XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label aziz gagap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aziz gagap. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

KAFAN SUNDEL BOLONG : Syarat Menggelikan Kaya Mendadak

Quotes:
Deden: Loe gak pantes nonton politik, pantesnya nonton tanjidor.


Storyline:
Deden adalah pecundang bermodal pas-pasan. Keinginan untuk dicintai wanita cantik dan mendapat kekayaan membawanya menemui dukun bernama Tante Sun dengan ditemani sahabat karibnya, Munaf alias Muka Nafsu. Syarat yang diajukan hanya tiga yaitu kolor gadis perawan, rambut tokoh tinggi dan kain kafan mayat yang belum semalam di kubur. Sayangnya begitu semua terpenuhi, Tante Sun keburu meninggal. Kekayaan instan yang diterima Deden ternyata membangkitkan amarah sundel bolong yang meminta imbalan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh K2K Productions.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Deden
Arumi Bachsin sebagai Chery
Udin Penyok sebagai Munaf
Andreano Phillip
Jeffrey Lee

Director:
Merupakan film ketujuh bagi Yoyok Dumprink alias Yoyo Subagiyo.

Comment:
Intisari sebuah film nampaknya menjadi unsur ke-9529 bagi seorang KK Dheeraj. Sekelumit ide yang muncul di kepalanya tiba-tiba bisa dituangkan menjadi skrip jadi-jadian sekalipun. Film pertamanya di tahun 2012 ini seharusnya memicu kemarahan seorang Nayato Fio Nuala. Apa pasal? Aktor dan aktris kesayangannya dibajak! Namanya dipasang besar-besar. Tentu anda tahu, saya membicarakan siapa? Tidak lain dan tidak bukan adalah Aziz Gagap dan Arumi Bachsin.

Kembalinya Arumi Bachsin.. Sepertinya kalimat yang “dijual” dalam posternya ini belum selesai. Yang dimaksud bukan kembali ke dunia akting melainkan ke dunia antah berantah. Ini pendapat pribadi saya. Jika Nayato masih berbaik hati memberikannya peran di dunia fana maka tidak kali ini. Peran Cherry adalah pelengkap derita yang muncul di bagian pembuka dan penutup saja, selayaknya buah ceri yang menghiasi kue tart yang samasekali tidak enak rasanya. Kasihan!
“Bintang” sesungguhnya dalam film ini adalah duet Aziz Gagap dan Udin Penyok yang bahu-membahu berjayus ria sambil berupaya membangkitkan kembali trend sundel bolong yang konon digagas oleh almarhumah Suzanna yang legendaris itu. Sayangnya sundel bolongnya terlihat palsu dan tidak meyakinkan. Jangan harap melihat belatung bermunculan dari punggung berlobang, fokus justru ada di muka hitam yang merupakan kombinasi dari hanoman, nenek gerondong dan genderuwo?

Originalitas menjadi sesuatu yang mahal harganya dalam film-film KKD. Setidaknya ada 2 tembang hits mancanegara yang diambil dalam film ini yaitu Labels or Love dan Kuch Kuch Hota Hai. Adegan slapstick Aziz Gagap di toilet bahkan mengingatkan anda pada satu-dua episode serial televisi Mr. Bean. Entah sederetan jiplakan ide lain apalagi yang berlalu-lalang di kepala dimana saya terlalu malas untuk mengingatnya. Jika ada tambahan, sedianya anda bisa berbaik hati memberitahu.
Kafan Sundel Bolong yang teramat buruk secara kualitas bagaikan replika film-film Nayato KW2 yang setidaknya lebih baik dari segi penyajian gambar. Aziz Gagap hanya mencoba menjadi dirinya sendiri, jangan salahkan kemiripan akting saat ia melakukan “bully” terhadap pak Pocong atau tante Sun. Eh, mereka punya nama lho! Namun pemakaian nama besar Suzanna di poster filmnya dengan dalih “penghormatan” rasanya perlu dijelaskan KK Dheeraj pribadi lewat pidato 81 menit yang mungkin akan lebih menghibur dibandingkan filmnya sendiri.

Durasi:
81 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 29 Desember 2011

POCONG KESETANAN : Makam Keramat Berurusan Vampir Cina

Quotes:
Asep: Asep gak takut sama pocong tapi sama bencong!


Storyline:
Bujang, Mentil dan James pergi ke kota untuk menjemput Santo yang sudah minggat setahun lantaran menolak jadi pendekar. Santo beralasan karena malu terkena kutukan yang membuatnya menjadi banci bernama Santi di malam hari. Suatu hari, Santo memutuskan untuk merampok makam keramat Cina yang menyimpan banyak harta karun bersama Bujang dan James. Sejak saat itulah mereka diteror oleh vampir Cina, pocong Ajun dan kuntilanak di rumah kontrakan yang juga berisikan Chika dan Wendy. Berhasilkah mereka lepas dari teror supernatural tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Parco Film dan sedianya diberi judul Kungfutilanak.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Santo/Santi
Raffi Ahmad sebagai Asep
Guntur Triyoga sebagai James
Ajun Perwira sebagai Pocong
Reymon Knuliqh sebagai Bujang Jawara Pantun
Rina Diana sebagai Mentil
Diah Cempaka Sari sebagai Chika
Febriyanie Ferdzilla sebagai Dewi
Rozi Mahally sebagai Reymon

Director:
Merupakan film penutup Nayato Fio Nuala di tahun 2011 yang menggunakan nama Pinkan Utari.

Comment:
Serasa belum cukup bermain dengan kuntilanak dan pocong dalam film-filmnya yang dominan selama 3 tahun terakhir, Nayato membawa serta ikon baru yaitu vampir Cina yang hobi melompat-lompat dalam balutan busana khas tradisional sana. Sebagai informasi, vampir semacam ini sempat populer di era 90an lewat serial televisi ataupun film layar lebar Mandarin yang juga berhasil mengangkat nama Lam Cheng Ying sebagai guru penakluknya.
Penulis Ery Sofid dan Ian Jampanay secara serampangan mencampur-adukkan berbagai plot cerita yang tidak simetris itu. Pertama, ada Asep yang ditugaskan membawa pulang Santo yang konon terkena kutukan siang dan malam (what is this?).Namun ternyata setelah paruh pertama film, si Asep menghilang entah kemana. Kedua, merampok makam Cina itu tujuannya apa? Mengambil uang orang mati yang tidak laku di dunia manusia? Lantas mau menukarnya di money changer? Come on, u can’t be more silly!
Kehadiran pocong Ajun juga tidak berkorelasi apapun dengan bangunan cerita. Sekadar memperingatkan Santo dkk untuk tidak berbuat jahat? Atau numpang eksis dengan menjadi polisi alam manusia dan setan? Jika memang Ajun Perwira hanya dimaksudkan untuk menjadi cameo, kenapa kemunculannya cukup dominan hingga dibully habis-habisan? Apalagi sampai mengubah design poster hingga mirip dengan PJP The Movie yang baru saja tayang sebulan yang lalu itu. Gosh!

Seberapa kerasnya usaha Azis dan Reymon untuk memancing tawa dengan kegagapan kemayu dan kejayusan berpantun di sepanjang durasinya itu, saya cuma bermuka datar bahkan tersenyum pun tidak. Suer! Justru saya mempertanyakan suara tawa penonton di deretan bangku belakang yang menggelegar. Ingin rasanya menyambangi mereka dan besar kemungkinan akan menemukan Bapak Nayato sedang menggelitik pinggang mereka satu persatu?!
Belum setengah jam film berjalan, beberapa penonton yang “bijak” sudah memilih untuk meninggalkan bioskop. Nyaris saya memberikan standing applause untuk mereka karena berani mengambil langkah tersebut. Kenyataannya saya cuma bisa mempertahankan flat face MODE ON selama kurang lebih satu jam seperempat sekaligus menahan kedua kaki untuk tidak beranjak menuruti perintah otak yang tidak mau beresiko mengalami distorsi akut.
Pocong Kesetanan benar-benar menyiksa pikiran dan batin, bukan karena ketakutan dan kelucuan tetapi kebodohan merangkai cerita yang tidak masuk akal. Adegan pertempuran antar geng yang lebih mengandalkan permainan kamera dan tali-menali tersebut hanya sekadar basa-basi. Ketololan para karakternya yang hanya bisa berjayus ria dan mengupil tersebut amat tidak termaafkan. Berdoalah agar bangsa alien tidak menyaksikan film ini, karena jika iya bisa jadi mereka sepakat menjajah bangsa manusia yang dianggap memiliki intelejensi sejenis. Wasallam!

Durasi:
76 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 12 Juli 2011

KEPERGOK POCONG : Cara Kaya Foto Mayat Sumpah Pocong

Quotes:
Boy: Nama aslinya George Coolman.. Tapi kenapa dipanggil Aceng ya?

Storyline:
Aina adalah seorang mahasiswa abadi yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penggali kuburan. Ia tinggal bersama kedua sahabatnya yang pintar-pintar bodoh yaitu Boy dan Ceko. Boy memiliki pacar cantik bernama Princess yang selalu mengukur kebahagiaan dari materi. Sedangkan Ceko memilih untuk memendam cintanya terhadap Niken. Saat rekan mereka di kampus, Donatus berusaha membuat dokumentasi tentang Aina, terbukalah sebuah buku rahasia yang membahas jika menyimpan foto jenazah orang yang tewas karena termakan sumpah pocong maka akan menjadi kaya. Boy dan Ceko mencoba cara tersebut hingga mendapatkan rejeki-rejeki yang mengalir. Akankah semua itu abadi dan tidak memiliki efek samping dari mayat yang mereka pinjam fotonya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 11 Juli 2011.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Aina
Raymond Knuliq sebagai Boy
Rozie Mahally sebagai Ceko
Nadya Almira sebagai Princess
Keira Shabira sebagai Niken
Albert Putra sebagai Donatus

Director:
Merupakan film keempat Nayato di tahun 2011 ini dan sangatlah produktif untuk ukuran sutradara lokal.

Comment:
Penasaran dengan apa yang dimaksud judul film ini? Saya akan berikan jawabannya sebelum memulai review ini. KKPK alias Komite Kepergok Pocong Katro. *sepi* Saya akan biarkan anda semua ternganga lebar dan bermawas diri terlebih dahulu. Tolong pikirkan lagi keputusan anda untuk menyaksikan film ini jika tidak ingin bergabung dalam perkumpulan fiktif tersebut. Dan jangan katakan saya tidak pernah memperingatkan anda sebelumnya.
Penulis Erry Sofid sangat disarankan tidak bermain-main dengan intelejensi penonton lagi. Percayalah hal tersebut tidak menguntungkan kedua belah pihak samasekali. Premis film ini sendiri sudah tidak wajar yakni menggabungkan dunia nyata dengan dunia gaib dalam sebuah komedi situasi. Bisa bayangkan jika pocong dan kuntilanak dapat hidup berdampingan dengan anda secara terang-terangan sehari-harinya? Akankah reaksi anda sama seperti halnya Azis Gagap dkk disini?
Perlakuan tak senonoh bertubi-tubi menimpa Mr. P dan Mrs. K di sepanjang film. Demikian saya berikan julukan khusus untuk meredam rasa sakit hati mereka setelah dibanting, ditimpuk telor, dijitak dan menerima sederetan perilaku ajaib lainnya. Mungkin ada baiknya mereka memikirkan koalisi dalam mengajukan fatwa khusus terhadap Nayato? Mohon jangan ditanggapi terlalu serius karena ini hanya sebuah ide liar yang terlintas dalam kepala saya yang sudah semakin mumet ini.
Khusus Nayato sebaiknya tidak terlalu dicaci-maki karena ia membawa banyak sekali isu LGBT kali ini. Entah sebagai dukungan atau justru ia berusaha jujur dengan orientasi pribadinya? Jika tidak percaya lihat saja interaksi Reymond dan Rozie yang awkward di sebuah toilet itu. Atau segala tingkah laku tokoh transgender Aina yang dimainkan dengan “super-duper” oleh Azis Gagap? Jika memang murni dimaksudkan untuk memancing tawa rasanya kurang bijaksana.
Kabar yang berhembus bahwa Nayato dan Azis Gagap berencana membuat 50 film bertemakan pocong mudah-mudahan tidak terealisasi atas dasar apapun juga. Kepergok Pocong sejauh ini sudah menjadi bukti kuat bahwa ide cerita dan formula yang berulang-ulang hanya akan menyebabkan sakit kepala, kram otak, gangguan penglihatan dan pendengaran serta stress tingkat tinggi. Beruntung saya tertidur di sebagian durasinya sehingga efek samping dapat diminimalisir tanpa disengaja.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 13 April 2011

KUNTILANAK KESURUPAN : Penulisan Biografi Artis Mengundang Hantu

Quotes:
Maya-Kunti lapar gak, Maya masak nih, ada pepes anjing..

Storyline:
Momon menawarkan Wesley untuk menulis biografi artis tenar bernama Indra Devian dengan bayaran tinggi. Tanpa ragu karena novel buatannya juga sedang stuck, Wesley menerima tawaran itu. Sayangnya sejak saat itu, Wesley dan teman-temannya masing-masing Kevin, Dylla, Gizka tak terkecuali pembantunya Maya mendapat gangguan bertubi-tubi dari kuntilanak dan pocong. Bahkan adik kesayangannya, Alice mendadak menghilang. Apa sesungguhnya yang diinginkan kuntilanak tersebut? Adakah hubungannya dengan Indra Devian sebenarnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 12 April 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Wesley
Fero Walandouw sebagai Kevin
Irish Bella sebagai Alice
Reymond Knuliq sebagai Momon
Aziz Gagap sebagai Maya
Julia Perez

Director:
Film keempat Nayato di tahun 2011 ini setelah terakhir Virgin 3 kurang dari sebulan yang lalu.

Comment:
Another title, same storyboard. Jika anda melihat trailernya, saya katakan itu sudah jauh lebih penting daripada isi filmnya sendiri. Percayalah akan review saya berikut ini. Namun jika anda tetap penasaran tidak ada salahnya menyaksikan sendiri. Toh kita semua datang ke bioskop untuk mendapatkan hiburan terlepas dari perasaan puas/tidak yang muncul setelahnya.
Sutradara Nayato masih juga menggunakan template-template favoritnya yaitu kamar, rumah, kampus, hutan yang sama persis dengan karya-karya sebelumnya. Yang berbeda hanyalah sound effect rusak yang sengaja dibelinya untuk memekakkan seisi gedung bioskop. Mudah-mudahan anda tidak perlu ke Dokter THT sehabis menyaksikannya karena tentunya akan menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan tiket bioskop yang tidak seberapa.
Masih ingat dengan cast Pocong Ngesot? Tiga diantaranya kembali lagi disini dengan peran yang sangat serupa yakni Aziz Gagap, Fero Walandouw, Reymond Knuliq tetapi dengan nama yang berlainan. Ditambah dengan dua bintang baru kesayangan Nayato yaitu Irish (Heart 2 Heart) dan Guntur (Gaby dan Lagunya). Kesemuanya seakan-akan diinstruksikan untuk berakting senorak dan selebay mungkin, tanpa peduli perasaan penonton yang sudah sangat terganggu.
Jika anda menganggap hanya kuntilanak yang menjadi momok disini, salah besar! Ia bertandem dengan pocong bahkan saling membagi tugas untuk menakut-nakuti orang-orang tertentu. Sungguh kerjasama yang baik walaupun pada akhirnya kemenangan mutlak tetap di tangan manusia. Betapa tidak, si kunti dan si pocong menjadi “bulan-bulanan” mulai dari disembur, ditendang, dikentutin, ditampol, kejeduk pintu dsb. Satu-satunya yang cukup manusiawi hanya pada saat si kunti digendong oleh Aziz Gagap ke dapur. Lucukah semua itu? Saya cuma bisa berkata, “Memprihatinkan!”
Kekurangan lain yang juga kentara adalah editingnya yang teramat kasar. Saya tidak menangkap manfaat pembagian scene per scene yang ujung-ujung selalu dipotong begitu saja, selayaknya stripping video klip gagal tapi tetap dipaksakan tayang demi menghabiskan durasi. Itulah minus terbesar yang saya tangkap ketika menonton Kuntilanak Kesurupan. Tak hanya mempertanyakan logika cerita tetapi juga penggunaan judul yang demikian. Dan jangan buru-buru meninggalkan bioskop setelah credit title bergulir untuk mendapatkan jawabannya (jika dirasa perlu)!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Senin, 21 Februari 2011

POCONG NGESOT : Ketika Pocong Tak Lagi Loncat

Quotes:
Kenapa sih tuh pocong ngesot? Tau deh, tanya sendiri sama yang bersangkutan..
Keseleo kali!

Storyline:
Asep nekad pergi ke kota untuk mencari penghidupan yang layak demi menikahi kekasihnya di desa, Lilis. Di Jakarta, Asep malah tinggal di sebuah kontrakan bersama-sama Kubil, Bonar dan Wanda sekaligus mengenal Pretty dan Devina di kampus yang sesekali mengenalkannya pada kehidupan metropolitan. Kecemasan Asep akan Lilis yang mungkin dipersunting pengusaha kaya membuatnya bertekad mencari dukun pelet yang manjur. Lewat serangkaian prosesi yang melibatkan sesajen lengkap di sebuah pohon keramat trembesi, Asep dkk malah diganggu penampakan pocong ngesot. Akankah tujuannya berhasil pada akhirnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan press conferencenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 21 Februari 2011.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Panda
Rozie Mahally sebagai Asep
Keira Shabira sebagai Lilis
Leylarey Lesesne sebagai Devina
Fero Walandouw

Director:
Nayato menggarap film keduanya yang dalam judulnya mengandung kata “Pocong” setelah Pocong Jumat Kliwon (2010).

Comment:
Bagi anda para penggemar OVJ tentu tidak asing lagi dengan nama Aziz Gagap. Namun debut aktingnya di film layar lebar ternyata sebagai pria kemayu. Tokoh Panda yang dimainkannya sukses mencuri “perhatian” terutama karena kostum yang mengganggu pandangan ataupun kegagapan ala bencongnya. Bersama aktor-aktor lain yang tidak perlu saya sebutkan namanya, mereka bahu-membahu mempertahankan film ini agar tetap dalam rel komedi meski terseok-seok oleh konsep jayus dan norak sekalipun.
Sedangkan para aktris yang mendukung film ini sungguh tidak berkontribusi apa-apa selain menjual tampang dan tubuh yang tidak terlalu penting itu. Jika peran mereka dihilangkan, niscaya karakterisasi film ini tidak akan terlalu melebar selain faktor nilai dari teramat sangat hancur menjadi teramat hancur saja. Namun rupanya Nayato merasa masih perlu membayar mereka supaya filmnya masih mendapat label uniseks.
Dari segi cerita, tidak ada yang baru samasekali. Anda akan luar biasa familiar dengan sekuensi adegan demi adegannya. Tidak perlu benang merah lagi toh semua sudah tertutupi dengan celotehan konyol basi ataupun adegan slapstick norak di sepanjang durasinya yang seperti memaksakan penonton tertawa di mulut tetapi meringis di hati.
Bagaimana dengan nasib sang pocong? Sekali lagi ia dipermainkan sekejam-kejamnya disini mulai dari ditampol, ditimpuk, dikemplang sampai dijorokin hingga terjungkal, semua dilengkapi dengan sound effect. Setidaknya itu yang berhasil saya ingat di luar segala perlakuan nista lain terhadapnya. Namun tidak ada yang lebih kejam saat jenis kelaminnya ditukar-tukar begitu saja. Lewat serangkaian flashback dikatakan bahwa pocong tersebut wanita tetapi malah dianggap pria dengan sebutan Pak Mahmud?
Pocong Ngesot alhasil hanya berusaha menjual komedi mengerikan dan horor menggelikan. Mungkin setelah menonton film ini, anda akan tertarik mengundang sang pocong untuk ngesot di rumah anda sekaligus mengepel lantai dengan kain kafannya yang masih putih polos itu? Oops, mudah-mudahan tidak terpikirkan sekalipun. Cukup terjadi di dunia sinema saja yang kini tengah krisis film impor tersebut.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter: