XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 20 Maret 2012

THE RAID : Indonesians Are On A “Mission”


Tagline:
1 Ruthless Crime Lord, 20 Elite Cops, 30 Floors of Hell.

Nice-to-know:
Produced by PT. Merantau Films and XYZ Films, the movie previously slotted for end of February release in Indonesian cinemas.

Cast:
Iko Uwais as Rama
Ray Sahetapy as Tama
Joe Taslim as Jaka
Donny Alamsyah as Andi
Ananda George as Ari
Yayan Ruhiyan as Mad Dog
Verdi Solaiman as Budi

Director:
Third movie for Gareth Evans who continue to work with Iko Uwais in aforementioned successful run of Merantau (2009).

W For Words:
Surely I was lucky enough being chosen by Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) committee as one of local movie-reviewers to see it on the big screen as a closing movie last fall. Yes, The Raid from Merantau Films and XYZ Films has become global most-awaited action movie after won Midnight Madness Award on 2011 Toronto International Film Festival. Afterwards, Sony Pictures called for a Hollywood remake after got the rights for international release first including U.S. market on March 23, 2012 - same date for Indonesia release. 
An elite group of SWAT police officers receive a very difficult task, invade an apartment building that has been taken over by large network of dangerous criminals led by Tama. The chief Jaka with two of his reliable members, Rama and Andi moves one level to another, only to see their best plans being sidelined. Yet character revelations start bubbling to surface which should be done by a series of immense fights using guns, knives or even fists. Who will be the last man standing with less victims on his side? 

Director Gareth Evans continue his success from Merantau (2009) by upping the intensity in such bigger way. The location itself creates some unintentional claustrophobic atmosphere to make sure those cat and mouse fights have really nowhere to hide. Shaky-cam and quick cuts are used perfectly to maximize viewers' involvement into dynamic sense of rhythm. So, you feel like capture those moments with your own taste before transform 'em all into some certain reactions like grasp, goosebumps etc. 
Jakarta born, Iko Uwais clearly made the most gigantic impact with his extraordinary fighting skills on display which known as Pencak Silat, our very own traditional martial-art. Yeah, you might compare him with Thai's Tony Jaa from Ong Bak. Combined with cold-blooded Donny Alamsyah, the duo are dangerous combo to beat. High-experienced actor, Ray Sahetapy also nailed his role as a super villain Tama with clear face expressions and dreadful voice tones. Another name who stole the show is Yayan Ruhian whose act as Mad Dog might be remembered by the fans of the movie for a long time. 

Violence is definitely an issue here, so it couldn't avoid to be rated R. Bath blood between one-on-one or group combatants are everywhere in the building. Sometimes you just don't see it clearly in front of your eyes because Evans are smart enough to present what should be seen or not without losing any meaning of it. "Hardcore" music scoring from Aria Prayogi and Fajar Yuskemal successfully brought the audience into silent mode for most of 101 minutes intriguing action with less predictable twist along the way. 
Eventhough the budget is fair low, approximately $1,1 million, it is effectively spent into every department of the movie. Basic storyline, however, outplayed by convincing choreography from the casts. The Raid is a non-stop action from start to finish, let the final fight alone is near flawless. Absolutely impressive to keep audiences on the edge of their seats, even still breathless when the credit titles rolling. A must-see in the cinema to feel some rare "vibrant" experiences. Respectful Evans has deliberately sent the message towards international viewers that lesser-known Indonesian movie industry is about to change in the next few years.


Duration:
101 minutes

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 19 Maret 2012

POINT BLANK : Blank Action Made That Point


Tagline:
A desperate man is a dangerous thing.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli À bout portant ini sudah rilis di Perancis pada tanggal 1 Desember 2010.

Cast:
Gilles Lellouche sebagai Samuel Pierret
Roschdy Zem sebagai Hugo Sartet
Gérard Lanvin sebagai Commandant Patrick Werner
Elena Anaya sebagai Nadia Pierret
Mireille Perrier sebagai Commandant Fabre

Director:
Merupakan film kedua bagi Fred Cavayé setelah Anything For Her (2008).

W for Words:
Masih ingat karya Fred Cavaye sebelum ini? Film Perancis, Anything For Her (2008) mungkin tidak banyak ditonton orang tetapi remake Hollywood nya yakni The Next Three Days (2010) yang dibintangi Russell Crowe dan Elizabeth Banks? Sebagian dari anda pasti pernah menyaksikannya. Kini Cavaye bersama dengan Guillaume Lemans menggarap skenario sebuah action thriller yang amat mencekam sejak gebrakan menit pertama hingga penghabisannya yang turut membuat anda menahan nafas akan kemungkinan sekuelnya walau mungkin sedikit terganggu dengan proses sulih suara ke bahasa Inggris!

Perawat bernama Samuel Pierret baru saja menyelamatkan pria korban tabrak Hugo Sartet yang tengah diincar beberapa pembunuh bayaran yang ditugaskan menghabisi nyawanya. Samuel dipaksa membawa keluar Hugo atau keselamatan istrinya yang tengah mengandung Nadia terancam. Inspektur Wener dan Fabre yang ditugaskan menangani kasus ini menjadikan Samuel buronan. Terjebak dalam lalu lintas baik dan jahat, Samuel harus berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan apa yang menjadi taruhannya sejak awal.
Sutradara Cavaye kelihatan memahami konsep action dinamis dalam sebuah kecepatan yang konstan dalam setiap menitnya. Penonton terasa dituntut untuk ikut berlari marathon bersama tokoh Samuel Pierret di sepanjang filmnya. Beragam twist liar dilemparkan disini demi menjaga tensinya tetap tinggi walaupun terkadang anda dibuat bingung karenanya selain berusaha mengikuti gerak-gerik sang protagonis yang sebetulnya hanyalah manusia biasa dengan rasa kemanusiaan yang tinggi.

Gilles Lellouche tampil meyakinkan sebagai Samuel selayaknya tokoh-tokoh protagonis dalam kisah rekaan Alfred Hitchcock. Sama halnya Roschdy Zem yang juga mengembangkan karakter Hugo dengan efektif. Nyaris tidak ada plot baru sebetulnya dalam film ini selain proses modernisasi yang ditunjang oleh sederetan aksi yang dipaksakan mendobrak pikiran anda yang mencoba untuk menganalisa barang sejenak. Klimaks terjadi di markas polisi dimana kekacauan akan batasan penegak hukum dan criminal terasa setipis kertas.
Penggunaan judul film ini memang terkesan tidak tepat karena tidak menggambarkan keseluruhan isinya. Namun tidak dipungkiri, Point Blank memang dikendalikan penuh oleh Lellouche yang dipaksa terus merangsak maju hingga melampaui limit diri yang dimilikinya. Mungkin anda teringat akan Jack Bauer dalam serial populer “24”? I call this blank action (without CGI) with brutal fight scenes or chases along the way where no one seems care who’s going to murdered as long as they are not Samuel or Nadia! Cavaye definitely made his point for doing this intentionally.

Durasi:
84 menit

U.S. Box Office:.
$661,720 till Oct 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 18 Maret 2012

MARGIN CALL : Positioning For The Sake Of Choices


Quotes:
John Tuld: There are three ways to make a living in this business: be first, be smarter, or cheat.

Nice-to-know:
J.C. Chandor said that he wrote the script for the story he had been carrying around in his head for about a 'year-and-a-half' in just four days, filling time between job interviews in Boulder, Colorado.

Cast:
Kevin Spacey sebagai Sam Rogers
Paul Bettany sebagai Will Emerson
Jeremy Irons sebagai John Tuld
Zachary Quinto sebagai Peter Sullivan
Penn Badgley sebagai Seth Bregman
Simon Baker sebagai Jared Cohen
Demi Moore sebagai Sarah Robertson
Stanley Tucci sebagai Eric Dale

Director:
Merupakan debut penyutradaraan J.C. Chandor.

W for Words:
Saya bukanlah seorang pialang saham meskipun sempat magang untuk sementara waktu di sebuah perusahaan keuangan yang terletak di bilangan Thamrin beberapa tahun lalu. Film ini diyakini akan membuat ingatan anda melambung pada Wall Street: Money Never Sleeps (2010) ataupun prekuelnya yang mengulas kejatuhan harga pasar secara signifikan. Bedanya J.C. Chandor yang menulis sekaligus menyutradarai mempersempit ruang lingkup kasusnya yaitu sebatas di antara para eksekutif papan atas di perusahaan tersebut.
Sebuah perusahaan investasi terkemuka yang berlokasi di Manhattan baru saja memecat kepala manajemen resiko, Eric Dale tanpa penjelasan yang masuk akal. Eric pergi dengan kecewa dan sempat menitipkan flashdisk pada bawahannya sang analyst, Peter Sullivan. Peter memeriksa data tersebut dan mendapati keuangan perusahaan di ambang kehancuran. Terpanggillah para petinggi seperti Will Emerson, Sarah Robertson, Jared Cohen yang bertanggungjawab penuh pada CEO, John Tuld dalam rapat dadakan tengah malam. Waktu sempit yang tersisa harus digunakan untuk menghasilkan keputusan terbaik.

Salah satu yang paling outstanding menurut saya adalah karakter demi karakternya yang diperkenalkan seiring konflik berjalan. Inilah yang membuat penonton mampu mengenali wajah demi wajah dan beragam kepribadian mereka dalam menangani masalah urgensi nan pelik. Tak hanya itu, peran masing-masing dalam perusahaan juga terdefinisikan dengan jelas berikut resiko dan tanggungjawabnya. Bahkan perbedaan penghasilan yang mempengaruhi gaya hidup juga dihadirkan melalui dialog satir dari mulut Seth, Peter ataupun Will.
Sulit mempercayai bahwa inilah debut Chandor yang tampak begitu menguasai semua departemen dalam film ini. Anda akan menemukan ketegangan yang tampak di raut wajah masing-masing karena berpacu dengan waktu atau keputus asaan yang tergambar dari bahasa tubuh karena bingung dengan keadaan yang tidak terselamatkan meskipun tanpa kekerasan atau kematian sekalipun. Tidak ada tokoh baik dan jahat disini karena jika anda memposisikan diri sebagai mereka mungkin akan menemukan motivasi yang berbeda-beda terhadap satu sama lain.

Kesemua aktor dan juga Demi Moore tampil luar biasa dalam peran masing-masing. Favorit saya adalah Zachary Quinto yang bertindak sebagai staf analyst dari latar belakang yang jauh bertolak belakang dan juga seperti biasa Kevin Spacey tang berperan sebagai pembuat keputusan tertinggi di luar CEO yang juga dimainkan secara karismatik oleh Jeremy Irons. Sedangkan Penn Badgley dan Paul Bettany juga sama efektifnya dalam posisi yang terjepit di tengah-tengah. Jangan lupakan Stanley Tucci yang sukses menyita perhatian di pembuka film dengan penjiwaan gemilang karyawan terPHK semena-mena.
Anda tidak akan dikuliahi oleh aspek investasi keuangan disini karena Margin Call bercerita dengan kreatif. Meskipun tidak mengerti keseluruhan konflik yang terjadi di dalamnya, anda tetap merasakan hal tersebut penting dan akan membuat anda terjaga hingga credit title bergulir. Jempol bagi Chandor yang berhasil menyuguhkan narasi yang tajam dengan sinematografi yang meyakinkan sebagai pendukungnya. Ironi memang bisa terjadi dalam situasi apapun dimana pilihan menjadi amat terbatas atau bahkan tidak ada samasekali.

Durasi:
107 menit

U.S. Box Office:
$5,344,104 till Jan 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 17 Maret 2012

THE WOMAN IN BLACK : Suspenseful Old-Fashioned Horror Style


Quotes:
Daily: I believe the most rational mind can play tricks in the dark.

Nice-to-know:
Adrian Rawlins yang memerankan ayah Daniel Radcliffe dalam franchise Harry Potter juga memerankan Arthur Kipps dalam versi originalnya di tahun 1989.

Cast:
Daniel Radcliffe sebagai Arthur Kipps
Ciarán Hinds sebagai Daily
Janet McTeer sebagai Mrs. Daily
Sophie Stuckey sebagai Stella Kipps
Roger Allam sebagai Mr. Bentley

Director:
Merupakan film kedua bagi James Watkins setelah Eden Lake (2008).

W for Words:
Horor Inggris memang jarang ditemui dalam kancah perfilman Hollywood. Salah satu yang paling memorable bagi saya adalah The Gathering (2003) yang dibintangi oleh Christina Ricci. Kini hadir film bergenre sejenis yang dibuat berdasarkan novel milik Susan Hill dimana skripnya dikerjakan oleh Jane Goldman dengan latar belakang desa terpencil Victorian yang tampak sepi dan tentu saja “tradisional” di akhir abad ke-19. Jangan lupa bahwa proyek ini adalah remake berjudul sama di tahun 1989 yang lalu.
Seorang pengacara muda bernama Arthur Kipps kesulitan membagi waktu dengan putranya Joseph setelah kematian istrinya. Kini ia harus menangani kasus Eel Marsh House milik Mrs. Dabrow yang telah lama ditinggalkan. Penduduk setempat menyarankan Arthur untuk pergi karena bangunan tersebut dipercaya berhantu. Namun dengan bantuan sahabat barunya Mr. & Mrs. Daily, Arthur bertekad memecahkan misteri walaupun harus dihantui arwah wanita berbaju hitam yang mengancamnya.

Misteri yang terungkap perlahan-lahan seiring narasi bergulir, seharusnya tidak sulit bagi anda untuk menebak jalan ceritanya secara utuh. Sutradara James Watkins jelas mengandalkan Daniel Radcliffe seorang untuk menjaga intensitas film selama hal-hal yang ditemui tokoh Arthur Kipps dalam penyelidikannya. Radcliffe masih terlihat terlalu muda sebagai ayah meskipun wajahnya sudah dihiasi brewok, beruntung penjiwaannya cukup meyakinkan terlebih dalam menghadapi ketakutannya sendiri.
Watkins menggunakan taktik lawas yang bekerja efektif dalam horor ini. Visualisasi suasana rumah mansion yang menghadap laut saja sudah merupakan momok tersendiri. Paruh pertama memang amat mengandalkan music scoring yang mendirikan bulu kuduk saat kamera bergerak menyusur setiap sudut rumah dengan pencahayaan temaram. Paruh kedua semakin intens saat arwah wanita berbaju hitam mulai muncul, rasanya sulit untuk tidak mencengkram erat-erat pegangan kursi anda.

Penempatan foto-foto tua, mainan dan boneka yang berwajah mengerikan bukanlah sesuatu yang baru. Namun suara gaduh yang dihasilkan dari derakan, hentakan atau desahan tetap mampu menimbulkan efek yang akan membuat anda menahan nafas. Penampakan hantu yang dilakukan dalam slow motion memang terbukti lebih menakutkan, jika tidak percaya lihat scene saat Arthur Kipps tertidur di kursi dengan pintu terbuka di belakangnya. Bohong jika hal tersebut tidak memberikan perasaan apa-apa.
Sejujurnya saya mengharapkan penjelasan yang lebih terbuka seperti adakah motif khusus dari arwah wanita berbaju hitam atau rahasia lain di balik meninggalnya Nathaniel Drablow? Tagline “What Did They See?” bahkan sempat membuat saya berpikir terlalu jauh akan kompleksitas isu yang ingin diangkat sang filmmaker. Nyatanya The Woman In Black tidak menawarkan twist apapun di penghujung kisahnya selain horor penuh tanda tanya yang ketegangannya merambat naik secara perlahan. Anda akan teringat film ini setiap kali menatap keluar jendela dimanapun anda berada. Thumbs up for bringing an old genre with a new approach like this!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$50,451,681 till Feb 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 16 Maret 2012

MATA TERTUTUP : Fakta Membutakan Keterbukaan Hati


Quotes:
Asimah: Apa? Ada kemungkinan Aini masuk NII. Apa itu NII?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh SET Film dan Maarif Production dimana gala premierenya diadakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada tanggal 27 Oktober 2011 yang lalu.

Cast:
Jajang C Noer sebagai Asimah
M Dinu Imansyah sebagai Jabir
Eka Nusa Pertiwi sebagai Rima
Kukuh Riadi sebagai Husni
Andryani Isna sebagai Aini
Rijal Maj
Yoga Bagus Satatagama

Director:
Merupakan film ke-12 bagi Garin Nugroho setelah terakhir Generasi Biru (2009) yang dibintangi oleh Slank itu.

W For Words:
Garin Nugroho. Ah sebuah nama yang telah menjadi bagian dari tonggak sejarah perfilman Indonesia sejak tahun 1990an dimana karya-karya selalu bersifat off-mainstream dengan pendekatan yang tidak biasa sekaligus estetika yang unik. Kali ini ia mengerjakan sebuah proyek yang lebih “bersahabat” dengan penonton mengenai bertumbuhnya gerakan Islam radikal berdasarkan kejadian nyata yang terjadi di tengah masyarakat. Tentunya inisiatif Institusi Maarif yang diprakarsai oleh tokoh intelek Ahmad Safii Maarif patut diberikan apresiasi tinggi.
Asimah nyaris putus asa mencari putrinya Aini yang kerapkali berselisih paham dengannya paska perceraian. Nyatanya Aini diculik oleh kelompok Islam Fundamentalis yang dianggap bisa menjadi jalan keluarnya. Disana Aini berjumpa Rima yang tengah mencari jati dirinya dalam perkumpulan sekaligus menjawab tantangan yang tidak pernah dialaminya. Sedangkan Jabir yang berkutat dengan perekonomian lemah keluarganya mempertimbangkan tawaran menjadi pelaku bom bunuh diri meskipun sobat karibnya Husni selalu setia menghibur di sampingnya.

Garin tidak berupaya menyuguhkan narasi yang kompleks. mengalir linier melalui presentasi “tenang” akan serangkaian pengetahuan tentang NII itu sendiri sehingga mudah dicerna dalam tempo yang terukur, lengkap dengan lantunan scoring music penggugah rasa dari komposer ternama Dwiki Darmawan. Saya tidak merasa isu yang sebetulnya sensitif ini menjadi “thought-provoking” karena kenyataannya memang banyak gerakan masyarakat yang mengatasnamakan agama untuk pembenaran tindakan ekstrimnya.
Satu-satunya nama dalam jajaran cast yang anda kenal adalah Jajang C. Noer yang kembali menunjukkan kelasnya sebagai aktris senior papan atas Indonesia. Anda akan menangkap naluri seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya sedemikian rupa hingga melakukan semua cara yang terpikirkan olehnya. Selebihnya adalah para pendatang baru yang patut mendapat kredibilitas sendiri akan penokohan wajar karakter-karakter yang mungkin anda jumpai dalam kehidupan nyata sehari-harinya. Kukuh Riyadi yang bermain sebagai Husni memperlihatkan akting komikal dengan sederetan gaya bahasa dan nyanyian yang kocak, salah satunya adalah chorus dari “Jangan Menyerah” nya d’Masiv.

Melalui rumah produksinya sendiri, misi Ahmad Safii Maarif amatlah sederhana yaitu mengajak generasi muda untuk dapat bersikap lebih kritis cerdas saat kepalanya didoktrinasi oleh ajaran-ajaran sesat yang menarik mereka masuk ke dalam “garis keras” bermuatan politik radikal yang dapat mengarah ke bidang-bidang lainnya. Kepercayaannya pada Garin dibayar lunas karena Mata Tertutup terbukti menyajikan dramatisasi kehidupan yang tidak selamanya hitam dan putih itu. Simbolisasi judul yang mengajak anda untuk membuka mata anda akan keadaan sekeliling yang tak jarang malah membutakan anda.

Durasi:
102 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 15 Maret 2012

LOVE IS BRONDONG : Empat Brondong Modal Nanggung


Quotes:
Momon: Santai kayak di pantai, tenang aja kayak di Jogja, gak usah ribut kayak di Ubud..

Nice-to-know:
Diproduksi oleh BIC Productions dan Mitra Pictures dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 12 Maret 2012.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Momon
Zaky Zimah sebagai Farhan
Bryan McKenzie sebagai Alfin
Kiki the Potters sebagai Juned
Tya Restyana sebagai Sheila
Joanna Alexandra sebagai Sasha
Nabila Intan sebagai Aisha

Director:
Merupakan film kedua Chiska Doppert di tahun 2012 setelah Bila.

W For Words:
Pertama kalinya Zaky Zimah dan Ajun Perwira dipersatukan dalam sebuah film. Yang satu kesayangan Nayato sedangkan satunya lagi andalan anak didiknya Nayato yaitu Chiska Doppert. Rasanya dua nama pujaan dalam genre komedi pocong-pocongan itu sudah bisa diandalkan sehingga duo Aditya Sugandi dan Djaffar Lesmana merasa tidak perlu lagi “bekerja keras” menghasilkan sebuah skrip yang matang. Itulah yang saya rasakan selama lebih kurang delapan puluh empat menit.
Empat sekawan yang tinggal dalam satu kontrakan yakni Momon, Farhan, Alfin dan Juned juga kuliah di kampus yang sama. Momon yang cekak mengejar cinta gadis model yang materialistis, Sasha. Sedangkan Farhan yang alim memilih gadis berjilbab yang tengah kesulitan uang, Aisha. Masalah semakin rumit ketika mereka menyelamatkan Sheila dari pria yang menipu duitnya dan membutuhkan tempat tinggal sementara. Uang dan cinta tampaknya akan terus menjadi permasalahan yang sulit terpecahkan.

Terus terang sepanjang film berjalan, saya kesulitan menangkap intisari cerita. Semua terasa dipaksakan mengalir begitu saja tapi tanpa benang merah yang jelas. Banyak sekali karakter yang timbul tenggelam disini terutama Joanna Alexandra. Apakah filmmaker ingin berkonsentrasi pada pertobatan di akhir cerita? Tidak maksimal karena konfliknya sendiri tidak pernah benar-benar membubung ke permukaan. Pengadeganan pocong-pocongan di penghujung semakin mengaburkan identitas film yang kebingungan mau dibawa drama, romansa atau komedi?
Satu hal yang paling saya takutkan adalah Chiska Doppert yang sedang mengikuti jejak “master” nya yaitu kejar setoran. Berbagai judul film yang ditanganinya memang bervariasi dari segi tema dan cerita walaupun kesemuanya mengarah pada pangsa pasar yang sama yaitu remaja. Kemahirannya menyajikan gambar-gambar cerah yang enak dilihat memang masih menjadi nilai tambah meskipun anda akan menangkap banyak kesamaan setting lokasi dengan pendahulunya sebut saja PJP dan Bila. Hasil editing Toumakov masih terasa kasar sehingga perpindahan setiap segmennya terasa tidak mulus.

Sama halnya dengan Ajun Perwira yang terkesan memanfaatkan popularitasnya yang meroket belakangan ini. Saya tidak melihat perbedaan tokoh Momon disini dengan Dimas dalam PJP, Ajun masih menggunakan mimik dan intonasi yang sama. Beruntung Zaky Zimah mampu mempertahankan trademark komedinya yang tetap fresh. Perbedaannya adalah ia memerankan tokoh Farhan yang soleh sehingga terciptalah berbagai komedi situasi dimana berpegang teguh pada prinsip menjadi ujian yang patut dilaluinya.
Love Is Brondong pada akhirnya berpijak di posisi yang serba salah. Judulnya memang terdengar cukup menjual tapi samasekali tidak menggambarkan isi filmnya selain kiprah empat brondong manis dan lucu yang secara teratur digilir oleh kamera. Setidaknya dua nama dari mereka tidaklah mengecewakan yakni Zaky sebagai sang pengocok tawa dalam peran tak biasa serta Kiky yang memulai debutnya dengan spontanitas kepolosan yang wajar. Tentunya sumbangan lagu dari The Potters itu sendiri menjadi aset yang paling berharga.

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 14 Maret 2012

JOHN CARTER : We’ve Been In Barsoom Before


Quotes:
Tars Tarkas: When I saw you, I believed it was a sign... that something new can come into this world.

Nice-to-know:
Bisa jadi pemegang rekor terlama adaptasi film dari buku yaitu 79 tahun dimana. “A Princess of Mars” karya Edgar Rice Burroughs pertama kali muncul pada tahun 1931.

Cast:
Taylor Kitsch sebagai John Carter
Lynn Collins sebagai Dejah Thoris
Samantha Morton sebagai Sola
Willem Dafoe sebagai Tars Tarkas
Thomas Haden Church sebagai Tal Hajus
Ciarán Hinds sebagai Tardos Mors

Director:
Merupakan film non animasi pertama bagi Andrew Stanton yang terakhir mencatat sukses besar lewat WALL●E (2008).

W for Words:
Mudah-mudahan pihak Disney tidak pernah menyesali keputusan mereka menunda proyek ini yang sedianya menjadi film pertama mereka di awal tahun 1930an sebelum akhirnya disalip oleh Snow White and the Seven Dwarfs (1937). Rentang waktu yang jauh itu lantas memunculkan judul-judul seperti Flash Gordon (1980), Red Planet (2000), Journey To The Center Of The Earth (2008) hingga Avatar (2009) yang mengambil tema serupa dengan genre yang juga tak jauh berbeda yaitu action, thriller, adventure, science fiction dsb.
Pensiunan tentara Amerika, John Carter dikirim ke planet Mars. Pertemuannya dengan Tharks, bangsa barbar berkulit hijau dengan tinggi badan 12 kaki membuatnya sadar bahwa ia memiliki kekuatan di luar manusia biasa seperti melompat jauh ataupun bergerak cepat. Perseteruan dengan Martians yang berkulit merah yang dipimpin oleh Zodanga membuat John Carter berada di tengah-tengah. Namun ketertarikannya dengan Princess dari Helium yang terlibat perjodohan politik meyakinkan John Carter untuk bertindak mengikuti kata hati dan perjuangan yang diyakininya.

Taylor Kitsch terbilang cukup meyakinkan dengan postur tegap yang terlihat alami sebagai sang figur utama John Carter. Sayangnya karisma Kitsch sedikit tertutupi setiap kali berbagi layar dengan Lynn Collins yang tampil seksi dengan kostum yang menonjolkan dada dan pahanya itu tapi tidak mengurangi kesan bahwa ia puteri yang memiliki hati baja dan kemampuan bertarung yang cekatan. Keduanya diperkuat juga oleh nama-nama lain yang tampil gemilang mulai dari Willem Dafoe sebagai Tars Tarkas, Samantha Morton sebagai Sola, Mark Strong sebagai Matai Shang atau Thomas Haden Church sebagai Tal Hajus.
Sutradara Stanton tampaknya mengikuti jejak koleganya di Pixar yaitu Brad Bird yang mencatat sukses lewat live-action movie pertamanya di penghujung 2011 lewat Mission Impossible: Ghost Protocol. Menggarap sebuah film sains fiksi dewasa yang bisa dinikmati oleh anak-anak/remaja memang tidak mudah sehingga aspek kekerasan di dalamnya wajib diminimalisir tanpa harus mengurangi action yang membuat anda tetap terjaga di kursi masing-masing. Sayangnya pengalaman dalam animasi berpengaruh secara positif dan negatif disini. Positif karena ia tidak terlalu mengandalkan efek CGI untuk mengeksekusi setiap adegannya sekaligus negatif karena ia kurang memperhatikan karakterisasi para tokohnya yang sedikit under-developed tersebut.

Spesial efek yang digunakan memang jawara karena mampu menghadirkan visualisasi yang mengagumkan, menjaga mata anda untuk tetap segar selama dua jam lebih dengan elemen 3D yang membuat obyek-obyek seakan bermunculan. Scoring music unik milik Michael Giachinno juga menghantui audiens sekaligus menegaskan kemisteriusan planet Mars dan koloni yang mendiaminya. Sedangkan editing dari Eric Zumbrunnen tergolong mulus dalam mendukung narasi penceritaan yang masih bergaya lawas.
Tak dipungkiri, John Carter adalah sebuah film petualangan yang lama ditunggu oleh para pecinta tulisan Edgar Rice Burroughs yang terbukti telah menginspirasi berbagai generasi di bawahnya. Salah satu film yang paling ditunggu di tahun 2012 ini nyatanya memiliki adegan aksi yang jauh lebih menarik dibandingkan dramatisasi yang dipresentasikan dengan tempo lambat di paruh pertama film. Sinematografi yang memikat menstimulasi tampilan visual yang kuat, tidak sia-sia jika bujet sebesar 250 juta dollar dihabiskan untuk porsi ini termasuk menampilkan pertarungan kapal Martians di udara lengkap dengan semua peradabannya. Kehadiran sang anjing monster yang lincah dan setia itu menjadi highlight tersendiri. Semua kelebihan yang dimiliki disini nyaris sia-sia karena deskripsi yang saya sebutkan di paragraf pertama di atas. Yeah, you will not feel that expected excitement because we’ve been in Barsoom (Mars) before in those previous cult movies!

Durasi:
132 menit

U.S. Box Office:.
-

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 13 Maret 2012

LEAFIE : HEN INTO THE WILD Freedom Of Boundaries Is All About


Quotes:
Leafie: Fly with all your strength. Mommy will be watching.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Madangeul Naon Amtak ini sudah rilis di Korea pada tanggal 28 Juli 2011 yang lalu.

Voice:
Moon So-ri sebagai Leafie – Ipssak
Yoo Seung Ho sebagai Greenie – Chorok
Choi Min-sik sebagai Wanderer
Park Cheol-min sebagai Mayor – Dalsu
Kim Sang-hyun sebagai One-Eye
Kyeong Jeon Sook sebagai Jjaek

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Oh Seung Yun.

W for Words:
Sebuah animasi dari negeri ginseng yang memiliki premis manis diangkat dari novel karya Hwang Seon Mi yang secara fenomenal telah terjual lebih dari satu juta copy. Myung Films dan Odoltogi Production pun melihat peluang tersebut hingga mengutus Kim Eun Jeong untuk mengerjakan skripnya dan juga Oh Seung Yun untuk menggarap filmnya. Pertaruhan yang tidak sia-sia karena film ini laris manis di Korea dan China dimana telah diputar di lebih dari 1.400 layar!
Ayam petelur Leafie merasa bosan dengan hidupnya yang terkungkung di dalam kandang. Ia bertekad melarikan diri dan bertemu dengan itik pengembara dan kukang walikota di sebuah hutan setelah melewati serangan serigala bermata satu. Hidup Leafie berubah saat telur yang dieraminya menetas dimana bayi itik tersebut menganggapnya ibu. Greenie lantas bertumbuh semakin besar dan belajar untuk terbang seperti ayahnya sekaligus mempersiapkan diri mengikuti pemilihan itik penjaga bagi kawanannya. Petualangan Leafie mungkin tidak lagi sama dengan bayangannya dahulu.

Terus terang kisah ini amatlah menyentuh karena melibatkan hubungan emosional antara orangtua (ibu) dan anak. Bagaimana kasih sayang orangtua kerapkali berbenturan dengan anak yang beranjak dewasa. Durasi satu setengah jam akan membawa anda pada petualangan Leafie di awal dan Greenie di akhir. Proses di antaranya akan melibatkan perjuangan hidup, penerimaan perbedaan serta pengejaran mimpi yang akan menohok hati sekaligus menggugah perasaan anda.
Oh Seung Yun menyuguhkan konsep animasi yang sederhana, memang tidak seglamor produksi Hollywood tapi tetap mampu memberikan detail yang mengagumkan. Narasi yang juga terdefinisikan dengan baik diperkuat dengan music scoring layaknya orchestra menawan menjadi nilai tambah lain. Karakterisasinya beragam meski tidak semuanya mendapat porsi memadai masih dapat menggelorakan unsur drama dan komedi yang cukup kental.

Berbagai adegan mengharukan antara Leafie dan Greenie mungkin dapat membuat air mata anda berderai. Manusiawi karena kita semua bisa merasakan situasi serupa dalam kehidupan nyata. Kisah yang mengajarkan anda untuk menggapai cita-cita tanpa harus mengabaikan orangtua yang telah membesarkan anda melalui proses yang tidak mudah. Walaupun mungkin berakhir di luar harapan penonton, Leafie : A Hen Into The Wild jelas tetap merupakan salah satu animasi Asia terbaik yang pernah dibuat. Solid enough to rock your deepest heart!

Durasi:
92 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 12 Maret 2012

LONDON PARIS NEW YORK : Beautiful View Get Along Romance


Quotes:
Lalitha: Apa kau tahu berciuman jauh lebih higienis daripada berjabat tangan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rose Movies dan sudah rilis di India tanggal 2 Maret 2012 yang lalu alias seminggu lebih cepat dari Indonesia.

Cast:
Ali Zafar sebagai Nikhil Chopra
Aditi Rao Hydari sebagai Lalitha Krishnan
Eric Geynes sebagai Dominic
Judith Musil sebagai Cherie

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Anu Menon yang juga menulis naskahnya sendiri.

W for Words:
Membaca premis film ini otomatis ingatan anda akan melayang pada One Day (2011) yang dibintangi oleh pasangan manis Anne Hathaway dan Jim Sturgess mengenai perjalanan sepasang muda-mudi yang saling mencinta dalam melintasi rentang waktu. Jika David Nicholls memulainya dari 1988 tanpa penjelasan lokasi secara detail maka Anu Menon memilih tahun 2005 dengan mengambil setting tiga kota paling tenar di benua Eropa sana.
Nikhil Chopra bertemu Lalitha Khrishnan di bandara London. Keduanya memang bertolak belakang secara kepribadian tapi tidak menyembunyikan ketertarikan satu sama lain. Janji yang tak ditepati serta nasib yang mengarahkan jalan lain membuat mereka sulit untuk bersama. Meski demikian kesempatan berjumpa kembali di Paris hingga New York bertahun-tahun kemudian bisa jadi membangkitkan kenangan sekaligus merajut kembali perasaan yang tak kunjung padam.

Aktor anyar Ali Zafar benar-benar menyita perhatian disini. Sosok Nikhil yang ambisius dan tidak mengenal aturan dalam hidup berhasil dijiwainya dengan baik. Pesona wajah dan posturnya semakin lengkap dengan kemampuannya menyanyikan beberapa lagu yang ditulis dan diaransemennya sendiri! Aditi Rao Hydari juga terlihat manis dalam menghidupkan tokoh Lalitha yang naïf dan sangat terencana. Transformasinya dari gadis baik-baik di Inggris menjadi wanita matang di Perancis juga terlihat jelas sehingga memberikan aksen yang samasekali berbeda dalam menerjemahkan suasana hatinya.
Anu Menon pantas diacungi jempol atas usaha kerasnya memainkan multi peran kali ini. Meskipun dialognya masih kurang konsisten, sebagian menarik, sisanya membosankan tetapi penerjemahan konfliknya tergolong mulus dengan bantuan narasi sederhana di beberapa bagian. Pemilihan setting lokasi LPNY juga terasa pas menghadirkan perbedaan suasana yang mengalirkan chemistry hangat di antara kedua tokoh utama. Keputusannya memangkas film menjadi kurang dari dua jam juga terbilang tepat sehingga tidak berlarut-larut menyeret permasalahan yang tidak perlu.

London Paris New York terlepas dari kemiripan dengan berbagai judul Hollywood sebelumnya (Before Sunset, When Harry Meet Sally dsb) tetap merupakan hembusan angin segar bagi industri perfilman Bollywood. Presentasi realistis yang melingkupi kaum urban ini amat mungkin terjadi dimana saja. Saya pribadi merasa dekat dengan karakter Nikhil yang flamboyan dan kerapkali mempertanyakan apa yang sebetulnya dituju termasuk kala berkecimpung di dunia film. Anu Menon sukses menyajikan komedi romantik yang berani tampil beda meski tanpa dukungan studio besar atau cast terkenal sekalipun. Feel the different chemistry between Ali and Aditi from time to time and you’ll cheer for ‘em to get along in the end!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 11 Maret 2012

MAN ON A LEDGE : Compose Your Edgy View


Quotes:
Nick Cassidy: Today is the day when everything changes. One way or another.

Nice-to-know:
Detektif Lydia Mercer (Elizabeth Banks) membantu Nick (Sam Worthington) terdakwa yang kabur dari penjara untuk membuktikan ketidakbersalahannya. Dalam The Next Three Days (2010), Banks bermain sebagai terdakwa yang juga kabur dari penjara.

Cast:
Sam Worthington sebagai Nick Cassidy
Elizabeth Banks sebagai Lydia Mercer
Jamie Bell sebagai Joey Cassidy
Anthony Mackie sebagai Mike Ackerman
Genesis Rodriguez sebagai Angie
Ed Harris sebagai David Englander
Genesis Rodriguez sebagai Angie

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Asger Leth setelah sebuah film documenter berjudul Ghosts of Cité Soleil di tahun 2006.

W for Words:
Masih ingat The Ledge (2011) yang baru masuk ke bioskop Indonesia kisaran Oktober yang lalu? Memang ada kesamaan premis dimana tokoh utama pria berdiri di tepian gedung tinggi berniat terjun dengan satu tujuan akhir di kepalanya. Tentunya Pablo F. Fenjves memiliki hal lain dalam benaknya sehingga lahirlah sebuah thriller cerdas yang bisa jadi akan menjungkir-balikkan kesan pertama yang anda tangkap melalui poster ataupun trailernya.
Mantan polisi NYPD, Nick Cassidy sempat divonis hukuman penjara dalam waktu yang lama karena kasus pencurian berlian milik pebisnis kejam Deavid Englander. Kini Nick tanpa ragu melangkah ke luar jendela kamar hotel Roosevelt dan berdiri di tepiannya demi menarik perhatian khalayak dan aparat untuk mengusut tuntas kasus terdahulunya. Sementara itu adiknya, Joey dan kekasihnya, Angie justru merencanakan sebuah perampokan besar-besaran di gedung seberang.

Sutradara Asger Leth merekonstruksi semua subplotnya dengan timing tepat dibumbui dengan action yang cukup di setiap bagiannya. Nalar anda akan diberikan waktu yang pas untuk mencerna hasil editing Kevin Stitt yang cerdas itu. Memang tidak terlalu lama sehingga berbagai unsur logika tidak sempat anda pertanyakan seperti apa latar belakang Joey dan Angie sampai mampu menguasai kemampuan merampok yang cekatan atau kerjasama sang negosiator Lydia Mercer dengan rekan-rekannya yang terkesan serba instan atau serentetan pertanyaan lain yang mungkin timbul dalam benak anda.
Sam Worthington mungkin sedikit kesulitan menggunakan aksen New York tapi ketangguhan dan keteguhan seorang Nick mampu dijiwainya dengan baik. Ed Harris seperti biasa bermain karismatik sebagai pihak yang berseberangan alias antagonis. Elizabeth Banks yang tengah berusaha menaikkan pamornya dengan peran-peran variatif memang tidak buruk tapi masih sedikit kurang pas sebagai negosiator keras kepala. Khusus Jamie Bell dan Genesis Rodriguez sukses menciptakan chemistry yang seksi sehingga setiap adegan yang melibatkan keduanya mampu memberikan warna tersendiri.

Jika anda mau sedikit mengabaikan logika, Man On A Ledge yang merupakan tipikal thriller kelas B (menilik dari dialognya) ini masih akan menjadi sebuah tontonan yang menghibur karena karakterisasi yang demikian berwarna. Subplot klise yang mungkin mudah ditebak ini tetaplah menarik untuk ditunggu eksekusinya, terlebih di saat menit-menit terakhir penentuan nasib Cassidy dan keluarganya. Your edgy view will be composed by the height of building and the weight of innocence itself!

Durasi:
102 menit

U.S. Box Office:
$18,600,911 till Feb 2012.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent