XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label korean movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korean movie. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

TRAIN TO BUSAN : Unstoppable Ride For Zombie Bite

Tagline:
Life-or-death survival begins.

Nice-to-know:

Premiere pada Cannes Film Festival 2016 pada section Midnight Screening.  

Cast:
Gong Yoo sebagai Seok-woo
Kim Su-an sebagai Su-an
Jung Yu-mi sebagai Seong-kyeong
Ma Dong-seok sebagai Sang-hwa
Choi Woo-shik sebagai Young-guk
Ahn So-hee sebagai Jin-hee
Kim Eui-sung sebagai Yong-suk
Choi Gwi-hwa sebagai gelandangan
Jung Suk-yong sebagai Captain of KTX
Ye Soo-jung sebagai In-gil
Park Myung-sin sebagai Jong-gil
Jang Hyuk-jin sebagai Ki-chul
Kim Chang-hwan sebagai Kim Jin-mo

Director:
Merupakan feature live-action perdana bagi Yeon Sang-ho yang sebelumnya menggarap enam animasi.

W For Words:
Selama puluhan tahun, George A. Romero dan John A. Russo telah membagi para pecinta zombie menjadi dua kubu yaitu zombie berjalan dan zombie berlari.  Mana yang lebih disukai dengan berbagai alasan di baliknya biarlah menjadi preferensi anda. Kini zombie apocalypse terbaru versi Yeon Sang-ho yang sempat diputar pada Cannes Film Festival 2016 ini siap menambah panjang daftar film sejenis. Namun bagi penggemar film Asia pada khususnya, hal ini jelas merupakan kabar gembira. It means you might expect to get humanity sides more than anything else. Well, is that so?

Pialang Seok-woo mungkin bukan ayah yang baik bagi Su-an, hingga berniat memberikan kado ulang tahun terbaik yaitu mengantar putrinya tersebut menemui ibunya alias mantan istrinya di Busan dengan menggunakan kereta express KTX. Dalam perjalanan, mereka bertemu pria tangguh Sang-hwa dan istrinya yang tengah mengandung Seong-kyeong, kawanan pemain bisbol yang dipimpin Young-guk dan pemandu sorak Jin-hee yang menyukainya, dua bersaudari lanjut usia, gelandangan serta ratusan penumpang lainnya. Epidemi misterius nan mematikan kemudian menentukan nasib mereka semua.

Nama Yeon Sang-ho memang belum setenar Park Chan-wook, Bong Joon-ho atau Kim Ki-duk. Namun live-action perdananya ini saya yakini akan langsung membawanya ke jajaran sutradara kelas A negeri ginseng. Skenario yang juga ditulisnya ini sepintas terlihat linier, tetapi jika ditelusuri lebih dalam, sesungguhnya Yeon telah menyematkan beberapa twist dan turns yang menjadi kejutan menarik hingga end credits bergulir. Semuanya dirangkai secara piawai lewat pengenalan multi karakter yang begitu berwarna lengkap dengan identitas konflik masing-masing.

Yeon masih setia menggunakan metode bertutur tiga babak secara efektif terlepas dari limitasi durasi yang mengekang. Universe yang ia ciptakan, meski masih menyisakan sebagian pertanyaan mendasar yang tidak pernah terjawab hingga akhir, berhasil menjadi panggung bertahan hidup yang sangat meyakinkan. Kecepatan zombie mengejar manusia berbanding lurus dengan pacing film yang juga konsisten mengantar penonton pada tujuan yang ingin dicapainya. Tim efek khusus pantas diacungi jempol dengan kinerja maksimal yang dipertunjukkannya. 
















Barisan cast sukses mempertahankan pakem dramatisasi yang biasanya melekat pada film-film Korea. Gong Yoo yang bertransformasi sifat usai menghadapi situasi hidup mati didukung oleh si kecil Su-an yang konsisten dengan pemikiran lurusnya. Sementara Dong-seok adalah tipikal hero sejati, kontras dengan Yu-mi yang terlihat tak berdaya. Ada lagi kawula muda yang diwakili Woo-sik atau manula oleh Soo-jung dan Myung-sin. Sedangkan Yong-suk diyakini mampu menganulir keberpihakan penonton dengan sikap dan perangainya.

Train To Busan adalah sebuah perjalanan spektakuler yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton sejak stasiun keberangkatannya. Tidak perlu khawatir akan materi darah dan kekerasan yang tergolong minim di sini. Beberapa perhentian melodrama yang kerap bermuatan kritik sosial akan memberi waktu bagi jantung anda, yang tak disadari kian terpacu, untuk beristirahat sejenak. Karakter manusia memang kompleks. Still it’s better to be alive, right? Now the signal is on. Just get on board into nearest cinema as quick as you can for such memorable experiences!

Durasi:
118 menit

U.S. Box Office:
$1.644.123 till August 2016

Movie-meter:


Sabtu, 16 November 2013

KILLER TOON : Promising But Overstretched Final Act

Original title:
Deo Web-toon: Ye-go Sal-in

Nice-to-know:
Film horor Korea Selatan pertama yang menjual lebih dari satu juta tiket semenjak Death Bell (2008).

Cast:
Lee Si-young sebagai Ji-yoon
Uhm
Ki-joon sebagai Lee Gi-cheol
Kim
Hyeon-woo sebagai Yeong-soo
Moon Ga-young
Kwon
Hae-hyo
Oh
Kwang-rok


Director:
Merupakan film keempat bagi Kim Yong-gyun setelah The Sword with No Name (2009).

W For Words:
Gambar fiktif yang kemudian menjadi kenyataan. Rasanya baru beberapa bulan lalu, Korea menyuguhkan The Gifted Hands alias Psychometry yang dibintangi oleh Kim Kang-woo dan Kim Beom. Kini hadir persembahan Filma Pictures dan CJ Entertainment dengan aktris Lee Si-young dan Moon Ga-young. Yang satu mengambil obyek grafitti sedangkan yang lain komik. Perbedaannya mungkin hanya pada penekanan hubungan interpersonalnya saja, cowok dengan cowok, cewek dengan cewek.  Tentu menghasilkan sudut pandang yang juga berbeda. Curious?
Komikus wanita Ji-yoon tengah menikmati kesuksesannya dengan menandatangani kontrak baru bernilai tinggi. Satu kasus pembunuhan misterius yang disinyalir meniru apa yang terjadi pada komiknya membuat Ji-yoon lantas menjadi tersangka utama. Detektif Ki-cheol dan asistennya Yeong-soo segera melakukan interogasi tapi tidak ditemukan bukti yang cukup kuat. Seiring penyelidikan berjalan, masa lalu Ji-yoon pun terkuak dimana perjuangannya untuk mencapai status seperti sekarang tidaklah mudah. Sementara itu korban lain mulai berjatuhan.
Penulis skrip sekaligus produser film, Lee Sang-hak sesungguhnya sudah memulai dengan baik apalagi opening act nya lumayan menggebrak dimana sederetan gambar horor mampu meneror pikiran penonton. Namun memasuki paruh kedua, Lee mulai memainkan trik lawas yaitu balas dendam dan perasaan bersalah ketika rahasia gelap mulai terbongkar. Belum lagi dramatisasi ‘kekeluargaan’ yang biasanya menjadi identitas film Korea. Kian diperburuk dengan twist after twist after twist yang terlalu dipaksakan menjelang endingnya, seakan memaksa penonton merasa tertipu mentah-mentah.
 
Sutradara Yong Kyun tampak menguasai trik ‘horor’ secara maksimal. Timing dan atmosfir yang dibangun berhasil mencekam penonton di beberapa bagian. Sedangkan sisi gore dan violence nya disuguhkan dengan efektif tanpa melulu terkesan eksplisit. Setting gothic dengan pemilihan tone warna yang variatif semakin ciamik dengan pemanfaatan lighting yang tepat. Elemen terpenting yang juga gemilang ditanganinya adalah tampilan sekuens komik yang bisa jadi membuat bulu kuduk anda berdiri. Visualisasi film secara keseluruhan mampu menutupi segala kekurangan yang ada.
Si-young yang filmografinya didominasi genre drama romantis kali ini menjadi nyawa film dimana terjadi pergeseran karakteristik tokoh Ji-yoon yang cukup signifikan. Ki-joon, Hyeon-woo, Ga-young juga tidak mengecewakan meskipun harus menjalani penokohan nan klise. Killer Toon yang sempat merajai box-office Korea tahun ini mungkin bisa dimaafkan atas ketidakmaksimalannya dalam upaya menyajikan horor thriller modern yang fresh dan mindbending. Blame the overstretched final act with unimportant conclusion. Well, at least they try. It’s still above average for such Asian’s similar genres.

Durasi:
104 menit

Asian Box Office:
₩7.79 billion in Korea

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 08 Oktober 2013

FLU : Dramatically Massive Epidemic Korean Movie

Tagline:
Death goes viral

Nice-to-know:
Film berjudul asli Gamgi ini sudah tayang di Korea Selatan pada tanggal 14 Agustus 2013 yang lalu.

Cast:
Jang Hyuk sebagai Kang Ji-koo
Soo Ae sebagai Kim In-hae

Park Min-ah sebagai Mirre
Cha In-Pyo sebagai Presiden
Yoo Hae-jin sebagai Bae Kyung-ub
Lee Hee-joon sebagai Byung-ki
Lee
Sang-Yeob sebagai Byeong-woo

Jeon Kook-Hwan sebagai Ma Dong-seok

Director:
Merupakan f
eature film keenam bagi Kim Sung-su setelah Please Teach Me English (2003).

W For Words:
Masih membekas dalam ingatan akan wabah virus flu yang mematikan dalam Contagion (2011) atau World War Z (2013). Kini rumah produksi Korea, iLoveCinema dan iFilm Co.membuat versinya dimana hak distribusi dipegang langsung oleh CJ Entertainment. Beruntung publik Indonesia bisa menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex walaupun harus terlambat dua bulan. Sederetan aktor-aktris ternama negeri ginseng dikerahkan untuk menghidupkan suasana chaos. Tak heran jika wajah-wajah familiar akan anda temukan dalam film yang menghabiskan total bujet 9,9 juta won.

Sejumlah imigran gelap diselundupkan ke Bundang dekat Seoul. Virus flu H5N1 menewaskan semua kecuali Monssai yang menyebarkan ke seantero warga sipil di dekatnya akibat melarikan diri dari kakak beradik Byeong-woo dan Byeong-ki. Kontan wabah tersebut meluas hingga memaksa Presiden mengambil tindakan yaitu melakukan evakuasi untuk menghentikan penyebaran. Sementara itu dokter yang juga single mom, In-hae bertekad menyembuhkan anaknya Mirre yang tertular dengan bantuan petugas Tim Penyelamat baik budi, Jigu yang juga menaruh hati padanya.
Layaknya film Korea yang kerap menitikberatkan pada nilai-nilai keluarga, yang satu ini bukan pengecualian. Small units yaitu Jigu dan ibu anak In-hae dan Mirre membawa semangat itu, lengkap dengan melodrama episodiknya di paruh kedua sampai film berakhir. Teori konspirasi dari pihak-pihak berwenang dalam menangani wabah juga turut memperkaya konflik. In the end, it might only be the worst situation that happened in Bundang, small city with approx half million population. Namun nyatanya tetap mampu memberikan efek global yang dibutuhkan tanpa terkesan ambisius.

Sutradara Kim melakukan intertwining setiap porsi subplot nya dengan baik sehingga tidak kehilangan fokus. Terima kasih pada kerapian editing Nam Na-young dan kecermatan DOP Lee Mo-gae mengambil suasana kericuhan publik baik steady maupun handheld. Belum lagi kemegahan scoring music yang terbilang efektif menjaga tempo film yang berjalan lebih dari dua jam. Efek virus flu yang mengerikan mulai dari ruam kulit, batuk parah, semburan darah juga sukses membangun paranoia penonton, terlebih ancaman kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup kita.

Jang Hyuk yang biasanya bermain komedik kali ini mengusung jiwa patriotik yang meski terkesan berlebihan langsung membuat penonton berpihak padanya. Sebaliknya Su Ae yang insecure dan memegang kode etik kedokteran justru dihadapkan pada situasi yang menuntutnya berubah drastis. Si kecil Min-ha menampilkan akting lugu menggemaskan nan memikat dengan spontanitas dan high curiosity nya. Aksi heroik penuh wibawa dilakoni In-pyo sebagai Presiden yang mendapat tekanan internal, militer sekaligus pihak asing yang mulai mencampuri otoritasnya.

Flu adalah disaster movie dengan intensitas tinggi. Tak jarang esensi konfliknya begitu menekan anda hingga ke ulu hati termasuk perpanjangan klimaks menjelang ending. Atmosfirnya yang depresif juga secara konstan menyetir anda untuk bisa merasakan bagaimana jika berada dalam kondisi demikian. Berbagai informasi teknis dari segi medik ataupun sosial politik yang seharusnya kuat mendukung memang sedikit terabaikan. Toh semua itu tak menghalangi keberhasilan filmmaker Kim dalam menyuguhkan mass hysteria cause by epidemic. This horrible but logically expected under those circumstances sci-fi thriller will stuck in your mind for a while.

Durasi:
121 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 10 Agustus 2013

MR. GO : Monkey Business With Cuteness Overload


Tagline:
World's first gorilla pinch hitter and his 15-year old trainer begin on their miraculous run in the Korean Baseball League.

Nice-to-know:
Menghasilkan sekitar 17 juta dollar dalam 15 hari penayangannya di China saja.

Cast:
Xu Jiao sebagai Weiwei
Sung Dong-Il sebagai Sun Choong Soo
Kim Kang-Woo sebagai GM Doosan
Kim Hee-won sebagai Lin Xiaogang
Joe Odagiri sebagai Pemilik Chunichi Dragons
Cha Jong-Ho
Kim Jung-Eun

Director:
Merupakan f
ilm keempat bagi Kim Yong-Hwa yang angkat nama lewat 200 Pounds Beauty (2006).

W For Words:
Tersebutlah sebuah komik Korea yang dicintai publik tentang seekor gorilla yang ahli bermain baseball yang kemudian diproduksi oleh Dexter Studios menjadi sebuah film adaptasi. Distribusinya diyakini akan meluas ke seluruh daratan Asia terlebih segmentasi yang dituju adalah keluarga. Kita semua tahu bahwa sineas Korea sudah mulai diperhitungkan oleh kalangan internasional. Bukan hanya itu, keterlibatan aktris muda Xu Jiao yang pernah angkat nama lewat CJ7 (2008) bersama maestro komedi Hongkong, Stephen Chow menjadi daya tarik tersendiri selain tokoh Ling Ling tentunya.

Gadis belia berusia 15 tahun, Weiwei mewarisi sirkus dari kakeknya termasuk gorilla. Ling Ling yang selalu setia menemaninya sejak kecil. Utang besar yang ditangguk membuat Weiwei menyetujui kontrak promotor baseball Korea Selatan, Sun Choong Soo untuk menyertakan Ling Ling membela Doosan Bears dalam kompetisi antar klub profesional. Kemenangan demi kemenangan yang diraih membuat Weiwei dan Ling Ling terkenal di seantero negeri. Namun klub lawan, NC tidak tinggal diam dan membawa Rating, gorilla agresif dari sirkus yang dikenal jago melempar bola. 

Kim Yong Hwa yang bertanggungjawab dalam penulisan dan eksekusi menggunakan pendekatan dokumenter untuk membuka film. Cenderung efektif untuk merangkum sekian rentang waktu untuk mempersingkat durasi. Namun kelemahannya nyaris tidak ada pengenalan latar belakang yang cukup terhadap karakter Weiwei dan Ling Ling. Hal ini kemudian ditebusnya dengan beberapa penggalan flashback seiring film bergulir. Masuknya berbagai macam karakter kemudian memang mengalihkan perhatian dari lemahnya storytelling yang diusung oleh Kim.

Daya tarik utama film ini jelas ada pada spesial efek yang memungkinkan Ling Ling terlihat begitu ‘nyata’ di layar dengan segala bahasa tubuhnya. Interaksinya bersama Sung Dong Il terasa lebih memiliki ikatan dibandingkan dengan Xu Jiao. Sesuatu yang disebabkan karakter Sun yang lebih ‘quirky’ dengan daripada Weiwei yang hanya bisa ber’ooh ooh’ selain pergolakan batin seorang bounty hunter egois menjadi penanggungjawab dewasa. Meski demikian, Xu berhasil mengajak anda untuk bersimpati pada keluguan dan tekad kuatnya yang hidup sebatang kara tapi sudah jadi tumpuan di usia belasan tahun.

Setting tempat tinggal mewah Sun yang memadukan nuansa Jepang dan Korea sekaligus dengan pohon dan tumbuhan yang bernilai tinggi kerap menjadi pertunjukan yang memancing tawa penonton terlebih pada saat mabuk. Musik dari Lee Jae-hak yang turut menyuguhkan lagu populer lawas Ye Liang Tai Piaw Wo Te Sin dari Dire Straits dan Teresa Teng di pertengahan terdengar syahdu membangun mood di pertengahan film yang sebetulnya bisa diringkas dengan editing yang lebih ketat lagi. 3D nya lumayan memuaskan karena desingan bola yang terasa nyata melambung cepat ke arah mata kita.

Mr. Go sesuai titelnya menawarkan pengalaman seekor gorilla bermain baseball membela liga tempatnya bernaung dengan instruksi teriakan dan cambuk seorang remaja putri. Bagian itulah yang paling menghibur di sepanjang film baik yang mengerti olahraga ini atau tidak. Pertarungan puncak antara Ling Ling dan Rating menjadi icing on the cake terlepas dari kesengajaan final act dari filmmaker untuk mengangkat film produksi patungan Korea-Cina ini. Do mind all those cheesiness to get into this awesome human-creature adventure!

Durasi:
1
32 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 20 Juli 2013

MIRACLE IN CELL NO 7 : Sorrow Over ‘Fantasy’ Social Drama


Original title:
7beonbangui Seonmool.

Nice-to-know:
Pengambilan gambar berakhir pada tanggal 10 Oktober di Iksan, Jeollabuk-do, Korea Selatan dimana semua napi mempunyai misi mengeluarkan Yong-gu dari penjara untuk sementara waktu.

Cast:
Ryoo Seung-yong sebagai Yong-Goo
Jeong Man-shik sebagai Sin Bong-sik
Oh Dal-su sebagai So Yang-Ho
Park Shin-Hye sebagai Ye-Seung
Park Won-sang sebagai Choi Choon-Ho
Kal So-Won sebagai Ye-Seung
Kim Jung Tae sebagai Man-Bum

Kim Ki-cheon sebagai Seo
Jung Jin-young sebagai Jang Min-Hwan


Director:
Merupakan film keempat bagi Lee Hwan-kyung setelah Champ (2004).

W For Words:
Mungkin masih membekas dalam ingatan moviegoers akan dua film Hollywood berkelas Oscar yaitu The Green Mile (1999) dan I Am Sam (2001) meski sudah lebih dari satu dekade berlalu. Apa relevansinya dengan film Korea yang meraih banyak nominasi di ajang Baek Sang Art Awards ini? Jika anda tarik garis lurus maka didapatlah kisah ayah keterbelakangan mental bersama putri kecilnya dan juga seorang napi tak bersalah yang dipidana hukuman mati. Kombinasi yang kemudian dijamin akan menawan hati anda selama lebih dari dua jam durasinya. Tak percaya?

Pada tahun 1997, pria dengan mental terbelakang bernama Yong-gu dijebloskan ke penjara sambil menunggu kasus persidangan yang menjeratnya dengan pasal pembunuhan, penculikan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang juga putri seorang Komisaris polisi. Putrinya Ye-sung di luar dugaan berhasil menyusup ke sel atas bantuan bos Yang-ho dan krunya masing-masing Chun-ho, old Seo, Bong-shik, Man-beom. Tak tersisa waktu banyak bagi mereka untuk berjuang keras menyelamatkan Yong-gu dari dakwaan hukuman mati dalam pengawasan kepala polisi Min-hwan.

Skrip yang ditulis secara koperatif oleh Lee Hwan-Kyung, Kim Hwang-Sung dan Kim Young-Suk ini jika dicermati memang menyisakan banyak pertanyaan. Sebut saja kondisi penjara yang lebih bernuansakan rumah lengkap dengan selimut, meja makan hingga toilet. Atau bagaimana penjagaan ketat dengan segala ritualnya yang tidak lazim. Namun jika anda bisa menerima keganjilan tersebut, niscaya hati anda akan tertawan seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Ya. Premis keadilan versus ketidakadilan akan selalu memikat untuk disimak dengan segala konsekuensi yang berlaku.

Sutradara Lee banyak bermain dengan elemen fantasy yang bertentangan dengan realitas. Setting penjara yang cerah dan hangat contohnya. Semuanya kian terasa indah karena sinematografi bergaya soft edges dari Kang Seung-gii. Belum lagi scoring music yang menyentuh dan sound design yang terasa pas di tiap suasana. Timing untuk melontarkan humor dan menghadirkan haru juga patut diacungi jempol karena sisi penokohan yang terbangun secara stabil serta adanya pergeseran karakteristik yang disesuaikan dengan konflik yang dihadapi.

Si kecil Kal So-Won jelas paling mencuri perhatian dengan keluguan menggemaskannya yang mengundang simpati. Upaya Ryoo Seung-yong menghidupkan sosok retarded dengan wajar juga pantas mendapatkan apresiasi tinggi. Chemistry keduanya sangat kuat di sepanjang film hingga membuat siapapun yang melihatnya akan tersentuh. Lima aktor kawakan Oh Dal-su, Jeong Man-shik, Park Won-sang, Kim Jung Tae dan Kim Ki-cheon bermain kompak dalam mendukung ayah anak yang innocent itu. Aktris populer Park Shin-Hye bagaikan icing on a cake, memberi sentuhan terakhir sebagai Ye-sung dewasa berhati teguh.

Miracle In Cell No 7 sejauh ini sudah menjadi film Korea terlaris ketiga sepanjang masa di belakang The Host (2006) dan The Thieves (2012). Rasanya di beberapa negara Asia lainnya akan mampu berbicara banyak mengingat begitu besar potensi word of mouth nya sebagai tearjerker yang manis sekaligus tragis. Tak usah malu untuk mengusap air mata yang terjun bebas di pipi anda kala menyaksikannya. Drama sosial yang disamarkan sebagai komedi ini jelas berpotensi tinggi menggugah sensitivitas anda dari lubuk hati terdalam sekalipun. Definitely one of Asian’ father-daughter flick not to be missed!

Durasi:
12
7 menit

Asian Box Office:
$
12.320.000 till Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 17 Juli 2013

BOOMERANG FAMILY : Dysfunctional Family That Poured Your Heart Out


Tagline:
Here comes The Boomerang Family who can’t act their age.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Invent Stone dan didistribusikan oleh CJ Entertainment ini sudah rilis di Korea pada tanggal 9 Mei 2013.

Cast:
Park Hae-il sebagai In-mo
Yoon Yeo-jeong sebagai Mom
Yun Je-mun sebagai Han-mo
Kong Hyo-jin sebagai Mi-yeon
Jin Ji-hee sebagai Min-kyeong


Director:
Merupakan film keenam bagi Song Hae-sung yang memulainya lewat Calla (1999).

W For Words:
Film Asia terkenal dengan ciri khas kekeluargaannya terutama sineas negeri ginseng yang begitu fasih memberikan sentuhan itu demi menjalin kedekatan secara emosional dengan penonton. Produksi Invent Stone ini masih menggunakan formula serupa, bahkan menjadikannya komoditi utama dalam bertutur. Karakter utamanya bahkan digambarkan sebagai seorang filmmaker. Menarik bukan? Banyak alasan bagi anda untuk menyaksikan film yang terpilih sebagai opening 2013 Korean Film Festival di Indonesia beberapa waktu lalu ini. 

Sutradara gagal In-mo bertekad mengakhiri hidupnya apalagi setelah ditinggalkan sang istri. Ibunya menawarkan tempat tinggal sementara di rumah masa kecilnya. In-mo setuju meski harus hidup berdampingan dengan kakaknya yang juga mantan gangster, Han-mo. Di luar dugaan, kakak perempuannya, Mi-yeon juga kembali dengan membawa putri remajanya, Min-gyeong untuk menetap sementara setelah bercerai untuk kedua kalinya. Reuni keluarga tersebut pun berubah menjadi ricuh tatkala kedewasaan masing-masing dipertaruhkan.

Skrip yang ditulis sendiri oleh Song Hae-sung ini dengan telaten ‘membedah’ karakteristik setiap tokohnya terlebih dahulu. Studi kasus dysfunctional family ini sebetulnya biasa terjadi di berbagai keluarga ini justru tetap menarik karena aspek manusiawi dan relevansinya. Song juga menggunakan setting sehari-hari untuk membangun frame yang konsisten dan tidak keluar jalur. Dialog yang quirky terbukti menjadi kekuatan utama sekaligus efektif mencuatkan sisi gelap yang kemudian sukses membuka tabir rahasia satu persatu seiring berjalannya durasi.

Akting yang solid dari keseluruhan cast rasanya membuat anda bingung untuk menetapkan keberpihakan. Yeo-jeong yang bijaksana sebagai ibu paruh baya kerap diposisikan sebagai penengah. Hae-il tampak pas sebagai si bungsu depresif In-mo yang eksentrik. Berbanding terbalik dengan Je-mun yang terlihat sangar sebagai si sulung Han-mo tapi sesungguhnya berjiwa besar. Hyo-jin yang terkesan matang sebagai Mi-yeon justru memperlihatkan kelabilannya yang menyebabkan putrinya Min-kyeong tumbuh dalam ketidakpastian, juga dimainkan dengan gemilang oleh Ji-hee. Beberapa supporting act juga berhasil memberikan warna tersendiri.
Boomerang Family adalah paket komplit sebuah komedi hitam yang tak jarang membuat anda berkaca. Kita memang pribadi tak sempurna yang kadang diperparah dengan lingkungan yang juga tidak kondusif. Lantas apakah harus menyerah dengan keadaan? Bukankah hidup kerap menawarkan begitu banyak rasa mulai dari suka hingga duka yang tetap harus disikapi dengan sebagaimana mestinya? Bersiaplah untuk tertawa sekaligus terharu menyaksikan kisah keluarga Korea yang juga tidak lupa menggugah selera anda dikarenakan sebagian besar kebersamaan dibagi di atas meja makan lengkap dengan hidangan khas.

Durasi:
112 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 04 Mei 2013

THE GIFTED HANDS : Gripping Thriller About Souls to Save and Hearts to Keep

Tagline:
Hands that reveal the past.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Psycho-metry ini sudah rilis tanggal 7 Maret 2013 lalu di Korea Selatan.

Cast:
Kim Beom
sebagai Kim Joon
Kim Kang-woo sebagai Detektif Yang Choon-dong
Esom sebagai Kim Seung-gi
Lee Joon-Hyuk sebagai Yang-Soo
Kim Yu-Bin sebagai Da-hee

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Kwon Ho-Jung.

W For Words:
Kita harus mengakui jika Korea Selatan merupakan produsen thriller terbaik di Asia saat ini semenjak era tahun 2000 mulai merambah pasar Indonesia. (Terima kasih pada berbagai seri melodrama yang efektif menguras air mata) Sebut saja judul-judul seperti Tell Me Something (1999), Oldboy (2003), I Saw The Devil (2010) silih berganti menjadi rekomendasi jika sedang ditanya. Kini suguhan terbaru negeri ginseng tersebut kembali menyapa penikmat film di Indonesia melalui distributor langganan CJ Entertainment yang masih menggandeng jaringan bioskop Blitzmegaplex.

Detektif Yang Chun-dong tengah menyelidiki kasus menghilangnya gadis cilik yang kemudian ditemukan tewas terkubur. Satu-satunya petunjuk yang tertinggal adalah gambar grafiti dari seniman jalanan Kim Joon yang selalu mengenakan jaket hitam untuk menutupi fisiknya yang pucat lemah. Saat Da-hee yang pernah ditemuinya di jalan diculik, Chun-dong harus berpacu dengan waktu untuk menemukan pelaku. Kim Joon yang ternyata mampu membaca masa lalu seseorang lewat sentuhan tangannya setuju untuk membantu walau harus menyakiti dirinya sendiri.

Skrip yang ditulis oleh Ho-Jung ini memang tidak terlalu ‘gelap’. Bagaimana tidak? Introduksi terhadap Detektif Chun-dong yang sembrono dilakukan secara komikal. Lihat bagaimana ia berbicara dengan mulut penuh makanan, bertengkar dengan warga yang menjalani kerja sosial hingga dipukuli atasannya dengan dokumen. Bagi sebagian orang, hal ini terkesan mengurangi superioritasnya. Namun bagi saya justru terlihat manusiawi, ia tidak sempurna. Kim Kang-woo menokohkannya dengan baik, mengundang keberpihakan yang jelas dalam diri penonton.

Kim Beom yang berpenampilan ‘manis’ itu terasa melekat dalam karakter Kim Joon yang berkemampuan khusus. Tutur katanya yang halus, bahasa tubuhnya yang gemulai cukup menjelaskan perlakuan apa yang kira-kira diterimanya dari orang-orang di sekitarnya. Sayangnya masih banyak hal yang tak terjawab mengenainya bahkan sampai durasi berakhir. Setidaknya chemistry “bromance” antara Kim Joon dan Chun-dong terjalin erat. Pada satu titik, penonton dibuat percaya bahwa keduanya akan dapat saling mengisi kekosongan yang ditinggalkan keluarga masing-masing.

Sebagai sutradara Ho-Jung masih memanfaatkan beberapa elemen klise yang biasa ditemui yaitu basement gelap, lorong sepi, bangunan terbengkalai, ruang terisolasi dll. Setting lokasi yang digunakan cukup variatif untuk menonjolkan paranoia tersendiri. Yang juga menarik adalah pengadeganan masa silam lewat potongan-potongan flashback yang dikerjakan dengan serius. Suspensinya terbangun sempurna semenjak melewati pertengahan hingga akhir film sehingga klimaksnya dapat tercapai. Tak jarang penonton akan memekik gemas dibuatnya.

The Gifted Hands memang belum beranjak dari fakta bahwa anak-anak, perempuan pada khususnya, masih menjadi sasaran utama tindak kekerasan dan obyek seksual para pelaku yang umumnya menderita gangguan mental walau terlihat normal dari luar. Protagonis yang diset sedemikian rupa dalam wujud anggota kepolisian lengkap dengan trauma masa kecilnya saja sudah merupakan polemik tersendiri. Secara keseluruhan bukan thriller mumpuni tapi sudah lebih dari cukup dalam menghibur. It’s all about souls to save and hearts to keep. Memories do fading away.

Durasi:
1
07 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:



Minggu, 25 November 2012

SOAR INTO THE SUN : Brainless Korean’s Top Gun Entertainment


Quote: 
Tae-hun: Jangan teriak, kupingku sakit. Ini bukan korps militer! 

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Zooomoney Entertainment, Red Muffler dan CJ Entertainment ini sudah rilis di Korea Selatan pada tanggal 15 Agustus 2012 yang lalu. 

Cast: 

Rain sebagai Jang Tae-hun
Shin Se-kyung sebagai Yu Se-yeong
Yoo Joon-sang sebagai Lee Cheol-hui
Kim Seong-su sebagai Dae-seo
Lee Ha-na sebagai Yu-jin
Lee Jong-Suk
Jeong Seok-won


Director: 

Merupakan film ketiga bagi Kim Dong-woon setelah Yugamseureoyun Doshi (2009).

W For Words:
Top Gun (1986) pada masanya telah mengubah peta perfilman yang bertemakan kesatuan angkatan udara hingga melejitkan nama Tom Cruise sebagai mega bintang sampai sekarang. Tak diduga seperempat abad kemudian, Ahn Sang-hoon dan Kim Dong-woon menyusun skrip dengan benang merah yang sama. Apakah industri perfilman Korea Selatan yang sedang berkembang pesat tengah kehabisan ide? Atau semata ingin membuat sebuah hiburan murni tanpa harus memutar otak untuk menikmatinya? Zooomoney Entertainment, Red Muffler, CJ Entertainment mungkin punya alasan sendiri.

Jang Tae-hun adalah pilot termuda Angkatan Udara elit Korea Selatan yang disebut skuad Black Eagle. Paska bencana yang disebabkannya, ia dipindahkan ke regu pesawat tempur 21 sebagai hukuman. Disanalah Tae-hun berjumpa dengan teman-teman lamanya, Yu-jin dan Dae-seo serta staf maintenance yang cantik, Se-yeong. Perseteruan dengan pimpinan Falcon, Jenderal Cheol-hui dalam kompetisi tempur F-15K berujung pada kekalahan Tae-hun. Ia lantas merencanakan pembalasan dengan merancang konstruksi pesawat jet yang lebih baik lagi. 
Durasinya yang nyaris mencapai dua jam memang membutuhkan kesabaran terlebih di paruh pertama menitikberatkan pada romantika Tae-hun dan Se-yeong yang tidak memberikan warna baru samasekali layaknya serial televisi melankolis. Belum lagi subplot yang melibatkan beberapa karakter pendukung lain yang juga tidak sampai memperkuat bangunan plot utama. Barulah di paruh kedua anda disuguhi dua klimaks yang mencengangkan yaitu pertempuran udara di atas kota Seoul dan pertarungan penentuan di atas daerah lautan/pegunungan yang sangat akrobatik.

Sutradara Dong-woon menyuguhkan sinematografi, art direction, set dan lighting yang nyaris sempurna, lengkap dalam balutan musik hip-hop yang enerjik. Birokrasi angkatan udara dan urusan teknis pesawat jet juga tertata dengan rapi, bukan sekadar tempelan belaka. Manuver-manuver yang dilakukan seakan mengindahkan teknik pengambilan gambar standar sehingga pengalaman menontonnya benar-benar terasa beda di layar lebar bioskop kesayangan. Kekurangannya adalah tempo film yang cenderung turun naik tanpa substansi memadai.

Semua karakter dalam film ini berjalan dalam satu dimensi. Layaknya Tom Cruise, Rain amat predictable dengan sifat emosional dan percaya diri cenderung angkuh dalam sosok pilot keren penakluk wanita.  Para penggemarnya bisa jadi kecewa melihat wajah tampan pria yang akan menjalani wajib militer ini lebih sering tersembunyi di balik helm. Pendatang baru Se-kyung memang cantik tapi ia hanyalah seorang love interest yang tak banyak berpengaruh pada konstruksi cerita. Menarik melihat Jong-seok dalam wujud pilot debutan yang dipercaya dalam misi besar pamungkas.

Sulit bagi saya untuk betul-betul merekomendasikan Soar Into The Sun sebagai tontonan memikat dikarenakan dramatisasi konflik nan cheesy yang mudah diterka arahnya. Tentunya kita tahu bujet besar dikucurkan produksi film yang juga dikenal dengan judul R2B: Return to Base ini habis di departemen spesial efek demi memenuhi standar Hollywood. Mungkin itulah satu-satunya alasan tepat bagi anda yang datang ke bioskop hanya untuk menghabiskan waktu berharga dengan mindless entertainment semacam ini yang setidaknya terlihat mahal dan eksklusif.

Durasi: 
113 menit 

Asian Box Office: 
$7,706,110 in Korea till Nov 2012 

Overall: 

7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent


Sabtu, 22 September 2012

ARCHITECTURE 101 : When First Love Gets Another Shot


Quotes: 
Seung-Min: If I give up here, I think I will regret

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Myung Films ini sudah rilis di Korea pada tanggal 22 Maret 2012 yang lalu.

Cast: 
Eom Tae-woong sebagai Seung-min Dewasa
Han Ga-in sebagai Seo-Yeon Dewasa
Lee Je-hoon sebagai Seung-min Muda
Bae Su Ji sebagai Seo-Yeon Muda
Ko Jun-hee sebagai Eun-chae
Kim Dong-Joo sebagai Ibu Seung-Min
Lee Seung-Ho sebagai Ayah Seo-Yeon

Director:
Merupakan
film kedua bagi Lee Young-Ju setelah Possessed (2009).

W For Words: 
Saya percaya sebuah statistik yang menyatakan bahwa hanya 1 dari setiap 1000 orang di dunia yang beruntung bisa hidup bahagia bersama cinta pertamanya. Sisanya harus berakhir di tengah jalan karena 1001 alasan yang tidak akan pernah sama. Bagaimana jika anda mendapatkan satu kesempatan lagi untuk berjumpa dengan cinta pertama anda di waktu dan kondisi yang sudah sangat jauh berbeda? Melodrama Korea yang hak distribusi nya dipegang oleh Lotte Entertainment ini berupaya mempresentasikan kasus langka tersebut sedekat mungkin dengan kenyataan.

Arsitek Seung Min tiba-tiba mendapat kunjungan wanita tak dikenal yang menginginkan dirinya membangun kembali rumah masa kecilnya di Pulau Jeju. Dia adalah Seo Yeon yang ternyata cinta pertama Seung Min di tahun pertama kuliah kelas arsitektur. Awalnya Seung Min menolak sebelum menyanggupi tugas terakhirnya ini sebelum bertolak ke Amerika Serikat. Kenangan indah kembali bangkit dimana kisah cinta lama mereka ternyata belum benar-benar selesai. Mungkinkah kesempatan kedua itu datang?

Sutradara sekaligus penulis skrip Lee Young-ju secara lugas membagi frame ke dalam dua masa yang berbeda dengan rentang waktu 15 tahun. Alur maju mundur itu sedikit banyak membantu penonton untuk bersungguh-sungguh memahami karakter Seung Min dan Seo Yeon sesuai usia mereka. Beberapa tempat yang menjadi lokasi syuting seperti kelas, kantor, rumah keluarga, warung makan juga mampu memberikan nuansa yang dibutuhkan termasuk rumah yang dibangun secara khusus di Kota Namwon, Pulau Jeju. Referensi struktural tahun 90an juga tidak hilang, lihat saja gaya rambut, baju gombrong, pemutar cd, komputer harddisk terbatas dan tentunya radio panggil alias pager

Tokoh Seung Min muda akan membuat banyak penonton pria bersimpati. Siapa yang tidak pernah merasakan ada di posisinya? Deg-degan melihat gadis pujaan lewat, keinginan memegang tangan dan menciumnya, meluangkan waktu bersama, menyatakan perasaan terdalam dsb. Je-hoon menjiwainya dengan naïf dan nervous sekaligus, tipikal lelaki pemalu yang lebih memilih mundur daripada maju dan menelan kekalahan. Tae-woong melanjutkan karakter tersebut ke dalam pria dewasa yang mandiri, rasional dan berkemauan keras. I love the transformation here!
 
Tokoh Seo Yeon remaja jelas pujaan banyak lelaki. Cantik, lembut, bercita-cita menjadi pianis ternama dan berasal dari kalangan berada. Su Jie menokohkannya dengan ceria dan bersemangat, tipikal gadis yang bisa mendapatkan apa saja. Ga-in melanjutkan karakter tersebut ke dalam wanita dewasa yang tegar, percaya diri dan tahu apa yang diinginkannya. Itulah sebabnya, Seo Yeon selalu tampak selangkah lebih maju di depan Seung Min untuk urusan inisiatif walau tidak sampai dikatakan agresif.

Bukan cuma urusan cinta, Young-ju turut menghadirkan apa yang biasanya ada di film negeri ginseng tersebut yaitu keluarga! Kecintaan Seo Yeon pada ayahnya terlihat dari tekadnya membangun kembali rumah yang telah runtuh serta kunjungan besuknya di rumah sakit. Relasi naik turun Seung Min dan ibunya justru lebih dalam lagi, pertengkaran dan perpisahan yang emosional juga mewarnai kehidupan mereka yang sederhana. Konektivitas sebuah hubungan panjang dilakukan lewat simbolis pintu rusak dan kaos Geuss milik Seung Min remaja serta batu bata tinggi badan dan jejak kaki milik Seo Yeon kecil. Hal-hal sepele yang bermakna dalam apabila diusung secara tepat.

Memori cinta pertama dan patah hati pertama bisa jadi membekas di lubuk terdalam setiap orang. Architecture 101 membangkitkan itu semua secara wajar dan relevan. Berbagai kesalahpahaman yang mengarah pada keputusan yang salah kerapkali berujung pada penyesalan dan rasa penasaran tanpa jawab di kemudian hari. Sad factor kali ini adalah perasaan pilu menyaksikan dua orang yang sebetulnya saling mencintai tapi tidak bisa bersama. Itulah realita pahit bahwa hidup memang tak selalu berakhir bahagia. Eventhough might not the way you want it to be but the ending sticks just perfectly to the statement.

Durasi: 
118 menit

Overall: 
8.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 10 September 2012

THE THIEVES : Easy Korean Blockbuster With International Taste

Tagline:
All for the money. One for the revenge. Every man for himself.  

Nice-to-know:
Pembukaan film ini di Korea Selatan sendiri menduduki posisi kedua terbesar sepanjang masa di bawah The Host (2006).

Cast:
Lee Jeong Jae sebagai Popeye
Kim Hae Suk sebagai Chewing Gum
Gianna Jun sebagai Yescall
Gi Guk Seo sebagai Wei Hong
Ju Jin Mo sebagai Polisi
Oh Dal Su sebagai Andrew
Kim Sy Hyeon sebagai Zampano
Simon Yam sebagai Chen
Derek Tsang sebagai Jonny
Anjelica Lee sebagai Julie
Kim Yun Seok sebagai Macau Park
Ye Su Jeong sebagai Madame Tiffany
Kim Hye Su sebagai Pepsi

Director:
Merupakan
film keempat bagi Choi Dong-Hoon setelah Woochi (2009).

W For Words:
Korea Selatan tampaknya sudah mulai mengambil alih tampuk perfilman Asia yang selama berpuluh-puluh tahun dipegang oleh Hongkong dengan keberanian dan inisiatifnya mengolah ide-ide baru yang lebih menjual bagi pasaran internasional. Kali ini penulis dan juga sineas Choi Dong Hoon menggarap film yang paling ditunggu dengan plot sedemikian rupa sehingga lokasi syutingnya mencakup Hongkong, Macau dan Korea Selatan itu sendiri.  Jajaran castnya pun menampilkan nama-nama tenar dari negara-negara tersebut. Menarik bukan?
 
Popeye dan asistennya Zampano meninggalkan Korea untuk merencanakan sebuah perampokan berlian ‘Air Mata Matahari’ bernilai tinggi di Macau. Mereka mengajak ibu dan anak pencuri yaitu Chewing Gum dan Yescall yang baru saja memperdaya pemilik Leesung Gallery serta Pepsi yang baru dibebaskan dari penjara. Ternyata mafia veteran Chen dari Hongkong juga memiliki rencana yang sama dengan bantuan Jonny dan Andrew yang setengah berdarah Korea. Kedua kelompok itu sepakat berafiliasi ditambah dengan putri pembobol brankas ternama, Julie dan juga mantan bos Popeye, Macau Park. Berhasilkah misi besar tersebut di luar agenda tersembunyi yang dimiliki masing-masing personilnya?

Banyak pihak menyebutkan judul-judul seperti The Big Swindle (2003), Tazza : The High Rollers (2006), The Chaser (2008) serta The Yellow Sea (2010) sebagai referensi film ini. Namun Hollywood sendiri memiliki deretan sejarahnya untuk tema serupa, sebut saja Heist (2001), Ocean’s Eleven (2001) dan sekuelnya serta The Italian Job (2003) yang juga proyek remake tersebut. Sutradara Choi tampak masih terpengaruh gaya sinema Hongkong dengan permainan tempo yang dibutuhkan sebuah action thriller sesuai dengan penempatan berbagai elemen genre sejenis ke dalam narasinya.

Sulit untuk mengatakan jika ragam karakter yang terlibat telah mendapatkan porsi yang seimbang selama 135 menit. Memang Gianna, Jeong Jae, Hye Su dan Yun Seok kebagian mayoritas screentime tapi tidak lantas menutupi kesempatan aktor-aktris lain untuk unjuk gigi kala diberi kesempatan. Baik protagonis maupun antagonis kebagian menerjemahkan karakteristik masing-masing lewat dialog-dialog “berisi” dan keahlian yang berbeda-beda dalam upaya memperkuat bangunan cerita yang penuh dengan twist di setiap tikungannya itu. Kendalanya mungkin hanyalah pergantian bahasa repetitif yang terkadang mengganggu pelafalannya.

Apabila sebelumnya nuansa Korea amatlah kuat dalam film-film produksi lokal seperti yang ditunjukkan dalam dua cult movie mereka yaitu Tae Gukgi (2004) dan The Host (2006), maka disini tidak demikian. Unsur cosmopolitan tanpa mengkotak-kotakkan ras atau gender lebih ditonjolkan demi terciptanya sebuah blockbuster bercitarasa universal. Anda akan berdecak kagum melihat sajian kejar-kejaran, kebut-kebutan, tembak-menembak, lompat-melompat sampai terjun bebas dengan memakai sling yang kesemuanya terlihat meyakinkan.

The Thieves memang hiburan menyenangkan yang tampak cerdas, percaya diri, menjual dan penuh adrenalin sehingga cuma menyisakan sedikit waktu bagi penonton untuk berpikir secara logis atau setidaknya cukup peduli pada nasib salah satu tokohnya.  Disitulah pintarnya Choi menyiasati lubang-lubang dalam plot yang masih tersisa untuk dibahas setelah film berakhir dengan teman menonton anda. Setidaknya selama duduk di dalam bangku bioskop, anda dibuat sibuk menikmati pengkhianatan demi pengkhianatan yang tak terhitung bermotif uang, harga diri dan balas dendam. Guess who’s gonna walk away full-handed? That’s the only question you can only ask!

Durasi:
135 menit

Asian Box Office:
12,326,147 in Korea till Sept 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent