XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label keith foo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keith foo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2012

PEREMPUAN DI RUMAH ANGKER : Cinta SMU Berbuntut Teror dan Kematian


Quote: 
Erwin: Sopan itu sama orangtua, kalo sama setan itu takut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast: 
Keith Foo sebagai Erwin
Kartika Putri sebagai Karina
Joe Richard sebagai
Hardi Fadhillah sebagai Bule
Tya Restyana

Director: 
Merupakan film ketiga bagi Findo Purwono HW di tahun 2012 setelah terakhir Hantu Budeg beberapa minggu lalu.

W For Words:
Menilik judul film ini, anda lantas bisa menarik satu kesimpulan: Miskin kreatifitas! Bisa kita telaah kata per kata satu persatu. Perempuan, asumsikan dia hantu alias kuntilanak. Rumah, tempat tinggal yang mungkin menyimpan misteri. Angker, suasana menyeramkan yang mendirikan bulu kuduk. Apakah ketiga pernyataan tersebut sudah cukup membuat anda menerka isi cerita? Ya! Sayangnya penulis skrip Tb Ule Sulaeman yang biasanya “mendukung” Nayato ini terlalu malas untuk menggunakan nalar sehingga yang terjadi adalah tambal sulam ide yang jatuh tak jauh dari pohon kebodohan.

Erwin yang tengah berkencan dengan kekasihnya Karina tiba-tiba ditelpon perempuan misterius yang mengaku teman dekatnya semasa SMU dulu. Hal ini memicu kecemburuan Karina yang segera meminta putus. Erwin yang bingung juga mendapat SMS ancaman bahwa Karina akan dibunuh jika ia tidak datang ke sebuah rumah yang ditunjuk. Sahabat Erwin, Bule juga kerap diganggu oleh pocong dan kuntilanak yang sama. Erwin pun nekad menemui kepala sekolahnya dulu untuk mencari informasi mengenai perempuan yang disinyalir bernama Murni itu. Misteri apa yang tersembunyi di baliknya?

Keith Foo rupanya belum bosan bermain dalam film-film sejenis. Entah apa yang ingin dibuktikannya. Karakter Erwin sejak awal sudah tidak meyakinkan untuk menuai simpati penonton. Pertanyaan yang mengganggu adalah bagaimana ia sempat potong rambut di sela-sela syuting sehingga terdapat perbedaan gaya rambut yang cukup mencolok di bagian pembuka dan penutup film. Casting director nya pun terlampau malas mencari sosok Erwin di masa SMU sehingga Keith diberikan topi yang dipakai terbalik untuk menegaskan ke”remaja”annya. Meh!

Kartika Putri rupanya sibuk belajar gangnam style dengan iringan lagu Iwak Peyek. Tak tanggung-tanggung, ia melakukannya di toilet! Tidak lupa dada yang membusung masih menjadi andalan utamanya hingga tetap memamerkannya di kampus dan rumah sakit sekalipun. Oh well! Interaksi Hardi dengan pocong dan kuntilanak sesungguhnya memiliki esensi humor tersendiri tapi jika dilakukan terlalu frekuentif? Hm. Joe Richard cuma muncul selayang pandang tanpa kesan berarti. Sama halnya dengan tokoh Murni dan Endang yang sibuk bertengkar layaknya dalam sinetron remaja televisi swasta. WTF!

Sutradara Findo yang tampaknya mulai menjelma sebagai andalan baru Mitra Pictures dan BIC Productions ini memilih kecelakaan mobil dengan cara yang paling sederhana, menabrak pohon! Bukan hanya sekali tapi dua kali. Sesungguhnya saya tidak kasihan pada Keith atau Kartika tetapi pada pemeran pocong dan kuntilanak yang terjatuh dari motor akibat boncengan Bule. Semoga mereka tidak cedera dan menemui ajal untuk kedua kalinya. Lho emang bisa? Bisa dong! Arwah perempuan saja bisa main BB, berkomunasi via telepon serta menunggu jodohnya dunia dan akhirat.

Perempuan Di Rumah Angker memang proyek kebutan yang bertujuan mengeruk keuntungan (diharapkan) dalam waktu singkat dengan cara yang mudah. Sayang apresiasi penonton dikorbankan begitu saja dengan serentetan adegan absurd yang membuat bola mata anda berputar 360 derajat. Logika cerita yang berantakan dipaksa menebar twist disana-sini tapi semuanya gagal total dalam menghadirkan unsur kejutan apapun juga. Arwah laki-laki dan perempuan bisa bersama pada akhirnya. Happy ending? Jelas! Horor komedi yang satu ini amat patut mendapatkan standing ovation!


Durasi: 

81 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 22 November 2012

HANTU BUDEG : Komedi Horor Dendam Penunggu Hotel


Tagline:
Ditulikan oleh dendam, dibunuh oleh nafsu..

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Sentra Films ini mengadakan pemutaran perdananya di Hollywood XXI pada tanggal 14 November 2012 yang lalu.

Cast: 
Tyas Mirasih sebagai Magda
Keith Foo sebagai Bram
Amel Alvie sebagai Ira
Awang Sogi sebagai Royce
Febriyanie sebagai Inge
Zidni Adam sebagai Kojek
Anie Klaus sebagai Ayu

Director: 
Merupakan film kedua bagi Findo Purwono Hw di tahun 2012 setelah Fallin’ In Love.

W For Words: 
Formula horor Indonesia saat ini memang sudah bergeser ke komedi seks. Bukan hanya aktris seksi berbikini tetapi juga aktor topless yang biasanya diakhiri dengan adegan berhubungan intim. Momok horor yang muncul biasanya berupa pocong dan/atau kuntilanak yang sedianya hanya jadi pelengkap. Tidak masalah jika skripnya digarap dengan rapi layaknya beberapa produksi Korea atau Thailand sehingga kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Karya terbaru Findo dari Sentra Films ini tak jauh berbeda dari yang sudah-sudah termasuk film terdahulunya Setan Budeg (2009) dari Maxima Pictures.

Kojek baru saja diputus pacarnya Ira karena terlalu pelit. Ia lantas diyakinkan kawan-kawannya Magda, Inge, Royce dan Bram untuk membiayai rekreasi demi memulihkan sakit hati. Mobil butut dan penginapan murah bernama hotel Cempaka pun disewanya sehingga memancing protes. Mereka berlima akhirnya sepakat pindah ke hotel yang lebih bagus sebelum diganggu oleh pocong dan kuntilanak. Mau tak mau Kojek, Bram, Royce, Inge dan Magda kembali ke hotel Cempaka untuk mencari ketenangan dimana teror hantu budeg dengan tusuk konde telah menanti.

Skrip yang ditulis oleh Midhu Laksana ini berisikan setiap elemen klise yang ada di sebuah film horor sebut saja foto berpenampakan, penginapan berhantu lengkap dengan kuntilanak bermuka pucat dan pocong berwajah bubur. Namun tidak adanya logika memadai yang melatarbelakangi membuat semuanya berantakan seperti motif perjalanan yang mengada-ada, reaksi atas kejadian yang tidak relevan dsb. Kesemua itu membuat kepedulian anda terhadap karakter-karakternya menjadi nol, tidak akan melihat lagi betapa menariknya penampilan fisik mereka di layar lebar.

Sutradara Findo tak berupaya menjadikannya lebih watchable lagi. Pengulangan formula dari judul-judul yang ditanganinya kembali dimasukkan. Momok hantu budeg itu sendiri yang seharusnya kuat tak lagi istimewa. Permainan kamera shaky untuk menegaskan teror suara yang membuat seseorang budeg samasekali tidak inspiratif kalau tidak mau dibilang konyol. Ya ya ya, saya tahu kalau hantu yang membunuh manusia dengan cara menusuk telinganya itu memang inovatif tapi belum cukup untuk menghadirkan unsur kengerian yang diharapkan.

Saya katakan Hantu Budeg adalah repetisi formula Setan Budeg dalam bentuk lain tapi tidak ditunjang oleh kualitas yang lebih baik. Akting predictable dari Tyas dan Keith tak mampu ditutupi terlepas dari sensualnya adegan intim yang mereka lakukan. Lagi-lagi sebuah horor komedi yang akan segera anda lupakan dalam hitungan detik begitu meninggalkan gedung bioskop. Kualitas skrip yang memadai tampaknya masih menjadi masalah utama yang dihadapi industri perfilman Indonesia layaknya sebuah masakan yang tidak akan enak rasanya jika tak ditunjang oleh bahan dan bumbu yang tepat. Sampai kapan mereka (atau kita) akan pura-pura “tuli” mendengar kritik serupa?

Durasi: 
88 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 26 Desember 2011

MY BLACKBERRY GIRLFRIEND : Kontak Blackberry Dadakan Siksaan Hidup

Quotes:
Angel: Gua butuh orang yang bisa ngelakuin apapun yang gua mau!


Storyline:
Bekerja sebagai sales mobil, Martin berhasil membeli Blackberry bekas yang sudah lama diidam-idamkannya. Tak lama kemudian, sebuah contact bernama Angel memanggilnya dan segera masuk dalam kehidupannya. Angel yang berperangai kasar kerapkali menyulitkan Martin dengan permintaan-permintaan ajaibnya yang harus segera dituruti. Martin pun bertekad mencari tahu masa lalu Angel yang terhubung dengan seorang pria bernama Fendy. Berhasilkah Martin mengobati rasa sakit hati Angel yang sebetulnya hanya membutuhkan kehadiran seorang pria di sisinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana press screeningnya diadakan di fX Platinum XXI dan Foodism pada tanggal 21 Desember 2011.

Cast:
Luna Maya sebagai Angel
Fathir Muchtar sebagai Martin
Hardi Fadhillah sebagai Hendra
Keith Foo sebagai Fendy

Director:
Merupakan film ke-4 bagi Findo Purwono HW di tahun 2011 setelah terakhir Ayah, Mengapa Aku Berbeda.

Comment:
Apakah anda pernah membaca cerita pendek berjudul My BlackBerry Girlfriend dalam situs Kaskus yang kemudian diterbitkan dalam bentuk novel karangan Agnes Davonar? Jika belum, rasanya sudah cukup menjadi alasan untuk menyaksikan film ini, selain fakta bahwa ponsel Blackberry keluaran RIM – Kanada tersebut sangatlah populer di kalangan masyarakat Indonesia khususnya kawula muda yang mengaku anak gaul dan rajin bersilaturahmi lewat BBM.
Skenario yang ditulis oleh Djaumil Aurora dan Agnes Davonar ini memulai sebuah komedi romantis dengan kekacauan yang tidak disengaja antar tokoh pria dan wanitanya hingga kemudian berkembang menjadi romansa yang manis karena tingginya frekuensi pertemuan yang sebetulnya tidak diharapkan itu. Sayangnya proses NO to YES tersebut masih terlalu instan sehingga maknanya kurang terasa, apalagi sampai mengiba penonton untuk mau bersimpati pada dua karakter utamanya.

Banyak sekali referensi film yang ditiru disini, sebut saja adegan bertukar sepatu selayaknya duet Jeon Ji Hyun dan Cha Tae Hyun dalam My Sassy Girl (2001) atau pertemuan di kereta serupa duet Sirin Horwang dan Ken Theeradej dalam Bangkok Traffic Love Story (2009). Apakah sedemikian miskin idenya hingga kemiripan sedemikian rupa pun tidak berusaha dialihkan ke sesuatu yang lebih kreatif? Apalagi jika berbicara cinta rasanya banyak sekali aspek yang dapat digali darinya.
Usaha Luna Maya dan Fathir Muchtar memang terlihat untuk berakting sewajar mungkin tanpa harus terkesan norak. Namun dangkalnya karakter mereka tanpa didukung oleh latar belakang yang jelas tidak mampu menghindari kesan tersebut. Beruntung Luna dan Fathir dikaruniai wajah yang rupawan sehingga penonton setidaknya masih akan betah menyaksikan penampilan keduanya yang berbau slapstick dan karikatural itu. Kontribusi Hardi dan Keith tidak dirasa penting dan berpengaruh pada bangunan cerita yang tersaji.

Sutradara Findo yang belakangan semakin terjebak dalam berbagai genre film yang berbeda-beda terlihat kesulitan menyatukan kepingan-kepingan plot cerita disini. Alhasil anda akan merasakan perpindahan “rasa” yang kurang mulus antara lucu, konyol, biasa hingga romantis. Bisa jadi kesalahannya disebabkan oleh skenario yang tidak menawarkan dialog-dialog berbobot tapi proses editing yang kurang rapi jelas tidak boleh lepas dari tanggungjawabnya. Perpindahan lokasi ke Singapura di penghujung cerita juga tergolong sia-sia jika hanya mengejar estetika saja.
Terlepas dari “cupu”nya dalam bertutur serta kurang kreatifitas dalam eksplorasi ide, My Blackberry Girlfriend sebetulnya memiliki dasar cerita yang lumayan menyentuh andai digarap dengan lebih serius. Rendahkanlah ekspektasi anda dan lupakanlah sejenak My Sassy Girl yang fenomenal itu, niscaya Luna bisa terlihat manis dan Fathir dapat terlihat lucu di hadapan anda. Tentunya Blackberry yang menjadi media mereka, ponsel dengan dua sisi mata pisau sehingga mampu memudahkan sekaligus menyulitkan komunikasi antara kedua belah pihak.

Durasi:
83 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 05 Desember 2011

X-THE LAST MOMENT : Pahitnya Dunia Narkoba Lima Sahabat

Quotes:
Kita memang orang susah tetapi bukan berarti menjual barang haram kayak gitu, Jul!


Storyline:
5 sahabat kecil masing-masing Dido,Ikang, Ijul, Anung dan Angga bertemu kembali 13 tahun setelahnya dalam dunia narkoba. Dido dengan kehidupan malamnya berpacaran dengan Yayang hingga hamil, Ikang yang menjadi nandar narkoba setelah bertemu Pak Pram, Ijul sebagai pengantar hingga berhubungan dengan Asti yang kaya tapi kesepian, Anung yang bertransaksi narkoba online karena Thomas serta Angga yang menjadikan narkoba sebagai pelarian kekurangan perhatian akan orangtuanya yang pejabat kaya. Akankah ada happy ending bagi mereka yang sudah salah melangkah tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Prima Media Sinema dimana gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 5 Desember 2011.

Cast:
Mike Lucock sebagai Ikang
Keith Foo sebagai Dido
Rocky Jeff sebagai Angga
Ridho Boer sebagai Ijul
Ikang Sulung sebagai Anung
Cinta Dewi sebagai Yayang
Doni Kusuma
Jenny Cortez
Fitrie Rachmadhina
Indah Purnama Sari
Celestia Soetoyo

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Bambi Martantio.

Comment:
Film ini sungguh mengusung suatu misi mulia yaitu menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba pada medio 2015 mendatang. Sederetan kasus nyata bahkan dirangkai oleh Bani Ramadhan sedemikian menjadi sebuah skrip drama yang seharusnya secara realistis menyajikan ironi dan tragedi. Sebuah isu yang seharusnya menjadi perhatian dari lembaga tertinggi dalam hal ini Pemerintah hingga unit terkecil sekalipun yaitu keluarga yang paling dekat dengan calon pemakai.

Sutradara Bambi pun sempat mengeluhkan LSF yang dinilainya banyak memangkas adegan krusial yang justru tidak melulu menjurus seksual melainkan penampakan dan bentuk alat-alat narkoba yang biasa digunakan. Sebagai gantinya ia kerap memakai animasi slideshow untuk mendukung sugesti edukatifnya terutama untuk menggambarkan proses berjalannya narkoba dalam mengintrusi aliran darah yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat itu.
Sayangnya hasil kerja Bambi sebagai leader yang merangkap ini masih belum sempurna. Drama action ini tidak didukung oleh sinematografi dan editing yang baik sehingga pergantian scene yang menyorot masing-masing sahabat itu terasa terseok-seok. Belum lagi kinerja departemen scoring music yang hancur lebur, selain banyak meleset tak jarang memekakkan gendang telinga penonton secara tiba-tiba tanpa maksud dan tujuan yang jelas. Spesial efeknya pun tergolong kasar dan tidak meyakinkan, lihat saja adegan melompati kereta ataupun mobil terbalik.

Penokohan yang demikian datar rasanya sulit menuntut aktor-aktris yang terlibat disini untuk berakting maksimal. Jalan keluarnya adalah overdramatisasi setingkat sinetron kejar tayang. Nyaris di sepanjang film anda akan menemukan akting berlebihan yang diikuti dengan delikan mata, meningginya suara serta aniaya fisik yang tidak pada tempatnya. Alih-alih mencapai klimaks konflik yang diinginkan, nyatanya kesemua itu membuat anda menggeleng-gelengkan kepala saja tidak habis pikir.
Haruskah dunia narkoba dan semua pengaruh negatif terhadap pemakainya baik secara langsung maupun tidak langsung ditampilkan sedemikian getirnya? Berimbas pada nasib buruk yang lantas menimpa satu persatu tokohnya layaknya permainan nasib dalam Final Destination juga berlaku disini. Sub judul X-The Last Moment yaitu “Kehilangan yang Berlebihan” adalah tepat adanya karena sukses membuat penontonnya overdosis menyesali hilangnya waktu satu setengah jam. Setidaknya video penyuluhan masyarakat akan bahaya narkoba bisa diringkas dalam hitungan menit saja.

Durasi:
84 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Senin, 09 Mei 2011

AKIBAT PERGAULAN BEBAS 2 : SKANDAL VIDEO PORNO

Storyline:
Berada di puncak karirnya sebagai bintang film, Denis Yudhistira merasa berada di atas angin. Kebiasaan buruknya adalah memiliki affair dengan banyak wanita walau sudah berhubungan serius dengan penyanyi terkenal, Rasty Maria. Hal ini dikritik habis-habisan oleh sahabat sekaligus lawan mainnya, Jimmy Ardiansyah yang jadwal syutingnya sering terganggu apalagi Tiara, wanita yang disukainya lebih memilih berkencan dengan Denis. Puncak kemarahan Jimmy ditumpahkan pada manajer artis Mario sebelum baku hantam terjadi. Paska kejadian itu, Denis kehilangan laptop pribadinya yang berisikan rekaman percintaan panasnya dengan sejumlah wanita yang kemudian sampai ke media. Akankah karir Denis berakhir?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 9 Mei 2011.

Cast:
Keith Foo sebagai Denis Yudhistira
Leylarey Lesesne sebagai Rasti
Lia Aulia sebagai Tiara
Rocky Jeff sebagai Jimmy
Amink sebagai Mario
Tasya Djerly sebagai Dini

Director:
Film kedua Findo Purwono HW di tahun 2011 ini dimana tahun lalu menyutradarai total 4 film.

Comment:
Semua orang yang mengaku Warga Negara Indonesia seharusnya mengetahui kasus video porno Ariel, Luna Maya, Cut Tari beberapa waktu lalu yang sangat menghebohkan itu. (Kepada artis yang bersangkutan mohon maaf jika menyinggung kembali nama anda-anda sekalian karena saya hanyalah seorang movie reviewer). Dan entah apa yang ada di pikiran produser HM Firman Bintang untuk merekayasa kembali skandal tersebut dalam sebuah produksi layar lebar. Berusaha mengeruk keuntungan di sela-sela minimnya pasokan film impor di bioskop-bioskop Ibukota?
Findo juga terkesan “mendegradasi” dirinya sendiri dengan duduk di kursi sutradara kali ini. Biasanya film-film beliau mempunyai ciri khas tersendiri dan mayoritas bermain di genre horor/komedi yang harus diakui mudah dicerna penonton awam. Kali ini ia murni menggarap sebuah drama yang tidak menawarkan kejutan apapun di dalamnya karena mayoritas audiens sudah mengetahui arah yang ditujunya. Yang tersisa tinggal bagaimana penulis Aviv Elham menutup film ini.
Saya pribadi merasa nama-nama yang mengisi film ini sangat miscasting, terlebih berbagai cameo yang sangat tidak penting. Keith Foo bukanlah Ariel dan setidaknya ia berusaha menginterpretasikan versinya sendiri dengan cukup wajar. Itulah satu-satunya nilai plus dari aktingnya disini selain logat Inggris-Melayunya yang terkadang mengganggu pendengaran. Aming seperti biasa terlihat nyaman tampil sebagai dirinya sendiri dalam peran manajer artis yang banci.
Sedangkan dari aktris-aktrisnya sendiri masih kurang maksimal. Ley terlihat tidak konsisten dalam mengeksplorasi sisi emosionalnya saat menghadapi kesulitan. Lia tidak mendapat banyak kesempatan selain tampil seksi menggoda. Lain lagi dengan Tasya yang dikabarkan sebagai perawan lugu dari Bogor tetapi justru berpenampilan wah selayaknya gadis metropolitan. Sekali lagi saya tekankan kalau karakterisasi mereka sudah diplot sedemikian rupa tanpa perlu banyak adiksi.
Akibat Pergaulan Bebas 2 di paruh pertama durasinya kelihatan berusaha untuk bercerita secara runut mengenai pengenalan tokoh-tokohnya. Namun jatuhnya membosankan dan tidak menarik. Paruh kedua mencoba meningkatkan intensitas seiring dengan mencuatnya konflik tapi malah semakin tergelincir. Penulis terkesan bingung menyajikan ending yang diplot dengan twist. Sayangnya tidak lagi mengejutkan penonton yang bahkan lebih memilih pergi duluan sebelum sampai kesana.
Sekadar catatan, film ini tidak ada kaitan apapun dengan APB versi Nayato yang edar tahun lalu itu. Murni berdiri sendiri dan hanya menambah angka 2 di belakangnya plus subtitle tambahan “Skandal Video Porno” untuk memberikan penegasan. Dari sisi sinematografi dan editing, APB 2 ini kualitasnya di bawah FTV sekalipun. Dan jika anda masih (setidaknya) mengharapkan sex scene sebagai suguhan utamanya maka bersiaplah untuk kecewa juga dengan film yang super minus ini.

Durasi:
80 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 23 September 2010

PENGANTIN PANTAI BIRU : Teror Dedemit Cantik Dendam Pribadi

Storyline:
Beberapa waktu silam, Emily dan Andy tengah merayakan bulan madu di Pantai Biru. Malang di tengah kemesraan, keduanya disatroni 3 perampok yang membunuh Andy dan membuang Emily ke jurang.
Masa kini, adik Emily yang bernama Maya melakukan pencarian kakaknya. Ia berjumpa enam muda-mudi masing-masing pasangan Ryan-Naomi, Amel, Jazzy, Jojo dan Gathan yang sedang berekreasi sekaligus melakukan sesi pemotretan. Lelaki tua penjaga penginapan, Pak Solikum mengingatkan mereka agar berhati-hati terhadap makhluk gaib yang dijuluki Dedemit Samber Nyawa di daerah sekitar yang kerapkali meminta korban jiwa. Apakah sesungguhnya Emily masih hidup? Bagaimana teror Dedemit Samber Nyawa tersebut dapat dihentikan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film & BIC Production dan diproduseri oleh HM Firman Bintang.

Cast:
Catherine Wilson sebagai Emily
Keith Foo sebagai Ryan
Uli Auliani sebagai Naomi
Cynthiara Alona sebagai Jazzy
Debby Ayu sebagai Amel
Fendi Trihartanto sebagai Jojo

Director:
Absen di bulan suci Ramadhan, Nayato Fio Nuala kembali dua minggu kemudian dengan thriller horor terbarunya yang berjudul cukup berdaya tarik ini.

Comment:
Leburkanlah 2 film berikut: Darah Perawan Bulan Madu (Hartawan Triguna) dan Air Terjun Pengantin (Rizal Mantovani) yang sama-sama rilis 2009. Voila! Jadilah karya terbaru Nayato yang siap tayang tetapi apakah layak tonton? Temanya seperti tersebut di atas mengenai pasangan muda-mudi yang diganggu saat berbulan madu dan sekelompok muda-mudi yang diteror saat rekreasi. Nampaknya kreatifitas sudah semakin sulit dikembangkan dewasa ini. Seakan tidak cukup lemah, diperparah juga dengan masuknya tokoh adik kandung sang penebar teror tanpa maksud dan tujuan yang jelas serta berbaur begitu mudahnya dengan para sahabat tersebut.
Dengan kekonyolan plot dan skenario yang saling berlomba-lomba itu lantas apa lagi yang bisa dijual? Tentu saja panorama dan jajaran castnya. Panorama Pantai Biru memang cukup indah dan keahlian sutradara sekelas Nayato yang cukup pandai bermain angle memang berguna disini. Trio aktris Uli, Cynthiara, Debby kembali mempertontonkan kemolekan tubuh mereka dengan bikini minim. Belum lagi sosok Catherine yang tidak jelas apakah hantu atau manusia yang berkostum sangat eksotis (anda akan mengerti maksud saya jika menontonnya!). Ohya ada juga Keith Foo yang wajah dan tubuhnya bisa jadi menyegarkan bagi penonton wanita (dan sebagian penonton pria tentunya). Rasanya "penampilan" kesemuanya merupakan "akting" tersendiri di film ini.
Mungkin kejam jika saya katakan Pengantin Pantai Biru lebih merupakan kumulasi sampah-sampah kertas Nayato yang berisi satu dua coretan ide lalu diremas-remas dan dibuang tanpa penyelesaian apapun. Namun memang itulah kenyataannya. Skip it!

Durasi:
70 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 07 Januari 2010

BIDADARI JAKARTA : Isu Prostitusi, Narkoba dan Anak Jalanan Versi "Mudah"

Storyline:
Dari Kalimantan dengan harapan menjadi penyanyi di ibukota, Ulin malah terjebak dalam prostitusi terselubung sebuah night club. Keadaan mau tidak mau membuatnya menjadi pelacur jalanan yang harus selalu siap melayani laki-laki manapun yang disodorkan maminya. Beruntung persahabatannya dengan Anissa dan Tiara menguatkan batinnya untuk menjalani hidup terutama setelah bertemu Albert, eksekutif muda sukses yang menaruh hati padanya.
Di lain kasus, bocah laki-laki bernama Fahmi yang dijuluki si Ingus harus bertahan hidup di jalanan dengan mengamen. Selain harus bersaing dengan rekan sesama bocah pengamen, Ingus menghadapi "bengisnya" pemimpin mereka sekaligus berjuang mendapatkan perhatian dan kasih sayang ibu kandungnya yang tidak pernah mau mengakui keberadaannya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh perusahaan independen, PT Mega Multi Media.

Cast:
Poppy Bunga sebagai Ulin
Pernah mendukung Nadine Chandrawinata dalam Mati Suri (2008), aktor Malaysia Keith Foo bermain sebagai Albert
Renny Novita
Ayang
Fahmi Aditya

Director:
Pernah menangani horor Terowongan Casablanca yang berkualitas rendah tetapi sukses, Nanang Istiabudi kali ini berusaha mengangkat isu pelacuran dan anak jalanan.

Comment:
Paruh pertama film terasa "menyiksa" sekali. Mengapa? Sebab kita disuguhi potongan gambar demi gambar yang berusaha menjelaskan apa itu women trafficking dan nasib anak jalanan. Kesan depresi dan menyedihkan benar-benar tertangkap apalagi dibantu dengan ilustrasi musik yang menyayat-nyayat. Pertanyaannya, apakah ini baik untuk film? Jika digarap dengan benar harusnya iya karena penonton bisa jadi bersimpati dengan karakter-karakternya. Tetapi garapan Nanang ini hanya sekadar menunjukkan, tidak bercerita sehingga kita akan stress dibuatnya. Memasuki paruh kedua, mood film sedikit membaik apalagi dengan hadirnya kisah cinta. Namun timbul pertanyaan yang lebih ekstrim lagi, apa yang menyebabkan pria sesempurna Albert jatuh cinta pada tokoh Ulin? Alasan kasihan? Pernah ditabrak? Atau murni cinta pada pandangan pertama? Semua sebab itu tidaklah penting lagi karena semua konflik pada film dengan mudahnya diselesaikan begitu saja. Perseteruan antar anak jalanan ataupun pemimpin mereka dibiarkan mengambang begitu saja. Kesan natural yang harusnya dihadirkan oleh kepolosan pemain-pemain cilik itu malah kurang wajar. Hasil akhir menjadi tidak maksimal di semua lini Bidadari Jakarta, judul yang juga tidak tepat. Skenario yang ditulis Jimmy S. Johansyah mungkin salah satu penyebab utamanya. Sayang memang karena isu-isu yang diangkat adalah masalah sosial keseharian yang dihadapi kota metropolitan manapun termasuk Jakarta.

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 11 April 2009

MATI SURI : Misteri Spiritual Setelah Kondisi Koma

Tagline:
Mati tak cukup sekali

Cerita:
Menjelang pernikahannya, Abel kalut mendapati fakta bahwa calon suaminya, Wisnu pernah menghamili wanita lain. Dalam keputus asaannya, Abel menenggak sebotol obat hingga membuatnya koma atau sering disebut mati suri. Dalam kondisi itu, Abel seperti berada di suatu tempat asing yang dingin dan gelap. Saat terbangun setelah beberapa hari, Abel bertekad menyendiri dan menyelesaikan pekerjaannya sebagai fotografer di villa milik sahabat baiknya, Charlie. Sayangnya di tempat itu, Abel malah menemukan serangkaian kejadian supranatural yang berusaha membujuknya untuk mati sekali lagi..

Gambar:
Konsep visual yang baik dengan dominan warna biru di malam hari.

Act:
Mendominasi layar dari awal sampai akhir, Nadine Chandrawinata menunjukkan emosi dan penjiwaan yang baik sebagai Abel, gadis cantik rapuh yang tidak percaya mistik.
Setelah masuk nominasi aktor terbaik dalam FFI 2008 yang lalu, Yama Carlos kali ini bermain sebagai Wisnu yang kebingungan mendapati calon istrinya menghilang dan berusaha mendapatkannya kembali dengan sekuat tenaga.
Satu lagi model asal Malaysia yang menyusul terjun ke dunia akting, Keith Foo sebagai Charlie yang setia kawan tapi berkesan misterius.

Sutradara:
Rizal Mantovani kembali lagi ke genre horor setelah terakhir membesut Kesurupan (2007). Dalam Mati Suri, Rizal menyuguhkan konsep serupa yaitu kondisi saat tubuh kehilangan kendali jiwanya. Usahanya dalam film ini boleh diacungi jempol karena mampu memadukan konsistensi cerita dengan konsep visual yang baik.

Komentar:
Menggunakan narasi Mama Loren dalam trailer film ini sebetulnya cukup kreatif. Tapi apa yang ditampilkan secara utuh jauh lebih daripada itu. Walau bertempo cukup lambat, Mati Suri berhasil menjaga ritme cerita mulai dari awal sampai klimaks. Pelebaran karakter tidak merumitkan kisah tapi membuka satu persatu kejutan yang disuguhkan. Suatu hal yang jarang ditemui dalam horor lokal. Sayang sekali di tengah serbuan horor tidak standar belakangan ini, Mati Suri yang di atas rata-rata justru kurang mendapat perhatian.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!