XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label musikal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musikal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2017

LA LA LAND : A Honest To Goodness Musical Romance For Life


Quote:
Mia: People love what other people are passionate about.

Nice-to-know:
Menurut komposer Justin Hurwitz, semua track piano direkam oleh pianis Randy Kerber selama pre produksi. Lantas Ryan Gosling belajar piano dua jam setiap hari, enam hari dalam seminggu demi mendalami setiap track hingga sukses memainkan semuanya selama syuting berjalan tanpa bantuan body double atau CGI.

Cast:
Ryan Gosling sebagai Sebastian
Emma Stone sebagai Mia
J.K. Simmons sebagai Bill
Claudine Claudio sebagai Karen
Jason Fuchs sebagai Carlo
Finn Wittrock sebagai Greg
John Legend sebagai Keith         

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Damien Chazelle setelah Whiplash (2014).

W For Words:
Damien Chazelle memang sudah terbukti memiliki kecintaan tinggi terhadap musik. Sempat mengenyam pendidikan di Princeton High School hingga Harvard University dengan spesialisasi drummer jazz, ia akhirnya meninggalkan cita-citanya menjadi musisi dan memilih filmmaking. Sebuah keputusan yang tepat karena feature debutnya yang terinspirasi dari kisahnya sendiri, Whiplash (2014) berhasil meraih 3 piala Oscar. Dua tahun berlalu, kecintaannya terhadap Hollywood pun dituangkan lewat film ini yang bertemakan romansa modern. Judulnya simpel tapi apakah maknanya sesederhana itu?

Sebastian dan Mia mungkin hanya dua dari sekian juta orang di Los Angeles yang memilih untuk mengikuti passion sebagai mata pencaharian. Sebastian adalah pianis jazz yang bekerja di restoran berkelas, yang bercita-cita bisa membuka klub jazz sendiri. Mia adalah barista kedai kopi yang tak bosan mengikuti audisi film, dengan harapan bisa menjadi aktris tenar suatu saat nanti. Keduanya dihadapkan pada problematika serupa, yaitu pembatasan potensi dan kesempatan yang tak kunjung datang. Pertemuan demi pertemuan lantas menyatukan keduanya dalam jalinan asmara sebelum mimpi dan realitas menjadi hambatan.

Chazelle mengemas perjalanan cinta sekaligus mimpi Sebastian dan Mia hanya dalam 4 musim yaitu spring, summer, fall dan winter. Rollecoaster emosi yang juga silih berganti mengisi kanal perasaan mereka pun diterjemahkan secara apik. Dialog yang terkesan raw tak lantas membuat kita mengerutkan kening tapi justru membuka mata kita lebar-lebar sehingga kita bisa mengerti sepenuhnya pergulatan batin mereka dalam membuat tiap keputusan. Struktur plot yang begitu terorganisir mendukung forward storytelling sampai backward conclusion yang begitu ciamik.

Elemen fantasia begitu kuat diterapkan Chazelle dalam teknis penyutradaraannya. Komposisi warna yang kontras menyajikan gambar-gambar yang mencolok mata. Begitupun tone lighting yang selalu disesuaikan dengan mood Sebastian dan Mia dari awal hingga akhir. Belum lagi tata artistik Austin Gorg yang luar biasa. Koreografi buah pemikiran Mandy Moore berpadu serasi dengan alunan musik Justin Hurwitz sehingga tercipta tarian dan lagu yang akan bersinergi secara mudah dengan indera penglihatan dan pendengaran anda.

Istilah three times lucky mungkin tepat mendeskripsikan kolaborasi ketiga Ryan Gosling dan Emma Stone yang berpotensi meraih piala Oscar untuk pertama kalinya setelah sama-sama pernah dinominasikan sebelumnya ini. Who knows? It's a love letter to classic Hollywood romance movies and both did very well with strong chemistry between them. Stone pada khususnya mempertunjukkan kualitas akting yang mumpuni. Lihat bagaimana audisi demi audisi yang dilakoninya, seakan berakting dalam akting yang sesungguhnya mulai dari ekspresi sampai gestur nyata. Gosling seperti biasa mempertontonkan kharismanya yang luar biasa. Permainan musik dan bahasa tubuhnya di atas panggung teramat meyakinkan.

La La Land adalah sebuah tribute sempurna yang rasanya sulit untuk tidak membuat kita jatuh cinta. Jatuh ke dalam buaian mimpi yang terasa menyimpan sejuta harapan atau malah pelukan cinta yang dirasa memberikan beribu kehangatan. Baik mimpi ataupun cinta, keduanya memang butuh kompromi dengan segala konsekuensinya, terlebih saat dihadapkan pada realita yang tak bisa terhindarkan. Chazelle had successfully stated the obvious and transformed a honest to goodness musical romance ever made. A pure cinematic bliss we will remember for such long time!

Durasi:
128 menit

U.S. Box Office:
$74.081.569 till Jan 2017

Overall:
9 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 19 Januari 2013

LES MISERABLES : Showcasing Sacrifice, Change, Hope In Live Adaptation


Quotes: 
Fantine: I had a dream my life would be so different from this hell I'm living!

Nice-to-know: 

Saat audisi, Anne Hathaway berhasil memukau semua orang hingga menangis haru.

Cast: 
Hugh Jackman sebagai Jean Valjean
Russell Crowe sebagai Javert
Anne Hathaway sebagai Fantine
Amanda Seyfried sebagai Cosette
Sacha Baron Cohen sebagai Thénardier
Helena Bonham Carter sebagai Madame Thénardier
Eddie Redmayne sebagai Marius
Aaron Tveit sebagai Enjolras
Samantha Barks sebagai Éponine


Director: 
Merupakan film keempat bagi Tom Hooper setelah karya terakhir The King’s Speech (2010) menganugerahinya Piala Oscar.

W For Words: 
Kita patut berterima kasih pada Victor Hugo yang secara brilian menulis novel pada tahun 1862 mengenai kekisruhan Perancis di abad 19. Karya yang pada akhirnya diadaptasi menjadi film ataupun pertunjukan dalam jumlah yang tak terhitung lagi di berbagai negara.  Adalah sutradara brilian Tom Hooper yang dipercayakan oleh jajaran produser untuk menghidupkan kisah ini sekali lagi dengan inovasi baru yaitu aktor aktrisnya diminta untuk menyanyikan seluruh dialog yang terkandung dalam buku karya Claude-Michel Schönberg dan Alain Boublil. Pertaruhan yang begitu berani!

19 tahun dipenjara karena mencuri roti untuk diberikan pada saudaranya, Jean Valjean akhirnya dibebaskan dalam pengawasan ketat penegak hukum Javert. Jean dipekerjakan oleh pendeta baik hati sampai berhasil menjadi pengusaha sukses dengan nama palsu. Nasib mempertemukannya dengan Fantine, mantan buruh pabrik yang terpaksa melacur demi menghidupi putrinya, Cosette yang dibesarkan oleh pasangan pencuri kejam Thénardier dan Madame Thénardier. Sepeninggal Fantine, Jean sepakat membesarkan Cosette sampai beranjak dewasa dan jatuh cinta pada Marius, pemberontak revolusi. Jalanan Perancis lantas jadi saksi pergulatan takdir melawan gejolak politik yang kian memanas. 

Pencapaian Hooper sebagai sutradara dalam film ini perlu diapresiasi tinggi. Ketajaman visinya menghidupkan suasana Perancis di masa lampau tidak hanya detail tetapi juga epik. Desain produksi termasuk tata rias dan tata kostum betul-betul diperhatikan unsur estetikanya. Kebulatan hatinya untuk tetap meminta aktor-aktrisnya bernyanyi live di lokasi syuting daripada merekam di studio paska produksi terbukti semakin mempertajam pengalaman musikal yang sinematik. Lihat bagaimana ia membuka dan menutup film dengan stylish dan memorable. Wonderful!

Penampilan terbaik menurut saya jatuh pada Hathaway dan Redmayne. Meskipun Fantine hanya kebagian porsi minor, ia seakan menyanyikan isi hatinya dengan begitu lugas. Upaya Jackman pantas dihargai karena penonton dapat merasakan emosinya dalam rentang waktu yang begitu panjang. Beberapa track favorit saya tentu saja Look Down, I Dreamed A Dream dan On My Own. Menarik melihat debut Samantha Barks dan pelakon cilik Daniel Huttlestone disini. Jangan lupakan juga sumbangsih Baren Cohen dan Bonham Carter sebagai pasangan antagonis tersebut.

Kekurangan yang cukup mencolok ada pada Crowe dengan kemampuan bernyanyi yang begitu terbatas tapi justru ini membuatnya believable. Lihat bagaimana Hooper banyak menyiasati ketika Javert menyanyi dengan tidak menyorot wajahnya melainkan scene panoramik yang megah. Seyfried sendiri tampak terlalu terbebani dengan peran Cosette yang krusial sehingga membuatnya kurang lepas dalam berakting. Secara keseluruhan, mereka saling mengisi dengan plus minus masing-masing, memberikan dimensi interpretasi karakter yang begitu emosional.

Les Misérables memang bukan film musikal biasa, bisa jadi luar biasa bagi anda yang sudah sangat familiar dengan cerita dan pertunjukannya. Namun bagi sebagian orang yang tidak terbiasa, mungkin akan menyiksa apalagi tidak semua unsur melodi dapat menyatu sempurna dengan pelafalan dialognya. Durasi nyaris tiga jam dengan total 49 lagu yang berkumandang jelas membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi agar tidak kehilangan esensinya di tengah-tengah. Kombinasi pengorbanan cinta, perubahan dunia, pengharapan tanpa batas membuatnya pantas menyandang status ‘istimewa’. I liked this but don’t think that second viewing is necessary to do.

Durasi: 
157 menit

U.S. Box Office: 
$118,723,185 till Jan 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 28 Juni 2012

AMBILKAN BULAN : Kesederhanaan Imajiner Kepolosan Anak-anak

Quotes:
Amelia: Kenapa sih mama gak pernah cerita kalo aku punya kakek nenek yang masih hidup?


Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Mizan Productions bekerjasama dengan Falcon Pictures ini gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 17 Juni 2012.

Cast:
Lana Nitibaskara sebagai Amelia
Agus Kuncoro sebagai Ayah Amelia
Astri Nurdin sebagai Ratna
Landung Simatupang sebagai Mbah Gondrong
Hemas Nata Negari sebagai Pandu
Bramantyo Suryo Kusumo sebagai Kuncung
Jhosua Ivan Kurniawan sebagai Hendra
Berlianda Adelianan Naafi sebagai Ambar

Director: 
Merupakan film ketujuh bagi Ifa Isfansyah yang tahun lalu menggebrak lewat Sang Penari / The Dancer.

W For Words: 
Masa liburan sekolah memang biasanya diisi oleh film anak-anak. Pertama kali melihat nama sutradara Ifa Isfansyah yang tengah naik daun berkat Sang Penari (2011) melakukan kecenderungan itu ditambah faktor penulis skrip handal Jujur Prananto yang juga terlibat, ekspektasi saya seketika melambung jauh. Dapat dikatakan film yang terinspirasi dari lagu kondang lawas milik A.T Mahmud ini memiliki nilai jual yang tinggi walaupun aktor-aktris cilik pendatang baru yang terlibat di dalamnya belum mempunyai nama samasekali.

Setelah kematian suaminya, Ratna harus banting tulang untuk menghidupi keluarga. Sayang putri semata wayangnya, Amelia justru merasa kesepian dan kurang perhatian. Perkenalannya dengan sepupu Ambar melalui Facebook membuat Amelia bertekad menghabiskan waktu liburnya di desa. Di sana ia bertemu teman-teman Ambar yaitu Pandu, Kuncung dan Hendra bersama-sama menjelajah desa Karanganyar. Mereka keasyikan bermain hingga tersesat di hutan angker yang konon dihuni oleh Mbah Gondrong yang tidak bersahabat dengan anak-anak. 

Genre fantasi musikal yang diusung film memang cenderung konsisten dari awal sampai akhir. Adegan pembuka yang memperlihatkan lukisan “hidup” dengan kupu-kupu yang terbang “keluar” sudah menjelaskan konsepnya. Peran CGI disini amatlah penting. Hasilnya memang cukup memanjakan mata terlepas dari korelasi dengan bangunan cerita yang tidak terlalu krusial di beberapa bagian. Tidak lupa pakem “modernisasi” juga tercermin dari penggunaan ponsel canggih hingga kefasihan bersosial media di kalangan anak-anak tersebut. Sebuah contoh relevansi nyata yang sulit disembunyikan.

Bagian awal yang menitikberatkan konflik anak dan orangtua memang biasa. Beruntung sutradara Ifa tak mendramatisir, ia memilih untuk menekankan esensi “pengertian” Ratna terhadap Amelia dan begitupun sebaliknya dengan caranya masing-masing tanpa harus berlebihan. Paruh terakhir yang mengedepankan persahabatan Amelia dengan kawan-kawan barunya terjalin melalui dialog-dialog wajar, sesekali memancing tawa karena perbedaan dialek ataupun bahasa yang terjadi. Memang secara chemistry, kelima bocah ini belum menampilkan chemistry yang kuat satu sama lain tetapi kepolosan mereka lumayan mencuri perhatian penonton.

Pegunungan Lawu di Jawa Tengah yang menjadi latar belakangnya ditampilkan dengan sangat indah. Kontras dengan isu llegal logging alias pembalakan liar yang diangkat filmmaker. Tidak kompleks tapi sesuai dengan faktual yang ada. Saya bersyukur tidak ada stereotype penjahat pintar-pintar bodoh melawan anak-anak cerdas yang sudah terlalu sering diusung. Tokoh-tokoh cilik disini tampaknya cukup dewasa untuk memikirkan konsekuensi setiap tindakan mereka. Bukankah kecanggihan teknologi dalam menyerap informasi di jaman modern ini seharusnya membantu seperti itu?

Selayaknya genre fantasi pada umumnya, Ambilkan Bulan sedikit terjebak pada absurditas hampa yang membuat plotnya terasa diperpanjang disana-sini. Hal ini cukup melelahkan bagi penonton untuk mengikutinya sampai akhir dengan menghiraukan kebosanan yang hinggap. Namun sisi musikalitas yang dibebatkannya berhasil menutupi kelemahan tersebut. Olah vokal dan koreografi para pemeran film ini dituntaskan dengan baik. Dukungan sepuluh hit lawas A.T Mahmud yang disuarakan sejumlah musisi kondang Indonesia dengan sedikit pembaharuan itu mengalun nyaman di telinga. Suguhan sederhana nan imajinatif dari dan untuk hati ini tetaplah pantas diapresiasi.

Durasi: 
90 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 28 Januari 2012

THE MUPPETS : Bersatu Kembali Menyelamatkan Gedung Teater


Quotes:
Statler: Is this movie in 3-D?
Waldorf: Nope! The Muppets are as one-dimensional as they've always been!

Nice-to-know:
Setelah menyelesaikan keseluruhan syuting, filmmakers memberikan Jason Segel boneka Muppet versi dirinya untuk disimpan.

Cast:
Jason Segel sebagai Gary
Amy Adams sebagai Mary
Chris Cooper sebagai Tex Richman
Rashida Jones sebagai Veronica Martin

Voice:
Steve Whitmire sebagai Kermit / Beaker / Statler / Rizzo / Link Hogthrob / The Newsman
Eric Jacobson sebagai Miss Piggy / Fozzie Bear / Animal / Sam Eagle / Marvin Suggs
Dave Goelz sebagai Gonzo / Dr. Bunsen Honeydew / Zoot / Beauregard / Waldorf / Kermit Moopet
Bill Barretta sebagai Swedish Chef / Rowlf / Dr. Teeth / Pepe the Prawn / Bobo / Muppet Gary
Peter Linz sebagai Walter

Director:
Merupakan feature film pertama James Bobin yang sebelumnya menggarap beberapa serial televisi termasuk The Flight of the Conchords yang terlama yaitu dari tahun 2007-2009.

W for Words:
Sebagian dari anda yang lahir pada tahun 1970an ke atas tentunya sangat mengenal karakter muppets yang wara-wiri di layar kaca dengan segala polah tingkahnya yang unik mendidik itu. Ayo unjuk tangan. Tidak perlu merasa tua (atau malu) untuk bisa jatuh cinta pada versi layar lebar terbarunya. Generasi yang lebih muda saja besar kemungkinan bisa menjadi penggemar baru film yang diperuntukkan bagi semua kalangan usia ini.

Skrip yang ditulis Jason Segel dan Nicholas Stoller berdasarkan karakter Jim Henson berkisah mengenai Gary, Mary dan Walter yang menemukan fakta bahwa Tex Richman akan menghancurkan gedung teater muppets demi sumber minyak yang terkandung di bawahnya. Ketiganya sepakat mengumpulkan seluruh muppets untuk bersatu padu termasuk Kermit, Miss Piggy dan kawan-kawan untuk melakukan sebuah pertunjukan spektakuler sekaligus menggalang dana sebesar 10 juta dollar sebelum waktu berakhir.
Sutradara James Bobin menghadirkan gaya teatrikal yang kental di sepanjang filmnya. Scene dimana Segel atau Adams menyanyi diyakini mampu memancing senyum di wajah anda. Sama halnya dengan suguhan the muppets lewat aksi-aksi tak terbayangkan yang tiba-tiba tersaji di hadapan anda. Unsur komedinya juga tidak malu-malu walaupun sedikit cheesy disana-sini, salah satu contohnya adalah jargon “let’s travel by the map!” yang sukses membuat saya tertawa sambil mengernyitkan dahi.

Lagu-lagu yang menghiasi durasi 103 menit ini secara otomatis akan tertanam di dalam kepala anda selama berhari-hari bahkan membuat anda tergelitik untuk memiliki soundtracknya. Nomor favorit saya adalah Life’s a Happy Song yang riang gembira dan Man or Muppet yang getir sekaligus refleksi diri itu. Jangan lupakan juga penampilan cabaret para ayam dalam hit “Forget You” milik Cee Lo Green yang hilarious tersebut.
Tak dinyana, benang merah klasik yang dipertahankan membuat The Muppets layak tonton bagi penggemar lawas maupun anyar. Banyaknya cameo yang ambil bagian setidaknya menjadi nilai tambah, membantu menambal narasi dua pertiga awal yang sebetulnya cukup membosankan. Penampilan anggota baru, Walter dengan “hati” nya diyakini mampu meneruskan tongkat estafet secara pas jika memang franchise yang satu ini bisa dilanjutkan di masa mendatang. Definitely worth to wait!

Durasi:
103 menit

U.S. Box Office:
$86,694,431 till Jan 2012.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 16 November 2011

ROCKSTAR : Ambisi Bintang Rock Cinta Seumur Hidup

Quotes:
Jordan: Halo masa muda yang beringas!


Storyline:
JJ yang naïf bercita-cita menjadi pemusik handal. Tak kunjung sukses, ia menuruti saran bahwa jika ingin maju maka harus mengalami patah hati terlebih dahulu. JJ mendekati gadis populer di kampusnya, Heer yang digambarkan “sempurna”. Meski awalnya ditolak mentah-mentah, Heer akhirnya meminta JJ menemaninya “bertualang” sebelum menikah di Ceko. Kedekatan keduanya membuat perubahan situasi sekaligus pendewasaan diri. Pertemuan kembali bertahun-tahun setelahnya dalam kondisi yang jauh berbeda tidak menghindari cinta dimana JJ telah menjelma sebagai bintang rock Jordan sedangkan Heer sudah menjadi istri yang mapan.

Nice-to-know:
Sutradara Imtiaz Ali awalnya menginginkan Kareena Kapoor untuk bermain sebagai Heer. Namun karena Kareena bersaudara sepupu dengan Ranbir, maka diputuskan Nargis Fakhri untuk mengisinya.

Cast:
Ranbir Kapoor sebagai Janardan Jakhar / Jordan
Nargis Fakhri sebagai Heer Kaul
Shammi Kapoor sebagai Ustad Jameel Khan
Shikha Jain sebagai Meena

Director:
Merupakan film keempat Imtiaz Ali setelah terakhir Love Aaj Kal (2009).

Comment:
Lagi-lagi kisah cinta. Sebuah formula lawas Bollywood yang telah diwariskan turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Yang berbeda hanyalah frame yang digunakan, bisa action atau comedy yang paling umum sekalipun. Kali ini Imtiaz Ali yang juga bertindak sebagai penulis skrip nya menggunakan pendekatan musik dalam diri seorang pemuda yang memiliki idealisme sebagai bintang rock sesuai idolanya.
Ranbir Kapoor merupakan pilihan yang tepat bagi peran JJ alias Jordan. Ia berlatih gitar sungguhan di studio music A.R. Rahman selama berhari-hari hingga membaca novel biografi Kurt Cobain sebagai interpretasi karakternya. Transformasinya benar-benar terlihat dari mahasiswa Janardan Jakhar yang naïf menjadi bintang rock populer Jordan yang berperangai keras. Bahasa tubuhnya saat manggung terlihat meyakinkan selain kerapuhannya sebagai pria biasa yang mencintai satu wanita dalam hidupnya.
Mantan gadis America’s Next Top Model season 2004, Nagis Fakhri melakukan debutnya dengan baik. Kecantikannya melebur alami dalam peran Heer yang berbakat dan telah memilih jalan hidupnya sendiri sejak usia muda tanpa menyadari bahwa ia tidak pernah jatuh cinta yang begitu dalam. Begitu merasakannya, semua seakan terlambat karena ia telah memutuskan dan tidak ada jalan untuk kembali. Kepiawaiannya menari juga sukses menyihir para penonton pria di awal-awal film.

Sutradara Ali menyatukan setiap aspek dalam film dengan gemilang. Pengembangan karakter dalam filmnya sangat terasa dari waktu ke waktu sehingga penonton diajak untuk mengenal Jordan dan Heer secara personal. Sinematografinya memuaskan dengan berbagai setting mulai dari Universitas New Delhi, Kashmir hingga Prague dengan keindahan masing-masing. Tidak lupa menyebut tangan dingin A.R. Rahman yang menghadirkan hit-hit menarik yang disesuaikan dengan chapter perjalanan hidup seorang Jordan.
Rockstar berhasil menerjemahkan multi emosi yang melingkupi para karakternya dengan tajam melalui pemaparan konflik yang semakin meningkat. Belum lagi mood yang terbangun maksimal lewat scoring musik nan indah. Inilah alasan anda menyukai film ini sekaligus belajar bahwa cinta dan ketenaran jelas memiliki efek yang saling terkait satu sama lain. Belum lagi kepuasan diri sendiri kerapkali tidak seimbang dengan realita yang terjadi di sekeliling anda. Well done, Ali who direct brilliantly & Kapoor whose act stole the show including every various concert venues!

Durasi:
155 menit

U.S. Box Office:
$612,235 opening week in mid Nov 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 15 November 2011

LANGIT BIRU : Berantas Bully Tegakkan Persahabatan

Quotes:
Amanda: Kalo liat si Bruno nari, aku suka lupa kalo dia itu jahat..


Storyline:
Tiga sahabat sedari kecil yakni Biru, Amanda dan Tomtim kini duduk di bangku kelas 1 SMP. Ayah Biru, Daniel adalah seorang pilot sibuk. Namun kekurangan sosok ibu membuat Biru yang aktif dan cerdas ini menjadi sedikit pembangkang. Orangtua Amanda, Henry dan Julie juga amat perhatian padanya plus sang adik Brandon yang jago ngedance. Sedangkan Tomtim yang hanya tinggal dengan Mama Rita memiliki keterbatasan sehingga pernah tinggal kelas. Keadaan ini sering dimanfaatkan oleh Bruno dan sahabat-sahabatnya yaitu Jason, Samuel dan Erlangga untuk mengganggu Tomtim. Biru sepakat menghentikan aksi Bruno dkk dengan merekam tingkah lakunya sepanjang minggu. Benarkah sifat asli Bruno seburuk kelakuannya di sekolah?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Blue Caterpillar Films bekerjasama dengan Kalyana Shira Films dimana special screeningnya dilangsungkan di Blitzmegaplex Pacific Place pada tanggal 15 Oktober 2011.

Cast:
Ratnakanya Anissa Pinandita sebagai Biru
Jeje Soekarno sebagai Tomtim
Baby Natalie sebagai Amanda
Cody McClendon sebagai Bruno
Patton Ottlivio sebagai Jason
Jonathan Prasetyo sebagai Erlangga
Samuel Nathanael Carol sebagai Samuel
Brandon De Angelo sebagai Brandon
Ari Wibowo sebagai Ayah Biru
Donna Harun sebagai Ibu Tomtim

Director:
Merupakan film keenam Lasja F. Susatyo sejauh ini yang diawali oleh Lovely Luna (2004).

Comment:
Siapapun rasanya pasti pernah mengalami proses “bully” semasa kecilnya baik sebagai subyek, obyek maupun pengamat. Apa yang biasa dilakukan anak-anak seusia tersebut? Opsinya bisa lapor pada guru, orangtua atau bahkan merancang sebuah pembalasan yang setimpal. Tujuannya tentu saja anak yang tertindas bisa timbul lagi kepercayaan dirinya sedangkan anak yang menindas bisa insyaf mengakui kesalahannya selama ini.
Penulis skrip Melissa Karim menerjemahkan ide tersebut dalam film musikal anak-anak pertama tahun 2011 ini. Sebetulnya tidak bisa sepenuhnya dibilang musikal karena hanya menampilkan sekitar 3-4 lagu saja di paruh pertama film. Entah alasan apa yang mendasari hingga diputuskan aliran musik hip-hop dan R&B yang berperan besar dalam penentuan lagu berikut koreografinya para aktor ciliknya. Sekadar ikut-ikutan trend kah? Mudah-mudahan tidak karena sejujurnya ilustrasi musik dalam film ini menarik.
Ratnakanya bermain cukup baik dengan kelincahan dan rasa keingintahuannya yang begitu besar. Sepintas saya menangkap ada sedikit karakter pembangkang dalam tokoh Biru, bisa jadi karena dibesarkan oleh orangtua tunggal yang tidak selalu ada untuknya. Akan lebih baik jika ada penjelasan yang lebih nyata mengenai hal ini tentunya dari sudut pandang Ari Wibowo juga sebagai ayah pilot super sibuk itu.
Penonton diajak mengenal karakter Bruno dari aktifitas sehari-harinya saja, bukan dari interaksi mendalam dengan orang-orang di sekitarnya. Saya rasa keterbatasan Cody berbahasa Indonesia bukan faktor yang menghalangi. Namun ia hanya digambarkan cool bad boy yang jago olahraga dan ngedance tapi tidak sampai mengundang antipati sebagai pelaku bully tersebut. Transformasi sikapnya pun cenderung datar dan tidak cukup kuat menyalurkan emosi yang tertahan.
Sutradara Lasya sayangnya masih mempertahankan ciri khasnya sejak dulu yaitu penggarapan yang tidak menyeluruh sampai ke akar. Kita tidak berbicara mengenai film berat yang penuh dengan esensi. Namun film ringan sekalipun tetap butuh eksploitasi yang cukup untuk mampu menjalin konektifitas positif dengan penonton. Hal ini penting sehingga tokoh-tokoh di dalamnya dapat dipedulikan, bukan sekadar disaksikan kiprah wara-wirinya di layar lebar.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan minornya, Langit Biru dibuat dengan semangat dan pesan moral yang baik bagi anak-anak dan orangtua sekalipun. Sebuah hiburan yang menyenangkan dan easy to watch terlebih dengan bertaburannya cameo ternama. Sekolah memang sarana sekaligus media pembelajaran bagi siswa-siswi tetapi interaksi di antara mereka harus mendapat perhatian lebih dari tenaga pengajar yang terlibat langsung di lapangan. Subyek ataupun obyek bully tidak mengenal kata menang atau kalah karena kita semua seharusnya berkawan, bukan lawan yang patut ditakuti.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 02 Oktober 2011

SIMFONI LUAR BIASA : Tujuan Musisi Anak Berkebutuhan Khusus

Quotes:
Rinjani to Jayden: You are young enough to try anything once!


Storyline:
Kehidupan keras untuk menembus cita-cita sebagai musisi dialami Jayden di Mania sehingga tantenya mengutusnya untuk kembali ke Jakarta. Dengan berat hati, Jayden pun bertemu kembali dengan ibunya Marlina beserta ayah tirinya Hans dan adik tirinya Carissa yang sangat menyambutnya. Demi mengisi kekosongan waktu, Jayden setuju mengajar di Sekolah Luar Biasa pimpinan Ibu Rinjani. Disanalah ia berkenalan dengan murid-murid spesial seperti Amelia, Zaky, Arda, Dafa, Jemima, Rangga, Juan, Cindy dsb. Belum lagi guru seni Laras, guru olahraga suportif Pak Bimo hingga guru ilmu pengetahuan sinis Pak Dimas. Berhasilkah Jayden mempertahankan mimpinya sendiri sekaligus mewujudkan mimpi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Nation Pictures & Primetime dimana gala premierenya dilangsungkan di Robinson’s Movie Galleria – Filipina pada 31 Juli 2011.

Cast:
Christian Bautista sebagai Jayden
Ira Wibowo sebagai Marlina
Ira Maya Sopha sebagai Rinjani
Maribeth sebagai Tante
Vallery Thomas sebagai Carissa
Verdy Solaeman sebagai Pak Dimas
Gista Putri sebagai Laras
Stanly Saklil sebagai Pak Bimo
Sophie Navita sebagai Helena

Director:
Merupakan film pertama Awi Suryadi di tahun 2011 setelah 2 film di tahun 2010 yang dirilis dalam pecan yang sama.

Comment:
Kebintangan seorang solois pria tampan asal Filipina bernama Christian Bautista ini bisa saja dieksploitasi secara berlebihan dalam sebuah film. Untungnya produser Delon Tio yang mempercayakan Maggie Tjiojakin dan Awi Suryadi sebagai penulis skenarionya memilih untuk mengetengahkan perjalanan hidup seorang pria muda dalam mengejar mimpi masa depan sekaligus menjawab pertanyaan masa kini dan masa lampau yang kerap menghinggapi pikirannya.
Bautista memberikan penjiwaan yang cukup natural. Rasa frustrasinya sebagai musisi gagal di awal cerita perlahan-lahan bergeser menjadi guru musik teladan bagi anak-anak berkemampuan khusus melalui proses interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Karakter Jayden di tangannya memang tidak luar biasa dalam artian kelas festival internasional tetapi rasanya sudah dalam kapasitas yang mencukupi kebutuhan. Menarik mendengarnya berbicara dalam 3 bahasa secara bergantian dengan cukup fasih.

Penampilan anak-anak SLB Cahaya Mulya juga lumayan memikat. Masing-masing tidak berusaha mengambil simpati penonton dengan tingkah lakunya yang “unik” melainkan kepolosan yang tulus sesuai usia masing-masing. Coba dengarkan aksi memukau mereka dalam menyanyikan Kidung ataupun Imagine lewat pembagian suara alto dan sopran yang merdu di telinga.
Gista, Verdy dan Stanly memberikan sumbangsih yang tidak sedikit sebagai staf pengajar dengan ragam karakter yang variatif. Ira Wibowo yang sebetulnya terasa terlalu muda sebagai Ibu Jayden mampu memposisikan dirinya sebagai istri, orangtua dan juga ketua yayasan sekolah luar biasa itu. Ira Maya seperti biasa menyuguhkan akting berkelas sebagai Kepsek yang arif dan berwibawa.

Dengan sisi-sisi positif yang saya sebutkan di atas, bukan berarti film ini tanpa cela. Kekurangan yang paling mencolok adalah eksplorasi karakter anak-anak yang dirasa amat kurang. Hanya 1-2 anak yang namanya patut diingat, itupun dengan latar belakang yang minim. Pertimbangannya bisa jadi karena film ini berkisah tentang Jayden sehingga hal tersebut dirasa tidak perlu. Belum lagi proses membentuk anak-anak luar biasa itu menjadi kelompok vokal terkesan terlalu instan.
Simfoni Luar Biasa di tangan Awi hadir dalam sinematografi klasik ala tahun 80an. Meski demikian film musikal ini mampu bertutur dengan nyaman sehingga minus yang ada menjadi termaafkan. Sisi emosionalnya cukup menghangatkan hati walau tidak sampai menyentuh batas tertinggi yang diharapkan bisa mengharu-biru penonton. Setiap manusia boleh saja memiliki tujuan hidupnya masing-masing tetapi yang terpenting adalah bagaimana ia beradaptasi dengan segala hambatan yang dihadapi sebelum mencapai garis finish.

Durasi:
105 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 22 Januari 2011

BURLESQUE : Perjuangan Mencapai Puncak Selamatkan Klub

Tagline:
It takes a LEGEND... to make a STAR.

Storyline:
Burlesque Lounge sudah melewati masa-masa jayany. Sang pemilik sekaligus mantan penarinya, Tess yang telah bercerai dengan Vince kesulitan membayar tunggakan sehingga terancam ditutup. Prinsip Tess tetap sama dimana para penarinya Nikki, Coco dkk diharuskan tetap menari dengan lip sync. Hal ini ditentang oleh gadis Iowa, Ali yang bekerja sebagai pelayan atas bantuan Jack sang bartender. Ali yang memohon Tess agar diberi kesempatan menjadi salah satu penari berusaha meyakinkan kemampuannya. Kini Tess harus mengambil keputusan berat dimana pebisnis licik Marcus sudah mengajukan tawaran terbaiknya untuk mengambil alih.

Nice-to-know:
Foto Ali yang berusia tujuh tahun bersama ibunya merupakan foto asli Christina Aguilera bersama ibunya, Shelly Kearns.

Cast:
Absen 7 tahun setelah Stuck On You, Cher kembali sebagai pemilik Burlesque Lounge, Tess yang egosentris idealis.
Christina Aguilera sebagai Ali
Eric Dane sebagai Marcus
Cam Gigandet sebagai Jack
Julianne Hough sebagai Georgia
Alan Cumming sebagai Alexis
Peter Gallagher sebagai Vince
Kristen Bell sebagai Nikki
Stanley Tucci sebagai Sean

Director:
Steve Antin sebenarnya lebih dikenal sebagai aktor termasuk serial televisi NYPD Blue sebagai Detektif Nick Savino.

Soundtrack:
Something’s Got A Hold On Me by Christina Aguilera
Welcome To Burlesque by Cher
Tough Lover by Christina Aguilera
But I’m Am A Good Girl by Christina Aguilera
Guy What Takes His Time by Christina Aguilera
Express by Christina Aguilera
You Havent Seen The Last Of Me by Cher
Bound To You by Christina Aguilera
Show Me How You Burlesque by Christina Aguilera
The Beautiful People by Christina Aguilera

Comment:
Rasanya Antin cukup ambisius saat memutuskan menulis dan menggarap film musikal ini dimana pengalamannya hanya sebagai aktor yang belum ternama juga. Dari segi penulisan, skrip film ini tidak menawarkan hal baru dimana konsep from zero to hero ataupun wrong to right tetap dipertahankan. Sudah berbagai film sebelumnya membahas tema ini, sebut saja Coyote Ugly ataupun Make It Happen dari periode 2000an. Dari segi penyutradaraan, gaya yang diusungnya bisa dikatakan glamour sehingga sebagai sebuah panggung, Burlesque Lounge menjanjikan banyak hal yang memanjakan mata.
Kemampuan menyanyi biduanita senior Cher dan Christina Aguilera yang lebih junior tidak perlu diragukan lagi. Namun dari segi akting, saya tidak bisa katakan buruk tetapi mendapat eksploitasi yang kurang maksimal disini. Bagaimana Cher sebagai seorang pemimpin klub digambarkan egosentris idealis yang bahkan tidak pernah mendengarkan orang lain selain dirinya sendiri terasa stagnan dari awal sampai akhir. Lalu Aguilera sebagai seorang pendatang baru yang penuh mimpi dan percaya diri tidak terlalu terlihat perubahan no one to somebody nya disini selain riasan dan kostumnya saja. Beruntung chemistry keduanya cukup menarik disini walau saya sebetulnya mengharapkan lebih.
Di jajaran aktor pendukung, Tucci bermain gemilang sebagai Sean yang homoseksual. Dimanapun Tucci berbagi scene maka adegan tersebut menjadi hidup. Sedangkan Dane, Bell dan Gigandet cukup memanjakan mata dengan karakterisasi mereka yang penuh warna untuk menghidupkan segala konflik yang terjadi sekaligus menciptakan dialog-dialog yang pandai dan sarkastis meskipun kadang masih terkesan norak dan klise.
Di atas semua itu rasanya Burlesque (berarti olok-olok) masih dapat dinikmati sebagai film musikal yang mengusung konsep seni tari dan tarik suara dengan segala intrik di dalamnya. Bagaimana suara kuat Aguilera dan suara berat Cher berpadu manis dengan koreografi yang menarik di atas panggung meriah di bawah cahaya yang ditata sedemikian rupa. Lagu-lagunya tergolong dinamis walau menurut saya akan sulit disukai hanya dengan mendengarkan tanpa menyaksikan. Uang yang anda keluarkan untuk menonton film ini sepertinya sebanding dengan live concert young diva, Christina Aguilera. But still IMO it was a fun movie though!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$38,707,062 till mid Jan 2011.

Movie-meter:

Kamis, 30 September 2010

LASKAR PEMIMPI : Komedi Musikal Berlatar Agresi Militer 2

Quotes:
Kopral Jono: Bebek-bebek kami masih lebih pintar daripada bebek-bebek kalian..

Storyline:
Sri Mulyani hanya bisa meratapi ayahnya yang dibawa tentara Belanda dalam Agresi Militer II di Maguwo, Jawa Tengah pada bulan Desember 1948. Iapun mengembara hingga ke wilayah Panjen dan berjumpa dengan pasukan gerilya Indonesia pimpinan Kapten Hadi Sugito yang tengah membuka pendaftaran anggota baru. Lantas bergabunglah Udjo yang didesak pujaan hati Wiwid, Ahok yang beretnis Cina, Tumino yang beretnis Jawa, Toar si gerilyawan rabun, Kopral Jono yang turun pangkat dan ingin menikahi kekasihnya Yayuk yang juga adik kandung Wiwid ke dalam squad yang juga melibatkan Letnan Bowo, tangan kanan Kapten Hadi Sugito.
Persiapan demi persiapan pun mereka lakukan sebelum menghadapi Belanda yang dipimpin Letnan Kuyt. Malangnya Letnan Kuyt berhasil menculik Wiwid, Yayuk beserta warga desa lainnya terlebih dahulu hingga membuat Kapten Jono cs berang. Berbekal informasi dari tentara KNIL yang mereka tawan yakni si gembul Once, mereka nekad menyerbu markas Letnan Kuyt. Berhasilkah mereka mencatatkan diri sebagai pahlawan tanpa nama yang terlupakan sejarah perjuangan Indonesia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kharisma Starvision Plus dan diproduseri oleh Chand Parwez Servia.

Cast:
Tika Panggabean sebagai Sri Mulyani
Udjo Project Pop sebagai Udjo
Odie Project Pop sebagai Ahok
Gugum Project Pop sebagai Tumino
Yosi Project Pop sebagai Toar
Oon Project Pop sebagai Once
Dwi Sasono sebagai Kopral Jono
Shanty sebagai Wiwid
Gading Marten sebagai Kapten Hadi Sugito
T Rifnu Wikana sebagai Letnan Bowo
Masayu Anastasia sebagai Yayuk
Marcell Siahaan
Candil

Director:
Setelah menyelesaikan 3 film tahun 2009 lalu yang ditutup dengan Keramat, Monty Tiwa kembali dengan film pertamanya di tahun 2010 lewat Laskar Pemimpi ini.

Comment:
Poster film ini terkesan “epik” tapi melihat jajaran pemain dan sutradaranya, kesan tersebut langsung sirna. Siapa yang tidak mengenal Project Pop sebagai grup vokal pengocok tawa dengan polah tingkah dan lirik-lirik jenakanya yang telah eksis lebih dari satu dekade di blantika musikIndonesia?
Benar sekali. Film ini didesain menjadi panggung mereka, berakting dan bernyanyi sekaligus nyaris di setiap scenenya. Jika boleh saya mengatakan, kebebasan improvisasi rasanya diberikan secara penuh kepada masing-masing personil Project Pop, skrip yang ditulis Eric dan Monty Tiwa sepertinya hanya menjadi buku panduan belaka yang tidak mutlak dihafal.
Di luar dugaan, Oon dan Udjo mendapat porsi yang "lebih" dibandingkan rekan-rekannya. Tidak apalah toh keduanya gape memasang mimik komedik yang sangat diandalkan memancing tawa.Nama-nama seperti Dwi Sasono, Shanty, Masayu Anastasia, Teuku Rifnu Wikana yang sebenarnya lebih senior dalam bidang film terasa dikesampingkan kali ini. Ironisnya, Rifnu justru baru saja merampungkan Darah Garuda yang bertemakan mirip tapi jauh lebih serius itu.
Monty yang kabarnya melakukan persiapan yang cukup lama untuk film ini sayangnya hanya memperhatikan kostum pejuang/tentara dan setting outdoornya saja sehingga aspek lain yang serba jelas tertangkap kamera menjadi kedodoran. Adegan "epik"nya yang melibatkan persenjataan pun tidak sampai menggelegar, lebih terdengar seperti bunyi petasan basah yang nyaris gagal meledak. Ya itulah kenyataannya karena elemen melodinya justru lebih dominan disini, itupun tidak terlalu mulus timingnya.
Terlepas dari kekurangan disana-sini, kemunculan Laskar Pemimpi yang bisa disebut bergenre action komedi musikal perjuangan ini sedikit memperkaya tema perfilman nasional yang sudah semakin monoton.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 08 September 2010

DAWAI 2 ASMARA : Inspirasi Perjalanan Dua Pilihan Hati

Storyline:
Thufa tengah bimbang saat kliennya memutuskan untuk memakai jasa penyanyi dangdut senior Rhoma Irama untuk pentas panggungnya padahal ia telah berjanji pada kekasihnya Delon yang penyanyi pop untuk tampil. Belum selesai memutuskan, teman semasa kecilnya Ridho pulang ke Indonesia karena dipanggil ayahnya dengan tugas menciptakan nuansa baru pada musik dangdut yang didaulat musik asli tradisional Indonesia. Ridho sendiri tengah dekat dengan Haura Sydney, mahasiswi Australia yang sedang membuat karya tulis di Indonesia. Konflik cinta segitiga tersebut semakin memuncak ketika kepentingan demi kepentingan seakan saling bertubrukan. Siapa yang akhirnya dipilih Thufa dan bagaimana Ridho dapat menjawab tantangan ayahnya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rumah Kreatif 23

Cast:
Rhoma Irama
Ridho Rhoma
Cathy Sharon
Delon
Pepeng Naif

Director:
Endri Pelita & Asep Kusdinar

Comment:
Kesan paling tepat menggambarkan film ini menurut saya adalah tidak fokus! Duet sutradara Endri dan Asep memegang peranan yang sangat penting disini, Endri merangkap sebagai produser dan Asep memegang posisi penulis. Keduanya tampak terlalu ambisius menyajikan suatu tontonan yang mumpuni dari berbagai lini. Alhasil konsep cerita menjadi tercerai-berai tidak karuan. Coba bayangkan sebagai berikut:
Pertama, ada sang legenda Rhoma Irama yang berusaha menginspirasi sebagai tokoh dangdut kenamaan Indonesia. Ia mencoba memperkenalkan putranya yang baru pulang studi dari luar negeri sekaligus mempertahankan kharismanya sendiri. Lihat beberapa scene yang mempertontonkan ilmu kanuragan dan kearifan guru besar yang dimiliki Rhoma. Masih cukup menjual rasanya.
Kedua, ada cinta segitiga antara Ridho, Cathy dan Delon. Jujur saja ketiganya tidak berbagi chemistry dengan baik. Beruntung dari segi akting, Cathy masih cukup konsisten lumayan menutupi kekurangan Ridho dan Delon yang seringkali terlihat canggung kalau tidak mau dikatakan aneh di sebagian besar scene yang mereka lakukan kecuali scene menyanyi tentunya!
Ketiga, ada penggemar berat Ridho yang berprofesi sebagai supir taksi. Subplot tambahan ini dibuat untuk memperpanjang konflik walau menjadi tidak terintegrasi dengan baik ke dalam bangunan cerita. Ending yang melibatkan tokoh ini teramat sangat ganjil dan terlalu didramatisir.
Keempat, ada tokoh gadis bule yang entah darimana terpikir membuat karya tulis 200 halaman tentang dangdut?! Lihat bagaimana dengan mudahnya ia terpikat pada sosok Ridho dan mau terlibat dalam semua hal berbau dangdut tersebut. Weird!!
Sinematografi yang ditampilkan sedikit bernuansa film tahun 1980an yang sayangnya tidak didukung oleh editing yang baik terutama saat pergantian scene sehingga terkesan seperti meloncat-loncat dari satu potongan klip ke yang lainnya. Musik latar yang disuguhkan malah lebih terasa India dibandingkan Melayu, entah jika kuping saya yang salah tangkap. Pada akhirnya Dawai 2 Asmara hanyalah sebuah proyek idealis yang dibuat dengan semangat tinggi tetapi belum memberikan hasil maksimal sebagai suatu tontonan utuh yang solid dari berbagai aspek.

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 21 Agustus 2010

STREETDANCE : Memecahkan Konflik Berfokus Kompetisi Tari

Tagline:
Two Worlds. One Dream.

Storyline:
Carly tengah kelimpungan saat ditinggalkan kekasih sekaligus rekan tarinya Jay yang ingin rehat untuk sementara waktu di tengah persiapan grup mereka menghadapi Kejuaraan Nasional Dance Inggris. Secara tidak sengaja ketika mengantar fast food, Carly berjumpa Miss Helena yang kemudian menawarkan tempat berlatih bagi grupnya asalkan bisa berbagi dengan grup balet yang beranggotakan salah satunya Tomas yang tertarik pada Carly sejak awal. Perbedaan dasar tari jalanan dan balet sempat membuat Carly dan grup balet Tomas bersitegang. Namun mau tak mau Carly harus bekerjasama sebaik mungkin untuk tampil maksimal di Kejurnas dengan sisa waktu dua minggu sekaligus menantang juara bertahan The Surge.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Vertigo Films yang bekerjasama dengan BBC Films dan Little Gaddesden Productions.

Cast:
Para pemainnya belum banyak dikenal karena berasal dari Inggris Raya
Charlotte Rampling sebagai Helena
Nichola Burley sebagai Carly
Richard Winsor sebagai Tomas
George Sampson sebagai Eddie
Rachel McDowall sebagai Isabella
Frank Harper sebagai Fred
Ukweli Roach sebagai Jay

Director:
Kerjasama pertama bagi Max Giwa dan Dania Pasquini yang sama-sama pernah membintangi satu dan dua episode serial televisi The Real Extras (2007).

Comment:
Plotnya nyaris serupa dengan Step Up yaitu penyatuan balet dan tari jalanan, bedanya kerjasama kelompok lebih ditekankan daripada sepasang penari utama disini. Dan ini produksi Inggris, bukan Amerika yang sudah mencatatkan banyak sekali film sejenis. Tidak terlalu sulit menerka jalan ceritanya dari awal sampai akhir. Kinerja sutradara dan akting para pemainnya pun tergolong standar dikarenakan mereka benar-benar penari dan samasekali tidak berpengalaman di dunia akting! Walaupun tetap eye-candy dengan good looking dan hot body tentunya. Lantas apa yang berusaha diunggulkan?
Pertama, koreografinya terasa original terutama di awal dan sebagian di pertengahan yang diakhiri dengan kreatifitas dan sinergi yang sangat baik untuk finale.
Kedua, musiknya sangat menyengat dengan nuansa rap dan hip hop yang sangat kental, berhasil membangkitkan energi penonton yang menyaksikannya.
Dua unsur itu rasanya sudah cukup menempatkan Street Dance sebagai film tari yang fresh. Belum lagi dibekali dengan konsep 3D dan menjadikannya yang pertama walaupun akan segera disusul oleh Step Up 3 beberapa minggu lagi. Sayangnya di Indonesia hanya beredar non 3D nya tetapi itupun sudah membuat saya menikmati dengan cukup antusias sepanjang durasinya dan terus terang akan mencari soundtracknya. Tak lupa nuansa persahabatan, pengkhianatan, romantika juga dihadirkan. Pesan moral yang ingin dibebatkan adalah perbedaan seharusnya menyatukan dan kemenangan akhir rasanya tidak terlalu penting lagi nilainya jika kerja keras sudah terbayar dengan maksimal. Go see it in British style and taste the difference!

Durasi:
95 menit

U.K. Box Office:
£11,488,200 till early July 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 24 Juni 2010

LASKAR CILIK : Kekompakan Berawal Dari Perseteruan

Cerita:
Meski sekelas di sekolah yang sama, Marisa dan Dino memiliki kubu masing-masing yang selalu berseberangan hanya karena beberapa persoalan kecil. Masa liburan tiba, Dino dan Edo pulang ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama ayah ibunya. Di lain kesempatan, ayah Marisa juga ditugaskan untuk menangani pembangunan rumah di desa Megar dan mengajak istri dan anaknya sekaligus Ella yang juga teman setia Marisa. Sayangnya dalam perjalanan, seteru bisnis ayah Marisa menghadang mobil mereka dan menyandera suami istri tersebut. Marisa berhasil melarikan diri tetapi pingsan di tengah jalan dan diketemukan oleh Pak Kusumo ysng ternyata ayah Dino. Kini mereka harus bekerjasama untuk membebaskan ayah ibu Marisa dari kawanan preman tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Ganesa Perkasa Films.

Cast:
Arsenna sebagai Dino
Belinda Camesi sebagai Marisa
Cindy Valerie sebagai Ella
Derry Salim sebagai Edo

Director:
Subakti Is kali ini berkolaborasi dengan Shinta Rianasari Sh yang mengerjakan skenarionya.

Comment:
Film anak-anak ketiga pada musim liburan 2010 ini setelah Melodi yang gagal total dan Tanah Air Beta yang mengesankan itu. Lalu dimana posisi Laskar Cilik? Di luar cameo scenenya The Lucky Laki, rasanya tidak ada yang menarik. Plot ceritanya datar saja kalau tidak mau dibilang mengada-ngada. Bayangkan dua bocah berlawanan jenis yang karena hal-hal sangat sepele menciptakan konflik sendiri yang menempatkan teman-teman mereka dalam dua kubu yang saling berseberangan. Herannya dua kubu tersebut masih cukup kompak berkoreografi dan bernyanyi bareng sepanjang film meskipun kecanggungan dan dubbing yang tidak mulus terasa mengganggu mata dan telinga. Dari segi karakterisasi, tokoh Marisa yang pemalas dan manja rasanya tidak akan dapat menarik simpati penonton apalagi sampai peduli pada usahanya menolong ayah dan ibunya? Tokoh Dino meski digambarkan pintar dan baik hati tetapi tidak cukup berkharisma untuk memimpin anak-anak tersebut. Kinerja sutradara Subakti yang di bawah standar juga tidak banyak membantu. Bahkan ia terkesan menguji intelejensi anak-anak yang menjadi segmentasi yang ditujunya. Beberapa pesan moral yang berusaha disampaikannya seperti membuat pe-er sendiri, santun terhadap orangtua, setia kawan terhadap teman dsb entah kenapa menurut saya malah terasa tidak tepat caranya. Alhasil film ini terasa serba tanggung di berbagai lini. Gaya yang digunakan pun masih tergolong jadul seperti tahun 1990an. Come on! It’s 2010 already, make a good smart contemporer kids movie which enjoyable for their parents too.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 10 Juni 2010

MELODI : Perjuangkan Impian Menang Lomba Nyanyi

Cerita:
Kakak beradik, Ruli dan Mili hidup sederhana di kawasan pinggir kota bersama ayahnya yang menjadi tukang ojek. Demi membantu ayahnya memiliki motor sendiri, Ruli bekerja sebagai pelayan dan juga menekuni hobi bernyanyinya bersama sebuah trio kocak. Pada suatu kesempatan, Ruli bertemu Chika, putri Ibu Wati yang juga senang olah vokal. Kedekatan keduanya mulai terjalin dan Chika mendorong Ruli untuk mengikuti kompetisi nyanyi daerah. Berhasilkah Ruli akhirnya merintis impiannya dan juga menyokong perekonomian keluarga?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh kolaborasi dari Imajika Films, Gerilya Films & Dagoe Film Workshop dan gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI tanggal 8 Juni yang lalu.

Cast:
Emir Mahira
Nadya Amanda
Yasamin Jasem
Tengku Wikana
Djenar Maesa Ayu
Vety Vera
Daus Separo
Mario Maulana
Nadya Vella
Andre Hehanusa

Director:
Harry Dagoe Suharyadi terakhir kali cukup sukses dengan Cinta Setaman (2008) yang banyak dipuji berbagai kalangan itu.

Comment:
Ekspektasi yang cukup tinggi bisa jadi awalnya dialamatkan pada film musikal ini terlebih nama besar sang sutradara. Namun yang terjadi sungguh mengecewakan. Harry Dagoe terbilang gagal menggarap Melodi. Saya tidak tahu pasti tetapi yang terlihat tiga hal mendasar yang patut dipersalahkan yaitu dana yang minim, casting yang kurang tepat dan penulisan skenario yang sangat miskin. Dalam hal bernyanyi, Emir Mahira sebagai Ruli memang bersuara lumayan, sayang sekali tidak didukung karakterisasi yang baik. Sama halnya dengan beberapa pemain cilik utama lainnya. Djenar dan Wikana sebagai aktris-aktor senior seharusnya diberikan porsi lebih untuk mengangkat nilai secara keseluruhan. Dari segi harmonisasi, pemilihan nada dan lirik juga kurang maksimal, seharusnya lebih ear-catchy dengan tekstual yang ringan tetapi menyentil sesuai calon penonton yang ingin dituju. Sepanjang durasi film nyaris bergulir tanpa riak dan tempo sehingga benar-benar flat dan membosankan. Konflik yang coba dihadirkan masih kurang kuat dan tidak konsisten. Klimaks lomba nyanyi yang semestinya "nendang" juga seperti balon kempis begitu saja. Hm, mungkin terlalu kejam jika mengatakan ini adalah salah satu dari segelintir film lokal segmentasi anak-anak dengan kualitas terendah sepanjang sejarah!

Durasi:
95 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Minggu, 24 Januari 2010

NINE : Obsesi Sutradara Cari Inspirasi Hidup

Quotes:
Luisa Contini-Thank you. Guido Contini-What for? Luisa Contini-Thank you for reminding me I'm not special. You don't even see what you do to me. Even the moments I think are ours, it's just... you working to get what you want.

Storyline:
Sutradara film yang arogan dan berego tinggi, Guido Contini kesulitan mencari visi dan skrip yang pas untuk film terbarunya yang berjudul Italia. Karya ke-9 nya itu direncanakan akan megah dengan menghebohkan sesuai janjinya pada saat konferensi pers. Seminggu sebelum syuting dimulai, Guido mencoba mencari jawaban dan inspirasi dari wanita-wanita dalam hidupnya termasuk ibu, istr, simpanan, pengasuh dsb. Dan selagi profesinya perlahan-lahan mulai menghancurkan kehidupan pribadinya sendiri, Guido harus menemukan keseimbangan antara menciptakan seni yang baik dan bertahan dari kemauan-kemauan obsesif terdalamnya.

Nice-to-know:
Awalnya peran Guido diberikan untuk Javier Bardem yang juga memenangkan Oscar Aktor Pendukung Terbaik di tahun yang sama dengan Day-Lewis yang menang Aktor Utama tetapi mengundurkan diri di tengah-tengah karena merasa terlalu lelah bermain film. Selain itu, sejumlah aktris cantik tenar seperti Catherine Zeta-Jones, Amy Adams, Anne Hathaway, Sienna Miller, Katie Holmes, Renee Zellweger sempat dikabarkan akan mengisi jajaran cast walau akhirnya batal.

Cast:
Pria kelahiran Inggris 52 tahun yang lalu bernama Daniel Day-Lewis ini adalah satu aktor berkualitas terbukti dengan 2 piala Oscar yang berhasil digenggamnya terakhir dari There Will Be Blood (2007). Kali ini ia bermain sebagai Guido Contini, sutradara sekaligus produser ambisius yang tengah menyiapkan proyek film terbarunya.
Sederetan aktris top berkualitas Oscar juga turut menghiasi film ini mulai dari Marion Cotillard (Luisa Contini), Penélope Cruz (Carla), Nicole Kidman (Claudia), Judi Dench (Lilli), Kate Hudson (Stephanie), Stacy Ferguson (Saraghina) dan Sophia Loren (Mamma).

Director:
Rob Marshall pernah mendapat nominasi sutradara terbaik pada ajang Oscar 2003 lewat Chicago (2002). Kali ini 8 tahun berlalu dengan genre serupa, ia kembali dengan bintang-bintang yang lebih variatif.

Comment:
Dapat dikatakan proyek yang ambisius melihat usaha Rob Marshall dalam mengulangi magis yang sama saat menggarap Chicago. Sayangnya Marshall yang terlalu perfeksionis justru terkesan tidak fokus pada penggarapan ceritanya. Gaya teaterikal yang diusungnya memang efektif menampilkan aksi panggung yang sangat menarik termasuk kostum, make-up, lighting, koreografer dll. Lagu-lagunya tidak terlalu outstanding ataupun berlirik tajam, sebagian justru terbantu dengan musik Latin yang dinamis. Dari segi cast jangan ditanya. Day-Lewis menunjukkan improvisasi yang brilian dengan aksen Italia nya. Dari penampil aktris-aktris cantik tersebut, menurut saya Fergie yang paling outstanding dengan bermain pasir dalam tariannya. Sedangkan Cruz teramat seksi, mungkin sepanjang karirnya bermain film. Lain halnya dengan Cotillard yang memiliki penjiwaan dalam sebagai istri yang tersingkirkan. Durasi yang terlalu panjang juga agak mengganggu karena terasa membosankan bagi penonton, terbukti sebagian besar seringkali mengecek jam tangannya atau melongok ponselnya. Alhasil Nine adalah pertunjukan solo para aktrisnya yang sepintas memukau tetapi tidak berdampak apapun pada kualitas film secara keseluruhan yang masih terkesan tercerai-berai. Meskipun demikian film ini dikonstruksikan dengan sangat baik terutama dari segi sinematografi, hanya saja tidak berisi apapun yang bermakna. Kita lihat saja di ajang Oscar beberapa pekan mendatang apakah bisa mengulangi sukses Chicago?

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$18,291,164 till mid Jan 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!