XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 22 Maret 2014

DIVERGENT : Defying All Odds For Self-Discovery

Quote:
Beatrice 'Tris' Prior: And what if they already know?
Tori: Then you're already dead.


Nice-to-know:
In The Fault in Our Stars (2014), Shailene
dan Ansel memerankan sepasang kekasih sedangkan kali ini sebagai kakak beradik.

Cast:
Shailene Woodley sebagai Tris
Theo James sebagai Four
Ashley Judd sebagai Natalie
Jai Courtney sebagai Eric
Ray Stevenson sebagai Marcus
Zoë Kravitz sebagai Christina
Miles Teller sebagai Peter
Tony Goldwyn sebagai Andrew
Ansel Elgort sebagai Caleb
Maggie Q sebagai Tori
Mekhi Phifer sebagai Max
Kate Winslet sebagai Jeanine 


Director:
Merupakan feature film kelima bagi Neil Burger setelah Limitless
(2011).

W For Words:
Kesuksesan novel-novel remaja yang berintisari pencarian jati diri memang memicu pergerakan para filmmaker Hollywood untuk mengadaptasinya ke layar lebar dengan harapan hasil yang tak jauh berbeda, sebut saja The Hunger Games, Harry Potter series ataupun Twilight saga yang sangat high profile tersebut. Trend itu lantas dilanjutkan oleh Neil Burger yang mengangkat karya pertama Veronica Roth dari rangkaian trilogi sebagai sci-fi action drama yang sejauh ini berhasil meraup 58 juta dollar di minggu pertama peredaran Amerika Serikat saja. It’s a pretty good start actually!

Chicago di masa depan paska peperangan membagi masyarakatnya ke dalam lima faksi yaitu Candor (penjunjung kejujuran), Erudite (cendekiawan), Dauntless (pemberani), Amity (pecinta kedamaian) dan Abnegation (penolong tanpa pamrih). Tes yang dijalani Beatrice Prior di usia 16 mengelompokkan dirinya sebagai Divergent alias golongan di luar kelima faksi yang berarti hukuman mati. Keputusan nekad diambil ketika ia bergabung dengan Dauntless dan mengganti nama menjadi Tris hingga bertemu pemimpin kelompok, Four yang membantunya dengan tulus.

Duo penulis skrip, Evan Daughterty dan Vanessa Taylor berupaya semaksimal mungkin untuk mengatur pacing di bagian pembuka ini. Bagaimana premis dibuka lewat proses introduksi sosial politik masyarakat ‘masa depan’ sekaligus penjelasan latar belakang beberapa tokoh inti yang memadai. Kemudian serangkaian tes ekstrim yang diyakini mampu menyita perhatian pun dijalankan dimana keberpihakan penonton langsung diarahkan kepada Tris yang ‘baru’ sebelum sepak terjangnya di paruh terakhir yang terasa berpacu dengan waktu demi konklusi besar yang diharapkan mampu menjembatani seri berikutnya. 

Upaya sutradara Burger dalam membangun dunia futuristik patut diacungi jempol mengingat bujet yang tidak tergolong besar untuk sebuah proyek ambisius milik Summit Entertainment ini. Terima kasih atas bantuan green screen dan CGI yang walaupun sebetulnya tak terlalu istimewa tapi tetap menjaga standarisasi surreal yang dibutuhkan. Sinematografi yang cukup apik dari Alwin H. Küchler membuatnya layak disaksikan dalam format IMAX sekalipun. Berbagai action sequences nya dilakukan sesuai kebutuhan cerita agar pacingnya terjaga mengingat durasi film yang lumayan panjang tersebut.

Senang melihat Woodley akhirnya mendapat kesempatan bersinar setelah sebelumnya mencuri perhatian dalam The Descendants (2011). Lihat bagaimana Beatrice bertransformasi menjadi Tris dengan rentang emosi yang cukup panjang. Seorang heroine yang tak hanya cantik tapi juga berani menerima tantangan. James juga tak kalah memikat sebagai Four yang dingin misterius tapi cekatan luar biasa. Chemistry keduanya memang tak jarang terasa dipaksakan demi membumbui cerita. Toh pada akhirnya kita 'wajib' mengerti jika perjalanan dua protagonis saling jatuh hati tentunya akan lebih menarik untuk disimak.

Menarik menyaksikan Winslet berperan sebagai antagonis Jeanine terlepas dari minimnya screen presence di sepanjang film. Porsi yang sama juga berlaku pada sederetan nama beken senior lainnya semisal Judd, Maggie Q, Stevenson, Goldwyn dan Phifer meski nama yang tersebut di awal masih lumayan memorable. Sedangkan bintang-bintang muda semacam Courtney, Kravitz, Elgort, Lloyd-Hughes, Madsen dll boleh dibilang kian memperkaya karakterisasi hitam putih dalam seri pembukanya kali ini.

Terlepas dari problem pacing yang bergerak lambat di paruh awal dan cepat di paruh akhir, Divergent bukanlah film yang buruk. Penonton potensial yang tertarik mengikutinya bisa jadi berkali-kali lipat dari jumlah pembaca bukunya itu sendiri. Tak heran karena karakter utama yang simpatik dan juga dunia rekaan yang atraktif niscaya menjadi daya pikat tersendiri. Saya yakin petualangan akan terus berlanjut hingga Insurgent dan Allegiant yang diharapkan secara kualitas akan membaik. Who’s in her path for finding self-identity by defying all odds to create a better world?

Durasi:
139 menit

U.S. Box Office:
$58,000,000 till Mar 2014

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 28 November 2013

SAGARMATHA : Crossroad Of Friendship

Tagline:
Two dreams at a cross-road.

Nice-to-know:
Sagarmatha adalah istilah Nepal untuk Puncak Everest.

Cast:
Nadine Chandrawinata sebagai Shila
Ranggani Puspandya sebagai Kirana

Director:
Merupakan feature film debut bagi Emil Heradi setelah beberapa film pendek sebelumnya.

W For Words:
Belakangan ini rasanya filmmaker lokal mulai rajin mengangkat keindahan alam dan aktifitas yang terkait dengannya. Jika beberapa waktu lalu ada 5 CM yang mengambil setting Jawa Timur dimana lima sahabat melakukan pendakian gunung Mahameru, atau Laura dan Marsha yang melancong ke Eropa, maka kali ini Sinema Kelana, Cangkir Kopi dan Add Word Productions berkolaborasi dalam memproduksi film yang berlatar Nepal dengan ‘hanya’ dua aktris utama berinteraksi di sepanjang durasinya. It would be mixed plots from those previous titles i’ve mentioned and kind of interesting to follow.

Bersahabat semenjak kuliah, Shila dan Kirana adalah dua karakter yang berbeda serta memiliki hobi yang berlainan pula yaitu menuls dan fotografi. Kesamaan keduanya adalah senang mengeksplorasi alam hingga sepakat melakukan perjalanan ke Nepal dan berakhir dengan mendaki pegunungan Himalaya. Sepanjang perjalanan, mereka mulai mempertanyakan arti hidup, pertanyaan-pertanyaan seputar cinta, kedewasaan dan harapan sebelum tiba pada satu titik dimana berpisah menjadi pilihan yang sulit terhindarkan

Banyak filmmaker yang memulai karirnya dari film pendek mengalami kesulitan ketika menjalani proses transisi ke film panjang. Tanpa terkecuali Damas Cendekia dan Emil Heradi. Tiga kerjasama mereka sebelumnya lewat Negeri Maling (2008), Fronteira (2009) dan Kita Vs Korupsi (2012) mungkin belum cukup. Saya cukup penasaran skrip Damas pada kesempatan ini terdiri dari berapa scenes karena tidak terasa ‘moving’ baik dari penyajian konflik maupun penyelesaiannya. Konten dialog yang minim pun harus diakui kurang berhasil menyampaikan ‘sesuatu’ kepada penontonnya.

Sedangkan Emil terjebak pada kebimbangan presentasinya, mau dibawa real atau absurd sekalian. Banyak sekali inkonsistensi fakta yang terjadi antara Shila dan Kirana di sepanjang film. Jika saya harus beberkan di sini mungkin akan mengurangi unsur kejutannya. Let viewers find out themselves. Beruntung scoring apik ala Asia Selatan dari Yovial Tripurnomo Virgi bekerja efektif mengiringi adegan demi adegan yang lebih terkesan pamer fotografis tersebut. Selain tentunya inisiatif DOP, Anggi Frisca dalam memotret ‘kumuh’ nya Nepal secara apa adanya.

Pada akhirnya Sagarmatha merupakan panggung akting Nadine dan Ranggani. Keduanya mencoba dan hasilnya tidak begitu buruk mengingat lemahnya karakterisasi dan miskinnya skenario yang tampak terlalu sibuk dalam upayanya menghadirkan ‘wow’ di penghujung cerita. Yes, we have to wait that long for such twist. Something that common viewers might not be patient enough and choose to leave before end credits. Saya lebih menghargai apabila sejak awal dijadikan film dokumenter perjalanan saja. Setidaknya orang tahu harus berharap apa selama lebih dari satu setengah jam mengikutinya.

Durasi:
98 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 17 November 2013

SNOWPIERCER : Post-Apocalyptic Train Ride You Shouldn’t Miss

Tagline:
AD 2031: the passengers in the train are the only survivors on Earth.

Nice-to-know:
Berdasarkan novel grafis Perancis, "Le Transperceneige" yang ditemukan sutradara Bong Joon-ho pada akhir tahun 2004 sewaktu pre-produksi The Host.

Cast:
Chris Evans sebagai Curtis
Tilda Swinton sebagai Mason
Jamie Bell sebagai Edgar
Song Kang-ho sebagai Namgoong Minsu
Ed Harris sebagai Wilford
John Hurt sebagai Gilliam
Octavia Spencer sebagai Tanya
Ko Ah-sung sebagai Yona

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Bong Joon-ho setelah Mother (2009).

W For Words:
Jakarta International Film Festival, dikenal dengan sebutan Jiffest, yang kembali setelah absen 2 tahun bekerjasama dengan JIVE memang thoughtful dalam menyelenggarakan Retrospective Bong Joon-ho dimana empat film sutradara kebanggaan Korea tersebut diputar tepat sebelum Asian premiere film yang satu ini di Blitzmegaplex Grand Indonesia! Tak berlebihan mengingat reputasi Bong apalagi Snowpiercer adalah film Korea paling ditunggu tahun 2013. Sebuah joint venture SnowPiercer, Moho Films, Opus Pictures, Stillking Films dan CJ Entertainment yang menghabiskan bujet nyaris 40 juta dollar!

Tahun 2031, global warming nyaris menewaskan segala bentuk kehidupan di planet ini terkecuali mereka yang tergabung dalam perjalanan mengelilingi bumi dengan kereta Snowpiercer milik konglomerat Wilford. Diantaranya adalah Curtis, Edgar dan si lengan satu Gilliam, penghuni kasta rendah di bagian belakang yang berupaya memicu gerakan revolusi. Kemudian bergabung Namgoong Minsu dan putri kecilnya Yona dimana kepala sipir Mason menjadi sasaran awal sebagai sandera berharga. Berhasilkah mereka menerobos hingga bagian depan yang menawarkan lebih?

Komik Le Transperceneige (1982-2000) yang ditulis oleh trio Jacques Lob, Benjamin Legrand dan Jean-Marc Rochette ini menjadi inspirasi Boon dan Kelly Masterson dalam menulis skenarionya. Bagaimana sains fiksi paska kiamat pada akhirnya membentuk landasan bertutur dalam mengetengahkan konflik hierarki sosial yang kental. Perjuangan mencapai apa yang menjadi tujuan itupun terasa menarik akibat persinggungan beragam karakter yang berbeda kepentingan. Perlawanan terhadap penguasa tak jarang menyasar pada pilihan hidup atau mati. Semua itu tersaji dalam durasi 126 menit!

Sutradara Bong mampu melepaskan atribut tipikal film Korea dalam karya terbarunya ini. Tak ada ruang untuk polemik cinta antar dua insan ataupun eksploitasi hubungan antar keluarga seperti biasanya. Murni bercitarasa blockbuster ala Hollywood dengan CGI yang memuaskan sesuai kebutuhan. Visinya didukung penuh oleh DOP, Hong Kyung-pyo yang cekatan. Desain produksi Ondrej Nekvasil pun teramat detil dalam membangun imajinasi penonton. Kinerja editor Steve M. Choe dalam penyusunan sekuens adegan juga begitu rapi. Musik dari Marco Beltrami turut memperkuat storytelling nya.

Jika anda pikir anda tahu siapa yang akan menjadi last man standing di sini. Nanti dulu. Banyak kejutan yang terjadi di sepanjang ‘perjalanan’. Yang jelas Swinton menjadi favorit saya. Tokoh Mason yang powerful tapi clumsy itu terasa begitu kontras untuk mengambil simpati atau antipati sekalipun. Evans berhasil mengubah imej nya dengan peran Curtis yang ambisius tapi tetap penuh perhitungan. Sebaliknya peran Edgar yang gegabah mampu dihidupkan dengan pas oleh Bell. Kapabilitas Hurt, Harris, Spencer yang kaliber Oscar rasanya tak perlu diragukan lagi. Aktor kesayangan Bong, Song sukses mewakili ras kuning sebagai Minsu yang unpredictable.

Terlepas dari perbandingan dengan medium novel grafis nya kelak, Snowpiercer versi film ini tetaplah sebuah breakthrough dari negeri ginseng yang patut diapresiasi. Penggunaan multi bahasa tidak sampai mengganggu tetapi menegaskan international taste nya. Bong’s really deserved praise for his efforts in this remarkable sci-fi with humanity value. Only few flaws the movie has to deal with, weak backgrounds of several main characters and exterior CGI through the snowy post-apocalyptic world . People will questioning its’ ending but for me it’s picture perfect. Definitely a train ride you shouldn’t miss with a lot of things to admire!

Durasi:
126 menit

U.S. Box Office:
$1,939,441 till
Jul 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Sabtu, 16 November 2013

KILLER TOON : Promising But Overstretched Final Act

Original title:
Deo Web-toon: Ye-go Sal-in

Nice-to-know:
Film horor Korea Selatan pertama yang menjual lebih dari satu juta tiket semenjak Death Bell (2008).

Cast:
Lee Si-young sebagai Ji-yoon
Uhm
Ki-joon sebagai Lee Gi-cheol
Kim
Hyeon-woo sebagai Yeong-soo
Moon Ga-young
Kwon
Hae-hyo
Oh
Kwang-rok


Director:
Merupakan film keempat bagi Kim Yong-gyun setelah The Sword with No Name (2009).

W For Words:
Gambar fiktif yang kemudian menjadi kenyataan. Rasanya baru beberapa bulan lalu, Korea menyuguhkan The Gifted Hands alias Psychometry yang dibintangi oleh Kim Kang-woo dan Kim Beom. Kini hadir persembahan Filma Pictures dan CJ Entertainment dengan aktris Lee Si-young dan Moon Ga-young. Yang satu mengambil obyek grafitti sedangkan yang lain komik. Perbedaannya mungkin hanya pada penekanan hubungan interpersonalnya saja, cowok dengan cowok, cewek dengan cewek.  Tentu menghasilkan sudut pandang yang juga berbeda. Curious?
Komikus wanita Ji-yoon tengah menikmati kesuksesannya dengan menandatangani kontrak baru bernilai tinggi. Satu kasus pembunuhan misterius yang disinyalir meniru apa yang terjadi pada komiknya membuat Ji-yoon lantas menjadi tersangka utama. Detektif Ki-cheol dan asistennya Yeong-soo segera melakukan interogasi tapi tidak ditemukan bukti yang cukup kuat. Seiring penyelidikan berjalan, masa lalu Ji-yoon pun terkuak dimana perjuangannya untuk mencapai status seperti sekarang tidaklah mudah. Sementara itu korban lain mulai berjatuhan.
Penulis skrip sekaligus produser film, Lee Sang-hak sesungguhnya sudah memulai dengan baik apalagi opening act nya lumayan menggebrak dimana sederetan gambar horor mampu meneror pikiran penonton. Namun memasuki paruh kedua, Lee mulai memainkan trik lawas yaitu balas dendam dan perasaan bersalah ketika rahasia gelap mulai terbongkar. Belum lagi dramatisasi ‘kekeluargaan’ yang biasanya menjadi identitas film Korea. Kian diperburuk dengan twist after twist after twist yang terlalu dipaksakan menjelang endingnya, seakan memaksa penonton merasa tertipu mentah-mentah.
 
Sutradara Yong Kyun tampak menguasai trik ‘horor’ secara maksimal. Timing dan atmosfir yang dibangun berhasil mencekam penonton di beberapa bagian. Sedangkan sisi gore dan violence nya disuguhkan dengan efektif tanpa melulu terkesan eksplisit. Setting gothic dengan pemilihan tone warna yang variatif semakin ciamik dengan pemanfaatan lighting yang tepat. Elemen terpenting yang juga gemilang ditanganinya adalah tampilan sekuens komik yang bisa jadi membuat bulu kuduk anda berdiri. Visualisasi film secara keseluruhan mampu menutupi segala kekurangan yang ada.
Si-young yang filmografinya didominasi genre drama romantis kali ini menjadi nyawa film dimana terjadi pergeseran karakteristik tokoh Ji-yoon yang cukup signifikan. Ki-joon, Hyeon-woo, Ga-young juga tidak mengecewakan meskipun harus menjalani penokohan nan klise. Killer Toon yang sempat merajai box-office Korea tahun ini mungkin bisa dimaafkan atas ketidakmaksimalannya dalam upaya menyajikan horor thriller modern yang fresh dan mindbending. Blame the overstretched final act with unimportant conclusion. Well, at least they try. It’s still above average for such Asian’s similar genres.

Durasi:
104 menit

Asian Box Office:
₩7.79 billion in Korea

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 09 November 2013

CARRIE : Revenge Ain't Always Best Served Cold

Quote:
Carrie White: The other kids, they think I'm weird. But I don't wanna be, I wanna be normal. I have to try and be a whole person before its to late.

Nice-to-know:
Adaptasi film pertama dimana tokoh Carrie benar-benar dimainkan oleh remaja, Chloe Grace Moretz yang berusia 15 tahun. Terdahulu Sissy Spacek dan Angela Bettis masing-masing berusia 26 tahun dan 28 tahun.

Cast:
Chloë Grace Moretz sebagai Carrie White
Julianne Moore sebagai Margaret White
Gabriella Wilde sebagai Sue Snell
Portia Doubleday sebagai Chris Hargensen
Alex Russell sebagai Billy Nolan
Zoë Belkin sebagai Tina
Ansel Elgort sebagai Tommy Ross


Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Kimberly Peirce yang mulai angkat nama lewat Boys Don’t Cry (2006).

W For Words:
Carrie White adalah siswi SMU pemalu yang kesulitan bergaul. Dunianya hanya diisi oleh ibunya semata, Margaret White, wanita relijius berprofesi penjahit yang merasa terkhianati oleh cinta di masa lampau. Kejadian menstruasi pertamanya di toilet sekolah membuat Carrie jadi buah bibir sekaligus bahan celaan teman-temannya terutama siswi bermasalah, Chris Hargensen dan kekasihnya, Billy Nolan. Sue Snell yang merasa bersalah mengutus pacarnya Tommy Ross yang juga idola sekolah untuk mengajak Carrie ke prom night. Mimpi buruk pun dimulai dimana kekuatan telekinesis Carrie akan mengambil alih. 

Ada dua nama besar yang sudah membesarkan Carrie. Satu adalah Stephen King yang pertama kali mengangkat kisah fiktifnya ke dalam novel di tahun 1974 yang lantas menjadi best seller dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Dua adalah Brian De Palma yang sukses mengadaptasinya dengan bintang Sissy Spacek yang kemudian menerima nominasi Oscar pertamanya sebelum berjaya pada kesempatan berikutnya lewat Coal Miner’s Daughter (1980). Kini lebih dari tiga puluh tahun berlalu, MGM Pictures bekerjasama dengan Screen Gems dan Misher Films meremakenya dengan bekal yang menjanjikan dari tiga nama.

Pertama, Chloë Grace Moretz adalah the next big thing in Hollywood dengan kemampuan aktingnya yang terakreditasi. Walaupun banyak pihak yang mengatakan ia terlampau cantik untuk peran Carrie White, setidaknya usia gadis kelahiran 1997 ini benar-benar remaja saat syuting berlangsung. Pilihan yang terbukti tidak rancu karena saya benar-benar melihat transformasi dari korban tak berdaya menjadi pelaku berkuasa di sini, bukan hanya secara fisik tetapi juga segi emosionalnya yang cukup matang berbicara di layar.

Kedua, Julianne Moore adalah aktris kaliber Oscar dengan empat nominasi. Ia diyakini akan menjadi penyanding yang pas bagi Moretz. She performed great. Sisi lunatic psychotic nya terwujud nyata lewat setiap tindakan dan perkataannya. Sosok Kristen taat yang kerap menghubungkan segala sesuatunya dengan Tuhan dan iblis secara kontradiktif. Wilde dan Doubleday berhasil menempati posisi berseberangan secara brilian. Elgort juga terbilang likeable sebagai Tommy yang mulai terdistraksi oleh perasaannya sendiri. Greer juga mencuri perhatian sebagai pihak ketiga di sekolah, Ibu Desjardin yang juga pengajar olahraga.

Ketiga, Kimberly Peirce yang 14 tahun silam menghentak dunia dimana film yang ditulis dan disutradarainya sendiri, Boys Don’t Cry (1999) sukses menyabet Oscar baginya. Skrip yang ditulis oleh Lawrence D. Cohen dan Roberto Aguirre-Sacasa ini berupaya dimodernisasi dengan pemakaian ponsel berkamera dan media Youtube sebagai alat eksploitasi. Namun Peirce seakan menyandang beban berat apalagi harus berurusan dengan efek khusus yang terkadang bertentangan dengan spirit indie nya. Bagi saya apa yang dilakukannya secara detail dari awal sampai akhir masih terlalu episodik dibandingkan originalnya sehingga kerap terasa jumpy dan inconsistent.


Terlepas dari segala kekurangannya, remake Carrie yang satu ini tetap berhak mendapatkan spotlight yang diharapkannya. Tidak akan terlalu bersahabat bagi mereka yang mengenal betul versi originalnya tetapi lumayan menjanjikan bagi penonton ‘generasi baru’. Faktor kesetiaan dengan pendahulunya di departemen storytelling tampak berusaha diupgrade dengan tampilan visualnya yang lebih kekinian. Unsur gory dan violence yang diusungnya sedikit berpihak pada elemen horor dibandingkan thriller. For me it’s still haunting to see payback time where revenge ain't always best served cold.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$34,050,775 till Nov 2013

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 02 November 2013

THOR : THE DARK WORLD Surprisingly Better Asgard Tryouts


Quote:
Loki: After all this time, now you come to visit me, brother? Why? To mock?
Thor: I need your help. And I wish I could trust you...
Loki: If you did, you'd be the fool I always took you for.

Nice-to-know:
Terdapat 30 macam palu yang digunakan Thor dengan berat yang beragam untuk kepentingan yang berbeda.

Cast:
Chris Hemsworth sebagai Thor
Natalie Portman sebagai Jane Foster
Tom Hiddleston sebagai Loki
Anthony Hopkins sebagai Odin
Christopher Eccleston sebagai Malekith
Jaimie Alexander sebagai Sif
Zachary Levi sebagai Fandral
Ray Stevenson sebagai Volstagg
Tadanobu Asano sebagai Hogun
Idris Elba sebagai Heimdall
Rene Russo sebagai Frigga


Director:
Alan Taylor mulai angkat nama setelah menyutradarai The Emperor's New Clothes (2001).

W For Words:
Superhero andalan Marvel Comics yang ruang lingkup sebenarnya bukan di bumi yakni Thor kembali lagi. Bukan hanya pendapatan nyaris 200 juta dollar di Amerika Serikat dan sekitarnya saja yang menjadi alasan utama Marvel Entertainment dan Marvel Studios melanjutkannya meski tanpa Paramount Pictures. Namun lebih karena fanbase nya yang tidak sedikit dan memiliki loyalitas tinggi. Jadi tidak usah heran jika dua atau tiga tahun lagi anda akan menemukan seri lainnya. Apalagi kali ini Loki telah menjelma menjadi daya tarik tersendiri. At the end of the day, you will agree with this!

Ketika merindukan Thor yang sudah pergi tanpa kabar selama bertahun-tahun, Jane Foster malah menemukan senjata kuno berkekuatan besar, the Ather yang secara tidak langsung membangunkan Malekith dan armada Dark Elf nya yang selama ini menjadi musuh utama kaum Asgard. Lantas Thor mau tidak mau bekerjasama dengan adiknya, Loki yang sebetulnya tengah menjalani masa hukuman di penjara. Mereka harus bahu membahu memerangi musuh sebelum keseimbangan alam semesta terganggu dan menghancurkan segala isinya.

Cerita yang digagas Don Payne dan Robert Rodat berdasarkan komik karya Stan Lee, Larry Lieber dan Jack Kirby ini kemudian digarap oleh Christopher Yost, Christopher Markus dan Stephen McFeely ke dalam format skenario. Hasilnya? Konsep paralelisme Bumi dan Asgard terjembatani dengan cerdas tanpa membuat penonton mengernyitkan dahi karena kebingungan. Ragam karakteristik nan unik juga menjadi poin plus. Apalagi chemistry antar tokohnya yang tergolong memikat terutama antara Thor dan Loki yang mengalami pergeseran emosional dari awal sampai akhir.

Sutradara alumni Game of Thrones, Alan Taylor tampaknya tahu betul apa yang harus dilakukannya dalam installment ini, terlebih melanjutkan ‘peristiwa’ yang terjadi dalam The Avengers (2012). Tanpa bermaksud mengecilkan peranan Branagh sebelumnya, The Dark World mungkin lebih gelap tetapi justru lebih ringan untuk dinikmati. Terima kasih pada beberapa bagian komedik yang sulit untuk tidak ditertawakan. Set pieces dan spesial efeknya terbilang mengesankan walaupun gimmick 3D nya tak terlalu diwajibkan bagi para moviegoers yang ingin sensasi lebih.

Besar kemungkinan Hiddleston akan menjadi fan-favorite dengan karakter Loki yang humoris, mempesona dan berperangai misterius. Lompatan fungsionalnya terhadap Thor series amat terasa signifikan. Kendati demikian kharisma Hemsworth tidak sepenuhnya tertutupi. Ketangguhan dan sifat kepahlawanannya tetaplah menonjol. Ketidakpeduliannya terhadap kekuasaan diyakini kian menggugah simpati anda. Duet Dennings dan Howard cukup mencuri perhatian. Si cantik Portman juga tidak bisa diabaikan begitu saja karena masih memegang peranan penting. Sama halnya dengan Elba dan Skarsgård.

Menilik dari trailer yang awalnya tidak terlalu membangkitkan selera itu, pada akhirnya Thor : The Dark World menjadi presentasi yang cukup memuaskan bagi saya. Lupakan sisi antagonis yang terkesan kurang tergarap walakin Eccleston samasekali tidak bermain buruk. Toh rentetan aksinya tetap terjaga intensitasnya sampai penghujung film. Kiprah Thor dengan ‘palu’ yang menggebrak serta Loki yang unpredictably eccentric adalah jaminan yang tak boleh dilewatkan sekaligus membuka pintu Marvel Universe yang diharapkan kembali dengan grande idea yang lebih menjanjikan lagi dalam Age of Ultron. Don't forget post credit-title in the middle and the very end!

Durasi:
112 menit

U.S. Box Office:
$146,965,000 till mid November 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 26 Oktober 2013

ABOUT TIME : Poignant Movie About How To Make Time


Quote:
Tim: Lesson Number One: All the time traveling in the world can't make someone love you.

Nice-to-know:
Film ketiga Rachel McAdams menjadi love interest seseorang yang bisa mengarungi waktu setelah The Time Traveler's Wife (2009) dan Midnight In Paris (2011).

Cast:
Domhnall Gleeson sebagai Tim
Rachel McAdams sebagai Mary
Bill Nighy sebagai Dad
Lydia Wilson sebagai Kit Kat
Lindsay Duncan sebagai Mum

Tom Hollander sebagai Harry
Margot Robbie sebagai Charlotte

Director:
Merupakan film ketiga bagi penulis Richard Curtis yang memulai debut penyutradaraannya lewat Love Actually (2003).

W For Words:
Karirnya yang panjang sebagai penulis skrip (kebanyakan) komedi romantis masa kini tak perlu diragukan lagi. Namun sebagai sutradara, Richard Curtis menghadapi situasi fifty-fifty dengan kesuksesan Love Actually (2003) dan kegagalan Pirate Radio a.k.a The Boat That Rocked (2009) ditilik dari angka box office nya. Saya yakin hanya sedikit di antara anda yang sudah menonton judul tersebut belakangan. Selayaknya salah satu dialog dalam About Time, dibutuhkan ‘anak ketiga’ untuk menentukan kredibilitas Curtis selanjutnya. Penasaran?

Di usia 21, Tim Lake diberitahu ayahnya bahwa setiap lelaki di garis keturunan keluarga mereka bisa menjelajah waktu. Dengan kemampuan barunya itu, harapan Tim sederhana yaitu mendapatkan seorang kekasih. Awalnya ia jatuh hati pada Charlotte di sebuah musim panas. Namun memutuskan pergi ke London untuk mengejar cita-cita sebagai pengacara hingga bertemu Mary di sebuah ‘kencan buta’. Beberapa ‘pengulangan’ membuat romansanya sempurna. Mereka menikah dan dikaruniai putri bernama Posy. Sementara hidupnya berjalan, hidup orang-orang di sekeliling Tim pun berubah.

Skrip yang ditulis Curtis sendiri ini sesungguhnya terbagi dalam tiga chapter. Pertama, percintaan Tim dan Mary. Kedua, hubungan Tim dengan adiknya yang bermasalah, Kit Kat. Ketiga, interaksi Tim dengan ayahnya. Ketiga babak ini secara konstan menjelaskan hukum sebab akibat karena perjalanan waktu yang dilakukannya. Potret keluarga Inggris kelas menengah ditakar secara tepat dengan segala ‘ideology’ nya. Durasi yang cukup panjang seakan memberi ruang bagi penonton untuk perlahan-lahan mengenal multi karakter yang beraneka ragam tapi tidak lari dari sudut pandang Tim seorang.

Perpindahan dari satu waktu ke waktu lain terbilang smooth tanpa banyak detail penjelasan yang bisa jadi akan terlalu menggurui. Set awal tahun 2000an yang dominan di paruh pertama film terbangun sempurna. Sinematografer John Guleserian menjalankan tugasnya dengan baik dalam menangkap momen-momen penting. Lengkap mengiringi lagu-lagu hit pada masanya dari t.A.T.u., Sugababes, The Killers dll termasuk tembang lawas Il Mondo dari Jimmy Fontana. Tak ketinggalan scoring music dari Nick Laird-Clowes yang mengalun syahdu. Atau newhit milik Jon Boden, Sam Sweeney & Ben Coleman, How Long Will I Love You yang super catchy itu.

Gleeson menghidupkan tokoh Tim yang goofy dengan sempurna. Keegoisannya justru terasa manusiawi hingga tak sampai menghilangkan simpati penonton. Latar belakang Mary mungkin tidak cukup digambarkan tapi tak menghalangi McAdams untuk menampilkan sosok wanita muda charming yang insecure. Nighy masih membawakan gaya eksentriknya ke dalam figur ayah bijak. Wilson juga memikat sebagai Kit Kat yang lunatic. Sederetan cast lainnya juga terasa pas menjiwai peranannya masing-masing. 

About Time mungkin tidak sempurna sebagai time travel movie karena timeline yang tak jarang terkesan random. Namun sebagai film keluarga terbilang mumpuni. Ya, keluarga karena sesungguhnya berbicara tentang cinta secara universal, ayah anak, kakak adik, suami istri dsb. Abaikan posternya yang misleading itu. Sesuai dengan judulnya, message dari Curtis benar-benar tersampaikan kepada penonton. Kita begitu ingin memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat tanpa menyadari bahwa selalu ada alasan di balik setiap kejadian. On top of that, we should know how to love, how to live but the most important thing is how to cherish every single moment while you still have time.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$1,076,250 till
Nov 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 25 Oktober 2013

WE’RE THE MILLERS : Hilarious Misadventures Of Misfit Family


Quote:
Scottie P.: You know what I'm sayin?

David Clark: Well, I'm awake and I speak English, so yeah I know what you're saying.

Nice-to-know:
Cast melakukan prank pada Jennifer Aniston dengan memainkan theme song serial "Friends" dan ditayangkan sebagai bloopers di end credit title.

Cast:
Jennifer Aniston sebagai Rose O'Reilly
Jason Sudeikis sebagai David Clark
Emma Roberts sebagai Casey Mathis
Will Poulter sebagai Kenny Rossmore
Ed Helms sebagai Brad Gurdlinger
Nick Offerman sebagai Don Fitzgerald
Kathryn Hahn sebagai Edie Fitzgerald
Tomer Sisley sebagai Pablo Chacon


Director:
Merupakan feature film ke
tiga bagi Rawson Marshall Thurber setelah The Mysteries of Pittsburgh (2008).

W For Words:
Keberhasilan sebuah komedi situasi ditentukan oleh tingkat kesulitan menyatukan berbagai karakter yang saling kontradiktif dalam satu perjalanan konflik. Kali ini kolaborasi BenderSpink, New Line Cinema dan Vincent Newman Entertainment berpegang teguh pada pakem tersebut dalam menyuguhkan kisah penyelundupan narkoba yang dimotori bukan hanya satu orang atau dua orang tetapi satu keluarga! Ya, The Millers ini telah melenggang mulus di tangga box office Amerika Serikat pada fall season 2013 ini dengan mengumpulkan lebih dari 150 juta dollar. Enough reason?

Penyelundup kelas teri, David secara naas dirampok di gedung apartemennya sendiri. Uang bosnya, Brad Gurdlinger yang lenyap membuatnya tak kuasa menolak tugas mengambil ganja di Mexico. Demi melancarkan aksinya, David menyewa dua tetangganya, stripper Rose dan remaja lugu Kenny beserta kawannya yang homeless Casey. Keempatnya berpura-pura sebagai keluarga The Millers yang sedang berlibur agar tidak dicurigai polisi perbatasan. Perjalanan dengan caravan mewah itu kemudian mempertemukan mereka dengan orang-orang tak terduga yang membahayakan penyamaran.
Skrip yang dikerjakan oleh Bob Fisher, Steve Faber, Sean Anders dan John Morris ini terbilang setia pada pakem “family sticks together no matter what” dimana garis finish sudah ditetapkan sejak awal. Awkward moments berhasil dibangun karena mereka bukanlah keluarga dalam arti yang sesungguhnya. Dalam prosesnya mengandalkan segala elemen komedi yang ada mulai dari slapstick, karikatural, dirty jokes hingga konten seksual yang vulgar. Tidak heran mengingat rating R yang disandangnya sehingga tak semua orang bisa menikmatinya dengan aman. You know what i’m sayin?

Sutradara Thurber ‘menjual’ interaksi para karakternya yang memang variatif dalam menjaga pace film yang berada di jalur komedi dan drama sekaligus. Tak hanya internal The Millers tetapi juga eksternal dengan The Fitzgeralds ataupun lainnya yang silih berganti keluar masuk secara episodik. Konsep road movie juga terbangun sempurna seiring perjalanan caravan mereka ke Mexico City lewat penjabaran konflik yang masuk akal dan sangat mungkin terjadi. Lantunan tembang lawas Waterfall milik TLC pada salah satu scene diyakini sukses menghadirkan tawa hangat anda.

Sudeikis secara gemilang mampu menjembatani berbagai karakter sekaligus melalui tokoh Clark yang egois dan tak simpatik itu. Aniston menjawab tantangan dengan keberaniannya ‘stripping’ selain menunjukkan naluri kewanitaannya sebagai ibu dan istri. Roberts tidak mengecewakan sebagai remaja homeless bermasalah yang masih mencari jati diri. Poulter mungkin paling menyita perhatian anda dengan status underdog nya. Selain itu masih ada Helms, Offerman, Hahn, Sisley yang tidak sedikit memberikan kontribusi mereka dalam menghadirkan heartfelt dan awkward moments bersamaan.

We’re The Millers sesuai premis memikat yang disandangnya bisa jadi akan menawan hati anda dengan mudah karena spontanitas dan totalitasnya dalam mengolok-olok konsep keluarga disfungsional. Sederetan memorable scenes yang lucu sekaligus menyentuh mungkin turut membekas dalam ingatan selepas menyaksikannya. Jelas tidak diperuntukkan bagi penikmat komedi ‘sopan’ yang tidak siap dengan suguhan ‘ekstrim’. For me, this is another lesson about how to fit your position into family matters while laughing yourself out loud along the way. Totally worth its ride!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$147,710,416 till mid October 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 19 Oktober 2013

CAPTAIN PHILLIPS : Terrifying Ordeal At The Sea


Quote:
Captain Richard Phillips: Listen up, we have been boarded by armed pirates. If they find you, remember, you know this ship, they don't. Stick together and we'll be alright. Good luck.

Nice-to-know:
Sewaktu interview dengan NPR dalam program "Fresh Air", Tom Hanks mengaku bahwa ia berjumpa pertama kali dengan aktor-aktor yang berperan sebagai bajak laut Somalia langsung pada syuting adegan di jembatan.

Cast:
Tom Hanks sebagai Captain Richard Phillips
Barkhad Abdi sebagai Muse
Barkhad Abdirahman sebagai Bilal
Faysal Ahmed sebagai Najee
Mahat M. Ali sebagai Elmi
Michael Chernus sebagai Shane Murphy
Catherine Keener sebagai Andrea Phillips 


Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi Paul Greengrass setelah Green Zone (2010).

W For Words:
Ada yang sudah menonton film Denmark berjudul A Hijacking (2012) dimana bajak laut Somalia bernegosiasi dengan pihak-pihak berwenang Kopenhagen? Jika sudah, anda bisa bandingkan dengan produksi kolaborasi Michael De Luca Productions, Scott Rudin Productions, Translux dan Trigger Street Productions yang satu ini. Setidaknya ada dua nama besar yang menjadi jaminan mutu di dalamnya yaitu sutradara peraih nominasi Oscar, Paul Greengrass dan tentunya aktor kawakan penerima Piala Oscar, Tom Hanks.

Tahun 2009, kapal container Maersk Alabama bermuatan lebih dari 15,000 kubik cargo milik Amerika Serikat berlayar menuju Mombasa, Kenya. Sang kapten, Richard Phillips memerintahkan 20 krunya dengan penuh otoritas. Tak lama kemudian, dua kapal boat berisikan bandit Somalia menguntit dan bertekad membajaknya. Empat di antaranya berhasil naik dan mengambil alih kekuasaan dengan senjata api. Ketuanya Muse menyandera Phillips dan melarikan diri dengan sekoci. Namun Angkatan Laut tidak tinggal diam dan memulai operasi pembebasan.
Penulis skrip Billy Ray berdasarkan novel biografi karangan Richard Phillips sendiri bersama Stephan Talty, A Captain’s Duty: Somali Pirates, Navy SEALs, and Dangerous Days at Sea yang terbit di tahun 2010 ini tidak kehilangan fokus saat harus berpindah dari ‘panggung’ berskala besar ke yang lebih kecil. Kesemua karakter yang terlibat memegang kunci masing-masing sehingga pertukaran dialog yang terjadi begitu hidup sesuai dengan situasi yang dihadapi. Kita sebagai penonton tetap dikawal ketat mengikuti moment to moment terlepas dari ending yang mungkin sudah bisa diprediksi.

Sutradara Greengrass yang terkenal dengan shaky handheld cam style nya (thanks to The Bourne trilogy) masih mempertahankan trademark tersebut. Tak jarang anda benar-benar merasa mabuk laut dibuatnya saat arus dan ombak mengombang-ambingkan kapal di tengah perairan terbuka itu. Storytelling yang straightforward cenderung tidak mengurangi tensi samasekali. Layer demi layer yang dibuka selama lebih dari dua jam durasinya seakan memberi waktu yang cukup bagi anda untuk betul-betul mengenal situasi yang dihadapi Phillips, bajak laut bahkan pihak militer US sekalipun.

Konsistensi Hanks dalam berakting dari masa ke masa memang patut diacungi jempol. Upayanya menghidupkan sosok Phillips begitu luar biasa sehingga klimaksnya terasa emosional. Bagaimana pergeseran karakteristiknya selama empat hari penyanderaan merupakan salah satu highlight dalam film ini. Abdi sebagai lawannya terbilang fenomenal sebagai debutan. Sosok Muse yang awalnya dibenci justru semakin manusiawi seiring waktu berjalan. Abdirahman, Ahmed dan Ali pun tak kalah cemerlang dalam membangun dramatisasinya secara wajar.

Captain Phillips adalah sebuah biopic menegangkan yang tak boleh dilewatkan. Bagaimana kekerasan dan ketakutan yang mewarnai pembajakan dan penyanderaan disuguhkan dengan begitu nyata tanpa faktor berat sebelah di antara subyek dan obyeknya. Format IMAX sebetulnya tidak terlalu diwajibkan bagi real moviegoers yang mengharapkan eksperimen ‘lebih’ dengan gambar dan suara dari biasanya. In the end, it’s all about the combination of smart filmmaking and captivating performances by its cast. Ready for the adventure and be the witness?

Durasi:
134 menit

U.S. Box Office:
$53,300,000 till
mid October 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 10 Oktober 2013

MANUSIA SETENGAH SALMON : Analogi Perpindahan Rumah dan Hati


Quote:
Mama: Kalo kita mau pindah ke tempat yang baru, kita juga harus siap untuk meninggalkan yang lama.

Nice-to-know:
Pergantian sutradara dari Fajar Nugros di Cinta Brontosaurus dimaksudkan untuk mengubah suasana dan tone film secara keseluruhan.

Cast:
Raditya Dika sebagai Dika
Kimberly Ryder sebagai Patricia
Eriska Rein sebagai Jessica
Bucek sebagai Papa Dika
Dewi Irawan sebagai Mama Dika
Mosidik sebagai Christian, editor buku
Insan Nur Akbar sebagai
Sugiman, sopir

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Herdanius Larobu yang juga menggarap efek visual sendiri.

W For Words:
Saat ditanya wartawan mengapa 'rajin' sekali menggunakan binatang sebagai judul ceritanya, Raditya Dika mengatakan bahwa binatang memiliki sifat yang khas sehingga dapat dijadikan perumpamaan. Brontosaurus mewakili sesuatu yang usang, kadaluwarsa. Sedangkan Salmon dipercaya selalu berpindah-pindah selama menempuh jarak 1.448 km untuk menemukan pasangannya. Film ini sendiri adalah kelanjutan dari Indonesian summer hit lalu yang sampai hari ini masih tercatat sebagai film terlaris tahun 2013. Fenomenal? Bisa jadi! Tapi tidak mengejutkan mengingat fanbase Dika begitu luas.

Ketika ibunya memutuskan pindah dari rumah semasa dia kecil, Dika yang juga seorang penulis masih berjuang untuk pindah dari hati Jessica yang sudah meninggalkannya. Saat berbicara dengan temannya Rizky, Dika bertemu cewek cantik Patricia yang bekas teman sekolahnya dulu. Pendekatan berjalan lancar hingga keduanya sepakat jadian. Masalah mulai muncul tatkala Patricia mengetahui isi hati Dika yang sesungguhnya. Sementara itu pencarian rumah baru bersama ibunya tak kunjung berakhir selain ayah Dika yang merasa hubungan dengan putranya sendiri kian berjarak. 

Dika sebagai penulis skrip tahu betul bagaimana memasukan 'his real life stories' untuk dirasakan, bahkan ditertawakan pula oleh penonton. Karakter ayah, ibu, adik-adik, teman-teman bahkan sopirnya silih berganti masuk frame untuk memperkaya plot sehingga film ini dapat dikategorikan family movies. Urusan hati tetap mendapat porsinya sendiri, terwakili oleh sang mantan yang masih hilir mudik dalam hidup Dika maupun kekasih anyar yang mempertanyakan keseriusan Dika. Secara konten memang harus diakui lebih kaya dibandingkan prekuelnya yang terlampau linier karena banyak bicara tentang ego itu.


Sutradara Larobu yang lebih dikenal dengan sebutan Capluk itu nyatanya bukan orang baru di bidang perfilman. Produser Chand Parwez mengaku sudah mengenalnya sejak Kafir / Satanic (2001). Kesempatan menggarap feature film debutnya tak disia-siakan. Kejelian menangkap momen jelas nilai plus dalam produksi di samping pemilihan setting 'sehari-hari' yang cukup variatif. Dukungan sinematografi Yadi Sugandi, editing rapi Cesa David, scoring music Andhika Triyadi dan desain Khikmawan serta sumbangan lagu tema dari HiVi semakin melengkapi unsur entertainment nya.
Dika memang terlihat lebih 'simpatik' di sini meski dari segi akting tidak jauh berbeda dari apa yang sudah-sudah. Hadirnya Kimberly menambah value dengan pesona dan keluwesannya membawakan tokoh. Dewi Irawan dan Bucek menyuguhkan nuansa komedik lewat tipikalitas figur ibu dan ayah yang kental. Insan Nur Akbar sukses mencuri perhatian dengan karakter supir Jawa lugu nan mengganggu. Standup comedian Mosidik turut andil sebagai editor Christian layaknya hantu yang bisa muncul dimana-mana. Deretan aktor-aktris langganan Starvision mengisi deretan extra/cameo. Can you guess all of them?

Saya bisa katakan, Manusia Setengah Salmon mungkin akan lebih bersahabat pada penonton non-fans Raditya Dika. Rangkaian ceritanya yang mengalir datar setidaknya masih bisa diamini karena begitu dekat dengan kenyataan. Dika berhasil menganalogikan ‘rumah’ dan ‘hati’ dengan pas tanpa harus kehilangan korelasi satu sama lain. Siapa sih yang tidak pernah merasakan sulitnya 'move on' dari kondisi yang sudah sangat dikenal sebelumnya? We tend to be afraid with new situations instead of accept it as a challenge. For worse or even better, life must go on, right?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: