XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label mandarin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mandarin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juli 2015

LITTLE BIG MASTER : Moving Story Of Extraordinary Teacher

Original title:
Ng Gor Siu Haai Dik Haau Cheung


Nice-to-know:
Film yang rilis di Hongkong pada 19 Maret 2015 yang lalu ini menjadi #2 box office di bawah Furious 7

Cast:
Miriam Chin Wah Yeung sebagai Prinicipal Lui
Louis Koo sebagai Tung Tung
Richard Ng
Yuen Yee Ng
Philip Keung
Shui-Fan Fung
Man-Wai Wong               
Sammy Leung   
Mimi Chi Yan Kung
Winnie Ho
sebagai Siu-suet
Zaha Fathima sebagai Kitty
Khan Nayab sebagai Jennie
Keira Wang sebagai Chu-chu
Fu Shun-ying sebagai Ka-ka

Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi Adrian Kwan setelah Team of Miracle: We Will Rock You (2009).

W For Words:
Jika Indonesia memiliki sosok Butet Manurung yang gigih menjelajahi pedalaman hutan Jambi demi memberikan pendidikan bagi anak-anak rimba dalam Sokola Rimba (2013), maka Hongkong mempunyai Lillian Lui Lai-hung yang rela melepas karir di sekolah bergengsi demi menyelamatkan sekolah terpencil yang terancam ditutup. Yes, you’re in for humanist story! Film yang mencatat box-office 33 juta HKD selama peredaran seminggu pertama di Hongkong pada April silam ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Thanks to Feat Pictures who brought this to us via Cinemaxx and CGV Blitzmegaplex!

Akibat perbedaan prinsip, Kepsek Lui keluar dari sekolah elit bertepatan dengan mundurnya sang suami sebagai kurator musium. Niat keduanya untuk bersantai dan keliling dunia batal setelah mendengar TK di desa Yuen Long akan diganti menjadi tempat pembuangan sampah. Lima murid tersisa, Siu-suet yang membantu ayahnya yang pincang, Chu-chu yang kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan dan tinggal bersama bibinya, Ka-ka yang jadi saksi pertengkaran ayah ibunya yang menjadi korban kontraktor, dua bersaudari Pakistan yakni Kitty dan Jennie yang dilarang ayahnya bersekolah harus bekerjasama mencari murid baru demi kelangsungan sekolah mereka.














Skrip yang ditulis oleh Adrian Kwan dan Hannah Chang ini memang menekankan pada kisah orang-orang biasa (kelas menengah ke bawah) dengan segala permasalahan nyata dalam keseharian mereka. Berbagai kritik sosial turut menyertai, seperti sikap sinis, apatis dan pesimis masyarakat masa kini dalam menyikapi hampir semuanya. Belum lagi kasus bullying dalam segala bentuk yang kian marak. Bagaimana pihak yang kurang beruntung akan semakin ditekan. Keseluruhan problem tersebut secara gemilang mampu terangkai dalam satu bingkai yakni pendidikan sebagai dasar utama akhlak manusia. 

Yeung berhasil menyalurkan emosi sebagai pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri meski harus berjuang secara fisik sekalipun. Koo sukses menghidupkan sosok suami yang berpendirian teguh dan mencintai dengan cara yang unik. Chemistry keduanya mungkin tidak begitu nyata terlihat tapi terasa natural dan belieavable. Ho, Fu, Wang, Fathima dan Nayab merupakan bintang dalam film ini. Penampilan individual maupun saat berinteraksi dengan keluarga masing-masing  akan menawan hati anda hingga tanpa sadar menitikkan air mata dibuatnya.














Produser Benny Chan yang sudah banyak makan asam garam berusaha menjawab tantangan dimana film yang diangkat dari kisah nyata biasanya sulit berbicara di pasar. Saya tidak tahu metode yang digunakan Kwan, selama ini dikenal sebagai sutradara ‘Kristen’ lewat karya-karyanya, dalam menggali potensi kelima gadis cilik yang sebetulnya bukan aktris untuk merajut sisi emosional yang begitu pas. Sinematografi Anthony Pun terasa ciamik menangkap setiap detil shot yang berisi. Musik Wong Kin-wai memberi nyawa melodrama yang kuat. Sedangkan editing Curran Pang semestinya bisa lebih cepat sehingga lebih efektif dalam bercerita.

Produksi kolaborasi One Cool Film Production, Sil-Metropole Organisation, Sirius Pictures International dan Sun Entertainment Culture ini diyakini akan menuai banyak penghargaan di festival film internasional. Selain didedikasikan untuk semua pengajar di seluruh dunia, Little Big Master adalah sebuah upaya untuk mengerti suka dan duka kehidupan itu sendiri dari kacamata anak-anak. Suatu peringatan dimana kita yang bertumbuh dewasa kerap lupa untuk menjaga optimisme sambil tetap bermimpi akan tujuan yang ingin dicapai. Passions will drive you forward, no matter what challenge you might face.

Durasi:
112 menit

Movie-meter:

Senin, 29 Juni 2015

SPL 2 : A TIME FOR CONSEQUENCES No-Holds-Barred For Action Fanfare

Original title:
Saat po long 2

Nice-to-know:
Bukan merupakan prekuel ataupun sekuel walaupun masih dibintangi Wu Jing dan Simon Yam dengan karakter yang juga berbeda.

Cast:
Tony Jaa sebagai Chai
Jacky Wu sebagai Kit
Max Zhang sebagai Ko
Simon Yam sebagai Wah
Louis Koo sebagai Hung
Unda Kunteera Thordchanng sebagai Sa
Jun Kung sebagai Bill

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Cheang Pou-sui setelah The Monkey King (2014).

W For Words:
Para penikmat action Mandarin mungkin akan menyebutkan Saat po long alias Kill Zone (2005) jika ditanya salah satu film favoritnya sepanjang masa. Adalah Wilson Yip yang membesutnya jauh sebelum trilogy Ip Man yang legendaris tersebut. Satu dekade kemudian, 1618 Action Limited dan Abba Movies Co. Ltd. merilis sekuelnya meski tak lagi digawangi Yip dan juga sudah ditinggalkan oleh dua bintang besar Donnie Yen dan Sammo Hung. Jangan apatis dulu. Cobalah perlakukan film ini sebagai standalone. Reset mindset anda. Who knows you will love it even better.
Setelah penyamarannya terbongkar dalam sebuah misi human trafficking yang dilakukan oleh Hung, polisi Kit dijebloskan ke dalam penjara Thailand yang dijaga oleh sipir Chai. Kedua orang berbeda jalur hidup tersebut memiliki tujuan yang nyaris sama. Hung bertekad transplantasi jantung dari adiknya Bill demi melanjutkan hidup, sedangkan Ko berniat mencari donor sumsum tulang belakang untuk putrinya Sa yang menderita leukemia. Tak dinyana, kecocokan ada pada Kit yang sedang diupayakan bebas oleh pamannya Wah. Pertalian nasib itu kemudian harus dituntaskan dalam pertarungan klimaks berdarah.













Skenario Jill Leung dan Wong Ying ini terbilang ‘cheating’ dalam hal menjembatani komunikasi antar dua bangsa. Lihat bagaimana translator digital bahasa Mandarin dan Thailand yang begitu akurat. Atau pertukaran ‘emoji’ via ponsel yang di luar dugaan mampu memancing tawa penonton. Namun semua itu tertutupi dengan bangunan character arc yang solid dan variatif sehingga arah keberpihakan sudah jelas sejak menit awal tanpa harus dikacaukan dengan strukturisasi twist yang berlebihan. Setup berbagai adegan aksinya juga mulus dengan aksi reaksi yang wajar dari para tokohnya. 

Sutradara Cheang seakan naik kelas beberapa tingkat di sini setelah  The Monkey King (2014) yang mengecewakan itu. Plot demi plot terjahit sempurna demi menciptakan rangkaian emosi yang tidak pernah putus menuju konklusi epilog nya. Salute to editor David Richardson. Sekuens fighting nya begitu apik dengan varian lokasi yang tak kalah menarik, mulai dari penjara hingga gedung bertingkat mewah. Dukungan scoring music layaknya orkestra klasik sekaligus sumbangsih suara Xie Zhongjie dan Kayla Dawn kian memperkuat tone dan dramatisasi yang dibutuhkan.














Wu Jing yang dalam prekuelnya tidak mendapat spotlight memadai kali ini menunjukkan kharismanya sebagai martial arts star yang pantas dipuja. Sementara itu Tony Jaa yang sempat tenggelam usai kiprah cemerlangnya dalam Ong Bak (2003) seharusnya mendapatkan momentum kebangkitan lagi lewat peran Chai. Max Zhang memberikan impresi mendalam sebagai sipir Ko yang kejam dan tangguh. Sama halnya dengan Louis Koo yang mungkin tidak akan anda kenali di sini. Thordchanng sebagai Su yang bernasib malang justru tak jarang menjadi comic-relief. 

SPL 2 yang diberi subjudul A Time For Consequences ini masih setia pada elemen unggulan yang ada pada pendahulunya yaitu pertukaran jurus berenergi tinggi. Namun jelas tidaklah tabu jika sebuah film action turut dilengkapi dengan cerita emosional yang menampilkan beraneka ragam hubungan antar manusia nan kompleks lengkap dengan penjabaran sifat-sifat dasarnya. Tinggalkan sejenak logika anda untuk bisa lebih menikmati suguhan yang begitu kental dengan hukum sebab akibat ini. Definitely one of the best action movies in recent years you wouldn’t want to miss. Ready for high-octane tension and rollercoaster emotion? 

Durasi:
120 menit

Movie-meter:




Minggu, 16 Juni 2013

A WEDDING INVITATION : Sappy Romantic Drama With Slightly Disbelief Core

Quote:
Qiao Qiao: Do you know how it feels? The ache in your heart, whenever you think of someone?

Nice-to-know:
Produksi patungan Beijing Century Media International dan CJ Entertainment ini sudah rilis di China pada tanggal 12 April 2013 yang lalu.

Cast:
Eddie Peng sebagai Li Xing
Bai Baihe sebagai He Qiao Qiao
Jiang Jin Fu sebagai Mao Mao
Lin Mei-Hsiu sebagai Ibu Li Xing
Pace Wu sebagai Zhou Rei

Director:
Merupakan film kelima bagi sutradara Korea, Oh Ki-Hwan yang saya kenal lewat Art of Seduction (2005).

W For Words:
Masih adakah kesempatan kedua bagi cinta? Sudah berapa ribu kali tema tersebut diangkat dalam film oleh sineas belahan dunia manapun. Kali ini China dan Korea berkolaborasi atas prakarsa CJ Entertainment menghadirkan versinya sendiri. Penulis skrip China, Qin Haiyan memberi amunisi pada sutradara Korea, Oh Ki-Hwan untuk mengeksekusinya. Meski sempat kesulitan mencari cast yang pas akhirnya bergabunglah aktor populer Taiwan, Eddie Peng dengan bintang China, Bai Baihe sebagai lead nya. Formula yang tampaknya cukup ampuh untuk menarik minat masyarakat Asia Pasifik.

Li Xing dan Qiao Qiao adalah pasangan kekasih semenjak SMU. Menjelang lulus, Li Xing melamar Qiao Qiao di sebuah café. Di luar dugaan, Qiao Qiao menolak dengan alasan Li Xing belum siap. Mereka membuat perjanjian jika dalam 5 tahun ke depan belum menikah maka akan bersatu kembali. Saat yang dinanti tiba, Qiao Qiao menghubungi Li Xing hanya untuk mendapati pria tersebut akan menikah dengan putri bosnya, Zhou Rei. Dengan bantuan sahabatnya yang gay yaitu Mao Mao, Qiao Qiao memberanikan diri untuk merebut hati Li Xing kembali sekaligus menguak rahasia besar yang tersimpan.

Premis film ini memang menjanjikan. Sayangnya banyak lubang menganga disana-sini yang membuat penonton sulit untuk dapat memahami pribadi Li Xing dan Qiao Qiao sepenuhnya.  Apapun alasannya, cap materialistis Qiao Qiao sulit dihilangkan. Gadis ini menjadi abu-abu karenanya. Sama halnya dengan Li Xing yang terkesan berdiri di tengah-tengah, antara playboy flamboyan atau kekasih setia. Kompetisi masak yang diikuti Li Xing juga tidak meyakinkan. Publikasi besar hingga disiarkan langsung di televisi dengan ditonton oleh ribuan pasang mata hanya untuk menjadi chef hotel bintang tiga? Really?

Sutradara Oh dengan timnya yang dibawa langsung dari negeri ginseng itu memang sudah melakukan yang terbaik. Terbukti feel filmnya sangat Korean dengan pemilihan setting yang ciamik dan tata artistik yang sedap dipandang. Scoring musik dari Lee Ji-Soo juga tidak mengecewakan dalam membangun mood. Transisi komedi di paruh awal menjadi melodrama di paruh akhir terbilang mulus meski dilakukan dengan cukup instan. Terima kasih pada supporting Jiang Jinfu dan Pace Wu yang lumayan mencuri perhatian.

A Wedding Invitation adalah sebuah date movie dimana sang pria sebaiknya menyiapkan tisu untuk pasangannya. Pada akhirnya akan membagi audiens menjadi dua. Mereka yang kritis tidak akan terlalu menyukainya karena alasan yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Namun bagi easy viewers tampaknya tak akan merasa keberatan dan bisa dengan mudah terhanyut dalam permainan takdir. Pesan yang ingin disampaikan tentu saja ajakan untuk menghargai setiap momen selagi jatuh cinta sebelum semuanya terenggut dan meninggalkan guratan penyesalan nan dalam.

Durasi:
104 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 18 Januari 2013

CHINESE ZODIAC : You’ve Seen These Actions Before


Quote: 
Vulture: I can kick your ass without leaving this couch.
JC: Show me.  


Nice-to-know: 

Jackie Chan mencatatkan diri dalam Guinness World Record sebagai empunya kredit terbanyak dalam sebuah film yaitu 15, menumbangkan rekor sebelumnya yang dipegang Robert Rodriguez dengan 11.  

Cast: 
Jackie Chan sebagai Asian Hawk
Oliver Platt sebagai Lawrence Morgan
Laura Weissbecker sebagai Katherine
Caitlin Dechelle sebagai Katie
Emilie Guillot sebagai French Reporter
Rani Bheemuck sebagai Indian Reporter
Alaa Safi sebagai Vulture
Zhang Lanxin
Kwon Sang Woo
Liao Fan


Director: 
Merupakan film ke-16 yang disutradarai oleh Jackie Chan setelah terakhir 1911 (2011).

W For Words: 
Aksi akrobatik Jackie Chan tentu bukan hal baru lagi, terlebih bagi anda para penikmat film Mandarin sejak tahun 90an, atau bahkan 80an. Ayolah, tak perlu malu berbicara umur. JC saja di usia 57 tahun masih berani mempertontonkan kebolehannya yang fenomenal itu. Filmnya yang ke-101 ini diidentifikasikan oleh banyak pihak sebagai remake tak resmi dari Armor of God (1986) yang diikuti oleh sekuelnya Armor of God II : Operation Condor (1991). Bahkan di China sendiri beredar versi IMAX 3D nya meski sebetulnya cukup dinikmati dalam versi 2D saja.

Pebisnis kaya sekaligus pengumpul barang antik, Lawrence Morgan terobsesi mengumpulkan 12 artefak kepala shio hingga mengutus pemburu harta karun, JC dan mengganjarnya satu juta dollar untuk setiap temuannya. JC bersama timnya berangkat ke Paris demi bertemu Coco, wanita Cina yang bertekad mengembalikan semua peninggalan ke negerinya. Dalam perjalanan mencari Summer Palace yang juga diincar oleh banyak pihak, Duchess Katherine yang menanggung hutang kakek buyutnya menawarkan bantuan. 

Butuh empat orang untuk merampungkan skrip ini, masing-masing Frankie Chan, Jackie Chan, Edward Tang, Stanley Tong. Premisnya memang mirip dengan franchise cult Indiana Jones atau yang lebih baru National Treasure, ekspedisi harta karun yang melibatkan berbagai kelompok sebelum saling berseteru untuk jadi pemenang mutlak. Sayangnya chapter demi chapter dalam film ini terasa disconnected, perpindahannya tidak smooth dan terkesan dipaksakan. Konfliknya pun ditarik ulur sedemikian rupa sampai diakhiri dengan kurang logis. 

JC memang seorang yang berbakat sekaligus ambisius. Multitasking yang dilakukannya disini tak kurang dari 15! Tetap saja tugas terberat adalah produser, sutradara dan tentunya aktor. Jika anda sempat melihat behind the scene yang mengiringi end credit, beberapa adegan disyut dengan kamera otomatis. Luar biasa! Khusus akting, harus diakui faktor umur sudah melimitasinya walaupun kekerasan hati untuk masih melakukan sebagian besar adegan tanpa stuntman harus diacungi jempol. Namun keseluruhan aksinya itu nyaris tidak menawarkan hal baru. Predictable!

Sesungguhnya Chinese Zodiac memiliki pesan yang mulia, “Hargailah setiap peninggalan antik dengan mengembalikannya pada pihak yang memang berhak menyimpannya”. Hanya saja durasi dua jam dirasa terlalu panjang apalagi kebanyakan diisi dengan plot-plot tidak penting yang gagal menyunggingkan senyum atau memacu detak jantung. Berbagai tokoh dengan kebangsaan yang berbeda-beda juga mengganggu karena tidak semuanya fasih berbahasa Inggris. Saya berharap mudah-mudahan kemunculan “terakhir”nya dalam tipikalitas produksi Hongkong ini  masih mampu menghibur anda. Mind the story, just enjoy the action!

Durasi: 
120 menit

China Box Office: 
$127,000,000 till Jan 2013

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 10 Desember 2012

MILLION DOLLAR CROCODILE : Laughable Beast Movie From China


Quote: 
Insurance agent: Believe it or not, it’s this long and this big!
Wang: Did you see it yourself?
Insurance agent: No

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Screen Media Films ini sudah rilis di China pada tanggal 8 Juni 2012 yang lalu.

Cast: 
Tao Guo sebagai Wang Beiji
Barbie Hsu sebagai Wen Yan
Suet Lam sebagai Zhao

Ding Jiali sebagai Xiaoxing
Shi Zhaoqi sebagai Liu

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Li Sheng Lin yang juga menulis skripnya.

W For Words: 
Pencapaian terbaik film ini adalah sebagai pembuka Montreal International Film Festival 2012. Tampaknya China cukup percaya diri dalam memproduksi film pertama yang mengusung teknologi CGI secara baik dan benar dalam wujud buaya betina sepanjang 36 kaki! Jangan ditanya berapa banyak judul produksi Hollywood yang bertemakan serupa sebelumnya mulai dari yang paling wah sampai medioker sekalipun. Kesalahan terbesar biasanya ada di aspek cerita yang kurang diperhatikan. Bagaimana dengan yang satu ini? Tertarik untuk membuktikannya sendiri?

Bocah sepuluh tahun, Xiaoxing menganggap buaya raksasa bernama Amao milik Kakek Liu sebagai temannya. Karena kesulitan uang untuk perawatan, Amao dan kawanan buaya lain terpaksa dijual pada pengusaha restoran ilegal, Zhao. Pada satu kesempatan, Amao berhasil kabur dan tanpa sengaja menelan sebuah tas berisi uang seratus ribu Euro punya Yan yang baru kembali dari Italia. Yan yang tidak terima melapor pada polisi lokal, Wang yang juga ayah Xiaoxing. Perburuan liar dari berbagai pihak lantas dilakukan terhadap buaya betina yang mulai mengganas tersebut.

Lin sebagai penulis skrip memang lebih menitikberatkan pada unsur hiburan dan komedinya. Saya harus katakan sejak menit awal, film ini gagal menjaring simpati penonton terhadap salah satu karakternya sekalipun. Xiaoxing tidak tampak seperti bocah lugu menggemaskan tapi nakal menyebalkan, Yan bukanlah heroine tegar tapi materialistis manja, Wang lebih mirip pecundang menyedihkan dibanding polisi berwibawa. Siapa dari mereka yang akan anda dukung untuk selamat pada akhirnya? Jika harus jujur, saya berharap ketiganya menjadi korban saja dengan karakteristik yang begitu mengganggu.

Lin sebagai sutradara memang berupaya menjaga tensi film agar stabil. Ia cukup berhasil meski harus menempuh jalan yang corny sekalipun termasuk memberikan sisi emosional pada Amao di penghujung. Spesial efek merupakan suguhan terbaik dimana pergerakan buaya tergolong wajar, baik di darat (kebun teh) atau air (sungai, bendungan) lengkap dengan jejak yang ditinggalkannya. Apabila anda berharap cipratan darah dan adegan kekerasan mungkin akan kecewa karena porsinya tergolong minim dan cenderung aman dikonsumsi oleh seluruh kelompok umur.

Satu-satunya yang tampil menawan disini adalah Suet Lam dengan sifat rakus dan culasnya yang dominan sebagai antagonis Zhao. Andai dapat memaklumi “kepayahan” Wang, akting Guo Tao sebetulnya cukup menarik. Ia tabah menghadapi “tekanan” dari sana sini mulai dari atasan, rekan kerja, warga, pendatang baru hingga anaknya sendiri yang tidak menghargainya. Bagi aktris sekaliber Barbie Hsu, peran Yan hanya akan menorehkan catatan hitam karirnya. Saya sangat terganggu dengan dialog itu-itu saja yang tak jarang terucap melalui jeritan melengking atau teriakan histeris.

Million Dollar Crocodile pada akhirnya hanya akan menjadi film kebanggaan negeri tirai bambu yang sebetulnya tidak pantas dibanggakan. Kelemahan skrip tak bisa dipungkiri terlepas dari kemustahilan yang paling mungkin terjadi pada setting pinggiran propinsi Hangzhou masa kini. Sisi komedik yang dibangun terbukti masih bercitarasa lokal, simak dialog antara pemetik teh Fang Qingzhuo dan agen asuransi Wang Jinsong yang kocak itu. Terima kasih pada sinematografer Li Xi dengan konsep fotografi layar lebarnya yang menjadikan film yang juga dikenal dengan judul Croczilla ini believeable.

Durasi:
87 menit 

Overall: 

6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 07 Desember 2012

ASSASSINS : Character Study Over Action Sequences About Cao Cao


Quote:
Ling Ju: Selama harapan itu masih ada, tak akan bisa membunuh kita.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh Changchun Motion Picture Studio, Enlight Pictures dan Le Vision Pictures ini sudah tayang di China pada tanggal 26 September 2012 yang lalu.

Cast:
Chow Yun-Fat sebagai Cao Cao
Liu Yifei sebagai Gong Ling Ju
Hiroshi Tamaki sebagai Mu Shun
Alec Su sebagai Emperor Xian
Annie Yi sebagai Empress Fu Shou
Qiu Xinzhi sebagai Cao Pi
 


Director:
Merupakan debut penyutradaraan Zhao Linshan.

W For Words: 
Superstar Hongkong, Chow Yun-fat memang telah menua selama satu dekade terakhir. Pria bernama Mandarin “Aman” ini di usia ke-57 mendapat kepercayaan memerankan tokoh antagonis legendaris Cao Cao dalam film yang sedianya berjudul Bronze Sparrow Terrace ini. Mungkin faktor komersil dan familiar yang akhirnya melahirkan judul The Assassins. Kabar baiknya distributor Well Go USA telah membeli hak rilis untuk Amerika Utara dari Arclight Films yang juga sudah menjual film-film produksi Asia lainnya seperti Hua Mulan, The Four hingga Dangerous Liaisons.  

Periode Sam Kok, Cao Cao sang Perdana Menteri Dinasti Han melebarkan sayap ke Timur demi mengalahkan pejuang terbaik daratan China, Lv Bu. Beberapa tahun kemudian ia dinobatkan sebagai Raja Wei dan membangun Pulau Gagak Perunggu untuk menegaskan kekuatannya. Sementara itu pasangan muda Mu Shun dan Ling Ju diambil dari penjara untuk dilatih sebagai pembunuh di kuburan tersembunyi selama lima tahun. Putra Cao Cao dan para pengikutnya lantas mendesaknya untuk segera maju sebagai Kaisar baru terlepas dari berbagai pihak yang menentangnya. 

Berbeda dengan dwilogi Red Cliff (2008-2009) yang lebih menonjolkan aksi, skrip milik Wang Bin dan Wang Hailin ini memang lebih mengedepankan  kerapuhan fisik dan mental seorang tokoh sejarah.  Sayangnya romantika Mu dan Ling terkesan tempelan belaka, tidak mampu memperkuat plot utamanya. Sutradara debutan Zhao Linshan dibantu sinematografer handal Zhao Xiaoding untungnya masih terampil menyuguhkan visual ciamik termasuk saat para pembunuh meretas jalan dari tali di udara selain detail setting yang begitu indah sebagai panggung bercerita.

Yun-fat kembali dengan peran serupa dalam The Curse of the Golden Flower (2006). Karismanya terasa kuat meski dengan usaha minim sekalipun. Bayangkan jika ia benar-benar ambil bagian sebagai Cao Cao dalam Red Cliff 1 & 2. Yifei tergolong aman dalam menghidupkan Ling, dedikasinya tak jarang bertentangan dengan suara hatinya sendiri. Hiroshi berhasil memaksimalkan karakter Mu terlepas dari sedikitnya eksplorasi skenario. Alec Su sukses menjiwai Kaisar Xian yang selalu merasa tak bersalah atas apapun yang telah dilakukannya

Assassins terbukti menitikberatkan pada pembelajaran antar karakternya dibandingkan sekuens aksi yang biasanya melibatkan kekerasan dan pertumpahan darah. Kelemahannya adalah penempatan sisi emosional yang terasa miss di setiap bagian sehingga atensi penonton seakan terbagi dari satu subplot ke subplot lainnya. Ini adalah interpretasi “lain” dari Zhao yang patut diapresiasi dan masih dapat dinikmati sebagai sebuah film tapi tidak akan disambut meriah oleh kalangan moviegoers yang keburu merasa jenuh dengan tema sejenis dalam presentasi yang tak terkoneksi dengan baik.

Durasi:
107 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 03 September 2012

WU DANG : Horrendous Script Awful Martial Arts

Original title:
大武当之天地密码

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Mei Ah Entertainment ini sudah rilis di China pada tanggal 6 Juli 2012 yang lalu.

Cast:
Zhao Wenzhuo sebagai Tang Yunlong
Yang Mini sebagai Tian Xin
Fan Siu-Wong sebagai Shui Heyi
To Yu-Hang sebagai Bai Long
Shaun Tam sebagai Paul Chen
Xu Jiao sebagai Tang Ning

Director:
Merupakan feature film ke-13 bagi Patrick Leung yang terakhir menggarap komedi Hei wong ji wong (2007).


W For Words:
Melihat nama Vincent Zhao, Louis Fan dan Dennis To ada di jajaran pendukungnya tentu wajar jika para penggemar film Mandarin mengharapkan suguhan martial arts yang luar biasa memukau. Apalagi settingnya sendiri mengambil lokasi pegunungan Wudang, terletak di bagian selatan lembah sungai Hansui yang dikenal sebagai pusat akademi praktisi meditasi, pengobatan tradisional, pengajaran Tao hingga pelatihan seni beladiri kungfu sejak jaman Dinasti Han ratusan tahun yang lalu. Namun jangan buru-buru menarik kesimpulan akan apa yang tersaji di hadapan anda.

Daratan Cina di jaman pembentukan RRC, pegunungan Wudang dibanjiri oleh pendekar-pendekar berilmu tinggi dari segala penjuru untuk mengikuti kompetisi beladiri. Dua kubu diantaranya adalah Professor Tang Yunlong beserta putrinya Tang Ning dan Tian Xin yang pernah mewarisi pedang pusaka dari kakeknya. Ternyata bukan hanya itu tujuan mereka, melainkan harta karun yang tersembunyi selama beratus-ratus tahun. Perburuan tersebut juga melibatkan penyelundup barang pusaka, Paul Chen melaksanakan niat jahat yang sudah lama direncanakannya.

Ujian terberat bagi aktor-aktris yang terlibat disini mungkin ada di cuaca dingin yang bahkan mencapai minus dimana kostum yang digunakan masing-masing terbilang tipis. Mereka juga berupaya menampilkan karakteristik beladiri yang berbeda-beda di atas kelemahan akting yang terasa amat kaku . Sutradara Patrick Leung menggunakan pendekatan old-fashioned untuk menerjemahkan tiap konflik dan penyelesaian yang ada meski mengalami keterbatasan dana. Untungnya scoring music dari Lincoln Lo dan editing milik Cheung Ka Fai tak terlalu mengecewakan.

Skrip Huang Jianxin menyimpan kelemahan terbesar dalam produksi film. Prolog yang dibuka dengan perburuan harta karun bergeser menjadi kompetisi bela diri. Belum selesai, penonton sudah disuguhi konflik percintaan dan pengorbanan yang cheesy. Kalimat-kalimat semacam: “Maukah kau menikahi ayahku?”, “Bersediakah kau menjadi istri anakku?”, “Jika aku mati..” akan membuat kening anda berkerut. Pada akhirnya semua tumpukan plot cerita tersebut ditutup begitu saja dengan menyisakan banyak pertanyaan, kenapa begini, kenapa begitu?

Sebenarnya Wu Dang berpotensi tinggi untuk menjadi besar jika digarap dengan lebih serius dan terencana. Bukan sekadar pengadeganan yang believable tanpa mengandung unsur “wow” samasekali. Koreografi yang tidak memukau dari Cory Yuen karena terlalu textbook dengan permainan kamera disini tak juga mampu dicover dengan pemanfaatan efek CGI yang tidak maksimal. Hasilnya? World Heritage Site di provinsi Hubei ini adalah satu-satunya hiburan anda lewat suguhan pemandangan alami yang tak terbantahkan indahnya.

Durasi:
99 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 13 Agustus 2012

THE FOUR : Missed Opportunity Potential Asian Superheroes

Quote:
Zhuge Zhengwo: Bagi sebagian besar wanita, tak ada wanita yang baik di dunia ini.

Nice-to-know:
Sudah rilis di China pada tanggal 12 Juli 2012 yang lalu.

Cast:
Ronald Cheng sebagai Life Snatcher
Collin Chou sebagai Iron Hand
Chao Deng sebagai Cold Blood
Crystal Liu Yifei sebagai Emotionless
Sheren Tang
Anthony Wong Chau-Sang sebagai Zhuge Zhengwo
Cheng Tai Shen sebagai Sheriff King
Wu Xiubo sebagai An Shigeng

Director:
Merupakan film ke-30 bagi Gordon Chan setelah terakhir Mural (2011).

W For Words:
Woon Swee Oan yang berkebangsaan Malaysia telah menuai sukses lewat novel yang mengisahkan kiprah empat detektif ulung dalam memecahkan kasus di China masa lampau. Kini adaptasi layar lebar yang ditangani oleh Gordon Chan ini merupakan salah satu film Mandarin paling ditunggu untuk medio 2012. Beruntung publik Indonesia dapat menikmatinya tepat satu bulan setelah tanggal edar di negara asalnya.

Pada jaman Pemerintahan Dinasti Song terdapat The Six Gate Constabulary pimpinan Sheriff King yang beranggotakan pengawal resmi dan The Divine Constabulary pimpinan Zhuge Zhengwo yang beranggotakan rakyat berkemampuan khusus. Saat terjadi kasus peredaran uang palsu, Zhengwo mengutus Iron Fist, Emotionless, Life Snatcher untuk mengusutnya. Ternyata akar kejahatan yang lebih besar justru sedang dirancang oleh An Shigeng yang bertekad membangkitkan pasukan zombie untuk mengambil alih kedudukan raja.

Mungkin butuh waktu lama bagi anda untuk benar-benar terintrusi ke dalam storytelling film wuxia ini. Setengah durasi pertama bahkan dihabiskan untuk pengenalan karakter yang bejibun itu, termasuk pembahasan konflik-konflik dasar yang sebetulnya tak terlalu krusial. Contoh perasaan terpendam Cold Blood terhadap Emotionless atau aura persaingan Zhengwo dan King dalam merebut simpati raja. Sebenarnya sah-sah saja karena bumbu macam itu memang dibutuhkan untuk memanusiawikan tokoh-tokohnya asal tidak berlebihan.

Production design yang terlihat apik mulai dari wardrobe, make-up hingga setting lokasi 80an ala Hongkong terasa mubazir dengan kemiskinan skrip dan eksekusi Gordon yang tidak spesial padahal jam terbangnya terbilang tinggi. Fokusnya pun terasa blur, apakah drama, thriller, fantasy atau martial arts? Jika dianalogikan sebagai mixed-up genres dengan kepadatan subplot disana-sini maka hasilnya bisa diduga, tidak banyak esensi yang berhasil digelorakan pada penonton di sepanjang durasinya.

The Four dapat kita kategorikan sebagai X-Men versi Asia dimana anda dapat temui "mutan" yang dapat berubah bentuk, membaca pikiran, menggerakkan barang-barang, mentransfer panas/dingin dsb. Jajaran cast yang sebagian besar berasal dari daratan China terbilang berhasil menyuguhkan akting yang menarik terutama Anthony yang minim screen presence atau Collin yang berdarah dingin tersebut. Kabar baik (atau buruk) nya, Enlight Pictures sudah sepakat mengembangkan trilogy dimana saat ini Part 2 sedang dalam tahap pengerjaan. We might hope for a better execution and subtle storyline to get more into this potent Mandarin franchise.

Durasi:
118 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
  

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 01 Juli 2012

MOTORWAY : Familiar Quality Chase and Drive Theme


Tagline:
Lo: If you lose your drive, you’re worse off than a broken car.

Nice-to-know:
Film berjudul asli Che Sau yang diproduksi Milkyway Image Productions ini rilis di Hongkong pada tanggal 21 Juni 2012.

Cast:
Anthony Wong sebagai Lo
Shawn Yue sebagai Cheung
Guo Xiaodong sebagai Jiang
Michelle Ye
Barbie Hsu
Josie Ho

Director:
Merupakan film kesebelas bagi Pou-soi Cheang setelah Accident (2011).

W For Words:
Kabarnya produser Johnny To dan sutradara Soi Cheang telah mengerjakan proyek ini sejak tahun 2009. Berbagai proses pengulangan mulai dari skrip, syuting hingga editing pun menyertai sebelum film dapat dirilis sepenuhnya medio 2012 ini. Sesungguhnya buah pemikiran Joey O'Bryan dan Kam-Yuen Szeto ini tidak menawarkan hal baru dengan formula serupa milik franchise The Fast And The Furious, Gone In 60 Second (2000) atau produksi Hongkong sendiri, Initial D (2005). Meski demikian hal tersebut tidak menyurutkan langkah saya untuk menyaksikannya. In the end, I’m satisfied enough!

Jiang adalah pengemudi ulung yang telah pensiun tapi sepakat membantu criminal berbahaya keluar dari penjara demi satu perampokan berlian terakhir di Wui Tai Commercial Building. Musuh bebuyutannya, Lo juga akan menjalani masa bakti terakhirnya sebagai polisi senior. Polantas muda, Cheung yang ambisius bertekad menangkap Jiang tetapi gagal di gang sempit yang menghancurkan mobilnya. Dikeluarkan dari satuan karena sifat pembangkangnya, Cheung tak berniat mundur dan meminta bantuan Lo untuk mengajarkan teknik mengemudi terbaiknya.

Sutradara Cheang berupaya mempercepat tempo untuk menghindari kebosanan. Perasaan yang memang sulit dihindari ketika terjadi dramatisasi di beberapa bagian, terlebih penjelasan masa lalu Lo yang dirasa perlu. Untungnya penampilan aktor-aktris kaliber Hongkong disini samasekali tak mengecewakan walaupun tidak dominan. Karakter kunci tetap dipegang oleh trio Anthony, Shawn dan Guo yang memberikan penjiwaan yang sesuai dengan karakterisasi masing-masing. Kemunculan sekilas Barbie sebagai dokter bedah yang disukai Cheung memberikan warna lain dalam kemungkinan romansa di antara mereka.

Jangan harapkan aksi kejar-kejaran seru yang rajin menghancurkan mobil mewah layaknya produksi Hollywood. Film ini terbukti masih menawarkan semua hal tersebut tetapi dalam skala yang lebih kecil. Tentunya sudah disesuaikan dengan konflik yang ada di antara penjahat karismatik dan polisi simpatik yang setara itu sehingga terjadi pertukaran dialog yang efektif secukupnya. Yang menarik, sinematografer Yuen Man Fung dan Kenny Tse melakukan keseluruhan proses tanpa permisi dimana waktu syuting memang dominan di malam hari. This is what you called guerrilla-style!

Segi lighting yang minim karena pencahayaan natural di bagian penghujung film memang agak mengganggu kenikmatan penonton dalam mengetahui apa yang tengah terjadi. Overall, Motorway masih lumayan mengesankan walau mengusung ide familiar dan gaya konvensional. Seperti yang anda tahu, sang jagoan percaya diri, gagal pada kesempatan pertama, bangkit karena mendapat suntikan moral dari sosok ayah/guru yang membimbingnya sebelum sukses mencapai tujuannya. Therefore, only smart filmmaking skills make it slightly different this time!

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent