XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label french movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label french movie. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

THE WOMAN IN THE FIFTH : Enigmatic Imaginative Slow Paced Thriller


Tagline:
What you can not resist, you may not survive. 

Nice-to-know: 

Film berjudul asli La femme du Vème ini sudah rilis di Perancis pada tanggal 16 November 2011 yang lalu.

Cast: 
Ethan Hawke sebagai Tom Ricks
Kristin Scott Thomas sebagai Margit
Joanna Kulig sebagai Ania
Samir Guesmi sebagai Sezer
Delphine Chuillot sebagai Nathalie

Julie Papillon sebagai Chloe

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Pawel Pawlikowski yang diawali dengan The Stringer (1998).

W For Words: 
Belum banyak orang mengenal nama penulis dan sutradara Pawel Pawlikowski. Dua film sebelumnya milik pria berusia 55 tahun asal Polandia ini dipuji kritikus, salah satunya adalah My Summer of Love (2004) yang melejitkan nama Emily Blunt ke jajaran aktris bertalenta tinggi. Kini ia menggarap thriller Perancis yang diangkat dari novel berjudul sama karya Douglas Kennedy. Daya tarik utama adalah dua bintang besar nominator Oscar yaitu Ethan Hawke dan Kristin Scott Thomas. Perlu lebih dari setahun kita baru dapat menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex. Better late than never, right?

Penulis asal Amerika, Tom Ricks datang ke Paris untuk menemui putrinya walau tidak disetujui oleh mantan istrinya, Nathalie. Tom bersikeras menjelaskan pada Chloe bahwa ia tidak dipenjara melainkan dirawat di rumah sakit. Malang saat tertidur dalam bis, Tom kehilangan kopernya. Ia harus memohon pada pemilik motel kumuh, Sezer untuk menginap sambil bekerja enam jam di ruang tertutup. Hubungannya dengan dua wanita sekaligus, Margit yang suaminya penulis dan Ania yang pelayan motel berujung pada misteri pembunuhan yang tak terpecahkan. 

Sebelumnya saya ingatkan bahwa mulai paragraf ini hingga selesai mungkin akan mengandung spoiler. Tidak terlalu penting mengingat tidak ada jawaban pasti dari filmmakernya sendiri di penghujung film. Jika setia pada novel Kennedy, sosok Margit digambarkan sebagai hantu wanita yang menjaga Tom sampai membunuh siapapun yang menghalanginya. Mereka berdua pun menyatu dalam percintaan panas beda alam. Sedangkan pada film Pawlikowski, semua informasi tentang tokoh-tokohnya dibuat blur sehingga kesimpulan akhir dikembalikan kepada masing-masing penonton. Provokatif bukan?

Versi saya mungkin lebih liar lagi, Tom selalu kembali pada apartemen Margit untuk mengenang percintaan terlarang mereka di masa lampau dimana Margit bunuh diri setelah suami dan putri sulungnya tewas dalam kecelakaan mobil. Sedangkan Ania yang sempat memperlihatkan foto lawas keluarganya adalah putri bungsu Margit yang akhirnya tanpa sengaja bertemu Tom hingga keduanya jatuh cinta. Ania membunuh Moussa dan mengkambinghitamkan Sezer untuk mengambil alih motel tersebut. Tom lantas mengekspresikan rasa bersalah terhadap putrinya Chloe lewat surat.

Harus diakui, nyawa film ini ada di tangan Ethan Hawke sebagai karakter sentral yang menghubungkan setiap tokoh dengan konflik utama maupun tambahan. Ia berhasil menjiwai sosok penulis pecundang yang (kebetulan) meraih sukses hanya melalui satu buku sebelum hidupnya terperosok karena mentalnya yang terganggu akibat dipenjara. Scott Thomas yang kerap bergaun merah menghidupkan love interest Margit yang prima penuh pesona. Sedangkan Kulig tak kalah menggoda lewat Ania yang lugu dan pemimpi. Sesaat anda akan percaya bahwa film ini murni bertutur  tentang cinta segitiga.

Pawlikowski dan rekan sinematografer, Ryszard Lenczewski menggunakan teknik kamera yang tidak biasa, lengkap dengan visual hipnotik yang mempermainkan imajinasi manusia. Lokasi Paris yang tak lazim bisa jadi mengingatkan anda pada film-film art house Eropa di tahun 60an. Tempo yang super lambat dalam memaparkan konflik antiklimaks tak berkonklusi amat membutuhkan kesabaran dan toleransi penontonnya untuk benar-benar dapat menilai film secara keseluruhan. The Woman in the Fifth akan mengajak anda berpikir bersama sekaligus mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. It’s a rare enigmatic experience!


Durasi: 
83 menit

U.S. Box Office: 
$112,498 till July 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 12 Agustus 2012

BEHIND THE WALLS : Hallucinating Truth You Can Escape

Original title:
Derriers les murs.

Nice-to-know:
Film live-action Perancis pertama yang disyut dengan kamera 3D.

Cast:
Laetitia Casta sebagai Suzanne
Thierry Neuvic sebagai Philippe
Jacques Bonnaffé sebagai Paul

Roger Dumas sebagai Père Francis
Anne Benoît sebagai Catherine Luciac
Anne Loiret sebagai Yvonne

Director:
Merupakan feature film pertama bagi duet Julien Lacombe dan Pascal Sid yang sebelumnya sudah bekerjasama dalam 5 film pendek sejak tahun 2001.

W For Words:
Film Perancis berbujet €3,700,000 ini sudah beredar di negara asalnya pada tanggal 6 Juli 2011 yang lalu. Duet Julien Lacombe dan Pascal Sid bukan hanya menulis skrip tapi juga menyutradarai langsung film yang mengandalkan nama besar model cantik yang terjun menjadi aktris, Laetitia Casta. Genre drama misteri horor sudah tidak asing lagi meski pendekatannya jelas berbeda dengan yang sudah-sudah dimana unsur psikologi juga dimasukkan disini.

Tahun 1922, Suzanne menyendiri di sebuah desa terpencil demi menulis tuntas novel terbarunya. Sayangnya rasa bersalah karena kematian putrinya akibat penyakit di masa lampau kerap membuat Suzanne terjaga di malam hari. Turut berhubungan dengannya adalah Paul - penjaga toko beristri yang terobsesi padanya, Philippe - pemuda lokal yang disukainya, Valentine - gadis kecil yang mengingatkan akan putrinya. Penduduk setempat yang tidak menyukai pendatang seperti Suzanne mulai bertindak keras.

Kinerja sutradara Lacombe dan Sid tidak menawarkan hal baru. Setting lawas tahun 20an di desa pinggiran memang tercipta dengan baik untuk menampilkan suasana kuno misterius yang menyeramkan di segala sudut rumah tua tersebut. Sayangnya elemen horor yang dipilih mereka masih kurang inovatif, sebut saja kumpulan tikus yang bisa muncul tiba-tiba dan hilang begitu saja atau arwah gentayangan gadis cilik yang membayangi. Rasanya efek 3D yang segelintir itu juga tak akan berpengaruh besar terhadap visual yang ada.

Nilai plus yang dapat dilihat adalah penampilan Casta yang cukup gemilang. Tokoh Suzanne memang mendominasi keseluruhan durasi melalui multi karakter yang kompleks mulai dari ibu yang berduka, wanita yang kesepian, penulis yang imajinatif hingga korban yang innocent dari keadaan yang menghimpitnya. Pada satu titik mungkin anda bingung apakah harus ada di pihak Suzanne atau tidak mengingat begitu banyak turning point yang membuat karakterisasinya terlihat abu-abu.

Prolog film yang menjanjikan pada akhirnya sirna karena narasi non linier yang semakin mengaburkan batas antara halusinasi dan kenyataan. Penonton mulai bingung untuk berpijak dan memilih untuk mengerutkan kening sampai konklusi ending yang berjalan cepat tanpa kandungan emosi itu. Behind The Walls terbukti masih menawarkan unsur horor klise - efektif menggunakan lampu portable - yang akan mengejutkan anda di beberapa bagian. Namun selebihnya hanya kesia-siaan belaka yang menjadikan skenario potensial dan akting Casta mubazir. Yes, it's more like psychological drama rather than horror mystery itself!

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
  

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 16 Juni 2012

A MONSTER IN PARIS : Charming Monster Singing Parisian

Quotes:
“La Seine”
All the tears that you see
Running down my face
They reflect my story
Peaceful and free of rage
I am a monster, I, Francoeur
I no longer fear the storm
I sing of life and it’s pleasures
Until my last hours
O rage, without despair
I look at Paris
And I bet you one day
You will also sing
Of what we call love
It’s the end of this poem
Ephemeral and sensitive wherever I go
You know, Paname
I leave
Love… In the soul

Nice-to-know:
Film berjudul asli Un monstre à Paris ini berbujet US$ 25 juta.

Voice:
Vanessa Paradis sebagai Lucille
Mathieu Chedid sebagai Francoeur / M
Gad Elmaleh sebagai Raoul
Sébastien Desjours sebagai Emile
François Cluzet sebagai Le préfet Maynott
Ludivine Sagnier sebagai Maud

Director:
Merupakan film ketiga bagi Bibo Bergeron setelah Shark Tale (2004).

W For Words:
Ada baiknya sesekali anda memalingkan wajah dari animasi Hollywood yang belakangan semakin dibanjiri oleh binatang sebagai tokoh utamanya. Produksi kolaborasi Bibo Films, Europa Corp., Walking The Dog, uFilm dan France 3 Cinéma ini mungkin mengangkat kutu bernama Francoeur alias Mr. M sebagai sosok monster tetapi berhasil dimanusiakan sedemikian rupa oleh duet penulis skrip Bibo Bergeron dan Stéphane Kazandjian ini ke dalam kisah yang menyentuh dan sarat dengan pesan kemanusiaan tanpa harus menggurui penonton.
Paris, 1910. Dalam kondisi banjir, petugas proyektor film Emile dan penemu Raoul tanpa sengaja menciptakan sebuah monster di lab yang ditinggal pemiliknya ke New York. Walikota Le préfet Maynott yang tengah mencalonkan diri kembali melakukan pengejaran besar-besaran demi nama baiknya. Padahal monster bertinggi badan 7 kaki tersebut tidaklah berbahaya, Francoeur terbukti sangat menyukai musik dan sukses mengiringi penyanyi Lucille dalam menghibur penonton dalam berbagai kesempatan.
Paruh pertama memang terasa lambat. Pengenalan terhadap karakter-karakternya kurang didukung dengan humor yang baik untuk membuat penonton tetap excited. Beruntung setelahnya sutradara Bergeron mampu meningkatkan tempo tanpa harus terburu-buru tanpa melalui aksi kejar-kejaran seru yang didukung oleh grafis lanskap setiap sudut kota Paris yang indah. Konsep animasinya sendiri terkesan gabungan tradisional dan modern layaknya produksi Walt Disney dan Dreamworks, menciptakan atmostir yang menyenangkan sebagai latar belakang narasinya.

Tokoh Lucille adalah penyanyi bersuara merdu yang dihidupkan secara mengagumkan oleh aktris berbakat Paradis. Sedangkan Francoeur merupakan tokoh monster menggemaskan dengan hati emas dan talentanya dalam bermusik. Keduanya berkali-kali menciptakan chemistry yang indah, terutama saat menyanyikan lagu cabaret “La Seine”. You will fall for ‘em! Dua sahabat Raoul dan Emile juga fun to watch dengan keluguan dan spontanitasnya. Walikota ambisius Maynott jelas tokoh yang akan anda benci dengan agresifitasnya memburu Mr. M kemanapun pergi. Salah satu adegan mungkin mengingatkan anda akan KingKong (2005), silakan tebak yang mana.

A Monster In Paris memang animasi yang ditujukan bagi anak-anak tetapi enjoyable bagi orang dewasa. Setiap adegannya terbilang memiliki arti yang krusial terhadap bangunan cerita itu sendiri dengan kandungan pesan moral bahwa justifikasi terhadap seseorang harus dilakukan dari hati, bukan dari penampilannya. Totally different approach for monster presentation. Simply a charming French animated flick with great balances between art, visual and music department itself. At first I was kinda underestimated but later afterwards left the theatre with warm feeling, buoyed with those original scoring and musical performances!

Durasi:
85 menit

Europe Box Office:
1,639,161 in French till Dec 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 19 Maret 2012

POINT BLANK : Blank Action Made That Point


Tagline:
A desperate man is a dangerous thing.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli À bout portant ini sudah rilis di Perancis pada tanggal 1 Desember 2010.

Cast:
Gilles Lellouche sebagai Samuel Pierret
Roschdy Zem sebagai Hugo Sartet
Gérard Lanvin sebagai Commandant Patrick Werner
Elena Anaya sebagai Nadia Pierret
Mireille Perrier sebagai Commandant Fabre

Director:
Merupakan film kedua bagi Fred Cavayé setelah Anything For Her (2008).

W for Words:
Masih ingat karya Fred Cavaye sebelum ini? Film Perancis, Anything For Her (2008) mungkin tidak banyak ditonton orang tetapi remake Hollywood nya yakni The Next Three Days (2010) yang dibintangi Russell Crowe dan Elizabeth Banks? Sebagian dari anda pasti pernah menyaksikannya. Kini Cavaye bersama dengan Guillaume Lemans menggarap skenario sebuah action thriller yang amat mencekam sejak gebrakan menit pertama hingga penghabisannya yang turut membuat anda menahan nafas akan kemungkinan sekuelnya walau mungkin sedikit terganggu dengan proses sulih suara ke bahasa Inggris!

Perawat bernama Samuel Pierret baru saja menyelamatkan pria korban tabrak Hugo Sartet yang tengah diincar beberapa pembunuh bayaran yang ditugaskan menghabisi nyawanya. Samuel dipaksa membawa keluar Hugo atau keselamatan istrinya yang tengah mengandung Nadia terancam. Inspektur Wener dan Fabre yang ditugaskan menangani kasus ini menjadikan Samuel buronan. Terjebak dalam lalu lintas baik dan jahat, Samuel harus berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan apa yang menjadi taruhannya sejak awal.
Sutradara Cavaye kelihatan memahami konsep action dinamis dalam sebuah kecepatan yang konstan dalam setiap menitnya. Penonton terasa dituntut untuk ikut berlari marathon bersama tokoh Samuel Pierret di sepanjang filmnya. Beragam twist liar dilemparkan disini demi menjaga tensinya tetap tinggi walaupun terkadang anda dibuat bingung karenanya selain berusaha mengikuti gerak-gerik sang protagonis yang sebetulnya hanyalah manusia biasa dengan rasa kemanusiaan yang tinggi.

Gilles Lellouche tampil meyakinkan sebagai Samuel selayaknya tokoh-tokoh protagonis dalam kisah rekaan Alfred Hitchcock. Sama halnya Roschdy Zem yang juga mengembangkan karakter Hugo dengan efektif. Nyaris tidak ada plot baru sebetulnya dalam film ini selain proses modernisasi yang ditunjang oleh sederetan aksi yang dipaksakan mendobrak pikiran anda yang mencoba untuk menganalisa barang sejenak. Klimaks terjadi di markas polisi dimana kekacauan akan batasan penegak hukum dan criminal terasa setipis kertas.
Penggunaan judul film ini memang terkesan tidak tepat karena tidak menggambarkan keseluruhan isinya. Namun tidak dipungkiri, Point Blank memang dikendalikan penuh oleh Lellouche yang dipaksa terus merangsak maju hingga melampaui limit diri yang dimilikinya. Mungkin anda teringat akan Jack Bauer dalam serial populer “24”? I call this blank action (without CGI) with brutal fight scenes or chases along the way where no one seems care who’s going to murdered as long as they are not Samuel or Nadia! Cavaye definitely made his point for doing this intentionally.

Durasi:
84 menit

U.S. Box Office:.
$661,720 till Oct 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 27 Oktober 2011

THE ASSAULT : Misi Pembebasan Pesawat Tersandera


Storyline:
24 Desember 1994, 4 teroris dari Algerian Armed Islamic Group membajak pesawat Perancis, Flight 8969. 227 penumpang di pesawat tampak sudah ditakdirkan menjadi korban. Setelah berjam-jam negosiasi, pesawat diijinkan berangkat menuju Marseille untuk mengisi bahan bakar. Kekerasan dan klastrofobia melingkupi perjalanan petugas SWAT Thierry memerangi semua rintangan yang ada untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Labyrinthe Films dan sudah dirilis di negara asalnya Perancis pada tanggal 9 Maret 2011.

Cast:
Vincent Elbaz sebagai Thierry
Grégori Derangère sebagai Commandant Denis Favier
Mélanie Bernier sebagai Carole
Philippe Bas sebagai Didier
Aymen Saïdi sebagai Yahia

Director:
Merupakan film kedua bagi Julien Leclercq setelah Chrysalis (2007).

Comment:
Pernah menyaksikan United 93 atau World Trade Centre? Berkisah tentang para “jihad” pembajak pesawat yang mengatasnamakan Tuhan untuk segala kegiatan terorismenya? Jika anda pernah menontonnya atau setidaknya tahu, film yang diproduseri oleh Julien Leclercq dan Julien Madon ini mengambil benang merah yang sama, hanya saja produksi Perancis sehingga sudut pandang Eropanya terasa lebih kental.
Simon Moutairou dan Julien Leclercq yang menulis skripnya berdasarkan buku karangan Roland Môntins dan Gilles Cauture berjudul L’assaut memilih sudut pandang tiga pihak kali ini. Satu adalah Thierry, pemimpin GIGN dan juga ayah yang baik dari putri kecilnya. Dua adalah Yahia, pemimpin teroris penyandera pesawat. Tiga adalah Carole, staf Kementerian Perancis yang berusaha menjelaskan sudut pandang dan prediksinya dari kejadian penyanderaan tersebut.
Sayangnya Leclercq yang bertindak sebagai sutradara tampaknya terlalu sibuk menata kronologis peristiwa itu dari awal sampai akhir sehingga melupakan intensitas yang harus dirasakan penonton. Belum lagi merasakan keterikatan emosional tokoh-tokohnya agar kita peduli siapa yang harus mati dan siapa yang mesti tetap hidup. Nyaris tidak banyak waktu tersisa untuk memfokuskan diri pada karakter Thierry, Yahia ataupun Carole secara seimbang.
Meski demikian ketiga tokoh utama tersebut mampu menampilkan akting yang cukup mengagumkan. Paling menonjol adalah Saidi yang tidak berperikemanusiaan ataupun memiliki logika yang masuk akal mengenai segala aksinya. Lalu Elbaz juga memberikan figur seorang family man yang pengasih, kontras dengan ketegasannya sebagai seorang pemimpin berani mati. Atau Bernier yang juga terlihat tegas dan dinamis dalam mengambil resiko meskipun autoritas Pemerintahan bukan berada di tangannya.
Walaupun filmmakernya merupakan asli Perancis, The Assault seakan terinspirasi oleh kinerja Paul Greengrass terlebih dalam Green Zone (2010) dengan gambar-gambar bergerak hasil handheld camera untuk memberikan efek terdekat dengan documenter. Seakan keseluruhan drama itu terjadi di depan mata kita. Jelas bukan action thriller yang biasa anda temui dalam film-film, tetapi lebih kepada peringatan bahwa situasi berbahaya bisa menimpa siapapun juga tanpa terkecuali.

Durasi:
87 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 17 Agustus 2011

REQUIEM FOR A KILLER : Tugas Pembunuhan Penyanyi Sopran Samaran

Tagline:
A Stone Cold Assassin


Storyline:
Lucrèce adalah pembunuh bayaran yang berusaha membangun hidup baru dengan putrinya. Sayang l'Arménien memberinya tugas baru untuk terakhir kalinya yaitu membunuh penyanyi bariton Inggris, Alexander Child selama festival musik Handel Messiah yang berlangsung di Pegunungan Alpen, Swiss. Beruntung Lucrèce memiliki kemampuan menyanyi sopran yang baik sehingga ia tidak mencurigakan orang lain. Tanpa diketahui Lucrèce, ada Rico yang ditugaskan untuk menuntaskan tugasnya sekaligus mengawasinya dari jauh. Akankah tugas tersebut dapat terselesaikan tanpa membongkar identitas aslinya?

Nice-to-know:
Berjudul asli Requiem pour une tueuse dan sudah dirilis di Perancis pada tanggal 23 Februari 2011 yang lalu.

Cast:
Pernah mendukung Inglourious Basterds (2009), Mélanie Laurent bermain sebagai Lucrèce
Clovis Cornillac sebagai Rico
Tchéky Karyo sebagai l'Arménien
Xavier Gallais sebagai Xavier de Ferrières
Christopher Stills sebagai Alexander Child
Corrado Invernizzi sebagai Vittorio Biamonte

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Jérôme Le Gris.

Comment:
Tidak banyak thriller Perancis yang bisa disaksikan di Indonesia jika tidak berlangsung ajang Festival Sinema Perancis setiap tahunnya. Film ini adalah salah satu pengecualian dimana masih tergolong baru rilis di negara asalnya, entah apa pertimbangan Blitzmegaplex untuk merilisnya disini di tengah keterlambatan gaung film-film musim panas Hollywood.
Skrip yang ditulis oleh Le Gris ini tampaknya berusaha mengikuti pakem thriller Alfred Hitchcock dengan setting yang lebih modern, hanya saja dikondisikan dengan jaman yang lebih modern. Mengumpulkan beberapa orang yang berstatus subyek, obyek maupun perantara di sebuah tempat untuk saling berinteraksi merupakan sebuah konsep yang menarik apalagi diperkuat dengan satu klausa pembunuhan!
Permainan kucing tikus penuh tipu muslihat yang anda bayangkan memang hadir disini tetapi dalam tempo yang teramat lamban. Sebetulnya tidak masalah jika mampu dibangun dengan detil-detil yang bisa memperkuat konstruksi cerita. Nyatanya hal tersebut tidak dilakukan secara konsisten karena hanya menjanjikan di bagian awal hingga pertengahan saja. Selebihnya kebingungan mulai melanda sutradara Le Gris yang juga belum berpengalaman itu untuk menutup cerita dengan style.

Dari jajaran pemain terus terang cuma nama Karyo dan Laurent yang saya ketahui, selebihnya nyaris tidak terdengar. Peran utusan gereja yang dimainkannya tidak dominan tapi krusial karena sebagai pemberi tugas. Sedangkan Laurent yang berambut pirang memang menyimpan karisma tersendiri, cantik sekaligus berbahaya. Namun sisi manusiawi yang cukup mendominasi karakternya sedikit melemahkan imej tersebut.
Requiem For A Killer memiliki keunggulan musik latar yang sukses membangun mood film, nyaris serupa dengan apa yang pernah disuguhkan Bernard Herrmann terhadap karya-karya Hitchcock sebelumnya. Selebihnya ide brilian yang berakhir sia-sia dengan lemahnya intrik-intrik yang dihadirkan sepanjang penyajian drama thriller ini ditambah dengan closing yang terkesan antiklimaks. Bahkan sampai layar hampir tergulung pun, saya masih mengharapkan sebuah kejutan manis tak terduga yang memang tidak pernah terjadi.

Durasi:
90 menit

Europe Box Office:
€415,600 opening week in France Feb 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 06 Mei 2011

INCONTROLABLE : Derita Kehilangan Kendali Tubuh

Original title:
Son corps se rebelle!

Storyline:
Penulis skenario Georges memang bernasib buruk. Penampilan fisiknya yang kurang menarik juga membuatnya tidak disukai sahabat dan rekan-rekannya, terkecuali Marion yang diam-diam memperhatikannya. Kesialan demi kesialan yang dialami Georges diakhiri dengan sengatan listrik akibat kabel yang membelit di tepi jalan pada suatu malam. Keesokan harinya, Georges mendapati alter ego lain bernama Rex yang mengendalikan tubuhnya sendiri! Kini ia harus berjuang untuk memperbaiki hidupnya sendiri termasuk memenangkan hati Marion di depan keluarganya walaupun harus jatuh bangun.

Nice-to-know:
Mengacu banyaknya kritik yang diterima film ini, Michael Youn sempat menerbitkan surat tanggapan bernada kurang enak di website resminya sebelum akhirnya dihapus. Namun sayangnya isinya sudah tersiar kemana-mana.

Cast:
Sebelumnya mendukung Iznogoud (2005), Michaël Youn bermain sebagai Georges Pal
Hélène de Fougerolles sebagai Marion
Hippolyte Girardot sebagai Roger
Thierry Lhermitte sebagai Denis
Patrick Timsit sebagai Marc

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Raffy Shart setelah lebih banyak menjadi penulis dan aktor.

Comment:

Sebelum menyaksikan film ini, rating system sebuah movieweb terpercaya di internet telah memperingatkan saya akan buruknya tontonan yang akan dicerna. Namun saya memutuskan untuk tetap menontonnya dan bersikap netral. Malang memang karena rating nyaris tidak dapat dibohongi. Komedi selama nyaris satu setengah jam ini “menyiksa” para penontonnya terus menerus dari awal sampai akhir dari berbagai sisi yang dimilikinya.
Sebenarnya plot dibuka dengan cukup menjanjikan dimana karakter Goerges seakan diberikan “kesempatan kedua” untuk menata hidupnya dari suatu “musibah” tak terduga yang dialaminya di suatu malam. Nyatanya hal itu tidak terjadi, skrip yang ditulis Raffy Shart ini malah dibiarkan terperosok semakin dalam dan dalam, seakan tidak ada jalan untuk kembali yang dapat menyelamatkan kualitas film ini, tanpa terkecuali endingnya yang aneh itu.
Sebetulnya Youn bukanlah komedian Perancis yang buruk. Perannya disini seakan mengingatkan kita pada tingkah laku Jim Carrey yang ajaib dan berlebihan itu. Dan ia tergolong cukup berhasil memainkan ekspresi dan bahasa tubuhnya sedemikian rupa untuk menyesuaikan kondisi “lepas kendali”nya tersebut. Memang sebagian dibantu properti palsu ataupun tali-tali kasat mata untuk menipu penglihatan audiens. Sah-sah saja!
Di luar karakter Goerges juga tidak membantu samasekali. Helene sebagai leading actress Marion memang terlihat menarik di depan kamera tapi sulit untuk menerka naik-turun perasaannya terhadap Georges. Lhermitte sebagai Denis memang terlihat sebagai ayah yang keras dan otoriter tapi apa yang dilakukannya tersebut nyaris tidak berarti apa-apa terhadap tokoh-tokoh sentral lainnya. Belum lagi karakter Grandma yang sangat komikal nan mengganggu itu.
Entah motivasi apa yang ada dalam pikiran penulis-sutradara Shart dalam menangani komedi yang terlalu slapstick ini. Incontrolable benar-benar sebuah bencana yang akan membuat pikiran anda sejenak kehilangan kontrol kewarasannya dengan kebodohan-kebodohan yang tidak berujung. Pada akhirnya rasa bingung, jijik dan sia-sia sudah membuang waktu akan mengiringi langkah gontai anda meninggalkan gedung bioskop.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 04 Mei 2011

GO FAST : Penyamaran Balas Dendam Pengedar Narkoba

Storyline:
Petugas polisi criminal, Marek berusaha membalaskan dendam rekan sekaligus sahabat karibnya yang terbunuh di tangan geng pengedar narkoba. Cara yang ditempuh adalah dengan menyamar sebagai salah seorang anggota geng bernama Slimane. Perjalanan narkoba tersebut bermula dari Morocco sampai berlabuh di Perancis dengan metode “Go Fast" dengan speedboat dan angkutan darat super cepat. Kini Kepolisian Perancis harus bekerjasama untuk menjebak geng tersebut yang sudah merugikan banyak pihak termasuk korban nyawa.

Nice-to-know:
Berjudul asli Au Coeur du trafic, film ini diproduksi oleh Avalanche Productions dan Europa Corp.

Cast:
Pernah memenangkan gelar Aktor Terbaik dalam Festival Film Cannes 2006 lewat Indigènes (2006), Roschdy Zem bermain sebagai Marek / Slimane

Olivier Gourmet sebagai Jean-Do Paoli
Jocelyn Lagarrigue
sebagai Sylvain

Julie Durand
sebagai Nadia

Mourade Zeguendi
sebagai Luigi

Director:
Merupakan film kedua bagi Olivier Van Hoofstadt setelah Dikkenek (2006).

Comment:
Sesuai judul dan penampakannya, seharusnya film yang satu ini mampu memenuhi ekspektasi setiap orang akan sebuah film action Perancis yang klasik dan memacu adrenalin. Nyatanya kinerja sutradara Van Hoofstadt terlalu datar dan tidak menawarkan sesuatu yang baru samasekali. Belum lagi cara kamera mensyut adegan demi adegan yang menurut saya terlalu monoton dimana sekuensnya banyak menghasilkan scene yang tidak terlalu penting bagi penonton.

Plotnya sederhana mengenai seorang polisi yang sedang dalam penyamaran demi membalaskan dendam rekannya yang tewas di tangan bandar narkoba. Yang menarik mungkin hanyalah metode penyelundupan narkoba yang disampaikan dengan detail dari Morroco ke Spanyol hingga ke Perancis menggunakan sarana transportasi yang super cepat. Tugas polisi untuk menghentikannya menjadi sulit jika tidak dibekali dengan siasat yang baik.

Rasanya tidak bijaksana menyalahkan semua aktor-aktris yang bermain disini dikarenakan karakterisasi mereka dalam skrip juga tergolong satu dimensi. Hal ini menyebabkan penyampaian emosi nyaris tidak ada, bagaimana sebuah kejadian menimpa salah satu tokoh tapi tidak berdampak apapun selanjutnya. Zem jelas bukan aktor yang buruk tapi kiprahnya sebagai Marek / Slimane tidak mampu menggiring penonton untuk telaten mengikuti segala aksinya. Percayalah.

Go Fast juga terkesan mengakhiri kisahnya dengan kelewat idealis. Kesatuan polisi disini bekerja terlalu cermat, akurat dan dilengkapi dengan strategi yang teramat matang. Coba bandingkan dengan kenyataannya! Jika harus ada pemangkasan di setengah durasinya hingga menjadi sebuah episode film televisi, rasanya film ini jauh lebih menyenangkan untuk ditonton dengan segala turun naik tensi dan kekliseannya.


Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$5,205,343 till Sept 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Senin, 18 April 2011

THE EXTRAORDINARY ADVENTURES OF ADELE BLANC-SEC : Sejuta Petualangan Komplit Wartawati Eksentrik

Tagline:
A Face of Beauty. A Mind of Adventure.

Storyline:
Abad 20 di Paris, seorang penulis popular bernama Adele Blanc-Sec selalu mengerjakan misi apapun yang dibebankan padanya mulai dari membongkar kuburan, mencuri mumi, mengelabui polisi dsb. Tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Adele memiliki saudari kembar yang tanpa sengaja terbunuh olehnya sehingga menyimpan rasa bersalah selama bertahun-tahun. Saat mendengar jika Esperandieu sanggup membangkitkan yang sudah mati, Adele tidak menyia-nyiakan kesempatan itu walau harus berseteru dengan pihak-pihak yang berbeda kepentingan dengannya.

Nice-to-know:
Diproduksi secara bersama-sama oleh Europa Corp, Apipoulaï dan TF1 Films Production.

Cast:
Sebelum ini mendukung Le Petit Nicolas (2009) yang cukup mengesankan itu, Louise Bourgoin berperan sebagai Adèle Blanc-Sec
Mathieu Amalric sebagai Dieuleveult
Gilles Lellouche sebagai Inspektur Albert Caponi
Jacky Nercessian sebagai Marie-Joseph Espérandieu
Philippe Nahon sebagai Le professeur Ménard
Nicolas Giraud sebagai Andrej Zborowski

Director:
Siapa yang tidak kenal nama sutradara Perancis populer Luc Besson? Karyanya sebelum ini adalah dua episode Arthur and the Minimoys (2007) dan Arthur and the Revenge of Maltazard (2009).

Comment:
Jika anda menyukai film petualangan semacam Tomb Raider, National Treasure ataupun The Mummy, bisa jadi anda berpikir untuk menemukan konten yang sama dalam film ini, terlebih setelah melihat poster dan judulnya. Nanti dulu! Karena terbukti Besson menerjemahkan komik best-seller karya Jacques Tardi ini dengan gaya yang unik
Adele Blanc-Sec adalah tipe heroine (pahlawan wanita) yang tidak memiliki senjata mematikan untuk menuntaskan misi-misinya, tetapi lebih memilih menggunakan pengetahuan, kecerdasan, keberanian, spontanitas dan permainan kata-kata yang dimilikinya. Belum lagi jika melihat sifat antusias, egois dan kewarasan yang dipertanyakan (ia menyimpan mayat saudarinya bertahun-tahun!). Semua itu membuktikan betapa kayanya karakterisasi seorang wartawati yang telah menyelesaikan banyak hal.








Tidak ada yang lebih pantas selain Bourgoin dalam mentransformasikan karakter Adele yang “ajaib” itu. Pergerakan bibir yang cepat dalam melontarkan ratusan kata-kata dalam sekali tarikan nafas sudah menjadi bukti tersendiri. Belum lagi “seribu” penyamaran kocak yang dilakukannya saat berusaha mendobrak penjara. Atau inisiatifnya mengendalikan berbagai jenis hewan. Dijamin anda akan terpingkal-pingkal dibuatnya!
Tokoh yang terlalu banyak dihadirkan memang tidak dibagi dalam porsi yang cukup. Semisal karakter Polisi, Inspektur, Presiden, Pemburu yang sepertinya hanya mengisi scene demi scene saja tanpa kekuatan berarti. Bahkan rata-rata menampilkan “kebodohan” komikal yang sangat umum dalam film-film Perancis bergaya komedi. Jika dikatakan setia dengan komiknya, saya juga belum bisa memastikan.








Sebagai sutradara handal, Besson berhasil membuat para penonton terhanyut dalam perjalanan Adele yang sulit diterka arahnya itu. Berbagai twist dihadirkan di sepanjang durasinya sehingga kita merasa sedang membaca sebuah buku berisikan banyak chapter dengan tema yang berbeda-beda. Penggunaan CGI nya juga tergolong mulus seperti visualisasi pterodactyl dan mumi hidup yang justru tidak menakutkan samasekali.
The Extraordinary Adventures Of Adele Blanc-Sec adalah sebuah tontonan fun dengan berbagai elemen fantasi yang mengasyikkan untuk diikuti. Hanya saja anda perlu sedikit mengesampingkan logika dan menerima apapun yang disodorkan dengan pikiran terbuka. Jika hasil box-office internasional nya menggembirakan, bersiaplah untuk sebuah trilogi baru dengan adaptasi dua komik lainnya yang akan segera menyusul!

Durasi:
105 menit

Europe Box Office:
$13,331,416 in France till May 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 17 April 2011

DES HOMMES ET DES DIEUX : Dilema Keyakinan dan Ancaman Hidup

Tagline:
In The Face Of Terror, Their Greatest Weapon Was Faith

Storyline:
Sekelompok biarawan Perancis sehari-hari menjalani hidup dengan beraktifitas dan berdoa dalam sebuah biara di Pegunungan Maghreb, Algeria. Namun ketenangan mulai terusik saat beberapa pekerja setempat dihabisi oleh teroris Muslim dalam sebuah perang sipil. Kini mereka harus memutuskan harus tetap tinggal atau kembali ke Perancis. Keyakinan terhadap agama dan persaudaraan erat dengan orang-orang di sekitarnya bisa saja mempengaruhi nasib mereka pada akhirnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Why Not Productions, Armada Films, France 3 Cinéma dan mewakili Perancis dalam ajang Academy Awards 2011 kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Cast:
Lambert Wilson sebagai Christian
Michael Lonsdale sebagai Luc
Olivier Rabourdin sebagai Christophe
Philippe Laudenbach sebagai Célestin
Jacques Herlin sebagai Amédée
Loïc Pichon sebagai Jean-Pierre
Xavier Maly sebagai Michel

Director:
Nama Xavier Beauvois mulai dikenal setelah filmnya N'oublie pas que tu vas mourir (1995) memenangkan Jury Prize dalam ajang Cannes Film Festival.

Comment:
Konon kisah film ini diangkat dari kejadian nyata pada saat Perang Sipil di Algeria tahun 1990an. Terlepas dari seberapa kuatnya fakta yang digunakan rasanya tidaklah terlalu penting. Sebab pada akhirnya semangat yang mulia dan keyakinan yang agung di dalamnya yang membuat film ini berdaya jual tinggi di pasaran internasional dan ajang festival pada khususnya.
Secara khusus saya berterimakasih pada perhelatan Festival Sinema Perancis 2011 di Indonesia yang menghadirkan film ini sebagai penutup. Solidnya penyutradaraan, pendekatan yang intim beserta segala elemen pendukungnya cenderung berhasil mentranslasikan plot cerita yang tergolong sensitif ini. Yang saya maksud adalah dualisme sudut pandang agama yaitu Kristen dan Islam dengan semua perbedaan pandangannya.







Tempo film yang lambat tergolong stabil sepanjang film, lebih karena berfokus pada detail kehidupan sehari-hari para biarawan Kristen dalam melakukan segala aktifitasnya. Bahasa gambar yang sangat alami itu akan membuat anda menemukan arti dari keyakinan mereka. Harus dikatakan proses penyutradaraan Beauvois lebih terasa seperti dokumenter karena semua aspek terasa begitu nyata, tidak seperti sedang syuting.
Persaudaraan di antara para biarawan tersebut juga menjadi nilai plus tersendiri. Bagaimana 7-8 pria tersebut hidup bersama selama bertahun-tahun terlepas dari perbedaan kepribadian masing-masing. Hingga pada akhirnya keputusan sulit harus diambil yang mungkin memecah kelompok tersebut menjadi dua bagian. Dari kesemuanya, Wilson dan Lonsdale berakting dengan sangat menonjol terlihat dari bahasa tubuh dan intonasi mereka.






Of Gods And Men juga ditutup secara brilian sekaligus menghindari kontroversi yang mungkin timbul saat film ini dirilis secara luas. Salah satu yang paling tak terlupakan jelas ketika momen “The Last Supper” seakan dibangkitkan kembali lewat scene minum anggur bersama diiringi instrumental Swan Lake. Saya yakin anda akan merinding dibuatnya terlebih setelah dua jam diajak mengenal karakter-karakter luar biasa tersebut dari dekat satu persatu. Rasakan keheningan dalam suasana relijius yang melingkupi audiens yang rata-rata harus berada dalam kelompok umur tertentu untuk dapat mengerti sepenuhnya makna film ini.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$2,749,093 till Apr 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 16 April 2011

POTICHE : Istri Setia Emansipasi Wanita 70an

Tagline:
France, 1977: Women's Liberation is in the air.

Storyline:
Suzanne Pujol telah menikah lama dengan suaminya Robert Pujol, pemilik pabrik payung yang otoriter sekaligus seorang buaya darat. Namun Suzanne lebih memilih diam dan mengurus rumah tangga sekaligus anak-anak mereka. Iapun mendapat julukan “Trophy Housewife” atas sikapnya itu. Semua mulai berubah saat karyawan pabrik menuntut keadilan dan hal ini menyebabkan Robert jatuh sakit. Untuk mengisi kekosongan sekaligus menenangkan situasi, Suzanne terpaksa turun tangan dibantu putra putrinya Laurent dan Joelle. Di luar dugaan, trik tersebut berhasil dan Suzanne memenangkan hati banyak orang. Sekembalinya Robert, keadaan menjadi panas karena persaingan suami istri yang tidak lagi sama. Belum lagi kehadiran mantan Suzanne,Maurice Babin yang sedang berkampanye menjadi walikota.

Nice-to-know:
Film yang judulnya berarti Trophy Wife ini diproduksi oleh Mandarin Films.

Cast:
Sempat dinominasikan Oscar kategori Aktris Terbaik lewat Indochine (1992), Catherine Deneuve bermain sebagai Suzanne Pujol
Gérard Depardieu yang kini berperan sebagai Maurice Babin juga pernah menjadi nominasi Aktor Terbaik dalam Cyrano de Bergerac (1990)
Fabrice Luchini sebagai Robert Pujol
Karin Viard sebagai Nadège
Judith Godrèche sebagai Joëlle
Jérémie Renier sebagai Laurent Pujol

Director:
François Ozon paling dikenal lewat salah satu thrillernya, Swimming Pool (2003) yang menjadi cult sampai saat ini.

Comment:
Film ini menjadi sasaran utama saya saat pertama kali melihat jadwal Sinema Perancis 2011 dan pilihan tersebut ternyata tidak salah. Komedi keluarga yang diusungnya memang terasa agak “berat” dengan berbagai konfliknya tetapi justru dibawakan dengan gaya yang santai dan mudah dicerna.
Sutradara Ozon menerjemahkan konsep retro dengan sempurna. Gaya dan feeling tahun 70an tertata dengan baik. Terima kasih pada kinerja kamera, editing, kostum, make-up, gaya rambut yang demikian rapi. Settingnya juga berhasil menggambarkan Perancis pada masa itu mulai dari pernak-pernik hingga strukturisasinya. Sepintas kita tidak akan percaya bahwa film ini dibuat di tahun 2010.
Deneuve merupakan salah satu aktris legendaris Perancis. Di tangannya peran Suzanne berkembang menarik sekaligus menjadi ikon emansipasi wanita pada masanya. Penonton akan berpihak padanya sejak awal dimana kepolosan, optimisme, kecerdasan, keceriaannya dijamin menginspirasi orang-orang di sekitarnya.Hubungan Suzanne dengan setiap anggota keluarga dan masa lalunya juga dipaparkan secara detail.
Luchini menerjemahkan tokoh pemimpin bertangan besi, suami yang tidak setia, ayah yang cuek dengan sedikit komikal bahkan kita akan merasa beberapa tindakannya cukup radikal. Sedangkan Depardieu terlihat kaku dan tidak berpendirian, perasaannya tidak berubah pada Suzanne walau hubungan mereka telah berakhir bertahun-tahun silam. Viard juga cukup mencuri perhatian sebagai sekretaris selingkuhan yang akhirnya berkoalisi dengan istri bos dikhianatinya itu.
Potiche merupakan sebuah komedi satir yang menghibur dan digarap dengan visualisasi yang memukau dengan warna-warni pastel yang cerah. Berbagai hubungan suami-istri, orangtua-anak, mantan kekasih dsb memang masih terkesan klise selayaknya tersaji pada film-film Perancis pada umumnya. Namun karakterisasi yang demikian kaya dalam mengartikan konfliknya berhasil mempertahankan energi hingga konklusi akhir.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$421,844 till Apr 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 15 April 2011

LA CHANCE DE MA VIE : Kesempatan Kedua Keberuntungan Cinta

Tagline:
Ce mec est une catastrophe ou... (This guy is a disaster or...)

Storyline:
Julien Monnier adalah seorang penasehat pasangan yang cerdas sekaligus sukses. Hal ini dimulainya sejak usia 8 tahun dimana ia mendamaikan ayah dan ibunya sendiri. Namun satu yang tidak banyak orang ketahui, wanita yang dikencaninya selalu mengalami nasib buruk! Itulah sebabnya Julien tidak pernah percaya pada hubungan spesial jangka panjang terhadap lawan jenis. Semua seakan berubah saat ia bertemu Joanna yang cantik dan pandai. Keduanya saling tertarik satu sama lain dan memutuskan berkencan secara intens. Apakah hal tersebut akan berlangsung lama atau Joanna seperti wanita-wanita lain akan meninggalkan Julien setelah serangkaian peristiwa buruk yang dialaminya?

Nice-to-know:
Film ini dirilis secara internasional pada tahun 2011. Namun sudah diputar duluan di beberapa festival pada akhir tahun 2010 yang lalu. Saat itu dapat dianggap sains fiksi karena beberapa scene mengambil waktu tahun 2011.

Cast:
Virginie Efira sebagai Joanna Sorini
François-Xavier Demaison sebagai Julien Monnier
Armelle Deutsch sebagai Sophie
Raphaël Personnaz sebagai Martin Dupont
Thomas N'Gijol sebagai Vincent
Brigitte Roüan sebagai Lydie
Yves Jacques sebagai Maxime Dupont

Director:
Nicolas Cuche sebelumnya lebih banyak menangani serial televisi di Perancis.

Comment:
Premis film ini harus diakui tidak terlalu original. Pada saat menyaksikan prolognya, saya langsung teringat berbagai judul film sebagai referensinya. Sebut saja salah satunya adalah Good Luck Chuck (2007) yang juga banyak menampilkan kesialan demi kesialan yang menimpa tokoh utamanya. Namun bukan sineas Perancis jika tidak bisa membawakan dengan gayanya tersendiri.
Efira dan Demaison memperlihatkan koneksi yang sangat menarik disini. Pertemuan dan pengembangan hubungan di antara mereka terjalin secara wajar seakan kita dapat merasakan keduanya benar-benar saling tertarik satu sama lain. Ada satu scene sulit yang dilakukan Efira yaitu pada saat berusaha menyelamatkan lembaran kertas design mobilnya di tengah kolam dan ia melakukannya dengan sempurna. Sedangkan Demaison memperlihatkan karisma sendiri sebagai konselor pasangan yang bermasalah walau pada akhirnya kepercayaan dirinya runtuh.








Sutradara Cuche mengakui beberapa kejadian yang terjadi dalam film ini memang terinspirasi dari kejadian nyata seperti saat Joanna tersesat akibat ulah supir taksi asing yang tidak mahir menggunakan GPS, atau ketika Julien menabrakkan mobilnya tanpa sengaja hingga dipersalahkan. Eksekusi yang dilakukannya terbilang dekat dengan kehidupan nyata yang mungkin saja kita alami.
La Chance de ma Vie saya katakana memang memberikan citarasa yang lezat untuk ukuran sebuah komedi romantik. Semua bumbu dirasa pas untuk membawa penonton antusias mengikuti perjalanan sepasang kekasih yang banyak menemui hambatan tersebut. Bukankah pada akhirnya semua tergantung sudut pandang anda pribadi dalam menilai segala sesuatunya? Sial untuk beruntung atau beruntung untuk sial? Dan jangan pernah mempermasalahkan cinta itu sendiri.

Durasi:
85 menit

Europe Box Office:
€4,727,059 in France till Jan 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 12 April 2011

HEARTBREAKER : Menggagalkan Pernikahan Singkatnya Waktu

Tagline:
When it comes to break-ups... he's the business


Storyline:
Alex Lippi telah memperdaya banyak wanita lokal maupun internasional. Namun hal itu lebih karena tugasnya sebagai subyek pemutus hubungan bagi pasangan yang dituju. Adalah kakaknya Melanie dan suaminya Marc yang mendukung kinerjanya selama ini. Hingga konglomerat Van Der Berq mendatangi Alex dengan tujuan mengganggu pernikahan putrinya Juliette dan Jonathan yang akan diselenggarakan dalam waktu singkat. Alex harus bekerja keras untuk mendekatkan diri dengan Juliette. Apakah kali ini ia berhasil atau sebaliknya terperdaya oleh gadis yang mungkin menarik hatinya itu?

Nice-to-know:

Penulis Laurent Zeitoun mendapat ide film ini saat sepupunya jatuh cinta pada seorang pria yang menurutnya tidak memperlakukan wanita dengan baik. Zeitoun pun mengatakan pada pamannya bahwa mereka harus menyewa seorang aktor untuk memisahkan pasangan tersebut.


Cast:

Sebelum ini bermain dalam Persécution (2009), Romain Duris kebagian tokoh Alex Lippi
Terakhir berperan dalam La clef (2007), Vanessa Paradis menjiwai karakter Juliette Van Der Becq dengan sempurna
Julie Ferrier
sebagai Mélanie

François Damiens
sebagai Marc

Héléna Noguerra sebagai Sophie
Andrew Lincoln
sebagai Jonathan Alcott


Director:
Merupakan debut pertama bagi Pascal Chaumeil yang sebelumnya lebih banyak menangani film televisi.


Comment:

Berjudul asli L’arnacoeur, film ini mungkin mengingatkan anda pada sebuah produksi lokal beberapa tahun lalu yaitu Heartbreak.com dengan tema yang nyaris serupa tapi tidak sama. Paris sendiri sudah dikenal sebagai romance city dan digunakan sebagai latar belakang sebuah komedi romantik dengan sedikit bumbu action tentunya sudah berdaya jual tersendiri.
Premisnya memang menarik yaitu bagaimana memisahkan pasangan yang akan menikah dengan mengalihkan perhatian calon pengantin wanita untuk jatuh cinta kepada pria lain. Dua pertanyaan yang cukup mengganggu bagi saya adalah mengapa sang ayah merasa perlu menggagalkan pernikahan putrinya sendiri yang sudah mendapatkan pria tampan baik hati dan kaya raya sebagai pasangan hidupnya? Plus bagaimana Marc-Melanie dapat menggunakan peralatan berteknologi tinggi yang sedemikian canggih untuk melakukan sabotase?
Hm, jangan terlalu serius karena sutradara Chaumeil tidak akan memberi jawaban tetapi menyuguhkan rentetan scene yang akan membuat anda tetap terjaga di tempat duduk hingga credit title muncul. Kinerjanya tergolong lembut dimana sisi romantisme dan komedik tergarap secara seimbang mengiringi konsep “break-up” itu sendiri. Lengkap dengan sinematografi yang indah dengan lanskap segala penjuru kota Paris.
Kekuatan lain film ini adalah chemistry yang kuat antara Duris dan Paradis yang sama-sama mengundang simpatik. Duris sebagai Alex yang sigap, perhatian, karismatik walau terkadang ceroboh diimbangi oleh Paradis sebagai Juliette yang cantik, elegan meski sulit menetapkan hatinya sendiri. Keduanya didukung juga oleh Ferrier, Damiens, Noguerra, Lincoln yang masing-masing tampil memikat dengan peran masing-masing.

Heartbreaker jelas salah satu komedi romantik Perancis yang menjadi salah satu favorit saya setelah Hors de Prix (2006). Juga bukan sebuah film yang anda harapkan untuk memberikan kejutan pada akhirnya karena anda sendiri mungkin sudah bisa menebak kemana arah endingnya. Namun proses menuju tujuan tersebut sangat menarik untuk disimak terlebih perasaan jenaka dan hangat karena cinta yang ditimbulkannya. Sajioan yang dapat dinikmati oleh pria dan wanita sekaligus secara seimbang.

Durasi:

105 menit


U.S. Box Office:

$504,030 till Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: