XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label zaky zimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zaky zimah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2012

KAKEK CANGKUL : Menggali Kreatifitas Tak Bertuan



Quotes:
Duta: Ya jelas beda lah. Kalo dia lecek dari atas sampe bawah..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh D’Color Films ini screeningnya dilangsungkan di  Hollywood XXI pada tanggal 1 Mei 2012.

Cast:
Herfiza Novianti sebagai Thalia
Rizky Mocil sebagai Coki
Zidni Adam sebagai Danu
Febriyanie Ferdzilla sebagai Miki
Zaky Zimah sebagai Duta
Yurike Prastica sebagai Mama Lela
Derry Drajat sebagai Pak Lurah
Posman Tobing

Director:
Merupakan film kedua bagi Nuri Dahlia.

W For Words:
Nenek Gayung yang mengangkat fenomena arwah penasaran yang beredar di masyarakat di luar dugaan mencatat sukses dengan perolehan lebih dari empat ratus ribu penonton hingga saat ini sejak rilisnya tepat sebulan lalu. Salah jika anda berpikir hal tersebut memicu kemunculan sekuelnya karena sejak awal Movie Eight dan Unlimited Production memang sudah merencanakan trilogi komedi horor yang akan ditutup oleh Nenek Pispot nanti. Epik bukan? Apalagi semua itu hanya membutuhkan biaya produksi yang tidak terlalu besar dengan keuntungan yang (diharapkan) berlipat-lipat. 
Duta yang tengah berjalan pulang ke kampung bersama ibunya bertemu empat sahabat Coki, Danu, Thalia dan Miki yang tengah menuju wisata arung jeram. Kelimanya bergabung dengan pemuda petualang bernama Jantan mengarungi arus liar yang tidak butuh lama membalikkan perahu. Jantan yang diyakini tidak selamat justru kembali, bersamaan dengan hantu kakek cangkul yang menuntut kuburannya sendiri. Bagaimana mereka berlima dapat mengatasi gangguan supernatural tersebut?

Adegan arung jeram dan camping di pembuka langsung mengingatkan saya pada sebuah segmen In The Middle milik Banjong Pisanthanakun dalam omnibus horor favorit sepanjang masa, 4BIA (2008). Demi apa Bono Sutisno (tak perlu saya sebutkan nama aslinya) memotong ide tersebut dan merekatkannya ke dalam benang merah sekuel trilogy horor komedi “inovatif” lokal ini? Penampilan Jantan bahkan dibuat sama persis dengan kaos merah dan make-up pucat. Interaksi konyol Duta, Danu, Coki, Thalia dan Miki yang pontang-panting berlarian di hutan dan masuk ke dalam tenda juga serupa. Gotcha!
Penampakan kakek cangkul itu sendiri tidaklah seefektif nenek gayung dalam menebar ketakutan dengan repetisi yang lebih minor. Beruntung suasana hutan sunyi berkabut di malam hari mampu menciptakan atmosfir menyeramkan sehingga tidak terlalu sulit bagi Nuri Dahlia membangun setting. Konsentrasinya tinggal bagaimana menciptakan chemistry di antara Zaky, Zidni, Rizky, Herfiza dan Febriyanie yang dominan menyita layar dengan lelucon-lelucon basi yang sebagian di antaranya masih cukup efektif. Penampilan Bolot, Yurike dan Derry yang komikal turut memberikan warna tersendiri.

Sebagai bagian dari “franchise”, Kakek Cangkul memang bukan film berkualitas buruk walaupun logikanya patut dipertanyakan. Bagian penutup yang mengingatkan anda pada film-film Nayato juga terkesan antiklimaks tanpa motif penyelesaian yang cukup jelas. Namun lagi-lagi saya ingin memperingatkan sineas tanah air siapapun itu, mohon tempatkan kreatifitas dan originalitas karya-karya anda di atas dasar apapun juga karena aspek itulah yang membuat anda dihargai. Next pispot, please..

Durasi:
76 menit
Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:

Kamis, 19 April 2012

NENEK GAYUNG : Zaky Zimah dan Multi “Hubungan” Uniknya


Quotes:
Usep: Paling cuma ketemu setan, ini gua lagi ngobrol sama setan.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Movie Eight dan Unlimited Production ini screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 15 April 2012.

Cast:
Nikita Mirzani sebagai Dewi / Nenek Gayung
Zaky Zimah sebagai Duta
Yadi Sembako sebagai Boim
Joe Richard sebagai Abas
Yurike Prastica sebagai Emak
Tata Sivek
Kartika Putri
Mudy Taylor sebagai Pengamen

Director:
Merupakan debut bagi Nuri Dahlia.

W For Words:
Entah siapa yang awalnya memulai desas-desus mengenai adanya hantu nenek-nenek yang membawa gayung dan tikar menebar maut. Yang jelas saya pernah membaca di salah satu surat kabar ibukota bahwa kecelakaan tragis yang menimpa pengendara sepeda motor di jalur busway bilangan Jakarta Timur disebabkan karena ia berbicara dengan sang nenek tanpa satupun saksi mata yang membenarkan. Betul atau tidak, sulit dibuktikan! Bono Sutisno menuangkan ide tersebut ke dalam skrip yang kemudian dikerjakan oleh rumah produksi dan filmmaker yang tergolong baru di industrinya.
Alkisah seorang nenek pemandi jenazah selalu siap sedia dengan tikar dan gayungnya. Namun kala ajal menjemput, ia tak sempat dimandikan suaminya. Arwah penasaran nenek gayung pun mulai merambah calon korbannya yang akan meninggal 7 hari setelah bertemu dan diajak bicara olehnya. Tak jauh dari situ, tiga sahabat masing-masing Duta, Boim dan Abas sibuk mengencani gadis idaman masing-masing. Duta yang tengah melamar Pamela mendadak diputuskan. Dalam kesedihan, ia berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Dewi yang merupakan wujud cantik dari nenek gayung.

Film ini mengingatkan saya akan tradisi Setan Budeg (2009) dan Hantu Tanah Kusir (2010) milik Findo Purwono HW yang menonjolkan ketololan trio pemuda dengan arwah yang membayangi mereka dalam wujud cantik sekaligus seram. Kali ini Zaky Zimah bertandem dengan Yadi Sembako dan (kejutan) Joe Richard yang tak hanya menampilkan humor situasional tetapi juga menyerempet homoseksual yang murni berfungsi sebagai pengocok tawa, apalagi ditambah kehadiran Yurike Prastica dengan “bacot” besarnya itu.
Sutradara Nuri Dahlia memang masih terlihat kaku dengan shot-shot satu dimensinya yang monoton. Namun storytelling nya sudah lumayan mengalir lancar. Sama baru dengannya adalah Nikita Mirzani yang aksen berbicara lambatnya sedikit mengganggu karena seperti anak kecil belajar mengeja per kata. Meski demikian, daya tarik fisiknya tak dapat dipungkiri mampu menyegarkan mata. Penampilan sang nenek gayung dengan wajah dan tangan “hitam” nya sedikit memupus pakem hantu Asia yang biasanya “pucat pasi”, cukup berhasil membangun aura menyeramkan di setiap kemunculannya.

Nenek Gayung tidaklah seburuk yang saya harapkan (baca harapkan, bukan duga!) karena unsur horor dan komedinya mampu berjalan seimbang. Beruntung peran utama dipercayakan pada Zaky Zimah yang sukses “berpacaran” dengan tiga tipe wanita sekaligus mulai dari yang cantik, yang gendut hingga nenek-nenek! Interaksi Duta dengan setiap karakter dalam film ini tergolong menyenangkan, memupus semua kekurangan yang terpampang disana-sini. Nilai yang saya berikan adalah dari sisi hiburannya yang sukses mengguncang seisi bioskop dengan tawa membahana. Mudah-mudahan sekuelnya Kakek Cangkul tidak lebih buruk!

Durasi:
79 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 15 Maret 2012

LOVE IS BRONDONG : Empat Brondong Modal Nanggung


Quotes:
Momon: Santai kayak di pantai, tenang aja kayak di Jogja, gak usah ribut kayak di Ubud..

Nice-to-know:
Diproduksi oleh BIC Productions dan Mitra Pictures dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 12 Maret 2012.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Momon
Zaky Zimah sebagai Farhan
Bryan McKenzie sebagai Alfin
Kiki the Potters sebagai Juned
Tya Restyana sebagai Sheila
Joanna Alexandra sebagai Sasha
Nabila Intan sebagai Aisha

Director:
Merupakan film kedua Chiska Doppert di tahun 2012 setelah Bila.

W For Words:
Pertama kalinya Zaky Zimah dan Ajun Perwira dipersatukan dalam sebuah film. Yang satu kesayangan Nayato sedangkan satunya lagi andalan anak didiknya Nayato yaitu Chiska Doppert. Rasanya dua nama pujaan dalam genre komedi pocong-pocongan itu sudah bisa diandalkan sehingga duo Aditya Sugandi dan Djaffar Lesmana merasa tidak perlu lagi “bekerja keras” menghasilkan sebuah skrip yang matang. Itulah yang saya rasakan selama lebih kurang delapan puluh empat menit.
Empat sekawan yang tinggal dalam satu kontrakan yakni Momon, Farhan, Alfin dan Juned juga kuliah di kampus yang sama. Momon yang cekak mengejar cinta gadis model yang materialistis, Sasha. Sedangkan Farhan yang alim memilih gadis berjilbab yang tengah kesulitan uang, Aisha. Masalah semakin rumit ketika mereka menyelamatkan Sheila dari pria yang menipu duitnya dan membutuhkan tempat tinggal sementara. Uang dan cinta tampaknya akan terus menjadi permasalahan yang sulit terpecahkan.

Terus terang sepanjang film berjalan, saya kesulitan menangkap intisari cerita. Semua terasa dipaksakan mengalir begitu saja tapi tanpa benang merah yang jelas. Banyak sekali karakter yang timbul tenggelam disini terutama Joanna Alexandra. Apakah filmmaker ingin berkonsentrasi pada pertobatan di akhir cerita? Tidak maksimal karena konfliknya sendiri tidak pernah benar-benar membubung ke permukaan. Pengadeganan pocong-pocongan di penghujung semakin mengaburkan identitas film yang kebingungan mau dibawa drama, romansa atau komedi?
Satu hal yang paling saya takutkan adalah Chiska Doppert yang sedang mengikuti jejak “master” nya yaitu kejar setoran. Berbagai judul film yang ditanganinya memang bervariasi dari segi tema dan cerita walaupun kesemuanya mengarah pada pangsa pasar yang sama yaitu remaja. Kemahirannya menyajikan gambar-gambar cerah yang enak dilihat memang masih menjadi nilai tambah meskipun anda akan menangkap banyak kesamaan setting lokasi dengan pendahulunya sebut saja PJP dan Bila. Hasil editing Toumakov masih terasa kasar sehingga perpindahan setiap segmennya terasa tidak mulus.

Sama halnya dengan Ajun Perwira yang terkesan memanfaatkan popularitasnya yang meroket belakangan ini. Saya tidak melihat perbedaan tokoh Momon disini dengan Dimas dalam PJP, Ajun masih menggunakan mimik dan intonasi yang sama. Beruntung Zaky Zimah mampu mempertahankan trademark komedinya yang tetap fresh. Perbedaannya adalah ia memerankan tokoh Farhan yang soleh sehingga terciptalah berbagai komedi situasi dimana berpegang teguh pada prinsip menjadi ujian yang patut dilaluinya.
Love Is Brondong pada akhirnya berpijak di posisi yang serba salah. Judulnya memang terdengar cukup menjual tapi samasekali tidak menggambarkan isi filmnya selain kiprah empat brondong manis dan lucu yang secara teratur digilir oleh kamera. Setidaknya dua nama dari mereka tidaklah mengecewakan yakni Zaky sebagai sang pengocok tawa dalam peran tak biasa serta Kiky yang memulai debutnya dengan spontanitas kepolosan yang wajar. Tentunya sumbangan lagu dari The Potters itu sendiri menjadi aset yang paling berharga.

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 12 Desember 2011

BUKAN POCONG BIASA : Gangguan Pocong Maksud Tersembunyi

Quotes:
Jaki: Untung kita naik mobil. Kalo pocong kan larinya cuma bisa sekotak-sekotak.


Storyline:
Bertujuan membuat sebuah film pendek mengenai kehidupan warga, lima sahabat yaitu Jaki, Remon, Papay, Niken dan Anna pergi ke Puncak. Sayangnya di tengah jalan, mobil mereka mogok karena ban kempes. Bermaksud meminjam dongrak, mereka masuk ke sebuah rumah tak berpenghuni. Kejadian menyeramkan terjadi saat ketiga pocong mulai mengganggu mereka. Terbirit-birit Jaki mengendarai mobil kembali ke Jakarta. Teror tak berhenti karena pocong perempuan tersebut terus mengikuti. Apa yang sesungguhnya diinginkan dari Jaki dkk?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures & Bic Productions dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI tanggal 12 Desember 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Jaki
Soraya Larasati sebagai Niken
Ronald Gustav sebagai Remon
Irene Justine sebagai Anna
Yoga Arizona sebagai Papay
Mucle
Malih Tong Tong
Mpok Atiek

Director:
Merupakan film ke-5 bagi Chiska Doppert sekaligus penutup tahun 2011 ini.

Comment:
Saya sempat berpikir bahwa film ini merupakan parodi dari Bukan Cinta Biasa karena kemiripan judulnya. Namun ternyata sebuah stand alone yang ide ceritanya digagas oleh Tb. Ule Sulaeman S. Lantas pertanyaannya adalah apakah kali ini si pocong memiliki kekuatan “luar biasa” untuk menakuti atau bahkan menghibur penonton? Jawabannya bisa anda temukan dalam produksi terbaru Mitra Pictures & Bic Productions ini.
Sebuah rumah bertingkat gaya tradisional dengan interior kayu dominan menjadi setting yang dianggap “efektif” oleh sutradara Chiska untuk membangun ketakutan (atau kelucuan?) lengkap dengan sound yang memekakkan telinga. Meski sempat berpindah ke rumah modern plus kampus, tiga sosok berkain kafan tersebut ternyata tergabung dalam GMP alias gerakan mobilitas pocong. Jelaslah, fasilitas angkutan umum sudah cukup memadai sehingga mereka bisa menumpang mobil sampai bus umum.

Zaky Zimah kali ini menokohkan anak gaul “beatboxing” lengkap dengan topi yang diputar ke samping. Celetukan-celetukan khas yang keluar dari mulutnya kembali disuguhkan. Namun ia tidak sendiri dalam melucu disini karena Ronald Gustav ternyata cukup fasih memeragakan pria gagap yang kontras dengan ekspresi polosnya di sepanjang film. Aksi keduanya secara tidak langsung menenggelamkan tokoh-tokoh lainnya yang dimainkan oleh Soraya, Irene ataupun Yoga. Namun duet satpam bermuka “mengganggu” Malih dan Mucle merupakan sebuah pengecualian dengan segmen komedik khusus bergaya lawas.
Secara khusus saya ingin mengomentari tampilan tiga pocong “tak biasa” yang rajin sekali menampilkan ekspresi aneh bin ajaibnya itu. Seringai mengejek, mata mendelik, lidah terjulur hingga yang paling ekstrim adalah menggunakan tangan dan kaki mereka untuk aktifitas yang tidak pernah terbayangkan dilakukan oleh seikat pocong. Ups, maaf jika saya sedikit spoiler. Mudah-mudahan tidak mengurangi unsur kejutannya jika memang anda berniat menyaksikan film ini.

Bukan Pocong Biasa sebetulnya bukan komedi horor yang buruk, hanya saja premis serupa terlalu sering diangkat sebelumnya sehingga tinggal menyisakan sedikit kejutan. Endingnya pun ditutup dengan twist tipikal yang malahan sudah disinggung di opening film yaitu minta ditemukan. Jualan utamanya jelas adegan slapstick komikal yang akan memaksa anda tertawa “tidak biasa” terus-menerus. Durasi satu jam pertama malah sibuk menyorot interaksi manusia dengan pocong secara panjang kali lebar sama dengan pusing tujuh keliling. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 20 Oktober 2011

SETANNYA KOK MASIH ADA : Penjaga Kamar Mayat Pengusir Hantu

Quotes:
Beno: Kita mau besuk siapa sih? Siapa yang sakit?
Dedi: Elu yang sakit. Kita kan mau kerja!


Storyline:
Dedi dan Beno adalah dua sarjana pengangguran yang terpaksa menerima pekerjaan sebagai penjaga kamar mayat di sebuah rumah sakit. Mudah ditebak kericuhan pun terjadi saban malam karena rasa takut yang menggelora. Pada suatu kesempatan, Maya yang juga seorang model menyewa Beno dan Dedi untuk menjaga rumah mewah warisan kakeknya yang meninggal. Maya yang berlibur bersama Niken dan Ranti saja ketakutan sejak malam pertama karena diganggu pocong, kuntilanak dan hantu kepala buntung hingga menginap di hotel. Apakah dua sekawan kocak itu akan merasakan hal serupa dalam tugas baru mereka tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana gala premierenya diadakan pada tanggal 11 Oktober 2011 di Planet Hollywood XXI.

Cast:
Dedi Mahendrea Desta sebagai Beno
Zaky Zimah sebagai Dedi
Deriell Jaqueline Tampung sebagai Maya
Indah Kusuma Wardani sebagai Ranti
Paramita Sari sebagai Niken
Ramco Sari Tua sebagai Mang Toha

Director:
Merupakan film ketiga Muchyar Syamas sekaligus kedua tahun ini setelah Mudik Lebaran.

Comment:
Ada yang masih ingat dengan komedi produksi Millenium Visitama Film di tahun 2008 yang berjudul Setannya Kok Beneran? Dibintangi trio Indra Birowo, Mario Lawalatta dan Ence Bagus yang berlakon sebagai pengusir hantu reality show televisi hingga akhirnya disuruh mengusir setan beneran di sebuah rumah berhantu? Jika tahu atau pernah menyaksikannya, siapa sangka 3 tahun kemudian muncullah sekuel tak resminya!
Jika dulu cerita digarap oleh Deden Tristanto maka kali ini berpindah tangan kepada kakak beradik Muchyar dan Martias Syamas. Anehnya saya merasa ada kesamaan sekitar 50-60% dari yang sudah-sudah, sebut saja dari trio menjadi duo yang “dikondisikan” berurusan dengan hantu sampai akhirnya atas permintaan cewek cantik benar-benar berjumpa dengan hantu yang sesungguhnya. Setting final pun sama-sama berlangsung di rumah angker. Sungguh kreatif!
Muchyar yang juga bertindak sebagai sutradara untuk dua film tersebut masih mengusung pola yang tidak jauh berbeda. Komedi situasi yang dibalut dengan nuansa horor memang lebih dimaksudkan untuk memancing tawa dibanding rasa takut itu sendiri. Syukur-syukur bisa dua-duanya. Rasio keberhasilan tak dipungkiri terletak pada skrip dan para pemainnya itu sendiri. Setting lokasi kamar mayat rumah sakit dan rumah megah berhantu rasanya tinggal dimaksimalkan saja dengan bantuan musik tentunya.
Duet Zaky dan Desta tak dinyana cukup ampuh mempertahankan film ini untuk tetap berada dalam rel komedinya. Selepas menjerit-jerit menangani mayat-mayat di rumah sakit, duet Beno dan Dedi kemudian terbirit-birit menghadapi hantu-hantu di rumah angker. Kekompakan keduanya bertukar dialog spontan lumayan sukses menghadirkan tawa membahana, apalagi adegan pamungkasnya ketika mereka balik “memperdaya”. Konyol dengan sentuhan slapstick!
Produser Anjasmara dan Gobind Punjabi tampaknya tidak terlalu berambisi dengan Setannya Kok Masih Ada ini. Terbukti komedi horor yang bernuansa 80an ini tampil apa adanya, nyaris sekelas dengan film lepas televisi. Secara keseluruhan tergolong cukup menghibur walaupun logikanya sering dipertanyakan di sepanjang durasi. Semua elemen disini nyaris tidak ada yang baru termasuk wajah hantu yang tersorot sinar lampu acapkali penampakan. Meski demikian kuntilanak yang hobi ngikik dan suster yang rajin ngesot itu sukses “dikerjai” habis-habisan, mudah-mudahan versi aslinya tidak tersinggung!

Durasi:
83 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 20 September 2011

KERANDA KUNTILANAK : Seputar Gadis Hilang Kost Berhantu

Quotes:
DJ: Kalo tuh setan keren, dia udah jadi pemain sinetron!


Storyline:
Kost Abby dan Ikke yang semula tentram dan damai menjadi sarang teror kuntilanak apalagi salah satu tetangga mereka Lina menghilang secara misterius setelah menunggak biaya kost 2 bulan. Cody, kekasih Ikke, Stef, pacar Abby serta sahabat-sahabat mereka, DJ dan Jereng yang mampir kesana juga menjadi sasaran. Hingga pada suatu hari, adik Abby yang bernama Tasya datang kesana dan menyarankan agar mereka menenangkan diri di villa milik kawannya. Akankah semua misteri tersebut terjawab pada akhirnya? Siapa si kuntilanak berperut buncit itu sesungguhnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Film dimana screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 19 September 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai DJ
Fiona Fachry sebagai Ikke
Tifany Jane sebagai Abby
Anastasya Octavian sebagai Tasya
Yessa Lona sebagai Lina
Indra Brotolaras sebagai Cody
Munazat Raditya sebagai Jereng
Stevan William sebagai Stef

Director:
Merupakan film ke-3 di tahun 2011 bagi Koya Pagayo setelah terakhir Pelet Kuntilanak.

Comment:
Keranda. Apakah seorang Koya Pagayo mengetahui makna kata itu? Tentu saja! Terbukti salah satu scene dalam film ini memperlihatkan benda tersebut sekilas meskipun sepersekian detik saja. Namun sudah cukup untuk membangun versi ceritanya sendiri selama kurang dari satu setengah jam. Seperti biasa campuran genre horor dan komedi yang dipilihnya kalau tidak mau dibilang ikon menyeramkan yang dibuat jenaka kemunculannya. Kontras memang.
Penulis skenario Aldy KS seperti yang lain-lain tampaknya manut saja buah tangannya itu diobrak-abrik Koya sesuka hati. Dibaca sekali, selayang pandang, lantas dimasukkan ke dalam benaknya untuk kemudian dikonstruksikan sesuai templatenya yang tersohor itu. Dimulai dari serentetan remaja putra-putri dengan kehidupan sehari-harinya, di kampus, di kost bergaya rumah mewah dan diakhiri di sebuah hutan berpohon tinggi dengan suasana malam hari yang berkabut. Familiar bukan?
Zaky jelas pemain kunci dalam film ini. Lebih dari dua pertiga film memperlihatkannya sebagai one man show sekaligus berbagi layar dengan Munazat, Indra, Stevan, Tiffany, Fiona, Anastasya termasuk si kuntilanak itu sendiri! Harus diakui 40 menit pertama, Zaky menuntaskan tugasnya dengan baik karena saya samasekali tidak terlalu terganggu dengan humornya. Namun selepas itu, tokoh DJ seakan buyar begitu saja yang bisa jadi disebabkan oleh proses editing random yang dilakukan Koya.
Jika anda cermati kostum yang dikenakan Zaky hanya 4 atau 5 outfit saja, apakah berarti syuting acak dalam waktu maksimal 5-6 hari sebelum memasuki proses editing? Entahlah, ini hanya tebakan liar saya saja seteiah membaca interview detail yang dilakukan Adrian Jonathan terhadap Nayato beberapa waktu lalu. Tidak sulit baginya untuk berbuat hal demikian karena kendali memang akan selalu ada di tangannya.
Dengan mengandalkan wajah-wajah Indo (baca: bule) yang setidaknya terlihat cool, Keranda Kuntilanak dengan kata lain: same storyboard different casts project! Apabila ia beranggapan film semacam itu masih dapat dijual, saya selaku penonton setia film nasional di bioskop justru merasakan dari waktu ke waktu jumlah penontonnya terus berkurang. Seperti segerombolan anak sekolah yang menonton bersama saya di Metropole XXI salah satunya berujar, “Udah ah. Gua gak mau nonton film-film Nayato lagi. Gak jelas!” Mudah-mudahan beliau membaca pernyataan ini. Dari hati kecil yang paling dalam, saya beranggapan judul Kuntilanak Bunting akan jauh lebih sesuai untuk yang satu ini.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 20 Juni 2011

ADA APA DENGAN POCONG : Misteri Pocong Teror Empat Pemuda

Quotes:
Boy: Loe pecahin aja tuh kaca biar rame. Kalo kurang rame, bakar!

Storyline:
Bermula pada Wawan yang mengalami teror oleh pocong di kostnya disusul oleh Hary, Boy dan Tedi yang mengalami hal sama. Tidak tahan, Hary dan Wawan menyambangi seorang dukun sakti yang memberikan mereka keris mini sebagai perlindungan. Tedi dan Hary pun mengalami kecelakaan misterius karena pocong yang semakin marah. Boy yang ketakutan membuka mulut pada Ririn dan Mirna akan kejadian sesungguhnya yang berkaitan dengan Lastri, gadis kutu buku yang ditaksir Hary tapi menaruh hati pada Wawan. Akankah mereka berempat selamat dari gempuran pocong yang menyimpan dendam itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan Co Bic Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 20 Juni 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Boy
Joanna Alexandra sebagai Ririn
Dallas Pratama sebagai Wawan
Raymond Knuliq sebagai Hary
Jerry Likumahwa sebagai Tedi
H Bolot sebagai Dukun
Mpok Atiek sebagai Suster

Director:
Chiska Doppert dua kali menggarap film sebelumnya yaitu Missing (2005) dan Gotcha (2006).

Comment:
Prolog film ini langsung dibuka tanpa tedeng aling. Sepertinya Chiska hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan Nayato sebelumnya. Oh wait! Dari dulu saya selalu curiga keduanya adalah orang yang sama. Mungkin Nayato lebih senang berkostum pocong sedangkan Chiska memilih kostum kuntilanak. Sayangnya pesta Halloween masih jauh di depan, bapak dan ibu.. Namun untuk menghargai, saya akan tetap memakai nama Chiska dalam penulisan review ini.
Seberapa keras usaha Ule Sulaeman untuk menghasilkan skrip yang kreatif sekalipun sepertinya akan sia-sia. Eksekusi Chiska tidak dapat diganggu-gugat atas dasar apapun juga. Tidak heran jika terlalu banyak elemen yang mengganggu disini mulai dari miscast, misplaced, misruled, mismatch dan lain-lain. (Buka Wikipedia untuk menambah sederetan kata “mis” lainnya). Dan jangan minta saya untuk menyebutkan contoh kasus-kasusnya karena akan menyinggung terlalu banyak pihak.
Entah apa fungsi para aktris disini selain pemanis layar belaka. Joanna yang hobi jump-in jump-out pada scene-scene tertentu. Mpok Atiek yang hanya kebagian satu scene di rumah sakit sebagai suster tua genit. Atau Monique yang ternyata memiliki kemampuan “membelah diri” sebagai pocong dan kuntilanak sekaligus terlepas dari siapapun pemerannya. Penonton diamini untuk percaya bahwa dialah di balik semua make-up dan kostum horor tersebut. OMG!
Bagaimana dengan para aktornya? Zaky kembali mengeksploitasi keiteman dan kekhasannya dalam berlogat dan melontarkan celetukan-celetukan jenaka. Di awal-awal mungkin cukup berhasil tapi lama-kelamaan semakin menjemukan. Dallas sebelumnya cukup berwatak dalam berakting kali ini tidak menjanjikan apa-apa. Raymond lagi-lagi bermodal body panzer dan congor bawelnya. Paling mengganggu dari semua adalah karakter Tedi dan Dukun dimana budeg dan bolot itu ternyata memang beda tipis. Once or twice is funny but more than that would be sick. Mohon jangan salahkan Jerry ataupun H Bolot karena mereka hanya dibayar!
Mari kita beralih pada kiprah sang pocong dan kuntilanak. Mana yang lebih efektif dalam tampil? Tentu saja pocong sebab doski dijadikan judul! Mau lihat pocong naik mobil, busway, taksi? Itu tidak penting sebab yang lebih menarik adalah apakah mereka melompat-lompat dalam melakukannya atau ada yang berbaik hati membukakan ikat kakinya? Silakan berasumsi. Kabar baikya adalah tidak ada perlakuan nista yang ditujukan pada mereka kali ini sehingga imej horor setidaknya tetap terjaga.
Ada Apa Dengan Pocong sebetulnya berpotensi menjadi parodi horor yang lebih menghibur lagi andai digarap dengan lebih serius. Opening yang cukup menggebrak dengan angle dan lighting yang tidak lazim itu seketika sirna setelah 15 menit berlalu. Yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan gambar tanpa isi yang lambat laun tersapu oleh hembusan angin berbau kantuk dari mulut para penonton. Jemu sekaligus tersiksa oleh kebodohan menantikan tirai di bawah tulisan EXIT terbuka.

Durasi:

80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 02 Februari 2011

KALUNG JAILANGKUNG : Kalung Kuburan Kendalikan Kuntialanak

Quotes:
Benny: Sendal gua sebelah, sebelah lagi disita.. sama setan!

Storyline:
Sepakat mengisi liburan bersama, Benny, Kiki dkk pergi ke kampung hutan Ciwidey untuk bermain jailangkung di sebuah bangunan tua. Peringatan pria tua setempat tidak diindahkan mereka. Saat memainkan boneka jailangkung tersebut bergetar dan kemudian ada suara misterius yang menyebutkan nama Yanti. Panik ketakutan, semuanya berlarian meninggalkan Kiki sendiri yang kemudian menemukan kalng di atas kuburan. Semenjak kejadian itu, ada sesosok kuntilanak yang mengikuti mereka satu persatu. Sepulangnya ke Jakarta, Kiki jatuh sakit dan mengigau sebagai Yanti. Apakah mereka harus kembali untuk menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai?

Nice to know:
Diproduksi oleh BIC Production dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 31 Januari 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Benny
Soraya Larasati sebagai Kiki
Rozi Mahally
Remon
Munajat Raditia

Director:
Baru saja di penghujung tahun kemarin, Koya Pagayo menghasilkan film bergenre sama yaitu Pocong Rumah Angker.

Comment:
Lewat film ini, saya bisa simpulkan Koya alias Nayato tampaknya sedang jatuh cinta! Kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain.. Ooops, mudah-mudahan saya salah. Tidak berani dan tidak mau membayangkan lebih jauh. Namun terbukti kutipan dari tembang dangdut lawas Meggy Z yang berjudul Benang Biru tersebut berkali-kali didengungkan di sepanjang film disertai dengan goyang aduhai pemain-pemainnya.
Kali ini Koya seperti berusaha memparodikan Jelangkung nya Jose Poernomo dan Rizal Mantovani sampai ke jurang yang paling dalam sekalipun. Momok suster ngesot diganti menjadi kuntilanak yang bahkan dipermalukan separah-parahnya disini. Bisa jadi sang kunti bakal laris manis mendapat tawaran lenong dimana-mana setelah ini. Bayangkan ia diharuskan mencuri sandal sebelah bahkan menempelkan muka di toilet cowok. Kasian sekali. Sungguh terlalu!
Sosok manusia-manusia sungguhannya pun tidak kalah ajaibnya. Ikon baru Koya, Zaky kembali berusaha melucu dengan mimik muka dan celotehan-celotehan spontannya untuk yang kesekian kalinya. Sayangnya persentase keberhasilannya paling banter 30 persen. Sisanya garing dan hanya membuat penonton mengerutkan kening sambil berkomentar apaan sich?! Untuk aktor-aktris lain di luar Zaky masih bisa sedikit saya maafkan karena mungkin baru kali ini mereka bekerja untuk sutradara unik bin jijay tersebut. Namun duet Remon dan Munajat yang seringkali (dipaksa) membuka kaos mereka dengan body yang berbanding terbalik 360 derajat untuk kemudian berakting layaknya dumb and dumber sedikit mengganggu screen presence baik disengaja ataupun tidak. Om Torro apa yang anda lakukan di ending film jelas tidak ada manfaatnya samasekali.
Satu hal yang paling saya cemaskan, belakangan ini Koya/Nayato tampak asyik membuat komedi yang berfigurkan hantu tradisional dengan pemain yang itu-itu saja. Saya tekankan sekali lagi, KOMEDI! Bukan horor sehingga hantu-hantu yang ada tampaknya juga diharuskan melucu dengan make-up yang sudah dibuat seram. Bisa bayangkan jika Koya/Nayato berniat menciptakan komedi franchise ala Warkop DKI yang legendaris itu? Semoga tulisan saya ini tidak menginspirasi beliau. Kalung Jailangkung sama jayusnya dengan karyanya yang sudah-sudah, walau sedikit termaafkan jika benar-benar dimaksudkan sebagai hiburan belaka. Kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain..

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 16 Desember 2010

POCONG RUMAH ANGKER : Misi "Pencarian" Berbuntut Penampakan

Storyline:
Bertindak sebagai reporter, Zaki, Joana dan Debby nekad menyambangi sebuah rumah kosong yang terkenal angker karena sering dijadikan tempat pembuangan mayat dalam kasus kriminal. Saat mendokumentasikan situasi bangunan dengan handycam, Joana malah membuka payung usang di dalam rumah tersebut. Hal tersebut diyakini Zaki yang juga diamini Debby akan mengundang makhluk-makhluk gaib. Sepulang dari sana, Zaki, Joana dan Debby kerap diganggu oleh berbagai penampakan yang sulit terjelaskan bahkan teman mereka yang juga seorang bule, Ipung disambangi gadis manis bernama Lilis yang mengaku mengenal trio tersebut di suatu tempat. Apa yang dimulai di tempat awal harus juga diakhiri disana. Maka mereka berlima berusaha menelusuri apa yang sesungguhnya diinginkan oleh makhluk gaib tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures – Bic Production.

Cast:
Donita
Zaki Zimah
Pamela Bowie
Krisna Patra
Radith

Director:
Koya Pagayo kembali lagi setelah terakhir membuat versi Indonesia Te[rekam] pada pertengahan tahun 2010 ini.

Comment:
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu yakni mereview film terakhir sutradara paling produktif di tahun 2010. Anda tahu siapa namanya, tak usah saya sebutkan lagi. Pantang soalnya! Dan menurut pendapat saya, film ini seperti kompilasi dua filmnya sebelumnya yaitu Kuntilanak Beranak dan Sarang Kuntilanak. Namun dikarenakan mengangkat tema hantu mantan penari jaipong (dulu ronggeng) dan rumah angker maka judulpun diganti menjadi Pocong. Subyek horornya menjadi dua yaitu Pocong dan Kuntilanak sekaligus. Voila! Entah mana dari mereka yang bernama Lilis, tidak ada penjelasan, atau saya yang memang tidak perhatian karena tidak penting? Maafkan saya jika begitu.
Dari jajaran cast, beribu sayang Zaky tidak seperti tupai yang tidak jatuh berkali-kali di lubang yang sama, melainkan dakocan yang berkali-kali jatuh di genre film yang sama! Desperate keluar dari komedi layar gelas ke komedi horor layar lebar? Sekali-kali tidak masalah tapi kalau berkali-kali bikin eneg. Ia yang saya akui lucu di beberapa film sebelumnya kali ini gagal total. Jayus abis! Maaf Zaky, kali ini gaya melucu anda kurang ampuh dan amat sangat dipaksakan. Saya sebetulnya ingin tertawa tapi tidak menemukan alasan yang kuat melakukan itu. Sama halnya dengan Donita dan Pamela yang hanya berusaha bercantik-cantik dan menjerit-jerit ria tanpa ada efek positif bagi film ini.
Jika saya ada di posisi produser seperti HM Firman Bintang, maka saya akan menggaji Lilis 3x lipat! Kesulitannya paling tinggi karena harus berperan sedikitnya sebagai lima makhluk! Satu, sebagai gadis desa manis yang lugu. Dua, sebagai penari Jaipong yang lincah menarik. Tiga, sebagai gadis pendiam yang selalu menunduk dengan rambut awut-awutan. Tiga, sebagai pocong yang hobi "tampil". Empat, sebagai "gadis" misterius yang hobi merambat di tembok ataupun naik turun dengan kerekan tali. Sungguh usaha yang luar biasa!
Satu hal yang paling memorable (sekaligus penting) bagi saya adalah saat Debby mengisi gelasnya dengan air dari botol tetapi kosong saat diminumnya, berkali-kali! Cukup orisinil. Selebihnya Pocong Rumah Angker hanyalah pengulangan formula basi yang sudah expired beratus-ratus tahun lalu hingga meracuni otak sekaligus pikiran penonton yang kadung bingung dengan misi film ini sebenarnya. Masih berpikir ingin mencari pocong (atau membantu pocong mencari) di rumah angker?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 26 November 2010

HANTU TANAH KUSIR : Komedi Seksi Dendam dan Hutang Menagih Balas

Storyline:
Sepeninggal suaminya Bang Samiun, Mpok Rohaye mewariskan delman kesayangannya pada Jupri yang masih terhitung adik iparnya. Namun karena harus bersaing dengan para penarik delman lainnya, Jupri menuruti saran sahabatnya Kirno untuk meminta berkah ke kuburan. Jupri pun bernazar dan seketika delmannya ramai dicari para penumpang. Pada suatu ketika, Odong datang ke rumah Mpok Rohaye untuk menitipkan Pauleen, turis Jepang yang sedang bertugas membuat artikel mengenai kendaraan tradisional di Indonesia. Jupri dan Odong pun berebut mendapat perhatian dari Pauleen yang cantik dan seksi itu. Sementara itu Hantu Tanah Kusir yang juga bernama Siti mulai datang menagih janji sekaligus membalaskan dendamnya yang lama tersimpan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan press screeningnya diselenggarakan di fX pada tanggal 24 November 2010 yang lalu.

Cast:
Maria Ozawa sebagai Pauleen
Zaky Zimah sebagai Jupri
Rheina Maryana sebagai Rohaye
Yadi Sembako sebagai Odong
Eva Asmarini sebagai Siti
Benu Buloe sebagai Kirno

Director:
Baru saja menggarap drama komedi Lihat Boleh Pegang Jangan untuk konsumsi Lebaran yang lalu kali ini Findo Purwono HW menggarap salah satu urban legend Jakarta yang cukup termasyur ini.

Comment:
Saya bisa mengerti jika Maria Ozawa masih merasa berhutang pada Maxima Pictures atas "minimnya" porsinya dalam Menculik Miyabi padahal bayarannya full untuk 1 film. Bukan apa-apa tetapi karena dicekal FPI sehingga urung tampil. Namun kali ini sutradara Findo menggunakan strategi jitu yaitu diam-diam mengimpor Ozawa untuk syuting dan mencantumkan nama palsu Pauleen pada poster dan credit titlenya. Nice efforts!
Penulis cerita Abbe AC dirasa cukup pintar melakukan mixing urban legend dengan horor komedi yang kental, tentunya tak lupa beberapa sexy scenes yang sangat menjual sehingga jadilah film yang cukup menghibur ini. Setidaknya itu yang saya rasakan saat menontonnya.
Kolaborasi pertama Zaky dengan Yadi cs sangat jempolan dalam mengocok perut para penonton. Masing-masing dari mereka menampilkan kekhasan yang unik tanpa ada kesan saling bersaing mencuri scene. Zaky terkenal dengan celetukan-celetukannya sedangkan Yadi dengan gaya bicaranya yang diayun-ayun di penghujung kalimat. Ozawa disini tidak sampai "kelewatan" dalam buka berbuka, justru saya merasa ia sangat manis dengan senyum dikulum dan usahanya untuk berbahasa Indonesia sepatah dua patah kata seperti pengucapan "nasi uduk", "sambal" dsb dengan dialek yang lucu. Rheina "Ipeh" tidak terlalu banyak tampil dibandingkan dengan Eva yang dominan dengan kebaya dan kerudung putih sebagai sais hantu berwajah ayu. Hiii...
Mengenai isi filmnya sendiri saya merasa tidak ada yang salah, tidak perlu ada yang dibuat kontroversial. Hantu Tanah Kusir adalah pure komedi yang fresh dengan banyolan-banyolan yang tercipta dari berbagai situasi. Plus horor ringan walau kadang cukup berhasil mendirikan bulu kuduk, sosok Siti sepintas mengingatkan pada mendiang Suzanna yang seringkali menggoda tukang jualan keliling (disini nasi goreng yang dimainkan cameo oleh Mario Maulana), duduk di boncengan (disini sepeda dan delman) ataupun mencopot kepalanya tiba-tiba. Seperti yang sudah saya katakan, unsur horor dan komedi itu dibalut dengan pesona seorang Miyabi yang bisa dibuat teriak juga menyaksikan pocong dan hantu di hadapannya. Bisa jadi karena berbeda dari sosok Sadako yang biasa dikenalnya? Coba tanyakan sendiri padanya!
Sayang beribu sayang, bermacam-macam elemen horor yang ditawarkan disini tidak orisinil. Banyak sekali pengulangan dari horor lokal ataupun mancanegara. Bagi anda para penikmat genre ini pasti dengan mudah bisa menebak referensi apa saja yang saya maksud. Apa lagi endingnya yang jelas-jelas dipaksakan dan sangat-sangat tidak baru. Belum lagi posternya yang sepintas cool artwork tapi ternyata banyak diilhami dari poster luar. Hal ini secara tidak langsung mengurangi nilai film secara keseluruhan yang sebetulnya kualitasnya masih di atas judul-judul serupa keluaran Maxima yang dibintangi Dewi Perssik. Cukup di angka 7 saja!

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 28 Oktober 2010

MAFIA INSYAF : Romansa Ketua Mafia dan Polisi Wanita Bentrok Gank

Storyline:
Gank mafia bernama Macan Polkadot sudah diwariskan secara turun temurun kepada Kendra yang bersaudara juga dengan Romi dan Jodi. Awalnya Kendra sah-sah saja menjalani tuntutan dari sang ibunda, Dewi. Namun semua berubah saat ia berjumpa dengan Selma, gadis cantik enerjik yang juga jatuh hati padanya. Kendra pun mencari segala cara untuk memenangkan hati Selma termasuk mendengarkan saran dari asistennya yang bodoh, Bejo. Saat Kendra mengetahui bahwa Selma ternyata seorang komisaris polisi, ia berniat pensiun dari dunia yang membesarkannya itu. Keputusan yang tidak mudah karena rival mereka, gank Kampak Ungu berencana lain. Berhasilkah Kendra menjalani hidup barunya tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film bersama BIC Production dan gala premierenya dilangsungkan di fX tanggal 25 Oktober 2010.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Selma
Tora Sudiro sebagai Kendra
Indah Kallalo sebagai Alexa
Kieran Sindhu sebagai Bobby
Zaky Zimah sebagai Bejo
Ferry Ardiansyah
Guntur
Anindhika
H. Djaja Miharja

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Otoy Witoyo.

Comment:
Rasanya baru pekan lalu kita disuguhkan film nasional bergenre komedi aksi dalam judul Perjaka Terakhir 2 yang mengecewakan itu. Dan seperti sudah bisa diduga, semua nilai minus dalam film yang saya sebutkan itu terulang lagi dalam film yang diproduseri oleh Budi Mulyono ini.
Plot ceritanya tumpang tindih mulai dari romansa dua insan dengan profesi bertolak belakang, lalu ada perseteruan antar dua gank mafia besar, juga ada pertikaian antar pembasmi kejahatan dengan pelaku kejahatan itu sendiri, belum lagi kakak beradik pintar-pintar bodoh yang saling berinteraksi dengan cara yang teramat aneh, ditambah dengan aksi sensualitas di antara beberapa karakternya. Bisa anda bayangkan kesemuanya itu campur aduk tanpa benang merah yang jelas? Terus terang saya sendiri tidak berani melakukannya jika belum menyaksikannya dengan mata kepala sendiri!
Minimnya pengalaman sutradara Otoy memperparah eksekusi dari skrip yang sedemikian ruwetnya. Nyaris tidak ada penekanan apapun pada karakternya yang seakan hanya lalu lalang silih berganti di setiap scene yang dihadirkan. Alhasil konstruksi cerita menjadi lemah dan fokusnya menjadi tidak penting lagi. Semua dipaksakan mengalir dari awal sampai akhir tanpa peduli minat penonton yang sudah sedemikian jatuh sejak menit-menit pertama.
Dari jajaran cast, saya sedikit menyayangkan keputusan Atiqah bermain disini. Ia yang biasanya mampu mengangkat sebuah film, tidak mampu berbuat apa-apa terhadap tokoh Selma yang dipercayakan padanya tanpa latar belakang yang jelas. Sedangkan Tora mengulangi apa yang sudah beribu-ribu kali dilakukan sebelumnya dengan tokoh Kendra yang beridentitas sepuluh itu. Lain lagi dengan Indah yang lagi-lagi melakukan beberapa adegan syur, beruntung masih ditambahkan sedikit porsi laga yang harus dilakukannya. Jika tidak? Hm.. Kelucuan Zaky disini menjadi tidak berguna karena karakter yang diperankannya juga nyaris tidak berpengaruh apa-apa.
Mafia Insyaf lebih merupakan sebuah film medioker dengan gaya kelas film televisi yang tidak menawarkan apapun yang patut dibanggakan selain ide yang hanya menjadi ide kosong belaka. Satu-satunya yang mungkin masih berusaha dijual adalah porsi adegan laganya yang kerapkali ditampilkan mengisi keterbelakangan cerita, itupun jatuhnya masih tanggung. Apa mau dikata?

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 22 September 2010

POCONG JUMAT KLIWON : Misi Horor Humor Pocong Nayato

Storyline:
Di sebuah hutan, Moniq selaku sang sutradara tengah mengarahkan Linda dan Arumi berakting dalam sebuah film pendek. Saat memakai wig, tiba-tiba Linda bersungguh-sungguh mencekik Arumi. Hal ini langsung dihentikan teman-temannya. Linda yang kesurupan tidak terkendali sampai wig yang dikenakannya dilepas oleh Dana. Setelah kejadian itu, mereka ditempeli oleh pocong terus menerus bahkan hingga pulang ke rumah masing-masing sekalipun! Zacky meminta bantuan engkongnya yang seorang paranormal untuk mencaritahu apa yang mengganggu mereka sesungguhnya. Siapakah gadis bernama Titin yang disebut-sebut engkongnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Film.

Cast:
Zaky Zimah
Leylarey Lesesne
Monique Henry
Arumi Bachsin
Sazha Carissa
Dana Cole
Rozie Mahally

Director:
Bisa dikatakan film horor komedi pertama Nayato Fio Nuala yang kali ini berkolaborasi dengan penulis Erry Sofid.

Comment:
Opening film ini harus diakui menjanjikan. 10-15 menit pertama akan membuat anda tertawa dengan beberapa adegan slapstick yang cukup mengena meskipun masih tidak jauh dari kata norak. Tetapi tidak apalah jika jatuhnya fun. Para penonton yang paham benar gaya seorang Nayato mungkin akan mengernyitkan dahi. Bingung sekaligus terkejut lalu timbul pertanyaan dalam benak kami semua. Benarkah inovasi sutradara misterius itu bisa berhasil kali ini?
Pikir dua kali jika anda berpikir seperti itu. Berakhir masa "syuting" di hutan maka berakhir pula segala humor itu. Plot kembali dibawa seperti yang sudah-sudah yaitu penampakan demi penampakan yang menghantui karakter-karakter utama. Kali ini sang pocong yang menjadi momok pun mengeluarkan seribu jurusnya yang lebih tepat dibilang menjahili daripada menakuti. Terus terang saya kasihan sekali melihat makhluk berkain kafan putih itu disuruh mengintip, membayangi, mencolek, memecahkan cangkir bahkan bersembunyi di dalam lemari es! Entah berapa puluh kali (dan beratus kali sebelum diedit tentunya) Nayato menginstruksikan pocong sewaannya membombardir penonton dengan ketakutan/kegelian di setiap beberapa menit. Anda sangat tidak beruntung jika semua penonton seperti saya yang hanya bisa menguap menyaksikannya.
Kehadiran Zaky Zimah sedikit membantu disini. Mimik muka lugu disertai gesture tubuh bodohnya terbukti ampuh memancing senyum audiens apalagi disenjata pamungkasi kata "najis". Monique, Leylarey cs seperti biasa hanya bisa merumpi dan beradegan mandi untuk kemudian berlari-lari ketakutan. Bahkan seorang Arumi yang tergolong rajin bermain dalam film Nayato lengser setelah 30 menit pertama, mungkin ia jatuh tertidur kebosanan hingga sang komandan tidak berani membangunkannya karena takut disumpahi pocong. Lho? Kesimpulan akhir, Pocong Jumat Kliwon ini tampaknya terlalu jenaka untuk menakuti ataupun terlalu seram untuk ditertawai? Anda yang putuskan.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa