XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label herwin novianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label herwin novianto. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

TANAH SURGA KATANYA : Sentilan Nasionalisme Godaan Perbatasan

Quotes:
Dokter Intel: Jadi lagi nasional yang kamu tau apa?
Salman: Kolam susu.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh oleh PT Demi Gisela Citra Sinema dan Brajamusti Films ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 11 Agustus 2012.

Cast:
Osa Aji Santoso sebagai Salman
Fuad Idris sebagai Hasyim
Ence Bagus sebagai Haris
Astri Nurdin sebagai Astuti
Tissa Biani Azzahra sebagai Salina
Ringgo Agus Rahman sebagai Dokter Anwar
Muhammad Rizky sebagai Lized
Deddy Mizwar
Gatot Brajamusti

Director:
Merupakan film kedua Herwin Novianto setelah Jagad X Code (2009).

W For Words:
Deddy Mizwar adalah satu dari sedikit insan senior perfilman nasional yang masih aktif berkarya. Tak hanya sebagai aktor tetapi juga penulis skrip, sutradara hingga produser. Pria yang kini berusia 57 tahun ini terkenal dengan gaya satirnya yang lembut menyentil, tanpa terkecuali skenario garapan Danial Rifki dimana bangku sutradara dipercayakan kepada Herwin Novianto. Premisnya sendiri konon diinspirasi dari lagu lawas tenar milik Koes Plus yang berjudul Kolam Susu. Masih ingat? Jika tidak, film ini akan mengingatkan anda.

Mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia 1965, Hasyim tinggal bersama putra satu-satunya, Haris yang telah memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, Salman dan Salina. Keadaan yang kurang baik di Kalimantan Barat membuat Haris hijrah ke Malaysia dengan membawa Salina. Sedangkan Salman menjaga kakeknya yang sakit-sakitan itu sambil terus belajar pada guru pengganti, Astuti. Titik cerah muncul saat dokter Anwar datang ke desa dengan segala keterbatasan sarana dan obat. Benarkah Indonesia tak lagi layak ditinggali?

















Nasionalisme adalah unsur yang rajin didengungkan dalam film ini. Bukan hanya dari kacamata mantan pejuang lanjut usia tapi juga bocah optimis yang serba kekurangan. Bagaimana Haris menolak dibawa berobat ke Malaysia atau Salman menukar bendera merah putih yang digunakan sebagai kain pembungkus. Mereka adalah contoh manusia-manusia yang lebih memilih hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang. Sepadankah pengorbanan itu dengan balas jasa yang didapat? Jawabannya tentu relatif.

Acungan jempol pantas dilayangkan bagi segenap pendukung film ini yang mampu tampil maksimal. Ringgo yang kocak memberikan aksen tersendiri sebagai dokter kikuk atau Astri yang lemah lembut sebagai pengajar santun. Keduanya terasa mampu menjembatani anak-anak dengan konflik dewasa yang tak dapat begitu saja dipahami. Kekerasan hati Fuad Idris amat bertolak belakang dengan Ence Bagus yang terkesan mudah dibeli.
 Akting natural Osa Aji tak jarang menghadirkan perasaan haru atau trenyuh dalam diri penonton melihatnya.

Saya akan sedikit membantu Deddy Mizwar berpromosi disini dengan menyebut sosis So Nice, Entrostop atau Promag yang untungnya "muncul" di film dalam batas kewajaran. Isu pendidikan, kesehatan, penghidupan antar Indonesia dan Malaysia dihadirkan secara kontras. Adegan dini hari dimana perahu motor membelah sungai Kapuas ketika matahari masih bersembunyi amatlah memorable bagi saya, kombinasi perjuangan dan kepiluan yang membuncah.

Tanah Surga.. Katanya adalah film lokal pengisi libur Lebaran terbaik tahun ini. Kesahajaan tema yang dieksekusi secara terarah. Perbedaan kualitas kehidupan masyarakat di Sarawak dan Kalimantan Barat memang bukan untuk disesali tapi untuk dipelajari, terutama oleh pihak-pihak penguasa yang berkepentingan. Maafkanlah ambiguitas yang terkandung di endingnya dalam upaya menutup setiap subplot yang dibangun sejak awal. Deddy Mizwar dkk sudah memberi contoh konkret lewat media film bahwa "apapun yang terjadi, jangan sampai kehilangan cinta terhadap negeri ini".

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Kamis, 19 Februari 2009

JAGAD X CODE : Potret Kesenjangan Teknologi Trio Pemuda Yogyakarta

Cerita:
Tiga sahabat sejak kecil yang berdomisili di kampung Kali Code bernasib sama sebagai pengangguran yaitu Jagad, Bayu dan Gareng. Impian Jagad sederhana yakni membelikan ibunya mesin cuci, Bayu lain lagi ingin memiliki kios buku majalah, sedangkan Gareng bercita-cita membuka salon untuk adiknya yang sama gemuk, Menik. Sukar mencari kesempatan bekerja, suatu hari mereka bertemu Semsar, tokoh preman yang cukup disegani. Semsar memberi ketiga sohib pin-pin-bo itu tugas mencari flashdisk dengan imbalan uang 30 juta. Masalahnya tak seorangpun tahu apa yang sesungguhnya dicari-cari tersebut? Bagaimana akhir dari misi mustahil mereka itu?

Gambar:
Kehidupan masyarakat Kali Code Yogyakarta yang apik tertangkap dengan baik berikut aktivitasnya sehari-hari.

Act:
Ringgo Agus Rahman tampil pas sebagai Jagad yang walau kelihatan tidak bertanggung jawab tapi mampu mengambil keputusan yang tepat.
Mario Irwiensyah sebagai Bayu yang gemar mengorek telinganya dengan kelingking. Debut pertama Mario di layar lebar sebagai sidekick.
Opi Bachtiar bermain kocak dengan polah tingkah dan celetukannya sebagai si gendut Gareng yang baik hati.
Tika Putri sebagai gadis klepto yang bermasalah dengan ayahnya.
Aktor kawakan Tio Pakusadewo sebagai Semsar yang culas.
Didukung pula oleh Ray Sahetapy dan Ully Artha sebagai orang tua dua tokoh utama.

Sutradara:
Herwin Novianto bisa dikatakan berhasil membuat komedi situasi yang sederhana dalam menghibur penonton. Pemilihan cast cenderung mendukung daya tarik film ini ditambah dengan setting salah satu daerah ternama di Pulau Jawa tersebut.

Komentar:
Potret konkrit kesenjangan teknologi dan informasi yang bisa saja terjadi di daerah luar ibukota merupakan ide yang segar. Cerita yang mengalir ringan sebetulnya cukup menarik untuk dinikmati walau agak terasa "bolong-bolong" dalam arti membosankan di beberapa scene. Alur cerita mungkin bisa ditebak penonton dengan mudah tapi secara keseluruhan, elemen-elemen sebuah film drama komedi yang berisi pesan moral dapat disuguhkan secara tepat tanpa perlu bumbu-bumbu yang berlebihan.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!