Quotes:Gru-We are going to pull of the TRUE crime of the century... we are going to steal the MOON!
Storyline:Setelah sukses melakukan pencurian-pencurian besar di seluruh dunia tidak membuat Gru puas. Ia merencanakan pencurian terbesar dalam sejarah yaitu mencuri bulan! Untuk itu ia dibantu asistennya, Dr. Nefario dan segerombolan minions pekerja demi mengambil pistol pengecil benda yang dimiliki oleh saingan beratnya, Vector yang jauh lebih muda. Sayangnya Gru tidak bisa menandingi kelengkapan fasilitas mewah Vector sampai ia melihat tiga anak yatim piatu, Margo, Edith dan Agnes yang berhasil memasuki kediaman megah Vector. Segera saja Gru memanfaatkan tiga gadis kecil kesepian itu yang sebetulnya mendambakan kehadiran seorang ayah. Akankah misi Gru berhasil dan mengubah hidupnya pada akhirnya?Nice-to-know:Adegan saat Gru mengenakan pakaian luar angkasa sebelum memasuki roket mengingatkan kita pada plot serupa dalam Armageddon (1998).Voice:Pertama kali mengisi suara kartun lewat Over The Hedge (2006), Steve Carell kali ini beraksen Rusia sebagai si pencuri ulung, GruJason Segel sebagai VectorRussell Brand sebagai Dr. NefarioJulie Andrews sebagai Gru's MomWill Arnett sebagai Mr. PerkinsKristen Wiig sebagai Miss HattieMiranda Cosgrove sebagai MargoDana Gaier sebagai EdithElsie Fisher sebagai AgnesDirector:Kolaborasi pertama sekaligus film kedua bagi Pierre Coffin dan Chris Renaud yang sebelumnya menangani masing-masing Gary's Fall (2003) dan No Time for Nuts (2006).Comment:Merupakan salah satu animasi yang paling ditunggu di musim panas 2010 ini sudah mencuri perhatian publik saat trailernya dirilis beberapa bulan yang lalu. Jika biasanya sebuah film menampilkan trailer dari rangkuman adegan-adegan terbaiknya, tidak demikian dengan animasi ini yang masih menyimpan beribu-ribu kejutan di dalamnya. Tidak percaya?Plotnya bisa dibilang tidak terlalu orisinil tetapi tetap terasa fresh karena kreatifitas tinggi yang dikembangkan trio Ken Daurio, Sergio Pablos dan Cinco Paul. Terbagi dalam dua subplot utama yaitu perseteruan antar pencuri handal dan peran orangtua angkat terhadap bocah-bocah malang. Yang spesial adalah pemberian nyawa pada karakter-karakternya dengan porsi yang adil. Kita akan melihat sosok Gru yang egois kasar dan bekerja sangat efektif, Vector yang kaya raya dan cerdas, ketiga bocah perempuan yang nakal sekaligus menggemaskan dan lain-lain. Visualisasi mereka juga kaya warna dan gaya, belum lagi anjing Gru yang ganas dan bergigi tajam serta ribuan minions berwarna kuning dengan polah tingkah masing-masing yang tidak terduga. Proses dubbing juga terbilang tepat karena semua pengisi suara melakukan tugasnya dengan baik, kredit khusus buat Carell yang beraksen Rusia dengan baik. Suara Pharell Williams juga mengalun dengan indah mengiringi momen-momen khusus.Efek 3D yang dibebatkan pada film ini juga terbilang memuaskan. Warna-warni yang bertabrakan tidak akan membuat anda pusing karena disajikan dengan tone warna yang soft dan sangat screen-friendly. Ohya, jangan buru-buru meninggalkan bioskop setelah credit title karena beberapa minions akan menyapa anda "langsung" ke luar layar! Segala aspek tersebut membuat The Despicable Me akan memuaskan audiens tanpa memandang batasan umur. Tua muda akan menikmatinya sebagai hiburan yang menyenangkan dengan berbagai balutan pesan moral. Solid and charming!Durasi:95 menitU.S. Box Office:$21,690,000 till early July 2010.Overall:8 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Storyline:Didasarkan pada siaran televisi popular Hongkong, The Unbelievable yang mengisahkan beberapa fenomena paranormal/supernatural yang terjadi di berbagai belahan dunia. Guru feng shui Master Szeto dan reporter cantik Rachel Chan beserta segenap kru melakukan perjalanan ke pedalaman Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Thailand untuk menemukan hal-hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagaimana mereka dapat bekerja di tengah kekuatan atau suasana baru yang masih sangat asing itu?Nice-to-know:Diproduksi oleh Win’s Entertainment Ltd.Cast:Szeto Fat ChingRachel ChanChan Tat NinKar Lok ChinLau Yung HungLaw Chi LeungPing HaTang YanChen Kuan TaiDirector:Wong Tak Bun.Comment:Mungkin bagi anda para penikmat acara jelajah di televisi baik makanan maupun supernatural bisa jadi jatuh cinta dengan film ini. Asalkan anda tidak bosan alias dengan mudah menduga apa saja yang akan tampil di layar. Sebaliknya bagi anda yang tidak pernah menyaksikan acara sejenis, rasanya akan tersentak kaget.Nyaris tidak ada plot cerita, anggaplah ini sebuah documentary trip movie. Kasus demi kasus baru akan ditemui tim kru The Unbelieveable mulai dari kerasukan setan, ilmu hitam, praktek sihir, pengusiran setan, rumah berhantu, papan Ouija, pelepasan arwah dsb. Semua itu dijamin akan membuat anda takut ataupun jijik menyaksikan adegan eksekusi binatang dengan ekstrim plus berbagai ritual nudis dengan eksplisit. Terkadang cukup mengganggu memang apalagi jika menyebabkan anda muntah. Who knows?Sutradara Wong Tak Bun menggunakan bahasa Konghu walau bersetting di Asia Tenggara. Ia dengan terampil memainkan pergerakan kamera senyata mungkin seakan penonton diajak langsung berada di belakang para kru tersebut. Permainan cahaya dan juga night mode bernuansakan hijau cukup mencekam untuk scene yang melibatkan arwah. Jajaran castnya juga berhasil diarahkan untuk serileks dan sewajar mungkin selama syuting berlangsung.Pada akhirnya The Unbelievable akan membawa pengalaman baru bagi anda. But my suggest is “Don’t take it too seriously. Just watch and conclude in the end!”Durasi:75 menitOverall:7 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Storyline:Dirasa kedua orangtuanya tidak akan menyukai kekasihnya Amara yang wanita karir sukses, Arya nekad mengadakan kontes mencari pacar sewaan. Hal tersebut terdengar oleh Fani, eks pencuci mobil yang sedang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya yang sakit di kampung. Ditemani sahabatnya yang gay, Hans diluar dugaan Fani terpilih. Setelah menyepakati perjanjian, Arya dan Fani pun pulang ke Magelang untuk bertemu Pak dan Bu Koesno sekaligus merayakan hari peringatan pernikahan mereka yang ke-30. Berbagai kejadian tak terduga membuat Arya mulai mengenal Fani lebih jauh lagi sekaligus menimbulkan kemelut cinta segitiga dengan Amara yang posesif itu. Siapa yang akhirnya dipilih Arya?Nice to know:Diproduksi oleh Kanta Indah Film dengan produser Budi Mulyono dan Koko Soenaryo.Cast:Masih mempertontonkan kejenjangan kaki dan semampai tubuhnya selayaknya dalam Taring baru-baru ini, Fahrani berperan sebagai Fani yang benci laki-laki hidung belang.Masih serupa penampilan "rapi"nya seperti dalam The God Babe, Dwi Sasono bermain sebagai Arya yang lugu dan tidak sensitif.Julia Perez sebagai AmaraJessica Iskandar sebagai Dini703 Richard sebagai HansTarzan Srimulat sebagai Pak KoesnoBari Bintang sebagai DewaDirector:Kerjasama kedua sutradara Arie Aziz dengan Fahrani setelah Perjaka Terakhir (2009).Comment:Jika anda pernah menyaksikan trailer film ini, maka itulah yang anda dapatkan. Ya! Semua adegan "penting" tersebut bahkan nyaris dihabiskan di lima belas menit pertama. Prolog dibuka dengan adegan di ranjang (bukan adegan ranjang) Arya dan Amara saat ibunya tiba-tiba menelepon dan meminta putra semata wayangnya itu hadir dalam hari ulang tahun pernikahannya. Tanpa dijelaskan panjang lebar Arya langsung mencap Amara bukan "tipe" orangtuanya dan sepakat menggelar kontes tolol itu. Dan kebetulan lain tanpa alasan kuat, Fani terpilih yang lagi-lagi didampingi sahabat karib yang "setengah" itu. Tidak meyakinkan untuk diteruskan? Sayapun merasa begitu. Namun saya tetap berharap akan ada sesuatu di pertengahan yang setidaknya tetap membuat saya terjaga, terlebih tone warna kulit yang digunakan sangat menina-bobokan mata.Semakin dalam alur bergulir, saya malah merasa ketiga tokoh utamanya berakting sendiri-sendiri terutama Fahrani yang dominan sekali dengan bahasa tubuhnya. Dwi dan Jupe berganti-gantian dengan scene masing-masing yang sebetulnya tidak terlalu penting termasuk adegan syur Jupe dan Gaston yang bisa jadi salah satu scene yang paling layak ditunggu disini. Belum lagi Jessica dan Joe juga mendapat porsi yang seharusnya menyegarkan tetapi malah menganggu dengan repetisi yang itu-itu saja. Seharusnya interaksi Dwi dan Jupe ataupun Dwi dan Fahrani bisa lebih diasah untuk membangun konflik dengan lebih meyakinkan. Sayangnya hanya di menit-menit terakhir, adegan berduaannya Dwi dan Fahrani dengan background pemandangan kota Magelang yang rupanya cukup indah itu ditampilkan. Ah itupun rasanya belum cukup untuk menguatkan alasan mereka jatuh hati satu sama lain.Sutradara Arie hanya berusaha menghibur tetapi tidak akan membuat audiens terkesan dengan plot yang sudah berjuta-juta kali ditawarkan tanpa kreatifitas yang memadai. Alhasil Istri Bo'ongan cenderung flat di sepanjang durasinya apalagi ditutup dengan klimaks yang tidak bernyawa seperti itu.Durasi:90 menitOverall:6.5 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Storyline:Jamal dan istrinya Astrid dilanda kepanikan saat satu-persatu penghuni rumah di kompleks sekitar mereka mulai pindah. Semua dikarenakan adanya pocong keliling yang kerapkali mengetuk pintu utama warga setempat setiap malam. Rumah-rumah yang ditinggalkan pun kosong dan sulit sekali mencari calon pembeli apalagi isu tersebut sudah santer kemana-mana yang menarik minat kameraman dan pembawa acara yaitu Akbar dan Monique yang sepakat meliput kejadian itu. Ada lagi Bombay dan Asbun, si maling kuburan yang mengambil kesempatan dari kericuhan tersebut. Ditambah kepala keamanan setempat, Dadang dan wanita simpanan, Barbara yang juga heboh sendiri. Apa yang sesungguhnya menyebabkan teror pocong keliling tersebut?Nice-to-know:Diproduksi oleh Maxima Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di fX pada tanggal 6 Juli 2010.Cast:Catherine Wilson sebagai BarbaraIndah Kalalo sebagai AstridDonita sebagai MoniqueIndra Birowo sebagai JamalEric Scada sebagai DadangDirector:Pernah meraih predikat Sutradara Terbaik FFI lewat May (2008), Viva Westi menulis dan menyutradarai komedi horor pertamanya ini.Comment:Entah mengapa banyak sutradara berbakat Indonesia yang sengaja mendegradasikan dirinya belakangan ini demi mengikuti trend investor film lokal. Kali ini saya berbicara mengenai Viva Westi. Jujur saya tidak terlalu menggemarinya tapi mengapresiasi Suster N dan May yang cukup berkarakter itu.Saya akan menyoroti 4 pasangan yang merangkai cerita dalam film ini. Pertama, dua orang maling kuburan yakni Bombay dan Asbun yang berusaha melucu tetapi sayangnya basi yang membuka prolog film yang entah apa relevansinya dengan tema cerita. Bahkan melibatkan hantu wanita Cina kaya yang meninggal? Oh no! Kedua, pasutri Jamal dan Astrid yang mulai mendingin dan sibuk dengan "mainan"nya masing-masing, Ketiga, kru televisi Monique dan Akbar yang ditugaskan liputan "tidak jelas" dan benar-benar terkesan salah tempat dan waktu. Keempat, pasangan Barbara dan Dadang yang baru diekspos di akhir cerita yang sepertinya bisa muncul dan menghilang lebih sering dibanding penampakan itu sendiri. Delapan orang itu secara bergantian mengambil posisi mereka dalam scene masing-masing. Namun sayangnya tidak ada benang merah cerita yang jelas yang mampu mempertegas karakterisasi yang berusaha dibawakan.Pocong Keliling yang ditampilkan terlalu datar dan konstan sepanjang film ini akan membuat anda mati kebosanan sambil menyaksikan adegan demi adegan dengan rasa getir yang amat sangat selama kurang dari satu setengah jam. Saya pun terlelap dengan sukses tanpa menyadari anak-anak remaja tanggung yang entah sengaja atau berniat iseng sesekali melempari butiran-butiran popcorn dari arah belakang.Durasi:80 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Quotes:Mary Horowitz-Mary, why do you wear those stupid red boots all the time? You wanna know why? Because it makes my toes feel like 10 friends on a camping trip, that's why.
Storyline:Tidak semua orang bisa menyukai Mary yang bekerja sebagai pembuat teka-teki silang di salah satu surat kabar ternama New York. Pasalnya terlalu Mary banyak bicara meskipun terhadap orang yang baru dikenalnya. Orangtuanya sepakat mengatur kencan buta bagi putrinya itu dengan Steve, seorang kameraman program televisi CCN yang dipandu oleh Hartman Hughes. Mary pun jatuh cinta pada Steve sejak pandangan pertama. Sebaliknya Steve yang awalnya antusias malah menganggap Mary gila karena selalu “berbicara”. Sayangnya Mary tidak memahami signal dari Steve dan malah menyusulnya melakukan peliputan lapangan. Serangkaian kejadian menarik pun terjadi dan saatnya Mary belajar dari semua itu.Nice-to-know:Di luar dugaan, Sandra Bullock datang ke acara Razzie Award untuk menerima penghargaan Aktris Terburuk dengan membawa sekeranjang penuh dvd All About Steve dan membagi-bagikan pada audiens untuk ditonton. Jika memang mereka tidak setuju ia menerima penghargaan tersebut, Sandra akan mengembalikan piala tersebut tahun depan dan mentraktir minum semua orang!Cast:Tak banyak yang tahu Sandra Bullock pernah bermain dalam serial televisi Working Girl pada awal 1900an. Disini ia berperan sebagai Mary Horowitz yang aneh dan tidak bisa bergaul dengan normal dengan orang-orang di sekitarnya.Karir akting layar lebar pertama dilakoninya dalam Wet Hot American Summer (2001) dan kali ini Bradley Cooper melakoni tokoh Steve, seorang kameraman tampan yang digilai Mary.Baru saja mengisi suara dalam Aliens In The Attic, Thomas Haden Church bermain sebagai Hartman Hughes, pemandu liputan khusus CCN yang flamboyan.Director:Pria kelahiran New Jersey bernama Phil Traill ini memulai kinerja penyutradaraannya lewat film tak ternama berjudul Hiccup (1998).Comment:Jika anda mengharapkan komedi romantis melihat poster film ini, rasanya anda akan kecewa. Saya sendiri bingung mengkategorikan film ini apakah drama satir, komedi hitam atau apapun namanya itu. Pada prolog film kita diajak berkenalan dengan tokoh Mary yang tinggi secara IQ tetapi rendah secara EQ lengkap dengan pola tingkahnya yang ajaib sepanjang durasi. Bagaimana pandangan hidupnya, pola pikirnya, caranya berkencan, gayanya bersosialisasi dan sejuta kebiasaan lainnya. Dari fakta tersebut rasanya ingin mengajak penonton untuk sejenak bersimpati padanya. Di beberapa scene bisa jadi berhasil tetapi lebih dominan faktor terganggunya! Dan Sandra Bullock sedikit berjudi disini. Ratu komedi romantis ini memang saya akui sukses membawakan karakter yang sangat unik dan berbeda dari biasanya. Namun sepertinya penonton tidak akan banyak peduli padanya. Kehadiran Bradley Cooper sebagai love interestnya juga tidak membantu. Tokoh Steve yang dilakoninya seolah hanya tersenyum, terkejut dan menghindar tanpa banyak improvisasi yang penting. Hm, keduanya juga bertukar chemistry yang janggal terlepas dari skrip yang mengharuskan seperti itu atau tidak. Minimnya pengalaman sang sutradara Traill juga berpengaruh besar pada kegagalan hasil akhirnya. Alhasil All About Steve hanya sedikit menawarkan sisi humanisme manis di bagian ending tetapi secara keseluruhan mengajak audiens menyaksikan makhluk-makhluk planet berakting di depan kamera termasuk Haden Church yang kaku itu. Rasanya lebih baik berpikir dalam mengisi teka-teki silang Mary selama satu setengah jam dibandingkan menonton film ini. Hmmm..Durasi:95 menitU.S. Box Office:$33,860,010 till early Dec 2009.Overall:6 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:Must get away..
Storyline:Mike dan Julia menyewa sebuah pondok terpencil untuk berakhir pekan. Setelah bertemu Harry sebagai penanggungjawab pondok tersebut, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi dan apa yang dimulai sebagai sebuah liburan romantis berubah menjadi sebuah permainan untuk bertahan hidup yang tiada akhir.Nice-to-know:Memenangkan Festival Awards dalam Great Lakes Film Festival 2008.Cast:Owen Szabo sebagai MichaelElizabeth Kell sebagai JuliaKevin McClatchy sebagai HenryMandi Kreisher sebagai DesiDirector:Kolaborasi sekaligus karya pertama bagi Brad Helmink & John Rauschelbach.Comment:Klasifikasikanlah film ini ke dalam kelas B maka dosa-dosanya akan sedikit termaafkan! Plot cerita yang sudah teramat klise dibuka dengan bodoh saat kedua tokoh utamanya menemukan pondok terpencil yang tidak terkunci tanpa satupun pengunjung tetap memutuskan berlibur disitu tanpa kecurigaan apapun. Tunggu dulu? Apakah naluri anda merasa teruji? Jika iya, maka anda akan menemukan banyak lagi kejanggalan bodoh di dalamnya. Jika tidak ingin spoiler coba berhenti membaca sampai disini. Namun saya yakin anda sendiri tidak akan menyaksikannya juga maka langsung saya akan beberkan dalam 3 hal saja deh. Pertama, protagonis tertangkap dan terlepas dengan mudah begitu saja. Kedua, saat tokoh antagonis dapat dengan mudah menghabisI protagonis, dia menghilang entah kemana dan malah memberi ruang untuk kabur. Ketiga yang paling parah menurut saya, motif antagonis melakukan semua kesadisan tersebut justru keluar dari mulutnya sendiri dan menceritakannya pada protagonis (dan mungkin penonton yang bertanya-tanya. Anyone?). What? That is hillariously stupid. Endingnya pun (lagi-lagi) tidak realistis dan sangat tipikal. No surprise at all indeed. Beruntung Blitzmegaplex yang pernah memajang poster The Lodge pada space coming soon nya tidak jadi memutarnya. Jika tidak? Anda harus membayar tinggi untuk..Durasi:80 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Elsa Kast-What do you want? What do you want?Dren-Inside... you...
Storyline:Dua ilmuwan muda berbakat, Clive dan Elsa ditugaskan mengumpulkan protein dari berbagai macam DNA hewan untuk kemudian dikembangkan sebagai obat penyakit. Segala macam penelitian mereka lakukan siang dan malam bersama dengan anggota tim yang lain yang akhirnya menghasilkan spesies baru bernama Dren. Pertumbuhan makhluk tersebut sangatlah cepat dimana 1 hari ditempuh dalam 1 menit hingga Clive dan Elsa sepakat menyembunyikan temuan langka tersebut. Namun mereka harus menghadapi masalah lain saat Dren tumbuh besar dan tidak wajar!Nice-to-know:Karakter Clive dan Elsa dinamakan berdasarkan dua ilmuwan serupa dalam Bride of Frankenstein (1935).Cast:Aktor berbakat ini lebih banyak bermain dalam film-film kecil pengecualian King Kong (2005). Adrien Brody disini melakoni Clive Nicoli yang selalu berpikir rasional.Pernah dinominasikan Oscar 2008 kategori Penulisan Skrip Terbaik lewat Away From Her (2006), Sarah Polley kali ini mendalami Elsa Kast yang idealis dan berani mengambil resiko.Raut wajah Dren diinspirasi dari aktris Delphine Chanéac.Director:Vincenzo Natali yang juga bertindak sebagai penulis cerita sebelumnya banyak berpengalaman di bidang art department serial televisi dan beberapa film layar lebar.Comment:Jujur saja saya mengharapkan sebuah sains fiksi yang memacu adrenalin saat membaca sinopsisnya. Namun setelah 100 menit, perasaan saya bercampur aduk ketika meninggalkan bioskop. Saya bisa klasifikasikan film ini dalam dua bagian. Bagian pertama benar-benar bertutur tentang sains fiksi itu sendiri dengan sangat baik. Bagaimana hati nurani Elsa dan Clive saling bertentangan dengan keputusan yang mereka ambil, demi umat manusia atau egoisme pribadikah? Belum lagi penampakan spesies misterius yang juga lucu sekaligus mengerikan saat kecilnya. Bagian kedua terutama menjelang akhir cukup mengganggu saya dengan topik gender, incest ataupun seksualitas yang tidak berkesudahan. Ayolah, kita sudah pernah disuguhkan Spesies yang berseri-seri itu ataupun film kelas B lain dengan permasalahan yang hampir mirip. Bisa jadi memang sulit mengembangkan plot cerita yang sudah berulang kali dibuat dalam bermacam versi hingga ending film ini pun sudah bisa ditebak oleh penonton setelah dua pertiga bagian berjalan. Katakanlah sutradara Natali mereboot Frankenstein dalam nuansa modern. Lantas iapun menampilkan suasana lab dan pertanian tua yang tenang, dingin dan terasing. Benar-benar setting khas film Eropa yang dingin dan kaku! Dari segi cast, Brody dan Polley menyuguhkan chemistry yang menarik. Bagaimana mereka berjuang mempertahankan intensitas hubungan di tengah masalah idealisme mereka sebagai pasangan ilmuwan ataupun calon orangtua. Ending diperparah dengan konklusi nonsens dan alasan yang mendasarinya. Sengaja untuk membuka sekuel? Entahlah. Terlepas dari elemen-elemen tidak baru yang dimilikinya, Splice sebetulnya punya potensi untuk menjadi film besar apalagi "penampakan" spesial efek Dren yang cukup meyakinkan. Hanya saja disajikan dalam cara yang tidak wajar. Setidaknya menurut saya, belum tentu menurut sebagian besar anda yang bisa jadi memfavoritkannya!Durasi:100 menitU.S. Box Office:$16,229,106 till end of Jun 2010.Overall:7 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Bella Swan-Should I come back?Jacob Black-I need some time, but I'll always be waiting.Bella Swan-Until my heart stops beating.Jacob Black-Maybe even then.
Storyline:Seattle dikejutkan oleh beberapa pembunuhan sadis yang belakangan diketahui dipimpin oleh Riley dengan gang vampir pemusnah manusianya. Selepas akhir semester, Bella dan Edward kembali menikmati kebersamaan yang intim meskipun diselingi kehadiran Jacob yang tetap mengejar cinta Bella. Sementara itu Victoria masih terobsesi membalaskan dendam terhadap Edward yang telah membunuh kekasihnya, James. Dan Bella menjadi incarannya agar Edward merasakan sakit yang sama. Demi mengalahkan musuh yang lebih kuat, keluarga Cullen bergabung dengan klan werewolf untuk menciptakan kemenangan bersama. Akankah kali ini Bella tetap terlindungi dan mampu menetapkan hatinya?Nice-to-know:Kristen Stewart menggunakan wig disini setelah memotong pendek rambutnya untuk peran dalam The Runaways. Sementara itu Tom Felton dan Channing Tatum sempat dipertimbangkan untuk mengisi peran Riley.Cast:Masih dibintangi oleh aktor-aktris muda yang sama ditambah beberapa muka baru.Kristen Stewart sebagai Bella SwanRobert Pattinson sebagai Edward CullenTaylor Lautner sebagai Jacob BlackXavier Samuel sebagai RileyBryce Dallas Howard sebagai VictoriaAnna Kendrick sebagai JessicaAshley Greene sebagai Alice CullenPeter Facinelli sebagai Dr. Carlisle CullenElizabeth Reaser sebagai Esme CullenKellan Lutz sebagai Emmett CullenDirector:Uniknya David Slade terakhir menggarap film yang bertemakan vampir juga yakni 30 Days of Night (2007).Comment:Here we go again with the never-ending love triangle between Swan, Cullen and Black. Wait. Did i just say their family names instead nick names? Yes, just because i'm tired with those Bella, Edward and Jacob things. Really! Twilight is still an okay movie for me. But New Moon? Sorry, it wasn't okay. I fell asleep in the theatre after one-packed working day. So did my love ones back then. *sigh*Three episodes with three different directors. Compare to what Hardwicke and Weitz had achieved, Slade brings some British elements in here. Some scenes actually remind me of Sleepy Hollow or Van Helsing. Slade also tried to balancing the action and drama itself. The fight scenes are more dominant and the drama sides are little more developed with new elements added and appropriate music themes (although most of all still sounds cheesy for me).Still there's not too much characters developing like the previous two. As for Bella, she did a great job reuniting the whole characters. Read this! Seductive with Edward, passionate with Jacob, insulting Victoria, symphatized for all Cullens family members. How great Stewart is, one-packaged teenage girl who actually seemed like stands for herself! Pattinson still did a great job with cool expression and cold face. Lautner should keep that body tight unless director would give Jacob's role to another young actor. But can somebody do me a favor? Please put clothes on him to stop women (and some men) audiences' gasping. Thank you! Thank you!The only thing that works for me in here is the idea of werewolves and vampires colaboration to stand together. They cooperate well enough to create some strong bonding in the end. Also some of Jacob's wolf ancestors' flashback or even other Cullen members' life before turned out to be vampires which are more interesting to explored. Otherwise Eclipse would be just another long duration chapter of "oh my dear" confusing Bella Swan! Breaking Dawn's next..Durasi:115 menitU.S. Box Office:$83,637,242 in opening week early July 2010.Overall:7 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Storyline:"Flame", seorang pria yang dihantui rasa bersalah setelah selamat dari kebakaran klub malam yang merenggut kekasihnya."Imprison", seorang tahanan yang mempertanyakan kewarasannya setelah penghuni sel sebelumnya tewas gantung diri."Revenge", seorang pengedar narkoba yang bisu tuli membunuh wanita pelanggannya dan memutilasi mayatnya di apartmentnya."Haunting Motel", seorang penari telanjang sekaligus pelacur harus melayani dua lelaki bersahabat di sebuah hotel yang dimiliki oleh wanita tua gila dan dihantui pembunuh wanita.Nice-to-know:Semuanya didasarkan pada kejadian nyata yang dimuat sebagai berita utama di koran Thailand termasuk segmen "Flame" yang mengacu pada kejadian serupa yang menewaskan 66 orang di Bangkok pada pergantian tahun 2008-2009.Cast:Mai Charoenpura sebagai Phii Dao ("Haunting Motel")Akara Amarttayakul sebagai Arm ("Flame")Supakson Chaimongkol sebagai Nuan ("Revenge")TAE sebagai Gong ("Imprison")Uttaporn Teemakorn sebagai Niranam ("Imprison")Wiradit Srimalai sebagai Puu ("Revenge")Pimolrat Pisolyabutr sebagai Pang ("Flame")Kachapa Toncharoen sebagai Phii Naknaen ("Haunting Motel")Vasana Chalakorn sebagai Crazy Hotel Lady ("Haunting Motel")Ratchanont Sukpragawp sebagai Thua (segment "Haunting Motel")Arisara Thongborisut sebagai Jawys (segment "Revenge")Director:Poj Arnon dalam "Haunting Motel".Chatchai Katenut dalam segment "Flame".Thanwarin Sukhaphisit dalam "Revenge".Manussa Vorasingha dalam "Imprison".Comment:Empat kejadian nyata yang disodorkan dalam nuansa dwilogi horor Thailand sukses, Phobia kali ini rasanya belum berhasil. Saya hanya akan mengomentari segmennya satu per satu dalam beberapa kesimpulan. Dalam "Flame", alur flashback yang digunakan berusaha menyusun twist khusus. Namun hal ini pernah dilakukan sebelumnya sehingga tidak terlalu original. Adegan kecelakaan klub malam masih kurang mencekam dan terlihat pemakaian spesial efeknya. Dalam "Imprison" ilusi dan kenyataan terasa abu-abu sehingga cukup membingungkan walaupun endingnya sudah dapat diduga penonton yang tetap akan bertanya-tanya akan logika yang mendasarinya. Dalam "Revenge" alur tidak linier berusaha menyembunyikan kejadian sesungguhnya. Namun potongan demi potongan gambar yang disajikan kurang terangkai dengan baik dan pada akhirnya penonton dipaksa menerima saja konklusi yang dibuat. Dalam "Haunting Motel" humor coba dihadirkan lewat keempat tokohnya dengan setting sebuah motel angker. Kembali twist berusaha dijungkir balikkan disini tetapi jatuhnya menjadi mengada-ngada dan dipaksakan. Still pada intinya bertutur mengenai arwah orang-orang yang mengalami kematian mendadak sehingga tidak menyadari dirinya sudah meninggal. Satu-satunya yang patut dipuji dari horor ini adalah konsistensi tone warna gelap mulai dari biru, hitam dan abu-abu yang dominan sepanjang film, seakan menegaskan subyek kematian itu sendiri. Aktor-aktrisnya bermain standar di luar fakta bahwa tidak banyak ruang yang ditawarkan untuk mereka. Sayangnya proses delivery terhadap audiens tidak maksimal sehingga sulit dinikmati dan hanya akan membuat kening berkerut selepas menyaksikannya.Durasi:95 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:
Seorang pemuda muslim. Seorang gadis katolik. Will they live happily ever after?
Storyline:Bekerja sebagai wartawan freelance dan juga penyair, Rosid yang lahir di keluarga Muslim yang taat memang terlihat santai menjalani hidup dengan gayanya sendiri. Itulah yang menarik bagi Delia yang berlatarbelakang Katolik dan juga seorang aktifis kampus. Keduanya mempertahankan keyakinannya masing-masing tetapi saling mengagumi satu sama lain. Sayangnya ortu masing-masing tidak setuju. Ayah-ibu Delia terang-terangan menolak sedangkan ayah-ibu Rosid malah menjodohkannya dengan gadis berjilbab yang soleh, Nabila. Selain itu Rosid juga dipertanyakan keagamaannya karena tidak bersedia memakai peci dan baju koko yang dianggapnya hanya meneruskan tradisi belaka. Akankah cinta dapat mengalahkan semua pandangan dasar tersebut pada akhirnya?Nice-to-know:Diproduksi oleh Mizan Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood pada tanggal 29 Juni 2010.Cast:Reza Rahadian sebagai RosidLaura Basuki sebagai DeliaArumi Bachsin sebagai NabilaIra Wibowo sebagai MarthaRobby Tumewu sebagai FransHenidar Amroe sebagai MuznaRasyid Karim sebagai MansurZainal Abidin DombaJay WijayantoDirector:Ditulis dan disutradarai oleh Benni Setiawan yang baru saja menyelesaikan Cinta 2 Hati beberapa waktu lalu.Comment:Diangkat dari novel laris Da Peci Code serta Rosid dan Delia, film ini bisa jatuh ke dalam genre religi. Beruntung Benni yang merangkap disini tidak terkesan berusaha menggurui topik yang sensitif tersebut tetapi menerjemahkannya menjadi sebuah drama ringan menghibur yang tetap berisi. Lupakan sejenak Cinta 2 Hati yang mendayu-dayu dan merengek-rengek tersebut.Interpretasi Reza Rahadian terhadap si kribo Rosid patut diacungi jempol. Aksesoris yang dikenakan di kepalanya bukan hanya sekadar aksesoris tetapi benar-benar merasuk pada penjiwaannya sebagai seseorang yang idealis sekaligus puitis. Reza mampu berkoar dengan lugas di kalangan "penganut peci putih" dan juga berpuisi dengan jumawanya di atas panggung. Menarik sekali menyaksikan aktor muda berbakat ini mendalami perannya. Terus terang saya ingin melihat lebih banyak lagi penampilan Laura Basuki di masa mendatang. Ia tidak hanya indah di mata tetapi sangat natural membawakan tokoh Delia yang santun dan menghormati pluralisme. Cukup menarik melihat Arumi Bachsin sedikit "keluar" dari peran-peran khas Nayato disini. Aktor-aktris pendukung senior sebagai orangtua Rosid dan Delia semakin memperkuat jalinan cast yang ada. Jangan ragukan Robby, Ira, Henidar, Rasyid yang konsisten dengan emosinya masing-masing.Pada akhirnya 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta tidak dapat dikatakan sebuah film utuh dengan penyelesaian yang klise dan tipikal melainkan lebih mirip suatu wacana yang mengembalikan pemahamannya pada masing-masing penonton akan makna cinta, keluarga dan pandangan hidup itu sendiri. Open endingnya cenderung diselesaikan dengan informasi tertulis, bukan dengan bahasa gambar. Thumbs up untuk puisi-puisi WS Rendra yang tajam menyentil dan kena pada garis besar topiknya!Durasi:105 menitOverall:8 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa