XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label julia perez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label julia perez. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

GENDING SRIWIJAYA : Fiksi Kolosal Menjanjikan Tanpa Keakuratan Historis


Quote: 
Kita berjuang demi tanah ini dari kerakusan Dapunta.

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Putaar Production dan Pemda Sumatra Selatan ini gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 9 Desember 2012 yang lalu.

Cast:
Agus Kuncoro sebagai Awang Kencana
Sahrul Gunawan 
sebagai Purnama Kelana

Julia Perez sebagai Malini
Slamet Rahardjo sebagai Dapunta Hyang Mahawangsa
Hafsary Thanial Dinoto sebagai Endang Wangi
Mathias Muchus
sebagai Ki Goblek

Oim Ibrahim sebagai Pati Duta
Jajang C Noer
sebagai Ratu Kalimanyang


Director: 
Merupakan karya ketujuh yang ditulis dan disutradarai Hanung Bramantyo setelah terakhir Sang Pencerah (2010).

W For Words:
Saya sudah lupa kapan terakhir ada sebuah film kolosal nasional dengan latar belakang sejarah daerah. Yang ada di ingatan cuma Saur Sepuh I-V (1987-1992) dan Tutur Tinular I-IV (1989-1992) dimana hanya bisa saya saksikan via televisi. Acungan jempol pantas diberikan pada Hanung Bramantyo atas inovasi dan keberaniannya mengerjakan proyek semacam ini tentunya dengan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Sumatra Selatan sehingga pemakaian Sriwijaya sebagai latar belakang setidaknya dapat ’disahkan’

Abad 16, Kedatuan Bukit Jerai adalah kerajaan kecil yang dipimpin Dapunta Hyang Mahawangsa dengan permaisuri Ratu Kalimanyang. Dua putranya, Awang Kencana dan Purnama Kelana memiliki karakter yang bertolak belakang. Saat Dapunta menunjuk Purnama yang mengandalkan intelektualitas sebagai penggantinya, Awang yang pandai bertarung marah bukan kepalang. Purnama difitnah membunuh Dapunta dan masuk penjara sebelum dinyatakan tewas saat pelariannya. Adalah Malini, puteri Ki Goblek pemimpin perampok yang membantu Purnama kembali dan menuntut balas pada Awang yang telah diangkat menjadi raja baru.

Jangan salah kaprah, film ini murni fiksi fantasi, jadi tidak perlu mengaitkan dengan fakta yang ada. Hanung yang menulis skripnya sendiri tak pernah menjelaskan tempat dan waktu kejadian. Penonton diajak menjadi pengamat sebuah perebutan kekuasaan yang lazim terjadi di masa apapun juga. Sayangnya durasi 138 menit mungkin terlampau panjang untuk sebuah feature film yang sebagian besar dihabiskan untuk pengenalan multi karakternya mulai dari yang agak penting hingga yang paling krusial demi membangun satu intrik tarik menarik yang mampu menjerat perhatian penonton.

Hanung sebagai sutradara juga begitu jeli memperhatikan setiap detail production value mulai dari set lokasi, tata kostum, tata rias, artistik sehingga terlihat meyakinkan. Penggunaan dialek Palembang terbilang konsisten di sepanjang film meski tak semuanya dilengkapi teks bahasa Indonesia baku. Akting para pemainnya pun berhasil ia poles sedemikian rupa sampai merasa nyaman meskipun harus menggunakan kostum yang tidak sesederhana kelihatannya tersebut. Memang sejak awal kabar mengenai film ini bergulir, banyak pihak yang mempertanyakan pemilhan casts nya.

Saya yakinkan pada anda bahwa penunjukan Julia Perez tidak salah pilih. Ia bermain total sebagai Malini yang heroine sejati. Kesan seksinya masih tertinggal walau kerap tertutup rias. Menarik melihat wanita-wanita (gending) lain yang berani memperjuangkan martabat sekaligus kebenaran melalui ilmu kanuragan tingkat tinggi. Agus Kuncoro berhasil membawakan sosok antagonis Awang Kencana yang begitu memancing emosi terutama di paruh terakhir film. Sebaliknya Sahrul Gunawan tampak begitu lugu dan innocence sebagai Purnama Kelana yang santun dan lemah lembut.

Gending Sriwijaya adalah babak lain dalam catatan prestasi seorang Hanung Bramantyo dalam kancah perfilman Indonesia. Intrik perang saudara, pengkhianatan, balas dendam, kebangkitan ditampilkan begitu hidup dalam jalinan kisah yang mudah diikuti. Adegan laga berikut koreografinya juga dieksploitasi dengan memikat. Memang sedikit tercoreng faktor historis yang sedikit terabaikan, tetapi keseriusan Hanung dalam penggarapannya jelas lebih pantas diapresiasi dibanding puluhan sinetron sejenis yang mengisi jam tayang utama stasiun televisi swasta kita selama bertahun-tahun.

Durasi: 
138 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 27 September 2012

KUTUKAN ARWAH SANTET : Eksploitasi Gancet Berbasis Pesan Moral


Quotes: 
Ruben: Lu kemana sih pas Tuhan bagiin otak gak dateng?

Nice-to-know: 
Film ini diproduksi oleh Sentra Mega Kreasi.

Cast: 
Julia Perez sebagai Kirana
Ruben Onsu sebagai Ruben
Anjani sebagai Tya
Jenny Cortez sebagai Beby
Samoedra Safera sebagai Mumud
Robby Purba sebagai Firman
Dwi AP sebagai Raymond
Cinta Ratu sebagai Myrna
Ozzi Dian sebagai Fandy
Erlandho S sebagai Johan

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Hanny Mustofa.

W For Words: 
Produksi Sentra Films ini awalnya berjudul Hantu Gancet dengan poster seronok yang menampilkan adegan bercinta yang cukup frontal dengan punggung lelaki di atas tubuh wanita yang telanjang. Setelah proses penghalusan, judul dan posternya pun berubah tapi tetap tidak mampu menghapus kesan norak dari pikiran anda saat mendengar dan melihatnya. Isu santer yang konon awalnya muncul dari daerah Plangon, Cirebon ini pun diangkat oleh Hanny Mustofa yang bertindak sebagai penulis skrip sekaligus sutradara ke dalam tontonan fiktif dengan selipan twist disana-sini. Katanya..

Vaginismus mengakibatkan tubuh Firman dan Myrna yang tengah bersenggama di lab kampus tak bisa terpisah. Fandy dan Johan yang berusaha membantu malah menewaskan Myrna. Empat tahun kemudian, adik Myrna yaitu Tya bersama dua sahabatnya, Mumud dan Ruben bertekad menyelidiki misteri hilangnya sang kakak. Dosen baru yang cantik seksi, Kirana mulai menarik perhatian mereka. Satu persatu korban pria berjatuhan di sekitar kampus. Benarkah ini semua kutukan arwah gancet atau ada dalang di balik misteri yang ada?
Hanny Mustofa? Mudah-mudahan bukan nama alter ego yang belakangan ini marak di industri perfilman kita. Skrip tambal sulam darinya sibuk menumpuk berbagai macam plot dengan brilian! Pertama, ada adik mencari kakaknya dengan bantuan dua temannya. Kedua, ada dosen baru yang paranoid karena selalu diganggu arwah perempuan. Ketiga, ada cowo pemarah yang seakan seumur hidupnya hanya dihabiskan dengan ML . Kesemuanya dibalut dalam satu benang merah, selentingan kutukan arwah gancet yang berujung pada twist abad ini, siapa sih pelaku sesungguhnya? 

Keputusan Jupe untuk terus bermain dalam film horor seks baik mengandung komedi atau tidak, seharusnya patut disesali apalagi sebagian adegan syur disini terbukti tidak dilakoninya sendiri. Anjani sebisa mungkin menghadirkan karakter Tya yang believable dimana sisi emosional dan curiosity nya dieksploitasi habis-habisan tapi keterikatan penonton padanya masih akan minim. Ruben Onsu dan Samoedra Safera berupaya menjadi penyeimbang dengan celetukan-celetukan komediknya meskipun kurang efektif menggugah tawa. Satu adegan yang tidak perlu adalah saat Mumud turut menjadi korban yang berbuntut “deramah”.

Bagi penonton yang mendambakan adegan seksual pembangkit syahwat siap-siap kecewa. Imajinasi anda hanya akan dipermainkan dengan potongan demi potongan visualisasi bercinta yang tidak eksplisit. Hal yang menggelikan adalah intensi “incest” yang menutup cerita walau tergunting sensor. F*ck! Namun ada yang lebih menggelikan yaitu lagu tema “Mau Dangar” dari Inplus featuring Anjani yang menembangkan, “Tak bisa lepas lagi. Raganya terpaku dan mati menyatu. Andai aku tak tergoda, gancet ini tak akan terjadi..” lengkap dengan adegan ala video klip. Saya benar-benar tidak memercayai indera penglihatan dan pendengaran sendiri.

Kutukan Arwah Santet, meski saya lebih suka judul inisiasinya, merupakan keberanian luar biasa dari seorang produser bernama Shanker RS yang mengangkat tagline “kisah nyata asu gancet yang heboh” ke dalam tontonan layar lebar khusus dewasa. Film yang sejak penampakan pertama sudah nista ini hebatnya masih berani berkoar tentang pesan moral secara lengkap mulai dari pemaparan doktrin khas dosen ilmiah hingga contoh kasus ala mistis. Do we really need this? Peribahasa “anjing menggonggong, kafilah berlalu” mungkin paling tepat menerjemahkannya.


Durasi: 
81 menit

Overall: 
6 out of 10
  
Movie-meter:

Kamis, 21 Juni 2012

BANGKIT DARI KUBUR : Kolaborasi Pocong Kuntilanak Lagi

Quotes:
Ranggo: Liat-liat dong kalo mau main. Di kamar mayat hormatin yang udah wafat..

Nice-to-know:
Film ini diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast:
Reymond Knuliqh sebagai Ranggo
Mpok Atiek sebagai Mbah Ulun
Chika Jessica sebagai Trisa
Laras Monca
Yessa Iona
Julia Perez
Ria Rolen
Munazat Raditya
Dion Chow


Director:
Merupakan film ketiga atas nama Koya Pagayo di tahun 2012 ini setelah Santet Kuntilanak dan Kuntilanak-Kuntilanak.

W For Words:
Judul film terbaru kolaborasi Mitra Pictures dan BIC Productions ini memang mengingatkan anda akan film-film lawas jaman almarhumah Suzanna dulu. Namun dari segi kualitas tidak perlu diperbandingkan lagi karena semua pecinta film lokal pasti tau siapa Koya Pagayo dan bagaimana cara kerjanya yang cenderung cepat dan satu arah itu. Apapun isi otak Erry Sofid dan TB Ule Sulaeman yang bertindak sebagai penata skrip pasti lambat laun idenya akan digeneralisasi sedemikian rupa dalam satu template yang tidak jauh berbeda antara satu film dengan yang lainnya. Poor ‘em!

Marlon, Ranggo dan Aril Mukadepan tanpa sengaja menabrak sepasang kekasih yang tengah berkendara dengan sepeda motor. Keduanya tewas seketika. Tak berani bertanggungjawab, ketiga sahabat yang juga mahasiswa kedokteran itu memilih melarikan diri. Lambat laun tugas mereka sebagai penjaga kamar mayat saat magang di sebuah rumah sakit terganggu karena kehadiran pocong dan kuntilanak. Nyatanya teror tak berhenti sampai disitu melainkan menjalar ke kost mereka yang juga ditempati oleh pacar Ranggo yaitu Trisa dan ketiga temannya masing-masing Intan, Meta dan Popy. Mampukah Mbah Ulun menolong muda-mudi tersebut?

Entah sudah berapa puluh kali saya menuliskan review yang kurang lebih sama dari formula Koya Pagayo yang tak jauh berbeda. Ide copy paste pun seketika melintas di kepala saya. Ya, premis yang dibuka dengan sekelompok muda-mudi bla bla bla yang kemudian diakhiri dengan adegan di hutan setelah konsultasi bersama dukun itu sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Analogikan sebagai bahan skripsi yang dijiplak berkali-kali untuk dipresentasikan kepada dosen pembimbing yang sama (dalam hal ini penonton). Sudah dipastikan akan ada degradasi nilai dari satu karya ke lainnya.

Di saat pemuda berbadan kekar berotot dengan six packs sibuk memperebutkan gelar jawara L-Men of the Year 2012, mantan finalis edisi 2009 bernama Reymond Knuliq ini justru sibuk mempermalukan diri dengan peran-peran tipikal sambil sesekali turut membuka kaosnya. Di saat Azis Gagap atau Zaky Zimah mulai meninggalkan ‘belantara’, Reymond semakin menjadi lewat imej cowok berbody dan bermulut besar lengkap dengan celotehan-celotehan yang sebetulnya dimaksudkan sebagai efek humor tapi sayang terlalu dipaksakan mengundang tawa tidak wajar. Haruskah ada yang memperingatkan doi untuk lepas dari keterikatannya?

Bangkit Dari Kubur hanya layak ditonton saat menit-menit pertamanya dimana sepasang tangan menyeruak dari dalam kuburan. Setelah itu waktunya anda meninggalkan kursi sebelum mengalami dejavu yang mengancam turunnya batas intelejensi karena repetisi formula yang itu-itu saja. Lagi-lagi pocong dan kuntilanak united menebar pengalaman spiritual yang tak lagi ditakuti tapi ditertawakan oleh kebodohan dan ketidakwajarannya. Pesan moralnya sejak awal jelas bahkan sebelum menonton filmnya yaitu “Please do respect the dead.” Sederhana kan?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
 

Rabu, 01 Februari 2012

RUMAH BEKAS KUBURAN : Ritual Mandi Nikah Berujung Nyawa


Quotes:
Karina: Kamu juga bisa merasakan tubuh mbak.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Pictures dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 1 Februari 2012.

Cast:
Julia Perez sebagai Karina
Fifie Buntaran sebagai Larasati
Toddyzilla sebagai Joe
Adhi Wahyu sebagai Erick
Diah Cempaka sebagai Feby
Martina Tesela sebagai Susan

Director:
Merupakan film ketiga bagi Irwan Siregar setelah terakhir Tapi Bukan Aku (2008).

W For Words:
15 Oktober 2008. Artinya sudah lebih dari 2 tahun, Suzanna meninggal dunia. Ranah perfilman lokal bergenre horor yang pernah dikuasainya kini seolah kehilangan ikon. Entah apa yang ada di benak Julia Perez yang bertekad mengambil alih posisi kosong tersebut bahkan menjalani ritual yang sama di Pelabuhan Ratu beberapa hari yang lalu. Pantas atau tidaknya tentu dikembalikan kepada masyarakat yang menilai lewat karya-karyanya sejauh ini, salah satunya adalah film terbaru Sentra Pictures berikut.

Karina dinikahi oleh Danu tanpa mengetahui bahwa pria tersebut sudah beristrikan Larasati dengan seorang putra. Bertahun-tahun kemudian, Karina yang menempati rumah mendiang suaminya itu kini membuka kost bagi empat muda-mudi yaitu pasangan Joe dan Feby serta Erick dan Susan. Ternyata arwah Larasati belum tenang sehingga memaksa Karina menuruti permintaannya untuk menikah lima kali termasuk Joe dan Erick yang diincarnya walaupun kesemuanya harus berujung nyawa.
Totalitas Jupe cukup terlihat dalam film ini. Lihat saja kesediaannya berganti kostum lebih dari 20 kali di setiap kesempatan termasuk pakaian renang ataupun lingerie, tidak ada bedanya karena kesemuanya menonjolkan belahan payudaranya yang berukuran super itu. Pemandangan yang memanjakan mata kaum lelaki yang menyaksikannya. Namun sesuatu yang diumbar secara berlebihan tentunya sudah tidak menarik lagi. Mudah-mudahan anda tidak mabuk “susu” begitu film berakhir.

Fifie Buntaran sebagai setan penasaran juga tidak kalah mesumnya (baca mesum, bukan menakutkan). Tidak dijelaskan mengapa ia harus memaksakan ritual kawin 5x. Secara logika bisa jadi karena ingin membalaskan perasaannya yang terkoyak akibat kehilangan suami yang dicintainya. Namun ia sendiri kerap mengambil alih tubuh Jupe dalam beradegan intim? Bahkan harus bertentangan dengan keinginan putranya sendiri yang sungguh kasihan didandani sebagai tuyul hijau bercawat.
Sutradara Irwan Siregar sebenarnya ingin menghadirkan horor nuansa lawas 80an lewat film ini termasuk “pertobatan” di penghujung durasi. Sayangnya logika cerita terlalu lemah untuk dapat diterima akal sehat. Campuran unsur komedi dan erotisme juga serba tanggung disana-sini dengan penempatan yang seringkali tidak pas dalam usahanya mengintrusi alur cerita. Alhasil Rumah Bekas Kuburan benar-benar berisikan formula horor bekas yang sedianya dikubur dalam-dalam terlebih angka tahun sudah menunjukkan 2012!

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 12 Oktober 2011

POCONG MINTA KAWIN : Wara-Wiri Pocong Mati Penasaran Jodoh

Quotes:
Yuli Gaga: Galon, ah dia kaga percaya gue kan!


Storyline:
Pernikahan di rusun pinggiran Jakarta antara Ningsih dan Hamid gagal lantaran mempelai pria tidak datang. Frustrasi, Ningsih pun bunuh diri dengan meloncat dari atap rusun. Tak lama kemudian, Ibu Galon sang empunya rusun menyewakan kamar bekas Ningsih pada keempat mahasiswa yaitu Aldi, Ragil, Amir, Justin dengan harga murah. Perlahan tapi pasti, pocong Ningsih yang mati penasaran pun kembali ke rusun dan meneror para penghuninya termasuk Yuli Gaga, penyanyi dangdut berdada super. Mereka lantas sepakat memanggil Dukun untuk menanyakan kemauan terakhir Ningsih sehingga tidak mau pergi dari dunia. Berhasilkah gangguan itu lenyap pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Happy Together Pictures dimana press screeningnya dilangsungkan pada tanggal 3 Oktober 2011 di Planet Hollywood XXI.

Cast:

Chika Waode sebagai Ningsih
Julia Perez sebagai Yuli Gaga
Vicky Nitinegoro sebagai Aldi
Christopher sebagai Justin
Dhawan Khai sebagai Ragil
Bobby Maulana sebagai Amir
Mpok Atiek sebagai Dukun
HM Bolot

Director:
Merupakan kolaborasi pertama Chiska Doppert dan Harry Dagoe Suharyadi dalam genre komedi horor ini.

Comment:
Andai saja ada SPSI (Serikat Pocong Seluruh Indonesia) maka dapat dipastikan sebagian filmmaker kita akan kena hukumannya. Paling ringan mungkin kewajiban “nyekar” setiap malam Jumat Kliwon sedangkan paling berat tentu saja permintaan maaf secara resmi.. Tentu saja dengan mencium tangan sang pocong. Nah lho! Saya jamin film-film bertemakan pocong akan berkurang secara drastis dari waktu ke waktu.
Harry Dagoe Suharyadi berkolaborasi dengan Chiska Doppert dan Armantono mengerjakan skripya yang lagi-lagi gabungan formula expired. Rumah susun/kost berhantu, pemuda-pemuda akil balik, gadis primadona hingga banci kaleng. Sudah bisa ditebak racikannya bukan? Komedi horor benar sekali. Lengkap dengan ending yang predictable dan twist yang not shocking at all. Weleh weleh, “jualan” kok gak kreatip? Hadeehhhh.
Meski demikian, Vicky, Christopher, Dhawan dan Bobby cukup kompak memerankan empat mahasiswa yang bersahabat. Mereka seia sekata dalam ketakutan, kegenitan dan kere tentunya! Celetukan-celetukan spontan masing-masing terkadang mampu memancing tawa walau seringkali terdengar di luar konteks. Bahkan si bule Christopher meski minim dialog, ekspresi tololnya lumayan juara di setiap adegan yang melibatkan dirinya.
Jupe agak mengganggu dengan rambut sepuhannya, kontras dengan baju-baju minim berwarna terang yang dikenakannya. Nama Yuli Gaga yang diusungnya cukup inovatif sekaligus membuka kesempatan baginya bernyanyi dan beraksi di atas panggung. Belah duren, bang? Kasihan melihat komedian Chika Waode didandani sedemikian rupa menjadi si pocong buruk rupa bernama Ningsih, membangkitkan rasa penasaran saya akan penampakan wajah aslinya. *brb.. googling!*
Saya mempertanyakan keputusan Harry Dagoe untuk menggunakan inisial nama HDS dalam jajaran sutradara. Tidak pede karena takut dicela? Yang jelas Chiska Doppert sudah mulai melepaskan diri dari gaya Nayato yang selama ini mengikutinya. Kolaborasi keduanya tidak buruk dimana syut adegan pocong yang rajin menampakkan diri di siang dan malam hari tersebut memang lebih berkesan menggelikan dibandingkan menakutkan.
Sebenarnya Pocong Minta Kawin tidak lantas gagal total dalam menghibur. Beberapa scene komediknya lumayan fun dan pembagian porsi semua karakternya pun cukup merata. Hanya saja ide ceritanya sudah sangat tidak pantas untuk dieksploitasi apalagi menggunakan judul yang tidak bisa dipertanggung jawabkan hanya demi mengejar unsur “sounds catchy”. It’s not catchy, it’s stupid! Pada akhirnya simpati saya pun hanya melayang pada nasib Ningsih, si pocong bungkus yang hobi main Facebook untuk mencari jodoh.

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 10 Februari 2011

ARWAH GOYANG KARAWANG : Perseteruan Jaipong Striptis Hantu Masa Lalu

Storyline:
Kesulitan ekonomi rumah tangga membuat Lilis nekad kembali menjadi penari jaipong Goyang Karawang. Adji sempat menentang rencana istrinya itu tetapi tidak berdaya karena ia sendiri pengangguran setelah diputuskan hubungan kerja. Perlahan Lilis menapaki tangga kesuksesan kembali hingga menarik minat Pak Awal untuk mempekerjakan Lilis di pub miliknya, Bintang Kejora. Hal ini mengundang perhatian sengit Neneng yang semula primadona setempat dengan asistennya yang banci, Iyus. Sejak kemunculan Lilis di pub, hal-hal mistis pun mulai terjadi dan satu persatu korban berjatuhan. Apa yang sesungguhnya terjadi di masa lalu Lilis?

Nice to know:
Diproduksi oleh Sentra Mega Kreasi dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood tanggal 8 Februari 2011.

Cast:
Julia Perez sebagai Lilis
Dewi Perssik sebagai Neneng
Erlandho sebagai Adji
Ajeng Kraton
Bembi Zaenal

Director:
Helfi Kardit terakhir menciptakan euphoria sendiri dalam Setan Facebook yang sukses mengabaikan logika cerita itu.

Comment:
Kembali lagi sebuah naskah hasil tambal sulam karya Team Bintang Timur yang bahkan tidak berani menyebutkan nama-nama anggotanya. Jangan salah tanggap. Sebetulnya saya harus akui plotnya cukup menarik andaikata diberikan penekanan fokus cerita yang berbeda dan penambahan subplot yang berfungsi sebagai penopang cerita pula. Sayangnya hal itu tidak terjadi karena produser rasanya sudah cukup pede dengan duet maut aktris utamanya.
Siapa tidak kenal Julia Perez dan Dewi Perssik yang selain jago berdangdut dan bergoyang juga ahli mempertontonkan kemolekan tubuh mereka. Keduanya pun seringkali terlibat dalam produksi film lokal walau tidak pernah berbagi panggung bersama. Saat terjadi untuk pertama kalinya, malah dicemari dengan berita perseteruan antar Jupe dan Depe di lokasi syuting. Entah sungguhan atau demi publikasi luas rasanya tidak berdampak apa-apa terhadap kualitas filmnya sendiri.
Sutradara Helfi rupanya belum bosan menampilkan sosok hantu old-fashioned yaitu rambut panjang dengan make-up putih tebal. Namun sayangnya si hantu tidak mendapat porsi yang memadai untuk benar-benar ditakuti oleh penonton selain suara harimau yang kerapkali terdengar saat kemunculannya. Teror yang dilakukannya juga cuma sebatas sekelebat adegan-adegan bersimbah darah. Terkadang saya sendiri bingung apa sesungguhnya motif si hantu dalam menghabisi para korbannya? Then it’s more like a arcade movie and you know who the winner is.
Arwah Goyang Karawang memang tampaknya menyia-nyiakan potensi yang dimilikinya dengan detail-detail yang tidak penting dan terkesan murahan. Tidak heran jika protes pun berdatangan dari masyarakat tertentu yang ingin memboikot film ini. Namun setidaknya anda bisa menyaksikan Jupe dan Depe “bersaing” lewat kata dan goyang tubuh di layar lebar bukan? Terlepas dari porsi horor yang hanya menjadi penyedap belaka seperti dibutuhkan tetapi tidak dipakai dengan tepat.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 08 Juli 2010

ISTRI BO'ONGAN : Membawa Pulang Pasangan Kontrak

Storyline:
Dirasa kedua orangtuanya tidak akan menyukai kekasihnya Amara yang wanita karir sukses, Arya nekad mengadakan kontes mencari pacar sewaan. Hal tersebut terdengar oleh Fani, eks pencuci mobil yang sedang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya yang sakit di kampung. Ditemani sahabatnya yang gay, Hans diluar dugaan Fani terpilih. Setelah menyepakati perjanjian, Arya dan Fani pun pulang ke Magelang untuk bertemu Pak dan Bu Koesno sekaligus merayakan hari peringatan pernikahan mereka yang ke-30. Berbagai kejadian tak terduga membuat Arya mulai mengenal Fani lebih jauh lagi sekaligus menimbulkan kemelut cinta segitiga dengan Amara yang posesif itu. Siapa yang akhirnya dipilih Arya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film dengan produser Budi Mulyono dan Koko Soenaryo.

Cast:
Masih mempertontonkan kejenjangan kaki dan semampai tubuhnya selayaknya dalam Taring baru-baru ini, Fahrani berperan sebagai Fani yang benci laki-laki hidung belang.
Masih serupa penampilan "rapi"nya seperti dalam The God Babe, Dwi Sasono bermain sebagai Arya yang lugu dan tidak sensitif.
Julia Perez sebagai Amara
Jessica Iskandar sebagai Dini
703 Richard sebagai Hans
Tarzan Srimulat sebagai Pak Koesno
Bari Bintang sebagai Dewa

Director:
Kerjasama kedua sutradara Arie Aziz dengan Fahrani setelah Perjaka Terakhir (2009).

Comment:
Jika anda pernah menyaksikan trailer film ini, maka itulah yang anda dapatkan. Ya! Semua adegan "penting" tersebut bahkan nyaris dihabiskan di lima belas menit pertama. Prolog dibuka dengan adegan di ranjang (bukan adegan ranjang) Arya dan Amara saat ibunya tiba-tiba menelepon dan meminta putra semata wayangnya itu hadir dalam hari ulang tahun pernikahannya. Tanpa dijelaskan panjang lebar Arya langsung mencap Amara bukan "tipe" orangtuanya dan sepakat menggelar kontes tolol itu. Dan kebetulan lain tanpa alasan kuat, Fani terpilih yang lagi-lagi didampingi sahabat karib yang "setengah" itu. Tidak meyakinkan untuk diteruskan? Sayapun merasa begitu. Namun saya tetap berharap akan ada sesuatu di pertengahan yang setidaknya tetap membuat saya terjaga, terlebih tone warna kulit yang digunakan sangat menina-bobokan mata.
Semakin dalam alur bergulir, saya malah merasa ketiga tokoh utamanya berakting sendiri-sendiri terutama Fahrani yang dominan sekali dengan bahasa tubuhnya. Dwi dan Jupe berganti-gantian dengan scene masing-masing yang sebetulnya tidak terlalu penting termasuk adegan syur Jupe dan Gaston yang bisa jadi salah satu scene yang paling layak ditunggu disini. Belum lagi Jessica dan Joe juga mendapat porsi yang seharusnya menyegarkan tetapi malah menganggu dengan repetisi yang itu-itu saja. Seharusnya interaksi Dwi dan Jupe ataupun Dwi dan Fahrani bisa lebih diasah untuk membangun konflik dengan lebih meyakinkan. Sayangnya hanya di menit-menit terakhir, adegan berduaannya Dwi dan Fahrani dengan background pemandangan kota Magelang yang rupanya cukup indah itu ditampilkan. Ah itupun rasanya belum cukup untuk menguatkan alasan mereka jatuh hati satu sama lain.
Sutradara Arie hanya berusaha menghibur tetapi tidak akan membuat audiens terkesan dengan plot yang sudah berjuta-juta kali ditawarkan tanpa kreatifitas yang memadai. Alhasil Istri Bo'ongan cenderung flat di sepanjang durasinya apalagi ditutup dengan klimaks yang tidak bernyawa seperti itu.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 18 Maret 2010

TEREKAM : Rekaman "Nyata" Koya Pagayo

Quotes:
Monique-Sini gw bawain barang-barang loe
Jupe-Ga perlu Mon. Gw tau beban hidup loe aja uda berat!

Storyline:
Terobsesi menjadi sutradara, Olga mencoba dahulu dengan proyek film horor kecil-kecilannya dengan kamera tangan. Bersama kedua sahabatnya, Monique dan Jupe, Olga mendatangi sebuah villa milik Siska di kawasan Gadok untuk menyusun skrip sekaligus syuting seadanya. Sejak awal kehadiran mereka bertiga sudah mengusik "penunggu" villa itu. Beberapa penemuan yang cukup menyeramkan belum membuat mereka ciut dan malah melanjutkan aktifitasnya. Beberapa kamera yang dipasang di sudut-sudut ruangan rupanya merekam sesosok makhluk menyeramkan. Setelah teror demi teror, ketiganya pun terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures.

Cast:
Masing-masing tampil sebagai dirinya sendiri
Olga Lydia
Julia Perez
Monique Henry

Director:
Merupakan film kelimanya di tahun 2010, Koya Pagayo bekerjasama dengan sang produser, Lucky Hakim untuk menggarap horor dokumenter ini.

Comment:
Temanya tidak terlalu asing lagi, lagi-lagi mengenai "pembuatan film horor" di suatu tempat asing yang angker. Dari ketiganya, boleh jadi kehadiran Jupe lah yang selalu menjadi "penyegar", bukan karena keseksian tubuh atau pakaian minim yang diperlihatkannya melainkan spontanitasnya di depan kamera. Lihat saja aktingnya menari, menyanyi, berekspresi dan berguyon yang sama lugasnya. Itulah yang dibutuhkan film bergaya dokumenter ini. Sedangkan Olga dan Monique terlihat seperti membintangi film biasanya saja. Tampilan hantu mungkin cukup menyeramkan karena dibuat kabur ataupun versi night mode yang minim pencahayaan itu. Nampaknya Koya masih perlu belajar lagi untuk "mencontek" REC / Quarantine yang mencekam itu. Eksekusinya tidak terlalu buruk tapi improvisasi dan angle-angle kameranya masih kurang maksimal. Dari segi ending, akan lebih baik jika diakhiri di villa itu saja tanpa perlu diperpanjang adegan di apartemen yang sangat merusak originalitasnya. Yang lebih bodoh lagi, Terekam dibuka dan ditutup dengan wawancara ketiga pemainnya yang tentu saja merusak unsur 'kenyataannya' itu.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 15 Januari 2010

SSH.. JADIKAN AKU SIMPANAN : Kursus Menjadi Gadis Simpanan Kelas Satu

Storyline:
Hobinya berbelanja membuat Pamela kesulitan menentukan masa depannya dengan profesi bergaji tinggi. Bertekad menjalani casting bersama sahabat setianya Gino, Pamela malah kebagian peran pengganti kuntilanak dan syuting di malam hari. Lewat temannya Gino, Pamela akhirnya dikenalkan oleh Miss Tisya, ketua perkumpulan Mekar Sari. Perkumpulan yang mendidik gadis-gadis untuk menjadi wanita simpanan yang mandiri termasuk Nining yang sudah senior dan Angel yang juga seorang pemula. Akhirnya Pamela pun bertekad menjalani latihan demi latihan hingga ia lulus. Namun apakah itu yang sesungguhnya diinginkan hati nuraninya?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh perusahaan lawas, PT Virgo Putra Film yang bersetting di sebuah rumah mewah yang megah dan juga beberapa mall ternama di Jakarta seperti Pacific Place dll.


Cast:
Tampil beda dari biasanya seperti perannya dalam LoVe (2008), Acha Septriasa didaulat sebagai Pamela, gadis lugu yang akan melakukan apapun untuk bisa hidup mewah.
Terakhir bermain dalam Jeritan Kuntilanak, Julia Perez disini menjabat sebagai wanita simpanan nomor satu perkumpulan Mekar Sari yang menguasai segala trik.
Zidni Adam memerankan Gino, cowok polos yang diam-diam mencintai sahabatnya sendiri.
Penampilan Ayu Azhari sebagai wanita simpanan senior, Nining turut menyegarkan suasana film ini.

Director:
Terakhir menggarap The Real Pocong yang cukup apik itu, Hanny R Saputra kali ini bereksperimen dengan drama komedi ringan yang bisa diikuti siapa saja yang sudah cukup umur tentunya karena banyak adegan dewasa di dalamnya.

Comment:
Dua pertiga film ini bisa dikatakan bergaya slapstick. Mengapa? Tema wanita simpanan yang cukup sensitive disajikan dengan fun dan kocak, lengkap dengan suara-suara binatang terutama ringkikan kuda sebagai impersonisasi adegan bercinta. Dari segi cast, Jupe lah yang paling menguasai layar. Penampilannya sebagai wanita seksi yang menggoda bisa dibilang yang terbaik sepanjang karir aktingnya. Lihat saja bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya terasa sensual walau tetap dalam batas kewajaran. Sedangkan Acha terasa kurang pas sebagai gadis yang ‘bertransformasi’ karena secara fisik, tidak ada perubahan berarti yang bisa dilakukannya. Sang sutradara sedikit banyak terpengaruh oleh film-film Hollywood yang memanjakan wanita dengan fashion sehingga mood film cukup terbantu. Sayangnya kepiawaiannya menggarap genre horor, malah berusaha dibawa kesini. Alhasil beberapa scene lengkap dengan background musiknya “cukup menyeramkan” walau sebetulnya sangat tidak diperlukan. Pada akhirnya Ssh.. Jadikan Aku Simpanan hanya terbatas pada hiburan belaka yang bisa ditertawakan dengan sedikit pesan moral. Kekurangannya hanya di logika karakterisasinya, tidak didukung oleh motif yang jelas ataupun masuk akal dalam melakukan itu semua.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 09 November 2009

JERITAN KUNTILANAK : Arwah Dukun Beranak Hantui Kelima Muda-Mudi

Cerita:
Diam-diam Lila mencintai Ferry yang sayangnya sudah menjalin hubungan dengan Reina. Hingga pada suatu ketika bersama Vivin dan Bimo, mereka berlima menginap di villa orangtua Reina. Malang saat asma Lila kambuh, mereka kesulitan mencari pertolongan dan menemukan sebuah rumah tua dekat danau untuk beristirahat sementara. Panik saat menemukan penampakan hantu wanita mengerikan dan Lila yang menghilang secara misterius, keempat sahabat tersebut meninggalkan rumah tua tersebut terburu-buru. Sekembalinya pada kesehariannya, Reina, Ferry, Vivin dan Bimo diteror terus menerus. Bersama Yunita kakak Lila, Vivin bertekad kembali ke rumah tua tersebut untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya menimpa Lila?

Gambar:
Gambar-gambar minimalis dengan pencahayaan temaram masih menjadi andalan film ini. Sayangnya sosok hantu yang ditampilkan masih terlalu abstrak.

Cast:
Kerjasama horor kedua dengan sang sutradara setelah Lewat Tengah Malam, Joanna Alexandra berperan sebagai Vivin yang setia kawan.
Julia Perez turut mempertontonkan keseksiannya sebagai Yunita yang berusaha menemukan adiknya yang hilang secara misterius.
Cathrine Wilson
Garneta Haruni
Zaky Zimah
Andrew Ralph Roxburgh
Furry Citra


Sutradara:
Koya Pagayo yang memiliki beberapa alternate nama seharusnya tidak asing lagi bagi para penikmat film lokal khususnya genre horor.

Comment:
Seperti sudah saya katakan sebelumnya, tidak sukar menebak template horor yang digunakan Koya. Sekelompok remaja yang bersenang-senang untuk kemudian terdampar di sebuah bangunan tua yang menyimpan masa lalu mengerikan dan dihantui satu persatu untuk kemudian mati karena dendam. Lantas jika sudah tahu, apalagi yang harus diharapkan dari karya-karyanya? Terus terang, setiap saya menyaksikan hal serupa, saya hanya ingin tahu akan sehancur apa hasil akhirnya terlepas dari sekeras apapun usaha yang dilakukan Koya (jika memang ia cukup berusaha). Tak hanya itu, setting dan gaya penyutradaraan pun nyaris sama. Hanya perlu mengganti cast saja dan kali ini saya sedikit terhibur karena pilihan jatuh pada Joanna yang selalu tampil menyegarkan. Berhati-hatilah untuk mengulangi formula yang sama ke depannya karena penonton sudah sangat bosan, terbukti saya menjadi satu-satunya penonton di pertunjukan weekend siang dalam studio PIM 21 hari itu. Bayangkan!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 21 Maret 2009

KUNTILANAK KAMAR MAYAT : Mengusut Hilangnya Suster Dan Kisah Dibalik Itu

Cerita:
Seringkali bermimpi kakaknya Miranda yang bekerja sebagai perawat rumah sakit, Andini bersama kekasihnya Robby dan sahabatnya Mocil berusaha mencari tahu fakta di balik menghilangnya Miranda. Satu persatu hal mulai terungkap saat Andini mendatangi rumah sakit tempat Miranda berkarya. Disana mereka bertemu sepasang kekasih dokter muda Indra dan perawat Sarah yang berusaha menjelaskan informasi tentang Miranda. Sepulangnya dari rumah sakit, ketiga mahasiswa/i itu seringkali diganggu penampakan kuntilanak. Apa yang sesungguhnya terjadi di kamar mayat tersebut? Benarkah Miranda sudah meninggal?

Gambar:
Terlepas dari setting yang itu-itu saja dalam film-film Nayato, gambar yang ditampilkan cukup baik dengan pencahayaan yang temaram.

Act:
Sebagai perawat Sarah, Julia Perez masih memperlihatkan stereotipe peran yang dilakoninya, gadis seksi yang menyimpan misteri atau rahasia. Meski tergolong "aman", Jupe belum mampu keluar dari apa yang sudah diperlihatkannya selama ini.
Mandala A. Shoji yang pernah bermain dalam Enam kali ini berperan sebagai dokter muda Indra yang hatinya bercabang dikarenakan tidak mampu konsisten dalam menentukan pilihan.
Rizky Mocil sukses berperan sebagai dirinya sendiri di film ini sebagai Mocil yang polos sekaligus kocak. Cukup menyegarkan suasana!
Didukung pula oleh Uwi Jasmine dan Imelda Lubis sebagai kakak beradik Miranda dan Andini.

Sutradara:
Sesuai janji sutradara bernama banyak ini jika menggunakan nama Nayato maka artinya karya dibuat dengan serius. Terbukti ia bekerja cukup memenuhi "standar" di film ini dalam arti tidak jelek walau belum bisa dibilang bagus juga. Satu yang cukup mengganggu, bias antara kenyataan dan alam mimpi yang dialami tokoh utama masih diumbar olehnya di beberapa scene.

Komentar:
Cukup klise dimana cinta segitiga berlatar belakang tragedi dan berakhir dengan balas dendam. Apa lagi yang baru yang ditawarkan film ini selain mengumbar keseksian Jupe dan ketampanan Mandala Shoji yang cukup diekspos. Secara keseluruhan jika dibandingkan beberapa karya terakhir Nayato, KKM boleh dibilang lumayan karena menggunakan plot dan alur cerita yang cukup rapi dengan penokohan yang tergolong jelas.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 27 Februari 2009

SUMPAH "INI" POCONG : Pocong Parodi Khas Pedesaan

Cerita:
Kepala desa yang genit, Sugandhi beristrikan Nani yang cantik nan seksi berambisi mempertahankan masa jabatannya. Tuduhan sepihak yang negatif pun dijawabnya dengan melakukan sumpah pocong. Sayangnya asisten merangkap hansip, Tatang malah membawakan kain kafan milik mayat seorang warga sekitar. Kontan saja sejak saat itu kehidupan Sugandhi dan Nani menjadi penuh dengan gangguan pocong dimanapun. Bahkan sampai "mengikuti" Nani di kelas kebugaran tubuh yang dipimpin instruktur Fahmi. Bagaimana semua teror itu berakhir? Kebenaran apa yang sesungguhnya disembunyikan itu semua?

Gambar:
Kental dengan nuansa film-film tahun 80an dimana lingkungan pedesaan menjadi gambaran yang kuat.

Act:
Mengandalkan keseksian tubuhnya, Julia Perez alias Jupe tampil lebay sebagai Nani walau tidak sampai jatuh menjadi norak.
Jarwo Kuat berhasil mengocok perut dengan aksen dan gayanya yang kocak sebagai KaDes Sugandhi yang mata keranjang tapi sesungguhnya baik hati.
Walau cuma kebagian dua-tiga scene, nama Aming sebagai pocong bersarung dipasang sebagai yang utama. Hm, strategi jualkah?
Didukung pula oleh Agung Sudijana sebagai Fahmi, Udji Tongky sebagai Tatang dsb.

Sutradara:
Helfi Ch Kardit yang terakhir gagal dalam adaptasi Final Destination, Miracle kali ini berusaha menertawakan film-film bertemakan pocong yang pernah dibuat. Bekerjasama dengan rumah produksi lawas, Virgo Putra Films, Helfi boleh dibilang cukup berhasil dengan ide segarnya ini di tengah keseragaman tema cerita.

Komentar:
FIlm yang sejak awal dikondisikan sebagai parodi horor. Beruntung penggarapannya sederhana dan terkesan alami dengan setting masyarakat pedesaan yang diyakini bisa diterima penonton dari berbagai kalangan. Close up wajah pocong tergolong berani dan tentunya sudah didukung dengan kostum dan make-up yang baik. Walau "agak" tidak berstandar film layar lebar, Sumpah Pocong bolehlah dijadikan alternatif hiburan ringan pengisi waktu yang tidak perlu membuat kita berpikir banyak. Nikmati dan tertawa saja.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 23 Januari 2009

HANTU JAMU GENDONG : Asal-Usul Dan Teror Hantu Penjual Jamu

Tagline:
Cantik, sexy, bohay, tapi..

Cerita:
Kesulitan uang, Kafka menerima tugas membuat skripsi temannya dengan sejumlah upah. Ia mengangkat topik kaum urban yang berjudi mengadu nasib di Jakarta. Sampai pada satu hari dimana musibah menimpa dua temannya Rio dan Nadya yang konon diteror hantu jamu gendong. Bersama kekasihnya Meisya, Kafka kemudian menyelidiki asal mula hantu yang bernama Sri tersebut dengan mendatangi tempat terbunuhnya di masa silam. Mereka diharuskan melakukan ritual memecahkan telor sambil berteriak jamu, jamune untuk melihat penampakan hantu Sri. Masalah tidak berhenti sampai di situ karena Kafka, Meisya dan Andin sahabatnya menjadi sasaran kemarahan hantu jamu gendong. Bagaimana menyelesaikan itu semua? Siapa sesungguhnya Sri dan tragedi apa yang menimpanya?

Gambar:
Banyak bersetting di bangunan rumah bekas terbakar tempat bersemayamnya hantu jamu gendong. Beberapa setting rumah juga terlihat familiar di film-filmnya sutradara bernama banyak itu.

Act:
Biasa berperan dalam film komedi, Dimas Aditya kali ini kebagian peran Kafka yang skeptis tapi akhirnya dituntut bertanggung jawab menyelesaikan semua masalah yang dimulainya.
Aktris seksi Julia Perez menjadi hantu jamu gendong yang diakuinya tantangan tersendiri karena menggunakan kebaya yang sangat ketat dan diharuskan menguasai teknik meracik jamu.

Sutradara:
Tidak banyak berbeda dengan karya horor sebelumnya terutama kemiripan skrip dengan Hantu Jeruk Purut, Koya Pagayo kembali dengan genre yang membesarkan namanya. Hanya saja sayang talentanya tidak banyak berkembang dan masih menggunakan elemen-elemen yang sudah terlalu lazim sehingga tidak ada lagi kejutan berarti.

Komentar:
Nuansa horor mungkin akan cukup menyentak untuk anda yang belum mengenal siapa sutradara ini. Hantu Jamu Gendong hanya menjual nama Jupe dan Dimas semata, tidak ada yang baru. Pengembangan dan bahkan penyelesaian cerita menjadi terabaikan padahal durasi yang terlalu singkat seharusnya bisa disiasati dengan penambahan beberapa scene. Kesimpulannya, bukan film yang direkomendasikan untuk ditonton.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!