XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label findo purwono hw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label findo purwono hw. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2012

PEREMPUAN DI RUMAH ANGKER : Cinta SMU Berbuntut Teror dan Kematian


Quote: 
Erwin: Sopan itu sama orangtua, kalo sama setan itu takut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast: 
Keith Foo sebagai Erwin
Kartika Putri sebagai Karina
Joe Richard sebagai
Hardi Fadhillah sebagai Bule
Tya Restyana

Director: 
Merupakan film ketiga bagi Findo Purwono HW di tahun 2012 setelah terakhir Hantu Budeg beberapa minggu lalu.

W For Words:
Menilik judul film ini, anda lantas bisa menarik satu kesimpulan: Miskin kreatifitas! Bisa kita telaah kata per kata satu persatu. Perempuan, asumsikan dia hantu alias kuntilanak. Rumah, tempat tinggal yang mungkin menyimpan misteri. Angker, suasana menyeramkan yang mendirikan bulu kuduk. Apakah ketiga pernyataan tersebut sudah cukup membuat anda menerka isi cerita? Ya! Sayangnya penulis skrip Tb Ule Sulaeman yang biasanya “mendukung” Nayato ini terlalu malas untuk menggunakan nalar sehingga yang terjadi adalah tambal sulam ide yang jatuh tak jauh dari pohon kebodohan.

Erwin yang tengah berkencan dengan kekasihnya Karina tiba-tiba ditelpon perempuan misterius yang mengaku teman dekatnya semasa SMU dulu. Hal ini memicu kecemburuan Karina yang segera meminta putus. Erwin yang bingung juga mendapat SMS ancaman bahwa Karina akan dibunuh jika ia tidak datang ke sebuah rumah yang ditunjuk. Sahabat Erwin, Bule juga kerap diganggu oleh pocong dan kuntilanak yang sama. Erwin pun nekad menemui kepala sekolahnya dulu untuk mencari informasi mengenai perempuan yang disinyalir bernama Murni itu. Misteri apa yang tersembunyi di baliknya?

Keith Foo rupanya belum bosan bermain dalam film-film sejenis. Entah apa yang ingin dibuktikannya. Karakter Erwin sejak awal sudah tidak meyakinkan untuk menuai simpati penonton. Pertanyaan yang mengganggu adalah bagaimana ia sempat potong rambut di sela-sela syuting sehingga terdapat perbedaan gaya rambut yang cukup mencolok di bagian pembuka dan penutup film. Casting director nya pun terlampau malas mencari sosok Erwin di masa SMU sehingga Keith diberikan topi yang dipakai terbalik untuk menegaskan ke”remaja”annya. Meh!

Kartika Putri rupanya sibuk belajar gangnam style dengan iringan lagu Iwak Peyek. Tak tanggung-tanggung, ia melakukannya di toilet! Tidak lupa dada yang membusung masih menjadi andalan utamanya hingga tetap memamerkannya di kampus dan rumah sakit sekalipun. Oh well! Interaksi Hardi dengan pocong dan kuntilanak sesungguhnya memiliki esensi humor tersendiri tapi jika dilakukan terlalu frekuentif? Hm. Joe Richard cuma muncul selayang pandang tanpa kesan berarti. Sama halnya dengan tokoh Murni dan Endang yang sibuk bertengkar layaknya dalam sinetron remaja televisi swasta. WTF!

Sutradara Findo yang tampaknya mulai menjelma sebagai andalan baru Mitra Pictures dan BIC Productions ini memilih kecelakaan mobil dengan cara yang paling sederhana, menabrak pohon! Bukan hanya sekali tapi dua kali. Sesungguhnya saya tidak kasihan pada Keith atau Kartika tetapi pada pemeran pocong dan kuntilanak yang terjatuh dari motor akibat boncengan Bule. Semoga mereka tidak cedera dan menemui ajal untuk kedua kalinya. Lho emang bisa? Bisa dong! Arwah perempuan saja bisa main BB, berkomunasi via telepon serta menunggu jodohnya dunia dan akhirat.

Perempuan Di Rumah Angker memang proyek kebutan yang bertujuan mengeruk keuntungan (diharapkan) dalam waktu singkat dengan cara yang mudah. Sayang apresiasi penonton dikorbankan begitu saja dengan serentetan adegan absurd yang membuat bola mata anda berputar 360 derajat. Logika cerita yang berantakan dipaksa menebar twist disana-sini tapi semuanya gagal total dalam menghadirkan unsur kejutan apapun juga. Arwah laki-laki dan perempuan bisa bersama pada akhirnya. Happy ending? Jelas! Horor komedi yang satu ini amat patut mendapatkan standing ovation!


Durasi: 

81 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 22 November 2012

HANTU BUDEG : Komedi Horor Dendam Penunggu Hotel


Tagline:
Ditulikan oleh dendam, dibunuh oleh nafsu..

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Sentra Films ini mengadakan pemutaran perdananya di Hollywood XXI pada tanggal 14 November 2012 yang lalu.

Cast: 
Tyas Mirasih sebagai Magda
Keith Foo sebagai Bram
Amel Alvie sebagai Ira
Awang Sogi sebagai Royce
Febriyanie sebagai Inge
Zidni Adam sebagai Kojek
Anie Klaus sebagai Ayu

Director: 
Merupakan film kedua bagi Findo Purwono Hw di tahun 2012 setelah Fallin’ In Love.

W For Words: 
Formula horor Indonesia saat ini memang sudah bergeser ke komedi seks. Bukan hanya aktris seksi berbikini tetapi juga aktor topless yang biasanya diakhiri dengan adegan berhubungan intim. Momok horor yang muncul biasanya berupa pocong dan/atau kuntilanak yang sedianya hanya jadi pelengkap. Tidak masalah jika skripnya digarap dengan rapi layaknya beberapa produksi Korea atau Thailand sehingga kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Karya terbaru Findo dari Sentra Films ini tak jauh berbeda dari yang sudah-sudah termasuk film terdahulunya Setan Budeg (2009) dari Maxima Pictures.

Kojek baru saja diputus pacarnya Ira karena terlalu pelit. Ia lantas diyakinkan kawan-kawannya Magda, Inge, Royce dan Bram untuk membiayai rekreasi demi memulihkan sakit hati. Mobil butut dan penginapan murah bernama hotel Cempaka pun disewanya sehingga memancing protes. Mereka berlima akhirnya sepakat pindah ke hotel yang lebih bagus sebelum diganggu oleh pocong dan kuntilanak. Mau tak mau Kojek, Bram, Royce, Inge dan Magda kembali ke hotel Cempaka untuk mencari ketenangan dimana teror hantu budeg dengan tusuk konde telah menanti.

Skrip yang ditulis oleh Midhu Laksana ini berisikan setiap elemen klise yang ada di sebuah film horor sebut saja foto berpenampakan, penginapan berhantu lengkap dengan kuntilanak bermuka pucat dan pocong berwajah bubur. Namun tidak adanya logika memadai yang melatarbelakangi membuat semuanya berantakan seperti motif perjalanan yang mengada-ada, reaksi atas kejadian yang tidak relevan dsb. Kesemua itu membuat kepedulian anda terhadap karakter-karakternya menjadi nol, tidak akan melihat lagi betapa menariknya penampilan fisik mereka di layar lebar.

Sutradara Findo tak berupaya menjadikannya lebih watchable lagi. Pengulangan formula dari judul-judul yang ditanganinya kembali dimasukkan. Momok hantu budeg itu sendiri yang seharusnya kuat tak lagi istimewa. Permainan kamera shaky untuk menegaskan teror suara yang membuat seseorang budeg samasekali tidak inspiratif kalau tidak mau dibilang konyol. Ya ya ya, saya tahu kalau hantu yang membunuh manusia dengan cara menusuk telinganya itu memang inovatif tapi belum cukup untuk menghadirkan unsur kengerian yang diharapkan.

Saya katakan Hantu Budeg adalah repetisi formula Setan Budeg dalam bentuk lain tapi tidak ditunjang oleh kualitas yang lebih baik. Akting predictable dari Tyas dan Keith tak mampu ditutupi terlepas dari sensualnya adegan intim yang mereka lakukan. Lagi-lagi sebuah horor komedi yang akan segera anda lupakan dalam hitungan detik begitu meninggalkan gedung bioskop. Kualitas skrip yang memadai tampaknya masih menjadi masalah utama yang dihadapi industri perfilman Indonesia layaknya sebuah masakan yang tidak akan enak rasanya jika tak ditunjang oleh bahan dan bumbu yang tepat. Sampai kapan mereka (atau kita) akan pura-pura “tuli” mendengar kritik serupa?

Durasi: 
88 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 18 September 2012

FALLIN’ IN LOVE : Romansa Segitiga Remaja Ala Sinetron


Quotes: 
Beben: Aku orang desa yang hidupnya biasa-biasa saja.
Larasati: Aku suka kok yang biasa-biasa saja.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions ini gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 18 September 2012.

Cast: 
Adly Fayruz sebagai Rado
Mikha Tambayong sebagai Larasati
Agesh Palmer sebagai Nita
Boy William sebagai Beben
Yati Surachman
Jerry Likumahwa

Director: 
Merupakan film ke-17 bagi Findo Purwono HW setelah terakhir Suster Keramas 2 (2011).

W For Words: 
Jika topik cinta segitiga sudah ribuan kali diangkat ke layar lebar lantas apa lagi yang tersisa? Meski begitu, Mitra Pictures dan BIC Productions tetap mencoba peruntungannya di akhir kwartal ketiga tahun 2012 ini. Tumpuannya jelas ada pada ketiga bintang muda yang dianggap memiliki potensi untuk menjadi besar kelak yaitu Adly Fayruz, Mikha Tambayong dan Boy William selain tentunya sutradara yang juga sudah memiliki nama lewat serangkaian film percintaan remaja yang pernah dibesutnya yakni Findo Purwono HW, sebut saja salah satu yang terbaik yaitu Love In Perth (2010).

Larasati adalah tipikal gadis 16 tahun yang menggemari novel cinta dan film roman Korea. Di sekolah, ia jatuh cinta pada kakak kelasnya, Rado. Kedekatan keduanya terjalin lewat latihan softball bersama. Sayang mantan kekasih Rado, Nita tidak tinggal diam dan berhasil membuat Laras patah hati. Demi menghalau kesedihannya, Laras berangkat ke rumah nenek di Bandung dimana ia berkenalan dengan pemuda bersahaja, Beben. Akankah Laras mampu melupakan sosok Rado sepenuhnya dan beralih pada Beben yang menyayanginya?

Nyatanya penulis skenario Alim Sudio tidak mampu memberikan 'identitas' dalam filmnya. Saya tidak menemukan kohesi tarik menarik antara kesukaan Larasati akan drama Korea dengan kehidupan percintaannya yang labil itu, sekadar tempelan belaka yang bahkan tidak melekat samasekali. Laras tidak memiliki alasan yang kuat untuk langsung berpaling pada Beben hanya karena kebersamaan sehari semalam, Rado juga tidak terlihat bersungguh-sungguh menunjukkan perjuangannya untuk memenangkan hati Larasati.

Mikha seharusnya mampu memberi nyawa sebagai karakter sentral, tidak perlu bagus tapi cukup believable untuk menempatkan penonton berada di pihaknya. Kelemahan karakteristiknya semakin diperburuk dengan sikap malas membantu oma atau membolos dari sekolah. You still wanna cheer for this kind of girl? Sama halnya dengan Adly yang flat dalam menerjemahkan emosi apalagi menentukan pilihan hatinya. Sosok idola sekolah juga cuma dibangunnya lewat permainan softball dan sedikit pengolahan kata-kata manis terbungkus wajah lugu? Boy William mungkin satu-satunya yang terlihat 'berakting' disini. Penonton setidaknya mampu merasakan kelembutan dan ketulusannya dalam mencintai. Usahanya mengubah aksen kebarat-baratan menjadi Sunda khas pemuda desa pantas diapresiasi.


Sutradara Findo tidak cukup konsisten mengerahkan segenap kemampuan berceritanya. Latar belakang waktu pun tidak diperhatikannya, lihat bagaimana Beben mengajarkan Laras berkuda dari pagi sampai malam? Jangan lupakan satu scene apik nan epik ketika Laras dan Beben 'membubarkan' kawanan kunang-kunang dari kerimbunan yang lantas membentuk tanda hati. Ah! Sekuens adegan demi adegan juga terasa putus-putus sehingga bangunan cerita terkesan tidak utuh terlebih mendekati akhir film. 

Fallin' In Love berupaya keras menjual romantika remaja yang sedekat mungkin dengan kehidupan sehari-hari tapi sayangnya jatuh terlalu jauh dari realita. Rasa suka, senang, marah, terluka yang berujung pada bingung menentukan pilihan pun didramatisir sedemikian rupa hingga sampai pada satu konklusi, “Kamu harus memilih pakai hati, bukan mata.” Sebuah petuah sejak jaman batu yang masih saja ampuh digunakan sebagai penutup film cinta. By the way, semua segi dalam film ini nyaris tak ada bedanya dengan apa yang disodorkan sinetron stripping ala televisi kecuali tentunya layar besar yang memutarnya.



Durasi: 
80 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 26 Desember 2011

MY BLACKBERRY GIRLFRIEND : Kontak Blackberry Dadakan Siksaan Hidup

Quotes:
Angel: Gua butuh orang yang bisa ngelakuin apapun yang gua mau!


Storyline:
Bekerja sebagai sales mobil, Martin berhasil membeli Blackberry bekas yang sudah lama diidam-idamkannya. Tak lama kemudian, sebuah contact bernama Angel memanggilnya dan segera masuk dalam kehidupannya. Angel yang berperangai kasar kerapkali menyulitkan Martin dengan permintaan-permintaan ajaibnya yang harus segera dituruti. Martin pun bertekad mencari tahu masa lalu Angel yang terhubung dengan seorang pria bernama Fendy. Berhasilkah Martin mengobati rasa sakit hati Angel yang sebetulnya hanya membutuhkan kehadiran seorang pria di sisinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana press screeningnya diadakan di fX Platinum XXI dan Foodism pada tanggal 21 Desember 2011.

Cast:
Luna Maya sebagai Angel
Fathir Muchtar sebagai Martin
Hardi Fadhillah sebagai Hendra
Keith Foo sebagai Fendy

Director:
Merupakan film ke-4 bagi Findo Purwono HW di tahun 2011 setelah terakhir Ayah, Mengapa Aku Berbeda.

Comment:
Apakah anda pernah membaca cerita pendek berjudul My BlackBerry Girlfriend dalam situs Kaskus yang kemudian diterbitkan dalam bentuk novel karangan Agnes Davonar? Jika belum, rasanya sudah cukup menjadi alasan untuk menyaksikan film ini, selain fakta bahwa ponsel Blackberry keluaran RIM – Kanada tersebut sangatlah populer di kalangan masyarakat Indonesia khususnya kawula muda yang mengaku anak gaul dan rajin bersilaturahmi lewat BBM.
Skenario yang ditulis oleh Djaumil Aurora dan Agnes Davonar ini memulai sebuah komedi romantis dengan kekacauan yang tidak disengaja antar tokoh pria dan wanitanya hingga kemudian berkembang menjadi romansa yang manis karena tingginya frekuensi pertemuan yang sebetulnya tidak diharapkan itu. Sayangnya proses NO to YES tersebut masih terlalu instan sehingga maknanya kurang terasa, apalagi sampai mengiba penonton untuk mau bersimpati pada dua karakter utamanya.

Banyak sekali referensi film yang ditiru disini, sebut saja adegan bertukar sepatu selayaknya duet Jeon Ji Hyun dan Cha Tae Hyun dalam My Sassy Girl (2001) atau pertemuan di kereta serupa duet Sirin Horwang dan Ken Theeradej dalam Bangkok Traffic Love Story (2009). Apakah sedemikian miskin idenya hingga kemiripan sedemikian rupa pun tidak berusaha dialihkan ke sesuatu yang lebih kreatif? Apalagi jika berbicara cinta rasanya banyak sekali aspek yang dapat digali darinya.
Usaha Luna Maya dan Fathir Muchtar memang terlihat untuk berakting sewajar mungkin tanpa harus terkesan norak. Namun dangkalnya karakter mereka tanpa didukung oleh latar belakang yang jelas tidak mampu menghindari kesan tersebut. Beruntung Luna dan Fathir dikaruniai wajah yang rupawan sehingga penonton setidaknya masih akan betah menyaksikan penampilan keduanya yang berbau slapstick dan karikatural itu. Kontribusi Hardi dan Keith tidak dirasa penting dan berpengaruh pada bangunan cerita yang tersaji.

Sutradara Findo yang belakangan semakin terjebak dalam berbagai genre film yang berbeda-beda terlihat kesulitan menyatukan kepingan-kepingan plot cerita disini. Alhasil anda akan merasakan perpindahan “rasa” yang kurang mulus antara lucu, konyol, biasa hingga romantis. Bisa jadi kesalahannya disebabkan oleh skenario yang tidak menawarkan dialog-dialog berbobot tapi proses editing yang kurang rapi jelas tidak boleh lepas dari tanggungjawabnya. Perpindahan lokasi ke Singapura di penghujung cerita juga tergolong sia-sia jika hanya mengejar estetika saja.
Terlepas dari “cupu”nya dalam bertutur serta kurang kreatifitas dalam eksplorasi ide, My Blackberry Girlfriend sebetulnya memiliki dasar cerita yang lumayan menyentuh andai digarap dengan lebih serius. Rendahkanlah ekspektasi anda dan lupakanlah sejenak My Sassy Girl yang fenomenal itu, niscaya Luna bisa terlihat manis dan Fathir dapat terlihat lucu di hadapan anda. Tentunya Blackberry yang menjadi media mereka, ponsel dengan dua sisi mata pisau sehingga mampu memudahkan sekaligus menyulitkan komunikasi antara kedua belah pihak.

Durasi:
83 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 14 November 2011

AYAH MENGAPA AKU BERBEDA : Proses Beradaptasi Dengan Kekurangan

Quotes:
Ibu Katrina: Dengarkanlah hatimu. Karena Cuma hati yang mempunyai perasaan yang paling peka.


Storyline:
Angel adalah seorang gadis cantik dan cerdas. Kekurangannya hanya satu yaitu tuna rungu sejak balita. Ditinggal ibunya yang meninggal saat melahirkannya, ia dibesarkan oleh Ayah dan Neneknya dengan penuh kasih sayang. Tingkatan sekolah dilaluinya dengan lancar karena kepandaian otaknya dan kemampuan bermusiknya yang menonjol. Sayangnya lingkungan tidak menerima Angel begitu saja. Maya dkk menganggapnya tidak pantas ada di sekolah umum dan berkali-kali mengerjainya secara fisik. Beruntung ada Hendra yang selalu menjadi sahabat setianya atau Ibu Katrina yang sering membelanya terang-terangan. Mampukah Angel menyesuaikan diri dengan dunia kejam yang seringkali tidak adil padanya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana gala premierenya diadakan di Senayan City XXI pada tanggal 14 November 2011.

Cast:
Surya Saputra sebagai Ayah Angel
Dinda Hauw sebagai Angel
Rima Melati sebagai Bunda Alin
Indra Sinaga sebagai Ferly
Fendy Chow sebagai Martin
Rafi Cinoun sebagai Hendra
Kiki Azhari sebagai Maya
Rheina Mariyana sebagai Ibu Katrina

Director:
Merupakan film ke-15 bagi Findo Purwono HW yang mengawali karir penyutradaraannya lewat film controversial Buruan Cium Gue (2004) yang kemudian dirombak ulang menjadi Satu Kecupan (2005).

Comment:
Film adaptasi ketiga dari novelis online Davonar bersaudara yaitu Agnes dan Teddy dimana skripnya dikerjakan secara kolaborasi oleh Djaumil Aurora dan Titien Wattimena. Drama melankolis ini mengisahkan pada perjuangan hidup seorang gadis belia tuna rungu agar bisa diterima oleh lingkungannya sekaligus mencapai mimpi-mimpinya. Sebuah kisah yang seharusnya bisa menginspirasi siapapun juga apabila ditangani dengan sebagaimana mestinya.
Namun hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi disini. Banyak sekali momen-momen pembangkit simpati yang digarap dalam takaran yang tidak pas, kadang dangkal, kadang malah berlebihan. Tak heran jika reaksi penonton tidak seperti yang diharapkan, jangankan air mata haru yang menetes, bisa jadi tawa membahana yang terdengar. Selebihnya hanya duduk diam tanpa reaksi di bangku masing-masing sambil sesekali mengernyitkan dahi.
Harus diakui Dinda Hauw memiliki pesona kecantikan yang mengundang simpati. Saya harap ia tidak terjebak selamanya dalam peran-peran cengeng yang sudah dilakoninya lebih dari sekali. Interpretasi Dinda kali ini sebagai karakter malang sedikit dirusak dengan kejanggalan-kejanggalan dasar mulai dari tidak mengenakan alat bantu dengar yang biasa digunakan tuna rungu hingga penggunaan bahasa tangan yang seringkali terlihat tidak konsisten meyakinkan.
Besar kemungkinan penonton hanya menangkap maksud hati karakter Angel sebagian saja. Parahnya lagi kemunculan subtitle khusus dialog Angel baru di pertengahan menjelang akhir film. Oleh karena itu, banyak sekali yang “missed” sehingga turut mengganggu pemahaman konflik yang ingin disampaikan. Saya bingung apakah Indra, Fendy, Kiki, Rafi, Surya, Rima dan Rheina turut merasakan hal serupa atau mereka hanya mengikuti skenario saja dalam merespon setiap perkataan Angel? Hmmm…
Sutradara Findo yang sesungguhnya lebih piawai menggarap film berbasis komedi terlihat kesulitan menjaga melodrama ini agar tetap berada di relnya. Upayanya menampilkan perjalanan Angel dalam berbagai tingkatan umur tidak terkesan mulus karena editing yang kurang rapi. Terasa sekali pengerjaan film ini dilakukan dalam waktu cenderung singkat sehingga kinerja seluruh departemen tergolong tidak maksimal. Paling kentara dan krusial untuk film bergenre semacam ini adalah scoring music nya yang gagal membangun mood.
Ayah, Mengapa Aku Berbeda? ini sebenarnya memiliki banyak potensi untuk menjadi tontonan yang inspiratif dan apresiatif. Sayangnya pihak filmmaker banyak mengabaikan hal-hal dasar yang pada akhirnya menjadi teramat mengganggu untuk sebuah produksi film layar lebar. Oleh karena itu, terciptalah satu kesan yang saya tangkap sejak menit awal yaitu SINETRON BANGET! Ada kalanya membaca novel menyentuh saja sudah lebih dari cukup bagi kita untuk dapat terhanyut dalam jalinan cerita tragisnya tanpa harus menyaksikan visualisasi salah kaprah yang membuyarkan segalanya.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 09 Mei 2011

AKIBAT PERGAULAN BEBAS 2 : SKANDAL VIDEO PORNO

Storyline:
Berada di puncak karirnya sebagai bintang film, Denis Yudhistira merasa berada di atas angin. Kebiasaan buruknya adalah memiliki affair dengan banyak wanita walau sudah berhubungan serius dengan penyanyi terkenal, Rasty Maria. Hal ini dikritik habis-habisan oleh sahabat sekaligus lawan mainnya, Jimmy Ardiansyah yang jadwal syutingnya sering terganggu apalagi Tiara, wanita yang disukainya lebih memilih berkencan dengan Denis. Puncak kemarahan Jimmy ditumpahkan pada manajer artis Mario sebelum baku hantam terjadi. Paska kejadian itu, Denis kehilangan laptop pribadinya yang berisikan rekaman percintaan panasnya dengan sejumlah wanita yang kemudian sampai ke media. Akankah karir Denis berakhir?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 9 Mei 2011.

Cast:
Keith Foo sebagai Denis Yudhistira
Leylarey Lesesne sebagai Rasti
Lia Aulia sebagai Tiara
Rocky Jeff sebagai Jimmy
Amink sebagai Mario
Tasya Djerly sebagai Dini

Director:
Film kedua Findo Purwono HW di tahun 2011 ini dimana tahun lalu menyutradarai total 4 film.

Comment:
Semua orang yang mengaku Warga Negara Indonesia seharusnya mengetahui kasus video porno Ariel, Luna Maya, Cut Tari beberapa waktu lalu yang sangat menghebohkan itu. (Kepada artis yang bersangkutan mohon maaf jika menyinggung kembali nama anda-anda sekalian karena saya hanyalah seorang movie reviewer). Dan entah apa yang ada di pikiran produser HM Firman Bintang untuk merekayasa kembali skandal tersebut dalam sebuah produksi layar lebar. Berusaha mengeruk keuntungan di sela-sela minimnya pasokan film impor di bioskop-bioskop Ibukota?
Findo juga terkesan “mendegradasi” dirinya sendiri dengan duduk di kursi sutradara kali ini. Biasanya film-film beliau mempunyai ciri khas tersendiri dan mayoritas bermain di genre horor/komedi yang harus diakui mudah dicerna penonton awam. Kali ini ia murni menggarap sebuah drama yang tidak menawarkan kejutan apapun di dalamnya karena mayoritas audiens sudah mengetahui arah yang ditujunya. Yang tersisa tinggal bagaimana penulis Aviv Elham menutup film ini.
Saya pribadi merasa nama-nama yang mengisi film ini sangat miscasting, terlebih berbagai cameo yang sangat tidak penting. Keith Foo bukanlah Ariel dan setidaknya ia berusaha menginterpretasikan versinya sendiri dengan cukup wajar. Itulah satu-satunya nilai plus dari aktingnya disini selain logat Inggris-Melayunya yang terkadang mengganggu pendengaran. Aming seperti biasa terlihat nyaman tampil sebagai dirinya sendiri dalam peran manajer artis yang banci.
Sedangkan dari aktris-aktrisnya sendiri masih kurang maksimal. Ley terlihat tidak konsisten dalam mengeksplorasi sisi emosionalnya saat menghadapi kesulitan. Lia tidak mendapat banyak kesempatan selain tampil seksi menggoda. Lain lagi dengan Tasya yang dikabarkan sebagai perawan lugu dari Bogor tetapi justru berpenampilan wah selayaknya gadis metropolitan. Sekali lagi saya tekankan kalau karakterisasi mereka sudah diplot sedemikian rupa tanpa perlu banyak adiksi.
Akibat Pergaulan Bebas 2 di paruh pertama durasinya kelihatan berusaha untuk bercerita secara runut mengenai pengenalan tokoh-tokohnya. Namun jatuhnya membosankan dan tidak menarik. Paruh kedua mencoba meningkatkan intensitas seiring dengan mencuatnya konflik tapi malah semakin tergelincir. Penulis terkesan bingung menyajikan ending yang diplot dengan twist. Sayangnya tidak lagi mengejutkan penonton yang bahkan lebih memilih pergi duluan sebelum sampai kesana.
Sekadar catatan, film ini tidak ada kaitan apapun dengan APB versi Nayato yang edar tahun lalu itu. Murni berdiri sendiri dan hanya menambah angka 2 di belakangnya plus subtitle tambahan “Skandal Video Porno” untuk memberikan penegasan. Dari sisi sinematografi dan editing, APB 2 ini kualitasnya di bawah FTV sekalipun. Dan jika anda masih (setidaknya) mengharapkan sex scene sebagai suguhan utamanya maka bersiaplah untuk kecewa juga dengan film yang super minus ini.

Durasi:
80 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 21 April 2011

SUSTER KERAMAS 2 : Terjebak Di Rumah Sakit Penuh Misteri

Quotes:
(Menyelimuti mayat) Gak usah rapi-rapi amat lah.. Gak dinilai ini..

Storyline:
Tiga sohib masing-masing Jack, Tando dan Shelly memiliki hobi yang sama yaitu balap motor di jalan raya. Hingga pada suatu malam, Shelly mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Jack dan Tando pun membawanya ke rumah sakit terdekat. Di lain kesempatan, Cakil yang mengantar seorang gadis Jepang mengalami cedera parah karena jari-jarinya terjepit pintu mobil. Kedua grup tersebut bertemu di rumah sakit saat menunggu dokter bertugas. Sayangnya tidak lama kemudian, berbagai kejadian supernatural menghantui mereka yang berujung pada satu konklusi yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan screening terbatas diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 19 April 2011.

Cast:
Ricky Harun sebagai Jack
Zidni Adam sebagai Tando
Marcell Darwin sebagai Cakil
Violenzia Jeanette sebagai Shelly
Sola Aoi
Eva Asmarani
Tasya Djerly Emor

Director:
Film pertama Findo Purwono HW di tahun 2011 ini setelah sebelumnya Love In Perth di penghujung 2010 lalu.

Comment:
Saat pertama menyaksikan trailernya, saya sungguh merasa miris dengan konten seperti apa yang kira-kira akan disajikan. Sebab aksi semua jenis hantu dan musik hingar-bingar mengisi preview selama kurang lebih satu menit tersebut, samasekali tidak ada kesan menyembunyikan daya tarik yang sesungguhnya. Untuk hal ini jelas memang urusan produser apapun alasannya.
Pertama saya ingatkan bahwa sekuel ini tidak ada hubungannya dengan Suster Keramas (2009) meskipun masih digawangi penulis yang sama yakni Abbe Ac. Plot ceritanya benar-benar baru dan entah disengaja atau tidak, justru terdapat beberapa kemiripan dengan film-film Thai/Hongkong seperti Phobia 2 ataupun The Eye. Tidak perlu saya sebutkan bagian mana karena anda mungkin bisa menebaknya sendiri jika rajin mengamati.
Comebacknya Marcell Darwin ternyata belum memberikan perubahan yang signifikan, bisa jadi karena ia harus “berbagi” Sola Aoi dengan Ricky Harun. Keduanya silih berganti berakting pintar-pintar bodoh termasuk berkali-kali mengarahkan mata ke belahan dada. Tidak heran karena setiap pria pasti akan melakukan hal serupa! Zidni Adam yang satu-satunya pernah mendukung prekuelnya justru kebagian bermain dengan suster-suster dan penjaga kamar mayat. Dan ia tampak cukup “menghayati” terlebih saat berpura-pura sebagai orang buta.
Saya cukup mengagumi keberanian aktris-aktris yang terlibat disini mempertontonkan tubuh mereka masing-masing. Rasanya di rumah sakit manapun tidak ada suster-suster yang demikian seronok dan nekad mencopot seragam mereka di WC kamar mandi. Imajinasi tersebut hanya terdapat disini. Di sisi lain, Sola Aoi tidaklah selugas Maria Ozawa dalam berekspresi lugu dan berdialog spontan. Saya heran adegan topless yang hanya ditutupi rambut panjangnya bisa lolos gunting sensor begitu saja. Hmm..
Usaha Abbe Ac untuk menyajikan sebuah twist ending “kreatif” itu patut diapresiasi. Namun memasuki pertengahan seharusnya tidak terlalu sulit diduga terlebih karena terdapat banyak kelemahan yang tidak dapat ditutupi. Sutradara Findo juga kurang mampu mengeksplorasi suasana rumah sakit yang sunyi dari unsur psikologisnya. Ia malah lebih percaya pada trik-trik lama yang sudah basi dan tidak inovatif.
Suster Keramas 2 merupakan panggung pertemuan manusia dengan segala jenis hantu dalam nuansa komedi dan horor sekaligus. Sebagian berhasil membuat ngeri/tertawa tapi justru lebih banyak gagalnya. Repetisi selama kurang lebih 80 menit yang melelahkan akhirnya ditutup dengan theme song yang menyayat perasaan dengan lirik dan musiknya. Semoga tidak ada episode ketiganya!!!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 28 Desember 2010

LOVE IN PERTH : Jatuh Cinta Lokal Di Negeri Orang

Storyline:
Sesampainya di Perth untuk menuntut ilmu, Lola yang masih berusia 16 tahun malah kerapkali bertemu Dhany, cowok sombong yang selalu berlaku tidak manis padanya. Belum lagi sikap Tiwi, roommatenya yang sok bule dan gemar berganti-ganti pacar itu menerapkan berbagai aturan yang tidak fair. Beruntung masih ada Ari, siswa senior yang menaruh hati pada Lola. Sesungguhnya Dhany juga tertarik pada Lola tetapi takut dicemooh teman-temannya yang rata-rata kalangan elite yang mementingkan kekayaan dan gaya hidup. Siapakah yang pada akhirnya dipilih Lola dan bagaimana ia menyesuaikan diri dengan kota Perth yang kadang terasa tidak bersahabat baginya?

Nice to know:
Diproduksi oleh MD Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Studio eX XXI tanggal 28 Desember 2010.

Cast:
Derby Romero sebagai Dhany
Gita Gutawa sebagai Lola
Petra Sihombing sebagai Ari
Michella Putri sebagai Tiwi

Director:
Film keempatnya di tahun 2010 ini bagi Findo Purwono HW setelah Menculik Miyabi, Lihat Boleh Pegang Jangan dan Hantu Tanah Kusir.

Comment:
7 tahun berlalu sejak kesuksesan fenomenal Eiffel I'm In Love yang melejitkan nama Samuel Rizal dan Shandy Aulia. Beberapa film setelahnya dianggap mengekor termasuk sekuelnya dan spin-offnya Lost In Love. Lalu di tahun 2010 ini munculnya Love In Perth yang lagi-lagi menggunakan format serupa yaitu cinta segitiga antara satu remaja wanita dan dua remaja pria (yang satu baik, yang satu menjengkelkan) dimana bisa anda tebak kalau si cewek akan memilih cowok yang menyebalkan. Kadang ungkapan most girls love bad boys ada benarnya juga.
Yang berbeda adalah setting yang berpindah dari Paris ke Perth yang juga merupakan salah satu kota di Australia yang banyak dituju oleh siswa-siswi Indonesia untuk belajar. Beruntung film ini tidak sekadar menempelkan judul, sebab Perth National High School dan beberapa scene pelabuhan serta tentunya taman-taman indah sebagai latar belakangnya. Tidak sia-sia jika Perth dijuluki Kota Seribu Taman. Alunan suara Gita dan Derby selaku dua bintang utamanya juga cukup dominan meski terkadang lagu-lagunya agak dipaksakan masuk ke setiap adegan.
Bagaimana dengan akting mereka sendiri? Harus diakui debut Gita dan Derby cukup menarik disini. Hanya saja tampang girly dan boyish mereka masih tidak dapat dipungkiri sehingga terkadang risih melihat dua remaja muda ini bermesraan, walaupun masih dalam batas-batas yang bisa diterima. Gita terkadang terlalu polos untuk disebut lugu disini. Karakter Lola di tangannya digambarkan pintar dan moody. Sedangkan Derby sebagai Dhany masih kurang tengil dan bad boy meskipun gaya busananya sudah disesuaikan sedemikian rupa. Dua karakter pendukung yang unik adalah Petra yang kalem dan Michella yang sok bule itu. Sayang keduanya terasa tempelan belaka sehingga kurang masuk ke dalam penokohan inti.
Sutradara Findo lagi-lagi bermain "aman" tapi setidaknya tidak membombardir film ini dengan humor-humor slapstick yang terkadang menjurus mesum seperti yang sudah-sudah. Ia cukup berhasil menyiasati keterbatasan lokasi dan waktu syuting yang pasti membengkak karena dibawa ke luar negeri. Konsep asmara on-off mampu dimaksimalkannya dengan wajar terlepas ada beberapa konflik yang terkesan dibuat-buat untuk memperpanjang cerita.
Saya bertanya-tanya mengapa MD Pictures tidak cukup percaya diri hingga menunda perilisan Love In Perth sampai satu tahun! Menurut saya sebagai tontonan remaja, Love In Perth cukup menarik dan bisa jadi menghibur karena aktor-aktris yang bermain di dalamnya masih fresh dan berbakat. Dugaan saya ada pemangkasan durasi dengan pemotongan beberapa adegan yang dianggap tidak perlu untuk lebih "menjual". Tidak heran jika durasinya tergolong singkat. Sebagai penutup tahun 2010 ini tidak ada salahnya anda menyaksikan yang satu ini tanpa berekspektasi terlalu tinggi.

Durasi:
80 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 26 November 2010

HANTU TANAH KUSIR : Komedi Seksi Dendam dan Hutang Menagih Balas

Storyline:
Sepeninggal suaminya Bang Samiun, Mpok Rohaye mewariskan delman kesayangannya pada Jupri yang masih terhitung adik iparnya. Namun karena harus bersaing dengan para penarik delman lainnya, Jupri menuruti saran sahabatnya Kirno untuk meminta berkah ke kuburan. Jupri pun bernazar dan seketika delmannya ramai dicari para penumpang. Pada suatu ketika, Odong datang ke rumah Mpok Rohaye untuk menitipkan Pauleen, turis Jepang yang sedang bertugas membuat artikel mengenai kendaraan tradisional di Indonesia. Jupri dan Odong pun berebut mendapat perhatian dari Pauleen yang cantik dan seksi itu. Sementara itu Hantu Tanah Kusir yang juga bernama Siti mulai datang menagih janji sekaligus membalaskan dendamnya yang lama tersimpan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan press screeningnya diselenggarakan di fX pada tanggal 24 November 2010 yang lalu.

Cast:
Maria Ozawa sebagai Pauleen
Zaky Zimah sebagai Jupri
Rheina Maryana sebagai Rohaye
Yadi Sembako sebagai Odong
Eva Asmarini sebagai Siti
Benu Buloe sebagai Kirno

Director:
Baru saja menggarap drama komedi Lihat Boleh Pegang Jangan untuk konsumsi Lebaran yang lalu kali ini Findo Purwono HW menggarap salah satu urban legend Jakarta yang cukup termasyur ini.

Comment:
Saya bisa mengerti jika Maria Ozawa masih merasa berhutang pada Maxima Pictures atas "minimnya" porsinya dalam Menculik Miyabi padahal bayarannya full untuk 1 film. Bukan apa-apa tetapi karena dicekal FPI sehingga urung tampil. Namun kali ini sutradara Findo menggunakan strategi jitu yaitu diam-diam mengimpor Ozawa untuk syuting dan mencantumkan nama palsu Pauleen pada poster dan credit titlenya. Nice efforts!
Penulis cerita Abbe AC dirasa cukup pintar melakukan mixing urban legend dengan horor komedi yang kental, tentunya tak lupa beberapa sexy scenes yang sangat menjual sehingga jadilah film yang cukup menghibur ini. Setidaknya itu yang saya rasakan saat menontonnya.
Kolaborasi pertama Zaky dengan Yadi cs sangat jempolan dalam mengocok perut para penonton. Masing-masing dari mereka menampilkan kekhasan yang unik tanpa ada kesan saling bersaing mencuri scene. Zaky terkenal dengan celetukan-celetukannya sedangkan Yadi dengan gaya bicaranya yang diayun-ayun di penghujung kalimat. Ozawa disini tidak sampai "kelewatan" dalam buka berbuka, justru saya merasa ia sangat manis dengan senyum dikulum dan usahanya untuk berbahasa Indonesia sepatah dua patah kata seperti pengucapan "nasi uduk", "sambal" dsb dengan dialek yang lucu. Rheina "Ipeh" tidak terlalu banyak tampil dibandingkan dengan Eva yang dominan dengan kebaya dan kerudung putih sebagai sais hantu berwajah ayu. Hiii...
Mengenai isi filmnya sendiri saya merasa tidak ada yang salah, tidak perlu ada yang dibuat kontroversial. Hantu Tanah Kusir adalah pure komedi yang fresh dengan banyolan-banyolan yang tercipta dari berbagai situasi. Plus horor ringan walau kadang cukup berhasil mendirikan bulu kuduk, sosok Siti sepintas mengingatkan pada mendiang Suzanna yang seringkali menggoda tukang jualan keliling (disini nasi goreng yang dimainkan cameo oleh Mario Maulana), duduk di boncengan (disini sepeda dan delman) ataupun mencopot kepalanya tiba-tiba. Seperti yang sudah saya katakan, unsur horor dan komedi itu dibalut dengan pesona seorang Miyabi yang bisa dibuat teriak juga menyaksikan pocong dan hantu di hadapannya. Bisa jadi karena berbeda dari sosok Sadako yang biasa dikenalnya? Coba tanyakan sendiri padanya!
Sayang beribu sayang, bermacam-macam elemen horor yang ditawarkan disini tidak orisinil. Banyak sekali pengulangan dari horor lokal ataupun mancanegara. Bagi anda para penikmat genre ini pasti dengan mudah bisa menebak referensi apa saja yang saya maksud. Apa lagi endingnya yang jelas-jelas dipaksakan dan sangat-sangat tidak baru. Belum lagi posternya yang sepintas cool artwork tapi ternyata banyak diilhami dari poster luar. Hal ini secara tidak langsung mengurangi nilai film secara keseluruhan yang sebetulnya kualitasnya masih di atas judul-judul serupa keluaran Maxima yang dibintangi Dewi Perssik. Cukup di angka 7 saja!

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 09 September 2010

LIHAT BOLEH PEGANG JANGAN : Persaingan Bisnis Bakso Temuan Cinta

Storyline:
Dua warung baso yang berseberangan letaknya sudah lama bersaing yaitu Goyang Lidah punya Bang Kimbul yang berputera Udjo dan berkaryawan Uci serta Joget Lidah milik Ibu Umi yang berputeri Salma dan berpegawai Neneng. Tiap hari ada saja keributan mereka dalam menarik pelanggan. Udjo sendiri diam-diam menaruh hati pada Salma yang telah bertunangan dengan seorang bule bernama Jay. Lambat laun sabotase demi sabotase mulai terjadi yang berujung pada munculnya pemain baru yaitu Baso Super Delicious dengan tempat yang lebih megah dan mewah. Dikarenakan kedua orangtua mereka jatuh sakit, Udjo dan Salma harus memutar otak untuk menyelamatkan bisnis mereka masing-masing. Bagaimana akhir dari perseteruan ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dengan produser Ody Mulya Hidayat.

Cast:
Dewi Perssik sebagai Salma
Dimas Seto sebagai Udjo
Steve Emmanuel sebagai Jay
Yurike Prastica sebagai Ibu Umi
Harry D Fretes sebagai Bang Kimbul

Director:
Film keduanya setelah Menculik Miyabi yang cukup mencuri perhatian itu bagi Findo Purwono HW di tahun 2010 ini.

Comment:
Sutradara Findo terkenal dengan karya-karya ringannya yang seenteng butiran pop corn di tangan anda. Dan kali ini ia mengemban misi untuk menghibur audiens di musim libur Lebaran 2010. Apa yang diangkatnya? Ternyata persaingan antar para penjual baso! Dan sudah diperlihatkan trailernya yang cukup menyita perhatian setiap pembuka pertunjukkan selama beberapa minggu terakhir di bioskop itu. Dewi Perssik secara mengejutkan dipasangkan dengan Steve Immanuel dan Dimas Seto, padahal biasanya Hardi Fadhillah ataupun Budi Anduk cs! Terbukti strategi yang cukup jitu karena Dimas mampu "bertransformasi" menjadi pemuda sederhana yang terkesan "bloon" dan meleburkan dirinya di setiap scene yang disodorkan padanya. Not bad! Sedangkan Steve lebih mengandalkan ke-Indo-annya dari segi penampilan dan cara berbicaranya. Well.. Jangan lupakan penampilan kocak si Boim Harry De Fretes yang tetap mumpuni walau usianya sudah tidak muda lagi. Good job!
Film yang awalnya saya prediksikan tak jauh beda dengan sampah-sampah terdahulu di luar dugaan cukup memenuhi kriteria standar sebuah hiburan ringan. Konflik yang dibangun dari prolog disajikan per layer dengan lumayan runut hingga mencapai puncaknya di ending dengan penyelesaian tersendiri yang rupanya masih mengandalkan "goyangan" DP. Tidak lupa ada tempelan bumbu cinta segitiga, rivalitas bisnis dengan trik-trik yang dipakai, pengkhianatan dalam skala ringan yang kesemuanya dipadu dengan humor-humor ringan menjurus walau untungnya tidak sampai terlalu norak jatuhnya.
Terlepas dari editing yang tidak terlalu rapi, Lihat Boleh Pegang Jangan bisa jadi kuda hitam dari 4 film nasional yang dirilis bersamaan apalagi jika audiens menginginkan sesuatu yang benar-benar ringan sebagai tontonan bersama keluarga. Tunggu dulu, sudah berapa kali saya menyebutkan kata "ringan"? Coba anda hitung sendiri mulai dari awal!

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 07 Mei 2010

MENCULIK MIYABI : Kesalahpahaman Berujung Kemenangan?

Storyline:
Tiga sahabat cupu yaitu Kevin, Bimo dan Aan di kampus sering menjadi bulan-bulanan Mike, kekasih Jessica yang merupakan teman kecil Kevin. Mike menantang ketiganya untuk datang ke pesta Jessica dengan membawa cewek cantik atau dipermalukan seumur hidup. Namun di luar kampus, ketiganya memiliki idola yang sama dan berdiskusi tentangnya yaitu Miyabi alias Maria Ozawa, bintang porno asal Jepang. Pengumuman di sebuah blog bahwa Miyabi akan datang ke Jakarta membuat Bimo dan Aan nekad datang ke bandara untuk melihat secara langsung dan bahkan menculik seorang gadis yang disangka Miyabi. Kesalahan pun terjadi karena yang diculik adalah Mie Yao Bie, gadis asal Taiwan. Bagaimana kekacauan tersebut dapat terselesaikan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX.

Cast:
Nicky Tirta sebagai si cupu Kevin.
Herfiza Novianti sebagai primadona sekolah Jessica.
Sabrina Pai sebagai Mie Yao Bie.
Kevin Julio sebagai Bimo.
Hardi Fadhillah sebagai Aan.

Director:
Pernah menggarap Setan Budeg yang lumayan sukses itu, Findo Purwono HW kembali mengarahkan bintang-bintang yang kurang lebih sama untuk Menculik Miyabi ini.

Comment:
Sempat dicekal proses syutingnya dikarenakan kehadiran Maria Ozawa di Indonesia yang kontroversial akhirnya produser dan sutradara sepakat melanjutkan syuting di Jepang langsung! Pintar atau ngotot? Yang pasti tidak seperti bayangan sebagian besar orang (yang mungkin terlalu kotor pikirannya atau lebih pantas disebut munafik?), tema ceritanya mengenai persahabatan dan cinta remaja yang lekat dengan kesehariannya. Samasekali tidak ada adegan yang menonjolkan keseksian Ozawa disini. Yang ada Sabrina Pai yang berperan cukup menarik di luar keterbatasan bahasa yang digunakannya. Daya tariknya bolehlah menggantikan Miyabi yang legendaris itu. Nicky dan Herfiza berbagi chemistry yang lumayan pas. Hardi dan Kevin seperti biasa cukup mengocok perut, tidak halnya dengan Mocil yang kebagian sedikit scene disini. Eksekusi film boleh dibilang mulus terlepas dari kurang kokohnya konstruksi cerita yang tertutup oleh beberapa pesan moral yang diselipkan disana-sini. Endingnya selayaknya film remaja Hollywood yaitu the loser finally be the winner dan ada twist tersendiri di penghujung adegan. Saksikanlah jika anda penasaran. Tidak ada rotan, akarpun jadi!

Durasi:
75 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 25 Juli 2009

PAKU KUNTILANAK : Balas Budi Sekaligus Dendam Kuntilanak

Cerita:
Trio pemburu mayat yakni Sukun, Obeng, dan Odjie dengan kepalanya Pak Joko dan sekretarisnya Mona harus berhadapan dengan kasus baru.
Seorang gadis, Kunti dibunuh dan dipaku oleh dukun sebelum dimasukkan koper yang dibuang di kali. Tak sengaja ditemukan Pak Joko, Kunti ingin membalas budi dan bersedia diperistri, tentunya dalam wujud manusia biasa sambil berusaha membalas dendam kepada orang-orang yang menyebabkannya tewas. Bagaimana akhir dari misi tersebut?

Gambar:
Cukup konsisten dengan suasana malam hari. Sosok menyeramkan itu banyak terbantu dengan make-up yang sebetulnya berlebihan.

Act:
Masih didukung dengan tim yang sama seperti dulu terutama Kiwil, Eddi Brokoli, Rizky Mocil, Hardi Fadhillah, Cynthiana Alora dan tentunya Dewi Perssik.
Ditambah dengan aktris senior Nanny Wijaya dan model pendatang baru asal Malaysia, Keith Foo serta aktris bule Heather Storm sebagai Sally.

Sutradara:
Masih berusaha menjual formula yang sama yakni paduan horor dan komedi yang kental, Findo Purwono HW tetap mempertahankan garis besar dan jajaran cast yang ironisnya cukup memantapkan hasil box-office 3 film teranyarnya.

Komentar:
Sekuel dari Setan Budeg yang tayang Januari silam, masih mempertahankan pakem yang sama yaitu dengan kekacauan konyol berusaha menyelesaikan kasus supernatural yang bermotifkan balas dendam. Ceritanya dipadu dengan mitos kuntilanak yang harus dipaku untuk membuatnya tidak ganas. Lucu? Meski tidak baru, bolehlah spontanitas komedi itu mengundang tawa. Seram? Hm, rasanya tidak kecuali tawa kuntilanak yang terdengar sangat riil itu (percayalah, saya pernah mendengar yang asli). Lantas apa yang dijual? Murni sebatas franchise komedi hiburan belaka yang tidak perlu banyak berpikir dalam menontonnya. Oya, ditambah dengan beberapa adegan syur yang cukup mencengangkan!

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 12 Juni 2009

SUSUK POCONG : Rahasia Kecantikan Pemikat Pria

Cerita:
Nyaris putus asa setelah menikah 5 tahun dan semakin jauh dari suaminya Rako, Asti mendapat saran dari temannya untuk memasang susuk yang terkuat yakni susuk pocong! Hampir pada saat bersamaan, kekasih Rako, Donna meninggal terjatuh dari balkon apartemen mereka. Sang dukun menginstruksikan Asti mengambil susuk pada mayat Donna yang dulu pernah menjadi pasiennya juga. Asti menugaskan supirnya Asmo dan penjaga kubur Zul untuk menggali makam Donna. Tak dinyana pocong Donna malah terbang menghilang. Apa yang sesungguhnya terjadi antara Donna dan Rako? Bagaimana nasib Asti selanjutnya?

Gambar:
Didominasi scene apartemen, kantor, kuburan, cafe. Tidak terlalu variatif bukan?

Act:
Tak perlu membahas cast satu persatu karena tidak terlalu penting!
Andi Soraya
Dewi Perssik
Restu Sinaga
Debby Ayu
Angeliq
Andre Taulany
Deswita Maharani
Yadi Sembako
Yana Zein
Melina Zafar

Sutradara:
Kolaborasi Findo Purwono HW dan Saptadjie setelah membesut Setan Budeg awal tahun kemarin dan hebatnya 70% storyline sama! Mungkin akan mengikuti jejak Nayato/Koya Pagayo/Ian Jacobs di masa mendatang.

Komentar:
Secara keseluruhan sebetulnya bukan film buruk hanya saja saya sangat tidak mengapresiasi film yang isinya mirip dari tim produksi yang sama juga dengan grup pemain yang kurang lebih serupa. Dimana kreatifitas? Demi mencari untung belaka, lantas mengabaikan kualitas dan hanya mengikuti trendsetter dengan melakukan tambal sulam cerita sekenanya. Semoga ini yang terakhir dari Findo karena harus diakui biasanya dia cukup kreatif dalam membesut sebuah karya lokal. Sangat disayangkan!

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 17 April 2009

POCONG SETAN JOMPO : Lima Mahasiswa Terjebak Dalam Panti Jompo Misterius

Cerita:
Kedatangan suster misterius Saskia ke kampus ternyata bertujuan merekrut lima mahasiswa-mahasiswi yakni Cecil, Ridho, Stella, Joni dan Emilio untuk mengurus sebuah panti jompo. Penolakan berubah menjadi penerimaan saat mereka menatap langsung mata suster Saskia. Ya seakan daya hipnotis mampu mempengaruhi mereka dengan kuat hingga mematuhi setiap kata-kata suster Saskia. Hari demi hari dilalui di panti jompo hingga Cecil menemukan kejanggalan. Siapa sebenarnya suster Saskia? Dan apa hubungan mereka dengan panti jompo tersebut?

Gambar:
Setting panti jompo yang sunyi dan jauh dari keramaian cukup "menentramkan" konsep film secara keseluruhan.

Act:
Banyak mendukung film horor lainnya, baru kali ini kebagian karakter sentral, Uli Auliani sebagai Cecil
Debut peran utamanya di layar lebar, Jonathan 'Ijonk' Frizzy sebagai Ridho
Bintang seksi Deriell Jaqualine sebagai Stella
Si kocak kribo yang kian laris, Rizky Mocil sebagai Joni
Si gendut kemayu, Herichan sebagai Emilio
Terbungkus kostum ketat suster misterius, Bella Esperance sebagai Saskia

Sutradara:
Findo Purwono HW seakan kejar setoran tahun ini. Setelah merampungkan Setan Budeg yang cukup sukses itu, dia kembali dengan genre horor dengan bumbu komedi yang sedang tren. Berhasil atau tidaknya Pocong Setan Jompo tergantung dari penerimaan masyarakat. Hanya disayangkan judulnya yang sangat tidak kreatif dan terkesan "mencari aman" untuk menjual.

Komentar:
Konten cerita Pocong Setan Jompo sebetulnya tidak biasa dan seharusnya mampu dikonsep dengan lebih matang untuk menyuguhkan sesuatu yang baru. Sayang sekali, film ini kembali terjebak dengan stereotype film horor komedi lokal yang menghiasi layar bioskop beberapa bulan terakhir. Kejutan yang dibangun dari awal sampai terungkap di akhir seharusnya menjadi klimaks tapi sayangnya tidak. Sebagai hiburan, cukuplah, tidak buruk tapi tidak bisa dibilang baik.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!