XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label fahrani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fahrani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2010

PERJAKA TERAKHIR 2 : Mewarisi Kitab Pusaka Perguruan Silat

Storyline:
Lewat sebuah peristiwa pengutilan di supermarket tempatnya bekerja, Sam berkenalan dengan hansip yang sedang berkeliling, Sugeng. Kebetulan perguruan silat yang membesarkan Sam sedang mencari pemuda bertampang culun yang tiada berkemampuan untuk dijadikan murid. Ki Geledek, Bu Topan Mas Petir sepakat mengajari Sugeng semua ilmu-ilmu dasar yang harus dikuasainya. Namun tantangan semakin berat saat Ki Wedan yang menuntut balas dendam akan sakit hatinya kembali mengincar Kitab Pusaka perguruan Sam. Akankah Sam dan Sugeng berhasil bersatu menghadapi gempuran Ki Wedan yang kian tangguh itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Diwangkara Pictures.

Cast:
Fahrani sebagai Sam
Ringgo Agus Rahman sebagai Sugeng
Barri Bintang sebagai Ki Wedan
Barry Prima
Joe Project
Weni Rosaline

Director:
Jacki

Comment:
Masih dengan mengandalkan nama Fahrani untuk mendongkrak film ini. Jika di film pertamanya ada Aming yang kemayu, disini ada Ringgo yang culun. Tidak jauh berbeda, bukan? Dalam artian sama-sama untuk ditertawakan. Dalam menampilkan mimik konyol, Ringgo memang jagonya, mulai dari nyengir, mesum, serius bisa dilakoninya dengan baik. Fahrani kali ini banyak mengumbar tatonya yang terpampang di berbagai bagian tubuhnya yang langsing dan jenjang itu, tentu saja hanya dari bagian belakang. Selain mereka masih ada Barry Prima yang sekali lagi mempertontonkan sedikit kemampuan berlaganya. Lalu ada juga Barri Bintang yang terlihat cukup meyakinkan dengan jaket kulit serba hitamnya.
Sutradara Jacki dapat dikatakan berhasil memaksimalkan efek-efek pertarungan dengan seheboh dan seseru mungkin. Coba lihat adegan menghindari helm di openingnya, sedikit meniru The Matrix dengan stop motionnya. Atau batu-batu yang beterbangan di closingnya, mengingatkan pada film-film Stephen Chow semacam Kungfu Hustle dsb.
Semua konklusi di atas seakan menguatkan alasan anda untuk menonton sekuel ini. Namun nanti dulu, saya belum selesai. Permasalahan utama film ini adalah eksekusi yang sangat tidak maksimal sehingga sinematografi yang dihadirkan tak lebih dari kualitas FTV. Plot ceritanya yang terlalu simpel sebetulnya tidak bisa disalahkan jika disiasati dengan baik, tetapi semuanya mengalir secara linier tanpa jeda dari awal sampai akhir tanpa mempedulikan penonton yang mungkin saja sudah merasa jenuh pada menit-menit awal. Entah mengapa saya merasa aktor-aktrisnya sangat tidak camera-face disini, mungkin karena permainan kamera yang kurang maksimal mengcover sisi-sisi yang seharusnya tidak ditampilkan. Dari sisi humor lebih parah lagi karena formula yang digunakan teramat sangat kadaluarsa, seakan penonton sudah melihat hal serupa ribuan tahun yang lalu. Pemakaian angka 2 di belakangnya samasekali tidak relevan karena tidak berkorelasi apapun dengan Perjaka Terakhir sebelumnya. Entah apa yang berusaha dijual dari film yang kelewat ringan seperti sehelai bulu kemoceng tertiup jauh setelah dilintasi truk bermuatan penuh sampah ini.

Durasi:
75 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 08 Juli 2010

ISTRI BO'ONGAN : Membawa Pulang Pasangan Kontrak

Storyline:
Dirasa kedua orangtuanya tidak akan menyukai kekasihnya Amara yang wanita karir sukses, Arya nekad mengadakan kontes mencari pacar sewaan. Hal tersebut terdengar oleh Fani, eks pencuci mobil yang sedang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya yang sakit di kampung. Ditemani sahabatnya yang gay, Hans diluar dugaan Fani terpilih. Setelah menyepakati perjanjian, Arya dan Fani pun pulang ke Magelang untuk bertemu Pak dan Bu Koesno sekaligus merayakan hari peringatan pernikahan mereka yang ke-30. Berbagai kejadian tak terduga membuat Arya mulai mengenal Fani lebih jauh lagi sekaligus menimbulkan kemelut cinta segitiga dengan Amara yang posesif itu. Siapa yang akhirnya dipilih Arya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film dengan produser Budi Mulyono dan Koko Soenaryo.

Cast:
Masih mempertontonkan kejenjangan kaki dan semampai tubuhnya selayaknya dalam Taring baru-baru ini, Fahrani berperan sebagai Fani yang benci laki-laki hidung belang.
Masih serupa penampilan "rapi"nya seperti dalam The God Babe, Dwi Sasono bermain sebagai Arya yang lugu dan tidak sensitif.
Julia Perez sebagai Amara
Jessica Iskandar sebagai Dini
703 Richard sebagai Hans
Tarzan Srimulat sebagai Pak Koesno
Bari Bintang sebagai Dewa

Director:
Kerjasama kedua sutradara Arie Aziz dengan Fahrani setelah Perjaka Terakhir (2009).

Comment:
Jika anda pernah menyaksikan trailer film ini, maka itulah yang anda dapatkan. Ya! Semua adegan "penting" tersebut bahkan nyaris dihabiskan di lima belas menit pertama. Prolog dibuka dengan adegan di ranjang (bukan adegan ranjang) Arya dan Amara saat ibunya tiba-tiba menelepon dan meminta putra semata wayangnya itu hadir dalam hari ulang tahun pernikahannya. Tanpa dijelaskan panjang lebar Arya langsung mencap Amara bukan "tipe" orangtuanya dan sepakat menggelar kontes tolol itu. Dan kebetulan lain tanpa alasan kuat, Fani terpilih yang lagi-lagi didampingi sahabat karib yang "setengah" itu. Tidak meyakinkan untuk diteruskan? Sayapun merasa begitu. Namun saya tetap berharap akan ada sesuatu di pertengahan yang setidaknya tetap membuat saya terjaga, terlebih tone warna kulit yang digunakan sangat menina-bobokan mata.
Semakin dalam alur bergulir, saya malah merasa ketiga tokoh utamanya berakting sendiri-sendiri terutama Fahrani yang dominan sekali dengan bahasa tubuhnya. Dwi dan Jupe berganti-gantian dengan scene masing-masing yang sebetulnya tidak terlalu penting termasuk adegan syur Jupe dan Gaston yang bisa jadi salah satu scene yang paling layak ditunggu disini. Belum lagi Jessica dan Joe juga mendapat porsi yang seharusnya menyegarkan tetapi malah menganggu dengan repetisi yang itu-itu saja. Seharusnya interaksi Dwi dan Jupe ataupun Dwi dan Fahrani bisa lebih diasah untuk membangun konflik dengan lebih meyakinkan. Sayangnya hanya di menit-menit terakhir, adegan berduaannya Dwi dan Fahrani dengan background pemandangan kota Magelang yang rupanya cukup indah itu ditampilkan. Ah itupun rasanya belum cukup untuk menguatkan alasan mereka jatuh hati satu sama lain.
Sutradara Arie hanya berusaha menghibur tetapi tidak akan membuat audiens terkesan dengan plot yang sudah berjuta-juta kali ditawarkan tanpa kreatifitas yang memadai. Alhasil Istri Bo'ongan cenderung flat di sepanjang durasinya apalagi ditutup dengan klimaks yang tidak bernyawa seperti itu.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 30 April 2010

TARING : Giliran Dedemit Menciptakan Teror

Storyline:
Bos agensi model Heaven's Secret, Alex menyewa fotografer terbaiknya, Damian beserta asistennya, Inggrid untuk menangani proyek bertemakan Wild Fantasy. Maka dipilihlah Farah, Wiwid dan Gabriella untuk bersama-sama menuju alam liar yang disebut Hutan Werenggini di pedalaman. Tidak mengindahkan larangan penduduk setempat, mereka tetap menuju lokasi pemotretan dengan memakai lingerie seksi. Selesai sesi foto tersebut, Dallas menemukan keanehan pada hasilnya. Sayang semua mungkin saja terlambat karena dedemit penunggu hutan mulai mengincar mereka satu-persatu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan diproduseri oleh Gope T. Samtani dan Subagio S.

Cast:
Terakhir muncul sebagai preman wanita dalam Perjaka Terakhir (2009), Fahrani Empel yang hobi mengoleksi tatoo ini berperan sebagai Farah, mantan kekasih Dallas yang juga harus mencari uang demi mengurus ibunya yang sakit keras di rumah sakit.
Baru saja bermain dalam Serigala Terakhir (2009), Dallas Pratama kali ini bermain sebagai Damian.
Memulai debut layar lebar pertamanya, penyanyi Rebecca sebagai Gabriella.
Shinta Bachir sebagai Wiwid.
Meidian Maladi sebagai Alex.
Reynavenska sebagai Inggrid.

Director:
Baru saja menggarap Air Terjun Pengantin (2009) sekitar enam bulan lalu itu, Rizal Mantovani bekerjasama dengan penulis cerita Alim Sudio untuk mengembangkan skenario film ini.

Comment:
Plot ceritanya sangat sederhana dan terkesan tidak mau banyak berpikir. Tidak banyak berbeda dengan apa yang tersaji dalam Air Terjun Pengantin, film ini hanya mengubah tokoh "antagonis" dari psikopat menjadi makhluk halus tradisional Indonesia. Selain itu faktor gadis-gadis seksi yang berpakaian minim dan terjebak di lokasi terpencil masih dipertahankan oleh Rizal. Satu-satunya hal baru yang ditampilkannya adalah sosok dedemit yang memburu dengan cara berjalan mundur ataupun kayang. Menarik atau aneh? Entahlah. Ilustrasi musik dan penampakan hantu sedikit banyak mengingatkan kita pada trilogi Kuntilanak yang laris itu, hanya saja tanpa nyanyian pemanggilan. Dari segi cast, Fahrani seperti biasa bermain dengan karakter yang kuat, itupun mungkin karena skrip mempercayakan porsi yang lebih padanya. Sedangkan yang lain tidak terlalu terekspos secara maksimal termasuk Dallas dan Rebecca yang sebenarnya cukup mencuri perhatian. Jika anda perhatikan, suasana malam terasa sangat panjang dalam film, kontras dengan siang yang terasa sekejap saja. Tujuannya jelas menakuti-nakuti penonton yang mungkin di beberapa sekuens cukup berhasil. Kesimpulannya Taring bukan film yang akan diingat terus oleh audiens apalagi endingnya yang dipaksakan gantung seperti biasa walaupun kurang relevan. Cape rasanya!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 16 Oktober 2009

PERJAKA TERAKHIR : Pria Kemayu Bersanding Dengan Wanita Jagoan

Cerita:
Instruktur salsa, Ramya sehari-hari akrab dengan wanita-wanita dan juga berpenampilan kemayu. Tidak heran ia kerapkali dipanggil banci. Sampai pada suatu ketika, nasib mempertemukannya dengan Sigi, calon penerus ketua debt collector yang beranak buahkan si kembar Bona dan Boni. Berseberangan dengan gank Sigi adalah gank Piratez yang dikepalai Gerry. Karena desakan ibunya untuk menikah, Sigi nekad mengambil Ramya sebagai pasangan hidupnya. Kesalah pahaman kerap terjadi di antara mereka. Sementara itu Gerry secara licik berusaha menghancurkan Sigi dengan caranya sendiri tentunya dengan bantuan orang yang tidak disangka-sangka.

Gambar:
Kostum Aming benar-benar eye catching disini, berbanding terbalik dengan Fahrani yang serba cool. Tak jarang interaksi mereka berdua berhasil menampilkan adegan slapstick pengundang tawa.

Act:
Penampilan Fahrani disini dengan tato di punggungnya dan penjiwaannya sebagai wanita pemimpin geng penagih hutang, Sigi patut diacungi jempol. Serupa dengan kinerjanya dalam Radit dan Jani.
Performa Aming sebagai pria kemayu, Ramya alias Mia tidak perlu diragukan lagi kekhasannya.
Kembali kebagian peran antagonis berturut-turut setelah Perempuan Berkalung Sorban dan Queen Bee, Reza Rahadian sebagai si licik Gerry, saingan Sigi.
Aktris senior, Nani Wijaya sebagai ibunda Sigi yang cerewet dan penuntut.
Bogie Samudra dan Bari Bintang sebagai si kembar anak buah Sigi yaitu Bona dan Boni.

Sutradara:
Wanita bernama Arie Aziz ini rata-rata filmnya sukses diterima di pasaran baik yang bergenre drama komedi ataupun horor. Kita lihat saja apakah kinerjanya yang kali ini banyak bermain dalam spesial efek bisa mengangkat perolehan rupiah film.

Comment:
Awalnya melihat premis Perjaka Terakhir, saya cukup tertarik dan berharap lebih terutama mengetahui Fahrani turut bermain disana. Namun setelah menit-menit awal film, saya langsung bisa mengatakan film ini "terinspirasi" dari film box-office Korea yang sudah dibuat dua sekuelnya yaitu My Wife Is A Gangster! Ya, istri yang dominan dan suami yang lemah menjadi jualan utamanya, tentunya disesuaikan dengan budaya Indonesia walau masih terasa terlalu dipaksakan. Kelucuan Aming memang "kena" tapi terkadang over-the-top di beberapa scene. Fahrani tampil mengesankan dengan gestur dan mimik yang meyakinkan. Keduanya boleh dibilang cukup baik dalam berbagi chemistry. Selebihnya? Plot cerita cenderung klise dan terasa dipermudah logikanya demi tujuan hiburan belaka. Namun rasanya semua usaha tersebut "cukup" untuk menghibur anda untuk sekadar melepaskan beban pikiran. Hanya saja jangan terlalu tinggi berharap terutama bagi anda yang pernah menonton film Korea yang saya sebutkan di atas.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!