XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label atiqah hasiholan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label atiqah hasiholan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2015

CINTA SELAMANYA : Hati Berkisah Enggan Berpisah

Quote:
Hafez: Tidak ada yang abadi, tapi cinta bisa dibawa mati, hingga abadi nanti.

Nice-to-know:
Diangkat dari novel Fira & Hafez yang diinspirasi dari kisah nyata Dwifira Maharani Wulandari Basuki dan Hafez Agung Baskoro.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Fira Basuki
Rio Dewanto sebagai Hafez
S
haloom Razade sebagai Syaza
Tantry Agung Dewani sebagai Tantry
Janna Joesoef sebagai Mbak Sinung
Amanda Soekasah sebagai Mbak Rani
Nungky Kusumastuti sebagai Ibu Hafez
Yadi Sugandi sebagai Ayah Hafez
Aira Sondang sebagai Raditya
Dewi Irawan sebagai Mama Fira
Tio Pakusadewo sebagai Papa Fira
Syazia sebagai Kiad
Surya Insomnia sebagai Ferry
Widi Mulia Sunarya sebagai Egi
Muhadkly Acho
Joanna Alexandra
Patrick Alexandra
A
gus Kuncoro
Dwi Sasono
Lukman Sardi

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Fajar Nugros sekaligus perdana yang diproduksi bersama istrinya Susanti Dewi.

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal sosok Fira Basuki sebagai Pemimpin Redaksi majalah lifestyle, Cosmopolitan yang selalu terlihat modis dan menjadi cerminan kaum wanita urban metropolitan. Dibalik kelemah-lembutannya, ia adalah wanita mandiri yang perfeksionis dalam pekerjaannya. Kesendiriannya membuat orang sekitar ingin mencarikan pendamping baru untuk Fira. Banyak pria datang mencoba mengambil hati Fira, tetapi cinta selalu datang tanpa terduga.

Hafez Agung Baskoro, lahir dengan darah seni yang gemar menyanyi dan bermain musik. Ia adalah sosok pria serba bisa yang berpenampilan biasa. Jika kencan pertama selalu dimulai dengan sesuatu yang mewah, Tetapi Hafez menawarkan dirinya ke Fira dengan kesederhanaannya. Naik motor dan makan seafood di pasar ikan, mungkin itu bukan kencan yang diidamkan Fira namun malam itu hatinya telah tercuri oleh pria ini.














Profil sepasang insan di atas rasanya sudah cukup menjadi daya tarik penonton, terlebih pembaca novelnya, untuk berbondong-bondong datang ke bioskop dan menyaksikan perjalanan cinta mereka yang penuh tantangan. Optimisme itulah yang diyakini pasangan suami istri produser sutradara Susanti Dewi dan Fajar Nugros lewat persembahan perdana Demi Istri yang bekerjasama dengan Wardah dan Kaninga Pictures.

Harus diakui akting Atiqah terasa sangat total di film ini. Ia mampu menampilkan kemandirian Fira sekaligus ketegarannya melewati masa sulit sebagai single parent. Sedangkan suaminya di kehidupan nyata, Rio Dewanto terlihat agak kedodoran mengimbanginya. Sosok Hafez yang ditampilkan Rio terlihat lebih dingin daripada apa yang diwacanakan di novel Fira & Hafez (2013). Penampilan pendatang baru Shaloom cukup menarik. Saya merasa ia memiliki potensi lebih walau peran Syaza terasa kurang dimaksimalkan.













Rollercoaster emosi di film ini cukup menarik lewat ‘pembabakan’ yang digagas oleh Nugros. Materi senang sendu dibawa secara ringan lewat sajian humor situasi yang tersebar di beberapa bagian. Sayangnya ‘finale’ di Madrid yang harusnya menjadi ‘gong’ pengetuk emosi penonton justru terasa berlarut-larut. Hal yang juga kelewat mengganggu adalah penyajian tweet Fira dan Hafez di sepanjang film yang tidak diiringi oleh waktu baca yang proporsional, padahal ini bisa jadi gimmick yang brilian sekaligus memperkuat makna kisah kasih keduanya.

Harus diakui Cinta Selamanya merupakan salah satu karya terbaik Nugros dimana upayanya sebagai storyteller memang terasa lebih dari biasanya. Alhasil memoir cinta nan indah dari Fira Basuki Baskoro yang sukses memadukan ta
wa dan haru ini bisa menjadi inspirasi kita semua. Jika perbedaan latar belakang maupun pertautan usia belasan tahun tidak menjadi penghalang sepasang anak manusia maka kisah yang dapat terjalin tidak seharusnya mengenal kata pisah karena siapa yang jatuh hati niscaya enggan bangun lagi.

Durasi:
106 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:





Written by:
Chan W

Edited by:
Witra A

Rabu, 28 November 2012

HELLO GOODBYE : Menafsirkan Pertemuan dan Perpisahan Cinta


Quotes: 
Indah: Memaki perpisahan sama saja kamu mengutuk pertemuan.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Falcon Pictures ini mengadakan press screening dan gala premierenya sekaligus di Djakarta XXI eX pada tanggal 22 November 2012.

Cast: 
Atiqah Hasiholan sebagai Indah
Rio Dewanto sebagai Abi
Kenes Andari
Sapto Soetarjo
Khiva Iskak
Verdi Solaiman
Eru

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Titien Wattimena yang selama ini dikenal sebagai penata skrip.

W For Words: Demam Korea telah melanda publik Indonesia sejak serial Autumn In My Heart (dikenal pula dengan Endless Love) yang dibintangi trio Song Seung Hun, Song Hye Kyo dan Won Bin diputar di stasiun televisi pada tahun 2000. Lantas menyusul puluhan judul lain yang juga berhasil mencuri perhatian pemirsa. Melihat hype tersebut rasanya tinggal menunggu waktu sebuah produksi film Indonesia bisa dilakukan disana, menyusul apa yang dilakukan negeri tetangga Thailand lewat Hello Stranger (2010). Adalah Falcon Pictures yang mewujudkan angan-angan tersebut di tahun 2012 dengan dukungan nama-nama kondang di belakangnya. 

Siapa yang tidak mengenal nama Titien Wattimena? Setelah menangani sekitar 25 skrip film semenjak Mengejar Matahari dan Tentang Dia di tahun 2004, ia akhirnya berani "naik tingkat" sebagai sutradara. Berbagai titik lokasi populer di Korea Selatan disulap menjadi panggung bertutur yang mampu memberikan pengalaman baru. Setidaknya anda yang belum pernah mengunjungi negeri ginseng itu bisa jadi terpana melihat hasil sinematografi Yunus Pasolang. Lantunan suara merdu Eru dalam tembang kian menghangatkan suasana sendu nan syahdu.

Staf KBRI Busan, Indah bersua dengan pelaut asal Indonesia juga, Abi yang mengalami serangan jantung. Atasan Indah menugaskannya menjaga Abi hingga sembuh. Itulah sebabnya Indah mau bersusah payah bolak-balik rumah sakit untuk mengontrol keadaan Abi. Sayangnya penerimaan Abi tidaklah seperti yang diharapkan karena ia cenderung antipati. Perbedaan cara pandang hidup yang berbeda menjadi kendala yang harus dihadapi sebelumnya keduanya sepakat untuk berbagi kisah bersama, Indah dengan konsep tujuan sedangkan Abi lebih menitikberatkan pada perjalanan.

Skrip film ini terbukti sesederhana sosok dua orang yang tergambar jelas di posternya. Sepanjang film tidak ada subplot berarti yang dapat mengalihkan perhatian dari Rio dan Atiqah. Padahal jika ada riak lebih niscaya mampu memperkuat sisi penceritaan dengan rentang yang lebih luas lagi. Itulah sebabnya karakter-karakter yang dimainkan oleh Verdi, Kenes, Sapto, Khiva secara timbul tenggelam di layar tidak sampai memberi persinggungan berarti kalau tidak mau dikatakan pelengkap belaka, tidak terkecuali sang “Prince of Ballad” yang menyumbangkan hit berjudul Black Glasses.

Rio dan Atiqah memang pasangan resmi di luar film. Penjiwaan mereka sebagai pasangan di dalam film dengan karakteristik berbeda tentu patut diacungi jempol. Keduanya mampu menarik simpati penonton terlepas dari minimnya pengenalan terhadap pribadi masing-masing. Tidak pula digambarkan bentuk aktifitas macam apa yang dilakoni Atiqah sebagai staf KBRI atau rutinitas yang dijalani Rio sebagai pelaut. Kita diajak percaya terhadap profesi mereka hanya melalui narasi saja. Saya menyukai pertukaran dialog puitis sarkastik yang cukup memorable di antara keduanya sekaligus menjadi terjemahan konflik secara tidak langsung.

Hello Goodbye berhasil menutup agenda perfilman nasional di tahun 2012 dengan manis. Formula romantika yang sebetulnya klise dimana sepasang muda-mudi yang memulai hubungan dengan kecanggungan lambat laun berubah menjadi keselarasan. Perbedaannya adalah Titien menyuguhkan proses yang teramat wajar dan believable. Pertemuan memang sedianya diawali dengan "hi". Namun perjumpaan tak selamanya diakhiri dengan "bye". Semua tergantung pada tujuan masing-masing dimana perjalanan yang diambil tak selalu mengarah sama.


Durasi: 

99 menit

Overall: 
7.5 out of 10 

Movie-meter:

Rabu, 30 November 2011

ARISAN! 2 : Reuni Sahabat Lama Rahasia Terkuak

Quotes:
Meimei: Teman datang dan pergi tetapi teman-teman sejati selalu di hati


Storyline:
Delapan tahun berlalu, kini Sakti, Meimei, Andien nyaris menginjak usia 40 tahun. Sakti telah berpisah dengan Nino dimana keduanya sudah memiliki hubungan yang baru masing-masing dengan om Gerry dan brondong glamor Octa. Andien yang ditinggal mati suaminya serta Meimei yang bercerai mulai menyibukkan diri dengan kegiatan ibu-ibu sosialita Jakarta, di antaranya ada dokter Joy dengan asisten keuangannya Ara serta kritikus Yayuk Asmara. Belum lagi Lita yang terus membayangi kehidupan Sakti dan Nino sambil menekuni profesi pengacara hukum. Perkenalan Meimei dengan healer Tom dan bartender Moli mulai memberikan perspektif baru dalam hidupnya terutama rahasia besar yang disimpannya rapat-rapat. Bagaimana mereka mengartikan makna persahabatan panjang yang telah dilalui bertahun-tahun pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kalyana Shira Films, Mra Media Group, Ezy Productions dan Add Word Productions, gala premierenya diselenggarakan secara megah di Plaza Senayan XXI pada tanggal 24 November 2011.

Cast:
Tora Sudiro sebagai Sakti
Cut Mini sebagai Meimei
Rachel Maryam sebagai Lita
Aida Nurmala sebagai Andien
Surya Saputra sebagai Nino
Pong Harjatmo sebagai Gerry
Rio Dewanto sebagai Octa
Sarah Sechan sebagai Joy
Atiqah Hasiholan sebagai Ara
Adinia Wirasti sebagai Moli
Edward Gunawan sebagai Tom
Ria Irawan sebagai Yayuk Asmara

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Nia Dinata yang lebih banyak bertindak sebagai produser dalam film-film produksi Kalyana Shira Films.

Comment:
Delapan tahun lalu ada sebuah film drama komedi metropolitan yang menghentak dunia perfilman nasional karena mengangkat tema yang cukup “berani”. Adalah Nia Dinata, wanita di balik layar Arisan! (2003) yang mencapai kesuksesan fenomenal itu baik dari raihan jumlah penonton ataupun gaung yang masih sering dibicarakan hingga detik ini (kita bisa pinjam istilah cult untuk penggambarannya). Tepat pada bulan Mei 2011 yang lalu, Kalyana Shira Films sepakat merilis 1000 keping DVD original dalam kemasan yang baru untuk menjawab permintaan pasar yang masih cukup tinggi.
Keputusan tersebut sangat tepat untuk menjadi koleksi penonton lama sekaligus pemanasan penonton baru. Sebab Teh Nia samasekali tidak berbasa-basi untuk memulai sekuelnya ini karena penonton dianggap sudah mengerti akan karakter-karakternya. Meimei, Sakti, Lita, Andien, Nino pun tanpa tedeng aling langsung melanjutkan fase hidup mereka di akhir usia 30an menjelang 40an dimana problematika penuaan,eksistensi, rumah tangga, keturunan dsb mulai menghinggapi mereka.

Sakti & Nino
Tora dan Surya masih “asyik” melebur dalam peran pasangan gay yang memilih jalannya masing-masing setelah sekian lama berkomitmen. Di antara keduanya hadirlah Rio Dewanto dan Pong Harjatmo yang di luar dugaan tampil menggigit. Rio sebagai brondong “super” memang annoying dengan kelakuan sok selebnya sedangkan Pong sebagai sugar daddy sangat diskrit menjaga keutuhan rumah tangganya dengan berbagai pengaturan disana-sini.
Meimei
Kegelisahan Cut Mini di sepanjang film tertangkap kamera dengan baik lewat ekspresi dan bahasa tubuhnya. Kemunculan Edward dan Adinia sedikit banyak mengalihkan perhatiannya. Saya suka interaksi ketiga tokoh ini satu sama lain, permainan fokus kamera yang kerapkali menyorot anggota tubuh tertentu terasa amat personal plus penggunaan bahasa gambar yang ambigu membuat penonton berimajinasi sendiri. Konklusinya pun diserahkan pada pemahaman masing-masing. Dewasa!

Lita & Andien
Aida dan Rachel meneruskan mulut tajam mereka dari Arisan! Sebelumnya. Rachel terlihat lebih matang dengan kesibukan sebagai single parent tak jarang mengurusi abangnya juga. Celotehan-celotehannya dalam bahasa Batak masih mampu mengundang tawa. Aida secara gamblang menjiwai peran wanita yang takut gejala penuaan, hingga membuat karakter-karakter “ramai” yang dimainkan Sarah, Ria, Atiqah bisa masuk secara wajar dalam kehidupan sosialita mereka.
Tiga segmentasi tersebut dicampur adukkan oleh Teh Nia ke dalam drama ensemble dengan banyak babak yang masing-masing memberikan nuansa berbeda. Panorama dari berbagai lokasi syuting juga menguatkan kesan tersebut, mulai dari Jakarta, Magelang (Candi Borobudur) hingga Lombok (Gili Trawangan). Sayangnya ketidak konsistensian jarak pandang yang diambil terkadang mengganggu sinematografi film secara keseluruhan. Belum lagi penempatan scoring music ataupun tembang yang tidak sedinamis prekuelnya.

Konflik-konflik rumit yang melanda setiap tokohnya dalam durasi yang lumayan panjang tiba-tiba diselesaikan begitu saja di menit-menit akhir ending yang agak terkesan antiklimaks. Tidak ada proses yang cukup matang bagi penonton untuk bisa menelusuri jiwa-jiwa galau mereka secara emosional kecuali segmen Meimei yang memang mendapat sorotan lebih. Semudah membalikkan telapak tangan, kesemua karakternya pada akhirnya ditempatkan pada posisi yang happy ending. That’s it!
Jika harus membandingkan; Arisan! (2003) menurut saya adalah film yang smart, simple, witty and fun to watch. Sedangkan Arisan! 2 (2011) ini lebih mencerminkan sisi glam, mature, complex and spiritual. Kedua episode memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi. Namun ternyata ada yang jauh lebih penting dari sekadar “eksis” di dunia nyata (party, holiday) dan dunia maya (Twitter, Facebook) bagi kaum hedon metropolitan tersebut yaitu persahabatan jangka panjang melewati suka dan duka. Itulah yang ingin digarisbawahi oleh Teh Nia lewat sajian dialog berbobot nan menohok.

Durasi:
119 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 05 Mei 2011

THE MIRROR NEVER LIES : Keikhlasan Cermin Laut Kerinduan Bapak

Quotes:
Pakis: Kemana angin-angin itu membawa kabar Bapak? Aku tidak mengerti..

Storyline:
Gadis kecil berusia 12 tahun bernama Pakis kerapkali menantikan kepulangan ayahnya yang hilang saat melaut. Ia melakukan ritual suku Bajo dengan membawa-bawa cermin kemanapun pergi yang dipercaya bisa menampilkan bayangan ayahnya itu. Sayangnya sang ibu, Tayung sudah putus asa dan beranggapan suaminya telah meninggal sehingga menghardik kebiasaan putri semata wayangnya itu. Datanglah Tudo, seorang peneliti lumba-lumba yang juga mengajar di sekolah Pakis dan Lumo. Kehadiran Tudo dari kota besar Jakarta itu membawa pengalaman baru tersendiri bagi Tayung ataupun Pakis dan kawan-kawannya. Akankah keempat manusia dengan kompleksitas masing-masing ini dapat menemukan jawaban mengenai jati diri masing-masing?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh SET Film and WWF Indonesia dan gala premierenya dilangsungkan di Djakarta XXI pada tanggal 29 April 2011.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Tayung
Reza Rahadian sebagai Tudo
Gita Lovalista sebagai Pakis
Eko sebagai Lumo
Zainal
Halwiyah
Darsono

Director:
Debut pertama penyutradaraan layar lebar bagi Kamila Andini setelah sebelumnya menangani video musik Slank dan beberapa serial televisi.

Comment:
Kapan terakhir kali sebuah film lokal mampu menjual sebuah lokasi dengan begitu indahnya menjadi background cerita yang kuat? Judul pertama yang terlintas di kepala saya adalah Laskar Pelangi (2008) yang mengedepankan Propinsi Bangka Belitung. Kini hadir sebuah film yang juga disponsori WWF yang tentunya mengusung juga semboyan pelestarian alam pada umumnya dan hewan-hewan yang dilindungi pada khususnya.

Sutradara Kamila yang pernah tinggal langsung 20 hari di Kabupaten Wakatobi dengan jeli memfilmkan kehidupan suku Bajo yang nyaris sebagian besar aktifitasnya dilakukan di atas air. Shoot panjang dan pendek terhadap lanskap yang begitu indah tergolong berhasil menciptakan sinematografi yang dinamis dan variatif. Beberapa kali saya justru “tersentuh” dengan gambar-gambar yang begitu hidup dan memanjakan mata.







Berbagai adat istiadat setempat juga disinggung disini. Semisal penggunaan masker wajah bagi wanita janda (yang tengah menunggu kepulangan suami yang entah hilang/meninggal), konsep pernikahan massal yang unik dan meriah, penangkapan ikan dengan bantuan lumba-lumba, penggunaan cermin untuk mencari orang yang hilang dsb. Kesemuanya itu akan membuat anda tersenyum sekaligus takjub melihat kebiasaan orang-orang Bajo dari tua maupun muda.

Sentralisasi peran memang dipercayakan kepada Gita dan Eko. Sulit memang untuk menerjemahkan karakter Pakis dan Lumo tapi kedua remaja belia itu berhasil melakukannya dengan sangat natural. Bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain di dalam ruangan (sekolah, rumah) ataupun di luar ruangan (padang rumput, laut) memberikan nuansa yang berbeda-beda. Jangan lupakan juga karakter Zainal sebagai teman Lumo yang mencuri perhatian dengan nyanyian spontan berlirik “nendang” itu.









Kwalitet akting seorang Atiqah Hasiholan dan Reza Rahadian memang tidak diragukan lagi terlebih Atiqah mampu beraksen Sulawesi dengan lancar. Namun kehadiran keduanya disini lebih merupakan supporting casts yang matang dan dianggap menjual. Sebetulnya saya mengharapkan tokoh Tayung dapat memberikan nilai yang lebih sebagai single parent, ataupun tokoh Tudo bisa menjadi inspirasi tersendiri sebagai pengajar sekaligus peneliti bagi murid-murid didikannya. Pada akhirnya keduanya malah terasa “dilepas” begitu saja dari konklusi cerita. Cukup disayangkan.

Keunggulan The Mirror Never Lies memang dari bahasa gambar Kepulauan Wakatobi yang berbicara banyak plus potret kehidupan warga Sulawesi Tenggara sehari-harinya. Meskipun bertempo lambat dan runut dalam bercerita, anda tetap antusias dan terkagum-kagum menyaksikannya. Di saat credit title menggulung layar, saya jamin pikiran anda sudah melayang pada nikmatnya makanan khas kazuami dan bergegas merencanakan perjalanan ke Kabupaten yang beribukota Wangi-Wangi tersebut.

Durasi:
95 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 28 Oktober 2010

MAFIA INSYAF : Romansa Ketua Mafia dan Polisi Wanita Bentrok Gank

Storyline:
Gank mafia bernama Macan Polkadot sudah diwariskan secara turun temurun kepada Kendra yang bersaudara juga dengan Romi dan Jodi. Awalnya Kendra sah-sah saja menjalani tuntutan dari sang ibunda, Dewi. Namun semua berubah saat ia berjumpa dengan Selma, gadis cantik enerjik yang juga jatuh hati padanya. Kendra pun mencari segala cara untuk memenangkan hati Selma termasuk mendengarkan saran dari asistennya yang bodoh, Bejo. Saat Kendra mengetahui bahwa Selma ternyata seorang komisaris polisi, ia berniat pensiun dari dunia yang membesarkannya itu. Keputusan yang tidak mudah karena rival mereka, gank Kampak Ungu berencana lain. Berhasilkah Kendra menjalani hidup barunya tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film bersama BIC Production dan gala premierenya dilangsungkan di fX tanggal 25 Oktober 2010.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Selma
Tora Sudiro sebagai Kendra
Indah Kallalo sebagai Alexa
Kieran Sindhu sebagai Bobby
Zaky Zimah sebagai Bejo
Ferry Ardiansyah
Guntur
Anindhika
H. Djaja Miharja

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Otoy Witoyo.

Comment:
Rasanya baru pekan lalu kita disuguhkan film nasional bergenre komedi aksi dalam judul Perjaka Terakhir 2 yang mengecewakan itu. Dan seperti sudah bisa diduga, semua nilai minus dalam film yang saya sebutkan itu terulang lagi dalam film yang diproduseri oleh Budi Mulyono ini.
Plot ceritanya tumpang tindih mulai dari romansa dua insan dengan profesi bertolak belakang, lalu ada perseteruan antar dua gank mafia besar, juga ada pertikaian antar pembasmi kejahatan dengan pelaku kejahatan itu sendiri, belum lagi kakak beradik pintar-pintar bodoh yang saling berinteraksi dengan cara yang teramat aneh, ditambah dengan aksi sensualitas di antara beberapa karakternya. Bisa anda bayangkan kesemuanya itu campur aduk tanpa benang merah yang jelas? Terus terang saya sendiri tidak berani melakukannya jika belum menyaksikannya dengan mata kepala sendiri!
Minimnya pengalaman sutradara Otoy memperparah eksekusi dari skrip yang sedemikian ruwetnya. Nyaris tidak ada penekanan apapun pada karakternya yang seakan hanya lalu lalang silih berganti di setiap scene yang dihadirkan. Alhasil konstruksi cerita menjadi lemah dan fokusnya menjadi tidak penting lagi. Semua dipaksakan mengalir dari awal sampai akhir tanpa peduli minat penonton yang sudah sedemikian jatuh sejak menit-menit pertama.
Dari jajaran cast, saya sedikit menyayangkan keputusan Atiqah bermain disini. Ia yang biasanya mampu mengangkat sebuah film, tidak mampu berbuat apa-apa terhadap tokoh Selma yang dipercayakan padanya tanpa latar belakang yang jelas. Sedangkan Tora mengulangi apa yang sudah beribu-ribu kali dilakukan sebelumnya dengan tokoh Kendra yang beridentitas sepuluh itu. Lain lagi dengan Indah yang lagi-lagi melakukan beberapa adegan syur, beruntung masih ditambahkan sedikit porsi laga yang harus dilakukannya. Jika tidak? Hm.. Kelucuan Zaky disini menjadi tidak berguna karena karakter yang diperankannya juga nyaris tidak berpengaruh apa-apa.
Mafia Insyaf lebih merupakan sebuah film medioker dengan gaya kelas film televisi yang tidak menawarkan apapun yang patut dibanggakan selain ide yang hanya menjadi ide kosong belaka. Satu-satunya yang mungkin masih berusaha dijual adalah porsi adegan laganya yang kerapkali ditampilkan mengisi keterbelakangan cerita, itupun jatuhnya masih tanggung. Apa mau dikata?

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 30 Oktober 2009

RUMA MAIDA : Mempertahankan Gedung Tua Penuh Kenangan

Cerita:
Gadis pengajar anak-anak kurang beruntung, Maida telah berusaha selama 2 tahun di sebuah gedung tua terbengkalai sampai akhirnya menemui hambatan saat seorang arsitek, Sakera mendatanginya dan berniat membongkar gedung tersebut untuk menjadikannya perkantoran atas perintah bosnya, Dasaad. Maida menolak dengan alasan fasilitas itu adalah satu-satunya tempat bernaung bagi anak-anak yang kesehariannya hanya bisa mengamen, berjualan koran dll untuk bertahan hidup. Tidak diduga, hubungan Maida dan Sakera pun semakin dekat karena mereka sering bertukar pikiran sampai pada akhirnya mereka bertekad mencaritahu sejarah gedung tua yang pernah menjadi saksi masa lalu tersebut untuk membatalkan pembongkaran.

Gambar:
Beberapa flashback ditampilkan dalam adegan hitam putih sephia lengkap dengan kostumnya. Sedangkan setting masa kini yang berlokasi di Jakarta dan Semarang juga turut mendapat perhatian dari sisi artistik.

Act:
Atiqah Hasiholan yang baru saja dipuji dalam Jamila dan Sang Presiden kali ini berperan sebagai Maida, gadis keturunan campur yang idealis dan teguh hati.
Terakhir muncul dalam komedi kacau Merem Melek, Yama Carlos bermain sebagai Sakera, arsitek muda yang rendah hati dan berjiwa sosial.
Baru saja mendukung sekuel Get Married, Nino Fernandez disini kebagian peran Ishak Pahing, komposer Belanda yang pro kemerdekaan.
Turut didukung pula oleh Davina Veronica Hariadi, Imelda Soraya, Wulan Guritno, Frans Tumbuan, ayah-anak Henky & Verdy Solaiman.

Sutradara:
Pernah menggunakan frame serupa dalam Ruang (2005), Teddy Soeriaatmadja kali ini bekerjasama dengan novelis Ayu Utami untuk mengarahkan film berlatar belakang sejarah nasional yang dibiayai oleh Lamp Pictures dan Karuna Pictures.

Comment:
Acungan jempol patut dilayangkan pada penulis skenario sekaligus ide ceritanya yaitu Ayu Utami yang bisa dibilang sukses mengadopsi suatu perjalanan panjang sejarah yang pernah terjadi di masa lalu dari mulai Kebangkitan Nasional 1920 hingga Kemerdekaan R.I. 1945 hingga melibatkan beberapa tokoh nasional yang hidup di jamannya semisal Bung Karno, Bung Hatta, Laksamana Maeda, WR Supratman, Sutan Syahrir dsb. Semuanya itu mungkin tidak terlalu berarti andai Teddy Soeriaatmadja tidak mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa gambar yang baik. Penyajian Ruma Maida ini cukup mengesankan karena ada batasan jelas antara masa lalu dan masa kini yang seimbang. Para pemainnya tampil memikat terutama Atiqah yang tampaknya semakin matang. Sebuah film tentang kisah cinta syahdu sekaligus tragis antara dua insan dengan latar pra dan pasca kemerdekaan Indonesia yang tentunya patut anda saksikan.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 02 Mei 2009

JAMILA DAN SANG PRESIDEN : Tragedi Hukuman Mati Wanita Terperdaya

Cerita:
Akibat pengakuan pembunuhan seorang menteri bernama Nordin, Jamila dipenjarakan dan tinggal menunggu hukuman mati. Semua rencana pembelaan dan pengampunan menjadi mentah karena kekerasan hati Jamila yang merasa sejak kecil teraniaya dan menjalani kehidupan yang samasekali tidak adil baginya. Hal ini menjadi perhatian sipir perempuan, Ibu Ria dan seorang petugas LP pusat, Surya. Di lain hal kepala golongan fanatik terus menerus menghasut massa agar tidak ragu menjatuhi hukuman mati kepada Jamila yang dianggap pelacur dan pembunuh di luar karyanya sebagai seorang aktivis yang membela kaum anak dan perempuan. Bagaimana perjalanan Jamila menanti ajalnya? Adakah keajaiban yang sanggup menyelamatkannya?

Gambar:
Suasana penjara yang kumuh nan berantakan mendominasi film ini. Semua scene ditampilkan secara real sesuai fungsinya masing-masing.

Act:
Atiqah Hasiholan merupakan salah satu dari sedikit aktris berbakat Indonesia yang sayangnya jarang mendapat sorotan. Totalitas akting ditunjukan lewat karakter Jamila yang tidak mau lagi hidup karena pahitnya hidup yang dijalani sedari kecil.
Menarik menyaksikan legenda perfilman nasional Christine Hakim berakting kembali sebagai sipir tegas berwibawa, Ibu Ria.
Didukung pula oleh Eva Celia sebagai Jamila remaja, Surya Saputra, Dwi Sasono, Fauzi Baadila, Marcellino Lefrandt dan Adji Pangestu.

Sutradara:
Ratna Sarumpaet yang juga bertindak sebagai penulis naskah mencoba membabarkan perjuangan seorang wanita yang tidak bisa memilih takdir hidupnya dari berbagai sudut pandang. Usahanya bisa dibilang berhasil, terima kasih kepada cast yang cemerlang. Gaya penyutradaraannya tergolong detail dari berbagai sisi.

Komentar:
Jamila dan Sang Presiden bisa menjadi alternatif tontonan berkualitas di tengah keseragaman perfilman nasional yang sangat menjemukan belakangan ini. Film bernafaskan feminisme ini kuat di penokohan, gaya bercerita, setting yang detail dan eksekusi cerita yang sangat rapi. Kekurangannya mungkin dari beberapa scene inti yang harusnya menyentuh pada sudut yang terdalam tapi hanya sampai pada sisi luar saja dan itu paling terasa di bagian ending. Juga unsur agama yang penempelannya pada cerita terkesan dipaksakan. Yah overall tetap sebuah karya yang wajib mendapat pengakuan.

Durasi:
100 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!