XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label volland humonggio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label volland humonggio. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

TARUNG : Aroma Balas Dendam Berdarah Persaudaraan

Quotes:
Galang: Gue janji. Gue pasti balik buat loe!


Storyline:
Empat pemuda dengan kehidupan keras masing-masing Reno, Galang, Choky dan Daud berawal dari panti asuhan yang sama milik Ibu Lastri. Bertahun-tahun kemudian, mereka berkesempatan untuk berkumpul kembali, memulai lembaran hidup yang baru. Reno yang baru keluar penjara, Galang yang jatuh hati pada pelacur bernama Astrid, Choky yang terlibat hutang dan Daud yang baru memulai usaha bengkelnya harus kembali menghadapi musuh-musuh mereka dimana nyawa dan persahabatan menjadi taruhan utamanya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Jelita Film dimana gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 13 September 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Galang
Volland Humonggio sebagai Reno
Khrisna Patra sebagai Coky
Daud Radex sebagai Daud
Cinta Dewi sebagai Astrid
Raymond Knuliq

Director:
Merupakan film ke-7 di tahun 2011 bagi pria kelahiran 20 Februari 1968 bernama Nayato yang hobi menggunakan berbagai identitas ini.

Comment:
Film laga merupakan salah satu tambang emas perfilman Indonesia periode 80-90an yang sebut saja menonjolkan nama George Rudy, Barry Prima dll. Namun entah kenapa pamor genre yang satu ini merosot tajam memasuki tahun 2000an. Bukan tidak ada samasekali tetapi yang beredar bisa dihitung dengan jari, apalagi yang mampu mempertanggungjawabkan kualitasnya? Bagaimana dengan garapan sutradara terproduktif minus Indonesia kali ini yang nekad bermain di luar zona nyamannya?
Nayato Fio Nuala, sebuah nama yang tidak asing bagi pengikut film Indonesia. Seseorang yang misterius dan sangat sulit ditemui wartawan media manapun sejak kasus kontroversial FFI 2007 ini di luar dugaan muncul saat gala premiere film terbarunya ini. Makna dari kepercayaan diri tinggi akan kualitas akhirnya yang diharapkan bisa berbicara banyak? Bisa jadi! Namun yang jelas butuh lebih dari sekadar sinematografi temaram dan koreografi laga yang cepat dari berbagai angle dinamis. (baca: bukan pujian)
Saya sedikit heran dengan skrip yang dikerjakan oleh Erry Sofid dan ian Jampanay ini. Opening film seakan memfokuskan diri pada karakter Reno yang keluar dari penjara dan berusaha hidup normal di luar faktor rival-rival yang masih mengintainya. Namun pertengahan film seakan bagian tersebut hilang begitu saja dan pusat perhatian berganti kepada Galang dan Coky yang terlibat hutang atas dasar ketidakmanusiaan yang curang dan biadab. Bagaimana tidak? Uang kotor, dipinjam secara paksa, diberikan sebagai amal pula? WTF? Robin Hood yang menganut prinsip serupa pun rasanya akan bunuh diri dengan busur panahnya sendiri!
Volland adalah seorang aktor laga, setidaknya sudah dibuktikan lewat film-film sebelumnya. Tidak heran jika seharusnya dipercaya memegang porsi besar untuk setidaknya menjadi ujung tombak film. Nyatanya Nayato masih lebih percaya pada aktor kesayangannya, Guntur yang diberikan otoritas tinggi untuk bertindak sebagai pahlawan kesiangan bagi saudara-saudara angkatnya maupun kekasih pelacurnya. Brilian! Saya kasihan pada aktor-aktris yang terlibat disini karena proses syutingnya mungkin 180 derajat lebih membingungkan dibandingkan proses readingnya. Mudah-mudahan ada yang berani bertestimoni suatu saat nanti daripada harus bangga dengan peran-peran keluar masuk semacam ini.
Dengan embel-embel judul City of Darkness, Nayato seakan merasa berhak menampilkan suasana kota yang didominasi kegelapan. Gang-gang sempit, pemukiman kumuh, transportasi kereta malam hingga diskotik yang hingar bingar dengan segala transaksi miras, narkoba hingga seks. Campur aduk plot tanpa sekat yang jelas! Penonton yang awalnya mencoba peduli pada kiprah keempat pemuda jebolan Panti Asuhan Bunda Mulia itu pun rasanya berbalik mencibir.
Tarung terbukti merupakan proyek kebingungan seorang Nayato, apakah ia sedang syuting drama spesialisasinya atau action coba-cobanya. Sisi emosionalnya gagal ditampilkan, sisi serunya juga tidak berhasil disuguhkan. Mungkin di lain kesempatan, Nayato masih harus berpikir kembali untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik daripada sekadar menyediakan bertumpuk-tumpuk stok kaca mobil untuk dipecahkan akibat baku hantam para tokohnya!

Durasi:
80 menit

Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 02 Agustus 2007

SANG DEWI : Asmara Getir Petinju Bisu dan Pelacur Cantik

Cerita:
Laras yang berparas bidadari merasa hidupnya tidak lengkap karena cinta selalu jauh darinya dan memaksanya menjadi pelacur demi bertahan hidup.
Beno yang bisu sedari kecil bekerja sebagai pembersih sasana sambil diam-diam berlatih tinju dengan saudara seperjuangannya demi mewujudkan impian naik ring tinju suatu saat nanti.
Nasib mempertemukan Laras dan Beno kembali setelah masa kecil mereka. Akankah rasa cinta bisa tumbuh di saat keduanya mulai menjalani kehidupan yang berliku dan tidak adil itu?

Gambar:
Sasana tinju dan jalan-jalan ibukota bagi dua tokoh utamanya seakan bercerita tentang mirisnya hidup yang mereka jalani.

Act:
Volland Humonggio yang aslinya memang menguasai beladiri bermain cukup baik sebagai petinju bisu Beno yang pantang menyerah mengejar cinta dan mimpinya.
Sabai Morscheck tampil cukup meyakinkan sebagai Laras, pelacur cantik yang merasa cinta selalu menjauhinya di saat ia tengah menggenggam kebahagiaan.
Didukung pula oleh Donny Alamsyah dan Cathy Sharon sebagai dua sahabat setia Beno.

Sutradara:
Karya perdana Dwi Ilalang yang berusaha menggabungkan aksi, tinju, drama, romantisme dalam satu film. Namun penggunaan judul Sang Dewi agak dirasa kurang tepat.

Komentar:
Sebetulnya plot cerita cukup menarik hanya terkesan sering kurang fokus. Andai mau dieksplorasi lebih jauh lagi, Sang Dewi mungkin akan lebih baik kualitas secara keseluruhannya. Unsur mengharukan bisa ditemukan pada beberapa adegan tapi kesalahan fatal terjadi pada endingnya yang terasa dipaksakan dan terasa antiklimaks. Lagu indah Sang Dewi sekaligus cameo penyanyinya Titi DJ pun hanya sekadar tempelan belaka. Namun sesekali bolehlah manjakan diri anda dengan film lokal yang berbeda nuansanya seperti ini.

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!