XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 16 Desember 2014

PENDEKAR TONGKAT EMAS : Saksi Tak Hidup Dari Aksi Balas Dendam

Quote:
Cempaka: Aku tidak takut mati. Namun tidak ada ilmu silat yang membuat seseorang hidup selamanya dan terhindar dari kematian.

Nice-to-know:
Xiong Xin Xin alias Hung Yan-yan adalah pesilat, aktor, stuntman, dan sutradara laga kelahiran Hong Kong, 25 Februari 1965. 

Cast:
Eva Celia sebagai Dara
Nicholas Saputra sebagai Elang
Reza Rahadian sebagai Biru
Tara Basro sebagai Gerhana
Christine Hakim sebagai Cempaka
Aria Kusumah sebagai Angin
Slamet Rahardjo sebagai Dewan Tertinggi
Whani Dharmawan sebagai Sayap Merah
Darius Sinathrya sebagai Naga Putih
Prisia Nasution sebagai Cempaka muda
Landung Simatupang sebagai Guru Sepuh


Director:
Merupakan film ke-15 bagi Ifa Isfansyah setelah 9 Summers 10 Autumns (2013).

W For Words:
Komik silat Indonesia pernah mencapai puncak kejayaan di era tahun 70an hingga 80an. Termasuk beberapa di antaranya sukses diadaptasi ke layar lebar seperti Si Ayub Dari Teluk Naga (1979), Jaka Sembung (1981), Pendekar Bukit Tengkorak (1987), trilogy Angling Darma, Wiro Sableng ataupun Saur Sepuh. Produser handal kenamaan Mira Lesmana sudah memiliki cita-cita untuk membangkitkan kembali genre yang satu ini semenjak delapan tahun yang lalu sebelum akhirnya mendapat dukungan penuh dari KG Studio di tahun 2012. Perjalanan Pendekar Tongkat Emas pun dimulai!

Pendekar yang disegani dan dihormati, Cempaka mulai menua. Pada suatu hari ia memanggil keempat anak didiknya yaitu Biru, Gerhana, Dara dan Angin untuk mewarisi Tongkat Emas. Sayangnya pembunuhan dan pengkhianatan terjadi hingga mahasenjata itu menjadi incaran banyak pihak. Satu-satunya yang menguasai jurus handal tersebut adalah Naga Putih yang telah lama menghilang. Dua murid Cempaka yang tersisa pun bertekad menemukannya sebelum dunia persilatan menjadi kacau karena dikuasai orang-orang yang salah.

Skenario yang ditulis oleh Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah dan Seno Gumira Ajidarma ini seperti komiknya memang lebih menitikberatkan pada ‘drama’ yang terjadi di antara para karakternya. Bagaimana luapan ekspresi dan kecamuk emosi kerap membingkai setiap tindakan yang ada. Garis batas abu-abu yang memisahkan benar dan salah pun terkadang bias karena kepentingan yang mendasarinya. Sejak awal, anda langsung digiring untuk mengenal karakteristik empat murid Cempaka sebelum mencerna konflik utama yang digulirkan secara sederhana ini.

Kapabilitas Ifa yang meraih Piala Citra melalui Sang Penari (2011) di kursi sutradara memang tak perlu diragukan lagi. Setting dunia persilatan berhasil dibangun di Sumba terlepas dari kendala cuaca dan keterbatasan sumber daya. Pegunungan, perbukitan, lembah, danau, lautan di bawah hamparan langit biru dan sinar matahari yang kuat turut memperkaya unsur sinematiknya yang diambil menggunakan kamera Red Dragon. Dukungan penata laga pro dari Hongkong, Xiong Xin Xin kian menghidupkan setiap adegan tarung secara meyakinkan mulai dari menit pertama hingga terakhir.

Dua aktor ‘beda generasi’ beradu akting untuk pertama kalinya di layar lebar, Nicholas Saputra dan Reza Rahadian memang terpaut satu dekade dalam mencapai masa keemasannya. Tokoh Biru dan Elang yang kontradiktif mampu dihidupkan secara cemerlang. Eva Celia dan Tara Basro pun tak kalah memikat sebagai Dara dan Gerhana. Penampilan si cilik Aria Kusumah berhasil mencuri perhatian. Aktris senior Christine Hakim membuka film dengan narasi yang begitu meyakinkan. Dua aktor kawakan, Slamet Rahardjo dan Landung Simatupang juga menambah solid jajaran cast nan variatif ini.
Perjuangan tim filmmaker selama proses produksi lebih dari 2 tahun dengan biaya yang mencapai 25 milyar telah terbayar lunas. Perjuangan para pendekar untuk menjaga harkat, martabat dan harga dirinya sekaligus menegakkan kebenaran dan keadilan sudah tersaji sebagai tontonan yang cukup ‘berisi’ selama nyaris dua jam. Pada akhirnya Tongkat Emas hanyalah simbolisasi saksi tak hidup dari sebuah perwujudan aksi balas dendam terhadap obsesi yang harus dituntaskan. Mengalahkan atau dikalahkan, begitulah takdir pendekar.

Durasi:
112
menit

Overall:
8 out of 10

Selasa, 09 Desember 2014

STAND BY ME DORAEMON : Childhood Friendships Last Forever

Quote:
Nobita: No! Don’t go, Doraemon!
Doraemon: You’ll be fine without me.

Nice-to-know:
Berbeda dari film-film Doraemon sebelumnya, Stand By Me Doraemon menggunakan animasi 3DCG yang dikerjakan sejak Juni 2010 sekaligus memperingati ulang tahun ke-80.

Cast:
Wasabi Mizuta
sebagai Doraemon
Megumi Ohara
sebagai Nobita
Yumi Kakazu
sebagai Shizuka
Tomokazu Seki
sebagai Suneo
Subaru Kimura
sebagai Gian
Yoshiko Kamei
sebagai Sewashi
Vanilla Yamazaki
sebagai Jaiko
Shihoko Hagino
sebagai Dekisugi
Wataru Takagi
sebagai Sensei
Kotono Mitsuishi
sebagai Ibu Nobita
Yasunori Matsumoto
sebagai Ayah Nobita
Miyako Takeuchi
sebagai Ibu Gian
Aruno Tahara
sebagai Ayah Shizuka
Satoshi Tsumabuki
sebagai
Nobita dewasa

Director:
Merupakan film kesepuluh bagi Takashi Yamazaki yang kali ini didampingi debutan Ryuichi Yagi.

W For Words:
Saya dan kamu bersama generasi di atas dan di bawah kita sekalipun tidak akan pernah melewatkan aksi robot kucing maha penolong mulai dari versi komik, serial televisi hingga seri layar lebarnya. Demi memperingati ulang tahun ke-80, karya yang tercetus lewat kreatifitas Fujiko F. Fujio ini kembali digagas dalam format layar lebar. Kompilasi cerita lama yang terstruktur rapi dalam sebuah jalinan kisah utuh, berawal dari perkenalan sampai berujung pada perpisahan(?). Poster dan trailernya yang memang menjual ‘haru’ telah membangkitkan rasa penasaran bagi para fansnya di seluruh dunia sejak beberapa bulan lalu. Beruntung publik Indonesia bisa menyaksikannya melalui jaringan bioskop Blitzmegaplex dan Cinemaxx.













Bocah lelaki canggung berusia 10 tahun, Nobita kerap ditimpa kemalangan. Tidak pernah mendapat nilai baik di sekolah, kerap dimarahi guru dan orangtua hingga dijahili teman-temannya. Pada suatu ketika, Sewashi yang merupakan keturunan Nobita dari abad 22 membawa robot kucing untuk mengubah nasib kakek buyutnya tersebut. Misi Doraemon adalah menolong Nobita dengan berbagai peralatan canggih di kantong ajaibnya. Lambat laun keduanya mulai akrab sampai tiba waktunya Doraemon harus kembali ke masanya sekaligus melepaskan Nobita hidup mandiri. 












Secara plot, feature movie terbaru ini tidak memiliki masalah samasekali bagi para pembaca setia Doraemon. Namun bagi penonton yang samasekali awam rasanya akan sulit mencerna karena minimnya pengenalan latar belakang setiap karakter kunci yang digambarkan lewat satu dua kejadian sehari-hari saja. Beruntung eksplorasi chemistry antara Doraemon dan Nobita atau Nobita dan Shizuka terbilang berhasil dimaksimalkan sehingga amat membantu pergerakan momentum rasa dari A ke B dan seterusnya di sepanjang durasi. Tuntunan rasa yang begitu kontradiktif di paruh awal dan akhir pun mampu dicapai dengan baik.

Secara teknis, penggambaran karakter Shizuka lah yang terasa agak berbeda karena matanya dibuat lebih besar dan dagu yang lebih tajam. Sedangkan Doraemon dan Nobita mengandalkan bentuk iris mata yang variatif selain tentunya mulut untuk ‘berbicara’. Teknik animasi 3DCG terbilang efektif dalam menerjemahkan visual yang diinginkan, lengkap dengan kontras warna-warni yang dipilih sedemikian rupa. Penggambaran setting masa depan yang futuristik dan juga perjalanan mesin waktu yang spektakuler memikat adalah dua poin plus yang membuat anda wajib menyaksikan ini di layar lebar! Tanpa perlu dipertanyakan, efek 3D jelas akan menambah daya tariknya.

Dubbing yang dilakukan Wasabi Mizuta, Megumi Ohara, Yumi Kakazu dan kawan-kawan mampu menerjemahkan emosi dalam menghidupkan karakter masing-masing. Penggarapan scoring music terutama pada bagian sedih efektif menggugah perasaan penonton untuk menggulirkan air mata. Lagu tema, Himawari no Yakusoku yang dinyanyikan Motohiro Hata bisa jadi akan tinggal lama di benak anda, terlebih ketika menyaksikan end credit roll dimana suguhan rangkaian bloopers kocak akan menahan anda untuk tetap duduk di bangku bioskop.
Stand By Me Doraemon adalah sebuah pemenuhan fantasi sekaligus perjalanan nostalgia yang kompeten, ditujukan bagi semua orang yang pernah mengalami masa kanak-kanak. Mengapa tidak? Pada satu titik, mungkin anda pernah menjadi Nobita, Shizuka, Giant, Suneo ataupun Dekisugi. Bagaimana persahabatan mampu menjelma sebagai kekuatan yang mendorong kita untuk tumbuh bersama. Bagaimana tekad tinggi bisa menjadi modal utama dalam menaklukkan rasa takut sekaligus meraih mimpi semustahil apapun. This movie is about growing-up and leaving childhood behind, with or without ‘it’!

Durasi:
95 menit

Overall:
8.5 out of 10


Movie-meter:

Selasa, 23 September 2014

TABULA RASA : Sajian Beriktikad Baik Menggugah 'Rasa’



Quote:
Natsir: Aneh-aneh sajo rumah makan kito ini. Lebih banyak bertengkarnyo daripada memasaknyo.

Nice-to-know:
Film yang proses syutingnya berlangsung selama 30 hari dari Jan-Feb 2014 dimana lokasi mencakup Jakarta, Cileungsi-Bogor dan juga Serui-Papua ini menandakan kali pertamanya aktor papan atas Indonesia, Vino G. Bastian bertindak sebagai associate producer.


Cast:
Dewi Irawan sebagai Mak
Jimmy Kobogau sebagai Hans
Yayu Unru sebagai Parmanto
Ozzol Ramdan sebagai Natsir


W For Words:
Jika anda diminta untuk menyebutkan film kuliner mancanegara yang berkesan mungkin akan hadir judul-judul semacam Eat Drink Man Woman (1994), Chocolat (2000), Mostly Martha (2001), No Reservations (2007), Le Grand Chef (2007) Julie & Julia (2009) atau bahkan animasi Ratatouille (2007) dan yang juga akan segera beredar yakni Chef (2014) milik Jon Favreau. Tak jarang seusai menonton ada rasa hangat, dan juga lapar yang menyertai karena keberhasilan filmmaker mengemas produk tersebut. Kini pada kuartal ketiga tahun 2014 ini hadirlah persembahan terbaru dari Lifelike Pictures dengan tema serupa tapi tak sama. Penasaran?

Pemuda asal Serui, Hans bercita-cita menjadi pesepakbola profesional tapi kondisi kakinya tidak mengijinkan itu. Putus asa setelah bekerja serabutan, ia berjumpa Mak yang membawanya ke rumah makan Minang sederhana miliknya. Keputusan tersebut lantas ditentang oleh juru masak, Parmanto dan sang pelayan, Natsir. Namun Mak bertahan, bahkan mengajarkan Hans memasak. Kehadiran rumah makan baru yang lebih besar di depan mereka membuat keempatnya harus menyelesaikan perselisihan yang ada demi kelangsungan lapau mereka yang terancam bangkrut tersebut. 

Skrip yang ditulis oleh Tumpal Tampubolon ini sejak menit awal memang langsung memperkenalkan empat karakter utama kepada penonton dengan segala keunikan karakternya masing-masing. Sutradara Adriyanto Dewo juga secara terampil membatasi ruang ‘bermain’ mereka yaitu restoran Padang dan pasar saja sehingga fokus cerita tidak lari kemana-mana. Bagaimana hubungan kekerabatan dapat terjalin harmonis melalui percikan konflik pertemuan budaya Minang dan Papua ataupun motif uang yang (lagi-lagi) mengiringinya. Toh pada akhirnya kebutuhan sosial antar manusia tidak dapat dipungkiri. 

Debutan Jimmy Kobogau tampil menawan. Terlepas dari kepingan hilang dari latar belakang tokoh ini pada prolog nya, Hans terus ‘berjalan’ membangun jati dirinya di sepanjang film. Akting Dewi Irawan tidak perlu diragukan lagi sebagai Mak yang tengah berupaya berdamai dengan masa lalunya yang pilu. Ozzol Ramdan mungkin tokoh yang paling ‘lempeng’ di sini tetapi justru paling efektif menggugah tawa penonton dengan segala polah tingkahnya. Sedangkan Yayu Unru diplot sedemikian rupa untuk menjadi ‘pemicu’ walau tidak mencapai titik ekstrim sekalipun. Ada sinergi yang berkesinambungan antara satu sama lain sehingga penonton bisa mengikuti secara runut sekaligus peduli kepada karakter mereka. 

Kita patut bersyukur bahwa produser Sheila Timothy, yang memang saya kenal amat mencintai dunia kuliner Indonesia ini, mau bersusah payah membangun iktikad baik bersilaturahmi lewat masakan dalam film kuliner lokal pertama dengan menu andalan gulai kepala ikan dan rendang Batokok ini. Serangkaian proses riset menyeluruh mulai dari Minang hingga Serui pun dijalani, lengkap dengan segala pernak-pernik otentik yang ditampilkan dalam dapur rumah makan Minang Takana Juo tersebut. Alhasil, Tabula Rasa adalah sebuah sajian yang menggugah ‘rasa’, baik secara istilah maupun harfiah, yang tak hanya memanjakan selera tetapi juga sukses menyentuh kalbu anda.

Durasi:
107 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Originally written for Reader's Digest Indonesia. This review also can be found at:

Sabtu, 22 Maret 2014

DIVERGENT : Defying All Odds For Self-Discovery

Quote:
Beatrice 'Tris' Prior: And what if they already know?
Tori: Then you're already dead.


Nice-to-know:
In The Fault in Our Stars (2014), Shailene
dan Ansel memerankan sepasang kekasih sedangkan kali ini sebagai kakak beradik.

Cast:
Shailene Woodley sebagai Tris
Theo James sebagai Four
Ashley Judd sebagai Natalie
Jai Courtney sebagai Eric
Ray Stevenson sebagai Marcus
Zoë Kravitz sebagai Christina
Miles Teller sebagai Peter
Tony Goldwyn sebagai Andrew
Ansel Elgort sebagai Caleb
Maggie Q sebagai Tori
Mekhi Phifer sebagai Max
Kate Winslet sebagai Jeanine 


Director:
Merupakan feature film kelima bagi Neil Burger setelah Limitless
(2011).

W For Words:
Kesuksesan novel-novel remaja yang berintisari pencarian jati diri memang memicu pergerakan para filmmaker Hollywood untuk mengadaptasinya ke layar lebar dengan harapan hasil yang tak jauh berbeda, sebut saja The Hunger Games, Harry Potter series ataupun Twilight saga yang sangat high profile tersebut. Trend itu lantas dilanjutkan oleh Neil Burger yang mengangkat karya pertama Veronica Roth dari rangkaian trilogi sebagai sci-fi action drama yang sejauh ini berhasil meraup 58 juta dollar di minggu pertama peredaran Amerika Serikat saja. It’s a pretty good start actually!

Chicago di masa depan paska peperangan membagi masyarakatnya ke dalam lima faksi yaitu Candor (penjunjung kejujuran), Erudite (cendekiawan), Dauntless (pemberani), Amity (pecinta kedamaian) dan Abnegation (penolong tanpa pamrih). Tes yang dijalani Beatrice Prior di usia 16 mengelompokkan dirinya sebagai Divergent alias golongan di luar kelima faksi yang berarti hukuman mati. Keputusan nekad diambil ketika ia bergabung dengan Dauntless dan mengganti nama menjadi Tris hingga bertemu pemimpin kelompok, Four yang membantunya dengan tulus.

Duo penulis skrip, Evan Daughterty dan Vanessa Taylor berupaya semaksimal mungkin untuk mengatur pacing di bagian pembuka ini. Bagaimana premis dibuka lewat proses introduksi sosial politik masyarakat ‘masa depan’ sekaligus penjelasan latar belakang beberapa tokoh inti yang memadai. Kemudian serangkaian tes ekstrim yang diyakini mampu menyita perhatian pun dijalankan dimana keberpihakan penonton langsung diarahkan kepada Tris yang ‘baru’ sebelum sepak terjangnya di paruh terakhir yang terasa berpacu dengan waktu demi konklusi besar yang diharapkan mampu menjembatani seri berikutnya. 

Upaya sutradara Burger dalam membangun dunia futuristik patut diacungi jempol mengingat bujet yang tidak tergolong besar untuk sebuah proyek ambisius milik Summit Entertainment ini. Terima kasih atas bantuan green screen dan CGI yang walaupun sebetulnya tak terlalu istimewa tapi tetap menjaga standarisasi surreal yang dibutuhkan. Sinematografi yang cukup apik dari Alwin H. Küchler membuatnya layak disaksikan dalam format IMAX sekalipun. Berbagai action sequences nya dilakukan sesuai kebutuhan cerita agar pacingnya terjaga mengingat durasi film yang lumayan panjang tersebut.

Senang melihat Woodley akhirnya mendapat kesempatan bersinar setelah sebelumnya mencuri perhatian dalam The Descendants (2011). Lihat bagaimana Beatrice bertransformasi menjadi Tris dengan rentang emosi yang cukup panjang. Seorang heroine yang tak hanya cantik tapi juga berani menerima tantangan. James juga tak kalah memikat sebagai Four yang dingin misterius tapi cekatan luar biasa. Chemistry keduanya memang tak jarang terasa dipaksakan demi membumbui cerita. Toh pada akhirnya kita 'wajib' mengerti jika perjalanan dua protagonis saling jatuh hati tentunya akan lebih menarik untuk disimak.

Menarik menyaksikan Winslet berperan sebagai antagonis Jeanine terlepas dari minimnya screen presence di sepanjang film. Porsi yang sama juga berlaku pada sederetan nama beken senior lainnya semisal Judd, Maggie Q, Stevenson, Goldwyn dan Phifer meski nama yang tersebut di awal masih lumayan memorable. Sedangkan bintang-bintang muda semacam Courtney, Kravitz, Elgort, Lloyd-Hughes, Madsen dll boleh dibilang kian memperkaya karakterisasi hitam putih dalam seri pembukanya kali ini.

Terlepas dari problem pacing yang bergerak lambat di paruh awal dan cepat di paruh akhir, Divergent bukanlah film yang buruk. Penonton potensial yang tertarik mengikutinya bisa jadi berkali-kali lipat dari jumlah pembaca bukunya itu sendiri. Tak heran karena karakter utama yang simpatik dan juga dunia rekaan yang atraktif niscaya menjadi daya pikat tersendiri. Saya yakin petualangan akan terus berlanjut hingga Insurgent dan Allegiant yang diharapkan secara kualitas akan membaik. Who’s in her path for finding self-identity by defying all odds to create a better world?

Durasi:
139 menit

U.S. Box Office:
$58,000,000 till Mar 2014

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 28 November 2013

SAGARMATHA : Crossroad Of Friendship

Tagline:
Two dreams at a cross-road.

Nice-to-know:
Sagarmatha adalah istilah Nepal untuk Puncak Everest.

Cast:
Nadine Chandrawinata sebagai Shila
Ranggani Puspandya sebagai Kirana

Director:
Merupakan feature film debut bagi Emil Heradi setelah beberapa film pendek sebelumnya.

W For Words:
Belakangan ini rasanya filmmaker lokal mulai rajin mengangkat keindahan alam dan aktifitas yang terkait dengannya. Jika beberapa waktu lalu ada 5 CM yang mengambil setting Jawa Timur dimana lima sahabat melakukan pendakian gunung Mahameru, atau Laura dan Marsha yang melancong ke Eropa, maka kali ini Sinema Kelana, Cangkir Kopi dan Add Word Productions berkolaborasi dalam memproduksi film yang berlatar Nepal dengan ‘hanya’ dua aktris utama berinteraksi di sepanjang durasinya. It would be mixed plots from those previous titles i’ve mentioned and kind of interesting to follow.

Bersahabat semenjak kuliah, Shila dan Kirana adalah dua karakter yang berbeda serta memiliki hobi yang berlainan pula yaitu menuls dan fotografi. Kesamaan keduanya adalah senang mengeksplorasi alam hingga sepakat melakukan perjalanan ke Nepal dan berakhir dengan mendaki pegunungan Himalaya. Sepanjang perjalanan, mereka mulai mempertanyakan arti hidup, pertanyaan-pertanyaan seputar cinta, kedewasaan dan harapan sebelum tiba pada satu titik dimana berpisah menjadi pilihan yang sulit terhindarkan

Banyak filmmaker yang memulai karirnya dari film pendek mengalami kesulitan ketika menjalani proses transisi ke film panjang. Tanpa terkecuali Damas Cendekia dan Emil Heradi. Tiga kerjasama mereka sebelumnya lewat Negeri Maling (2008), Fronteira (2009) dan Kita Vs Korupsi (2012) mungkin belum cukup. Saya cukup penasaran skrip Damas pada kesempatan ini terdiri dari berapa scenes karena tidak terasa ‘moving’ baik dari penyajian konflik maupun penyelesaiannya. Konten dialog yang minim pun harus diakui kurang berhasil menyampaikan ‘sesuatu’ kepada penontonnya.

Sedangkan Emil terjebak pada kebimbangan presentasinya, mau dibawa real atau absurd sekalian. Banyak sekali inkonsistensi fakta yang terjadi antara Shila dan Kirana di sepanjang film. Jika saya harus beberkan di sini mungkin akan mengurangi unsur kejutannya. Let viewers find out themselves. Beruntung scoring apik ala Asia Selatan dari Yovial Tripurnomo Virgi bekerja efektif mengiringi adegan demi adegan yang lebih terkesan pamer fotografis tersebut. Selain tentunya inisiatif DOP, Anggi Frisca dalam memotret ‘kumuh’ nya Nepal secara apa adanya.

Pada akhirnya Sagarmatha merupakan panggung akting Nadine dan Ranggani. Keduanya mencoba dan hasilnya tidak begitu buruk mengingat lemahnya karakterisasi dan miskinnya skenario yang tampak terlalu sibuk dalam upayanya menghadirkan ‘wow’ di penghujung cerita. Yes, we have to wait that long for such twist. Something that common viewers might not be patient enough and choose to leave before end credits. Saya lebih menghargai apabila sejak awal dijadikan film dokumenter perjalanan saja. Setidaknya orang tahu harus berharap apa selama lebih dari satu setengah jam mengikutinya.

Durasi:
98 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 17 November 2013

SNOWPIERCER : Post-Apocalyptic Train Ride You Shouldn’t Miss

Tagline:
AD 2031: the passengers in the train are the only survivors on Earth.

Nice-to-know:
Berdasarkan novel grafis Perancis, "Le Transperceneige" yang ditemukan sutradara Bong Joon-ho pada akhir tahun 2004 sewaktu pre-produksi The Host.

Cast:
Chris Evans sebagai Curtis
Tilda Swinton sebagai Mason
Jamie Bell sebagai Edgar
Song Kang-ho sebagai Namgoong Minsu
Ed Harris sebagai Wilford
John Hurt sebagai Gilliam
Octavia Spencer sebagai Tanya
Ko Ah-sung sebagai Yona

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Bong Joon-ho setelah Mother (2009).

W For Words:
Jakarta International Film Festival, dikenal dengan sebutan Jiffest, yang kembali setelah absen 2 tahun bekerjasama dengan JIVE memang thoughtful dalam menyelenggarakan Retrospective Bong Joon-ho dimana empat film sutradara kebanggaan Korea tersebut diputar tepat sebelum Asian premiere film yang satu ini di Blitzmegaplex Grand Indonesia! Tak berlebihan mengingat reputasi Bong apalagi Snowpiercer adalah film Korea paling ditunggu tahun 2013. Sebuah joint venture SnowPiercer, Moho Films, Opus Pictures, Stillking Films dan CJ Entertainment yang menghabiskan bujet nyaris 40 juta dollar!

Tahun 2031, global warming nyaris menewaskan segala bentuk kehidupan di planet ini terkecuali mereka yang tergabung dalam perjalanan mengelilingi bumi dengan kereta Snowpiercer milik konglomerat Wilford. Diantaranya adalah Curtis, Edgar dan si lengan satu Gilliam, penghuni kasta rendah di bagian belakang yang berupaya memicu gerakan revolusi. Kemudian bergabung Namgoong Minsu dan putri kecilnya Yona dimana kepala sipir Mason menjadi sasaran awal sebagai sandera berharga. Berhasilkah mereka menerobos hingga bagian depan yang menawarkan lebih?

Komik Le Transperceneige (1982-2000) yang ditulis oleh trio Jacques Lob, Benjamin Legrand dan Jean-Marc Rochette ini menjadi inspirasi Boon dan Kelly Masterson dalam menulis skenarionya. Bagaimana sains fiksi paska kiamat pada akhirnya membentuk landasan bertutur dalam mengetengahkan konflik hierarki sosial yang kental. Perjuangan mencapai apa yang menjadi tujuan itupun terasa menarik akibat persinggungan beragam karakter yang berbeda kepentingan. Perlawanan terhadap penguasa tak jarang menyasar pada pilihan hidup atau mati. Semua itu tersaji dalam durasi 126 menit!

Sutradara Bong mampu melepaskan atribut tipikal film Korea dalam karya terbarunya ini. Tak ada ruang untuk polemik cinta antar dua insan ataupun eksploitasi hubungan antar keluarga seperti biasanya. Murni bercitarasa blockbuster ala Hollywood dengan CGI yang memuaskan sesuai kebutuhan. Visinya didukung penuh oleh DOP, Hong Kyung-pyo yang cekatan. Desain produksi Ondrej Nekvasil pun teramat detil dalam membangun imajinasi penonton. Kinerja editor Steve M. Choe dalam penyusunan sekuens adegan juga begitu rapi. Musik dari Marco Beltrami turut memperkuat storytelling nya.

Jika anda pikir anda tahu siapa yang akan menjadi last man standing di sini. Nanti dulu. Banyak kejutan yang terjadi di sepanjang ‘perjalanan’. Yang jelas Swinton menjadi favorit saya. Tokoh Mason yang powerful tapi clumsy itu terasa begitu kontras untuk mengambil simpati atau antipati sekalipun. Evans berhasil mengubah imej nya dengan peran Curtis yang ambisius tapi tetap penuh perhitungan. Sebaliknya peran Edgar yang gegabah mampu dihidupkan dengan pas oleh Bell. Kapabilitas Hurt, Harris, Spencer yang kaliber Oscar rasanya tak perlu diragukan lagi. Aktor kesayangan Bong, Song sukses mewakili ras kuning sebagai Minsu yang unpredictable.

Terlepas dari perbandingan dengan medium novel grafis nya kelak, Snowpiercer versi film ini tetaplah sebuah breakthrough dari negeri ginseng yang patut diapresiasi. Penggunaan multi bahasa tidak sampai mengganggu tetapi menegaskan international taste nya. Bong’s really deserved praise for his efforts in this remarkable sci-fi with humanity value. Only few flaws the movie has to deal with, weak backgrounds of several main characters and exterior CGI through the snowy post-apocalyptic world . People will questioning its’ ending but for me it’s picture perfect. Definitely a train ride you shouldn’t miss with a lot of things to admire!

Durasi:
126 menit

U.S. Box Office:
$1,939,441 till
Jul 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Sabtu, 16 November 2013

KILLER TOON : Promising But Overstretched Final Act

Original title:
Deo Web-toon: Ye-go Sal-in

Nice-to-know:
Film horor Korea Selatan pertama yang menjual lebih dari satu juta tiket semenjak Death Bell (2008).

Cast:
Lee Si-young sebagai Ji-yoon
Uhm
Ki-joon sebagai Lee Gi-cheol
Kim
Hyeon-woo sebagai Yeong-soo
Moon Ga-young
Kwon
Hae-hyo
Oh
Kwang-rok


Director:
Merupakan film keempat bagi Kim Yong-gyun setelah The Sword with No Name (2009).

W For Words:
Gambar fiktif yang kemudian menjadi kenyataan. Rasanya baru beberapa bulan lalu, Korea menyuguhkan The Gifted Hands alias Psychometry yang dibintangi oleh Kim Kang-woo dan Kim Beom. Kini hadir persembahan Filma Pictures dan CJ Entertainment dengan aktris Lee Si-young dan Moon Ga-young. Yang satu mengambil obyek grafitti sedangkan yang lain komik. Perbedaannya mungkin hanya pada penekanan hubungan interpersonalnya saja, cowok dengan cowok, cewek dengan cewek.  Tentu menghasilkan sudut pandang yang juga berbeda. Curious?
Komikus wanita Ji-yoon tengah menikmati kesuksesannya dengan menandatangani kontrak baru bernilai tinggi. Satu kasus pembunuhan misterius yang disinyalir meniru apa yang terjadi pada komiknya membuat Ji-yoon lantas menjadi tersangka utama. Detektif Ki-cheol dan asistennya Yeong-soo segera melakukan interogasi tapi tidak ditemukan bukti yang cukup kuat. Seiring penyelidikan berjalan, masa lalu Ji-yoon pun terkuak dimana perjuangannya untuk mencapai status seperti sekarang tidaklah mudah. Sementara itu korban lain mulai berjatuhan.
Penulis skrip sekaligus produser film, Lee Sang-hak sesungguhnya sudah memulai dengan baik apalagi opening act nya lumayan menggebrak dimana sederetan gambar horor mampu meneror pikiran penonton. Namun memasuki paruh kedua, Lee mulai memainkan trik lawas yaitu balas dendam dan perasaan bersalah ketika rahasia gelap mulai terbongkar. Belum lagi dramatisasi ‘kekeluargaan’ yang biasanya menjadi identitas film Korea. Kian diperburuk dengan twist after twist after twist yang terlalu dipaksakan menjelang endingnya, seakan memaksa penonton merasa tertipu mentah-mentah.
 
Sutradara Yong Kyun tampak menguasai trik ‘horor’ secara maksimal. Timing dan atmosfir yang dibangun berhasil mencekam penonton di beberapa bagian. Sedangkan sisi gore dan violence nya disuguhkan dengan efektif tanpa melulu terkesan eksplisit. Setting gothic dengan pemilihan tone warna yang variatif semakin ciamik dengan pemanfaatan lighting yang tepat. Elemen terpenting yang juga gemilang ditanganinya adalah tampilan sekuens komik yang bisa jadi membuat bulu kuduk anda berdiri. Visualisasi film secara keseluruhan mampu menutupi segala kekurangan yang ada.
Si-young yang filmografinya didominasi genre drama romantis kali ini menjadi nyawa film dimana terjadi pergeseran karakteristik tokoh Ji-yoon yang cukup signifikan. Ki-joon, Hyeon-woo, Ga-young juga tidak mengecewakan meskipun harus menjalani penokohan nan klise. Killer Toon yang sempat merajai box-office Korea tahun ini mungkin bisa dimaafkan atas ketidakmaksimalannya dalam upaya menyajikan horor thriller modern yang fresh dan mindbending. Blame the overstretched final act with unimportant conclusion. Well, at least they try. It’s still above average for such Asian’s similar genres.

Durasi:
104 menit

Asian Box Office:
₩7.79 billion in Korea

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 09 November 2013

CARRIE : Revenge Ain't Always Best Served Cold

Quote:
Carrie White: The other kids, they think I'm weird. But I don't wanna be, I wanna be normal. I have to try and be a whole person before its to late.

Nice-to-know:
Adaptasi film pertama dimana tokoh Carrie benar-benar dimainkan oleh remaja, Chloe Grace Moretz yang berusia 15 tahun. Terdahulu Sissy Spacek dan Angela Bettis masing-masing berusia 26 tahun dan 28 tahun.

Cast:
Chloë Grace Moretz sebagai Carrie White
Julianne Moore sebagai Margaret White
Gabriella Wilde sebagai Sue Snell
Portia Doubleday sebagai Chris Hargensen
Alex Russell sebagai Billy Nolan
Zoë Belkin sebagai Tina
Ansel Elgort sebagai Tommy Ross


Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Kimberly Peirce yang mulai angkat nama lewat Boys Don’t Cry (2006).

W For Words:
Carrie White adalah siswi SMU pemalu yang kesulitan bergaul. Dunianya hanya diisi oleh ibunya semata, Margaret White, wanita relijius berprofesi penjahit yang merasa terkhianati oleh cinta di masa lampau. Kejadian menstruasi pertamanya di toilet sekolah membuat Carrie jadi buah bibir sekaligus bahan celaan teman-temannya terutama siswi bermasalah, Chris Hargensen dan kekasihnya, Billy Nolan. Sue Snell yang merasa bersalah mengutus pacarnya Tommy Ross yang juga idola sekolah untuk mengajak Carrie ke prom night. Mimpi buruk pun dimulai dimana kekuatan telekinesis Carrie akan mengambil alih. 

Ada dua nama besar yang sudah membesarkan Carrie. Satu adalah Stephen King yang pertama kali mengangkat kisah fiktifnya ke dalam novel di tahun 1974 yang lantas menjadi best seller dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Dua adalah Brian De Palma yang sukses mengadaptasinya dengan bintang Sissy Spacek yang kemudian menerima nominasi Oscar pertamanya sebelum berjaya pada kesempatan berikutnya lewat Coal Miner’s Daughter (1980). Kini lebih dari tiga puluh tahun berlalu, MGM Pictures bekerjasama dengan Screen Gems dan Misher Films meremakenya dengan bekal yang menjanjikan dari tiga nama.

Pertama, Chloë Grace Moretz adalah the next big thing in Hollywood dengan kemampuan aktingnya yang terakreditasi. Walaupun banyak pihak yang mengatakan ia terlampau cantik untuk peran Carrie White, setidaknya usia gadis kelahiran 1997 ini benar-benar remaja saat syuting berlangsung. Pilihan yang terbukti tidak rancu karena saya benar-benar melihat transformasi dari korban tak berdaya menjadi pelaku berkuasa di sini, bukan hanya secara fisik tetapi juga segi emosionalnya yang cukup matang berbicara di layar.

Kedua, Julianne Moore adalah aktris kaliber Oscar dengan empat nominasi. Ia diyakini akan menjadi penyanding yang pas bagi Moretz. She performed great. Sisi lunatic psychotic nya terwujud nyata lewat setiap tindakan dan perkataannya. Sosok Kristen taat yang kerap menghubungkan segala sesuatunya dengan Tuhan dan iblis secara kontradiktif. Wilde dan Doubleday berhasil menempati posisi berseberangan secara brilian. Elgort juga terbilang likeable sebagai Tommy yang mulai terdistraksi oleh perasaannya sendiri. Greer juga mencuri perhatian sebagai pihak ketiga di sekolah, Ibu Desjardin yang juga pengajar olahraga.

Ketiga, Kimberly Peirce yang 14 tahun silam menghentak dunia dimana film yang ditulis dan disutradarainya sendiri, Boys Don’t Cry (1999) sukses menyabet Oscar baginya. Skrip yang ditulis oleh Lawrence D. Cohen dan Roberto Aguirre-Sacasa ini berupaya dimodernisasi dengan pemakaian ponsel berkamera dan media Youtube sebagai alat eksploitasi. Namun Peirce seakan menyandang beban berat apalagi harus berurusan dengan efek khusus yang terkadang bertentangan dengan spirit indie nya. Bagi saya apa yang dilakukannya secara detail dari awal sampai akhir masih terlalu episodik dibandingkan originalnya sehingga kerap terasa jumpy dan inconsistent.


Terlepas dari segala kekurangannya, remake Carrie yang satu ini tetap berhak mendapatkan spotlight yang diharapkannya. Tidak akan terlalu bersahabat bagi mereka yang mengenal betul versi originalnya tetapi lumayan menjanjikan bagi penonton ‘generasi baru’. Faktor kesetiaan dengan pendahulunya di departemen storytelling tampak berusaha diupgrade dengan tampilan visualnya yang lebih kekinian. Unsur gory dan violence yang diusungnya sedikit berpihak pada elemen horor dibandingkan thriller. For me it’s still haunting to see payback time where revenge ain't always best served cold.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$34,050,775 till Nov 2013

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 02 November 2013

THOR : THE DARK WORLD Surprisingly Better Asgard Tryouts


Quote:
Loki: After all this time, now you come to visit me, brother? Why? To mock?
Thor: I need your help. And I wish I could trust you...
Loki: If you did, you'd be the fool I always took you for.

Nice-to-know:
Terdapat 30 macam palu yang digunakan Thor dengan berat yang beragam untuk kepentingan yang berbeda.

Cast:
Chris Hemsworth sebagai Thor
Natalie Portman sebagai Jane Foster
Tom Hiddleston sebagai Loki
Anthony Hopkins sebagai Odin
Christopher Eccleston sebagai Malekith
Jaimie Alexander sebagai Sif
Zachary Levi sebagai Fandral
Ray Stevenson sebagai Volstagg
Tadanobu Asano sebagai Hogun
Idris Elba sebagai Heimdall
Rene Russo sebagai Frigga


Director:
Alan Taylor mulai angkat nama setelah menyutradarai The Emperor's New Clothes (2001).

W For Words:
Superhero andalan Marvel Comics yang ruang lingkup sebenarnya bukan di bumi yakni Thor kembali lagi. Bukan hanya pendapatan nyaris 200 juta dollar di Amerika Serikat dan sekitarnya saja yang menjadi alasan utama Marvel Entertainment dan Marvel Studios melanjutkannya meski tanpa Paramount Pictures. Namun lebih karena fanbase nya yang tidak sedikit dan memiliki loyalitas tinggi. Jadi tidak usah heran jika dua atau tiga tahun lagi anda akan menemukan seri lainnya. Apalagi kali ini Loki telah menjelma menjadi daya tarik tersendiri. At the end of the day, you will agree with this!

Ketika merindukan Thor yang sudah pergi tanpa kabar selama bertahun-tahun, Jane Foster malah menemukan senjata kuno berkekuatan besar, the Ather yang secara tidak langsung membangunkan Malekith dan armada Dark Elf nya yang selama ini menjadi musuh utama kaum Asgard. Lantas Thor mau tidak mau bekerjasama dengan adiknya, Loki yang sebetulnya tengah menjalani masa hukuman di penjara. Mereka harus bahu membahu memerangi musuh sebelum keseimbangan alam semesta terganggu dan menghancurkan segala isinya.

Cerita yang digagas Don Payne dan Robert Rodat berdasarkan komik karya Stan Lee, Larry Lieber dan Jack Kirby ini kemudian digarap oleh Christopher Yost, Christopher Markus dan Stephen McFeely ke dalam format skenario. Hasilnya? Konsep paralelisme Bumi dan Asgard terjembatani dengan cerdas tanpa membuat penonton mengernyitkan dahi karena kebingungan. Ragam karakteristik nan unik juga menjadi poin plus. Apalagi chemistry antar tokohnya yang tergolong memikat terutama antara Thor dan Loki yang mengalami pergeseran emosional dari awal sampai akhir.

Sutradara alumni Game of Thrones, Alan Taylor tampaknya tahu betul apa yang harus dilakukannya dalam installment ini, terlebih melanjutkan ‘peristiwa’ yang terjadi dalam The Avengers (2012). Tanpa bermaksud mengecilkan peranan Branagh sebelumnya, The Dark World mungkin lebih gelap tetapi justru lebih ringan untuk dinikmati. Terima kasih pada beberapa bagian komedik yang sulit untuk tidak ditertawakan. Set pieces dan spesial efeknya terbilang mengesankan walaupun gimmick 3D nya tak terlalu diwajibkan bagi para moviegoers yang ingin sensasi lebih.

Besar kemungkinan Hiddleston akan menjadi fan-favorite dengan karakter Loki yang humoris, mempesona dan berperangai misterius. Lompatan fungsionalnya terhadap Thor series amat terasa signifikan. Kendati demikian kharisma Hemsworth tidak sepenuhnya tertutupi. Ketangguhan dan sifat kepahlawanannya tetaplah menonjol. Ketidakpeduliannya terhadap kekuasaan diyakini kian menggugah simpati anda. Duet Dennings dan Howard cukup mencuri perhatian. Si cantik Portman juga tidak bisa diabaikan begitu saja karena masih memegang peranan penting. Sama halnya dengan Elba dan Skarsgård.

Menilik dari trailer yang awalnya tidak terlalu membangkitkan selera itu, pada akhirnya Thor : The Dark World menjadi presentasi yang cukup memuaskan bagi saya. Lupakan sisi antagonis yang terkesan kurang tergarap walakin Eccleston samasekali tidak bermain buruk. Toh rentetan aksinya tetap terjaga intensitasnya sampai penghujung film. Kiprah Thor dengan ‘palu’ yang menggebrak serta Loki yang unpredictably eccentric adalah jaminan yang tak boleh dilewatkan sekaligus membuka pintu Marvel Universe yang diharapkan kembali dengan grande idea yang lebih menjanjikan lagi dalam Age of Ultron. Don't forget post credit-title in the middle and the very end!

Durasi:
112 menit

U.S. Box Office:
$146,965,000 till mid November 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 26 Oktober 2013

ABOUT TIME : Poignant Movie About How To Make Time


Quote:
Tim: Lesson Number One: All the time traveling in the world can't make someone love you.

Nice-to-know:
Film ketiga Rachel McAdams menjadi love interest seseorang yang bisa mengarungi waktu setelah The Time Traveler's Wife (2009) dan Midnight In Paris (2011).

Cast:
Domhnall Gleeson sebagai Tim
Rachel McAdams sebagai Mary
Bill Nighy sebagai Dad
Lydia Wilson sebagai Kit Kat
Lindsay Duncan sebagai Mum

Tom Hollander sebagai Harry
Margot Robbie sebagai Charlotte

Director:
Merupakan film ketiga bagi penulis Richard Curtis yang memulai debut penyutradaraannya lewat Love Actually (2003).

W For Words:
Karirnya yang panjang sebagai penulis skrip (kebanyakan) komedi romantis masa kini tak perlu diragukan lagi. Namun sebagai sutradara, Richard Curtis menghadapi situasi fifty-fifty dengan kesuksesan Love Actually (2003) dan kegagalan Pirate Radio a.k.a The Boat That Rocked (2009) ditilik dari angka box office nya. Saya yakin hanya sedikit di antara anda yang sudah menonton judul tersebut belakangan. Selayaknya salah satu dialog dalam About Time, dibutuhkan ‘anak ketiga’ untuk menentukan kredibilitas Curtis selanjutnya. Penasaran?

Di usia 21, Tim Lake diberitahu ayahnya bahwa setiap lelaki di garis keturunan keluarga mereka bisa menjelajah waktu. Dengan kemampuan barunya itu, harapan Tim sederhana yaitu mendapatkan seorang kekasih. Awalnya ia jatuh hati pada Charlotte di sebuah musim panas. Namun memutuskan pergi ke London untuk mengejar cita-cita sebagai pengacara hingga bertemu Mary di sebuah ‘kencan buta’. Beberapa ‘pengulangan’ membuat romansanya sempurna. Mereka menikah dan dikaruniai putri bernama Posy. Sementara hidupnya berjalan, hidup orang-orang di sekeliling Tim pun berubah.

Skrip yang ditulis Curtis sendiri ini sesungguhnya terbagi dalam tiga chapter. Pertama, percintaan Tim dan Mary. Kedua, hubungan Tim dengan adiknya yang bermasalah, Kit Kat. Ketiga, interaksi Tim dengan ayahnya. Ketiga babak ini secara konstan menjelaskan hukum sebab akibat karena perjalanan waktu yang dilakukannya. Potret keluarga Inggris kelas menengah ditakar secara tepat dengan segala ‘ideology’ nya. Durasi yang cukup panjang seakan memberi ruang bagi penonton untuk perlahan-lahan mengenal multi karakter yang beraneka ragam tapi tidak lari dari sudut pandang Tim seorang.

Perpindahan dari satu waktu ke waktu lain terbilang smooth tanpa banyak detail penjelasan yang bisa jadi akan terlalu menggurui. Set awal tahun 2000an yang dominan di paruh pertama film terbangun sempurna. Sinematografer John Guleserian menjalankan tugasnya dengan baik dalam menangkap momen-momen penting. Lengkap mengiringi lagu-lagu hit pada masanya dari t.A.T.u., Sugababes, The Killers dll termasuk tembang lawas Il Mondo dari Jimmy Fontana. Tak ketinggalan scoring music dari Nick Laird-Clowes yang mengalun syahdu. Atau newhit milik Jon Boden, Sam Sweeney & Ben Coleman, How Long Will I Love You yang super catchy itu.

Gleeson menghidupkan tokoh Tim yang goofy dengan sempurna. Keegoisannya justru terasa manusiawi hingga tak sampai menghilangkan simpati penonton. Latar belakang Mary mungkin tidak cukup digambarkan tapi tak menghalangi McAdams untuk menampilkan sosok wanita muda charming yang insecure. Nighy masih membawakan gaya eksentriknya ke dalam figur ayah bijak. Wilson juga memikat sebagai Kit Kat yang lunatic. Sederetan cast lainnya juga terasa pas menjiwai peranannya masing-masing. 

About Time mungkin tidak sempurna sebagai time travel movie karena timeline yang tak jarang terkesan random. Namun sebagai film keluarga terbilang mumpuni. Ya, keluarga karena sesungguhnya berbicara tentang cinta secara universal, ayah anak, kakak adik, suami istri dsb. Abaikan posternya yang misleading itu. Sesuai dengan judulnya, message dari Curtis benar-benar tersampaikan kepada penonton. Kita begitu ingin memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat tanpa menyadari bahwa selalu ada alasan di balik setiap kejadian. On top of that, we should know how to love, how to live but the most important thing is how to cherish every single moment while you still have time.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$1,076,250 till
Nov 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter: