XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label hindi movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hindi movie. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2015

DRISHYAM : When Right Versus Wrong Couldn’t Get Any Better


Tagline:
Visuals can be deceptive.

Nice-to-know:
Merupakan remake dari film Malayalam terlaris sepanjang masa berjudul sama.

Cast:
Ajay Devgn sebagai Vijay Salgaocar
Tabu sebagai Meera Deshmukh
Kamlesh Sawant sebagai Gaitonde
Shriya Saran sebagai Nandhani Vijay Salgaonkar
Rajat Kapoor sebagai Mahesh Deshmukh
Ishita Dutta sebagai Anju
Mrinal Jadhav sebagai Anu
Rishab Chaddha sebagai Sameer Deshmukh

Director:
Merupakan feature film keenam bagi Nishikant Kamat setelah Lai Bhaari (2014).

W For Words:
Jeethu Joseph adalah tokoh di balik suksesnya film Malayalam berjudul Drishyam (2013) yang kemudian dibuat ulang dalam versi Tamil berjudul Papanasam (Destruction of sins) dua tahun kemudian dimana Kamal Haasan dan Gauthami berupaya mengikuti jejak Mohanlal dan Meena. Pada waktu bersamaan, Nishikant Kamat mengerjakan remake yang persis sama dengan harapan melampaui pencapaian box-office sekaligus jumlah penonton. Tentu saja mengandalkan nama besar Ajay Devgn dan Tabu yang sedianya lebih dikenal luas baik regional maupun internasional.

Pengusaha jaringan teve kabel di desa terpencil Goa yang juga yatim piatu dan berpendidikan rendah, Vijay memiliki kecintaan tinggi terhadap film. Ia hidup bahagia bersama istrinya Nandhini dan kedua putri mereka Anju dan Anu. Saat remaja Sam yang juga putra dari Inspektur berdarah dingin Meera Deshmukh menghilang, keluarga Salgaonkar menjadi tersangka hingga harus menjalani proses interogasi panjang di bawah pengawasan polisi korup Gaitonde. Mampukah Vijay melindungi orang-orang tercintanya dari penguasa kejam? 














Skenario yang digagas oleh Upendra Sidhaye sedianya hanyalah pemendekan durasi dari versi originalnya. Pengenalan terhadap keluarga Salgaonkar dilakukan secara lebih cepat. Keyakinan penonton diarahkan untuk memihak kepada mereka apapun yang terjadi sehingga beberapa logika yang mengganggu tidak akan terlalu dihiraukan. Secara kontradiktif, pihak kepolisian dibuat demikian negatif di sini. Layer demi layer misteri yang terbuka harus diakui menarik untuk disimak walau harus menempatkan kebenaran di atas kesalahan sekalipun.

Devgn mungkin salah satu weakest link. Superioritas dirinya sebagai seorang superstar jelas mempengaruhinya untuk dapat sepenuhnya masuk ke dalam karakter Vijay yang membumi dan putus asa. Namun kita bisa melihat upaya maksimalnya. Saran sebagai istrinya hanya terlihat lebih tua beberapa tahun dari Dutta yang menjadi putrinya. Miscast? Sedangkan Sawant jelas paling berhasil memancing emosi penonton lewat sikap buruk dan ignorant Gaitonde. Tabu juga menunjukkan penampilan gemilang melalui tokoh Meera yang multi-layer tersebut, tegas dan rapuh secara bersamaan. 














Sutradara Kamat memang sedikit kedodoran di paruh pertama film yang berjalan cukup lambat tanpa penekanan titik petunjuk yang berarti.  Paska interval barulah pace nya meningkat dimana karakter-karakter kunci mulai memegang teguh pada posisinya masing-masing. Setidaknya elemen penting dalam sebuah thriller adalah how mystery unfolds. Bagaimana kenyataan yang sesungguhnya mungkin tidak seperti apa yang terlihat. Twist dan turns yang silih berganti hadir akan menantang anda untuk terus menebak hingga akhir.

Lupakan sejenak Kahaani atau Talaash yang memuncaki daftar film favorit anda di tahun 2012 silam, Drishyam adalah drama suspense thriller yang bisa dikatakan berhasil bagi mereka yang belum pernah menonton versi aslinya. Sebuah adaptasi bebas dari kisah nyata seorang pria biasa dengan tekad dan keberanian luar biasa meskipun menghadapi dilema besar. Is it worth suffering for in the end? I believe yes. A gripping story that will keep you on the edge of your seat. Just watch the proceedings till the final scene blows us off!

Durasi:
163 menit

Movie-meter:

Rabu, 01 Juli 2015

ANY BODY CAN DANCE 2 : Bigger Deal But Less Value Exuberant Sequel

Quote:
Suresh: Sir, u r superb sir, outstanding, sir i salute u sir.

Vishnu: I know men, shut up & get lost.


Nice-to-know:
Demi memperdalam penjiwaan karakter Suresh, Varun Dhawan menato Michael Jackson di tangan kanannya.


Cast:
Varun Dhawan sebagai Suresh
Shraddha Kapoor
sebagai VinniePrabhudheva sebagai Vishnu
Sushant Pujari sebagai Vernon
Punit Pathak sebagai Vinod
Lauren Gottlieb sebagai Olive
Pooja Batra sebagai Puja Kohli

Director:
Merupakan film ketiga bagi Remo setelah prekuelnya ABCD (2013).

W For Words:
Rasanya industri Bollywood yang identik dengan musik dan tari sudah tidak lagi membutuhkan dance movie selayaknya yang dilakukan Hollywood dari masa ke masa. Namun di awal tahun 2013 yang lalu, UTV Spotboy membuat sebuah gebrakan dengan ABCD (Any Body Can Dance) yang memiliki banyak persamaan dengan franchise Step Up. Tidak salah karena masih mengakar dengan budaya India hingga akhirnya mencapai kesuksesan yang lumayan. Dua tahun kemudian, sekuelnya pun diproduksi. Tidak tanggung-tanggung, IX Faces Pictures dan UTV Motion Pictures langsung menggandeng Disney. We knew it’s gonna be huge!

Mumbai Stunners gagal dalam pertunjukan televisi nasional hingga mereka dicap sebagai peniru. Suresh yang bekerja di bar pamannya lantas berkenalan dengan Vishnu, guru tari yang handal tapi hobi mabuk-mabukan. Lewat perjuangan bujuk rayu yang intens, Vishnu akhirnya setuju melatih Suresh, Vinnie dkk. Nama kelompok yang berganti menjadi Indian Stunners tersebut mulai mencari anggota baru demi mewujudkan mimpi mereka bersama yakni tampil dalam World Dance Competition di Las Vegas sekaligus keikutsertaan negara India untuk pertama kalinya.

Skenario yang ditulis oleh Remo dibantu oleh Mayur Puri dalam penyusunan dialognya ini terinspirasi dari perjuangan nyata Nalasopara boys yang menempatkan India pada peta dunia hiphop saat memenangkan kejuaraan dunia di Las Vegas pada tahun 2012 lalu. Namun segalanya dalam film dibuat dalam skala yang lebih besar dimana passion tampak begitu mudah mengalahkan segala hambatan. Berbagai karakter kunci memang masih mengalami struggling tetapi turning point konfliknya masih terkesan dipaksakan dan tak jarang penyelesaiannya berlalu begitu saja.

Ambisi Remo yang tinggi untungnya masih dibarengi dengan directing skills yang memadai. Trik-trik patriotisme yang juga kental dengan nilai-nilai keagamaan terbilang sulit untuk tidak mengundang empati penonton. Koreografi tari baik individual maupun kelompok sukses ditampilkan secara memikat dari awal hingga akhir. Balutan musik hiphop yang digagas oleh Jigar, Mayur Puri dan Sachin akan dengan mudah menstimulasi indera pendengaran anda. Durasi yang masih terlalu panjang menjadi isu krusial, terlebih paruh pertama yang terasa lamban sebelum berakhir dengan eksplorasi kota judi tersebut.
Varun dan Sraddha mungkin bisa dimaafkan jika menyangkut performa dance. Perhatikan saja group performance yang tidak pernah menempatkan mereka di posisi sentral. Namun harus diakui kharisma keduanya sebagai leading memang memukau. Banyak wajah baru yang berfungsi sebaliknya, lemah di akting tapi kuat di dancing. Meski demikian, kekayaan karakteristik para underdog yang berbeda latar belakang tersebut niscaya masih menarik untuk disimak. Tokoh Sir Prabudheva yang dominan pada prekuelnya kali ini hanya bertugas sebagai guard yang memiliki hidden agenda.

Terlepas dari format 3D yang diembannya, ABCD 2 merupakan ‘upgrade’ dari segi teknis dan style. Plot nya tidak banyak berubah selain mengganti spirit can-do yang sederhana dengan believe in hardworking yang cukup kompleks. Lupakan kedalaman cerita yang sedikit menguap karena kompensasi dancing sequences akan menawan perhatian anda. Just feel the energetic perfomances in stages full of energy. Dance freaks or not, you might love the cinematic experience with better feeling guaranteed after you walk out of the cinemas!

Durasi:
152 menit

Movie-meter:

Selasa, 12 Mei 2015

PIKU : Motion Through Emotion Couldn’t Get Any Better

Quote:
Piku: You know he’s dependant on me. So if anyone wants to marry me..
Rana: He’ll have to adopt your 90 year old kid?
Piku: Of course.. So will you?
Rana: I am not mad.

Nice-to-know:
Film favorit Deepika Padukone setelah Om Shanti Om (2007).

Cast:
Amitabh Bachchan sebagai Bashkor Banerjee
Deepika Padukone sebagai Piku
Irrfan Khan sebagai Rana
Moushumi Chatterjee sebagai Chaubi
Raghuvir Yadav sebagai Dr. Srivastava
Jishu Sengupta sebagai Syed Afroz
Aniruddha Roy Chowdhury
Akshay Oberoi 

Director:
Merupakan film keempat bagi Shoojit Sircar setelah Madras Cafe (2013).

W For Words:
Jika seorang produser kenamaan bertangan dingin Bollywood, Karan Johar memuji film ini setinggi langit maka anda bisa jadi penasaran. Faktor tiga mega bintang yang tampil bersama untuk pertama kalinya jelas tidak boleh dilewatkan begitu saja. Siapa yang tidak mengenal nama Amitabh Bachchan, Deepika Padukone dan Irrfan Khan yang masing-masing memiliki filmografi mentereng dengan berbagai penghargaan internasional. Publik Indonesia demikian beruntung bisa menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex mulai awal Mei ini.

Piku adalah wanita karir yang mandiri di kota metropolitan. Kesibukan di kantor bersama Syed yang kerap mencarikan jodoh tidak lantas melupakan baktinya terhadap orangtua. Sejak ditinggal mati istrinya, Baba memiliki masalah sembelit yang membuatnya selalu waswas akan penyakit yang mungkin menghinggapinya. Sementara itu pria pemilik jasa transportasi, Rana tanpa sengaja masuk ke dalam hubungan unik ayah dan putri tersebut saat mereka harus berkendara bersama menuju Kolkata yang ditempuh dalam waktu puluhan jam.
















Skrip yang ditulis oleh Chaturvedi ini merupakan refleksi nyata kehidupan mereka yang hidup satu atap dengan orangtua yang mulai menua. Bagaimana kepentingan pribadi yang kian menumpuk harus tetap berjalan bersisian dengan kepentingan keluarga yang sedianya lebih mendesak. Status lajang yang tak ayal menjadi sorotan di lingkungan masyarakat sosial. Tak jarang stress hadir yang berujung dengan makian atau keluh kesah. Oleh karena itu anda bisa langsung mengidentifikasi problema yang dihadapi oleh karakter Piku karena begitu dekat dengan keseharian.

Sutradara Shoojit yang sudah saya favoritkan semenjak Vicky Donor (2012) begitu terampil merangkai sebuah cerita sederhana yang nyaris tidak menyisakan kejutan apa-apa. Ia membuktikan bahwa suatu hiburan yang berisi tidak harus lari dari kenyataan ataupun melupakan realita barang sejenak. Bahkan potensi romansa drama antara Deepika dan Irffan juga tersaji dalam porsi ala kadarnya tapi tetap tersirat lewat pertukaran dialog yang brilian. Elemen komedi yang muncul kerap terjadi dengan sendirinya tanpa sugesti berlebihan. Pilihan shot yang seperti tidak memihak eksterior selain close-up pada setiap karakternya justru menekankan rasa intim sekaligus menjaga ikatan terhadap penonton.














Amitabh seperti yang diharapkan tampil brilian sebagai pria tua Bengali yang cerewet dan keras kepala tapi tetap berkharisma tinggi. Meski kebagian dialog yang minim, Irrfan tetap menunjukkan kelasnya melalui gestur dan ekspresi yang lebih 'berbicara'. Lihat bagaimana interaksi keduanya yang 'ajaib' tapi sukses menghadirkan senyum di wajah anda. Deepika lagi-lagi memesona di tengah dua 'legenda' dimana nyaris setiap scene yang terjadi lahir dari inisiatif perannya. Kita bisa melihat ketegaran dan kerapuhan Piku secara bersamaan sekaligus menekankan emansipasi wanita pada jaman modern lewat 'multitasking' di segala situasi.

Piku mungkin terasa 'riuh' di beberapa bagian tapi jelas tak pernah kehabisan konflik di sepanjang durasinya. Terlepas dari jawaban-jawaban yang tidak semua tersedia pada epilognya, Piku punya cara sendiri dalam menuturkan tema yang 'berat' melalui wacana ringan yang samasekali tidak menggurui. Sebuah komedi perjalanan dengan konsistensi dan timing yang terukur, sehingga tawa dan air mata haru terus mengiringinya. Honest feed to your emotional needs about family and self-esteem. Trust me that it won't affect your digestive system.

Durasi:
123 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 01 Juni 2013

YEH JAWAANI HAI DEEWANI: Crazy Youth In Love Chasing Dreams



Quote:
Bunny:
In life there must be a little bit of minced mutton with bread, chicken drumsticks and hakka noodles, right?

Nice-to-know:
Judul film yang berarti This Youth Is Crazy ini rilis di India pada tanggal 31 Mei 2013 sama dengan Blitzmegaplex Indonesia.

Cast:
Deepika Padukone sebagai Naina
Ranbir Kapoor sebagai Bunny
Aditya Roy Kapoor sebagai Avi
Madhuri Dixit sebagai Mohini
Kalki Koechlin sebagai Aditi
Kunaal Roy Kapur sebagai Taran

Director:
Merupakan film kedua Ayan Mukherjee setelah  Wake Up Sid (2009).

W For Words:
Terus terang saya belum mempunyai banyak referensi untuk standar komedi romantis Bollywood berkualitas selama beberapa dekade terakhir. Judul yang paling memorable tentu saja Kuch Kuch Hota Hai (1998). Nyatanya sebelum itu ada Dilwale Dulhaniya Le Jayenge (1995) dengan pasangan bintang yang sama, Shah Rukh Khan dan Kajol yang katanya menginspirasi keluaran terbaru Dharma Productions ini. Daya tariknya pun tidak kalah yakni Ranbir Kapoor dan Deepika Padukone, dua dari sedikit bintang muda sedang bersinar yang uniknya pernah berkencan di dunia nyata selama setahun pada 2008 lalu. 

Kabir alias Bunny adalah pemuda idola kampus yang penuh semangat meski tumbuh dalam pengawasan ketat ayah kandung dan ibu tirinya. Bersama kedua sahabatnya Abhi dan Aditi, mereka merencanakan trekking ke Manali. Adalah Naina, siswi kedokteran yang nyaris tidak tahu bagaimana bersenang-senang akhirnya memenuhi ajakan Aditi demi menghindari kejenuhan. Bunny dan Naina yang pernah sekelas semasa sekolah mulai dekat dan berbagi mimpi masing-masing. Perjalanan tersebut lantas mengubah jalan hidup keempatnya hingga bertemu kembali delapan tahun kemudian.
Skrip yang dikerjakan Ayan Mukherjee dengan bantuan Hussain Dalal untuk dialognya ini terbilang masih menggunakan pendekatan ‘lawas’ yaitu anak yang berupaya keluar dari kungkungan orangtua, tema yang sebenarnya amat lekat untuk periode pra abad ke-21. Pendalaman karakter Bunny dan Naina dewasa pun kurang maksimal, hanya terbatas pada satu dua tendensi yang numpang lewat. Bisa jadi dikarenakan porsi remajanya sudah demikian dominan. Alhasil penonton kesulitan ‘masuk’ pada konflik sesungguhnya sebelum memutuskan apakah keduanya layak bersama atau tidak pada akhirnya.

Mukherjee di kursi sutradara sukses menyuguhkan film yang good looking, mengingatkan kita pada trademark Karan Johar yang kali ini duduk di bangku produser. Paruh pertama yang mengalir dinamis agaknya tidak diimbangi oleh paruh kedua yang sedikit predictable meski terjadi pergolakan emosi yang lebih kentara. Tata artistik, make-up hingga kostum dikerjakan secara maksimal. Belum lagi sinematografi mumpuni dari Maniknandan yang menangkap lanskap Manali dengan luar biasa, termasuk puncak bukit Jodhpur itu. Suguhan musik enerjik dari Pritam kian menyempurnakan. 
Keunggulan film tak dipungkiri terletak pada jajaran castnya. Ranbir menghidupkan sosok Bunny dengan gemilang. Simpatik, penggoda tapi tidak kehilangan pegangan terhadap mimpinya. Deepika berhasil mengubah imej Naina yang geek menjadi super sexy tanpa harus mengorbankan kecerdasannya. Keduanya mampu membangun chemistry yang loveable yet inspirative on screen. Aditya menjadi supporting yang solid sebagai Avi yang banyak bergantung pada sahabatnya. Kalki yang berdarah Perancis juga mencuri perhatian sebagai Aditi, gadis tomboi berkepribadian unik.

Yeh Jawaani Hai Deewani mungkin satu dari sangat sedikit contoh film dimana materi terbatas tetap mampu dipresentasikan secara memukau. Terima kasih terhadap jerih payah aktor-aktris yang terlibat di dalamnya meski karakterisasinya agak satu dimensi. Andai saja skripnya lebih matang dengan penjabaran konflik yang lebih modern, niscaya hasilnya akan lebih wow lagi. Setidaknya anda bisa mengambil ‘pelajaran’ dengan senyum lebar bahwa mengejar mimpi memang butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Pada akhirnya itu menjadi sebuah pilihan hidup dengan berbagai konsekuensinya.

Durasi:
159 menit

Asian Box Office:
Rs 62.11 crore in first week in India

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 

Minggu, 12 Mei 2013

SHOUTOUT AT WADALA : Rise And Fall Bollywood Gangster Flick

Quote:
Zubair Imtiaz Haskar: Kaam kya kargea?
Manya Surve: Sharir mein 206 haddiya hain aur samvidhan mein 1670 kanoon. Haddi se lekar kanoon... sab thodta hoon!

Nice-to-know:
Turut dimeriahkan oleh Sunny Leone, Priyanka Shopra dan Sophie Chaudhary dengan special appearance nya
yang sensual itu.  

Cast:
John Abraham sebagai Manya Surve
Manoj Bajpayee sebagai Zubair Imtiaz Haskar

Kangana Ranaut sebagai Vidya Joshi
Anil Kapoor sebagai ACP Afaaque Bhaagran

Siddhant Kapoor sebagai Gyanchod
Tusshar Kapoor sebagai Sheik Munir
Sonu Sood sebagai
Dilawar Imtiaz Haskar

Director:
Merupakan film ke-10 bagi Sanjay Gupta yang mengawalinya sejak Aatish : Feel the Fire (1994)
.

W For Words:
Retro gangster flick selalu menarik perhatian saya. Jika Hollywood memiliki Gangster Squad (2012) yang diilhami dari kejadian nyata tahun 40an maka Bollywood mempunyai persembahan terbaru Balaji Motion Pictures dan White Feather Films ini yang bedanya mengambil setting tahun 70an. Biasanya anda akan menemukan bentrok antara polisi dan penjahat beserta kaum sipil yang menjadi saksi (atau bahkan korban?) di dalamnya. Penasaran? You should be! Apalagi melihat nama-nama pendukung dan sutradara yang track record nya lumayan memuaskan selama ini.

Mahasiswa bermasa depan cerah dengan kekasihnya yang cantik bernama Vidya, Manohar Surve tiba-tiba dijebloskan ke penjara karena dianggap membantu kakaknya yang seorang preman, Bhargav melakukan pembunuhan. Dalam sekejap dunianya berubah total. Kakaknya dibunuh sesama napi dan iapun menjadi target berikutnya. Beruntung napi yang paling dihormati Veera mau mengajarkannya pertahanan diri. Lantas Manohar memutuskan kabur bersama kawannya Sheikh Munir dan mengubah imejnya menjadi Manya yang segera menjadi momok baru di kalangan polisi dan sesama penjahat.

Skrip yang dikerjakan secara bersama-sama oleh Sanjay Bhatia, Abhijit Deshpande dan Sanjay Gupta ini tidak berisikan pertukaran dialog yang memadai dari Milap Zaveri, bahasa kasar dan humor cadasnya tak jarang membuat penonton mengernyitkan dahi. Storytelling nya pun masih terasa episodik sehingga kurang membentuk suatu kesatuan utuh, seringkali tidak benar-benar menjelaskan proses dari A ke B nya dengan aksi reaksi logis yang seharusnya ada. Contoh paling nyata adalah untuk apa Manya merekrut anak buah jika tidak dimaksimalkan dalam aksinya? 

Sebagai sutradara, Gupta berupaya keras menonjolkan unsur tahun 70an lewat setting lokasi, wardrobe sampai props tapi cenderung masih inkonsistensi. Koreografi tarungnya memang terlihat stylish dan meyakinkan tapi seiring film berjalan malah terkesan repetitif. Berbagai adegan berdarah-darah disiapkan untuk menjual sisi ‘machismo’ yang kental. Scoring musik yang mengiringi kerap terdengar berlebihan di beberapa bagian, tanpa lupa menyebut “sumbangsih” penampilan tiga aktris cantik seksi yaitu Sunny Leone, Priyanka Chopra dan Sophie Choudry.

Abraham sebagai lead actor tampak terlalu bulky dan berotot layaknya Hulk Hogan. Karismanya kuat terpancar tapi belum dibarengi dengan mulusnya transformasi dari Manohar menjadi Manya yang seharusnya lebih emosional. Sebaliknya Bajpayee dan Anil Kapoor tampak solid sebagai dua pihak yang berseberangan. Ranaut mewakili feminisme di sini sebagai Vidya yang dilematis. Menarik menyaksikan akting ‘beringas’ Sood dan Tusshar Kapoor yang ‘goofy’ sebagai supporting lead. Cameo dari Jackie Shroff semakin memperkaya jajaran cast yang mumpuni ini.
 
Shoutout At Wadala yang terinspirasi dari novel non fiksi berjudul Dongri to Dubai: Six Decades of the Mumbai Mafia karangan wartawan S Hussain Zaidi ini tergolong menggunakan pendekatan yang mirip dengan apa yang dilakukan Quentin Tarantino yang biasanya menjual seks dan kekerasan sekaligus. Namun tidak dibarengi dengan aspek kebrutalan yang memorable meski porsinya cukup dominan. Endingnya pun terkesan antiklimaks setelah serangkaian peristiwa ‘epik’ yang mengarah kesana. Overall still has international taste to score well in box office section but not in rating part.

Durasi:
1
55 menit

Asian Box Office:
Rs 30.7 crore first week in India

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 24 Februari 2013

KAI PO CHE : Moving Portrait of Meaningful Friendship


Quotes:
Brothers.. .For life.

Nice-to-know:
Adaptasi novel berjudul The Three Mistakes of My Life dari Chetan Bhagat.

Cast:
Amrita Puri sebagai Vidya
Sushant Singh Rajput sebagai Ishaan
Amit Sadh sebagai Omi
Raj Kumar Yadav sebagai Govind

Director:
Merupakan film ketiga bagi Abhishek Kapoor setelah Rock On!! (2008).

W For Words:
Seberapa banyak kita melakukan kesalahan dalam hidup? Jawabannya mungkin tak terhingga. Sama halnya dengan film produksi UTV Motion Pictures ini yang menyorot garis besar ambisi, cinta dan mimpi dalam balutan persahabatan antara tiga pemuda dengan karakteristik yang berbeda-beda. Mungkin ingatan anda akan melayang pada 3 Idiots (2009) tapi yang membedakannya adalah tidak ada Aamir Khan atau satupun nama besar di sini. Semua didominasi oleh wajah-wajah baru yang menyuguhkan akting terbaik mereka.

Tiga sahabat yang tinggal di Ahmedabad merajut impian bersama yaitu membuka toko olahraga dengan fasilitas pelatihan. Ishaan yang pernah menjadi pemain cricket berjumpa dengan bocah 9 tahun bertalenta, Ali. Govind yang paling cerdas kerap mencermati siklus keuangan. Omi mengandalkan pamannya yang juga tokoh politik sebagai investor tetap. Lambat laun usaha mereka menampakkan hasil terlepas dari jatuh bangun dalam prosesnya. Namun insiden gempa bumi dan kerusuhan Gujarat yang terjadi mengubah segalanya.
Skrip yang dikerjakan oleh kuartet Pubali Chaudhari, Supratik Sen, Abhishek Kapoor, Chetan Bhagat ini betul-betul terasa membumi dengan mengambil potret kehidupan warga kelas menengah India sebagai settingnya. Bagaimana setiap karakter yang terlibat meski terlihat sederhana tetap mewakili kompleksitas nyata keadaan negara tersebut mulai dari tingkat sosial ekonomi yang rendah hingga kondisi politik yang carut marut. Tak lupa beberapa peristiwa historis juga diangkat bukan melulu gimmick melainkan unsur penguat konflik yang ada.

Govind Patel mewakili kaum kapitalis, Omkar Shastri Rajkumar menyoroti kepentingan politik, Ishaan Bhatt mencerminkan kawula muda pemimpi. These characters will represent each of you! Tell you what, Raj Kumar Yadav, Amit Sadh, Sushant Singh Rajput terlepas dari embel-embel ‘pendatang baru’ di belakang nama masing-masing sukses menampilkan akting luar biasa. Penjiwaan yang begitu kuat membuat penonton mampu menangkap setiap kegelisahan yang bergejolak di antara mereka. Persahabatan yang berjalan dari awal sampai akhir pun terkesan believable.

Kerja keras sutradara Abhishek Kapoor yang sempat kesulitan mencari cast yang mau terlibat dalam film ini terbayar sudah. Narasinya yang unpredictable akan menjaga rasa penasaran anda untuk menerka kemana arah film melaju lengkap dengan sinematografi memukau dari berbagai aspek. Kinerja art director, make-up artist, costume designer dalam mewujudkan props ‘sungguhan’ kian mengukuhkan nuansa Gujarat dan India secara global. Jangan lupakan musik Amit Trivedi yang megah itu termasuk satu track berjudul “Manja” yang dinyanyikan ketiga aktor utamanya.

Kai Po Che akan membuat anda merasakan selama menonton dimana rasa itu masih akan tertinggal setelahnya. Bingkai persahabatan indah yang menggulirkan begitu banyak makna dalam prosesnya. Bagaimana tolak ukur dalam hidup terkadang menjadi obsesi setiap orang, keuntungan, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan, ketenaran kerap kali mempunyai harga yang harus dibayar mahal. Jika demikian air mata dan penyesalan sekalipun tidak dapat mengubah segalanya. It’s a mainstream film with coming-of-age approach. Bittersweet yet satisfying.

Durasi:
125
menit

U.S. Box Office:
$552.765 till Feb 2013

Overall:
8 out of 10 

Movie-meter:

Rabu, 23 Januari 2013

MATRU KI BIJLEE KA MANDOLA : Quirky Characters Underutilized Satire Comedy


Quotes:
Bijlee: Baru aku tau kenapa kau suka miras. Kebenaran tak akan terasa pahit jika kau sedang mabok.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Vishal Bhardwaj Pictures dan Fox STAR Studios ini rilis di India pada tanggal 11 Januari 2013 yang lalu.

Cast:
Imran Khan sebagai Matru
Anushka Sharma sebagai Bijlee
Pankaj Kapur sebagai Mandola
Arya Babbar sebagai Badal
Shabana Azmi sebagai Deviji


Director:
Merupakan
feature film ketujuh bagi Vishal Bhardwaj setelah terakhir 7 Khoon Maaf (2011).

W For Words:
Sudah cukup lama rasanya saya absen menonton film India. Melihat rilis mendadak film ini di jaringan bioskop 21, perhatian saya langsung tertuju pada posternya yang unik plus nama Imran Khan dan Anushka Sharma, dua calon mega bintang Bollywood di masa mendatang. Kebetulan sekali, kawan movieblogger saya, Haris dari Medan yang sedang berkunjung ke Jakarta mau menemani. Setidaknya pertukaran opini dapat terjadi sekaligus memperkaya sudut pandang penilaian. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan jika anda nonton seorang diri.

Desa Haryana secara tidak langsung dikuasai oleh penduduknya yang paling kaya raya, Harry Mandola yang berkonspirasi dengan politikus licik, Deviji dalam mengakali tanah pertanian milik warga miskin demi membangun lahan industri. Harry yang juga kecanduan alkohol memiliki putri cantik, Bijlee yang akan dijodohkan dengan putra Deviji, Baadal. Tangan kanan Harry, Matru yang diam-diam menyukai Bijlee berupaya membalikkan keadaan dengan menggunakan identitas palsu bernama Mao. Bagaimana akhir dari konflik yang saling terkait ini?

Vishal Bhardwaj yang menulis skrip bersama Abhishek Chaubey ini sesungguhnya memiliki ide yang brilian dengan nuansa politik satir yang kental. Sayangnya inkonsistensi fokus kerap mengambil minat penonton untuk tetap terjaga. Paruh pertamanya penuh dengan intrik dimana masing-masing tokohnya terlihat memiliki kepentingan. Namun paruh keduanya justru sibuk membongkar cinta segitiga yang tiada juntrungannya sebelum diakhiri dengan konklusi yang tidak terlalu memuaskan juga. Setidaknya saya menghargai ‘fakta putar balik’ seorang Mandola saat sadar atau mabuk. This is twisting!

Pankaj Kapur memang “bintang” nya kali ini. Mandola di tangannya terasa energik, berkeinginan kuat walau sulit diterka. Kapur juga berinteraksi secara hidup dengan Imran dan Anushka di setiap scene bersama. Sosok Bijlee dihidupkan Anushka dengan lugas, menggoda tapi tetap berpendirian. Tokoh Matru dilakoni Imran dengan cerdik, koperatif dan pantang menyerah. Aksen dan penggunaan bahasa dari aktor-aktris di sini terkadang sulit ditangkap. Beberapa terbantu oleh kemunculan subtitel untuk memahami dialognya.

Matru ki Bijlee ka Mandola mempunyai plot cerdas yang berlapis-lapis tapi tidak dikembangkan dengan maksimal dalam bertutur, cenderung menghabiskan durasi saja. Beruntung dukungan scoring musik berkali-kali mampu menghidupkan suasana terlebih ketika kemunculan kelompok penyanyi dan penari Zulu. Sebagai sebuah komedi, film ini berpijak di antara slapstick dan humor efektif, kerapkali gagal membangun tawa penonton yang tidak memahami dimana letak kelucuannya. Setidaknya ‘gaya bebas’ Bhardwaj dalam menyutradarai pantas diapresiasi, apalagi peringatan-peringatan yang diusungnya sebagai pembuka film. Ready to get drunk and meet pink buffalo?

Durasi:
145 menit

Overall:
7 out of 10 

Movie-meter:

Sabtu, 08 Desember 2012

TALAASH : Unconventional Gripping Thriller In Slow Pace


Tagline:
The Answer Lies Within

Nice-to-know: 

Aamir Khan sempat menjalani latihan renang selama tiga bulan untuk beberapa adegan spesifik untuk film ini.

Cast: 
Aamir Khan sebagai Surjan Singh Sekhawat
Kareena Kapoor sebagai Rosy
Rani Mukerji sebagai Shreya Bondre
Nawazuddin Siddiqui sebagai Tehmur
Raj Kumar Yadav sebagai Devrath Kulkarni


Director: 
Merupakan film kedua bagi Reema Kagti setelah Honeymoon Travels Pvt. Ltd. (2007).

W For Words: 
Sedianya sebuah thriller yang baik sudah mempersiapkan “kejutan manis” di akhir cerita. Apakah hal serupa berlaku untuk Bollywood? Tentu saja. Di tahun 2012 ini, Kahaani telah membuktikannya, setidaknya menurut anggapan sebagian besar orang yang telah menyaksikannya. Produksi terbaru Aamir Khan Productions dan Excel Entertainment dengan genre sejenis ini jelas menjual nama Aamir Khan yang bertindak sebagai produser dan aktor utamanya. Tambahan lagi dua aktris papan atas Kareena Kapoor dan Rani Mukerji. Who dare to miss this?

Aktor Armaan Kapoor tewas dalam kecelakaan misterius. Inspektur Surjan Singh Sekhawat ditugaskan untuk menyelidiki kasus itu bersama rekannya Devrath Kulkarni. Padahal Surjan baru saja pindah ke Mumbai bersama istrinya Shreya Bondre demi melupakan kematian putra mereka satu-satunya, Karan yang tenggelam di lautan. Tetangga baru mereka, Franny yang juga cenayang berupaya melepaskan kesedihan melalui komunikasi tulisan dengan Karan. Surjan yang tidak percaya memilih pergi dan bertemu dengan pelacur Rosy yang dapat memberi titik terang pada kasus yang dikerjakannya. 

Kolaborasi Reema Kagti dan Zoya Akhtar dalam skrip ini mengambil waktu sebanyak yang dibutuhkan untuk memperkenalkan karakternya. Perlahan penonton diajak menyelami visi dan misi masing-masing sambil merajut benang merah cerita menjadi satu konklusi utuh. Plot yang terkesan simpel lantas menjelma menjadi teka-teki rumit dengan berbagai kemungkinan di setiap tikungannya. Dialog buah pikiran Farhan Akhtar juga terbilang jitu dalam menerjemahkan multi konflik yang ada sehingga anda akan merasa dekat dengan semua tokoh dalam film ini.

Kagti yang juga menjabat sebagai sutradara sukses menjaga misteri dan ketegangan hingga akhir melalui narasi lambat penuh suspensi. Nuansa Kamathipura yang suram dan klastrofobik serta Mumbai yang gelap dan misterius dihadirkan sebagai panggung bercerita yang sempurna untuk membangun mood. Sinematografi dari KU Mohanan terkesan surealis dengan warna pucat yang mengaburkan batas mimpi dan kenyataan. Berpadu padan dengan musik campuran klasik, jazz dan elektronika dari Ram Sampath plus lirik memikat milik Javed Akhtar. 

Aamir terampil menerjemahkan kedalaman emosi suami yang didera rasa bersalah sekaligus kesigapan inspektur polisi yang penuh wibawa. Keinginannya untuk move on kerap bertentangan dengan kata hatinya sendiri. Rani cekatan menjiwai sosok istri yang depresi dan ibu yang putus asa menghadapi masalah bertubi-tubi. Kareena sendiri mampu mencuri perhatian di tiap kemunculannya melalui sosok pelacur cantik glamor berbusana seksi nan seronok. Pendatang baru Siddiqui menegaskan talentanya sebagai si pincang Tehmur yang menyimpan berbagai rahasia.

Talaash jelas membutuhkan kesabaran tinggi dan konsentrasi penuh untuk mengikutinya dari menit ke menit agar tidak ketinggalan petunjuknya. Percayalah usaha anda selama lebih dari dua jam itu sebanding dengan endingnya yang memukau. Memang tidak sulit ditebak bagi penggemar thriller sejati tapi upaya filmmaker untuk keluar dari pakem standar patut diapresiasi apalagi sampai mengalihkan perhatian penonton berkali-kali tanpa kehilangan kemudi. Thumbs up for the great performances and two thumbs more for the script itself because writing and making thrillers is never easy.

Durasi: 
139 menit 

U.S. Box Office: 

$1,638,706 in opening week early Dec 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent