XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label thai movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thai movie. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2019

THE POOL : Nailbiting Survival Thriller For Another Day


:
Tagline:
6 Metres. Deep Pool. No Ladder. No Way Out.

Nice-to-know:
Sutradara Ping Lumpraleng menemukan ide cerita ini saat menemukan kolam kosong sewaktu mencari lokasi untuk debut penyutradaraannya, Kote Rak Aeng Loei (2006).

Cast:
Theeradej Wongpuapan sebagai Day
Ratnamon Ratchiratham sebagai Koy 


Director:
Merupakan feature film keenam bagi Ping Lumpraploeng setelah Pob na pluak (2014).

W For Words:
Jika diminta menyebutkan survival thriller yang melibatkan air dan predator, mungkin mayoritas dari anda akan menyebutkan Open Water (2003) atau yang terbaru 47 Meters Down (2017). Kesamaannya hanya dimainkan satu atau dua karakter yang selalu terlihat di layar, selebihnya adalah binatang buas yang siap mengancam mereka. Film Thailand produksi T Moment ini memang tidak terkecuali. Perbedaannya terletak pada panggung cerita, bukan lautan, bukan juga samudera melainkan kolam renang kosong yang berkedalaman enam meter. Bagaimana bisa?

Art director, Day baru saja menyelesaikan syuting iklan komersial dan memilih bersantai di kolam renang terpencil. Semua kru telah pergi dan instruksi mengosongkan kolam pun sudah keluar. Malangnya Day ketiduran tanpa menyadari air yang mulai surut. Tak lama kekasihnya Koy malah menyusul terjun ke kolam dimana kepalanya sempat terantuk tembok. Keduanya ditambah anjing Lucky yang terikat rantai di atas kolam lantas berupaya bertahan hidup dan mencari jalan keluar selama berhari-hari. Sementara itu buaya betina yang terlepas juga turut mengancam nyawa mereka. 

Dengan limitasi karakter dan setting, tentunya Lumpraploeng harus pandai memaksimalkan apa yang ia punya. Untungnya semua setup yang dipasang bisa dikatakan berhasil dalam menjaga ritme penceritaan. Penonton akan ‘disiksa’ selama 90 menit, meskipun draft awalnya yang konon berdurasi 150 menit, dengan rasa tidak nyaman dan geregetan melihat kesulitan demi kesulitan yang tak henti menghampiri Day. Saat secercah harapan datang, apapun caranya pasti akan pergi lagi, anda hanya perlu bersabar hingga menit terakhir untuk mengetahui nasib pasangan ini.

Karakter Day sendiri digambarkan begitu manusiawi. Ada keputusan yang membuatnya masuk ranah antagonis. Namun kita bisa mengerti alasannya. Apalagi setelah melihat segala bentuk perjuangan tak kenal lelah, mudah rasanya menggalang rasa simpati pada tokoh ini. Sedangkan Koy bisa dikatakan tipikal gadis manja tak berdaya yang mengandalkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, tapi dipaksa tegar juga karena situasi tak terelakkan. Ada dua bintang binatang yang memberi kontribusi signifikan yakni Lucky yang lucu dan buaya yang berbahaya. Kita harus akui kombinasi CGI, mekanik dan live action keduanya cukup meyakinkan di layar.

Sulit untuk tak mengakui penampilan apik Theeradej Wongpuapan yang membawa beban berat di pundaknya dalam one man show kali ini. Sudah satu dekade semenjak kita terakhir menyaksikan akting mempesonanya dalam Bangkok Traffic Love Story (2009) bersama Cris Horwang yang fenomenal itu. Rasa takut, bingung, kalut, frustrasi diterjemahkannya dengan baik lewat ekspresi dan gestur, ditunjang dengan tubuh kekar berotot membuat kita percaya kehidupan keras yang dilakoni pria berusia 40an ini hingga bisa melakukan apa saja demi bertahan hidup.

Tak sia-sia penantian panjang terhadap film yang penayangannya terus ditunda di Indonesia sejak akhir tahun lalu ini. The Pool mungkin dapat dikategorikan sebagai action fantasy drama yang memposisikan manusia melawan monster (literally) dan ketakutan dalam dirinya sendiri akan masa depan yang belum pasti (metaphorically). Seperti kata pepatah milik Napoleon Hill, “Strength and growth come only through continuous effort and struggle.”
This time, Day might be Lucky enough to see another day. And we can always learn to be brave with our own lives as well.

Durasi:
91 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 31 Juli 2018

BROTHER OF THE YEAR : Her Worst Enemy That Never Leaves

Original title:
Nong, Pee, Teerak

Quote:
Jane: Kau tak punya hak menghentikan aku menikah.
Chut: Kenapa tidak? Aku cuma takkan mengizinkanmu.


Nice-to-know:
Dalam film, Sunny dan Yaya memainkan karakter kelahiran Thai-French sedangkan Nichkhun Thai-Japanese. Aslinya Sunny adalah Thai-Singaporean-French, Yaya adalah Thai-Norwegian dan Nichkhun adalah American-born Thai-Chinese.

Cast:
Sunny Suwanmethanont sebagai Chut
Urassaya Sperbund sebagai Jane
Nichkhun sebagai Moji 
Anchuleeon Buagaew sebagai Ibu
Chanchalerm Manasaporn

Director:
Merupakan film keempat bagi Witthaya Thongyooyong setelah The Little Comedian (2015).

W For Words:
Selayaknya orangtua, kita tidak pernah bisa memilih siapa saudara kandung kita, tentunya anak tunggal adalah pengecualian. Anak perempuan ataupun laki-laki tentu saja sama di mata mereka yang melahirkan dan membesarkannya. Namun apakah di mata satu sama lain, mereka punya hak dan kewajiban yang sama untuk dapat saling mengisi? GDH yang dikenal sebagai pioneer dalam industri perfilman Thailand kali ini punya kisah menarik mengenai siblings, yang lagi-lagi dikemas dalam genre komedi romantik dengan cara yang unik.

Chut adalah perjaka ting-ting yang berkarir di bidang periklanan, yang memiliki kekasih Muay yang nyaris tak dianggapnya, yang kerap mabuk dan one night stand dengan wanita yang tak perlu diketahui namanya. Kebiasaan hidupnya berubah saat adiknya Jane pulang dari studinya di Jepang, yang dari segala sisi merupakan kebalikan 180 derajat dari sang abang. Bukan terpacu untuk berbenah diri, Chut malah berusaha menjatuhkan Jane yang segera meniti karir dan berencana menikah dengan kekasih Jepang yang baru dikenalnya, Moji.

Sejak awal kwartet Nontra Kumwong, Tossaphon Riantong, Witthaya Thongyooyong dan Adisorn Trisirikasem tidak membuang waktu untuk mengenalkan para tokohnya, melainkan langsung masuk ke dalam konflik yang kemudian membuka karakter mereka selapis demi selapis lewat presentasi situasi terkini dan juga cuplikan masa lalu. Stigma kakak yang wajib beri contoh kepada adik, atau adik yang harus nurut kepada kakaknya juga dihadirkan di sini. Keberpihakan yang dibangun dari pencapaian hasil sang kakak atau adik itu sendiri, memang tak jarang menimbulkan kompetisi di antara keduanya.

Thongyooyong yang juga duduk di bangku pengisah mampu memadukan gaya hidup bebas masyarakat Thailand dengan kultur moral masyarakat Jepang di jaman modern ini. Coba simak perilaku ibu, ‘bibi’, teman-teman kantor Chut dan bos, calon ibu mertua Jane yang cukup kontras. First act nya yang banyak diisi oleh adegan slapstick dijamin membuat anda terpingkal-pingkal. Sedangkan third act nya yang dramatis niscaya membuat anda menitikkan air mata. Perubahan tone yang signifikan tersebut mampu dijembatani dengan smooth melalui konflik personal Jane dan Chut yang turut berkembang.

Urassaya Sperbund alias Yaya adalah nama baru di dunia layar lebar tetapi kemampuannya memainkan rentang emosi mulai dari marah, kesal, bahagia hingga sedih patut diacungi jempol. Jane dengan cepat akan menarik simpati anda. Sebaliknya Chut yang menyebalkan diperankan dengan apik oleh Sunny yang tampaknya sudah tak asing dengan peran cowok slengean. Terlepas dari peran tipikal cowok baik-baik nan sempurna dan screentime yang terbatas, Nickhun tetap berhasil memberikan sensitifitas pria Jepang yang bertanggungjawab pada diri dan keluarganya ke dalam karakter Moji.

Sesungguhnya Brother Of The Year memiliki isu yang kompleks, yang patut dikaji dari berbagai sisi untuk mendapatkan sebuah obyektifitas yang sempurna. Namun Thongyooyong memilih cara-cara yang klise, yang dibangun melalui momentum pernikahan, untuk meluluhkan kesalahpahamanan di antara keduanya. Secara tontonan terbilang berhasil. Secara kehidupan nyata mungkin anda punya pengalaman sendiri. The point is, this movie served as a sweet reminder that “Brothers and sisters are as close as hands and feet. A friend, might also be an enemy that never leaves.”

Durasi:
124 menit

Asian Box Office:
$66.76 millio
n till Jun 2018 in Thailand

Movie-meter:

Selasa, 20 September 2016

ONE DAY : Taking Risk For Chance In Love


Tagline:
Would you risk everything, just to be in love for just one day?

Nice-to-know:
Kolaborasi kedua sutradara Banjong Pisanthanakun dengan aktor yang juga penulis skenarionya Chantavit Dhanasevi setelah Hello Stranger (2010).

Cast:
Chantavit 'Ter' Dhanasevi sebagai Denchai
Nittha 'Mew' Jirayungyurn sebagai Nui


Director:
Merupakan film kedelapan bagi Banjong Pisanthanakun setelah Pee Mak Phrakanong (2013).



W For Words:
7 dari 20 film Thailand terlaris sepanjang masa hingga saat ini merupakan produksi GTH (GMM Tai Hub) yang telah menutup usianya tahun lalu setelah sebelas tahun beroperasi yang diakhiri dengan merilis dua film terakhirnya Heart Attack dan May Who yang juga tidak terlalu mencatat hasil memuaskan di tangga box office. Untungnya masa hiatus itu tidak berlangsung lama. Studio yang selalu dikenal dengan production value tinggi dan inovasi berkualitas tersebut menjelma menjadi production house baru di bawah bendera GDH 559 (Gross Domestic Happiness). Karya perdana mereka sudah bisa anda nikmati mulai minggu ini yang mengusung dua nama besar yaitu Banjong Pisanthanakun dan Chantavit Dhanasevi. Penasaran kan?

Staf IT berusia 30 tahun, Denchai adalah invisible man di kantornya. Nyaris tidak ada yang mengingat namanya apalagi mempedulikan keberadaannya. Diam-diam ia mengagumi si cantik Nui dari divisi Marketing yang ternyata menjalin hubungan gelap dengan bos perusahaan, Top yang sudah beranak istri. Ketika outing tahunan diadakan di Hokkaido, Nui mengalami kecelakaan dan menderita hilang ingatan selama satu hari. Lantas Denchai menggunakan kesempatan itu untuk mengaku sebagai pacarnya. Apakah kebersamaan mereka akan berlanjut, atau harus berakhir?

Sutradara Banjong Pisanthanakun pernah meraih sukses besar lewat komedi romantis Hello Stranger (2011) yang juga digagasnya bersama sang aktor Chantavit Dhanasevi. Formula yang nyaris serupa dengan tema yang berbeda berusaha dihadirkan, dimana setting dipindahkan dari Korea ke Jepang. Humor-humor situasi yang khas kembali mengisi lewat karakter-karakter pendukung yang hadir dalam porsi secukupnya saja tapi tetap memorable. Walaupun pada akhirnya saya agak menyayangkan keputusan final dalam film yang mereka buat karena akan sangat mempengaruhi kelanjutan nasib GDH 559 di masa mendatang. 

Suasana perkantoran yang statis di paruh awal berhasil memperkenalkan dua tokoh utamanya yang ‘kesepian’ dengan pergolakannya masing-masing. Hokkaido yang terasa dinamis dengan segala daya tarik wisatanya menjadi panggung bertutur yang dilematis di paruh akhir. Berbagai metafora yang disematkan di sepanjang penceritaan mampu mendorong plot ke arah pembabakan yang dituju secara jelas. Sebut saja lonceng permohonan, tombol kejujuran, figur kejutan sampai menara es.

Chantavit rela melakukan permak terhadap dirinya sendiri demi masuk ke dalam karakter Denchai. Wig keriting, susunan gigi yang tidak rapi plus kacamata kutu buku yang membuatnya terlihat berbeda. Gestur nerd yang ditampilkannya juga didukung oleh padanan kostum yang juga believable. Nittha memulai debut layar lebarnya dengan gemilang dimana setiap presence nya selalu ditunggu penonton. Mata besarnya seakan lebih berbicara daripada kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Sosok Nui yang easy going di luar tetapi rapuh di dalam mampu dibawakannya dengan lugas.

Jika anda termasuk dalam kategori lajang kota besar yang berkarir mungkin akan dengan cepat merasa familiar dengan penokohannya. Denchai atau Nui bisa jadi anda sendiri, atau salah satu dari orang di sekitar anda. Dengan pace yang konstan, One Day akan membuat anda terlarut hingga tanpa sadar menangis dalam suka hingga tertawa dalam duka. It’s a moody romance with emotional rollercoaster you should not miss! Cinta memang seringkali membuat kita bersikap egois, karena kebahagiaan kita sendiri yang menjadi taruhannya. But we all still need love, don’t we?

Durasi:
134 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 05 Juni 2013

THONGSOOK 13 : Thai Decent Horror Goes CGI


Quote:
Beam: You know I'm not a real woman!
Jack: For god's sake, you're just a lesbian!

Nice-to-know:
Film yang berjudul Inggris, Long Weekend ini sudah rilis di Thailand pada tanggal 31 Januari 2013 yang lalu.

Cast:
Chinnawut Intarakusin
sebagai Thongsuk
Acharanat Ariyaritwikol sebagai Jack
Ch
eeranat Yusanon sebagai Nam
Sean Jindachot
sebagai Boy        
Kitlapat Korasudraiwon
sebagai Pui
Butsarin Yokpraipan sebagai Beam

Director:
Merupakan film keempat bagi Taweewat Wantha setelah The Kindergarten(2009).

W For Words:
Suguhan horor terbaru Minds@Work dan Wave Pictures ini menawarkan premis yang sudah ribuan kali dieksekusi oleh filmmaker di berbagai belahan dunia manapun. Sekelompok anak muda berlibur di tempat terpencil, melakukan kesalahan fatal hingga harus menanggung akibatnya lewat serangkaian kejadian supernatural. Ya, rekor di Indonesia sendiri dipegang oleh tak lain tak bukan, Nayato Fio Nuala/Koya Pagayo. Perbedaannya mungkin hanya di segi teknis yang jauh lebih baik terlebih di departemen CGI. Tidak percaya?

Thongsuk dan Nam telah bersahabat sejak kecil. Menginjak bangku remaja, Thongsuk yang menderita gangguan autis kerap menjadi bahan olok-olok temannya. Jack yang menaruh hati pada Nam mengajaknya berlibur bersama Boy serta kekasih lesbian Pui dan Beam ke pulau terpencil tanpa sepengetahuan Thongsuk. Di luar dugaan, Thongsuk berhasil menyusul. Jack dan Boy yang kesal menguncinya di kuil yang dipercaya pernah menjadi TKP pembantaian massal di waktu lampau oleh arwah jahat. Menjelang Jumat tanggal 13, sejarah tersebut pun terancam berulang. 

Skrip yang digawangi oleh kwartet Eakasit Thairaat, Sommai Lertularn, Adirek Wattaleela, Taweewat Wantha ini berupaya keras menghindari keklisean yang sudah-sudah. Itulah sebabnya disematkan berbagai ‘tikungan’ untuk tetap mempertahankan penonton di kursinya masing-masing termasuk ‘kreatifitas’ presentasi kematian yang begitu beragam. Kilas balik yang membuka film bertujuan memberikan pondasi akan karakter Thongsuk dan Nam. Namun apakah itu cukup? Terbukti dramatisasi di bagian penutup nampaknya masih kesulitan menguras emosi penonton. 

Wajah tampan Chinnawut yang blasteran tergolong sukses menghidupkan sosok Thongsuk yang lugu dan pantas menggalang simpati. Sorot matanya yang tajam berkali-kali berbicara meski tanpa dialog sekalipun. Debut layar lebar penyanyi Cheeranat juga tidak mengecewakan. Aksi Nam yang dominan di sepanjang film cukup menonjolkan kekuatan emosi yang dalam. Sayangnya tidak banyak yang dapat dllakukan Kitlapat dan Butsarin selain berpelukan dan berteriak. Sedangkan Acharanat dan Sean menjiwai dua pemuda begundal dengan tipikal individualis yang mudah terlupakan.

Taweewat sebagai sutradara rupanya banyak ‘belajar’ dari The Evil Dead (1981) atau The Cabin In The Woods (2011) dengan tema serupa. Bahkan pada satu kesempatan, sosok hantunya langsung mengingatkan anda pada Mama (2013). Paruh pertama yang lambat digunakan untuk membangun suspensi misteri. Paruh kedua barulah dihujani darah dan kesadisan yang cukup optimal. Penggunaan spesial efek dilakukan secara maksimal dalam mengumbar ketakutan mulai dari asap dan bayangan sebagai bentuk teror. Sah-sah saja karena masih terlihat rapi dan relevan dengan kebutuhan cerita.

Walaupun terlambat diimpor ke Indonesia, Thongsook 13 setidaknya masih meneruskan citarasa horor Asia dengan tradisi yang kuat sebut saja jimat pengusir, lilin pelindung dan sebagainya. Peringatan hari Jumat tanggal 13 yang diyakini sebagai terbukanya gerbang neraka pun dipertahankan. Secara keseluruhan masih lebih baik dari beberapa judul sejenis milik negeri gajah putih tersebut dimana kekosongan adegan mampu diisi dengan dialog one-liner pengocok tawa sebelum diteruskan dengan teror non stop yang seperti biasa memicu keberpihakan anda terhadap salah satu tokoh untuk bertahan hidup pada akhirnya.

Durasi:
96 menit

Asian Box Office:
THB 12,700.000 till Feb 2013 in Thailand

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 11 Mei 2013

SUNSET AT CHAO PHRAYA : Miscast and Unimpressive Script Sum It All

Original title:
Koo Kam

Nice-to-know:
Produksi berjalan mulai dari September 2012 hingga Januari 2013.

Cast:
Nadech Kugimiya sebagai Kobori
Oranate D Caballes sebagai Angsumalin / Hideko
Nithit Warayanon sebagai Wanus
Marina Muongsiri sebagai Aorn (Hideko's mother)
Surachai Chanthimakorn sebagai Uncle Phol
Mongkol U-tok sebagai Uncle Beau


Director:
Merupakan feature film kesembilan bagi Kittikorn Liasirikun setelah terakhir menggarap Dream Team (2008)
.

W For Words:
Romansa yang mengambil latar belakang Perang Dunia ke-2 di Bangkok ini sesungguhnya telah berulang kali diangkat baik film televisi maupun layar lebar. Adaptasi novel berjudul “Khu Kam” milik Thommayanti ini merupakan remake film bertitel sama yakni Sunset at Chaophraya di tahun 1996. Entah apa yang sesungguhnya menjadi motivasi studio M-Thirtynine. Peremajaan kisah klasik? Perbaikan kualitas dengan teknologi yang semakin maju? Atau justru persaingan dengan studio GTH yang tampaknya sudah semakin jauh meninggalkan para pesaingnya di industri film Thai tersebut?

Seorang perwira Jepang yang bekerja di angkatan udara, Kobori melihat Angsumalin tengah berkeliaran di sungai. Pertemuan itu menggelitik rasa penasaran Kobori yang segera mencari tahu dimana Angsumalin tinggal. Keduanya tanpa sengaja terus dipertemukan oleh takdir walaupun perang tengah berkecamuk hebat. Ayah Angsumalin yang juga pejabat pemerintahan sepakat menikahkan mereka demi aliansi Thailand-Jepang yang lebih kokoh. Konflik kian memuncak ketika atasan Kobori menganggap orang Thai tidak membantu perjuangan mereka samasekali pada masa Perang Dunia ke-2.
Saya bersyukur karena tidak pernah menyaksikan versi sebelumnya, setidaknya bisa obyektif dalam menilai yang satu ini. Lebih dari dua jam kemudian saya menyesal mendapati skrip yang tidak solid dan interpretasi sutradara yang juga tidak membantu samasekali. Pertama, hubungan Kobori dan Angsumalin berjalan datar, mulai dari perkenalan sampai pernikahan. Penamaan Hideko yang diberikan Kobori sebagai bagian dari ‘Japan’-isasi justru terkesan menggelikan. Belum lagi rahasia besar yang disembunyikan Angsumalin terasa berlarut-larut hingga penonton tak kuasa menunggu.

Kedua, Kittikorn memang berupaya menghadirkan perasaan epik dengan invasi Jepang yang nyata. Namun impresi ‘menipu’ penonton dengan adegan peperangan yang tak tampak tak dapat dihindari. Lihat bagaimana ledakan demi ledakan kerap diterjemahkan dengan efek suara disertai asap dan kobaran api saja. Come on, we wanna see any better than that! Scoring music yang mendayu-dayu itu tak hanya gagal membangun suasana tetapi membosankan karena terlalu banyak repetisi nyaris di setiap adegan Kobori dan Angsumalin berhadap-hadapan.

Kecanggungan akting Nadech setidaknya tertutupi oleh sosok Kobori yang atraktif dan simpatik. Seiring film berjalan, bahasa Thai nya yang semula patah-patah menjadi semakin lancar. Kepolosan Angsumalin tak mampu menyelamatkan kakunya penjiwaan Oranate. Ia tampak seperti gadis cilik yang sering merajuk ketimbang wanita muda yang dewasa. Chemistry keduanya pun kurang padu, diperburuk dengan dialog one liners yang cheesy. Ambil contoh saat malam dimana Kobori mabuk dan ingin bercinta dengan istrinya. Mereka bagaikan tengah bermain kucing tikus di dalam kamar selama hampir sepuluh menit! 

Sunset at Chao Phraya versi terbaru ini awalnya berhasil membangun ekspektasi yang cukup tinggi, setidaknya terlihat menarik di poster dan trailernya. Namun faktanya tidak pada isinya yang membuat saya berkali-kali ingin walkout sejak memasuki pertengahan durasi. Jika sebagian besar review dari media dan moviegoers Thailand saja sudah demikian negatif karena ketidak akuratan dengan sejarahnya maka sulit mengharapkan respon bagus dari peredaran di negara Asia lainnya. Pada akhirnya proyek ambisius yang menghabiskan biaya 35 juta baht ini kelihatannya akan sia-sia belaka. Painful to watch nor wait until it’s really finished!

Durasi:
127
menit

Asian Box Office:
26.5 juta baht in first week in Thailand

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 06 April 2013

PEE MAK : Fun Peek-A-Boo For The Nak-ed Truth


Quote:
Nak: Jika suatu saat aku mati. Dapatkah kau tetap hidup?
Mak: Aku tak dapat hidup tanpamu.


Nice-to-know:
Mencatatkan diri sebagai film Thailand kedua sepanjang masa yang menjadi pengumpul uang terbanyak di hari pertama rilisnya dengan total 21 juta baht di bawah Ong Bak (2003).

Cast:
Mario Maurer
sebagai Mak
Davika Hoorne sebagai Nak
Nattapong Chartpong sebagai Ter
Pongsatorn Jongwilak sebagai Puak
Wiwat Kongrasri sebagai Shin
Kantapat Permpoonpatcharasuk sebagai
Aey

Director:
Merupakan f
eature film keempat bagi Banjong Pisanthanakun setelah terakhir Kuan Meun Ho alias Hello Stranger (2010).

W For Words:
Tiga faktor yang menjadi jaminan kesuksesan besar film ini adalah Mario Maurer, GTH dan legenda urban klasik Nang Nak di Phra Kanong yang sudah demikian melegenda di kalangan masyarakat Thailand. Bagaimana dengan pasar internasional? Rasanya masih dapat berbicara banyak mengingat sutradara Banjong Pisanthanakun telah berhasil menelurkan film-film box office sebelumnya sebut saja dwilogi Phobia (2008-2009) di antaranya yang turut menjadi landasan daya tarik film yang turut menghadirkan Mario di acara meet and greet yang diadakan oleh Blitzmegaplex pada tanggal 7 April 2013 ini.

Tentara Mak yang terluka di medan perang berhasil diselamatkan keempat sahabatnya yang kemudian menyertainya pulang ke kampung halaman Phra Kanong. Di sanalah istri setia Nak telah menunggunya bersama putra mereka yang masih bayi bernama Dang. Rumor berhembus di antara warga desa bahwa sesungguhnya Nak telah meninggal beberapa waktu lalu. Ter, Puak, Shin dan Aey yang mempercayainya segera mencari cara untuk memberitahu Mak tanpa sepengetahuan Nak. Siapa yang hantu dan siapa yang manusia pada akhirnya?

Skrip yang dikerjakan oleh Banjong bersama Chantavit Dhanasevi dan Nontra Khumvong ini masih berpakem pada komedi horor andalan mereka. Nama Ter, Puak, Shin dan Aey sebagai sidekicks bahkan dipertahankan lengkap dengan karakteristik masing-masing. Tokoh Mak pun lebih ditonjolkan ketimbang Nak demi memberikan perspektif yang berbeda. Seperti biasa twist-ending dipersiapkan untuk menipu penonton. Berhasil? Mungkin. Yang jelas perubahan seratus delapan puluh derajat yang terjadi di akhir memang cukup mencengangkan sambil tetap berpegang pada kisah cinta itu sendiri.

Jangan salahkan alasan pemilihan Mario dan debutan Davika yang wajahnya terlihat lebih barat dalam memerankan tokoh pasutri asli Thai karena keduanya terbilang sukses membangun chemistry Mak dan Nak yang awkward sekaligus manis. Jangan ragukan penampilan kuartet “setia kawan” Nattapong, Pongsaton, Wiwat dan Kantapat yang tetap mencuri perhatian kapanpun mereka muncul. Lupakan sejenak penyajian beberapa joke seputar tokoh/film asing yang bisa dibilang tidak relevan dengan jaman kesemua tokoh tersebut hidup mengingat kesempatan lain anda tertawa melihat keempatnya masih amat lebar.
Setting lokasi hutan dan sungai yang terdapat dalam segmen “In The Middle” – 4BIA (2008) kembali digunakan sutradara Banjong sebagai panggung bercerita di samping gubuk tua Mae Nak yang terlihat rapuh tersebut. Durasi keseluruhan yang nyaris dua jam itu seharusnya dipangkas lebih singkat mengingat baru sejam pertama saja sudah merangkum semua situasi dan kondisi yang dialami keenam tokoh utamanya. Trailernya yang diluncurkan sejak bulan lalu sudah berbicara ‘terlampau’ banyak sehingga unsur kejutannya menjadi berkurang.

Tak diragukan lagi, Pee Mak merupakan ‘peremajaan’ yang kreatif dari judul-judul tersebut di atas, bukan remake, bukan sepenuhnya orisinil. Dengan demikian tujuan akhir filmmaker untuk merangkul penonton dewasa dan remaja sekaligus dapat tercapai. Cerdas bukan? Secara pribadi saya memang menyukainya sebagai tontonan menghibur walau tidak sampai menganggapnya spesial. Bagaimanapun juga memanusiakan hantu tetaplah sebuah konsep yang sulit diterima nalar, tak peduli apapun alasan di baliknya. Well, at least it makes you keep guessing for the real Nak-ed truth.

Durasi:
115 menit

U.S Box Office:
21.700.000 baht in opening day Maret 2013 in Thailand

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
  

Jumat, 08 Maret 2013

CRAZY CRYING LADY : Inexplicably Crazy You May Cry


Quotes: 
“Heartbreaks for a day, Remember it for the rest of one's life”

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh M-Thirtynine Pictures ini telah edar di Thailand pada tanggal 27 Desember 2012 yang lalu.

Cast:
Araya A. Hargate
sebagai Ho
Akom Preedakul sebagai Kom Chaunchuen
Jaroenporn Ornlamai sebagai Nava/Nana
Teeradate Methavorrayuth sebagai Doc
Ray MacDonald sebagai Boyd

Director:
Merupakan f
ilm ketujuh bagi Rerkchai Paungpetch setelah terakhir Valentine Sweety (2012).

W For Words:
Mayoritas film Thailand yang beredar di bioskop Indonesia (sebagian besar lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex) tidak pernah mengecewakan saya. Selama ini yang dianggap agak lemah adalah Lulla Man (2011) dan Teenage Love (2012). Nyatanya dua judul tersebut belum mampu menandingi kekurangan film yang berjudul asli Khun Nai Ho ini  Padahal Araya merupakan artis cantik bintang Lux di sana yang ketenarannya tak perlu diragukan lagi. Malangnya ia harus terbiasa mengenakan wig di sepanjang film untuk terlihat lucu? Well, i don’t think it works at all.

Sejak kecil impian Ho sederhana, ia ingin mempunyai bayi sebelum mengetahui ibu dan kakak perempuannya tewas dalam kecelakaan mobil. 20 tahun kemudian, Ho masih tinggal bersama ayahnya Kapten Burapha yang terobsesi kembali ke medan pertempuran dan adik lelakinya Nava yang lebih senang berdandan seperti perempuan. Tiba pada satu ketika dimana rahim Ho akan segera berhenti berfungsi menurut diagnosa dokter Doc yang juga teman kecilnya. Ia lantas bertekad mengandung sesegera mungkin dengan bantuan kekasihnya Boyd.

Paras Araya memang cantik dan kemampuannya untuk terus menangis dalam puluhan ekspresi dari awal sampai akhir pantas diacungi jempol. Namun tokoh Ho tetap belum mampu mendapatkan simpati dari penonton meski nasibnya digambarkan malang sedari kecil. Kesedihan yang bertubi-tubi dialaminya malah terasa berlebihan hingga pada satu titik saya nyaris berteriak “CUKUP!”. Sosoknya juga tidak diperlihatkan bekerja atau setidaknya melakukan sesuatu yang berguna selain mengejar cinta lelaki demi desperasi pembuahan rahim? Oh my Godness!

Di luar Ho, tokoh-tokoh dalam film ini tak kalah mengganggunya. Akom terlihat menggelikan sebagai ayah irrasional karena statusnya sebagai pensiunan militer yang pernah kehilangan rekannya sendiri. Jaroenporn terlihat mengerikan sebagai Nava lengkap dengan implan dada palsu dan kostum semi baletnya yang merusak mata tersebut. Lelucon ala gay/transeksual berulang kali disuguhkan tanpa batasan yang jelas. Satu-satunya yang agak menghibur dari keduanya adalah kemampuan menyamar Kom dan keahlian presentasi Nana dalam video Youtube nya.

Desain produksi memang dibuat memanjakan mata lewat tampilan kostum warna-warni demi memberi penekanan pada penonton bahwa ini adalah komedi slapstick. Sayangnya kinerja sutradara Paungpetch malah kian mengesankan serial televisi dari babak ke babak. Apalagi setting lokasi dalam kota yang demikian terbatas sehingga terbilang gagal menyajikan value yang berarti. Sound efek dari keyboard elektronik semakin memperparah keadaan. Alih-alih lucu memancing tawa, saya malah menganggapnya norak. Nyaris tak ada dialog yang memorable untuk memperkuat konflik yang ada.

Crazy Crying Lady adalah sebuah siksaan dua jam bagi siapapun yang menyaksikannya. Apabila tiap karakter dalam sebuah film gagal menjalin koneksi dengan penonton maka tidak ada lagi yang tersisa. Anda selalu memiliki opsi untuk walkout jika demikian adanya. Mereka semua tidak terkesan ‘manusia’, tidak lucu, juga tidak romantis. Semua plot yang tercerai berai sejak menit awal pada akhirnya berupaya diikat dengan tidak rapi di penghujung kisah. Terlambat sudah! I didn’t get any point in the end. Maybe Thai audiences have different opinions for some inexplicable reasons.

Durasi:
11
5 menit

Asian Box Office:
80,000,000 baht till Feb 2013 in Thailand

Overall:
No rating

Rabu, 09 Januari 2013

COUNTDOWN : Not Your Average Thai Thriller With Message

Tagline:
Are you ready to be horrified?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh GTH ini rilis di Thailand pada tanggal 20 Desember 2012 yang lalu.

Cast: 
Jarinporn Junkiet sebagai Bee
Patchara Chirathivat sebagai Jack
Pataraya Kreusuwansiri sebagai Pam
David Asavanond sebagai Jesus


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Nattawut Poonpiriya.

W For Words:
Apa yang biasanya anda lakukan di malam pergantian tahun? Rasanya kebanyakan akan menjawab berkumpul dengan teman-teman entah itu beramai-ramai di tengah kerumunan atau private di properti pribadi. Nah, film terbaru keluaran production house GTH yang selalu dapat mempertanggungjawabkan kualitas film-filmnya ini mengambil premis tersebut yang diramu dalam bumbu thriller. Trailernya sendiri sudah berhasil mencuri perhatian semenjak beberapa bulan lalu. Publik Indonesia dapat menikmatinya di bulan Januari 2013 mendatang lewat jaringan bioskop terbatas Blitzmegaplex.

Jack adalah putra konglomerat yang sebetulnya cukup beruntung bisa mendapat kesempatan bersekolah di New York. Sayangnya ia tak kunjung diterima universitas manapun karena sibuk berpesta. Sama halnya dengan Pam yang kerap menghabiskan uang ibunya untuk berbelanja pakaian demi mendapatkan teman kencan. Menjelang pergantian tahun 2013, Pam, Jack dan kekasihnya Bee mengundang bandar narkoba bernama Jesus ke apartemen mereka untuk madat bersama. Inilah awal mimpi buruk dimana nyawa masing-masing menjadi taruhannya.

Nattawut Poonpiriya yang menulis skrip dan menyutradarainya sendiri berupaya memanfaatkan elemen klastrofobik apartemen untuk membangun teror. Bagaimana ruang utama disiapkan menjadi “panggung bermain” sambil sesekali merambah kamar mandi dan kamar tidur. Tidak lupa pemandangan luar jendela Big Apple memberi penegasan bahwa settingnya berlangsung di New York. Tokohnya pun cuma 4-5 orang sehingga proses pengembangan karakterisasi sangat mungkin dilakukan terlepas dari durasinya yang tidak terlalu panjang.

Patut diakui, David Asavanond paling memukau disini lewat peran Jesus (baca: Hay-Seuss yang bisa dipelesetkan menjadi genius). Gaya hipster dengan jenggot, rambut panjang dan jaket kulit berbulunya akan melekat dalam pikiran anda sebagai antagonis “disturbing”. Trio Patchara, Jarinporn, Pataraya seharusnya menjadi karakter favorit sejak menit pertama kemunculannya. Namun seiring film bergulir, persepsi anda bisa jadi akan berubah. Permainan cat and mouse antara mereka merupakan highlight yang cukup menarik disini.
Jika anda menginginkan suguhan gory thriller layaknya Dream Home (2011) atau judul-judul Asia lainnya mungkin akan kecewa. Unsur kekerasan dan darah masih tergolong “aman”. Bisa jadi karena produksi terbaru GTH ini mengejar rating Remaja demi segmentasi pasar yang lebih luas. Setidaknya Countdown menyuguhkan alternatif tontonan dari sudut pandang yang berbeda. Tanpa bermaksud spoiler, ajaran Buddhist sangat kental dimana hukum karma dan sebab akibat berlaku sepanjang hidup seseorang. Sebuah gagasan yang belum tentu bisa diterima oleh semua orang apalagi jika dikawinkan ke dalam genre semacam ini.

Durasi:
90 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 20 November 2012

MY NAME IS LOVE : Sweet and Sour Cupid Love Stories


Quote: 
Que: Mengapa dewa cinta tidak memiliki keajaiban?
Uncle Tom: Sebab cinta sudah merupakan keajaiban itu sendiri?


Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh M Pictures dan Independent Film ini sudah rilis di Thailand pada tanggal 11 Oktober 2012 yang lalu. 

Cast: 

Arak Amornsupasiri sebagai Que
Thanyasupang Jirapreechanon sebagai Ger
Jas Chuanchuen sebagai Odd
Kom Chuanchuen sebagai Uncle Tom
Pongpicth Preechabarisuthkul sebagai Jo
Jiraprapha Marayart sebagai Mew


Director: 

Wasin Pokpon sebelumnya menangani A Crazy Little Thing Called Love (2010).

W For Words: 
Mencintai dan dicintai jelas merupakan hak semua orang di dunia tanpa kecuali. Namun sayangnya tidak semua dapat saling berbalas. Untuk itu mungkin dibutuhkan dewa cinta alias cupid untuk membantu. Kira-kira begitulah premis komedi romantis terbaru Thailand ini yang lahir dari tangan dingin Wasin Pokpon yang sebelumnya sukses luar biasa mengarahkan Mario Maurer dan Pimchanok Leuwisetpaiboon. Temanya mungkin familiar dengan judul-judul lawas (maafkan kemalasan saya berpikir) tetapi tentunya sudah disesuaikan dengan kekhasan budaya lokal yang ada.

Siswa populer Que dengan kejam menolak cinta siswi gemuk berkacamata tebal Ger. Roda nasib berputar, Ger tumbuh dewasa menjadi gadis cantik sedangkan Que menjadi pecundang yang bekerja pada Big yang sewaktu kecil sering dikerjainya. Meski demikian, Que tak pantang menyerah mengusir setiap pria yang berusaha mendekati Ger. Suatu ketika, situs MyNameIsLove.com mengubah Que menjadi cupid yang bertugas mempersatukan dua orang yang tengah kasmaran. Ia tak boleh mengatakan apapun mengenai hal itu sampai menunaikan misinya tepat waktu. 

Saya bersyukur bahwa elemen komedi dan drama berjalan seimbang di skrip ini. Sempilan adegan masa lalu mampu menjadi pondasi bercerita yang lumayan kuat dimana hukum karma seakan diberlakukan. Banyaknya karakter hilir mudik memang tidak mendapatkan cukup waktu untuk berkembang tapi mengingat ini adalah multi tugas cupid yang bukan hanya seorang tapi beberapa orang jelas hal itu bisa dimaklumi. Tak lupa bumbu humor slapstick yang tercetus dari dialog ataupun bahasa tubuh turut mengiringi dimana sebagian besar di antaranya berhasil mengundang tawa riuh.

Wasin sebagai sutradara belum kehilangan sentuhan magisnya dalam menyajikan romantika yang manis dan menyejukkan hati. Ujaran “Oh..” atau “Wow..” mungkin secara spontan akan meluncur dari bibir anda menyaksikan adegan-adegan unyu tak terduga. Durasi yang panjang memang agaknya berpengaruh terhadap tempo film. Beruntung hal tersebut dimanfaatkannya untuk bereksplorasi, merangkai plot dan subplot untuk dapat bersinergi dengan utuh dalam membangun konflik persuasif. Sederetan lokasi syuting yang variatif menjadikan feel nya dinamis.

Terus terang, saya tidak pernah suka Arak terlibat dalam komedi romantis. Namun kali ini ia sukses menampilkan sosok Que yang clueless, desperate tapi pantang menyerah sehingga anda akan tersenyum sekaligus terharu melihat perjuangannya menemukan arti hidup dan mengejar gadis impiannya. Thanyasupang pada dasarnya tidak melakukan apa-apa selain menokohkan Ger yang cantik, lembut nan berbakat. Paling mencuri perhatian adalah Jas dan Kom yang amat karikatural sebagai Odd dan Tom yang bertolakbelakang. Lain lagi dengan Pongpicth dan Jiraprapha sebagai pasangan on-off Jo dan Mew.

Keunggulan My Name Is Love ada pada timing sehingga kebetulan-kebetulannya terasa believable. Takaran rasa di tiap scene nya terbilang pas, tidak berlebihan. Unsur itulah yang membuat anda bisa memaafkan sebagian minus yang terkandung di dalamnya. Lagi-lagi sebuah suguhan fresh dari tema yang sebenarnya telah usang dari negeri gajah putih mengenai kiprah dewa cinta di muka bumi dan proses pencarian belahan hati itu sendiri. Film berjudul asli Kao Riak Pom Wa Kam Rak ini dapat dinikmati semua kalangan umur layaknya cinta yang bersifat universal dan selalu ada dalam diri kita masing-masing.

Durasi: 
129 menit 

Asian Box Office: 
$600,000 in Thailand till Nov 2012 

Overall: 

7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 26 September 2012

THE MELODY : Another Predictable Tearjerker Romance


Quotes: 
Mok: Facing death is probably easier than fighting for love.

Nice-to-know: 
Film berjudul asli Rak Tam Nong Nee ini mengalami penundaan rilis di Thailand karena banjir yang melanda akhir tahun 2011 lalu.

Cast: 
Pariyachat Limthammahesorn sebagai Mok
Worawej Danuwong sebagai Wind


Director: 

Merupakan debut Tossapol Srisukontarat yang lebih dikenal sebagai produser televisi senior.





W For Words:
Produksi TAT ini jelas memanfaatkan momen hari kasih sayang untuk menjaring penonton berpasangan datang ke bioskop di negeri gajah putih pada waktu itu. Berselang 6 bulan kemudian baru dapat dinikmati penonton Indonesia. Premisnya sederhana dan sudah ribuan kali diangkat sebelumnya lewat melodrama Korea ataupun produksi Hollywood, salah satunya adalah A Walk To Remember (2002). Ya, seorang pemuda yang tengah mencari jati diri hingga bertemu seorang gadis yang disukainya yang ternyata mengidap penyakit mematikan. You can bet, it’s another tearjerker!
 
Karir penulis lagu dan penyanyi kondang, Wind tengah berada di jalan terjal ketika single terbarunya hanya menduduki posisi 19 di tangga lagu. Kekecewaannya dilampiaskan dengan kemarahan terhadap timnya yang berpikir untuk mencari penggantinya. Wind melarikan diri ke Mae Hong Sorn dan berjumpa Mok,  pianis cantik yang kemudian menjadi inspirasinya untuk berubah sekaligus menciptakan lagu baru. Namun kebahagiaan berlangsung singkat, Mok yang berjuang melawan leukemia harus melewatkan konser amal Wind yang sukses mengangkat namanya kembali.

Pariyachat dan Worawej memang tidak bermain buruk tapi akting mereka tidak spesial. Nilai plus ada pada faktor wajah keduanya yang tergolong enak dilihat, setidaknya mampu menghidupkan chemistry yang manis. Sebetulnya peran Wind sendiri cukup menantang dimana terjadi pergeseran karakter dari awal hingga akhir film tapi sayangnya titik baliknya terlalu cepat, hanya 30 menit setelah kemunculan anak-anak penderita leukemia. Ketertarikan Mok kepada Wind juga terbilang instan setelah keduanya baru saling mengenal dalam hitungan jam.

Sutradara Srisukontarat sukses menghadirkan production value yang memikat, terutama sinematografi panoramik Thailand Utara yang sangat indah dengan bukit bunga Doi Mae Ou Khor atau danau Pang Ung tersebut. Dukungan tata suara dan musik juga berupaya menyentuh sanubari penonton dengan lirik jujur nan menyentuh dalam dentingan piano. Sayangnya editing yang kurang mulus terkadang membuat peradeganan terasa berlompatan meski bisa jadi disengaja demi menyiasati tempo film yang berjalan cukup lambat itu.

Skrip film seakan dikerjakan mulai dari bagian akhir sebelum ditarik melebar sampai prolog lewat serangkaian proses klise. Itulah sebabnya The Melody amatlah predictable, lengkap dengan romantic dan heartfelt scenes yang dirancang untuk membuat anda tersenyum sekaligus menitikkan air mata di lain kesempatan melihat perkembangan asmara kedua tokoh utamanya. If you love Thai movies or sad ones as well, this is still worth to watch. Prepare some tissue first just in case you and your girlfriend can’t keep those tears falling down your face!

Durasi: 
90 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 11 Agustus 2012

SEVEN SOMETHING : Another Beautiful Love Stories In Real Life


Quotes:
“Pelari hanya fokus pada apa yang ada 7 kaki di depannya dan terus berlari.”

14Pawin “Golf” Phurijitpanya (43 menit)
Dua remaja 14 tahun menjalin kasih.  Puan memiliki keterampilan menggunakan kamera dimana Milk selalu menjadi obyeknya di setiap kesempatan. Awalnya mereka sepakat semua video yang direkam hanya demi kepentingan pribadi. Namun Puan melanggar janji dengan mengunggahnya ke Youtube dan Facebook sehingga menimbulkan reaksi dari publik. Mudah diduga, Milk marah besar dan mengancam untuk putus.

21/28Adisorn “Ping” Treekasem (45 menit)
Meraih kesuksesan di usia 21 tahun setelah membintangi film romantis Sea You, pasangan Jon dan Mam justru menemui banyak hambatan sehingga memutuskan berpisah. 7 tahun kemudian, Mam yang ketenarannya mulai meredup kembali mendatangi Jon yang sudah menyepi dengan bekerja sebagai penyelam di Siam Sea World untuk kembali ke dunia akting lewat sekuel Sea You Again. Jon menolak karena tidak menyukai dunia yang pernah digelutinya itu tapi tidak tega menyakiti perasaan Mam.

42.195 - Jira “Keng” Malikul (57 menit)
Wanita pembaca berita televisi tengah berupaya bangkit dari kesedihan setelah suaminya tewas dalam kecelakaan pesawat. Saat berikrar untuk tidak menikah lagi, ia malah bertemu seorang pria muda misterius yang mendorongnya untuk berpartisipasi dalam perlombaan lari marathon demi perubahan hidup yang positif.
Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Rak Jet Pee Dee Jet Hon yang berarti 7 years of love 7 year of good ini rilis di Thailand pada tanggal 26 Juli 2012.

Cast:
Cris Horwang sebagai Mam
Jirayu La-ongmanee sebagai Puan
Nichkhun Horvejkul sebagai pria muda
Sunny Suwanmethanont sebagai Jon
Suquan Bulakul sebagai wanita pembaca berita
Suthatta Udomsilp sebagai Milk

W For Words:
Harus diakui saya sangat salut (sekaligus iri) dengan konsistensi GTH yang merupakan gabungan GMM Pictures, Tai Entertainment dan Hub Ho Hin dalam memproduksi film-film Thailand berkualitas dengan berbagai genre tanpa harus kehilangan kreatifitas. Entah kapan Indonesia mampu mengikuti jejak serupa, setidaknya memiliki satu rumah produksi yang memiliki visi dan misi serupa. Kini 7 tahun sejak GTH resmi dibentuk, mereka meluncurkan omnibus terbarunya yang mengusung semangat romantisme. Bukankah cikal bakal genre ini sudah terlihat lewat produksi pertama, Fan Chan (2003) yang sudah menjadi cult tersebut.

“14” jelas ditujukan bagi segmentasi remaja menilik usia belia dua tokoh utamanya. Phurijitpanya dengan cerdas mengambil kondisi relevan yang terjadi di belahan dunia manapun dimana kebiasaan mengupload aktifitas pribadi ke internet melalui sosial media kerapkali berlebihan. Anda bisa menjadi pelaku atau korban sekaligus dimana privasi lah yang dipertaruhkan. Namun kebodohan yang dilakukan La-ongmanee jelas untuk ditertawakan meski tidak sampai menyebalkan. He’s just a kid anyway. Satu yang pasti, exposure terhadap Udomsilp amatlah memanjakan mata. Who’s not agree?
 
“21/28” mengajak anda back and forth mengenal sosok Jon dan Mam. Treekasem memberikan kunci untuk mengetahui perbedaan masa ada pada warna rambut Mam dan bentuk tubuh Jon. Kolaborasi cinta dan benci yang sering melandasi suatu hubungan asmara. Mungkinkah kesempatan kedua itu ada walau segala sesuatunya tak lagi memungkinkan? Lihat bagaimana memikatnya Cris dan Sunny berakting “ganda” sebagai pasangan, dalam film dan kehidupan nyata sekaligus yang pada akhirnya akan mencengangkan penonton karena realita yang tersimpan di baliknya.

“42.195” mengajarkan anda bangkit dari keterpurukan yang tiada berujung. Memang bukan suatu usaha yang mudah tetapi harus dimulai dengan kata “mencoba”. Yang menarik adalah Malikul menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam bercerita. Lari marathon itu sendiri seakan menjadi sebuah metafora yang kuat mendeduksi seseorang untuk maju atau mundur. Nickhun yang telaten mengingatkan tujuan langkah ke depan, Bulakul yang dilematis dalam memilih setia dengan janji atau melanjutkan hidup. Perbedaan usia yang terpaut jauh di antara mereka tak menyurutkan jalinan chemistry unik nan menarik. I guess 42 is the new 24. Stay forever young in our hearts is a must!
 
Jika harus menyebutkan most to least favorit saya maka didapatlah angka 2-1-3. Sedikit kelemahan yang kentara adalah durasinya yang kelewat panjang sehingga agak membosankan bagi penonton praktis. Namun para filmmaker Thailand ini seperti biasa memilih bekerja dengan detail, meminimalisir transfer emosi yang terkesan terburu-buru demi mendapatkan keterikatan rasa yang kuat dengan penonton. Penata suara dan musik juga menjalankan tugasnya dengan baik dalam menjaga mood film tanpa dramatisir yang berlebihan.

Menikmati Seven Something memang memerlukan hati dan kesabaran karena sesungguhnya tak sulit memprediksi kemana arah berjalan di tiap segmennya. Tak ada kejutan atau benang merah yang signifikan dari tiga cerita yang disampaikan. Jangan lupa untuk mencermati layar bioskop karena anda akan menemukan wajah-wajah familiar dari film-film produksi GTH selama 7 tahun terakhir tampil sebagai cameo disini. Pay one for three and you might get something beautiful because these are lovely love stories that real!

Durasi:
145 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent