XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label guntur triyoga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guntur triyoga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2012

ADA HANTU DI VIETNAM : Dubbing Buruk Dan Pengingkaran Kreatifitas


Quotes: 
Ramon: Itu tuyul tuh?
Aziz: Bukan, kecebong anyut!

Nice-to-know: 
Produksi pertama TS Media.

Cast: 
Guntur Triyoga sebagai Jordan
Cinta Dewi sebagai Bianca
Uli Auliani sebagai Nayya
Roger Danuarta sebagai Ruben
Aziz Gagap sebagai Aziz
Reymon Knuliqh sebagai Ramon
Nguyen Ngoc Thuy Diem
Kenny Chiem
Nguyen Thi Tuet Prang
Bui Minh Hoang
Thai Thi Teuclina

Director: 
Merupakan film ke-9 bagi Koya Pagayo di tahun 2012 setelah Dendam Dari Kuburan.

W For Words: 
Jika tahun lalu Nayato Fio Nuala atau Koya Pagayo nekad syuting “colongan” di Hongkong untuk film aksi berjudul Tarung, maka tahun ini ia berani syuting “resmi” di Vietnam. Keduanya sama-sama dibintangi oleh trio bintang langganannya yaitu Guntur Triyoga, Cinta Dewi dan Reymon Knuligh, perbedaannya kali ini adalah genre horor yang sayangnya belum/tidak menggunakan template baru. Judulnya pun sederhana saja, lengkap dengan embel-embel negaranya untuk memperjelas daya jual. Ah mau saja rumah produksi TS Media ini dibohongi untuk film debutannya. Kasihan!

Bianca berencana menjenguk kakak Bianca yang baru saja melahirkan di Vietnam. Ia mengajak Jordan dan Nayya untuk menemaninya  sedangkan Ramon dan Aziz memilih tidak pergi karena takut naik pesawat. Lokasi yang tak kunjung ketemu membuat ketiganya harus mencari penginapan. Ruben yang dijumpai di jalan membantu mereka sekaligus memperkenalkan pada pasangan warga Vietnam yakni John dan Lucy. Rumah milik pasutri konyol akhirnya jadi pilihan. Sayangnya gangguan hantu cantik bernama Jasmine tak dapat dihindari.

Skrip yang ditulis Aurellia Amani Salsabila (saya ragukan orangnya ada) ini memiliki bloopers dan kontinuitas yang berantakan. Satu, hantu perempuan Vietnam yang katanya ikut ke Jakarta nyatanya digantikan dengan yang mirip saja. Dua, hantu ini jelas memiliki kesaktian tingkat tinggi karena bisa muncul di siang dan malam hari sekaligus, bahkan bisa travelling tanpa paspor. Tiga, kehadiran dukun Vietnam pengusir hantu tanpa diundang, tanpa hasil pula. Empat, background story hantu itu meninggal tak ada hubungannya samasekali dengan Bianca dkk atau penghuni rumah Vietnam samasekali. Sementara empat saja, jika ada waktu lagi akan saya tambahkan.

Andaikata Koya mau lebih serius seharusnya penggunaan bahasa asli dari aktor-aktris Vietnam yang terlibat tetap dipertahankan dengan tambahan subtitle Indonesia, bukan DUBBING ala film televisi atau sandiwara radio! Serius bung, anda malas sekali kreatif berupaya? Keotentikan itu padahal bisa jadi identitas unik sekaligus nilai tambah yang tidak dimiliki film lain. Permasalahannya bukan di dubbing aktor-aktris asing saja tetapi juga cast lokal kita sendiri terutama adegan di jalan-jalan Vietnam. Perhatikan gerak bibir yang tidak sinkron atau voice over tanpa memperlihatkan wajah pemain. Duh!

Duet Aziz Gagap dan Reymon Knuligh di pembuka dan penutup sangat tidak penting. Lelucon mereka basi dan tidak mampu mengangkat film lagi. Saya penasaran apakah Reymon menerima kontrak mati dari Nayato? Masih tak ada perubahan akting yang berarti dari Guntur dan Cinta. Lupakan Uli Auliani yang tampil dengan model dan warna rambut baru atau kembalinya Roger Danuarta di kancah perfilman layar lebar, aktor-aktris asli Vietnam setidaknya masih lebih sedap dipandang walaupun tidak diberikan porsi memadai untuk berbuat lebih baik dalam perannya masing-masing.

Ada Hantu Di Vietnam terbukti berkualitas buruk setengah hidup. Syuting kebutan tanpa formula anyar ini nyatanya cuma menghamburkan biaya produksi yang dikeluarkan untuk perjalanan Vietnam-Jakarta. Setting rumah berhantu tidak memberikan nuansa horor yang relatif baru. Sama halnya dengan shot jalanan atau kota Ho Chi Minh dalam aksara Vietnam yang juga tidak istimewa. Semuanya tempelan belaka! Layaknya “predikat” yang sudah menempel pada Nayato/Koya whatever his name is, ia tak lagi ambil peduli. Show me the money. So, the show must go on!

Durasi: 

79 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 29 Desember 2011

POCONG KESETANAN : Makam Keramat Berurusan Vampir Cina

Quotes:
Asep: Asep gak takut sama pocong tapi sama bencong!


Storyline:
Bujang, Mentil dan James pergi ke kota untuk menjemput Santo yang sudah minggat setahun lantaran menolak jadi pendekar. Santo beralasan karena malu terkena kutukan yang membuatnya menjadi banci bernama Santi di malam hari. Suatu hari, Santo memutuskan untuk merampok makam keramat Cina yang menyimpan banyak harta karun bersama Bujang dan James. Sejak saat itulah mereka diteror oleh vampir Cina, pocong Ajun dan kuntilanak di rumah kontrakan yang juga berisikan Chika dan Wendy. Berhasilkah mereka lepas dari teror supernatural tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Parco Film dan sedianya diberi judul Kungfutilanak.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Santo/Santi
Raffi Ahmad sebagai Asep
Guntur Triyoga sebagai James
Ajun Perwira sebagai Pocong
Reymon Knuliqh sebagai Bujang Jawara Pantun
Rina Diana sebagai Mentil
Diah Cempaka Sari sebagai Chika
Febriyanie Ferdzilla sebagai Dewi
Rozi Mahally sebagai Reymon

Director:
Merupakan film penutup Nayato Fio Nuala di tahun 2011 yang menggunakan nama Pinkan Utari.

Comment:
Serasa belum cukup bermain dengan kuntilanak dan pocong dalam film-filmnya yang dominan selama 3 tahun terakhir, Nayato membawa serta ikon baru yaitu vampir Cina yang hobi melompat-lompat dalam balutan busana khas tradisional sana. Sebagai informasi, vampir semacam ini sempat populer di era 90an lewat serial televisi ataupun film layar lebar Mandarin yang juga berhasil mengangkat nama Lam Cheng Ying sebagai guru penakluknya.
Penulis Ery Sofid dan Ian Jampanay secara serampangan mencampur-adukkan berbagai plot cerita yang tidak simetris itu. Pertama, ada Asep yang ditugaskan membawa pulang Santo yang konon terkena kutukan siang dan malam (what is this?).Namun ternyata setelah paruh pertama film, si Asep menghilang entah kemana. Kedua, merampok makam Cina itu tujuannya apa? Mengambil uang orang mati yang tidak laku di dunia manusia? Lantas mau menukarnya di money changer? Come on, u can’t be more silly!
Kehadiran pocong Ajun juga tidak berkorelasi apapun dengan bangunan cerita. Sekadar memperingatkan Santo dkk untuk tidak berbuat jahat? Atau numpang eksis dengan menjadi polisi alam manusia dan setan? Jika memang Ajun Perwira hanya dimaksudkan untuk menjadi cameo, kenapa kemunculannya cukup dominan hingga dibully habis-habisan? Apalagi sampai mengubah design poster hingga mirip dengan PJP The Movie yang baru saja tayang sebulan yang lalu itu. Gosh!

Seberapa kerasnya usaha Azis dan Reymon untuk memancing tawa dengan kegagapan kemayu dan kejayusan berpantun di sepanjang durasinya itu, saya cuma bermuka datar bahkan tersenyum pun tidak. Suer! Justru saya mempertanyakan suara tawa penonton di deretan bangku belakang yang menggelegar. Ingin rasanya menyambangi mereka dan besar kemungkinan akan menemukan Bapak Nayato sedang menggelitik pinggang mereka satu persatu?!
Belum setengah jam film berjalan, beberapa penonton yang “bijak” sudah memilih untuk meninggalkan bioskop. Nyaris saya memberikan standing applause untuk mereka karena berani mengambil langkah tersebut. Kenyataannya saya cuma bisa mempertahankan flat face MODE ON selama kurang lebih satu jam seperempat sekaligus menahan kedua kaki untuk tidak beranjak menuruti perintah otak yang tidak mau beresiko mengalami distorsi akut.
Pocong Kesetanan benar-benar menyiksa pikiran dan batin, bukan karena ketakutan dan kelucuan tetapi kebodohan merangkai cerita yang tidak masuk akal. Adegan pertempuran antar geng yang lebih mengandalkan permainan kamera dan tali-menali tersebut hanya sekadar basa-basi. Ketololan para karakternya yang hanya bisa berjayus ria dan mengupil tersebut amat tidak termaafkan. Berdoalah agar bangsa alien tidak menyaksikan film ini, karena jika iya bisa jadi mereka sepakat menjajah bangsa manusia yang dianggap memiliki intelejensi sejenis. Wasallam!

Durasi:
76 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 24 November 2011

POCONGGG JUGA POCONG : Cinta Galaunya Pocong Moved On

Romantic teenage love potion, funny "pocong unyu" formula. Fresh mixed ideas that eliminate 2 different worlds' concept!

Quotes:
Poconggg: Hidup itu selalu ada yang pertama. Pertama mulai bisa bicara, pertama mulai bisa berjalan, pertama masuk sekolah, pertama jatuh cinta..


Storyline:
Remaja SMU bernama Dimas memang sudah lama menyimpan rasa bagi Sheila. Sayangnya kencan mereka berakhir dengan tragis. Dimas terbangun dalam wujud pocong. Ya ia telah meninggal dan kini hidup berseberangan alam dengan gadis pujaannya itu. Biar bagaimanapun, Dimas wajib mengikuti kodratnya dan mendapat bimbingan Kunti yang bersimpati ataupun cobaan Anjaw dan kawan-kawan yang sirik padanya. Di sisi lain, Sheila mulai didekati seniornya Adit yang hobi fotografi. Akankah pada akhirnya Dimas alias Poconggg mampu merelakan Sheila bahagia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dimana media screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 23 November 2011.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Dimas / Poconggg
Nycta Gina sebagai Kunti
Saphira Indah sebagai Sheila
Rizky Mocil sebagai Anjaw
Guntur Triyoga sebagai Adit

Director:
Merupakan film keempat bagi Chiska Doppert sekaligus yang ketiga di tahun 2011 ini setelah Pocong Minta Kawin.

Comment:
Novel remaja Poconggg juga Pocong termasuk fenomenal karena sudah dicetak ratusan ribu. Kok tau? Soalnya saya baca juga! Meski masih banyak terpengaruh oleh gaya komedik Raditya Dika, Arief Muhammad berhasil menggunakan sudut pandang barunya sendiri, yang belum terpikirkan sebelumnya. Itulah sebabnya subjudul “Bukan Setan Biasa, Setannn!!!” digunakan dan memang amat menggambarkan kontennya yang unik itu.
Tak heran jika Maxima Pictures bekerjasama dengan Universitas Trisakti melihat peluang itu dan mengutus Arief bersama Haqi Achmad mengerjakan skrip filmnya. Hasilnya? Sebagai pembaca novelnya, saya puas. Chapter-chapter dalam novel yang tidak runut itu berhasil dirangkai menjadi sebuah kisah linier yang sarat pengalaman hidup. Mulai dari masa SMU Dimas yang penuh cinta dan keriaan berganti menjadi periode paska kematian Pocong yang galau dan krisis identitas. Semua berjalan saling mengisi dimana penempatan momen-momen penting dalam novel juga tergolong tepat mengintrusi cerita.

Sayangnya sutradara Chiska masih memiliki sedikit masalah dalam hal editing yang membuat pergerakan scene dari satu babak ke babak berikutnya terkesan kurang mulus. Beruntung sinematografi yang disuguhkan masih tergolong memikat walaupun keterbatasan setting lokasi, yang disinyalir demi menekan biaya produksi, tidak dapat dipungkiri. Poin plus lain adalah Joseph S Djafar yang menghadirkan ilustrasi musik yang apik terlebih dengan kehadiran J-Rocks mengisi soundtracknya dengan tembang Ya Aku yang ear-catchy itu.
Penunjukkan Ajun Perwira sebagai aktor utama Dimas memang agak beresiko. Kemampuan aktingnya untuk format layar lebar samasekali belum terasah. Dominannya penggunaan narasi “pikiran” dibandingkan berdialog langsung dengan lawan mainnya sedikit banyak menutupi kekurangan tersebut. Tentunya selain faktor wajah tampan kiyutnya yang tampaknya sangat ampuh menyihir gadis-gadis ABG untuk histeris menyaksikannya. He looks fresh on the big screen, dibandingkan harus menggunakan aktor yang itu-itu saja.

Tampang Saphira mengingatkan saya akan Joanna Alexandra! Peran gadis seumuran Sheila dilakoninya dengan wajar dimana kebahagiaan dan kesedihan silih berganti mengisi hari-harinya. Nycta yang kondang dengan karakter Jeng Kellin ini sukses menerjemahkan figur Kunti cerewet yang tutur kata dan ekspresinya mudah sekali memancing tawa penonton. Guntur kebagian tokoh Adit yang cool, spontan dan sangat mencintai fotografi memang tidak terlalu banyak porsinya tetapi cukup krusial. Meskipun kehadiran Rizky Mocil membosankan toh kesediaannya melawak dengan suara sengau dalam balutan kain kafan patut diapresiasi.
Poconggg Juga Pocong adalah satu-satunya komedi romantis ala remaja lokal yang formulanya "bener" di sepanjang 2011 ini. Kita akan melihat proses jatuh cinta ABG, utarakan isi hati (tolak/terima), bergalau ria sampai ke proses moved-on yang teramat berat itu. Rasa senang dan haru akan mewarnai film yang saya belum tahu apakah akan sukses di pasaran atau tidak (prediksi minimal lima ratus ribu penonton) tetapi rasanya jargon-jargon yang digunakan akan semakin populer seperti cinta yang diibaratkan kentut ataupun naik angkot. Tidak ada alasan takut jatuh untuk sesuatu yang memang layak diperjuangkan. Maka dari itu, melompatlah terus, cong!

Durasi:
78 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 15 September 2011

TARUNG : Aroma Balas Dendam Berdarah Persaudaraan

Quotes:
Galang: Gue janji. Gue pasti balik buat loe!


Storyline:
Empat pemuda dengan kehidupan keras masing-masing Reno, Galang, Choky dan Daud berawal dari panti asuhan yang sama milik Ibu Lastri. Bertahun-tahun kemudian, mereka berkesempatan untuk berkumpul kembali, memulai lembaran hidup yang baru. Reno yang baru keluar penjara, Galang yang jatuh hati pada pelacur bernama Astrid, Choky yang terlibat hutang dan Daud yang baru memulai usaha bengkelnya harus kembali menghadapi musuh-musuh mereka dimana nyawa dan persahabatan menjadi taruhan utamanya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Jelita Film dimana gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 13 September 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Galang
Volland Humonggio sebagai Reno
Khrisna Patra sebagai Coky
Daud Radex sebagai Daud
Cinta Dewi sebagai Astrid
Raymond Knuliq

Director:
Merupakan film ke-7 di tahun 2011 bagi pria kelahiran 20 Februari 1968 bernama Nayato yang hobi menggunakan berbagai identitas ini.

Comment:
Film laga merupakan salah satu tambang emas perfilman Indonesia periode 80-90an yang sebut saja menonjolkan nama George Rudy, Barry Prima dll. Namun entah kenapa pamor genre yang satu ini merosot tajam memasuki tahun 2000an. Bukan tidak ada samasekali tetapi yang beredar bisa dihitung dengan jari, apalagi yang mampu mempertanggungjawabkan kualitasnya? Bagaimana dengan garapan sutradara terproduktif minus Indonesia kali ini yang nekad bermain di luar zona nyamannya?
Nayato Fio Nuala, sebuah nama yang tidak asing bagi pengikut film Indonesia. Seseorang yang misterius dan sangat sulit ditemui wartawan media manapun sejak kasus kontroversial FFI 2007 ini di luar dugaan muncul saat gala premiere film terbarunya ini. Makna dari kepercayaan diri tinggi akan kualitas akhirnya yang diharapkan bisa berbicara banyak? Bisa jadi! Namun yang jelas butuh lebih dari sekadar sinematografi temaram dan koreografi laga yang cepat dari berbagai angle dinamis. (baca: bukan pujian)
Saya sedikit heran dengan skrip yang dikerjakan oleh Erry Sofid dan ian Jampanay ini. Opening film seakan memfokuskan diri pada karakter Reno yang keluar dari penjara dan berusaha hidup normal di luar faktor rival-rival yang masih mengintainya. Namun pertengahan film seakan bagian tersebut hilang begitu saja dan pusat perhatian berganti kepada Galang dan Coky yang terlibat hutang atas dasar ketidakmanusiaan yang curang dan biadab. Bagaimana tidak? Uang kotor, dipinjam secara paksa, diberikan sebagai amal pula? WTF? Robin Hood yang menganut prinsip serupa pun rasanya akan bunuh diri dengan busur panahnya sendiri!
Volland adalah seorang aktor laga, setidaknya sudah dibuktikan lewat film-film sebelumnya. Tidak heran jika seharusnya dipercaya memegang porsi besar untuk setidaknya menjadi ujung tombak film. Nyatanya Nayato masih lebih percaya pada aktor kesayangannya, Guntur yang diberikan otoritas tinggi untuk bertindak sebagai pahlawan kesiangan bagi saudara-saudara angkatnya maupun kekasih pelacurnya. Brilian! Saya kasihan pada aktor-aktris yang terlibat disini karena proses syutingnya mungkin 180 derajat lebih membingungkan dibandingkan proses readingnya. Mudah-mudahan ada yang berani bertestimoni suatu saat nanti daripada harus bangga dengan peran-peran keluar masuk semacam ini.
Dengan embel-embel judul City of Darkness, Nayato seakan merasa berhak menampilkan suasana kota yang didominasi kegelapan. Gang-gang sempit, pemukiman kumuh, transportasi kereta malam hingga diskotik yang hingar bingar dengan segala transaksi miras, narkoba hingga seks. Campur aduk plot tanpa sekat yang jelas! Penonton yang awalnya mencoba peduli pada kiprah keempat pemuda jebolan Panti Asuhan Bunda Mulia itu pun rasanya berbalik mencibir.
Tarung terbukti merupakan proyek kebingungan seorang Nayato, apakah ia sedang syuting drama spesialisasinya atau action coba-cobanya. Sisi emosionalnya gagal ditampilkan, sisi serunya juga tidak berhasil disuguhkan. Mungkin di lain kesempatan, Nayato masih harus berpikir kembali untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik daripada sekadar menyediakan bertumpuk-tumpuk stok kaca mobil untuk dipecahkan akibat baku hantam para tokohnya!

Durasi:
80 menit

Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 13 April 2011

KUNTILANAK KESURUPAN : Penulisan Biografi Artis Mengundang Hantu

Quotes:
Maya-Kunti lapar gak, Maya masak nih, ada pepes anjing..

Storyline:
Momon menawarkan Wesley untuk menulis biografi artis tenar bernama Indra Devian dengan bayaran tinggi. Tanpa ragu karena novel buatannya juga sedang stuck, Wesley menerima tawaran itu. Sayangnya sejak saat itu, Wesley dan teman-temannya masing-masing Kevin, Dylla, Gizka tak terkecuali pembantunya Maya mendapat gangguan bertubi-tubi dari kuntilanak dan pocong. Bahkan adik kesayangannya, Alice mendadak menghilang. Apa sesungguhnya yang diinginkan kuntilanak tersebut? Adakah hubungannya dengan Indra Devian sebenarnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 12 April 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Wesley
Fero Walandouw sebagai Kevin
Irish Bella sebagai Alice
Reymond Knuliq sebagai Momon
Aziz Gagap sebagai Maya
Julia Perez

Director:
Film keempat Nayato di tahun 2011 ini setelah terakhir Virgin 3 kurang dari sebulan yang lalu.

Comment:
Another title, same storyboard. Jika anda melihat trailernya, saya katakan itu sudah jauh lebih penting daripada isi filmnya sendiri. Percayalah akan review saya berikut ini. Namun jika anda tetap penasaran tidak ada salahnya menyaksikan sendiri. Toh kita semua datang ke bioskop untuk mendapatkan hiburan terlepas dari perasaan puas/tidak yang muncul setelahnya.
Sutradara Nayato masih juga menggunakan template-template favoritnya yaitu kamar, rumah, kampus, hutan yang sama persis dengan karya-karya sebelumnya. Yang berbeda hanyalah sound effect rusak yang sengaja dibelinya untuk memekakkan seisi gedung bioskop. Mudah-mudahan anda tidak perlu ke Dokter THT sehabis menyaksikannya karena tentunya akan menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan tiket bioskop yang tidak seberapa.
Masih ingat dengan cast Pocong Ngesot? Tiga diantaranya kembali lagi disini dengan peran yang sangat serupa yakni Aziz Gagap, Fero Walandouw, Reymond Knuliq tetapi dengan nama yang berlainan. Ditambah dengan dua bintang baru kesayangan Nayato yaitu Irish (Heart 2 Heart) dan Guntur (Gaby dan Lagunya). Kesemuanya seakan-akan diinstruksikan untuk berakting senorak dan selebay mungkin, tanpa peduli perasaan penonton yang sudah sangat terganggu.
Jika anda menganggap hanya kuntilanak yang menjadi momok disini, salah besar! Ia bertandem dengan pocong bahkan saling membagi tugas untuk menakut-nakuti orang-orang tertentu. Sungguh kerjasama yang baik walaupun pada akhirnya kemenangan mutlak tetap di tangan manusia. Betapa tidak, si kunti dan si pocong menjadi “bulan-bulanan” mulai dari disembur, ditendang, dikentutin, ditampol, kejeduk pintu dsb. Satu-satunya yang cukup manusiawi hanya pada saat si kunti digendong oleh Aziz Gagap ke dapur. Lucukah semua itu? Saya cuma bisa berkata, “Memprihatinkan!”
Kekurangan lain yang juga kentara adalah editingnya yang teramat kasar. Saya tidak menangkap manfaat pembagian scene per scene yang ujung-ujung selalu dipotong begitu saja, selayaknya stripping video klip gagal tapi tetap dipaksakan tayang demi menghabiskan durasi. Itulah minus terbesar yang saya tangkap ketika menonton Kuntilanak Kesurupan. Tak hanya mempertanyakan logika cerita tetapi juga penggunaan judul yang demikian. Dan jangan buru-buru meninggalkan bioskop setelah credit title bergulir untuk mendapatkan jawabannya (jika dirasa perlu)!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Senin, 01 November 2010

GABY DAN LAGUNYA : Misi Kembali Ke Pelukan Mantan Pacar

Quotes:
Gaby-Aku punya firasat kalau suatu saat kamu akan pergi jauh..

Storyline:
Kelima muda-mudi masing-masing Popo, Gita, Agnes, Nando dan Angel mempunyai mimpi untuk sukses masuk dalam industri rekaman. Sayangnya produser yang mendengarkan demo mereka tidak berpikir band ini memiliki masa depan yang baik. Gita yang kecewa berbuntut pada hubungannya dengan kekasih barunya walaupun masih menyimpan perasaan pada Popo. Sedangkan Popo sendiri sebagai ketua band bertanggungjawab atas nasib mereka. Muncul secercah harapan saat Popo berjumpa Gaby yang lembut dan bersuara emas. Penampilan perdana Gaby bersama band Popo di kampus mendapat aplaus meriah. Seiring frekuensi pertemuan yang tinggi juga semakin mendekatnya keduanya walaupun Gita dari kejauhan memandang cemburu. Akankah mimpi-mimpi masa muda menjadi kenyataan seiring dengan jalinan asmara di dalamnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 1 November 2010 yang lalu.

Cast:
Karina Nadila sebagai Gaby
Guntur Triyoga sebagai Popo
Leylarey Lesesne sebagau Gita
Rendy Kjaernett sebagai Nando

Director:
Nayato baru saja meluncurkan dua film bergenre berbeda di akhir bulan September yang lalu yaitu Pengantin Pantai Biru dan Pocong Jumat Kliwon.

Comment:
Jujur saja saya sudah sangat mengenal gaya penyutradaraan seorang Nayato terlepas dari bentuk naskah apapun yang disodorkan kepadanya. Menurut saya kali ini ia mencoba sedikit lebih serius dalam menggarap genre drama remaja yang diangkat dari novel karya Agnes Davonar. Sinematografi yang diusungnya kali ini bernuansakan warna hijau yang meneduhkan mata dengan mengandalkan para pemainnya yang juga eye-candy terlepas dari aktingnya yang standar-standar saja.
Plot ceritanya tak jauh-jauh dari kehidupan remaja pada umumnya yang kali ini difokuskan pada sebuah band yang beranggotakan tiga remaja cewek dan dua remaja cowok plus satu calon anggota baru. Percintaan segitiga lagi-lagi menjadi tema utama yang tidak ada habis-habisnya digali. Dan berbagai dialog yang disuguhkan terdengar cheesy antar dua sejoli yang sedang kasmaran sehingga kerapkali membuat penonton riuh rendah menyambutnya.
Viva Westi dan Ery Sofid sepertinya sudah berupaya keras mengeksplorasi setiap karakternya tetapi nampaknya Nayato memiliki cara sendiri untuk membagi porsi masing-masing sesuai kapasitasnya. Cukup disayangkan memang mengingat keseluruhan tokoh bisa jadi memberikan kontribusi terhadap kekuatan pondasi cerita yang menyokongnya.
Secara keseluruhan kualitas Gaby dan Lagunya tidaklah seburuk yang saya pikir sebelumnya. Terbukti saya masih bisa menikmatinya terlepas dari berlarut-larutnya problema cinta yang dihadirkan. Belum lagi kekliseannya yang membuat film ini tidak memiliki sesuatu yang baru untuk dijual. Akhir tragis mungkin memang menjadi trademark Nayato untuk kategori dramanya dan lagu Jauh Kau Pergi rasanya cukup berhasil menghadirkan suasana sendu sebelum layar ditutup. Smooth movie with fair quality but still weak in many aspects!

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa