XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label jackie chan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jackie chan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2013

CHINESE ZODIAC : You’ve Seen These Actions Before


Quote: 
Vulture: I can kick your ass without leaving this couch.
JC: Show me.  


Nice-to-know: 

Jackie Chan mencatatkan diri dalam Guinness World Record sebagai empunya kredit terbanyak dalam sebuah film yaitu 15, menumbangkan rekor sebelumnya yang dipegang Robert Rodriguez dengan 11.  

Cast: 
Jackie Chan sebagai Asian Hawk
Oliver Platt sebagai Lawrence Morgan
Laura Weissbecker sebagai Katherine
Caitlin Dechelle sebagai Katie
Emilie Guillot sebagai French Reporter
Rani Bheemuck sebagai Indian Reporter
Alaa Safi sebagai Vulture
Zhang Lanxin
Kwon Sang Woo
Liao Fan


Director: 
Merupakan film ke-16 yang disutradarai oleh Jackie Chan setelah terakhir 1911 (2011).

W For Words: 
Aksi akrobatik Jackie Chan tentu bukan hal baru lagi, terlebih bagi anda para penikmat film Mandarin sejak tahun 90an, atau bahkan 80an. Ayolah, tak perlu malu berbicara umur. JC saja di usia 57 tahun masih berani mempertontonkan kebolehannya yang fenomenal itu. Filmnya yang ke-101 ini diidentifikasikan oleh banyak pihak sebagai remake tak resmi dari Armor of God (1986) yang diikuti oleh sekuelnya Armor of God II : Operation Condor (1991). Bahkan di China sendiri beredar versi IMAX 3D nya meski sebetulnya cukup dinikmati dalam versi 2D saja.

Pebisnis kaya sekaligus pengumpul barang antik, Lawrence Morgan terobsesi mengumpulkan 12 artefak kepala shio hingga mengutus pemburu harta karun, JC dan mengganjarnya satu juta dollar untuk setiap temuannya. JC bersama timnya berangkat ke Paris demi bertemu Coco, wanita Cina yang bertekad mengembalikan semua peninggalan ke negerinya. Dalam perjalanan mencari Summer Palace yang juga diincar oleh banyak pihak, Duchess Katherine yang menanggung hutang kakek buyutnya menawarkan bantuan. 

Butuh empat orang untuk merampungkan skrip ini, masing-masing Frankie Chan, Jackie Chan, Edward Tang, Stanley Tong. Premisnya memang mirip dengan franchise cult Indiana Jones atau yang lebih baru National Treasure, ekspedisi harta karun yang melibatkan berbagai kelompok sebelum saling berseteru untuk jadi pemenang mutlak. Sayangnya chapter demi chapter dalam film ini terasa disconnected, perpindahannya tidak smooth dan terkesan dipaksakan. Konfliknya pun ditarik ulur sedemikian rupa sampai diakhiri dengan kurang logis. 

JC memang seorang yang berbakat sekaligus ambisius. Multitasking yang dilakukannya disini tak kurang dari 15! Tetap saja tugas terberat adalah produser, sutradara dan tentunya aktor. Jika anda sempat melihat behind the scene yang mengiringi end credit, beberapa adegan disyut dengan kamera otomatis. Luar biasa! Khusus akting, harus diakui faktor umur sudah melimitasinya walaupun kekerasan hati untuk masih melakukan sebagian besar adegan tanpa stuntman harus diacungi jempol. Namun keseluruhan aksinya itu nyaris tidak menawarkan hal baru. Predictable!

Sesungguhnya Chinese Zodiac memiliki pesan yang mulia, “Hargailah setiap peninggalan antik dengan mengembalikannya pada pihak yang memang berhak menyimpannya”. Hanya saja durasi dua jam dirasa terlalu panjang apalagi kebanyakan diisi dengan plot-plot tidak penting yang gagal menyunggingkan senyum atau memacu detak jantung. Berbagai tokoh dengan kebangsaan yang berbeda-beda juga mengganggu karena tidak semuanya fasih berbahasa Inggris. Saya berharap mudah-mudahan kemunculan “terakhir”nya dalam tipikalitas produksi Hongkong ini  masih mampu menghibur anda. Mind the story, just enjoy the action!

Durasi: 
120 menit

China Box Office: 
$127,000,000 till Jan 2013

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 02 Mei 2012

1911 : Great Historical Epic But Feel Disconnected


Quotes:
Sun Yat-Sen: The goal of revolution isn't death, but to change fate. Young people are sacrificing themselves for the revolution, so that the living can lead better lives.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Xinhai geming ini sudah rilis di China pada tanggal 23 September 2011 yang lalu.

Cast:
Jackie Chan sebagai Huang Xing
Li Bingbing sebagai Xu Zonghan
Winston Chao sebagai Sun Yat-Sen
Joan Chen sebagai Longyu
Jaycee Chan sebagai Zhang Zhenwu
Simon Dutton sebagai John Newell Jordan
Hu Ge sebagai Lin Juemin

Director:
Merupakan film ketiga belas yang disutradarai Jackie Chan yang kali ini dibantu oleh Zhang Li yang memulai debutnya.

W For Words:
Satu abad alias seratus tahun sudah sejak dimulainya gerakan Wuchang yang memicu Revolusi Xinhai hingga pada akhirnya sukses menggulingkan Dinasti Qing berlalu. Demi memperingatinya, berbagai studio dan perusahaan film besar di China memproduksi sebuah drama epic yang disutradarai dan dibintangi sendiri oleh megastar Jackie Chan sekaligus menandai film ke-100 sepanjang karirnya yang penuh pencapaian sempurna tersebut.
Karir politik Presiden RRC pertama, Sun Yat Sen dan komandan militer, Huang Xing merupakan dua tokoh penting dalam revolusi bersejarah. Sun merupakan diplomat yang menjembatani pihak Barat dengan China dalam menggalang dana luar negeri berstatus saling menguntungkan, sedangkan Huang bertindak sebagai pejuang perang yang tak segan-segan menyabung nyawa di setiap aksinya. Sementara itu Janda Permaisuri Dinasti Qing, Longyu tetap bersikeras mempertahankan ideologinya yang pada akhirnya memicu 14 propinsi menuntut kemerdekaan penuh.

Skrip yang ditulis oleh Wang Xingdong dan Chen Baoguang memang terlalu berpijak pada catatan sejarah tanpa memperhatikan esensi hiburan sebuah film. Strukturisasi linier terpampang begitu saja dalam menjabarkan fakta demi fakta, tokoh demi tokoh, momen demi momen yang dapat dikatakan tidak akan tertinggal samasekali dalam benak penonton. Tak heran jika selama nyaris 100 menit durasinya itu, konektifitas antara filmmaker dan audiensnya tidak terhubung memadai selain suguhan sinematografi dari Huang Wei yang sebetulnya cukup memikat itu.
Winston Chao yang memerankan Sun memang memperlihatkan karisma kuat seorang pemimpin tetapi tidak ditunjang dialog-dialog yang terlalu tekstual terlebih interaksinya dengan pihak asing. Aksi Jackie Chan sendiri hadir dalam narasi yang terlampau padat dengan editing yang terlalu terburu-buru sehingga perjuangannya terkesan kurang heroik walaupun sempat kehilangan sebagian jarinya itu. Satu-satunya yang lumayan menarik adalah interaksi Huang dan istrinya, Xu Zonghan yang menegaskan interaksi emosional atas nama cinta terlepas dari kecamuk politik yang menghinggapi hubungan mereka.

1911 dapat dikategorikan sebagai film propaganda yang menandai tonggak sejarah penting RRC dengan kedetailan fakta di dalamnya. Namun sebagai film, jembatan komunikasi dengan penontonnya tidak terbangun dengan kokoh kalau tidak mau dikatakan membingungkan sekaligus membosankan. Hasil box office yang tidak memadai di sebagian besar negara Asia yang menayangkan film ini menjadi indikasi bahwa Jackie Chan tidak tampil sebagaimana "biasa"nya meskipun upayanya dalam menghadirkan tontonan patriotik yang mengedepankan karakter Sun Yat Sen cukup konsisten dilakukannya.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$127,437 till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 05 Februari 2011

SHAOLIN : Kejatuhan Diri Karena Kekuasaan Kekayaan

Tagline:
In a land torn by strife, the righteous monks of Shaolin stand as a beacon of hope for the oppressed masses.


Storyline:
Berbagai kerajaan dengan panglimanya masing-masing berseteru satu sama lain untuk menguasai Cina Daratan. Salah satu diantaranya adalah Jenderal Hou Chieh yang arogan dengan asistennya Tsao Man yang bahkan mengejar korbannya sampai ke kuil Shaolin. Tanpa kenal ampun Hou Chieh selalu menghabisi korban-korbannya sekaligus bermain politik kotor meski sudah diperingatkan istrinya. Pada satu ketika, Tsao Man mengkhianati Hou Chieh bahkan menyebabkan putri kecilnya, Nan tewas. Sejak saat itu pandangan hidup Hou Chieh berubah dan ia mulai menjalani hidup di Shaolin sebagai pertapa. Namun apakah Tsao Man yang bekerjasama dengan pihak asing akan tinggal diam mengetahui mantan kakaknya itu masih hidup?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Beijing Silver Moon Productions, China Film Group, Emperor Motion Pictures, Huayi Brothers Media dengan estimasi biaya 29 juta dollar.


Cast:

Memulai karirnya sebagai aktor serial televisi Sou hat yi (1982) di usia 21 tahun, Andy Lau kali ini kebagian peran Jenderal Hou Chieh yang ambisius hingga bertobat menjadi pertapa Shaolin.

Sempat bermain dalam The Stool Pigeon dan Hot Summer Days di tahun 2010, Nicholas Tse disini sebagai Tsao Man.

Fan Bingbing sebagai Istri Hou Chieh
Jackie Chan sebagai Koki
Jacky Wu
sebagai Jing Neng

Yu Xing sebagai Jing Kong

Director:
Benny Chan
mengawali karir penyutradaraannya lewat miniseri televisi, Suet san fei wu di tahun 1985.


Comment:
Mungkin bagi anda yang masih ingat dengan Shaolin Temple di tahun 80an yang dibintangi Jet Li, film ini merupakan remake nya walau tidak persis sama dan melakukan penekanan yang sedikit berbeda. Dan harus saya katakan, peran utama yang dipercayakan pada Andy Lau terbayar tuntas. Sebab transformasi karakter yang dimainkan Hou Chieh dari jahat ke baik sangat menyita energi dan ia melakukannya dengan luar biasa terlepas dari kondisi fisik yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi.

Sebagai antagonis, Nicholas Tse memainkan karakter Tsao Man dengan penampilan yang dingin dan keji, cukup berhasil untuk memancing kebencian penonton padanya. Meski hanya berstatus “special appearance” rasanya Jackie Chan tetaplah akan menjadi favorit anda karena karakter Koki berhasil mencairkan suasana dengan begitu jenaka di setiap scene kemunculannya. Sayangnya di luar mereka bertiga, supporting cast terasa kurang digunakan secara maksimal termasuk Fan Bingbing yang hanya muncul sekitar lima scene padahal kesemuanya merupakan aktor-aktris kaliber yang dimiliki Hongkong.

Sutradara Benny Chan menunjukkan kinerja terbaiknya dengan mengedepankan unsur drama yang dikombinasikan dengan aksi sehingga tidak monoton. Kekurangannya adalah
gambar-gambar lanskap yang tidak disorot secara utuh ataupun laju film yang terkadang terasa dipercepat untuk menyiasati durasi yang semakin melebar. Namun Benny mampu memaksimalkan bujet besar dengan penggunaan spesial efek yang sesuai pada tempatnya tanpa berusaha terlalu destruktif dalam penghancuran kuil Shaolin pada bagian endingnya.
Sebagai tontonan penyambut Imlek 2011, Shaolin memang memiliki banyak keunggulan yang patut diperhitungkan. Terutama filosofi Buddhist yang teramat kental. Bagaimana obsesi dan keserakahan akan kekuasaan dan kekayaan dapat membuat seseorang berbuat apapun juga walau harus terjerumus ke tempat yang teramat rendah sekalipun. Bukankah hukum karma berjalan secara adil dalam kehidupan ini?

Durasi:
125 menit


Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 12 Juni 2010

THE KARATE KID : Berkungfu Demi Beradaptasi Di Lingkungan Baru

Storyline:
Kehidupan sebagai bocah Detroit berusia 12 tahun seketika direnggut dari Dre Parker saat ibunya, Sherry dimutasi dari kantornya ke China. Disana Dre kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya, mulai dari pertemuan tak terduganya dengan Mei Ying yang menyita perhatiannya dan juga Cheng beserta gank karatenya yang kemudian menjadi momok baginya. Di saat kesulitan mencari perguruan kungfu yang tepat baginya, Dre berkenalan dengan tukang serba bisa bernama Mr. Han yang pada akhirnya mengajarinya dasar-dasar kungfu. Saat Turnamen Karate Terbuka dimulai beberapa minggu, Dre harus mempersiapkan dirinya menghadapi seteru-seteru sekaligus rasa takutnya.

Nice-to-know:
Oleh Columbia Pictures didistribusikan dengan judul The Kungfu Kid untuk peredaran internasionalnya.

Act:
Debut layar lebarnya dalam The Pursuit Of Happyness (2006) dipuji banyak orang sehingga Jaden Smith mendapat kepercayaan dalam proyek remake ini sebagai Dre Parker, bocah kulit hitam yang harus beradaptasi dengan dunia Timur.
Karir mega-bintang Hongkong, Jackie Chan diawali Big and Little Wong Tin Bar (1962) dan kali ini bermain sebagai Mr. Han, seorang mekanik dan juga jago kungfu yang menyimpan duka masa lalu.
Taraji P. Henson sebagai Sherry Parker
Wang Zhenwei sebagai Cheng
Han Wenwen sebagai Mei Ying

Director:
Pria asal Belanda bernama Harald Zwart ini menggarap film ke-12 nya setelah karir penyutradaraannya diawali via Gabriel's Surprise (1990).

Comment:
Meskipun bukan film favorit saya di tahun 1980an tetapi cukup membekas dalam ingatan saat Ralph Macchio bersinergi dengan Pat Morita dengan naturalnya. Kali ini Jaden dan Jackie mengulangi pencapaian yang sama kalau tidak mau disebut sedikit lebih baik. Putra Will Smith ini merupakan salah satu calon superstar Hollywood dan penjiwaannya sebagai Dre cukup menjanjikan, tertindas di awal dan berusaha belajar giat untuk mengatasinya. Jackie yang biasa tampil kocak kali ini terlihat tenang sekaligus rapuh sebagai pria paruh baya. Beberapa supporting cast juga tidak kalah mengecewakan terutama Wang yang menampilkan mimik keji dan menyebalkan seorang Cheng. Plotnya setia dengan versi originalnya selain memindahkan setting US ke China dengan setting disesuaikan abad 21 ditambah sedikit sentuhan Cina kuno seperti pengenalan Forbidden City dan Great Wall. Sutradara Zwart melakukan yang terbaik demi menyajikan remake yang baik, tentunya dengan mengurangi elemen-elemen yang dianggap kurang di film aslinya. Jika anda mengharapkan film bertempo cepat dan banyak adegan pertarungan sepanjang durasinya mungkin akan kecewa. Sebaliknya The Karate Kid menyajikan problem kultural, penindasan anak jaman modern, romansa ABG yang wajar, kejar-kejaran di gang sempit, proses latihan kedisiplinan yang unik, turnamen kungfu ke dalam sebuah drama yang juga menyisipkan pesan moral bahwa kegagalan masa lalu dapat disikapi dengan mau bangkit atau tidaknya seseorang dalam hidupnya sendiri.

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$50,000,000 in opening week mid June 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 21 Februari 2010

LITTLE BIG SOLDIER : Nostalgia Jackie Chen dengan Karakter Lawasnya

Storyline:
Seorang prajurit negara Liang berhasil menawan seorang jenderal negara Wei dimana kedua negara tersebut sedang berseteru. Interaksi keduanya sepanjang perjalanan secara tidak langsung berubah dari saling membenci hingga saling menyelamatkan. Tanpa diketahui, adik sang jenderal terus mengikuti jejak kakaknya yang hilang untuk diam-diam merebut tahta. Kini dilema menjadi problem sang prajurit yang harus membawa pulang sang jenderal ke negaranya sekaligus berkumpul dengan keluarganya kembali.


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Polybona Films, Jce Movies Limited dengan bujet kurang lebih 25 juta dollar.


Cast:
Terakhir tampil dalam Spy Next Door yang dibilang orang sebagai bentuk lain dari The Pacifiernya Vin Diesel, Jackie Chan disini bermain sebagai prajurit Liang.
Pernah dipuji saat mendukung Lust, Caution! (2008), kali ini Wang Lee Hom berperan sebagai jenderal Wei.

Director:
Merupakan film kedua bagi Ding Sheng setelah Underdog Knight (2008) yang dibintangi Liu Ye dan Anthony Wong.

Comment:
Sebagai sebuah tontonan, film ini sangat simpel dan mudah dicerna, hingga simpelnya semua karakternya tidak diberi nama samasekali! Dari awal sampai akhir, penonton hanya disuguhi tindak tanduk kocak praktis sang prajurit yang secara real dihidupkan oleh Chen Lung yang memang sudah memainkan karakter serupa selama lebih dari 20 tahun sebelum namanya melejit sebagai legenda hidup pelakon Mandarin di kancah perfilman dunia termasuk Hollywood yang sudah ditaklukkannya. Gaya khas Jackie muncul disini termasuk adegan-adegan slapstick. Konon awalnya Jackie ditawarkan peran sang jenderal tetapi karena faktor usia beralih ke tokoh prajurit. Sedangkan biduan tenar Taiwan, Wang tidak terlalu banyak bereksplorasi sebagai jenderal muda yang idealis dan arogan. Beruntung keduanya berbagi chemistry yang cukup baik. Sepanjang perjalanan, interaksi Chen dan Wang mengalami pertumbuhan yang unik sehingga arah film menjadi sedikit blur. Beberapa pesan sosial juga diselipkan disini. Sayangnya ending Little Big Soldier mungkin terkesan tidak masuk akal dan sangat dipaksakan. Oleh karenanya tidak sedikit penonton yang mengeluh saat meninggalkan bioskop. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 16 Januari 2010

THE SPY NEXT DOOR : Agen Rahasia Sahabat Anak-anak

Quotes:
Bob Ho-If a man marries you, he marries all four of you.
Gillian-Don't forget the pig, the cat, and the turtle.

Storyline:
Sudah lama Bob Ho berkencan dengan tetangganya, Gillian yang memiliki 3 orang anak masing-masing Farren, Ian dan Nora. Sayangnya ketiganya tidak menyukai Bob lebih karena takut ditinggalkan Gillian. Tanpa mereka tahu, Bob adalah seorang agen rahasia Cina yang diutus CIA untuk menghentikan Poldark sebagai tugas terakhirnya. Saat Bob berencana melamar Gillian dan menjalani hidup tenang, Ian tanpa sengaja mengunduh formula super rahasia dari komputer Bob. Poldark yang bebas dan bekerjasama dengan kawanan mafia Rusia kembali ke kehidupan Bob yang harus pontang-panting menyelamatkan calon ketiga anak tirinya yang nakal itu di luar pengawasan ibunya.

Nice-to-know:
Dikarenakan judul serupa sudah pernah digunakan setidaknya dalam dua judul sebelumnya, tim produksi mensponsori kontes manipulasi foto di Worth 1000 untuk menghasilkan imej realistis dari dunia yang dikuasai agen rahasia,

Cast:
Terakhir bermain dalam produksi Cina, The Founding of a Republic (2009), Jackie Chan disini didaulat sebagai Bob Ho, agen rahasia CIA yang harus menghadapi tiga anak bandel calon istrinya
Amber Valletta sebagai Gillian
Madeline Carroll sebagai Farren
Will Shadley sebagai Ian
Alina Foley sebagai Nora
Magnús Scheving sebagai Poldark (as Magnus Scheving)
Billy Ray Cyrus sebagai Colton James
George Lopez sebagai Glaze


Director:
Brian Levant boleh dibilang sutradara spesialis film keluarga segmentasi anak-anak. Layar lebar pertamanya adalah Problem Child 2 (1991) yang disusul dengan Beethoven (1992).

Comment:
Film dibuka dengan potongan klip sepia dari film-film lawas Jackie Chan baik dari Hongkong maupun Hollywood, mungkin untuk mengingatkan saja betapa karir Jackie yang sudah cukup panjang. Atau sebagai excuse jika ia banyak memakai jasa stuntman dikarenakan usia yang sudah semakin menua ataupun gerakannya yang melambat? Mungkin saja. Premis film ini mengingatkan kita pada The Pacifier yang menjual nama Vin Diesel. Banyak kemiripan tetapi Jackie bukanlah Vin, setidaknya style mereka sangat berbeda.
Plotnya bisa diduga, Bob dan Gillian yang jatuh cinta dan harus menghadapi kenakalan ketiga anak janda tersebut sekaligus memerangi musuhnya sendiri di situasi yang serba terjepit. Beruntung Jackie tidak terlalu mengumbar aksinya disini di tengah keterbatasan fisiknya. Ditambah dengan aksesoris kacamata, wajahnya benar-benar terlihat nerdy. Sayang chemistrynya dengan Valetta terasa sangat dipaksakan dan berbagi scene hanya di awal dan akhir saja. Carroll, Shadley, Foley bermain cukup natural walaupun sedikit komikal. Karakter protagonis disini bisa dikatakan tidak penting dan hanya sebagai pelengkap saja.
Beruntung sutradara Levant sangat "paham" formula film keluarga yang fasih dan audience-friendy sehingga The Spy Next Door cukup berhasil sebagai film penghibur keluarga terutama anak-anak yang menjadi target utamanya. Semua adegan aksi beraksen humor yang ditampilkan memang terasa over-the-top and not-so-important tetapi percayalah itu akan cukup menghadirkan tawa asal buang jauh-jauh dahulu ekspektasi anda sebelum menyaksikan film ini.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$24,268,828 till March 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 02 April 2009

THE SHINJUKU INCIDENT : Perseteruan Antar Gang Tionghoa dan Jepang

Cerita:
Komunitas imigran Tionghoa hidup di bawah bayang-bayang Jepang yang tidak mengakui mereka. Adalah Kepala Besi nekad datang ke Tokyo untuk mencari kekasihnya, Xiu Xiu yang belakangan diketahui berganti nama menjadi Yuko setelah diperistri calon ketua Yakuza, Eguchi. Akhirnya Kepala Besi beraliansi dengan Eguchi untuk menjaga daerah Shinjuku bersama teman-teman seperjuangannya. Beberapa kejadian yang tidak terduga membawa Kepala Besi dkk berhadapan dengan kelompok Mafia Jepang dan juga polisi setempat. Bagaimana kemelut tersebut akan berakhir?

Gambar:
Bersetting asli di Shinjuku, film ini terasa real dalam menggambarkan suasana konflik pada masa itu dimana perebutan kekuasaan wilayah antar geng menjadi sajian utama.

Act:
Jackie Chan memulai karir aktingnya sebagai stuntman dalam Fist Of Fury (1972) sebelum memasuki jajaran aktor laga terbesar Hongkong. Disini boleh dibilang peran dramanya pertama tanpa unsur komedi sedikitpun sebagai Steelhead yang tangguh dan setia kawan.
Daniel Wu yang angkat nama lewat Young & Dangerous (1998) kebagian peran Bighead yang semula kalem menjadi kasar temperamental setelah dicederai bos mafia Hongkong sampai kehilangan sebelah tangannya.
Didukung pula oleh dua aktor Jepang, Masaya Kato sebagai Eguchi dan Naoto Takenaka sebagai Inspector Kitano beserta dua aktris cantik China, Xu Jinglei sebagai Yuko dan Fan Bingbing sebagai Lily.


Sutradara:
Sutradara kaliber bernama Derek Yee ini terakhir sukses membesut film aksi Protégé (2007). Pada era 1990an, Derek kerapkali bermain di genre drama roman tetapi pengalamannya tidak perlu diragukan lagi di kancah perfilman Hongkong.

Komentar:
Harus diakui kekuatan film Jackie Chan selama ini adalah aksi komedinya yang sensasional. Tidak demikian dalam film ini dikarenakan Shinjuku Incident berlatar belakang sejarah yang cukup kuat antar China dan Jepang pada masanya. Penjabaran plot cerita yang ditampilkan memang terasa berat walau masih bisa dinikmati dengan baik. Terima kasih pada Derek yang sudah berusaha maksimal melakukan ekplorasi dengan gaya noir. Jajaran cast sendiri bermain lumayan dimana masing-masing berhasil menampilkan emosinya. Tetapi sayangnya kualitas film secara keseluruhan masih belum terlalu spesial apalagi ditambah lagi dengan ending yang menurut saya agak didramatisir dan juga editing yang kurang mulus. Demikian film ini patut tetap harus dihargai karena mengungkap fakta yang ada dengan gaya yang berbeda.

Durasi:
115 menit

Asian Box Office:
PHP 1,980,322 in Philippines till Jun 2009

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!