XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label koya pagayo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koya pagayo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2012

ADA HANTU DI VIETNAM : Dubbing Buruk Dan Pengingkaran Kreatifitas


Quotes: 
Ramon: Itu tuyul tuh?
Aziz: Bukan, kecebong anyut!

Nice-to-know: 
Produksi pertama TS Media.

Cast: 
Guntur Triyoga sebagai Jordan
Cinta Dewi sebagai Bianca
Uli Auliani sebagai Nayya
Roger Danuarta sebagai Ruben
Aziz Gagap sebagai Aziz
Reymon Knuliqh sebagai Ramon
Nguyen Ngoc Thuy Diem
Kenny Chiem
Nguyen Thi Tuet Prang
Bui Minh Hoang
Thai Thi Teuclina

Director: 
Merupakan film ke-9 bagi Koya Pagayo di tahun 2012 setelah Dendam Dari Kuburan.

W For Words: 
Jika tahun lalu Nayato Fio Nuala atau Koya Pagayo nekad syuting “colongan” di Hongkong untuk film aksi berjudul Tarung, maka tahun ini ia berani syuting “resmi” di Vietnam. Keduanya sama-sama dibintangi oleh trio bintang langganannya yaitu Guntur Triyoga, Cinta Dewi dan Reymon Knuligh, perbedaannya kali ini adalah genre horor yang sayangnya belum/tidak menggunakan template baru. Judulnya pun sederhana saja, lengkap dengan embel-embel negaranya untuk memperjelas daya jual. Ah mau saja rumah produksi TS Media ini dibohongi untuk film debutannya. Kasihan!

Bianca berencana menjenguk kakak Bianca yang baru saja melahirkan di Vietnam. Ia mengajak Jordan dan Nayya untuk menemaninya  sedangkan Ramon dan Aziz memilih tidak pergi karena takut naik pesawat. Lokasi yang tak kunjung ketemu membuat ketiganya harus mencari penginapan. Ruben yang dijumpai di jalan membantu mereka sekaligus memperkenalkan pada pasangan warga Vietnam yakni John dan Lucy. Rumah milik pasutri konyol akhirnya jadi pilihan. Sayangnya gangguan hantu cantik bernama Jasmine tak dapat dihindari.

Skrip yang ditulis Aurellia Amani Salsabila (saya ragukan orangnya ada) ini memiliki bloopers dan kontinuitas yang berantakan. Satu, hantu perempuan Vietnam yang katanya ikut ke Jakarta nyatanya digantikan dengan yang mirip saja. Dua, hantu ini jelas memiliki kesaktian tingkat tinggi karena bisa muncul di siang dan malam hari sekaligus, bahkan bisa travelling tanpa paspor. Tiga, kehadiran dukun Vietnam pengusir hantu tanpa diundang, tanpa hasil pula. Empat, background story hantu itu meninggal tak ada hubungannya samasekali dengan Bianca dkk atau penghuni rumah Vietnam samasekali. Sementara empat saja, jika ada waktu lagi akan saya tambahkan.

Andaikata Koya mau lebih serius seharusnya penggunaan bahasa asli dari aktor-aktris Vietnam yang terlibat tetap dipertahankan dengan tambahan subtitle Indonesia, bukan DUBBING ala film televisi atau sandiwara radio! Serius bung, anda malas sekali kreatif berupaya? Keotentikan itu padahal bisa jadi identitas unik sekaligus nilai tambah yang tidak dimiliki film lain. Permasalahannya bukan di dubbing aktor-aktris asing saja tetapi juga cast lokal kita sendiri terutama adegan di jalan-jalan Vietnam. Perhatikan gerak bibir yang tidak sinkron atau voice over tanpa memperlihatkan wajah pemain. Duh!

Duet Aziz Gagap dan Reymon Knuligh di pembuka dan penutup sangat tidak penting. Lelucon mereka basi dan tidak mampu mengangkat film lagi. Saya penasaran apakah Reymon menerima kontrak mati dari Nayato? Masih tak ada perubahan akting yang berarti dari Guntur dan Cinta. Lupakan Uli Auliani yang tampil dengan model dan warna rambut baru atau kembalinya Roger Danuarta di kancah perfilman layar lebar, aktor-aktris asli Vietnam setidaknya masih lebih sedap dipandang walaupun tidak diberikan porsi memadai untuk berbuat lebih baik dalam perannya masing-masing.

Ada Hantu Di Vietnam terbukti berkualitas buruk setengah hidup. Syuting kebutan tanpa formula anyar ini nyatanya cuma menghamburkan biaya produksi yang dikeluarkan untuk perjalanan Vietnam-Jakarta. Setting rumah berhantu tidak memberikan nuansa horor yang relatif baru. Sama halnya dengan shot jalanan atau kota Ho Chi Minh dalam aksara Vietnam yang juga tidak istimewa. Semuanya tempelan belaka! Layaknya “predikat” yang sudah menempel pada Nayato/Koya whatever his name is, ia tak lagi ambil peduli. Show me the money. So, the show must go on!

Durasi: 

79 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 01 November 2012

DENDAM DARI KUBURAN : Teror Kuntilanak Rumah Baru So What?


Quotes:
Stephen: Dia mandi pake baju apa gak ya?
Willy: Si tolol kalo mandi pake baju namanya diceburin.

Nice-to-know: 
Film ini diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast: 
Chika Jessica
Natassa Lengkong
Angie Amanda
Raymond Knuliqh
sebagai Stephen
Dion Chow sebagai Willy
Munajat Praditya sebagai Pasha
Yudha Putra
Yafi Tesazahara
Shinta Bachir
Bolot

Director: 
Merupakan film kesembilan bagi Koya Pagayo di tahun 2012 ini.

W For Words: 
Jika bulan Juli lalu ada Bangkit Dari Kubur maka empat bulan kemudian ada Dendam. Coba anda definisikan perbedaan kata "Bangkit" dan "Dendam" terlebih dahulu. Menurut hemat saya satu bermakna kata kerja dan lainnya sifat yang bisa dikategorikan sebagai objek. Sependapat? Terserah. Namun tampaknya Koya Pagayo tidak mau peduli dan memilih menggunakan "template" yang sudah-sudah. Terima kasih buat timnya yang sudah sangat kompak dan saling pengertian itu. Anjing menggongong, kafilah berlalu. Begitulah kira-kira slogan mereka.

Alkisah Willy si penulis skenario tengah mencari rumah kontrakan baru untuk berkonsentrasi dengan karyanya. Sebuah rumah yang dijaga oleh Pak Bolot menarik minatnya. Ia mengajak dua sohibnya, Stephen si pemilik tempat fitness dan Pasha yang selalu gagal mendekati cewek. Rumah tersebut akhirnya jatuh ke tangan mereka sebelum penampakan demi penampakan mulai mengganggu. Willy yang berpacaran dengan Agnes mulai panas ketika Wisnu mendekati ceweknya itu. Adakah hubungannya dengan cewek seksi penjual parfum bernama Puspita?

Duet penulis skrip "langganan", Erry Sofid dan Ule Sulaeman tampaknya sudah semakin malas memberi nama dan karakteristik yang unik pada tokoh-tokohnya. Tidak penting! Yang jelas selalu ada cowok jayus berbadan kekar, cowok kutu buku pecundang cinta, cowok pintar-pintar bodoh serta sederetan cewek cantik nan seksi. Sebut saja mereka Bunga, Mawar, Duri, Daun dan sejenisnya pun tak akan berpengaruh banyak. Tinggal mainkan interaksi satu tokoh dengan lainnya dalam dialog komedi bernuansa horor secara simultan di sepanjang film. Mudah bukan?

Koya Pagayo juga menggunakan rumah, kamar tidur, kamar mandi, kampus dan kuburan yang sama sebagai setting lokasinya. Saya curiga, jangan-jangan setiap habis syuting tidak pernah dibenahi, langsung dipakai untuk syuting berikutnya. Berapa banyak penghematan yang dilakukan departemen art? Beruntung, make-up sang kuntilanak Puspita dan versi mininya Jojo tidak berlebihan seperti biasanya. Tak jarang mereka memilih nunduk dan muncul tiba-tiba sambil sesekali seliweran layaknya mengenakan sepatu roda.

Dendam Dari Kuburan juga memanfaatkan medio cenayang untuk menjembatani dunia nyata dan alam baka. Lihat bagaimana Kilan kesurupan dan menjelaskan semua kejadian dari mulutnya. Epik! Setelah semuanya terungkap tak berarti film berakhir. Ketika kuburan Puspita dan Jojo diketemukan maka layar segera ditutup. Lagi-lagi penonton jadi korban! Bersyukurlah jika beberapa di antara anda masih bisa tertawa melihat “aksi” Haji Bolot atau Reymond yang repetitif itu. Bahkan judul-judul film kondang macam Spongebob, Spiderman, Safe House dan Jelangkung turut disebutkan tanpa tujuan yang jelas. Ah sudahlah!

Durasi: 
76 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 21 Juni 2012

BANGKIT DARI KUBUR : Kolaborasi Pocong Kuntilanak Lagi

Quotes:
Ranggo: Liat-liat dong kalo mau main. Di kamar mayat hormatin yang udah wafat..

Nice-to-know:
Film ini diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast:
Reymond Knuliqh sebagai Ranggo
Mpok Atiek sebagai Mbah Ulun
Chika Jessica sebagai Trisa
Laras Monca
Yessa Iona
Julia Perez
Ria Rolen
Munazat Raditya
Dion Chow


Director:
Merupakan film ketiga atas nama Koya Pagayo di tahun 2012 ini setelah Santet Kuntilanak dan Kuntilanak-Kuntilanak.

W For Words:
Judul film terbaru kolaborasi Mitra Pictures dan BIC Productions ini memang mengingatkan anda akan film-film lawas jaman almarhumah Suzanna dulu. Namun dari segi kualitas tidak perlu diperbandingkan lagi karena semua pecinta film lokal pasti tau siapa Koya Pagayo dan bagaimana cara kerjanya yang cenderung cepat dan satu arah itu. Apapun isi otak Erry Sofid dan TB Ule Sulaeman yang bertindak sebagai penata skrip pasti lambat laun idenya akan digeneralisasi sedemikian rupa dalam satu template yang tidak jauh berbeda antara satu film dengan yang lainnya. Poor ‘em!

Marlon, Ranggo dan Aril Mukadepan tanpa sengaja menabrak sepasang kekasih yang tengah berkendara dengan sepeda motor. Keduanya tewas seketika. Tak berani bertanggungjawab, ketiga sahabat yang juga mahasiswa kedokteran itu memilih melarikan diri. Lambat laun tugas mereka sebagai penjaga kamar mayat saat magang di sebuah rumah sakit terganggu karena kehadiran pocong dan kuntilanak. Nyatanya teror tak berhenti sampai disitu melainkan menjalar ke kost mereka yang juga ditempati oleh pacar Ranggo yaitu Trisa dan ketiga temannya masing-masing Intan, Meta dan Popy. Mampukah Mbah Ulun menolong muda-mudi tersebut?

Entah sudah berapa puluh kali saya menuliskan review yang kurang lebih sama dari formula Koya Pagayo yang tak jauh berbeda. Ide copy paste pun seketika melintas di kepala saya. Ya, premis yang dibuka dengan sekelompok muda-mudi bla bla bla yang kemudian diakhiri dengan adegan di hutan setelah konsultasi bersama dukun itu sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Analogikan sebagai bahan skripsi yang dijiplak berkali-kali untuk dipresentasikan kepada dosen pembimbing yang sama (dalam hal ini penonton). Sudah dipastikan akan ada degradasi nilai dari satu karya ke lainnya.

Di saat pemuda berbadan kekar berotot dengan six packs sibuk memperebutkan gelar jawara L-Men of the Year 2012, mantan finalis edisi 2009 bernama Reymond Knuliq ini justru sibuk mempermalukan diri dengan peran-peran tipikal sambil sesekali turut membuka kaosnya. Di saat Azis Gagap atau Zaky Zimah mulai meninggalkan ‘belantara’, Reymond semakin menjadi lewat imej cowok berbody dan bermulut besar lengkap dengan celotehan-celotehan yang sebetulnya dimaksudkan sebagai efek humor tapi sayang terlalu dipaksakan mengundang tawa tidak wajar. Haruskah ada yang memperingatkan doi untuk lepas dari keterikatannya?

Bangkit Dari Kubur hanya layak ditonton saat menit-menit pertamanya dimana sepasang tangan menyeruak dari dalam kuburan. Setelah itu waktunya anda meninggalkan kursi sebelum mengalami dejavu yang mengancam turunnya batas intelejensi karena repetisi formula yang itu-itu saja. Lagi-lagi pocong dan kuntilanak united menebar pengalaman spiritual yang tak lagi ditakuti tapi ditertawakan oleh kebodohan dan ketidakwajarannya. Pesan moralnya sejak awal jelas bahkan sebelum menonton filmnya yaitu “Please do respect the dead.” Sederhana kan?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
 

Kamis, 03 Mei 2012

KUNTILANAK-KUNTILANAK : Kreatifitas Menyepi Sosok Menghantui


Quotes:
Adelina: Salwa, in tas siapa?
Salwa: Tas Aiko, Ma.

Nice-to-know:
Film yang sedianya dijadwalkan rilis 5 April 2012 kemarin ini ditangani oleh Mitra Pictures.

Cast:
Niken Anjani sebagai Adelina Venus
Chrissie Vanessa sebagai Saskia
Reza Pahlevi sebagai Krisna
Adzwa Aurelline sebagai Salwa
Rikas Harsa sebagai Hardian
Yafi Tesa Zahara

Director:
Pertama kali di tahun 2012 ini Nayato alias Koya Pagayo merilis dua filmnya dalam minggu yang sama selain 3 Pocong Idiot.

W For Words:
Miris rasanya mengetahui fakta bahwa pocong dan kuntilanak bukan lagi momok yang menakutkan dalam dunia perfilman Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Penggunaan judul yang kelewat sering dengan materi yang tak terseleksi dengan baik membuat hantu asli Indonesia ini kehilangan taji. Tanpa terkecuali produksi terbaru Mitra Pictures yang satu ini, lagi-lagi sebuah repetisi karya-karya lawas Koya Pagayo apapun judulnya itu yang tak ingin saya ingatkan apalagi sebutkan satu persatu. Pamali!

Penulis novel sukses, Adelina Venus baru saja bercerai dari Krisna. Kesempatan tujuh hari menghabiskan waktu bersama anaknya Salwa yang hak asuhnya dimiliki oleh ayahnya itu digunakan Adelina untuk berlibur di Villa Bukit Hijau bersama dengan asistennya, Saskia. Semua kegiatan di villa direkam oleh berbagai kamera sebagai dokumentasi. Keanehan mulai terjadi saat Salwa mengaku punya teman imajiner bernama Aiko yang diikuti oleh kemunculan kuntilanak disana-sini. Apakah Adelina mampu menjelaskan semua misteri tersebut sambil berusaha tetap rasional?
Keputusan Niken Anjani dan Chrissie Vanessa memasang beberapa kamera di setiap sudut ruangan nyaris mengingatkan kita pada sensasi mockumentary sukses, Paranormal Activity. Dugaan tersebut semakin diperkuat oleh salah satu adegan dapur dimana semua peralatan berserakan keluar dalam sekejap atau adegan kamar tidur dimana kursi melayang tanpa alasan. Come on! Apresiasi sesama filmmaker wajib hukumnya. Jika anda ingin mencontek, maka lakukanlah dengan lebih baik, bukan asal jadi yang menyiratkan penghinaan belaka.

Sosok Niken yang pemarah tidak mampu mengundang simpati penonton. Chemistry nya dengan Adzwa Aurelline sebagai ibu dan anak tak cukup efektif membangun kekuatan konflik yang diharapkan. Penampilan Rikas Harsa sendiri tidak terlalu memadai karena ia hanyalah satu dari sekian jebolan L-Men yang bukan kebetulan dipakai sutradara Koya Pagayo dalam film-filmnya. Suasana villa yang sudah amat familiar karena sering digunakan sebagai setting itu tak lagi menyeramkan meskipun dari segi penampakan kuntilanak dan hantu anak kecil memang ada sedikit perbaikan.
Kuntilanak-Kuntilanak adalah tontonan horor kosong tanpa intisari. Sama kosongnya dengan (katanya) novel terbaru karakter Adelina Venus yang baru saja memulai penulisan judul bab 1 lalu tiba-tiba terselesaikan dengan sendirinya tanpa korelasi yang masuk akal mendekati akhirnya. Seperti biasa penjelasan sekelumit latar belakang tokohnya banyak dilakukan lewat narasi tidak langsung yang semakin menegaskan kemalasan film dalam bercerita secara runut. Tidak mengherankan karena itulah yang selama ini dilakukan Koya dengan permainan “template” dan “frame in mind“ nya yang superf*ck tersebut!

Durasi:
77 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 08 Maret 2012

SANTET KUNTILANAK : Praktek Santet Tanpa Juntrungan


Quotes:
Maya: Kalo gitu Cuma loe yang bisa nolong diri loe sendiri. Gua sih cuma bisa prihatin.


Nice-to-know:

Diproduksi oleh Studio Sembilan Production.


Cast:

Fero Walandouw
Nadya Almira

Rina Diana
Yessa Iona Gaffar

Rozie Mahally
Uli Auliani


Director:

Kemunculan nama Koya Pagayo yang pertama di tahun 2012 ini.


W For Words:

Menilik premis film ini, ingatan saya melambung jauh pada sebuah film Mandarin berjudul Erotic Black Magic di tahun 1994 mengenai seorang gadis yang diperkosa 4 orang hingga tewas mengenaskan sebelum teluh alias santet mulai mengejar para pelaku tersebut. Untungnya setelah menyaksikan beberapa menit pertama, saya tahu bahwa penulis skrip Erry Sofid (entah dicampur tangani oleh Nayato atau tidak) ternyata tidaklah senekad itu.
Kakak beradik Maya dan Lila memiliki kepribadian yang berbeda. Maya bersahabat dengan Johan, Yanti dan Ben. Sedangkan Lila berkawan dengan Doni yang mengajaknya liburan di villa Ricky bersama dengan Jacob dan Zen. Sesampainya di villa, empat pria tersebut berniat memperkosa Lila yang segera melarikan diri sebelum menemui ajalnya. Perlahan-lahan, kematian mulai menghampiri Ricky, Doni, Jacob dan Zen melalui santet. Benarkah Maya yang terlibat di balik semuanya demi membalas dendam akan kematian adiknya?

Koya Pagayo alias Nayato Fio Nuala dengan cerdas mereboot Jiper yang berganti judul menjadi Nakalnya Anak Muda (2010). Plot ceritanya nyaris sama dan hanya mengalami perombakan di beberapa bagian. Momok kuntilanak disini lagi-lagi tak sendiri karena beberapa kali ditemani tandemnya yaitu pocong. Jika saya pikir film ini konsisten bermain di genre horor nyatanya Rozie Mahally didapuk sebagai pengocok tawa dengan kata-kata spontan bin ajaib yang terlontar dari mulutnya itu. Lucu? Jika penonton lain bisa tertawa, tidak halnya dengan saya yang mingkem sepanjang film. Satu dialog terbodoh yang pernah saya dengar adalah saat Maya bertanya, “Ben, apakah adik gua udah mati atau belum?” Lantas dijawab oleh Ben, “Antara dua, May. Hidup atau mati!” Gubrak! Saya pun sukses kelilipan popcorn.

Dari jajaran cast nya, Uli Auliani lah yang ingin saya bahas. Special appearance nya ternyata hanya untuk mengisi slot tak penting di penghujung cerita. Niatnya sih menjadi twist tersendiri tapi sangat tidak perlu! Memang spoiler tapi saya tak peduli. Uli yang cuma beradu akting dengan Rozie selama 5 menit pun sibuk bernarasi menjelaskan siapa dirinya dan apa maksud kedatangannya. Tak lama kemudian mereka berdua sibuk saling bunuh hanya karena alasan yang tidak relevan yaitu membalas dendam akan kematian adik tirinya Ricky yang bahkan tidak dikenalnya. Sumpah ini tolol dan sangat dibuat-buat.

Praktek santet itu sendiri malah lebih banyak diutarakan lewat mulut para pemainnya bukan melalui aksi. Come on! Sinopsisnya lagi-lagi menipu, tidak ada pemerkosaan yang terjadi pada Lila. Gadis itu tewas sederhana karena terantuk pohon. Alangkah dramatisnya tokoh Maya yang di luar dugaan sempat mengucapkan sederetan kalimat seperti “Aku akan pergi, aku sudah tenang karena bersama Lila.. “ setelah tertusuk pisau. Menggelikannya juara! Santet Kuntilanak hanyalah repetisi dari Koya Pagayo yang entah sampai kapan terus menipu kreatifitas otaknya sendiri.


Durasi:

77 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 20 September 2011

KERANDA KUNTILANAK : Seputar Gadis Hilang Kost Berhantu

Quotes:
DJ: Kalo tuh setan keren, dia udah jadi pemain sinetron!


Storyline:
Kost Abby dan Ikke yang semula tentram dan damai menjadi sarang teror kuntilanak apalagi salah satu tetangga mereka Lina menghilang secara misterius setelah menunggak biaya kost 2 bulan. Cody, kekasih Ikke, Stef, pacar Abby serta sahabat-sahabat mereka, DJ dan Jereng yang mampir kesana juga menjadi sasaran. Hingga pada suatu hari, adik Abby yang bernama Tasya datang kesana dan menyarankan agar mereka menenangkan diri di villa milik kawannya. Akankah semua misteri tersebut terjawab pada akhirnya? Siapa si kuntilanak berperut buncit itu sesungguhnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Film dimana screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 19 September 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai DJ
Fiona Fachry sebagai Ikke
Tifany Jane sebagai Abby
Anastasya Octavian sebagai Tasya
Yessa Lona sebagai Lina
Indra Brotolaras sebagai Cody
Munazat Raditya sebagai Jereng
Stevan William sebagai Stef

Director:
Merupakan film ke-3 di tahun 2011 bagi Koya Pagayo setelah terakhir Pelet Kuntilanak.

Comment:
Keranda. Apakah seorang Koya Pagayo mengetahui makna kata itu? Tentu saja! Terbukti salah satu scene dalam film ini memperlihatkan benda tersebut sekilas meskipun sepersekian detik saja. Namun sudah cukup untuk membangun versi ceritanya sendiri selama kurang dari satu setengah jam. Seperti biasa campuran genre horor dan komedi yang dipilihnya kalau tidak mau dibilang ikon menyeramkan yang dibuat jenaka kemunculannya. Kontras memang.
Penulis skenario Aldy KS seperti yang lain-lain tampaknya manut saja buah tangannya itu diobrak-abrik Koya sesuka hati. Dibaca sekali, selayang pandang, lantas dimasukkan ke dalam benaknya untuk kemudian dikonstruksikan sesuai templatenya yang tersohor itu. Dimulai dari serentetan remaja putra-putri dengan kehidupan sehari-harinya, di kampus, di kost bergaya rumah mewah dan diakhiri di sebuah hutan berpohon tinggi dengan suasana malam hari yang berkabut. Familiar bukan?
Zaky jelas pemain kunci dalam film ini. Lebih dari dua pertiga film memperlihatkannya sebagai one man show sekaligus berbagi layar dengan Munazat, Indra, Stevan, Tiffany, Fiona, Anastasya termasuk si kuntilanak itu sendiri! Harus diakui 40 menit pertama, Zaky menuntaskan tugasnya dengan baik karena saya samasekali tidak terlalu terganggu dengan humornya. Namun selepas itu, tokoh DJ seakan buyar begitu saja yang bisa jadi disebabkan oleh proses editing random yang dilakukan Koya.
Jika anda cermati kostum yang dikenakan Zaky hanya 4 atau 5 outfit saja, apakah berarti syuting acak dalam waktu maksimal 5-6 hari sebelum memasuki proses editing? Entahlah, ini hanya tebakan liar saya saja seteiah membaca interview detail yang dilakukan Adrian Jonathan terhadap Nayato beberapa waktu lalu. Tidak sulit baginya untuk berbuat hal demikian karena kendali memang akan selalu ada di tangannya.
Dengan mengandalkan wajah-wajah Indo (baca: bule) yang setidaknya terlihat cool, Keranda Kuntilanak dengan kata lain: same storyboard different casts project! Apabila ia beranggapan film semacam itu masih dapat dijual, saya selaku penonton setia film nasional di bioskop justru merasakan dari waktu ke waktu jumlah penontonnya terus berkurang. Seperti segerombolan anak sekolah yang menonton bersama saya di Metropole XXI salah satunya berujar, “Udah ah. Gua gak mau nonton film-film Nayato lagi. Gak jelas!” Mudah-mudahan beliau membaca pernyataan ini. Dari hati kecil yang paling dalam, saya beranggapan judul Kuntilanak Bunting akan jauh lebih sesuai untuk yang satu ini.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 01 Juni 2011

PELET KUNTILANAK : Celana Dalam Sumber Bencana Gaib

Quotes:
Pamela: Hidup itu harus enjoy, bikin dosa yang banyak, baru deh tobat!

Storyline:
Demi mempercantik diri dan memikat cowok-cowok, Pamela menggunakan pelet dengan celana dalam pria sebagai medianya. Sebuah taruhan yang beresiko tinggi karena membuat Pamela bersekutu dengan iblis dimana nyawanya sendiri sebagai taruhannya. Telah banyak jatuh korban akibat ilmunya ini termasuk Daniel yang sebetulnya tulus menyukainya. Lain halnya dengan sahabat Pamela, Tantri yang awalnya lugu tetapi memakai santet untuk membalaskan dendam akibat diperkosa Rudy cs di sebuah bangunan tua. Vega menasihati Pamela dan Tantri untuk segera kembali ke jalan yang benar sebelum semuanya terlambat..

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Films dan press screeningnya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 30 Mei 2011 yang lalu.

Cast:
Debby Ayu sebagai Pamela
Cinta Dewi sebagai Tantri
Angie Yulia sebagai Vega
Billy Davidson sebagai Daniel
Billy As
Yudha Putra

Director:
Koya Pagayo pertama kali menggarap Panggil Namaku 3X di tahun 2005 yang lalu.

Comment:
Film yang awalnya berjudul Pelet Celana Dalam ini merupakan trademark seorang Koya Pagayo, atau mau disebut Nayato? Untuk menghormati keinginan beliau, saya gunakan nama yang pertama saja. Skrip yang ditulis oleh Herry B. Arissa ini tidak peduli apapun isinya maka outputnya akan selalu sama. Tidak jauh-jauh dari kuntilanak, cewek seksi dan ending yang sudah dapat diduga serta yang terpenting adalah logika yang patut dipertanyakan.
Entah apa motif Angie dan Billy Davidson bermain disini. Sekadar ingin eksiskah? Atau sebuah kebanggaan tersendiri pernah diarahkan sutradara paling produktif di Indonesia? Hanya mereka sendiri yang tahu jawabannya. Angie hanya terkesan menjadi sidekick sebagai Vega, nasib Billy lebih miris lagi karena tokoh Daniel yang diperankannya mati mengenaskan sebelum paruh pertama film. Spoiler? Tidak mengapa toh ini bukan suatu kejutan lagi.
Debby Ayu tampaknya sudah siap menerima predikat aktris terburuk tahun 2011 dengan “kecermatannya” memilih film-film yang diperankannya sejauh ini. Sayang sekali! Cinta Dewi mungkin merupakan satu-satunya yang masih cukup pantas dilihat disini. Peran Tantri setidaknya memiliki transformasi yang jelas dari seorang gadis geek baik-baik menjadi santet executor akibat insiden yang dialaminya.
Setidaknya Koya menghargai figur kuntilanak kali ini. Anda tidak akan melihat mbak kunti diperlakukan dengan tidak senonoh seperti yang sudah-sudah. Ia cuma disuruh menggentayangi semua tokoh disini hingga berbuat bodoh sendiri mulai dari meminum gelas berisi belatung, menusuk perut, mencekik leher dsb. Beruntung ia tidak bertanya mengapa diminta melakukan ini itunya karena dalam skenario memang tidak dijelaskan motifnya. Kasihan!
Berbicara mengenai pelet dan santet bisa jadi ada 1001 teori tidak berfakta yang mendukungnya. Kali ini maknanya dipersempit, pelet untuk menarik perhatian seseorang agar menyukai kita sedangkan santet demi mencelakakan seseorang yang tidak kita sukai. Simple as that. Bravo Koya! Jika anda tidak setuju dengan pengertian ini, silakan datangi dukun terdekat di kota tempat tinggal anda masing-masing untuk bertanya. Mudah-mudahan dukunnya baik dan berlagak dosen seperti langganan Pamela disini.
Pelet Kuntilanak tidak hanya membodohi penonton dengan eksplorasi cerita satu arah tetapi juga menggelikan karena membiarkan berbagai macam celana dalam (yang sebagian besar G-String) menghiasi scene demi scene dengan indahnya. Mudah-mudahan properti tersebut dalam kondisi baru atau setidaknya telah tercuci dengan bersih. Sebab jika tidak, bisa jadi menggagalkan proses syuting film ini yang tentunya hal terbaik yang dapat terjadi dalam industri perfilman lokal kita ini.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 02 Februari 2011

KALUNG JAILANGKUNG : Kalung Kuburan Kendalikan Kuntialanak

Quotes:
Benny: Sendal gua sebelah, sebelah lagi disita.. sama setan!

Storyline:
Sepakat mengisi liburan bersama, Benny, Kiki dkk pergi ke kampung hutan Ciwidey untuk bermain jailangkung di sebuah bangunan tua. Peringatan pria tua setempat tidak diindahkan mereka. Saat memainkan boneka jailangkung tersebut bergetar dan kemudian ada suara misterius yang menyebutkan nama Yanti. Panik ketakutan, semuanya berlarian meninggalkan Kiki sendiri yang kemudian menemukan kalng di atas kuburan. Semenjak kejadian itu, ada sesosok kuntilanak yang mengikuti mereka satu persatu. Sepulangnya ke Jakarta, Kiki jatuh sakit dan mengigau sebagai Yanti. Apakah mereka harus kembali untuk menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai?

Nice to know:
Diproduksi oleh BIC Production dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 31 Januari 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Benny
Soraya Larasati sebagai Kiki
Rozi Mahally
Remon
Munajat Raditia

Director:
Baru saja di penghujung tahun kemarin, Koya Pagayo menghasilkan film bergenre sama yaitu Pocong Rumah Angker.

Comment:
Lewat film ini, saya bisa simpulkan Koya alias Nayato tampaknya sedang jatuh cinta! Kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain.. Ooops, mudah-mudahan saya salah. Tidak berani dan tidak mau membayangkan lebih jauh. Namun terbukti kutipan dari tembang dangdut lawas Meggy Z yang berjudul Benang Biru tersebut berkali-kali didengungkan di sepanjang film disertai dengan goyang aduhai pemain-pemainnya.
Kali ini Koya seperti berusaha memparodikan Jelangkung nya Jose Poernomo dan Rizal Mantovani sampai ke jurang yang paling dalam sekalipun. Momok suster ngesot diganti menjadi kuntilanak yang bahkan dipermalukan separah-parahnya disini. Bisa jadi sang kunti bakal laris manis mendapat tawaran lenong dimana-mana setelah ini. Bayangkan ia diharuskan mencuri sandal sebelah bahkan menempelkan muka di toilet cowok. Kasian sekali. Sungguh terlalu!
Sosok manusia-manusia sungguhannya pun tidak kalah ajaibnya. Ikon baru Koya, Zaky kembali berusaha melucu dengan mimik muka dan celotehan-celotehan spontannya untuk yang kesekian kalinya. Sayangnya persentase keberhasilannya paling banter 30 persen. Sisanya garing dan hanya membuat penonton mengerutkan kening sambil berkomentar apaan sich?! Untuk aktor-aktris lain di luar Zaky masih bisa sedikit saya maafkan karena mungkin baru kali ini mereka bekerja untuk sutradara unik bin jijay tersebut. Namun duet Remon dan Munajat yang seringkali (dipaksa) membuka kaos mereka dengan body yang berbanding terbalik 360 derajat untuk kemudian berakting layaknya dumb and dumber sedikit mengganggu screen presence baik disengaja ataupun tidak. Om Torro apa yang anda lakukan di ending film jelas tidak ada manfaatnya samasekali.
Satu hal yang paling saya cemaskan, belakangan ini Koya/Nayato tampak asyik membuat komedi yang berfigurkan hantu tradisional dengan pemain yang itu-itu saja. Saya tekankan sekali lagi, KOMEDI! Bukan horor sehingga hantu-hantu yang ada tampaknya juga diharuskan melucu dengan make-up yang sudah dibuat seram. Bisa bayangkan jika Koya/Nayato berniat menciptakan komedi franchise ala Warkop DKI yang legendaris itu? Semoga tulisan saya ini tidak menginspirasi beliau. Kalung Jailangkung sama jayusnya dengan karyanya yang sudah-sudah, walau sedikit termaafkan jika benar-benar dimaksudkan sebagai hiburan belaka. Kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain..

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 16 Desember 2010

POCONG RUMAH ANGKER : Misi "Pencarian" Berbuntut Penampakan

Storyline:
Bertindak sebagai reporter, Zaki, Joana dan Debby nekad menyambangi sebuah rumah kosong yang terkenal angker karena sering dijadikan tempat pembuangan mayat dalam kasus kriminal. Saat mendokumentasikan situasi bangunan dengan handycam, Joana malah membuka payung usang di dalam rumah tersebut. Hal tersebut diyakini Zaki yang juga diamini Debby akan mengundang makhluk-makhluk gaib. Sepulang dari sana, Zaki, Joana dan Debby kerap diganggu oleh berbagai penampakan yang sulit terjelaskan bahkan teman mereka yang juga seorang bule, Ipung disambangi gadis manis bernama Lilis yang mengaku mengenal trio tersebut di suatu tempat. Apa yang dimulai di tempat awal harus juga diakhiri disana. Maka mereka berlima berusaha menelusuri apa yang sesungguhnya diinginkan oleh makhluk gaib tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures – Bic Production.

Cast:
Donita
Zaki Zimah
Pamela Bowie
Krisna Patra
Radith

Director:
Koya Pagayo kembali lagi setelah terakhir membuat versi Indonesia Te[rekam] pada pertengahan tahun 2010 ini.

Comment:
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu yakni mereview film terakhir sutradara paling produktif di tahun 2010. Anda tahu siapa namanya, tak usah saya sebutkan lagi. Pantang soalnya! Dan menurut pendapat saya, film ini seperti kompilasi dua filmnya sebelumnya yaitu Kuntilanak Beranak dan Sarang Kuntilanak. Namun dikarenakan mengangkat tema hantu mantan penari jaipong (dulu ronggeng) dan rumah angker maka judulpun diganti menjadi Pocong. Subyek horornya menjadi dua yaitu Pocong dan Kuntilanak sekaligus. Voila! Entah mana dari mereka yang bernama Lilis, tidak ada penjelasan, atau saya yang memang tidak perhatian karena tidak penting? Maafkan saya jika begitu.
Dari jajaran cast, beribu sayang Zaky tidak seperti tupai yang tidak jatuh berkali-kali di lubang yang sama, melainkan dakocan yang berkali-kali jatuh di genre film yang sama! Desperate keluar dari komedi layar gelas ke komedi horor layar lebar? Sekali-kali tidak masalah tapi kalau berkali-kali bikin eneg. Ia yang saya akui lucu di beberapa film sebelumnya kali ini gagal total. Jayus abis! Maaf Zaky, kali ini gaya melucu anda kurang ampuh dan amat sangat dipaksakan. Saya sebetulnya ingin tertawa tapi tidak menemukan alasan yang kuat melakukan itu. Sama halnya dengan Donita dan Pamela yang hanya berusaha bercantik-cantik dan menjerit-jerit ria tanpa ada efek positif bagi film ini.
Jika saya ada di posisi produser seperti HM Firman Bintang, maka saya akan menggaji Lilis 3x lipat! Kesulitannya paling tinggi karena harus berperan sedikitnya sebagai lima makhluk! Satu, sebagai gadis desa manis yang lugu. Dua, sebagai penari Jaipong yang lincah menarik. Tiga, sebagai gadis pendiam yang selalu menunduk dengan rambut awut-awutan. Tiga, sebagai pocong yang hobi "tampil". Empat, sebagai "gadis" misterius yang hobi merambat di tembok ataupun naik turun dengan kerekan tali. Sungguh usaha yang luar biasa!
Satu hal yang paling memorable (sekaligus penting) bagi saya adalah saat Debby mengisi gelasnya dengan air dari botol tetapi kosong saat diminumnya, berkali-kali! Cukup orisinil. Selebihnya Pocong Rumah Angker hanyalah pengulangan formula basi yang sudah expired beratus-ratus tahun lalu hingga meracuni otak sekaligus pikiran penonton yang kadung bingung dengan misi film ini sebenarnya. Masih berpikir ingin mencari pocong (atau membantu pocong mencari) di rumah angker?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 18 Maret 2010

TEREKAM : Rekaman "Nyata" Koya Pagayo

Quotes:
Monique-Sini gw bawain barang-barang loe
Jupe-Ga perlu Mon. Gw tau beban hidup loe aja uda berat!

Storyline:
Terobsesi menjadi sutradara, Olga mencoba dahulu dengan proyek film horor kecil-kecilannya dengan kamera tangan. Bersama kedua sahabatnya, Monique dan Jupe, Olga mendatangi sebuah villa milik Siska di kawasan Gadok untuk menyusun skrip sekaligus syuting seadanya. Sejak awal kehadiran mereka bertiga sudah mengusik "penunggu" villa itu. Beberapa penemuan yang cukup menyeramkan belum membuat mereka ciut dan malah melanjutkan aktifitasnya. Beberapa kamera yang dipasang di sudut-sudut ruangan rupanya merekam sesosok makhluk menyeramkan. Setelah teror demi teror, ketiganya pun terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures.

Cast:
Masing-masing tampil sebagai dirinya sendiri
Olga Lydia
Julia Perez
Monique Henry

Director:
Merupakan film kelimanya di tahun 2010, Koya Pagayo bekerjasama dengan sang produser, Lucky Hakim untuk menggarap horor dokumenter ini.

Comment:
Temanya tidak terlalu asing lagi, lagi-lagi mengenai "pembuatan film horor" di suatu tempat asing yang angker. Dari ketiganya, boleh jadi kehadiran Jupe lah yang selalu menjadi "penyegar", bukan karena keseksian tubuh atau pakaian minim yang diperlihatkannya melainkan spontanitasnya di depan kamera. Lihat saja aktingnya menari, menyanyi, berekspresi dan berguyon yang sama lugasnya. Itulah yang dibutuhkan film bergaya dokumenter ini. Sedangkan Olga dan Monique terlihat seperti membintangi film biasanya saja. Tampilan hantu mungkin cukup menyeramkan karena dibuat kabur ataupun versi night mode yang minim pencahayaan itu. Nampaknya Koya masih perlu belajar lagi untuk "mencontek" REC / Quarantine yang mencekam itu. Eksekusinya tidak terlalu buruk tapi improvisasi dan angle-angle kameranya masih kurang maksimal. Dari segi ending, akan lebih baik jika diakhiri di villa itu saja tanpa perlu diperpanjang adegan di apartemen yang sangat merusak originalitasnya. Yang lebih bodoh lagi, Terekam dibuka dan ditutup dengan wawancara ketiga pemainnya yang tentu saja merusak unsur 'kenyataannya' itu.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 09 November 2009

JERITAN KUNTILANAK : Arwah Dukun Beranak Hantui Kelima Muda-Mudi

Cerita:
Diam-diam Lila mencintai Ferry yang sayangnya sudah menjalin hubungan dengan Reina. Hingga pada suatu ketika bersama Vivin dan Bimo, mereka berlima menginap di villa orangtua Reina. Malang saat asma Lila kambuh, mereka kesulitan mencari pertolongan dan menemukan sebuah rumah tua dekat danau untuk beristirahat sementara. Panik saat menemukan penampakan hantu wanita mengerikan dan Lila yang menghilang secara misterius, keempat sahabat tersebut meninggalkan rumah tua tersebut terburu-buru. Sekembalinya pada kesehariannya, Reina, Ferry, Vivin dan Bimo diteror terus menerus. Bersama Yunita kakak Lila, Vivin bertekad kembali ke rumah tua tersebut untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya menimpa Lila?

Gambar:
Gambar-gambar minimalis dengan pencahayaan temaram masih menjadi andalan film ini. Sayangnya sosok hantu yang ditampilkan masih terlalu abstrak.

Cast:
Kerjasama horor kedua dengan sang sutradara setelah Lewat Tengah Malam, Joanna Alexandra berperan sebagai Vivin yang setia kawan.
Julia Perez turut mempertontonkan keseksiannya sebagai Yunita yang berusaha menemukan adiknya yang hilang secara misterius.
Cathrine Wilson
Garneta Haruni
Zaky Zimah
Andrew Ralph Roxburgh
Furry Citra


Sutradara:
Koya Pagayo yang memiliki beberapa alternate nama seharusnya tidak asing lagi bagi para penikmat film lokal khususnya genre horor.

Comment:
Seperti sudah saya katakan sebelumnya, tidak sukar menebak template horor yang digunakan Koya. Sekelompok remaja yang bersenang-senang untuk kemudian terdampar di sebuah bangunan tua yang menyimpan masa lalu mengerikan dan dihantui satu persatu untuk kemudian mati karena dendam. Lantas jika sudah tahu, apalagi yang harus diharapkan dari karya-karyanya? Terus terang, setiap saya menyaksikan hal serupa, saya hanya ingin tahu akan sehancur apa hasil akhirnya terlepas dari sekeras apapun usaha yang dilakukan Koya (jika memang ia cukup berusaha). Tak hanya itu, setting dan gaya penyutradaraan pun nyaris sama. Hanya perlu mengganti cast saja dan kali ini saya sedikit terhibur karena pilihan jatuh pada Joanna yang selalu tampil menyegarkan. Berhati-hatilah untuk mengulangi formula yang sama ke depannya karena penonton sudah sangat bosan, terbukti saya menjadi satu-satunya penonton di pertunjukan weekend siang dalam studio PIM 21 hari itu. Bayangkan!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 23 Januari 2009

HANTU JAMU GENDONG : Asal-Usul Dan Teror Hantu Penjual Jamu

Tagline:
Cantik, sexy, bohay, tapi..

Cerita:
Kesulitan uang, Kafka menerima tugas membuat skripsi temannya dengan sejumlah upah. Ia mengangkat topik kaum urban yang berjudi mengadu nasib di Jakarta. Sampai pada satu hari dimana musibah menimpa dua temannya Rio dan Nadya yang konon diteror hantu jamu gendong. Bersama kekasihnya Meisya, Kafka kemudian menyelidiki asal mula hantu yang bernama Sri tersebut dengan mendatangi tempat terbunuhnya di masa silam. Mereka diharuskan melakukan ritual memecahkan telor sambil berteriak jamu, jamune untuk melihat penampakan hantu Sri. Masalah tidak berhenti sampai di situ karena Kafka, Meisya dan Andin sahabatnya menjadi sasaran kemarahan hantu jamu gendong. Bagaimana menyelesaikan itu semua? Siapa sesungguhnya Sri dan tragedi apa yang menimpanya?

Gambar:
Banyak bersetting di bangunan rumah bekas terbakar tempat bersemayamnya hantu jamu gendong. Beberapa setting rumah juga terlihat familiar di film-filmnya sutradara bernama banyak itu.

Act:
Biasa berperan dalam film komedi, Dimas Aditya kali ini kebagian peran Kafka yang skeptis tapi akhirnya dituntut bertanggung jawab menyelesaikan semua masalah yang dimulainya.
Aktris seksi Julia Perez menjadi hantu jamu gendong yang diakuinya tantangan tersendiri karena menggunakan kebaya yang sangat ketat dan diharuskan menguasai teknik meracik jamu.

Sutradara:
Tidak banyak berbeda dengan karya horor sebelumnya terutama kemiripan skrip dengan Hantu Jeruk Purut, Koya Pagayo kembali dengan genre yang membesarkan namanya. Hanya saja sayang talentanya tidak banyak berkembang dan masih menggunakan elemen-elemen yang sudah terlalu lazim sehingga tidak ada lagi kejutan berarti.

Komentar:
Nuansa horor mungkin akan cukup menyentak untuk anda yang belum mengenal siapa sutradara ini. Hantu Jamu Gendong hanya menjual nama Jupe dan Dimas semata, tidak ada yang baru. Pengembangan dan bahkan penyelesaian cerita menjadi terabaikan padahal durasi yang terlalu singkat seharusnya bisa disiasati dengan penambahan beberapa scene. Kesimpulannya, bukan film yang direkomendasikan untuk ditonton.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!