XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 12 Juni 2010

THE KARATE KID : Berkungfu Demi Beradaptasi Di Lingkungan Baru

Storyline:
Kehidupan sebagai bocah Detroit berusia 12 tahun seketika direnggut dari Dre Parker saat ibunya, Sherry dimutasi dari kantornya ke China. Disana Dre kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya, mulai dari pertemuan tak terduganya dengan Mei Ying yang menyita perhatiannya dan juga Cheng beserta gank karatenya yang kemudian menjadi momok baginya. Di saat kesulitan mencari perguruan kungfu yang tepat baginya, Dre berkenalan dengan tukang serba bisa bernama Mr. Han yang pada akhirnya mengajarinya dasar-dasar kungfu. Saat Turnamen Karate Terbuka dimulai beberapa minggu, Dre harus mempersiapkan dirinya menghadapi seteru-seteru sekaligus rasa takutnya.

Nice-to-know:
Oleh Columbia Pictures didistribusikan dengan judul The Kungfu Kid untuk peredaran internasionalnya.

Act:
Debut layar lebarnya dalam The Pursuit Of Happyness (2006) dipuji banyak orang sehingga Jaden Smith mendapat kepercayaan dalam proyek remake ini sebagai Dre Parker, bocah kulit hitam yang harus beradaptasi dengan dunia Timur.
Karir mega-bintang Hongkong, Jackie Chan diawali Big and Little Wong Tin Bar (1962) dan kali ini bermain sebagai Mr. Han, seorang mekanik dan juga jago kungfu yang menyimpan duka masa lalu.
Taraji P. Henson sebagai Sherry Parker
Wang Zhenwei sebagai Cheng
Han Wenwen sebagai Mei Ying

Director:
Pria asal Belanda bernama Harald Zwart ini menggarap film ke-12 nya setelah karir penyutradaraannya diawali via Gabriel's Surprise (1990).

Comment:
Meskipun bukan film favorit saya di tahun 1980an tetapi cukup membekas dalam ingatan saat Ralph Macchio bersinergi dengan Pat Morita dengan naturalnya. Kali ini Jaden dan Jackie mengulangi pencapaian yang sama kalau tidak mau disebut sedikit lebih baik. Putra Will Smith ini merupakan salah satu calon superstar Hollywood dan penjiwaannya sebagai Dre cukup menjanjikan, tertindas di awal dan berusaha belajar giat untuk mengatasinya. Jackie yang biasa tampil kocak kali ini terlihat tenang sekaligus rapuh sebagai pria paruh baya. Beberapa supporting cast juga tidak kalah mengecewakan terutama Wang yang menampilkan mimik keji dan menyebalkan seorang Cheng. Plotnya setia dengan versi originalnya selain memindahkan setting US ke China dengan setting disesuaikan abad 21 ditambah sedikit sentuhan Cina kuno seperti pengenalan Forbidden City dan Great Wall. Sutradara Zwart melakukan yang terbaik demi menyajikan remake yang baik, tentunya dengan mengurangi elemen-elemen yang dianggap kurang di film aslinya. Jika anda mengharapkan film bertempo cepat dan banyak adegan pertarungan sepanjang durasinya mungkin akan kecewa. Sebaliknya The Karate Kid menyajikan problem kultural, penindasan anak jaman modern, romansa ABG yang wajar, kejar-kejaran di gang sempit, proses latihan kedisiplinan yang unik, turnamen kungfu ke dalam sebuah drama yang juga menyisipkan pesan moral bahwa kegagalan masa lalu dapat disikapi dengan mau bangkit atau tidaknya seseorang dalam hidupnya sendiri.

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$50,000,000 in opening week mid June 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 11 Juni 2010

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK : Mencari "Hubungan" Yang Hilang Di Negeri Orang

Tagline:
Pejuang atau pecundang,
Pahlawan atau terbuang,
Persiangan atau persaudaraan..

Cerita:
Ditugaskan mencari adik kandungnya, Sekar yang berangkat lebih dahulu, Mayang berangkat ke Hongkong dengan restu kedua orangtuanya, Sukardi dan Lastri yang terkesan lebih menyayangi adiknya itu. Sebagai TKW, Mayang bekerja pada suami istri dan satu putra bernama Sai Jun yang gemar berkelahi. Lambat laun Mayang mulai mengenal kehidupan di negara asing tersebut terlebih setelah bergaul dengan sesama TKW termasuk Gandi yang dianggap "bapak" oleh para TKW. Belum lagi pertemuannya dengan Vincent, pemasok yang menaruh hati padanya. Lewat serangkaian peristiwa, Mayang berkesempatan bertemu dengan Sekar yang menghilang begitu saja. Akankah konflik kakak-beradik tersebut dapat terselesaikan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Pic[k]lock Production dan press conferencenya diadakan di PPHUI beberapa waktu lalu.

Cast:
Cukup lama absen bermain film dan pernah mengesankan dalam Ca Bau Kan (2002), Lola Amaria kembali lagi dengan peran utama sebagai Mayang, TKW yang baru 3 bulan menyesuaikan statusnya di Hongkong.
Pernah memenangkan beberapa penghargaan melalui Mereka Bilang Saya Monyet (2008), Titi Sjuman disini kebagian karakter Sekar yang cerdas dan keras hati.
Donny Alamsyah sebagai Vincent.
Donny Damara sebagai Gandi.
Imelda Soraya.
Permatasari Harahap.

Director:
Lola Amaria bekerjasama dengan penulis skenario handal, Titien Wattimena.

Comment:
Beruntung drama ini tidak terjebak pada pembahasan masalah yang itu-itu saja seperti yang sudah-sudah-sudah. Prolog dibuka dengan lambat dan tidak terlalu menarik. Pengenalan karakter Mayang dari berbagai sudut pandang mungkin dimaksudkan agar penonton benar-benar masuk pada sentralisasinya. Selain itu beberapa karakter TKW juga dihadirkan mulai dari yang lesbian, memiliki pacar matrealistis, senang belanja, berhutang dsb. Tak lupa penggunaan judul dijelaskan juga bahwa setiap hari Minggu pagi semua komunitas TKW berkumpul di Victoria Park yang tersohor itu. Setelah 30 menit berlalu, barulah konflik-konflik mulai dihadirkan dan intensitas cerita semakin diperdalam. Terus terang ini menjadi mengasyikkan apalagi didukung dengan permainan watak Lola dan Titi yang gemilang. Lola berhasil berbagi layar dengan siapapun ia bersinergi. Kontrol emosi Titi lewat karakter Sekar yang sebetulnya bukan tokoh utama terasa sangat meningkat dari awal sampai memuncak di akhir. Sayangnya tokoh Gandi yang dibawakan Damara terasa terlalu flamboyan dan tanggung, tidak mencerminkan kebapakan yang sudah banyak makan asam garam. Sebaliknya Alamsyah cukup bertaji sebagai WNI keturunan yang berpencaharian disana. Kesemuanya dibalut dengan sinematografi Hongkong yang indah dan wajar serta penggunaan bahasa Jawa yang konsisten sepanjang film. Klimaks Minggu Pagi Di Victoria Park dapat dikatakan kaya makna dengan bahasa gambar, bahasa tubuh yang solid. Jelas merupakan salah satu film terbaik nasional tahun ini meskipun mengalami penundaan jadwal tayang hingga beberapa kali!

Durasi:
100 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 10 Juni 2010

MELODI : Perjuangkan Impian Menang Lomba Nyanyi

Cerita:
Kakak beradik, Ruli dan Mili hidup sederhana di kawasan pinggir kota bersama ayahnya yang menjadi tukang ojek. Demi membantu ayahnya memiliki motor sendiri, Ruli bekerja sebagai pelayan dan juga menekuni hobi bernyanyinya bersama sebuah trio kocak. Pada suatu kesempatan, Ruli bertemu Chika, putri Ibu Wati yang juga senang olah vokal. Kedekatan keduanya mulai terjalin dan Chika mendorong Ruli untuk mengikuti kompetisi nyanyi daerah. Berhasilkah Ruli akhirnya merintis impiannya dan juga menyokong perekonomian keluarga?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh kolaborasi dari Imajika Films, Gerilya Films & Dagoe Film Workshop dan gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI tanggal 8 Juni yang lalu.

Cast:
Emir Mahira
Nadya Amanda
Yasamin Jasem
Tengku Wikana
Djenar Maesa Ayu
Vety Vera
Daus Separo
Mario Maulana
Nadya Vella
Andre Hehanusa

Director:
Harry Dagoe Suharyadi terakhir kali cukup sukses dengan Cinta Setaman (2008) yang banyak dipuji berbagai kalangan itu.

Comment:
Ekspektasi yang cukup tinggi bisa jadi awalnya dialamatkan pada film musikal ini terlebih nama besar sang sutradara. Namun yang terjadi sungguh mengecewakan. Harry Dagoe terbilang gagal menggarap Melodi. Saya tidak tahu pasti tetapi yang terlihat tiga hal mendasar yang patut dipersalahkan yaitu dana yang minim, casting yang kurang tepat dan penulisan skenario yang sangat miskin. Dalam hal bernyanyi, Emir Mahira sebagai Ruli memang bersuara lumayan, sayang sekali tidak didukung karakterisasi yang baik. Sama halnya dengan beberapa pemain cilik utama lainnya. Djenar dan Wikana sebagai aktris-aktor senior seharusnya diberikan porsi lebih untuk mengangkat nilai secara keseluruhan. Dari segi harmonisasi, pemilihan nada dan lirik juga kurang maksimal, seharusnya lebih ear-catchy dengan tekstual yang ringan tetapi menyentil sesuai calon penonton yang ingin dituju. Sepanjang durasi film nyaris bergulir tanpa riak dan tempo sehingga benar-benar flat dan membosankan. Konflik yang coba dihadirkan masih kurang kuat dan tidak konsisten. Klimaks lomba nyanyi yang semestinya "nendang" juga seperti balon kempis begitu saja. Hm, mungkin terlalu kejam jika mengatakan ini adalah salah satu dari segelintir film lokal segmentasi anak-anak dengan kualitas terendah sepanjang sejarah!

Durasi:
95 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 09 Juni 2010

POSSESSION : Dilema Menghadapi "Perpindahan" Jiwa Suami

Tagline:
Jessica-He knows things about me. Things he couldn't possibly know. You really believe that a soul could leave its body?

Storyline:
Setelah merayakan pernikahan satu tahunnya dengan Ryan, hidup Jess seketika terbalik saat suami tercintanya mengalami kecelakaan mobil bersama dengan kakak kandungnya, Norman. Keduanya koma dan dirawat di rumah sakit. Tidak diduga, Norman justru sadar lebih dulu dan mengaku sebagai Ryan! Awalnya Jess tidak mempercayai Norman terlebih ia tidak menyukai kakak iparnya itu yang berkepribadian kasar. Namun beberapa fakta yang ditunjukkan Norman membuat Jess bimbang. Benarkah jiwa pria yang dikasihinya menitis ke dalam tubuh pria yang dibencinya itu?

Nice-to-know:
Produksinya selesai tahun 2007 dan dijadwalkan tayang di bioskop pada Februari 2008. Tetapi pihak distributor Yari Film Group mengalami kebangkrutan dan akhirnya Possession langsung dilempar ke pasaran DVD di bulan Maret 2010.

Act:
Kebintangan Sarah Michelle Gellar seakan jalan di tempat karena kerapkali kebagian film horor ataupun komedi romantis yang begitu-begitu saja termasuk disini sebagai Jess yang dilema mempercayai akal sehat atau kata hatinya sendiri.
Lee Pace mengawali karir lewat beberapa serial televisi hingga melakoni layar lebar pertamanya via The White Countess (2005). Kini ia kebagian peran Norman, mantan napi yang berperangai kasar.
Terakhir bermain dalam Last Chance Harvey (2008), Michael Landes tidak terlalu banyak porsinya sebagai Ryan yang koma nyaris sepanjang film.

Director:
Kolaborasi ketiga sejauh ini bagi Simon Sandquist dan Joel Bergvall yang diawali lewat Victor (1998).

Comment:
Jika anda mengharapkan horor atau thriller terlebih setelah melihat posternya, anda akan kecewa. karena film ini lebih tepat disebut drama. Plot ceritanya sendiri mengenai cinta segitiga dengan balutan tragedi, hanya saja sedikit "aneh" karena melibatkan kakak beradik, sesuatu yang cukup sensitif jika tidak dikemas dengan hati-hati. Gellar mendominasi scene sepanjang film dan ia tampil cukup decent disini tanpa memperlihatkan emosi yang berlebihan. Pace juga terlihat usahanya dengan memainkan dua karakter yang berbeda sebagai si keji Norman dan si baik Ryan. Overall dari segi cast sudah cukup maksimal. Kelemahan justru memang terlihat di skrip sehingga terkesan lambat dan sedikit mudah ditebak. Balutan suspensi yang coba dihadirkan lewat beberapa twist masih kurang kuat dan tanggung. Ending internasionalnya sedikit mengganggu karena mengarah pada pakem-pakem thriller pada umumnya. Beruntung pada DVD originalnya ada alternatif ending juga yang masih setia dengan versi aslinya. Ohya, Possession merupakan remake dari film Korea, Addicted (2002) meskipun sebetulnya judulnya terasa kurang pas dengan isi cerita.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 07 Juni 2010

SEX AND THE CITY 2 : Dua Tahun Setelah Mimpi Indah Berakhir

Tagline:
Carrie on.

Storyline:
Dua tahun setelah pernikahannya dengan Mr. Big, Carrie Bradshaw mulai merasakan kejenuhan dan ketidak sejalanan dengan konsep suami istri itu sendiri. Charlotte disibukkan dengan dua putri kecilnya dan juga pengasuh barunya, Erin. Miranda harus berurusan dengan bos barunya yang terlalu pengekang dan membatasi dirinya. Sedangkan Samantha masih berupaya mempertahankan kemudaannya dengan konsumsi berbagai macam obat hormon di sela-sela karirnya sebagai humas majalah terkenal yang pada akhirnya membawa mereka berempat kesempatan berlibur mewah secara gratis ke Abu Dhabi selama seminggu. Lantas apa saja yang akan terjadi pada mereka? Akankah perjalanan tersebut membawa dinamika baru pada kehidupan pribadi masing-masing?

Nice-to-know:
Film ini didelegasikan ke bioskop-bioskop dengan kode "Heart of the Desert".

Act:
Masih melanjutkan peran yang sama seperti sebelumnya, keempat aktris yang sebenarnya sudah tidak muda lagi ini tetap kompak setelah bersahabat lebih dari 20 tahun lamanya.
Sarah Jessica Parker sebagai Carrie Bradshaw
Kristin Davis sebagai Charlotte York
Cynthia Nixon sebagai Miranda Hobbes
Kim Cattrall sebagai Samantha Jones
Chris Noth sebagai Mr. Big

Director:
Pria kelahiran Pennsylvania berusia 55 tahun bernama Michael Patrick King ini mungkin salah satu tokoh di balik kesuksesan Sex and the City baik layar lebar maupun layar gelas.

Comment:
Saya bukanlah pecinta serial SatC tetapi menyukai The Movie nya yang meledak pada tahun 2008 yang lalu itu. Prolognya cukup menjanjikan dimana kita diajak melihat awal mula pertemanan Carrie, Miranda, Charlotte dan Samantha beserta chapter baru kehidupan masing-masing. Sampai disini beberapa adegan lucu dan bermakna menyertai pengembangan karakter keempatnya. Namun apa yang terjadi setelah setengah jam berlalu? Audiens seakan diajak ke negeri antah berantah bernama Abu Dhabi dimana saya yakin sebagian besar masyarakat Amerika masih asing dengan kehidupan Timur Tengah. Beberapa perbenturan budaya seperti cara bersosialisasi, berpakaian, bersikap mulai dipertontonkan dipadukan dengan keempat wanita dewasa yang saling curhat mengenai kejenuhan perkawinan, perselingkuhan, karir, anak hingga penuaan. Sebenarnya problematika tersebut relatif umum di mata kaum perempuan di belahan dunia manapun, hanya saja sedikit terlalu didramatisasi dan pada akhirnya diselesaikan begitu saja di menit-menit terakhir film. Peradaban Abu Dhabi itu sendiri memang menarik dimana kemewahan yang tidak akan kita lihat setiap hari terpampang dengan jelas, sayangnya "fashion show" ala Timur Tengah tidak terlalu mengesankan kali ini kalau tidak mau disebut aneh dan dipaksakan. Beruntung musik yang ditawarkan cukup membantu mood film sehingga durasi yang panjang sedikit tersiasasi. Pada ujungnya, Sex and the City 2 hanya terlihat cantik dari paket luarnya saja, tetapi kosong di dalam. Nikmatilah sebagai hiburan belaka dan berharaplah tidak akan ada lagi sekuel berikutnya jika temanya mengada-ngada lagi.

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$36,835,353 in opening week end of May 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 03 Juni 2010

TEKKEN : Balas Dendam Di Pertarungan Perebutan Raja Iron Fist

Quotes:
Steve Fox-Who taught you how to fight?
Jin Kazama-My mother.
Steve Fox-[laughs] Your mother?
Jin Kazama-Yeah. She's dead.

Storyline:
Jin Kazama yang berduka ditinggal mati ibunya bergabung dengan kakeknya, Heihachi Mishima dan memohon untuk berlatih martial arts. Jin yang mulai menguasai beladiri tersebut tertarik mengikuti turnamen King Of Iron Fist yang diikuti oleh jago-jago seluruh dunia termasuk Ogre, pembunuh ibunya. DI luar dugaan ketua turnamen adalah Kazuya Mishima yang jahat dan licik luar biasa menggunakan kekuasaannya untuk niat terselubung. Mampukah Jin bertahan melewati babak demi babak dan pada akhirnya menuntaskan dendam lamanya?

Nice-to-know:
Setting dibangun di Louisiana State Fair Grounds, Shreveport termasuk The Hirsch Memorial Coliseum yang digunakan sebagai ajang pertarungan para jago beladiri tersebut.

Act:
Boleh dibilang kombinasi bintang laga senior kelas B dengan beberapa aktor Asia-Amerika yang belum banyak dikenal namanya.
Luke Goss sebagai Steve Fox
Mircea Monroe sebagai Kara
Gary Daniels sebagai Bryan Fury
Lateef Crowder sebagai Eddy Gordo
Cary-Hiroyuki Tagawa sebagai Heihachi Mishima
Cung Le sebagai Marshall Law
Tamlyn Tomita sebagai Jun Kazama
Ian Anthony Dale sebagai Kazuya
Jon Foo sebagai Jin Kazama

Director:
Dwight H. Little terakhir menggarap Anacondas 2: The Hunt for the Blood Orchid (2004) dan kebanyakan karyanya adalah serial televisi.

Comment:
Diangkat dari game fighting laris keluaran Namco yang sampai dibuat hingga beberapa versi, saya pernah memainkannya sewaktu kecil walaupun bukan game favorit. Beranjak dewasa nyaris terlupakan karena Street Fighter ataupun Mortal Combat lebih bergaung dan sudah dilayar lebarkan, tiba-tiba film ini masuk proses produksi dan dalam sekejap trailernya sudah muncul di bioskop! Untuk genre sejenis, rasanya sulit berekspektasi tinggi terlebih banyak sekali judul yang mengalami kegagalan karena sebab-sebab umum. Pertama, karakter dalam game terlalu banyak dan masing-masing punya fan base tersendiri, tentunya dalam mengambil sebagian diantaranya untuk lebih ditonjolkan bukan perkara mudah. Disini terpilihlah Jin Kazama yang dimainkan oleh Jon Foo yang sepertinya agak terlihat terlalu manis. Belum lagi kesalahan besar dimana Hwoarang dan Chaolan tidak disinggung samasekali. Kedua, proyeksi setting waktu dan tempat dari game ke dunia nyata juga sulit dirasionalkan. Terbukti arena pertarungan dalam film ini benar-benar terlihat kaku dan tua tetapi dipaksakan dinamis dan modern dengan permainan lighting dan angle kamera. Sorry it doesn't work at all! Apalagi tidak didukung oleh bujet yang memadai. Ketiga, plot umumnya tentang balas dendam dan kali ini juga nyaris tidak ada improvisasi untuk bercerita secara kreatif. Bagi fans Tekken rasanya akan sangat kecewa dan tentunya tidak akan mengharapkan sekuelnya di masa mendatang.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 02 Juni 2010

SEHIDUP (TAK) SEMATI : Pencarian Jodoh Kedua Pilihan Mendiang Istri

Cerita:
Merayakan hari jadi pernikahan yang pertama membuat TItan dan Helena bersemangat untuk memberi kado satu sama lain pada makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Sayangnya insiden terjadi saat tidak membawa obat, Helena malah terserang asma akut di toilet dan meninggal seketika. Keseihan membuat Titan nyaris kehilangan gairah hidup sampai ia bertemu hantu Helena yang belum bisa naik ke atas karena janji yang pernah ia ucapkan dulu. Menganggap dirinya berhalusinasi, Titan menemui psikiater senior yang kemudian mengirim asistennya, Olin untuk mengawasi aktifitas Titan sehari-hari. Hantu Helena meminta Titan mencari istri terbaik dari sekian yang ditawarkan. Bagaimana Titan dapat memilih salah satu dari mereka di saat ia masih mencintai Helena?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Millenium Visitama dan gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 25 Mei yang lalu.

Cast:
Baru saja beberapa minggu lalu bermain antagonis dalam Demi Dewi, Winky Wiryawan kali ini didapuk sebagai Titan, eksekutif muda yang rapuh karena ditinggal mati istri yang dicintainya tetapi berusaha bangkit kembali untuk mencari cinta yang baru
Sempat masuk nominasi Aktris Favorit Indonesian Movie Awards beberapa waktu lalu, Fanny Fabriana sebagai hantu Helena, mendiang istri Titan yang berusaha menuntaskan misi terakhirnya.
Beberapa kali tampil dalam film-film Nayato kemarin, Joanna Alexandra memerankan Olin, asisten psikiater yang cupu dan menyimpan masa lalu menyedihkan.
Astri Nurdin sebagai Irene.

Director:
Terakhir kali tidak terlalu sukses lewat Bukan Malin Kundang yang kacau itu, Iqbal Rais mencoba peruntungannya disini dalam komedi romantis modern.

Comment:
Plotnya mengingatkan pada Ghost dan Over Her Dead Body ataupun judul-judul komedi romantis Hollywood lainnya yang bertemakan serupa. Harus diakui tidak terlalu orisinil tetapi untungnya Iqbal mengemasnya dengan humor bernuansa lokal yang khas. Terima kasih pada karakter supir-pembantu Titan yang kocak dan saling bersinergi dengan baik di setiap scene yang ditawarkan pada mereka. Winky berakting di luar kebiasaannya, gaya seorang eksmud yang loveable dibawakan dengan lugas dan natural. Fanny bermain ciamik sebagai manusia dan hantu sekaligus yang perfeksionis. Chemistry Winky dan Fanny di awal film juga cukup menarik. Joanna dan Astri meski scenenya tidak terlalu dominan tetap mampu mencuri perhatian. Tone drama yang cukup kental mampu didukung penggambaran lanskap kontemporer yang tepat. Alhasil Sehidup (Tak) Semati dapat dikatakan drama komedi romantis yang cukup hangat dan menyegarkan di tengah rendahnya kualitas genre film-film sejenis belakangan ini. Melepas orang yang anda cintai memang tidak mudah bukan? Apalagi bangkit dari rasa kehilangan setelah ditinggalkan orang yang dicintai tentunya lebih sulit lagi.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 31 Mei 2010

LE GRAND CHEF : Pertarungan Dua Jago Masak Perebutkan Kehormatan

Storyline:
Koki muda berbakat, Sung Chan mengundurkan diri dari dunia memasak setelah sebuah tragedi terjadi pada kontes kelas dunia. Bersembunyi di kota kecil bersama kakeknya, Sung Chan menemukan kedamaian sebagai petani penjual sayuran di pasar lokal. Hingga suatu hari, Sung Chan bertemu Su Jin yang mengagumi masakannya dan mendorong Sung Chan untuk kembali ke permukaan menantang saingan abadinya, Joo Bong sekaligus memperebutkan pisau legendaris Koki Kerajaan demi memulihkan nama baiknya.

Nice-to-know:
Terinspirasi dari komik karya Ha Yeong-min.

Cast:
Kim Kang-woo sebagai Sung-chan
Im Won-hie sebagai Bong-Joo
Lee Ha-na sebagai Jin-su

Director:
Sutradara senior asli Korea bernama Jeon Yun Su pernah menggarap drama romantis, My Girl And I (2005) yang sempat diputar di Blitz Megaplex juga.

Comment:
Selayaknya film mengenai memasak, tentunya sutradara harus membuat segala sesuatunya terlihat lezat dengan cara memasak yang meyakinkan. Dan Jeon cukup berhasil menyajikannya dengan tampilan menarik masakan yang dihasilkan di luar poin minus tidak adanya zooming yang mempertontonkan kemampuan para aktornya secara langsung. Lalu bagaimana dengan plot ceritanya sendiri? Karena diangkat dari komik populer, rasanya tidak perlu banyak perubahan yang mendasar dari aslinya. Seorang koki yang berusaha bangkit dari trauma kegagalan masa lalu. Simpel bukan? Kim dan Im berhasil menciptakan performa tukang masak yang brilian dengan semangat persaingan yang kental. Sayangnya tidak didukung pengembangan karakter yang maksimal mengingat cukup banyak subplot yang sebetulnya tidak terlalu penting. Adaptasinya terkesan sama persis mulai dari frame halaman komik hingga penjejalan semua bab di dalamnya sehingga kedinamisan sebuah film layar lebar sedikit terganggu. Sedikit mengingatkan saya pada film Mandarin (alm) Leslie Cheung yaitu Master Cook di pertengahan 1990an. Le Grand Chef bukan karya yang buruk tetapi cukup membosankan sebagai sebuah tontonan berdurasi cukup panjang. Mungkinkah komiknya jauh lebih menarik?

Durasi:
110 menit

Asian Box Office:
3,038,868 in South Korea.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 30 Mei 2010

PRINCE OF PERSIA : THE SANDS OF TIME Pasir Waktu Gulingkan Kekuasaan Raja Persia

Quotes:
Prince Dastan-You really enjoy telling me what to do, don't you?
Tamina-Only because you are so good at following orders. Prince Dastan-Don't press your luck.

Storyline:
Di bawah pemerintahan Raja Sharaman dari Persia, Dastan muda tumbuh menjadi petarung sekaligus pangeran yang tangguh di jalan Nasaf bersama kedua saudara angkatnya, Garsiv dan Tus. Mereka bertiga kerapkali membahas strategi peperangan yang membuat pertarungan dengan musuh terasa mudah. Saat Tus menyerang Kota Suci untuk mengungkap suatu rahasia, Dastan bertemu Putri Tamina. Sayangnya beberapa saat kemudian, Dastan malah dituduh membunuh Raja Sharaman yang meninggal secara misterius. Dastan mau tak mau terpaksa lari dan bersama Putri Tamina berupaya memecahkan misteri pasir waktu yang diyakini dapat merubah sejarah sekaligus membersihkan namanya dari musuh tak terlihat yang punya rencana jahat.

Nice-to-know:

Pada screening pertama di Inggris, sutradara Newell yang sudah mengenal Gyllenhall dari usia 7 tahun selalu berpikir Jake adalah orang yang tepat untuk peran Dastan. Padahal sewaktu casting sempat dikabarkan Orlando Bloom atau Zac Efron untuk karakter tersebut.


Act:
Memulai karir akting di usia 11 tahun dalam City Slickers (1991), Jake Gyllenhaal merupakan salah aktor aktor muda bermasa depan cerah di Hollywood. Terbukti kesempatannya memerankan Dastan di game legendaris ini datang di saat yang tepat.

Peran epik keduanya berturut-turut setelah Io dalam Clash Of The Titans (2010), Gemma Arterton bermain sebagai Tamina yang cantik dan menguasai legenda kuno Persia.
Aktor senior Inggris bernama Ben Kingsley ini pertama kali bermain dalam Fear Is The Key (1972). Kali ini kebagian peran Nizam, paman Dastan yang keras hati.

Director:
Sutradara senior asal Inggris bernama Mike Newell ini karirnya berawal dari televisi dan mulai dikenal di layar lebar lewat Into The West (1992) yang banyak memenangkan penghargaan internasional di beberapa festival film.

Comment:
Harap buang jauh-jauh pikiran akan buruknya film adaptasi game terkenal karena film ini jelas bukan salah satunya! Dari mulai masa produksinya sudah digadang-gadang akan meraih kesuksesan terutama karena jaminan nama produser Jerry Bruckheimer dan sutradara Mike Newell, belum lagi bujet 150 juta dollar yang tergolong berani karena banyaknya film adaptasi game yang hancur lebur di pasaran. Nyatanya keraguan dijawab tuntas. Pertama, formula serupa Pirates of the Caribbean kembali lagi yaitu menulis ulang cerita, di luar storyline game yang sudah mendunia tetapi tidak menghilangkan elemen dasar yang ada yang tentunya sudah dikenal pecinta gamenya. Kedua, visualisasinya Timur Tengah nya indah termasuk dari setting dan kostum yang sangat sesuai, lihatlah kota Alamut dan lanskap padang pasirnya. Ketiga, koreografi dan adegan laganya sangat menjual dari awal sampai akhir. Dari jajaran cast, pemilihan Gyllenhaal tidak salah, dengan rambut panjang dan baju perang ia terlihat gagah dan bernuansa Timur Tengah. Sama halnya dengan Arterton yang ayu dan eksotis. Keduanya berbagi chemistry yang wajar. Di luar keduanya, semua bermain maksimal apalagi kapasitas Kingsley yang tidak perlu diragukan lagi. Namun dari semua yang dijelaskan di atas, bukan berarti film ini tanpa kekurangan. Pertama, kemampuan Dastan termasuk "luar biasa" dalam lompat dari satu gedung ke gedung yang lain dan menghindari serangan senjata bertubi-tubi. And you expect us to believe it? Come on, make it more real! Kedua, background waktu dan masa yang dihadirkan rasanya seperti tempelan saja, keakuratan perlu dipertanyakan dengan lebih detail. Ketiga, unsur humornya sangat minimal. Ini dirasa penting terutama saat jeda dari intensitas tinggi. Prince of Persia : the Sands of Time dapat dikatakan memuaskan mayoritas audiens dan diharapkan sekuelnya yang rasanya sangat mungkin akan lebih baik lagi dengan inovasi-inovasi yang lebih kreatif lagi.

Durasi:
115 menit

U.K. Box Office:
£1,371,066 in opening week mid May 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 29 Mei 2010

OCEANS : Kehidupan Bawah Laut Yang Menakjubkan

Tagline:
Explore the depths of our nation's oceans. Experience the stories that connect their world to ours.

Storyline:
Nyaris tiga perempat belahan bumi ditutupi air dan film ini secara tegas membabarkan penjelajahan misteri yang terdapat di dalamnya termasuk eksplorasi manusia terhadap ekosistem bawah laut dan juga jenis-jenis makhluk hidup yang mungkin tidak pernah anda bayangkan sebelumnya.

Nice-to-know:
Merupakan film kedua yang didistribusikan Disneynature setelah Earth (2008) untuk menyambut Hari Dunia yang jatuh pada tanggal 22 April 2010.

Cast:
Untuk versi Inggrisnya, narator disuarakan oleh mantan James Bond, Pierce Brosnan.

Director:
Jacques Perrin sempat dinominasikan Best Picture Academy Awards 1970 bersama Ahmed Rachedi lewat Z (1969) kali ini dibantu astrada, Jacques Cluzaud.

Comment:
Jika sebelumnya ada Earth (2008) secara luar biasa sukses di pasaran internasional maka film ini dapat dikatakan lebih spesialis pada kehidupan bawah laut. Kamera berteknologi tinggi dari berbagai sudut termasuk yang disematkan kepada helikopter elektrik yang dikendalikan remote kontrol dan juga speedboat berhasil menyorot gambar-gambar menakjubkan. Coba bayangkan ikan paus yang berjumpalitan di udara, ikan sarden yang berenang berkelompok dengan cepat atau pertempuran antar ekosistem demi bertahan hidup. Semua itu merupakan kerja keras bertahun-tahun sutradara dan tim produksi yang berkelana di berbagai belahan dunia. Narasi yang dijabarkan bisa dikatakan minimal dan tidak menggurui samasekali meskipun tetap menyelipkan pesan moral akan perilaku manusia menjamah ataupun mencemari lautan dengan sesuka hati. Endingnya ditutup oleh penggambaran kapal laut yang berjuang mengatasi badai cuaca yang ganas di tengah lautan dengan ombak berpuluh-puluh kaki yang menerjang. Walaupun secara keseluruhan kualitasnya masih sedikit di bawah Earth dalam hal pengaturan tempo dan tensi penceritaan, Oceans tetap layak tonton bagi anda dan keluarga yang peduli akan lingkungan tentunya.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$18,524,665 till end of May 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent