XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label mathias muchus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mathias muchus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

GENDING SRIWIJAYA : Fiksi Kolosal Menjanjikan Tanpa Keakuratan Historis


Quote: 
Kita berjuang demi tanah ini dari kerakusan Dapunta.

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Putaar Production dan Pemda Sumatra Selatan ini gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 9 Desember 2012 yang lalu.

Cast:
Agus Kuncoro sebagai Awang Kencana
Sahrul Gunawan 
sebagai Purnama Kelana

Julia Perez sebagai Malini
Slamet Rahardjo sebagai Dapunta Hyang Mahawangsa
Hafsary Thanial Dinoto sebagai Endang Wangi
Mathias Muchus
sebagai Ki Goblek

Oim Ibrahim sebagai Pati Duta
Jajang C Noer
sebagai Ratu Kalimanyang


Director: 
Merupakan karya ketujuh yang ditulis dan disutradarai Hanung Bramantyo setelah terakhir Sang Pencerah (2010).

W For Words:
Saya sudah lupa kapan terakhir ada sebuah film kolosal nasional dengan latar belakang sejarah daerah. Yang ada di ingatan cuma Saur Sepuh I-V (1987-1992) dan Tutur Tinular I-IV (1989-1992) dimana hanya bisa saya saksikan via televisi. Acungan jempol pantas diberikan pada Hanung Bramantyo atas inovasi dan keberaniannya mengerjakan proyek semacam ini tentunya dengan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Sumatra Selatan sehingga pemakaian Sriwijaya sebagai latar belakang setidaknya dapat ’disahkan’

Abad 16, Kedatuan Bukit Jerai adalah kerajaan kecil yang dipimpin Dapunta Hyang Mahawangsa dengan permaisuri Ratu Kalimanyang. Dua putranya, Awang Kencana dan Purnama Kelana memiliki karakter yang bertolak belakang. Saat Dapunta menunjuk Purnama yang mengandalkan intelektualitas sebagai penggantinya, Awang yang pandai bertarung marah bukan kepalang. Purnama difitnah membunuh Dapunta dan masuk penjara sebelum dinyatakan tewas saat pelariannya. Adalah Malini, puteri Ki Goblek pemimpin perampok yang membantu Purnama kembali dan menuntut balas pada Awang yang telah diangkat menjadi raja baru.

Jangan salah kaprah, film ini murni fiksi fantasi, jadi tidak perlu mengaitkan dengan fakta yang ada. Hanung yang menulis skripnya sendiri tak pernah menjelaskan tempat dan waktu kejadian. Penonton diajak menjadi pengamat sebuah perebutan kekuasaan yang lazim terjadi di masa apapun juga. Sayangnya durasi 138 menit mungkin terlampau panjang untuk sebuah feature film yang sebagian besar dihabiskan untuk pengenalan multi karakternya mulai dari yang agak penting hingga yang paling krusial demi membangun satu intrik tarik menarik yang mampu menjerat perhatian penonton.

Hanung sebagai sutradara juga begitu jeli memperhatikan setiap detail production value mulai dari set lokasi, tata kostum, tata rias, artistik sehingga terlihat meyakinkan. Penggunaan dialek Palembang terbilang konsisten di sepanjang film meski tak semuanya dilengkapi teks bahasa Indonesia baku. Akting para pemainnya pun berhasil ia poles sedemikian rupa sampai merasa nyaman meskipun harus menggunakan kostum yang tidak sesederhana kelihatannya tersebut. Memang sejak awal kabar mengenai film ini bergulir, banyak pihak yang mempertanyakan pemilhan casts nya.

Saya yakinkan pada anda bahwa penunjukan Julia Perez tidak salah pilih. Ia bermain total sebagai Malini yang heroine sejati. Kesan seksinya masih tertinggal walau kerap tertutup rias. Menarik melihat wanita-wanita (gending) lain yang berani memperjuangkan martabat sekaligus kebenaran melalui ilmu kanuragan tingkat tinggi. Agus Kuncoro berhasil membawakan sosok antagonis Awang Kencana yang begitu memancing emosi terutama di paruh terakhir film. Sebaliknya Sahrul Gunawan tampak begitu lugu dan innocence sebagai Purnama Kelana yang santun dan lemah lembut.

Gending Sriwijaya adalah babak lain dalam catatan prestasi seorang Hanung Bramantyo dalam kancah perfilman Indonesia. Intrik perang saudara, pengkhianatan, balas dendam, kebangkitan ditampilkan begitu hidup dalam jalinan kisah yang mudah diikuti. Adegan laga berikut koreografinya juga dieksploitasi dengan memikat. Memang sedikit tercoreng faktor historis yang sedikit terabaikan, tetapi keseriusan Hanung dalam penggarapannya jelas lebih pantas diapresiasi dibanding puluhan sinetron sejenis yang mengisi jam tayang utama stasiun televisi swasta kita selama bertahun-tahun.

Durasi: 
138 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 01 November 2011

PENGEJAR ANGIN : Bajing Loncat Pendidikan Cita-Cita

Quotes:
Dapunta: Dapun ingin sekolah, Pak. Dapun nak kuliah..


Storyline:
Siswa SMA cerdas, Dapunta tinggal di Lahat menjelang kelulusannya sangat berambisi untuk meneruskan ke bangku kuliah. Sayangnya niat baik itu ditentang sang ayah yang lebih mengarahkannya menjadi penerusnya sebagai pemimpin Bajing Loncat di kampung mereka, belum lagi ibunya yang sakit-sakitan hingga membutuhkan biaya pengobatan. Pak Damar dan Pak Ferdi yang melihat potensi Dapunta berusaha melakukan segala cara agar muridnya itu mampu menerima beasiswa. Dapunta dibantu oleh kekasihnya, Nyimas dan sahabatnya, Husni harus bersaing dengan Yusuf di segala bidang termasuk keunggulannya sebagai pelari tercepat sekaligus membuka pintunya untuk kesempatan emas yang membentang. Akankah mimpi tersebut dapat diraih?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Putaar Production dengan didanai oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dimana gala premierenya diadakan di Gandaria XXI pada tanggal 31 Oktober 2011.

Cast:
Qausar Harta Yudana sebagai Dapunta
Lukman Sardi sebagai Pak Damar
Agus Kuncoro sebagai Ferdy
Mathias Muchus sebagai Ayah Dapunta
Wanda Hamidah sebagai Bunda Dapunta
Siti Helda Meilita sebagai Nyimas
Giorgino Abraham sebagai Yusuf

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Hestu Saputra, jebolan Dapur Film yang dibantu oleh Hanung Bramantyo.

Comment:
Cerita di balik layar yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai narasumber, proyek film ini memang seperti “Sangkuriang”. Siapapun yang terlibat di dalamnya bisa jadi menggali kuburannya sendiri dikarenakan waktu yang begitu singkat dan tuntutan yang begitu besar dari penyumbang dana produksinya. Cukup mengejutkan melihat nama sekaliber Hanung Bramantyo tercantum dalam credit title apapun jabatannya disitu.
Penulis skrip Ben Sihombing terlalu banyak memasukkan elemen dalam film ini, setidaknya ada 3 yang paling utama yaitu:
1. Bajing loncat, tidak jelas digambarkan sebagai antagonis/protagonist.
2. Pendidikan, isu kelas gratis dan jatah beasiswa.
3. Olahraga, pelari jarak dekat untuk kompetisi.

Kesemuanya itu masih dibaurkan lagi dalam tema persaingan, persahabatan, pelatihan, dedikasi, cinta, kekeluargaan dari keseluruhan tokoh-tokohnya yang juga amat variatif dan sama kuatnya. Interaksi antara Dapunta dan sobat-sobatnya, ayah Dapunta dengan kawanan bajing loncatnya, guru Pak Damar dengan kepsek dan rekan-rekannya serta berbagai hubungan linier lainnya turut andil dalam menjungkir balikkan logika penonton yang kelelahan mengikutinya.
Mathias Muchus dan Lukman Sardi adalah dua nama besar di perfilman Indonesia. Keduanya memiliki peran penting terhadap sang tokoh utama yang dihidupkan dengan natural dan cukup maksimal oleh Qausar. Sayangnya tidak terlihat proses Ayah ataupun Pak Damar menginspirasi Dapunta secara tegas karena kurang fokusnya karakterisasi yang berusaha dibangun. Agus Kuncoro, Wanda, Siti Helda, Giorgino pun seakan hanya numpang lewat menciptakan riak-riak kecil dalam problematika yang ada.

Sutradara debutan Hestu Saputra bekerja di bawah supervisi Hanung Bramantyo. Sinematografi yang dihasilkan justru terkesan terlalu dinamis, terasa sekali perbedaan kinerja kamera di siang dan malam hari. Penceritaan sekolah (pendidikan Dapunta) dan hutan (penempaan ayah Dapunta) terasa seperti dua alam yang berbeda. Tata musiknya sebenarnya sudah mewakili daerah Sumatera Selatan, hanya saja penempatannya agak dipaksakan sehingga gagal membangun feel yang diharapkan.
Benang kusut yang hadir selama satu setengah jam pun akhirnya dituntaskan dalam 10 menit terakhir, seakan dimasukkan ke dalam lubang hitam begitu saja. Propaganda Pemprov dalam menggelorakan semangat Sea Games ke-26 di Palembang pun mengubah arah endingnya tanpa rasa dosa sekalipun. Semakin mengaburkan kualitas Pengejar Angin secara keseluruhan yang sudah kehilangan identitasnya sejak menit awal. Yang tersisa hanyalah aspek-aspek comotan dari berbagai film yang sudah-sudah hingga sukses membuat penontonnya berhalusinasi. Untuk apa susah-susah dikejar, angin yang sebatas lalu itu ternyata cuma mampu meninabobokan.

Durasi:
101 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 11 Februari 2011

RINDU PURNAMA : Keasingan Berbagi Perhatian Kekeluargaan

Storyline:
Rindu yang tengah mencari sesuap nasi di jalanan bersama teman-teman sebayanya harus pontang-panting dikejar aparat Kamtib. Akibatnya ia tertabrak mobil Surya yang dikendarai Pak Pur hingga dilarikan ke rumah sakit. Pak Pur yang iba membawa Rindu untuk tinggal di rumah Surya sekeluarnya ia dari rumah sakit. Namun Surya yang gila kerja itu tidak mengijinkannya. Surya tidak ingin fokusnya terganggu apalagi Pak Roy, sang Presdir menugaskan ia mendampingi putrinya, Monique untuk menangani proyek pusat perbelanjaan yang baru. Monique yang menaruh hati pada Surya menghalalkan segala cara untuk mendapat perhatiannya dan berujung pada penggusuran lingkungan kumuh tempat tinggal Rindu yang sesungguhnya. Bagaimana akhir dari polemik ini?

Nice to know:
Diproduksi oleh Mizan Productions dan gala premiere sekaligus press conferencenya dilakukan di fX Platinum XXI tanggal 8 Februari 2011.

Cast:
Salma Paramitha sebagai Rindu
Tengku Firmansyah sebagai Surya
Ririn Ekawati sebagai Sarah
Titi Sjuman sebagai Monique
Landung Simatupang sebagai Pak Pur
Pietrajaya Burnama sebagai Pak Roy
Ratna Riantiarno
Edwin
Jhody

Director:
Setelah berkarir sebagai aktor selama lebih dari 30 tahun, Mathias Muchus akhirnya menyempurnakan resumenya sebagai sutradara debutan dalam film yang diangkat dari novel ini.

Comment:
Coba anda ingat berapa lama sudah anda menantikan sebuah film keluarga lokal yang sederhana tapi mampu menyentuh sanubari anda? Tidak perlu berlama-lama memikirkannya dan langsung saja pergi ke bioskop terdekat anda untuk menyaksikan film yang satu ini. Garapan perdana aktor senior Mathias Muchus yang di luar dugaan melebihi ekspektasi saya.
Sutradara debutan ini berhasil memperhatikan hal-hal detail sekalipun. Sinematografinya yang konsisten dengan warna-warna teduh dengan nuansa depresif sepanjang film. Seakan berpihak penuh pada nasib anak-anak jalanan yang kurang beruntung tersebut. Berbagai efek stop-motion juga digunakan secara pas tanpa ada kesan mendramatisir. Setting perkampungan kumuh hingga rumah dan perkantoran menengah ke atas silih berganti ditampilkan.
Sebagai Purnama alias Rindu, Salma Paramitha memperlihatkan akting yang mumpuni. Meski terkadang tidak banyak berkata-kata, rasanya sorot mata pilu dan lugunya mampu mewakili perasaan hatinya. Duet Tengku dan Ririn juga menghadirkan chemistry yang pas walau tidak banyak “proses” yang terjadi di antara mereka. Sedangkan karakter menyebalkan putri bos yang manja, ambisius dan posesif dihidupkan oleh aktris berbakat, Titi Sjuman.
Sedikit kekurangan film ini adalah transkripsi dari novel ke naskah film yang dilakukan Ifa Isfansyah bersama Mathias Muchus memang dipastikan telah menghilangkan beberapa elemen yang ada. Sedangkan dalam filmnya, justru ada berbagai subplot tambahan (diwakili oleh adegan selayang pandang) yang sebetulnya tidak perlu ditunjukkan. Dua hal tersebut tidaklah mengejutkan jika mempengaruhi durasi film yang tergolong panjang ini.
Sebagai sebuah tontonan drama sarat makna, Rindu Purnama belumlah sempurna. Namun saya yakin semua kerja keras yang dilakukan tim film ini sangat layak diapresiasi. Bagaimana konsistensi dan dedikasi seorang senior bernama Mathias Muchus mampu menerbitkan rasa bangga dan haru bagi para penikmat film lokal sekaligus menyuguhkan potret realita anak-anak jalanan yang sering luput dari perhatian kita bersama.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 18 Desember 2009

SANG PEMIMPI : Kala Remaja Bermimpi Tentang Cinta dan Cita-Cita

Cerita:
Tiga sekawan masing-masing Ikal, Arai dan Jimbron memiliki guru favorit yang sama yaitu Pak Balia yang rajin membahas kutipan-kutipan tokoh terkenal nasional maupun internasional. Pelan-pelan mereka bertiga memiliki impian untuk keluar dari tekanan hidup yang semakin menghimpit dan bercita-cita menjelajahi Eropa demi mengarungi kehidupan. Kepala sekolah SMA, Pak Mustar bertolak belakang dengan Pak Balia memiliki sikap keras dan tak segan-segan menjatuhkan hukuman bagi yang lalai. Semua mimpi-mimpi berbaur dengan cinta seperti halnya Arai pada Zakiah Nurmala dan mengungkapkannya mulai dari puisi sampai belajar lagu Melayu pada Bang Zaitun, pemusik Melayu keliling. Sedangkan Jimbron jatuh hati dengan Laksmi, gadis pemurung pekerja pabrik cincau yang tak pernah tersenyum sejak orang tuanya meninggal. Beda halnya dengan Ikal yang tertarik pada gambar aktris perfilman di bioskop yang memutar film nasional. Semua perjalanan itu membuat mereka mengerti makna kehidupan terlepas dari rumitnya semua simpul kehidupan yang harus mereka urai satu persatu.

Gambar:
Tiga lokasi yang digunakan yaitu Belitung, Bogor dan Jakarta menyuguhkan gambar-gambar yang apik dari film yang bermasa syuting lebih kurang satu setengah bulan ini.

Cast:
Kompaknya Vikri Septiawan, Rendy Ahmad dan Azwir Fitrianto dalam memerankan Ikal, Arai, Jimbron remaja membuat semua sekuens yang melibatkan mereka menjadi penuh canda tawa.
Lukman Sardi dan Ariel 'Peterpan' mewujudkan karakter Ikal dan Arai dewasa.
Mathias Muchus dan Rieke Dyah Pitaloka mendapat sentuhan make-up penuaan dalam menokohkan ayah dan ibu Ikal.
Kepala Sekolah Pak Mustar dan Pak Balia dimainkan oleh Landung Simatupang dan Nugie.
Love interestnya Arai, Zakiah diambil oleh Maudy Ayunda yang pernah bermain dalam Untuk Rena.

Sutradara:
Masih bekerjasama dengan Salman Aristo selaku penerjemah tulisan Andrea Hirata menjadi skrip dan skenario, Riri Riza mendapat tantangan berat meneruskan Laskar Pelangi yang sukses komersil dan kualitas itu.

Comment:
Melanjutkan kesuksesan sebuah film adalah hal yang sangat sulit bagi sineas sekaliber manapun di Indonesia sejak dulu. Itulah yang juga terjadi pada sekuel Laskar Pelangi ini. Sinematografi yang ditampilkan memang masih cukup menjual. Namun sayang dirusak oleh editing yang tidak mulus dikarenakan beberapa frame yg seringkali terkesan terpisah2 di beberapa bagian. Dari segi cast, aktor-aktor remaja pemeran ketiga tokoh utama bermain cukup mengesankan dalam menjiwai perannya termasuk Rendy Ahmad yang berpuisi dan bernyanyi dengan lugas. Untuk transisi karakter, Lukman adalah aktor yang baik tapi terlalu tua untuk peran Ikal, Nazril Irham alias Ariel bemain lumayan manis sebagai Arai. Riri Riza seperti mengalami kesukaran dalam menerjemahkan skrip cerita dari novel ratusan halaman ke dalam tontonan yang menghibur. Tema tentang kaum remaja dari kota kecil yang memiliki impian pun disajikan datar-datar saja. Beberapa riak yang berusaha disematkan di beberapa bangunan cerita cukup berhasil walau tidak mampu menghapus kesan unenjoyable. Score musik masih terdengar prima walau tidak sekuat dalam Laskar Pelangi. Akhir kata Sang Pemimpi hanya berusaha menjual bayang-bayang mimpi tanpa benar2 bercerita tentang esensi mimpi itu sendiri. Sebuah tontonan berisi yang terasa kekurangan nyawa karena konflik-konflik yang disuguhkan kurang kuat apalagi dengan tidak adanya tokoh antagonis di dalamnya.

Durasi:
125 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 04 Juni 2009

QUEEN BEE : Kepercayaan Baru Itu Patut Diperjuangkan

Cerita:
Hidup sebagai putri calon presiden membuat Queenita Siregar bisa memperoleh segalanya tapi ia tetap berusaha mandiri dan mempunyai idealisme sendiri. Masalahnya ayahnya, Rachmat Siregar belum mempercayai putrinya yang baru berusia 17 tahun itu ditambah kesibukannya membuat hubungan keduanya berjarak. Saat berkenalan dengan Braga, Queen memasuki dunia baru yang indah walau tidak bertahan lama sejak kehadiran seorang paspampres muda yang selalu mengawalnya kemanapun ia pergi. Pada akhirnya hari pemilihan pun tiba, kepercayaan dan sikap menjadi penting artinya bagi Rachmat Siregar dan Queen untuk memulai sebuah dunia yang baru.

Gambar:
Sinematografi yang lumayan meski belum sempurna tapi berhasil memperhatikan detail-detail adegan dengan baik.

Act:
Tika Putri sebelumnya kita lihat dalam Jagad X Code. Disini sebagai Queenita Siregar, Tika tampil maksimal sebagai gadis muda mandiri dan kreatif dengan segudang ide yang hanya ingin hidupnya normal.
Aktor kawakan, Mathias Muchus menjadi calon presiden, Rachmat Siregar yang bijak dan berwibawa. Menarik melihatnya disini karena di beberapa scene mengingatkan kita pada pembawaan SBY.
Penampilan apik Oka Antara sebagai A-140507, kode seorang Paspampres muda yang tegas tetapi baik hati.
Mencuri perhatian seperti biasanya, Sarah Sechan sebagai Silvi, ajudan presiden yang perfeksionis sekaligus egois.
Reza Rahadian sebagai Braga, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial dan membuat Queen merasa nyaman di dekatnya.

Sutradara:
Fajar Nugros merupakan murid dari sutradara kondang Hanung Bramantyo, Namun dalam Queen Bee, Fajar berhasil mengedepankan film remaja yang kuat sekaligus menyenangkan dimana ia juga turut andil dalam penulisan ceritanya. Great job!

Komentar:
Terlepas dari iklan komersil yang dominan di pertengahan film, nilai 8 mungkin terlalu tinggi untuk Queen Bee, sepatutnya di angka 7.5 tetapi saya pribadi benar-benar menyukai plot dan eksekusi cerita yang bergulir mulus dan detil untuk ukuran film lokal ini. Di tengah Pemilihan Presiden 8 Juli mendatang memang belakangan banyak film yang menampilkan tema serupa. Namun film ini menyorot sisi dramatis kehidupan putri seorang calon Presiden. Familiar mungkin karena pernah ditampilkan dalam beberapa film Hollywood semisal Chasing Liberty. Hal tersebut tidak menghalangi Queen Bee untuk bercerita dengan gayanya sendiri yang fun, ringan tapi tajam menyengat!

Durasi:
100 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!