XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label surya saputra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surya saputra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

JAKARTA HATI : Sekelumit Konflik Manusia Seantero Ibukota


Quotes:
Oh ternyata pacar kamu yang bikin istri saya mabuk laut?

Terbagi dalam 6 segmen:
ORANG LAIN (21 min)
Seorang pria di usia pertengahan 30 tengah mabuk di meja bar sambil mencelupkan cincin kawinnya ke dalam gelas di hadapannya. Tak lama datanglah seorang perempuan kisaran usia 20 yang mengatakan bahwa pacarnya berselingkuh dengan istri pria tersebut. Dalam situasi canggung, keduanya sepakat menghabiskan waktu dengan makan dan jalan bersama sembari membahas kekurangan pasangan masing-masing. Apakah mereka betul-betul mengenal diri sendiri?

MASIH ADA (17 min)
Marzuni adalah seorang anggota dewan yang ingin menyambangi rekan-rekannya di bilangan Senayan dengan membawa tas olahraga berisi uang tunai sejumlah satu milyar rupiah. Malang, mobilnya mogok dan supirnya tak mampu berbuat apa-apa. Marzuni lalu menyetop sebuah taksi dimana sang supir berceloteh tentang moral orang gede dan kecil yang memicu perdebatan di antara keduanya. Dalam perjalanan, Marzuni belajar bahwa anggapan negatif memang tak bisa lepas dari profesinya itu.

KABAR BAIK (19 min)
Bana adalah seorang polisi muda yang jujur dan disiplin meskipun banyak godaan untuk bermain kotor. Suatu saat, tahanannya adalah pria paruh baya yang ternyata ayahnya sendiri. Dituding melarikan sejumlah uang arisan berantai tetangganya sendiri, Bana harus menjalani prosedur pemeriksaan dan interogasi yang canggung. Interaksi keduanya mengungkapkan banyak cerita yang tidak diketahui Bana sekaligus menimbulkan dilema yang sulit dihindari.
HADIAH (18 min)
Seorang penulis skrip yang telah melewati masa emasnya, Firman tengah kekeringan ide dalam menyelesaikan apa yang dianggapnya akan meledak. Sahabatnya menyarankan via telepon agar Firman menghubungi langsung produsernya untuk membahas konsep komedi seks kacangan itu. Sementara putra Firman yang berusia 8 tahun merengek agar ditemani ayahnya datang ke pesta ultah teman sekolahnya yang kaya raya. Bermodalkan lima puluh ribu, Firman lantas mempertaruhkan harga dirinya.

DALAM GELAP (23 min)
Pemadaman listrik terjadi di sebuah kawasan Jakarta selepas maghrib. Pasutri muda yang biasa menyibukkan diri dengan gadget, media sosial dan seabrek kegiatan pribadi lainnya terpaksa berbicara satu sama lain. Sayangnya bahasan yang mereka ambil justru semakin memperkeruh suasana yaitu rahasia perselingkuhan masing-masing yang sudah diketahui keduanya. Betapapun mereka mencoba berdamai, kegagalan membina rumah tangga tak bisa ditutupi lagi.

DARLING FATIMAH (16 min)
Fatimah adalah perempuan keturunan Pakistan penjual darling alias dadar guling dan penganan lainnya di Pasar Senen. Kecantikan dan mulut manisnya selalu memikat para pembeli termasuk Ayun, pemuda keturunan Cina yang menaruh hati padanya. Interaksi mereka yang tak nyaman didengar karena terlampau jujur lambat laun mengarah pada cinta dimana hubungan keduanya mungkin menuju pada masa depan yang kompromis.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh 13 Entertainment ini gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 6 November 2012 yang lalu.

Cast: 
Slamet Rahardjo sebagai Marzuni
Andhika Pratama sebagai Bana
Roy Marten sebagai Ayah Bana
Dwi Sasono sebagai Firman
Agni Pratistha
Dion Wiyoko
Shahnaz Haque
sebagai Fatima
Framly Nainggolan sebagai Ayun
Surya Saputra
Asmirandah
Didi Petet
Jajang C Noer
Agus Kuncoro

Cowboy Junior

Director: 
Merupakan karya kedua bagi Salman Aristo yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis skenario ini.

Comment: 
Jika tahun lalu ada Jakarta Maghrib yang edar terbatas di jaringan bioskop Blitzmegaplex dengan konsep omnibus serupa dan durasi masing-masing segmen yang lebih singkat, maka kali ini Salman Aristo berupaya mengeksplorasi lebih jauh kedalaman hati segelintir orang yang dianggap mewakili idealisme kota Jakarta. Enam kisah pendek seperti Orang Lain, Masih Ada, Kabar Baik, Dalam Gelap, Hadiah, Darling Fatimah mengambil tema beragam yang ujung-ujungnya berpijak pada cinta itu sendiri. Hak rilis yang dipegang 21Cineplex jelas memberikan kesempatan yang lebih luas.

Kapabilitas Salman sebagai sutradara memang mengalami peningkatan. Permainan gambarnya jauh lebih variatif meski kontinuitasnya masih belum sempurna di beberapa bagian. Editing jempolan dari Cesa David setidaknya mampu menutupi hal tersebut. Dialog-dialog puitis nan menggigit tetap menjadi andalan dalam menohok perasaan penonton yang mungkin pernah berada di situasi nyata yang mirip. Sayangnya tata musik Jenal belum dapat menghadirkan penekanan nuansa yang diinginkan sehingga tak jarang pengadeganannya terasa kosong tanpa nyawa.

Dalam Gelap, Hadiah, Darling Fatimah, Masih Ada, Orang Lain, Kabar Baik. Urutan tersebut adalah susunan saya dari yang terfavorit hingga yang tidak. Ya, paruh pertama film ini menunjukkan kecanggungan yang tidak biasa sebelum diperbaiki dengan kefasihan yang lebih lancar di paruh kedua.
 Simak ulasan singkat saya terhadap masing-masing segmen. Abaikan jika anda tidak ingin tahu terlalu banyak.
Orang Lain>Kejutan berupaya disimpan rapat-rapat hingga akhir. Namun eksploitasi percakapan random tak cukup untuk menggali kepribadian dari sosok pria dan wanita disini sehingga logikanya sedikit terabaikan dan penonton tak mampu bersimpati pada keduanya. Wajah dan akting rupawan dari duet Surya Saputra dan Asmirandah setidaknya menyelamatkan bagian pembuka ini.
Masih Ada>Slamet Rahardjo tampak “sendirian” mengangkat segmen ini menangkis anggapan negatif orang-orang awam di sekitarnya. Penampilan Agus Kuncoro, Didi Petet, Herdin Hidayat yang juga tak kalah senior malahan tak cukup tegas menggarisbawahi pernyataan kontradiktif yang lahir dari stereotype pejabat negeri ini.

Kabar Baik>Pemasangan Roy Marten dengan Andhika Pratama nampaknya bukan ide yang bagus mengingat lintas generasi yang tidak didukung oleh kualitas akting yang sebanding. Konflik ayah penipu dan putra polisi seharusnya mampu memercikkan riak kekeluargaan yang kental, bukan sebatas cap legitimasi penegak dan pelanggar hukum.
Hadiah>Segmen inilah yang paling memiliki hati. Anda akan melihat kasih sayang tulus orangtua terhadap anak dan juga antar teman terlepas dari himpitan beban hidup dan kesenjangan sosial yang melatarbelakanginya. Dwi Sasono secara cemerlang menjiwai peran penulis skrip yang hidup di bawah bayang-bayang kesuksesan masa lalu sehingga lupa menyongsong masa depan. Simak pertukaran dialognya dengan sahabat di ujung telepon yang sukses menjelaskan segalanya.
Dalam Gelap>Segmen yang satu ini memang muncul dalam format steady shot minim cahaya. Pemadaman listrik yang berakhir pada perdebatan suami istri yang saling “menelanjangi” rahasia masing-masing tak memungkiri api rumah tangga yang mulai memadam. Dion dan Agni menyuguhkan gestur tubuh yang menarik disertai spontanitas kalimat sindiran yang tajam menohok walau ekspresi wajah tertutupi kegelapan.
Darling Fatimah>Keluhan saya cuma satu, Shahnaz terlalu cantik untuk peran wanita penjual di pasar. Meski begitu, usahanya menokohkan janda Pakistan pantas diacungi jempol. Sama halnya dengan Framly sebagai pemuda Cina Betawi berpendirian kuat. Interaksi Fatimah dan Ayun memang belum sempurna tapi chemistry mereka terbilang manis dalam merumuskan potensi cinta yang ada.

Menilik kualitas cerita secara keseluruhan, saya 
katakan Jakarta Hati tidak sebaik pendahulunya terlepas dari peningkatan aspek teknis yang kentara. Omnibus ini belum memiliki keseimbangan hakiki pada tiap segmennya dimana plot masing-masing tak mampu menyembunyikan kesan episodik dari sebuah potret besar. Penggunaan Jakarta sebagai ruang lingkup dan hati sebagai nyawa tampak terlalu berat untuk dirangkum terlepas dari durasi yang nyaris mencapai dua jam tersebut. Namun Salman jelas mempunyai niatan baik untuk bertutur dengan menempatkan kepingan hati ragam rasa di tiap sudut kota Jakarta yang hiruk pikuk.

Durasi: 
114 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 23 April 2012

MODUS ANOMALI : Kepingan Misteri Pembunuh Misterius


Quotes:
John: Sorry, I can’t protect us..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Lifelike Pictures ini menyelenggarakan screening di Blitzmegaplex Grand Indonesia dan gala premiere di Epicentrum XXI pada tanggal 17 April 2012.

Cast:
Rio Dewanto sebagai John Evans
Hannah Al Rashid
Izzati Amara Isman
Aridh Tritama
Surya Saputra
Marsha Timothy
Sadha Triyudha
Jose Gamo

Director:
Merupakan film keempat Joko Anwar yang justru diawali oleh komedi romantis Janji Joni pada tahun 2005.

W For Words:
Kesuksesan Kala dan Pintu Terlarang, setidaknya secara kualitas, telah menetapkan standarisasi baru film nasional bergenre thriller. Otak di balik semua itu berasal dari Joko Anwar yang untuk kedua kalinya bekerjasama dengan produser handal, Sheila 'Lala' Timothy lewat rumah produksinya Lifelike Pictures. Film ini sendiri sempat mencuri perhatian publik internasional saat berkesempatan tayang perdana dalam ajang SXSW di Texas pada tanggal 9-17 Maret yang lalu dengan hasil penilaian yang beragam dari kritikus-kritikus asing.
John Evans terbangun mendapati dirinya terkubur dalam tanah. Tidak ada satu hal pun yang dapat diingat termasuk siapa dirinya. Ponsel yang dimilikinya tak menyisakan kontak apa-apa. Kosong! Ketika berjalan menyusuri hutan, John menemukan sebuah pondok kayu dengan teve dan video player yang memperlihatkan pembunuhan terhadap seorang wanita hamil yang disinyalir sebagai istrinya. Belum hilang keterkejutannya, John menyadari bahwa ia tidak sendiri di hutan itu. Ada sosok lain yang mengintai di balik pepohonan dan semak-semak. Berhasilkah John keluar hidup-hidup dari hutan tersebut sekaligus memecahkan misteri kelam yang terjadi?

Rio Dewanto merupakan tokoh sentral yang mendominasi keseluruhan film. Untungnya ia cukup berhasil menampilkan ekspresi kebingungan dan ketakutan yang terpancar jelas lewat sosok John yang terus berkeliling hutan siang dan malam demi mencari jawaban. Penampilan para pendatang baru seperti Hannah Al Rashid, Izzati Amara Isman, Aridh Tritama, Sadha Triyudha, Jose Gamo juga tidak mengecewakan terlepas dari minimnya porsi yang diberikan. Dua nama yang lebih senior yakni Surya Saputra dan Marsha Timothy memberikan nilai tambah tersendiri bagi jajaran cast yang semuanya lumayan fasih berbahasa Inggris tersebut.
Joko Anwar yang mengakui film ini berbujet rendah dimana syutingnya hanya menghabiskan waktu sepuluh hari secara cerdas merekonstruksi bangunan cerita sedemikian rupa sebelum terjawab tuntas di penghujung film. Adegan kekerasan di beberapa bagian memang masih dalam batas toleransi tetapi yang membuatnya istimewa adalah ketepatan timing sehingga mampu mengundang reaksi spontan para penonton yang diyakini terhenyak di kursi masing-masing.

Bagian opening hingga pertengahan film yang memenangkan Bucheon Award di ajang Network of Asian Fantastic Films ini dihabiskan untuk eksplorasi "ajang bermain" nya yaitu hutan itu sendiri yang sudah menggambarkan nuansa sunyi, asing, misterius dan penuh bahaya. Komposisi musik dari Aghi Narottama, Bemby Gusti dan Ramondo Gascaro terasa pas menghadirkan suasana mencekam yang teramat menghantui audiens untuk larut dalam superioritas narasinya itu.
Modus Anomali tidaklah sulit untuk dicerna setelah anda menyelesaikan menit-menit terakhir yang menyingkap suspensi satu per satu. Sambil menunggu klimaks tersebut, tak ada salahnya anda berupaya menerka twist macam apa yang kali ini disuguhkan. Temukanlah setiap kepingan puzzle yang tersebar di seluruh penjuru demi mendapatkan gambaran utuh yang akan mencengangkan anda. My message for you, stop reading too much reviews everywhere and let your very own "mindfuck" begins!

Durasi:
87 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 09 Februari 2012

MALAIKAT TANPA SAYAP : Cinta Lepas Situasi Donor Organ


Quotes:
Vino: Embun tak perlu warna untuk bisa bikin daun jatuh cinta.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 7 Februari 2012.

Cast:
Maudy Ayunda sebagai Mura
Adipati Dolken sebagai Vino
Surya Saputra sebagai Ayah Vino
Ikang Fawzi sebagai Ayah Mura
Kinaryosih sebagai Ibu Vino
Agus Kuncoro sebagai Calo
Geccha Qheagaveta sebagai Wina
Reza Pahlevi

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Rako Prijanto yang tahun lalu menelurkan Perempuan-Perempuan Liar.

W For Words:
Lagu Dewi Lestari yang berjudul Malaikat Juga Tahu pernah membahana di radio-radio tanah air pada medio 2008. Kini Starvision Plus menggaet penulis skrip Anggoro Saronto untuk menjadikan lagu tersebut inspirasi dalam menulis skrip yang juga berkisah tentang kegetiran hidup tanpa kasih sayang dan masa depan itu.
Nasib sial menimpa kakak beradik Vino dan Wina setelah ayah mereka Amir ditipu oleh rekan bisnisnya hingga berpindah ke rumah kontrakan sekaligus ditinggal ibunya Mirna. Wina yang mengalami kecelakaan membutuhkan transfusi darah golongan A negatif dari Vino. Disitulah Vino ditawarkan oleh Calo untuk mendonorkan organ bagian dalamnya demi sejumlah besar uang. Awalnya Vino menyetujui demi membantu perekonomian keluarga tetapi setelah mengenal Mura di rumah sakit, ia menyesali keputusannya. Akankah ada keajaiban yang tidak merenggut kebahagiaan dari hari-hari “terakhir” mereka?

Sutradara Rako pernah menghasilkan dramaturgi indah nan puitis semacam Ungu Violet di masa lampau. Kali ini ia berupaya mengulang kembali kinerjanya itu, mudah-mudahan tidak sekadar bernostalgia. Terbukti Rako mampu bertutur runut menyibak lembar demi lembar kehidupan Vino dan Mura yang penuh kepahitan lengkap dengan pertukaran dialog yang menggigit di antara pemainnya sambil sesekali didukung dengan bahasa gambar yang menawan.
Adipati Dolken dan Maudy Ayunda berbagi ikatan emosional yang cukup dalam sebagai pasangan remaja disini. Lihat bagaimana keduanya terlihat saling mengisi di tengah harapan hidup yang semakin menipis mampu mengundang simpati. Masuknya karakter-karakter pendukung juga efektif dalam memperkuat pemahaman penonton akan tokoh Vino dan Mura secara utuh. Agus Kuncoro seperti biasa cukup menggigit walaupun porsinya tidak dominan. Tampaknya peran ayah menjadi “makanan” yang sulit dihindari oleh Surya Saputra belakangan ini.

Malaikat Tanpa Sayap pada akhirnya turut memperkaya khasanah perfilman Indonesia dengan kualitas yang di atas rata-rata. Saya menyukai penuturan lembut Rako yang sangat memperhatikan emosi aktor-aktrisnya yang terjaga dengan baik tanpa harus berlebihan. Sayangnya endingnya masih terlalu “tipikal” dengan twist yang sengaja dipaparkan demikian adanya. Tak pelak sepeda, lukisan pasir, komedi putar pun turut menjadi saksi bagaimana sepasang anak manusia mampu menemukan jati dirinya masing-masing di tengah himpitan kompleksitas masalah orang dewasa. Bukankah ikatan itu menguatkan?

Durasi:
104 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 30 November 2011

ARISAN! 2 : Reuni Sahabat Lama Rahasia Terkuak

Quotes:
Meimei: Teman datang dan pergi tetapi teman-teman sejati selalu di hati


Storyline:
Delapan tahun berlalu, kini Sakti, Meimei, Andien nyaris menginjak usia 40 tahun. Sakti telah berpisah dengan Nino dimana keduanya sudah memiliki hubungan yang baru masing-masing dengan om Gerry dan brondong glamor Octa. Andien yang ditinggal mati suaminya serta Meimei yang bercerai mulai menyibukkan diri dengan kegiatan ibu-ibu sosialita Jakarta, di antaranya ada dokter Joy dengan asisten keuangannya Ara serta kritikus Yayuk Asmara. Belum lagi Lita yang terus membayangi kehidupan Sakti dan Nino sambil menekuni profesi pengacara hukum. Perkenalan Meimei dengan healer Tom dan bartender Moli mulai memberikan perspektif baru dalam hidupnya terutama rahasia besar yang disimpannya rapat-rapat. Bagaimana mereka mengartikan makna persahabatan panjang yang telah dilalui bertahun-tahun pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kalyana Shira Films, Mra Media Group, Ezy Productions dan Add Word Productions, gala premierenya diselenggarakan secara megah di Plaza Senayan XXI pada tanggal 24 November 2011.

Cast:
Tora Sudiro sebagai Sakti
Cut Mini sebagai Meimei
Rachel Maryam sebagai Lita
Aida Nurmala sebagai Andien
Surya Saputra sebagai Nino
Pong Harjatmo sebagai Gerry
Rio Dewanto sebagai Octa
Sarah Sechan sebagai Joy
Atiqah Hasiholan sebagai Ara
Adinia Wirasti sebagai Moli
Edward Gunawan sebagai Tom
Ria Irawan sebagai Yayuk Asmara

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Nia Dinata yang lebih banyak bertindak sebagai produser dalam film-film produksi Kalyana Shira Films.

Comment:
Delapan tahun lalu ada sebuah film drama komedi metropolitan yang menghentak dunia perfilman nasional karena mengangkat tema yang cukup “berani”. Adalah Nia Dinata, wanita di balik layar Arisan! (2003) yang mencapai kesuksesan fenomenal itu baik dari raihan jumlah penonton ataupun gaung yang masih sering dibicarakan hingga detik ini (kita bisa pinjam istilah cult untuk penggambarannya). Tepat pada bulan Mei 2011 yang lalu, Kalyana Shira Films sepakat merilis 1000 keping DVD original dalam kemasan yang baru untuk menjawab permintaan pasar yang masih cukup tinggi.
Keputusan tersebut sangat tepat untuk menjadi koleksi penonton lama sekaligus pemanasan penonton baru. Sebab Teh Nia samasekali tidak berbasa-basi untuk memulai sekuelnya ini karena penonton dianggap sudah mengerti akan karakter-karakternya. Meimei, Sakti, Lita, Andien, Nino pun tanpa tedeng aling langsung melanjutkan fase hidup mereka di akhir usia 30an menjelang 40an dimana problematika penuaan,eksistensi, rumah tangga, keturunan dsb mulai menghinggapi mereka.

Sakti & Nino
Tora dan Surya masih “asyik” melebur dalam peran pasangan gay yang memilih jalannya masing-masing setelah sekian lama berkomitmen. Di antara keduanya hadirlah Rio Dewanto dan Pong Harjatmo yang di luar dugaan tampil menggigit. Rio sebagai brondong “super” memang annoying dengan kelakuan sok selebnya sedangkan Pong sebagai sugar daddy sangat diskrit menjaga keutuhan rumah tangganya dengan berbagai pengaturan disana-sini.
Meimei
Kegelisahan Cut Mini di sepanjang film tertangkap kamera dengan baik lewat ekspresi dan bahasa tubuhnya. Kemunculan Edward dan Adinia sedikit banyak mengalihkan perhatiannya. Saya suka interaksi ketiga tokoh ini satu sama lain, permainan fokus kamera yang kerapkali menyorot anggota tubuh tertentu terasa amat personal plus penggunaan bahasa gambar yang ambigu membuat penonton berimajinasi sendiri. Konklusinya pun diserahkan pada pemahaman masing-masing. Dewasa!

Lita & Andien
Aida dan Rachel meneruskan mulut tajam mereka dari Arisan! Sebelumnya. Rachel terlihat lebih matang dengan kesibukan sebagai single parent tak jarang mengurusi abangnya juga. Celotehan-celotehannya dalam bahasa Batak masih mampu mengundang tawa. Aida secara gamblang menjiwai peran wanita yang takut gejala penuaan, hingga membuat karakter-karakter “ramai” yang dimainkan Sarah, Ria, Atiqah bisa masuk secara wajar dalam kehidupan sosialita mereka.
Tiga segmentasi tersebut dicampur adukkan oleh Teh Nia ke dalam drama ensemble dengan banyak babak yang masing-masing memberikan nuansa berbeda. Panorama dari berbagai lokasi syuting juga menguatkan kesan tersebut, mulai dari Jakarta, Magelang (Candi Borobudur) hingga Lombok (Gili Trawangan). Sayangnya ketidak konsistensian jarak pandang yang diambil terkadang mengganggu sinematografi film secara keseluruhan. Belum lagi penempatan scoring music ataupun tembang yang tidak sedinamis prekuelnya.

Konflik-konflik rumit yang melanda setiap tokohnya dalam durasi yang lumayan panjang tiba-tiba diselesaikan begitu saja di menit-menit akhir ending yang agak terkesan antiklimaks. Tidak ada proses yang cukup matang bagi penonton untuk bisa menelusuri jiwa-jiwa galau mereka secara emosional kecuali segmen Meimei yang memang mendapat sorotan lebih. Semudah membalikkan telapak tangan, kesemua karakternya pada akhirnya ditempatkan pada posisi yang happy ending. That’s it!
Jika harus membandingkan; Arisan! (2003) menurut saya adalah film yang smart, simple, witty and fun to watch. Sedangkan Arisan! 2 (2011) ini lebih mencerminkan sisi glam, mature, complex and spiritual. Kedua episode memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi. Namun ternyata ada yang jauh lebih penting dari sekadar “eksis” di dunia nyata (party, holiday) dan dunia maya (Twitter, Facebook) bagi kaum hedon metropolitan tersebut yaitu persahabatan jangka panjang melewati suka dan duka. Itulah yang ingin digarisbawahi oleh Teh Nia lewat sajian dialog berbobot nan menohok.

Durasi:
119 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Senin, 14 November 2011

AYAH MENGAPA AKU BERBEDA : Proses Beradaptasi Dengan Kekurangan

Quotes:
Ibu Katrina: Dengarkanlah hatimu. Karena Cuma hati yang mempunyai perasaan yang paling peka.


Storyline:
Angel adalah seorang gadis cantik dan cerdas. Kekurangannya hanya satu yaitu tuna rungu sejak balita. Ditinggal ibunya yang meninggal saat melahirkannya, ia dibesarkan oleh Ayah dan Neneknya dengan penuh kasih sayang. Tingkatan sekolah dilaluinya dengan lancar karena kepandaian otaknya dan kemampuan bermusiknya yang menonjol. Sayangnya lingkungan tidak menerima Angel begitu saja. Maya dkk menganggapnya tidak pantas ada di sekolah umum dan berkali-kali mengerjainya secara fisik. Beruntung ada Hendra yang selalu menjadi sahabat setianya atau Ibu Katrina yang sering membelanya terang-terangan. Mampukah Angel menyesuaikan diri dengan dunia kejam yang seringkali tidak adil padanya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana gala premierenya diadakan di Senayan City XXI pada tanggal 14 November 2011.

Cast:
Surya Saputra sebagai Ayah Angel
Dinda Hauw sebagai Angel
Rima Melati sebagai Bunda Alin
Indra Sinaga sebagai Ferly
Fendy Chow sebagai Martin
Rafi Cinoun sebagai Hendra
Kiki Azhari sebagai Maya
Rheina Mariyana sebagai Ibu Katrina

Director:
Merupakan film ke-15 bagi Findo Purwono HW yang mengawali karir penyutradaraannya lewat film controversial Buruan Cium Gue (2004) yang kemudian dirombak ulang menjadi Satu Kecupan (2005).

Comment:
Film adaptasi ketiga dari novelis online Davonar bersaudara yaitu Agnes dan Teddy dimana skripnya dikerjakan secara kolaborasi oleh Djaumil Aurora dan Titien Wattimena. Drama melankolis ini mengisahkan pada perjuangan hidup seorang gadis belia tuna rungu agar bisa diterima oleh lingkungannya sekaligus mencapai mimpi-mimpinya. Sebuah kisah yang seharusnya bisa menginspirasi siapapun juga apabila ditangani dengan sebagaimana mestinya.
Namun hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi disini. Banyak sekali momen-momen pembangkit simpati yang digarap dalam takaran yang tidak pas, kadang dangkal, kadang malah berlebihan. Tak heran jika reaksi penonton tidak seperti yang diharapkan, jangankan air mata haru yang menetes, bisa jadi tawa membahana yang terdengar. Selebihnya hanya duduk diam tanpa reaksi di bangku masing-masing sambil sesekali mengernyitkan dahi.
Harus diakui Dinda Hauw memiliki pesona kecantikan yang mengundang simpati. Saya harap ia tidak terjebak selamanya dalam peran-peran cengeng yang sudah dilakoninya lebih dari sekali. Interpretasi Dinda kali ini sebagai karakter malang sedikit dirusak dengan kejanggalan-kejanggalan dasar mulai dari tidak mengenakan alat bantu dengar yang biasa digunakan tuna rungu hingga penggunaan bahasa tangan yang seringkali terlihat tidak konsisten meyakinkan.
Besar kemungkinan penonton hanya menangkap maksud hati karakter Angel sebagian saja. Parahnya lagi kemunculan subtitle khusus dialog Angel baru di pertengahan menjelang akhir film. Oleh karena itu, banyak sekali yang “missed” sehingga turut mengganggu pemahaman konflik yang ingin disampaikan. Saya bingung apakah Indra, Fendy, Kiki, Rafi, Surya, Rima dan Rheina turut merasakan hal serupa atau mereka hanya mengikuti skenario saja dalam merespon setiap perkataan Angel? Hmmm…
Sutradara Findo yang sesungguhnya lebih piawai menggarap film berbasis komedi terlihat kesulitan menjaga melodrama ini agar tetap berada di relnya. Upayanya menampilkan perjalanan Angel dalam berbagai tingkatan umur tidak terkesan mulus karena editing yang kurang rapi. Terasa sekali pengerjaan film ini dilakukan dalam waktu cenderung singkat sehingga kinerja seluruh departemen tergolong tidak maksimal. Paling kentara dan krusial untuk film bergenre semacam ini adalah scoring music nya yang gagal membangun mood.
Ayah, Mengapa Aku Berbeda? ini sebenarnya memiliki banyak potensi untuk menjadi tontonan yang inspiratif dan apresiatif. Sayangnya pihak filmmaker banyak mengabaikan hal-hal dasar yang pada akhirnya menjadi teramat mengganggu untuk sebuah produksi film layar lebar. Oleh karena itu, terciptalah satu kesan yang saya tangkap sejak menit awal yaitu SINETRON BANGET! Ada kalanya membaca novel menyentuh saja sudah lebih dari cukup bagi kita untuk dapat terhanyut dalam jalinan cerita tragisnya tanpa harus menyaksikan visualisasi salah kaprah yang membuyarkan segalanya.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: