XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label hanny r saputra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hanny r saputra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2012

LOVE IS U : Ekploitasi Chibi Cantik Nan Semu


Quotes:
Cherly: Kalo punya keyakinan, kita gak akan cepat menyerah..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Day Dreams Entertainment dan Radikal Films ini gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 26 Maret 2012.

Cast:
Cherly Chibi
Anisa Chibi
Wenda Chibi
Angel Chibi
Christy Chibi
Devi Chibi
Felly Chibi
Gigi Chibi
Auryn Chibi
Kevin Leonardo
Panca Makmun sebagai Victor
M Leo Lumanto sebagai Ayah Cherly
Fifie Buntaran sebagai Ibu Cherly

Director:
Merupakan film ke-11 bagi Hanny R Saputra yang karya terakhirnya, Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011) menuai banyak kritik.

W For Words:
Apapun hasil akhirnya, Cherry Belle alias Chibi patut berbangga karena menjadi girlband lokal pertama yang bisa bermain dalam sebuah produksi film Indonesia apalagi diarahkan oleh salah satu sutradara papan atas yaitu Hanny R. Saputra yang mengerjakan skrip olahan Jaumil Aurora. Sekadar catatan, sebelumnya boyband Ungu dan Wali sempat mencoba peruntungan mereka dalam Purple Love dan Baik-Baik Sayang di tahun 2011 yang lalu dengan hasil yang tidak terlalu memuaskan, setidaknya itulah pendapat pribadi saya.
Cherry Belle beranggotakan Cherly, Angel, Anisa, Christy, Devi, Felly, Gigi, Auryn dan Wenda dimana masing-masing memiliki ciri khas dan ego yang berbeda-beda.Hal tersebut tak jarang mengganggu kekompakan mereka yang berbuntut ketdak selarasan aksi panggung maupun olah vokal. Sang manajer, Victor berupaya mengembalikan keutuhan grup ini. Bukan hal mudah lantaran Cherly bermasalah dengan ayahnya yang meninggalkannya sejak kecil, Wenda mengalami konflik dengan ibunya yang super sibuk, Gigi dan Anisa yang saling iri hati, Auryn yang gampang sakit, Felly dan Christy yang keberatan dibilang kembaran serta sederetan kesalahpahaman lain.

Alih-alih terfokus pada suatu konflik besar yang menantang untuk diselesaikan, film ini malah sibuk bermain pada konflik-konflik kecil yang cuma menghabiskan durasi. Permasalahan demi permasalahan sepele kerap terjadi yang hampir semuanya diselesaikan hanya dengan permintaan maaf, berpelukan dan bernyanyi bersama. Gosh, it’s really annoying especially with the repetition itself. Jika menggunakan alasan bahwa kesembilan anggotanya masih muda usia sehingga diganjar pembenaran untuk bertingkah labil pun rasanya tidak bijaksana karena penonton ingin melihat lebih.
Sutradara Hanny terlihat telah melakukan usaha maksimalnya untuk menyajikan film yang enak ditonton sekaligus mudah diikuti. Ia memang berhasil karena sinematografinya lumayan memikat dengan memaksimalkan sudut pengambilan gambar indoor maupun outdoor yang variatif. Namun kelemahan skrip tidak dapat ditutupi begitu saja apalagi ditunjang keterbatasan akting yang membuat segalanya terasa dibuat-buat. Chibi yang baru menelurkan 5 single itu terkesan miskin musikalitas karena diulang terus-menerus sebagai backsound nyaris di setiap adegannya.

Saya tidak menghujat Chibi samasekali, mereka cantik, manis, lucu dan memiliki olah vokal lumayan tetapi menghibahkan skrip buruk ke tangan mereka sama seperti membongkar kedok bahwa kesembilan gadis ini hanyalah propaganda produser untuk mengIndonesiakan K-Pop lengkap dengan gaya rambut,make-up hingga busananya. Lagu ringan ear-catchy dalam balutan koreografi unyu menjadi pelengkap paket yang entah harus dibanggakan atau diprihatinkan. Love Is U terasa semu sebagai sebuah film meskipun dibalut dengan rentetan kalimat pesan moral yang tidak cukup dalam untuk dicerna. Kinerja Hanny setidaknya sedikit menyelamatkan drama penuh “drama” ini dari nilai terendah!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 20 Agustus 2011

DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH : Ketika Cinta Berbeda Status Temukan Takdirnya

Quotes:
Ibu Hamid: Jangan kau turutkan hatimu. Sampai kapanpun emas takkan setara dengan loyang, sutra takkan sebangsa dengan benang


Storyline:
Hamid dan Zainab sejak pandangan pertama sudah tertarik satu sama lain. Sayangnya perbedaan martabat di antara mereka menjadi jurang pemisah. Hamid berasal dari keluarga miskin dimana ibunya bekerja pada keluarga Zainab yang terpandang di kampungnya. Bagaimanapun juga Haji Fajar sudah menaruh respek sendiri pada Hamid yang santun dan cerdas itu. Impian dua sejoli itu sebetulnya sederhana yaitu bisa bersama-sama sepanjang hidup mereka dan berkesempatan menunaikan ibadah haji di Mekah. Lewat serangkaian peristiwa menyebabkan Hamid harus jauh dari Zainab menempuh jalan hidupnya sendiri. Akankah cinta yang sepintas tak mungkin terwujud tersebut dapat menemukan takdirnya di Ka’bah?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MD Pictures dimana gala premierenya diselenggarakan di Plaza Senayan XXI pada tanggal 18 Agustus 2011.

Cast:
Herjunot Ali sebagai Hamid
Laudya Cynthia Bella sebagai Zainab
Niken Anjani sebagai Rosna
Tarra Budiman sebagai Saleh
Hj. Jenny Rachman sebagai ibu Hamid
Widyawati sebagai Nyonya Jafar
Didi Petet sebagai Haji Jafar
Leroy Osmani sebagai Rustam
Ajun Perwira sebagai Arifin

Director:
Merupakan film ketiga Hanny R Saputra di tahun 2011 ini dan kesembilan selama 7 tahun karirnya berjalan.

Comment:
Film remake yang diangkat dari sebuah novel populer karya Buya Hamka di tahun 1978 yang kemudian difilmkan oleh Asrul Sani pada tahun 1981 ini jelas memiliki beban besar untuk bisa mengekor sukses yang sama atau bahkan melebihinya. Sineas internasional sekalipun seringkali kesulitan menjawab tantangan tersebut. Bagaimana dengan sineas lokal kita? Sebut saja judul-judul yang pernah hadir seperti Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta dsb yang kebetulan bermuatan sama yaitu romansa reliji.
Kini Hanny R Saputra yang tak dinyana kualitas filmnya dari waktu ke waktu mengalami grafik menurun dipercaya oleh produser Dhamoo dan Manoj Punjabi untuk menghadirkan versi terbarunya ini. Cukup beresiko memang! Namun hasil akhirnya saya akui masih lebih bagus dari dua film terakhirnya terutama dari segi sinematografi dan pemanfaatan lokasi. Khusus aspek yang terakhir ini mungkin penggunaan efek spesial patut dimaklumi mengingat kesulitan syuting di lokasi aslinya.
Sedangkan suasana kota Padang di tahun 1920an berhasil diwujudkan sedemikian rupa termasuk lokomotif dan sepeda ontel. Andai saja adegan kapal tenggelam dapat diperlihatkan tentunya bisa menjadi kredit tersendiri. Sayangnya kemunculan produk sponsor yang frekuentif malah mengganggu, seakan sugesti yang disodorkan kepada penonton tidak cukup dengan adegan halus selayang pandang saja. Belum lagi penggunaan berbagai gimmick yang tidak sesuai setting meski masih minor dampaknya.

Kinerja Titien Wattimena & Armantono dalam mengadaptasi skrip boleh diacungi jempol. Beberapa tokoh kunci di luar kedua tokoh utama mampu mendelivery dialog masing-masing dengan lancar. Cinta yang terhadang oleh perbedaan materi dan martabat memang konflik yang teramat klise. Untungnya Hanny tidak terlalu terkesan menye-menye dalam menyuguhkan problematika Hamid dan Zainab selayaknya sinetron, penonton tetap dapat mengapresiasi ini sebagai sebuah proyek layar lebar.
Penunjukan Junot tergolong tepat. Kesan ndeso yang selalu tertindas oleh keadaan terwujud dengan baik. Niscaya kita mampu bersimpati pada Hamid terutama interaksinya dengan Sang Ibu yang bisa menjadi highlight itu, jempol bagi akting Hj Jenny Rachman yang tetap ciamik. Sebaliknya Laudya masih terlalu nge-pop untuk peran Zainab dengan segala spontanitas dan pilihan-pilihan hidupnya. Namun usahanya tetap harus diapresiasi, apalagi adegan-adegan sendu yang dilakoninya masih terasa pas. Chemistry keduanya jujur masih terasa kurang padu di berbagai important scenes.
Di Bawah Lindungan Ka’bah rasanya masih dapat dijual kepada khalayak umum terlebih diedarkan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432H. Tempo yang demikian lambat dan ending yang terkesan antiklimaks memang dapat mengurangi nilai akhirnya. Namun bagaimanapun juga tema “kasih tak sampai” dipercaya selalu dapat dinikmati dengan perasaan geregetan bercampur sendu melankolis. Untuk sesaat, biarkanlah dua insan berlawanan jenis yang saling mencintai dapat memiliki kesempatan bersama di atas suratan takdir yang terkadang kejam tak memihak.

Durasi:
120 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 21 Juni 2011

MILLI AND NATHAN : Datang Pergi Romantisme Remaja

Quotes:
Milli: Cinta itu seperti kopi, enak diminum kalo masih panas. Tapi resikonya jadi cepat habis..

Storyline:
Sekelas dalam sebuah SMU di Bandung, Milli dan Nathan saling menyukai satu sama lain. Nathan yang cerdas dan fokus pada cita-citanya sebagai kebanggaan keluarga seringkali mengingatkan Milli untuk rajin belajar. Namun sikap Milli yang polos malah semakin menarik Nathan untuk menjatuhi pilihannya. Keduanya pun berpacaran layaknya remaja berbahagia, apalagi didukung oleh kedua sahabat mereka yaitu Asti dan Oji. Selepas kelulusan, Nathan lebih memilih melanjutkan kuliah di Jakarta, meninggalkan Milli yang memilih untuk menetap dan meneruskan impiannya sebagai penulis novel. Perpisahan tidak terhindarkan meski beberapa tahun kemudian keduanya bertemu kembali tanpa bisa membohongi perasaan masing-masing. Apakah menyatukan dua hati yang saling mencinta sedemikian sulit karena pertentangan ego?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Falcon Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di fX Platinum XXI pada tanggal 22 Juni 2011.

Cast:
Olivia Jensen Lubis sebagai Milli
Chris Laurent sebagai Nathan
Sabai Morscheck sebagai Asti
Chaca Rasidy Ariefiansyah sebagai Oji
Fendy Chow sebagai Oscar
Frans L. Tumbuan
Minati Atmanagara
Mario Lawalata
Him Damsyik

Director:
Pria kelahiran Salatiga berusia 46 tahun bernama Hanny R. Saputra ini mulai dikenal luas lewat debutnya, Virgin di tahun 2004.

Comment:
Romantisme remaja.. Ah rasanya sebuah tema drama cinta yang tak lekang oleh waktu dan telah melahirkan berjuta-juta versi diantaranya. Lantas yang tersisa hanyalah eksekusi sebuah skenario dengan sentuhan baru plus nilai jual yang coba ditawarkan disana-sini. Kali ini faktor nama sohor Hanny R. Saputra dan Olivia Jensen lah yang berusaha mengangkat film secara keseluruhan. Berhasil atau tidaknya tentu dikembalikan kepada penilaian masing-masing penonton.
Plot ceritanya sendiri nyaris sama dengan sebuah judul film nasional yang baru saja tayang beberapa waktu lalu. Tidak perlu saya sebutkan agar tidak terkesan spoiler. Perbandingan dari berbagai segi boleh saja dilakukan tapi yang jelas masing-masing film memiliki plus minus tersendiri. Kali ini sang penulis skrip handal Titien Wattimena berupaya menyuguhkan detail konflik dari sudut pandang para karakter utamanya sehingga didapatkan sisi personal yang ingin disampaikan.
Olivia merupakan aktris muda berbakat dalam hal akting tapi masih terlihat kesulitan memvariasikan perannya dari satu film ke film lainnya. Karakter Milli di tangannya digambarkan siswi optimis, lugu, ceria kemudian bertransformasi menjadi penulis muda cerdas, sukses, mandiri. Sedangkan debut Chris tidak terlalu mengecewakan meski ia lebih mengandalkan wajah fresh dan cutenya sebagai heartthrob bernama Nathan yang sikapnya selalu maju mundur itu.
Chemistry mereka terjalin cukup manis dan menggemaskan. Saya tidak akan berbicara mengenai French kiss yang kabarnya digunting LSF tersebut. Namun sejak menit awal penonton diajak bersimpati pada keduanya. Sedangkan karakter yang dihidupkan oleh Sabai dan Chaca juga turut memperkuat esensi persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah itu dimana permainan “Pancasila Lima Dasar” mungkin akan membawa ingatan anda melayang kembali..
Sutradara Hanny masih menggunakan ciri khasnya yakni tempo lambat untuk mengeksekusi skrip detail dari Titien. Bisa jadi anda akan merasa bosan walau jika ditelaah lebih jauh, gambar-gambar yang disuguhkan sebetulnya berbicara banyak. Terima kasih pada lokasi setting Kota Kembang yang mampu dimaksimalkan untuk mendukung penceritaan. Dramatisasi terbangun dengan baik tanpa kesan berlebihan walau sayangnya harus ditutup dengan ending yang terlalu rushing tanpa penjelasan lebih dalam akan alasan dan situasi sebenarnya yang dihadapi tokoh Nathan tersebut.
Milli & Nathan memang tidak akan mengajarkan anda akan konsep baru percintaan dua sejoli muda usia tetapi harus diakui cukup mengesankan dalam bertutur dan menegaskan problema yang terjadi di antara kedua tokoh utamanya. Suatu suguhan yang mengajak anda berandai-andai untuk mengalami perasaan seperti yang dimiliki Milli. Bukankah bahagia dan sedih itu satu paket? Terbungkus dalam balutan satu cinta yang tulus bersemi..

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 27 Januari 2011

LOVE STORY : Percintaan Menentang Adat Masyarakat

Quotes:
Galih: Cinta tidak membuat kegelapan, justru cinta itu menerangi, cinta tidak akan membuat aku menyerah, justru aku akan memperjuangkannya.

Storyline:
Sejak kecil, Galih dan Ranti selalu bersama-sama hingga tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya. Galih seringkali memotong rambut Ranti yang bercita-cita menjadi guru. Sayangnya belum ada sekolah yang dibangun di daerah mereka. Hal tersebut menjadi impian masa depan yang ingin dicapai. Romansa Galih dan Ranti mendapat tantangan masyarakat yang mengusung kepercayaan akan terjadinya bencana jika ada muda-mudi dari dua desa yang terpisahkan sungai tersebut menikah. Perjuangan mencapai kebahagiaan cinta memang tidak mudah tetapi akankah pada akhirnya Ranti dan Galih bersatu padu mewujudkan mimpi-mimpi mereka?

Nice to know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dan gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI tanggal 18 Januari 2011.

Cast:
Reuni ketiga Acha Septriasa dan Irwansyah setelah Heart (2006) dan Love Is Cinta (2007). Kali ini keduanya kembali berpasangan sebagai Ranti dan Galih.
Henidar Amroe sebagai Nenek Ranti
Reza Pahlevi sebagai Ayah Ranti
Maudy Koesnaedi sebagai Ibu Galih
Donni Damara sebagai Ayah Galih
Reza Rahadian sebagai Pengkor

Director:
Di penghujung tahun kemarin, Hanny R. Saputra sempat membesut drama remaja berjudul Sweetheart.

Comment:
Harus diakui premisnya menjanjikan. Apalagi dukungan nama-nama cast dan sutradara serta composer yang mengisinya. Semua tampaknya terlihat benar sedari awal. Namun seiring berjalannya film, rasanya tidak demikian. Aklimatisasi film terasa kurang maksimal disana-sini sehingga hasil akhirnya terasa banyak minus yang cukup kentara. Coba kita uraikan satu persatu!
Plot ceritanya sedikit kebingungan antara penyajian kisah cinta nyata ataupun cerita romantika legendaris. Pada prolog kita diperkenalkan pada ikhtisar Joko Angin-Angin dan Dewi Bulan yang digambarkan berjuang mati-matian demi cinta mereka terlepas dari segala rintangan yang menghadang. Setelah itu tampaknya hal serupa ditransformasikan ke dalam asmara tokoh Galih dan Ranti yang dikekang oleh norma-norma masyarakat yang sudah bertahan lama. Yang menjadi pertanyaan penonton adalah akankah pada akhirnya keduanya mencapai kebahagiaan bersama-sama? Tenang, saya tidak akan melakukan spoiler.
Sebagai nyawa film, nama Acha dan Irwansyah telah beberapa kali bersanding sebagai pasangan sebelumnya. Hal ini bisa jadi cukup membantu keduanya untuk memahami konsep dua sejoli yang ingin disampaikan. Sayangnya Irwansyah sebagai Galih sedikit underperform disini meski tidak dapat dikatakan buruk. Fakta ini menyebabkan Acha menanggung beban yang lebih berat untuk menopang intensitas percintaan itu sendiri. Namun ia tetaplah seorang aktris berkualitas untuk membawakan sosok Ranti yang tersiksa karena kungkungan yang membelenggunya.
Hanny merupakan salah satu sutradara yang saya kagumi dengan karya-karyanya yang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Namun kali ini berbagai elemen film cinta yang ditanganinya terasa klise dan predictable. Jikapun ada tambahan subplot malah terasa tidak signifikan terhadap bangunan utama ceritanya. Apakah skenario yang ditulis Armantono menjadi penyebabnya? Sulit dipastikan.
Love Story memang mampu menghadirkan sinematografi yang cukup bagus sebagai sebuah tontonan lokal di atas rata-rata. Hanya saja jalinan konflik yang dihadirkan berikut penyelesaiannya terasa mengambang begitu saja di permukaan tanpa kedalaman. Ibarat penonton diajak berlayar dengan sampan sederhana menyusuri danau indah tetapi tidak ada gejolak esensi yang mengiringinya samasekali. Cukup disayangkan!

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 01 Oktober 2010

SWEETHEART : Potret Kontras Dunia Remaja Putri

Quotes:
Imel: Gimana caranya mereka masih mau sama gue kalo gue udah dipake??

Storyline:
Berat hati, Nina terpaksa pindah ke sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang baru mengikuti ibunya Cynthia yang baru saja dinikahi secara siri oleh seorang pengusaha kaya. Kemudian Nina berkenalan dengan cowok tampan bernama Irwan yang juga tinggal di sekitar situ. Di sekolah Nina juga berteman dengan Misha yang terobsesi menjadi anggota geng Sweetheart yang paling populer disana. Geng ini beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry sebetulnya bukan panutan yang baik. Mereka senang berfoya-foya, dugem, mabuk-mabukan bahkan melakukan seks bebas. Imel yang paling dominan diantara ketiganya mengalami guncangan batin saat diputuskan oleh Jodi yang juga vokalis band tenar. Sayangnya sakit hati Imel lalu dilampiaskan kepada Nina lewat serangkaian "penyiksaan". Batin Nina hancur tetapi ia harus bangkit berdiri dan melakukan apa yang terbaik bagi dirinya dan lingkungan barunya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Virgo Putra Film dan diproduseri oleh Ferry Angriawan.

Cast:
Marcel Chandrawinata sebagai Irwan
Aurellie Moeremans sebagai Nina
Sabai Morscheck sebagai Imel
Joanna Alexandra sebagai Cherry
Sheila Thohir sebagai Fifi
Ayu Azhari sebagai Cynthia
Ivan Ray sebagai Jodi

Director:
Merupakan film kedua bagi Hanny R. Saputra di tahun 2010 ini setelah Sst.. Jadikan Aku Simpanan di bulan Januari lalu.

Comment:
Prolog film ini seperti ada di pertengahan sesuatu. Kita tidak tahu siapa Nina yang lugu ataupun trio populer berlakuan negatif Sweetheart yang beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry. Latar belakang keempatnya tidak disinggung samasekali. Hal yang sesungguhnya sangat penting bagi audiens untuk dapat menyelami karakterisasi tokoh-tokoh utama itu. Yang ada narasi berjalan terus merekam berbagai polah tingkah keempat remaja putri tersebut dengan alur linier. Konflik demi konflik terus dijejali kalau tidak mau disebut berlebihan. Namun harus diingat kembali, ini adalah film remaja yang menyimpan misi edukasi tersendiri.
Sutradara Hanny menyajikan sinematografi yang teduh dengan pemilihan warna-warni lembut yang menarik. Kepiawaiannya menyajikan drama yang baik memang tidak bisa dipungkiri seperti yang pernah diperlihatkannya dalam Heart. Momen-momen bold yang menohok emosi ditampilkan secara gamblang. Penampilan Sabai yang meledak-ledak sebagai gadis pembangkang cukup mampu membuat penonton berantipati padanya. Sebaliknya Aurellie tampil kalem tetapi persuasive. Kedua karakter yang bertolak belakang itulah yang menjadi nilai jual utama film ini. Kehadiran Marcell, Joanna, Ayu dll hanya terkesan sebagai pelengkap belaka dan tidak ada alasan yang kuat untuk membuat mereka beerimprovisasi disini.
Jika anda bisa memaafkan letusan peluru yang terjadi di awal, niscaya Sweetheart akan menjadi tontonan yang memenuhi standar kualitas sebuah film. Terlepas dari klise dan predictable endingnya, saya menganggap film ini masih layak untuk ditonton. Nilai-nilai persahabatan yang berpadu dengan peran orangtua dalam menanamkan pendidikan moral sejak dini memang bagian terpenting dalam pertumbuhan seseorang yang beranjak remaja. Bukankah masa depan dan pilihan dalam hidup ditentukan dari fase tersebut?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 15 Januari 2010

SSH.. JADIKAN AKU SIMPANAN : Kursus Menjadi Gadis Simpanan Kelas Satu

Storyline:
Hobinya berbelanja membuat Pamela kesulitan menentukan masa depannya dengan profesi bergaji tinggi. Bertekad menjalani casting bersama sahabat setianya Gino, Pamela malah kebagian peran pengganti kuntilanak dan syuting di malam hari. Lewat temannya Gino, Pamela akhirnya dikenalkan oleh Miss Tisya, ketua perkumpulan Mekar Sari. Perkumpulan yang mendidik gadis-gadis untuk menjadi wanita simpanan yang mandiri termasuk Nining yang sudah senior dan Angel yang juga seorang pemula. Akhirnya Pamela pun bertekad menjalani latihan demi latihan hingga ia lulus. Namun apakah itu yang sesungguhnya diinginkan hati nuraninya?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh perusahaan lawas, PT Virgo Putra Film yang bersetting di sebuah rumah mewah yang megah dan juga beberapa mall ternama di Jakarta seperti Pacific Place dll.


Cast:
Tampil beda dari biasanya seperti perannya dalam LoVe (2008), Acha Septriasa didaulat sebagai Pamela, gadis lugu yang akan melakukan apapun untuk bisa hidup mewah.
Terakhir bermain dalam Jeritan Kuntilanak, Julia Perez disini menjabat sebagai wanita simpanan nomor satu perkumpulan Mekar Sari yang menguasai segala trik.
Zidni Adam memerankan Gino, cowok polos yang diam-diam mencintai sahabatnya sendiri.
Penampilan Ayu Azhari sebagai wanita simpanan senior, Nining turut menyegarkan suasana film ini.

Director:
Terakhir menggarap The Real Pocong yang cukup apik itu, Hanny R Saputra kali ini bereksperimen dengan drama komedi ringan yang bisa diikuti siapa saja yang sudah cukup umur tentunya karena banyak adegan dewasa di dalamnya.

Comment:
Dua pertiga film ini bisa dikatakan bergaya slapstick. Mengapa? Tema wanita simpanan yang cukup sensitive disajikan dengan fun dan kocak, lengkap dengan suara-suara binatang terutama ringkikan kuda sebagai impersonisasi adegan bercinta. Dari segi cast, Jupe lah yang paling menguasai layar. Penampilannya sebagai wanita seksi yang menggoda bisa dibilang yang terbaik sepanjang karir aktingnya. Lihat saja bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya terasa sensual walau tetap dalam batas kewajaran. Sedangkan Acha terasa kurang pas sebagai gadis yang ‘bertransformasi’ karena secara fisik, tidak ada perubahan berarti yang bisa dilakukannya. Sang sutradara sedikit banyak terpengaruh oleh film-film Hollywood yang memanjakan wanita dengan fashion sehingga mood film cukup terbantu. Sayangnya kepiawaiannya menggarap genre horor, malah berusaha dibawa kesini. Alhasil beberapa scene lengkap dengan background musiknya “cukup menyeramkan” walau sebetulnya sangat tidak diperlukan. Pada akhirnya Ssh.. Jadikan Aku Simpanan hanya terbatas pada hiburan belaka yang bisa ditertawakan dengan sedikit pesan moral. Kekurangannya hanya di logika karakterisasinya, tidak didukung oleh motif yang jelas ataupun masuk akal dalam melakukan itu semua.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 07 Maret 2009

THE REAL POCONG : Obsesi Pocong Hantui Keluarga Muda

Cerita:
Pasutri muda, Ivan dan Rini beserta putri mereka, Laura baru saja pindah ke rumah sendiri di suatu tempat tenang yang agak terpencil. Namun firasat Laura sudah tidak baik saat berkeliling di lingkungan sekitar rumah karena ia merasa melihat "sesuatu" yang jahat dan diam-diam mengincarnya. Sayangnya kedua orangtuanya tidak begitu saja percaya sampai pada akhirnya Laura menghilang. Rini berjuang keras meyakinkan Ivan untuk pindah rumah setelah mendapatkan Laura kembali yang tidak ketahuan rimbanya. Dengan bantuan seorang paranormal, Laura dinyatakan "dibawa" pocong ke dunia lain. Berasal dari manakah kekuatan gaib yang meliputi lingkungan itu? Apakah ketiganya dapat berkumpul kembali pada akhirnya?

Gambar:
Kesan sunyi dan angker mampu tertangkap dengan baik di tengah setting yang terlihat alami dan jauh dari peradaban.

Act:
Debut layar lebar yang cukup baik bagi Nabila Syakieb sebagai Rini yang sangat menyayangi putrinya namun tidak pernah mempercayai intuisinya sejak awal.
Ashraf Sinclair sebagai Ivan, seorang ayah sekaligus suami yang tidak mempercayai hal-hal gaib sebelum berhadapan sendiri dengan dunia tak tampak itu.
Penampilan yang cukup menarik diperlihatkan bintang cilik Sakinah Dava Erawan sebagai Laura dan Kinaryosih kali ini bermain sebagai tetangga misterius yang menyembunyikan teka-teki.

Sutradara:
Hanny R. Saputra yang angkat nama lewat drama melankolis Heart pada kesempatan ini mengangkat tema pocong yang berkali-kali sudah dilakukan oleh sineas lain. Hanny sendiri mengaku temanya berbeda dengan pendekatan psikologis dan eksplorasi ketakutan manusia bukan hanya dari tampilan visual saja.

Komentar:
Maaf tanpa bermaksud mengkritik kalau sejam pertama film ini terlalu berlarut-larut tanpa riak yang berarti. Setelah berjalan sejam barulah plot cerita bergulir cepat dan lebih bermakna, sayang pada eksekusi ending cenderung klise tanpa inovasi baru. Secara keseluruhan The Real Pocong digarap dengan rapi dan serius, hasilnya harus diakui memang cukup menyeramkan dan menawarkan nuansa yang berbeda dari film sejenis. Tertarik membuktikannya?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!