XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label dwi sasono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dwi sasono. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

JAKARTA HATI : Sekelumit Konflik Manusia Seantero Ibukota


Quotes:
Oh ternyata pacar kamu yang bikin istri saya mabuk laut?

Terbagi dalam 6 segmen:
ORANG LAIN (21 min)
Seorang pria di usia pertengahan 30 tengah mabuk di meja bar sambil mencelupkan cincin kawinnya ke dalam gelas di hadapannya. Tak lama datanglah seorang perempuan kisaran usia 20 yang mengatakan bahwa pacarnya berselingkuh dengan istri pria tersebut. Dalam situasi canggung, keduanya sepakat menghabiskan waktu dengan makan dan jalan bersama sembari membahas kekurangan pasangan masing-masing. Apakah mereka betul-betul mengenal diri sendiri?

MASIH ADA (17 min)
Marzuni adalah seorang anggota dewan yang ingin menyambangi rekan-rekannya di bilangan Senayan dengan membawa tas olahraga berisi uang tunai sejumlah satu milyar rupiah. Malang, mobilnya mogok dan supirnya tak mampu berbuat apa-apa. Marzuni lalu menyetop sebuah taksi dimana sang supir berceloteh tentang moral orang gede dan kecil yang memicu perdebatan di antara keduanya. Dalam perjalanan, Marzuni belajar bahwa anggapan negatif memang tak bisa lepas dari profesinya itu.

KABAR BAIK (19 min)
Bana adalah seorang polisi muda yang jujur dan disiplin meskipun banyak godaan untuk bermain kotor. Suatu saat, tahanannya adalah pria paruh baya yang ternyata ayahnya sendiri. Dituding melarikan sejumlah uang arisan berantai tetangganya sendiri, Bana harus menjalani prosedur pemeriksaan dan interogasi yang canggung. Interaksi keduanya mengungkapkan banyak cerita yang tidak diketahui Bana sekaligus menimbulkan dilema yang sulit dihindari.
HADIAH (18 min)
Seorang penulis skrip yang telah melewati masa emasnya, Firman tengah kekeringan ide dalam menyelesaikan apa yang dianggapnya akan meledak. Sahabatnya menyarankan via telepon agar Firman menghubungi langsung produsernya untuk membahas konsep komedi seks kacangan itu. Sementara putra Firman yang berusia 8 tahun merengek agar ditemani ayahnya datang ke pesta ultah teman sekolahnya yang kaya raya. Bermodalkan lima puluh ribu, Firman lantas mempertaruhkan harga dirinya.

DALAM GELAP (23 min)
Pemadaman listrik terjadi di sebuah kawasan Jakarta selepas maghrib. Pasutri muda yang biasa menyibukkan diri dengan gadget, media sosial dan seabrek kegiatan pribadi lainnya terpaksa berbicara satu sama lain. Sayangnya bahasan yang mereka ambil justru semakin memperkeruh suasana yaitu rahasia perselingkuhan masing-masing yang sudah diketahui keduanya. Betapapun mereka mencoba berdamai, kegagalan membina rumah tangga tak bisa ditutupi lagi.

DARLING FATIMAH (16 min)
Fatimah adalah perempuan keturunan Pakistan penjual darling alias dadar guling dan penganan lainnya di Pasar Senen. Kecantikan dan mulut manisnya selalu memikat para pembeli termasuk Ayun, pemuda keturunan Cina yang menaruh hati padanya. Interaksi mereka yang tak nyaman didengar karena terlampau jujur lambat laun mengarah pada cinta dimana hubungan keduanya mungkin menuju pada masa depan yang kompromis.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh 13 Entertainment ini gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 6 November 2012 yang lalu.

Cast: 
Slamet Rahardjo sebagai Marzuni
Andhika Pratama sebagai Bana
Roy Marten sebagai Ayah Bana
Dwi Sasono sebagai Firman
Agni Pratistha
Dion Wiyoko
Shahnaz Haque
sebagai Fatima
Framly Nainggolan sebagai Ayun
Surya Saputra
Asmirandah
Didi Petet
Jajang C Noer
Agus Kuncoro

Cowboy Junior

Director: 
Merupakan karya kedua bagi Salman Aristo yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis skenario ini.

Comment: 
Jika tahun lalu ada Jakarta Maghrib yang edar terbatas di jaringan bioskop Blitzmegaplex dengan konsep omnibus serupa dan durasi masing-masing segmen yang lebih singkat, maka kali ini Salman Aristo berupaya mengeksplorasi lebih jauh kedalaman hati segelintir orang yang dianggap mewakili idealisme kota Jakarta. Enam kisah pendek seperti Orang Lain, Masih Ada, Kabar Baik, Dalam Gelap, Hadiah, Darling Fatimah mengambil tema beragam yang ujung-ujungnya berpijak pada cinta itu sendiri. Hak rilis yang dipegang 21Cineplex jelas memberikan kesempatan yang lebih luas.

Kapabilitas Salman sebagai sutradara memang mengalami peningkatan. Permainan gambarnya jauh lebih variatif meski kontinuitasnya masih belum sempurna di beberapa bagian. Editing jempolan dari Cesa David setidaknya mampu menutupi hal tersebut. Dialog-dialog puitis nan menggigit tetap menjadi andalan dalam menohok perasaan penonton yang mungkin pernah berada di situasi nyata yang mirip. Sayangnya tata musik Jenal belum dapat menghadirkan penekanan nuansa yang diinginkan sehingga tak jarang pengadeganannya terasa kosong tanpa nyawa.

Dalam Gelap, Hadiah, Darling Fatimah, Masih Ada, Orang Lain, Kabar Baik. Urutan tersebut adalah susunan saya dari yang terfavorit hingga yang tidak. Ya, paruh pertama film ini menunjukkan kecanggungan yang tidak biasa sebelum diperbaiki dengan kefasihan yang lebih lancar di paruh kedua.
 Simak ulasan singkat saya terhadap masing-masing segmen. Abaikan jika anda tidak ingin tahu terlalu banyak.
Orang Lain>Kejutan berupaya disimpan rapat-rapat hingga akhir. Namun eksploitasi percakapan random tak cukup untuk menggali kepribadian dari sosok pria dan wanita disini sehingga logikanya sedikit terabaikan dan penonton tak mampu bersimpati pada keduanya. Wajah dan akting rupawan dari duet Surya Saputra dan Asmirandah setidaknya menyelamatkan bagian pembuka ini.
Masih Ada>Slamet Rahardjo tampak “sendirian” mengangkat segmen ini menangkis anggapan negatif orang-orang awam di sekitarnya. Penampilan Agus Kuncoro, Didi Petet, Herdin Hidayat yang juga tak kalah senior malahan tak cukup tegas menggarisbawahi pernyataan kontradiktif yang lahir dari stereotype pejabat negeri ini.

Kabar Baik>Pemasangan Roy Marten dengan Andhika Pratama nampaknya bukan ide yang bagus mengingat lintas generasi yang tidak didukung oleh kualitas akting yang sebanding. Konflik ayah penipu dan putra polisi seharusnya mampu memercikkan riak kekeluargaan yang kental, bukan sebatas cap legitimasi penegak dan pelanggar hukum.
Hadiah>Segmen inilah yang paling memiliki hati. Anda akan melihat kasih sayang tulus orangtua terhadap anak dan juga antar teman terlepas dari himpitan beban hidup dan kesenjangan sosial yang melatarbelakanginya. Dwi Sasono secara cemerlang menjiwai peran penulis skrip yang hidup di bawah bayang-bayang kesuksesan masa lalu sehingga lupa menyongsong masa depan. Simak pertukaran dialognya dengan sahabat di ujung telepon yang sukses menjelaskan segalanya.
Dalam Gelap>Segmen yang satu ini memang muncul dalam format steady shot minim cahaya. Pemadaman listrik yang berakhir pada perdebatan suami istri yang saling “menelanjangi” rahasia masing-masing tak memungkiri api rumah tangga yang mulai memadam. Dion dan Agni menyuguhkan gestur tubuh yang menarik disertai spontanitas kalimat sindiran yang tajam menohok walau ekspresi wajah tertutupi kegelapan.
Darling Fatimah>Keluhan saya cuma satu, Shahnaz terlalu cantik untuk peran wanita penjual di pasar. Meski begitu, usahanya menokohkan janda Pakistan pantas diacungi jempol. Sama halnya dengan Framly sebagai pemuda Cina Betawi berpendirian kuat. Interaksi Fatimah dan Ayun memang belum sempurna tapi chemistry mereka terbilang manis dalam merumuskan potensi cinta yang ada.

Menilik kualitas cerita secara keseluruhan, saya 
katakan Jakarta Hati tidak sebaik pendahulunya terlepas dari peningkatan aspek teknis yang kentara. Omnibus ini belum memiliki keseimbangan hakiki pada tiap segmennya dimana plot masing-masing tak mampu menyembunyikan kesan episodik dari sebuah potret besar. Penggunaan Jakarta sebagai ruang lingkup dan hati sebagai nyawa tampak terlalu berat untuk dirangkum terlepas dari durasi yang nyaris mencapai dua jam tersebut. Namun Salman jelas mempunyai niatan baik untuk bertutur dengan menempatkan kepingan hati ragam rasa di tiap sudut kota Jakarta yang hiruk pikuk.

Durasi: 
114 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 04 September 2012

TEST PACK : Drama Pasutri Menghadapi “Bagaimana Jika”

Quotes:
Tata: Disini dikatakan sperma mencapai tingkat kematangannya dalam 3 hari.
Rahmat: Ya udah kalo gitu kita berhubungan 3x sehari.
Tata: Dih mending kuat.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision Plus ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 4 September 2012.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Rahmat
Acha Septriasa sebagai Tata
Renata Kusmanto sebagai Shinta
Meriam Bellina sebagai Ibu Sutoyo
Jaja Mihardja sebagai Pak Sutoyo
Oon ‘Project Pop’ sebagai dr Peni
Karissa Habibie sebagai Dian
Uli Herdinansyah sebagai Markus
Dwi Sasono sebagai Heru

Director:
Merupakan film kedua Monty Tiwa di tahun 2012 setelah Sampai Ujung Dunia.

W For Words:
Novel Test Pack milik Ninit Yunita beredar pada tahun 2005 dimana istri Adhitya Mulya itu masih menetap di Afrika Barat. Bukan rahasia jika ide tersebut muncul dari kehidupan pribadi mereka yang kerap dihujani pertanyaan “Kapan punya anak?” setelah beberapa lama menikah. Pertanyaan yang juga amat familiar di kalangan pengantin baru yang kebetulan tak kunjung diberi keturunan. Kedekatan dengan realita kehidupan itulah yang membuat suguhan terbaru Starvision ini diyakini mampu menarik minat penonton untuk sekadar merefleksikan.

7 tahun menikah, pasutri Rahmat dan Tata belum dikaruniai anak. Segala tips dan trik telah dicoba. Tata yang berkeinginan lebih sampai menemui dokter Peni untuk melakukan tes kesuburan dimana Rahmat sendiri sebenarnya sudah cukup bahagia dengan kebersamaan mereka. Nyatanya hasil tes menunjukkan Rahmat yang tidak subur. Dalam keputusasaan ia bertemu mantannya yang juga supermodel internasional, Shinta yang baru dicerai suaminya, Heru karena mandul. Keputusan Rahmat ingin kembali ke masa lalu atau memperbaiki masa kininya merupakan dilema tersendiri.

Bukan pekerjaan mudah bagi Adhitya untuk menerjemahkan karya Ninit ke dalam bentuk skenario. Film ini seakan dibagi dalam dua bagian. Pertama, komedi romantis saat Rahmat dan Tata saling berbagi kasih dalam canda dan tawa dimana panggilan sayang yaitu kang dan neng selalu menyertai. Kekesalan Tata menggunakan sejumlah testpack yang menyiratkan depresi diimbangi dengan kekocakan dokter Peni yang menanganinya. Kedua, drama romantis ketika Shinta mulai kembali masuk dalam kehidupan Rahmat dimana rumah tangganya sedang diuji. Ketidakstabilan emosi Tata akibat terapi yang dijalaninya mulai merentang jembatan konflik suami istri yang tak dapat dihindari.

Kelebihan utama jelas ada pada kinerja sutradara Monty Tiwa yang berhasil menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Arahan yang baik terhadap jajaran cast ternama beserta kumpulan cameo yang tak asing lagi, pemilihan lokasi sebagai panggung bercerita yang maksimal, pengaturan tempo momen-momen penting sebagai nyawa film dsb. Editing Cesa David yang ciamik juga memperkuat storytelling sehingga tidak banyak ruang kosong yang tersisa. Sama halnya dengan tata suara dari Khikmawan yang kali ini berkolaborasi dengan Bongky sebagai penata musik sukses mengantarkan emosi yang diharapkan.

Senang rasanya melihat Acha mampu berbagi chemistry manis dengan pria di luar Irwansyah. Lakon suami istri bersama Reza terasa meyakinkan tanpa terlihat canggung dalam berbagi keintiman fisik. Deretan pendukung Sampai Ujung Dunia (2012) juga hadir kembali disini, salah satunya Renata yang semakin mengukuhkan imej “beautiful babe” lewat peran supermodel yang tak terlalu terlihat pede. Pasangan senior Jaja-Meriam juga turut mencuri perhatian sebagai pasien psikolog Rahmat. Jangan lupakan Oon, sang pengocok tawa lewat spontanitas dan wajah polosnya itu.

Test Pack adalah drama yang personal karena mengangkat persoalan umum suami istri dan rumah tangga secara keseluruhan. Kadangkala kita memang tidak siap menghadapi perubahan dan kerapkali lebih peduli pada perkataan orang dibandingkan pasangan sendiri. Obyektifitas yang terganggu tentunya mempengaruhi keputusan akhir yang dibuat bagi kedua belah pihak. Kehati-hatian Monty dalam menggarap tema sensitif tentang momongan ini untungnya didukung oleh sumbangsih maksimal dari aktor-aktris yang terlibat di dalamnya. A must see for couples and newly wed who might face the same ”first world” problems.

Durasi:
109 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 05 Maret 2012

SAMPAI UJUNG DUNIA : Ketika Cinta Berhadapan Dengan Pilihan


Quotes:
Gilang: Naif? Mungkin karena kita masih muda kali? Atau karena cinta?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Nasi Putih Pictures dimana gala premierenya dilangsungkan di Djakarta XXI pada tanggal 5 Maret 2012.

Cast:
Gading Marten sebagai Gilang
Dwi Sasono sebagai Daud
Renata Kusmanto sebagai Anissa
Roy Marten sebagai Ayah Gilang
Chintami Atmanegara sebagai Ibu Gilang
Sudjiwo Tedjo sebagai Ayah Daud
Tutie Kirana sebagai Ibu

Director:
Merupakan film kesembilan Monty Tiwa setelah terakhir Laskar Pemimpi (2010).

W For Words:
Cinta segitiga merupakan tema yang tiada habis-habisnya dieksplorasi dalam sebuah drama percintaan dari jaman ke jaman. Namun bagaimana jika pilihan begitu sulit dijatuhkan oleh sang wanita karena kedua pria memiliki kesempatan dan tekad bulat yang sama? Setidaknya itulah yang ingin disuguhkan oleh penulis cerita Monty Tiwa dan Tino Kawilarang melalui film terbaru rumah produksi anyar bernama Nasi Putih Pictures ini yang membalutnya dalam semangat persahabatan.
Gilang, Daud dan Anissa sudah bersahabat sejak kecil. Gilang yang berasal dari keluarga kaya raya berbanding terbalik dengan Daud. Sedangkan Anissa yang tinggal di panti asuhan kerap merindukan ibunya yang berada di Belanda. Seiring waktu, ketiganya tumbuh bersama dan merasakan ikatan cinta sekaligus persahabatan yang kuat. Anissa berjanji akan memilih pria yang suatu saat bisa membawanya ke Belanda. Kompetisi mulai terbangun antara Daud yang memilih Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran di Marunda sedangkan Gilang memutuskan Sekolah Tinggi Penerbangan di Curug. Siapa yang akhirnya dipilih Anissa yang ternyata menderita penyakit kelainan jantung tersebut?

Saya bersyukur Monty tidak latah bermenye-menye dengan dramatisasi Anissa yang berjuang menghadapi penyakitnya. Ia tetap konsisten menekankan arti kasih sayang persahabatan di antara Anissa, Daud dan Gilang. Dua sekawan pria tersebut tak jarang berkelahi karena tak ingin berbagi wanita dan saling berlomba ingin menjadi yang terdepan. Transisi yang dilakukan Monty dari Daud-Gilang remaja ke dewasa memang cenderung lancar walaupun esensi menariknya turut bergeser juga dari menyenangkan ke sedikit membosankan.
Renata Kusmanto memang cantik dengan wajah sayunya. Namun saya berharap ada penjiwaan akting yang lebih signifikan karena tokoh Anissa digambarkan berjuang dalam hidupnya, bukan hanya dari segi fisik tapi juga psikis. Ketabahan hidup bertahun-tahun di panti merindukan ibunya hingga harus menerima kenyataan pahit dibohongi oleh orang terdekatnya tidak terlihat jelas. Belum lagi kecintaannya yang sama besar terhadap Daud dan Gilang tidak tereksploitasi dengan benar. Penonton hanya dapat melihat sikap pasif (dan juga pasrah) Anissa dalam menjalani pilihan-pilihan hidupnya.

Beruntung Dwi Sasono menunjukkan kelasnya. Peran Daud yang berasal dari keluarga miskin dijiwainya dengan baik sehingga nilai perjuangannya dari titik nol lumayan terasa. Gading Marten juga samasekali tidak mengecewakan. Peran Gilang yang dimanja kemewahan orangtuanya dihidupkannya dengan pas sehingga kesungguhannya menuju tahap kemandirian cukup inspiratif. Keduanya berbagi chemistry secara wajar dalam menekan perasaan cemburu yang berlebihan di atas kenyataan bahwa mereka tumbuh bersama semenjak kecil.
Sampai Ujung Dunia merupakan suguhan drama percintaan murni yang akan mengingatkan anda pada film-film sejenis di tahun 1980an sebut saja Badai Pasti Berlalu, Satu Jam Saja dsb. Rentang waktu yang cukup panjang memang tidak terasa mencolok perbedaannya selain suguhan konsistensi sinematografi yang memikat terlebih setting lokasi Belanda yang menyatu dengan kebutuhan cerita di bagian penutupnya. Suguhan musik pengiring dari Bongky Marcel dan Ganden Bramanto pun mengalir indah melingkupi muara cinta segitiga Gilang-Anissa-Daud. Ah, cinta memang harus memilih, apapun konsekuensinya..

Durasi:
97 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 30 September 2010

LASKAR PEMIMPI : Komedi Musikal Berlatar Agresi Militer 2

Quotes:
Kopral Jono: Bebek-bebek kami masih lebih pintar daripada bebek-bebek kalian..

Storyline:
Sri Mulyani hanya bisa meratapi ayahnya yang dibawa tentara Belanda dalam Agresi Militer II di Maguwo, Jawa Tengah pada bulan Desember 1948. Iapun mengembara hingga ke wilayah Panjen dan berjumpa dengan pasukan gerilya Indonesia pimpinan Kapten Hadi Sugito yang tengah membuka pendaftaran anggota baru. Lantas bergabunglah Udjo yang didesak pujaan hati Wiwid, Ahok yang beretnis Cina, Tumino yang beretnis Jawa, Toar si gerilyawan rabun, Kopral Jono yang turun pangkat dan ingin menikahi kekasihnya Yayuk yang juga adik kandung Wiwid ke dalam squad yang juga melibatkan Letnan Bowo, tangan kanan Kapten Hadi Sugito.
Persiapan demi persiapan pun mereka lakukan sebelum menghadapi Belanda yang dipimpin Letnan Kuyt. Malangnya Letnan Kuyt berhasil menculik Wiwid, Yayuk beserta warga desa lainnya terlebih dahulu hingga membuat Kapten Jono cs berang. Berbekal informasi dari tentara KNIL yang mereka tawan yakni si gembul Once, mereka nekad menyerbu markas Letnan Kuyt. Berhasilkah mereka mencatatkan diri sebagai pahlawan tanpa nama yang terlupakan sejarah perjuangan Indonesia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kharisma Starvision Plus dan diproduseri oleh Chand Parwez Servia.

Cast:
Tika Panggabean sebagai Sri Mulyani
Udjo Project Pop sebagai Udjo
Odie Project Pop sebagai Ahok
Gugum Project Pop sebagai Tumino
Yosi Project Pop sebagai Toar
Oon Project Pop sebagai Once
Dwi Sasono sebagai Kopral Jono
Shanty sebagai Wiwid
Gading Marten sebagai Kapten Hadi Sugito
T Rifnu Wikana sebagai Letnan Bowo
Masayu Anastasia sebagai Yayuk
Marcell Siahaan
Candil

Director:
Setelah menyelesaikan 3 film tahun 2009 lalu yang ditutup dengan Keramat, Monty Tiwa kembali dengan film pertamanya di tahun 2010 lewat Laskar Pemimpi ini.

Comment:
Poster film ini terkesan “epik” tapi melihat jajaran pemain dan sutradaranya, kesan tersebut langsung sirna. Siapa yang tidak mengenal Project Pop sebagai grup vokal pengocok tawa dengan polah tingkah dan lirik-lirik jenakanya yang telah eksis lebih dari satu dekade di blantika musikIndonesia?
Benar sekali. Film ini didesain menjadi panggung mereka, berakting dan bernyanyi sekaligus nyaris di setiap scenenya. Jika boleh saya mengatakan, kebebasan improvisasi rasanya diberikan secara penuh kepada masing-masing personil Project Pop, skrip yang ditulis Eric dan Monty Tiwa sepertinya hanya menjadi buku panduan belaka yang tidak mutlak dihafal.
Di luar dugaan, Oon dan Udjo mendapat porsi yang "lebih" dibandingkan rekan-rekannya. Tidak apalah toh keduanya gape memasang mimik komedik yang sangat diandalkan memancing tawa.Nama-nama seperti Dwi Sasono, Shanty, Masayu Anastasia, Teuku Rifnu Wikana yang sebenarnya lebih senior dalam bidang film terasa dikesampingkan kali ini. Ironisnya, Rifnu justru baru saja merampungkan Darah Garuda yang bertemakan mirip tapi jauh lebih serius itu.
Monty yang kabarnya melakukan persiapan yang cukup lama untuk film ini sayangnya hanya memperhatikan kostum pejuang/tentara dan setting outdoornya saja sehingga aspek lain yang serba jelas tertangkap kamera menjadi kedodoran. Adegan "epik"nya yang melibatkan persenjataan pun tidak sampai menggelegar, lebih terdengar seperti bunyi petasan basah yang nyaris gagal meledak. Ya itulah kenyataannya karena elemen melodinya justru lebih dominan disini, itupun tidak terlalu mulus timingnya.
Terlepas dari kekurangan disana-sini, kemunculan Laskar Pemimpi yang bisa disebut bergenre action komedi musikal perjuangan ini sedikit memperkaya tema perfilman nasional yang sudah semakin monoton.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 08 Juli 2010

ISTRI BO'ONGAN : Membawa Pulang Pasangan Kontrak

Storyline:
Dirasa kedua orangtuanya tidak akan menyukai kekasihnya Amara yang wanita karir sukses, Arya nekad mengadakan kontes mencari pacar sewaan. Hal tersebut terdengar oleh Fani, eks pencuci mobil yang sedang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya yang sakit di kampung. Ditemani sahabatnya yang gay, Hans diluar dugaan Fani terpilih. Setelah menyepakati perjanjian, Arya dan Fani pun pulang ke Magelang untuk bertemu Pak dan Bu Koesno sekaligus merayakan hari peringatan pernikahan mereka yang ke-30. Berbagai kejadian tak terduga membuat Arya mulai mengenal Fani lebih jauh lagi sekaligus menimbulkan kemelut cinta segitiga dengan Amara yang posesif itu. Siapa yang akhirnya dipilih Arya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film dengan produser Budi Mulyono dan Koko Soenaryo.

Cast:
Masih mempertontonkan kejenjangan kaki dan semampai tubuhnya selayaknya dalam Taring baru-baru ini, Fahrani berperan sebagai Fani yang benci laki-laki hidung belang.
Masih serupa penampilan "rapi"nya seperti dalam The God Babe, Dwi Sasono bermain sebagai Arya yang lugu dan tidak sensitif.
Julia Perez sebagai Amara
Jessica Iskandar sebagai Dini
703 Richard sebagai Hans
Tarzan Srimulat sebagai Pak Koesno
Bari Bintang sebagai Dewa

Director:
Kerjasama kedua sutradara Arie Aziz dengan Fahrani setelah Perjaka Terakhir (2009).

Comment:
Jika anda pernah menyaksikan trailer film ini, maka itulah yang anda dapatkan. Ya! Semua adegan "penting" tersebut bahkan nyaris dihabiskan di lima belas menit pertama. Prolog dibuka dengan adegan di ranjang (bukan adegan ranjang) Arya dan Amara saat ibunya tiba-tiba menelepon dan meminta putra semata wayangnya itu hadir dalam hari ulang tahun pernikahannya. Tanpa dijelaskan panjang lebar Arya langsung mencap Amara bukan "tipe" orangtuanya dan sepakat menggelar kontes tolol itu. Dan kebetulan lain tanpa alasan kuat, Fani terpilih yang lagi-lagi didampingi sahabat karib yang "setengah" itu. Tidak meyakinkan untuk diteruskan? Sayapun merasa begitu. Namun saya tetap berharap akan ada sesuatu di pertengahan yang setidaknya tetap membuat saya terjaga, terlebih tone warna kulit yang digunakan sangat menina-bobokan mata.
Semakin dalam alur bergulir, saya malah merasa ketiga tokoh utamanya berakting sendiri-sendiri terutama Fahrani yang dominan sekali dengan bahasa tubuhnya. Dwi dan Jupe berganti-gantian dengan scene masing-masing yang sebetulnya tidak terlalu penting termasuk adegan syur Jupe dan Gaston yang bisa jadi salah satu scene yang paling layak ditunggu disini. Belum lagi Jessica dan Joe juga mendapat porsi yang seharusnya menyegarkan tetapi malah menganggu dengan repetisi yang itu-itu saja. Seharusnya interaksi Dwi dan Jupe ataupun Dwi dan Fahrani bisa lebih diasah untuk membangun konflik dengan lebih meyakinkan. Sayangnya hanya di menit-menit terakhir, adegan berduaannya Dwi dan Fahrani dengan background pemandangan kota Magelang yang rupanya cukup indah itu ditampilkan. Ah itupun rasanya belum cukup untuk menguatkan alasan mereka jatuh hati satu sama lain.
Sutradara Arie hanya berusaha menghibur tetapi tidak akan membuat audiens terkesan dengan plot yang sudah berjuta-juta kali ditawarkan tanpa kreatifitas yang memadai. Alhasil Istri Bo'ongan cenderung flat di sepanjang durasinya apalagi ditutup dengan klimaks yang tidak bernyawa seperti itu.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 26 Maret 2010

THE GOD BABE : Saat Arsitek Lugu Kencani Putri Mafia Betawi

Storyline:
Di sebuah bar, Ola yang mabuk berkenalan dengan Riyo. Betapa terkejutnya pada waktu bangun pagi, Ola mendapati dirinya seranjang dengan Riyo! Keduanya berasumsi bahwa telah terjadi sesuatu semalam. Ola mengadu pada ketiga abangnya masing-masing, Ojan, Oding dan Oji perihal masalah itu yang segera menyambangi Riyo untuk diminta pertanggungjawabannya. Tanpa Riyo tahu, keempat orang asing yang baru dikenalnya itu adalah anak dari Mat Jago, mafia Betawi yang disegani siapapun juga. Mat Jago yang memang ingin memiliki anak menantu yang cerdas segera meminta Riyo menikahi Ola. Namun keduanya tidak ingin buru-buru dan berusaha mengenal satu sama lain dengan jalur yang seharusnya. Apalagi Riyo telah berpacaran dengan Mercy, designer muda ambisius. Siapa yang akhirnya dipilih Riyo?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kanta Film dan diproduseri oleh Budi Mulyono.

Cast:
Kali ini berusaha menampilkan imej pria kutu buku cerdas, Tora Sudiro sebagai Riyo, arsitek muda yang tidak berpengalaman dengan wanita.
Revalina S. Temat melakoni Flora, putri kesayangan babenya yang mafia Betawi.
Ketiga abang Flora yaitu Fauzan, Robin, Fauzi masing-masing diperankan oleh Dwi Sasono, Vincent Rompies dan Zaky Zimah.
Didukung pula oleh Jaja Miharja sebagai Mat Jago, Tyas Mirasih sebagai Mercy dan Bari Bintang sebagai Dasa.

Director:
Sutradara wanita paling produktif di tanah air, Arie Azis kali ini berduet dengan penulis skenario, Lingga Mana.

Comment:
Komikalisme film ini sedikit mengingatkan saya pada film-film sejenis buatan negeri ginseng. Tema ceritanya sederhana dan mudah sekali dicerna. Keluarga mafia Betawi berpengaruh versus keluarga modern Jenderal. Meskipun konflik yang berbenturan hanyalah antar anak-anaknya saja, dalam hal ini diwakili Tora versus Reva beserta ketiga abangnya. Beruntung disini Tora tidak overexplosif dalam melucu. Reva seperti biasa tampil manis memikat. Trio Dwi, Vincent, Zacky yang kocak dan kompak memberikan warna sendiri. Lihat bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain dan mendorong adik mereka untuk berpacaran dengan lelaki impian ayahnya. Yang sedikit mengganggu menurut saya, perseteruan dengan geng Dasa sangatlah tidak perlu dan scenenya boleh saja dihilangkan. Tetapi hal tersebut tentunya akan mempengaruhi durasi dan ending film yang juga sedikit berlebihan. Kapasitas Arie dalam menyuguhkan tontonan menghibur tidak usah ditanyakan lagi. The God Babe, terlepas dari kedangkalan eksekusinya masih merupakan komedi yang segar dan mampu menghibur sesuai misinya, hanya saja jangan terlalu banyak berpikir dalam menontonnya.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 26 November 2009

XXL : Perang Antar Geng dan Pemulihan "Kepercayaan Diri"

Cerita:
Melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai kepala geng etnis Sunda "Barudak Lieur", Kasep tidak memiliki kepercayaan diri karena ukuran penis yang dimilikinya teramat kecil. Anggota geng pun memikirkan cara untuk mengatasi itu yakni dengan menyewa jasa Mak Siat ydengan padepokan "Manuk Riang" nya yang baru saja dibebaskan dari penjara. Sementara itu geng saingan mereka, "Wong Kenthir" pimpinan Soemanto terus menekan dan membabi-buta. Dalam "pengobatan"nya, Kasep secara tidak sengaja berkenalan dengan Melati yang merupakan adik Soemanto. Keduanyapun saling tertarik satu sama lain. Bagaimana semua konflik dapat terselesaikan pada akhirnya?

Gambar:
Suasana kampung beretnis Sunda terasa sekali dengan warung, rumah tinggal dan padepokan yang disorot dengan pas.

Cast:
Baru beberapa minggu lalu terlihat dalam Perjaka Terakhir, Aming memang terkesan "kejar setoran" dan kali ini didapuk sebagai Kasep, pemimpin geng Barudak Lieur yang rendah diri karena ukuran alat vitalnya yang minim.
Kembali dalam peran yang sama Mak Siat yang ahli mengecilkan alat vital, Sarah Sechan disini dikisahkan baru dibebaskan dari penjara karena praktek ilegal.
Suami Widi AB Three, Dwi Sasono sebagai Soemanto, pemimpin geng Wong Kenthir yang sangar tapi suka curhat di telepon.
Debut Meychan di layar lebar sebagai Melati, love interest Kasep sekaligus adik Soemanto.

Sutradara:
Debut pertama Ivander Tedjasukmana dalam menangani sekuel film yang dulunya ditangani oleh Monty Tiwa yang kali ini masih bertindak sebagai penulis cerita dan skenario.

Comment:
Kekurangan utamanya adalah fokus cerita yang tidak teratur. Awalnya kita disuguhkan perjuangan Mak Siat yang keluar dari penjara untuk menata hegemoninya kembali di kampung halaman dan harus bersaing dengan Mak Lampir. Namun setelah itu film menguap dengan berpindah pada kehidupan geng Barudak Lieur dengan segala permasalahan dan perseteruannya dengan geng lawan. Lalu diselipkan pula pada romansa antara Kasep dan Melati yang meskipun cukup menarik tapi tidak mampu merangkai bangunan film menjadi satu kesatuan utuh. Salahkan skenario yang memang tidak terkonsep matang. Demikian para cast yang sudah tampil dengan kapasitas masing-masing menjadi sia-sia. Sebagai komedi, kelucuan masih dapat tercipta di beberapa bagian melalui tindak-tanduk ataupun celotehan meskipun sebagian besar hanya membuat penonton terpaksa tertawa. Pada akhirnya ending XXL dikonklusikan dengan sangat enteng yang sayangnya tidak bermakna apa-apa.

Durasi:
95 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 07 Juni 2009

CAPRES : Saat Wacana Politik Pilpres Dipertontonkan

Cerita:
Ketatnya kinerja KPK dalam memperlakukan beberapa pemimpin partai politik yang akan maju sebagai calon presiden membuat partai ASU mencari orang dengan kriteria lugu untuk dijadikan tumbal. Pilihan jatuh pada Hartono, staf administrasi kantor mereka yang segera "dipermak" demi kepentingan politik. Perlahan-lahan, Hartono melihat ketidakadilan, kekerasan, ketidakjujuran mewarnai hari-harinya yang membuatnya bertanya-tanya apa yang sesungguhnya ia perjuangkan?

Gambar:
Seadanya dimana lighting seringkali tidak begitu diperhatikan!

Act:
Dwi Sasono sebagai Hartono, boleh dibilang mengambil gaya Soekarno sebagai calon pemimpin bangsa.
Catherine Wilson sebagai Pretty.
Happy Salma.
Feby Febiola.
Beberapa cameo tokoh politik yang tidak perlu disebutkan.

Sutradara:
Toto Hoedi yang sebelumnya terkenal dalam film parodi carut-marut Film Horor yang herannya lumayan sukses masih menggunakan formula yang sama dalam CaPres yaitu keroyokan bintang dengan plot yang "ramai".

Komentar:
Film yang konon berbujet tinggi melebihi Laskar Pelangi ini rasanya sia-sia saja karena tidak didukung sumber daya yang baik. Ide cerita mengenai dunia politik pemilihan presiden memang menyentil tapi seharusnya dengan gaya sarkasme yang baik. Jika banyak yang mengatakan film ini bagus, saya justru heran karena saya merasa tersiksa dari awal sampai akhir dengan plot cerita yang berantakan dan seperti berlarian dari relnya. Pada akhir kata, bolehlah wacana ini menjadi cerminan kita bersama guna mendukung pemerintahan baru yang "bersih". Itu saja nilai plusnya.

Durasi:
95 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 04 April 2009

WAKIL RAKYAT : Komedi Romantika Jelang Pemilihan Umum

Cerita:
Karena suatu kejadian yang tidak disengajanya, Bagyo kehilangan pekerjaan sekaligus rencana pernikahan dengan kekasih tercinta Ani terancam batal dikarenakan ayah Ani, Abdul yang tidak menyukainya. Saat tidak terduga, Bagyo berhasil menggagalkan perampokan terhadap artis terkenal, Atika. Sebab itulah, Bagyo masuk televisi dan kemudian ditawari menjadi caleg Partai Perjuangan Tanpa Henti oleh ketua, Wibowo dan asistennya, Dani. Bersama mantan pegawainya Jereng, Bagyo ditugaskan berkampanye di daerah terpencil Wadasrejo yang rakyatnya serba hidup kekurangan. Bagaimana Bagyo bisa mengangkat namanya sesuai prinsip hidup yang dianutnya sekaligus mensukseskan rencana pernikahannya?

Gambar:
Perjalanan Bagyo dari kota besar ke desa terpencil digambarkan dengan cukup menarik. Segala atribut kampanye juga tidak lupa ditampilkan disini.

Act:
Tora Sudiro sebagai Bagyo, pemuda jujur yang menjadi caleg terkenal. Transformasinya cukup menarik walau masih sulit menghilangkan imej asli dirinya.
Revalina S Temat sebagai Ani memang tidak memegang peranan utama. Namun penampilan manis dan penjiwaan yang baik membuatnya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Tarzan sebagai Wibowo menampilkan sosok ketua ambisius yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan.
Dwi Sasono yang biasanya tampil macho urakan kali ini kebagian peran sebagai Dani, asisten kemayu dan memiliki banyak akal.
Vincent Rompies sebagai sidekick Bagyo yang setia walaupun bodoh memperlihatkan penokohan yang bisa dibilang menarik.

Sutradara:
Bisa dibilang karya terbaik Monty Tiwa selama ini, terlebih setelah ketidak konsistenannya dalam Kalau Cinta Jangan Cengeng. Disini Monty bersama saudaranya Eric Tiwa dengan jeli menyusun skenario yang kental dengan nuansa sosial politik. Casting dan penokohan yang dipilihnya juga tepat. Terlepas dari kebiasaannya melakukan editing yang kurang mulus, Wakil Rakyat bolehlah!

Komentar:
Film ini memiliki alur yang sesungguhnya, mulai dari pengenalan tokoh utama yang memiliki konflik sampai berkembang menjadi sesuatu yang bisa dipetik hikmahnya pada akhirnya. Meski awalnya saya menganggap film ini hanya mengekor situasi sosial politik yang tengah terjadi, ternyata saya mendapati film ini menghibur karena tidak hanya sekadar bercerita dan mengolok-olok kenyataan saja. Tema baru wajib tonton sebelum anda menentukan pilihan demi bangsa negara Indonesia!

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 15 Februari 2009

KALAU CINTA JANGAN CENGENG : Ketika Menebus Kesalahan Berbuah Cinta

Cerita:
Seorang aktor terkenal, Boy mengalami kecelakaan mobil bersama sahabatnya dan menewaskan dua orang. Sang sobat sendiri akhirnya menanggung derita penjara karena menerima sejumlah uang pengganti demi menjaga reputasi Boy. Bertahun-tahun semenjak kejadian itu, Boy menjadi Duta Anti Narkoba dan sering mengunjungi Panti Rehabilitas Anti Narkoba yang membawanya berkenalan dengan sesosok junkie muda, Yani yang ternyata anak dari pasangan suami-istri yang tewas dalam kecelakaan mobil Boy 5 tahun lalu. Merasa bersalah, Boy berusaha menebusnya dengan membantu Yani terbebas dari ketergantungan narkoba. Di sisi lain, kedekatan kedua menumbuhkan sesuatu yang mengikat. Bagaimana akhir dari perjuangan Boy membantu Yani?

Gambar:
Agak miskin karena pencahayaan dan setting yang "tidak indah" di mata.

Act:
Marshanda memulai debutnya sebagai peran utama sebetulnya bisa mendapat apresiasi yang cukup baik. Hanya saja beberapa idiom yang digunakannya terasa mengganggu karena cenderung kasar, tidak perlu dengan cara seperti itu untuk menggambarkan pergolakan batin seorang junkie bernama Yani.
Sebagai artis bernama Boy, Ringgo Agus Rahman tidak cukup kuat menampilkan sosok simpatik sekaligus bertobat atas segala dosa-dosa masa lalunya. Karakternya cenderung terlalu santai untuk dipedulikan.
Didukung pula oleh Sigi Wimala dengan peran yang tidak biasa sebagai pacar posesif dan Dwi Sasono sebagai sahabat yang tertimpa apes demi menutupi kenyataan yang sesungguhnya.

Sutradara:
Bermain kembali dalam genre drama setelah mencoba horor dan komedi, Monty Tiwa berusaha mengeksplorasi hubungan dua karakter utama yang jatuhnya miscasting karena chemistry yang tidak cukup kuat. Di sisi lain, "kekosongan" karya-karya Monty terjadi lagi di film ini. Sayang memang!

Komentar:
Digadang-gadang sebagai film kasih sayang 14 Februari, otomatis kita akan membandingkan film ini dengan Selamanya (2005) karena kemiripan tema. Hasilnya? Cengeng jauh tertinggal karena kekurang fokusan dan serba tanggung untuk bisa menggugah emosi penonton. Dari awal konflik berjalan lambat dan tidak cukup menarik untuk membuat penonton bersimpati pada hubungan Boy-Yani. Kesimpulannya? Cengeng akan begitu saja dilupakan begitu penonton meninggalkan gedung bioskop.

Durasi:
110 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!