XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ringgo agus rahman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ringgo agus rahman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Maret 2013

TAMPAN TAILOR : Jatuh Bangun Penjahit Ulung Inspiratif

Penulis: Diaksa Adhistra

Tagline: 
Dia kehilangan segalanya.. Tapi dia tidak pernah kehilangan harapan..

Nice-to-know:
Awalnya akan rilis sekitar bulan Mei-Juni 2013 tetapi dimajukan tiga bulan.

Cast:
Vino G Bastian sebagai Topan
Jefan Nathanio sebagai Bintang
Marsha Timothy sebagai Prita
Ringgo Agus Rahman sebagai Darman

Director:
Merupakan film ketujuh Guntur Soeharjanto setelah Brandal-Brandal Ciliwung (2012).

W For Words:
Sebagian besar di antara kalian pasti sudah pernah menonton The Pursuit Of Happyness (2006) yang diperankan oleh Will Smith dan putranya sendiri. Tak salah jika air mata anda menggenang di akhir film karena haru biru yang berhasil digelorakan dari satu perjuangan mencari penghidupan yang layak. Alim Sudio dan Cassandra Massardi yang bertandem menulis skenarionya memang tidak persis sama karena masih ada penghuni negeri ini yang memiliki kehidupan serupa. Jika tidak percaya coba tengok sekeliling anda secara lebih seksama. 

Jasa menjahit “Tampan Tailor” terpaksa tutup. Sang pemilik, Topan kehilangan segalanya selepas kepergian istrinya termasuk tempat tinggal hingga terpaksa menumpang di rumah sepupunya, Darman dan istrinya yang galak, Atun. Lantas Topan berusaha keras mengambil semua pekerjaan mulai dari calo tiket kereta api, kuli bangunan sampai stuntman film aksi demi menyambung hidup sekaligus menyekolahkan kembali putranya Bintang. Gadis pemilik kios, Prita diam-diam kagum pada upaya pria yang satu itu. Akankah Topan berhasil pada akhirnya?

Suatu kesalutan sendiri dengan sang sutradara yaitu Guntur Soeharjanto alias @toersky yang terang-terangan mengakui kalau karya terbarunya ini memang terinspirasi dari film Hollywood tersebut di atas. Padahal banyak film Indonesia yang terang-terangan menjiplak cerita dari film luar tapi yang membuat film itu sendiri bilang tidak meniru (atau terinspirasi) dari film luar pendahulunya. Guntur juga terampil membesut setiap sudut ibukota yang kerap terlewatkan oleh mata sebut saja stasiun kereta api, flyover yang belum jadi dsb.

Saya pribadi menyukai film ini. Film ini berhasil menggambarkan cerita seorang pria yang berusaha keras untuk menghidupi anaknya walaupun dia sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Tone warna film ini juga lumayan bagus, mewakili sekali dari awal sampai akhir. Kita akan dibuat miris dengan keadaan ayah-anak ini, bahkan jika kalian yang gampang terharu bisa jadi menangis kala menonton film ini. Sayangnya, waktu yang diberikan untuk itu seringkali “diambil”, bisa jadi demi menghindari kesan menye-menye yang terlalu dramatis. 

Ada beberapa artikulasi dialog yang kurang jelas sehingga kita tidak tahu apa yang dibicarakan oleh para pemainnya. Walau demikian, Vino dan Marsha yang juga suami istri di luar layar bermain maksimal sebagai Topan dan Prita. Hanya saja Topan masih terlalu rapi dan klimis menurut pengamatan saya. Si kecil Jefan tak kalah memukau sebagai anak penurut yang penuh empati. Jangan lupakan Ringgo Agus yang berhasil membawa warna tersendiri tanpa harus melucu maksimal sebagaimana biasanya. Tokoh yang sedikit memberi keleluasaan bagi penonton untuk meresapi karakteristik masing-masing.

Tampan Tailor memang sedikit cacat di ending yang terasa antiklimaks. Hubungan ayah anak yang kuat sejak menit pertama seakan berbalik menjadi latar belakang yang tidak istimewa. Sebaliknya romansa yang awalnya bumbu belaka malah menjadi bahan utama. Tak apalah toh kita masih bisa menelaah secara positif sebuah perjuangan hidup inspiratif warga ibukota yang nasibnya kurang beruntung. Tak pelak masih banyak Topan dan Bintang lain di luar sana yang tidak (atau belum) memiliki kesempatan layak untuk setidaknya mencoba peruntungan mereka.

Durasi:
104
menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 16 Agustus 2012

TANAH SURGA KATANYA : Sentilan Nasionalisme Godaan Perbatasan

Quotes:
Dokter Intel: Jadi lagi nasional yang kamu tau apa?
Salman: Kolam susu.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh oleh PT Demi Gisela Citra Sinema dan Brajamusti Films ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 11 Agustus 2012.

Cast:
Osa Aji Santoso sebagai Salman
Fuad Idris sebagai Hasyim
Ence Bagus sebagai Haris
Astri Nurdin sebagai Astuti
Tissa Biani Azzahra sebagai Salina
Ringgo Agus Rahman sebagai Dokter Anwar
Muhammad Rizky sebagai Lized
Deddy Mizwar
Gatot Brajamusti

Director:
Merupakan film kedua Herwin Novianto setelah Jagad X Code (2009).

W For Words:
Deddy Mizwar adalah satu dari sedikit insan senior perfilman nasional yang masih aktif berkarya. Tak hanya sebagai aktor tetapi juga penulis skrip, sutradara hingga produser. Pria yang kini berusia 57 tahun ini terkenal dengan gaya satirnya yang lembut menyentil, tanpa terkecuali skenario garapan Danial Rifki dimana bangku sutradara dipercayakan kepada Herwin Novianto. Premisnya sendiri konon diinspirasi dari lagu lawas tenar milik Koes Plus yang berjudul Kolam Susu. Masih ingat? Jika tidak, film ini akan mengingatkan anda.

Mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia 1965, Hasyim tinggal bersama putra satu-satunya, Haris yang telah memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, Salman dan Salina. Keadaan yang kurang baik di Kalimantan Barat membuat Haris hijrah ke Malaysia dengan membawa Salina. Sedangkan Salman menjaga kakeknya yang sakit-sakitan itu sambil terus belajar pada guru pengganti, Astuti. Titik cerah muncul saat dokter Anwar datang ke desa dengan segala keterbatasan sarana dan obat. Benarkah Indonesia tak lagi layak ditinggali?

















Nasionalisme adalah unsur yang rajin didengungkan dalam film ini. Bukan hanya dari kacamata mantan pejuang lanjut usia tapi juga bocah optimis yang serba kekurangan. Bagaimana Haris menolak dibawa berobat ke Malaysia atau Salman menukar bendera merah putih yang digunakan sebagai kain pembungkus. Mereka adalah contoh manusia-manusia yang lebih memilih hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang. Sepadankah pengorbanan itu dengan balas jasa yang didapat? Jawabannya tentu relatif.

Acungan jempol pantas dilayangkan bagi segenap pendukung film ini yang mampu tampil maksimal. Ringgo yang kocak memberikan aksen tersendiri sebagai dokter kikuk atau Astri yang lemah lembut sebagai pengajar santun. Keduanya terasa mampu menjembatani anak-anak dengan konflik dewasa yang tak dapat begitu saja dipahami. Kekerasan hati Fuad Idris amat bertolak belakang dengan Ence Bagus yang terkesan mudah dibeli.
 Akting natural Osa Aji tak jarang menghadirkan perasaan haru atau trenyuh dalam diri penonton melihatnya.

Saya akan sedikit membantu Deddy Mizwar berpromosi disini dengan menyebut sosis So Nice, Entrostop atau Promag yang untungnya "muncul" di film dalam batas kewajaran. Isu pendidikan, kesehatan, penghidupan antar Indonesia dan Malaysia dihadirkan secara kontras. Adegan dini hari dimana perahu motor membelah sungai Kapuas ketika matahari masih bersembunyi amatlah memorable bagi saya, kombinasi perjuangan dan kepiluan yang membuncah.

Tanah Surga.. Katanya adalah film lokal pengisi libur Lebaran terbaik tahun ini. Kesahajaan tema yang dieksekusi secara terarah. Perbedaan kualitas kehidupan masyarakat di Sarawak dan Kalimantan Barat memang bukan untuk disesali tapi untuk dipelajari, terutama oleh pihak-pihak penguasa yang berkepentingan. Maafkanlah ambiguitas yang terkandung di endingnya dalam upaya menutup setiap subplot yang dibangun sejak awal. Deddy Mizwar dkk sudah memberi contoh konkret lewat media film bahwa "apapun yang terjadi, jangan sampai kehilangan cinta terhadap negeri ini".

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Senin, 11 Juni 2012

DI TIMUR MATAHARI : Mozaik Konflik Papua Minim Fokus

Quotes:
Karena memaafkan adalah pilihan yang paling sempurna daripada menyimpan akar pahit atau balas dendam..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Alenia Pictures ini gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 11 Juni 2012.

Cast:
Putri Nere sebagai Elsye
Lucky Martin sebagai Nyong
Simson Sikoway sebagai Mazmur
Abetnego Yogibalom sebagai Thomas
Laura Basuki sebagai Vina
Lukman Sardi sebagai Pendeta Samuel
Ririn Ekawati sebagai Dr Fatimah
Ringgo Agus Rahman sebagai Ucok
Michael Jakarimilena sebagai Michael

Director:
Merupakan film keempat bagi Ari Sihasale yang mengawali karir penyutradaraannya lewat King (2009).
W For Words:
Alenia Pictures memang sudah menjadi brand sendiri dalam industri perfilman lokal karena konsistensinya melahirkan film anak-anak berkualitas, setidaknya satu setiap tahunnya. Pada 2012 ini, mereka menggarap skrip hasil pemikiran Jeremias Nyangoen mengenai kehidupan di Papua. Sebuah gagasan yang amat menjanjikan karena belum banyak sineas tanah air yang mengambil setting propinsi paling Timur Indonesia tersebut. Nyatanya setelah nyaris dua jam durasinya, saya sedikit menyesali pemberian rating SU untuk film ini karena beberapa adegan dirasa terlalu “keras” bagi anak-anak. Anyone agree with me afterwards?

Lima sahabat yaitu Mazmur, Thomas, Yokim, Agnes dan Suryani tengah menanti kedatangan guru pengganti setelah kekosongan enam bulan di sekolah yang terletak di lapangan terbang tua itu. Sebagai pengganti aktifitas, mereka berupaya mempelajari kehidupan nyata di lingkungan sekitar termasuk dari pendeta Samuel, ibu dokter Fatimah, om Ucok dan om Jolex yang tengah mengerjakan proyek besar. Ketentraman tiba-tiba terusik saat rasa dendam berujung pada pertikaian antar kampung yang menelan banyak korban. Akankah anak-anak tersebut dapat mengubah situasi genting tersebut?

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam cerita bergulir, saya tak kunjung menemukan konstruksi bangunan yang matang. Jeremias tampak terlalu sibuk menyusun subplot disana-sini hingga melupakan satu hal penting yaitu fokus. Tanpa itu, penonton akan merasa terombang-ambing dan pada akhirnya bosan karena tidak memiliki rasa keterikatan terhadap film yang disaksikannya. Tak kurang minimal ada empat “tim” yang dominan porsinya disini yaitu kelima sahabat cilik tersebut di atas, pasangan figur teladan Samuel dan Fatimah, pendatang dengan orientasi bisnis Ucok dan asistennya Jolex serta pasutri ‘beda ras’ Michael dan Vina yang malah tampak saling berbagi frame masing-masing.

Ringgo adalah salah satu satu faktor ‘penyelamat’ kali ini. Setiap kali tokoh Ucok muncul di layar, hampir dipastikan mampu membuat penonton tertawa karena spontanitasnya. Si kecil Simson yang seharusnya mendapat bagian yang paling dominan sebetulnya sudah tampil memikat dengan kepolosannya tetapi konflik yang disematkan padanya masih terlalu biasa seperti halnya suntik imunisasi dan pemakaian kacamata. Lukman Sardi dan Laura Basuki tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Namun siapapun yang berperan sebagai Samuel ataupun Vina rasanya tak akan banyak berpengaruh.

Ale memang tidak kehilangan talentanya dalam menyutradarai. Kesemua anak-anak maupun penduduk asli yang terlibat disini berakting dengan wajar. Adegan pamungkasnya diselesaikan dengan pesan moral yang mengena walau sedikit dipaksakan. Ciri khasnya dalam syut lanskap lokasi pegunungan Papua termasuk Kabupaten Lanny Jaya yang indah dari berbagai sudut pandang masih terlihat. Kolaborasi Dian HP, Aghi Narottama dan Bemby Gusti seakan menyempurnakan komposisi musik yang mengalir syahdu di setiap kesempatan sekaligus memberi nyawa film yang dibutuhkan.
Saya lebih suka menyebut Di Timur Matahari sebagai mozaik potret kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat Papua daripada sebuah film yang utuh. Mungkin dapat disimpulkan, pendidikan rendah merupakan faktor utama terjadinya semua konflik yang diusung dalam film ini. Isu rasisme, perdamaian, perbedaan budaya, pemerataan bahan pangan dan pemberlakuan hukum adat secara ketat juga sempat dihadirkan demi memperkaya wacana yang ingin disampaikan oleh filmmaker. Sebuah niat baik yang patut dihargai untuk ditelaah lebih jauh menjadi pembelajaran bersama meski belum terlahir dalam proses eksekusi yang memadai.

Durasi:
114 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 31 Agustus 2011

GET MARRIED 3 : Ketidaksiapan Ayah Kekhawatiran Ibu

Quotes:
Rendy: Kalo tahu penontonnya banyak, aku bisa lebih banyak atraksi tadi


Storyline:
Bertahun-tahun sudah, Mae dan Rendy kini sudah memiliki tiga bayi yang lucu-lucu, masing-masing diberi nama Mark, Oprah dan Hanung. Kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena Mae malah mengalami baby blues syndrome yang membuatnya terus-menerus menangis. Rendy yang khawatir langsung mengutus Guntoro, Beni, Eman untuk menemani keseharian Mae. Campur tangan juga datang dari ayah ibu Mae serta ibu Rendy yang memiliki gayanya masing-masing. Semua mulai porak poranda saat Rendy nekad mendatangkan Eyang Mae dari Arab hingga berujung pada pertengkaran Mae dan Rendy karena Rendy dinilai tidak becus sebagai ayah dan suami sekaligus. Akankah keduanya dapat kembali rukun seperti sediakala?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 25 Agustus 2011.

Cast:
Nirina Zubir sebagai Mae
Fedi Nuril sebagai Rendy
Amink sebagai Eman
Ringgo Agus Rahman sebagai Beni
Deddy Mahendra Desta sebagai Guntoro
Meriam Bellina
Jaja Mihardja
Ira Wibowo
Ratna Riantiarno

Director:
Merupakan film ke-8 Monty Tiwa yang diawali lewat Maaf, Saya Telah Menghamili Istri Anda (2007).

Comment:
Satu sekuel sudah merupakan pertaruhan tersendiri, apalagi jika tidak melampaui kesuksesan prekuelnya dari segi kualitas maupun perolehan jumlah penonton. Jika dilanjutkan dengan sekuel keduanya? Nah ini tentu keberanian seorang produser bernama Chand Parwez Servia untuk melakukannya. Namun melihat Get Married sudah memiliki fan base khusus, rasanya keputusan tersebut tidak dibuat secara mentah-mentah.
Musfar Yasin yang mengangkat tema cinta beda kasta dalam Get Married, tugasnya dilanjutkan oleh Cassandra Massardi dalam dua sekuelnya kemudian yang masing-masing mengetengahkan topik kesulitan memperoleh keturunan dan problematika baby blues syndrome. Yang terakhir ini boleh dibilang terlalu ringan untuk dieksplorasi panjang lebar, untuk itu dibutuhkan tambahan konflik lawas nan klise dalam sebuah hubungan suami istri yaitu kepercayaan!
Pergantian sutradara dari Hanung Bramantyo ke Monty Tiwa juga memberikan kontribusi yang signifikan. Monty di mata saya adalah sutradara bertalenta yang angin-anginan, ia bisa bagus dengan karya jelas, bisa juga buruk dengan karya tak tentu arah. Kali ini Monty tampaknya sudah berusaha menyuguhkan unsur drama dan komedi tontonan keluarga yang seimbang sehingga minus-minus yang terjadi tidak boleh ditimpakan lagi kepadanya.
Entah mengapa tokoh Rendy “ditakdirkan” untuk selalu berganti dari awal sampai sekarang. Jika sebelumnya dua tokoh “Indo”, kali ini pilihan justru jatuh pada Fedi Nuril! Khusus akting, saya tidak meragukan aktor yang satu ini tetapi membayangkannya memiliki pesona yang sama dalam balutan komedi? Nanti dulu. Terbukti sepanjang satu setengah jam, Fedi tidak konsisten melakukannya, terkadang lucu (sebagian atas bantuan dialog) sedangkan sisanya canggung!
Lain halnya dengan Nirina, Desta, Ringgo, Amink yang sudah memiliki keterikatan dengan peran masing-masing. Jujur saja tidak ada yang baru dari apa yang mereka tampilkan disini. Fakta bahwa semua faktor komedik yang sudah terduga itu memang tidak lagi menyenangkan untuk sebuah film komedi. Apabila digambarkan dalam grafik, maka tinggal bayangkan sebuah kurva menukik tajam yang tinggal menunggu waktu untuk keluar dari titik nadir sekalipun.
Meski secara keseluruhan masih memenuhi standar hiburan film liburan, Get Married 3 terasa sekali menyeret penonton (yang sebenarnya datang ke bioskop sudah dengan perasaan apatis) untuk terus mengikuti sajian basi dengan bumbu yang tidak lagi menggugah selera. Andai masih ada pihak yang berupaya memperpanjang nyawa franchise ini di kemudian hari, saya sangat merekomendasikan format sinetron saja. Setidaknya penghasilan dari slot iklan adalah ide yang jauh lebih baik dibandingkan merampok orang untuk membayar karcis bioskop.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 30 Desember 2010

3 PEJANTAN TANGGUNG : Misi Dadakan di Daratan Borneo

Storyline:
Gaya hidup hedonis tiga sahabat yakni Harta, Angga dan Kris dapat dikatakan memuncak padahal kewajiban menuntaskan kuliah dengan tenggat waktu skripsi sudah di depan mata. Pada suatu malam setelah clubbing dan mabuk, mereka terbangun di sebuah kapal asing terombang-ambing di lautan. Sesampainya di daratan yang belakangan diketahui bernama Borneo itu, ketiganya bertemu Kepala Suku yang bijaksana dan memperlakukan mereka sebagai tamu. Sayangnya Angga dan Kris tanpa sengaja menyebabkan kebakaran gubuk yang mereka tempati. Kontan ketiganya dihukum untuk kerja bakti sebelum boleh kembali ke Jakarta. Tak lama kemudian, Harta berjumpa Riana, mahasiswa Kedokteran yang juga putri Kepala Suku. Di sisi lain seorang pengusaha bernama Handoyo tengah mengincar tanah setempat untuk dibangun ulang. Akankah petualangan ketiganya membawa babak baru dalam kehidupan mereka?.

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 23 Desember 2010.

Cast:
Ringgo Agus Rahman sebagai Harta
Deddy Mahendara Desta sebagai Angga
Dennis Adhiswara sebagai Kris
Siti Anizah sebagai Riana
Joe P-Project sebagai Handoyo
Piet Pagau sebagai Kepala Suku

Director:
Baru saja menyelesaikan Senggol Bacok beberapa bulan lalu, Iqbal Rais kembali lagi dengan genre komedi yang masih mengandalkan aktor-aktor kesayangannya.

Comment:
Saya harus akui plot cerita film ini menarik, terlepas dari intervensi pengaruh beberapa film asing yang juga mengangkat tema serupa. Sah-sah saja jika mampu dikombinasikan secara baik dengan unsur lokal. Kali ini Iqbal menggabungkannya dengan setting Samarinda yang memang menjadi kota kelahirannya. Berbagai unsur budaya setempat disajikan dengan natural tanpa ada unsur paksaan sama sekali, lengkap dengan setting hutan dan desanya. Perfilman nasional rasanya cukup beruntung memiliki sutradara muda satu ini yang selalu hadir dengan ide dan kreatifitasnya yang tidak melulu itu-itu saja, mengingat sepanjang 2010 penonton sudah cukup muak disodorkan tema yang serupa tapi tak sama.
Plot yang demikian unik tentu saja akan sia-sia jika tidak tereksekusi dengan baik. Dan film ini memiliki kelemahan yang cukup kentara terutama dari segi karakterisasinya. Harta, Kris dan Angga nyaris tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengeksplorasi "perangai" masing-masing meskipun waktunya sangat tersedia. Bahasan karakter ketiganya hanya dilakukan secara naratif di prolog film. Diperburuk lagi oleh trio Ringgo, Desta dan Dennis yang sayangnya kali ini kurang ampuh mengeluarkan "jurus-jurus" andalan mereka. Bisa jadi hal ini disebabkan terlalu seringnya Ringgo-Desta berakting dalam genre komedi selama beberapa tahun terakhir apalagi duet keduanya juga kerapkali terjadi di beberapa judul diantaranya. Memang disayangkan terlebih kehadiran aktor senior Piet yang sudah lama absen sudah menjadi nilai plus tersendiri disini.
Premis utama film yang sudah cukup menjual di awal menjadi keteteran memasuki pertengahan durasi. Antusias dan rasa penasaran penonton akan endingnya bisa jadi terganggu karena kelemahan-kelemahan mendasar yang saya sebutkan di atas. Seumpama kapal yang berlayar tanpa riak ombak, datar-datar saja. Alhasil 3 Pejantan Tanggung tidak mampu memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya sebagai film penutup tahun 2010 sebagai film komedi dengan misi budaya terselubung.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 04 November 2010

SENGGOL BACOK : Perseteruan Pertaruhkan Cinta dan Harga Diri

Quotes:
Donny-Gua kan minggu depan mau nikah sama Laras, masa loe gak datang sih? Gak enak dong sama Pak RT apalagi loe udah sering nyelakain dia!

Storyline:
Pria tanpa rasa takut, Galang bertekad mengadu nasib di Jakarta setelah mengetahui tunangannya hamil oleh bosnya di Bandung. Sampai Jakarta, Galang bertemu teman baru yang juga seorang pengamen bernama Disko. Lewat Disko juga, Galang berhasil ngekost di rumah Ibu Siti. Tidak butuh waktu lama bagi Galang untuk menemukan pekerjaan apalagi bosnya Audrey yang cantik seperti menaruh perhatian padanya. Namun Galang tetap memilih Laras, gadis manis tetangganya yang juga putri Pak RT. Tidak lama kemudian datanglah penghuni kos baru, Donny yang sepintas kalem tetapi sesungguhnya culas luar biasa. Donny berupaya merebut Laras sambil menimpakan kesialan demi kesialan bagi Galang. Akankah Galang terpancing emosi untuk menghajar Donny?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI tanggal 1 November 2010 yang lalu.

Cast:
Baru saja tampil sebagai aktor pendukung dalam Aku Atau Dia pekan lalu, Ringgo Agus Rahman kali ini berperan sebagai Donny yang menyebalkan dan menghalalkan segala cara untuk menang.
Tepat setahun setelah bermain dalam Serigala Terakhir, Fathir Muchtar disini kebagian tokoh Galang yang pemarah dan selalu menuruti emosinya untuk menyelesaikan semua masalah.
Kinaryosih sebagai Laras
Joe P-Project sebagai Pak RT
Kunto Aji sebagai Disko
Rima Melati sebagai Nenek Galang


Director:
Terakhir menggarap drama komedi romantis Sehidup (Tak) Semati, Iqbal Rais kali ini memaksimalkan sebuah komedi murni yang berbeda gayanya.

Comment:
Ada dua hal yang kontradiktif saat berniat menyaksikan film ini yaitu keyakinan saya bahwa seorang Iqbal Rais tidak pernah menghasilkan film yang buruk dan ketidakyakinan saya akan kualitas komedi lokal belakangan ini yang semakin terpuruk.
Melihat poster film ini, belum ada bayangan filmnya akan seperti apa. Namun pemasangan Fathir dan Ringgo untuk berduet rasanya cukup langka. Apalagi ditambah dengan nama Kinaryosih. Hmm.. Masihkah bercerita tentang perseteruan memperebutkan cinta segitiga yang klise seperti biasanya? Untungnya tidak karena film ini mengusung sesuatu yang lebih penting dari itu yakni pengendalian diri! Jika ada seseorang yang menginjak-injak anda sedemikian rupa hingga terpuruk sedalam-dalamnya, tentunya anda mempunyai dua pilihan sikap mulai dari responsif atau non-reaktif.
Kedua pilihan tersebut dijalankan tokoh Galang. Jika pada paruh pertama ia memilih responsif dengan mengandalkan nafsu berkelahinya maka pada paruh kedua dia memutuskan untuk non-reaktif yaitu mengendalikan emosinya. Fathir yang jarang bermain film cukup meyakinkan menampilkan dua hal berbeda tersebut. Penampilannya yang cool sekaligus ofensif terlihat nyata walau terkadang ekspresi yang dibawakannya tidak cukup konsisten. Sedangkan sang pemicu Donny diperankan dengan sangat jitu oleh Ringgo. Kekonyolannya yang memancing emosi diperlihatkan secara tepat sehingga memancing penonton untuk tertawa sekaligus antipati terhadapnya. Cukup surprise melihat akting Ringgo yang berkembang baik disini dibandingkan biasanya. Love interest keduanya, Laras dilakoni Kinaryosih dengan gaya jinak-jinak merpati yang tampaknya “aman-aman” saja. Dari karakter pendukung, Kunto Aji, si kribo jebolan Indonesian Idol rasanya cukup mencuri perhatian dengan keluguan dan kesetiakawanannya.
Tampaknya Iqbal cukup pintar untuk tidak membiarkan Senggol Bacok menjadi komedi yang sekadar lalu lalang saja. Subplot yang ia hadirkan secara silih berganti cukup solid untuk mendukung jalinan cerita. Belum lagi twist yang lumayan mengejutkan sengaja disimpan di akhir cerita untuk membacok logika penonton dengan sukses. Humorisme yang diusung disini mungkin berhasil menyenggol syaraf anda untuk tertawa spontan meski tidak akan sampai terpingkal-pingkal dibuatnya. Tertarik menyaksikannya? You’d better be!

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 29 Oktober 2010

AKU ATAU DIA : Misi Kembali Ke Pelukan Mantan Pacar

Storyline:
Hubungan panjang Dafi dan Novi yang terjalin sejak kuliah menjadi kandas setelah Dafi memasuki dunia kerja. Tawaran partnership di law firm milik Amara tampaknya lebih menarik bagi Dafi apalagi Amara memberikan perhatian khusus padanya. Novi yang kecewa lantas menyewa jasa Heartbreak.Com yang dipimpin Mbak Eliza untuk memenangkan hati Dafi kembali. Tentunya Mbak Eliza tidak sendirian dan mengutus Rama untuk berpura-pura sebagai pacar Novi untuk mengusik perhatian Dafi. Semua berjalan lancar apalagi Novi juga dibantu saudara-saudaranya Pipit, Wawan dan Asep yang kompak. Namun akankah semua yang sudah rusak bisa dengan mudah diperbaiki?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh One Star Productions dan gala premierenya dilangsungkan di Djakarta Theatre tanggal 16 Oktober 2010 yang lalu.

Cast:
Fedi Nuril sebagai Rama
Julie Estelle sebagai Novi
Rizky Hanggono sebag
Terbitkan Entri
ai Dafi
Ringgo Agus Rahman sebagai Asep
Ananda Omesh sebagai Wawan
Aline Adita sebagai Amara
Sophie Navita sebagai Mbak Elza
Alex Abbad sebagai Felipe
Edo Borne
Lukman Sardi
Yama Carlos

Director:
Masih ditangani oleh Affandi Abdul Rachman yang juga menggarap prekuelnya Heartbreak.Com

Comment:
Akhir tahun lalu ada sebuah drama komedi romantis lokal yang nilainya di atas rata-rata meskipun plotnya tidak terlalu orisinil. Itulah Heart-break.com yang dibintangi Ramon dan Raihaanun pada waktu itu.
Nyaris setahun kemudian muncul sekuelnya yang ditulis Affandi bersama Nataya Bagya dengan background cerita yang kurang lebih sama. Bedanya kali ini pihak wanita yang merasa tersakiti dan membutuhkan jasa Heart-break.com tersebut. Dan Julie Estelle lah yang mendapat tugas tersebut dan sebagai leading lady ia berhasil membagi peran dipasangkan dengan siapapun di setiap scenenya. Lihat transformasi karakter Novi di awal cerita yang rapuh dan tak berdaya menjadi tegar dan rasional di akhir cerita. Demikian juga dengan Fedi yang sedikit memberikan aksen berbeda dari peran-peran biasanya, karakter Rama dibawakannya dengan spontanitas yang natural. Cukup lama absen dari layar lebar, Rizky juga menunjukkan kharisma tersendiri sebagai Davi yang labil dan bimbang menentukan pilihan antara cinta dan karirnya.
Apresiasi patut diberikan pada sutradara Affandi yang mampu menekankan karakterisasi tokoh-tokohnya dengan maksimal dan menegaskan porsi yang seimbang di antara mereka. Maka dari itu meski trio Julie-Rizky-Fedi yang menjadi sentral cerita, aktor-aktris lainnya berhasil mencuri perhatian di setiap scene yang dipercayakan. Lihat bagaimana kocaknya duet Omesh dan Ringgo yang bodoh tetapi setia saudara. Sebagai kru inti Heart-break.com trio Sophie-Edo-Lukman juga tergolong konsisten dengan gaya khas masing-masing.
Keseluruhan elemen yang bersinergi dengan pas itu menjadikan Aku Atau Dia sebuah sekuel yang tergarap baik dan mampu meneruskan rasa gemas dan haru yang sama dalam menyaksikannya. Kelemahan justru terasa pada unsur non teknis dimana sinematografi yang dihadirkan terasa kurang maksimal, lebih disebabkan pada pencahayaan dan pengadeganan yang tidak stabil. Belum lagi produk-produk sponsor yang hadir terlalu dominan sampai seakan menjadi warna utama film. Endingnya mungkin menyenangkan penonton tapi bagi saya masih menyimpan beberapa pertanyaan dasar yang seharusnya bisa dituntaskan dengan tepat. Bagaimana menurut pendapat anda?

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 15 Oktober 2010

PERJAKA TERAKHIR 2 : Mewarisi Kitab Pusaka Perguruan Silat

Storyline:
Lewat sebuah peristiwa pengutilan di supermarket tempatnya bekerja, Sam berkenalan dengan hansip yang sedang berkeliling, Sugeng. Kebetulan perguruan silat yang membesarkan Sam sedang mencari pemuda bertampang culun yang tiada berkemampuan untuk dijadikan murid. Ki Geledek, Bu Topan Mas Petir sepakat mengajari Sugeng semua ilmu-ilmu dasar yang harus dikuasainya. Namun tantangan semakin berat saat Ki Wedan yang menuntut balas dendam akan sakit hatinya kembali mengincar Kitab Pusaka perguruan Sam. Akankah Sam dan Sugeng berhasil bersatu menghadapi gempuran Ki Wedan yang kian tangguh itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Diwangkara Pictures.

Cast:
Fahrani sebagai Sam
Ringgo Agus Rahman sebagai Sugeng
Barri Bintang sebagai Ki Wedan
Barry Prima
Joe Project
Weni Rosaline

Director:
Jacki

Comment:
Masih dengan mengandalkan nama Fahrani untuk mendongkrak film ini. Jika di film pertamanya ada Aming yang kemayu, disini ada Ringgo yang culun. Tidak jauh berbeda, bukan? Dalam artian sama-sama untuk ditertawakan. Dalam menampilkan mimik konyol, Ringgo memang jagonya, mulai dari nyengir, mesum, serius bisa dilakoninya dengan baik. Fahrani kali ini banyak mengumbar tatonya yang terpampang di berbagai bagian tubuhnya yang langsing dan jenjang itu, tentu saja hanya dari bagian belakang. Selain mereka masih ada Barry Prima yang sekali lagi mempertontonkan sedikit kemampuan berlaganya. Lalu ada juga Barri Bintang yang terlihat cukup meyakinkan dengan jaket kulit serba hitamnya.
Sutradara Jacki dapat dikatakan berhasil memaksimalkan efek-efek pertarungan dengan seheboh dan seseru mungkin. Coba lihat adegan menghindari helm di openingnya, sedikit meniru The Matrix dengan stop motionnya. Atau batu-batu yang beterbangan di closingnya, mengingatkan pada film-film Stephen Chow semacam Kungfu Hustle dsb.
Semua konklusi di atas seakan menguatkan alasan anda untuk menonton sekuel ini. Namun nanti dulu, saya belum selesai. Permasalahan utama film ini adalah eksekusi yang sangat tidak maksimal sehingga sinematografi yang dihadirkan tak lebih dari kualitas FTV. Plot ceritanya yang terlalu simpel sebetulnya tidak bisa disalahkan jika disiasati dengan baik, tetapi semuanya mengalir secara linier tanpa jeda dari awal sampai akhir tanpa mempedulikan penonton yang mungkin saja sudah merasa jenuh pada menit-menit awal. Entah mengapa saya merasa aktor-aktrisnya sangat tidak camera-face disini, mungkin karena permainan kamera yang kurang maksimal mengcover sisi-sisi yang seharusnya tidak ditampilkan. Dari sisi humor lebih parah lagi karena formula yang digunakan teramat sangat kadaluarsa, seakan penonton sudah melihat hal serupa ribuan tahun yang lalu. Pemakaian angka 2 di belakangnya samasekali tidak relevan karena tidak berkorelasi apapun dengan Perjaka Terakhir sebelumnya. Entah apa yang berusaha dijual dari film yang kelewat ringan seperti sehelai bulu kemoceng tertiup jauh setelah dilintasi truk bermuatan penuh sampah ini.

Durasi:
75 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 12 Februari 2010

NGEBUT KAWIN : Supir Taksi "Terpaksa" Menikahi TKW

Storyline:
Hidup pas-pasan sebagai supir taksi tidak membuat Ones bermalas-malasan. Ia tetap bekerja keras terutama untuk membahagiakan engkongnya yang sudah sangat lanjut usia hingga meminjam uang 5 juta rupiah demi membeli kursi pijat modern! Kalut didera hutang, pada suatu hari Ones bertemu Ningsih, TKW yang baru pulang dari Arab Saudi dan berniat pulang kampung ke Indramayu. Diiming-imingi 5 juta rupiah, Ones tergiur mengantar Ningsih. Komunikasi pun mulai terjalin diantara keduanya. Berjam-jam perjalanan ditempuh tidak membuat masalah Ones selesai begitu saja, Ningsih memohon agar Ones berpura-pura menjadi calon suaminya di hadapan kedua orangtuanya yang sebetulnya sudah memiliki calon lain yaitu Cecep, pemuda setempat yang kaya raya. Cecep pun menantang Ones untuk menjalani fit and proper test demi menentukan siapa yang terbaik diantara mereka. Berhasilkah Ones menjawab tantangan tersebut sekaligus melunasi hutangnya pada bos Rambo?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MD Pictures.

Cast:
Kembali dengan peran lucu setelah terakhir dalam Bukan Malin Kundang, Ringgo Agus Rahman kali ini berperan sebagai supir taksi bernama Ones yang bernasib kurang baik karena dikejar hutang.
Film keenamnya bagi Wiwied Gunawan terlepas dari kesuksesan dwilogi Kawin Kontrak. Disini ia bermain sebagai TKW bernama Ningsih yang dituntut kawin oleh kedua orangtuanya.
Lagi-lagi kebagian karakter menyebalkan, Vincent Rompies sebagai Cecep, perjaka desa kaya raya yang penuh tipu muslihat.
Jangan lupakan kehadiran aktor-aktris senior macam Kadir, Ira Wibowo, Doyok, Harry de Fretes, Hengky Soelaiman sampai Boneng.

Director:
Pernah sukses dengan duet Luna Maya dan Tora Sudiro dalam Cinlok (2008), Guntur Soeharjanto kembali dengan film beraroma komedi romantis.

Comment:
Dari ide cerita tidak ada yang baru karena sudah berkali-kali diketengahkan oleh film2 Hollywood ataupun Korea. Hanya saja penggarapan yang dilakukan Guntur terbilang menyegarkan apalagi dengan tone warna hijau yang dominan sepanjang film mulai dari warna taksi, seragam Ones hingga suasana pedesaan yang kental kealamiannya. Pemasangan Ringgo dan Wiwied bisa disebut fresh karena belum pernah terpikirkan sebelumnya. Walaupun chemistry diantara keduanya tidak terlalu pas tapi mereka berhasil menguasai scene-scene bersama dengan gaya humornya masing-masing. Vincent lagi-lagi terjebak dengan peran stereotype pemuda terpandang yang menyebalkan dengan improvisasi yang itu-itu saja. Dikhawatirkan lama kelamaan penonton akan bosan padanya. Terima kasih pada segerombolan bintang lawas yang turut memberikan andil positif bagi jajaran cast yang ada. Sulit memberi rating film ini karena berada di antara 6.5 dan 7. Pada akhirnya Ngebut Kawin bisa dikategorikan komedi menghibur dengan unsur-unsur pembentuk yang setidaknya dijelaskan ini itunya walaupun ada kesan agak dipaksakan.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 24 Desember 2009

BUKAN MALIN KUNDANG : Komedi Parodi Kutukan Anak Durhaka

Quotes:
Nenek Rapiah-Anak muda..

Cerita:
Tiga sahabat, Rian, Ado dan Luna memiliki hobi yang sama yaitu bolos kuliah dan bersenang-senang juga menghindari keluarga. Ado dimaklumi karena ia hanyalah satu dari sekian banyak anak orangtuanya. Luna malah terlalu dijaga ayah-ibunya hingga ingin berontak. Sedangkan Rian yang hidup bersama orangtua tunggal kerapkali memperlakukan ibunya semena-mena. Pada suatu ketika saat Rian sedang menyetir tidak sabar melihat seorang nenek tua yang berjalan lambat di depan mobilnya. Timbul niat iseng mereka bertiga untuk mengikat nenek tersebut di tiang listrik tanpa menyadari sang nenek mengucapkan sumpah serapah. Sesampainya di rumah, Ryan terkejut mendapati patung seorang wanita di kamar ibunya yang disertai dengan menghilangnya sang ibu. Berusaha mencari jawaban atas keanehan tersebut, seorang dukun menyarankan mereka mencari sang nenek yang belakangan diketahui bernama Rapiah itu untuk mencabut kutukannya kembali.

Gambar:
Rumah Ado, Luna dan Rian mendapat sorotan yang berharga disini termasuk lokasi panti jompo yang didominasi nenek-nenek dengan berbagai karakter.

Cast:
Sissy Priscillia terakhir mendukung trio juga dalam Krazy Crazy Krezy kali ini kebagian peran Luna yang dimanjakan orangtuanya hingga berontak di luar.
Kerjasama kedua Ringgo Agus Rahman dan Desta di tahun ini setelah Get Married 2 sebagai dua sahabat, Rian yang manja dan Ado alias Fernando yang pasrah.
Sebelumnya menjadi preman gemulai dalam Perjaka Terakhir, disini Aming memegang karakter Nenek Rapiah yang judes dan "sakti".

Sutradara:
Sutradara muda kelahiran Samarinda, 21 Januari 1984, Iqbal Rais masih di zona nyamannya yaitu drama komedi terutama setelah mendulang kesuksesan besar lewat dwilogi The Tarix Jabrix yang memunculkan ikon tersendiri itu.

Comment:
Plot ceritanya merupakan twist dari legenda tradisional Malin Kundang yg terkenal sejak dulu kala itu. Pengembangan ceritanya memang cukup menarik tetapi masih terlalu menggampangkan logika sehingga terkesan norak dan dibuat-buat. Sang sutradara memang pernah berhasil dalam genre komedi yaitu dwilogi Tarix Jabrix lebih karena faktor para personil The Changcuters. Namun dengan trio Desta, Sissy, Ringgo nanti dulu. Mereka terbukti bisa melucu disini dengan polah tingkah lakunya tetapi imejnya terlalu komikal, entah karena tuntutan skrip atau apa. Aming terlihat kreatif dengan kostum dan make-up nya sehingga terlihat meyakinkan sebagai perempuan tua, tetapi yang parah gaya khasnya masih belum berusaha dihilangkan untuk benar-benar menjadi orang lain di luar kebiasaan dirinya. Pesan moral yang ingin disampaikan cukup mengena meski lewat proses yang aneh. Alhasil Bukan Malin Kundang yang katanya dipersiapkan untuk menyambut hari Ibu ini pada akhirnya akan dilupakan orang begitu saja setelah cukup menghibur hanya pada paruh pertamanya.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!i

Selasa, 22 September 2009

GET MARRIED 2 : Kehamilan Dan Harmonisme Yang Ditunggu-tunggu

Cerita:
Empat tahun sudah, pesta pernikahan 4 hari 4 malam Mae dan Rendy berlalu. Kehidupan rumah tangga mereka terusik saat Mae tak kunjung hamil dikarenakan Rendy yang terlalu sibuk dengan bisnisnya. Sedangkan 3 sahabat Mae yaitu Eman, Beni dan Guntoro sudah memiliki anak dari istrinya masing-masing. Kepusingan Mae bertambah karena ayah dan ibunya mengultimatum agar ia segera hamil atau terpaksa diceraikan dengan Rendy! Berbagai cara sudah Rendy dan Mae coba tetapi belum berhasil sehingga terpaksa pisah untuk sementara waktu. Rendy yang berusaha keras mempertahankan usahanya sekaligus pernikahannya pun memutar otak agar bisa mencari jalan terbaik. Akankah semua kembali normal seperti kebahagiaan awal?

Gambar:
Adegan-adegan komikal dengan konsep komedi jaman dahulu masih setia dipertunjukkan disini. Setting kampung yang dominan di film pertama kini ditambah dengan suasana perkantoran Rendy yang modern.

Act:
Dengan kondisi perut hamil 4 bulan, Nirina Zubir tetap melanjutkan peran Maemunah yang tomboy dan blak-blakan. Sangat sesuai dengan pengembangan karakterisasinya disini.
Menggantikan Richard Kevin sebagai Rendy, Nino Fernandez awalnya sempat terlihat canggung tetapi semakin membaik mulai pertengahan sebagai seorang eksekutif muda yang dituntut menjaga keutuhan keluarganya juga.
Trio Ringgo Agus Rahman, Desta Club 80's dan Aming masih setia dengan peran tiga sahabat Mae sejak kecil yang kocak dan setia kawan.
Ira Wibowo, Jaja Mihardja, Meriam Bellina tetap mengisi karakter orangtua Mae dan Rendy dengan sifatnya masing-masing.


Sutradara:
Meski mengaku benci dengan film sekuel, Hanung Bramantyo akhirnya tetap percaya diri menangani langsung Get Married 2 ini dalam waktu 4 bulan. Alasan utamanya adalah skenario yang dianggapnya memuaskan hasil kolaborasi dengan penulis cerita Cassandra Massardi ini.

Komentar:
Dari segi kreatifitas, Get Married 2 rasanya masih bisa diandalkan untuk meneruskan sukses Get Married yang menjadi film lokal terlaris di tahun 2007. Tapi apakah semudah itu melanjutkan film yang sudah memiliki nama besar? Meski ditangani oleh tim yang sebagian besar sama termasuk sutradara bertangan dingin, hasil akhir Get Married 2 tidaklah sama. Kekurangan utama terletak dari segi sinematografi yang miskin sehingga dari awal sampai akhir, film seperti terseret-seret mengikuti alurnya. Penggunaan narasi yang terlampau sering tidak membantu samasekali. Beruntung kekompakan pemainnya dan pengembangan karakternya cukup terjaga. Plot cerita masih ok lah, terasa wajar dan masuk akal. Soundtrack juga lumayan membantu meski tidak menggigit seperti dulu. Kehebohan yang ditampilkan juga terasa dibuat-buat, berbeda dengan prekuelnya. Secara keseluruhan agak membosankan walaupun masih bisa menghibur seantero keluarga.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 12 Mei 2009

JANDA KEMBANG : Gadis Misterius Pengundang Polemik Pinggir Kota

Cerita:
Gadis cantik misterius bernama Selasih datang ke desa Pulo Bantal untuk menghadiri pernikahan ketiga teman baiknya. Kontan warga desa geger dengan kecantikan Asih yang disinyalir janda kembang termasuk dua remaja tanggung, Fadli dan Radja. Kekosongan penyanyi di bandnya membuat Dodirama secara dadakan meminta Asih bernyanyi di panggung. Tak nyana Asih langsung disukai dan menjadi penyanyi tunggal meski membuat istri Dodirama, Yuli Nada cemburu. Kejadian demi kejadian berujung pada insiden wanita-wanita sedesa yang mengamuk dan berniat mengusir Asih dari Pulo Bantal. Siapa Asih sesungguhnya dan apa tujuannya datang ke Pulo Bantal?

Gambar:
Suasana pinggir kota ditampilkan menarik secara visual lengkap dengan atribut desa yang cukup mencolok.

Act:
Luna Maya terakhir main film hampir setahun lalu dalam Cinlok. Kali ini sebagai Selasih, Luna dituntut bernyanyi dangdut beberapa hit populer sembari menyembunyikan identitas aslinya yang misterius dengan cara lebih banyak bungkam.
Ringgo Agus Rahman sebagai Dodirama, pemimpin band yang menaruh hati pada Asih tapi seringkali berdalih untuk menyelamatkan statusnya di hadapan keluarga.
Sarah Sechan sebagai Yulinada, istri Dodirama yang hobi cegukan. Cemburu membuat Yuli menghasut warga sekitar dan seringkali bertengkar dengan suaminya itu.
Edric Tjandra sebagai Iwet, sepupu Asih yang kemayu.
Esa Sigit dan Rifat Sungkar sebagai duo sobat remaja Fadli dan Radja memperlihatkan akting yang natural.
Didukung juga oleh Sita Nursanti, Joe P Project, Joshua Pandelaki dll.

Sutradara:
Nama Lakonde bisa jadi teramat asing. Debut penyutradaraanya langsung mendapat supervisi dari sutradara pencetak box office, Hanung Bramantyo. Hasilnya? Janda Kembang terasa membumi dan cukup mudah diterima oleh penonton dari berbagai kalangan.

Komentar:
Sangat diinspirasi oleh film Italia, MALENA yang dibintangi Monica Belucci. Tapi tidak lupa unsur lokal masih ditonjolkan terutama lewat musik dangdut. Plot cerita yang dibangun sejak awal film memang menarik tapi sayang bangunan cerita masih kurang terkonstruksi dengan rapi sehingga banyak menyisakan lubang yang tak terjawab. Paling fatal terasa di ending dimana diselesaikan dengan begitu mudah dan penonton dipersilahkan mereka-reka sendiri. Hm, nikmati saja penampilan cantik Luna Maya bernyanyi dangdut dengan aransemen baru yang cukup menggigit.

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 27 April 2009

ANAK SETAN : Tanda Lahir Gadis Pembawa Petaka?

Cerita:
Ditunjuk menjadi kepala Rumah Sakit Jiwa Cempaka membuat Gabriel harus mengemban tugas sulit karena kepala RS sebelumnya, Pak Sanusi tewas bunuh diri tanpa sebab dan meninggalkan beberapa urusan yang terbengkalai. Dibantu beberapa orang staf nya, Gabriel mulai membereskan rumah sakit tersebut hingga akhirnya menemukan seorang remaja perempuan terpasung di sebuah kamar rahasia yang bernama Stella. Dibantu mantan kekasih Gabriel, Panji mereka bertekad mengembalikan Stella ke dunia yang seharusnya dengan bersekolah dan mendapat perhatian dari orang-orang terdekatnya. Sayang yang mereka berdua tidak ketahui, Stella memiliki tanda lahir misterius yang mungkin membuka tabir rahasia besar tentang siapa gadis itu sesungguhnya.

Gambar:
Scene rumah sakit agak terlihat artificial dengan lighting yang buruk. Setting pun sepertinya tertata dengan sengaja.

Act:
Jill Gladys yang pernah mendukung Setannya Kok Beneran? kali ini mendapat peran utama sebagai kepala RS Jiwa, Gabriel yang berusaha pulih dari masa lalunya yang kelam dengan mencoba hidup mandiri tanpa kehadiran siapapun.
Ringgo Agus Rahman memerankan karakter yang tidak biasanya yaitu Panji, mantan kekasih Gabriel yang juga seorang pembimbing sekolah.
Indri Satiya sepertinya terlalu dipaksakan menjadi remaja SMP yang misterius, Stella. Penjiwaannya banyak dibantu dengan make up dan kostum yang agak berlebihan.

Sutradara:
Allo Geafarry yang didukung sepenuhnya oleh Monty Tiwa dalam debut layar lebarnya ini masih terlihat lemah dalam beberapa aspek. Turun naik cerita yang disajikan mungkin akan mengganggu penonton disamping miscasting yang sangat terasa.

Komentar:
Saya akan lebih menghargai film ini jika memiliki originalitas sendiri daripada mencampur baur beberapa konsep film ternama. Paling terasa dari pertengahan sampai akhir itu dari thriller lawas Hollywood, Carrie yang sudah beberapa kali diremake. Sisanya dari awal sampai pertengahan sangat tidak jelas plot cerita mau dibawa kemana. Korelasi antar tokoh dengan situasi yang melingkupinya terasa sangat dipaksakan. Tidak heran jika film ini tidak pede karena mengalami pemunduran jadwal edar berkali-kali.

Durasi:
95 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 19 Februari 2009

JAGAD X CODE : Potret Kesenjangan Teknologi Trio Pemuda Yogyakarta

Cerita:
Tiga sahabat sejak kecil yang berdomisili di kampung Kali Code bernasib sama sebagai pengangguran yaitu Jagad, Bayu dan Gareng. Impian Jagad sederhana yakni membelikan ibunya mesin cuci, Bayu lain lagi ingin memiliki kios buku majalah, sedangkan Gareng bercita-cita membuka salon untuk adiknya yang sama gemuk, Menik. Sukar mencari kesempatan bekerja, suatu hari mereka bertemu Semsar, tokoh preman yang cukup disegani. Semsar memberi ketiga sohib pin-pin-bo itu tugas mencari flashdisk dengan imbalan uang 30 juta. Masalahnya tak seorangpun tahu apa yang sesungguhnya dicari-cari tersebut? Bagaimana akhir dari misi mustahil mereka itu?

Gambar:
Kehidupan masyarakat Kali Code Yogyakarta yang apik tertangkap dengan baik berikut aktivitasnya sehari-hari.

Act:
Ringgo Agus Rahman tampil pas sebagai Jagad yang walau kelihatan tidak bertanggung jawab tapi mampu mengambil keputusan yang tepat.
Mario Irwiensyah sebagai Bayu yang gemar mengorek telinganya dengan kelingking. Debut pertama Mario di layar lebar sebagai sidekick.
Opi Bachtiar bermain kocak dengan polah tingkah dan celetukannya sebagai si gendut Gareng yang baik hati.
Tika Putri sebagai gadis klepto yang bermasalah dengan ayahnya.
Aktor kawakan Tio Pakusadewo sebagai Semsar yang culas.
Didukung pula oleh Ray Sahetapy dan Ully Artha sebagai orang tua dua tokoh utama.

Sutradara:
Herwin Novianto bisa dikatakan berhasil membuat komedi situasi yang sederhana dalam menghibur penonton. Pemilihan cast cenderung mendukung daya tarik film ini ditambah dengan setting salah satu daerah ternama di Pulau Jawa tersebut.

Komentar:
Potret konkrit kesenjangan teknologi dan informasi yang bisa saja terjadi di daerah luar ibukota merupakan ide yang segar. Cerita yang mengalir ringan sebetulnya cukup menarik untuk dinikmati walau agak terasa "bolong-bolong" dalam arti membosankan di beberapa scene. Alur cerita mungkin bisa ditebak penonton dengan mudah tapi secara keseluruhan, elemen-elemen sebuah film drama komedi yang berisi pesan moral dapat disuguhkan secara tepat tanpa perlu bumbu-bumbu yang berlebihan.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 15 Februari 2009

KALAU CINTA JANGAN CENGENG : Ketika Menebus Kesalahan Berbuah Cinta

Cerita:
Seorang aktor terkenal, Boy mengalami kecelakaan mobil bersama sahabatnya dan menewaskan dua orang. Sang sobat sendiri akhirnya menanggung derita penjara karena menerima sejumlah uang pengganti demi menjaga reputasi Boy. Bertahun-tahun semenjak kejadian itu, Boy menjadi Duta Anti Narkoba dan sering mengunjungi Panti Rehabilitas Anti Narkoba yang membawanya berkenalan dengan sesosok junkie muda, Yani yang ternyata anak dari pasangan suami-istri yang tewas dalam kecelakaan mobil Boy 5 tahun lalu. Merasa bersalah, Boy berusaha menebusnya dengan membantu Yani terbebas dari ketergantungan narkoba. Di sisi lain, kedekatan kedua menumbuhkan sesuatu yang mengikat. Bagaimana akhir dari perjuangan Boy membantu Yani?

Gambar:
Agak miskin karena pencahayaan dan setting yang "tidak indah" di mata.

Act:
Marshanda memulai debutnya sebagai peran utama sebetulnya bisa mendapat apresiasi yang cukup baik. Hanya saja beberapa idiom yang digunakannya terasa mengganggu karena cenderung kasar, tidak perlu dengan cara seperti itu untuk menggambarkan pergolakan batin seorang junkie bernama Yani.
Sebagai artis bernama Boy, Ringgo Agus Rahman tidak cukup kuat menampilkan sosok simpatik sekaligus bertobat atas segala dosa-dosa masa lalunya. Karakternya cenderung terlalu santai untuk dipedulikan.
Didukung pula oleh Sigi Wimala dengan peran yang tidak biasa sebagai pacar posesif dan Dwi Sasono sebagai sahabat yang tertimpa apes demi menutupi kenyataan yang sesungguhnya.

Sutradara:
Bermain kembali dalam genre drama setelah mencoba horor dan komedi, Monty Tiwa berusaha mengeksplorasi hubungan dua karakter utama yang jatuhnya miscasting karena chemistry yang tidak cukup kuat. Di sisi lain, "kekosongan" karya-karya Monty terjadi lagi di film ini. Sayang memang!

Komentar:
Digadang-gadang sebagai film kasih sayang 14 Februari, otomatis kita akan membandingkan film ini dengan Selamanya (2005) karena kemiripan tema. Hasilnya? Cengeng jauh tertinggal karena kekurang fokusan dan serba tanggung untuk bisa menggugah emosi penonton. Dari awal konflik berjalan lambat dan tidak cukup menarik untuk membuat penonton bersimpati pada hubungan Boy-Yani. Kesimpulannya? Cengeng akan begitu saja dilupakan begitu penonton meninggalkan gedung bioskop.

Durasi:
110 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 17 November 2008

SI JAGO MERAH : Balada Kwartet Pemadam Kebakaran

Cerita:
4 mahasiswa yakni Gito Prawoto, Dede Rifai, Kuncoro Prasetyo, Rojak Panggabean dipanggil Pengawas Kampus karena sudah 4 semester menunggak uang kuliah dan semuanya terancam drop out. Putus asa dengan kemelaratan itu, mereka memutuskan untuk mencoba beberapa kerja part-time sampai akhirnya bermuara di kantor dinas pemadam kebakaran. Setelah satu insiden, mereka diterima dan diberikan mobil dinas "Si Jago Merah". Bagaimana kelanjutan nasib mereka di kampus? Apakah menjadi pemadam kebakaran mampu mengubah hidup mereka selanjutnya?

Gambar:
Permainan kamera yang sederhana namun mampu menangkap angle-angle detail yang pas mendukung penampilan para tokoh utamanya.

Act:
Desta Club 80's sebagai Gito dan Ringgo Agus Rahman sebagai Dede tampil sesuai peran stereotype nya selama ini, meskipun lumayan tapi belum menunjukan improvisasi yang berarti.
Ytonk Club 80's sebagai Coro dan Judika sebagai Rojak justru patut diacungi jempol memulai debutnya di layar lebar, tampil lepas dan konsisten dengan karakter dan logat yang memperkuat peran mereka.

Sutradara:
Iqbal Rais mampu mengarahkan drama suka-duka para pemadam kebakaran ini dengan fun dan ringan. Konsep dialog komedik yang "nendang" dari tokoh utama pun bisa dieksekusi dengan baik. Good job!

Komentar:
Jangan mengharapkan sebuah film yang intens heroik seperti halnya kebanyakan film balada seni profesi Hollywood. Film ini justru menampilkan kisah sederhana yang mudah diikuti namun tetap menggigit dan asyik untuk diikuti.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!