XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 01 Juli 2015

ANY BODY CAN DANCE 2 : Bigger Deal But Less Value Exuberant Sequel

Quote:
Suresh: Sir, u r superb sir, outstanding, sir i salute u sir.

Vishnu: I know men, shut up & get lost.


Nice-to-know:
Demi memperdalam penjiwaan karakter Suresh, Varun Dhawan menato Michael Jackson di tangan kanannya.


Cast:
Varun Dhawan sebagai Suresh
Shraddha Kapoor
sebagai VinniePrabhudheva sebagai Vishnu
Sushant Pujari sebagai Vernon
Punit Pathak sebagai Vinod
Lauren Gottlieb sebagai Olive
Pooja Batra sebagai Puja Kohli

Director:
Merupakan film ketiga bagi Remo setelah prekuelnya ABCD (2013).

W For Words:
Rasanya industri Bollywood yang identik dengan musik dan tari sudah tidak lagi membutuhkan dance movie selayaknya yang dilakukan Hollywood dari masa ke masa. Namun di awal tahun 2013 yang lalu, UTV Spotboy membuat sebuah gebrakan dengan ABCD (Any Body Can Dance) yang memiliki banyak persamaan dengan franchise Step Up. Tidak salah karena masih mengakar dengan budaya India hingga akhirnya mencapai kesuksesan yang lumayan. Dua tahun kemudian, sekuelnya pun diproduksi. Tidak tanggung-tanggung, IX Faces Pictures dan UTV Motion Pictures langsung menggandeng Disney. We knew it’s gonna be huge!

Mumbai Stunners gagal dalam pertunjukan televisi nasional hingga mereka dicap sebagai peniru. Suresh yang bekerja di bar pamannya lantas berkenalan dengan Vishnu, guru tari yang handal tapi hobi mabuk-mabukan. Lewat perjuangan bujuk rayu yang intens, Vishnu akhirnya setuju melatih Suresh, Vinnie dkk. Nama kelompok yang berganti menjadi Indian Stunners tersebut mulai mencari anggota baru demi mewujudkan mimpi mereka bersama yakni tampil dalam World Dance Competition di Las Vegas sekaligus keikutsertaan negara India untuk pertama kalinya.

Skenario yang ditulis oleh Remo dibantu oleh Mayur Puri dalam penyusunan dialognya ini terinspirasi dari perjuangan nyata Nalasopara boys yang menempatkan India pada peta dunia hiphop saat memenangkan kejuaraan dunia di Las Vegas pada tahun 2012 lalu. Namun segalanya dalam film dibuat dalam skala yang lebih besar dimana passion tampak begitu mudah mengalahkan segala hambatan. Berbagai karakter kunci memang masih mengalami struggling tetapi turning point konfliknya masih terkesan dipaksakan dan tak jarang penyelesaiannya berlalu begitu saja.

Ambisi Remo yang tinggi untungnya masih dibarengi dengan directing skills yang memadai. Trik-trik patriotisme yang juga kental dengan nilai-nilai keagamaan terbilang sulit untuk tidak mengundang empati penonton. Koreografi tari baik individual maupun kelompok sukses ditampilkan secara memikat dari awal hingga akhir. Balutan musik hiphop yang digagas oleh Jigar, Mayur Puri dan Sachin akan dengan mudah menstimulasi indera pendengaran anda. Durasi yang masih terlalu panjang menjadi isu krusial, terlebih paruh pertama yang terasa lamban sebelum berakhir dengan eksplorasi kota judi tersebut.
Varun dan Sraddha mungkin bisa dimaafkan jika menyangkut performa dance. Perhatikan saja group performance yang tidak pernah menempatkan mereka di posisi sentral. Namun harus diakui kharisma keduanya sebagai leading memang memukau. Banyak wajah baru yang berfungsi sebaliknya, lemah di akting tapi kuat di dancing. Meski demikian, kekayaan karakteristik para underdog yang berbeda latar belakang tersebut niscaya masih menarik untuk disimak. Tokoh Sir Prabudheva yang dominan pada prekuelnya kali ini hanya bertugas sebagai guard yang memiliki hidden agenda.

Terlepas dari format 3D yang diembannya, ABCD 2 merupakan ‘upgrade’ dari segi teknis dan style. Plot nya tidak banyak berubah selain mengganti spirit can-do yang sederhana dengan believe in hardworking yang cukup kompleks. Lupakan kedalaman cerita yang sedikit menguap karena kompensasi dancing sequences akan menawan perhatian anda. Just feel the energetic perfomances in stages full of energy. Dance freaks or not, you might love the cinematic experience with better feeling guaranteed after you walk out of the cinemas!

Durasi:
152 menit

Movie-meter:

Senin, 29 Juni 2015

SPL 2 : A TIME FOR CONSEQUENCES No-Holds-Barred For Action Fanfare

Original title:
Saat po long 2

Nice-to-know:
Bukan merupakan prekuel ataupun sekuel walaupun masih dibintangi Wu Jing dan Simon Yam dengan karakter yang juga berbeda.

Cast:
Tony Jaa sebagai Chai
Jacky Wu sebagai Kit
Max Zhang sebagai Ko
Simon Yam sebagai Wah
Louis Koo sebagai Hung
Unda Kunteera Thordchanng sebagai Sa
Jun Kung sebagai Bill

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Cheang Pou-sui setelah The Monkey King (2014).

W For Words:
Para penikmat action Mandarin mungkin akan menyebutkan Saat po long alias Kill Zone (2005) jika ditanya salah satu film favoritnya sepanjang masa. Adalah Wilson Yip yang membesutnya jauh sebelum trilogy Ip Man yang legendaris tersebut. Satu dekade kemudian, 1618 Action Limited dan Abba Movies Co. Ltd. merilis sekuelnya meski tak lagi digawangi Yip dan juga sudah ditinggalkan oleh dua bintang besar Donnie Yen dan Sammo Hung. Jangan apatis dulu. Cobalah perlakukan film ini sebagai standalone. Reset mindset anda. Who knows you will love it even better.
Setelah penyamarannya terbongkar dalam sebuah misi human trafficking yang dilakukan oleh Hung, polisi Kit dijebloskan ke dalam penjara Thailand yang dijaga oleh sipir Chai. Kedua orang berbeda jalur hidup tersebut memiliki tujuan yang nyaris sama. Hung bertekad transplantasi jantung dari adiknya Bill demi melanjutkan hidup, sedangkan Ko berniat mencari donor sumsum tulang belakang untuk putrinya Sa yang menderita leukemia. Tak dinyana, kecocokan ada pada Kit yang sedang diupayakan bebas oleh pamannya Wah. Pertalian nasib itu kemudian harus dituntaskan dalam pertarungan klimaks berdarah.













Skenario Jill Leung dan Wong Ying ini terbilang ‘cheating’ dalam hal menjembatani komunikasi antar dua bangsa. Lihat bagaimana translator digital bahasa Mandarin dan Thailand yang begitu akurat. Atau pertukaran ‘emoji’ via ponsel yang di luar dugaan mampu memancing tawa penonton. Namun semua itu tertutupi dengan bangunan character arc yang solid dan variatif sehingga arah keberpihakan sudah jelas sejak menit awal tanpa harus dikacaukan dengan strukturisasi twist yang berlebihan. Setup berbagai adegan aksinya juga mulus dengan aksi reaksi yang wajar dari para tokohnya. 

Sutradara Cheang seakan naik kelas beberapa tingkat di sini setelah  The Monkey King (2014) yang mengecewakan itu. Plot demi plot terjahit sempurna demi menciptakan rangkaian emosi yang tidak pernah putus menuju konklusi epilog nya. Salute to editor David Richardson. Sekuens fighting nya begitu apik dengan varian lokasi yang tak kalah menarik, mulai dari penjara hingga gedung bertingkat mewah. Dukungan scoring music layaknya orkestra klasik sekaligus sumbangsih suara Xie Zhongjie dan Kayla Dawn kian memperkuat tone dan dramatisasi yang dibutuhkan.














Wu Jing yang dalam prekuelnya tidak mendapat spotlight memadai kali ini menunjukkan kharismanya sebagai martial arts star yang pantas dipuja. Sementara itu Tony Jaa yang sempat tenggelam usai kiprah cemerlangnya dalam Ong Bak (2003) seharusnya mendapatkan momentum kebangkitan lagi lewat peran Chai. Max Zhang memberikan impresi mendalam sebagai sipir Ko yang kejam dan tangguh. Sama halnya dengan Louis Koo yang mungkin tidak akan anda kenali di sini. Thordchanng sebagai Su yang bernasib malang justru tak jarang menjadi comic-relief. 

SPL 2 yang diberi subjudul A Time For Consequences ini masih setia pada elemen unggulan yang ada pada pendahulunya yaitu pertukaran jurus berenergi tinggi. Namun jelas tidaklah tabu jika sebuah film action turut dilengkapi dengan cerita emosional yang menampilkan beraneka ragam hubungan antar manusia nan kompleks lengkap dengan penjabaran sifat-sifat dasarnya. Tinggalkan sejenak logika anda untuk bisa lebih menikmati suguhan yang begitu kental dengan hukum sebab akibat ini. Definitely one of the best action movies in recent years you wouldn’t want to miss. Ready for high-octane tension and rollercoaster emotion? 

Durasi:
120 menit

Movie-meter:




Senin, 22 Juni 2015

THE POLTERGEIST : Classic Haunted House Tale Got Modernized

Quote:
Madison Bowen: They're here...


Nice-to-know:
Rosemarie Dewitt ingin membintangi reboot ini usai merasakan animo besar penonton gala premiere The Conjuring (2013) yang dibintangi suaminya Ron Livingston.

Cast:
Sam Rockwell sebagai Eric Bowen
Rosemarie DeWitt sebagai Amy Bowen
Saxon Sharbino sebagai Kendra Bowen
Kyle Catlett sebagai Griffin Bowen
Kennedi Clements sebagai Madison Bowen
Jared Harris sebagai Carrigan Burke
Jane Adams sebagai Dr. Brooke Powell
Susan Heyward sebagai
Sophie


Director:
Merupakan film kedua bagi Gil Kenan setelah City of Ember (2008).

W For Words:
Poltergeist (1982) merupakan salah satu contoh simbiosis mutualisme antara Tobe Hooper dan Steven Spielberg yang bertindak sebagai sutradara dan produser-penulis dalam menghasilkan film cult yang menjadi benchmark horor rumah berhantu selama beberapa waktu ke depan. Kini lebih dari tiga dekade kemudian, Sam Raimi yang sebetulnya salah satu nama handal di genre terkait, berniat merebootnya dengan berbagai penyesuaian. Sayangnya ia hanya bertindak sebagai produser dan akhirnya mempercayakan duet Gil Kenan dan David Lindsay-Abaire untuk mencoba mengekor kesuksesan duet yang tersebut di atas.

Karena resesi ekonomi dan terancam pailit, Eric Bowen mengajak istrinya Amy pindah ke kompleks perumahan anyar Berkeley Square yang dijual dengan harga murah karena dibangun di atas tanah bekas pemakaman. Anak-anak mereka yakni remaja putri Kendra, Griffin dan Madison harus menyesuaikan diri dengan kondisi rumah yang unik tersebut. Lambat laun mereka merasakan adanya entitas lain yang ‘hidup’ bersama mereka. Ketika Madison menghilang, pakar supernatural Dr. Brooke Powell pun dipanggil beserta mantan suaminya pengusir hantu ternama Carrigan untuk mengatasi masalah itu.















Sutradara Kenan memang berusaha setia dengan source originalnya hingga yang bisa dilakukannya (dengan cukup berhasil) adalah memaksimalkan setting rumah demi menciptakan klastrofobik dan juga tata kamera Javier Aguirresarobe yang dinamis menangkap setiap pergerakan obyek dan subyeknya sekaligus. Beberapa jump scares yang disiapkan terbilang inovatif dalam membangun ketakutan penonton, terlepas dari mood keseluruhan yang cenderung masih terlalu ‘light’. Terima kasih pada timing editing dan scoring music yang cukup efektif tersebut.

Rockwell dan DeWitt mampu menejermahkan peran orangtua dengan baik terlepas dari keterbatasan karakter mereka. Sama halnya dengan Sharbino dan Clements yang terasa begitu satu dimensi. Sebaliknya Catlett diberi keleluasaan lebih untuk menggali karakter Griffin dibandingkan pendahulunya. Pasangan Harris dan Adams jelas tidak berada pada kelas yang sama dengan The Warrens dalam The Conjuring (2013). Namun kehadiran keduanya di paruh kedua film berhasil mencuri perhatian dengan love-hate relationship nya yang tergambar jelas. 














Pada akhirnya harus diakui memang sulit untuk mengapreasi The Poltergeist secara utuh. Jika dibandingkan dengan originalnya, reboot ini jauh dari kata menyeramkan, meski masih bisa membuat anda deg-degan. Jika dibandingkan dengan horor kontemporer, horor yang satu ini terlalu ‘klasik’, walau berupaya relevan lewat penggunaan segala jenis gadget terbaru. Nampaknya perpaduan efek visual yang natural dengan kinerja CGI jadi salah satu kendala utama, terlebih beban teknologi 3D yang juga dibebatkan padanya. Then it’s up to you whether you want to visit this reboot or revisit the original one. Both still have fun haunted house experiences, something i believe that you just want to see on screen.


Durasi:
93 menit

U.S. Box Office:
$44,619,721 till Jun 2015

Movie-meter:

Selasa, 16 Juni 2015

JURASSIC WORLD : Recapture The Predictable Adventure

Quote:
Claire: We're talking about an animal here.
Owen: A highly intelligent animal.


Nice-to-know:
Film pertama dari franchise yang tidak menampilkan Sam Neill, Laura Dern atau Jeff Goldblum. Keputusan ini diambil oleh sutradara Colin Trevorrow demi alasan sentimental dan eksperimental baru.

Cast:
Chris Pratt sebagai Owen
Bryce Dallas Howard sebagai Claire
Irrfan Khan sebagai Masrani
Vincent D'Onofrio sebagai Hoskins
Ty Simpkins sebagai Gray
Nick Robinson sebagai Zach
Jake Johnson sebagai Lowery
Omar Sy sebagai Barry
BD Wong sebagai Dr. Henry Wu
Judy Greer sebagai Karen

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Colin Trevorrow setelah Safety Not Guaranteed (2012).

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal Jurassic Park karya maestro Steven Spielberg di tahun 90an? Franchise fenomenal yang sudah menghasilkan total lebih dari 2,5 milyar dollar dari peredaran di bioskop-bioskop seluruh dunia kala itu. Bahkan hingga hari ini, konsumsi home video dan rerun televisi masih cukup tinggi. Fakta-fakta tersebut dirasa cukup menjadi alasan produser Patrick Crowley dan Frank Marshall untuk ‘melanjutkan’ petualangan dengan visi baru dan tentunya dukungan teknologi CGI yang sudah semakin canggih. Permasalahannya adalah, “Apakah moviegoers modern masih akan tertarik dengan makhluk lawas dinosaurus?” atau “Apakah moviegoers lawas masih akan tertarik untuk bernostalgia?”

Taman Jurassic, Isla Nublar yang diprakarsai oleh John Hammond dua puluh tahun silam kini memiliki fasilitas dan atraksi baru termasuk dinosaurus Indominus hasil rekayasa genetik yang dikembangkan oleh tim peneliti yang dikepalai oleh Dr. Henry Wu. Manajer Claire yang semula tenang mulai panik tatkala dua keponakan yang dititipkan kakaknya Karen yaitu Gray dan Zach tengah membaur dengan ribuan pengunjung lainnya saat kekacauan mulai terjadi. Instuktur raptor, Owen yang sudah mencium gelagat buruk sejak awal pun harus turun tangan meminimalisir resiko nyawa berjatuhan yang mungkin terjadi.











Skenario yang ditulis keroyokan oleh Rick Jaffa, Amanda Silver, Colin Trevorrow dan Derek Connolly ini sebagian besar masih mengandalkan apa yang sudah ada di tiga seri sebelumnya tetapi terasa lebih menekankan pada three-act structure nya. Pengenalan berbagai karakter yang mayoritas satu dimensi tersebut berikut ‘dunia’ yang menjadi panggung bermainnya dilakukan secara detil, seakan mengajak penonton memahami secara langsung petualangan macam apa yang akan mereka alami. Beberapa subplot baik yang melibatkan kelompok kecil individu ataupun besar terus berjalan beriringan demi menerjemahkan proses survival itu sendiri.

Sutradara Trevorrow tampak tidak menyia-nyiakan kesempatan proyek besar perdananya ini dengan visi yang jelas tanpa ambisi berlebihan di seluruh departemen. Variasi shot dan angle camera dari sinematografer John Schwartzman seakan menempatkan kita dalam sudut pandang orang pertama yang menjelajahi Isla Nubar. Kombinasi CGI dan efek praktis yang solid terbilang efektif menghidupkan segala jenis dinosaurus yang ada. Scoring music milik Michael Giaccchino mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan John Williams terdahulu. Namun tergolong cekatan membangun mood sekaligus menjaga tensi yang dibutuhkan.












Pratt yang sepintas bergaya ala Indiana Jones mampu menjaga kharismanya sebagai tough guy Owen yang tak kenal rasa takut. Dallas Howard yang mewakili feminisme awalnya cukup annoying tapi mampu bertransformasi sesuai pergulatan konflik yang dialami sosok Claire. Simpkins dan Robinson yang menjadi pengunjung beruntung (atau justru tidak) akan dengan mudah mendapat keberpihakan para penonton belia. Aktor kawakan, Khan dan D’Onofrio yang terlalu stereotype setidaknya turut memperkaya karakterisasi yang ada.

Jurassic World adalah tontonan summer blockbuster high profile sekaligus paying homage terhadap trilogi Jurassic Park yang legendaris itu. Trevorrow sukses meramu elemen drama, humor, ketakutan dan ketegangan dalam satu perjalanan yang menyenangkan. Untuk sejenak lupakan originalitas yang anda cari dan coba temukan berbagai set, gimmick dan scene yang dipertahankan sedemikian rupa untuk menggali memori anda kembali. Longtime fans wouldn’t mind to revisit this without concern of disappointments. While new ones will enjoy the experience seeing dinosaurs, as the true stars, on the big screen for the first time.

Durasi:
124 menit

U.S. Box Office:
$204,600,000 till Jun 2015

Movie-meter:

Kamis, 04 Juni 2015

INSIDIOUS CHAPTER 3 : When The Chill Goes Downhill

Quote:
Elise Rainier: Give her back!
Nice-to-know:
James Wan tidak menyutradarai seri ketiga ini karena tengah mengerjakan Furious 7 (2015).

Cast:
Stefanie Scott sebagai Quinn Brenner
Dermot Mulroney sebagai Sean Brenner
Lin Shaye sebagai Elise Rainier
Angus Sampson sebagai Tucker
Leigh Whannell sebagai Specs
Tate Berney sebagai Alex Brenner
Steve Coulter sebagai Carl
Hayley Kiyoko sebagai Maggie

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Leigh Whannell yang sebelumnya menulis dan turut membintangi dua prekuelnya.

W For Words:
Tidak adil rasanya jika nama James Wan berkibar sendirian meski pencapaiannya di genre horror/thriller selama satu decade terakhir memang mengagumkan. Siapa yang tidak mengenal dwilogi Insidious atau septuple Saw. Namun jangan lupakan tandem setianya, Leigh Whannell yang bahkan sudah mendukung Wan dengan mengambil peran dalam feature debutnya, Stygian (2000). Tiba saatnya Whannell mendapatkan spotlight nya sendiri dengan menggawangi seri ketiga dari franchise horror yang dikembangkannya ini. Thanks to Wan's decision for directing Furious 7. I know most of us were disappointed when we got that news in the first place. But hey, give this dude a chance to show what he's got.

Remaja putri Quinn bertekad menentukan jalan hidupnya sendiri lewat percobaan seni peran paska SMU berakhir. Namun sang ayah Sean kerap membebaninya dengan tanggungjawab akan adiknya Alex. Dalam kebuntuan dan kesedihannya, Quinn lantas kerap mencoba berkomunikasi dengan mendiang ibunya Lilith. Cenayang Elise yang ditemuinya sontak menyadari bahwa ada arwah lain yang mengikuti Quinn bahkan mengancam nyawanya. Namun Elise harus berjuang mengatasi ketakutannya sendiri sebelum membantu keluarga Brenner melewati kemelut tersebut.











Dari segi cerita, nyaris tidak ada yang baru yang ditawarkan oleh Whannell. Pakem 'roh yang meninggalkan tubuh' masih jadi menu utama. Mungkin proyeksi astral itu sendiri memang diyakini masih menyimpan banyak misteri akan alam hidup dan mati. Setting rumah yang berpindah ke apartemen tua setidaknya memberikan perspektif baru bagi penonton. Bagaimana tetangga samping dan atas anda bisa menciptakan situasi janggal yang tidak diharapkan.

Dari segi eksekusi, semua trik yang digunakan Wan berupaya dihadirkan kembali. Scoring music yang membangun atmosfir masih terbukti efektif mengiringi setiap jump scares yang tentu saja ditunggu-tunggu audiens. Namun perbedaan visi dan penyusunan sekuens dalam storytelling nya yang cukup kentara tak dapat dipungkiri seberapapun kerasnya Whannell berusaha. Coba cermati penampakan hantu demi hantu yang terasa seperti perpaduan gaya barat dan timur.













Jajaran cast yang mumpuni terbilang menjadi penyelamat prekuel ini. Aktris senior Shaye mampu menerjemahkan karakter cenayang Elise yang superior sekaligus rapuh pada saat bersamaan. Pendatang baru Scott akan dengan mudah mengambil simpati penonton karena sejak menit awal tokoh Quinn sudah dirundung nasib malang. Mulroney tampak meneruskan apa yang sudah dilakukan Wilson melalui karakter ayah yang bertekad mempertahankan anak kesayangannya meski kali ini tanpa 'kekuatan khusus'. Berbagai pendukung juga sukses menjalankan peranan masing-masing, terutama Angus Sampson.

Insidious Chapter 3 jelas merupakan seri terlemah dari semuanya. Sajian horor yang sebetulnya masih bisa menakuti tetapi tidak sampai merasuki pikiran anda. No matter how bad i (or most reviewers) wrote about this, you're still gonna watch it. Keputusan yang samasekali tidak salah karena beberapa petunjuk yang tersebar di sepanjang film harus anda rangkai demi keutuhan sebuah trilogy yang diharapkan tidak ditambahkan kembali. Some of set-up scenes were creative enough to raise chills. Which one works best for you is your duty to find out.

Durasi:
97 menit

Movie-meter:

Rabu, 27 Mei 2015

IT FOLLOWS : New Definition Of Fear Should Be

Quote:
Hugh: It could look like someone you know or it could be a stranger in a crowd. Whatever helps it get close to you.


Nice-to-know:
Gedung teater yang ditampilkan pada permulaan film adalah Redford Theatre, teater historik bergaya Japanese dengan organ Wurlitzer yang masih bekerja baik. The Evil Dead (1981) sempat melakukan Gala Premiere di sana.

Cast:
Maika Monroe sebagai Jay Height
Jake Weary sebagai Hugh / Jeff
Daniel Zovatto sebagai Greg Hannigan
Keir Gilchrist sebagai Paul
Loren Bass sebagai Annie's Father
Olivia Luccardi sebagai Yara
Lili Sepe sebagai Kelly Height

Director:
Merupakan feature film kedua bagi David Robert Mitchell setelahThe Myth of the American Sleepover (2010).

W For Words:
Nama David Robert Mitchell yang lulus dari Florida State University Film School mungkin akan sering anda dengar di kemudian hari terlebih dalam genre horor, menyusul James Wan ataupun Adam Wingard yang juga memulainya dari belantika indie movies. Adalah It Follows yang menjadi modal bagus untuk meraih perhatian moviegoers di seluruh dunia. Terima kasih pada Cannes Film Festival yang memutarnya dalam segmen Critics Week dan juga beberapa festival internasional lainnya hingga menjadi perbincangan dimanapun film ini diputar.

Gadis belia 19 tahun, Jay Height berkencan dengan Hugh saat musim gugur. Setelah berhubungan intim untuk pertama kalinya, Jay mendapat ‘pengikut’ misterius yang dirasa mengancamnya. Adiknya Kelly dan teman-temannya Greg, Yara dan Paul yang awalnya tidak percaya kemudian memanggil Hugh untuk menjelaskan. Ternyata kutukan tersebut harus dipindahkan ke orang lain agar tidak menangkap dan merenggut nyawa Jay. Lantas mereka mencoba berbagai cara untuk mematahkan teror itu yang terasa kian nyata dan bisa menjadi siapa saja di sekitar.













Skrip yang ditulis Mitchell sendiri ini memang tidak memberikan penjelasan apa-apa yang biasa dilakukan di prolog atau epilog film. Namun serangkaian petunjuk samar yang hadir lewat gambar atau dialog sudah dirasa cukup menjadi alasan penonton untuk terus mengkutinya.  Anda bisa menemukan berbagai elemen sub-genre horor remaja yang dipadu-padankan secara cerdas dengan interpretasi baru. Memang harus diakui tidak sepenuhnya berhasil karena sebagian moviegoers akan terjebak dalam konklusi yang membingungkan hingga menyerah begitu saja.

Dunia retro tahun 70an yang coba dibangun oleh Mitchell terasa pas sebagai panggung bercerita meski beberapa unsur modernisasi turut dipertahankan sebagai distraksi gaya. Sinematografi minimalis yang banyak memanfaatkan zoom, slo-mo atau tracking shots yang konsisten dengan warna-warni pucat ini mengingatkan anda pada karya-karya mahasiswa perfilman. Sementara dukungan scoring music Rich Vreeland alias Disasterpeace yang unik juga memberikan nilai tambah tersendiri. Efek praktis yang digunakan untuk meneror terbilang bekerja efektif mempertahankan pace yang cukup lamban.















Hanya Monroe yang bisa dikatakan berakting di sini sebagai arc character Jay yang punya kemampuan membawa cerita dari satu titik ke titik lain. Selebihnya merupakan karakter-karakter pendukung yang tidak banyak diberikan ruang untuk berkembang selain bereaksi kaget atau takut saja. Andai Mitchell mau bekerja ekstra untuk membangun karakterisasi yang lebih kuat sekaligus menciptakan rules yang lebih bold untuk menyokong storytelling nya yang berupaya menggali ketakutan manusia yang terdalam dari hal-hal yang tidak lazim bagi mereka.

It Follows wajib dinikmati dengan sesedikit mungkin informasi mengenainya. Lihat bagaimana ketidaktahuan membuat anda kian menikmati low budget horror yang banyak mengambil referensi cult horror movies terdahulu ini. Perasaan anda tidak akan lagi sama tatkala menyaksikan matahari terbenam di pantai, merasakan kesunyian halaman sekolah jelang senja, menikmati kekosongan jalan di sekitar perumahan. Walau terlalu dini untuk melabelinya sebagai future cult, interpretasi bebas horor teranyar bergaya lawas yang satu ini jelas tidak bisa dilewatkan begitu saja. It might gives you chill or goosebump like every children’s ghost stories you’ve ever read back then.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$14,435,192 till May 2015


Movie-meter:

Sabtu, 23 Mei 2015

BIG GAME : Lifetime Catch For Purest Fun

Quote:
Elder Hamara: The boy has one day and one night to find out what kind of man he is.

Nice-to-know:
Dengan 8,5 juta EURO menjadikannya film Finlandia berbujet termahal yang pernah diproduksi.

Cast:
Samuel L. Jackson sebagai US President William Alan Moore
Onni Tommila sebagai Oskari
Ray Stevenson sebagai Morris
Victor Garber sebagai Vice President
Mehmet Kurtulus sebagai Hazar
Ted Levine sebagai General Underwood
Jorma Tommila sebagai Tapio
Risto Salmi sebagai Hamara
Felicity Huffman sebagai CIA Director

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Jalmari Helander setelah Rare Exports: A Christmas Tale (2010).

W For Words:
Mungkin Iron Sky (2012) yang bercerita tentang pangkalan rahasia NAZI di bulan demi rencana menginvasi bumi adalah film Finlandia terakhir yang saya saksikan di bioskop. Kini tiga tahun berselang adalah Jalmari Helander yang berambisi menembus Hollywood dengan menulis dan menyutradarai film action adventure dengan mengandalkan nama besar Samuel L. Jackson. Modal cukup baik ditunjukkan dengan terpilihnya Big Game sebagai Official Selection Toronto International Film Festival 2014 yang lalu. Well, you should give a look!

Remaja 13 tahun yang hidup di lingkungan pemburu, Oskari diwajibkan ayahnya Tapio menjalankan inisiasi kedewasaan dengan bertahan hidup dan berburu di hutan dalam waktu sehari semalam. Sementara itu Presiden Amerika Serikat, William Alan Moore dalam perjalanan dengan Air Force One dikhianati sang ajudan Morris hingga terdampar seorang diri di daerah yang sulit terlacak. Bill dan Oskari kemudian bertemu dan harus bekerjasama untuk menghindari kelompok teroris kejam yang bertekad menghabisi nyawa kedunya.











Onni Tommila yang aslinya berusia 15 tahun sekaligus kemenakan Helander ini memang sepintas memiliki paras yang cukup mengesalkan. Namun kepolosan dan kecerdikannya membantu penonton untuk terus mengikuti aksinya sepanjang film. Nama L. Jackson sesungguhnya tak perlu diragukan lagi. Presiden berkulit hitam yang mungkin mengacu pada Barrack Obama ini wajib mengandalkan instingnya untuk membaca situasi. Chemistry keduanya yang awalnya terkesan awkward lantas berubah menjadi mutualisme lewat serangkaian kejadian yang beliavable.

Helander yang belajar film secara otodidak tanpa mengecap pendidikan filmmaking secara khusus ini mempersiapkan proyek besarnya ini selama 3 tahun yang diangkat dari novel karya Dan Smith. Setting asli Lapland, Finlandia yang cukup menyulitkan secara teknis akhirnya dipindahkan ke Bavaria, Jerman. Film yang kental dengan nuansa action akhir 80an ini mungkin terbilang ‘lambat panas’ karena pengenalan karakter dan medan yang cukup panjang di paruh pertamanya. Namun visual yang menakjubkan dan action sequence yang menarik mampu membayar semua itu.











Pada akhirnya Big Game memang sulit melepaskan diri dari handicap B-movie. Namun predikat itu tidak menjadikannya kehilangan daya tarik. Interaksi natural yang terbangun di antara dua karakter utamanya kerap menciptakan fun moments. Kewajaran yang sama juga berhasil menyertai aksi reaksi dari setiap ancaman yang mengintai tanpa berlebihan layaknya action modern yang dibombardir spesial efek. Though may not be perfect, BIG GAME has big chance to entertain bigger audiences than it should be. A mindless action film that in the end leaves yo and the whole family wanting more of an absurd journey.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 12 Mei 2015

PIKU : Motion Through Emotion Couldn’t Get Any Better

Quote:
Piku: You know he’s dependant on me. So if anyone wants to marry me..
Rana: He’ll have to adopt your 90 year old kid?
Piku: Of course.. So will you?
Rana: I am not mad.

Nice-to-know:
Film favorit Deepika Padukone setelah Om Shanti Om (2007).

Cast:
Amitabh Bachchan sebagai Bashkor Banerjee
Deepika Padukone sebagai Piku
Irrfan Khan sebagai Rana
Moushumi Chatterjee sebagai Chaubi
Raghuvir Yadav sebagai Dr. Srivastava
Jishu Sengupta sebagai Syed Afroz
Aniruddha Roy Chowdhury
Akshay Oberoi 

Director:
Merupakan film keempat bagi Shoojit Sircar setelah Madras Cafe (2013).

W For Words:
Jika seorang produser kenamaan bertangan dingin Bollywood, Karan Johar memuji film ini setinggi langit maka anda bisa jadi penasaran. Faktor tiga mega bintang yang tampil bersama untuk pertama kalinya jelas tidak boleh dilewatkan begitu saja. Siapa yang tidak mengenal nama Amitabh Bachchan, Deepika Padukone dan Irrfan Khan yang masing-masing memiliki filmografi mentereng dengan berbagai penghargaan internasional. Publik Indonesia demikian beruntung bisa menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex mulai awal Mei ini.

Piku adalah wanita karir yang mandiri di kota metropolitan. Kesibukan di kantor bersama Syed yang kerap mencarikan jodoh tidak lantas melupakan baktinya terhadap orangtua. Sejak ditinggal mati istrinya, Baba memiliki masalah sembelit yang membuatnya selalu waswas akan penyakit yang mungkin menghinggapinya. Sementara itu pria pemilik jasa transportasi, Rana tanpa sengaja masuk ke dalam hubungan unik ayah dan putri tersebut saat mereka harus berkendara bersama menuju Kolkata yang ditempuh dalam waktu puluhan jam.
















Skrip yang ditulis oleh Chaturvedi ini merupakan refleksi nyata kehidupan mereka yang hidup satu atap dengan orangtua yang mulai menua. Bagaimana kepentingan pribadi yang kian menumpuk harus tetap berjalan bersisian dengan kepentingan keluarga yang sedianya lebih mendesak. Status lajang yang tak ayal menjadi sorotan di lingkungan masyarakat sosial. Tak jarang stress hadir yang berujung dengan makian atau keluh kesah. Oleh karena itu anda bisa langsung mengidentifikasi problema yang dihadapi oleh karakter Piku karena begitu dekat dengan keseharian.

Sutradara Shoojit yang sudah saya favoritkan semenjak Vicky Donor (2012) begitu terampil merangkai sebuah cerita sederhana yang nyaris tidak menyisakan kejutan apa-apa. Ia membuktikan bahwa suatu hiburan yang berisi tidak harus lari dari kenyataan ataupun melupakan realita barang sejenak. Bahkan potensi romansa drama antara Deepika dan Irffan juga tersaji dalam porsi ala kadarnya tapi tetap tersirat lewat pertukaran dialog yang brilian. Elemen komedi yang muncul kerap terjadi dengan sendirinya tanpa sugesti berlebihan. Pilihan shot yang seperti tidak memihak eksterior selain close-up pada setiap karakternya justru menekankan rasa intim sekaligus menjaga ikatan terhadap penonton.














Amitabh seperti yang diharapkan tampil brilian sebagai pria tua Bengali yang cerewet dan keras kepala tapi tetap berkharisma tinggi. Meski kebagian dialog yang minim, Irrfan tetap menunjukkan kelasnya melalui gestur dan ekspresi yang lebih 'berbicara'. Lihat bagaimana interaksi keduanya yang 'ajaib' tapi sukses menghadirkan senyum di wajah anda. Deepika lagi-lagi memesona di tengah dua 'legenda' dimana nyaris setiap scene yang terjadi lahir dari inisiatif perannya. Kita bisa melihat ketegaran dan kerapuhan Piku secara bersamaan sekaligus menekankan emansipasi wanita pada jaman modern lewat 'multitasking' di segala situasi.

Piku mungkin terasa 'riuh' di beberapa bagian tapi jelas tak pernah kehabisan konflik di sepanjang durasinya. Terlepas dari jawaban-jawaban yang tidak semua tersedia pada epilognya, Piku punya cara sendiri dalam menuturkan tema yang 'berat' melalui wacana ringan yang samasekali tidak menggurui. Sebuah komedi perjalanan dengan konsistensi dan timing yang terukur, sehingga tawa dan air mata haru terus mengiringinya. Honest feed to your emotional needs about family and self-esteem. Trust me that it won't affect your digestive system.

Durasi:
123 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 Mei 2015

TESTAMENT OF YOUTH : Deeper Truth About Surviving War

Quote:
Vera Britain: Perhaps their deaths have meaning if we stand together and say ‘No’. No to killing. No to war. No to endless cycles of revenge.

Nice-to-know:
Awalnya Saoirse Ronan dicast sebagai Vera Britain tetapi jadwal tidak memungkinkan hingga Alicia Vikander menggantikannya.

Cast:
Alicia Vikander sebagai Vera Brittain
Kit Harington sebagai Roland Leighton
Hayley Atwell sebagai Hope
Taron Egerton sebagai Edward Brittain
Jonathan Bailey sebagai Geoffrey Thurlow
Colin Morgan sebagai Victor Richardson
Emily Watson sebagai Mrs. Brittain
Dominic West sebagai Mr. Brittain
Anna Chancellor sebagai Mrs. Leighton

Director:
Merupakan debut feature bagi James Kent.

W For Words:
Pencapaian Vera Brittain semasa hidupnya mungkin bisa disejajarkan dengan tokoh pahlawan nasional kita RA Kartini. Kehidupannya yang penuh konflik di abad 19 lantas mendorongnya menulis novel Chronicle of Youth yang kemudian diadaptasi menjadi Letters from a Lost Generation hingga tercatat sebagai best seller dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tidak salah jika anda tertarik untuk mencerna adaptasinya yang berdurasi lebih dari dua jam ini sambil menyadari betapa beruntungnya hidup di masa sekarang yang jauh dari perang.












Meski terlahir dari keluarga pengusaha sukses di Inggris, Vera Brittain tak ingin berdiam diri. Diskriminasi gender tak menyurutkan langkahnya untuk mengenyam pendidikan di Oxford meski ditentang sang ayah. Perang Dunia pertama berlangsung, adiknya Edward dan sahabatnya Roland mengajukan diri sebagai sukarelawan. Vera pun menyusul meski di garis belakang sebagai perawat tentara yang terluka. Hubungannya kian erat dengan Roland hingga memutuskan menikah sebelum tragedi demi tragedi yang terjadi menguji kesabarannya.

Film BBC ini menandakan reuni Alicia Vikander dan Kit Harington, setelah duet mereka di Seventh Son. Vikander meraih nominasi pemeran wanita terbaik BFI London Film Festival di sini atas upayanya beraksen Inggris walau berkebangsaan Swedia. Lihat bagaimana ia mampu menunjukkan sosok Vera yang feminin sekaligus cerdas tangguh menghadapi kemelut peperangan. Sementara itu transformasi Harington pada karakter Roland pra dan paska terjun ke medan perang cukup terlihat. Egerton yang baru angkat nama dalam Kingsman: The Secret Service masih mencuri perhatian sebagai Edward.















Sutradara Kent yang selama ini ‘ahli’ untuk urusan film dokumenter televisi menyajikan sinematografi yang begitu indah dari penglihatan Rob Hardy. Bagaimana kehidupan berpasangan menjadi menu utama klasik dimana Kent menghadirkan scene perpisahan pasangan di stasiun kereta api, komunikasi surat menyurat lewat pos yang mendebarkan apakah kabar baik atau buruk yang sekiranya disampaikan. Consolata Boyle juga membawa kostum tipikal British drama yang menekankan nuansa era 1900an. Tak lupa sumbangsih Max Richter dalam departemen musik yang kian mengukuhkan storytellingnya.

Testament Of Youth terasa begitu istimewa karena mengambil perspektif perempuan pada masa Perang Dunia dengan tingkat keakuratan sejarah yang tinggi. Prahara dilematis yang sulit dihindarkan atas dasar apapun juga. Bagaimana pilihan-pilihan harus dibuat, terlibat dalam peperangan atau hanya berdiam diri menunggu, terus larut dalam kesedihan usai ditinggalkan orang tercinta atau langsung melanjutkan hidup. Semua perjalanan keputusan demi keputusan yang dibingkai secara puitis lewat bahasa gambar nan elok disertai dengan penggalan puisi atau surat nan indah, hingga anda tak sadar menitikkan air mata karena terhanyut dibuatnya.

Durasi:
129 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:





Written by:
Chan W

Edited by:
Witra A

Kamis, 07 Mei 2015

CINTA SELAMANYA : Hati Berkisah Enggan Berpisah

Quote:
Hafez: Tidak ada yang abadi, tapi cinta bisa dibawa mati, hingga abadi nanti.

Nice-to-know:
Diangkat dari novel Fira & Hafez yang diinspirasi dari kisah nyata Dwifira Maharani Wulandari Basuki dan Hafez Agung Baskoro.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Fira Basuki
Rio Dewanto sebagai Hafez
S
haloom Razade sebagai Syaza
Tantry Agung Dewani sebagai Tantry
Janna Joesoef sebagai Mbak Sinung
Amanda Soekasah sebagai Mbak Rani
Nungky Kusumastuti sebagai Ibu Hafez
Yadi Sugandi sebagai Ayah Hafez
Aira Sondang sebagai Raditya
Dewi Irawan sebagai Mama Fira
Tio Pakusadewo sebagai Papa Fira
Syazia sebagai Kiad
Surya Insomnia sebagai Ferry
Widi Mulia Sunarya sebagai Egi
Muhadkly Acho
Joanna Alexandra
Patrick Alexandra
A
gus Kuncoro
Dwi Sasono
Lukman Sardi

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Fajar Nugros sekaligus perdana yang diproduksi bersama istrinya Susanti Dewi.

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal sosok Fira Basuki sebagai Pemimpin Redaksi majalah lifestyle, Cosmopolitan yang selalu terlihat modis dan menjadi cerminan kaum wanita urban metropolitan. Dibalik kelemah-lembutannya, ia adalah wanita mandiri yang perfeksionis dalam pekerjaannya. Kesendiriannya membuat orang sekitar ingin mencarikan pendamping baru untuk Fira. Banyak pria datang mencoba mengambil hati Fira, tetapi cinta selalu datang tanpa terduga.

Hafez Agung Baskoro, lahir dengan darah seni yang gemar menyanyi dan bermain musik. Ia adalah sosok pria serba bisa yang berpenampilan biasa. Jika kencan pertama selalu dimulai dengan sesuatu yang mewah, Tetapi Hafez menawarkan dirinya ke Fira dengan kesederhanaannya. Naik motor dan makan seafood di pasar ikan, mungkin itu bukan kencan yang diidamkan Fira namun malam itu hatinya telah tercuri oleh pria ini.














Profil sepasang insan di atas rasanya sudah cukup menjadi daya tarik penonton, terlebih pembaca novelnya, untuk berbondong-bondong datang ke bioskop dan menyaksikan perjalanan cinta mereka yang penuh tantangan. Optimisme itulah yang diyakini pasangan suami istri produser sutradara Susanti Dewi dan Fajar Nugros lewat persembahan perdana Demi Istri yang bekerjasama dengan Wardah dan Kaninga Pictures.

Harus diakui akting Atiqah terasa sangat total di film ini. Ia mampu menampilkan kemandirian Fira sekaligus ketegarannya melewati masa sulit sebagai single parent. Sedangkan suaminya di kehidupan nyata, Rio Dewanto terlihat agak kedodoran mengimbanginya. Sosok Hafez yang ditampilkan Rio terlihat lebih dingin daripada apa yang diwacanakan di novel Fira & Hafez (2013). Penampilan pendatang baru Shaloom cukup menarik. Saya merasa ia memiliki potensi lebih walau peran Syaza terasa kurang dimaksimalkan.













Rollercoaster emosi di film ini cukup menarik lewat ‘pembabakan’ yang digagas oleh Nugros. Materi senang sendu dibawa secara ringan lewat sajian humor situasi yang tersebar di beberapa bagian. Sayangnya ‘finale’ di Madrid yang harusnya menjadi ‘gong’ pengetuk emosi penonton justru terasa berlarut-larut. Hal yang juga kelewat mengganggu adalah penyajian tweet Fira dan Hafez di sepanjang film yang tidak diiringi oleh waktu baca yang proporsional, padahal ini bisa jadi gimmick yang brilian sekaligus memperkuat makna kisah kasih keduanya.

Harus diakui Cinta Selamanya merupakan salah satu karya terbaik Nugros dimana upayanya sebagai storyteller memang terasa lebih dari biasanya. Alhasil memoir cinta nan indah dari Fira Basuki Baskoro yang sukses memadukan ta
wa dan haru ini bisa menjadi inspirasi kita semua. Jika perbedaan latar belakang maupun pertautan usia belasan tahun tidak menjadi penghalang sepasang anak manusia maka kisah yang dapat terjalin tidak seharusnya mengenal kata pisah karena siapa yang jatuh hati niscaya enggan bangun lagi.

Durasi:
106 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:





Written by:
Chan W

Edited by:
Witra A