XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label lukman sardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lukman sardi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Agustus 2012

RUMAH DI SERIBU OMBAK : Pluralisme Persahabatan Tak Berujung

Quotes:
Wahai samudera, aku tak bisa menyimpan ombakmu, kata tepian pada laut.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Winmark Pictures dan diedarkan oleh Tabia Films ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 27 Agustus 2012.

Cast:
Risjad Aden sebagai Samihi kecil
Dedey Rusma sebagai Yanik kecil
Bianca Oleen sebagai Syamimi kecil
Lukman Sardi sebagai Aminulah, ayah Samihi
Riman Jayadi sebagai Yanik
Andiana Suri sebagai Syamimi
Andre Julian sebagai Samihi
Jerinx SID sebagai Ngurah Panji

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Erwin Arnada yang sebelumnya berpengalaman sebagai produser dan penulis skenario dimana Tusuk Jelangkung (2002) mengawalinya.

W For Words:
Perjalanan hidup Erwin Arnada bisa dikatakan kontroversial. Mantan pemimpin redaksi majalah Playboy Indonesia ini sempat menjalani masa tahanan pada tahun 2010 dimana ia menghasilkan novel laris yang menuai banyak pujian berjudul Rumah Di 1000 Ombak yang pada akhirnya diangkat ke layar lebar sekitar dua tahun kemudian. Penata skrip handal, Jujur Prananto pun dilibatkan. Pada jajaran cast hanya terdapat satu nama besar yaitu Lukman Sardi di antara para pendatang baru yang terbilang menjanjikan.

Samihi yang beragama Islam berkawan dengan Wayan Manik alias Yanik yang beragama Hindu di Desa Kaliasem, Singaraja. Yanik mengajarkan Samihi bernyanyi sekaligus mengatasi ketakutan akan air karena penyakit asma yang dideritanya. Sebaliknya Samihi juga mendengarkan kisah pahit Yanik akibat kasus pedofilia pria bule bernama Andrew. Kesalahpahaman memisahkan keduanya selama bertahun-tahun. Samihi memilih menetap di Australia meninggalkan adiknya, Syamimi yang bersimpati pada Yanik yang kian terpuruk.

Persahabatan Yanik dan Samihi di masa kecil merupakan kekuatan utama film ini. Detail proses yang mengetengahkan perkenalan sampai kedekatan mereka berjalan wajar lewat momen-momen manis. Latar belakang Singaraja seakan menjadi kekuatan sendiri layaknya panggung pendukung yang sempurna dalam menerjemahkan setiap emosi kedua anak itu. Aspek pluralisme pun turut disertai lewat penggambaran ibadah hingga ritual agama Islam-Hindu yang menghembuskan nafas kerukunan umat beragama yang kuat.

Sayangnya memasuki bagian dimana Yanik dan Samihi beranjak dewasa, segala esensi tersebut tak mampu dipertahankan. Pergantian aktor-aktrisnya terasa miscasting, Andiana Suri terlihat lebih dewasa dibandingkan Riman Jayadi atau Andre Julian. Namun penyebab utama ada di naskah dimana karakter Samihi dibiarkan berlakon sendiri dengan segudang prestasi selancarnya. Sedangkan Yanik dan Syamimi ditinggalkan berdua untuk membangun romansa tanpa jalinan chemistry yang hangat. Bukankah inti kisah ini adalah persahabatan Yanik dan Samihi sejak kecil?

Banyak hal mendasar dibiarkan mengambang tanpa tujuan atau penjelasan. Tidak dibahas apakah sosok pedofil bernama Andrew itu menerima penghakimannya atau tidak. Tidak diperlihatkan adegan eksplisit yang dapat menuntun penonton memahami trauma mendalam pada Yanik. Bagaimana ibu Yanik dapat bertahan hidup selama itu? Atau figur Lukman Sardi yang seakan timbul tenggelam setelah rela membotaki kepalanya itu? Namun yang paling mengganggu adalah keputusan Yanik untuk “melaut” di penghujung film tanpa alasan yang masuk akal justru di saat ia memiliki opsi lain yang lebih baik.

Tanpa mengurangi rasa hormat bagi penggagasnya yang tampak masih mencari bentuk teknis terbaik, Rumah Di Seribu Ombak mungkin sebaiknya ditutup saja tepat setelah satu jam bergulir. Biarlah persahabatan lugu nan majemuk antara Samihi-Yanik-Syamimi kecil terbingkai indah dalam kepolosan dan kesahajaan yang memikat. Tak lantas diteruskan ke dalam mozaik ambigu penuh kejanggalan yang merusak tatanan intisari dan pesan moral yang sedari awal dibebatkan dengan cermat. Bukankah cinta seharusnya menguatkan, bukan melemahkan?

Durasi:
107 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 26 Juni 2012

CINTA DI SAKU CELANA : Hiburan Filosofis Pilihan Hidup


Quotes:
Gifar: Ya tapi lu gak bisa nungguin momen terus. Ciptain dong, Mad! Kesempatan yang udah di depan mulut, tinggal lu emut, malah lu lepehin.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini screeningnya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Juni 2012.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Ahmad
Joanna Alexandra sebagai Bening
Dion Wiyoko sebagai Gifar
Ramon Y Tungka sebagai Gubeng
Gading Marten sebagai Roy
Lukman Sardi sebagai Bagas
Enditha sebagai Briptu Nila

Director:
Merupakan film kedua bagi Fajar Nugros setelah Queen Bee (2009).

W For Words:
Pendekatan seseorang terhadap cinta bisa dilakukan dengan dua cara yaitu aktif dan pasif. Tentunya hasilnya akan berbeda pula. Itulah perbedaan karakter Ahmad dan Gifar yang saling bersahabat. Sekelumit kisah cerita pendek ‘Cinta di Saku Belakang Celana’ ini pertama kali muncul di note Facebook sebelum Gramedia menerbitkan versi novelnya karya Fajar Nugros dengan judul 'I Didn't Lose My Heart, I Sole it On eBay’. Starvision yang semula ingin rilis terbatas film yang didasari skrip garapan Ben Sihombing tersebut akhirnya setuju untuk rilis nasional demi menjangkau audiens yang lebih luas lagi.

Berangkat dari Panti Asuhan yang membesarkannya membuat Ahmad tumbuh dewasa meski tak pernah mengenal cinta. Rekannya di kantor pos yaitu Gifar mengajarkan Ahmad untuk berani mengejar cinta gadis manis bernama Bening yang dikenalnya melalui kiriman kartu pos tunangannya. Akhirnya Ahmad mau menulis surat cinta dan memberikannya pada Bening. Malang sebelum kesampaian, dompet Ahmad dicopet oleh Gubeng yang melarikan surat tersebut. Akankah Ahmad berserah pada realitas yang terjadi atau justru semakin ngotot mengejar impiannya yang beranjak menjauh itu?
 
Paruh pertama film dititikberatkan pada interaksi tiga tokohnya saja yaitu Ahmad, Gifar dan Bening. Donny Alamsyah dan Dion Wiyoko mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya untuk mengeksplorasi persahabatan dua karakter yang berbeda dalam memandang cinta. Ahmad yang cerdas tapi naïf dalam bercinta berbanding terbalik dengan Gifar yang mahir bercinta tapi bodoh. Perkenalan terhadap tokoh Gubeng membuat paruh kedua berjalan dalam tempo yang lebih cepat dengan kemunculan tokoh-tokoh baru yang semakin mempertajam konflik mulai dari Roy, Bagas hingga Briptu Rahmat dan Briptu Nila. Mudah-mudahan penonton tidak bingung ataupun merasa terganggu dengan perubahan drastis ini.

Departemen musik dalam film ini terbukti berhasil membangun mood yang diinginkan. Lagu lawas Slank yakni Foto Dalam Dompetmu berkali-kali berkumandang menciptakan kesenduan cinta yang tak kunjung diraih. Sedangkan dua track dari pendatang baru Abbay Messi yaitu Cinta Di Saku Celana dan Hey Love mampu membangkitkan semangat optimisme dalam diri Ahmad. Kerjasama penata suara Khikmawan Santosa dan penata musik Tya Subiakto Satrio terjalin dengan baik sehingga menjadi nilai tambah tersendiri dalam dukungannya terhadap film secara keseluruhan.

Sutradara Nugros dengan terampil mengemas urban pop romantic comedy ini di luar pakem-pakem yang ada. Elemen kartu pos, commuter, binatu sampai Russian Roulette bukan dimaksudkan berjalan tanpa arti, ada makna tersembunyi di balik itu semua. Setting lokasi dapat dimaksimalkan sedemikian rupa untuk bercerita, lihat stasiun maupun gerbong KRL sebagai titik interaksi Ahmad dan Bening atau pasar Senen yang hiruk pikuk ketika Ahmad dan Gubeng harus berjibaku sebelum bernegosiasi. Sang editor Cesa David Luckmansyah juga menjalankan tugasnya dengan rapi untuk menjaga esensi film.

Cinta Di Saku Celana menyajikan drama dan komedi secara seimbang tanpa harus berlebihan. Deretan wajah yang sudah tidak asing antara lain Lukman Sardi, Enditha, Luna Maya, Masayu Anastasia, Lolita Putri, Imey Liem, Yati Surachman, Agus Kuncoro juga turut andil mengisi posisi ‘special appearance’. Catatan khusus bagi Pricillia Tanamal yang kocak sebagai Ibu Kos atau Vita Ramona yang membuka film dengan karikatural. Film ini murni bertutur tentang pilihan-pilihan krusial terutama profesi dan pasangan hidup yang kerapkali menentukan kelangsungan langkah anda selanjutnya. Sebuah presentasi filosofis yang samasekali tidak kehilangan tujuannya dalam menghibur penonton.

Durasi:
80 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 11 Juni 2012

DI TIMUR MATAHARI : Mozaik Konflik Papua Minim Fokus

Quotes:
Karena memaafkan adalah pilihan yang paling sempurna daripada menyimpan akar pahit atau balas dendam..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Alenia Pictures ini gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 11 Juni 2012.

Cast:
Putri Nere sebagai Elsye
Lucky Martin sebagai Nyong
Simson Sikoway sebagai Mazmur
Abetnego Yogibalom sebagai Thomas
Laura Basuki sebagai Vina
Lukman Sardi sebagai Pendeta Samuel
Ririn Ekawati sebagai Dr Fatimah
Ringgo Agus Rahman sebagai Ucok
Michael Jakarimilena sebagai Michael

Director:
Merupakan film keempat bagi Ari Sihasale yang mengawali karir penyutradaraannya lewat King (2009).
W For Words:
Alenia Pictures memang sudah menjadi brand sendiri dalam industri perfilman lokal karena konsistensinya melahirkan film anak-anak berkualitas, setidaknya satu setiap tahunnya. Pada 2012 ini, mereka menggarap skrip hasil pemikiran Jeremias Nyangoen mengenai kehidupan di Papua. Sebuah gagasan yang amat menjanjikan karena belum banyak sineas tanah air yang mengambil setting propinsi paling Timur Indonesia tersebut. Nyatanya setelah nyaris dua jam durasinya, saya sedikit menyesali pemberian rating SU untuk film ini karena beberapa adegan dirasa terlalu “keras” bagi anak-anak. Anyone agree with me afterwards?

Lima sahabat yaitu Mazmur, Thomas, Yokim, Agnes dan Suryani tengah menanti kedatangan guru pengganti setelah kekosongan enam bulan di sekolah yang terletak di lapangan terbang tua itu. Sebagai pengganti aktifitas, mereka berupaya mempelajari kehidupan nyata di lingkungan sekitar termasuk dari pendeta Samuel, ibu dokter Fatimah, om Ucok dan om Jolex yang tengah mengerjakan proyek besar. Ketentraman tiba-tiba terusik saat rasa dendam berujung pada pertikaian antar kampung yang menelan banyak korban. Akankah anak-anak tersebut dapat mengubah situasi genting tersebut?

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam cerita bergulir, saya tak kunjung menemukan konstruksi bangunan yang matang. Jeremias tampak terlalu sibuk menyusun subplot disana-sini hingga melupakan satu hal penting yaitu fokus. Tanpa itu, penonton akan merasa terombang-ambing dan pada akhirnya bosan karena tidak memiliki rasa keterikatan terhadap film yang disaksikannya. Tak kurang minimal ada empat “tim” yang dominan porsinya disini yaitu kelima sahabat cilik tersebut di atas, pasangan figur teladan Samuel dan Fatimah, pendatang dengan orientasi bisnis Ucok dan asistennya Jolex serta pasutri ‘beda ras’ Michael dan Vina yang malah tampak saling berbagi frame masing-masing.

Ringgo adalah salah satu satu faktor ‘penyelamat’ kali ini. Setiap kali tokoh Ucok muncul di layar, hampir dipastikan mampu membuat penonton tertawa karena spontanitasnya. Si kecil Simson yang seharusnya mendapat bagian yang paling dominan sebetulnya sudah tampil memikat dengan kepolosannya tetapi konflik yang disematkan padanya masih terlalu biasa seperti halnya suntik imunisasi dan pemakaian kacamata. Lukman Sardi dan Laura Basuki tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Namun siapapun yang berperan sebagai Samuel ataupun Vina rasanya tak akan banyak berpengaruh.

Ale memang tidak kehilangan talentanya dalam menyutradarai. Kesemua anak-anak maupun penduduk asli yang terlibat disini berakting dengan wajar. Adegan pamungkasnya diselesaikan dengan pesan moral yang mengena walau sedikit dipaksakan. Ciri khasnya dalam syut lanskap lokasi pegunungan Papua termasuk Kabupaten Lanny Jaya yang indah dari berbagai sudut pandang masih terlihat. Kolaborasi Dian HP, Aghi Narottama dan Bemby Gusti seakan menyempurnakan komposisi musik yang mengalir syahdu di setiap kesempatan sekaligus memberi nyawa film yang dibutuhkan.
Saya lebih suka menyebut Di Timur Matahari sebagai mozaik potret kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat Papua daripada sebuah film yang utuh. Mungkin dapat disimpulkan, pendidikan rendah merupakan faktor utama terjadinya semua konflik yang diusung dalam film ini. Isu rasisme, perdamaian, perbedaan budaya, pemerataan bahan pangan dan pemberlakuan hukum adat secara ketat juga sempat dihadirkan demi memperkaya wacana yang ingin disampaikan oleh filmmaker. Sebuah niat baik yang patut dihargai untuk ditelaah lebih jauh menjadi pembelajaran bersama meski belum terlahir dalam proses eksekusi yang memadai.

Durasi:
114 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 09 Mei 2012

HATTRICK : Serba-Serbi Idealisme Dan Patriotisme Futsal

 
Quotes:
Pak Toro: Kenapa masih nyuri, Nand. Kan semua udah disediain perlengkapan latihannya.
Anand: Gak apa, Pak. Saya mah cuma cari adrenaline rushnya aja.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh MVP Pictures ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 8 Mei 2012.

Cast:
Arumi Bachsin sebagai Sophie
Denny Sumargo sebagai Galang
Lukman Sardi sebagai Pak Toro
Ira Wibowo sebagai Bu Bos
Fauzan Nasrul sebagai Samuel
Lionil H Tikoalu sebagai Halil
Dion Wiyoko sebagai Alung
Amrit Punjabi sebagai Anand
Mikael Jakarimilena sebagai Markus
Pong Hardjatmo sebagai Pak Dedy

Director:
Merupakan film kedua bagi Robert Ronny setelah salah satu segmen dalam omnibus Dilema (2012).

W For Words:
Bicara jujur, saya bukanlah seorang penggila futsal yang komunitasnya di Indonesia semakin bertambah dari waktu ke waktu, terbukti beberapa lahan kosong di tengah kota pun beralih fungsi menjadi lapangan sewaan yang rutin dipadati penonton. Premis yang idenya muncul dari buah pikiran Ody C Harahap, Robert Ronny dan Amrit Punjabi ini menjadikannya sebagai film lokal pertama yang mengangkat olahraga futsal dimana pendekatannya mengingatkan anda pada Gara-Gara Bola (2008).
Turnamen Underground Futsal bertaraf internasional kembali digelar. Janda mafia, Bu Bos berambisi meneruskan cita-cita suaminya memiliki tim futsal jawara. Direkrutlah Toro sebagai pelatih bagi para anggota tim bentukannya yaitu Samuel, Alung, Halil, Anand dan Markus dari berbagai latar belakang hidup yang kemudian ditempa secara intensif baik fisik maupun teknik. Waktu latihan yang semakin singkat kerapkali diganggu oleh masalah-masalah pribadi kelima pemuda tersebut. Berhasilkah tim Garuda Merah bersaing dengan 7 tim kuat dari berbagai negara lainnya?
Satu fakta yang mencolok dalam film ini adalah durasinya yang mencapai 120 menit. Whoa! Suatu hal yang tidak biasa dalam film kita apalagi plotnya tergolong sederhana, lagi-lagi from zero to hero. Alih-alih membahas persiapan dan strategi tim yang matang dalam menghadapi kompetisi, filmmakers malah sibuk menuturkan konflik personal dari enam aktor utamanya, lengkap dengan dramatisasi dan penyelesaian klise yang tidak berkontribusi banyak terhadap bangunan utama cerita. Sekadar ingin memperkenalkan aktor-aktor anyar ke ranah publik meski berbekal akting yang minim?
Fauzan Nasrul jelas memiliki kesempatan paling besar untuk mengeksploitasi perannya bersama dengan Lukman Sardi dan Arumi Bachsin. Namun Lionil H Tikoalu justru tampil paling lugas dengan gaya sok kece dan figur boyband yang melekat padanya, tunggu dulu jika ia mengikuti kompetisi boyband kenapa selalu bernyanyi solo? Ira Wibowo bermain komikal sebagai Bu Bos yang tegas dan galak. Sayang rivalitasnya dengan Pong Hardjatmo digambarkan terlalu teatrikal. 
Sutradara Robert Ronny tampak asyik bermain dengan pieces of puzzle nya yang tergarap dinamik dari satu frame ke frame lain. Ini menarik! Sayang tidak menyajikan sesuatu yang fresh. Babak finale yang seharusnya menjadi penutup memang tersaji memikat tetapi unsur idealisme dan patriotisme nya tidak dapat terhindarkan. Sah-sah saja terkadang kemenangan memang merupakan harga mati seperti apa yang dikatakan Michael Jakarimilena dalam satu-satunya kesempatan bicaranya, “Sejarah tidak pernah mencatat siapa yang menjadi juara dua.” Setidaknya kali ini upaya Samuel, Alung, Halil, Anand dan Markus dalam membangun chemistry satu sama lain lewat olah kata dan bahasa tubuh terbilang padu.

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 06 November 2011

SANG PENARI : Kisah Kasih Bertembok Nasib Ronggeng

Quotes:
Rasus: Kalau nggak mau ‘buka kelambu’ ya nggak usah jadi ronggeng!


Storyline:
Kedua orangtua Srintil meninggal karena keracunan tempe bongkrek atas tuduhan warga semasa kecilnya. Beranjak dewasa ia seakan memiliki kewajiban untuk memulihkan nama baik keluarga, salah satu cara adalah menjadi penari ronggeng sesuai bakat magis yang dimilikinya. Adalah Rasus yang mengasihi Srintil sejak kecil hingga beranjak dewasa memadu kasih bersama. Keputusan Srintil menjadi ronggeng mengecewakan Rasus yang kemudian pergi mengabdi negara sebagai tentara muda pemberantas gerakan komunis. Terpisah selama bertahun-tahun, Rasus masih berupaya menemukan Srintil meskipun situasi di antara keduanya tak lagi sama.

Nice-to-know:

Diproduksi oleh KG Productions dan Salto Films dimana gala premierenya diselenggarakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada tanggal 6 November 2011.

Cast:
Oka Antara sebagai Rasus
Prisia Nasution sebagai Srintil
Slamet Rahardjo sebagai Kartareja
Dewi Irawan sebagai Nyai Kartareja
Landung Simatupang sebagai Sakarya
Happy Salma sebagai Surti
Teuku Rifnu Wikana sebagai Darsun
Tio Pakusadewo sebagai Sersan Binsar Harahap
Lukman Sardi sebagai Bakar

Director:
Merupakan film keenam bagi Ifa Isfansyah yang mulai angkat nama lewat Garuda Di Dadaku (2009).

Comment:
Ahmad Tohari merupakan penulis Indonesia asli Banyumas yang tenar dengan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Satu dari sedikit penulis lokal yang berani mengangkat tema komunis di tahun 1965 sebagai latar belakang percintaan seorang tentara dan ronggeng di sebuah desa yang penuh lika-liku. Sebelumnya pernah difilmkan juga dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng di tahun saya lahir yaitu 1983.
Skenario yang dikerjakan keroyokan oleh Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn sekaligus sang penulis novel tersebut di atas memang amat solid. Terciptalah dialog-dialog tajam di antara karakter-karakternya yang pluralisme dalam sebuah rentang waktu yang teramat panjang. Cinta Rasus dan Srintil yang seringkali menemui hambatan karena visi masing-masing yang berbeda mampu bersinergi maksimal dengan pergolakan politik yang terjadi.

Pendatang baru Prisia Nasution adalah satu nama yang pantas diingat di masa mendatang. Tarian magis Srintil memang tidak dominan porsinya tetapi dari beberapa kali penampilannya, penonton sudah dibuat percaya melihat keluwesannya melenggokkan tubuh. Belum lagi penjiwaan dramatisnya sebagai cah ayu sebatang kara yang berusaha memenuhi takdir hidup sekaligus tanggung jawabnya terhadap warga desa sehingga harus mengorbankan cinta sejatinya.
Seperti biasa Oka Antara mampu melebur dalam peran yang disodorkan kepadanya. Bagaimana pria desa nan lugu bernama Rasus mampu bertransformasi menjadi tentara sigap yang cepat menyerap ilmu. Lihat caranya belajar saat berhadapan dengan Tio Pakusadewo mulai dari intonasi bicara yang mudah ditertawakan hingga baca tulis yang kelak berguna. Tanggung jawab terhadap negara tidak menghalangi tekad kuat menemukan belahan jiwanya yang seakan hilang ditelan oleh waktu.
Di luar kedua nama tersebut masih terdapat serentetan nama beken yang mampu memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Selain Tio, sebut saja Slamet Rahardjo yang bermain sebagai satu-satunya anggota keluarga yang dimiliki Srintil, kakek Kartareja penanggungjawab setiap kegiatan sang ronggeng plus kembalinya Dewi Irawan sebagai dukun ronggeng Nyai Kartareja yang ahli pengobatan dan hal-hal mistik. Belum lagi Lukman Sardi sebagai Bakar dengan segala agenda tersembunyinya. Jajaran cast yang luar biasa dalam menampilkan seni peran berkualitas tinggi.

Sutradara Ifa Isfansyah patut diacungi jempol karena mampu menghimpun kinerja semua departemen mulai dari artistik, gambar, suara hingga editing secara maksimal. Setting lokasi dimunculkan dengan pas sesuai keadaan Jawa Tengah tahun 50-60an mendukung sinematografi sendu yang dibangun Yadi Sugandi sejak menit awal. Tata busana lawas karya Chitra Subiyakto ciamik bersanding dengan scoring musik indah hasil kolaborasi Aksan-Titi Sjuman yang berkali-kali membuat saya merinding.
Ada baiknya sebelum menonton, anda membaca novelnya untuk memperkaya pemahaman karena masih banyak hal yang tidak dijelaskan dalam filmnya yang terbatas oleh durasi dan kebijakan sensor. Meski tidak runut, Sang Penari mampu menyuguhkan dramatisasi yang kaya makna terutama dari segi pengabdian dan pengorbanan dua individu berlainan jenis. Sebuah cinta yang tidak selalu memaksakan kata hati tetapi cukup dimengerti logika sebelum benar-benar berlalu dalam suatu ambiguitas yang pilu. One of the best Indonesian movies ever made!

Durasi:
109 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 01 November 2011

PENGEJAR ANGIN : Bajing Loncat Pendidikan Cita-Cita

Quotes:
Dapunta: Dapun ingin sekolah, Pak. Dapun nak kuliah..


Storyline:
Siswa SMA cerdas, Dapunta tinggal di Lahat menjelang kelulusannya sangat berambisi untuk meneruskan ke bangku kuliah. Sayangnya niat baik itu ditentang sang ayah yang lebih mengarahkannya menjadi penerusnya sebagai pemimpin Bajing Loncat di kampung mereka, belum lagi ibunya yang sakit-sakitan hingga membutuhkan biaya pengobatan. Pak Damar dan Pak Ferdi yang melihat potensi Dapunta berusaha melakukan segala cara agar muridnya itu mampu menerima beasiswa. Dapunta dibantu oleh kekasihnya, Nyimas dan sahabatnya, Husni harus bersaing dengan Yusuf di segala bidang termasuk keunggulannya sebagai pelari tercepat sekaligus membuka pintunya untuk kesempatan emas yang membentang. Akankah mimpi tersebut dapat diraih?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Putaar Production dengan didanai oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dimana gala premierenya diadakan di Gandaria XXI pada tanggal 31 Oktober 2011.

Cast:
Qausar Harta Yudana sebagai Dapunta
Lukman Sardi sebagai Pak Damar
Agus Kuncoro sebagai Ferdy
Mathias Muchus sebagai Ayah Dapunta
Wanda Hamidah sebagai Bunda Dapunta
Siti Helda Meilita sebagai Nyimas
Giorgino Abraham sebagai Yusuf

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Hestu Saputra, jebolan Dapur Film yang dibantu oleh Hanung Bramantyo.

Comment:
Cerita di balik layar yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai narasumber, proyek film ini memang seperti “Sangkuriang”. Siapapun yang terlibat di dalamnya bisa jadi menggali kuburannya sendiri dikarenakan waktu yang begitu singkat dan tuntutan yang begitu besar dari penyumbang dana produksinya. Cukup mengejutkan melihat nama sekaliber Hanung Bramantyo tercantum dalam credit title apapun jabatannya disitu.
Penulis skrip Ben Sihombing terlalu banyak memasukkan elemen dalam film ini, setidaknya ada 3 yang paling utama yaitu:
1. Bajing loncat, tidak jelas digambarkan sebagai antagonis/protagonist.
2. Pendidikan, isu kelas gratis dan jatah beasiswa.
3. Olahraga, pelari jarak dekat untuk kompetisi.

Kesemuanya itu masih dibaurkan lagi dalam tema persaingan, persahabatan, pelatihan, dedikasi, cinta, kekeluargaan dari keseluruhan tokoh-tokohnya yang juga amat variatif dan sama kuatnya. Interaksi antara Dapunta dan sobat-sobatnya, ayah Dapunta dengan kawanan bajing loncatnya, guru Pak Damar dengan kepsek dan rekan-rekannya serta berbagai hubungan linier lainnya turut andil dalam menjungkir balikkan logika penonton yang kelelahan mengikutinya.
Mathias Muchus dan Lukman Sardi adalah dua nama besar di perfilman Indonesia. Keduanya memiliki peran penting terhadap sang tokoh utama yang dihidupkan dengan natural dan cukup maksimal oleh Qausar. Sayangnya tidak terlihat proses Ayah ataupun Pak Damar menginspirasi Dapunta secara tegas karena kurang fokusnya karakterisasi yang berusaha dibangun. Agus Kuncoro, Wanda, Siti Helda, Giorgino pun seakan hanya numpang lewat menciptakan riak-riak kecil dalam problematika yang ada.

Sutradara debutan Hestu Saputra bekerja di bawah supervisi Hanung Bramantyo. Sinematografi yang dihasilkan justru terkesan terlalu dinamis, terasa sekali perbedaan kinerja kamera di siang dan malam hari. Penceritaan sekolah (pendidikan Dapunta) dan hutan (penempaan ayah Dapunta) terasa seperti dua alam yang berbeda. Tata musiknya sebenarnya sudah mewakili daerah Sumatera Selatan, hanya saja penempatannya agak dipaksakan sehingga gagal membangun feel yang diharapkan.
Benang kusut yang hadir selama satu setengah jam pun akhirnya dituntaskan dalam 10 menit terakhir, seakan dimasukkan ke dalam lubang hitam begitu saja. Propaganda Pemprov dalam menggelorakan semangat Sea Games ke-26 di Palembang pun mengubah arah endingnya tanpa rasa dosa sekalipun. Semakin mengaburkan kualitas Pengejar Angin secara keseluruhan yang sudah kehilangan identitasnya sejak menit awal. Yang tersisa hanyalah aspek-aspek comotan dari berbagai film yang sudah-sudah hingga sukses membuat penontonnya berhalusinasi. Untuk apa susah-susah dikejar, angin yang sebatas lalu itu ternyata cuma mampu meninabobokan.

Durasi:
101 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 18 Oktober 2011

SEMESTA MENDUKUNG : Olimpiade Fisika Kerinduan Ibunda

Quotes:
Muslat: Hati-hati ya. Kalau naik pesawat jangan keluarin anggota badan sembarangan.


Storyline:
Muhammad Arief yang berasal dari Sumenep, Madura sangat menggemari ilmu sains terutama Fisika. Ayahnya, Muslat hanyalah seorang sopir truk serabutan sedangkan ibunya, Salmah memilih pergi ke Singapura untuk menjadi TKW. Sepulang sekolah, Arief bekerja di bengkel untuk mengumpulkan uang demi mencari ibunya kelak. Suatu ketika, Ibu Tari Hidayat yang melihat bakat Arief mengirimnya ke Jakarta untuk mengikuti seleksi peserta Olimpiade Fisika di bawah bimbingan Pak Tio Yohanes. Awalnya Arief menolak karena merasa tidak mampu tapi begitu mengetahui kompetisi akan diadakan di Singapura, ia berubah pikiran. Disanalah ia bertemu dengan teman-teman barunya dengan berbagai karakteristik yaitu Thamrin dan Clara yang suporttif serta Bima yang sinis. Akankah harapan Arief dapat tercapai pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mizan Productions & Falcon Pictures dimana saya menyaksikan special screeningnya pada tanggal 9 Oktober 2011 di Pejaten Village XXI.

Cast:
Sayef Muhammad Billah sebagai Arief
Revalina S. Temat sebagai Ibu Tari Hidayat
Lukman Sardi sebagai Muslat
Ferry Salim sebagai Pak Tio Yohanes
Feby Febiola sebagai Deborah Sinaga
Helmalia Putri sebagai Salmah
Indro Warkop sebagai Cak Kumis
Sujiwo Tejo sebagai Cak Alul
Rangga Raditya sebagai Bima Wangsa
Angga Putra sebagai Thamrin
Dinda Hauw sebagai Clara Annabela

Director:
Merupakan film ketiga John De Rantau setelah terakhir Obama Anak Menteng (2010).

Comment:
Rasanya khalayak umum sudah tahu jika setiap tahunnya siswa-siswi Indonesia aktif berpartisipasi dalam Olimpiade Fisika, bahkan beberapa di antara mereka terkadang berhasil menyabet juara ataupun gelar bergengsi lainnya. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan sehingga Hendrawan Wahyudianto dan John De Rantau berduet menggarap skripnya yang dibumbui oleh ilmu pengetahuan, nilai-nilai persahabatan dan keluarga.
Judul film ini sendiri datang dari pedoman Prof Yohanes Surya PhD yang juga dikenal dengan sebutan Bapak Fisika Indonesia dimana istilah MestaKung dapat diartikan sebagai hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu di sekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis. Cukup inspiratif, bukan?
Saya justru merasa film ini menjejalkan terlalu banyak tokoh yang berusaha menjadi fokus masing-masing subplot ceritanya. Katakanlah di paruh pertama, Arief terlihat sibuk berinteraksi dengan ayahnya Muslat, preman kampung Cak Alul, belum lagi bekerja di bengkel atau bahkan memantau karapan sapi. Di paruh kedua, Arief sibuk dengan guru-gurunya Pak Tio, Ibu Tari, Ibu Debby serta teman-teman barunya seperti Thamrin, Clara, Bima bahkan si penjual ketoprak Cak Kumis. Tujuan akhir bertemu Ibu dan berpartisipasi dalam Olimpiade Fisika dengan memuaskan seakan mendualisme ending.
Sutradara De Rantau gagal mengulang pencapaian sinematografi Denias, Senandung Di Atas Awan (2006) yang ciamik itu. Kali ini alam Sumenep alias Madura, Jakarta dan Singapura terkesan hanya tempelan lokasi syuting yang tidak tereksploitasi dengan baik. Beruntung penata musik Thoersi Argeswara dan band Goliath mampu menutupi kekurangan tersebut dengan cara membangun mood film lewat music scoring ataupun tembang hit secara inspiratif dan bersemangat.
Sayef memang menjiwai peran Muhammad Arief dengan natural, badannya yang tinggi bongsor kontras dengan wajahnya yang lugu itu. Namun Angga Putra justru lebih mencuri perhatian lewat karakter Thamrin yang setia kawan dan jenaka tersebut. Tokoh-tokoh dewasanya justru lebih bertindak sebagai pelengkap saja terutama Feby, Sujiwo dan Helmalia. Ferry, Revalina, Lukman, Indro mendapat porsi yang lebih besar meskipun pada saat mendekati penghujung cerita lantas menghilang begitu saja.
Semesta Mendukung terbukti membahas Fisika itu sendiri dengan cara yang ringan dan menyenangkan walau tidak sampai mendetil apalagi rumit. Konsep penyajiannya terhadap anak-anak pun cukup mengena terlepas dari keberagaman karakter di sekitarnya yang too crowded itu (lihat saja posternya!). Secara keseluruhan Mizan Production melanjutkan kiprahnya untuk menyuguhkan tontona inspiratif dengan penekanan bahwa dalam setiap kondisi kritis akan selalu ada jalan keluar bagi orang yang mau melangkah dengan menggunakan pikirannya. Jadilah pemenang atas diri anda sendiri!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 28 Juli 2011

JAKARTA MAGHRIB : Jalinan Kisah Warga Metropolitan Jelang Maghrib

Quotes:
Iman: Ya keluar. Gak jadi “keluar” di kamar ya keluar rumah..


Terbagi dalam 6 segmen:

IMAN CUMA INGIN NUR (12 min)
Iman yang asli Sidoarjo beristrikan Nur yang asli Betawi. Kelelahan mengurus balita mereka yang sakit hingga 3 hari, keduanya sepakat bercinta untuk melampiaskan penat dan rasa rindu. Sayangnya, Ibu Nur yang tinggal serumah dengan mereka kerapkali ikut campur dalam urusan rumah tangga. Iman pun mulai mempertanyakan eksistensinya di rumahnya sendiri.

ADZAN (6 min)
Preman Jakarta, Baung tidak terpuji tindakannya. Selain pengangguran, ia juga sering mabuk-mabukan dan memalak anak sekolah yang lewat untuk mendapatkan uang. Bertolak belakang adalah Pak Armen, penjaga mushola sekaligus pemilik warung kecil asal Solok yang saleh dan taat beragama. Kedua pribadi tersebut terlibat percakapan singkat yang bisa jadi membuka mata Baung kemudian.

MENUNGGU AKI (15 min)
Nasi goreng Aki sangatlah khas karena dimasak di atas anglo. Oleh sebab itu kehadirannya selalu ditunggu penghuni kompleks perumahan mulai dari Akbar, Tuti dan lain-lain yang berprofesi berbeda-beda. Satu kepentingan membuat orang-orang yang tidak saling mengenal itu menjadi berinteraksi satu sama lain menjabarkan isi kepala mereka masing-masing.

CERITA SI IVAN (10 min)
Demi bermain game di rental langganannya, Ivan kerap bolos dari Madrasahnya. Sayangnya sore itu tempatnya sudah terisi oleh keempat anak lainnya yang sudah membayar untuk berjam-jam. Tidak hilang akal, Ivan mengarang cerita kuntilanak yang kadang muncul menjelang maghrib untuk menakut-nakuti mereka, atau justru dirinya sendiri?

JALAN PINTAS (20 min)
Sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama 7 tahun berkendara ke suatu tempat demi mempersiapkan acara pernikahan adik sang lelaki yang menikah dengan ipar sang perempuan. Ketika mengambil jalan pintas, perbedaan karakter dan pola pikir keduanya mulai meruncing sehingga apa yang mereka bangun bisa saja dipertimbangkan kembali.

BA’DA (7 min)
Katanya berarti “Setelah” dimana tokoh-tokoh yang diceritakan sebelum Maghrib pada akhirnya dipersatukan di bagian akhir film baik secara langsung maupun tidak langsung.

Nice-to-know:
“Maghrib” merupakan istilah dalam bahasa Arab yaitu “Maghreb” yang berarti "tempat matahari terbenam" yang ditandakan dengan hilangnya mega merah di ufuk barat. Digunakan juga sebagai penanda waktu sholat atau berpulang dari aktifitas bagi kaum muslim.

Cast:
Lukman Sardi
Reza Rahadian
Adinia Wirasti
Ringgo Agus Rahman
Desta
Dodi Mahendra
Indra Birowo
Fanny Fabriana
Widi Mulia

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Salman Aristo.

Comment:
Ide cerita ini tentu saja menarik terlebih disajikan dalam konsep film omnibus. Masing-masing tema memiliki persamaan yaitu momen kejadian sebelum penanda waktu yang krusial artinya bagi kaum pemeluk agama mayoritas di Indonesia ini. Namun jangan salahartikan jika menganggap film ini berbau agamais karena justru menyoroti berbagai macam konflik yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari warga Jakarta ini.
Salman Aristo yang dikenal sebagai salah satu penulis skenario film jempolan saat ini memang terkenal terampil dalam mengolah sekumpulan fiksi mini yang dipublikasikan lewat jejaring sosial Twitter. Tentunya permainan kata-katanya tidak perlu diragukan lagi sehingga tidak heran jika pada akhirnya mampu dituangkan ke dalam format layar lebar dengan berbagai pengembangan yang cukup signifikan disana-sini.
Sayangnya duduk di kursi sutradara nampaknya memang tidak semudah berada di bangku penulis. Pergerakan kameranya masih cenderung naik turun, terkadang sudah cukup maksimal tapi tak jarang kurang konsisten dalam penentuan angle yang sangat berpengaruh pada jarak tangkap penonton terhadap layar. Proses editingnya tergolong lumayan mulus dengan interval yang berbeda-beda di setiap segmennya.
Favorit saya adalah segmen terakhir karena hanya berfokus pada dua sejoli di dalam ruang lingkup sempit yaitu sebuah mobil yang berjalan. Interaksi yang intens antara Reza dan Adinia meski dalam durasi singkat sekalipun sukses menjabarkan hubungan macam apa yang tengah mereka jalani. Bagaimana perbedaan visi dan tabiat begitu kentara dari setiap perdebatan panjang-pendek mengenai pekerjaan dan keluarga. Pertanyaan-pertanyaan penonton pun terjawab dari setiap lontaran kata ataupun ekspresi yang tertangkap secara eksplisit.
Di luar segmen tersebut bagi saya terkesan seperti masakan setengah jadi. Penyampaian konfliknya kurang kuat dan penyelesaiannya pun mengambang saja. Akumulasi penutupan di segmen “Ba’da” yang saya harapkan dapat menjadi highlight tersendiri malah datar. Tidak ada suatu “getaran” yang berusaha dialirkan dari produsen ke konsumen sehingga asumsi yang diharapkan dapat terbentuk sendiri dari pola pikir penonton rasanya sulit terjadi.
Walau demikian, Jakarta Maghrib tetap harus diapresiasi karena keberaniannya mengadopsi elemen “universal” yang terkandung dalam relasi suami istri, kekasih, rukun tetangga, tokoh hitam-putih masyarakat hingga anak-anak sekalipun. Keterlibatan aktor-aktris papan atas Indonesia disini sudah menjadi poin plus istimewa terlepas dari lemah atau kuatnya peranan masing-masing saat menyuguhkan problema yang menjadi bumbu utama. Pengalaman pertama adalah pembelajaran yang teramat berharga dari sebuah proses dan seorang Salman Aristo jelas sudah membuat langkah pertamanya lewat film ini.

Durasi:
75 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 12 Juni 2011

SERDADU KUMBANG : Standar Pendidikan Pencapaian Cita Anak

Quotes:
Acan: Coba bayangkan sendiri kalau papinya Umbe adalah Pak Alim. Hiiyyy seram..

Storyline:
Dalam rangka mencapai program kelulusan 100%, SD & SMP 08 berusaha memperketat sistem pengajarannya. Pak Guru Alim adalah salah satu yang paling mendukung hal ini meskipun ditentang oleh Ibu Guru Imbok yang berpendapat masih ada cara lain yang lebih manusiawi. Adalah siswa-siswa yang tidak lulus tahun lalu yakni Amek, Dulah, Acan, Ujang dan Umbe yang terkena dampaknya. Amek sendiri lebih senang menonton televisi daripada belajar, bertolak belakang dengan kakaknya Minun yang selalu juara kelas dan lomba Matematika. Ibu mereka Siti selalu membanting tulang menghidupi keluarga selagi menunggu kepulangan suaminya Zakaria yang sudah tiga tahun merantau di Malaysia. Akankah perubahan positif dapat terjadi di desa Mantar pada akhirnya terutama pada generasi muda penerus yang dimilikinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Alenia Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 9 Juni 2011.

Cast:
Yudi Miftahudin sebagai Amek
Aji Santosa sebagai Umbe
Fachri Azhari sebagai Acan
Monica Sayangbati sebagai Minun
Titi Sjuman sebagai Siti Aisyah
Ririn Ekawati sebagai Bu Guru Imbok
Lukman Sardi sebagai Pak Guru Alim
Asrul Dahlan sebagai Zakaria
Leroy Osmani sebagai Pak Openg
Dorman Borisman sebagai Pak Jabuk
Surya Saputra sebagai Ketut
Gerry Puraatmadja sebagai Pak Haji Idrus
Putu Wijaya sebagai Papin
Fanny Fadillah sebagai Jaenady

Director:
Merupakan film ketiga bagi Ari Sihasale setelah sebelumnya Tanah Air Beta (2010) yang cukup diterima kalangan pecinta film lokal.

Comment:
Alenia Pictures tergolong konsisten menyajikan satu film keluarga di musim liburan sekolah setiap tahunnya. Biasanya ditokoh utamai oleh remaja belia dengan pengharapan akan sesuatu yang lebih baik dari kondisi mereka sekarang. Proses tersebutlah yang menarik untuk disajikan dan dikombinasikan dengan segala permasalahan yang biasa mengiringi. Dan kali ini tugas Jeremias Nyangoen lah dalam menulis skenario film yang konon diilhami dari kisah nyata hasil tulisan tangan Rain Chudori ini.
Sutradara Ari Sihasale menggunakan sudut pandang suku Mandar yang bertempat tinggal di Sumbawa sebagai latar belakangnya. Beberapa long shot yang menyapu landscape indah beberapa kali ditampilkan walau tidak sedominan karya-karyanya sebelum ini. Eksekusi Ale dalam menjembatani kelompok dewasa dan remaja belia disini terbilang mulus sehingga tercipta interaksi timbal-balik yang menyenangkan untuk diikuti.
Penunjukkan Yudi sebagai Amek sangat tepat. Penampilan fisiknya yang tidak sempurna sejak awal mampu mengundang simpati penonton untuk mengikuti perjalanannya dengan runut. Bagaimana ia menyelaraskan cita-citanya dengan keterbatasan pendidikan yang diperoleh. Aji dan Fachri juga cukup melengkapi kekompakan trio ini sebagai Umbe dan Acan yang kocak meskipun persahabatan mereka bukanlah yang terdepan dalam film ini.
Aktor-aktris senior yang turut bermain kali ini memberikan performa yang memikat tanpa perlu saya sebutkan satu persatu. Titi Sjuman paling menonjol dimana logat dan gesture nya sudah menyerupai Siti, wanita Sumbawa yang terkesan jutek tetapi sangat suportif pada suami dan putra-putrinya itu. Menyenangkan melihat Lukman Sardi bersinar bukan di karakter frontal seperti biasanya. Tokoh guru galak Pak Alim yang ofensif dijiwainya dengan lugas. Tak jarang bersinggungan dengan Ririn Ekawati yang amat menyayangi murid-muridnya dan menjunjung tinggi tujuan pengajaran sebagai Bu Imbok.
Konsep ceritanya sendiri memang luas sehingga ada kalanya kehilangan fokus disana-sini karena harus dipadatkan dalam durasi satu jam tiga perempat. Terkadang film berusaha melakukan sindiran-sindiran halus terhadap sistem pendidikan negara kita yang masih belum sempurna ini, tetapi di sisi lain usaha mewujudkan cita-cita jangka pendek sekaligus panjang juga mendapat perhatian yang tinggi meski prosesnya tidak terlalu disorot. Belum lagi nilai-nilai persahabatan, persaudaraan, keluarga yang lumayan frekuentif mengisi scene demi scene yang disajikan secara variatif itu.
Terlepas dari ketidak sempurnaan film dalam mempertahankan jalur yang dilaluinya, Serdadu Kumbang masih mampu menghadirkan dramatisasi menyentuh yang natural. Terima kasih pada music scoring garapan Ipang yang begitu inspiratif dan easy listening. Sentilan kekerasan dalam sistem pengajaran sebagai sebuah perdebatan dilematis juga sukses mencapai sasaran. Di atas semua itu, aspek terpenting adalah setiap anak mesti diarahkan sejak dini untuk memiliki cita-cita dan tetap fokus pada tujuannya seiring mengenyam pendidikan layak. Itulah tugas anda sebagai orangtua kelak untuk membimbingnya. Pada kesempatan ini Ale dan Nia pun sukses menyampaikan messagenya dengan cara mereka sendiri.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 09 Juni 2011

HATI MERDEKA : Lanjutkan Perjuangan Bebaskan Dendam Hati

Original title:
The hearts of freedom.

Storyline:
Tanpa diduga Amir mundur dari Angkatan Darat karena ingin fokus pada keluarga terutama istri yang selalu mengkhawatirkannya. Maka Tomas, Dayan, Marius pun melanjutkan gerakan perjuangan kemerdekaan itu didampingi pula oleh Senja yang dicintai Tomas dan Marius sekaligus. Mereka menuju Bali lewat laut demi membalaskan dendam pada Belanda terutama Kolonel Raymer yang telah membunuh keluarga Tomas di waktu lalu. Tak lama kemudian mereka dibantu pemimpin pemberontak bawah tanah bernama Wayan Suta untuk mempertahankan ideologi dan melanjutkan revolusi yang sudah terpatri di dada masing-masing itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Media Desa Indonesia & Margate House Film dan gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 4 Juni 2011.

Cast:
Darius Sinathrya sebagai Marius
T. Rifnu Wikana sebagai Dayan
Lukman Sardi sebagai Amir
Donny Alamsyah sebagai Tomas
Rahayu Saraswati sebagai Senja
Astri Nurdin sebagai Melati
Nugie sebagai Wayan Suta
Ranggani Puspandya sebagai Dayu
Michael Bell sebagai Kolonel Raymer

Director:
Masih digawangi oleh Yadi Sugandi yang bertandem dengan Conor Allyn selayaknya dalam Darah Garuda (2010).

Comment:
Sebandingkah kesabaran anda untuk menikmati trilogi ini dalam rentang waktu 3 tahun? Jawabannya tentu tidak mutlak sama bagi setiap orang. Namun bagi saya pribadi cukup sebanding karena bagaimanapun juga potret sejarah perjuangan patriotisme bangsa Indonesia patut dihargai setinggi-tingginya. Dan film inilah satu-satunya yang berani mengangkat hal tersebut di era baru abad 21 yang banyak didominasi oleh genre horor dan komedi.
Garis besar ceritanya sendiri tidak berbeda jauh dari apa yang sudah ditampilkan dua prekuelnya yaitu bagaimana melumpuhkan tentara Belanda sekaligus meminimalisir korban yang berjatuhan. Yang berbeda adalah setting pertempurannya yang satu terjadi di atas lautan dan yang lain mengambil setting Pulau Dewata. Konsep yang menarik untuk menghadirkan inovasi baru yang menyegarkan walaupun tidak mutlak harus dilakukan sebetulnya.
Karakter utama yang ditonjolkan kali ini adalah Tomas dan Marius. Donny dan Darius menjawab tantangan tersebut dengan baik terbukti penjiwaan mereka terasa lebih detil apalagi didukung oleh dominannya scene yang melibatkan keduanya. Rahayu juga bermain menawan karena tokoh Senja kali ini cukup mendapat porsi besar sekaligus mengedepankan arti pejuang wanita yang masih dapat dihitung jari sepanjang sejarah perebutan kemerdekaan Indonesia. Kredit khusus bagi penampilan aktor asing (alm) Michael Bell yang berakting ciamik sebagai Kolonel Raymer.
Sutradara Yadi dan Conor cukup cerdik memaksimalkan spesial efek tembakan dan ledakan yang terjadi di setiap scene yang memungkinkan. Bagaimana lokasi dapat disiapkan sedemikian rupa untuk menjadi medan peperangan yang realistis. Namun yang sedikit mengganggu adalah faktor “keberuntungan” para tokoh utamanya yang bisa selamat berkali-kali dari terjangan peluru ataupun percikan bom. Bukan berarti saya mengharapkan mereka tewas dalam pertempuran tetapi setidaknya dapat dibuat dengan lebih meyakinkan lagi.
Hati Merdeka pun menutup petualangan Amir-Dayan-Tomas-Marius dengan happy ending. Sebuah proyek ambisius yang dikemas dengan cukup membumi dan bersahabat dengan para penonton dari berbagai lapisan masyarakat. Belum sepenuhnya dikatakan karya anak bangsa tapi semangat filmmaker yang terlibat patut diacungi jempol. Semoga saja semakin banyak produser yang tergerak untuk membangkitkan genre sejenis sekaligus menggairahkan kembali semangat nasionalisme di antara kita semua tanpa terkecuali.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 13 September 2010

SANG PENCERAH : Kehidupan Inspiratif Sang Pendiri Muhammadiyah

Quotes:
Ahmad Dahlan-Kebenaran ada di tangan Allah, manusia hanya bisa berikhtiar.

Storyline:
Setelah mendapat restu dari kedua orangtuanya, Darwis yang baru berusia 15 tahun meninggalkan Jogjakarta pada tahun 1867 demi mendalami Islam di Mekkah. Sepulang dari sana, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan dan mulai membenahi pelaksanaan syariat Islam ke arah yang lebih tepat. Langkah awalnya adalah mendirikan Langgar yang diikuti oleh sebagian pemuda yang tertarik pada visinya. Namun sayang tidak semuanya berpihak pada Ahmad Dahlan saat ia bertekad membenarkan kiblat yang salah di berbagai masjid termasuk Masjid Besar Kauman yang dikepalai oleh Kyai Penghulu Kamaludiningrat. Warga yang tersinggung merobohkan Langgar Ahmad Dahlan secara paksa dan menuduh ajarannya sesat. Istri tercinta, Siti Walidah terus menguatkan suaminya untuk terus berkiprah dan mendirikan Surau baru yang kemudian beranggotakan 5 murid setianya. Penggabungan dengan organisasi Budi Utomo juga menjadi titik tolak munculnya organisasi Muhammadiyah. Namun apakah jalan terbentang lurus begitu saja bagi Ahmad Dahlan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan diproduseri oleh Raam Punjabi.

Cast:
Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan
Zaskia Adya Mecca sebagai Siti Walidah
Slamet Rahardjo sebagai Kyai Penghulu Kamaludiningrat
Giring Nidji sebagai Sudja
Dennis Adhiswara sebagai Hisyam
Ricky Perdana sebagai Sangidu
Mario Irwiensyah sebagai Fachrudin
Abdurrahman Arif sebagai Dirjo
Ihsan Taroreh sebagai Darwis

Director:
Karya kedua Hanung Bramantyo di tahun 2010 ini setelah Menebus Impian yang cukup mencuri perhatian publik itu.

Comment:
Tidak salah rasanya jika saya menempatkan film ini sebagai yang terakhir ditonton dari 4 film nasional yang rilis menyambut Idul Fitri 2010. Ujaran ternama "Save The Best For Last" berlaku disini, dari worst to the best, jika penasaran lihat tanggal postingan review saya. Bagaimana tidak? Film ini solid dari berbagai sisi. Sang sutradara dan penulis cerita Hanung memberikan energi terbaiknya untuk menerjemahkan semibiografi kehidupan seorang Ahmad Dahlan. Meski tidak menyeluruh kerunutannya dan hanya berdasarkan referensi faktual dari orang-orang di sekitarnya semasa beliau hidup, Hanung menampilkan sudut pandang yang menarik secara meyakinkan!
Bagaimana seorang pemuda berkeyakinan tinggi berguru ke negeri seberang dan sebagai kyai mulai membagikan ajarannya sekembalinya ke tanah air hanya dengan satu tujuan, menjadikan Islam lebih bersahabat maknanya bagi para pemeluknya sendiri. Proses tersebut diterjemahkan dengan runut yang berujung pada timbulnya konflik saat hal tersebut ditentang oleh kaum-kaum tua yang merasa lebih benar. Para aktor muda disini menampilkan penjiwaan yang cukup natural mulai dari Ihsan sebagai Darwis muda, Mario, Ricky, Abdurrahman, Dennis hingga debut menarik Giring, sang vokalis Nidji! Kredit tersendiri disematkan pada Lukman, terlepas dari beberapa ciri khasnya yang masih muncul, menerjemahkan karakter Ahmad Dahlan dengan cemerlang mulai dari akting mengajar, berdialog hingga berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Penunjukan Slamet Rahardjo sebagai "rival" juga terasa tepat karena senioritas dan profesionalitasnya masih sangat tinggi. Justru Zaskia yang terasa paling minus disini karena logat Jawanya tidak kental dan "penampilan"nya tidak banyak berubah dari muda sampai tua.
Indahnya sinematografi yang menghadirkan setting akhir 1800an dan awal 1900an secara pas berkolaborasi manis dengan ciamiknya musik latar sepanjang film hasil kinerja apik Tya Subiakto. Alur bercerita yang digunakan juga mengalir mulus tanpa ada kesan dipaksakan sehingga nyaman diikuti walau durasinya cukup panjang. Alhasil Sang Pencerah merupakan tontonan inspiratif sarat makna yang mampu melebarkan sudut pandang anda akan konsep berbagi sebuah kebenaran yang mumpuni dan arti sebuah perjuangan dalam menggapainya.

Durasi:
110 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 11 September 2010

DARAH GARUDA : Perjuangan Nasionalisme Perang Gerilya 1947

Storyline:
Perang gerilya tahun 1947, Amir memimpin rekan-rekannya yaitu Tomas, Marius dan Dayan untuk menyelamatkan wanita-wanita yang mereka cintai yaitu Lastri, Senja dan Melati yang ditawan Belanda. Selepas itu mereka melanjutkan perjuangan di daerah Jawa Barat dan berjumpa dengan tentara Jenderal Sudirman untuk kemudian bersatu menuntaskan misi menghancurkan lapangan udara Belanda. Jenderal Van Mook yang berhasil lolos dari tawanan Dayan tidak tinggal diam. Ia menghimpun pasukannya untuk mendesak Amir cs yang secara jumlah dan persenjataan masih kalah. Namun semangat dan perjuangan merupakan suatu suntikan yang bisa membalikkan semua keadaan. Pertanyaannya apakah Amir cs mampu meminimalisir kerugian moral ataupun materiil dalam menghadapi Kompeni kali ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Margate House Film.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Tomas
Rahayu Saraswati sebagai Senja
Lukman Sardi sebagai Amir
T. Rifnu Wikana sebagai Dayan
Atiqah Hasiholan sebagai Lastri
Darius Sinathrya sebagai Marius
Astri Nurdin sebagai Melati
Ario Bayu sebagai Yanto
Rudy Wowor sebagai Van Mook

Director:
Masih disutradarai Yadi Sugandi sejak prekuelnya. Namun kali ini didampingi Conor Allyn yang sudah beberapa kali berpengalaman menggarap spesial efek film-film bujet besar Hollywood.

Comment:
Cukup disayangkan melihat nama Allyn Brothers yaitu Conor dan Rob sebagai penulis cerita dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan langsung. Mengapa? Sebab ini adalah salah satu film kolosal modern kita yang mengacu langsung pada sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namun tidak terlalu penting mengingat Yadi menjalankan fungsi sutradara dengan baik. Plotnya melanjutkan apa yang tertinggal di prekuelnya yaitu masa-masa paska kemerdekaan Indonesia dimana Kompeni masih berusaha menduduki wilayah-wilayah yang belum "merasa" dipersatukan NKRI. Semua konflik yang dihadirkan di paruh pertama film lebih merupakan konflik intern para pejuang nasional tersebut saja mulai dari kelompok Amir sampai pertemuan mereka dengan gerombolan pejuang Sudirman. Bagaimana satu sama lain berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menjalankan misi di tengah keterbatasan sumber daya sekalipun ataupun mencoba bekerjasama dengan pihak baru yang masih mempertanyakan integritas bangsanya sendiri. Di paruh kedua barulah pertempuran melawan Belanda menjadi suguhan yang menarik dimana adu tembak, strategi hingga pelarian terasa cukup nyata.
Dari jajaran cast, menurut saya Rifnu tergolong paling outstanding disini. Emosinya saat berjuang maupun terluka benar-benar terekam kamera dengan baik. Selain Rudy, Aryo dan Alex Komang tentunya yang sudah membuktikan kualita akting masing-masing. Jangan lupakan Atiqah yang membuka opening scene dengan gemilang. Sayangnya akting Lukman sebagai seorang pemimpin disini masih tergolong mentah lebih dikarenakan sentralisasi tokoh kerapkali berpindah-pindah selama durasi 95 menit tersebut.
Spesial efek yang digunakan secara keseluruhan terlihat lebih rapi dan meyakinkan dibandingkan Merah Putih. Tensi ketegangan dan permainan emosi di dalamnya juga sedikit meningkat sehingga jiwa nasionalisme penonton turut dilibatkan disini. Namun Darah Garuda belumlah sempurna dikarenakan kemonotonan unsur drama yang berlarut-larut dan penyelesaian konflik yang terkesan serba tanggung. Saya harapkan sekuel penutup trilogi ini mampu mencapai klimaks yang diharapkan kita semua. Mari tunggu bersama!

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa