XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label acha septriasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label acha septriasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2015

MIDNIGHT SHOW : Unravel Mystery In Bloody Theatre

Quote:
Johan: Ya meskipun satu penonton tetap harus kita layani.

Nice-to-know:
Sutradara Ginanti Rona sempat diganggu dimana saat take, earphone nya terdengar suara berisik dan tawa wanita padahal semua kru dan pemain sedang tidak bersuara.

Cast:
Gandhi Fernando sebagai Juna
Acha Septriasa sebagai Naya
Ratu Felisha sebagai Sarah
Ganindra Bimo sebagai Tama
Boy Harsya sebagai Ikhsan
Gesata Stella sebagai Lusi
Arthur Tobing sebagai Seno
Ronny P. Tjandra sebagai Johan
Daniel Topan sebagai Allan
Ade Firman Hakim sebagai Guntur
Rangga Djoned sebagai Heru
Citra Prima sebagai Yuli
Rayhand Khan sebagai Bagas Film
Neny Aggraeni sebagai Desi
Yayu Aw Unru sebagai Purno
Zack Lee


Director:
Merupakan feature debut bagi Ginanti Rona Tembang Asri setelah menjadi astrada dalam The Raid: Redemption (2011).

W For Words:
Siapa nyana duet G bertekad menyuguhkan tontonan berdarah-darah bagi penikmat film Indonesia di awal tahun 2016 mendatang? Mereka adalah Gandhi Fernando dan Ginanti Rona Tembang Asri. Satunya adalah pelakon dan juga pionir dari Renee Pictures yang sudah menelurkan tiga film berbeda genre sejauh ini. Sedangkan yang lainnya sudah berpengalaman sebagai astrada bagi famous Indonesian genre directors yaitu Gareth Evans dan The Mo Brothers selain menggarap secara koperatif sebuah film kecil lima tahun silam. Seperti apa hasil kolaborasi produser dan sutradara ini memang layak ditunggu.

Pengusaha bioskop Johan sedang menunggui anak buahnya berjaga untuk pertunjukan midnight, sebuah film baru berjudul “Bocah” yang konon diinspirasi dari kisah nyata. Satpam Allan yang sudah mengantuk, penjaga loket Naya yang harus menggantikan tugas Lusi yang pulang lebih awal karena sakit dan juga projectionist merangkap penjual snack Juna yang usil. Beberapa penonton pun berdatangan mulai dari pasangan Ikhsan dan Sarah, pria tua Seno serta pria misterius Guntur. Mereka tidak menyadari jika ada sosok bertopeng yang tidak menyukai pemutaran film itu sedang mengintai. 

















Husein M. Atmodjo yang menggarap skenario berdasarkan ide cerita Gandhi ini bertekad memberikan pondasi yang kokoh bagi karakter-karakternya sebelum beranjak dengan konflik yang diusung. Simak saja bagaimana flashback mencengangkan sebagai appetizer yang menggugah rasa. Namun usaha Husein memang belum sepenuhnya berhasil karena adanya kekhawatiran membuka ‘kedok’ terlalu dini. Layer demi layer yang tersingkap seiring waktu akan terus memberi petunjuk bagi anda untuk menebak siapa pelaku sesungguhnya di akhir cerita. Tidak sulit bagi mereka yang mengaku slasher fans.

Ginanti sebagai sutradara tampak menguasai betul panggung bermainnya. Sebuah bioskop tua dengan studio lawas, ruang gelap maupun lorong sempit memang terasa sempurna sebagai arena kejar-kejaran yang menegangkan. Tidak lupa segala gimmick autentiknya mulai dari karcis sobek, poster film non digital hingga loket kaca menambah sisi artistik sekaligus menunjukkan kecintaan pembuatnya terhadap sinema sejak usia dini. Sinematografi dengan low key lighting dari Joel F. Zola sukses menghadirkan suasana mencekam di sepanjang film.














Menarik melihat Acha mengambil peran yang berbeda dari biasanya karena Naya adalah sosok heroine yang jelas akan anda pedulikan nasibnya di sepanjang film. Gandhi memberikan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya lewat karakter Juna yang usil tapi tak kenal takut. Kembalinya Ratu Felisha ke layar lebar lewat genre horor thriller pantas diapresiasi sebagai Sarah yang annoying. Sederetan aktor aktris muda yang turut mendukung sukses menghadirkan ‘distraksi’ yang dibutuhkan. Kemunculan sekilas tak lantas mengurangi nilai akting Ronny dan Gesata yang kian matang.

Terlepas dari pace yang sedikit naik turun dan juga flashback yang agak overexposed pada third act nya, Midnight Show merupakan slasher psikologis dengan kajian character study yang pantas diapresiasi karena tidak banyak filmmaker yang mau bersusah-payah melakukan effort serupa untuk genre sejenis. Sebuah film bisa dikatakan berhasil jika mampu melayangkan imajinasi penonton untuk sejenak membayangkan ada dalam situasi yang tengah dialami para tokohnya. If that’s the case then i’d be anywhere else but Podium theatre. Who’s the killer? It’s your task to uncover the mask.

Durasi:
100 menit

Movie-meter:

Selasa, 04 September 2012

TEST PACK : Drama Pasutri Menghadapi “Bagaimana Jika”

Quotes:
Tata: Disini dikatakan sperma mencapai tingkat kematangannya dalam 3 hari.
Rahmat: Ya udah kalo gitu kita berhubungan 3x sehari.
Tata: Dih mending kuat.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision Plus ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 4 September 2012.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Rahmat
Acha Septriasa sebagai Tata
Renata Kusmanto sebagai Shinta
Meriam Bellina sebagai Ibu Sutoyo
Jaja Mihardja sebagai Pak Sutoyo
Oon ‘Project Pop’ sebagai dr Peni
Karissa Habibie sebagai Dian
Uli Herdinansyah sebagai Markus
Dwi Sasono sebagai Heru

Director:
Merupakan film kedua Monty Tiwa di tahun 2012 setelah Sampai Ujung Dunia.

W For Words:
Novel Test Pack milik Ninit Yunita beredar pada tahun 2005 dimana istri Adhitya Mulya itu masih menetap di Afrika Barat. Bukan rahasia jika ide tersebut muncul dari kehidupan pribadi mereka yang kerap dihujani pertanyaan “Kapan punya anak?” setelah beberapa lama menikah. Pertanyaan yang juga amat familiar di kalangan pengantin baru yang kebetulan tak kunjung diberi keturunan. Kedekatan dengan realita kehidupan itulah yang membuat suguhan terbaru Starvision ini diyakini mampu menarik minat penonton untuk sekadar merefleksikan.

7 tahun menikah, pasutri Rahmat dan Tata belum dikaruniai anak. Segala tips dan trik telah dicoba. Tata yang berkeinginan lebih sampai menemui dokter Peni untuk melakukan tes kesuburan dimana Rahmat sendiri sebenarnya sudah cukup bahagia dengan kebersamaan mereka. Nyatanya hasil tes menunjukkan Rahmat yang tidak subur. Dalam keputusasaan ia bertemu mantannya yang juga supermodel internasional, Shinta yang baru dicerai suaminya, Heru karena mandul. Keputusan Rahmat ingin kembali ke masa lalu atau memperbaiki masa kininya merupakan dilema tersendiri.

Bukan pekerjaan mudah bagi Adhitya untuk menerjemahkan karya Ninit ke dalam bentuk skenario. Film ini seakan dibagi dalam dua bagian. Pertama, komedi romantis saat Rahmat dan Tata saling berbagi kasih dalam canda dan tawa dimana panggilan sayang yaitu kang dan neng selalu menyertai. Kekesalan Tata menggunakan sejumlah testpack yang menyiratkan depresi diimbangi dengan kekocakan dokter Peni yang menanganinya. Kedua, drama romantis ketika Shinta mulai kembali masuk dalam kehidupan Rahmat dimana rumah tangganya sedang diuji. Ketidakstabilan emosi Tata akibat terapi yang dijalaninya mulai merentang jembatan konflik suami istri yang tak dapat dihindari.

Kelebihan utama jelas ada pada kinerja sutradara Monty Tiwa yang berhasil menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Arahan yang baik terhadap jajaran cast ternama beserta kumpulan cameo yang tak asing lagi, pemilihan lokasi sebagai panggung bercerita yang maksimal, pengaturan tempo momen-momen penting sebagai nyawa film dsb. Editing Cesa David yang ciamik juga memperkuat storytelling sehingga tidak banyak ruang kosong yang tersisa. Sama halnya dengan tata suara dari Khikmawan yang kali ini berkolaborasi dengan Bongky sebagai penata musik sukses mengantarkan emosi yang diharapkan.

Senang rasanya melihat Acha mampu berbagi chemistry manis dengan pria di luar Irwansyah. Lakon suami istri bersama Reza terasa meyakinkan tanpa terlihat canggung dalam berbagi keintiman fisik. Deretan pendukung Sampai Ujung Dunia (2012) juga hadir kembali disini, salah satunya Renata yang semakin mengukuhkan imej “beautiful babe” lewat peran supermodel yang tak terlalu terlihat pede. Pasangan senior Jaja-Meriam juga turut mencuri perhatian sebagai pasien psikolog Rahmat. Jangan lupakan Oon, sang pengocok tawa lewat spontanitas dan wajah polosnya itu.

Test Pack adalah drama yang personal karena mengangkat persoalan umum suami istri dan rumah tangga secara keseluruhan. Kadangkala kita memang tidak siap menghadapi perubahan dan kerapkali lebih peduli pada perkataan orang dibandingkan pasangan sendiri. Obyektifitas yang terganggu tentunya mempengaruhi keputusan akhir yang dibuat bagi kedua belah pihak. Kehati-hatian Monty dalam menggarap tema sensitif tentang momongan ini untungnya didukung oleh sumbangsih maksimal dari aktor-aktris yang terlibat di dalamnya. A must see for couples and newly wed who might face the same ”first world” problems.

Durasi:
109 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 27 Januari 2011

LOVE STORY : Percintaan Menentang Adat Masyarakat

Quotes:
Galih: Cinta tidak membuat kegelapan, justru cinta itu menerangi, cinta tidak akan membuat aku menyerah, justru aku akan memperjuangkannya.

Storyline:
Sejak kecil, Galih dan Ranti selalu bersama-sama hingga tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya. Galih seringkali memotong rambut Ranti yang bercita-cita menjadi guru. Sayangnya belum ada sekolah yang dibangun di daerah mereka. Hal tersebut menjadi impian masa depan yang ingin dicapai. Romansa Galih dan Ranti mendapat tantangan masyarakat yang mengusung kepercayaan akan terjadinya bencana jika ada muda-mudi dari dua desa yang terpisahkan sungai tersebut menikah. Perjuangan mencapai kebahagiaan cinta memang tidak mudah tetapi akankah pada akhirnya Ranti dan Galih bersatu padu mewujudkan mimpi-mimpi mereka?

Nice to know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dan gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI tanggal 18 Januari 2011.

Cast:
Reuni ketiga Acha Septriasa dan Irwansyah setelah Heart (2006) dan Love Is Cinta (2007). Kali ini keduanya kembali berpasangan sebagai Ranti dan Galih.
Henidar Amroe sebagai Nenek Ranti
Reza Pahlevi sebagai Ayah Ranti
Maudy Koesnaedi sebagai Ibu Galih
Donni Damara sebagai Ayah Galih
Reza Rahadian sebagai Pengkor

Director:
Di penghujung tahun kemarin, Hanny R. Saputra sempat membesut drama remaja berjudul Sweetheart.

Comment:
Harus diakui premisnya menjanjikan. Apalagi dukungan nama-nama cast dan sutradara serta composer yang mengisinya. Semua tampaknya terlihat benar sedari awal. Namun seiring berjalannya film, rasanya tidak demikian. Aklimatisasi film terasa kurang maksimal disana-sini sehingga hasil akhirnya terasa banyak minus yang cukup kentara. Coba kita uraikan satu persatu!
Plot ceritanya sedikit kebingungan antara penyajian kisah cinta nyata ataupun cerita romantika legendaris. Pada prolog kita diperkenalkan pada ikhtisar Joko Angin-Angin dan Dewi Bulan yang digambarkan berjuang mati-matian demi cinta mereka terlepas dari segala rintangan yang menghadang. Setelah itu tampaknya hal serupa ditransformasikan ke dalam asmara tokoh Galih dan Ranti yang dikekang oleh norma-norma masyarakat yang sudah bertahan lama. Yang menjadi pertanyaan penonton adalah akankah pada akhirnya keduanya mencapai kebahagiaan bersama-sama? Tenang, saya tidak akan melakukan spoiler.
Sebagai nyawa film, nama Acha dan Irwansyah telah beberapa kali bersanding sebagai pasangan sebelumnya. Hal ini bisa jadi cukup membantu keduanya untuk memahami konsep dua sejoli yang ingin disampaikan. Sayangnya Irwansyah sebagai Galih sedikit underperform disini meski tidak dapat dikatakan buruk. Fakta ini menyebabkan Acha menanggung beban yang lebih berat untuk menopang intensitas percintaan itu sendiri. Namun ia tetaplah seorang aktris berkualitas untuk membawakan sosok Ranti yang tersiksa karena kungkungan yang membelenggunya.
Hanny merupakan salah satu sutradara yang saya kagumi dengan karya-karyanya yang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Namun kali ini berbagai elemen film cinta yang ditanganinya terasa klise dan predictable. Jikapun ada tambahan subplot malah terasa tidak signifikan terhadap bangunan utama ceritanya. Apakah skenario yang ditulis Armantono menjadi penyebabnya? Sulit dipastikan.
Love Story memang mampu menghadirkan sinematografi yang cukup bagus sebagai sebuah tontonan lokal di atas rata-rata. Hanya saja jalinan konflik yang dihadirkan berikut penyelesaiannya terasa mengambang begitu saja di permukaan tanpa kedalaman. Ibarat penonton diajak berlayar dengan sampan sederhana menyusuri danau indah tetapi tidak ada gejolak esensi yang mengiringinya samasekali. Cukup disayangkan!

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 16 April 2010

MENEBUS IMPIAN : Usaha Mengejar Mimpi Yang Terlihat Jauh

Tagline:
Perlukah kita untuk selalu memiliki Impian dalam berjuang maju menempuh hidup?


Storyline:
Sang ayah yang meninggalkan rumah sejak lama membuat jalan kehidupan Nur dan Ibunya, Sekar bertambah terjal. Sekar bekerja sebagai buruh pencuci baju yang menerima order dari tetangga-tetangganya. Semua demi membiayai kuliah Nur yang ia harapkan bisa maju kelak. Namun Nur yang mengalami kesulitan biaya kuliah terpaksa cuti satu semester untuk mencari pekerjaan yang bisa menopang dirinya sendiri. Suatu saat ia bertemu Dian, seorang mahasiswa sepantarannya yang terlihat sudah cukup mapan dengan Global Vision, sebuah konsep Multi Level Marketing di bidang produk suplemen. Awalnya ragu tetapi Nur akhirnya menjalaninya juga bersama Dian, terlebih setelah ibunya jatuh sakit. Akankah mimpi kesuksesan dan kemandirian bisa dicapai Nur pada akhirnya?


Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Dapur Film ini gala premiere dan press conferencenya dilakukan di Djakarta Theatre beberapa waktu lalu.

Cast:
Terakhir tampil sebagai wanita simpanan, disini Acha Septriasa bermain sebagai Nur yang berusaha keras membantu ibunya untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Baru berakting lagi sejak kesuksesan fenomenal Ayat-Ayat Cinta (2009), Fedi Nuril kebagian peran Dian, agen MLM yang teguh hati dan optimistis.
Ibu pekerja keras yang hanya ingin anaknya mengenyam pendidikan tinggi, Sekar dihidupkan oleh Ayu Dyah Pasha.

Director:
Hanung Bramantyo disini bekerjasama dengan penulis skenario, Titien Wattimena untuk menangani film pertamanya di tahun 2010 yang konon diilhami dari beberapa kisah nyata ini.

Comment:
Semua orang bisa dikatakan sudah pernah mengenal konsep MLM dan saya yakin sebagian besar melakukan penolakan karena berusaha realistis. Tetapi tahukah anda, ada segelintir orang yang tetap berusaha dan berpegang teguh pada keyakinannya untuk meraih sukses di bidang tersebut? Itulah yang coba diangkat disini. Sebuah tema yang sangat tidak biasa dan terus terang dianggap sebelah mata oleh publik dan wartawan/kritikus pada khususnya. Namun Hanung tetap maju dan mengkombinasikannya dengan drama kehidupan ibu dan putrinya yang pahit. Acha seperti biasa mampu mengeluarkan emosinya yang total dalam menjiwai peranannya termasuk menangis di saat menemui jalan buntu. Fedi terlihat meyakinkan sebagai agen MLM yang bersikukuh dan pandai berbicara. Namun sayangnya, saya merasakan chemistry keduanya kurang pas apalagi banyak elemen romansa yang kurang tergali di antara mereka. Entah karena skrip tidak memfokuskan sisi tersebut, hubungan Nur dan Dian terasa dipaksakan. Perjuangan mencapai puncak dalam MLM memang tidak mudah, Hanung bisa dikatakan berhasil mensyut itu walau rasanya tidak sampai menggugah penonton untuk menekuni hal yang sama. Mood film terasa seperti rollercoaster, turun naik sepanjang durasi yang cukup panjang. Klimaks film justru terasa di pertengahan film tetapi penonton seakan diseret kembali untuk meneruskan lagi hingga endingnya yang bisa dikatakan menjual mimpi. Namun itulah Menebus Impian, sebuah cerita perjuangan meraih mimpi-mimpi indah yang tentunya dimiliki semua orang dan pada kenyataannya seringkali terasa melelahkan dan mustahil untuk digapai.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 15 Januari 2010

SSH.. JADIKAN AKU SIMPANAN : Kursus Menjadi Gadis Simpanan Kelas Satu

Storyline:
Hobinya berbelanja membuat Pamela kesulitan menentukan masa depannya dengan profesi bergaji tinggi. Bertekad menjalani casting bersama sahabat setianya Gino, Pamela malah kebagian peran pengganti kuntilanak dan syuting di malam hari. Lewat temannya Gino, Pamela akhirnya dikenalkan oleh Miss Tisya, ketua perkumpulan Mekar Sari. Perkumpulan yang mendidik gadis-gadis untuk menjadi wanita simpanan yang mandiri termasuk Nining yang sudah senior dan Angel yang juga seorang pemula. Akhirnya Pamela pun bertekad menjalani latihan demi latihan hingga ia lulus. Namun apakah itu yang sesungguhnya diinginkan hati nuraninya?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh perusahaan lawas, PT Virgo Putra Film yang bersetting di sebuah rumah mewah yang megah dan juga beberapa mall ternama di Jakarta seperti Pacific Place dll.


Cast:
Tampil beda dari biasanya seperti perannya dalam LoVe (2008), Acha Septriasa didaulat sebagai Pamela, gadis lugu yang akan melakukan apapun untuk bisa hidup mewah.
Terakhir bermain dalam Jeritan Kuntilanak, Julia Perez disini menjabat sebagai wanita simpanan nomor satu perkumpulan Mekar Sari yang menguasai segala trik.
Zidni Adam memerankan Gino, cowok polos yang diam-diam mencintai sahabatnya sendiri.
Penampilan Ayu Azhari sebagai wanita simpanan senior, Nining turut menyegarkan suasana film ini.

Director:
Terakhir menggarap The Real Pocong yang cukup apik itu, Hanny R Saputra kali ini bereksperimen dengan drama komedi ringan yang bisa diikuti siapa saja yang sudah cukup umur tentunya karena banyak adegan dewasa di dalamnya.

Comment:
Dua pertiga film ini bisa dikatakan bergaya slapstick. Mengapa? Tema wanita simpanan yang cukup sensitive disajikan dengan fun dan kocak, lengkap dengan suara-suara binatang terutama ringkikan kuda sebagai impersonisasi adegan bercinta. Dari segi cast, Jupe lah yang paling menguasai layar. Penampilannya sebagai wanita seksi yang menggoda bisa dibilang yang terbaik sepanjang karir aktingnya. Lihat saja bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya terasa sensual walau tetap dalam batas kewajaran. Sedangkan Acha terasa kurang pas sebagai gadis yang ‘bertransformasi’ karena secara fisik, tidak ada perubahan berarti yang bisa dilakukannya. Sang sutradara sedikit banyak terpengaruh oleh film-film Hollywood yang memanjakan wanita dengan fashion sehingga mood film cukup terbantu. Sayangnya kepiawaiannya menggarap genre horor, malah berusaha dibawa kesini. Alhasil beberapa scene lengkap dengan background musiknya “cukup menyeramkan” walau sebetulnya sangat tidak diperlukan. Pada akhirnya Ssh.. Jadikan Aku Simpanan hanya terbatas pada hiburan belaka yang bisa ditertawakan dengan sedikit pesan moral. Kekurangannya hanya di logika karakterisasinya, tidak didukung oleh motif yang jelas ataupun masuk akal dalam melakukan itu semua.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 20 Juli 2009

KRAZY CRAZY KREZY : Tiga Pemuda Mengejar Mimpi Ibukota

Cerita:
Dari Jakarta - Sony yang bercita-cita jadi artis walau tampang pas-pasan, dari Yogyakarta - Tino yang punya mimpi bertemu idolanya Suzanne, dari Kuala Lumpur - Farid yang bertekad mengadu nasib di ibukota dengan uang lima ratus ribu rupiah. Ketiganya bertemu dan sepakat tinggal bersama sementara di kos Sony yang digawangi Ratna dan ibunya yang galak sambil memutar otak untuk mencari uang. Perlahan, persahabatan pun terjalin di antara mereka lewat serangkaian kejadian memalukan dan berujung pada peristiwa tak terduga yang akan melibatkan nama baik mereka semua.

Gambar:
Suasana metropolitan digambarkan dengan pas lengkap dengan kos-kosan yang padat dan sulitnya mencari sesuai nasi di ibukota.

Act:
Tora Sudiro memantapkan ikon aktor komedi masa kini baik di televisi maupun layar lebar. Kali ini berperan sebagai Sony, Tora memainkan aksen cadel yang lucu dengan tompel di samping hidungnya.
Tak ketinggalan Vincent Rompies dengan peran yang bervariasi belakangan ini termasuk sebagai Tino yang lugu dan pandai bermain gitar.
Satu lagi aktor Malaysia yang berkiprah disini, Pierre Andre sebagai Farid yang licik namun banyak akal.
Trio Sigi Wimala, Sissy Priscillia, aktris Malaysia Julia Ziegler sebagai love interest ketiga pria tersebut yakni Kartika, Ratna dan Melati. Juga kemunculan Acha Septriasa yang juga turut bernyanyi sebagai biduanita Suzanne.

Sutradara:
Baru saja beberapa minggu lalu karyanya Benci Disko dirilis, Rako Prijanto sudah maraton bersama Tora dan Vincent membuat Temanku Selamanya yang akhirnya berganti judul menjadi Krazy Crazy Krezy ini. Kabarnya Rako sempat berujar ingin menciptakan ikon baru di dunia perfilman nasional selayaknya Warkop DKI, Srimulat dsb sehingga tercetuslah ide film ini.

Komentar:
Diawali dengan humor yang cukup menyegarkan tapi semakin basi memasuki pertengahan dan akhir film sehingga membuat saya mengantuk. Terasa agak kosong dimana bangunan-bangunan cerita yang harusnya saling menguatkan malah seakan terpisah satu sama lain. Tora, Vincent, Pierre bermain cukup kompak tapi tampaknya belum mampu menciptakan sinergi komikal yang baik dan bisa diterima semua pihak. Apa yang salah? Skenario atau eksekusi? Tanyakan saja pada Rako yang masih belum mampu mengatasi kelemahannya itu. Anyway, nikmati saja film ini jika memang anda memiliki waktu luang.

Durasi:
100 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!