XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label dallas pratama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dallas pratama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2011

PEREMPUAN-PEREMPUAN LIAR : Pelarian Liar Pengantin Restu Pernikahan

Quotes:
Dom: Walau kadang gw gak tau loe ngomong apa, gw jg gak bakal lupain loe.


Storyline:
Dom dan Mino bekerja sebagai penagih utang yang sukses karena selalu menjalankan tugasnya dengan ekstrim. Suatu saat karena kecerobohan, keduanya bertemu Mey dan Cindy dalam pernikahan Mey dan Rocky yang diatur oleh orangtua. Mey yang tidak mencintai Rocky lantas kabur bersama Dom, Mino dan Cindy. Kedua gadis tersebut adalah anak-anak konglomerat papan atas Indonesia yang hobi belanja dan gila pesta. Bahkan mereka menyarankan Dom menelpon ayahnya untuk meminta sejumlah tebusan. Pelarian itupun semakin liar hingga menumbuhkan rasa di antara keempatnya. Apakah tali perjodohan Dom yang sudah diatur bapaknya bisa dibatalkan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana press sreeningnya diadakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 5 Oktober 2011.

Cast:
Tora Sudiro sebagai Dom
Dallas Pratama sebagai Mino
Maeeva Amin sebagai Mey
Rina Diana sebagai Cindy
Gary Iskak sebagai Rocky

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Rako Prijanto sekaligus mempertemukan Tora Sudiro dengan Gary Iskak ketiga kalinya yang diawali oleh D’Bijis (2007).

Comment:
Masih ingat dengan film berjudul Roman Picisan (2010). Jika tidak atau memang belum menontonnya, maka kabar baik bagi anda. Namun sebaliknya, ini adalah kabar buruk. Mengapa saya katakan demikian? Penulis skrip Raditya Mangunsong yang sejak dulu bekerjasama dengan Rako Prijanto meyuguhkan benang merah cerita yang nyaris serupa, setidaknya 60%. Selebihnya orisinil? Tidak juga, banyak sekali comotan ide dari film-film Hollywood yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Begitu banyaknya kemiripan scene disini dengan yang sudah-sudah. Sebut saja, penculikan putri konglomerat, pembatalan pernikahan, pemblokiran kartu kredit saat pelarian, cinta yang tidak direstui orangtua, perjodohan yang tidak diinginkan dan lain sebagainya. Semuanya diracik oleh Raditya tanpa improvisasi yang berarti, datar dan mudah ditebak. Mungkin itulah alasan beberapa penonton memilih untuk meninggalkan gedung bioskop terlebih dahulu sebelum selesai menyaksikannya.
Tidak ada yang baru dari akting seorang Tora Sudiro. Kebintangannya semakin memudar, dari 5 film di tahun 2008, 4 film di 2009, 3 film di 2010 dan tidak mengejutkan jika film ini adalah film pertamanya di tahun 2011. Peran Raga dalam Roman Picisan dan Sahroni dalam Preman In Love (2009) dikombinasikan ke dalam peran Dom kali ini, membosankan. Kehadiran Dallas Pratama sebagai Mino mungkin masih dapat dimaafkan mengingat baru film ketiga yang dilakoninya sejauh ini.
Maeeva Amin yang merupakan aktris pendatang baru lebih banyak menonjolkan pesona wajah Indo nya yang didukung dengan postur tinggi. Sama halnya dengan Rina Diana sebagai sidekick nya. Persahabatan erat keduanya kurang menghadirkan chemistry alami, bisa jadi karena tidak adanya eksplorasi karakter yang mampu memperkuat hubungan itu. Saya juga tidak menemukan korelasi yang konsisten di sepanjang film untuk patut menyebut keduanya “liar”.
Bagi saya sosok Rako adalah sutradara “cadas” yang lebih suka menonjolkan sisi ekstrim dalam karya-karyanya. Sayangnya dari tahun ke tahun, hasil garapannya cenderung menurun. Masih segar dalam ingatan saat Pengantin Sunat terpaksa saya masukkan dalam daftar 3 film terburuk tahun lalu. Pada kesempatan ini pun ia terkesan “malas” berkreatifitas dan memilih cara yang “aman” saja dalam bertutur menggunakan semua yang sudah pernah dikerjakan sebelumnya.
Perempuan-Perempuan Liar hanya menghibur sekitar 15-30 menit pertama dengan komedi “cadas” bertempo cepat ala Rako, sisanya adalah drama lamban hasil mixing beraneka subplot basi yang tak lagi memiliki daya jual. Endingnya pun dikonklusikan begitu mudahnya menutup romantika yang dibangun seadanya. So, everyone’s happy? Penonton masa kini jelas sudah semakin cermat dalam memilih film yang ingin ditontonnya, apa lagi yang ingin dikomunikasikan kepada mereka jika formulanya itu-itu saja?

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 20 Juni 2011

ADA APA DENGAN POCONG : Misteri Pocong Teror Empat Pemuda

Quotes:
Boy: Loe pecahin aja tuh kaca biar rame. Kalo kurang rame, bakar!

Storyline:
Bermula pada Wawan yang mengalami teror oleh pocong di kostnya disusul oleh Hary, Boy dan Tedi yang mengalami hal sama. Tidak tahan, Hary dan Wawan menyambangi seorang dukun sakti yang memberikan mereka keris mini sebagai perlindungan. Tedi dan Hary pun mengalami kecelakaan misterius karena pocong yang semakin marah. Boy yang ketakutan membuka mulut pada Ririn dan Mirna akan kejadian sesungguhnya yang berkaitan dengan Lastri, gadis kutu buku yang ditaksir Hary tapi menaruh hati pada Wawan. Akankah mereka berempat selamat dari gempuran pocong yang menyimpan dendam itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan Co Bic Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 20 Juni 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Boy
Joanna Alexandra sebagai Ririn
Dallas Pratama sebagai Wawan
Raymond Knuliq sebagai Hary
Jerry Likumahwa sebagai Tedi
H Bolot sebagai Dukun
Mpok Atiek sebagai Suster

Director:
Chiska Doppert dua kali menggarap film sebelumnya yaitu Missing (2005) dan Gotcha (2006).

Comment:
Prolog film ini langsung dibuka tanpa tedeng aling. Sepertinya Chiska hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan Nayato sebelumnya. Oh wait! Dari dulu saya selalu curiga keduanya adalah orang yang sama. Mungkin Nayato lebih senang berkostum pocong sedangkan Chiska memilih kostum kuntilanak. Sayangnya pesta Halloween masih jauh di depan, bapak dan ibu.. Namun untuk menghargai, saya akan tetap memakai nama Chiska dalam penulisan review ini.
Seberapa keras usaha Ule Sulaeman untuk menghasilkan skrip yang kreatif sekalipun sepertinya akan sia-sia. Eksekusi Chiska tidak dapat diganggu-gugat atas dasar apapun juga. Tidak heran jika terlalu banyak elemen yang mengganggu disini mulai dari miscast, misplaced, misruled, mismatch dan lain-lain. (Buka Wikipedia untuk menambah sederetan kata “mis” lainnya). Dan jangan minta saya untuk menyebutkan contoh kasus-kasusnya karena akan menyinggung terlalu banyak pihak.
Entah apa fungsi para aktris disini selain pemanis layar belaka. Joanna yang hobi jump-in jump-out pada scene-scene tertentu. Mpok Atiek yang hanya kebagian satu scene di rumah sakit sebagai suster tua genit. Atau Monique yang ternyata memiliki kemampuan “membelah diri” sebagai pocong dan kuntilanak sekaligus terlepas dari siapapun pemerannya. Penonton diamini untuk percaya bahwa dialah di balik semua make-up dan kostum horor tersebut. OMG!
Bagaimana dengan para aktornya? Zaky kembali mengeksploitasi keiteman dan kekhasannya dalam berlogat dan melontarkan celetukan-celetukan jenaka. Di awal-awal mungkin cukup berhasil tapi lama-kelamaan semakin menjemukan. Dallas sebelumnya cukup berwatak dalam berakting kali ini tidak menjanjikan apa-apa. Raymond lagi-lagi bermodal body panzer dan congor bawelnya. Paling mengganggu dari semua adalah karakter Tedi dan Dukun dimana budeg dan bolot itu ternyata memang beda tipis. Once or twice is funny but more than that would be sick. Mohon jangan salahkan Jerry ataupun H Bolot karena mereka hanya dibayar!
Mari kita beralih pada kiprah sang pocong dan kuntilanak. Mana yang lebih efektif dalam tampil? Tentu saja pocong sebab doski dijadikan judul! Mau lihat pocong naik mobil, busway, taksi? Itu tidak penting sebab yang lebih menarik adalah apakah mereka melompat-lompat dalam melakukannya atau ada yang berbaik hati membukakan ikat kakinya? Silakan berasumsi. Kabar baikya adalah tidak ada perlakuan nista yang ditujukan pada mereka kali ini sehingga imej horor setidaknya tetap terjaga.
Ada Apa Dengan Pocong sebetulnya berpotensi menjadi parodi horor yang lebih menghibur lagi andai digarap dengan lebih serius. Opening yang cukup menggebrak dengan angle dan lighting yang tidak lazim itu seketika sirna setelah 15 menit berlalu. Yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan gambar tanpa isi yang lambat laun tersapu oleh hembusan angin berbau kantuk dari mulut para penonton. Jemu sekaligus tersiksa oleh kebodohan menantikan tirai di bawah tulisan EXIT terbuka.

Durasi:

80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 30 April 2010

TARING : Giliran Dedemit Menciptakan Teror

Storyline:
Bos agensi model Heaven's Secret, Alex menyewa fotografer terbaiknya, Damian beserta asistennya, Inggrid untuk menangani proyek bertemakan Wild Fantasy. Maka dipilihlah Farah, Wiwid dan Gabriella untuk bersama-sama menuju alam liar yang disebut Hutan Werenggini di pedalaman. Tidak mengindahkan larangan penduduk setempat, mereka tetap menuju lokasi pemotretan dengan memakai lingerie seksi. Selesai sesi foto tersebut, Dallas menemukan keanehan pada hasilnya. Sayang semua mungkin saja terlambat karena dedemit penunggu hutan mulai mengincar mereka satu-persatu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan diproduseri oleh Gope T. Samtani dan Subagio S.

Cast:
Terakhir muncul sebagai preman wanita dalam Perjaka Terakhir (2009), Fahrani Empel yang hobi mengoleksi tatoo ini berperan sebagai Farah, mantan kekasih Dallas yang juga harus mencari uang demi mengurus ibunya yang sakit keras di rumah sakit.
Baru saja bermain dalam Serigala Terakhir (2009), Dallas Pratama kali ini bermain sebagai Damian.
Memulai debut layar lebar pertamanya, penyanyi Rebecca sebagai Gabriella.
Shinta Bachir sebagai Wiwid.
Meidian Maladi sebagai Alex.
Reynavenska sebagai Inggrid.

Director:
Baru saja menggarap Air Terjun Pengantin (2009) sekitar enam bulan lalu itu, Rizal Mantovani bekerjasama dengan penulis cerita Alim Sudio untuk mengembangkan skenario film ini.

Comment:
Plot ceritanya sangat sederhana dan terkesan tidak mau banyak berpikir. Tidak banyak berbeda dengan apa yang tersaji dalam Air Terjun Pengantin, film ini hanya mengubah tokoh "antagonis" dari psikopat menjadi makhluk halus tradisional Indonesia. Selain itu faktor gadis-gadis seksi yang berpakaian minim dan terjebak di lokasi terpencil masih dipertahankan oleh Rizal. Satu-satunya hal baru yang ditampilkannya adalah sosok dedemit yang memburu dengan cara berjalan mundur ataupun kayang. Menarik atau aneh? Entahlah. Ilustrasi musik dan penampakan hantu sedikit banyak mengingatkan kita pada trilogi Kuntilanak yang laris itu, hanya saja tanpa nyanyian pemanggilan. Dari segi cast, Fahrani seperti biasa bermain dengan karakter yang kuat, itupun mungkin karena skrip mempercayakan porsi yang lebih padanya. Sedangkan yang lain tidak terlalu terekspos secara maksimal termasuk Dallas dan Rebecca yang sebenarnya cukup mencuri perhatian. Jika anda perhatikan, suasana malam terasa sangat panjang dalam film, kontras dengan siang yang terasa sekejap saja. Tujuannya jelas menakuti-nakuti penonton yang mungkin di beberapa sekuens cukup berhasil. Kesimpulannya Taring bukan film yang akan diingat terus oleh audiens apalagi endingnya yang dipaksakan gantung seperti biasa walaupun kurang relevan. Cape rasanya!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa