XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label helfi kardit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label helfi kardit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2012

SANG MARTIR : Pesan Moral Terhimpit Berat Muatan


Quotes: 
Rangga: Gua ga ngebunuh, gua ngebela diri.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Starvision ini screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 22 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Adipati Dolken sebagai Rangga
Nadine Alexandra sebagai Cinta
Tio Pakusadewo sebagai Rambo
Ray Sahetapy sebagai Jerry
Henidar Amroe sebagai Hj Rosna
Tity Qadarsih sebagai Mama Jerry
Jamal Mirdad sebagai H Rachman
Astri Nurdin sebagai Istri Jerry
Widy 'Vierra' sebagai Lili

Director: 
Merupakan kali keempat, Helfi Ch Kardit menyutradarai film yang ditulisnya sendiri setelah terakhir Mengaku Rasul : Sesat (2008).

W For Words: 
MARTIR berarti SAKSI yang berasal dari bahasa Yunani, μαρτυρ. Umumnya digunakan dalam konteks yang berhubungan langsung dengan umat Kristiani. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan pemakaian kata ini untuk sebuah judul film lokal. Namun seorang Helfi melakukannya dengan satu benang merah yaitu kesaksian yang berujung pada pengorbanan. Premis yang mungkin mengingatkan anda pada Tanda Tanya (2011) milik Hanung Bramantyo dari buah pemikiran Titien Wattimena. Interpretasi berbeda tentunya bisa memperkaya khasanah pemahaman itu sendiri.

Rangga besar di sebuah panti asuhan milik Haji Rachman dan istrinya Hajjah Rosna. Kasus pemerkosaan yang menimpa anak panti bernama Lili membuat Rangga terbakar emosi dan membunuh sang pelaku yang merupakan adik Rambo, kepala preman yang berkuasa. Hukuman 3 tahun penjara dijalani Rangga di bawah lindungan Pendeta Josep. Sekeluarnya dari sana, Rangga menjadi incaran anak buah Rambo yang ingin membunuhnya. Kepala geng preman lain, Jerry yang juga musuh bebuyutan Rambo memberi perlindungan pada Rangga dengan agenda tersembunyi di belakangnya.

Selama lebih dari satu setengah jam durasinya, Helfi sibuk menjejali pikiran penonton dengan isu-isu politik, ekonomi hingga sosial budaya yang tak jarang menyentuh S.A.R.A. Semua headline yang biasa anda temui di surat kabar muncul di sini, sebut saja penyelundupan narkoba, kasus korupsi, perebutan wilayah kekuasaan, tindakan nepotisme, kesenjangan sosial, perbudakan anak yang dijadikan pengemis di atas dua plot besar yang bergulir yaitu pertikaian antar geng (Rambo dan Jerry) serta percintaan berbeda agama (Rangga dan Cinta).

Penyutradaraan Helfi sendiri berjalan pada rel yang benar. Saya menghargai upayanya untuk mencoba sesuatu yang lain di luar genre komedi/horor belakangan ini. Narasinya terbilang berjalan mulus dengan pembagian frame yang cukup rapat di antara subplotnya. Panggung demi panggung pun disiapkan untuk menjadi “lahan bermain” para karakternya. Sayang begitu banyak yang masuk ke layar rupanya tak diimbangi dengan karakteristik yang mendalam. Padahal aspek ini amatlah dibutuhkan penonton untuk benar-benar terintrusi dengan jalinan konflik yang ada. Hasilnya?  Datar tanpa impresi.

Adipati membawakan peran Rangga dengan misi besar. Bagaimana rentang waktu panjang yang dialami sedikit banyak membentuk karakternya sedemikian rupa. Ia cukup berhasil tapi belum maksimal. Menarik menyaksikan Tio dan Ray ada di pihak yang berseberangan dengan segala karakter “jadi”, dua orang yang hidup untuk mengambil resiko demi menjalankan apa yang mereka yakini terlepas dari unsur benar atau tidaknya. Minimnya porsi Nadine sebagai Cinta sangat disayangkan mengingat relativitas hubungannya dengan Rangga seharusnya bisa digali lebih. Masih banyak nama-nama berbakat lain yang tidak cukup mendapat kesempatan.

Sang Martir patut dipuji karena masih mampu menyampaikan misi dan aspirasinya yang mulia yaitu meluruskan pandangan umat beragama untuk bertindak dan bertingkah laku sebagaimana mestinya serta menegaskan konsekuensi pilihan hidup yang diambil seseorang. Kekerasan dalam film ini tergolong cukup dominan walaupun sebetulnya tidak perlu secara eksplisit. Andaikata Helfi mau mempersempit “ruang lingkup” bahasannya, kemungkinan fokus cerita akan lebih maksimal dengan pengantaran pesan moral yang lebih efektif. Sayang beribu sayang memang.

Durasi: 
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 16 Mei 2012

BROKENHEARTS : Broken Script Heartless Romance

Quotes:
Olivia: Buat aku, kamu adalah malaikat cinta yang dikirim Tuhan dari langit.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision Plus ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 1 Mei 2012.

Cast:
Julie Estelle sebagai Olivia
Reza Rahadian sebagai Jamie
Darius Sinathrya sebagai Aryo
Meriam Bellina sebagai Ibu Aryo
Anto Hoed
Melly Goeslaw
Axel Andaviar



Director:
Merupakan film ke-15 bagi Helfi Ch Kardit yang dimulai sejak Seventeen (2004).

W For Words:
Cinta segitiga di atas persahabatan yang dikombinasikan dengan perjuangan melawan penyakit. Ah berapa banyak tema sejenis yang sudah dihadirkan dalam produksi film Indonesia sebelumnya. Jika Monty Tiwa melakukannya dengan baik dalam Sampai Ujung Dunia (2012) yang masuk dalam daftar film terpuji 2012 versi saya, bagaimana dengan garapan Helfi Kardit ini? Sebagai daya tarik, dikerahkan tiga nama populer yaitu Reza Rahadian, Julie Estelle dan Darius Sinathrya serta komposisi lagu garapan Anto Hoed dan Melly Goeslaw. Menjanjikan bukan?

Olivia selalu beranggapan Jamie adalah cinta pertamanya. Kebahagiaan mereka terenggut saat Jamie divonis mengidap anoreksia nervosa sehingga memilih untuk pergi tanpa kabar. Olivia yang sedih dan bingung sulit menerima kehadiran Aryo yang tiba-tiba datang dalam hidupnya. Sesungguhnya Aryo diutus langsung oleh sobat karibnya Jamie untuk menjaga Olivia. Perlahan tumbuh benih cinta antara Aryo dan Olivia sampai menimbulkan kecemburuan dalam diri Jamie yang merasa tak berdaya.
Sayangnya apa yang ada di kepala Helfi ternyata diterjemahkan secara sederhana. Terlalu sederhananya sehingga ia terkesan malas bereksplorasi di atas sebuah jembatan kokoh bernama kreatifitas itu sendiri. 
Serentetan dialog puitis yang lagi-lagi klise itu membombardir penonton dengan keindahan rimanya tapi tetap tak mampu menutupi keanehan logika yang ada. Bagaimana Jamie yang sakit parah dapat berkeliaran dengan bebas tanpa sepengetahuan orang di luar Darius? Mengapa Aryo tega membiarkan sahabatnya yang sudah demikian lemah itu tidak dirawat secara layak? Mungkin ada puluhan alasan yang bisa dikemukakan untuk memperkuat jawaban tapi sebelumnya mohon dijelaskan dulu pengertian anoreksia nervosa secara baik dan benar.

Penjiwaan aktor sekelas Reza sebagai pria berpenyakitan terlihat tidak wajar. Seorang ibu di deret saya menonton sempat menertawakan nafas Jamie seperti berat seperti orang hamil. Tutur bicaranya seakan dibuat-buat dengan sinkronisasi mata, lidah dan gerak mulut yang.. Ah sudahlah. Darius kembali pada tipikalitas peran “sinetron” nya, tak jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Satu-satunya yang tampil wajar cuma Julie dengan menampilkan sisi emosionalnya tanpa harus terlihat cengeng ataupun norak di saat sedih dan bahagianya.
 
Satu yang paling keterlaluan adalah puncak konflik seharusnya terjadi saat Aryo mengatakan yang sesungguhnya kepada Olivia tetapi Helfi secara cerdas hanya menyajikan gambar bisu dari balik kaca! Come on, it’s a big part! Esensi film yang ditunggu penonton tanpa mengindahkan harga tiket yang beranjak naik ternyata hanya dibalas dengan pepesan kosong belaka? Dude, at least you are trying! Gagal atau tidaknya biar penonton yang memutuskan. Endingnya pun tergolong antiklimaks dan dipaksakan demikian adanya. Suguhan tembang dari Anto-Melly pada akhirnya tak banyak membantu.

Saya merasa chemistry di antara Aryo-Olivia, Olivia-Jamie, Jamie-Aryo terasa flat. Interaksi satu dan yang lainnya terasa melelahkan, tidak membawa konflik merangsak maju secara positif. Kosong! Seakan semua kata-kata yang terlontar dari mereka keluar dari kepala, bukan dari hati. Seberapapun kerasnya ketiga orang ini berusaha memberikan akting maksimal, skrip yang kedodoran sedari awal tetap patut dijadikan kambing hitam.Brokenhearts entah menggunakan spasi atau tidak dalam penulisannya gagal membangun simpati saya terhadap karakter-karakter utama maupun pendukungnya. I prefer called it a broken script with heartless romance inside.

Durasi:
96 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 21 September 2011

MATI MUDA DI PELUKAN JANDA : Perebutan Jejaka Dua Janda Metropolitan

Quotes:
Dengar Mira, Facebook dan Twitter itu harammm!
Mira: Haraman muka loe!


Storyline:
Sejak kecil ditinggal kedua orangtuanya yang tewas karena hanyut, Rahmat diadopsi oleh Mbak Bunga alias Mas Bambang pemilik salon “Mawar” yang hanya mampu menyekolahkannya sampai lulus SMA. Meski demikian, Rahmat tetaplah pribadi yang cerdas, alim dan berbakti bersama banci namun Rahmat tumbuh menjadi lelaki tulen yang pintar, baik, soleh dan berbakti. Sebagai petugas satpol PP, Rahmat cepat mendapat simpati dari atasannya yang kemudian dibenci oleh Bento yang iri hati padanya. Dalam urusan asmara pun, Rahmat menaruh hati pada tetangganya Ratih, janda muda yang berprofesi sebagai tukang jahit. Namun perjalanan cinta mereka tidak mulus karena diganggu Mpok Sari, pemilik warteg Sari Nikmat yang juga mengaku janda dan menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadinya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Mega Kreasi dimana screeningnya diselenggarakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 20 September 2011.

Cast:
Ihsan Tarore sebagai Rahmat
Ayu Pratiwi sebagai Ratih
Shinta Bachir sebagai Mpok Sari
Julia Robex sebagai Bunga
Vijey Sadiansyah sebagai Bento

Director:
Merupakan film kedua di tahun 2011 bagi Helfi Kardit setelah Arwah Goyang Karawang yang cukup laris itu.

Comment:
Melihat judulnya yang terkesan ekstrim dan murahan itu rasanya segmentasi film ini memang ditujukan bagi penonton kelas bawah. Asumsi ini bukannya tanpa alasan karena terbukti di bioskop papan atas ibukota, sebut saja Plaza Senayan XXI hanya memutar film ini satu hari saja! Sedangkan di bioskop-bioskop lain pun, nasibnya terseok-seok mengumpulkan jumlah penonton yang bisa dihitung dengan jari. Cukup mengenaskan!
Skenario yang ditulis oleh duet Hilman Mutasi dan Team Bintang Timur ini tergolong dangkal dan terlalu apa adanya. Tidak ada proses yang cukup kuat untuk bisa membuat penonton terkoneksi dengan nasib para tokohnya. Rahmat yang digambarkan sopan dan baik hati tidak diceritakan langkah pendewasaannya sebagai anak adopsi seorang banci salon kesepian. Ratih yang ditinggal menjanda juga tidak dikisahkan menanggung kepedihan karena kegagalan rumah tangganya. Sari malah agak dipaksakan sebagai antagonis walaupun sifat obsesifnya masih terbilang tanggung, lewat satu dua kejadian busuk yang dilakukannya, ia langsung menjelma menjadi wanita jahat.
Dengan karakterisasi yang demikian miskin, tentunya sulit mengharapkan Ihsan, Ayu, Shinta, Julia ataupun Vijey mampu mengerahkan usaha luar biasa untuk mengangkat film ini. Ibarat modal pas-pasan, akhirnya toh cekak juga. Maaf tidak bermaksud mendiskreditkan nama-nama tersebut di atas tetapi saya benar-benar tidak habis pikir dengan kontribusi mereka yang cuma keluar masuk scenes begitu saja. Kondisi lebih parah menimpa para aktor-aktris pendukungnya yangyang entah bagaimana nasibnya di akhir film. Bad directing!
Sutradara Helfi tampaknya tidak berusaha membuat sesuatu yang “alhamdulillah banget” bisa dikenang oleh penonton. Setting lokasi yang identik dengan masyarakat menengah ke bawah seperti warteg, rumah sederhana, gang sempit dll boleh-boleh saja menjadi panggung tersendiri tapi bukan berarti gambar-gambar yang disuguhkan bisa seadanya seperti itu. Sangat tidak menarik! Tidak perlu saya sebutkan referensi judul-judul lain yang lebih berhasil dalam hal ini, bukan?
Mati Muda Di Pelukan Janda memang masuk kategori film non sampah tapi kualitasnya lebih jauh dari buruk. Salahkan screenplay yang demikian dangkal dan terlalu bermain aman dalam upayanya untuk menghibur. Tidak heran jika penonton akan segera melupakan konten film ini sepersekian detik selepas beranjak dari bangku bioskop. Termasuk saya yang segera mengosongkan isi kepala dari lantunan suara band D’Cokiel yang sama mengganggunya di sepanjang film itu. Janda mudaaa, bisa bikin gue gila…

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 10 Februari 2011

ARWAH GOYANG KARAWANG : Perseteruan Jaipong Striptis Hantu Masa Lalu

Storyline:
Kesulitan ekonomi rumah tangga membuat Lilis nekad kembali menjadi penari jaipong Goyang Karawang. Adji sempat menentang rencana istrinya itu tetapi tidak berdaya karena ia sendiri pengangguran setelah diputuskan hubungan kerja. Perlahan Lilis menapaki tangga kesuksesan kembali hingga menarik minat Pak Awal untuk mempekerjakan Lilis di pub miliknya, Bintang Kejora. Hal ini mengundang perhatian sengit Neneng yang semula primadona setempat dengan asistennya yang banci, Iyus. Sejak kemunculan Lilis di pub, hal-hal mistis pun mulai terjadi dan satu persatu korban berjatuhan. Apa yang sesungguhnya terjadi di masa lalu Lilis?

Nice to know:
Diproduksi oleh Sentra Mega Kreasi dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood tanggal 8 Februari 2011.

Cast:
Julia Perez sebagai Lilis
Dewi Perssik sebagai Neneng
Erlandho sebagai Adji
Ajeng Kraton
Bembi Zaenal

Director:
Helfi Kardit terakhir menciptakan euphoria sendiri dalam Setan Facebook yang sukses mengabaikan logika cerita itu.

Comment:
Kembali lagi sebuah naskah hasil tambal sulam karya Team Bintang Timur yang bahkan tidak berani menyebutkan nama-nama anggotanya. Jangan salah tanggap. Sebetulnya saya harus akui plotnya cukup menarik andaikata diberikan penekanan fokus cerita yang berbeda dan penambahan subplot yang berfungsi sebagai penopang cerita pula. Sayangnya hal itu tidak terjadi karena produser rasanya sudah cukup pede dengan duet maut aktris utamanya.
Siapa tidak kenal Julia Perez dan Dewi Perssik yang selain jago berdangdut dan bergoyang juga ahli mempertontonkan kemolekan tubuh mereka. Keduanya pun seringkali terlibat dalam produksi film lokal walau tidak pernah berbagi panggung bersama. Saat terjadi untuk pertama kalinya, malah dicemari dengan berita perseteruan antar Jupe dan Depe di lokasi syuting. Entah sungguhan atau demi publikasi luas rasanya tidak berdampak apa-apa terhadap kualitas filmnya sendiri.
Sutradara Helfi rupanya belum bosan menampilkan sosok hantu old-fashioned yaitu rambut panjang dengan make-up putih tebal. Namun sayangnya si hantu tidak mendapat porsi yang memadai untuk benar-benar ditakuti oleh penonton selain suara harimau yang kerapkali terdengar saat kemunculannya. Teror yang dilakukannya juga cuma sebatas sekelebat adegan-adegan bersimbah darah. Terkadang saya sendiri bingung apa sesungguhnya motif si hantu dalam menghabisi para korbannya? Then it’s more like a arcade movie and you know who the winner is.
Arwah Goyang Karawang memang tampaknya menyia-nyiakan potensi yang dimilikinya dengan detail-detail yang tidak penting dan terkesan murahan. Tidak heran jika protes pun berdatangan dari masyarakat tertentu yang ingin memboikot film ini. Namun setidaknya anda bisa menyaksikan Jupe dan Depe “bersaing” lewat kata dan goyang tubuh di layar lebar bukan? Terlepas dari porsi horor yang hanya menjadi penyedap belaka seperti dibutuhkan tetapi tidak dipakai dengan tepat.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 22 Oktober 2010

SETAN FACEBOOOK : Arwah Penasaran Hantui Jaringan Online

Quotes:
Ronny-Siapa yang tau setan gak bakal gentayangan lagi?

Storyline:
Kecanduan Facebook memang lumrah terjadi di kalangan anak muda jaman sekarang. Remaja belasan tahun Farah termasuk salah satunya. Ia gemar sekali mengupdate status Facebooknya dimana saja dan kapan saja. Hal ini tak jarang merugikan dirinya sendiri karena diusir dari kelas pada saat mata kuliah dosennya ataupun dikomplain kekasihnya, Nauvam dan sahabat karibnya, Cici. Ketakutan mulai melanda Farah saat tahu satu persatu temannya yang mendapat konfirmasi pertemanan dengan sosok misterius bernama Mira Anindhita tewas mengenaskan. Farah meminta bantuan Rony yang jago hack yang mengarahkannya pada Oma Pujo, keluarga dekat Mira. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan Mira?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh D’Color Entertainment dan diproduseri oleh Harris Nizam.

Cast:
Cindy Anggrina sebagai Farah
Boy Hamzah sebagai Nauvam
Jehaan Sienna sebagai Cici
Maeeva Amin sebagai Mira Anindhita
Waqid
Ricky Ertan

Director:
Helfi Ch Kardit mengawali karirnya dengan sebuah horor yang masih berkualitas lumayan yaitu Bangku Kosong (2006).

Comment:
Sejak awal cerita yang ditulis oleh M. Ilhamka Nizam dan Anggoro ini memang terkesan mengada-ngada. Namun dalam dunia perfilman tidak pernah ada standar baku yang tidak dapat digunakan. Ide senyeleneh apapun sebenarnya tetap bisa dikerjakan asal dibekali dengan kelengkapan-kelengkapan yang memadai. Bagaimana dengan film ini?
Sutradara Helfi tampaknya sekuat tenaga berusaha serasional mungkin menerjemahkan skrip tersebut dengan waras. Hal ini terlihat dari 30 menit pertamanya yang mencoba menampilkan latar belakang kehidupan remaja yang perlahan-lahan mulai menyikapi misteri yang dihadapinya. Namun semakin lama jatuhnya justru semakin tidak meyakinkan.
Pertama, kemunculan setan yang teramat janggal. Kadang ia muncul setelah lampu padam atau listrik mati yang anehnya masih bisa terkoneksi dengan internet? Provider apakah itu yang anti disconnect? Ataukah ia menggunakan portal khusus untuk memindahkan dirinya seperti pintu kemana saja? Sampai sini, itulah yang menarik untuk dicari tahu!
Kedua, motif setan yang semula misterius menjadi tidak penting lagi. Penonton sudah keburu jengah untuk digiring menuju ending yang sebetulnya dipersiapkan menjadi kejutan tersendiri. Balas dendamkah karena setan kebetulan lupa log out setelah sign in sehingga Facebooknya dihack orang? Hm, coba anda cari tahu sendiri.
Dua hal yang tidak meyakinkan itu semakin diperburuk dengan irrasionalnya tokoh-tokoh yang kebetulan “hidup” dalam film ini. Farah yang sok gaul bin oon, Cici yang makan teman, Nauvam yang peselingkuh, Ronny yang penjahat kelamin, Pak Dosen yang mesum dsb. Tidak ada satupun rasanya yang membuat kita bersimpati apalagi peduli pada nasibnya.
Segala uneg-uneg yang saya sebutkan di atas rasanya sudah cukup bagi anda untuk menilai kualitas Setan Facebook ini secara garis besar. Apalagi dengan penampakan yang ala kadarnya, rambut panjang dan muka rusak dalam gaun putih, mudah-mudahan setan ini bisa bertransformasi secara lebih sempurna dalam “sekuel”nya kelak. Twitter, anyone?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 27 Juli 2010

D'LOVE : Konflik Cinta Segitiga Petarung Jalanan

Storyline:
Kecewa atas kenyataan ayahnya kaya raya karena korupsi, Elmo memilih untuk meninggalkan rumah dan menjadi petarung jalanan demi menyambung hidup. Meski demikian, ia tetap bersekolah dengan alasan sesungguhnya bisa dekat dengan April, gadis berbakat menjadi pianis yang berayahkan seorang gay bernama Baskara. Selain April ada juga Neina yang sangat mengerti pribadi Elmo dan sebenarnya mencintainya juga. Semakin lama Elmo semakin terjerumus dalam pertarungan liar yang membuatnya dekat dengan Bocor, bocah jalanan yang selalu setia memberikan dukungan. Bagaimana konflik cinta segitiga Elmo-April-Neina tersebut dapat terselesaikan?

Nice to know:
Diproduksi olek Bintang Timur Films & Dreamcatcher Pictures dan gala premierenya dilakukan di Planet Hollywood 27 Juli yang lalu.

Cast:
Baru saja membintangi Jinx yang kurang bergaung itu, Aurelie Moeremans kembali sebagai April yang pandai bermain piano.
Terakhir bermain dalam Taring, Rebecca Reijman disini didaulat sebagai Neina yang terpaksa menjual diri demi membiayai pengobatan neneknya.
Debut Agung Saga sebagai Elmo, petarung jalanan yang lari dari rumah yang menawarkan kemewahan.
Ahmad Albar sebagai Baskara.
Rizky Adrianto sebagai Bocor.
Shierly Rushworth sebagai Susan.

Director:
Helfi Kardit yang terakhir menggarap The Sexy City kali ini selain menyutradarai juga memproduseri bersama Fanny Nasry.

Comment:
Dari premis awal yang disajikan sebetulnya memiliki potensi yang baik untuk menjadi drama yang tergarap secara maksimal. Namun semua terasa mentah di tangan penulis Amorita dan diperparah dengan terjemahan dari Helfi. Yang patut saya puji dari kinerja Helfi adalah sinematografi yang cukup konsisten sepanjang film, terlepas dari itu masih minus besar. Seluruh konflik utama maupun tambahan yang disajikan seakan berlomba-lomba untuk jadi yang terpenting dan pada akhirnya serba tanggung dan tidak benar-benar terangkat ke permukaan. Apa penyebab konflik tersebut dan bagian penyelesaiannya menjadi tidak ada garis batas sama sekali. Seakan penonton diajak naik ke puncak tetapi tidak benar-benar sampai ke puncak dan malahan dipaksa turun dengan gerutu dan kening berkerut di wajah mereka. Hal tersebut juga yang menggagalkan performa trio Aurellie, Rebecca, Agung. Jangan salahkan mereka. Di beberapa scene, Agung terlihat meyakinkan sebagai petarung jalanan yang tangguh sekaligus terluka batinnya. Interaksinya dengan Rizky terlihat natural tetapi karakter Bocor itu sendiri seakan penting tidak penting. Aurelie juga menampilkan kehidupan yang tidak bahagia yang ditutupinya dengan bermain piano dan mencari sosok lain yang dapat menggantikan ayahnya. Belum lagi Rebecca yang harus menjalani sesuatu terpaksa dan memendam perasaannya sendiri. Tetapi saya tekankan sekali lagi, karakterisasi mereka bertiga seakan tidak ada artinya karena konsistensi skrip yang tidak maksimal. Alhasil D'Love lebih merupakan potongan dokumenter kehidupan remaja-remaja bermasalah daripada sebuah film secara utuh dari segala elemen di dalamnya. Sayang sekali!

Durasi:
75 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 25 Maret 2010

THE SEXY CITY : Cinta, Persahabatan & Keperawanan Di Kota Besar

Storyline:
Demi mengejar cita-citanya, Poppy nekad ke Jakarta meski orangtuanya melarang. Kerasnya kehidupan kota besar membuat ia menerima pekerjaan sebagai penari bar milik Om Reno dan menemani tamu-tamu hidung belang. Pertemuannya dengan teman sekolahnya, Bono dan tunangannya, Satrio sedikit menggoyahkan niat Poppy. Untuk berteduh, Poppy menumpang di kost Stella yang juga kabur dari ibunya yang penjudi kelas kakap dan memilih hidup mandiri walau harus menjual tubuhnya. Belum lagi sahabat lama Poppy, Nanda yang terjebak putaw karena pacarnya yang seorang pengedar, Vino. Ketiganya seringkali terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan sehingga pada akhirnya harga diri, persahabatan dan cinta menjadi taruhannya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Virgo Putra Film dan gala premierenya dilakukan di Planet Hollywood.

Cast:
Ardina Rasty sebagai Poppy
Michella Adlen Ladouceur sebagai Stella
Jamsa Prajasasmita sebagai Nanda
Fauzi Baadilla sebagai Vino
Tio Pakusadewo sebagai Om Reno
Baim sebagai Satrio

Director:
Terakhir beberapa minggu lalu menggarap Suster Keramas yang cukup menghebohkan itu, Helfi Kardit kali ini berusaha menjawab tantangan sang produser, Ferry Anggriawan untuk menangani film ini.

Comment:
Film yang awalnya berjudul Jakarta Sexy ini tidak menyuguhkan sesuatu yang baru. Plot ceritanya sudah berulang kali dikembangkan termasuk Virgin yang sukses itu dan memiliki kemiripan tema dengan yang satu ini. Semua konflk yang dikembangkan sepanjang barisan bangunan cerita tidak terlalu konsisten dan pada akhirnya terkesan bercerai berai di ending yang dibiarkan setengah mengambang dan dipaksa diselesaikan. Problema-problema diantara tokoh-tokoh utamanya yang diciptakan juga tidak memiliki penjelasan lebih lanjut atas konsekuensi dari tindakan-tindakan mereka yang dapat diterima akal sehat. Dari jajaran cast, sayangnya nama besar Tio tidak terlalu dimaksimalkan karena hanya kebagian beberapa scene. Sebaliknya Rasty bermain cukup berani disini dengan pakaian minim atau syut-syut tertentu yang menampilkan lekuk-lekuk tubuhnya walau penjiwaannya tidak jauh berbeda dengan Virgin yang melejitkan namanya itu. Helfi sang sutradara masih terjebak dalam karya-karya "tak bernas" yang cenderung dianggap enteng. The Sexy City bukanlah film yang buruk tetapi kemuraman yang ditampilkan tanpa motif berarti memang cukup menyiksa.

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 19 Februari 2010

ARISAN BRONDONG : Menggilir Brondong Kesulitan Uang

Tagline:
Lihat, siapa yang beruntung bulan ini?

Storyline:
Lolita yang iri dengan Misye yang memamerkan brondong terbarunya yang ganteng bernama Erick segera mengumpulkan teman-temannya, Jeung Uut dan Anis untuk mengadakan arisan brondong. Lewat sejumlah seleksi yang tidak membuahkan hasil, Lolita akhirnya menjatuhkan pilihan pada Ryan, pengantar aqua galon butiknya secara tidak sengaja. Ryan yang cute itu kebetulan sedang kesulitan uang karena baru berpacaran dengan Tika yang anak orang kaya menyetujui syarat yang diajukan Lolita. Bersama teman seperjuangannya, Bagus dan Jaja, Ryan memulai "karier"nya sebagai brondong giliran yang diperebutkan juga oleh Heidi dari California dan Miss Nana dari Jepang. Pekerjaan yang bertentangan dengan hati nuraninya itu membuat Ryan selalu merasa bersalah dengan Tika, apalagi Tika juga mulai mengendus kejanggalan tersebut. Akankah pada akhirnya Ryan bisa jujur pada dirinya sendiri sebelum terlambat?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di fX.

Cast:
Ferly Putra sebagai Ryan
Bella Saphira sebagai Lolita
Heather Storm sebagai Miss Heidi
Hardi Fadillah sebagai Bagus
Navy Risky sebagai Tika
Andi Soraya sebagai Misye
Anita Hara sebagai Anis
Farish Nahdi sebagai Erick
Boy Hamza sebagai Jaja

Director:
Baru saja menghebohkan dengan Suster Keramas, Helfi Ch Kardit langsung kembali dengan drama komedi remaja dewasa ini yang kembali dimeriahkan oleh aktris seksi Taiwan.

Comment:
Meski premisnya menarik dan dikaitkan dengan kata ARISAN, film ini tidak banyak beranjak dari pakem yang ada belakangan ini. Ditunjang oleh poster yang cukup eye-catching dengan tampilan dua wanita impor bertutupkan selimut, rasanya perolehan rupiah di box-office akan cukup memuaskan. Mari kita bahas mulai temanya yang unik tapi terkesan menggampangkan logika. Andai saja skrip dibuat lebih rapi dan mau sedikit berpikir, niscaya hasilnya akan lebih baik lagi. Dari jajaran cast, Ferly sebagai "brondong utama" tampil cukup wajar dan menarik apalagi didukung oleh Hardi dan Boy yang juga sama bodohnya. Penampilan Bella sebagai tante sosialita cukup menggiurkan, lengkap dengan bahasa tubuh dan kostumnya. Kedua temannya, Anis yang malu-malu kucing serta Jeung Uut yang boros bodi itu juga turut melengkapi trio tersebut. Humor-humor yang ditawarkan cenderung slapstik dan situasional sehingga mampu memancing tawa lepas. Sayangnya Helfi terkesan terlalu terburu-buru menutup film tanpa berusaha menggali nilai-nilai sosial secara matang yang seharusnya mampu menjadi senjata pamungkas pada endingnya. Alhasil Arisan Brondong hanyalah tontonan menghibur belaka yang semestinya bisa lebih menggigit lagi.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 04 Januari 2010

SUSTER KERAMAS : Menjual Keseksian Bintang Porno Jepang

Storyline:
Keyla bersama kedua temannya menginap di suatu villa terpencil di desa. Key yang memiliki indera keenam segera mencium ketidakberesan ditempat tersebut, terlebih setelah arwah seorang ibu tua yang meninggal terus mengikuti untuk memperingatkannya tidak menyebut nama suster keramas dengan sembarangan. Sementara itu seorang turis Jepang yang cantik dan seksi bernama Michiko sedang mencari perawat bernama Karmila yang dulu pernah mengurus ayah kandungnya. Pertemuan Keyla dan Michiko juga seorang sutradara pembesut video porno mungkin saja mengusik hantu suster keramas di kediamannya tersebut.


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures yang belakangan konsisten di genre komedi seks horor.


Cast:

Rin Sakuragi
sebagai Michiko

Herfiza Novianti
sebagai Keyla

Rizky Mocil
sebagai Bari

Zidni Adam

Shinta Bachir


Director:
Terakhir menggarap Terowongan Rumah Sakit yang jauh dari publikasi itu, Helfi Kardit dipercaya menangani film ini yang secara terang-terangan menjual aktris luar negeri dari negara Sakura itu.


Comment:

Menit-menit pertama film cukup menjanjikan karena gaya khas sutradara yang sedikit dipicu film-film horor Jepang terlihat meyakinkan. Namun setelah itu, plot cerita menjadi tumpang tindih antara beberapa subplot yang sayangnya tidak didasari dasar yang kuat. Arah film menjadi mudah ditebak dan tidak fokus samasekali. Hal ini tentu saja karena ekspos yang berlebihan terhadap adegan syur di dalamnya yang melibatkan Rin Sakuragi, aktris porno ternama Jepang walau belum setenar Maria Ozawa alias Miyabi yang batal datang ke Indonesia itu. Apakah tren film lokal masa kini sedemikian dangkalnya hingga tidak mementingkan unsur lain? Beruntung gunting sensor masih cukup tajam sehingga tidak menjurus pornografi yang parah tetapi saya tetap menyebut film ini semiporno karena kevulgaran Rin yang mempertontonkan bh dan celana dalamnya terus menerus serta beberapa adegan lesbian yang sebetulnya tidak perlu. Kelucuan yang sejak awal dibangun Rizki Mocil dan Zidni Adam menjadi tidak penting lagi. Apalagi Keyla sang tokoh utama yang terasa tidak perlu dipedulikan nasibnya hingga film berakhir. Intinya, Suster Keramas hanyalah sebuah proyek coba-coba yang tidak mengesankan dalam segi apapun juga.


Durasi:

85 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Art can’t be below 6

6-poor

6.5-poor but still watchable

7-average

7.5-average n enjoyable
8-good

8.5-very good

9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 13 Maret 2009

TEROWONGAN RUMAH SAKIT : Dihantui Ibu Kandung Masa Lalu

Cerita:
Seorang gadis muda, Dinar dikirim kedua orangtuanya ke rumah sakit karena penyakit asma yang memburuk. Rawat inap itu ternyata membawa pengalaman spiritual bagi Dinar karena sejak awal ia kerapkali melihat penampakan wanita menggendong bayi yang berlari-lari di koridor rumah sakit tersebut. Berusaha mengumpulkan fakta dari suster ataupun pengurus rumah sakit, Dinar tidak mendapat keterangan apapun. Ditemani sahabatnya Akila dan kekasihnya Bimo, Dinar berusaha mencari jawaban dari itu semua sebelum orang-orang terdekat yang pernah diimpikannya tewas mengenaskan dengan misterius.

Gambar:
Dominan dengan scene lambat yang sebagian besar bersetting di rumah sakit. Nuansa kosong dan sunyi mampu tertangkap dengan baik.

Act:
Sarah Shafitri sebagai Dinar memperlihatkan emosi yang baik setelah baru saja kita lihat aktingnya sebagai gadis posesif dalam Kambing Jantan.
Rifky Balweel yang sebelumnya bermain dalam The Wall tidak jauh berbeda dengan peran stereotype yaitu pacar yang tidak setia bernama Bimo tapi akhirnya menyadari kekeliruannya untuk kemudian mendampingi kekasihnya melewati semua problema.
Dibantu oleh Ray Sahetapy dan Henidar Amroe sebagai orangtua Dinar.

Sutradara:
Berturut-turut setelah membesut parodi Sumpah "Ini" Pocong, Helfi Ch Kardit yang dikenal luas sejak Hantu Bangku Kosong mencoba kembali genre drama horor. Sayangnya tema yang disampaikan kali ini kurang kuat sehingga sulit dieksplorasi lebih dalam lagi.

Komentar:
Sangat datar! Begitu kesan yang saya tangkap saat menyaksikan film ini. Nyaris tanpa riak dari awal sampai akhir meskipun beberapa penampakan sebetulnya cukup menakutkan. Penonton akan dengan mudah menebak cerita secara keseluruhan mulai beberapa menit pertama film sehingga tidak ada lagi unsur kejutan. Klimaksnya pun tidak membantu. Hm, meski tidak sampai dibilang di bawah standar karena penggarapan yang sebetulnya cukup baik, Terowongan Rumah Sakit tidak akan menjadi karya yang memorable.

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 27 Februari 2009

SUMPAH "INI" POCONG : Pocong Parodi Khas Pedesaan

Cerita:
Kepala desa yang genit, Sugandhi beristrikan Nani yang cantik nan seksi berambisi mempertahankan masa jabatannya. Tuduhan sepihak yang negatif pun dijawabnya dengan melakukan sumpah pocong. Sayangnya asisten merangkap hansip, Tatang malah membawakan kain kafan milik mayat seorang warga sekitar. Kontan saja sejak saat itu kehidupan Sugandhi dan Nani menjadi penuh dengan gangguan pocong dimanapun. Bahkan sampai "mengikuti" Nani di kelas kebugaran tubuh yang dipimpin instruktur Fahmi. Bagaimana semua teror itu berakhir? Kebenaran apa yang sesungguhnya disembunyikan itu semua?

Gambar:
Kental dengan nuansa film-film tahun 80an dimana lingkungan pedesaan menjadi gambaran yang kuat.

Act:
Mengandalkan keseksian tubuhnya, Julia Perez alias Jupe tampil lebay sebagai Nani walau tidak sampai jatuh menjadi norak.
Jarwo Kuat berhasil mengocok perut dengan aksen dan gayanya yang kocak sebagai KaDes Sugandhi yang mata keranjang tapi sesungguhnya baik hati.
Walau cuma kebagian dua-tiga scene, nama Aming sebagai pocong bersarung dipasang sebagai yang utama. Hm, strategi jualkah?
Didukung pula oleh Agung Sudijana sebagai Fahmi, Udji Tongky sebagai Tatang dsb.

Sutradara:
Helfi Ch Kardit yang terakhir gagal dalam adaptasi Final Destination, Miracle kali ini berusaha menertawakan film-film bertemakan pocong yang pernah dibuat. Bekerjasama dengan rumah produksi lawas, Virgo Putra Films, Helfi boleh dibilang cukup berhasil dengan ide segarnya ini di tengah keseragaman tema cerita.

Komentar:
FIlm yang sejak awal dikondisikan sebagai parodi horor. Beruntung penggarapannya sederhana dan terkesan alami dengan setting masyarakat pedesaan yang diyakini bisa diterima penonton dari berbagai kalangan. Close up wajah pocong tergolong berani dan tentunya sudah didukung dengan kostum dan make-up yang baik. Walau "agak" tidak berstandar film layar lebar, Sumpah Pocong bolehlah dijadikan alternatif hiburan ringan pengisi waktu yang tidak perlu membuat kita berpikir banyak. Nikmati dan tertawa saja.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!