage and parenting? Reality does bite!

Durasi: 
107 menit

U.S. Movie Box Office: 
$7,250,054 till June 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 16 Juli 2012

COCKTAIL : Sip and Feel the Sweetest Triangle Tangle

Quotes:
Veronica: Me, him and you. Awesome threesome, like a family..

Nice-to-know:
Awalnya Deepika Padukone diberi pilihan untuk memerankan Meera atau Veronica. Ia milih Veeru karena karakter Meera mirip dengan apa yang pernah dimainkannya dalam Love Aaj Kal. Lantas Diana Penty kebagian peran Meera dimana dalam dunia modeling, Diana juga menggantikan Deepika sebagai duta Maybelline.

Cast:
Deepika Padukone sebagai Veronica D'Costa
Saif Ali Khan sebagai Gautham
Diana Penty sebagai Meera
Randeep Hooda sebagai Kunal
Dimple Kapadia sebagai Ibu Gautham
Boman Irani sebagai Paman Gautham

Director:
Merupakan film kedua bagi Homi Adajania setelah Being Cyrus (2005).

W For Words:
Trailer resmi film ini mendapatkan respon yang luar biasa yaitu diakses via Youtube lebih dari satu juta kali cuma dalam jangka waktu 3 hari. Saya mungkin termasuk yang beruntung (atau tidak) dengan melangkahi trailernya sehingga tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap produksi kolaborasi Cocktail Film, Eros International, Illuminati Films ini. Bagi anda yang merindukan kisah cinta segitiga modern tidak boleh melewatkan yang satu ini, terlebih melihat nama Saif Ali Khan dan Deepika Padukone di jajaran castnya.

Veronica menjalani hidup jetset dimana fashion, pria dan pesta adalah makanan sehari-harinya. Suatu saat ia berjumpa Meera yang baru tiba di London tetapi dicampakkan suaminya Kunal. Keduanya dengan cepat menjadi akrab dimana Veronica menawarkan Meera tinggal bersamanya. Kemudian datanglah playboy flamboyan, Gautham yang sepakat menjalin hubungan tanpa ikatan dengan Veronica.  Masalah timbul ketika ibu Gautham yang kolot tiba-tiba hadir dan menyangka Meera sebagai calon istri Gautham. Kesalahpahaman yang berbuntut cinta segitiga itu pun semakin rumit.

Penulis skrip kaliber Imtiaz Ali memulai paruh pertama dengan gemilang. Introduksi terhadap tiga tokoh utama mengalir lancar lewat bumbu humor yang menggigit. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tinggal bersama di bawah satu atap, berbagi persahabatan sekaligus kesenangan hidup. Perpindahan setting lokasi ke Capetown menciptakan turning point yang manis dimana romantika yang awalnya dikesampingkan ketiganya tiba-tiba menjadi menu utama. Easy-goers Gautham menyadari perasaan lain yang tumbuh pada Meera yang jauh berbeda dari gadis-gadis yang dikenalnya. Sedangkan Veronica mendadak bosan dengan rutinitas kosongnya dan ingin membina rumahtangga bersama Gautham.

Sayangnya paruh kedua mengalami degradasi yang cukup signifikan. Alur yang melambat terus mengiringi dramatisasi yang sebenarnya tak sulit diterka. Meera yang memilih pergi agar tidak mengecewakan sahabatnya, Veronica yang mengubah diri habis-habisan demi memenangkan hati pria pujaannya, Gautham yang tidak ingin membohongi kata hatinya sendiri supaya kelak bahagia dengan gadis yang dicintainya. Beruntung sutradara Ajania meramu semua bahan tersebut dalam komposisi yang tepat sambil menjaga sisi emosional tetap berada pada jalurnya. Sinematografer Anil Mehta berhasil memaksimalkan London sebagai latar belakang yang menakjubkan.

Performa aktor-aktris disini memang kelebihan utama. Ali Khan walau tidak muda lagi mampu menjiwai tokoh Gautham di usia 30an dengan brilian. Ekspresi dan bahasa tubuhnya komikalnya tepat dengan timing sehingga mampu memancing tawa secara natural termasuk satu adegan berpakaian wanita! nd flair. Padukone juga memukau sebagai independent bitch Veronica yang sebetulnya rapuh dan kesepian di balik penampilannya yang selalu hot itu. Pendatang baru Penty patut diacungi jempol atas interpretasi alamiah Meera yang paling bersahaja dan berkarakter itu sehingga mudah mengambil simpati penonton.

Cocktail memang menawarkan romansa urban “instan” yang berefek pada kelangsungan jangka panjang. Rasanya semua orang setuju pada konsep jodoh itu satu untuk selamanya. Oleh karena itu, pilihan harus dibuat dari berbagai pertimbangan hati dan akal sehat. Penampilan prima Saif Ali-Deepika-Diana dalam berakting dan berkoreografi dalam suguhan musik yang upbeat dan ear-catchy jelas merupakan kenikmatan tersendiri, layaknya campuran minuman beralkohol yang langsung terasa begitu anda menyisipnya. Get drunk and you wouldn’t even care how bad it might feels like in the end!

Durasi:
146 menit

Asian Box Office:
Rs 36 crore in opening week in India

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 10 Juli 2012

A LITTLE BIT OF HEAVEN : Cancer Weeper That Trying Too Hard To Be Fun

Quotes:
Marley Corbett: Do you mind if I ask you a personal question?
Julian Goldstein: No.
Marley Corbett: Why do you not have a girlfriend?

Nice-to-know:
Dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 4 Mei 2012 yang lalu.

Cast:
Gael García Bernal sebagai Julian Goldstein
Kate Hudson sebagai Marley Corbett
Kathy Bates sebagai Beverly Corbett
Peter Dinklage sebagai Vinnie
Lucy Punch sebagai Sarah Walker
Rosemarie DeWitt sebagai Renee Blair
Whoopi Goldberg sebagai God


Director:
Merupakan feature film kedua bagi Nicole Kassell setelah The Woodsman (2004).

W For Words:
Tampaknya Kate Hudson adalah satu dari sedikit aktris Hollywood yang terus menerus terjebak dalam peranan komedi romantik. Beberapa berkualitas baik, beberapa tidak, tentunya kembali ke masalah selera. Kali ini ia kebagian tokoh Marley Corbett yang menderita kanker, penyakit yang sudah ribuan kali menjadi tema cerita dalam sebuah film. Sah-sah saja selama interpretasi karakternya variatif dan memberikan perspektif baru. Pesan saya, jangan tertipu dengan poster film ini yang terlihat ceria sehingga anda mengharapkan suguhan ringan nan manis antara Hudson dan Gael Garcia Bernal.

Eksekutif periklanan sukses, Marley hidup di New Orleans dengan sedikit kepusingan. Ia tidak mau terikat apalagi memiliki anak. Daya pikatnya sudah cukup membuat pria manapun bertekuk lutut. Sayangnya pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya mendiagnosa Marley mengidap kanker yang mungkin akan merenggut nyawanya. Saat itulah ia bermimpi bertemu Tuhan yang menawarkannya tiga permintaan. Semangat hidup muncul kembali ketika dokter tampan Julian Goldstein yang merawatnya mulai memikat hati. Mampukah Marley memanfaatkan sisa waktunya secara maksimal?

Kekurangan utama jelas terletak pada skrip karya Gren Wells. Elemen drama, romansa, komedi tidak berhasil menyeimbangkan unsur kebahagiaan hingga kesedihan secara konsisten. Beberapa momen memang sudah diciptakan untuk itu tetapi tidak benar-benar menggugah penonton dalam merasakan keterikatan yang sama. Sutradara Kassell sukses menghadirkan esensi feminis lewat karakter Marley yang digambarkan wanita ceria, tegar dan cerdas meskipun dalam keadaan sakit sekalipun. Pergeseran kondisinya tercermin melalui pilihan baju dan warnanya yang semakin pudar, tak melulu ekspresi pucat dengan bahasa tubuh yang semakin lemah.

Hudson lagi-lagi menampilkan kesan happy-go-lucky woman dengan pergeseran cara pandang hidup dari menit awal hingga akhir. Malang, percintaannya dengan Bernal yang berakting datar justru terkesan dipaksakan dengan chemistry yang minim di antara mereka. Apakah penonton mudah dibuat percaya bahwa menizer seperti Marley bisa menyukai Julian tanpa mengindahkan keputusasaannya di penghujung hidup? Interaksi dengan orangtuanya sedikit banyak menguak latar belakang keluarga Marley yang menyebabkan sikap detachment nya tersebut. Acungan jempol bagi nama-nama senior Bates dan Williams sebagai pendukung yang tepat.

Tiga sahabat Marley menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Punch yang easy going dan eksentrik, DeWitt yang family minded dan protektif, Romano yang gay oriented dan suportif hingga sepakat mengundang Mr. “A Little Bit Of Heaven” alias Dinklage yang sukses mencerahkan suasana dengan pertukaran dialog dan adegan kocaknya bersama Marley. Cameo Whoopi Goldberg sebagai Tuhan tidak inspiratif meski dapat menggali sisi kemanusiaan Marley untuk benar-benar sadar sebelum terlambat. Mitos tiga permintaan yang ternama itu disini hanya sebatas lalu tanpa makna yang berarti. Gee!

Satu-satunya yang memorable bagi saya adalah konsep pemakaman riang yang diidamkan oleh Marley. There’s a FUN in funeral words. Exactly! Terkadang kepergian seseorang tak perlu ditangisi, jadikan kenangannya sebagai episode terindah yang tak akan terulang kembali. A Little Bit Of Heaven mungkin bisa membuat anda tersenyum dalam kesedihan, hanya saja inkonsistensi subplot dengan banyak karakter yang timbul tenggelam menjadikannya tidak memorable. Antusiasme dan kecantikan Hudson di tengah hiruk pikuk kota New Orleans yang stylish saja rupanya belum cukup.

Durasi:
108 menit

U.S. Box Office:
$10,011 till May 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent