XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label nikita mirzani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nikita mirzani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Oktober 2012

PACARKU KUNTILANAK KEMBAR : Premis Daur Ulang Komedi Horor Gagal


Quotes:
Bodo: Seksi seksi.. Loe liat lukisan Monalisa aja mimisan!

Nice-to-know: 
Diproduksi oleh Studio Sembilan.

Cast: 
Nikita Mirzani sebagai Rosa/Rosi
Nicky Tirta sebagai Budi
Rizky Mocil sebagai Bodo

Director: 
Merupakan film keempat Nuri Dahlia di tahun 2012 setelah Mama Minta Pulsa.

W For Words: 
Jika biasanya ada trio pinpinbo, maka kali ini cuma ada dua. Jika biasanya ada satu sosok hantu, maka disini menjadi dua. Pada akhirnya sama saja toh? Produser tetap membayar 4 orang dengan asumsi Nikita Mirzani mendapat bayaran dobel atas peran gandanya, lumayan buat tabungan selama doi ada di bui. Oops, no offense. Ya, penulis skrip yang sepertinya ghost writer itu kembali lagi dengan gagasan horor komedi tematik yang sudah kadaluarsa semenjak kuntilanak bisa panjat pohon. Kapan itu terjadi jangan tanyakan pada saya.

Alkisah Budi yang ndeso berkawan dengan Bodo yang sesuai namanya. Keduanya kos dan kuliah di tempat yang sama serta melakukan aktifitas bersama-sama pula mulai dari mengumpulkan tugas ke dosen, menghindari tunggakan uang kos hingga cari pacar dengan kriteria di atas standar seharusnya. Alangkah senangnya saat pulang dari acara Kampus Nite di Seven Fly, keduanya bertemu Rosa dan Rosi yang bersedia menjadi pacar mereka tanpa syarat. Sesungguhnya kedua gadis cantik seksi itu adalah jelmaan kuntilanak kembar yang tengah menuntut balas pada Arnold dkk.

Kekuatan utama film ini jelas ada pada komedi yang tercipta lewat interaksi Budi dan Bodo dan horor yang terangkat melalui teror yang dilakukan Rosa dan Rosi. Saya harus katakan, keduanya gagal secara persentase keseluruhan. Hanya satu dua trik yang masih berhasil memancing tawa atau rasa takut. Selebihnya? Meh! Dialog garing dengan lelucon yang tidak lucu mendominasi layar, sama buruknya dengan spinning zoom penampakan rupa buruk kuntilanak berulang-ulang. Teknik terakhir ini mengingatkan saya terhadap kebodohan yang dilakukan KK Dheeraj dalam Genderuwo (2006).

Rupanya Rizky Mocil telah benar-benar melepaskan ciri khasnya selama ini yaitu rambut keriting kribo dan kacamata frame besar. Keputusan yang salah karena seiring perubahan itu, nuansa komediknya juga berkurang drastis. Yang tersisa tinggal suara sengau  yang tetap berupaya keras melontarkan humor spontan non efektif. Gantinya Nicky Tirta yang kali ini dikacamatai dan diubah aksennya menjadi Jawa kental. Kelambanan dan kepolosannya sedikit lebih menyenangkan tapi tak jarang berlebihan sehingga malah terkesan kemayu. Satu catatan positif, setidaknya Rizky dan Nicky cukup berhasil membangun chemistry.

Bagaimana dengan Nikita Mirzani? Ratu sensasi ini seperti halnya dalam Nenek Gayung (2012) ikhlas menokohkan manusia dan hantu sekaligus. Busana ketat nan minim yang menonjolkan payudara dan lekuk tubuhnya memang dianggap masih menjual. Namun stereotype aktingnya masih belum berubah. Teror yang dilakukan pun sangat sederhana, menipu calon korban dengan wujud cantik, berubah menjadi kuntilanak berwajah seram sebelum mengayunkan sabetan mautnya. Fungsi tokoh lain di luar mereka berempat sebatas numpang lewat saja demi memperpanjang durasi. Tidak heran!

Pacarku Kuntilanak Kembar adalah degradasi karya seorang “Nuri Dahlia”. Contoh nyata bagaimana industri ini tampak begitu putus asa dalam menelurkan konsep horor komedi yang fresh demi menjaring penonton dengan cara yang rendah. Premis daur ulang yang hanya akan menorehkan catatan hitam dalam sejarah perfilman Indonesia ini bahkan sudah salah dari penggunaan judul, “Pacarku” sebetulnya lebih tepat diganti dengan “Pacar kita” karena mengambil sudut pandang dua orang sekaligus yaitu Budi dan Bodo. Pada akhirnya, saya pun cuma bisa berucap, “Kasihan!”

Durasi:
90 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 22 Juni 2012

MAMA MINTA PULSA : Horor Tanpa Gigi Komedi Tanpa Visi

Quotes:
Maya: Setan indonesia itu serem banget, nggak kayak setan Amerika.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Movie Eight dan Rapi Films ini screeningnya diadakan di fX Platinum pada tanggal 20 Juni 2012.

Cast:
Farida Pasha sebagai Mak Lampir
Daus Sparo sebagai Umar
Opie Kumiz sebagai Said
Gary Iskak sebagai Dadang
Nikita Mirzani sebagai Komandan Carolina
Rizky Mocil sebagai Iko
Shinta Bachir sebagai Tessa
Kartika Putri sebagai Jelly
Kikky Rizky sebagai Tino

Director:
Merupakan film ketiga bagi Nuri Dahlia yang rencananya akan dilanjutkan ke Papa Minta Pulsa.

W For Words:
Siapapun para pengguna ponsel di Indonesia rasanya pernah menerima sms “Mama Minta Pulsa karena…” 1001 alasan yang dibuat-buat demi meyakinkan penerimanya untuk bereaksi sesuai yang diinginkan yaitu mentransfer pulsa sebesar nominal tertentu. Modus yang harus diakui kreatif dan berhasil memakan sejumlah korban tersebut diangkat sebagai premis film layar lebar oleh Movie Eight yang tampaknya semakin rajin mengetengahkan urban legend sebagai temanya. Rapi Films menjadi tandemnya dalam menjaring nama-nama yang sudah tidak asing lagi untuk terlibat di dalamnya.

Iko, Tino, Tessa, Jelly mengikuti sesi pelatihan satpam keliling Camp Garuda yang akan menentukan masa depan mereka. Di bawah pimpinan Komandan Carolina yang keras tegas beserta dua asistennya yang pintar-pintar bodoh yakni Umar dan Said, mereka mendapatkan cobaan yang berat. Ketika semua ponsel dikumpulkan, salah satunya berbunyi dimana terdapat sms masuk bertuliskan “mama minta pulsa, kalau tidak dikasih, mama minta nyawa..” yang diikuti dengan kemunculan Mak Lampir. Teror mulai menerpa masing-masing peserta sehingga teka-teki harus dipecahkan sebelum korban berjatuhan.
Tunggu dulu! Sepertinya saya terlalu berlebihan dalam membuat synopsis di atas. Percayalah imajinasi anda tidak akan kemana-mana setelah menyaksikan filmnya dengan mata kepala sendiri. Tidak ada adegan yang memperlihatkan Mak Lampir benar-benar mencabut nyawa manusia. Ia cuma berseliweran dari satu tempat ke tempat lain terutama saat malam tiba. Kasihan sekali melihat aktris legendaris, Farida Pasha harus menurunkan derajatnya menjadi Mak Lampir tak bergigi, kehilangan momoknya meski sudah dimake-up sedemikian rupa untuk terlihat menakutkan.

Penulis skrip Bono Sutisno sedikit meminjam template Chakushin Ari (2003) alias One Missed Call yang melibatkan ponsel sebagai media terornya. Lagi-lagi harapan saya untuk melihat sms berantai dari satu ponsel ke ponsel lainnya dalam mencabut nyawa pemiliknya harus pupus. Lantas apa yang tersisa? Komedi basi yang bergulir, sebagian besar melibatkan fisik mulai dari dada besar Kartika Putri, Shinta Bachir, Nikita Mirzani, kurus kerempengnya Rizky Mocil, besar berototnya Billy hingga kebancian Gary Iskak yang di luar batas toleransi tersebut. What you see is what you get!

Sebetulnya Mama Minta Pulsa menyajikan eksploitasi konflik yang demikian merakyat apalagi didukung dengan desain poster yang cukup menyeramkan. Sayangnya filmmaker ND alias HK yang menggarap ide mentah BS alias AS terlalu malas untuk mengeksplorasi celah tersebut secara lebih bertanggungjawab. Saya meragukan adanya “skrip baku” dalam proses syuting film yang tergolong instan ini. Komedi jor-joran saja belum cukup untuk melengkapi sebuah hiburan ringan yang samasekali tidak didasari oleh logika ini. Uang yang anda keluarkan untuk membeli tiket bioskop sebaiknya digunakan untuk anggaran pulsa saja.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 19 April 2012

NENEK GAYUNG : Zaky Zimah dan Multi “Hubungan” Uniknya


Quotes:
Usep: Paling cuma ketemu setan, ini gua lagi ngobrol sama setan.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Movie Eight dan Unlimited Production ini screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 15 April 2012.

Cast:
Nikita Mirzani sebagai Dewi / Nenek Gayung
Zaky Zimah sebagai Duta
Yadi Sembako sebagai Boim
Joe Richard sebagai Abas
Yurike Prastica sebagai Emak
Tata Sivek
Kartika Putri
Mudy Taylor sebagai Pengamen

Director:
Merupakan debut bagi Nuri Dahlia.

W For Words:
Entah siapa yang awalnya memulai desas-desus mengenai adanya hantu nenek-nenek yang membawa gayung dan tikar menebar maut. Yang jelas saya pernah membaca di salah satu surat kabar ibukota bahwa kecelakaan tragis yang menimpa pengendara sepeda motor di jalur busway bilangan Jakarta Timur disebabkan karena ia berbicara dengan sang nenek tanpa satupun saksi mata yang membenarkan. Betul atau tidak, sulit dibuktikan! Bono Sutisno menuangkan ide tersebut ke dalam skrip yang kemudian dikerjakan oleh rumah produksi dan filmmaker yang tergolong baru di industrinya.
Alkisah seorang nenek pemandi jenazah selalu siap sedia dengan tikar dan gayungnya. Namun kala ajal menjemput, ia tak sempat dimandikan suaminya. Arwah penasaran nenek gayung pun mulai merambah calon korbannya yang akan meninggal 7 hari setelah bertemu dan diajak bicara olehnya. Tak jauh dari situ, tiga sahabat masing-masing Duta, Boim dan Abas sibuk mengencani gadis idaman masing-masing. Duta yang tengah melamar Pamela mendadak diputuskan. Dalam kesedihan, ia berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Dewi yang merupakan wujud cantik dari nenek gayung.

Film ini mengingatkan saya akan tradisi Setan Budeg (2009) dan Hantu Tanah Kusir (2010) milik Findo Purwono HW yang menonjolkan ketololan trio pemuda dengan arwah yang membayangi mereka dalam wujud cantik sekaligus seram. Kali ini Zaky Zimah bertandem dengan Yadi Sembako dan (kejutan) Joe Richard yang tak hanya menampilkan humor situasional tetapi juga menyerempet homoseksual yang murni berfungsi sebagai pengocok tawa, apalagi ditambah kehadiran Yurike Prastica dengan “bacot” besarnya itu.
Sutradara Nuri Dahlia memang masih terlihat kaku dengan shot-shot satu dimensinya yang monoton. Namun storytelling nya sudah lumayan mengalir lancar. Sama baru dengannya adalah Nikita Mirzani yang aksen berbicara lambatnya sedikit mengganggu karena seperti anak kecil belajar mengeja per kata. Meski demikian, daya tarik fisiknya tak dapat dipungkiri mampu menyegarkan mata. Penampilan sang nenek gayung dengan wajah dan tangan “hitam” nya sedikit memupus pakem hantu Asia yang biasanya “pucat pasi”, cukup berhasil membangun aura menyeramkan di setiap kemunculannya.

Nenek Gayung tidaklah seburuk yang saya harapkan (baca harapkan, bukan duga!) karena unsur horor dan komedinya mampu berjalan seimbang. Beruntung peran utama dipercayakan pada Zaky Zimah yang sukses “berpacaran” dengan tiga tipe wanita sekaligus mulai dari yang cantik, yang gendut hingga nenek-nenek! Interaksi Duta dengan setiap karakter dalam film ini tergolong menyenangkan, memupus semua kekurangan yang terpampang disana-sini. Nilai yang saya berikan adalah dari sisi hiburannya yang sukses mengguncang seisi bioskop dengan tawa membahana. Mudah-mudahan sekuelnya Kakek Cangkul tidak lebih buruk!

Durasi:
79 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: