XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label robert de niro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label robert de niro. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

SILVER LININGS PLAYBOOK : Unlikeliest Romantic Comedy Bipolar Life


Quotes:
Tiffany: You know, for a while, I thought you were the best thing that ever happened to me. But now I'm starting to think you're the worst.
Pat: Of course you do. Come on, let's go dance.


Nice-to-know:
5 nominasi utama yaitu Best Picture, Best Actor, Best Actress, Best Director, Best Writing dari 8 nominasi Academy Award yang diterimanya, film ini menyusul langkah Reds (1981) dan Million Dollar Baby (2004).

Cast:
Bradley Cooper sebagai Pat
Jennifer Lawrence sebagai Tiffany
Robert De Niro sebagai Pat Sr.
Jacki Weaver sebagai Dolores
Chris Tucker sebagai Danny
Anupam Kher sebagai Dr. Cliff Patel

Director:
Merupakan feature film keenam bagi David O. Russell setelah terakhir The Fighter (2010) yang juga menominasikan dirinya sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang Academy Awards 2011.

W For Words:
Nyaris semua orang pernah mengalami kehilangan seseorang yang mereka cintai, entah karena kematian atau segala bentuk perpisahan yang dilandasi oleh rasa ketidakcocokan. Proses move-on kemudian menjadi tahapan terberat untuk menata hidup kembali. Premis itulah yang diangkat dalam novel berjudul sama karangan Matthew Quick yang kemudian dibeli hak adaptasi layar lebarnya oleh The Weinstein company. Awalnya sempat dikabarkan akan diproduseri oleh Sydney Pollack dan Anthony Minghella dimana keduanya meninggal sebelum tahun 2008.

Sekeluarnya dari institusi kejiwaan akibat memukuli selingkuhan istrinya Nikki, Pat Solatano Jr. kembali ke rumah orangtuanya Pat Sr. dan Dolores di Philladelphia. Dr. Cliff Patel yang menangani Pat Jr. mengindikasikan adanya gangguan bipolar dan mengharuskannya menjalani sesi perawatan. Awalnya Pat Jr. yang juga mantan guru itu terobsesi untuk rujuk dengan berbagai cara hingga ia berjumpa Tiffany yang juga pernah dirawat karena gangguan psikologis. Keduanya lantas sepakat saling membantu setelah melalui serangkaian perjanjian unik demi rekonsiliasi.

Kekuatan skrip ini jelas ada pada rangkaian dialog tajam dari dua protagonisnya pengidap bipolar yang kerap menyebabkan perubahan mood secara mendadak, lari dari kenyataan, kesulitan belajar dari kesalahan masa lalu dsb. Keadaan tersebut kian diperburuk oleh pemutusan hubungan, kehilangan pekerjaan, keluarga disfungsi sampai merasa tak diterima oleh lingkungan sekitar. Kompleksitas yang sesungguhnya sangat mungkin terjadi di kehidupan kita sehari-hari tapi jarang yang mau mengakuinya. Pat and Tiff could be anyone of us. Only its’ scale makes the difference betwe
en sane and insane.

Sutradara O’Russell yang sudah lekat dengan bentuk kehidupan nyata seorang bipolar dari putranya Matthew tampak tidak berupaya mendramatisir keadaan yang memang sudah dramatis dari ‘sono’ nya. Bagaimana moment-to-moment scenes yang dari awal sampai akhir didominasi oleh Cooper-Lawrence dieksekusi secara brilian. Setting Philadelphia yang mengedepankan keluarga Amerika modern kelas menengah ini sesungguhnya memiliki pakem baku sebuah komedi romantic meski sesekali menyasar pada konsep satir dalam porsi yang minor.

Kemenangan Lawrence di ajang Oscar menyisihkan empat nominee lain yang jauh lebih senior memang mengejutkan. Namun melihat performanya dalam mengimbangi lawan main yang berusia 15 tahun lebih tua pantas diacungi jempol. Karakternya kompleks dan unpredictable dalam sosok Tiff yang cantik sekaligus rapuh. Akting Cooper juga tak kalah spektakuler dalam menerjemahkan karakter delusional Pat Jr. yang menyedihkan (atau justru mengganggu) tanpa harus kehilangan pesonanya. Jangan kecilkan sumbangsih DeNiro, Weaver, Tucker, Kher yang begitu besar sebagai supporting casts, terlebih melihat ‘polah tingkah’ superstitious Pat Sr. kita bisa tahu mengapa putranya demikian.


Silver Linings Playbook tetaplah sebuah komedi romantis yang berasal dari dunia yang ‘berbeda’. Tak melulu mengeksploitasi pahit manis chemistry pria dan wanitanya, sahabat dan keluarga mereka dalam neighborhood yang sama pun dilibatkan secara serius. Ending cheesy nya memang tergolong klise tapi tetap tak akan menghalangi hadirnya senyum di wajah dan kehangatan di hati anda. Easily connect with us because we’ve all been very emotional through the struggling times. In the end, you might realize it’s the journey of life that matters. Do not ever lose any hope.

Durasi:
122 menit

U.S. Box Office:
$115.697.021 till Mar 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 09 September 2012

RED LIGHTS : Believers Versus Non-Believers Prejudice

Quotes:
Margaret Matheson: There are two kinds of people out there with a special gift. The ones who really think they have some kind of power. And the other guys, who think we can't figure them out. They're both wrong.


Nice-to-know:
Pada lab video dimana Buckley bekerja terdapat poster "I Want To Believe" dari The X-Files tetapi quote nya diubah menjadi "I Want To Understand".

Cast:
Robert De Niro sebagai Simon Silver
Cillian Murphy sebagai Tom Buckley
Sigourney Weaver sebagai Margaret Matheson
Elizabeth Olsen sebagai Sally Owen
Toby Jones sebagai Paul Shackleton
Joely Richardson sebagai Monica Handsen

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rodrigo Cortés setelah Buried (2010).

W For Words:
Gejala paranormal disini tidak melulu berarti ada hubungannya dengan hantu melainkan kemampuan cenayang seseorang yang dapat digunakan untuk memanipulasi pikiran atau kenyataan. Premis yang tidak biasa ini lahir dari buah pemikiran seorang Rodrigo Cortes. Namun ia bersama Adrian Guerra yang juga bertindak sebagai produser tampaknya tidak yakin film ini dapat dinikmati oleh orang banyak sehingga rilisnya terbatas. Padahal menilik jajaran castnya samasekali tidak mengecewakan dimana kombinasi senior dan junior lagi-lagi dilibatkan disini.
 
Psikolog Margaret Matheson dan asistennya yang turut mempelajari aktifitas paranormal, Tom Buckley seringkali mengungkap tabir rahasia para psychic lewat penjelasan-penjelasan rasional. Mendapat sokongan dana dari Dr. Shackleton untuk menunjang kegiatan operasional, mereka juga mengajar di kampus sebagai gantinya. Tatkala psychic kelas dunia yang sudah 30 tahun menghilang, Simon Silver tiba-tiba muncul kembali, rasa penasaran Tom menjadi tumbuh walaupun tantangan tersebut ditentang oleh Margaret yang masih menyimpan trauma di masa lampau.

Saya tidak pernah meragukan talenta seorang Cillian Murphy. Sejak awal tokoh Tom dibawakan secara misterius. Pergeseran dari second menjadi first act selama film bergulir semakin memberikan ruang padanya untuk bereksplorasi lebih. Meski kemunculannya tidak sampai akhir, Sigourney Weaver tetap memikat untuk disaksikan. Tokoh Margaret yang sebetulnya logis kerap menemui jalan buntu kala dihadang keraguan demi keraguan. Sedangkan Robert De Niro tidak mengecewakan terlepas dari peran “watak” tipikal pada tokoh Silver yang penuh muslihat. Selain itu masih ada Elizabeth Olsen yang semakin menancapkan namanya dan juga Toby Jones yang menunjukkan senioritasnya.
 
Ide milik Cortes ini bagi penonton yang agamais mungkin akan menganggapnya atheis, radikal dan skeptis. Namun bagi saya teori Occam’s Razor yang mendasari semua itu dimana prinsip utamanya adalah penjelasan yang lebih sederhana dari segala sesuatu yang dianggap rumit. Pertentangan ilmuwan melawan cenayang merupakan pertarungan analytical minds yang menarik. Imbasnya tentu saja mempengaruhi orang-orang awam yang menjadi saksi, bagaimana mereka mempercayai semua teori sekaligus menjaga harapan positif dari kemalangan sekalipun.

Red Lights tersaji dalam tempo yang tepat, semakin gelap dan menyeramkan menjelang epilog yang ternyata menyimpan twist tersendiri. Tidak usah mencoba memahami seratus persen maksud filmmakers disini, cukup pahami garis besar dari hubungan antara Tom-Margareth-Simon saja. Penampilan gemilang para pendukung film ini setidaknya menjaga rasa penasaran anda dalam menyatukan kepingan puzzle misteri yang tersebar. What you have to believe that anything’s possible. It’s not wrong either to accept the fact that possession might lead to certain mental powers especially if you had ever experienced it yourself.

Durasi:
113 menit

Worldwide Box Office:
$8,513,616 till August 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 14 Oktober 2011

KILLER ELITE : Tugas Politik Wajib Pensiunan Pembunuh

Quotes:
Hunter: I gotta cover my expenses.
Danny Bryce: You and I got a lot in common.


Storyline:
Setelah tugas membunuh seorang pria di depan anaknya sendiri di Mexico, Danny bertekad berhenti dan memulai hidup barunya bersama Anne. Sayangnya di Australia, Sheikh Amr menugaskannya untuk menyelesaikan misi gagal mentornya yang kini dipenjara, Hunter. Bersama dengan Davies dan Meier, Danny mulai memburu tiga petugas SAS untuk pengakuannya. Paris, London sampai Asia Tengah, Danny harus bermain kucing-kucingan dengan pemimpin kelompok militer rahasia, Spike sebelum benar-benar keluar dari permainan hidup matinya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi secara keroyokan oleh Omnilab Media, Ambience Entertainment, Current Entertainment, Film Victoria, International Traders, Open Road Films, Palomar Pictures, Sighvatsson Films dan Wales Creative IP Fund.

Cast:
Mengawali karir aktornya lewat Lock, Stock and Two Smoking Barrel (1998), Jason Statham berperan sebagai Danny
Pertama muncul di usia 23 tahun lewat serial televisi Rockliffe's Babies (1987), Clive Owen bermain sebagai Spike
Robert De Niro sebagai Hunter
Dominic Purcell sebagai Davies
Aden Young sebagai Meier
Yvonne Strahovski sebagai Anne

Director:
Gary McKendry cuma pernah menangani film pendek berjudul Everything in This Country Must (2004) sebelumnya.

Comment:
Jason Statham mungkin sebuah nama yang membosankan bagi saya karena nyaris selalu tampil stereotype, tapi tidak halnya dengan Robert De Niro dan Clive Owen yang selalu memuaskan dalam peran-perannya. Menggabungkan ketiganya dalam sebuah film aksi yang diembel-embeli “berdasarkan kisah nyata” yang tertuang dalam buku buah pena Ranulph Fiennes merupakan nilai jual utama bagi film yang skripnya dikerjakan oleh Matt Sherring ini.
Statham biasa dikenal sebagai pembunuh “super” yang mampu menghabisi siapapun juga yang menghadang jalannya, DeNiro biasa melontarkan monolog ataupun dialog yang penuh arti didukung dengan ekspresi khasnya sedangkan Owen biasa dikenali oleh penjahat tangguh yang licin. Ketiganya memang mampu memenuhi rasa dahaga anda dengan aksi-aksinya tapi entah mengapa saya merasa tidak ada ikatan yang kuat dengan penonton sehingga “mengikuti” wajahnya saja yang diingat bukan nama-nama mereka.

Debut penyutradaraan McKendry terbilang tidak mengecewakan. Gayanya menyajikan action thriller yang maskulin ini cukup meyakinkan walaupun sedikit terkesan old-fashioned layaknya tahun 80an, bisa jadi demi menyiasati bujet yang tidak terlalu tinggi ini. Serentetan adegan tembakan, pemukulan, kejar-kejaran mobil hingga pembunuhan sadis dijamin akan memuaskan anda terlebih pada satu sekuens dimana Statham dan Owen saling beradu mulut dan fisik sekaligus.
Plot cerita yang didasarkan oleh “The Feather Man” ini menawarkan sejumlah twist yang unpredictable sekaligus berbagai subplot yang saling kait-mengait. Membuat anda mereka-reka di sepanjang film, apa sesungguhnya motivasi mereka jika dihadapkan satu sama lain. Si A yang seharusnya membunuh si B malah gagal karena terbunuh dulu oleh si C. Sayangnya tempo cepat yang dikembangkan tidak diimbangi oleh kinerja kamera Simon Duggan yang terasa shaky dan seringkali terlalu close up itu.

Killer Elite adalah film aksi yang menyenangkan penuh intrik yang menjadikan seluruh tokohnya abu-abu. Silakan pilih karakter siapa yang anda bela sejak awal. Membayangkan kejadian nyata yang ditata sedemikian rupa, tidak heran jika plotnya tergolong rumit dengan batasan-batasan yang sulit diterima akal sehat karena sudah melibatkan unsur politik. Yang jelas bagi insan semacam mereka, membunuh itu mudah tetapi sulit menjalani kenyataan hidup setelahnya.

Durasi:
116 menit

U.S. Box Office:
$21,646,929 till Oct 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 28 Mei 2011

LIMITLESS : Tablet Mengatasi Keterbatasan Diri

Quotes:
Vernon: You know how they say we can only access 20% of our brain?

Storyline:
Penulis Eddie Morra berada di ujung tanduk hidupnya. Karyanya yang tak kunjung selesai karena keterbatasan ide. Plus kekasihnya Lindy yang menganggapnya tidak memiliki masa depan apapun. Semua mulai berubah saat Eddie bertemu Vernon, ipar mantan istrinya yang menawarkan pil NZT yang dapat memaksimalkan kemampuan otak. Eddie pun mulai kecanduan dan mulai mengumpulkan mimpi-mimpinya secepat mungkin. Namun saat Vernon ditemukan tewas, Eddie pun tahu bahwa ada orang lain selain mereka yang menggunakan pil NZT tersebut dan mungkin mengintai keberadaannya sekarang. Benarkah tidak ada efek samping yang fatal?

Nice-to-know:
Shia LaBeouf awalnya dicasting tapi mengundurkan diri karena mengalami kecelakaan mobil yang mencederakan lengannya. Posisinya digantikan oleh Bradley Cooper.

Cast:
Merupakan satu dari dua proyeknya di tahun 2011 selain The Hangover : Part II, Bradley Cooper bermain sebagai Eddie Morra
Robert De Niro sebagai Carl Van Loon
Abbie Cornish sebagai Lindy
Andrew Howard sebagai Gennady
Anna Friel sebagai Melissa
Johnny Whitworth sebagai Vernon

Director:
Merupakan film keempat bagi Neil Burger yang mengawali karir penyutradaraannya via Interview with the Assassin (2002).

Comment:
Otak merupakan sumber dari segala kegiatan manusia semasa hidupnya. Bahkan setelah meninggal pun dipercaya otak masih dapat bekerja selama beberapa waktu. Premis film ini mengangkat fakta bahwa seseorang hanya dapat menggunakan 20% dari kemampuan otaknya. Lantas bagaimana jika kapasitas tersebut dapat ditingkatkan? Akankah orang tersebut akan memiliki “kelebihan” yang sebelumnya tidak pernah ia punyai?
Diangkat dari novel karya Alan Glynn, Leslie Dixon berhasil mengembangkan skripnya sedemikian rupa ke dalam sebuah tontonan penuh aksi yang mengisyaratkan seberapa jauh anda akan melangkah untuk menjadi “versi” diri anda yang lebih baik lagi. Memang tidak terlalu mengedepankan aspek sains fiksinya mengenai asal muasal pembuatan pil tersebut tetapi lebih pada unsur thriller sederhana mengenai eksplorasi karakter manusia yang sangat beragam.








Penampilan Cooper teramat menarik disini. Karakter Eddie Morra dibawakannya dengan cool dan karismatik. Transformasinya dari seorang penulis gagal menjadi analisa finansial ahli sangat terlihat dimana perubahan menyeluruh terlihat dari gaya berbicara dan bahasa tubuhnya saat berhadapan dengan orang-orang di sekitarnya. Sejak menit awal, dijamin anda akan langsung menyukai tokoh utama ini dan peduli pada perjalanannya yang unik itu.
Di luar karakter Eddie memang terkesan tambahan saja. Namun jangan pernah mengesampingkan nama DeNiro yang menjaga pesonanya sebagai pebisnis wahid Carl Van Loon yang digambarkan ambisius sekaligus perfeksionis. Cornish dan Friel memberikan kontribusi sendiri sebagai dua tokoh utama wanita disini terlepas dari terbatasnya scene yang melibatkan mereka. Terakhir, akting Whitworth di prolog film cukup mencuri perhatian sebagai Vernon yang mengenalkan anda pada NZT tersebut.








Sutradara Burger memang berhasil menjaga intensitas cerita tetap tinggi hingga menit terakhir. Namun freestylenya terkadang menyebabkan sinematografi terasa tidak maksimal sehingga scene-scene yang memacu adrenalin (adegan perkelahian atau kejar-kejaran) menjadi agak shaky dan out of focus. Meski demikian keberanian Burger patut diacungi jempol dalam menyajikan berbagai angle kamera termasuk opening filmnya yang menuntun mood penonton dengan sukses.
Terlepas dari sisi logika yang memicu banyak pertanyaan dan ending yang terlalu bersahabat layaknya film Hollywood, Limitless merupakan thriller memuaskan yang berhasil menghibur tanpa henti dan membuat anda berpikir andai saja hal serupa dapat diwujudkan di dunia nyata. Bisa jadi dunia yang jauh lebih baik akan tercipta. Namun jangan berangan-angan terlalu lama, tetaplah percaya dengan kemampuan otak anda sendiri dan niscaya anda akan dapat memaksimalkannya dengan lebih efektif lewat serangkaian pembelajaran dan pengalaman hidup itu sendiri.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$77,563,588 till May 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 16 Maret 2011

MACHETE : Balas Dendam Brutal Konspirasi Gelap

Quotes:
Padre Benito del Toro: It's not safe for you to be here.
Machete: I'm not looking for "safe".
Padre Benito del Toro: No, I mean it's not safe for me for you to be here!

Storyline:
Demi melindungi saksi dari gangster Torrez, Machete malah menyaksikan keluarganya dibantai dan rumahnya dibakar. 3 tahun kemudian, ia telah kembali dari kondisi fisik yang buruk dan disewa menjadi pengawal Senator John McLaughlin yang ambisius beserta kaki tangannya Booth yang culas. Belakangan Machete mengetahui bahwa ada hubungan khusus antara McLaughlin dengan Torrez yang merugikan orang Meksiko dan menguntungkan bandar pengedar obat bius dalam melewati perbatasan. Ia kemudian bertekad menumpas semua yang menghalanginya walau harus dibantu oleh Sartana yang menaruh perhatian padanya.

Nice-to-know:
Ide film ini muncul setelah trailer palsu yang dipertunjukan sebelum karya ganda Robert Rodriguez yaitu Grindhouse/Planet Terror (2007).

Cast:
Kerjasama kesekian dengan Robert Rodriguez yang diawali dalam Desperado (1995), Danny Trejo kini bermain sebagai Machete yang juga berarti pisau.
Robert De Niro sebagai Senator McLaughlin
Jessica Alba sebagai Sartana
Steven Seagal sebagai Torrez
Michelle Rodriguez sebagai Luz
Jeff Fahey sebagai Booth

Director:
Debut Robert Rodriguez sebagai sutradara diawali dalam El Mariachi (1992). Kali ini ia berkolaborasi dengan Ethan Maniquis yang sebelumnya lebih banyak bertindak sebagai editor.

Comment:
Sepertinya belakangan ini bioskop tanah air dijejali film-film kelas B setiap minggunya demi mengisi kekosongan slot paska “boikot”. Tidak masalah jika berkualitas tapi rasanya tidak demikian. Balik lagi ke masalah selera, bukan? Film ini contohnya menuai banyak review yang positif dari publik internasional dimanapun ditayangkan. Namun sayangnya tidak bagi saya dan saya memiliki alasan untuk itu.
Ciri khas film karya Rodriguez adalah kejujurannya. Jujur dalam segalanya termasuk plot cerita yang straight-forward dan adegan sadis yang sangat gamblang. Tidak heran jika anda akan selalu menemui hal-hal demikian dalam beberapa filmnya dan mulai menyukai gayanya itu. Namun saya melihat esensi yang hilang dalam penggarapannya kali ini.
Awal cerita dibuka dengan menjanjikan dimana Sang Machete dikhianati habis-habisan hingga hanya satu hal yang kemudian ada di kepalanya yaitu balas dendam. Dan itu tercermin dari aksinya di menit-menit awal yang sangat brutal. Kemudian film melebar dengan berbagai subplot yang sebetulnya menarik tapi saya tidak merasa penekanannya pas dalam merekonstruksi cerita yang diinginkan terutama banyaknya karakter antagonis dan pendamping protagonis yang muncul.
Pendamping protagonis (atau lebih tepat disebut eye-candy) kebetulan disini adalah 2 wanita yaitu Jessica dan Michelle. Jujur saja Jessica bukan pilihan terbaik dimana karakter Sartana terasa cukup dominan dan mengganggu dengan polah tingkah dan aksennya. Kemunculan Rodriguez juga seperti saklar on-off dimana sempat dikabarkan tewas tapi muncul kembali memasuki akhir. Sedangkan di jajaran antagonis kita punya 3 nama yakni DeNiro, Fahey dan Seagal. Silih berganti memperlihatkan taringnya di sepanjang durasi tetapi pada akhirnya tidak memberikan pertarungan berarti yang dinanti-nanti pada klimaksnya.
Selain karakterisasi yang terasa lemah, keterlibatan unsur politik dalam cerita sedikit dipaksakan. Seakan duet penulis Robert dan Alvaro Rodriguez yang juga bersepupu itu berusaha menjalin cerita dengan lebih smart dan kompleks. Namun saya katakan dalam film sejenis hal tersebut tidak diperlukan karena penonton tidak akan peduli lagi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu ending yang juga ternyata antiklimaks.
Satu-satunya yang menghibur dalam Machete adalah akting Danny Trejo yang luar biasa di usia 64 tahun! Aksinya yang kejam plus berbagai sex scenes yang dilakukan di sepanjang misinya menjadikannya seorang lelaki sejati karena masih melindungi wanita dan kaum-kaum tertindas yang senasib dengannya. Di luar itu, film ini membosankan dengan tempo lambat plus kekurangan-kekurangan yang tersebut di atas.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$26,589,953 till Nov 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 08 Januari 2011

LITTLE FOCKERS : Konflik Mertua Menantu Serta Nakalnya Anak-anak

Quotes:
Jack Byrnes: I'm watching you.
Greg Focker: Yeah, well I have eyes too, so I'll be watching you... watching me.

Storyline:
Beberapa tahun berlalu dari pertemuan dua keluarga besan yang menghebohkan, Greg dan Pam Fockers telah dikaruniai sepasang anak kembar yaitu Samantha dan Henry. Sekali lagi Kakek Jack mengkhawatirkan hegemoni keluarga Byrnes dimana menantu pertamanya, Dr. Bob telah gagal dan kali ini menyoroti kapabilitas Greg sebagai penerusnya. Kedatangan Jack dan Dina dalam menghadiri ultah si kembar menimbulkan kericuhan yang tak terelakkan. Terlebih kemunculan sahabat baik Greg, Kevin yang juga mantan Pam. Apakah Greg mampu menjawab tantangan Jack untuk menjadi "The Godfocker."?

Nice-to-know:
Dustin Hoffman sedianya mendapat porsi yang lebih banyak sebagai Bernie Focker, tetapi setelah mengetahui terjadi pergantian sutradara lalu menolaknya apalagi disertai perubahan skrip. Akhirnya Universal berhasil membujuh Hoffman untuk terlibat dalam 6 scene.

Cast:
Selain melanjutkan peran Jack Byrnes, Robert De Niro juga tampil dalam Stone dan Machete di tahun 2010 ini.
Sempat mengisi suara Bernard dalam Megamind kemarin, Ben Stiller kembali meneruskan tokoh Gaylord “Greg” Focker yang seorang perawat itu.
Owen Wilson sebagai Kevin Rawley
Dustin Hoffman sebagai Bernie Focker
Barbra Streisand sebagai Roz Focker
Blythe Danner sebagai Dina Byrnes
Teri Polo sebagai Pam Focker
Jessica Alba sebagai Andi Garcia
Laura Dern sebagai Prudence

Director:
Paul Weitz memulai karir sutradaranya lewat American Pie (1999) yang sangat tersohor di kalangan anak muda itu.

Comment:
10 tahun berlalu sejak kemunculan pertama Meet The Parents yang dilanjutkan Meet The Fockers 4 tahun kemudian telah membawa banyak perubahan. Salah satunya adalah evolusi komedi berkualitas yang sayangnya sangat sulit dipertahankan dewasa ini. Kreatifitas menjadi isu yang paling penting dan kali ini tugas tersebut diemban oleh duet penulis John Hamburg dan Larry Stuckey yang menggantikan Greg Glienna dan Mary Ruth Clarke.
Sekali lagi film berfokus pada hubungan Jack dan Greg seperti MTP. Banyak sekali pengulangan slapstick interaksi fisik yang “menjurus” termasuk pertukaran dialog sinis di antara mereka. Terkadang kita lelah mengikuti perseteruan keduanya yang saling mencurigai bukan karena tidak menarik, tetapi karena kita pernah melihat hal serupa sebelumnya!
DeNiro dan Stiller sendiri masih konsisten membawakan karakter mertua dan menantu seperti biasanya. Di luar mereka rasanya cukup menyayangkan nama-nama kawakan Danner, Streisand, Hoffman menjadi tempelan belaka. Bahkan Polo juga seakan tidak terlalu digubris kali ini. Wilson masih sama dengan celotehan sengau dan tingkahnya yang flamboyan. Kehadiran Alba sedikit mengintrusi plot cerita tapi tidak cukup berpengaruh kuat terhadap konflik itu sendiri.
Sutradara Weitz menghadirkan scene-scene komikal yang cenderung over-the-top. Sepertinya ia tidak tahu kapan harus berhenti dan memberi jeda yang cukup untuk membangun elemen lain di luar komedi itu sendiri yaitu kekuatan cerita! Diperparah lagi dengan arah film yang mudah sekali ditebak endingnya dan repeated humor scenes seperti yang sudah saya singgung di atas.
Pemilihan judul Little Fockers juga terasa ambisius karena Sam dan Henry bahkan tidak terlalu berkontribusi apapun untuk dapat disebut sentral cerita. Daisy Tahan dan Colin Baiocchi rasanya juga tidak cukup manis ataupun nakal untuk membuat penonton gemas pada mereka. Early Human School hanya merupakan ide yang kreatif tapi tidak dieksekusi dengan maksimal. Jika konsepnya sendiri sudah salah, lantas apa lagi yang berusaha dijual? Enough is enough. I don’t wanna see the fourth Fockers coming up whatsoever the title would be.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$102,576,190 till early 2011.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 14 November 2010

EVERYBODY'S FINE : Perjalanan Orangtua Mengunjungi Anak-Anaknya

Quotes:
Rosie-We could just talk to mom.
Frank Goode-Oh, but you couldn't just talk to me?
Rosie-Well she was a good listener, you were a good talker.
Frank Goode-Well so that's good, we made a good team.

Storyline:
Frank Goode hidup sendirian di Elmira, New York selepas kematian istrinya beberapa bulan yang lalu. Kesepian yang melanda setelah pensiun dari pabrik, Frank bertekad mengunjungi keempat anak-anaknya yang ia pikir sudah sukses dan mandiri masing-masing David yang seniman di New York City, Amy yang eksekutif periklanan di Chicago, Robert yang konduktor musik di Denver dan Rosie yang penari di Vegas. Nyatanya keadaan asli berbeda dari bayangan Frank. Akankah interaksi anak dan orangtua akan tetap terjaga keharmonisannya terlepas dari jam kehidupan yang terus berdetak?

Nice-to-know:
Coba perhatikan karakter Frank yang bekerja di bidang kabel telepon selalu menggunakan telepon berkabel. Sedangkan anak-anaknya memakai handphone alias ponsel nirkabel.

Cast:
Tahun 2008 lalu muncul dalam 2 film yang tidak terlalu booming yaitu Righteous Kill dan What Just Happened, Robert DeNiro kali ini bermain sebagai Frank Goode yang memiliki penyakit jantung dan di usia tua berusaha mempotretkan kehidupan anak-anaknya yang sudah dewasa sesuai imajinasinya.
Drew Barrymore sebagai Rosie
Kate Beckinsale sebagai Amy
Sam Rockwell sebagai Robert

Director:
Sempat menyutradarai Nanny McPhee (2005) sebelumnya, Kirk Jones maju dengan film ketiganya ini yang bergenre family drama.

Comment:
Jika melihat posternya sepintas kita akan mengharapkan drama keluarga yang dibumbui komedi dengan latar belakang Natal dan sejenisnya. Nyatanya tidak seperti itu. Suasana gloomy yang cukup depresif mewarnai sepanjang plot cerita dieksekusi. Tunggu dulu. Jangan artikan ini sebagai sesuatu yang negatif karena film ini justru sangat mendekati kenyataan sehari-hari dari sebuah kehidupan yang terus bergulir tanpa henti.
Seringkali kita tidak menyadari bahwa seiring pertambahan umur, esensi dari keluarga itu sedikit mengalami perubahan, beberapa di antaranya bahkan hilang begitu saja dalam arti para anggotanya benar-benar hidup terpisah satu sama lain. Film ini adalah salah satu contohnya. Sutradara Jones dengan cerdas menghadirkan sinematografi yang lembut dengan alunan musik minimalis untuk menceritakan subplot demi subplot dengan lancar. Rasanya kita semua akan jatuh hati pada karakter Frank yang malang. Acungan jempol bagi DeNiro disini dalam memerankan pria tua yang kesepian dan hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Tidak heran jika ia diganjar piala Best Actor dalam Hollywood Film Award 2009 yang lalu Di luar DeNiro, memang tidak terlalu cemerlang tetapi Barrymore, Beckinsale dan Rockwell memberikan warna tersendiri dengan penokohan yang unik sebagai ketiga anak Frank.
Saya sebagai salah satu dari anak-anak yang kesemuanya selalu mendapat perhatian lebih dari kedua orangtua kami bisa memahami ketakutan Frank. Orangtua kerapkali melihat anak-anaknya dalam sosok yang jauh lebih muda selayaknya bertahun-tahun silam sehingga terlalu khawatir dan melupakan fakta bahwa anak-anaknya sudah dewasa dan bisa hidup mandiri. Namun ikatan orangtua dan anak itu sendiri memang tidak akan terpisahkan dengan cara apapun juga. Waktu demi waktu terkadang membangkitkan kenangan demi kenangan yang akan membuat kita bahagia tersenyum ataupun menangis terharu mengingat apa yang pernah terjadi dalam keluarga. (Mudah-mudahan review ini tidak diartikan sebagai curhat pribadi saya). Everybody's Fine adalah perjalanan seorang ayah yang berusaha mencari jawaban akan makna hidupnya di usia tua. Drama keluarga yang sangat bermakna dan menyentuh sanubari. It's more than just fine!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$8,855,646 till end of 2009.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 09 Maret 2009

RIGHTEOUS KILL : Kiblat Dua Detektif Uzur Menangani Kasus Pembunuhan Berantai

Quotes:
Turk-You don't become a cop because you want to serve and protect. You join the force because they let you carry a gun and a badge. You do it because you get respect.

Cerita:
Dua detektif NYPD yang beranjak tua, Turk dan Rooster bersahabat sejak dulu dan menghadapi pembunuh serial yang melakukan pembunuhan terhadap pelaku kriminal yang lolos dari hukum. Mereka punya problema masing-masing dan saat bekerja dengan tim yang lebih muda, Perez dan Riley, ketegangan tidak terelakkan terlebih saat Turk tinggal dengan mantan kekasih Perez, Karen yang juga seorang detektif investigasi. Apa yang sebetulnya melatar belakangi pembunuh serial tersebut?

Gambar:
Selayaknya drama bertemakan kepolisian, gambar dan setting seringkali berpindah-pindah disesuaikan dengan ciri khas investigasi.

Act:
Pelaku film ini semuanya memiliki nama di kancah perfilman Hollywood sehingga kaliber aktingnya merupakan jaminan bagi film itu sendiri.
Robert De Niro sebagai Turk.
Al Pacino sebagai Fisk.
John Leguizamo sebagai Perez.
Donnie Wahlberg sebagai Riley.
Carla Gugino sebagai Karen.

Sutradara:
Sebagai orang yang pernah membesut drama romantika reporter Up Close & Personal (2006), Jon Avnet bukan orang baru dalam kancah produksi film Hollywood. Beberapa genre film yang pernah dikerjakannya menambah supervisinya terhadap sebuah film.

Komentar:
Jaminan dua nama besar De Niro dan Pacino tidak cukup berhasil mengangkat film ini. Sepintas alur film ini seperti terkesan "malas" untuk bercerita dengan teratur karena dibangun dengan struktur yang sudah bisa ditebak. Ending film yang seharusnya menjadi klimaks menjadi tidak terlalu penting lagi. Jangan bandingkan film ini dengan reuni kedua aktor tersebut dalam HEAT karena hanya membuat RIGHTEOUS KILL terlihat sangat buruk dan penuh kemustahilan untuk bisa dinikmati secara utuh sebagai sebuah film yang menjual cast.

Durasi:
95 menit

U.S. Box-Office:
$40,076,438 till end of 2008

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!