XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 18 Oktober 2011

SEMESTA MENDUKUNG : Olimpiade Fisika Kerinduan Ibunda

Quotes:
Muslat: Hati-hati ya. Kalau naik pesawat jangan keluarin anggota badan sembarangan.


Storyline:
Muhammad Arief yang berasal dari Sumenep, Madura sangat menggemari ilmu sains terutama Fisika. Ayahnya, Muslat hanyalah seorang sopir truk serabutan sedangkan ibunya, Salmah memilih pergi ke Singapura untuk menjadi TKW. Sepulang sekolah, Arief bekerja di bengkel untuk mengumpulkan uang demi mencari ibunya kelak. Suatu ketika, Ibu Tari Hidayat yang melihat bakat Arief mengirimnya ke Jakarta untuk mengikuti seleksi peserta Olimpiade Fisika di bawah bimbingan Pak Tio Yohanes. Awalnya Arief menolak karena merasa tidak mampu tapi begitu mengetahui kompetisi akan diadakan di Singapura, ia berubah pikiran. Disanalah ia bertemu dengan teman-teman barunya dengan berbagai karakteristik yaitu Thamrin dan Clara yang suporttif serta Bima yang sinis. Akankah harapan Arief dapat tercapai pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mizan Productions & Falcon Pictures dimana saya menyaksikan special screeningnya pada tanggal 9 Oktober 2011 di Pejaten Village XXI.

Cast:
Sayef Muhammad Billah sebagai Arief
Revalina S. Temat sebagai Ibu Tari Hidayat
Lukman Sardi sebagai Muslat
Ferry Salim sebagai Pak Tio Yohanes
Feby Febiola sebagai Deborah Sinaga
Helmalia Putri sebagai Salmah
Indro Warkop sebagai Cak Kumis
Sujiwo Tejo sebagai Cak Alul
Rangga Raditya sebagai Bima Wangsa
Angga Putra sebagai Thamrin
Dinda Hauw sebagai Clara Annabela

Director:
Merupakan film ketiga John De Rantau setelah terakhir Obama Anak Menteng (2010).

Comment:
Rasanya khalayak umum sudah tahu jika setiap tahunnya siswa-siswi Indonesia aktif berpartisipasi dalam Olimpiade Fisika, bahkan beberapa di antara mereka terkadang berhasil menyabet juara ataupun gelar bergengsi lainnya. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan sehingga Hendrawan Wahyudianto dan John De Rantau berduet menggarap skripnya yang dibumbui oleh ilmu pengetahuan, nilai-nilai persahabatan dan keluarga.
Judul film ini sendiri datang dari pedoman Prof Yohanes Surya PhD yang juga dikenal dengan sebutan Bapak Fisika Indonesia dimana istilah MestaKung dapat diartikan sebagai hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu di sekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis. Cukup inspiratif, bukan?
Saya justru merasa film ini menjejalkan terlalu banyak tokoh yang berusaha menjadi fokus masing-masing subplot ceritanya. Katakanlah di paruh pertama, Arief terlihat sibuk berinteraksi dengan ayahnya Muslat, preman kampung Cak Alul, belum lagi bekerja di bengkel atau bahkan memantau karapan sapi. Di paruh kedua, Arief sibuk dengan guru-gurunya Pak Tio, Ibu Tari, Ibu Debby serta teman-teman barunya seperti Thamrin, Clara, Bima bahkan si penjual ketoprak Cak Kumis. Tujuan akhir bertemu Ibu dan berpartisipasi dalam Olimpiade Fisika dengan memuaskan seakan mendualisme ending.
Sutradara De Rantau gagal mengulang pencapaian sinematografi Denias, Senandung Di Atas Awan (2006) yang ciamik itu. Kali ini alam Sumenep alias Madura, Jakarta dan Singapura terkesan hanya tempelan lokasi syuting yang tidak tereksploitasi dengan baik. Beruntung penata musik Thoersi Argeswara dan band Goliath mampu menutupi kekurangan tersebut dengan cara membangun mood film lewat music scoring ataupun tembang hit secara inspiratif dan bersemangat.
Sayef memang menjiwai peran Muhammad Arief dengan natural, badannya yang tinggi bongsor kontras dengan wajahnya yang lugu itu. Namun Angga Putra justru lebih mencuri perhatian lewat karakter Thamrin yang setia kawan dan jenaka tersebut. Tokoh-tokoh dewasanya justru lebih bertindak sebagai pelengkap saja terutama Feby, Sujiwo dan Helmalia. Ferry, Revalina, Lukman, Indro mendapat porsi yang lebih besar meskipun pada saat mendekati penghujung cerita lantas menghilang begitu saja.
Semesta Mendukung terbukti membahas Fisika itu sendiri dengan cara yang ringan dan menyenangkan walau tidak sampai mendetil apalagi rumit. Konsep penyajiannya terhadap anak-anak pun cukup mengena terlepas dari keberagaman karakter di sekitarnya yang too crowded itu (lihat saja posternya!). Secara keseluruhan Mizan Production melanjutkan kiprahnya untuk menyuguhkan tontona inspiratif dengan penekanan bahwa dalam setiap kondisi kritis akan selalu ada jalan keluar bagi orang yang mau melangkah dengan menggunakan pikirannya. Jadilah pemenang atas diri anda sendiri!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 17 Oktober 2011

FORCE : Tugas Menguatkan Cinta Melemahkan

Tagline:
Bound by Duty, Unleashed by Love.


Storyline:
Terluka parah dalam kesadaran yang belum penuh di RS Mumbai, ACP Yashvardhan yang bertugas sebagai Kepala Biro Pengawasan Narkotik merefleksikan hidup dan cintanya dengan Maya. Rekan-rekannya Atul, Kamlesh dan Mahesh Pandey serta informer Arvind Shetty berhasil memerangi pemasok di Gujarat, Punjab dan Himachal Pradesh. Sayangnya pada satu operasi, Vasu Anna Reddy terbunuh yang mengakibatkan kemurkaan saudaranya Vishnu. Vishnu bertekad membalaskan dendamnya dengan cara yang lebih keji lagi. Bagaimana ACP Yash melindungi Maya yang sangat disayanginya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Fox STAR Studios dan Sunshine Pictures serta dirilis pada awal Oktober 2011 ini di negara asalnya.

Cast:
Pernah membintangi Dostana (2008) yang dijiplak oleh sineas Indonesia, John Abraham berperan sebagai ACP Yashvardhan
Genelia D'Souza sebagai Maya
Vidyut Jamwal sebagai Vishnu
Sandhya Mridul sebagai Swati
Mohnish Bahl sebagai Atul

Director:
Merupakan film keempat garapan Nishikanth Kamath yang diawali dengan Dombivli Fast (2005).

Comment:
Di tahun 2003 pernah ada sebuah film India berjudul Kaakha Kaakha a.k.a The Police yang disutradarai oleh Gautham Menon. Karena responnya dianggap bagus secara kualitas, 8 tahun kemudian produser Vipul Amrutlal Shah pun meremakenya dengan bintang-bintang yang baru dan lebih menjual. Bahasa aslinya Tamil digubah menjadi Hindi sedangkan durasinya sedikit dipersingkat dari 153 menit menjadi 137 menit.
Penulis skrip Ritesh Shah tidak banyak mengubah versi originalnya. Film tetap menekankan konsep hidup seorang perwira polisi yang sudah ”komitmen” dengan tugasnya sebelum mengalihkan perhatiannya kepada seorang gadis yang menawan hatinya. Kekuatan yang begitu besar ternyata bisa dilemahkan oleh cinta. Ingatan saya melambung pada kisah klasik Samson dan Delilah yang telah ribuan kali diadaptasi ke dalam berbagai bentuk.
John Abraham merupakan pilihan sempurna untuk peran ACP Yash, melanjutkan apa yang lebih dulu dilakoni senior-seniornya macam Salman Khan, Aamir Khan dll. Ketangkasannya memberantas geng narkotika sangat didukung oleh penampilan fisiknya yang prima dengan otot-otot tubuh yang terpahat maksimal. Oleh karena itu, tidak ada alasan baginya untuk tidak menanggalkan pakaiannya termasuk ketika pertempuran akhir dengan Vidyut, sang antagonis yang juga sukses mencuri perhatian dengan kekejian dan sifat binatangnya terlepas dari porsi minimal yang dilakoninya.

Genelia adalah gadis manis yang naïf. Terkadang saya lebih suka melihatnya diam karena terkesan cool. Di sisi lain celotehan panjang lebarnya menegaskan pandangan cintanya yang mandiri dan tidak selalu mengharapkan respon yang setimpal. Saya suka wanita semacam ini! Chemistry nya dengan John terbingkai dengan pas, terbukti banyak bahasa verbal yang diperlihatkan keduanya saat berbagi layar termasuk menyanyikan beberapa lagu ear-catchy secara bersama-sama.
Force memang terlihat sebagai action dengan elemen-elemen umum yaitu polisi superior, penjahat brengsek yang ditutup dengan perkelahian seru antar keduanya. Namun sutradara Nishikant lebih memilih untuk mengedepankan sisi dramanya terutama cinta sejati. Itulah sebabnya film yang terkesan keras menjual ini justru lembek dalam penyajian. Seolah mengajarkan penonton bahwa pengorbanan dibutuhkan untuk mempertahankan dedikasi tinggi dan kali ini John Abraham berhasil menerjemahkannya dalam kemasan yang berdaya jual tinggi.

Durasi:
137 menit

Asian Box Office:
Rs 5.5 crore in India (opening week) till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 16 Oktober 2011

STAKE LAND : Perjalanan Melintasi Dunia Vampir Paska Kiamat

Tagline:
The most dangerous thing is to be alive.


Storyline:
Martin adalah remaja belasan tahun yang selamat dari keadaan negara yang kacau balau akibat krisis ekonomi dan bencana politik. Belum lagi invasi vampir yang nyaris membinasakan seluruh umat manusia di muka bumi. Mister yang bertindak sebagai pemburu vampir bertekad membawa Martin dengan selamat ke Kanada Utara yang dikenal dengan sebutan New Eden. Dalam perjalanan, keduanya menemui begitu banyak karakter insane yang menarik sekaligus ancaman vampir yang tersisa.

Nice-to-know:
Diproduksi dengan bujet 4 juta dollar oleh Glass Eye Pix, Belladonna Productions dan Off Hollywood Pictures.

Cast:
Terakhir membintangi The Don of 42nd Street (2009), Nick Damici berperan sebagai Mister
Debutnya diawali dalam Mystic River (2003) di usia 13 tahun, Connor Paolo bermain sebagai Martin
Danielle Harris sebagai Belle
Bonnie Dennison sebagai Peggy
Sean Nelson sebagai Willie

Director:
Merupakan film kedua bagi Jim Mickle setelah Mulberry Street (2006).

Comment:
Film yang bertemakan perjuangan sekelompok orang untuk bertahan hidup dari zombie ataupun vampir yang tinggal menyisakan sedikit populasi manusia rasanya sudah banyak dibuat sebelumnya. Sebut saja yang terkenal di antaranya ada Dawn of the Dead (2004) ataupun 30 Days Of Night (2007). Kini Dark Sky Films mempersembahkan film yang berhasil memenangkan Midnight Madness Awards di ajang Toronto International Film Festival tahun 2010 lalu ini.
Skrip yang ditulis oleh Nick Damici dan Jim Mickle ini terus terang mengingatkan pada karya mereka sebelumnya, Mulberry Street (2006) dimana mengganti wabah penyakit pes yang dapat mengubah orang menjadi manusia tikus dengan epidemi vampir yang menular. Setting lokasi yang dahulu sempit melingkupi satu kota kecil saja kini diperluas menjadi perjalanan melintasi propinsi demi menemukan “kedamaian” yang baru.

Saya berharap Damici tidak terjebak dalam peran-peran stereotype bergenre serupa setelah karakter Clutch. Bukan dalam artian negatif karena saya masih menyukai tokoh Mister yang dimainkannya. Eksentrik, cuek dan tangguh tetapi tidak flamboyan layaknya Will Smith dalam I Am Legend (2007). Paolo yang terbilang muda usia ini mampu mengimbanginya dengan lakon Martin yang sepintas terlihat lugu, rapuh dan berhati lunak. Karakter wanita kali ini tidak terlalu dominan dimana Belle, Sister dan Peggy silih berganti masuk layar.
Sutradara Mickle mampu mengikat kesemua aktor-aktrisnya untuk bermain dengan “hati” sehingga tercipta koneksi yang erat satu sama lain. Niscaya anda dapat merasakan rasa kemanusiaan yang terbangun bersama sehingga alasan salah satu tokoh melindungi tokoh yang lainnya sangat kental. Sinematografi yang dibangun Ryan Samul terampil menyorot setiap sudut lokasi baik dalam suasana siang ataupun malam hari. Semakin lengkap ketika Jeff Grace menghadirkan scoring musik yang ciamik, membangun jembatan emosi dengan penonton.

Stake Land dapat dikatakan sebuah road movie dengan setiap turns yang menarik. Menjaga antusiasme penonton dalam interval naik turun yang konsisten, naik saat sang vampir menampakkan tanda-tanda penyerangan, turun ketika setiap tokohnya diberikan waktu berekspresi sedalam-dalamnya. Terbukti plot yang terkesan umum sekalipun tetap mampu berbicara efektif jika digarap dengan solid. Suatu contoh dimana aksi protagonis membasmi vampir tak lagi menyenangkan untuk ditonton, tergantikan oleh rasa empati tinggi pada komunitas kecil manusia yang berjuang untuk memulai hidup baru.

Durasi:
98 menit

U.S. Box Office:
$18,469 till May 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 15 Oktober 2011

WARRIOR : Bela Diri Campuran Drama Kakak Beradik

Quotes:
Paddy Conlon: The devil you know...
Tom Conlon: ...is better than the devil you don't.


Storyline:
Tommy Riordan adalah tentara Amerika yang melarikan diri dari medan perang setelah insiden yang menimpa rekan-rekannya putuskan menekuni seni bela diri campuran. Ia meminta ayahnya Paddy Conlon yang juga mantan petinju untuk melatihnya. Sementara itu, Brendan Conlon yang sudah hidup bahagia bersama istrinya Tess mengalami kesulitan finansial hingga nekad ikut serta dalam kejuaraan Sparta yang hanya diikuti 16 petarung terbaik dari seluruh dunia. Siapa yang akhirnya keluar sebagai pemenang?

Nice-to-know:
Alternatif bagian pembuka film yang disyut di Moundsville State Prison, West Virginia yang memuat adegan karakter Tommy Riordan bertarung di dalam bui terpaksa dibuang dari film.

Cast:
Aktor Australia ini mulai dikenal luas sejak membintangi Star Wars: Episode II - Attack of the Clones (2002), Joel Edgerton bermain sebagai Brendan Conlon
Sebelumnya mencuri perhatian dalam Inception (2010), Tom Hardy berperan sebagai Tommy Conlon
Nick Nolte sebagai Paddy Conlon
Jennifer Morrison sebagai Tess Conlon
Frank Grillo sebagai Frank Campana
Kevin Dunn sebagai Principal Zito

Director:
Merupakan feature film kelima Gavin O’Connor sejauh ini yang diawali dengan Comfortably Numb (1995).

Comment:
MMA adalah akronim dari Mixed Martial Arts, sebuah ajang yang mempertemukan segala disiplin ilmu bela diri dalam sebuah kompetisi satu lawan satu. Tema yang juga mendasari beberapa film kelas B, sebut saja Bloodsports (1988) yang pernah melejitkan nama Jean Claude Van Damme atau yang terbaru Never Back Down (2008) yang dibintangi Sean Faris dan Cam Gigandet dimana fokus hanya terjadi pada pertarungan di arena itu sendiri.
Kini trio Gavin O'Connor, Anthony Tambakis dan Cliff Dorfman yang mengerjakan skripnya memang masih menggunakan formula yang tidak jauh berbeda tetapi memperkuat unsur drama sebagai latar belakang para tokohnya. Hasilnya? Sebuah drama action berkelas tapi tidak berlebihan yang mengkhususkan pada hubungan ayah-anak dan abang-adik di antara Paddy Conlon, Brendan Conlon dan Tommy Riordan. Belum lagi hubungan pelatih-murid dan suami-istri yang mendapat perhatian juga.

Hardy, Edgerton dan Nolte menyuguhkan performa maksimal. Nolte digambarkan sebagai pemabuk menyedihkan yang meratapi semua kesalahan masa lalunya. Adegan berdialog dengan Brendan atau Tommy terasa miris diikuti karena kolaborasi rasa penyesalan dan penolakan itu. Emosional tetapi tidak terkesan cengeng. Sedangkan sekuens Hardy dan Edgerton dihadirkan secara bergantian dengan kontradiktif, Tommy yang ekstrovert berbanding terbalik dengan Brendan yang introvert.

Sebagai sutradara, O’Connor berhasil menyatukan semua kepingan emosional yang tertangkap dari akting brilian para castnya. Mark Isham juga memberikan kontribusi musik latar yang luar biasa terlebih pada adegan closing yang bisa menghancurkan perasaan anda dalam sekejap. Sepintas sinematografi milik Masanobu Takayanagi akan mengingatkan anda pada The Fighter (2010) (kebetulan bertema serupa) yang membagi scenes dalam beberapa frame.
Porsi drama yang besar di paruh pertama film tidak membuat film ini membosankan karena penonton diajak untuk benar-benar mengenal Tommy dan Brendan Conlon. Sedangkan paruh kedua yang kental dengan aroma persaingan sukses menyajikan pertarungan yang terlihat natural dan meyakinkan. Sebagian dari para pemeran pendukung merupakan atlet fighting yang asli termasuk Koba, Mad Dog, Midnight dll. Tak ketinggalan dua komentator Bryan Callen dan Sam Sheridan yang ‘asyik’ beradu mulut!

Anda tidak perlu menyukai seni beladiri untuk jatuh cinta dengan film ini. Warrior adalah sebuah drama bro-mance yang nyaris sempurna. Contoh sebuah keluarga disfungsi dalam balutan maskulinitas bagaimana karakter Tommy dan Brendan menerjemahkan sakit hati mereka dengan caranya masing-masing. Tentukanlah pada siapa anda berpihak di antara keduanya. Kombinasi jantung berdebar-debar menyaksikan pertarungan seru dengan perasaan tercabik-cabik mengikuti penuturan konfliknya dalam durasi panjang bisa berefek samping menggenangnya air mata di pelupuk mata anda tanpa disadari. And the winner is..

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$13,427,854 till Oct 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 14 Oktober 2011

KILLER ELITE : Tugas Politik Wajib Pensiunan Pembunuh

Quotes:
Hunter: I gotta cover my expenses.
Danny Bryce: You and I got a lot in common.


Storyline:
Setelah tugas membunuh seorang pria di depan anaknya sendiri di Mexico, Danny bertekad berhenti dan memulai hidup barunya bersama Anne. Sayangnya di Australia, Sheikh Amr menugaskannya untuk menyelesaikan misi gagal mentornya yang kini dipenjara, Hunter. Bersama dengan Davies dan Meier, Danny mulai memburu tiga petugas SAS untuk pengakuannya. Paris, London sampai Asia Tengah, Danny harus bermain kucing-kucingan dengan pemimpin kelompok militer rahasia, Spike sebelum benar-benar keluar dari permainan hidup matinya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi secara keroyokan oleh Omnilab Media, Ambience Entertainment, Current Entertainment, Film Victoria, International Traders, Open Road Films, Palomar Pictures, Sighvatsson Films dan Wales Creative IP Fund.

Cast:
Mengawali karir aktornya lewat Lock, Stock and Two Smoking Barrel (1998), Jason Statham berperan sebagai Danny
Pertama muncul di usia 23 tahun lewat serial televisi Rockliffe's Babies (1987), Clive Owen bermain sebagai Spike
Robert De Niro sebagai Hunter
Dominic Purcell sebagai Davies
Aden Young sebagai Meier
Yvonne Strahovski sebagai Anne

Director:
Gary McKendry cuma pernah menangani film pendek berjudul Everything in This Country Must (2004) sebelumnya.

Comment:
Jason Statham mungkin sebuah nama yang membosankan bagi saya karena nyaris selalu tampil stereotype, tapi tidak halnya dengan Robert De Niro dan Clive Owen yang selalu memuaskan dalam peran-perannya. Menggabungkan ketiganya dalam sebuah film aksi yang diembel-embeli “berdasarkan kisah nyata” yang tertuang dalam buku buah pena Ranulph Fiennes merupakan nilai jual utama bagi film yang skripnya dikerjakan oleh Matt Sherring ini.
Statham biasa dikenal sebagai pembunuh “super” yang mampu menghabisi siapapun juga yang menghadang jalannya, DeNiro biasa melontarkan monolog ataupun dialog yang penuh arti didukung dengan ekspresi khasnya sedangkan Owen biasa dikenali oleh penjahat tangguh yang licin. Ketiganya memang mampu memenuhi rasa dahaga anda dengan aksi-aksinya tapi entah mengapa saya merasa tidak ada ikatan yang kuat dengan penonton sehingga “mengikuti” wajahnya saja yang diingat bukan nama-nama mereka.

Debut penyutradaraan McKendry terbilang tidak mengecewakan. Gayanya menyajikan action thriller yang maskulin ini cukup meyakinkan walaupun sedikit terkesan old-fashioned layaknya tahun 80an, bisa jadi demi menyiasati bujet yang tidak terlalu tinggi ini. Serentetan adegan tembakan, pemukulan, kejar-kejaran mobil hingga pembunuhan sadis dijamin akan memuaskan anda terlebih pada satu sekuens dimana Statham dan Owen saling beradu mulut dan fisik sekaligus.
Plot cerita yang didasarkan oleh “The Feather Man” ini menawarkan sejumlah twist yang unpredictable sekaligus berbagai subplot yang saling kait-mengait. Membuat anda mereka-reka di sepanjang film, apa sesungguhnya motivasi mereka jika dihadapkan satu sama lain. Si A yang seharusnya membunuh si B malah gagal karena terbunuh dulu oleh si C. Sayangnya tempo cepat yang dikembangkan tidak diimbangi oleh kinerja kamera Simon Duggan yang terasa shaky dan seringkali terlalu close up itu.

Killer Elite adalah film aksi yang menyenangkan penuh intrik yang menjadikan seluruh tokohnya abu-abu. Silakan pilih karakter siapa yang anda bela sejak awal. Membayangkan kejadian nyata yang ditata sedemikian rupa, tidak heran jika plotnya tergolong rumit dengan batasan-batasan yang sulit diterima akal sehat karena sudah melibatkan unsur politik. Yang jelas bagi insan semacam mereka, membunuh itu mudah tetapi sulit menjalani kenyataan hidup setelahnya.

Durasi:
116 menit

U.S. Box Office:
$21,646,929 till Oct 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 13 Oktober 2011

CARS 2 : Persaingan Kotor Juarai World Grand Prix

Quotes:
Uncle Topolino: A wise car hears one word and understands two...


Storyline:
Bintang balap Lightning McQueen dan sahabat setianya Mater mengikuti perlombaan World Grand Prix dimana persaingan semakin ketat dengan hadirnya Francesco Bernoulli, mobil balap yang dikagumi oleh Sally, kekasih Lightning. Sementara itu milyuner ternama Miles Axelrod mengembangkan bahan bakar baru yaitu Allinol yang segera menjadi sponsor utama. Perjalanan menuju kejuaraan yang digelar dalam beberapa seri itupun semakin seru karena berbagai intrik kotor di dalamnya terlebih setelah Mater menemukan beberapa kejanggalan di arena.

Nice-to-know:
Sebagai penghormatan bagi Paul Newman yang meninggal di tahun 2008, karakter Doc Hudson tidak disertakan dalam film meskipun nama Hudson Hornet sempat disebutkan sebagai apresiasi.

Voice:
Larry the Cable Guy sebagai Mater
Owen Wilson sebagai Lightning McQueen
Paul Newman sebagai Doc Hudson
Bonnie Hunt sebagai Sally Carrera
Michael Caine sebagai Finn McMissile
Emily Mortimer sebagai Holley Shiftwell

Director:
John Lasseter yang berkolaborasi dengan Joe Ranft dalam Cars (2006) kali ini menggandeng Brad Lewis yang baru memulai debutnya ini.

Comment:
Cars (2006) yang menghasilkan $461,981,126 dari peredaran seluruh dunianya tentu amat menggoda Disney dan Pixar untuk menggarap sekuelnya. Setelah tarik ulur yang membutuhkan 5 tahun, film yang ceritanya ditulis oleh trio John Lasseter, Brad Lewis, Dan Fogelman ini akhirnya rilis juga dengan bujet yang membengkak dari 120 juta dollar menjadi 200 juta dollar. Mudah-mudahan perjudian tersebut sepadan dengan hasil yang diraihnya kelak.
Skrip yang dikerjakan oleh Ben Queen ini melanjutkan petualangan duet McQueen dan Mater ke skala yang lebih besar, tidak tanggung-tanggung dari Radiator Springs langsung menuju World Grand Prix! Sebetulnya plot cerita yang mengarah dunia spionase antar mobil ini memang lebih cocok bagi penonton remaja hingga dewasa. Namun karena sejak awal ditargetkan anak-anak, maka segala kerumitan berusaha disampaikan dengan cara “semudah” mungkin.
Hal tersebut berpengaruh pada eksekusi Lasseter dan Lewis yang seakan tersendat-sendat. Tidak ada pengembangan karakter-karakter yang berarti selain melengkapi mobil-mobil “cute” tersebut dengan senjata berat. Dari segi gambar memang jauh lebih bagus, terlebih saat penjelajahan kota-kota ternama di dunia yang dikonsep dengan indah. Sayangnya lagi kinerja soundtrack pun kurang efektif, belum mampu menyaingi prekuelnya.

Para pengisi suara disini masih mampu menunaikan tugas mereka dengan baik. Mater mendapat porsi paling dominan lewat sederetan aksi menarik yang dilakukannya. Hanya saja dialog komedik yang terlontar di antara mobil-mobil tersebut tidak selalu berhasil memancing tawa, sebagian disebabkan penulisan yang terkesan terburu-buru. Satu ciri khas Pixar yang hilang kali ini adalah momen menyentuh. Sangat disayangkan!
Cars 2 bukanlah film animasi yang buruk tetapi gagal mengambil tongkat estafet dari prekuelnya. Kesalahan Disney dan Pixar yang terlalu memaksakan sekuel sehingga mengabaikan elemen-elemen pentingnya? Akan lebih bijak jika mereka membuat film ini berdiri sendiri dimana pertentangan baik dan jahat dapat lebih tereksplorasi dengan tepat. Tak usah heran apabila anak-anak tidak akan mencintainya sebesar film originalnya dan orang dewasa cuma akan mengenangnya sejenak. Talking cars, interesting actions, not-so-good storytelling, less emotional moments. Ka-chow could be similar to “kacau”!

Durasi:
106 menit

U.S. Box Office:
$190,462,898 till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 12 Oktober 2011

POCONG MINTA KAWIN : Wara-Wiri Pocong Mati Penasaran Jodoh

Quotes:
Yuli Gaga: Galon, ah dia kaga percaya gue kan!


Storyline:
Pernikahan di rusun pinggiran Jakarta antara Ningsih dan Hamid gagal lantaran mempelai pria tidak datang. Frustrasi, Ningsih pun bunuh diri dengan meloncat dari atap rusun. Tak lama kemudian, Ibu Galon sang empunya rusun menyewakan kamar bekas Ningsih pada keempat mahasiswa yaitu Aldi, Ragil, Amir, Justin dengan harga murah. Perlahan tapi pasti, pocong Ningsih yang mati penasaran pun kembali ke rusun dan meneror para penghuninya termasuk Yuli Gaga, penyanyi dangdut berdada super. Mereka lantas sepakat memanggil Dukun untuk menanyakan kemauan terakhir Ningsih sehingga tidak mau pergi dari dunia. Berhasilkah gangguan itu lenyap pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Happy Together Pictures dimana press screeningnya dilangsungkan pada tanggal 3 Oktober 2011 di Planet Hollywood XXI.

Cast:

Chika Waode sebagai Ningsih
Julia Perez sebagai Yuli Gaga
Vicky Nitinegoro sebagai Aldi
Christopher sebagai Justin
Dhawan Khai sebagai Ragil
Bobby Maulana sebagai Amir
Mpok Atiek sebagai Dukun
HM Bolot

Director:
Merupakan kolaborasi pertama Chiska Doppert dan Harry Dagoe Suharyadi dalam genre komedi horor ini.

Comment:
Andai saja ada SPSI (Serikat Pocong Seluruh Indonesia) maka dapat dipastikan sebagian filmmaker kita akan kena hukumannya. Paling ringan mungkin kewajiban “nyekar” setiap malam Jumat Kliwon sedangkan paling berat tentu saja permintaan maaf secara resmi.. Tentu saja dengan mencium tangan sang pocong. Nah lho! Saya jamin film-film bertemakan pocong akan berkurang secara drastis dari waktu ke waktu.
Harry Dagoe Suharyadi berkolaborasi dengan Chiska Doppert dan Armantono mengerjakan skripya yang lagi-lagi gabungan formula expired. Rumah susun/kost berhantu, pemuda-pemuda akil balik, gadis primadona hingga banci kaleng. Sudah bisa ditebak racikannya bukan? Komedi horor benar sekali. Lengkap dengan ending yang predictable dan twist yang not shocking at all. Weleh weleh, “jualan” kok gak kreatip? Hadeehhhh.
Meski demikian, Vicky, Christopher, Dhawan dan Bobby cukup kompak memerankan empat mahasiswa yang bersahabat. Mereka seia sekata dalam ketakutan, kegenitan dan kere tentunya! Celetukan-celetukan spontan masing-masing terkadang mampu memancing tawa walau seringkali terdengar di luar konteks. Bahkan si bule Christopher meski minim dialog, ekspresi tololnya lumayan juara di setiap adegan yang melibatkan dirinya.
Jupe agak mengganggu dengan rambut sepuhannya, kontras dengan baju-baju minim berwarna terang yang dikenakannya. Nama Yuli Gaga yang diusungnya cukup inovatif sekaligus membuka kesempatan baginya bernyanyi dan beraksi di atas panggung. Belah duren, bang? Kasihan melihat komedian Chika Waode didandani sedemikian rupa menjadi si pocong buruk rupa bernama Ningsih, membangkitkan rasa penasaran saya akan penampakan wajah aslinya. *brb.. googling!*
Saya mempertanyakan keputusan Harry Dagoe untuk menggunakan inisial nama HDS dalam jajaran sutradara. Tidak pede karena takut dicela? Yang jelas Chiska Doppert sudah mulai melepaskan diri dari gaya Nayato yang selama ini mengikutinya. Kolaborasi keduanya tidak buruk dimana syut adegan pocong yang rajin menampakkan diri di siang dan malam hari tersebut memang lebih berkesan menggelikan dibandingkan menakutkan.
Sebenarnya Pocong Minta Kawin tidak lantas gagal total dalam menghibur. Beberapa scene komediknya lumayan fun dan pembagian porsi semua karakternya pun cukup merata. Hanya saja ide ceritanya sudah sangat tidak pantas untuk dieksploitasi apalagi menggunakan judul yang tidak bisa dipertanggung jawabkan hanya demi mengejar unsur “sounds catchy”. It’s not catchy, it’s stupid! Pada akhirnya simpati saya pun hanya melayang pada nasib Ningsih, si pocong bungkus yang hobi main Facebook untuk mencari jodoh.

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 11 Oktober 2011

PEREMPUAN-PEREMPUAN LIAR : Pelarian Liar Pengantin Restu Pernikahan

Quotes:
Dom: Walau kadang gw gak tau loe ngomong apa, gw jg gak bakal lupain loe.


Storyline:
Dom dan Mino bekerja sebagai penagih utang yang sukses karena selalu menjalankan tugasnya dengan ekstrim. Suatu saat karena kecerobohan, keduanya bertemu Mey dan Cindy dalam pernikahan Mey dan Rocky yang diatur oleh orangtua. Mey yang tidak mencintai Rocky lantas kabur bersama Dom, Mino dan Cindy. Kedua gadis tersebut adalah anak-anak konglomerat papan atas Indonesia yang hobi belanja dan gila pesta. Bahkan mereka menyarankan Dom menelpon ayahnya untuk meminta sejumlah tebusan. Pelarian itupun semakin liar hingga menumbuhkan rasa di antara keempatnya. Apakah tali perjodohan Dom yang sudah diatur bapaknya bisa dibatalkan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana press sreeningnya diadakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 5 Oktober 2011.

Cast:
Tora Sudiro sebagai Dom
Dallas Pratama sebagai Mino
Maeeva Amin sebagai Mey
Rina Diana sebagai Cindy
Gary Iskak sebagai Rocky

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Rako Prijanto sekaligus mempertemukan Tora Sudiro dengan Gary Iskak ketiga kalinya yang diawali oleh D’Bijis (2007).

Comment:
Masih ingat dengan film berjudul Roman Picisan (2010). Jika tidak atau memang belum menontonnya, maka kabar baik bagi anda. Namun sebaliknya, ini adalah kabar buruk. Mengapa saya katakan demikian? Penulis skrip Raditya Mangunsong yang sejak dulu bekerjasama dengan Rako Prijanto meyuguhkan benang merah cerita yang nyaris serupa, setidaknya 60%. Selebihnya orisinil? Tidak juga, banyak sekali comotan ide dari film-film Hollywood yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Begitu banyaknya kemiripan scene disini dengan yang sudah-sudah. Sebut saja, penculikan putri konglomerat, pembatalan pernikahan, pemblokiran kartu kredit saat pelarian, cinta yang tidak direstui orangtua, perjodohan yang tidak diinginkan dan lain sebagainya. Semuanya diracik oleh Raditya tanpa improvisasi yang berarti, datar dan mudah ditebak. Mungkin itulah alasan beberapa penonton memilih untuk meninggalkan gedung bioskop terlebih dahulu sebelum selesai menyaksikannya.
Tidak ada yang baru dari akting seorang Tora Sudiro. Kebintangannya semakin memudar, dari 5 film di tahun 2008, 4 film di 2009, 3 film di 2010 dan tidak mengejutkan jika film ini adalah film pertamanya di tahun 2011. Peran Raga dalam Roman Picisan dan Sahroni dalam Preman In Love (2009) dikombinasikan ke dalam peran Dom kali ini, membosankan. Kehadiran Dallas Pratama sebagai Mino mungkin masih dapat dimaafkan mengingat baru film ketiga yang dilakoninya sejauh ini.
Maeeva Amin yang merupakan aktris pendatang baru lebih banyak menonjolkan pesona wajah Indo nya yang didukung dengan postur tinggi. Sama halnya dengan Rina Diana sebagai sidekick nya. Persahabatan erat keduanya kurang menghadirkan chemistry alami, bisa jadi karena tidak adanya eksplorasi karakter yang mampu memperkuat hubungan itu. Saya juga tidak menemukan korelasi yang konsisten di sepanjang film untuk patut menyebut keduanya “liar”.
Bagi saya sosok Rako adalah sutradara “cadas” yang lebih suka menonjolkan sisi ekstrim dalam karya-karyanya. Sayangnya dari tahun ke tahun, hasil garapannya cenderung menurun. Masih segar dalam ingatan saat Pengantin Sunat terpaksa saya masukkan dalam daftar 3 film terburuk tahun lalu. Pada kesempatan ini pun ia terkesan “malas” berkreatifitas dan memilih cara yang “aman” saja dalam bertutur menggunakan semua yang sudah pernah dikerjakan sebelumnya.
Perempuan-Perempuan Liar hanya menghibur sekitar 15-30 menit pertama dengan komedi “cadas” bertempo cepat ala Rako, sisanya adalah drama lamban hasil mixing beraneka subplot basi yang tak lagi memiliki daya jual. Endingnya pun dikonklusikan begitu mudahnya menutup romantika yang dibangun seadanya. So, everyone’s happy? Penonton masa kini jelas sudah semakin cermat dalam memilih film yang ingin ditontonnya, apa lagi yang ingin dikomunikasikan kepada mereka jika formulanya itu-itu saja?

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 10 Oktober 2011

HIDDEN 3D : Pusat Rehabilitasi Peninggalan Proyek Rahasia


Storyline:
Ketika Ibu Brian Karter meninggal, pusat rehabilitasi pecandu miliknya diwariskan pada putranya yang bahkan tidak tahu menahu. Bukan kejutan lagi jika “The Sanctuary” tersebut dikabarkan juga mengembangkan proyek rahasia sebelum akhirnya ditutup. Kini Brian yang dibujuk oleh teman-temannya, Vicky, Simon, Kimberly, Lucas mau melakukan investigasi langsung terhadap tempat tersebut. Bersama kekasihnya Haley, Brian mungkin menemukan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya di dalam sana.

Nice-to-know:
Diproduksi Caramel Film, Don Carmody Productions, ReDark dengan biaya 8 juta dollar.

Cast:
Sean Clement sebagai Brian Karter
Simonetta Solder sebagai Haley Gable
Jordan Hayes sebagai Vicky
Jason Blicker sebagai Simon
Bjanka Murgel sebagai Kimberly
Devon Bostick sebagai Lucas

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Antoine Thomas.

Comment:
Jika saya berikan anda waktu 5 menit untuk menulis daftar 10 film horor yang bersetting di rumah sakit ataupun panti rehabilitasi, saya yakin anda dapat menemukan berbagai referensi judul dari yang berkualitas baik hingga buruk, atau berbujet tinggi hingga rendah sekalipun. Baik produksi Amerika, Eropa sampai Asia tanpa disadari seringkali mengulangi plot sejenis dengan approaching masing-masing saja yang berbeda.
Kini giliran produksi patungan Italia dan Kanada yang entah mengapa latah mengerjakan proyek ini dalam format 3D. Hasilnya? Sampah! Anda akan dengan mudah menyebutkan berbagai kelemahan di dalamnya dengan catatan sudi bertahan sampai menit terakhir. Salahkan cerita gubahan Mariano Baino dan Coralina Cataldi-Tassoni atau skrip garapan kakak beradik Alan-Alana Smithy yang seakan tidak punya penjelasan memadai apapun yang bisa merekatkan penonton dengan jalinan kisahnya.
Elemen 3D tidak menawarkan apa-apa disini selain serangga raksasa yang terbang sendiri atau berkelompok menyerbu ke arah penonton. Monsternya berwujud remaja/anak kecil pun tidak orisinil, berwajah menyeringai dengan tentakel menjulur dari mulutnya. Proses “penyerangan” terhadap manusianya tidak jelas, apakah menggigit atau menghisap? Saya tak terlalu peduli lagi karena semua adegan yang harusnya menggedor malah terkesan menyedihkan.
Dengan skenario yang demikian terbatas, sulit mengharapkan akting memadai dari aktor-aktrisnya. Terbukti mereka hanya mampu berkata, “Ayo keluar dari sini!” atau “Ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini!” serta sederetan kalimat lain yang dengan mudah anda pikirkan jika berada dalam situasi yang sama. Terkadang saya berharap laboratorium tersebut meledak dan membumi-hanguskan seluruh isinya tanpa terkecuali termasuk manusia-manusia tanpa ide yang berkeliaran di terowongan tersebut!
Hidden 3D rasanya tidak akan rilis dalam format 3D karena terlalu naïf untuk berharap penonton mau merogoh koceknya demi membayar lebih. Bisa tayang dalam format reguler pun sudah sangat bagus meskipun saya samasekali tidak akan mau berterima kasih pada Blitzmegaplex yang “berniat baik” membawa film kelas 2 macam ini ke Indonesia. Selamatkan diri anda dari kehilangan satu seperempat jam yang berharga dalam hidup anda!

Durasi:
77 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 08 Oktober 2011

THE SMURFS : Petualangan “Nyata” Makhluk Biru Mini

Quotes:
Grouchy: Where the Smurf are we?
Gutsy: Up the smurfin' creek without a paddle, that's where!


Storyline:
Ketenteraman dunia para smurf mendadak terganggu saat si penyihir jahat Gargamel bersama kucingnya Azrael kembali menyerang desa. Papa Smurf, Smurfette, Gutsy, Clumsy, Brainy, Grouchy tanpa sengaja tersedot pusaran bulan biru yang membawa mereka ke New York City! Di sana mereka bertemu pasangan suami istri Patrick dan Grace Winslow yang menyenangkan. Para smurf tersebut harus mencari cara untuk kembali ke dunianya sambil menghindari Gargamel yang memiliki rencana buruk dengan kekuatan yang lebih besar lagi.

Nice-to-know:
Gutsy Smurf, Crazy Smurf dan Narrator Smurf adalah anggota baru setelah pengarang cerita ini Pierre “Peyo” Culliford meninggal di tahun 1992.

Cast:
Pernah 3x memenangkan Piala Emmy dari serial kartun terlama The Simpsons, Hank Azaria bermain sebagai Gargamel
Angkat nama sebagai dokter muda dalam serial televisi Doggie Howser, M.D. yaitu Neil Patrick Harris yang kali ini kebagian tokoh Patrick Winslow
Jayma Mays sebagai Grace Winslow
Sofía Vergara sebagai Odile

Voice:
Jonathan Winters sebagai Papa
Alan Cumming sebagai Gutsy
Katy Perry sebagai Smurfette
Fred Armisen sebagai Brainy
George Lopez sebagai Grouchy
Anton Yelchin sebagai Clumsy

Director:
Film ke-8 bagi Raja Gosnell setelah terakhir Beverly Hills Chihuahua (2008).

Comment:
Fakta pertama yang ingin saya sampaikan bahwa saya tumbuh bersama komik Smurfs di tahun 1990an, sebagian pinjam dan sebagian lagi mengkoleksi. Karakter-karakternya begitu melekat dengan segala nama yang mengacu pada keistimewaan masing-masing, membuat saya kecil pada waktu itu percaya bahwa manusia pun demikian adanya. Sayangnya selepas meninggalnya sang creator Peyo, komik tersebut dihentikan.
Beranjak dewasa mendengar Jordan Kerner akan mengerjakan proyek layar lebarnya yang menggabungkan animasi dengan live action selayaknya Alvin & The Chipmunks, rasa excited itu timbul meskipun sempat dihantam keraguan karena rating dan review buruk yang langsung mengalir begitu filmnya dirilis. J. David Stem dan David N. Weiss ditunjuk mengerjakan ceritanya serta dibantu oleh Jay Scherick dan David Ronn dalam penulisan skenarionya. Ide bulan biru itu menurut saya orisinil karena mampu menjadi penghubung dunia manusia dengan dunia smurf itu sendiri.

Seperti diduga sebelumnya, cukup sulit menggabungkan konsep animasi dengan live action secara seimbang. Namun sutradara Gosnell berhasil melakukannya dengan baik, terbukti penempatan para smurfs tersebut di dunia nyata tanpa kesan dipaksakan. Tokoh-tokoh manusianya pun tidak hanya bertindak sebagai pelengkap saja tetapi mampu melebur ke dalam bangunan cerita seiring bergulirnya konflik. Aspek 3D yang dibebatkannya mampu berbicara banyak bahkan hingga credit title bergulir!
Azaria hampir tidak dikenali sebagai Gargamel dengan dandanan dan penampilan freak nya. Sesaat saya melupakan bahwa nama Neil Patrick Harris sudah tenggelam karena tokoh Patrick di tangannya cukup hidup. Mays pun sama menyenangkannya sebagai calon ibu yang berhati lembut. Dari jajaran pengisi suara, Katy Perry memulai debutnya dengan baik sedangkan Cumming, Yelchin, Winters samasekali tidak mengecewakan.

Eksploitasi terhadap para smurf tersebut memang dipersempit untuk memfokuskan diri pada karakter-karakter kunci tetapi gaya bahasa “smurf” sebagai pengganti kata-kata masih dipertahankan, beberapa kali hal tersebut mampu memancing tawa lepas. Kemunculan smurf narator di penghujung cerita menjadi highlight sendiri karena sukses mencuri perhatian. Lagu kebangsaan smurf yang mewarnai berbagai scene bisa jadi melekat dalam ingatan hingga tanpa sadar bisa membuat anda bersiul sendiri.
Memang The Smurfs sepertinya hanya diperuntukkan bagi mereka yang menggemari karakter makhluk biru berukuran mini tersebut. Untuk kalangan umum bisa jadi sulit tergerak untuk menikmati akibat tidak adanya koneksi yang kuat. Manusia dan para smurf ini memang tidak berniat menggurui tetapi pelajaran tentang bagaimana menyikapi hidup, menghargai orang sekaligus diri kita sendiri adalah kewajiban yang hakiki. Maka smurf-lah mata, telinga dan hati anda untuk yang satu itu sebelum orang lain yang men-smurf-nya untuk anda!

Durasi:
103 menit

U.S. Box Office:
$138,809,045 till Oct 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent