XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label lee pace. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lee pace. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

CEREMONY : Identitas Diri Pernikahan Mantan

Quotes:
Zoe: Now you're just being an ass, Sam.
Sam Davis: Yes, I am. I'm winning you back goddamn it.


Storyline:
Penulis cerita anak, Sam mengajak sahabatnya Marshall pergi ke luar kota selama akhir pekan. Awalnya Marshall berpikir perjalanan ini akan mempererat hubungannya dengan Sam yang dikaguminya. Namun kenyataan berbicara lain, Sam berniat menggagalkan pernikahan mantan kekasihnya, Zoe yang akan menggelar resepsi bersama Whit, petualang sekaligus fotografer mapan. Keduanya pun terlibat pertengkaran dimana tokoh-tokoh di sekitar mereka mulai mengganggu dengan masalahnya masing-masing. Akankah Sam berhasil mendapatkan Zoe kembali?

Nice-to-know:
Michael Angarano awalnya dicasting untuk peran Marshall mendampingi Jesse Eisenberg sebagai Sanm. Namun kemudian Eisenberg mengundurkan diri sehingga Arangano mendapatkan peran utama tersebut.

Cast:
Sempat menyaksikannya mendampingi Jackie Chan dalam The Forbidden Kingdom (2008), Michael Angarano berperan sebagai Sam Davis
Film pertamanya di usia 15 tahun yaitu Dreamcatcher (2003), Reece Thompson bermain sebagai Marshall Schmidt
Lee Pace sebagai Whit Coutell
Uma Thurman sebagai Zoe
Jake M. Johnson sebagai Teddy


Director:
Merupakan film panjang pertama Max Winkler setelah beberapa serial televisi.

Comment:
Seringkali kita yang masih hidup melajang bagai mendengar petir di siang bolong saat mengetahui sang mantan pacar akan menikah dengan orang lain! Hal ini berlaku bagi pria ataupun wanita tanpa terkecuali. Sebesar apapun hati anda menerima, rasanya akan tetap terhenyak sambil melayangkan ingatan pada masa-masa indah bersama dahulu. Film ini adalah salah satu dari sekian judul yang membahas tema tersebut.
Penulis skrip merangkap sutradara Winkler tidak hanya berfokus pada usaha Sam mendekati Zoe kembali tetapi juga persahabatan mutualisme antara Sam dan Marshall itu sendiri. Dua plot yang bersisian di sepanjang film selain konflik dilematis antara Zoe dan calon suaminya Whit. Pendekatan drama dari Winkler berjalan lambat dengan berbagai penekanan yang tidak lazim dari sifat-sifat asli para tokohnya disini.

Arangano memainkan Sam dengan lugas, penulis sok jago yang sebetulnya kekanak-kanakan.
Thompson memerankan Marshall dengan polos, pemuda yang selalu mencari inspirasi hidupnya. Thurman menokohkan Zoe dengan gamang, wanita yang mudah bosan dengan hal-hal kesukaannya.
Pace melakoni Whit dengan eksentrik, pria penuh pencapaian yang memiliki jiwa petualang yang besar.
Johnson menghidupkan Teddy dengan cuek, lelaki serabutan yang menganggap apapun tidak serius. Kelima tokoh utama yang aneh bin ajaib itu berinteraksi satu sama lain tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Inilah sisi yang menarik dari sebuah film dimana karakteristik yang begitu kaya dapat melebur ke dalam konflik yang semakin menebal. Terkadang penonton akan mengernyitkan kening saat menyaksikan tingkah laku mereka tetapi itulah elemen realistis yang paling dekat dengan dunia nyata versi Winkler.

Humor yang ditawarkan memang lebih ke arah sinis, menertawakan konsep hubungan pria-wanita masa kini yang kerapkali lebih mementingkan kemapanan dan kebutuhan dibandingkan kenyamanan dan kesigapan itu sendiri. Jangan mengharapkan romantisme yang kental karena sudut pandang cinta hanyalah faktor kesekian disini, penting tetapi bukan yang utama. Banyak metafora tidak terjelaskan yang menggambarkan tarik ulur perasaan Zoe dan Sam maupun Zoe dan Whit.
Ceremony lebih tepat dikatakan film indie dari kreatifitas sineas muda dengan dukungan maksimal dari jajaran castnya. Nyaris tidak ada hal klise yang mengingatkan anda pada ratusan judul komedi romantis sebelumnya. Sebuah visi yang betul-betul baru dimana pilihan cinta tidak harus selalu diselesaikan dengan manis. Terkadang suatu kepahitan sekalipun mampu membuka lembaran baru yang jauh lebih positif bagi para subyeknya kelak.

Durasi:
89 menit

U.S. Box Office:
$21,666 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 22 Juli 2011

THE RESIDENT : Pengintaian Rahasia Penghuni Apartemen

Tagline:
She Thought She Was Living Alone

Storyline:
Dokter emergency, Juliet Devereau mencari tempat tinggal baru untuk menjauh dari suaminya, Jack yang ketahuan berselingkuh. Juliet akhirnya menemukan apartemen tipe studio di Brooklyn milik Max yang baru direnovasi dengan harga murah. Awalnya Juliet dan Max mampu menciptakan hubungan yang menjanjikan sebelum Juliet sadar bahwa ia masih mendambakan Jack. Nyatanya Max bukan lelaki yang bisa ditolak begitu saja dan akses yang dimilikinya untuk mengintai Juliet sudah lebih dari cukup untuk melakukan sesuatu yang buruk!

Nice-to-know:
Karena keterbatasan dana, syuting yang dilakukan pada bulan April 2010 harus memangkas berbagai adegan yang seharusnya ada dalam skrip film ini.

Cast:
Kemunculannya dalam seni peran diawali dengan serial televise ABC TGIF di tahun 1990, Hilary Swank bermain sebagai Juliet Devereau
Terakhir melihatnya dalam proyek remake Shanghai (2010), Jeffrey Dean Morgan berperan sebagai Max
Lee Pace sebagai Jack
Christopher Lee sebagai August
Aunjanue Ellis sebagai Sydney

Director:
Merupakan feature film pertama Antti Jokinen yang sebelumnya lebih banyak terlibat dalam pengarahan serial televisi ataupun dokumenter.

Comment:
Entah apa yang membuat aktris sekaliber Hilary Swank mau membintangi film ini. Jika ditilik dari skrip yang ditulis oleh Antti Jokinen dan Robert Orr rasanya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Semua terbaca dari menit awal sampai akhir terlebih bagi anda para pecinta genre thriller yang sudah puluhan kali menyaksikan premis serupa.
Image pria dalam film ini digambarkan demikian buruk. Max yang berpikiran “kotor”, berjiwa psycho dan berkepribadian “lemah”. Sedangkan Jack adalah suami peselingkuh yang terkesan memanfaatkan kelembekan hati istrinya yang juga seorang wanita mandiri itu. Ada lagi August sebagai orang tua yang hanya bisa menggerutu dengan sumpah serapah terhadap cucunya tanpa berusaha mengubah “garis keluarga” yang diyakininya itu.
Sedangkan Juliet dihidupkan dengan tegar dan tangguh tapi tidak cukup “keras” dalam menonjolkan sisi tersebut. Tidak dijelaskan bagaimana kemandirian seorang dokter emergency dapat begitu saja luluh menerima pria yang telah menyakitinya itu. Hanya karena kesepian seorang wanitakah? Belum lagi intuisinya di awal film yang sedikit “menggoda” pria yang baru dikenalnya. Cuma sebagai pelarian atay coba-coba? Sulit memastikannya.
Swank seharusnya mampu melahap peran Juliet dengan mudahnya. She DID! Namun karakterisasinya memang kurang berwarna dalam film yang seperti tidak percaya diri ini. Begitu pula dengan Dean Morgan yang mampu memperlihatkan transformasi dari sosok Max yang semula romantis, lembut dan perhatian menjadi cabul, posesif dan berinsting pembunuh. Interaksi keduanya cenderung naik turun, terkadang menarik, terkadang dipaksakan.
Sutradara Jokinen tampaknya sudah berusaha menghadirkan sinematografi yang cukup memikat, konsisten dengan pencahayaan indoor minimalis di setiap sudut apartemen baik yang terlihat maupun tersembunyi. Namun editingnya masih kurang memuaskan, banyak perpindahan scene selayaknya film televisi. Tensi film yang diharapkan merambat naik mendekati endingnya tidak terlalu berhasil terlebih adegan kejar-kejaran ala cat and mouse yang diharapkan klimaks ternyata berakhir begitu saja.
Alhasil The Resident masih jauh dari hasil yang diinginkan penonton kecuali bagi mereka yang tidak pernah menyaksikan film sejenis sebelumnya. Sia-sia belaka kemunculan Pace dalam peran Jack yang sudah mampu anda prediksi nasibnya itu. Seandainya saja seorang Christopher Lee dapat lebih dimaksimalkan dalam peran August. Tidak adanya improvisasi dari keempat karakter utama disini menjadi kelemahan utama. Jika anda berpikir bisa melihat Swank dalam pose syur yang privat? Voila! Anda akan temukan disini meskipun tidak yakin adegan tersebut akan “sepanas” ekspekstasi anda.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 09 Juni 2010

POSSESSION : Dilema Menghadapi "Perpindahan" Jiwa Suami

Tagline:
Jessica-He knows things about me. Things he couldn't possibly know. You really believe that a soul could leave its body?

Storyline:
Setelah merayakan pernikahan satu tahunnya dengan Ryan, hidup Jess seketika terbalik saat suami tercintanya mengalami kecelakaan mobil bersama dengan kakak kandungnya, Norman. Keduanya koma dan dirawat di rumah sakit. Tidak diduga, Norman justru sadar lebih dulu dan mengaku sebagai Ryan! Awalnya Jess tidak mempercayai Norman terlebih ia tidak menyukai kakak iparnya itu yang berkepribadian kasar. Namun beberapa fakta yang ditunjukkan Norman membuat Jess bimbang. Benarkah jiwa pria yang dikasihinya menitis ke dalam tubuh pria yang dibencinya itu?

Nice-to-know:
Produksinya selesai tahun 2007 dan dijadwalkan tayang di bioskop pada Februari 2008. Tetapi pihak distributor Yari Film Group mengalami kebangkrutan dan akhirnya Possession langsung dilempar ke pasaran DVD di bulan Maret 2010.

Act:
Kebintangan Sarah Michelle Gellar seakan jalan di tempat karena kerapkali kebagian film horor ataupun komedi romantis yang begitu-begitu saja termasuk disini sebagai Jess yang dilema mempercayai akal sehat atau kata hatinya sendiri.
Lee Pace mengawali karir lewat beberapa serial televisi hingga melakoni layar lebar pertamanya via The White Countess (2005). Kini ia kebagian peran Norman, mantan napi yang berperangai kasar.
Terakhir bermain dalam Last Chance Harvey (2008), Michael Landes tidak terlalu banyak porsinya sebagai Ryan yang koma nyaris sepanjang film.

Director:
Kolaborasi ketiga sejauh ini bagi Simon Sandquist dan Joel Bergvall yang diawali lewat Victor (1998).

Comment:
Jika anda mengharapkan horor atau thriller terlebih setelah melihat posternya, anda akan kecewa. karena film ini lebih tepat disebut drama. Plot ceritanya sendiri mengenai cinta segitiga dengan balutan tragedi, hanya saja sedikit "aneh" karena melibatkan kakak beradik, sesuatu yang cukup sensitif jika tidak dikemas dengan hati-hati. Gellar mendominasi scene sepanjang film dan ia tampil cukup decent disini tanpa memperlihatkan emosi yang berlebihan. Pace juga terlihat usahanya dengan memainkan dua karakter yang berbeda sebagai si keji Norman dan si baik Ryan. Overall dari segi cast sudah cukup maksimal. Kelemahan justru memang terlihat di skrip sehingga terkesan lambat dan sedikit mudah ditebak. Balutan suspensi yang coba dihadirkan lewat beberapa twist masih kurang kuat dan tanggung. Ending internasionalnya sedikit mengganggu karena mengarah pada pakem-pakem thriller pada umumnya. Beruntung pada DVD originalnya ada alternatif ending juga yang masih setia dengan versi aslinya. Ohya, Possession merupakan remake dari film Korea, Addicted (2002) meskipun sebetulnya judulnya terasa kurang pas dengan isi cerita.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent