XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label arumi bachsin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arumi bachsin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2012

HATTRICK : Serba-Serbi Idealisme Dan Patriotisme Futsal

 
Quotes:
Pak Toro: Kenapa masih nyuri, Nand. Kan semua udah disediain perlengkapan latihannya.
Anand: Gak apa, Pak. Saya mah cuma cari adrenaline rushnya aja.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh MVP Pictures ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 8 Mei 2012.

Cast:
Arumi Bachsin sebagai Sophie
Denny Sumargo sebagai Galang
Lukman Sardi sebagai Pak Toro
Ira Wibowo sebagai Bu Bos
Fauzan Nasrul sebagai Samuel
Lionil H Tikoalu sebagai Halil
Dion Wiyoko sebagai Alung
Amrit Punjabi sebagai Anand
Mikael Jakarimilena sebagai Markus
Pong Hardjatmo sebagai Pak Dedy

Director:
Merupakan film kedua bagi Robert Ronny setelah salah satu segmen dalam omnibus Dilema (2012).

W For Words:
Bicara jujur, saya bukanlah seorang penggila futsal yang komunitasnya di Indonesia semakin bertambah dari waktu ke waktu, terbukti beberapa lahan kosong di tengah kota pun beralih fungsi menjadi lapangan sewaan yang rutin dipadati penonton. Premis yang idenya muncul dari buah pikiran Ody C Harahap, Robert Ronny dan Amrit Punjabi ini menjadikannya sebagai film lokal pertama yang mengangkat olahraga futsal dimana pendekatannya mengingatkan anda pada Gara-Gara Bola (2008).
Turnamen Underground Futsal bertaraf internasional kembali digelar. Janda mafia, Bu Bos berambisi meneruskan cita-cita suaminya memiliki tim futsal jawara. Direkrutlah Toro sebagai pelatih bagi para anggota tim bentukannya yaitu Samuel, Alung, Halil, Anand dan Markus dari berbagai latar belakang hidup yang kemudian ditempa secara intensif baik fisik maupun teknik. Waktu latihan yang semakin singkat kerapkali diganggu oleh masalah-masalah pribadi kelima pemuda tersebut. Berhasilkah tim Garuda Merah bersaing dengan 7 tim kuat dari berbagai negara lainnya?
Satu fakta yang mencolok dalam film ini adalah durasinya yang mencapai 120 menit. Whoa! Suatu hal yang tidak biasa dalam film kita apalagi plotnya tergolong sederhana, lagi-lagi from zero to hero. Alih-alih membahas persiapan dan strategi tim yang matang dalam menghadapi kompetisi, filmmakers malah sibuk menuturkan konflik personal dari enam aktor utamanya, lengkap dengan dramatisasi dan penyelesaian klise yang tidak berkontribusi banyak terhadap bangunan utama cerita. Sekadar ingin memperkenalkan aktor-aktor anyar ke ranah publik meski berbekal akting yang minim?
Fauzan Nasrul jelas memiliki kesempatan paling besar untuk mengeksploitasi perannya bersama dengan Lukman Sardi dan Arumi Bachsin. Namun Lionil H Tikoalu justru tampil paling lugas dengan gaya sok kece dan figur boyband yang melekat padanya, tunggu dulu jika ia mengikuti kompetisi boyband kenapa selalu bernyanyi solo? Ira Wibowo bermain komikal sebagai Bu Bos yang tegas dan galak. Sayang rivalitasnya dengan Pong Hardjatmo digambarkan terlalu teatrikal. 
Sutradara Robert Ronny tampak asyik bermain dengan pieces of puzzle nya yang tergarap dinamik dari satu frame ke frame lain. Ini menarik! Sayang tidak menyajikan sesuatu yang fresh. Babak finale yang seharusnya menjadi penutup memang tersaji memikat tetapi unsur idealisme dan patriotisme nya tidak dapat terhindarkan. Sah-sah saja terkadang kemenangan memang merupakan harga mati seperti apa yang dikatakan Michael Jakarimilena dalam satu-satunya kesempatan bicaranya, “Sejarah tidak pernah mencatat siapa yang menjadi juara dua.” Setidaknya kali ini upaya Samuel, Alung, Halil, Anand dan Markus dalam membangun chemistry satu sama lain lewat olah kata dan bahasa tubuh terbilang padu.

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 26 Januari 2012

KAFAN SUNDEL BOLONG : Syarat Menggelikan Kaya Mendadak

Quotes:
Deden: Loe gak pantes nonton politik, pantesnya nonton tanjidor.


Storyline:
Deden adalah pecundang bermodal pas-pasan. Keinginan untuk dicintai wanita cantik dan mendapat kekayaan membawanya menemui dukun bernama Tante Sun dengan ditemani sahabat karibnya, Munaf alias Muka Nafsu. Syarat yang diajukan hanya tiga yaitu kolor gadis perawan, rambut tokoh tinggi dan kain kafan mayat yang belum semalam di kubur. Sayangnya begitu semua terpenuhi, Tante Sun keburu meninggal. Kekayaan instan yang diterima Deden ternyata membangkitkan amarah sundel bolong yang meminta imbalan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh K2K Productions.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Deden
Arumi Bachsin sebagai Chery
Udin Penyok sebagai Munaf
Andreano Phillip
Jeffrey Lee

Director:
Merupakan film ketujuh bagi Yoyok Dumprink alias Yoyo Subagiyo.

Comment:
Intisari sebuah film nampaknya menjadi unsur ke-9529 bagi seorang KK Dheeraj. Sekelumit ide yang muncul di kepalanya tiba-tiba bisa dituangkan menjadi skrip jadi-jadian sekalipun. Film pertamanya di tahun 2012 ini seharusnya memicu kemarahan seorang Nayato Fio Nuala. Apa pasal? Aktor dan aktris kesayangannya dibajak! Namanya dipasang besar-besar. Tentu anda tahu, saya membicarakan siapa? Tidak lain dan tidak bukan adalah Aziz Gagap dan Arumi Bachsin.

Kembalinya Arumi Bachsin.. Sepertinya kalimat yang “dijual” dalam posternya ini belum selesai. Yang dimaksud bukan kembali ke dunia akting melainkan ke dunia antah berantah. Ini pendapat pribadi saya. Jika Nayato masih berbaik hati memberikannya peran di dunia fana maka tidak kali ini. Peran Cherry adalah pelengkap derita yang muncul di bagian pembuka dan penutup saja, selayaknya buah ceri yang menghiasi kue tart yang samasekali tidak enak rasanya. Kasihan!
“Bintang” sesungguhnya dalam film ini adalah duet Aziz Gagap dan Udin Penyok yang bahu-membahu berjayus ria sambil berupaya membangkitkan kembali trend sundel bolong yang konon digagas oleh almarhumah Suzanna yang legendaris itu. Sayangnya sundel bolongnya terlihat palsu dan tidak meyakinkan. Jangan harap melihat belatung bermunculan dari punggung berlobang, fokus justru ada di muka hitam yang merupakan kombinasi dari hanoman, nenek gerondong dan genderuwo?

Originalitas menjadi sesuatu yang mahal harganya dalam film-film KKD. Setidaknya ada 2 tembang hits mancanegara yang diambil dalam film ini yaitu Labels or Love dan Kuch Kuch Hota Hai. Adegan slapstick Aziz Gagap di toilet bahkan mengingatkan anda pada satu-dua episode serial televisi Mr. Bean. Entah sederetan jiplakan ide lain apalagi yang berlalu-lalang di kepala dimana saya terlalu malas untuk mengingatnya. Jika ada tambahan, sedianya anda bisa berbaik hati memberitahu.
Kafan Sundel Bolong yang teramat buruk secara kualitas bagaikan replika film-film Nayato KW2 yang setidaknya lebih baik dari segi penyajian gambar. Aziz Gagap hanya mencoba menjadi dirinya sendiri, jangan salahkan kemiripan akting saat ia melakukan “bully” terhadap pak Pocong atau tante Sun. Eh, mereka punya nama lho! Namun pemakaian nama besar Suzanna di poster filmnya dengan dalih “penghormatan” rasanya perlu dijelaskan KK Dheeraj pribadi lewat pidato 81 menit yang mungkin akan lebih menghibur dibandingkan filmnya sendiri.

Durasi:
81 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 12 Januari 2011

BAIK-BAIK SAYANG : Jatuh “Cinta” Bangun Band Pesantren

Storyline:
Pesantren La Tansa pimpinan Kyai Besar membebaskan siswa-siswinya untuk mengembangkan kesenian apapun yang mereka sukai. Adalah empat sekawan Apoy, Faank, Tomi dan Ovie yang sepakat merintis cita-cita mereka dengan membentuk grup musik. Hal ini kerapkali mendapat gangguan dari Hamzah, pemuda tambun yang iri pada kekompakan mereka. Pada suatu saat, Faank tanpa sengaja mencelakakan gadis yang dicintainya Westi ketika berkendara motor yang mengakibatkan Westi lumpuh. Ayah Westi pun mengusir Faank jauh-jauh karena tidak mampu membiayai pengobatan dan menjodohkan putrinya itu dengan mantan bosnya, Bagas yang kaya raya dan menaruh perhatian pula pada Westi. Meski telah dicoba dekat dengan gadis lain, Faank tetap memikirkan Westi seorang dan menciptakan sebuah lagu. Akankah pada akhirnya impian mereka terwujud?

Nice to know:
Diproduksi oleh Big Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 11 Januari 2011.

Cast:
Wali Band masing-masing Faank, Apoy, Tomi, Ovie
Intan Nuraini sebagai Westi
Arumi Bachsin sebagai Azizah
Sulis sebagai Nurul
Dennis Adhiswara sebagai Bagas
Didi Petet sebagai Kyai Besar
Alicia Djohar sebagai Ibu Westi
Agus Melasz sebagai Ayah Westi

Director:
Kolaborasi pertama bagi Iding Sunadi dan Dodi Mawon.

Comment:
Film seringkali dijadikan biografi bagi tokoh yang sudah mempunyai nama, tidak terkecuali mereka yang berkarya di bidang musik. Kondisi tersebut yang mendorong empat personil Wali menjadi sentralisasi cerita film yang judulnya diambil dari salah satu single hit mereka pula. Suatu perjudian yang cukup berani karena hasilnya bisa jadi buruk sekali jika terlalu mengedepankan ego.
Beruntung Faank, Apoy, Tomi dan Ovie tampil wajar menjadi diri mereka masing-masing disini. Jikapun ada improvisasi, hal tersebut masih dalam batas yang bisa diterima. Terutama Faank dan Apoy yang menurut saya mampu memberikan emosi tersendiri bagi perannya, keluguan yang dibalut semangat optimisme. Penonton akan diajak mengenal satu persatu personil Wali secara sederhana dan tidak terkesan ambisius samasekali.
Sutradara Iding dan Dodi menghadirkan tontonan yang cukup menarik, tidak terlalu ngepop ataupun terlalu berlarut-larut pada konflik di dalam pesantren itu sendiri sebagai proses awalnya. Saya angkat topi bagi Jujur Prananto yang menulis skenarionya dengan maksimal sehingga mempermudah film ini untuk terus mengintrusi subplot demi subplot yang dihadirkan karakter-karakter pendukung.
Intan Nuraini berakting maksimal sebagai Westi yang ceria hingga muram saat terpaksa duduk di kursi roda. Penghayatannya yang berurai mata rasanya cukup menggugah penonton apalagi chemistry nya dengan Faank terasa saling mengisi. Menarik melihat Arumi mau mengambil peran di luar film-film Nayato seperti yang pernah dilakoninya dalam 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta kali ini ia kebagian tokoh siswi yang santun. Dennis meski tidak mendapat porsi yang dominan tetap memberikan support yang tidak kalah penting sebagai Bos Bagas. Apalagi Didi Petet dan Alicia Djohar yang tak perlu diragukan lagi kontribusinya.
Walaupun kesan sinetron yang serba gampang tidak lepas sebagai label film ini, Baik-Baik Sayang tidak dapat dikatakan film sampah. Disinilah kontribusi soundtrack yang ear-catchy dan melantun membahana di setiap adegan yang memang tepat untuk itu berperan sangat besar. Bahkan hingga layar tergulung menutup ending yang terasa dipermudah itu, suara Faank akan tetap mengisi ruang telinga anda dengan lirik-lirik puitisnya. Hanya satu pintaku di siang dan malammu..

Durasi:
95 menit

Movie-meter:

Selasa, 09 November 2010

HEART 2 HEART : Melodrama Cinta Remaja Melankolis

Storyline:
Lewat sahabatnya, Indah berjumpa dengan Pandu. Keduanya tertarik satu sama lain sejak awal 3 hari kemudian mereka saling berbagi kasih di hutan, tepi danau, kebun teh dan tempat-tempat indah lainnya di sekitar villa milik orangtua Indah. Keduanya sepakat akan melanjutkan kisah tersebut di Jakarta dimana Indah lebih dulu berangkat baru disusul Pandu. Sayangnya di Jakarta, Indah sudah dijodohkan oleh pilihan mamanya dengan Ramon. Pandu hanya bisa menggigit jari dan menatap dari kejauhan. Malang tak dapat ditolak, Indah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan pita suara dan penglihatannya yang membuatnya jadi sensitif dan harus hidup menyendiri di villa. Akankah Pandu dapat mengembalikan keceriaan Indah?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kharisma Starvision Plus dan gala premierenya dilangsungkan di Cilandak 21 tanggal 8 November 2010 yang lalu.

Cast:
Aliff Alli sebagai Pandu
Irish Bella sebagai Indah
Argatama Levy sebagai Ramon
Arumi Bachsin sebagai Kakak Indah
Wulan Guritno sebagai Mama Indah
George Taka sebagai Papa Indah
Indah Permatasari sebagai Sahabat Indah

Director:
Rasanya baru minggu lalu Nayato Fio Nuala berusaha “menghibur” para penikmat film Indonesia dengan Gaby dan Lagunya.

Comment:
Setidaknya saya perhatikan ada 3 hal yang coba dijual disini. Pertama, ini adalah buah tangan Titien Wattimena, seorang penulis scenario handal yang sudah diganjar penghargaan festival film dalam negeri. Kedua, kehadiran kolaborasi Melly dan Anto Hoed absen dari kontribusi mereka mengisi soundtrack layar lebar. Ketiga, dua bintang muda yang baru pertama bermain film dan cukup eye-candy yaitu Aliff dan Irish memulai debutnya disini.
Plus faktor, Heart milik Starvision beberapa tahun lalu lumayan sukses setelah disuguhkan akting apik trio Nirina Zubir-Irwansyah-Acha Septriasa. Film ini bisa dibilang kelanjutannya, sama halnya seperti yang dilakukan Nayato dalam Virgin 2 : Bukan Film Porno. Dan hasilnya juga tidak jauh berbeda yaitu sebuah sekuel yang lemah dalam eksekusi cerita tetapi cukup menjual dari sisi sinematografi.
Statement barusan sekaligus meluluh lantakkan ketiga hal tersebut di atas. Jalinan skenario Titien yang sedemikian melankolis menjadi tidak berarti lagi. Kerja keras Melly-Anto yang begitu mendayu-dayu seakan bertabrakan dengan konsep scene yang dihadirkan. Usaha giat Irish dan Aliff dalam menyuguhkan akting yang baik terkesan sia-sia karena stereotype karakter film-film Nayato benar-benar sudah baku, apalagi mereka masih miskin pengalaman sehingga terbawa arus begitu saja.
Betul sekali, lagi-lagi Nayato menjadi diktator ulung dalam sebuah proyek film! Potensi apapun yang dimiliki tidak berhasil mengubah cayanya menyutradarai dengan blueprint yang itu-itu saja. Ibarat peribahasa karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Maka bisa saya ganti menjadi karena telanjur rusaknya susu sebelanga, tidak akan ada artinya lagi jika ditambahkan beberapa tetes madu manis ke dalamnya. Itulah yang terjadi pada Heart 2 Heart yang cukup membosankan dan terkadang ada kesan misinterpretasi skrip. Walau demikian melodrama ini tidak sampai hancur lebur, toh kisah cinta remaja dengan latar belakang setting yang indah masih dapat menjual selayaknya posternya yang begitu manis. Betul?

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 22 September 2010

POCONG JUMAT KLIWON : Misi Horor Humor Pocong Nayato

Storyline:
Di sebuah hutan, Moniq selaku sang sutradara tengah mengarahkan Linda dan Arumi berakting dalam sebuah film pendek. Saat memakai wig, tiba-tiba Linda bersungguh-sungguh mencekik Arumi. Hal ini langsung dihentikan teman-temannya. Linda yang kesurupan tidak terkendali sampai wig yang dikenakannya dilepas oleh Dana. Setelah kejadian itu, mereka ditempeli oleh pocong terus menerus bahkan hingga pulang ke rumah masing-masing sekalipun! Zacky meminta bantuan engkongnya yang seorang paranormal untuk mencaritahu apa yang mengganggu mereka sesungguhnya. Siapakah gadis bernama Titin yang disebut-sebut engkongnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Film.

Cast:
Zaky Zimah
Leylarey Lesesne
Monique Henry
Arumi Bachsin
Sazha Carissa
Dana Cole
Rozie Mahally

Director:
Bisa dikatakan film horor komedi pertama Nayato Fio Nuala yang kali ini berkolaborasi dengan penulis Erry Sofid.

Comment:
Opening film ini harus diakui menjanjikan. 10-15 menit pertama akan membuat anda tertawa dengan beberapa adegan slapstick yang cukup mengena meskipun masih tidak jauh dari kata norak. Tetapi tidak apalah jika jatuhnya fun. Para penonton yang paham benar gaya seorang Nayato mungkin akan mengernyitkan dahi. Bingung sekaligus terkejut lalu timbul pertanyaan dalam benak kami semua. Benarkah inovasi sutradara misterius itu bisa berhasil kali ini?
Pikir dua kali jika anda berpikir seperti itu. Berakhir masa "syuting" di hutan maka berakhir pula segala humor itu. Plot kembali dibawa seperti yang sudah-sudah yaitu penampakan demi penampakan yang menghantui karakter-karakter utama. Kali ini sang pocong yang menjadi momok pun mengeluarkan seribu jurusnya yang lebih tepat dibilang menjahili daripada menakuti. Terus terang saya kasihan sekali melihat makhluk berkain kafan putih itu disuruh mengintip, membayangi, mencolek, memecahkan cangkir bahkan bersembunyi di dalam lemari es! Entah berapa puluh kali (dan beratus kali sebelum diedit tentunya) Nayato menginstruksikan pocong sewaannya membombardir penonton dengan ketakutan/kegelian di setiap beberapa menit. Anda sangat tidak beruntung jika semua penonton seperti saya yang hanya bisa menguap menyaksikannya.
Kehadiran Zaky Zimah sedikit membantu disini. Mimik muka lugu disertai gesture tubuh bodohnya terbukti ampuh memancing senyum audiens apalagi disenjata pamungkasi kata "najis". Monique, Leylarey cs seperti biasa hanya bisa merumpi dan beradegan mandi untuk kemudian berlari-lari ketakutan. Bahkan seorang Arumi yang tergolong rajin bermain dalam film Nayato lengser setelah 30 menit pertama, mungkin ia jatuh tertidur kebosanan hingga sang komandan tidak berani membangunkannya karena takut disumpahi pocong. Lho? Kesimpulan akhir, Pocong Jumat Kliwon ini tampaknya terlalu jenaka untuk menakuti ataupun terlalu seram untuk ditertawai? Anda yang putuskan.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 01 Juli 2010

3 HATI 2 DUNIA 1 CINTA : Perbedaan Agama Terhadap Visi Kehidupan

Tagline:
Seorang pemuda muslim. Seorang gadis katolik. Will they live happily ever after?


Storyline:
Bekerja sebagai wartawan freelance dan juga penyair, Rosid yang lahir di keluarga Muslim yang taat memang terlihat santai menjalani hidup dengan gayanya sendiri. Itulah yang menarik bagi Delia yang berlatarbelakang Katolik dan juga seorang aktifis kampus. Keduanya mempertahankan keyakinannya masing-masing tetapi saling mengagumi satu sama lain. Sayangnya ortu masing-masing tidak setuju. Ayah-ibu Delia terang-terangan menolak sedangkan ayah-ibu Rosid malah menjodohkannya dengan gadis berjilbab yang soleh, Nabila. Selain itu Rosid juga dipertanyakan keagamaannya karena tidak bersedia memakai peci dan baju koko yang dianggapnya hanya meneruskan tradisi belaka. Akankah cinta dapat mengalahkan semua pandangan dasar tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mizan Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood pada tanggal 29 Juni 2010.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Rosid
Laura Basuki sebagai Delia
Arumi Bachsin sebagai Nabila
Ira Wibowo sebagai Martha
Robby Tumewu sebagai Frans
Henidar Amroe sebagai Muzna
Rasyid Karim sebagai Mansur
Zainal Abidin Domba
Jay Wijayanto

Director:
Ditulis dan disutradarai oleh Benni Setiawan yang baru saja menyelesaikan Cinta 2 Hati beberapa waktu lalu.

Comment:
Diangkat dari novel laris Da Peci Code serta Rosid dan Delia, film ini bisa jatuh ke dalam genre religi. Beruntung Benni yang merangkap disini tidak terkesan berusaha menggurui topik yang sensitif tersebut tetapi menerjemahkannya menjadi sebuah drama ringan menghibur yang tetap berisi. Lupakan sejenak Cinta 2 Hati yang mendayu-dayu dan merengek-rengek tersebut.
Interpretasi Reza Rahadian terhadap si kribo Rosid patut diacungi jempol. Aksesoris yang dikenakan di kepalanya bukan hanya sekadar aksesoris tetapi benar-benar merasuk pada penjiwaannya sebagai seseorang yang idealis sekaligus puitis. Reza mampu berkoar dengan lugas di kalangan "penganut peci putih" dan juga berpuisi dengan jumawanya di atas panggung. Menarik sekali menyaksikan aktor muda berbakat ini mendalami perannya. Terus terang saya ingin melihat lebih banyak lagi penampilan Laura Basuki di masa mendatang. Ia tidak hanya indah di mata tetapi sangat natural membawakan tokoh Delia yang santun dan menghormati pluralisme. Cukup menarik melihat Arumi Bachsin sedikit "keluar" dari peran-peran khas Nayato disini. Aktor-aktris pendukung senior sebagai orangtua Rosid dan Delia semakin memperkuat jalinan cast yang ada. Jangan ragukan Robby, Ira, Henidar, Rasyid yang konsisten dengan emosinya masing-masing.
Pada akhirnya 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta tidak dapat dikatakan sebuah film utuh dengan penyelesaian yang klise dan tipikal melainkan lebih mirip suatu wacana yang mengembalikan pemahamannya pada masing-masing penonton akan makna cinta, keluarga dan pandangan hidup itu sendiri. Open endingnya cenderung diselesaikan dengan informasi tertulis, bukan dengan bahasa gambar. Thumbs up untuk puisi-puisi WS Rendra yang tajam menyentil dan kena pada garis besar topiknya!

Durasi:
105 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 22 Juni 2010

NOT FOR SALE : Menjual Keperawanan Demi Uang Semata?

Quotes:
Shasi-Kesucian gue hanya gue berikan kepada orang yang bener-bener gue cinta, bukan untuk dijual!!

Cerita:
Di usia 16 tahun, May lari dari rumah karena persoalan keluarga yang dihadapinya. Di sekolah pun ia digosipkan menjual diri oleh teman-temannya dan sempat menolak perhatian tulus dari seorang siswa lugu. Adalah siswi bernama Shasi yang juga mendapat sebutan germo karena sering menjual teman-temannya sendiri dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Dalam perjalanan May bertemu Shasi dan diperkenankan menumpang di kos temannya, Andhara yang berprofesi sebagai bartender di sebuah bar. May yang masih asing dengan pergaulan malam diajak Shasi dan Andhara juga berkenalan dengan Dessy yang menjadi penari di bar tersebut. Keempatnya menghadapi lika-liku kehidupan metropolitan yang bisa jadi kejam bagi gadis-gadis seusia mereka.

Nice-to-know:
Press conferencenya diadakan di fX pada tanggal 21 Juni yang lalu.

Cast:
Arumi Bachsin sebagai Shasi
Leylarey Lesesne sebagai Dessy
Chindy Anggrina sebagai May
Okkie Callerista sebagai Andhara

Director:
Baru saja menggarap Akibat Pergaulan Bebas yang cukup lama tayang di bioskop-bioskop ibukota itu, Nayato Fio Nuala kali ini bekerjasama dengan Viva Westi yang menulis skenarionya.

Comment:
Not For Sale seakan terbagi dalam dua bagian yaitu di sekolah dan di klub malam! Oke kita bahas dulu bagian sekolahnya. Disini sisi edukasi dari sebuah tempat bernama sekolah serasa terinjak-injak. Bayangkan siswa-siswi berkeliaran dengan baju dikeluarkan dan rambut dicat/ditata semaunya. Berbincang-bincang hanya masalah menjual diri dan cinta monyet dengan Blackberry di tangan masing-masing. Sampai kepala sekolah yang biasanya bijaksana berwibawa digambarkan dangkal dan mata duitan. What the f*? Bagaimana dengan bagian klub malamnya? Disini sisi hiburan dari sebuah tempat bernama diskotik/bar menjadi panggung pertemuan mucikari, lelaki hidung belang, penari telanjang yang seakan hanya peduli transaksi seks atau kesenangan semalam suntuk. Mungkin saja sangat mendekati kenyataan tetapi rasanya tidak perlu ditampilkan dengan gamblang lagi. Dari segi cast, rupanya Arumi dan Leylarey mulai "terbiasa" dengan gaya seorang Nayato. Rasanya mereka tidak perlu skrip lagi, cukup menggunakan baju minim yang mempertontonkan kemolekan tubuh dan berbicara layaknya anak broken home. Endingnya lebih konyol lagi karena memadukan unsur psikopat dan slasher dengan sedikit unsur horor thriller. Sudah cukup nampaknya 14 baris review saya kali ini. Masih tertarik menyaksikannya? Not For Sale.. or be seen!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 29 Oktober 2009

PUTIH ABU-ABU DAN SEPATU KETS : Gejolak Remaja Hadapi Peliknya Kehidupan

Cerita:
Remaja putri idola sekolah, Dea berpacaran dengan Adit, vokalis sebuah band yang sedang naik daun. Dikarenakan cemburu dengan Michela yang sempat menggoda Adit, Dea nekad berhubungan intim dengan Adit pada suatu kesempatan. Sialnya hal tersebut direkam oleh Adit melalui ponsel yang akhirnya tersebar ke seantero sekolah.. Di lain fokus, tiga sahabat yakni Flory, Kemala dan Icha yang masih duduk di bangku SMU kelas 1 memiliki problemanya masing-masing. Flory yang ibunya seorang lesbian hingga kondisi keluarganya berantakan dan Kemala yang rasa penasarannya terhadap hal-hal dewasa sangat tinggi.. Semuanya berbaur dalam komunitas remaja yang masih perlu belajar dengan hal-hal kedewasaan secara alami.

Gambar:
Sebagai film remaja, film ini menampilkan gambar-gambar yang indah seputar sekolah, rumah tinggal dsb dengan pencahayaan yang temaram.

Act:
Kesemuanya merupakan pendatang baru di layar lebar.
Arumi Bachsin sebagai Dea
Adipati sebagai Adit
Michella Putri sebagai Kemala
Rendy Septino
Rana Audi Marissa sebagai Icha
Filda Effendi sebagai Flory
Steven William

Sutradara:
Nayato Fio Nuala yang pernah beken dengan Ekskul (2005) yang kontroversial sekaligus dipuji itu kini kembali dengan drama remaja yang skenarionya ditulis oleh Viva Westi ini.

Comment:
Film yang konon diangkat dari kisah nyata ini promosinya cukup agresif yang sepintas memang terlihat beda dari film remaja kebanyakan, lihat saja posternya yang terkesan atraktif dengan warna pucat. Premis tersebut tidaklah salah karena secara keseluruhan Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets bercerita dengan cukup baik dan lancar apalagi didukung dengan bahasa gambar yang kaya. Akting para pemainnya pun terasa wajar, mungkin karena sebagian besar dari mereka adalah remaja yang sudah biasa dengan problematika sehari-hari. Bagi sang sutradara, ini adalah kemajuan yang signifikan secara berbelas-belas film terakhirnya tidak bisa dibilang bermutu. Namun bukan berarti Putih Abu-Abu tidak memiliki kekurangan. Awal film terasa terlalu bertele-tele, konflik utama baru muncul setelah sejam film diputar dan itupun diakhiri dengan simpel saja. Hasil akhir seharusnya bisa lebih baik tetapi cuma sampai pada tahap lumayan standar.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!