XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label leylarey lesesne. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leylarey lesesne. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

AKIBAT PERGAULAN BEBAS 2 : SKANDAL VIDEO PORNO

Storyline:
Berada di puncak karirnya sebagai bintang film, Denis Yudhistira merasa berada di atas angin. Kebiasaan buruknya adalah memiliki affair dengan banyak wanita walau sudah berhubungan serius dengan penyanyi terkenal, Rasty Maria. Hal ini dikritik habis-habisan oleh sahabat sekaligus lawan mainnya, Jimmy Ardiansyah yang jadwal syutingnya sering terganggu apalagi Tiara, wanita yang disukainya lebih memilih berkencan dengan Denis. Puncak kemarahan Jimmy ditumpahkan pada manajer artis Mario sebelum baku hantam terjadi. Paska kejadian itu, Denis kehilangan laptop pribadinya yang berisikan rekaman percintaan panasnya dengan sejumlah wanita yang kemudian sampai ke media. Akankah karir Denis berakhir?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 9 Mei 2011.

Cast:
Keith Foo sebagai Denis Yudhistira
Leylarey Lesesne sebagai Rasti
Lia Aulia sebagai Tiara
Rocky Jeff sebagai Jimmy
Amink sebagai Mario
Tasya Djerly sebagai Dini

Director:
Film kedua Findo Purwono HW di tahun 2011 ini dimana tahun lalu menyutradarai total 4 film.

Comment:
Semua orang yang mengaku Warga Negara Indonesia seharusnya mengetahui kasus video porno Ariel, Luna Maya, Cut Tari beberapa waktu lalu yang sangat menghebohkan itu. (Kepada artis yang bersangkutan mohon maaf jika menyinggung kembali nama anda-anda sekalian karena saya hanyalah seorang movie reviewer). Dan entah apa yang ada di pikiran produser HM Firman Bintang untuk merekayasa kembali skandal tersebut dalam sebuah produksi layar lebar. Berusaha mengeruk keuntungan di sela-sela minimnya pasokan film impor di bioskop-bioskop Ibukota?
Findo juga terkesan “mendegradasi” dirinya sendiri dengan duduk di kursi sutradara kali ini. Biasanya film-film beliau mempunyai ciri khas tersendiri dan mayoritas bermain di genre horor/komedi yang harus diakui mudah dicerna penonton awam. Kali ini ia murni menggarap sebuah drama yang tidak menawarkan kejutan apapun di dalamnya karena mayoritas audiens sudah mengetahui arah yang ditujunya. Yang tersisa tinggal bagaimana penulis Aviv Elham menutup film ini.
Saya pribadi merasa nama-nama yang mengisi film ini sangat miscasting, terlebih berbagai cameo yang sangat tidak penting. Keith Foo bukanlah Ariel dan setidaknya ia berusaha menginterpretasikan versinya sendiri dengan cukup wajar. Itulah satu-satunya nilai plus dari aktingnya disini selain logat Inggris-Melayunya yang terkadang mengganggu pendengaran. Aming seperti biasa terlihat nyaman tampil sebagai dirinya sendiri dalam peran manajer artis yang banci.
Sedangkan dari aktris-aktrisnya sendiri masih kurang maksimal. Ley terlihat tidak konsisten dalam mengeksplorasi sisi emosionalnya saat menghadapi kesulitan. Lia tidak mendapat banyak kesempatan selain tampil seksi menggoda. Lain lagi dengan Tasya yang dikabarkan sebagai perawan lugu dari Bogor tetapi justru berpenampilan wah selayaknya gadis metropolitan. Sekali lagi saya tekankan kalau karakterisasi mereka sudah diplot sedemikian rupa tanpa perlu banyak adiksi.
Akibat Pergaulan Bebas 2 di paruh pertama durasinya kelihatan berusaha untuk bercerita secara runut mengenai pengenalan tokoh-tokohnya. Namun jatuhnya membosankan dan tidak menarik. Paruh kedua mencoba meningkatkan intensitas seiring dengan mencuatnya konflik tapi malah semakin tergelincir. Penulis terkesan bingung menyajikan ending yang diplot dengan twist. Sayangnya tidak lagi mengejutkan penonton yang bahkan lebih memilih pergi duluan sebelum sampai kesana.
Sekadar catatan, film ini tidak ada kaitan apapun dengan APB versi Nayato yang edar tahun lalu itu. Murni berdiri sendiri dan hanya menambah angka 2 di belakangnya plus subtitle tambahan “Skandal Video Porno” untuk memberikan penegasan. Dari sisi sinematografi dan editing, APB 2 ini kualitasnya di bawah FTV sekalipun. Dan jika anda masih (setidaknya) mengharapkan sex scene sebagai suguhan utamanya maka bersiaplah untuk kecewa juga dengan film yang super minus ini.

Durasi:
80 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Senin, 01 November 2010

GABY DAN LAGUNYA : Misi Kembali Ke Pelukan Mantan Pacar

Quotes:
Gaby-Aku punya firasat kalau suatu saat kamu akan pergi jauh..

Storyline:
Kelima muda-mudi masing-masing Popo, Gita, Agnes, Nando dan Angel mempunyai mimpi untuk sukses masuk dalam industri rekaman. Sayangnya produser yang mendengarkan demo mereka tidak berpikir band ini memiliki masa depan yang baik. Gita yang kecewa berbuntut pada hubungannya dengan kekasih barunya walaupun masih menyimpan perasaan pada Popo. Sedangkan Popo sendiri sebagai ketua band bertanggungjawab atas nasib mereka. Muncul secercah harapan saat Popo berjumpa Gaby yang lembut dan bersuara emas. Penampilan perdana Gaby bersama band Popo di kampus mendapat aplaus meriah. Seiring frekuensi pertemuan yang tinggi juga semakin mendekatnya keduanya walaupun Gita dari kejauhan memandang cemburu. Akankah mimpi-mimpi masa muda menjadi kenyataan seiring dengan jalinan asmara di dalamnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 1 November 2010 yang lalu.

Cast:
Karina Nadila sebagai Gaby
Guntur Triyoga sebagai Popo
Leylarey Lesesne sebagau Gita
Rendy Kjaernett sebagai Nando

Director:
Nayato baru saja meluncurkan dua film bergenre berbeda di akhir bulan September yang lalu yaitu Pengantin Pantai Biru dan Pocong Jumat Kliwon.

Comment:
Jujur saja saya sudah sangat mengenal gaya penyutradaraan seorang Nayato terlepas dari bentuk naskah apapun yang disodorkan kepadanya. Menurut saya kali ini ia mencoba sedikit lebih serius dalam menggarap genre drama remaja yang diangkat dari novel karya Agnes Davonar. Sinematografi yang diusungnya kali ini bernuansakan warna hijau yang meneduhkan mata dengan mengandalkan para pemainnya yang juga eye-candy terlepas dari aktingnya yang standar-standar saja.
Plot ceritanya tak jauh-jauh dari kehidupan remaja pada umumnya yang kali ini difokuskan pada sebuah band yang beranggotakan tiga remaja cewek dan dua remaja cowok plus satu calon anggota baru. Percintaan segitiga lagi-lagi menjadi tema utama yang tidak ada habis-habisnya digali. Dan berbagai dialog yang disuguhkan terdengar cheesy antar dua sejoli yang sedang kasmaran sehingga kerapkali membuat penonton riuh rendah menyambutnya.
Viva Westi dan Ery Sofid sepertinya sudah berupaya keras mengeksplorasi setiap karakternya tetapi nampaknya Nayato memiliki cara sendiri untuk membagi porsi masing-masing sesuai kapasitasnya. Cukup disayangkan memang mengingat keseluruhan tokoh bisa jadi memberikan kontribusi terhadap kekuatan pondasi cerita yang menyokongnya.
Secara keseluruhan kualitas Gaby dan Lagunya tidaklah seburuk yang saya pikir sebelumnya. Terbukti saya masih bisa menikmatinya terlepas dari berlarut-larutnya problema cinta yang dihadirkan. Belum lagi kekliseannya yang membuat film ini tidak memiliki sesuatu yang baru untuk dijual. Akhir tragis mungkin memang menjadi trademark Nayato untuk kategori dramanya dan lagu Jauh Kau Pergi rasanya cukup berhasil menghadirkan suasana sendu sebelum layar ditutup. Smooth movie with fair quality but still weak in many aspects!

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 22 September 2010

POCONG JUMAT KLIWON : Misi Horor Humor Pocong Nayato

Storyline:
Di sebuah hutan, Moniq selaku sang sutradara tengah mengarahkan Linda dan Arumi berakting dalam sebuah film pendek. Saat memakai wig, tiba-tiba Linda bersungguh-sungguh mencekik Arumi. Hal ini langsung dihentikan teman-temannya. Linda yang kesurupan tidak terkendali sampai wig yang dikenakannya dilepas oleh Dana. Setelah kejadian itu, mereka ditempeli oleh pocong terus menerus bahkan hingga pulang ke rumah masing-masing sekalipun! Zacky meminta bantuan engkongnya yang seorang paranormal untuk mencaritahu apa yang mengganggu mereka sesungguhnya. Siapakah gadis bernama Titin yang disebut-sebut engkongnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Film.

Cast:
Zaky Zimah
Leylarey Lesesne
Monique Henry
Arumi Bachsin
Sazha Carissa
Dana Cole
Rozie Mahally

Director:
Bisa dikatakan film horor komedi pertama Nayato Fio Nuala yang kali ini berkolaborasi dengan penulis Erry Sofid.

Comment:
Opening film ini harus diakui menjanjikan. 10-15 menit pertama akan membuat anda tertawa dengan beberapa adegan slapstick yang cukup mengena meskipun masih tidak jauh dari kata norak. Tetapi tidak apalah jika jatuhnya fun. Para penonton yang paham benar gaya seorang Nayato mungkin akan mengernyitkan dahi. Bingung sekaligus terkejut lalu timbul pertanyaan dalam benak kami semua. Benarkah inovasi sutradara misterius itu bisa berhasil kali ini?
Pikir dua kali jika anda berpikir seperti itu. Berakhir masa "syuting" di hutan maka berakhir pula segala humor itu. Plot kembali dibawa seperti yang sudah-sudah yaitu penampakan demi penampakan yang menghantui karakter-karakter utama. Kali ini sang pocong yang menjadi momok pun mengeluarkan seribu jurusnya yang lebih tepat dibilang menjahili daripada menakuti. Terus terang saya kasihan sekali melihat makhluk berkain kafan putih itu disuruh mengintip, membayangi, mencolek, memecahkan cangkir bahkan bersembunyi di dalam lemari es! Entah berapa puluh kali (dan beratus kali sebelum diedit tentunya) Nayato menginstruksikan pocong sewaannya membombardir penonton dengan ketakutan/kegelian di setiap beberapa menit. Anda sangat tidak beruntung jika semua penonton seperti saya yang hanya bisa menguap menyaksikannya.
Kehadiran Zaky Zimah sedikit membantu disini. Mimik muka lugu disertai gesture tubuh bodohnya terbukti ampuh memancing senyum audiens apalagi disenjata pamungkasi kata "najis". Monique, Leylarey cs seperti biasa hanya bisa merumpi dan beradegan mandi untuk kemudian berlari-lari ketakutan. Bahkan seorang Arumi yang tergolong rajin bermain dalam film Nayato lengser setelah 30 menit pertama, mungkin ia jatuh tertidur kebosanan hingga sang komandan tidak berani membangunkannya karena takut disumpahi pocong. Lho? Kesimpulan akhir, Pocong Jumat Kliwon ini tampaknya terlalu jenaka untuk menakuti ataupun terlalu seram untuk ditertawai? Anda yang putuskan.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 22 Juni 2010

NOT FOR SALE : Menjual Keperawanan Demi Uang Semata?

Quotes:
Shasi-Kesucian gue hanya gue berikan kepada orang yang bener-bener gue cinta, bukan untuk dijual!!

Cerita:
Di usia 16 tahun, May lari dari rumah karena persoalan keluarga yang dihadapinya. Di sekolah pun ia digosipkan menjual diri oleh teman-temannya dan sempat menolak perhatian tulus dari seorang siswa lugu. Adalah siswi bernama Shasi yang juga mendapat sebutan germo karena sering menjual teman-temannya sendiri dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Dalam perjalanan May bertemu Shasi dan diperkenankan menumpang di kos temannya, Andhara yang berprofesi sebagai bartender di sebuah bar. May yang masih asing dengan pergaulan malam diajak Shasi dan Andhara juga berkenalan dengan Dessy yang menjadi penari di bar tersebut. Keempatnya menghadapi lika-liku kehidupan metropolitan yang bisa jadi kejam bagi gadis-gadis seusia mereka.

Nice-to-know:
Press conferencenya diadakan di fX pada tanggal 21 Juni yang lalu.

Cast:
Arumi Bachsin sebagai Shasi
Leylarey Lesesne sebagai Dessy
Chindy Anggrina sebagai May
Okkie Callerista sebagai Andhara

Director:
Baru saja menggarap Akibat Pergaulan Bebas yang cukup lama tayang di bioskop-bioskop ibukota itu, Nayato Fio Nuala kali ini bekerjasama dengan Viva Westi yang menulis skenarionya.

Comment:
Not For Sale seakan terbagi dalam dua bagian yaitu di sekolah dan di klub malam! Oke kita bahas dulu bagian sekolahnya. Disini sisi edukasi dari sebuah tempat bernama sekolah serasa terinjak-injak. Bayangkan siswa-siswi berkeliaran dengan baju dikeluarkan dan rambut dicat/ditata semaunya. Berbincang-bincang hanya masalah menjual diri dan cinta monyet dengan Blackberry di tangan masing-masing. Sampai kepala sekolah yang biasanya bijaksana berwibawa digambarkan dangkal dan mata duitan. What the f*? Bagaimana dengan bagian klub malamnya? Disini sisi hiburan dari sebuah tempat bernama diskotik/bar menjadi panggung pertemuan mucikari, lelaki hidung belang, penari telanjang yang seakan hanya peduli transaksi seks atau kesenangan semalam suntuk. Mungkin saja sangat mendekati kenyataan tetapi rasanya tidak perlu ditampilkan dengan gamblang lagi. Dari segi cast, rupanya Arumi dan Leylarey mulai "terbiasa" dengan gaya seorang Nayato. Rasanya mereka tidak perlu skrip lagi, cukup menggunakan baju minim yang mempertontonkan kemolekan tubuh dan berbicara layaknya anak broken home. Endingnya lebih konyol lagi karena memadukan unsur psikopat dan slasher dengan sedikit unsur horor thriller. Sudah cukup nampaknya 14 baris review saya kali ini. Masih tertarik menyaksikannya? Not For Sale.. or be seen!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 29 Januari 2010

18+ : Dinamika Muda Mudi Mempertahankan Cinta

Tagline:
True love never dies

Storyline:
Dua sobat karib, Raka dan Topan memiliki problemanya masing-masing. Topan mencintai Chanisa walau tahu kekasihnya itu mengidap kanker paru-paru yang kronis. Hal tersebut dilakukannya juga sebagai pelarian dari orangtuanya yang sering bertengkar di rumah. Belum lagi gangguan mantan pacarnya, Nayla yang rapuh jiwanya. Sedangkan Raka mengejar Helen sejak perjumpaan pertama walau Helen awalnya menolak akhirnya mereka jadian. Biaya pengobatan yang tinggi mau tidak mau membuat Topan dan Raka memutar otak mencari uang termasuk dari rentenir. Sayangnya keputusan itu malah menyeret keempatnya dalam kronik yang semakin dalam dan sulit terselesaikan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh PT. Kharisma Starvision Plus dan dilakukan gala premiere di Planet Hollywood

Cast:
Samuel Zyglwyn sebagai Raka
Adipati sebagai Topan
Stevanie Nepa sebagai Chanisa
Leylarey Lesesne sebagai Helen
Arumi Bachsin sebagai Nayla

Director:
Terakhir membesut Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets, Nayato Fio Nuala kembali dengan genre serupa yaitu drama remaja yang kelam.

Comment:
Skrip yang ditulis oleh trio Ery Sofid, Eka D Sitorus dan Viva Westi ini sebetulnya cukup solid dari segi tema cerita, hanya saja saya yakin banyak campur tangan dari sang sutradara. Terbukti apa yang disuguhkan pada akhirnya tidak jauh beda dengan karya-karya Nayato sebelumnya termasuk alur lambat, tone warna lembut, lanskap yang sunyi hingga musik hingar bingar (dan kali ini adalah Koil yang dipilih sebagai bintang tamu sekaligus pengisi soundtracknya). Sedikit perbedaan adalah Nayato bermain di sisi maskulinitas kali ini, tidak dari segi feminis sebagaimana biasanya. Kerasnya hidup Raka dan Topan menjadi sorotan utama, dan ditutup dengan ending yang memilukan sekaligus tragis bagi keduanya. Perbaikan? Mungkin, tetapi belum secara keseluruhan. Karakter wanitanya tidak terlalu dominan walau turut memberikan kontribusi. Remaja-remaja tersebut bermain standar dalam artian tidak buruk dan juga tidak bagus-bagus amat. Sayangnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang dibiarkan mengambang tanpa penjelasan yang logis. Ah memang rasanya judul dan poster yang provokatif itu saja cukup memancing calon penonton untuk datang menyaksikannya.

Durasi:
95 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!