XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label martial arts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label martial arts. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2012

BLADES OF BLOOD : Duel Pendekar Pemenang Kekuasaan

Tagline:
Their destiny is drenched in blood!


Storyline:
1952, pendekar Lee Mong-hak menyatakan niatnya untuk menyelamatkan Korea dari serangan Jepang bahkan bersedia mengkhianati raja untuk mencapai tujuannya itu. Kondisi politik yang kacau, pemberontakan yang tidak terkendali pada akhirnya menghadapkan dua jago pedang dalam situasi berdarah penuh kekerasan demi mempertahankan negara tercinta meski harus berkorban nyawa sekalipun.

Nice-to-know:
Film berjudul asli Goo-reu-meul beo-eo-nan dal-cheo-reom ini sudah rilis di Korea Selatan pada tanggal 28 April 2010 yang lalu.

Cast:
Baek Seong-hyeon sebagai Gyeon-Ja
Cha Seung-won sebagai Lee Mong-Hak
Kim Chang-Wan sebagai Son-Jo
Han Ji-hye sebagai Baek-Ji
Hwang Jeong-min sebagai Hwang Jeong-Hak
Lee Hae-Yeong sebagai Han Pil-joo

Director:
Lee Jun-Ik mulai angkat nama setelah menyutradarai The King and the Clown (2005).

Comment:
Berapa banyak film adaptasi komik Korea yang pernah anda dengar sebelumnya? Salah satu dari terbatasnya jumlah tersebut adalah “Like the Mon Escaping from the Clouds” karya Park Heung-yong yang bercerita tentang perjuangan kasta pada abad ke-16 dimana berbagai kelompok kelas bawah harus terlibat pertarungan hidup dan mati dalam memperjuangkan keadilan dan persamaan hak yang menyeluruh di setiap lapisan.

Sentral cerita berada pada pertemuan tokoh Hwang dan Gyeon. Sempat tercipta beberapa momen yang lumayan menarik di antara mereka, tapi sayangnya tidak banyak yang tersisa selain itu. Sekuens permainan pedang yang menarik adalah hal yang mungkin paling anda tunggu-tunggu disini. Namun jika tidak didukung oleh pengembangan karakter yang baik terutama para tokoh utama, maka semua itu akan terasa sia-sia. Romantisme yang terbangun pun tergolong tempelan saja.
Sutradara Lee Jun-ik menyuguhkan adegan aksi pertarungan gerak pedang yang indah dengan warna pucat dominan. Sedikit mengingatkan anda akan Zatoichi : The Blind Swordsman (2003) yang mengambil pendekatan serupa. Tata kostum dan setting yang terjaga dengan baik juga menjadi nilai plus tersendiri dalam menghidupkan situasi masa silam. Terlepas dari penggunaan judul yang terkesan brutal, nyatanya tidak banyak darah tertumpah dalam film ini.

Blades of Blood sesungguhnya dapat diakui sebagai salah satu film Korea dengan production value yang unggul apalagi didukung dengan visualisasi yang cukup memanjakan mata. Menghibur secara ringan tetapi belum cukup membangun emosi penonton yang diyakini bisa merasa tersesat di pertengahan cerita. Jika demikian maka endingnya tidak terlalu penting lagi karena momentum yang hilang atau bahkan tidak sempat terbangun maksimal. Amat disayangkan!

Durasi:
111 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 15 Oktober 2011

WARRIOR : Bela Diri Campuran Drama Kakak Beradik

Quotes:
Paddy Conlon: The devil you know...
Tom Conlon: ...is better than the devil you don't.


Storyline:
Tommy Riordan adalah tentara Amerika yang melarikan diri dari medan perang setelah insiden yang menimpa rekan-rekannya putuskan menekuni seni bela diri campuran. Ia meminta ayahnya Paddy Conlon yang juga mantan petinju untuk melatihnya. Sementara itu, Brendan Conlon yang sudah hidup bahagia bersama istrinya Tess mengalami kesulitan finansial hingga nekad ikut serta dalam kejuaraan Sparta yang hanya diikuti 16 petarung terbaik dari seluruh dunia. Siapa yang akhirnya keluar sebagai pemenang?

Nice-to-know:
Alternatif bagian pembuka film yang disyut di Moundsville State Prison, West Virginia yang memuat adegan karakter Tommy Riordan bertarung di dalam bui terpaksa dibuang dari film.

Cast:
Aktor Australia ini mulai dikenal luas sejak membintangi Star Wars: Episode II - Attack of the Clones (2002), Joel Edgerton bermain sebagai Brendan Conlon
Sebelumnya mencuri perhatian dalam Inception (2010), Tom Hardy berperan sebagai Tommy Conlon
Nick Nolte sebagai Paddy Conlon
Jennifer Morrison sebagai Tess Conlon
Frank Grillo sebagai Frank Campana
Kevin Dunn sebagai Principal Zito

Director:
Merupakan feature film kelima Gavin O’Connor sejauh ini yang diawali dengan Comfortably Numb (1995).

Comment:
MMA adalah akronim dari Mixed Martial Arts, sebuah ajang yang mempertemukan segala disiplin ilmu bela diri dalam sebuah kompetisi satu lawan satu. Tema yang juga mendasari beberapa film kelas B, sebut saja Bloodsports (1988) yang pernah melejitkan nama Jean Claude Van Damme atau yang terbaru Never Back Down (2008) yang dibintangi Sean Faris dan Cam Gigandet dimana fokus hanya terjadi pada pertarungan di arena itu sendiri.
Kini trio Gavin O'Connor, Anthony Tambakis dan Cliff Dorfman yang mengerjakan skripnya memang masih menggunakan formula yang tidak jauh berbeda tetapi memperkuat unsur drama sebagai latar belakang para tokohnya. Hasilnya? Sebuah drama action berkelas tapi tidak berlebihan yang mengkhususkan pada hubungan ayah-anak dan abang-adik di antara Paddy Conlon, Brendan Conlon dan Tommy Riordan. Belum lagi hubungan pelatih-murid dan suami-istri yang mendapat perhatian juga.

Hardy, Edgerton dan Nolte menyuguhkan performa maksimal. Nolte digambarkan sebagai pemabuk menyedihkan yang meratapi semua kesalahan masa lalunya. Adegan berdialog dengan Brendan atau Tommy terasa miris diikuti karena kolaborasi rasa penyesalan dan penolakan itu. Emosional tetapi tidak terkesan cengeng. Sedangkan sekuens Hardy dan Edgerton dihadirkan secara bergantian dengan kontradiktif, Tommy yang ekstrovert berbanding terbalik dengan Brendan yang introvert.

Sebagai sutradara, O’Connor berhasil menyatukan semua kepingan emosional yang tertangkap dari akting brilian para castnya. Mark Isham juga memberikan kontribusi musik latar yang luar biasa terlebih pada adegan closing yang bisa menghancurkan perasaan anda dalam sekejap. Sepintas sinematografi milik Masanobu Takayanagi akan mengingatkan anda pada The Fighter (2010) (kebetulan bertema serupa) yang membagi scenes dalam beberapa frame.
Porsi drama yang besar di paruh pertama film tidak membuat film ini membosankan karena penonton diajak untuk benar-benar mengenal Tommy dan Brendan Conlon. Sedangkan paruh kedua yang kental dengan aroma persaingan sukses menyajikan pertarungan yang terlihat natural dan meyakinkan. Sebagian dari para pemeran pendukung merupakan atlet fighting yang asli termasuk Koba, Mad Dog, Midnight dll. Tak ketinggalan dua komentator Bryan Callen dan Sam Sheridan yang ‘asyik’ beradu mulut!

Anda tidak perlu menyukai seni beladiri untuk jatuh cinta dengan film ini. Warrior adalah sebuah drama bro-mance yang nyaris sempurna. Contoh sebuah keluarga disfungsi dalam balutan maskulinitas bagaimana karakter Tommy dan Brendan menerjemahkan sakit hati mereka dengan caranya masing-masing. Tentukanlah pada siapa anda berpihak di antara keduanya. Kombinasi jantung berdebar-debar menyaksikan pertarungan seru dengan perasaan tercabik-cabik mengikuti penuturan konfliknya dalam durasi panjang bisa berefek samping menggenangnya air mata di pelupuk mata anda tanpa disadari. And the winner is..

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$13,427,854 till Oct 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 05 Februari 2011

SHAOLIN : Kejatuhan Diri Karena Kekuasaan Kekayaan

Tagline:
In a land torn by strife, the righteous monks of Shaolin stand as a beacon of hope for the oppressed masses.


Storyline:
Berbagai kerajaan dengan panglimanya masing-masing berseteru satu sama lain untuk menguasai Cina Daratan. Salah satu diantaranya adalah Jenderal Hou Chieh yang arogan dengan asistennya Tsao Man yang bahkan mengejar korbannya sampai ke kuil Shaolin. Tanpa kenal ampun Hou Chieh selalu menghabisi korban-korbannya sekaligus bermain politik kotor meski sudah diperingatkan istrinya. Pada satu ketika, Tsao Man mengkhianati Hou Chieh bahkan menyebabkan putri kecilnya, Nan tewas. Sejak saat itu pandangan hidup Hou Chieh berubah dan ia mulai menjalani hidup di Shaolin sebagai pertapa. Namun apakah Tsao Man yang bekerjasama dengan pihak asing akan tinggal diam mengetahui mantan kakaknya itu masih hidup?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Beijing Silver Moon Productions, China Film Group, Emperor Motion Pictures, Huayi Brothers Media dengan estimasi biaya 29 juta dollar.


Cast:

Memulai karirnya sebagai aktor serial televisi Sou hat yi (1982) di usia 21 tahun, Andy Lau kali ini kebagian peran Jenderal Hou Chieh yang ambisius hingga bertobat menjadi pertapa Shaolin.

Sempat bermain dalam The Stool Pigeon dan Hot Summer Days di tahun 2010, Nicholas Tse disini sebagai Tsao Man.

Fan Bingbing sebagai Istri Hou Chieh
Jackie Chan sebagai Koki
Jacky Wu
sebagai Jing Neng

Yu Xing sebagai Jing Kong

Director:
Benny Chan
mengawali karir penyutradaraannya lewat miniseri televisi, Suet san fei wu di tahun 1985.


Comment:
Mungkin bagi anda yang masih ingat dengan Shaolin Temple di tahun 80an yang dibintangi Jet Li, film ini merupakan remake nya walau tidak persis sama dan melakukan penekanan yang sedikit berbeda. Dan harus saya katakan, peran utama yang dipercayakan pada Andy Lau terbayar tuntas. Sebab transformasi karakter yang dimainkan Hou Chieh dari jahat ke baik sangat menyita energi dan ia melakukannya dengan luar biasa terlepas dari kondisi fisik yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi.

Sebagai antagonis, Nicholas Tse memainkan karakter Tsao Man dengan penampilan yang dingin dan keji, cukup berhasil untuk memancing kebencian penonton padanya. Meski hanya berstatus “special appearance” rasanya Jackie Chan tetaplah akan menjadi favorit anda karena karakter Koki berhasil mencairkan suasana dengan begitu jenaka di setiap scene kemunculannya. Sayangnya di luar mereka bertiga, supporting cast terasa kurang digunakan secara maksimal termasuk Fan Bingbing yang hanya muncul sekitar lima scene padahal kesemuanya merupakan aktor-aktris kaliber yang dimiliki Hongkong.

Sutradara Benny Chan menunjukkan kinerja terbaiknya dengan mengedepankan unsur drama yang dikombinasikan dengan aksi sehingga tidak monoton. Kekurangannya adalah
gambar-gambar lanskap yang tidak disorot secara utuh ataupun laju film yang terkadang terasa dipercepat untuk menyiasati durasi yang semakin melebar. Namun Benny mampu memaksimalkan bujet besar dengan penggunaan spesial efek yang sesuai pada tempatnya tanpa berusaha terlalu destruktif dalam penghancuran kuil Shaolin pada bagian endingnya.
Sebagai tontonan penyambut Imlek 2011, Shaolin memang memiliki banyak keunggulan yang patut diperhitungkan. Terutama filosofi Buddhist yang teramat kental. Bagaimana obsesi dan keserakahan akan kekuasaan dan kekayaan dapat membuat seseorang berbuat apapun juga walau harus terjerumus ke tempat yang teramat rendah sekalipun. Bukankah hukum karma berjalan secara adil dalam kehidupan ini?

Durasi:
125 menit


Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 29 September 2010

LEGEND OF THE FIST : Kembalinya Chen Zhen Pahlawan Bertopeng

Original title:
Jing wu feng yun: Chen Zhen

Storyline:
7 tahun berlalu paska kematian Chen Zhen yang menemukan siapa pelaku penembakan gurunya Huo Yuanjia pada saat tentara Jepang menguasai Shanghai. Seorang pria misterius tiba dari luar negeri dan segera menjadi kawan dari bos mafia Liu Yutian. Pria tersebut sesungguhnya adalah penyamaran Chen Zhen yang bertekad mengobrak-abrik gerombolan penjahat yang berniat membentuk koalisi dengan Jepang. Dengan topeng dan seragam yang menutupi identitasnya, Chen Zhen beraksi setiap malam menyelamatkan orang-orang tidak bersalah yang diburu tentara Jepang.

Nice-to-know:
Merupakan versi terbaru dari film klasik Fist of Fury (1972).

Cast:
Donnie Yen sebagai Chen Zhen
Shu Qi sebagai Kiki
Anthony Wong sebagai Liu Yutian
Shawn Yue
Yasuaki Kurata sebagai Ayah Chikaraishi
Ryu Kohata sebagai Colonel Chikaraishi

Director:
Film ke-38 bagi Andrew Lau Wai Keung yang mengawalinya lewat Lian ai de tian kong (1984).

Comment:
Siapa yang tidak mengenal film lawas legendaris Fist Of Fury yang melejitkan nama Bruce Lee pada tahun 1972? Sudah diremake berkali-kali dengan berbagai style termasuk yang paling ternama salah satunya adalah Fist Of Legend (1994) yang dibintangi Jet Li. Kini di abad 21 bisa disebut era nya Donnie Yen untuk film-film martial arts Hongkong dan giliran Andrew Lau lah yang mengarahkannya dalam versi terbarunya ini.
Chen Zhen sendiri sesungguhnya merupakan karakter fiktif. Dan entah mengapa saya lebih merasa karakter ini justru lebih terinspirasi oleh Green Hornet dengan topeng dan jubah hitam yang dikenakannya. Belum lagi polisi-polisi bermuka dua Huang Bo dan rekan-rekannya yang terasa komikal itu. Seakan menegaskan unsur komedi dan aksi yang mendasari film ini.
Donnie Yen memang terampil sebagai Chen Zhen. Kemampuan bertarungnya dengan tangan kosong ataupun double-stick masih memukau terutama pada bagian pembuka dan penutup film. Sayangnya hanya itu yang bisa ia perlihatkan, tidak ada kedalaman emosi seperti layaknya Ip Man. Aktingnya terasa datar dan hanya menuntaskan apa yang harus ia lakukan saja.
Shu Qi bermain menarik sebagai Kiki dengan pesona penyanyi dan penjiwaan wanita yang harus berdiri di dua pihak sekaligus. Sama halnya dengan Anthony Wong yang berperan seperti biasanya sebagai konglomerat pemilik night club Liu Yutian. Jika dipikirkan, terlalu banyak karakter yang lalu lalang dalam film ini dan tidak terlalu memberikan kontribusi yang bermakna dalam membangun konflik yang sekadar mengambang.
Sutradara sekaliber Andrew seperti kehilangan sentuhan terbaiknya yang kebingungan menentukan mood film mau diarahkan kemana. Padahal skrip sudah ditulis oleh empat orang termasuk Gordon Chan yang juga bertindak sebagai produser kali ini. Meski demikian kinerjanya menghadirkan scene-scene berkemilau dalam suasana Shanghai tahun 1920an patut diacungi jempol.
Selebihnya Legend Of The Fist : The Return of Chen Zhen hanyalah film aksi biasa yang tidak menunjukkan kedalaman emosi apapun dan banyak menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab. Satu-satunya yang cukup heroik dan patut diingat adalah semboyan “the Chinese are not the sick men of Asia" yang berulangkali dikumandangkan agar bangsa berkulit kuning tidak diremehkan begitu saja di peta dunia terutama bangsa Barat pada khususnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$32,978 till May 2011 (limited)

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 27 Juni 2010

THE LEGEND IS BORN IP MAN : Asal Usul Tokoh Wing Chun Muda

Storyline:
Setelah kematian gurunya Chan Wah Shun di Foshan, Ip Man pergi ke Hongkong untuk belajar. Di sana ia diperkenalkan pada teori Wing Chun dari Leung Pik yang memberinya kemajuan besar. Ketika ia kembali ke Foshan, Ip Man jatuh cinta dengan putri wakil walikota Cheung Wing-shing tetapi ditentang oleh ayahnya. Sementara itu gaya Wing Chun ala Ip Man juga dikatakan menyimpang dari bentuk asalnya terutama dari saudaranya Ip Tin Chi. Bagaimana ia menghadapi semua tantangan ini dan menjadi salah satu guru kungfu paling dihormati sepanjang masa?

Nice-to-know:
Berjudul asli Ye Wen qianzhuan.

Cast:
Dennis To sebagai Ip man
Fan Siu-Wong sebagai Ip Tin Chi
Sammo Hung Kam-Bo sebagai Chan Wah-shun
Huang Yi sebagai Cheung Wing-shing

Director:
Herman Yau tahun lalu cukup mencuri perhatian dengan Turning Point (2009).

Comment:
Jika satu film sukses sudah dibuatkan sekuelnya yang ternyata sukses juga maka bisa dipastikan akan ada lagi kelanjutan yang biasanya prekuelnya. Tak terkecuali dengan film yang mengangkat biografi guru kungfu legendaris pemilik aliran Wing Chun ini. Ip Man pun dikisahkan sejak masa mudanya. Problemnya adalah Ip Man sudah kadung kondang dengan nama Donnie Yen sehingga secara teori akan sulit menjual film ini.
Penggantinya adalah Dennis To, sang juara martial arts terbaru Hongkong yang memerankan Ip Man remaja. Secara postur dan penampakan, Dennis dapat dikatakan Donnie muda. Mirip sekali. Terima kasih pada tim kostum dan make-up yang mendadaninya sedemikian rupa. Namun dari akting, Dennis belum terlalu menonjol. Beruntung koreografi kungfunya cukup meyakinkan sehingga tidak mengecewakan. Aktor senior Sammo Hung dan Yuen Biao nyatanya cuma tampil sebagai pemeran pendukung. Yang cukup dominan malah Fan Siu Wong yang cukup berkarakter sebagai Ip Tin Chi. Kredit patut diberikan pada penampilan khusus Ip Chun yang merupakan putra asli Ip Man.
Fighting scene yang biasanya menjadi jualan film Ip Man kali ini sedikit kendor. Kebanyakan Ip Man remaja hanya berlatih tanding ataupun belajar. Memasuki pertengahan menjelang akhir barulah ada lawan seimbang dari kubu gangster Jepang era perang Sino-Japanese, itupun sudah bisa ditebak kemana arahnya. Satu hal yang menarik adalah duel antara Sammo dan Yuen di awal film dimana mata keduanya sempat ditutup saat memeragakan Wing Chun. Menarik!
Beruntung skrip Erica Lee diterjemahkan cukup baik oleh sutradara kawakan Herman Yau. Dengan demikian aspek-aspek lemah film ini dapat sedikit tertutupi dengan kemasan yang cukup menarik dari sisi sinematografi yang menggambarkan era yang dahulu sekali. Dari segi emosional yang menggerakkan penonton, The Legend Is Born rasanya belum mampu menyaingi Ip Man 1-2.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 24 Maret 2010

TRUE LEGEND : Legenda Kehidupan Dewa Pengemis Mabuk

Storyline:
Pada jaman dinasti Qing, Su Qi-Er merupakan pria kaya dengan kedudukan terhormat. Namun sebuah konspirasi yang diprakarsai Yuan Lie menjatuhkannya hingga nyaris mati. Beruntung istrinya, Ying tetap mendampingi walau harus kehilangan anak mereka yang dibawa oleh Yuan. Lewat berbagai pengobatan, Su berhasil sembuh dan mulai mempelajari ilmu beladiri dari Dewa Mabok dan Pertapa Tua secara misterius. Ying yang takut Su menjadi tidak waras pergi mencari Yuan untuk mendapatkan anak mereka kembali. Akankah Su mampu menantang Yuan yang menguasai cakar 5 racun?

Nice-to-know:
Kembalinya Yuen Woo Ping di kursi sutradara setelah 14 tahun absen.

Cast:
Vincent Zhao sebagai Su Qi-Er
Zhou Xun sebagai Yuan Ying
Michelle Yeoh sebagai Sister Yu
Andy On sebagai Yuan Lie
Jay Chou sebagai Dewa Wushu / Dewa Mabuk
Guo Xiaodong sebagai Ma Qingfeng
David Carradine sebagai Anton

Director:
Merupakan salah satu pesohor perfilman Hongkong, Yuen Woo Ping melakukan debut penyutradaraannya lewat Se ying diu sau (1978).

Comment:
Tampaknya cukup sulit menghasilkan film kungfu Mandarin yang berkualitas dari berbagai aspek belakangan ini. Mungkin yang paling masuk akal adalah mengangkat biografi tokoh legenda jaman dahulu seperti yang sudah dilakukan Donnie Yen dalam IP Man. Kali ini Yuen Woo Ping melakukannya dalam film yang membahas Su Qi-Er ini. Apakah hasil akhirnya sama? Rasanya tidak mungkin karena lain koki maka lain pula masakannya apalagi menggunakan bumbu yang juga berbeda.
Kelemahan film ini adalah jalan ceritanya yang sangat tipikal yaitu anggota keluarga yang terbunuh, balas dendam yang gagal, mengasingkan diri untuk berguru, berlatih bertahun-tahun hingga akhirnya sukses melakukan pembalasan. Belum lagi penggunaan spesial efek yang cukup kentara disana-sini terutama dalam fighting scenenya ditambah proses editing yang masih lemah.
Dari jajaran cast, Vincent Zhao merupakan salah satu idola saya di awal kemunculannya. Meski belakangan namanya tenggelam, kali ini merupakan kesempatan emas baginya. Saya anggap teknik beladirinya memang pantas sebagai Su tapi dari sisi penjiwaan masih belum terlalu maksimal. Andy On lewat karakter antagonis Yuan Lie mengerikan dari segi fisik dan rasanya akan cukup memorable di mata para penonton film kungfu beberapa tahun terakhir. Belum lagi kemunculan Jay Chou sebagai Dewa dari segala dewa kungfu! Yang juga menarik adalah dukungan nama-nama senior macam Gordon Liu, Michelle Yeoh ataupun David Carradine dengan peran yang sebetulnya tidak terlalu penting.
True Legend memang seperti mengisahkan beberapa chapter yang terkesan terpotong-potong sebagai sebuah film utuh. Namun aksi nonstop sepanjang nyaris dua jam rasanya akan cukup menyenangkan bagi anda apalagi disuguhi bermacam-macam lanskap buatan yang lumayan kreatif seperti tepi jurang, dermaga, kuil, padang rumput hingga arena gladiator sebagai pamungkasnya dipadukan dengan koreografi beladiri yang mumpuni.

Durasi:
115 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 20 Januari 2010

14 BLADES : Membekuk Pengkhianat Pasukan Pengawal Kaisar

Tagline:
An elite force above the law licensed to kill!

Storyline:
Dinasti Ming, Pasukan Elite Pengawal Kaisar yang bernama Jin Yiwei anggotanya direkrut dari anak-anak jalanan yatim piatu untuk kemudian dilatih bermacam-macam ilmu bela diri baik dengan/tanpa senjata. Masing-masing dari mereka dibekali 14 pisau yaitu 8 untuk menyiksa, 5 untuk membunuh dan 1 yang terbuat dari emas untuk bunuh diri jika gagal dalam tugas.
Masalah mulai timbul saat Pangeran Qing memberontak dan bekerjasama dengan kasim Jia Jingzhong lalu menjebak pemimpin Jin Yiwei yakni Qing Long untuk merebut sebuah kotak rahasia yang disimpan pejabat istana Zhao Shenyan. Apa sesungguhnya isi kotak tersebut? Bagaimana Qinglong menghadapi musuh tak terlihat yang membayangi dirinya?

Nice-to-know:
Reuni kedua Vicky dan Donnie setelah Painted Skin walaupun disana Donnie hanya kebagian peran pendukung saja.

Cast:
Donnie Yen sebagai Green Dragon / Qing Long
Vicky Zhao Wei sebagai Hua Qiao
Wu Chun sebagai Judge
Kate Tsui sebagai Tuo Tuo
Qi Yuwu sebagai Wu Xuan
Sammo Hung Kam-Bo sebagai Prince Qing
Damian Lau sebagai Zhao Shenyan
Law Kar-Ying sebagai Jia Jing Zhong
Wu Ma sebagai Jiao Zhong
Chen Kuan Tai sebagai Water Moon Monk

Director:
Daniel Lee sebelum ini menggarap Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon (2008).

Comment:
Sebagian besar plot cerita berfokus pada karakter yang diperankan keduanya dalam memperjuangkan apa yang diangggap benar sekaligus percikan-percikan api di antara mereka.
Donnie sebagai Qing Long merupakan pilihan tepat, ia memperlihatkan emosi yang baik sebagai seorang pemimpin yang terluka karena dikhianati tetapi harus terus berjuang. Satu adegan yang memperlihatkan tato di bagian atas tubuhnya yang terpahat dengan baik juga semakin mempertegas ketangguhannya. Vicky sebagai Hua Qiao tidak jauh berbeda dengan apa yang dipertontonkannya dalam Mu Lan dan jujur tipikal pejuang wanita yang dibawakannya selalu menarik di mata saya. Pendatang baru Kate Tsui juga patut diperhitungkan disini, aura pembunuhnya sangat kuat dengan ekspresi yang datar dan dingin. Masih banyak nama-nama tenar di luar ketiga tersebut di atas yang juga perform sesuai standar yang dibutuhkan.
14 pisau yang dijadikan judul film dikatakan memiliki keunikan masing-masing tetapi sayangnya tidak akan kita lihat disini karena ini bukanlah film superhero. Yang cukup dominan dipertunjukkan adalah pisau milik Qing Long yang tersimpan dalam kotak panjang yang kokoh sekaligus berfungsi sebagai senjata pamungkasnya. Adegan pertarungannya memang cukup dominan tapi tidak digarap dengan detail yang jeli, hanya terbantu dari settingnya yang dikonsep dengan indah dari satu tempat ke tempat yang lain. Thumbs up bagi sutradara Daniel Lee yang memaksimalkan spesial efek tanpa harus terlihat palsu.
14 Blades bukanlah film sempurna dengan rating yang bagus seperti IP Man ataupun Bodyguards and Assassins tetapi tetap sebuah suguhan yang menghibur dan tidak basi walaupun elemen-elemen dalam film sudah berulangkali ditayangkan dalam berbagai versi. Tentunya faktor kecemerlangan Donnie dan Vicky serta kinerja desainer kostum yang gemilang menjadi nilai plus tersendiri disini.

Durasi:
115 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 19 Desember 2008

IP MAN : Ketangguhan Jiwa dan Raga Jago Kungfu

Cerita:
Ye Wen mulai mempelajari aliran beladiri Yong Chun sejak berusia 13 tahun. Kecintaannya pada beladiri diimbangi dengan perhatiannya terhadap keluarganya yaitu istri Yong Cheng dan anaknya. Di saat ingin mengembangkan perguruan sendiri pada tahun 1935, Jepang datang menyerang China. Polemik pun terjadi dimana-mana dan berujung pada saat Ye Wen harus memilih mempertahankan martabat masyarakat Tionghoa atau menyelamatkan keluarganya.

Gambar:
Suasana perang China melawan Jepang di daerah Fo Shan selama 8 tahun digambarkan dengan sangat apik.

Act:
Aktor senior Hongkong yang sudah merintis karir di Hollywood, Donnie Yen sebagai Guru Ye Wen memberikan kesan dingin dan tangguh sebagai guru kungfu aliran Yong Chun tapi tetap seorang figur yang baik bagi keluarganya.
Simon Yam kali ini berperan sebagai sahabat lama Ye Wen, Zhou Qing Quan yang memiliki pabrik tekstil.
Hiroyuki Ikeuchi memegang peran antagonis sebagai Jenderal Miura, pemimpin pasukan Jepang sekaligus pengagum sejati seni beladiri.

Sutradara:
Wilson Yip sebelum film ini juga bekerjasama dengan Donnie Yen dalam action modern Flash Point. Berbeda tema tidak membuat Yip Wai Shun kedodoran, semua elemen dieksekusi dengan sangat baik. Boleh ditunggu sekuel Ip Man tahun depan!

Komentar:
Sebuah film beladiri yang tidak hanya menonjolkan teknik kungfu yang nyaris sempurna tapi didukung dengan inti cerita yang mengandung pesan moral. Cerita bergulir dengan lancar, mulai dari perguruan kungfu sekitar Fo Shan sampai terjadinya perang China melawan Jepang yang mengubah segalanya. Walaupun bergaya semi dokumenter, film yang sangat menghibur ini mampu mengetengahkan Donnie Yen ke porsi akting maksimal yang sesungguhnya.

Durasi:
105 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!