XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 07 Agustus 2015

MISSION : IMPOSSIBLE - ROGUE NATION Accomplished Continuation For The Franchise

Quote:
Benji Dunn: Let me guess. Presumed dead?
Ethan Hunt: Well tonight, I just made it official.


Nice-to-know:
Adegan dimana Hunt memanjat pesawat Airbus A400M yang sedang terbang 1,5 km di atas tanah dilakoni sendiri oleh Tom Cruise tanpa spesial efek dan stuntman.

Cast:
Tom Cruise sebagai Ethan Hunt
Jeremy Renner sebagai William Brandt
Simon Pegg sebagai Benji Dunn
Rebecca Ferguson sebagai Ilsa Faust
Ving Rhames sebagai Luther Stickell
Sean Harris sebagai Solomon Lane
Simon McBurney sebagai Atlee
Zhang Jingchu sebagai Lauren
Tom Hollander sebagai Prime Minister
Jens Hultén sebagai Janik Vinter
Alec Baldwin sebagai Alan Hunley

Director:
Merupakan film ketiga bagi Christopher McQuarrie setelah Jack Reacher (2012).

W For Words:
19 tahun sudah semenjak Tom Cruise membangkitkan kembali franchise yang dimulai dari inisiatif Bruce Geller lewat serial televisinya pada tahun 1966. Sosok Ethan Hunt mungkin dapat diasosiasikan dengan James Bond, tokoh agen rahasia Inggris dengan skill yang lebih kurang mirip. Tidak salah karena masing-masing masih memiliki keistimewaan sendiri. Lantas apa lagi yang ingin dibuktikan Cruise, superstar Hollywood yang sudah berusia 53 tahun ini, melalui misi-misi mustahil berbahaya? Well, it’s not up to me or even you to answer that. Let’s just sit and enjoy the show like any other viewers.

Ketika tengah menyelidiki Syndicate yang diduga menjadi dalang kekacauan internasional karena berisikan teroris-teroris terlatih, Hunt tertangkap dan menjalani penyiksaan. Di luar dugaan, anggota organisasi rahasia tersebut, Ilsa malah membantunya melarikan diri. Hunt pun menjadi buronan CIA yang menyangkal keberadaannya. Boss IMF, Brandt tanpa sepengetahuan Direktur CIA, Hunley menugaskan Benji dan Luther untuk menemukannya lebih dulu. Permainan kucing tikus penuh tipu daya itu lantas berujung pada penangkapan Perdana Menteri Inggris di London.













Nama McQuarrie sebagai penulis skrip handal mulai diperbincangkan usai menyabet Oscar dalam The Usual Suspect (1995). Skrip yang dikembangkan dari gagasan dirinya bersama Drew Pearce ini memang terbilang brilian dengan three-act structure yang cukup efektif. Setup-setup familiar dalam setiap misi Hunt muncul kembali, hanya saja beberapa puntiran cerdas menjadikannya fresh dan tidak mudah ditebak begitu saja. Pendalaman setiap karakter baru (maupun lama) dalam film ini justru terjadi di tengah-tengah, seakan penonton diberi nafas usai disuguhi opening yang breathtaking tersebut.

McQuarrie sebagai sutradara tidak berupaya menjadikan installment kelima ini another globe trotting spy action movie. Setting dari Malaysia, Austria, Morocco hingga UK masih tergolong sesuai dengan kebutuhan cerita tanpa harus overexposed. Teknologi mutakhir lewat gadget-gadget canggih memang ada tapi tidak sampai terkesan spektakuler seperti sebelumnya. Sekuens aksi berpacu dengan waktu dan kebut-kebutan di jalan masih dipertahankan demi menjaga adrenaline anda. Adegan paling memorable buat saja adalah di gedung opera Vienna. Who can resist classical orchestra?















Fisik yang tidak seprima dulu membuat Cruise harus pandai-pandai mengatur segala jenis aksi yang dilakukannya. Well, he succeeded on and off the screen. Untungnya dominasi karakter Hunt tidak sampai mengesankan one man show dalam storytelling nya. Sang femme fatale, Ferguson jelas paling standout dalam jajaran cast sekuel ini. Betapa tidak, kecantikan dan kemolekan tubuhnya juga dibarengi dengan pesona akting dan fighting yang mumpuni. Pegg masih mempertahankan trademark komedinya yang spontan dan natural itu. Harris menunjukkan kelasnya sebagai villain berdarah dingin meski tanpa aksi faktual. Sedangkan Renner, Rhames dan Baldwin menempati posisi supporting masing-masing dengan pas.

Mission: Impossible – Rogue Nation sukses menjaga level ketegangan dan keingintahuan hingga akhir yang dibutuhkan oleh espionage thriller yang baik sambil mempertontonkan aksi-aksi mustahil di luar nalar yang sebelumnya sudah dicapai oleh sutradara-sutradara besar lainnya. Satu pencapaian McQuarrie yang patut mendapat acungan jempol adalah kembalinya kesan klasik nan elegan tanpa campur tangan CGI yang berlebihan di sini. All credit still goes to Cruise though. As we all agree to give him another impossible mission in the next two years!

Durasi:
131 menit

U.S. Box Office:
$74,743,725 till August 2015

Movie-meter:

Rabu, 05 Agustus 2015

DRISHYAM : When Right Versus Wrong Couldn’t Get Any Better


Tagline:
Visuals can be deceptive.

Nice-to-know:
Merupakan remake dari film Malayalam terlaris sepanjang masa berjudul sama.

Cast:
Ajay Devgn sebagai Vijay Salgaocar
Tabu sebagai Meera Deshmukh
Kamlesh Sawant sebagai Gaitonde
Shriya Saran sebagai Nandhani Vijay Salgaonkar
Rajat Kapoor sebagai Mahesh Deshmukh
Ishita Dutta sebagai Anju
Mrinal Jadhav sebagai Anu
Rishab Chaddha sebagai Sameer Deshmukh

Director:
Merupakan feature film keenam bagi Nishikant Kamat setelah Lai Bhaari (2014).

W For Words:
Jeethu Joseph adalah tokoh di balik suksesnya film Malayalam berjudul Drishyam (2013) yang kemudian dibuat ulang dalam versi Tamil berjudul Papanasam (Destruction of sins) dua tahun kemudian dimana Kamal Haasan dan Gauthami berupaya mengikuti jejak Mohanlal dan Meena. Pada waktu bersamaan, Nishikant Kamat mengerjakan remake yang persis sama dengan harapan melampaui pencapaian box-office sekaligus jumlah penonton. Tentu saja mengandalkan nama besar Ajay Devgn dan Tabu yang sedianya lebih dikenal luas baik regional maupun internasional.

Pengusaha jaringan teve kabel di desa terpencil Goa yang juga yatim piatu dan berpendidikan rendah, Vijay memiliki kecintaan tinggi terhadap film. Ia hidup bahagia bersama istrinya Nandhini dan kedua putri mereka Anju dan Anu. Saat remaja Sam yang juga putra dari Inspektur berdarah dingin Meera Deshmukh menghilang, keluarga Salgaonkar menjadi tersangka hingga harus menjalani proses interogasi panjang di bawah pengawasan polisi korup Gaitonde. Mampukah Vijay melindungi orang-orang tercintanya dari penguasa kejam? 














Skenario yang digagas oleh Upendra Sidhaye sedianya hanyalah pemendekan durasi dari versi originalnya. Pengenalan terhadap keluarga Salgaonkar dilakukan secara lebih cepat. Keyakinan penonton diarahkan untuk memihak kepada mereka apapun yang terjadi sehingga beberapa logika yang mengganggu tidak akan terlalu dihiraukan. Secara kontradiktif, pihak kepolisian dibuat demikian negatif di sini. Layer demi layer misteri yang terbuka harus diakui menarik untuk disimak walau harus menempatkan kebenaran di atas kesalahan sekalipun.

Devgn mungkin salah satu weakest link. Superioritas dirinya sebagai seorang superstar jelas mempengaruhinya untuk dapat sepenuhnya masuk ke dalam karakter Vijay yang membumi dan putus asa. Namun kita bisa melihat upaya maksimalnya. Saran sebagai istrinya hanya terlihat lebih tua beberapa tahun dari Dutta yang menjadi putrinya. Miscast? Sedangkan Sawant jelas paling berhasil memancing emosi penonton lewat sikap buruk dan ignorant Gaitonde. Tabu juga menunjukkan penampilan gemilang melalui tokoh Meera yang multi-layer tersebut, tegas dan rapuh secara bersamaan. 














Sutradara Kamat memang sedikit kedodoran di paruh pertama film yang berjalan cukup lambat tanpa penekanan titik petunjuk yang berarti.  Paska interval barulah pace nya meningkat dimana karakter-karakter kunci mulai memegang teguh pada posisinya masing-masing. Setidaknya elemen penting dalam sebuah thriller adalah how mystery unfolds. Bagaimana kenyataan yang sesungguhnya mungkin tidak seperti apa yang terlihat. Twist dan turns yang silih berganti hadir akan menantang anda untuk terus menebak hingga akhir.

Lupakan sejenak Kahaani atau Talaash yang memuncaki daftar film favorit anda di tahun 2012 silam, Drishyam adalah drama suspense thriller yang bisa dikatakan berhasil bagi mereka yang belum pernah menonton versi aslinya. Sebuah adaptasi bebas dari kisah nyata seorang pria biasa dengan tekad dan keberanian luar biasa meskipun menghadapi dilema besar. Is it worth suffering for in the end? I believe yes. A gripping story that will keep you on the edge of your seat. Just watch the proceedings till the final scene blows us off!

Durasi:
163 menit

Movie-meter:

Kamis, 30 Juli 2015

LITTLE BIG MASTER : Moving Story Of Extraordinary Teacher

Original title:
Ng Gor Siu Haai Dik Haau Cheung


Nice-to-know:
Film yang rilis di Hongkong pada 19 Maret 2015 yang lalu ini menjadi #2 box office di bawah Furious 7

Cast:
Miriam Chin Wah Yeung sebagai Prinicipal Lui
Louis Koo sebagai Tung Tung
Richard Ng
Yuen Yee Ng
Philip Keung
Shui-Fan Fung
Man-Wai Wong               
Sammy Leung   
Mimi Chi Yan Kung
Winnie Ho
sebagai Siu-suet
Zaha Fathima sebagai Kitty
Khan Nayab sebagai Jennie
Keira Wang sebagai Chu-chu
Fu Shun-ying sebagai Ka-ka

Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi Adrian Kwan setelah Team of Miracle: We Will Rock You (2009).

W For Words:
Jika Indonesia memiliki sosok Butet Manurung yang gigih menjelajahi pedalaman hutan Jambi demi memberikan pendidikan bagi anak-anak rimba dalam Sokola Rimba (2013), maka Hongkong mempunyai Lillian Lui Lai-hung yang rela melepas karir di sekolah bergengsi demi menyelamatkan sekolah terpencil yang terancam ditutup. Yes, you’re in for humanist story! Film yang mencatat box-office 33 juta HKD selama peredaran seminggu pertama di Hongkong pada April silam ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Thanks to Feat Pictures who brought this to us via Cinemaxx and CGV Blitzmegaplex!

Akibat perbedaan prinsip, Kepsek Lui keluar dari sekolah elit bertepatan dengan mundurnya sang suami sebagai kurator musium. Niat keduanya untuk bersantai dan keliling dunia batal setelah mendengar TK di desa Yuen Long akan diganti menjadi tempat pembuangan sampah. Lima murid tersisa, Siu-suet yang membantu ayahnya yang pincang, Chu-chu yang kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan dan tinggal bersama bibinya, Ka-ka yang jadi saksi pertengkaran ayah ibunya yang menjadi korban kontraktor, dua bersaudari Pakistan yakni Kitty dan Jennie yang dilarang ayahnya bersekolah harus bekerjasama mencari murid baru demi kelangsungan sekolah mereka.














Skrip yang ditulis oleh Adrian Kwan dan Hannah Chang ini memang menekankan pada kisah orang-orang biasa (kelas menengah ke bawah) dengan segala permasalahan nyata dalam keseharian mereka. Berbagai kritik sosial turut menyertai, seperti sikap sinis, apatis dan pesimis masyarakat masa kini dalam menyikapi hampir semuanya. Belum lagi kasus bullying dalam segala bentuk yang kian marak. Bagaimana pihak yang kurang beruntung akan semakin ditekan. Keseluruhan problem tersebut secara gemilang mampu terangkai dalam satu bingkai yakni pendidikan sebagai dasar utama akhlak manusia. 

Yeung berhasil menyalurkan emosi sebagai pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri meski harus berjuang secara fisik sekalipun. Koo sukses menghidupkan sosok suami yang berpendirian teguh dan mencintai dengan cara yang unik. Chemistry keduanya mungkin tidak begitu nyata terlihat tapi terasa natural dan belieavable. Ho, Fu, Wang, Fathima dan Nayab merupakan bintang dalam film ini. Penampilan individual maupun saat berinteraksi dengan keluarga masing-masing  akan menawan hati anda hingga tanpa sadar menitikkan air mata dibuatnya.














Produser Benny Chan yang sudah banyak makan asam garam berusaha menjawab tantangan dimana film yang diangkat dari kisah nyata biasanya sulit berbicara di pasar. Saya tidak tahu metode yang digunakan Kwan, selama ini dikenal sebagai sutradara ‘Kristen’ lewat karya-karyanya, dalam menggali potensi kelima gadis cilik yang sebetulnya bukan aktris untuk merajut sisi emosional yang begitu pas. Sinematografi Anthony Pun terasa ciamik menangkap setiap detil shot yang berisi. Musik Wong Kin-wai memberi nyawa melodrama yang kuat. Sedangkan editing Curran Pang semestinya bisa lebih cepat sehingga lebih efektif dalam bercerita.

Produksi kolaborasi One Cool Film Production, Sil-Metropole Organisation, Sirius Pictures International dan Sun Entertainment Culture ini diyakini akan menuai banyak penghargaan di festival film internasional. Selain didedikasikan untuk semua pengajar di seluruh dunia, Little Big Master adalah sebuah upaya untuk mengerti suka dan duka kehidupan itu sendiri dari kacamata anak-anak. Suatu peringatan dimana kita yang bertumbuh dewasa kerap lupa untuk menjaga optimisme sambil tetap bermimpi akan tujuan yang ingin dicapai. Passions will drive you forward, no matter what challenge you might face.

Durasi:
112 menit

Movie-meter:

Rabu, 22 Juli 2015

BAJRANGI BHAIJAAN : Crossing Borders With A Heart

Quote:
Pawan: I don’t have a passport or a visa. But i promise, i’ll take Munni home myself. 

Nice-to-know:
Merupakan film keempat Salman khan dengan Kareena Kapoor.

Cast:
Salman Khan sebagai Pawan Kumar Chaturvedi / Bajrangi Bhaijan
Kareena Kapoor sebagai Rasika
Harshaali Malhotra sebagai Shahida / Munni
Nawazuddin Siddiqui sebagai Chand Nawab
Sharat Saxena sebagai Dayanand             
Najeem Khan

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Kabir Khan setelah Ek Tha Tiger (2012).

W For Words:
Sama seperti Indonesia, Bollywood memiliki tradisi merilis film-film unggulan untuk menyambut Idul Fitri yang biasanya dibintangi oleh aktor besar. Kali ini giliran Salman Khan yang sudah berusia setengah abad untuk unjuk gigi paska pemenjaraan dirinya yang tertunda akibat kasus pembunuhan seorang pria tuna wisma. Well, we won’t talk further about that except his latest movie produced by Eros International, Kabir Khan Films, Rockline Entertainment and Salman Khan Films which collected 100 crore in just four days release. Amazing!












Seorang gadis cilik tuna wicara Pakistan berusia 6 tahun, Shahida tanpa sengaja terpisah dari keluarganya dan terdampar di India. Adalah mantan pegulat, Pawan yang tinggal di rumah kerabat ayahnya Dayanand, menemukannya dan kemudian menamakannya Munni. Pawan yang berniat menikahi Rasika menyanggupi tantangan untuk memulangkan Munni ke rumah asalnya walaupun harus melintasi perbatasan tanpa visa dan paspor. Pawan malah dituduh sebagai mata-mata dan jadi buronan. Wartawan lokal Chand membantunya dan menyebarkan kisahnya kepada publik.

Skrip yang digagas Prasad bersama Khan, Shaikh dan Hussain ini mesti diakui memang memiliki setup-setup kemanusiaan yang potensial mengetuk hati penontonnya. Modal yang kemudian didukung juga oleh directing skills mumpuni dari Khan yang begitu cekatan menangani setting sederhana hingga kompleks dengan grande. Karakter demi karakter diperkenalkan secara detail di paruh pertama sebelum pembahasan konflik antar negara yang mulai mencuat di paruh kedua. Toh film ini tidak berbicara politik bilateral melainkan perpaduan drama dan komedi dalam takaran yang pas tanpa harus terkesan preachy.
















Tidak seperti biasanya yang lebih mengandalkan otot, Salman di sini sukses menampilkan sisi rapuh selain kepolosan dan keteguhan hati seorang Bhaijaan. Si kecil Harshaali juga berhasil mencuri perhatian anda lewat sorot mata, ekspresi dan gesture yang sudah berbicara dengan sendirinya. Penampilan menawan Nawazuddin yang baru muncul setelah intermission mampu menghadirkan tawa lewat polah tingkah nya yang canggung tapi berhati baik. Sedangkan si cantik Kareena rasanya lebih berfungsi sebagai cameo dengan jumlah scene yang masih terbilang memadai.

Bajrangi Bhaijaan patut mendapat applause karena mengusung elemen patriotisme, cinta, kekeluargaan dan persaudaraan yang begitu emosional di atas segala batas yang ada. Terima kasih pada kontribusi musik Julius Packiam dan hits Pritam yang mendukung storytelling. Sekuens opening dan ending di pegunungan Kashmir bukan hanya indah tapi juga membuka dan menutup film secara brilian. Tak ayal, sajian blockbuster yang satu ini akan memenangkan hati banyak orang yang tak akan sungkan menitikkan air matanya. A hero with a heart? Definitely Salman’s best role to date!

Durasi:
154 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 01 Juli 2015

ANY BODY CAN DANCE 2 : Bigger Deal But Less Value Exuberant Sequel

Quote:
Suresh: Sir, u r superb sir, outstanding, sir i salute u sir.

Vishnu: I know men, shut up & get lost.


Nice-to-know:
Demi memperdalam penjiwaan karakter Suresh, Varun Dhawan menato Michael Jackson di tangan kanannya.


Cast:
Varun Dhawan sebagai Suresh
Shraddha Kapoor
sebagai VinniePrabhudheva sebagai Vishnu
Sushant Pujari sebagai Vernon
Punit Pathak sebagai Vinod
Lauren Gottlieb sebagai Olive
Pooja Batra sebagai Puja Kohli

Director:
Merupakan film ketiga bagi Remo setelah prekuelnya ABCD (2013).

W For Words:
Rasanya industri Bollywood yang identik dengan musik dan tari sudah tidak lagi membutuhkan dance movie selayaknya yang dilakukan Hollywood dari masa ke masa. Namun di awal tahun 2013 yang lalu, UTV Spotboy membuat sebuah gebrakan dengan ABCD (Any Body Can Dance) yang memiliki banyak persamaan dengan franchise Step Up. Tidak salah karena masih mengakar dengan budaya India hingga akhirnya mencapai kesuksesan yang lumayan. Dua tahun kemudian, sekuelnya pun diproduksi. Tidak tanggung-tanggung, IX Faces Pictures dan UTV Motion Pictures langsung menggandeng Disney. We knew it’s gonna be huge!

Mumbai Stunners gagal dalam pertunjukan televisi nasional hingga mereka dicap sebagai peniru. Suresh yang bekerja di bar pamannya lantas berkenalan dengan Vishnu, guru tari yang handal tapi hobi mabuk-mabukan. Lewat perjuangan bujuk rayu yang intens, Vishnu akhirnya setuju melatih Suresh, Vinnie dkk. Nama kelompok yang berganti menjadi Indian Stunners tersebut mulai mencari anggota baru demi mewujudkan mimpi mereka bersama yakni tampil dalam World Dance Competition di Las Vegas sekaligus keikutsertaan negara India untuk pertama kalinya.

Skenario yang ditulis oleh Remo dibantu oleh Mayur Puri dalam penyusunan dialognya ini terinspirasi dari perjuangan nyata Nalasopara boys yang menempatkan India pada peta dunia hiphop saat memenangkan kejuaraan dunia di Las Vegas pada tahun 2012 lalu. Namun segalanya dalam film dibuat dalam skala yang lebih besar dimana passion tampak begitu mudah mengalahkan segala hambatan. Berbagai karakter kunci memang masih mengalami struggling tetapi turning point konfliknya masih terkesan dipaksakan dan tak jarang penyelesaiannya berlalu begitu saja.

Ambisi Remo yang tinggi untungnya masih dibarengi dengan directing skills yang memadai. Trik-trik patriotisme yang juga kental dengan nilai-nilai keagamaan terbilang sulit untuk tidak mengundang empati penonton. Koreografi tari baik individual maupun kelompok sukses ditampilkan secara memikat dari awal hingga akhir. Balutan musik hiphop yang digagas oleh Jigar, Mayur Puri dan Sachin akan dengan mudah menstimulasi indera pendengaran anda. Durasi yang masih terlalu panjang menjadi isu krusial, terlebih paruh pertama yang terasa lamban sebelum berakhir dengan eksplorasi kota judi tersebut.
Varun dan Sraddha mungkin bisa dimaafkan jika menyangkut performa dance. Perhatikan saja group performance yang tidak pernah menempatkan mereka di posisi sentral. Namun harus diakui kharisma keduanya sebagai leading memang memukau. Banyak wajah baru yang berfungsi sebaliknya, lemah di akting tapi kuat di dancing. Meski demikian, kekayaan karakteristik para underdog yang berbeda latar belakang tersebut niscaya masih menarik untuk disimak. Tokoh Sir Prabudheva yang dominan pada prekuelnya kali ini hanya bertugas sebagai guard yang memiliki hidden agenda.

Terlepas dari format 3D yang diembannya, ABCD 2 merupakan ‘upgrade’ dari segi teknis dan style. Plot nya tidak banyak berubah selain mengganti spirit can-do yang sederhana dengan believe in hardworking yang cukup kompleks. Lupakan kedalaman cerita yang sedikit menguap karena kompensasi dancing sequences akan menawan perhatian anda. Just feel the energetic perfomances in stages full of energy. Dance freaks or not, you might love the cinematic experience with better feeling guaranteed after you walk out of the cinemas!

Durasi:
152 menit

Movie-meter:

Senin, 29 Juni 2015

SPL 2 : A TIME FOR CONSEQUENCES No-Holds-Barred For Action Fanfare

Original title:
Saat po long 2

Nice-to-know:
Bukan merupakan prekuel ataupun sekuel walaupun masih dibintangi Wu Jing dan Simon Yam dengan karakter yang juga berbeda.

Cast:
Tony Jaa sebagai Chai
Jacky Wu sebagai Kit
Max Zhang sebagai Ko
Simon Yam sebagai Wah
Louis Koo sebagai Hung
Unda Kunteera Thordchanng sebagai Sa
Jun Kung sebagai Bill

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Cheang Pou-sui setelah The Monkey King (2014).

W For Words:
Para penikmat action Mandarin mungkin akan menyebutkan Saat po long alias Kill Zone (2005) jika ditanya salah satu film favoritnya sepanjang masa. Adalah Wilson Yip yang membesutnya jauh sebelum trilogy Ip Man yang legendaris tersebut. Satu dekade kemudian, 1618 Action Limited dan Abba Movies Co. Ltd. merilis sekuelnya meski tak lagi digawangi Yip dan juga sudah ditinggalkan oleh dua bintang besar Donnie Yen dan Sammo Hung. Jangan apatis dulu. Cobalah perlakukan film ini sebagai standalone. Reset mindset anda. Who knows you will love it even better.
Setelah penyamarannya terbongkar dalam sebuah misi human trafficking yang dilakukan oleh Hung, polisi Kit dijebloskan ke dalam penjara Thailand yang dijaga oleh sipir Chai. Kedua orang berbeda jalur hidup tersebut memiliki tujuan yang nyaris sama. Hung bertekad transplantasi jantung dari adiknya Bill demi melanjutkan hidup, sedangkan Ko berniat mencari donor sumsum tulang belakang untuk putrinya Sa yang menderita leukemia. Tak dinyana, kecocokan ada pada Kit yang sedang diupayakan bebas oleh pamannya Wah. Pertalian nasib itu kemudian harus dituntaskan dalam pertarungan klimaks berdarah.













Skenario Jill Leung dan Wong Ying ini terbilang ‘cheating’ dalam hal menjembatani komunikasi antar dua bangsa. Lihat bagaimana translator digital bahasa Mandarin dan Thailand yang begitu akurat. Atau pertukaran ‘emoji’ via ponsel yang di luar dugaan mampu memancing tawa penonton. Namun semua itu tertutupi dengan bangunan character arc yang solid dan variatif sehingga arah keberpihakan sudah jelas sejak menit awal tanpa harus dikacaukan dengan strukturisasi twist yang berlebihan. Setup berbagai adegan aksinya juga mulus dengan aksi reaksi yang wajar dari para tokohnya. 

Sutradara Cheang seakan naik kelas beberapa tingkat di sini setelah  The Monkey King (2014) yang mengecewakan itu. Plot demi plot terjahit sempurna demi menciptakan rangkaian emosi yang tidak pernah putus menuju konklusi epilog nya. Salute to editor David Richardson. Sekuens fighting nya begitu apik dengan varian lokasi yang tak kalah menarik, mulai dari penjara hingga gedung bertingkat mewah. Dukungan scoring music layaknya orkestra klasik sekaligus sumbangsih suara Xie Zhongjie dan Kayla Dawn kian memperkuat tone dan dramatisasi yang dibutuhkan.














Wu Jing yang dalam prekuelnya tidak mendapat spotlight memadai kali ini menunjukkan kharismanya sebagai martial arts star yang pantas dipuja. Sementara itu Tony Jaa yang sempat tenggelam usai kiprah cemerlangnya dalam Ong Bak (2003) seharusnya mendapatkan momentum kebangkitan lagi lewat peran Chai. Max Zhang memberikan impresi mendalam sebagai sipir Ko yang kejam dan tangguh. Sama halnya dengan Louis Koo yang mungkin tidak akan anda kenali di sini. Thordchanng sebagai Su yang bernasib malang justru tak jarang menjadi comic-relief. 

SPL 2 yang diberi subjudul A Time For Consequences ini masih setia pada elemen unggulan yang ada pada pendahulunya yaitu pertukaran jurus berenergi tinggi. Namun jelas tidaklah tabu jika sebuah film action turut dilengkapi dengan cerita emosional yang menampilkan beraneka ragam hubungan antar manusia nan kompleks lengkap dengan penjabaran sifat-sifat dasarnya. Tinggalkan sejenak logika anda untuk bisa lebih menikmati suguhan yang begitu kental dengan hukum sebab akibat ini. Definitely one of the best action movies in recent years you wouldn’t want to miss. Ready for high-octane tension and rollercoaster emotion? 

Durasi:
120 menit

Movie-meter:




Senin, 22 Juni 2015

THE POLTERGEIST : Classic Haunted House Tale Got Modernized

Quote:
Madison Bowen: They're here...


Nice-to-know:
Rosemarie Dewitt ingin membintangi reboot ini usai merasakan animo besar penonton gala premiere The Conjuring (2013) yang dibintangi suaminya Ron Livingston.

Cast:
Sam Rockwell sebagai Eric Bowen
Rosemarie DeWitt sebagai Amy Bowen
Saxon Sharbino sebagai Kendra Bowen
Kyle Catlett sebagai Griffin Bowen
Kennedi Clements sebagai Madison Bowen
Jared Harris sebagai Carrigan Burke
Jane Adams sebagai Dr. Brooke Powell
Susan Heyward sebagai
Sophie


Director:
Merupakan film kedua bagi Gil Kenan setelah City of Ember (2008).

W For Words:
Poltergeist (1982) merupakan salah satu contoh simbiosis mutualisme antara Tobe Hooper dan Steven Spielberg yang bertindak sebagai sutradara dan produser-penulis dalam menghasilkan film cult yang menjadi benchmark horor rumah berhantu selama beberapa waktu ke depan. Kini lebih dari tiga dekade kemudian, Sam Raimi yang sebetulnya salah satu nama handal di genre terkait, berniat merebootnya dengan berbagai penyesuaian. Sayangnya ia hanya bertindak sebagai produser dan akhirnya mempercayakan duet Gil Kenan dan David Lindsay-Abaire untuk mencoba mengekor kesuksesan duet yang tersebut di atas.

Karena resesi ekonomi dan terancam pailit, Eric Bowen mengajak istrinya Amy pindah ke kompleks perumahan anyar Berkeley Square yang dijual dengan harga murah karena dibangun di atas tanah bekas pemakaman. Anak-anak mereka yakni remaja putri Kendra, Griffin dan Madison harus menyesuaikan diri dengan kondisi rumah yang unik tersebut. Lambat laun mereka merasakan adanya entitas lain yang ‘hidup’ bersama mereka. Ketika Madison menghilang, pakar supernatural Dr. Brooke Powell pun dipanggil beserta mantan suaminya pengusir hantu ternama Carrigan untuk mengatasi masalah itu.















Sutradara Kenan memang berusaha setia dengan source originalnya hingga yang bisa dilakukannya (dengan cukup berhasil) adalah memaksimalkan setting rumah demi menciptakan klastrofobik dan juga tata kamera Javier Aguirresarobe yang dinamis menangkap setiap pergerakan obyek dan subyeknya sekaligus. Beberapa jump scares yang disiapkan terbilang inovatif dalam membangun ketakutan penonton, terlepas dari mood keseluruhan yang cenderung masih terlalu ‘light’. Terima kasih pada timing editing dan scoring music yang cukup efektif tersebut.

Rockwell dan DeWitt mampu menejermahkan peran orangtua dengan baik terlepas dari keterbatasan karakter mereka. Sama halnya dengan Sharbino dan Clements yang terasa begitu satu dimensi. Sebaliknya Catlett diberi keleluasaan lebih untuk menggali karakter Griffin dibandingkan pendahulunya. Pasangan Harris dan Adams jelas tidak berada pada kelas yang sama dengan The Warrens dalam The Conjuring (2013). Namun kehadiran keduanya di paruh kedua film berhasil mencuri perhatian dengan love-hate relationship nya yang tergambar jelas. 














Pada akhirnya harus diakui memang sulit untuk mengapreasi The Poltergeist secara utuh. Jika dibandingkan dengan originalnya, reboot ini jauh dari kata menyeramkan, meski masih bisa membuat anda deg-degan. Jika dibandingkan dengan horor kontemporer, horor yang satu ini terlalu ‘klasik’, walau berupaya relevan lewat penggunaan segala jenis gadget terbaru. Nampaknya perpaduan efek visual yang natural dengan kinerja CGI jadi salah satu kendala utama, terlebih beban teknologi 3D yang juga dibebatkan padanya. Then it’s up to you whether you want to visit this reboot or revisit the original one. Both still have fun haunted house experiences, something i believe that you just want to see on screen.


Durasi:
93 menit

U.S. Box Office:
$44,619,721 till Jun 2015

Movie-meter:

Selasa, 16 Juni 2015

JURASSIC WORLD : Recapture The Predictable Adventure

Quote:
Claire: We're talking about an animal here.
Owen: A highly intelligent animal.


Nice-to-know:
Film pertama dari franchise yang tidak menampilkan Sam Neill, Laura Dern atau Jeff Goldblum. Keputusan ini diambil oleh sutradara Colin Trevorrow demi alasan sentimental dan eksperimental baru.

Cast:
Chris Pratt sebagai Owen
Bryce Dallas Howard sebagai Claire
Irrfan Khan sebagai Masrani
Vincent D'Onofrio sebagai Hoskins
Ty Simpkins sebagai Gray
Nick Robinson sebagai Zach
Jake Johnson sebagai Lowery
Omar Sy sebagai Barry
BD Wong sebagai Dr. Henry Wu
Judy Greer sebagai Karen

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Colin Trevorrow setelah Safety Not Guaranteed (2012).

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal Jurassic Park karya maestro Steven Spielberg di tahun 90an? Franchise fenomenal yang sudah menghasilkan total lebih dari 2,5 milyar dollar dari peredaran di bioskop-bioskop seluruh dunia kala itu. Bahkan hingga hari ini, konsumsi home video dan rerun televisi masih cukup tinggi. Fakta-fakta tersebut dirasa cukup menjadi alasan produser Patrick Crowley dan Frank Marshall untuk ‘melanjutkan’ petualangan dengan visi baru dan tentunya dukungan teknologi CGI yang sudah semakin canggih. Permasalahannya adalah, “Apakah moviegoers modern masih akan tertarik dengan makhluk lawas dinosaurus?” atau “Apakah moviegoers lawas masih akan tertarik untuk bernostalgia?”

Taman Jurassic, Isla Nublar yang diprakarsai oleh John Hammond dua puluh tahun silam kini memiliki fasilitas dan atraksi baru termasuk dinosaurus Indominus hasil rekayasa genetik yang dikembangkan oleh tim peneliti yang dikepalai oleh Dr. Henry Wu. Manajer Claire yang semula tenang mulai panik tatkala dua keponakan yang dititipkan kakaknya Karen yaitu Gray dan Zach tengah membaur dengan ribuan pengunjung lainnya saat kekacauan mulai terjadi. Instuktur raptor, Owen yang sudah mencium gelagat buruk sejak awal pun harus turun tangan meminimalisir resiko nyawa berjatuhan yang mungkin terjadi.











Skenario yang ditulis keroyokan oleh Rick Jaffa, Amanda Silver, Colin Trevorrow dan Derek Connolly ini sebagian besar masih mengandalkan apa yang sudah ada di tiga seri sebelumnya tetapi terasa lebih menekankan pada three-act structure nya. Pengenalan berbagai karakter yang mayoritas satu dimensi tersebut berikut ‘dunia’ yang menjadi panggung bermainnya dilakukan secara detil, seakan mengajak penonton memahami secara langsung petualangan macam apa yang akan mereka alami. Beberapa subplot baik yang melibatkan kelompok kecil individu ataupun besar terus berjalan beriringan demi menerjemahkan proses survival itu sendiri.

Sutradara Trevorrow tampak tidak menyia-nyiakan kesempatan proyek besar perdananya ini dengan visi yang jelas tanpa ambisi berlebihan di seluruh departemen. Variasi shot dan angle camera dari sinematografer John Schwartzman seakan menempatkan kita dalam sudut pandang orang pertama yang menjelajahi Isla Nubar. Kombinasi CGI dan efek praktis yang solid terbilang efektif menghidupkan segala jenis dinosaurus yang ada. Scoring music milik Michael Giaccchino mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan John Williams terdahulu. Namun tergolong cekatan membangun mood sekaligus menjaga tensi yang dibutuhkan.












Pratt yang sepintas bergaya ala Indiana Jones mampu menjaga kharismanya sebagai tough guy Owen yang tak kenal rasa takut. Dallas Howard yang mewakili feminisme awalnya cukup annoying tapi mampu bertransformasi sesuai pergulatan konflik yang dialami sosok Claire. Simpkins dan Robinson yang menjadi pengunjung beruntung (atau justru tidak) akan dengan mudah mendapat keberpihakan para penonton belia. Aktor kawakan, Khan dan D’Onofrio yang terlalu stereotype setidaknya turut memperkaya karakterisasi yang ada.

Jurassic World adalah tontonan summer blockbuster high profile sekaligus paying homage terhadap trilogi Jurassic Park yang legendaris itu. Trevorrow sukses meramu elemen drama, humor, ketakutan dan ketegangan dalam satu perjalanan yang menyenangkan. Untuk sejenak lupakan originalitas yang anda cari dan coba temukan berbagai set, gimmick dan scene yang dipertahankan sedemikian rupa untuk menggali memori anda kembali. Longtime fans wouldn’t mind to revisit this without concern of disappointments. While new ones will enjoy the experience seeing dinosaurs, as the true stars, on the big screen for the first time.

Durasi:
124 menit

U.S. Box Office:
$204,600,000 till Jun 2015

Movie-meter:

Kamis, 04 Juni 2015

INSIDIOUS CHAPTER 3 : When The Chill Goes Downhill

Quote:
Elise Rainier: Give her back!
Nice-to-know:
James Wan tidak menyutradarai seri ketiga ini karena tengah mengerjakan Furious 7 (2015).

Cast:
Stefanie Scott sebagai Quinn Brenner
Dermot Mulroney sebagai Sean Brenner
Lin Shaye sebagai Elise Rainier
Angus Sampson sebagai Tucker
Leigh Whannell sebagai Specs
Tate Berney sebagai Alex Brenner
Steve Coulter sebagai Carl
Hayley Kiyoko sebagai Maggie

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Leigh Whannell yang sebelumnya menulis dan turut membintangi dua prekuelnya.

W For Words:
Tidak adil rasanya jika nama James Wan berkibar sendirian meski pencapaiannya di genre horror/thriller selama satu decade terakhir memang mengagumkan. Siapa yang tidak mengenal dwilogi Insidious atau septuple Saw. Namun jangan lupakan tandem setianya, Leigh Whannell yang bahkan sudah mendukung Wan dengan mengambil peran dalam feature debutnya, Stygian (2000). Tiba saatnya Whannell mendapatkan spotlight nya sendiri dengan menggawangi seri ketiga dari franchise horror yang dikembangkannya ini. Thanks to Wan's decision for directing Furious 7. I know most of us were disappointed when we got that news in the first place. But hey, give this dude a chance to show what he's got.

Remaja putri Quinn bertekad menentukan jalan hidupnya sendiri lewat percobaan seni peran paska SMU berakhir. Namun sang ayah Sean kerap membebaninya dengan tanggungjawab akan adiknya Alex. Dalam kebuntuan dan kesedihannya, Quinn lantas kerap mencoba berkomunikasi dengan mendiang ibunya Lilith. Cenayang Elise yang ditemuinya sontak menyadari bahwa ada arwah lain yang mengikuti Quinn bahkan mengancam nyawanya. Namun Elise harus berjuang mengatasi ketakutannya sendiri sebelum membantu keluarga Brenner melewati kemelut tersebut.











Dari segi cerita, nyaris tidak ada yang baru yang ditawarkan oleh Whannell. Pakem 'roh yang meninggalkan tubuh' masih jadi menu utama. Mungkin proyeksi astral itu sendiri memang diyakini masih menyimpan banyak misteri akan alam hidup dan mati. Setting rumah yang berpindah ke apartemen tua setidaknya memberikan perspektif baru bagi penonton. Bagaimana tetangga samping dan atas anda bisa menciptakan situasi janggal yang tidak diharapkan.

Dari segi eksekusi, semua trik yang digunakan Wan berupaya dihadirkan kembali. Scoring music yang membangun atmosfir masih terbukti efektif mengiringi setiap jump scares yang tentu saja ditunggu-tunggu audiens. Namun perbedaan visi dan penyusunan sekuens dalam storytelling nya yang cukup kentara tak dapat dipungkiri seberapapun kerasnya Whannell berusaha. Coba cermati penampakan hantu demi hantu yang terasa seperti perpaduan gaya barat dan timur.













Jajaran cast yang mumpuni terbilang menjadi penyelamat prekuel ini. Aktris senior Shaye mampu menerjemahkan karakter cenayang Elise yang superior sekaligus rapuh pada saat bersamaan. Pendatang baru Scott akan dengan mudah mengambil simpati penonton karena sejak menit awal tokoh Quinn sudah dirundung nasib malang. Mulroney tampak meneruskan apa yang sudah dilakukan Wilson melalui karakter ayah yang bertekad mempertahankan anak kesayangannya meski kali ini tanpa 'kekuatan khusus'. Berbagai pendukung juga sukses menjalankan peranan masing-masing, terutama Angus Sampson.

Insidious Chapter 3 jelas merupakan seri terlemah dari semuanya. Sajian horor yang sebetulnya masih bisa menakuti tetapi tidak sampai merasuki pikiran anda. No matter how bad i (or most reviewers) wrote about this, you're still gonna watch it. Keputusan yang samasekali tidak salah karena beberapa petunjuk yang tersebar di sepanjang film harus anda rangkai demi keutuhan sebuah trilogy yang diharapkan tidak ditambahkan kembali. Some of set-up scenes were creative enough to raise chills. Which one works best for you is your duty to find out.

Durasi:
97 menit

Movie-meter:

Rabu, 27 Mei 2015

IT FOLLOWS : New Definition Of Fear Should Be

Quote:
Hugh: It could look like someone you know or it could be a stranger in a crowd. Whatever helps it get close to you.


Nice-to-know:
Gedung teater yang ditampilkan pada permulaan film adalah Redford Theatre, teater historik bergaya Japanese dengan organ Wurlitzer yang masih bekerja baik. The Evil Dead (1981) sempat melakukan Gala Premiere di sana.

Cast:
Maika Monroe sebagai Jay Height
Jake Weary sebagai Hugh / Jeff
Daniel Zovatto sebagai Greg Hannigan
Keir Gilchrist sebagai Paul
Loren Bass sebagai Annie's Father
Olivia Luccardi sebagai Yara
Lili Sepe sebagai Kelly Height

Director:
Merupakan feature film kedua bagi David Robert Mitchell setelahThe Myth of the American Sleepover (2010).

W For Words:
Nama David Robert Mitchell yang lulus dari Florida State University Film School mungkin akan sering anda dengar di kemudian hari terlebih dalam genre horor, menyusul James Wan ataupun Adam Wingard yang juga memulainya dari belantika indie movies. Adalah It Follows yang menjadi modal bagus untuk meraih perhatian moviegoers di seluruh dunia. Terima kasih pada Cannes Film Festival yang memutarnya dalam segmen Critics Week dan juga beberapa festival internasional lainnya hingga menjadi perbincangan dimanapun film ini diputar.

Gadis belia 19 tahun, Jay Height berkencan dengan Hugh saat musim gugur. Setelah berhubungan intim untuk pertama kalinya, Jay mendapat ‘pengikut’ misterius yang dirasa mengancamnya. Adiknya Kelly dan teman-temannya Greg, Yara dan Paul yang awalnya tidak percaya kemudian memanggil Hugh untuk menjelaskan. Ternyata kutukan tersebut harus dipindahkan ke orang lain agar tidak menangkap dan merenggut nyawa Jay. Lantas mereka mencoba berbagai cara untuk mematahkan teror itu yang terasa kian nyata dan bisa menjadi siapa saja di sekitar.













Skrip yang ditulis Mitchell sendiri ini memang tidak memberikan penjelasan apa-apa yang biasa dilakukan di prolog atau epilog film. Namun serangkaian petunjuk samar yang hadir lewat gambar atau dialog sudah dirasa cukup menjadi alasan penonton untuk terus mengkutinya.  Anda bisa menemukan berbagai elemen sub-genre horor remaja yang dipadu-padankan secara cerdas dengan interpretasi baru. Memang harus diakui tidak sepenuhnya berhasil karena sebagian moviegoers akan terjebak dalam konklusi yang membingungkan hingga menyerah begitu saja.

Dunia retro tahun 70an yang coba dibangun oleh Mitchell terasa pas sebagai panggung bercerita meski beberapa unsur modernisasi turut dipertahankan sebagai distraksi gaya. Sinematografi minimalis yang banyak memanfaatkan zoom, slo-mo atau tracking shots yang konsisten dengan warna-warni pucat ini mengingatkan anda pada karya-karya mahasiswa perfilman. Sementara dukungan scoring music Rich Vreeland alias Disasterpeace yang unik juga memberikan nilai tambah tersendiri. Efek praktis yang digunakan untuk meneror terbilang bekerja efektif mempertahankan pace yang cukup lamban.















Hanya Monroe yang bisa dikatakan berakting di sini sebagai arc character Jay yang punya kemampuan membawa cerita dari satu titik ke titik lain. Selebihnya merupakan karakter-karakter pendukung yang tidak banyak diberikan ruang untuk berkembang selain bereaksi kaget atau takut saja. Andai Mitchell mau bekerja ekstra untuk membangun karakterisasi yang lebih kuat sekaligus menciptakan rules yang lebih bold untuk menyokong storytelling nya yang berupaya menggali ketakutan manusia yang terdalam dari hal-hal yang tidak lazim bagi mereka.

It Follows wajib dinikmati dengan sesedikit mungkin informasi mengenainya. Lihat bagaimana ketidaktahuan membuat anda kian menikmati low budget horror yang banyak mengambil referensi cult horror movies terdahulu ini. Perasaan anda tidak akan lagi sama tatkala menyaksikan matahari terbenam di pantai, merasakan kesunyian halaman sekolah jelang senja, menikmati kekosongan jalan di sekitar perumahan. Walau terlalu dini untuk melabelinya sebagai future cult, interpretasi bebas horor teranyar bergaya lawas yang satu ini jelas tidak bisa dilewatkan begitu saja. It might gives you chill or goosebump like every children’s ghost stories you’ve ever read back then.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$14,435,192 till May 2015


Movie-meter: