XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label revalina s temat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label revalina s temat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2012

UMMI AMINAH : Ustadzah Panutan Cobaan Bertubi-tubi

Quotes:
Mak Ina: Apalagi kalau dipanggil Tuhan gak datang, lebih kualat lagi..


Storyline:
Ummi Aminah adalah seorang ustadzah yang memiliki ribuan jamaah setia. Terbukti dimanapun ia berceramah, mesjid selalu penuh. Dari suami pertamanya, Ummi memiliki putra Umar yang beristrikan Risma dan putri Aisyah yang bersuamikan Hasan. Dari suami keduanya Abah, Ummi mempunyai Zarika, Zainal, Zubaidah, Zidan dan Ziah. Dari kelimanya hanya Zainal yang sudah menikah, istrinya Rini tengah mengandung anak kedua meskipun keduanya kesulitan keuangan. Zarika yang sudah mapan secara karir malah menjalin keakraban dengan asistennya, Ivan yang sudah beristri. Zubaidah yang bertubuh gemuk mendambakan cinta tetangganya, Joko. Ziah yang termuda lebih mementingkan mencari kerja untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu. Sedangkan Zidan yang kemayu malah membuka salon yang membuat Abah nya malu. Satu demi satu persoalan menyeruak hingga Ummi sempat terpuruk. Akankah mereka sekeluarga mampu mengatasinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana gala premierenya diselenggarakan di PPHUI pada tanggal 22 Desember 2011.

Cast:

Nani Widjaja sebagai Ummi Aminah
Rasyid Karim sebagai Abah
Cahya Kamila sebagai Aisyah
Gatot Brajamusti sebagai Umar
Paramitha Rusady sebagai Zarika
Ali Zainal sebagai Zainal
Aty Kanser sebagai Mak Ina
Yessy Gusman sebagai Risma
Revalina S Temat sebagai Rini
Elma Theana sebagai Dewi

Director:

Merupakan film ke-4 bagi Aditya Gumay sejauh ini yang diawali lewat Tina Toon & Lenong Bocah The Movie di tahun 2004.

Comment:
Nyaris setahun berlalu sejak rilisnya Rumah Tanpa Jendela, Aditya Gumay kali ini dipercaya MVP Pictures untuk menggarap sebuah drama keluarga yang cukup kompleks dimana problematikanya amat beragam dan meliputi nyaris seluruh anggota keluarga yang menjadi sentral cerita. Tokoh utama adalah seorang ustadzah terkemuka dan terpandang yang patut menjadi panutan publik yaitu Aminah.
Nani Widjaja masih mampu menyajikan akting yang menggigit sebagai Ummi. Kefasihannya berceramah dari sudut pandang agama di muka umum ternyata kontras dengan kehidupan pribadinya yang penuh cobaan. Lain lagi dengan Ali Zainal menampilkan performa paling brilian dengan gestur dan gaya bicara yang amat mewakili. Sepintas Zainal adalah pria muslim biasa yang taat beribadah sekaligus contoh suami dan ayah yang baik. Namun ketika tanpa sengaja terlibat narkoba, ketabahannya pun diuji habis-habisan.

Kembalinya Paramitha ke layar lebar tidak terlalu sesuai harapan. Peran Zarika di tangannya masih tergolong kelas sinetron. Sama halnya dengan Revalina S. Temat yang belum menunjukkan perubahan berarti dari karakter-karakter yang dimainkannya sebelum ini. Andai saja ada ruang lebih untuk Aty Kanser dimana tokoh Mak Ina yang latah itu seharusnya bisa menggali sisi komedik film ini. Sayangnya pembagian multikarakter tidak memungkinkan hal tersebut.
Duet penulis skrip Adenin Adlan dan Aditya Gumay silih berganti memaparkan permasalahan yang biasa ditemui dalam sebuah keluarga yaitu kesulitan keuangan, cekcok rumah tangga, kecemburuan antar anak, kesulitan jodoh dan lain-lain. Sinematografi yang wajar dan membumi sedikit terkotori oleh proses editing yang kurang rapi. Beruntung Aditya menutup film dengan ending ambigu yang tidak terduga samasekali sehingga menghindari stereotype yang itu-itu saja.

Begitu banyaknya sub plot yang dihadirkan terkadang masing-masing diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat saja. Terlepas dari beberapa scene yang seakan kehilangan esensi, nyatanya Aditya tetap mampu menyematkan intisari yang ada dengan pas. Dramatisasi yang terbentuk disana-sini tidaklah sampai cengeng dan mendayu-dayu tetapi lumayan menyentuh sanubari anda yang mungkin pernah berada dalam situasi serupa.
Sebagai sebuah drama, Ummi Aminah belum sampai pada tahap inspiratif. Namun setidaknya berbagai pesan moral diyakini akan membangkitkan optimisme bahwa setiap cobaan hidup hendaknya tidak dianggap sebagai beban atau hukuman. Kesabaran dan keimanan yang kuat akan membuat kita mampu melaluinya dengan baik. Jangan lupakan fungsi keluarga itu sendiri terutama pondasi kasih sayang orangtua yang tidak akan pernah tergantikan kedudukannya.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 18 Oktober 2011

SEMESTA MENDUKUNG : Olimpiade Fisika Kerinduan Ibunda

Quotes:
Muslat: Hati-hati ya. Kalau naik pesawat jangan keluarin anggota badan sembarangan.


Storyline:
Muhammad Arief yang berasal dari Sumenep, Madura sangat menggemari ilmu sains terutama Fisika. Ayahnya, Muslat hanyalah seorang sopir truk serabutan sedangkan ibunya, Salmah memilih pergi ke Singapura untuk menjadi TKW. Sepulang sekolah, Arief bekerja di bengkel untuk mengumpulkan uang demi mencari ibunya kelak. Suatu ketika, Ibu Tari Hidayat yang melihat bakat Arief mengirimnya ke Jakarta untuk mengikuti seleksi peserta Olimpiade Fisika di bawah bimbingan Pak Tio Yohanes. Awalnya Arief menolak karena merasa tidak mampu tapi begitu mengetahui kompetisi akan diadakan di Singapura, ia berubah pikiran. Disanalah ia bertemu dengan teman-teman barunya dengan berbagai karakteristik yaitu Thamrin dan Clara yang suporttif serta Bima yang sinis. Akankah harapan Arief dapat tercapai pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mizan Productions & Falcon Pictures dimana saya menyaksikan special screeningnya pada tanggal 9 Oktober 2011 di Pejaten Village XXI.

Cast:
Sayef Muhammad Billah sebagai Arief
Revalina S. Temat sebagai Ibu Tari Hidayat
Lukman Sardi sebagai Muslat
Ferry Salim sebagai Pak Tio Yohanes
Feby Febiola sebagai Deborah Sinaga
Helmalia Putri sebagai Salmah
Indro Warkop sebagai Cak Kumis
Sujiwo Tejo sebagai Cak Alul
Rangga Raditya sebagai Bima Wangsa
Angga Putra sebagai Thamrin
Dinda Hauw sebagai Clara Annabela

Director:
Merupakan film ketiga John De Rantau setelah terakhir Obama Anak Menteng (2010).

Comment:
Rasanya khalayak umum sudah tahu jika setiap tahunnya siswa-siswi Indonesia aktif berpartisipasi dalam Olimpiade Fisika, bahkan beberapa di antara mereka terkadang berhasil menyabet juara ataupun gelar bergengsi lainnya. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan sehingga Hendrawan Wahyudianto dan John De Rantau berduet menggarap skripnya yang dibumbui oleh ilmu pengetahuan, nilai-nilai persahabatan dan keluarga.
Judul film ini sendiri datang dari pedoman Prof Yohanes Surya PhD yang juga dikenal dengan sebutan Bapak Fisika Indonesia dimana istilah MestaKung dapat diartikan sebagai hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu di sekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis. Cukup inspiratif, bukan?
Saya justru merasa film ini menjejalkan terlalu banyak tokoh yang berusaha menjadi fokus masing-masing subplot ceritanya. Katakanlah di paruh pertama, Arief terlihat sibuk berinteraksi dengan ayahnya Muslat, preman kampung Cak Alul, belum lagi bekerja di bengkel atau bahkan memantau karapan sapi. Di paruh kedua, Arief sibuk dengan guru-gurunya Pak Tio, Ibu Tari, Ibu Debby serta teman-teman barunya seperti Thamrin, Clara, Bima bahkan si penjual ketoprak Cak Kumis. Tujuan akhir bertemu Ibu dan berpartisipasi dalam Olimpiade Fisika dengan memuaskan seakan mendualisme ending.
Sutradara De Rantau gagal mengulang pencapaian sinematografi Denias, Senandung Di Atas Awan (2006) yang ciamik itu. Kali ini alam Sumenep alias Madura, Jakarta dan Singapura terkesan hanya tempelan lokasi syuting yang tidak tereksploitasi dengan baik. Beruntung penata musik Thoersi Argeswara dan band Goliath mampu menutupi kekurangan tersebut dengan cara membangun mood film lewat music scoring ataupun tembang hit secara inspiratif dan bersemangat.
Sayef memang menjiwai peran Muhammad Arief dengan natural, badannya yang tinggi bongsor kontras dengan wajahnya yang lugu itu. Namun Angga Putra justru lebih mencuri perhatian lewat karakter Thamrin yang setia kawan dan jenaka tersebut. Tokoh-tokoh dewasanya justru lebih bertindak sebagai pelengkap saja terutama Feby, Sujiwo dan Helmalia. Ferry, Revalina, Lukman, Indro mendapat porsi yang lebih besar meskipun pada saat mendekati penghujung cerita lantas menghilang begitu saja.
Semesta Mendukung terbukti membahas Fisika itu sendiri dengan cara yang ringan dan menyenangkan walau tidak sampai mendetil apalagi rumit. Konsep penyajiannya terhadap anak-anak pun cukup mengena terlepas dari keberagaman karakter di sekitarnya yang too crowded itu (lihat saja posternya!). Secara keseluruhan Mizan Production melanjutkan kiprahnya untuk menyuguhkan tontona inspiratif dengan penekanan bahwa dalam setiap kondisi kritis akan selalu ada jalan keluar bagi orang yang mau melangkah dengan menggunakan pikirannya. Jadilah pemenang atas diri anda sendiri!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 05 April 2011

? : Ketika Menyikapi Perbedaan Adalah Sebuah Pilihan

Tagline:
Masih pentingkah kita berbeda?

Storyline:
Tan Kat Sun telah menjalankan usaha rumah makan selama bertahun-tahun dan menyediakan masakan halal dan non halal bagi tamu-tamunya. Sayang putranya Hendra tidak terlalu peduli dengan nasib rumah makan itu dan seringkali bersitegang dengan ayahnya sendiri. Ada lagi Rika yang paska perceraian melepas jilbab dan bertekad bulat mendalami ajaran Katolik walaupun anak kesayangannya Abi lebih suka memeluk Islam. Dalam perjalanan Rika bertemu dengan Surya yang frustrasi dengan karir aktornya. Belum lagi Soleh yang kesulitan memperbaiki hubungannya dengan istrinya Menuk karena perbedaan agama. Pergulatan batin kerapkali mewarnai pertengaran mereka dengan orang-orang di sekitarnya. Akankah toleransi antar umat beragama dapat tercipta pada akhirnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Dapur Film Production yang bekerjasama dengan Mahaka Entertainment dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 5 April 2011.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Soleh
Revalina S Temat sebagai Menuk
Endhita sebagai Rika
Agus Kuncoro sebagai Surya
Hengky Soelaiman sebagai Tan Kat Sun
Rio Dewanto sebagai Hendra

Director:
Karya pertama Hanung Bramantyo setelah meraih Piala Citra tahun lalu lewat Sang Pencerah (2010).

Comment:
Isu perbedaan agama kembali diangkat ke sebuah produksi layar lebar. Kali ini dilakukan oleh Hanung Bramantyo, seorang sutradara papan atas Indonesia yang sudah membuktikan diri lewat karya-karyanya. Disini Hanung terlihat berhati-hati dalam melakukan pembahasan setiap masalah yang tertuang dalam berbagai subplot yang variatif dan kaya sudut pandang itu.
Pembukaan film harus diakui berjalan lambat dan kurang maksimal. Batas perpindahan scene per scene yang samar cukup membuat penonton kesulitan untuk mengenali para karakter dan segala permasalahannya itu. Memasuki pertengahan durasi barulah mengalami perbaikan, seiring mulai menebalnya konflik yang dialami Rika, Menuk ataupun Hendra.
Dari jajaran nama-nama tenar yang mengisi cast film ini sungguh di luar dugaan jika pada akhirnya saya paling bersimpatik pada karakter Agus Kuncoro yang benar-benar tampil apa adanya sebagai Surya. Enditha juga bermain tegas disini sebagai Rika yang berpindah agama setelah ditinggal suaminya. Konflik agama di antara mereka terasa menyegarkan dan menjadi highlight tersendiri.
Seperti biasa Reza Rahadian berakting dengan maksimal sebagai Soleh yang mengalami pertentangan emosi. Sayang chemistry nya bersama Revalina sebagai Menuk tidak mendapat porsi yang dominan kali ini. Sedangkan keluarga Tan Kat Sun sebagai pemilik rumah makan Canton Chinese Food berhasil menciptakan dilematis sendiri terlebih perbedaan pandangan ayah dan anak yang dibawakan oleh Rio Dewanto dengan cukup lugas meski masih harus belajar banyak di luar peran layar kaca yang biasa dilakoninya.
Beruntung sekali Hanung memberikan warna yang berbeda-beda sebagai latar belakang ketiga pasang tokoh utama tersebut. Ciri khasnya yakni dramatisasi dan pengaturan tempo film kembali bekerja dengan baik. Skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena ini berhasil menggiring penonton pada satu kesimpulan yang “bold” di akhir cerita. Bagaimana perbenturan agama pada akhirnya dapat terselesaikan secara damai lewat sikap ikhlas menerima dan pengorbanan yang tulus.
Tanda Tanya (?) yang diilhami dari berbagai kisah nyata ini juga menampilkan sudut-sudut kota Semarang lewat serangkaian perayaan agama Islam, Kristiani dan Buddha secara khususnya sepanjang tahun. Sebuah wacana yang diharapkan bisa jadi bahan refleksi kita dalam kehidupan beragama sehari-harinya. Bukankah Tuhan itu memang satu adanya?

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 07 Oktober 2010

SATU JAM SAJA : Tiga Sahabat Dalam Cinta Bersyarat

Quotes:
Gadis: Memang kamu nggak mau besok tidur disini sama aku?

Storyline:
Andika, Hans dan Gadis sudah bersahabat sejak kecil hingga beranjak dewasa. Pada suatu kesempatan, Andika berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi di Jerman. Saat Hans dan Gadis ingin menyambangi Andika, mobil yang ditumpangi mereka mogok di tengah hujan badai. Sayangnya Hans tidak dapat menahan nafsunya sehingga tidak lama kemudian, Gadis hamil akibat perbuatannya itu. Andika yang diam-diam mencintai Gadis bersedia menikahinya sekaligus menjadi ayah bagi jabang bayi tersebut. Namun luka di hati Gadis tidak bisa hilang begitu saja. Di sisi lain, Hans menyesali perbuatannya dan meminta Andika mempertemukannya kembali dengan Gadis. Bagaimana akhir dari kemelut ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Karnos Film dan diproduseri oleh Santy Karno.

Cast:
Vino G. Bastian sebagai Andika
Revalina S. Temat sebagai Gadis
Andhika Pratama sebagai Hans
Rano Karno sebagai Bos Andika
Widyawati sebagai Dokter
Marini sebagai Ibu Gadis

Director:
Merupakan debut penyutradaraan pertama bagi pria kelahiran Bogor bernama Ario Rubbik ini.

Comment:
Jujur saja film ini sangat mengandalkan nama Rano Karno yang sudah sangat lama absen dari dunia perfilman Indonesia disamping fakta bahwa ia tampil juga dalam beberapa scene sebagai pemilik dealer motor tempat Andika bekerja. Selain itu apa yang dijual film ini? Tentu saja trio Reva, Vino dan Andhika yang berulangkali mencatat sukses dalam film-film yang pernah mereka perankan sebelumnya.
Plot ceritanya yang ditulis Rano sebetulnya sangat mudah ditebak dan boleh dibilang tidak ada sesuatu yang baru. Cinta segitiga antar tiga sekawan yang akhirnya menimbulkan tragedi dimana perasaan dan persahabatan benar-benar diuji. Mungkin dari menit pertama hingga terakhir bisa anda konstruksikan sendiri bahkan sejak opening scene bergulir. Itulah kenyataannya. Pemakaian judul yang juga terinspirasi dari lagu itu juga terkesan terlalu mendramatisir walaupun tidak harus seperti itu.
Dari paparan di atas, apakah kualitas film ini sedemikian buruk? Nyatanya tidak. Justru kejujuran dan kesederhanaan yang dijual cukup mengena. Akting Reva dan Vino bisa dikatakan cemerlang, permainan emosi mereka tertangkap dengan baik. Andhika sekuat tenaga mengimbangi tapi nampaknya ruang yang diberikan padanya untuk mengeksplorasi akting juga tidak sebesar kedua nama di atas. Belum lagi para pendukung senior yang seakan membawa film ini kembali ke nuansa tahun 1980an atau setidaknya awal 1990an.
Bagi sebagian penonton terutama pria bisa jadi film ini membosankan dikarenakan alur yang lambat dengan musik latar yang seharusnya membantu mood ternyata sangatlah minim. Namun kewajaran Satu Jam Saja dalam bercerita diyakini tetap mampu menguras emosi audiens yang spontan tertawa dengan dialog-dialog cheesy ataupun terharu dengan permainan nasib yang tidak adil itu.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 17 Juni 2010

RED COBEX : Geng Ibu-Ibu Berantas Ketidakadilan

Cerita:
Geng Red CobeX dapat dibilang multikultural karena para anggotanya dari berbagai daerah beranggotakan yaitu ibu-anak Ambon, Mama Ana dan Yopie, Tante Lisa dari Manado, Yu Halimah dari Tegal, Mbok Bariah dari Madura, Cik Meymey yang Cina Betawi. Mereka sangat disegani karena membela kaum lemah dengan menyingkirkan orang-orang yang mengambil keuntungan dari hal-hal maksiat ataupun tidak halal. Sayangnya aksi main hakim sendiri tidak ditolerir polisi yang tetap menjebloskan mereka ke dalam penjara Nusa Kembang. Namun Yopie yang dianggap tidak bersalah dibebaskan dan sementara menumpang tinggal di rumah sahabat karibnya, Ramli yang juga suami Ipah. Yopie mencoba hidup jujur dengan bekerja sebagai pelayan yang membawanya bertemu Astuti, gadis Jawa yang manis. Akankah Yopie dapat menemukan jati diri nya sendiri tanpa menyakiti hati Mama Ana and the gank?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood pada tanggal 15 Juni yang lalu.

Cast:
Tika Panggabean sebagai Mama Ana
Indy Barends sebagai Tante Lisa
Sarah Sechan sebagai Mbok Bariah
Cut Mini sebagai Cik Meymey
Aida Nurmala sebagai Yu Halimah
Lukman Sardi sebagai Yopie
Revalina S Temat sebagai Astuti
Shanty sebagai Ipah
Irfan Hakim sebagai Ramli

Director:
Upi Avianto mengawali karir penyutradaraannya lewat 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang cukup sukses itu.

Comment:
Dibuka dengan kehebohan geng Red Cobex memberantas preman di sebuah kampung, terus terang prolog tersebut menimbulkan firasat buruk dalam diri saya akan kualitas film secara keseluruhan. Dugaan itu tidak salah karena selama 105 menit durasinya, saya dan sebagian besar penonton merasa sangat tersiksa! Pertama, plot ceritanya sangat mengada-ngada dan klise. Sekelompok orang multiras yang kali ini diwakili ibu-ibu berusaha menunjukkan tajinya plus bumbu romansa dua pasangan yaitu sepasang suami istri dan dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Kedua, genre komedi yang diusung tidak didukung oleh humor cerdas dan kreatif. Semua adegan pengocok tawa terlalu dipaksakan slapstick dan tidak lucu sama sekali. Satu-satunya yang membantu mungkin musik latar yang setidaknya terdengar kocak. Ketiga, gaya penyutradaraan yang acak adut. Entah apa yang ada di benak Upi yang sebetulnya menggunakan nama besarnya sebagai sutradara wanita lokal berbakat untuk menyedot calon penonton. Saya tidak menyalahkan jajaran castnya disini karena skrip yang mengharuskan mereka berada di relnya. Namun setidaknya masing-masing berusaha konsisten dengan logat dan gaya khas daerah yang diharuskan. Padahal banyak nama tenar nan berbakat yang ambil bagian disini. Yang mengganggu adalah pemilihan Lukman sebagai anak Tika. What?! Alhasil, Red Cobex gagal merebut simpati penonton yang sudah tidak peduli lagi dengan jalan cerita ataupun para tokohnya meskipun animo awalnya cukup tinggi.

Durasi:
105 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 26 Maret 2010

THE GOD BABE : Saat Arsitek Lugu Kencani Putri Mafia Betawi

Storyline:
Di sebuah bar, Ola yang mabuk berkenalan dengan Riyo. Betapa terkejutnya pada waktu bangun pagi, Ola mendapati dirinya seranjang dengan Riyo! Keduanya berasumsi bahwa telah terjadi sesuatu semalam. Ola mengadu pada ketiga abangnya masing-masing, Ojan, Oding dan Oji perihal masalah itu yang segera menyambangi Riyo untuk diminta pertanggungjawabannya. Tanpa Riyo tahu, keempat orang asing yang baru dikenalnya itu adalah anak dari Mat Jago, mafia Betawi yang disegani siapapun juga. Mat Jago yang memang ingin memiliki anak menantu yang cerdas segera meminta Riyo menikahi Ola. Namun keduanya tidak ingin buru-buru dan berusaha mengenal satu sama lain dengan jalur yang seharusnya. Apalagi Riyo telah berpacaran dengan Mercy, designer muda ambisius. Siapa yang akhirnya dipilih Riyo?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kanta Film dan diproduseri oleh Budi Mulyono.

Cast:
Kali ini berusaha menampilkan imej pria kutu buku cerdas, Tora Sudiro sebagai Riyo, arsitek muda yang tidak berpengalaman dengan wanita.
Revalina S. Temat melakoni Flora, putri kesayangan babenya yang mafia Betawi.
Ketiga abang Flora yaitu Fauzan, Robin, Fauzi masing-masing diperankan oleh Dwi Sasono, Vincent Rompies dan Zaky Zimah.
Didukung pula oleh Jaja Miharja sebagai Mat Jago, Tyas Mirasih sebagai Mercy dan Bari Bintang sebagai Dasa.

Director:
Sutradara wanita paling produktif di tanah air, Arie Azis kali ini berduet dengan penulis skenario, Lingga Mana.

Comment:
Komikalisme film ini sedikit mengingatkan saya pada film-film sejenis buatan negeri ginseng. Tema ceritanya sederhana dan mudah sekali dicerna. Keluarga mafia Betawi berpengaruh versus keluarga modern Jenderal. Meskipun konflik yang berbenturan hanyalah antar anak-anaknya saja, dalam hal ini diwakili Tora versus Reva beserta ketiga abangnya. Beruntung disini Tora tidak overexplosif dalam melucu. Reva seperti biasa tampil manis memikat. Trio Dwi, Vincent, Zacky yang kocak dan kompak memberikan warna sendiri. Lihat bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain dan mendorong adik mereka untuk berpacaran dengan lelaki impian ayahnya. Yang sedikit mengganggu menurut saya, perseteruan dengan geng Dasa sangatlah tidak perlu dan scenenya boleh saja dihilangkan. Tetapi hal tersebut tentunya akan mempengaruhi durasi dan ending film yang juga sedikit berlebihan. Kapasitas Arie dalam menyuguhkan tontonan menghibur tidak usah ditanyakan lagi. The God Babe, terlepas dari kedangkalan eksekusinya masih merupakan komedi yang segar dan mampu menghibur sesuai misinya, hanya saja jangan terlalu banyak berpikir dalam menontonnya.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 04 April 2009

WAKIL RAKYAT : Komedi Romantika Jelang Pemilihan Umum

Cerita:
Karena suatu kejadian yang tidak disengajanya, Bagyo kehilangan pekerjaan sekaligus rencana pernikahan dengan kekasih tercinta Ani terancam batal dikarenakan ayah Ani, Abdul yang tidak menyukainya. Saat tidak terduga, Bagyo berhasil menggagalkan perampokan terhadap artis terkenal, Atika. Sebab itulah, Bagyo masuk televisi dan kemudian ditawari menjadi caleg Partai Perjuangan Tanpa Henti oleh ketua, Wibowo dan asistennya, Dani. Bersama mantan pegawainya Jereng, Bagyo ditugaskan berkampanye di daerah terpencil Wadasrejo yang rakyatnya serba hidup kekurangan. Bagaimana Bagyo bisa mengangkat namanya sesuai prinsip hidup yang dianutnya sekaligus mensukseskan rencana pernikahannya?

Gambar:
Perjalanan Bagyo dari kota besar ke desa terpencil digambarkan dengan cukup menarik. Segala atribut kampanye juga tidak lupa ditampilkan disini.

Act:
Tora Sudiro sebagai Bagyo, pemuda jujur yang menjadi caleg terkenal. Transformasinya cukup menarik walau masih sulit menghilangkan imej asli dirinya.
Revalina S Temat sebagai Ani memang tidak memegang peranan utama. Namun penampilan manis dan penjiwaan yang baik membuatnya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Tarzan sebagai Wibowo menampilkan sosok ketua ambisius yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan.
Dwi Sasono yang biasanya tampil macho urakan kali ini kebagian peran sebagai Dani, asisten kemayu dan memiliki banyak akal.
Vincent Rompies sebagai sidekick Bagyo yang setia walaupun bodoh memperlihatkan penokohan yang bisa dibilang menarik.

Sutradara:
Bisa dibilang karya terbaik Monty Tiwa selama ini, terlebih setelah ketidak konsistenannya dalam Kalau Cinta Jangan Cengeng. Disini Monty bersama saudaranya Eric Tiwa dengan jeli menyusun skenario yang kental dengan nuansa sosial politik. Casting dan penokohan yang dipilihnya juga tepat. Terlepas dari kebiasaannya melakukan editing yang kurang mulus, Wakil Rakyat bolehlah!

Komentar:
Film ini memiliki alur yang sesungguhnya, mulai dari pengenalan tokoh utama yang memiliki konflik sampai berkembang menjadi sesuatu yang bisa dipetik hikmahnya pada akhirnya. Meski awalnya saya menganggap film ini hanya mengekor situasi sosial politik yang tengah terjadi, ternyata saya mendapati film ini menghibur karena tidak hanya sekadar bercerita dan mengolok-olok kenyataan saja. Tema baru wajib tonton sebelum anda menentukan pilihan demi bangsa negara Indonesia!

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 19 Januari 2009

PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN : Perjuangan Hidup Seorang Muslimah Mendapatkan Persamaan Hak

Cerita:
Anak perempuan semata wayang seorang kyai, Anissa sejak kecil mendapat kungkungan dimana ia seharusnya belajar semua hal dengan sebebas-bebasnya sejak dini. Satu-satunya tempat berbicaranya hanyalah Le Khudori yang sudah dianggap teman terdekat dan kakaknya sendiri. Sepeninggal Le yang melanjutkan studi di Kairo, Anissa tumbuh menjadi gadis cantik cerdas berpendirian kuat. Tekadnya untuk melanjutkan kuliah sudah bulat dan terpaksa menyetujui satu syarat berat dari abahnya yaitu menikah dengan Samsudin, anak seorang kyai pesantren yang lebih besar. Menjalani kehidupan perkawinan yang tidak bahagia ditambah dengan kondisi dimadu membuat Anissa berontak dan pergi ke Yogya. Disana ia bertemu kembali dengan Le yang sesungguhnya dicintainya itu. Pelan-pelan, Anissa mulai merintis impiannya membangun perpustakaan untuk meningkatkan derajat dan pola berpikir yang lebih maju bagi kaum perempuan masa kini dimana ajaran Al Qur'an dianggapnya tidak memihak mereka. Namun tantangan mewujudkan itu semua tidaklah mudah, Anissa harus menghadapi cobaan demi cobaan berat yang mungkin bisa membuatnya menyerah..

Gambar:
Lanskap yang mengagumkan di sela-sela pencitraan kehidupan pesantren dan segala atributnya yang berhasil ditampilkan dengan jelas.

Act:
Revalina S Temat semakin mengukuhkan namanya sebagai aktris papan atas Indonesia. Perannya sebagai Anissa disini menuntutnya mengerahkan segenap kemampuannya beremosi mulai dari marah, kecewa, sedih, bahagia, tertekan dsb yang ternyata berhasil dilakukannya dengan cemerlang.
Oka Antara kembali dengan film bernafaskan Islam keduanya setelah Ayat-Ayat Cinta. Bermain sebagai Le Khudori, Oka menunjukkan talentanya dengan mengimbangi dan menciptakan chemistry yang pas dengan Reva.
Reza Rahadian cukup berhasil sebagai Samsudin, suami yang sepintas kelihatan alim tapi gemar menyiksa dan licik dengan segala cara busuknya.

Jangan lupakan juga kehadiran Widyawati dan Joshua Pandelaki yang juga tampil mengesankan walau tidak dalam porsi yang besar.

Sutradara:
Hanung Bramantyo yang juga memproduseri film ini boleh dikatakan berhasil membangun nuansa dan penggambaran yang tepat untuk film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Abidah el Khalieqy. Casting juga didukung dengan bintang-bintang ternama dengan kualitas akting yang mumpuni. Aspek-aspek pendukung yang penting seperti score dan cinematography juga tertata dengan baik. Two thumbs up for Mr. HB!

Komentar:
Film wajib tonton bagi anda yang berjenis kelamin wanita. Jangan juga artikan ini sebagai film religi karena inti ceritanya tergolong universal tentang perjuangan seorang perempuan muslim untuk mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki. Perjalanan hidup Anissa yang mungkin juga pernah dialami oleh kita semua. Beberapa adegan diyakini akan menyentuh hati anda. Sependapat dengan saya?

Durasi:
130 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!