XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label reza rahadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reza rahadian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

PENDEKAR TONGKAT EMAS : Saksi Tak Hidup Dari Aksi Balas Dendam

Quote:
Cempaka: Aku tidak takut mati. Namun tidak ada ilmu silat yang membuat seseorang hidup selamanya dan terhindar dari kematian.

Nice-to-know:
Xiong Xin Xin alias Hung Yan-yan adalah pesilat, aktor, stuntman, dan sutradara laga kelahiran Hong Kong, 25 Februari 1965. 

Cast:
Eva Celia sebagai Dara
Nicholas Saputra sebagai Elang
Reza Rahadian sebagai Biru
Tara Basro sebagai Gerhana
Christine Hakim sebagai Cempaka
Aria Kusumah sebagai Angin
Slamet Rahardjo sebagai Dewan Tertinggi
Whani Dharmawan sebagai Sayap Merah
Darius Sinathrya sebagai Naga Putih
Prisia Nasution sebagai Cempaka muda
Landung Simatupang sebagai Guru Sepuh


Director:
Merupakan film ke-15 bagi Ifa Isfansyah setelah 9 Summers 10 Autumns (2013).

W For Words:
Komik silat Indonesia pernah mencapai puncak kejayaan di era tahun 70an hingga 80an. Termasuk beberapa di antaranya sukses diadaptasi ke layar lebar seperti Si Ayub Dari Teluk Naga (1979), Jaka Sembung (1981), Pendekar Bukit Tengkorak (1987), trilogy Angling Darma, Wiro Sableng ataupun Saur Sepuh. Produser handal kenamaan Mira Lesmana sudah memiliki cita-cita untuk membangkitkan kembali genre yang satu ini semenjak delapan tahun yang lalu sebelum akhirnya mendapat dukungan penuh dari KG Studio di tahun 2012. Perjalanan Pendekar Tongkat Emas pun dimulai!

Pendekar yang disegani dan dihormati, Cempaka mulai menua. Pada suatu hari ia memanggil keempat anak didiknya yaitu Biru, Gerhana, Dara dan Angin untuk mewarisi Tongkat Emas. Sayangnya pembunuhan dan pengkhianatan terjadi hingga mahasenjata itu menjadi incaran banyak pihak. Satu-satunya yang menguasai jurus handal tersebut adalah Naga Putih yang telah lama menghilang. Dua murid Cempaka yang tersisa pun bertekad menemukannya sebelum dunia persilatan menjadi kacau karena dikuasai orang-orang yang salah.

Skenario yang ditulis oleh Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah dan Seno Gumira Ajidarma ini seperti komiknya memang lebih menitikberatkan pada ‘drama’ yang terjadi di antara para karakternya. Bagaimana luapan ekspresi dan kecamuk emosi kerap membingkai setiap tindakan yang ada. Garis batas abu-abu yang memisahkan benar dan salah pun terkadang bias karena kepentingan yang mendasarinya. Sejak awal, anda langsung digiring untuk mengenal karakteristik empat murid Cempaka sebelum mencerna konflik utama yang digulirkan secara sederhana ini.

Kapabilitas Ifa yang meraih Piala Citra melalui Sang Penari (2011) di kursi sutradara memang tak perlu diragukan lagi. Setting dunia persilatan berhasil dibangun di Sumba terlepas dari kendala cuaca dan keterbatasan sumber daya. Pegunungan, perbukitan, lembah, danau, lautan di bawah hamparan langit biru dan sinar matahari yang kuat turut memperkaya unsur sinematiknya yang diambil menggunakan kamera Red Dragon. Dukungan penata laga pro dari Hongkong, Xiong Xin Xin kian menghidupkan setiap adegan tarung secara meyakinkan mulai dari menit pertama hingga terakhir.

Dua aktor ‘beda generasi’ beradu akting untuk pertama kalinya di layar lebar, Nicholas Saputra dan Reza Rahadian memang terpaut satu dekade dalam mencapai masa keemasannya. Tokoh Biru dan Elang yang kontradiktif mampu dihidupkan secara cemerlang. Eva Celia dan Tara Basro pun tak kalah memikat sebagai Dara dan Gerhana. Penampilan si cilik Aria Kusumah berhasil mencuri perhatian. Aktris senior Christine Hakim membuka film dengan narasi yang begitu meyakinkan. Dua aktor kawakan, Slamet Rahardjo dan Landung Simatupang juga menambah solid jajaran cast nan variatif ini.
Perjuangan tim filmmaker selama proses produksi lebih dari 2 tahun dengan biaya yang mencapai 25 milyar telah terbayar lunas. Perjuangan para pendekar untuk menjaga harkat, martabat dan harga dirinya sekaligus menegakkan kebenaran dan keadilan sudah tersaji sebagai tontonan yang cukup ‘berisi’ selama nyaris dua jam. Pada akhirnya Tongkat Emas hanyalah simbolisasi saksi tak hidup dari sebuah perwujudan aksi balas dendam terhadap obsesi yang harus dituntaskan. Mengalahkan atau dikalahkan, begitulah takdir pendekar.

Durasi:
112
menit

Overall:
8 out of 10

Kamis, 20 Desember 2012

HABIBIE & AINUN : Teladan Cinta Perjalanan Hidup Habibie


Quote:
Ainun: Kalau aku harus mengulangi hidup lagi, aku tetap akan memilih kamu.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh MD Pictures ini gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI dan Plaza Senayan XXI pada tanggal 18-19 Desember 2012.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Habibie
Bunga Citra Lestari sebagai Ainun
Tio Pakusadewo sebagai HM Soeharto
Ratna Riantiarno
Mike Lucock sebagai Ilham Akbar
Vita Mariana Barrazza
Bayu Oktora sebagai Fanny Habibie
Teuku Rifnu Wikana
Hanung Bramantyo
sebagai Sumohadi

Director:
Faozan Rizal lebih dikenal sebagai sinematografer film yang mengawali kiprahnya melalui Dapur Film.

W For Words:
Surat terakhir Bacharuddin Jusuf Habibie untuk Alm. Hasri Ainun Habibie:
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
M
ana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
K
au dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
s
elamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan, calon bidadari surgaku ….
BJ.HABIBIE

Masyarakat Indonesia mengenal Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai pemegang rekor Presiden dan Wakil Presiden tersingkat sepanjang masa masing-masing 1 tahun 5 bulan dan 2 bulan 7 hari. Terlepas dari pro kontra selama masa jabatannya, ia adalah sosok yang dikagumi kecerdasan dan inisiatif tingginya. MD Pictures mengangkat sekelumit babak hidupnya dalam film berbujet besar yang beredar di akhir tahun. Sesuai judulnya, Habibie tidak sendiri. Istrinya (almh) Ainun juga mendapat perhatian. Bukan rahasia lagi jika kisah percintaan keduanya dianggap dekat dengan kesempurnaan. Simak saja surat terakhir BJ Habibie untuk Hasri Ainun paska ditinggalkan istrinya yang sedikit banyak menggambarkan semuanya.

Rudy Habibie seringkali mengejek Hasri Ainun semasa remajanya. Rudy melanjutkan studi teknik mesin di Dago ke teknik penerbangan di Jerman dimana ia belajar merakit pesawat. Sepulangnya ke Indonesia, Habibie bertemu kembali dengan Ainun dan jatuh cinta. Tak butuh lama untuk meminang dan memboyong Ainun ke Jerman, Habibie berjuang mengejar impiannya untuk memajukan IPTN. Panggilan pulang ke tanah air dari Presiden Soeharto kian mengukuhkan kredibilitasnya. Sementara itu kanker ovarium yang diderita Ainun semakin menggerogoti kesehatannya. Perjalanan cinta mereka pun diuji.

Skrip yang ditulis oleh Gina S. Noer dan Ifan Adriansyah Ismail ini memang lebih menitikberatkan pada romantisme dua tokoh negara tersebut. Saya merasakan detail perkenalan selama seperempat durasi awal yang manis di awal percintaan Rudy dan Hasri. Setelah itu dua perempat film memperlihatkan sepak terjang Habibie sebagai Menteri, Wakil Presiden hingga Presiden. Sayangnya proses pergulatan batin dan tanggungjawab besar terhadap negara tersebut tidak mendapat eksploitasi yang memadai. Seperempat terakhir kembali pada melodrama babak terakhir percintaan mereka yang ditutup setelah 48 tahun 10 hari. 

Sutradara Faozan Rizal memang masih berpijak pada tuntunan “guru” nya sehingga kesan Hanung Bramantyo masih kuat disini. Penata kamera
Ipung Rachmat berhasil merekam sinematografi cantik di berbagai lokasi variatif Jakarta, Bandung hingga kota-kota di Jerman. Departemen artistik pantas mendapat apresiasi karena usahanya menghadirkan pernak-pernik sesuai jamannya meski sedikit tercoreng dengan penempatan produk sponsor yang terlampau berani. Tata rias seharusnya bisa lebih “bekerja” dengan memantapkan penampilan Reza dan BCL melewati rentang waktu yang cukup panjang, semisal penambahan keriput, uban dsb. Beruntung setidaknya tata kostum menutupi kekurangan itu dengan baik.

Siapa yang meragukan akting seorang Reza Rahadian? Impersonifikasi yang dilakukannya terhadap sosok Habibie benar-benar mirip asli. Lihat caranya mengubah aksen, berjalan hingga sederetan bahasa tubuh lainnya. Aktor yang baik akan terus berusaha, terlebih tantangan besar keterlibatan sebuah proyek semibiografi macam ini. Bunga Citra Lestari berupaya semaksimal mungkin mengimbangi Reza. Keseharian Ainun yang tidak terlalu dikenal publik membuatnya sedikit leluasa berimprovisasi. Hasilnya adalah sosok Ainun yang elegan dan simpatik terlepas dari presentasi akting yang tak jauh berbeda dari film-film BCL sebelumnya.

Tata musik dari Tya Satrio melengkapi kepiawaian Melly Goeslaw merangkai lirik lagu “Cinta Sejati”. Keputusan yang tepat untuk tidak menyanyikannya sendiri sebagaimana biasanya. Lantunan vokal merdu nan lembut BCL terbukti efektif menciptakan nuansa sendu yang diharapkan. Saya acungi jempol pada insersi video montage yang menampilkan Soeharto dan Habibie asli di pertengahan dan akhir film. Setidaknya kita diingatkan akan dua tokoh legendaris yang pernah dimiliki bangsa Indonesia, hingga tak kuasa menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk.

Habibie & Ainun sesungguhnya bisa menjadi film yang sempurna andaikata pengembangan karakter di luar Reza dan BCL dapat diberi ruang lebih plus referensi peristiwa bersejarah yang lebih kuat pengaruhnya terhadap Habibie sendiri. Sekali lagi saya ingatkan, ini adalah perjalanan panjang sebuah kisah cinta sepasang insan yang tak lekang oleh waktu terlepas dari keadaan dan ketiadaan di muka bumi. Bagi Habibie, Ainun adalah inspirasi yang melengkapi setiap pencapaian dalam hidupnya. Teladan yang pantas ditiru oleh pasangan manapun juga dalam upaya melangkah bersama membangun suka duka rumah tangga.


Durasi: 
125 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 03 Oktober 2012

PERAHU KERTAS PART 2 : Berlabuh Tambatkan Hati dan Perasaan


Quotes: 
Remi: Cari orang yang bisa kasih kamu segala-galanya tanpa kamu harus minta.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 1 Oktober 2012.

Cast: 
Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahadian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smith sebagai Eko
Ira Wibowo sebagai Lena
Tio Pakusadewo sebagai Wayan
August Melasz sebagai Adri

Director: 
Hanung Bramantyo mengawali karir penyutradaraannya lewat dua film di tahun 2004 yaitu Brownies dan Catatan Akhir Sekolah.

W For Words: 
Jika Perahu Kertas Part 1 sudah berlayar menghanyutkan mimpi dan cinta dengan hasil lebih dari lima ratus ribu penonton selama periode penayangan libur Lebaran 2012 yang lalu maka kelanjutannya tentu layak ditunggu. Akankah Kugy dan Keenan dapat bersatu pada akhirnya? Itulah yang menjadi pertanyaan anda semua. Presentasi yang menyisakan seperempat novelnya akan berusaha dijawab oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo dan empunya cerita, Dewi Lestari dalam film berdurasi lebih kurang 105 menit ini. Penasaran?

Ketika Keenan mengembalikan buku Jenderal Pilik kepada Kugy, timbul ide mereka untuk menerbitkan cerita anak yang selama ini diidam-idamkan. Kesibukan itu mengganggu pekerjaan Kugy di AdVocaDo sehingga banyak karyawan menyorot hubungannya dengan Remi. Liburan ke Bali yang dimanfaatkan untuk refreshing malah mempertemukan Kugy dengan Luhde di pura.Saat itulah semua rahasia terbongkar. Keenan berupaya menetapkan hatinya, demikian pula dengan Remi berusaha membuktikan keseriusan cintanya. Mungkinkah empat hati tersebut menemukan pasangan sejatinya?

Karakteristik yang sudah terbangun di bagian pertamanya membuat Hanung lebih leluasa untuk mengeksplorasi ruang perasaan empat tokoh utama disini. Memori masa lampau yang terus membekas di hati tak ayal menimbulkan keraguan untuk melangkah ke depan. Lihat bagaimana sulitnya Keenan meyakinkan Luhde bahwa ia tak perlu menjadi orang lain untuk dicintainya, atau susahnya Remi memastikan Kugy bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk dipilihnya. Tarik ulur konflik tersebut bergulir secara bergantian untuk memberikan sudut pandang terbaik dalam takaran seimbang.

Dialog merupakan kekuatan utama di bagian keduanya ini. Lontaran isi hati acapkali menusuk kalbu karena kejujuran yang mengiringi. Sayangnya momen-momen yang sudah dikondisikan untuk itu terkadang dirusak oleh perpindahan fokus yang kurang berarti. Tak jarang penonton malah tertawa saat seharusnya dituntut meresapi maknanya dalam-dalam. Tata musik dari Andhika Triyadi masih memberikan nuansa menggetarkan yang sama, berpadu cantik dengan tata kamera dari Faozan Rizal dan penyuntingan mulus dari Cesa David Luckmansyah.

Maudy, Adipati, Reza, Elyzia berhasil melalui transisi remaja di bagian pertama untuk melebur ke dalam fase dewasa muda disini. Kedewasaan Kugy, Keenan, Remi dan Luhde kian terasa tatkala dihadapkan pada problema cinta. Mereka tidak memilih untuk galau atau menangis tetapi bersikap tegar dan terus melangkah dengan pilihannya masing-masing. Intervensi kisah dari tokoh Wayan, Lena dan Adri di penghujung justru semakin memperkaya pemahaman bahwa setiap keputusan harus didasari pada konsekuensi dan tanggungjawab kelak. 

Perahu Kertas Part 2 ini memang lebih sederhana dibandingkan Part 1 nya. Fokus yang lebih sempit membuat ruang gerak menjadi lebih terkendali. Hanya saja tarik ulur yang terlalu detail mengenai arah hubungan Kugy dan Keenan bagi sebagian penonton bisa jadi bertele-tele dan membosankan. Penutupnya pun berlangsung sekejap tanpa kesan mendalam, layaknya kita menjentikkan jari tangan. Sebuah umpama tafsir perasaan yang mengikuti kata hati dan tidak, semua kembali lagi pada pribadi yang menjalaninya. Pelabuhan terakhir jelas tujuan agen Neptunus yang satu ini, dengan atau tanpa radar.

Durasi: 
105 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 04 September 2012

TEST PACK : Drama Pasutri Menghadapi “Bagaimana Jika”

Quotes:
Tata: Disini dikatakan sperma mencapai tingkat kematangannya dalam 3 hari.
Rahmat: Ya udah kalo gitu kita berhubungan 3x sehari.
Tata: Dih mending kuat.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision Plus ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 4 September 2012.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Rahmat
Acha Septriasa sebagai Tata
Renata Kusmanto sebagai Shinta
Meriam Bellina sebagai Ibu Sutoyo
Jaja Mihardja sebagai Pak Sutoyo
Oon ‘Project Pop’ sebagai dr Peni
Karissa Habibie sebagai Dian
Uli Herdinansyah sebagai Markus
Dwi Sasono sebagai Heru

Director:
Merupakan film kedua Monty Tiwa di tahun 2012 setelah Sampai Ujung Dunia.

W For Words:
Novel Test Pack milik Ninit Yunita beredar pada tahun 2005 dimana istri Adhitya Mulya itu masih menetap di Afrika Barat. Bukan rahasia jika ide tersebut muncul dari kehidupan pribadi mereka yang kerap dihujani pertanyaan “Kapan punya anak?” setelah beberapa lama menikah. Pertanyaan yang juga amat familiar di kalangan pengantin baru yang kebetulan tak kunjung diberi keturunan. Kedekatan dengan realita kehidupan itulah yang membuat suguhan terbaru Starvision ini diyakini mampu menarik minat penonton untuk sekadar merefleksikan.

7 tahun menikah, pasutri Rahmat dan Tata belum dikaruniai anak. Segala tips dan trik telah dicoba. Tata yang berkeinginan lebih sampai menemui dokter Peni untuk melakukan tes kesuburan dimana Rahmat sendiri sebenarnya sudah cukup bahagia dengan kebersamaan mereka. Nyatanya hasil tes menunjukkan Rahmat yang tidak subur. Dalam keputusasaan ia bertemu mantannya yang juga supermodel internasional, Shinta yang baru dicerai suaminya, Heru karena mandul. Keputusan Rahmat ingin kembali ke masa lalu atau memperbaiki masa kininya merupakan dilema tersendiri.

Bukan pekerjaan mudah bagi Adhitya untuk menerjemahkan karya Ninit ke dalam bentuk skenario. Film ini seakan dibagi dalam dua bagian. Pertama, komedi romantis saat Rahmat dan Tata saling berbagi kasih dalam canda dan tawa dimana panggilan sayang yaitu kang dan neng selalu menyertai. Kekesalan Tata menggunakan sejumlah testpack yang menyiratkan depresi diimbangi dengan kekocakan dokter Peni yang menanganinya. Kedua, drama romantis ketika Shinta mulai kembali masuk dalam kehidupan Rahmat dimana rumah tangganya sedang diuji. Ketidakstabilan emosi Tata akibat terapi yang dijalaninya mulai merentang jembatan konflik suami istri yang tak dapat dihindari.

Kelebihan utama jelas ada pada kinerja sutradara Monty Tiwa yang berhasil menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Arahan yang baik terhadap jajaran cast ternama beserta kumpulan cameo yang tak asing lagi, pemilihan lokasi sebagai panggung bercerita yang maksimal, pengaturan tempo momen-momen penting sebagai nyawa film dsb. Editing Cesa David yang ciamik juga memperkuat storytelling sehingga tidak banyak ruang kosong yang tersisa. Sama halnya dengan tata suara dari Khikmawan yang kali ini berkolaborasi dengan Bongky sebagai penata musik sukses mengantarkan emosi yang diharapkan.

Senang rasanya melihat Acha mampu berbagi chemistry manis dengan pria di luar Irwansyah. Lakon suami istri bersama Reza terasa meyakinkan tanpa terlihat canggung dalam berbagi keintiman fisik. Deretan pendukung Sampai Ujung Dunia (2012) juga hadir kembali disini, salah satunya Renata yang semakin mengukuhkan imej “beautiful babe” lewat peran supermodel yang tak terlalu terlihat pede. Pasangan senior Jaja-Meriam juga turut mencuri perhatian sebagai pasien psikolog Rahmat. Jangan lupakan Oon, sang pengocok tawa lewat spontanitas dan wajah polosnya itu.

Test Pack adalah drama yang personal karena mengangkat persoalan umum suami istri dan rumah tangga secara keseluruhan. Kadangkala kita memang tidak siap menghadapi perubahan dan kerapkali lebih peduli pada perkataan orang dibandingkan pasangan sendiri. Obyektifitas yang terganggu tentunya mempengaruhi keputusan akhir yang dibuat bagi kedua belah pihak. Kehati-hatian Monty dalam menggarap tema sensitif tentang momongan ini untungnya didukung oleh sumbangsih maksimal dari aktor-aktris yang terlibat di dalamnya. A must see for couples and newly wed who might face the same ”first world” problems.

Durasi:
109 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 08 Agustus 2012

PERAHU KERTAS PART 1 : Berlayar Hanyutkan Mimpi dan Cinta

Quotes:
Kugy: Karena hanya denganmu, semua terasa dekat, terasa nyata..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi keroyokan oleh Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 8 Agustus 2012.

Cast:
Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahadian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Kimberly Ryder sebagai Wanda
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smith sebagai Eko
Dion Wiyoko sebagai Ojos
Ira Wibowo sebagai Lena
Tio Pakusadewo sebagai Wayan
August Melasz sebagai Adri

Director:
Film Hanung Bramantyo kembali lagi mengisi libur Lebaran setelah tahun lalu muncul lewat Tendangan Dari Langit.

W For Words:
Film yang diangkat dari sebuah novel best seller tentunya memiliki beban berat untuk bisa benar-benar menerjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa visual yang tak kalah bobotnya. Untuk itulah Dewi ‘Dee’  Lestari dipercayakan menulis skenarionya langsung dari 444 halaman buah pemikirannya itu. Tampuk komando diserahkan pada sutradara papan atas Hanung Bramantyo. Demi menghindari adanya esensi yang hilang, produser Chand Parwez Servia dan Putut Widjanarko sepakat membagi film menjadi dua bagian dimana Part 1 dirilis di bulan Agustus demi menyambut Lebaran sedangkan Part 2 direncanakan menyusul di bulan Oktober nanti.

Sama-sama kuliah di Bandung, Kugy dan Keenan mengambil jurusan yang berbeda yaitu Sastra dan Ekonomi dan bersahabat erat dengan pasangan Noni dan Eko yang juga sepupu Keenan. Diam-diam keduanya saling mencintai walau Kugy telah menjalin hubungan dengan Ojos dan Keenan lebih memilih mundur. Tahun demi tahun berlalu, Keenan yang bertengkar dengan ayahnya memilih lari ke Bali dan menekuni seni lukis di bawah arahan Wayan dan didukung oleh keponakannya Luhde. Kugy yang magang di advertising milik Remi mulai menunjukkan talentanya dan menarik perhatian atasannya itu. Akankah mereka berjumpa lagi pada waktu dan kesempatan yang lebih tepat?
 
Kekhawatiran yang muncul di kalangan moviegoers sejak awal adalah menemukan cast yang tepat. Kontroversi sempat terjadi ketika diputuskan Maudy Ayunda dan Adipati Dolken berperan sebagai Kugy dan Keenan. Melihat aksi mereka selama nyaris dua jam, tampaknya saya harus setuju dan tidak setuju. Chemistry keduanya agak terasa dipaksakan dan masing-masing cukup sulit untuk keluar dari peran stereotype sebelumnya. Namun jika harus mengapresiasi, Adipati menunjukkan usaha yang lebih dalam menginterpretasikan karakter Keenan yang harus jatuh bangun mengejar mimpinya. Sedangkan Maudy masih kurang dewasa dalam menjiwai karakter Kugy yang cerdas tomboy dan memiliki dunianya sendiri.

Dari jajaran pendukung, Sylvia dan Fauzan berulang kali sukses mencuri perhatian baik sebagai pasangan ataupun sahabat kawan-kawan mereka. Coba lihat adegan ijab kabul yang super kocak itu. Lain lagi Reza Rahadian yang berhasil memerankan Remi dengan kreatif dan dewasa tanpa harus kehilangan imej cool. Penampilan menjanjikan dibawakan pendatang baru Elyzia sebagai gadis Bali yang lemah lembut dan pengertian. Jangan lupakan kontribusi nama-nama senior macam Tio Pakusadewo, August Melasz dll.

Sutradara Hanung sudah berupaya keras mempertahankan momen-momen penting yang amat berpengaruh dalam perjalanan hidup Kugy dan Keenan tetapi proses editing yang kurang mulus karena keterbatasan durasi memang terkadang merenggut sebagian intisarinya. Yang tersisa adalah kumpulan potongan mozaik mengenai reaksi campur aduk akan perasaan yang tak dapat terungkapkan mulai dari marah, kecewa, putus asa dsb. Kesemua konflik tersebut berjalan linier melewati lompatan waktu yang kerapkali tak terukur kadar dan porsinya secara utuh.

Separuh pertama film terbilang sibuk bertutur, sesekali meninggalkan penonton yang masih berusaha mencerna atau pada kesempatan lain malah berlama-lama mendramatisir ini itunya. Namun percayalah, Hanung cukup kompeten menyatukan semua percabangan sehingga tontonan ini terkesan kian menyenangkan seiring berjalannya waktu. Salah satu rekan saya menginformasikan bahwa bagian pertama ini ‘digantungkan’ setelah tiga perempat isi novelnya diceritakan. Mudah-mudahan bagian keduanya kelak dapat lebih fokus pada perasaan Kugy dan Keenan secara personal walau harus mengecewakan orang-orang di sekitar mereka.
 
Perahu Kertas Part 1 ini mungkin akan menuai review kontradiktif, tak disukai penggemar novelnya tapi disukai penonton awam yang tidak membaca novelnya. Selalu ada dua sisi yang berseberangan. Argumen bahwa teenlit intelek bercitarasa dewasa bertransformasi menjadi roman picisan bercitarasa remaja memang tampaknya sulit dihindari. Satu yang pasti, itikad baik sudah dilakukan filmmakers dalam mengembalikan genre drama romantis lokal ke jalur yang variatif dan menyegarkan, tak melulu terjebak pada premis yang itu-itu saja. Siap untuk memasuki misteri keseimbangan dunia Kugy dan Keenan yang mesti bersua di tengah situasi kemustahilan untuk bersama? 

Durasi:
112 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Rabu, 16 Mei 2012

BROKENHEARTS : Broken Script Heartless Romance

Quotes:
Olivia: Buat aku, kamu adalah malaikat cinta yang dikirim Tuhan dari langit.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision Plus ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 1 Mei 2012.

Cast:
Julie Estelle sebagai Olivia
Reza Rahadian sebagai Jamie
Darius Sinathrya sebagai Aryo
Meriam Bellina sebagai Ibu Aryo
Anto Hoed
Melly Goeslaw
Axel Andaviar



Director:
Merupakan film ke-15 bagi Helfi Ch Kardit yang dimulai sejak Seventeen (2004).

W For Words:
Cinta segitiga di atas persahabatan yang dikombinasikan dengan perjuangan melawan penyakit. Ah berapa banyak tema sejenis yang sudah dihadirkan dalam produksi film Indonesia sebelumnya. Jika Monty Tiwa melakukannya dengan baik dalam Sampai Ujung Dunia (2012) yang masuk dalam daftar film terpuji 2012 versi saya, bagaimana dengan garapan Helfi Kardit ini? Sebagai daya tarik, dikerahkan tiga nama populer yaitu Reza Rahadian, Julie Estelle dan Darius Sinathrya serta komposisi lagu garapan Anto Hoed dan Melly Goeslaw. Menjanjikan bukan?

Olivia selalu beranggapan Jamie adalah cinta pertamanya. Kebahagiaan mereka terenggut saat Jamie divonis mengidap anoreksia nervosa sehingga memilih untuk pergi tanpa kabar. Olivia yang sedih dan bingung sulit menerima kehadiran Aryo yang tiba-tiba datang dalam hidupnya. Sesungguhnya Aryo diutus langsung oleh sobat karibnya Jamie untuk menjaga Olivia. Perlahan tumbuh benih cinta antara Aryo dan Olivia sampai menimbulkan kecemburuan dalam diri Jamie yang merasa tak berdaya.
Sayangnya apa yang ada di kepala Helfi ternyata diterjemahkan secara sederhana. Terlalu sederhananya sehingga ia terkesan malas bereksplorasi di atas sebuah jembatan kokoh bernama kreatifitas itu sendiri. 
Serentetan dialog puitis yang lagi-lagi klise itu membombardir penonton dengan keindahan rimanya tapi tetap tak mampu menutupi keanehan logika yang ada. Bagaimana Jamie yang sakit parah dapat berkeliaran dengan bebas tanpa sepengetahuan orang di luar Darius? Mengapa Aryo tega membiarkan sahabatnya yang sudah demikian lemah itu tidak dirawat secara layak? Mungkin ada puluhan alasan yang bisa dikemukakan untuk memperkuat jawaban tapi sebelumnya mohon dijelaskan dulu pengertian anoreksia nervosa secara baik dan benar.

Penjiwaan aktor sekelas Reza sebagai pria berpenyakitan terlihat tidak wajar. Seorang ibu di deret saya menonton sempat menertawakan nafas Jamie seperti berat seperti orang hamil. Tutur bicaranya seakan dibuat-buat dengan sinkronisasi mata, lidah dan gerak mulut yang.. Ah sudahlah. Darius kembali pada tipikalitas peran “sinetron” nya, tak jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Satu-satunya yang tampil wajar cuma Julie dengan menampilkan sisi emosionalnya tanpa harus terlihat cengeng ataupun norak di saat sedih dan bahagianya.
 
Satu yang paling keterlaluan adalah puncak konflik seharusnya terjadi saat Aryo mengatakan yang sesungguhnya kepada Olivia tetapi Helfi secara cerdas hanya menyajikan gambar bisu dari balik kaca! Come on, it’s a big part! Esensi film yang ditunggu penonton tanpa mengindahkan harga tiket yang beranjak naik ternyata hanya dibalas dengan pepesan kosong belaka? Dude, at least you are trying! Gagal atau tidaknya biar penonton yang memutuskan. Endingnya pun tergolong antiklimaks dan dipaksakan demikian adanya. Suguhan tembang dari Anto-Melly pada akhirnya tak banyak membantu.

Saya merasa chemistry di antara Aryo-Olivia, Olivia-Jamie, Jamie-Aryo terasa flat. Interaksi satu dan yang lainnya terasa melelahkan, tidak membawa konflik merangsak maju secara positif. Kosong! Seakan semua kata-kata yang terlontar dari mereka keluar dari kepala, bukan dari hati. Seberapapun kerasnya ketiga orang ini berusaha memberikan akting maksimal, skrip yang kedodoran sedari awal tetap patut dijadikan kambing hitam.Brokenhearts entah menggunakan spasi atau tidak dalam penulisannya gagal membangun simpati saya terhadap karakter-karakter utama maupun pendukungnya. I prefer called it a broken script with heartless romance inside.

Durasi:
96 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 23 Februari 2012

DILEMA : Hidup Akan Menemukan Jalannya Sendiri


EKSTRIMIS - Robby Ertanto
Ibnu yang menjunjung tinggi paham agama yang ia yakini tidak sadar bahwa dirinya lambat laun berubah menjadi seorang ekstrimis karena pengaruh lingkungan sekaligus sahabatnya sendiri, Said. Aksi demi aksi main hakim sendiri yang disebabkan oleh pembenaran semakin menyeret Ibnu jauh dari jati diri pribadinya. Said memanfaatkan kondisi tersebut untuk rencana yang lebih besar lagi.

POLISI - Adilla Dimitri
Lulus akademi kepolisian, Ario diangkat menjadi reserse yang ditugaskan berpatroli bersama seniornya Bowo. Idealisme yang dimiliki Ario jauh bertentangan dengan Bowo yang tak segan-segan bermain kotor demi menguntungkan dirinya sendiri. Hitam putih penegakan hukum di Ibukota pun semakin kabur dimana keputusan akhir harus segera dibuat apakah ia harus ikut kompromi atau tidak.

PENJUDI - Robert Ronny
Mantan raja kasino, Sigit mencoba memperbaiki hubungan rusak dengan keluarganya sendiri. Sayangnya ia meyakini satu-satunya cara untuk itu adalah dengan meraih kemenangan di meja judi sekaligus menghadapkannya kembali dengan rival lama, Gilang. Kekalahan dan kemenangan pun siap menjadi pertaruhan habis-habisan demi mempertahankan harga diri.

BOSS - Rinaldy Puspoyo

Arsitek muda, Adrian yakin bahwa ia sukses dengan usahanya sendiri terlepas dari status yatim piatu yang disandangnya. Pertemuan dengan bos besar berpengaruh, Sonny Wibisono yang mengungkapkan semua rahasia hidupnya dengan gamblang mulai membuat kepercayaan diri Adrian goyah. Namun pilihan selalu ada di tangannya apakah mau menerima fakta tersebut atau menolaknya mentah-mentah.

PEMADAT - Yudi Datau

Remaja broken home, Dian yang tengah menata kembali hidupnya berjumpa dengan Rima di rumah pantai keluarganya. Lantas Rima yang perlahan-lahan mendekatinya mulai memperkenalkannya kembali dengan dunia narkoba yang sudah tidak asing bagi Dian. Masa depan yang mulai terbentuk lagi pun semakin menyingsing dengan hadirnya resiko tinggi yang tampaknya sulit dihindari.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh WGE Pictures dan 87 Films dimana gala premierenya diselenggarakan di Cilandak 21 pada tanggal 20 Februari 2012.

Cast:
Abimana Aryasatya sebagai Bari
Ario Bayu sebagai Aryo Sustoyo
Baim Wong sebagai Ibnu
Jajang C Noer sebagai Hetty
Lukman Sardi sebagai Andry
Pevita Pierce sebagai Dian
Ray Sahetapy sebagai Gilang
Reza Rahadian sebagai Adrian
Roy Marten sebagai Sony Wibisono
Slamet Rahardjo sebagai Sigit
Tio Pakusadewo sebagai Letnan Bowo
Verdi Solaiman sebagai Hitman
Winky Wiryawan sebagai Said
Wulan Guritno sebagai Rima

W For Words:
Film omnibus bisa jadi akan semakin tren dalam dunia perfilman Indonesia di masa mendatang. Sebab utamanya adalah regenerasi filmmaker dimana nama-nama baru yang belum terkuak masing-masing diberikan kesempatan untuk menggarap segmen film pendek yang lantas dipersatukan dengan sebuah benang merah. Rumah produksi WGE Pictures pun mengambil format ini untuk memulai debut film pertamanya dengan tema Ibukota Jakarta ini yang nampaknya semakin kejam dari hari ke hari.

Menilik premis setiap segmennya memang nyaris tidak ada yang baru selain menempatkan tokoh hitam dan putih dalam permainan menang atau kalah. Simple as that! Sejak menit awal, penonton sudah tahu mana karakter yang harus didukungnya. Berbagai twist yang diselipkan disana-sini memang tidak terlalu mengejutkan bagi penikmat genre sejenis tapi untungnya cukup berhasil menggarisbawahi kesimpulan yang ingin disampaikan secara tegas kepada audiens.
Kinerja Sastha Sunu dalam departemen penyuntingan tergolong luar biasa. Nalurinya untuk menyatukan puzzle demi puzzle secara tepat ke dalam bingkai yang telah tersedia memang mulus. Hal ini terbantu juga oleh kualitas sutradara yang tidak jauh berbeda satu sama lainnya sehingga narasinya bergulir dalam satu nuansa yang konsisten. Sedikit kekurangan yang mengganggu adalah proses sulih suara yang beberapa kali membuat gerak bibir dan kata-kata yang terucap menjadi tidak sinkron.

Sulit untuk memilih salah satu segmen sebagai favorit karena mutu yang nyaris sama. Namun segmen Rinaldy Puspoyo sedikit mencuri perhatian saya karena Roy Marten dan Reza Rahadian berhasil menampilkan chemistry kontradiktif yang menarik sebagai bos mafia yang berada di penghujung hidupnya dan pria muda yang mulai menapaki tangga kesuksesan. Di luar kedua nama itu, tidak ada yang bermain di bawah rata-rata karena kesemuanya adalah aktor-aktris yang sudah berpengalaman dalam bidang seni peran.
Dilema seperti halnya judulnya memang akan meletakkan penonton dalam zona abu-abu, apakah harus menyukai film ini atau tidak. Hal ini bisa jadi disebabkan proses menuju ending yang masih terkesan lambat dan kurang menggigit meskipun selepas credit title bergulir, penonton dapat menarik gambaran secara utuh akan kesulitan bertahan di jalur yang benar hingga tak jarang wajib melewati jalan yang salah terlebih dahulu. No matter what, life will find its way, right? It is up to your own direction afterall.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 20 Desember 2011

HAFALAN SHALAT DELISA : Cinta Keluarga Keikhlasan Hadapi Cobaan

Quotes:
Ummi Salamah: Aisyah gak boleh gampang cemburu sama barang-barang yang bukan milik kita, apalagi milik saudara sendiri..


Storyline:
Bocah perempuan 6 tahun bernama Delisa tinggal bersama Ummi Salamah beserta ketiga kakaknya, Cut Fatimah (15 tahun) dan juga si kembar Cut Aisyah-Cut Zahra (12 tahun). Ayah mereka Abi Usman bekerja di kapal tanker dan pulang setiap tiga bulan sekali. Delisa kecil berusaha keras menghafal bacaan shalat demi menghadapi ujian hafalan apalagi setelah iming-iming hadiah kalung emas dari Ummi. Malang tak dapat ditolak, tsunami melanda secara tiba-tiba dan merenggut semua orang dalam kehidupan Delisa yang bahkan harus kehilangan satu kakinya. Berhasilkah Delisa bangkit dan berubah menjadi anak yang tulus ikhlas menerima segala cobaan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dimana press screening dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI tanggal 20 Desember 2011.

Cast:
Chantiq Schagerl sebagai Delisa
Reza Rahadian sebagai Abi Usman
Nirina Zubir sebagai Ummi Salamah
Fathir Muchtar sebagai Ustad Rahman
Gina Salsabila sebagai Fatimah
Loide Christina Teixeira sebagai Suster Sophie
Mike Lewis sebagai Prajurit Adam Smith

Director:
Sony Gaokasak terakhir menggarap Tentang Cinta (2007) yang dibintangi Vino Bastian, Sheila Marcia, Fedi Nuril dan Hayria Faturrahman.

Comment:
Bencana tsunami yang menimpa Aceh di tahun 2004 memang tidak dapat dilupakan begitu saja karena telah merenggut ratusan ribu nyawa pada saat itu. Tere Liye kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan yang berikhtisar mengenai kasih sayang keluarga. Novel Hafalan Shalat Delisa yang sudah dicetak ulang hingga 15x bahkan diterjemahkan dan diterbitkan di negara lain itu kini difilmkan dengan judul yang sama oleh produser Chand Parwez Servia.
Armantono yang menulis skrip film ini berdasarkan novel Tere Liye tersebut membaginya dalam tiga fase utama yaitu keindahan, kehancuran, kekuatan yang mengacu pada satu timeline peristiwa yaitu tsunami itu sendiri. Tidak mudah untuk memberikan penekanan yang frontal karena efeknya bisa jadi terlalu sensitif bagi pihak yang terkait dengan bencana tersebut. Oleh sebab itu diambillah sudut pandang cinta terhadap sesama, alam semesta sampai sang pencipta.

Bintang utamanya jelas si kecil Chantiq Schaegerl. Di tangannya Delisa menjadi cukup berkarakter dan mengalami beberapa proses pembelajaran yang berharga. Mulai dari bersikap pamrih hingga ikhlas menerima keadaan apalagi tidak mudah berakting sebagai anak cacat secara fisik. Penampilan gemilang kembali diperlihatkan Reza Rahadian sebagai ayah yang nyaris kehilangan segala-galanya. Chemistry Abi Usman dan Delisa terbukti cukup mengharu-biru penonton.
Penjiwaan Nirina Zubir dan Fahtir Muchtar sebagai Ummi Salamah dan Ustad Rahman juga tidak kalah cemerlang meskipun porsinya tidak terlalu dominan, senang melihat keduanya bermain dalam nuansa agamais yang kental. Yang menarik adalah kemunculan Mike Lewis dan Loide Christina Teixeira sebagai Tentara Smith dan Suster Sophie yang memberikan warna tersendiri terlepas dari minimnya scene yang melibatkan keduanya dalam dialog berbahasa Inggris.

Kinerja sutradara Sony terus terang tidak mudah karena harus mengarahkan beberapa pemain cilik untuk berakting sebagaimana mestinya. Lokasi syuting yang berlangsung di Ujung Genteng, Sukabumi Selatan tentunya tetap diinpirasi dari eksterior background khas Aceh. Efek CGI yang menghadirkan tsunami serta chaos paska kejadian juga terlihat cukup meyakinkan walaupun belum sempurna, ditambah penampakan “surga” yang demikian syahdu dan tenteram layaknya motion screensaver.
Terlepas dari konflik yang terasa diperpanjang disana-sini dengan amplitudo emosi Delisa yang naik turun kurang konsisten itu, sumbangsih scoring music dari Tya Subiyakto terasa menggelorakan perasaan hingga ambang terdalam. Hafalan Shalat Delisa mengajarkan anda bahwa cinta kasih keluarga dan orangtua pada khususnya merupakan aspek terpenting dalam tahap awal kehidupan seorang anak. Seringkali keikhlasan menerima segala cobaan Allah SWT akan membuat beban anda terasa lebih ringan dalam menjalani hidup sebagaimana beratnya.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 28 Juli 2011

JAKARTA MAGHRIB : Jalinan Kisah Warga Metropolitan Jelang Maghrib

Quotes:
Iman: Ya keluar. Gak jadi “keluar” di kamar ya keluar rumah..


Terbagi dalam 6 segmen:

IMAN CUMA INGIN NUR (12 min)
Iman yang asli Sidoarjo beristrikan Nur yang asli Betawi. Kelelahan mengurus balita mereka yang sakit hingga 3 hari, keduanya sepakat bercinta untuk melampiaskan penat dan rasa rindu. Sayangnya, Ibu Nur yang tinggal serumah dengan mereka kerapkali ikut campur dalam urusan rumah tangga. Iman pun mulai mempertanyakan eksistensinya di rumahnya sendiri.

ADZAN (6 min)
Preman Jakarta, Baung tidak terpuji tindakannya. Selain pengangguran, ia juga sering mabuk-mabukan dan memalak anak sekolah yang lewat untuk mendapatkan uang. Bertolak belakang adalah Pak Armen, penjaga mushola sekaligus pemilik warung kecil asal Solok yang saleh dan taat beragama. Kedua pribadi tersebut terlibat percakapan singkat yang bisa jadi membuka mata Baung kemudian.

MENUNGGU AKI (15 min)
Nasi goreng Aki sangatlah khas karena dimasak di atas anglo. Oleh sebab itu kehadirannya selalu ditunggu penghuni kompleks perumahan mulai dari Akbar, Tuti dan lain-lain yang berprofesi berbeda-beda. Satu kepentingan membuat orang-orang yang tidak saling mengenal itu menjadi berinteraksi satu sama lain menjabarkan isi kepala mereka masing-masing.

CERITA SI IVAN (10 min)
Demi bermain game di rental langganannya, Ivan kerap bolos dari Madrasahnya. Sayangnya sore itu tempatnya sudah terisi oleh keempat anak lainnya yang sudah membayar untuk berjam-jam. Tidak hilang akal, Ivan mengarang cerita kuntilanak yang kadang muncul menjelang maghrib untuk menakut-nakuti mereka, atau justru dirinya sendiri?

JALAN PINTAS (20 min)
Sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama 7 tahun berkendara ke suatu tempat demi mempersiapkan acara pernikahan adik sang lelaki yang menikah dengan ipar sang perempuan. Ketika mengambil jalan pintas, perbedaan karakter dan pola pikir keduanya mulai meruncing sehingga apa yang mereka bangun bisa saja dipertimbangkan kembali.

BA’DA (7 min)
Katanya berarti “Setelah” dimana tokoh-tokoh yang diceritakan sebelum Maghrib pada akhirnya dipersatukan di bagian akhir film baik secara langsung maupun tidak langsung.

Nice-to-know:
“Maghrib” merupakan istilah dalam bahasa Arab yaitu “Maghreb” yang berarti "tempat matahari terbenam" yang ditandakan dengan hilangnya mega merah di ufuk barat. Digunakan juga sebagai penanda waktu sholat atau berpulang dari aktifitas bagi kaum muslim.

Cast:
Lukman Sardi
Reza Rahadian
Adinia Wirasti
Ringgo Agus Rahman
Desta
Dodi Mahendra
Indra Birowo
Fanny Fabriana
Widi Mulia

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Salman Aristo.

Comment:
Ide cerita ini tentu saja menarik terlebih disajikan dalam konsep film omnibus. Masing-masing tema memiliki persamaan yaitu momen kejadian sebelum penanda waktu yang krusial artinya bagi kaum pemeluk agama mayoritas di Indonesia ini. Namun jangan salahartikan jika menganggap film ini berbau agamais karena justru menyoroti berbagai macam konflik yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari warga Jakarta ini.
Salman Aristo yang dikenal sebagai salah satu penulis skenario film jempolan saat ini memang terkenal terampil dalam mengolah sekumpulan fiksi mini yang dipublikasikan lewat jejaring sosial Twitter. Tentunya permainan kata-katanya tidak perlu diragukan lagi sehingga tidak heran jika pada akhirnya mampu dituangkan ke dalam format layar lebar dengan berbagai pengembangan yang cukup signifikan disana-sini.
Sayangnya duduk di kursi sutradara nampaknya memang tidak semudah berada di bangku penulis. Pergerakan kameranya masih cenderung naik turun, terkadang sudah cukup maksimal tapi tak jarang kurang konsisten dalam penentuan angle yang sangat berpengaruh pada jarak tangkap penonton terhadap layar. Proses editingnya tergolong lumayan mulus dengan interval yang berbeda-beda di setiap segmennya.
Favorit saya adalah segmen terakhir karena hanya berfokus pada dua sejoli di dalam ruang lingkup sempit yaitu sebuah mobil yang berjalan. Interaksi yang intens antara Reza dan Adinia meski dalam durasi singkat sekalipun sukses menjabarkan hubungan macam apa yang tengah mereka jalani. Bagaimana perbedaan visi dan tabiat begitu kentara dari setiap perdebatan panjang-pendek mengenai pekerjaan dan keluarga. Pertanyaan-pertanyaan penonton pun terjawab dari setiap lontaran kata ataupun ekspresi yang tertangkap secara eksplisit.
Di luar segmen tersebut bagi saya terkesan seperti masakan setengah jadi. Penyampaian konfliknya kurang kuat dan penyelesaiannya pun mengambang saja. Akumulasi penutupan di segmen “Ba’da” yang saya harapkan dapat menjadi highlight tersendiri malah datar. Tidak ada suatu “getaran” yang berusaha dialirkan dari produsen ke konsumen sehingga asumsi yang diharapkan dapat terbentuk sendiri dari pola pikir penonton rasanya sulit terjadi.
Walau demikian, Jakarta Maghrib tetap harus diapresiasi karena keberaniannya mengadopsi elemen “universal” yang terkandung dalam relasi suami istri, kekasih, rukun tetangga, tokoh hitam-putih masyarakat hingga anak-anak sekalipun. Keterlibatan aktor-aktris papan atas Indonesia disini sudah menjadi poin plus istimewa terlepas dari lemah atau kuatnya peranan masing-masing saat menyuguhkan problema yang menjadi bumbu utama. Pengalaman pertama adalah pembelajaran yang teramat berharga dari sebuah proses dan seorang Salman Aristo jelas sudah membuat langkah pertamanya lewat film ini.

Durasi:
75 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: