XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 9. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2017

LA LA LAND : A Honest To Goodness Musical Romance For Life


Quote:
Mia: People love what other people are passionate about.

Nice-to-know:
Menurut komposer Justin Hurwitz, semua track piano direkam oleh pianis Randy Kerber selama pre produksi. Lantas Ryan Gosling belajar piano dua jam setiap hari, enam hari dalam seminggu demi mendalami setiap track hingga sukses memainkan semuanya selama syuting berjalan tanpa bantuan body double atau CGI.

Cast:
Ryan Gosling sebagai Sebastian
Emma Stone sebagai Mia
J.K. Simmons sebagai Bill
Claudine Claudio sebagai Karen
Jason Fuchs sebagai Carlo
Finn Wittrock sebagai Greg
John Legend sebagai Keith         

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Damien Chazelle setelah Whiplash (2014).

W For Words:
Damien Chazelle memang sudah terbukti memiliki kecintaan tinggi terhadap musik. Sempat mengenyam pendidikan di Princeton High School hingga Harvard University dengan spesialisasi drummer jazz, ia akhirnya meninggalkan cita-citanya menjadi musisi dan memilih filmmaking. Sebuah keputusan yang tepat karena feature debutnya yang terinspirasi dari kisahnya sendiri, Whiplash (2014) berhasil meraih 3 piala Oscar. Dua tahun berlalu, kecintaannya terhadap Hollywood pun dituangkan lewat film ini yang bertemakan romansa modern. Judulnya simpel tapi apakah maknanya sesederhana itu?

Sebastian dan Mia mungkin hanya dua dari sekian juta orang di Los Angeles yang memilih untuk mengikuti passion sebagai mata pencaharian. Sebastian adalah pianis jazz yang bekerja di restoran berkelas, yang bercita-cita bisa membuka klub jazz sendiri. Mia adalah barista kedai kopi yang tak bosan mengikuti audisi film, dengan harapan bisa menjadi aktris tenar suatu saat nanti. Keduanya dihadapkan pada problematika serupa, yaitu pembatasan potensi dan kesempatan yang tak kunjung datang. Pertemuan demi pertemuan lantas menyatukan keduanya dalam jalinan asmara sebelum mimpi dan realitas menjadi hambatan.

Chazelle mengemas perjalanan cinta sekaligus mimpi Sebastian dan Mia hanya dalam 4 musim yaitu spring, summer, fall dan winter. Rollecoaster emosi yang juga silih berganti mengisi kanal perasaan mereka pun diterjemahkan secara apik. Dialog yang terkesan raw tak lantas membuat kita mengerutkan kening tapi justru membuka mata kita lebar-lebar sehingga kita bisa mengerti sepenuhnya pergulatan batin mereka dalam membuat tiap keputusan. Struktur plot yang begitu terorganisir mendukung forward storytelling sampai backward conclusion yang begitu ciamik.

Elemen fantasia begitu kuat diterapkan Chazelle dalam teknis penyutradaraannya. Komposisi warna yang kontras menyajikan gambar-gambar yang mencolok mata. Begitupun tone lighting yang selalu disesuaikan dengan mood Sebastian dan Mia dari awal hingga akhir. Belum lagi tata artistik Austin Gorg yang luar biasa. Koreografi buah pemikiran Mandy Moore berpadu serasi dengan alunan musik Justin Hurwitz sehingga tercipta tarian dan lagu yang akan bersinergi secara mudah dengan indera penglihatan dan pendengaran anda.

Istilah three times lucky mungkin tepat mendeskripsikan kolaborasi ketiga Ryan Gosling dan Emma Stone yang berpotensi meraih piala Oscar untuk pertama kalinya setelah sama-sama pernah dinominasikan sebelumnya ini. Who knows? It's a love letter to classic Hollywood romance movies and both did very well with strong chemistry between them. Stone pada khususnya mempertunjukkan kualitas akting yang mumpuni. Lihat bagaimana audisi demi audisi yang dilakoninya, seakan berakting dalam akting yang sesungguhnya mulai dari ekspresi sampai gestur nyata. Gosling seperti biasa mempertontonkan kharismanya yang luar biasa. Permainan musik dan bahasa tubuhnya di atas panggung teramat meyakinkan.

La La Land adalah sebuah tribute sempurna yang rasanya sulit untuk tidak membuat kita jatuh cinta. Jatuh ke dalam buaian mimpi yang terasa menyimpan sejuta harapan atau malah pelukan cinta yang dirasa memberikan beribu kehangatan. Baik mimpi ataupun cinta, keduanya memang butuh kompromi dengan segala konsekuensinya, terlebih saat dihadapkan pada realita yang tak bisa terhindarkan. Chazelle had successfully stated the obvious and transformed a honest to goodness musical romance ever made. A pure cinematic bliss we will remember for such long time!

Durasi:
128 menit

U.S. Box Office:
$74.081.569 till Jan 2017

Overall:
9 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 06 April 2012

TITANIC 3D : Full Steam Reminiscence Of Its Sinking You’ll Never Forget


Quotes:
Rose: Jack, I want you to draw me like one of your French girls. Wearing this...
Jack: All right.
Rose: Wearing *only* this.

Nice-to-know:
Memegang rekor dengan menempati posisi puncak box office Amerika Serikat selama 15 minggu berturut-turut mulai dari 19 Desember 1997 hingga 2 April 1998.

Cast:
Leonardo DiCaprio sebagai Jack Dawson
Kate Winslet sebagai Rose DeWitt Bukater
Billy Zane sebagai Caledon 'Cal' Hockley
Kathy Bates sebagai Molly Brown
Frances Fisher sebagai Ruth Dewitt Bukater
Gloria Stuart sebagai Old Rose
Bill Paxton sebagai Brock Lovett
Bernard Hill sebagai Captain Edward James Smith

Director:
Merupakan pemenang Academy Award kategori Best Picture pertama yang diproduseri, disutradarai, ditulis sekaligus diedit oleh orang yang sama yaitu James Cameron.

W for Words:
Salah satu dari sedikit film yang menyandang predikat nyaris sempurna menurut saya ini pertama kali beredar pada akhir tahun 1997 dan sukses mencatatkan diri sebagai film terlaris sepanjang masa sebelum dipatahkan oleh karya teranyar James Cameron lainnya yaitu Avatar (2010). Faktanya adalah saya pertama kali menyaksikannya di vcd bajakan dengan kualitas belum 100% bersama seluruh anggota keluarga sambil menantikan detik-detik pergantian tahun 1998. Tidak usah heran karena pada waktu itu saya belum menonton film di bioskop sefrekuentif sekarang.
14 tahun berlalu, memperingati 100 tahun peristiwa naas yang tak terduga tersebut, Cameron merilisnya kembali dalam format 3D dengan embel-embel “pengalaman bersinema yang paling dalam dan dinamis mengenai perjalanan kapal Titanic itu sendiri”. Pernyataan yang menurut saya tidak sepenuhnya benar tetapi efek 3D nya jelas sukses menghadirkan kedalaman gambar yang lebih tajam dan jernih yang tentunya sudah disesuaikan dengan kondisi layar bioskop masa kini.

Esensi menyaksikan kembali bagi sebagian besar orang ternyata bukan karena 3D melainkan tujuan bernostalgia yang manis terutama dengan orang-orang terkasih. Sinematografi yang dihasilkan samasekali tidak terkesan lawas, hal ini dikarenakan Cameron sudah menggunakan teknologi canggih pada jamannya sehingga dapat dikategorikan timeless. Skrip yang juga ditulisnya sendiri memang masih berisi romantika picisan antara dua orang dari kelas sosial berbeda tetapi bukan itu yang menjadi fokus penonton melainkan sisi emosional yang campur aduk antara iba, simpati, trenyuh dan sebagainya.
Gaya penceritaan Cameron tergolong menakjubkan sehingga durasi 195 menit tidak terasa lambat. Keragaman karakter yang diusungnya berhasil menjembatani berbagai konflik yang dilandasi oleh kesenjangan antar kasta yang tercermin dari pembagian lantainya, sebuah masalah abadi yang akan selalu terjadi dimanapun. Lihat bagaimana kalangan atas sibuk menyombongkan kekayaan masing-masing dalam pesta mewah membosankan, berbanding terbalik dengan kalangan bawah bersenang-senang dengan cara yang sederhana lewat iringan musik dan bir murahan.

Hal tersebut memicu kemudian akan pertunangan yang tak diinginkan antara Rose dan Cal, perjumpaan yang tak terduga antara Jack dan Rose, pertahanan status sosial yang diupayakan Ruth, persamaan martabat yang diusahakan Molly atau pengorbanan mulia Kapten Edward dan para krunya. Kesemua tokoh seakan digariskan dalam suratan takdir yang mengharuskan mereka berada pada tempatnya masing-masing. Saya tahu ini hanyalah fiksi belaka tapi akting dan chemistry luar biasa dari Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet yang masing-masing berusia 23 dan 22 tahun pada waktu itu membuat semuanya kian hidup.
Titanic memang tak terpisahkan dari sinema itu sendiri. Kronologis karam yang demikian megah amat layak dinikmati via layar besar demi mendapatkan suasana mencekam tak terbayangkan yang dilengkapi dengan sound efek yang menggetarkan. 3D nya memang menyempurnakan modernisasi tapi tetap tidak dapat menggantikan pengalaman menonton film ini untuk pertama kalinya (sejujurnya selalu merasa demikian walau sudah berkali-kali melihatnya). Original score dari James Horner terlebih hit My Heart Will Go On dari Celine Dion akan selalu menghantui saya seumur hidupnya tanpa harus disesali. Definitely one of the most amazing wonderful movies of the 20th Century that will never be forgotten!

Durasi:
195 menit

U.S. Box Office:
$600,779,824 till Sept 1998

Overall:
9 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 28 Februari 2010

MY NAME IS KHAN : Pembuktian Cinta Lewat Perjuangan dan Pengorbanan

Quotes:
Rizvan Khan-My name is Khan, and I am not a terrorist.

Storyline:
Sedari kecil, Rizvan Khan menderita asperger atau autism. Takut pada warna kuning, ruang sempit, suara bising, orang-orang yang baru dikenal sehingga sulit mengembangkan dirinya. Beruntung ibundanya selalu setia menemani dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan tentang orang baik dan jahat. Rizvan sebetulnya anak yang cerdas, di usia remaja mampu memperbaiki barang-barang elektronik yang rusak. Hal ini kemudian memisahkan ia dengan adik kandungnya, Zakir yang hijrah untuk studi di tempat yang lebih baik. Bertahun-tahun kemudian, ibunya meninggal dan memaksa Khan untuk keluar dari zona nyamannya. Perjalanan membawanya bertemu dengan Mandira, kapster cantik ceria yang pernah gagal dalam pernikahan dan membawa seorang putra bernama Sameer. Perlahan tetapi pasti, kedekatan Rizvan dan Mandira semakin meyakinkan mereka untuk kehidupan pernikahan yang saling mengisi. Sayangnya kejadian 9/11 mengubah semuanya dan Rizvan harus meyakinkan publik Amerika bahwa ia bukanlah teroris dengan tujuan akhir bertemu Presiden agar Mandira mau bertemu dengannya kembali..

Nice to know:
Sutradara Karan Johar dan penulis skrip Shibani Bathija sempat mewawancarai Chris dan Gisela Slater-Walker, penulis buku yang menginspirasi romansa hubungan Rizvan dan Mandira di bagian pertama film.

Cast:
Mega bintang Bollywood, Shah Rukh Khan didapuk sebagai Rizvan Khan yang berhasil mengatasi kekurangannya untuk hidup bahagia dan melakukan apa yang ia anggap benar.
Kajol sebagai Mandira
Christopher B. Duncan sebagai Barack Obama
Zarina Wahab sebagai Ibu Rizvan dan Zakir
Jimmy Shergill sebagai Zakir

Director:
Film debutnya Kuch Kuch Hota Hai (1998) sukses besar di pasaran internasional yang melambungkan nama Karan Johar yang juga sering bertindak sebagai produser dan penulis cerita.

Comment:
Saat pertama diputar di jaringan XXI, saya sempat bertanya-tanya film apakah ini. Lalu mendengar orang-orang berkata ini film yang bagus dan menimbulkan antrian panjang. Akhirnya pada pemutaran weekend keduanya, saya menyempatkan diri menyaksikan film ini tanpa ekspektasi apapun secara saya bukan penggemar film India walau pernah menonton beberapa yang cukup go internasional di masa lalu. Pada dasarnya film ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama bercerita tentang pengenalan tokoh dan awal kisah cinta. Bagian kedua lebih ke permasalahan perbedaan ras di negara maju seperti Amerika dan tragedi WTC yang memilukan itu yang telah menimbulkan jurang di antara penduduk sipil dengan warga Muslim pada umumnya. Semua itu diolah dengan tepat dan relevan. Sinematografi yang disuguhkan Karan sangat istimewa. Jangkauan setting yang luas dengan rentang waktu yang panjang berhasil diketengahkan dengan alur maju-mundur yang solid. Dari segi cast, reuni SRK dan Kajol yang pertama kali menghentak lewat Kuch Kuch Hota Hai sudah merupakan nilai plus. Dan SRK menampilkan akting terbaik sepanjang karirnya disini dengan mempertontonkan ekspresi, bahasa tubuh dan olah kata yang meyakinkan sebagai orang yang menderita kelainan bawaan. Kajol juga menampilkan emosi yang tidak kalah mengagumkan sebagai seorang Ibu yang tertekan menghadapi situasi ras yang tidak menyenangkan yang telah mengambil semua miliknya yang berharga. Chemistry keduanya terasa pas dan wajar. Original score juga dengan indah mengiringi setiap scene. My Name Is Khan bukanlah film India pada umumnya dan saya yakinkah anda menontonnnya untuk merasa tergugah, bahagia, trenyuh, benci sekaligus dalam pengalaman sinema yang luar biasa emosional selama hampir tiga jam ini. Tidak heran jika film ini akan booming dalam tangga box-office ataupun festival film internasional. Pesan saya: Jangan malu untuk tertawa ataupun meneteskan air mata sekalipun!

Durasi:
155 menit

U.S. Box Office:
$3,253,168 till end of Feb 2010

Overall:
9 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 20 Desember 2009

AVATAR : Petualangan Marinir Lumpuh Sebagai Avatar Pejuang

Quotes:
Jake Sully-They've sent us a message... that they can take whatever they want. Well we will send them a message. That this... this is our land!


Cerita:
Saat saudara kandungnya terbunuh pada perang, marinir lumpuh Jake Sully memutuskan untuk ikut serta dalam misi penjelajahan dunia Pandora. Disana ia belajar bahwa kepala perusahaan yang ambisius, Parker Selfridge berniat mengusir penduduk asli "Na'vi" demi mendapatkan material berharga di tanah mereka. Dalam pertukaran yang disepakati dengan operasi yang mungkin saja menyembuhkan kakinya, Jake bertemu kelompok militer yang dipimpin Kolonel Quaritch yang berusaha memanfaatkan teknologi "avatar" untuk mengelabui kaum Na'vi. Jake pun mulai menjalani kehidupannya sebagai penduduk asli Na'vi dan dekat dengan si cantik tangguh Neytiri. Kolonel Quaritch tidak tinggal diam dan dengan taktik kekejaman yang memaksa tentara bertempur. Pertempuran antara Na'vi dan manusia pun tak terelakkan yang pada akhirnya menentukan nasib dari dunia Pandora itu sendiri.


Gambar:
Berbagai lokasi dijadikan setting film ini mulai dari Hamakua Coast di Hawai'i, Hughes Aircraft di California hingga Studio Stone Street di New Zealand. Animasi yang ditampilkan dengan warna-warninya sangatlah memanjakan mata.


Act:
Film besar keduanya di tahun 2009 setelah Terminator : Salvation, Sam Worthington yang kelahiran UK ini semakin menemui kebintangannya apalagi dengan peran marinir pincang Jake Sully yang bertualang di dunia Avatar.

Salah satu pendukung Center Stage (2000) dalam debutnya, Zoe Saldana kini kebagian tokoh Neytiri, alien Na'vi yang cantik dan mandiri walaupun sebagian tubuhnya tertutup potret animasi.

Aktris senior, Sigourney Weaver menjadi ilmuwan Dr. Grace Augustine yang lembut hati.
Bertolak belakang dengannya, aktor kawakan Stephen Lang menjadi Kolonel Miles Quatrich yang tangguh dan tidak berperikemanusiaan.
Jangan lupakan Giovanni Ribisi dan Michelle Rodriguez sebagai Parker Selfridge dan Trudy Chacon.


Sutradara:
Mulai menjadi sutradara di usia 24 tahun lewat Xenogenesis (1978), James Cameron adalah salah satu sutradara paling perfeksionis yang dimiliki Hollywood. Avatar adalah karyanya yang ke-16 dengan bujet sekitar 230 juta dollar!

Comment:
Avatar yang sudah digadang-gadangkan Cameron sejak tahun 1984 baru memulai syutingnya pada tahun 2008 lalu. Hal ini dikarenakan secara artistik dan bujet, sulit mewujudkannya pada masa itu dan terlalu beresiko besar. Dan untungnya Cameron tidak putus asa mewujudkan visinya terhadap film luar biasa ini. Plot ceritanya simpel tetapi bermakna sangat dalam mulai dari isu rusaknya keseimbangan alam hingga perkembangan dunia baru yang masih misterius hingga saat ini. Tentunya belum menarik jika tema cinta, perseteruan, perjuangan tidak diturutsertakan. Semuanya itu didukung oleh visualisasi yang nyaris sempurna, lingkungan Pandora yang indah, makhluk-makhluk khayalan yang eksotis yang juga peka dan emosional. Meski awalnya terlihat aneh, niscaya penonton akan jatuh cinta dengan karakter tersebut. Detail yang ditampilkan selama lebih dari dua setengah jam rasanya tidak akan membuat anda jenuh. Apalagi WETA Workshop dan ILM melengkapinya dengan teknologi 3D. Dari cast, aktor-aktrisnya sendiri bermain baik disini terutama Worthington yang secara fisik terlihat rapuh tapi sangat tangguh jiwanya. Lang memainkan peran antagonis dengan meyakinkan. Belum lagi Weaver, Ribisi yang selalu maksimal. Saldana, Rodriguez juga cantik memukau. Namun tidak semuanya sempurna, eksplorasi cerita cenderung klise dan mudah ditebak karena pernah ditampilkan di berbagai media sebelumnya. Sebuah tontonan yang mungkin akan selalu diingat sebagian besar orang dan tidak heran jika berjaya di ajang penghargaan insan film dunia seperti Golden Globe yang sejauh ini menganugerahkan nominasi di empat kategori yaitu sutradara terbaik, film drama terbaik kategori drama, musik original terbaik dan lagu original terbaik untuk Leona Lewis dengan I See You.


Durasi:

155 menit


U.S. Box Office:

$77,025,481 in mid Dec 2009 (opening week)

Overall:

9 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable

7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good

9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!