XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label indah kalalo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indah kalalo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Januari 2011

PELUKAN JANDA HANTU GERONDONG : Transformasi Serial Televisi Kehidupan Nyata

Storyline:
Kylie yang telah bertunangan dengan Robby tinggal di sebuah apartemen di Jakarta mengundang temannya dari Kuala Lumpur, Jenna untuk bertandang. Jenna gemar sekali menonton serial televisi yang bercerita mengenai Patty dan kekasihnya Rocky yang akhirnya dibantai pada malam pertama pernikahan mereka beserta seluruh orang seisi rumah. Kecurigaan jatuh pada Tommy, adik Patty yang menderita gangguan jiwa. Tanpa Kylie sadari, semua hal dalam serial televisi itu mulai terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Robby dan sahabatnya Rio bertemu dengan Dokter Lucas yang tertarik dengan kasus itu setelah diperingati Tante Rose dan anjingnya Mini yang misterius itu. Apakah nasib Kylie dan Robby akan berakhir sama?


Nice to know:
Diproduksi oleh K2K Productions dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 17 Januari 2011.

Cast:
Indah Kalalo
sebagai Kylie

Aida Saskia
sebagai Jenna

Angel Lelga sebagai Patty
Lia Ladysta
sebagai Joena

Andreano Phillip
sebagai Robby

Shidiq Hamidi
sebagai Rio

Adam Jordan
sebagai Dokter Lucas


Director:
Garapan kedua Yoyok Dumprink setelah Rintihan Kuntilanak Perawan (2010).


Comment:

Tidak perlu menunggu lama kemunculan film-film sampah di tahun 2011 ini. Baru memasuki minggu ketiga bulan pertama rilis kembali karya pria India idealis bin ajaib bernama KK Dheeraj ini. Saya tidak terlalu peduli jika ia memakai nama Yoyok Dumprink di kursi sutradaranya karena apapun filmnya, citarasanya sama persis. Sayangnya bukan citarasa yang enak tetapi buruk bin eneg bikin muntah seisi perut sampai kosong tak bersisa hingga tak terasa lapar kembali sekalipun. Berlebihan? Itulah kenyataannya.

Siapapun aktor aktris yang dipakai dalam film produksi K2K saya acungi empat jempol, dua kaki dan dua tangan untuk keberaniannya terlibat bahkan mencantumkan nama. Mungkin bisa ditambah jempol kaki anjing saya kalau bisa. Oops sampai lupa kalau saya tidak memiliki anjing, tetapi anjing tetangga bolehlah dipinjam sejenak selagi saya menulis review ini. Sebab apapun peranan yang ditawarkan pada mereka rasanya itu tidak penting dan tidak akan berarti apapun bagi perkembangan karir akting mereka ke depannya. Namun apa boleh buat? Namanya juga cari uang toh?

Plot ceritanya mengenai kehidupan nyata yang sama persis dengan apa yang tayang di televisi. Lupakan rentang waktu dan sekuens cerita karena dua hal tersebut tidak penting disini. Penonton bisa diajak melompati ruang waktu dengan cerita yang maju mundur. Batas dunia nyata dan dunia televisi menjadi absurd. Dan jangan coba mencari-cari hubungan yang rasional dari keterkaitan tersebut sebab akibatnya fatal: kram otak sementara!

Tidak ada yang benar dalam Pelukan Janda Hantu Gerondong selain tangan hitam yang suka menjawil rambut, muka, kaki bahkan nyaris kemaluan lelaki pada scene kakus toilet di penghujung film. Berbagai adegan syur yang menjadi ciri khas kali ini tidak ketinggalan, hanya saja dalam batas yang sangat tidak sensual samasekali. Satu-satunya yang mengasyikkan saat menonton film KK adalah tebak-menebak film asli apa yang menjadi adaptasinya. Terima kasih pada rekan saya, Bee http://film-nggak-jelas.blogspot.com/2011/01/pelukan-janda-hantu-gerondong-2011.html yang sudah menyebutkan film India berjudul 13B sebagai sumbernya. So, apakah anda masih berminat untuk nonton setelah serangkaian kritik di atas?


Durasi:
75 menit


Movie-meter:

Kamis, 28 Oktober 2010

MAFIA INSYAF : Romansa Ketua Mafia dan Polisi Wanita Bentrok Gank

Storyline:
Gank mafia bernama Macan Polkadot sudah diwariskan secara turun temurun kepada Kendra yang bersaudara juga dengan Romi dan Jodi. Awalnya Kendra sah-sah saja menjalani tuntutan dari sang ibunda, Dewi. Namun semua berubah saat ia berjumpa dengan Selma, gadis cantik enerjik yang juga jatuh hati padanya. Kendra pun mencari segala cara untuk memenangkan hati Selma termasuk mendengarkan saran dari asistennya yang bodoh, Bejo. Saat Kendra mengetahui bahwa Selma ternyata seorang komisaris polisi, ia berniat pensiun dari dunia yang membesarkannya itu. Keputusan yang tidak mudah karena rival mereka, gank Kampak Ungu berencana lain. Berhasilkah Kendra menjalani hidup barunya tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film bersama BIC Production dan gala premierenya dilangsungkan di fX tanggal 25 Oktober 2010.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Selma
Tora Sudiro sebagai Kendra
Indah Kallalo sebagai Alexa
Kieran Sindhu sebagai Bobby
Zaky Zimah sebagai Bejo
Ferry Ardiansyah
Guntur
Anindhika
H. Djaja Miharja

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Otoy Witoyo.

Comment:
Rasanya baru pekan lalu kita disuguhkan film nasional bergenre komedi aksi dalam judul Perjaka Terakhir 2 yang mengecewakan itu. Dan seperti sudah bisa diduga, semua nilai minus dalam film yang saya sebutkan itu terulang lagi dalam film yang diproduseri oleh Budi Mulyono ini.
Plot ceritanya tumpang tindih mulai dari romansa dua insan dengan profesi bertolak belakang, lalu ada perseteruan antar dua gank mafia besar, juga ada pertikaian antar pembasmi kejahatan dengan pelaku kejahatan itu sendiri, belum lagi kakak beradik pintar-pintar bodoh yang saling berinteraksi dengan cara yang teramat aneh, ditambah dengan aksi sensualitas di antara beberapa karakternya. Bisa anda bayangkan kesemuanya itu campur aduk tanpa benang merah yang jelas? Terus terang saya sendiri tidak berani melakukannya jika belum menyaksikannya dengan mata kepala sendiri!
Minimnya pengalaman sutradara Otoy memperparah eksekusi dari skrip yang sedemikian ruwetnya. Nyaris tidak ada penekanan apapun pada karakternya yang seakan hanya lalu lalang silih berganti di setiap scene yang dihadirkan. Alhasil konstruksi cerita menjadi lemah dan fokusnya menjadi tidak penting lagi. Semua dipaksakan mengalir dari awal sampai akhir tanpa peduli minat penonton yang sudah sedemikian jatuh sejak menit-menit pertama.
Dari jajaran cast, saya sedikit menyayangkan keputusan Atiqah bermain disini. Ia yang biasanya mampu mengangkat sebuah film, tidak mampu berbuat apa-apa terhadap tokoh Selma yang dipercayakan padanya tanpa latar belakang yang jelas. Sedangkan Tora mengulangi apa yang sudah beribu-ribu kali dilakukan sebelumnya dengan tokoh Kendra yang beridentitas sepuluh itu. Lain lagi dengan Indah yang lagi-lagi melakukan beberapa adegan syur, beruntung masih ditambahkan sedikit porsi laga yang harus dilakukannya. Jika tidak? Hm.. Kelucuan Zaky disini menjadi tidak berguna karena karakter yang diperankannya juga nyaris tidak berpengaruh apa-apa.
Mafia Insyaf lebih merupakan sebuah film medioker dengan gaya kelas film televisi yang tidak menawarkan apapun yang patut dibanggakan selain ide yang hanya menjadi ide kosong belaka. Satu-satunya yang mungkin masih berusaha dijual adalah porsi adegan laganya yang kerapkali ditampilkan mengisi keterbelakangan cerita, itupun jatuhnya masih tanggung. Apa mau dikata?

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 07 Juli 2010

POCONG KELILING : Saat "Poling" Resahkan Warga Komplek

Storyline:
Jamal dan istrinya Astrid dilanda kepanikan saat satu-persatu penghuni rumah di kompleks sekitar mereka mulai pindah. Semua dikarenakan adanya pocong keliling yang kerapkali mengetuk pintu utama warga setempat setiap malam. Rumah-rumah yang ditinggalkan pun kosong dan sulit sekali mencari calon pembeli apalagi isu tersebut sudah santer kemana-mana yang menarik minat kameraman dan pembawa acara yaitu Akbar dan Monique yang sepakat meliput kejadian itu. Ada lagi Bombay dan Asbun, si maling kuburan yang mengambil kesempatan dari kericuhan tersebut. Ditambah kepala keamanan setempat, Dadang dan wanita simpanan, Barbara yang juga heboh sendiri. Apa yang sesungguhnya menyebabkan teror pocong keliling tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di fX pada tanggal 6 Juli 2010.

Cast:
Catherine Wilson sebagai Barbara
Indah Kalalo sebagai Astrid
Donita sebagai Monique
Indra Birowo sebagai Jamal
Eric Scada sebagai Dadang

Director:
Pernah meraih predikat Sutradara Terbaik FFI lewat May (2008), Viva Westi menulis dan menyutradarai komedi horor pertamanya ini.

Comment:
Entah mengapa banyak sutradara berbakat Indonesia yang sengaja mendegradasikan dirinya belakangan ini demi mengikuti trend investor film lokal. Kali ini saya berbicara mengenai Viva Westi. Jujur saya tidak terlalu menggemarinya tapi mengapresiasi Suster N dan May yang cukup berkarakter itu.
Saya akan menyoroti 4 pasangan yang merangkai cerita dalam film ini. Pertama, dua orang maling kuburan yakni Bombay dan Asbun yang berusaha melucu tetapi sayangnya basi yang membuka prolog film yang entah apa relevansinya dengan tema cerita. Bahkan melibatkan hantu wanita Cina kaya yang meninggal? Oh no! Kedua, pasutri Jamal dan Astrid yang mulai mendingin dan sibuk dengan "mainan"nya masing-masing, Ketiga, kru televisi Monique dan Akbar yang ditugaskan liputan "tidak jelas" dan benar-benar terkesan salah tempat dan waktu. Keempat, pasangan Barbara dan Dadang yang baru diekspos di akhir cerita yang sepertinya bisa muncul dan menghilang lebih sering dibanding penampakan itu sendiri. Delapan orang itu secara bergantian mengambil posisi mereka dalam scene masing-masing. Namun sayangnya tidak ada benang merah cerita yang jelas yang mampu mempertegas karakterisasi yang berusaha dibawakan.
Pocong Keliling yang ditampilkan terlalu datar dan konstan sepanjang film ini akan membuat anda mati kebosanan sambil menyaksikan adegan demi adegan dengan rasa getir yang amat sangat selama kurang dari satu setengah jam. Saya pun terlelap dengan sukses tanpa menyadari anak-anak remaja tanggung yang entah sengaja atau berniat iseng sesekali melempari butiran-butiran popcorn dari arah belakang.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 24 Oktober 2009

KEMBANG PERAWAN : Mencari Arti Hidup Dengan Simbolisme

Cerita:
Empat sahabat yang dikenal sebagai pecundang di SMA nya yaitu Astu, Syaki, Didan dan Balqi bertekad memulai hidup baru selepas kelulusannya terutama Astu yang diam-diam menyimpan hati pada Astari. Mereka berempat kemudian melakukan evaluasi menyeluruh tentang apa yang salah pada diri mereka mulai dari bertemu psikiater, paranormal, dsb. Sampai pada akhirnya mereka berlabuh di suatu desa tempat tinggal nenek Astu dan mempelajari teori bahwa dengan memiliki Kembang Perawan di desa tersebut yang belakangan diketahui bernama Kinasih, nasib sial yang selama ini mengikuti mereka akan hilang. Namun ternyata apa yang mereka temukan disana adalah jatidiri yang sesungguhnya..

Gambar:
Keindahan desa Cikesang ditampilkan dengan pas seakan-akan hijaunya sawah, jernihnya sungai dan batas cakrawala menjadi latar belakang yang mengagumkan.

Act:
Masing-masing tampil natural sesuai penjiwaan karakternya.
Astu diperankan oleh Adly Fairuz
Syaki oleh Mario Merdhita
Didan oleh Kris Anjar
Balqi oleh Dimas Anggara
Nenek Astu oleh Titi Qadarsih
Janda Nani oleh Indah Kalalo
Kinasih oleh Ryana Dea
Astari oleh Olivia Lubis Jensen


Sutradara:
Pria yang pernah menghasilkan dwilogi Kawin Kontrak lewat penulisannya, Joko Nugroho kali ini bertindak sebagai penulis sekaligus sutradara film yang judulnya diambil dari album Gita Gutawa.

Comment:
Melihat posternya sepintas tidak menyiratkan kualitas yang sesungguhnya. Setelah mengetahui tim produksinya adalah Frame Ritz yang biasanya menangani FTV-FTV di SCTV, saya sedikit percaya dengan isinya. Dugaan tersebut tidaklah salah karena Kembang Perawan secara standar baku yang baik mampu bercerita dengan lugas dari awal sampai akhir. Para pemainnya pun tampil wajar. Settingnya dibuat sedemikian rupa hingga terkesan sangat natural dan membumi. Plot ceritanya boleh dibilang cukup orisinil walau sudah banyak film asing dengan tema sejenis yaitu masa akil baliq remaja pria tetapi disuguhkan dengan gaya Indonesia. Alur berceritanya sangat runut. Hal-hal tersebut bukan tanpa kekurangan karena pakem hal-hal klise masih digunakan di beberapa bagian utama cerita. Akhir kata, acungan jempol pantas diberikan pada sang sutradara yang eksplorasinya tergolong berhasil dan mampu membawa Kembang Perawan menjadi film remaja yang cukup memorable dan sarat dengan pesan moral tentang pencarian jati diri.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 30 Juli 2009

DARAH PERAWAN BULAN MADU : Teror Hantu dan Erotisme di Pulau Terpencil

Cerita:
Setelah sukses merjer, Putra dan Amira menikah, segera saja mereka menikmati bulan madu di sebuah pulau terpencil yang dijaga oleh seorang satpam, seorang koki, seorang pengawas dan putranya yang bernama Agus. Kemesraan Putra dan Amira di pulau eksotis tersebut perlahan terusik oleh sesosok hantu pengantin yang terus menerus meneror Amira. Siapa hantu pengantin tersebut? Apa rahasia sesungguhnya yang tersimpan di pulau itu?

Gambar:
Keindahan pulau misteri itu terekspos dengan baik mulai dari pantai yang biru dan vila yang senyap seakan mendukung romantisme yang berujung pada kengerian.

Act:
Sempat aktif bermain film di era 2005-2006 termasuk horor sejenis The Missing, Restu Sinaga kali ini bermain sebagai Putra, suami posesif yang menyimpan rahasia perkawinan masa lalunya.
Model seksi Indah Kalalo sebagai Amira yang cantik cerdas banyak mempertontonkan kemolekan tubuhnya disini.

Sutradara:
Hartawan Triguna yang juga bertindak sebagai produser tampaknya cukup pede menggarap film ini. Entah apa yang ingin dijualnya, horor picisan atau adegan syur?

Komentar:
Lemahnya skrip menjadi kendala utama film ini tapi jangan salahkan novel Sekar Ayu Asmara berjudul Bulan Madu yang mendasarinya. Darah Perawan berusaha bercerita. Namun tidak cukup kuat latar belakangnya. Produser dan sutradara rasanya bisa dituding kelewatan memadukan unsur horor dan erotisme yang sangat tidak perlu. Berniat menjadikan nilai jual? Tentunya penonton masa kini tidak sebodoh itu menelan bulat-bulat genre yang pernah merajai perfilman nasional di era 1990an lalu. Kalau mau disebut horor, rasanya tidak cukup menakutkan dan terkesan tempelan belaka.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!